Anda di halaman 1dari 18

9

BEDAH ANAK
Pendahuluan
Dalam melakukan tindakan bedah pada anak ada trias

1.

stabilitas yang harus kita perhatikan, yaitu:

Stabilitas cairan dan elektrolit


Kebutuhan cairan pada bayi dengan berat badan kurang dari 10 kilogram adalah 100 cc/kgBB/hari.
Jadi misalnya kita punya pasien neonatus dengan berat badan 3 kg, berarti kebutuhan cairannya
adalah 300 cc/24hari. Agar kebutuhan cairan ini terpenuhi maka kita dapat memberikan infus ringer
laktat. Dengan jumlah tetes 3 tetes per menit. Kalau sampai berlebihan maka dapat terjadi overload
akibat jumlah cairan intravaskuler yang berlebihan, akibatnya dapat terjadi oedem pulmo sehingga
pasien bisa mati. Pak Rochadi mencontohkan misalnya pada kasus bayi lahir dengan atresia ani.
Pada kasus seperti ini tidak boleh diberi minum. Untuk memenuhi kebutuhan cairan diberi infus ringer
laktat. Banyaknya tergantung berat badan bayi.
Sedangkan elektrolit yang penting bagi tubuh adalah K, Na dan Cl. Yang penting adalah K dan Na.
Na terutama terdapat pada ekstrasel, sedangkan K pada intrasel. Perlu diingat bahwa Na bersifat
higroskopis sehingga tidak boleh diberikan pada bayi yang menderita oedem.
Nah, itu tadi dari yang dikuliahin Pak Rochadi, trus ini ada sedikit tambahan.
Kebutuhan fluid maintenance pada bayi dan anak perhari:
Berat badan 10 kg pertama : 100 cc/kgBB/ hari

Berat badan 10 kg kedua

: 50 ccc/ kgBB/hari

Berat badan 10 kg ketiga

: 25cc/kgBB/hari

Kebutuhan elektrolit bayi adalah :


K : 1-2 meq/kgBB/hari
Na: 2-3 meq/kgBB/hari
Cl : 3-5 meq/kgBB/hari

2.

Stabilitas asam basa


Kalau kita menemukan pasien bayi yang kulitnya biru dan merah-merah serta nafasnya megapmegap. Itu berarti si anak mengalami asidosis. Untuk mengatasinya dapat diberikan Melon bicnat
(bicarbonat), dengan dosis 1-2 mg/kgBB.

3.

Stabilitas temperatur
Apabila anak mengalami hipotermia, maka anak tersebut dapat mengalami acidosis metabolik,
sehingga anak merasa pusing. Perlu diingat bahwa pasien dengan suhu kurang dari 36C tidak
boleh dioperasi. Kalau menemukan pasien seperti ini maka pasien dapat dimasukkan dulu ke air
bersuhu 40C selama 1 menit. Setelah kita angkat dan ternyata suhu tubuh pasien sudah naik,

barulah boleh kita operasi. Apabila kita mengoperasi penderita dengan suhu tubuh 35C, maka pada
waktu kita memotong jaringan, darah tidak akan keluar.
Terus ada lima kegawatan pada neonatus, yaitu :
1.
Ileus
Terutama ileus obstruktif, misalnya pada hernia incarcerata
2.
(-itis) Peritonitis
3.
Perdarahan
4.
Strangulasi (ususnya muntir)
5.
Mix (campuran dari semuanya)

Ileus
Ileus obstruktif bisa terjadi karena invaginasi, satu segmen usus masuk ke segmen usus yang lain. Bayi
yang mengalami ileus perutnya terlihat membesar. Perut yang membesar itu tidak boleh ditekan. Kalau
ditekan maka dapat terjadi perforasi, sehingga timbul perdarahan intraabdominal. Untuk mengatasi perut
yang kembung karena obstruksi ini dapat diberikan NGT (nasogastric tube).
Ileus dapat menimbulkan hal-hal sebagai berikut:

Vena terjepit sehingga dapat muncul seperti kaput medusa


pada dinding abdomen.
Arteri terjepit sehingga timbul luka-luka pada perut, terlihat

merah-merah. Tapi harus diingat bahwa merah-merah ini muncul juga pada asidosis.
Ileus ada dua macam, yaitu :
1.
Ileus mekanik
Ileus ini terasa sakit sekali karena ususnya buntu. Kebuntuan ini bisa terjadi akibat volvulus,
invaginasi, maupun pada hernia dan atresia ani.
2.
Ileus fungsional
Penderitanya masih bisa aktif bergerak. Kata Bapaknya malah masih bisa main bola. Pada ileus
fungsional ini ususnya masih terbuka (belum buntu) walaupun mengalami penyempitan. Pasien
masih bisa buang air meskipun sangat jarang. Misalnya 12 kali sehari.
Sesudah sampai sini Pak Rochadi terus ngeliatin slide-slide. Penyakit-penyakit yang ditunjukkan di slide
nanti bakalan kita bahas di belakang.

Pengertian
Bedah anak adalah ilmu bedah pada neonatus, bayi, anak, sebelum dan setelah lahir sampai dengan
adolesen, diutamakan penyakit kongenital.
Mengapa perlu belajar bedah anak?
Oleh karena bedah anak berbeda dengan ilmu bedah dewasa terutama mengenai kelainan fisik maupun
psikologis. Perbedaan-perbedaan itu adalah:
1.
Anak bukan merupakan manusia dewasa dalam ukuran mini.
2.
Anak mempunyai permasalahan sendiri baik fisik maupun psikis
3.
Diutamakan kelainan kongenital

Faktor fisik pada anak


1.

Pembelahan sel

2.

3.

4.

5.

Pada orang dewasa pembelahan sel berguna untuk penyembuhan luka dan reproduksi, sedang pada
anak pembelahan sel berguna untuk pertumbuhan dan perkembangan.
Penyembuhan luka
Pada anak penyembuhan terjadi lebih cepat karena banyak terjadi pembelahan sel. Akan tetapi
sistem pertahanan pada anak masih jelek karena jaringan limfoid belum berkembang sempurna.
komplikasi pembedahan
Pada anak kemungkinan terjadinya komplikasi pembedahan lebih besar karena struktur anatominya
belum sempurna.
Ketahanan terhadap infeksi
Anak lebih rentan terhadap infeksi karena anak sedang berada pada masa transisi dari dependent
(intrauterin) menjadi independent (ekstrauterin) sehingga harus beradaptasi.
Penanganan pembedahan
Penanganan bedah anak harus berhati-hati, insisi seminimal mungkin agar trauma sekecil-kecilnya.

Faktor psikologis
1.
a.
b.
c.
2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Hubungan dokter pasien


Kesulitan dalam pembuatan anamnesis
Perlu bantuan orang lain
Perlu penerangan mengenai penyakit, perawatan, terapi dan prognosis.
Masalah memondokkan pasien
Hanya bila perlu saja
Terpisahnya dengan orang tua
Terpisahnya dengan kebiasaan lingkungan
Pemberian instruksi harus jelas
Kehidupan lingkungan yang baru
Waktu mondok jangan lama-lama

Keberhasilan / Kegagalan penanganan


A.

Keberhasilan
Yang disebut keberhasilan adalah apabila operasi berhasil baik, dan pasca operasi pasien tetap setia
melakukan follow up. Jadi walaupun operasinya sukses, namun setelah itu pasien gak pernah follow
up lagi, tetap dianggap gagal.
B.
Kegagalan
Yang disebut kegagalan adalah apabila operasi berhasil baik, namun pasca operasi pasien jatuh
dalam trauma psikis.

Saat penanganan penyakit yang baik


Tergantung atas:
1.
Resiko penyakit / kelainan
Misalnya pada hidrocephalus, hidroureter, palatoshisis, hipospadia. Pada hipospadia pasien tidak
boleh disirkumsisi. Karena kulit preputiumnya dapat digunakan untuk rekonstruksi uretra pada
operasi uretroplasty.
2.
Resiko operasi
Resiko operasi dulu dengan sekarang berbeda, karena sekarang teknologi pembedahan dan teknik
anestesi lebih maju, pengetahuan pre dan post operasi lebih baik, kemajuan perawatan intensif lebih
berkembang, jadi resiko operasi lebih kecil.

Pada neonatus perlu adanya pertimbangan resiko operasi kecuali pada keadaaan darurat seperti
hernia diafragmatika, esofagus atresi, dan intestinal atresi.
3.
Aspek teknik operasi
Contohnya pada hischprung (suatu atresia letak tinggi) penganganannya dengan colostomi.
Tujuannya adalah untuk life saving dulu, baru kemudian dilakukan operasi definitif. Colostomi:
membuat lubang pada colon. Colotomi: membuka colon dengan mengambil benda asing pada lumen
colon. Colektomi: mengambil / membuang colon.
4.
Kemungkinan sembuh spontan (regresi)
Misalnya pada hernia umbilikalis, hidrokel, hemangioma. Pada hidrokel, diobati dulu sampai 6 bulan,
kalau lebih dari 6 bulan belum sembuh maka dirujuk ke bedah. Pada hernia umbilikalis dapat
ditangani dulu dengan menekan hernia menggunakan koin, cara tersebut bisa berhasil bila diameter
umbilikalis tidak lebih dari 2 cm. Pada hemangioma, diterapi dulu dengan kortikosteroid agar regresi
karena kortikosteroid membentuk jaringan fibrotisasi. Hemangioma sampai umur 5 tahun masih bisa
regresi, bila sudah pemulihan hanya bisa dengan operasi.
5.
Aspek psikologis:
a. Yang berhubungan dengan umur pasien: sampai umur 6 bulan hanya operasi yang perlu-perlu
saja.
b. Pada umur 2-4 tahun mudah terjadi trauma karena pada usia tersebut anak sangat aktif (jadi,
kalo mau mengoperasi anak di usia tersebut lebih baik dianestesi umum. Pada usia > 4 tahun,
anak sudah mulai mudah didekati, terutama bila dokter dan perawat serta lingkungan
mendukung.

Saat operasi efektif (berdasarkan umur):


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Cranio stenosis
Meningocel
Labioskisis
Hernia inguinalis
Blader extrophy
Hirschprung
Atresia ani / recti
Polydactili
Palatoskisis
Kista
/
Fistula
brachialis

2 bulan
3-6 bulan
3-9 bulan
3 bulan
1-2 bulan
3-6 bulan
6-12 bulan
3-6 bulan
1-3 tahun
4-5 tahun

11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.

Torticolis
Hernia
umbilicalis
Criptorchismus /
UDT
Phymosis
Hipospadia
Hidrocele
Sindactily
Exostosis
Hemangioma

2-5 tahun
4-5 tahun
2 tahun
3-5 tahun
3-5 tahun
2 tahun
2-4 tahun
10-12 tahun
2-5 tahun

Respiratory Distress Syndrome (RDS)


Secara anatomis organ respirasi bayi berbeda dengan orang dewasa. Ada bebarapa sifat pada sistem
respirasi bayi yang menyebabkannya lebih mudah kena RDS. Sifat-sifat itu adalah :
1.
Diameter traktus respiratorius sempit.
2.
Costa yang horizontal
3.
Ruang thorax yang lebih kecil dan sempit
4.
Akibat hal tersebut diatas maka terjadi pernafasan abdominal.
5.
Kebutuhan oksigen 50% lebih tinggi dibanding dewasa.

Tanda-tanda RDS:

Tachypnea (kecepatan pernafasan meningkat)

Cyanosis (tubuh berwarna kebiruan akibat kurang oksigen)

Dyspnea (sulit bernafas, terjadi pada hyalin membrane disease; aspirasi; asphyxia)

Pertolongan pertama:
1. Di luar rumah sakit: mouth to mouth / mouth to nose
Pada bayi seringkali tidak memungkinkan/sulit untuk dilakukan mouth to mouth. Pada kondisi seperti
ini dilakukan mouth to nose.
2. Di dalam rumah sakit: intubasi, nafas buatan, tracheostomi.

Kausa Chirurgis (sebab-sebab dilakukan pembedahan)


1.

Choanal atresia posterior


Hubungan cavum nasi bagian belakang dengan nasofaring terputus baik unilateral maupun bilateral.
Neonatus mutlak bernafas lewat hidung, jadi apabila terjadi atresia koana, maka dapat terjadi
asfiksia.

Kausa: karena nares posterior tertutup oleh tulang / kartilago / membran mukosa (20%).
Treatment: dengan oral tube atau dot.
Operasi: transpalatal approach
2.

Pierre Robin syndrome


Merupakan kelainan yang tediri atas kombinasi palatoskisis dan hipoplasi mandibula. Pada keadaan
ini dapat terjadi obstruksi jalan nafas karena lidah yang jatuh ke belakang. Kadang pada sindroma ini
disertai juga defek pada mata.

Gejala: dapat terjadi gangguan respirasi serius, stridor, tachypnea, dyspnea dan cyanosis. Hati-hati
dalam pemberian minum karena dapat menyebabkan keselak dan aspirasi sehingga asfiksi.

Penanganan
a.
b.
c.
d.
3.

Penderita ditelungkupkan
Dipasang naso gastric tube
Dipasang small dental plate
Koreksi celah palatum (palatoplasty)
Pleuro-Peritoneal diafragma hernia

Insidensi: 1 : 3000 kelahiran


Kausa: gagalnya pertumbuhan diafragma pada embrio 8-10 minggu.
Lokalisasi defek
Lokasi defek yang baisanya terjadi:

Posterolateral (trigonum Bochdalek)

Diafragma bagian kanan

Bagian hiatal

Bagian sternocostal

Kematian terjadi sebanyak 50% sebelum sampai ke rumah sakit karena bayi lahir akan menelan
udara. Udara yang tertelan ini menyebabakan organ dalam abdomen seperti lambung dan usus
menggembung karena terisi udara. Akibatnya isi abdomen akan mendesak paru melaui lokasi hernia
tadi. Paru menjadi kolaps. Selain itu mediastinum dan cor juga ikut terdesak ke pihak lain.
Mediastinum dan kor ini juga ikut mendesak pulmo. Akibatnya pasien biasa meninggal mendadak.

Penunjang terjadinya kematian:


1. neonatal asfiksia,
2. aspirasi,
3. prematuritas.

Klinis: bayi lahir, keadaannya cepat memburuk karena gangguan respirasi, dyspnea dan sianosis.
Pada pemeriksaan fisik thorax didapatkan suara nafas negatif tetapi suara usus positif. Dada tampak
berbentuk segitiga (seperti dada burng dara).

Diagnosis : ditentukan dengan radiologis


Treatment:
1.
2.
3.
4.

Pasang NGT (nasogastric tube), isap-isap per 5 menit.


Ditolong dengan pernafasan buatan (tidak boleh dengan mask)
Tekanan pernafasan secukupnya
Bila ditemukan pneumothorax dipungsi

Tindakan operatif segera / emergency:


1. Thoracal approach
Pada thoracal approach, dinding dada dibuka. Terus ngapain? Boleh nggak misalnya untuk
mengatasi kolaps paru kita pompa aja udara kedalam paru-parunya supaya mengembang?
Ternyata tidak boleh. Kalau kita pompa udara ke dalam paru maka parunya bisa meledak. Trus
caranya gimana dong. Jadi begini, setelah dinding dada dibuka, kita dorong dulu isi abdomen
tadi masuk lagi ke rongga abdomen. Terus paru-parunya kita sedot dari samping. Maksudnya
untuk memberi tekanan negatif disekeliling paru sehingga paru perlahan-lahan mengembang.
2. Abdominal approach
Sebenarnya prinsipnya sama, hanya kalu disini yang dibuka dinding abdomnennya, trus isi
rongga abdomen ditarik masuk ke abdomen.

Prognosis:

Survival ratenya 50%

Tingginya mortalitas oleh karena malformasi lain yang terjadi secara bersamaan dengan Pleuro-

Peritoneal diafragma hernia (misal: cardiac defect, hipoplasi paru, prematuritas)


Adanya penundaan operasi darurat oleh karena kelambatan penegakkan diagnosis juga

menyebabkan tingginya mortalitas.


4.
Eventerasio diafragma
Merupakan keadaan dimana terjadi elevasi abmormal sebagian / seluruh hemidiafragma pada bayi
baru lahir.

Kausa:
1. Akibat kegagalan pertumbuhan otot diafragma.
2. Paralisis n. phrenicus akibat trauma kelahiran (Erb Deuchene Syndrome) bersama paralisis /
parese plexus brachialis. Seperti yang sudah kita ketahui, nervus phrenicus berfungsi untuk
menginervasi diafragma. Kalau nervus ini rusak maka diafragma akan mengalami paralisis.
Pada kasus yang berat terjadi respirasi paradoksal, sedang pada kasus yang ringan terjadi kesulitan
minum dan makan serta tachypnea.

Diagnosis: ditegakkan dengan radiologis.


Treatment:

5.

Perbaikan, keadaan umum.

Plikasi diafragma (pembuatan lipatan pada diafragma)

Sering sulit menentukan tindakan operatif / konservatif terutama pada kasus ringan.

Esofagus atresi
Yaitu keadaan dimana tidak ada kesinambungan esofagus secara kongenital. Dengan kata lain
esofagus atresi adalah terjadinya sumbatan,atau tidak terbentuknya lubang pada esofagus.

Insidensi: 1 : 3000 kelahiran

Kausa: defek pemisahan septum antara trachea dengan esofagus (minggu 4-6 kehidupan janin),
90% kasus dengan tracheo-esofagus fistula.
Jadi gini nih. Trachea dan esofagus itu kan asalnya dari divertikulum ventral pada foregut. Nah
setelah lewat minggu ketiga kehamilan, akan terbentuk septum yang memisahkan foregut ini menjadi
trachea dan esofagus. Apabila proses ini terganggu maka dapat terjadi tracheo-oesophageal fistula
ataupun atresia esofagus. Tapi biasanya yang terjadi adalah dua-duanya sekaligus. Jadi atresia
esofagus itua ada dua. Pertama yang disertai dengan fistula tracheo-esofageal (87%). Yang kedua
adalah yang tidak disertai fistula tracheo-esofageal, tapi yang ini insidensinya cuma 8%.

Klinis:

Adanya Hidramnion pada ibu.

Hal ini dapat diketahui dari dari hasil anamnesis. Hidramnion/polyhidramnion pada ibu saat hamil
dalam kasus ini terjadi karena janin tidak dapat menelan dan mengabsorbsi cairan amnion
(sebab terdapat esofagus atresi). Akibatnya cairan amnion ibu menumpuk.
Hipersalivasi pada bayi

Saliva yang dihasilkan tidak bisa masuk kelambung karena buntunya esofagus. Akibatnya saliva
ini akan mengalami refluks, masuk lagi ke cavum oris. Terjadi hipersalivasi.
Aspirasi laringotrachealis

Dengan adanya fistula tracheo-esofagus membuat persoalan menjadi serius karena bila bayi
menangis, ada kekuatan ekspirasi melawan penutupan glotis, akibatnya terjadi kenaikan tekanan
intra-tracheal sehingga udara akan menuju gaster (kembung). Tekanan intragastric sangat meninggi,
sehingga pada saat berhenti menangis akan terjadi refluks ke paru sehingga terjadi dyspnea, batuk
dan sianosis.
Sianosis juga dapt terjadi pada saat bayi diberi makan. Prinsipnya adalah pada atresia esofagus ini
terjadi tracheoesofageal fistul. Akibatnya jalan mkanan yang harusnya lewat esofagus karena
esofagusnya tersumbat, jadi masuk ke trakea. Akibatnya kalau makanan terlalu banyak dan padat,
dapat terjadi sumbatan trakea, dan timbul sianosis.

Treatment:

Pasien ditelungkupkan dengan kepala lebih rendah.

Pasang NGT halus, isap pelan-pelan per 5 menit.

Penderita segera dikirim ke rumah sakit yang fasilitasnya lengkap.

Diagnosis:

Radiologis dengan kateter radioopaque.

Adanya udara gaster, bukti adanya tracheo-esophageal fistula

Terapi:

Perbaikan keadaan umum

Ligasi saja

Ligasi end to end anastomosis

Interposisi kolon / gaster

Prognosis:

6.

Prognosis tergantung individual kasus, kelainan IIIA-IIIB 90% survive.

Bila disertai ddengan malformasi lain maka prognosisnya kurang menyenangkan.

Pada prematur, biasanya bersamaan dengan adanya komplikasi lain seperti RDS
dan perdarahan intracranial.
Lobar pneumonia kongenitalis

Kausa: cepat berkembangnya satu / lebih lobus paru.


7

Klinis:
1. Jika perkembanga salah satu lobus paru terlalu cepat dapat terjadi RDS karena penekanan pada
lobus paru yang lain.
2. Tachypnea, dyspnea, dan sianosis.
3. Bayi lahir cepat menjadi gawat.
4. Pada auskultasi, suara nafas terbatas.
5. Pada perkusi, paru hipersonor.

Diagnosis: pada X foto tampak distensi masif dari paru (awas! Bedakan dengan tension
pneumothorax).

Lokasi:

Pada pulmo sinister lobus superior

Pada pulmo dexter lobus medius

Pada pulmo dexter lobus superior

Etiologi: 50% belum jelas, sedang sisanya pada pemeriksaan patologi anatomi terlihat adanya
gangguan anatomis dinding bronchus. Gangguan tersebut bisa berupa adanya displasi kartilago
ataupun lipatan membran mukosa.

Terapi: lobektomi.

Obstruksi Saluran Cerna Anak


Traktus gastrointestinal dapat mengalami obstruksi pada hampir semua bagian sepanjang perjalanannya.

Gejala obstruksi saluran cerna:


1. Sakit

: penderita akan merasa sakit karena ada peregangan yang berlebihan pada
daerah proksimal obstruksi.
2. Obstipasi
: penderita tidak bisa buang air besar dan flatus.
3. Kembung
: dinding perut lebih tinggi daripada garis xypopubic (garis yang menghubungkan
processus xypoideus dengan simpisis pubis).
4. Muntah
: jika bayi yang baru lahir muntah-muntah terus, maka hanya ada 3 kemungkinan
penjelasannya, yaitu: hemoragi intrakranial, infeksi berat, dan obstruksi usus.
5. Abdominal sign : dapat dijumpai dengan inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi, rectal toucher (colok
dubur).
Disingkat SOKMA

Pemeriksaan fisik diagnostik


Inspeksi
Pada inspeksi akan terlihat gambaran perut kembung, tampak gambaran usus (darm contour) dan
tampak juga gerakan usus yang berlebihan (darm steifung).

Palpasi
Pada palpasi dapat teraba perut kembung dan tegang serta sakit ketika disentuh. Masa dapat terlihat,
dapat pula tidak. Kadang dapat ditemuakn pula adanya masa abnormal sebagai contoh misalnya pada
kasus invaginasi akan teraba adanya masa di area subcosta (sosis sign).

Perkusi
Pada perkusi biasanya didapatkan suara tympani.

Auskultasi
8

Pada auskultasi didapatkan suara hipoperistaltik pada daerah distal obstruksi dan hiperperistaltik di
daerah proksimal obstruksi. Pada obstruksi terdapat metalic sound dan murmuric sound.

Rectal toucher
Pada rectal toucher akan terasa cengkraman rektum yang kuat. Perlu diingat bahwa pada bayi rectal
touche tidak boleh langsung dilakukan. Sebelumnya harus diberi pelicin dulu (biasanya jelly). Karena
kalau tidak bayi bisa mati karena shock akibat rasa sakit hebat yang muncul.

Macam-macam penyakit obstruksi


Sebelum membahas macam-macam obstruksi usus, kita harus tahu dulu macam-macam obstruksi usus.
Berdasar letaknya, obstruksi usus dibagi menjadi beberapa macam. Ada yang membagi menjadi tiga
macam, yaitu obstruksi usus letak tinggi, letak sedang, dan letak rendah. Namun sebagian besar
referensi membagi menjadi dua saja. Yaitu obstruksi usus letak tinggi bila obstruksinya terletak mulai dari
pertengahan ileum ke proksimal, dan obstruksi letak rendah bila obstruksinya terletak mulai dari
pertengahan ileum ke distal. Obstruksi letak tinggi ini ditandai dengan muntah-muntah yang hebat, serta
dapat terjadi obstipasi. Pada obstruksi letak rendah dapt terlihat adanya distensi abdomen akibat
penumpukan isi traktus GI.
Sedangkan yang membagi menjadi tiga. Pembagiannya adalah sebagai berikut:
1.
Obstruksi letak tinggi
Obstruksi terjadi pada saluran yang berasal dari foregut (lambung, duodenum). Ditandai dengan
distensi pada abdomen regio superior. Ditandai dengan muntah hebat dan muntahnya jernih.
2.
Obstruksi letak tengah
Obstruksi terjadi pada saluran cerana yang berasal dari midgut (jujenum,ileum sampai kolon
treansversum). Ditandai dengan distensi perut di atas umbilikus.
3.
Obstruksi letak rendah
Obstruksi terjadi pada saluran cerna bagain distal. Menyebabakan distensi pada seluruh dinding
abdomen. Obstruksi usus letak rendah akan mengakibatkan distensi perut, muntah, gangguan cairan
dan elektrolit serta asam basa

1.

Hipertrofi pilorus
Insidensi: 1 : 900 kelahiran hidup. Kejadiannya progresif. Kausanya tidak diketahui. Perbandingan
penderita laki-laki dan perempuan adalah 4:1. Anak dari ibu yang menderita hipertrofi pilorus
kemungkinan terkena juga 4 kali lebih besar. Hipertrofi pilorus merupakan kelainan yang terjadi pada
otot pilorus yang mengalami hipertrofi pada lapisan sirkulernya, terbatas pada lingkaran pilorus dan
jarang berlanjut ke otot gaster.

Diagnosis:

mula-mula bayi dapat minum seperti biasa

kemudian mendadak muntah-muntah yang terjadi berulang dengan muntah yang

menyemprot (muntah proyektil). Muntahan berupa makanan dan minuman yang belum dicerna
serta sering disertai dengan darah, yang terjadi karena pecahnya kapiler pada mukosa gaster
yang disebabkan adanya gastritis.
Sehabis muntah, bayi kelihatan masih lapar / haus, yang tampak dari tingkah bayi

yang menghisap-hisap ibu jari dengan rakus.


Pada inspeksi dapat terlihat gelombang peristaltik dari kiri ke kanan di daerah
subcostal.

Pada perkusi dapat ditemukan adanya distensi pada gaster

pada palpasi dapat teraba adanya massa sebesar biji salak di daerah epigastrum.

Patofisiologi:
meskipun diagnosis hipertrofi pilorus dapat dibuat pada hari ke 1 setelah lahir, tetapi

manifestasi gejala baru terlihat jelas setelah berumur 3-7 minggu.


Bayi dengan kelainan ini jarang hidup mencapai 3 bulan bila tidak diterapi

Pemeriksaan fisik: bila pada pemeriksaan fisik ditemukan massa di perut kanan atas di bawah
arcus costarum sebesar ujung jari telunjuk, berbatas tegas, konsistensi kenyal padat, diagnosis dapat
ditegakkan mendekati 100%, tetapi bila masih diragukan dapat ditunjang dengan pemeriksaan
radiologik.

Radiologi: pada pemeriksaan OMD (teknik radiologi dengan memakai kontras untuk melihat
esofagus, lambung, dan duodenum) dapat terlihat adanya string sign (+).

Terapi:

Piloromiotomi cara Fredet-Romstedt,

koreksi dehidrasi dan elektrolit,

koreksi alkalosis,

nasogastric tube (NGT).

2.

Duodenal atresia dan Stenosis


Atresia duodenum adalah keadaan dimana tidak ada lumen pada duodenum. Sedangkan stenosis

adalah keadaan dimana lumen usus sangat kecil sehingga hanya bisa dilewati oleh sedikit makanan.

Insidensi: 1 : 5000-10000, 25-30 % bersamaan dengan Downs syndrome (mongolism atau trisomi 21).
Patofisiologi:
dapat disebabkan kegagalan proses rekanalisasi atau vakuolisasi selama periode

embrio.

Kelainan ini biasa terjadi bersamaan dengan annular pankreas (1/3 tengah).

Diagnosis:

adanya polyhidramnion pada saat kehamilan,

awas kalau bayi mempunyai kelainan Mongolism,

bayi muntah dengan warna hijau bilus (kalau hanya stenosis saja, bila diberi minum

glukosa tidak terjadi muntah),


keadaan abdomen scaphoid.

Radiologi abdomen:

terdapat gambaran doble bubble (gelembung gaster dan gelembung duodenum),

Pada pemeriksaan Barium enema dapt terlihat penyempitan duodenum.


Pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan adanya kemungkinan malrotasi..

Terapi:

3.

koreksi dehidrasi,

kalau perlu lakukan gastrotomi (membuat lubang permanen pada lambung),

koreksi dapat ditunggu 2-3 minggu sambil dilihat adanya kelainan yang terjadi

bersamaan,
koreksi bedah dengan cara duodenoduodenostomy / duodenoyeyunostomy.

Meconeum ileus
Meconeum ileus merupakan obstruksi pada mekonium yang disebabkan oleh mekonium yang lengket

dan kental sehingga tidak dapat dipasase dari usus oleh peristaltis normal. Penyakit ini merupakan

10

manifestasi neonatal penyakit fibrokistik pankreas herediter yang lebih sering terjadi pada masa
kanak-kanak dengan gejala-gejala steatorea dan penyakit respirasi rekuren.

Insidensi: selalu terjadi bersamaan dengan penyakit cystic fibrosis pankreas.


Patogenesis: pada penyakit cystic fibrosis, pankreas menghasilkan enzim yang tidak normal dan
mensekresi mukus kental (viscid mucus). Akibat dari defek enzim pankreas dan bertambahnya
sewaktu mekonium di susu maka meconeum menjadi berbentuk padat dan pliket (dehidrasi). Pasien
dapat mengalami dehidrasi karena cairan tubuhnya banyak tersedot untuk melunakkan mekonium.
Karena meconeum padat, maka gerakan peristaltik yang normal tidak dapat memasase meconeum
itu.

Diagnosis: perlu diperhatikan sifat keturunan, kelainan ini akan menampilkan gejala obstruksi
rendah dimana kembung adalah gejala yang menonjol.

Pemeriksaan fisik:
bayi lahir dengan distensi abdomen dan teraba massa pada kuadran kanan bawah

abdomen

pada pemeriksaan rectal toucher terasa colon unused (kolonnya kolaps /

mencengkram).

Pemeriksaan radiologis:
a. Pada foto polos abdomen 3 posisi terlihat adanya pelebaran lumen usus halus ( distensi usus
halus), gambaran soap bubble (busa sabun), gambaran massa feses padat ( ground glass) dan
beberapa gambaran air fluid level sebagai tanda ileus. Tanda diatas dapat terlihat pada regio
iliaca dextra. Tanda-tanda: distensi, dispersi udara, air fluid level.
b. Pada colon inloop terlihat gambaran microcolon karena colonnya kolaps.

Terapi:
dapat dengan pembedahan dan non pembedahan, yaitu:
a. Terapi non pembedahan: sampai dengan tahun 1968 terapinya dilakukan dengan dekompresi
obstruksi usus dan pemberian lavemen (pencahar) dengan gastrografin. Gastrografin
adalah cairan hiperosmolar radioopak yang larut dalam air dan mempunyai kemampuan
menarik air masuk meconeum.
Cara terapi dengan gastrografin adalah sebagai berikut: pasang kateter no.16-18 per
anus masukkan gastrografin dengan spuit dimonitor dengan fluoroscopy kalau
belum berhasi diulang tiap 4-6 jam sampai 4 kali gagal perlu dilakukan laparotomi.
Tetapi terapi non bedah ini sudah mulai ditinggalkan karena efek dehidrasi yang
ditimbulkan teknik ini cukup berbahaya bagi sang anak terutama jika sang anak
mempunyai komplikasi lain seperti volvulus, nekrosis, perforasi maupun peritonitis.
b. Terapi bedah: reseksi dan anastomosis usus to end , jika dalam tindakan anastomosis tadi ada
keadaan darurat pada sang bayi untuk sementara dikerjakan ileostomi baik secara
bishopkoop. Santuli maupun Mikulics, irigasi lewat enterostomi di sebelah distal
sumbatan.

4.

Atresia Ani / Imperforate Ani


Atresia / omperforate adalah keadaan dimana tidak terbentuk anus.

Insidensi: Sering terjadi, 1: 3000 kelahiran.


Patofisiologi:
kelainan ini terjadi karena kegagalan pembentukan septum urorectal secara komplit.
Berdasarkan letaknya ada tiga macam, yaitu:

11

a. Tinggi, bila rectum berakhir di atas m. levator ani


b. Intermediet, bila rectum terletak pada m. levator ani
c. Rendah, bila rectum berakhir di bawah m. levator ani.
Atresia ani pada wanita, 90% terjadi dengan fistula ke vagina maupun ke perineum (fistula
rectovagina dan fistula rectovestibular).
Pada laki-laki, umumnya yang terjadi adalah atresia ani letak tingi (rectum berakhir di atas m. levator
ani), bila ada fistula akan menunjuk ke arah traktus urinarius seperti vesica urinaria maupun prostat
(fistula rectovesicalis), sedang yang letak rendah biasanya ada fistula ke uretra (fistula rectouretralis).
Patologis kelainan ini adalah karena adanya obstruksi usus dan fistula. Obstruksi usus letak rendah
akan mengakibatkan distensi perut, muntah, gangguan cairan dan elektrolit serta asam basa. Fistula
akan menyebabkan asidosis hiperkloremik yang disebabkan absorpsi urin oleh mukosa usus. Infeksi
traktus urinarius rekuren dapat terjadi sebagai akibat pasase feses lewat traktus urinarius.

Diagnosis:

bayi cepat kembung antara 4-8 jam setelah lahir,

tidak diketemukan adanya anus, dengan ada atau tidak adanya fistula. Bila ada
fistula pada perineum (yang diketahui dengan diketemukannya meconeum di perineum)
menunjukkan bahwa atresia yang terjadi adalah atresia letak rendah.

Pemeriksaan radiologis:
a. Foto abdomen setelah 18-24 jam setelah lahir, jangan sampai kurang waktunya,karena jika
kurang, usus bayi belum cukup berisi udara sehingga diagnosisnya nanti bisa kabur. Foto ini
dilakukan dengan teknik Wangenstein Reis (foto diambil dengan posisi bayi kedua kakinya
dipegang dan posisi badannya vertikal dengan kepala di bawah) atau knee chest point (posisi
sujud). Kedua posisi ini dimaksudkan agar udara dalam usus bisa berkumpul di daerah paling
distal (tempat buntu).
b. Bila terjadi fistula lakukan fistulografi.

Penatalaksanaan:
a. Di puskesmas, lakukan dulu trias stabilisasi dan lakukan dekompresi dengan NGT (naso gastric
tube).
b. Lakukan kolostomi pada atresia letak tinggi dan intermediet terlebih dahulu, baru kemudian
lakukan operasi definitif dengan PSARP (postero sagital anorectoplastik) setelah bayi berumur 6
bulan.
c. Pada atresia ani letak rendah dapat langsung dikerjakan perianal anoplasty tapi sebelum operasi
ini dikerjakan dilakukan terlebih dahulu tes provokasi dengan stimulator otot untuk dapat
mengidentifikasi batas otot sphincter ani externus.
d. Jika terdapat fistula lakukan cut back incision.
Hasil yang diharapkan: normal bowel kontrol dan continence (BAB yang kontinyu tiap hari tanpa
obat).

5.

Hirschprung (Megakolon Kongenital)


Insidensi: 1 : 1000-10000 (di USA 1 : 3000), 5% ada hubungannya dengan keturunan.
Patofisiologi: tidak adanya plexus syaraf parasimpatis pleksus myenterikus auerbach ataupun
plexus meisner. 75-80 % terjadi di rectosigmoid dan 5-11 % di seluruh kolon, gangguan inervasi
parasimpatis akan menyebabkan kegagalan peristaltik sehingga akan terjadi obstruksi.

Diagnosis:
a. Berat badan bayi lahir normal.
b. Adanya gejala kronis konstipasi.
c. Pengeluaran meconeum terlambat (> 2 x 24 jam).

12

d. Sering kembung, diare, muntah, panas.


e. Tumbuh kembang anak dibawah normal.
f. Pada pemeriksaan colok dubur: nyemprot, kembung cepat hilang.

Pemeriksaan fisik:
a.
b.
c.
d.
e.

Inspeksi
: keadaan umum lemah, perut kembung.
Palpasi
: lunak sampai tegang.
Auskultasi
: lemah jarang
Perkusi
: timpani
Pemeriksaan colok dubur : daerah sempit sampai longgar.

Pemeriksaan radiologis:
a. Foto polos abdomen tampak udara di kolon dan kolon terlihat seperti membesar. Gambaran ini
disebut U inverted (U tapal kuda). Dapat terlihat adanya udara bebas pada cavum peritonii jika
terjadi perforasi. Dapat juga terlihat cairan bebas (ascites).
b. Dengan Barium inloop terlihat adanya daerah transisi (distal daerah sempit, proximal longgar).
Daerah transisi ini penting diketahui karena kolostomi dibuat pada tempat ini.

Pemeriksaan patologi:
a. Biopsi usus tidak ditemukan adanya ganglion parasimpatis.
b. Pada segmen aganglionik didapati hipertofi serabut saraf dan adanya kenaikan kadar asetil kolin
esterase.

Penatalaksanaan:
a. Memperbaiki keadaan umum dengan terapi konservatif (trias stabilitas: air dan elektrolit, asambasa, dan suhu).
b. Pemeriksaan barium inloop
c. Bila ada perforasi segera lakukan laparotomi. Laparotomi adalah pembedahan perut, yaitu
membuka dinding perut dengan operasi. Laparotomi dilakukan 2 tahap. Tahap pertama adalah
colostomy yang bertujuan untuk live saving. Baru setelah bayi berat 10 kg (6 bulan) dapat
dilakukan operasi tahap kedua berupa operasi definitif dengan mereseksi bagian aganglioner
yang dapat menggunakan teknik pull through. Beberapa prosedur pull through yang serign
dipakai adalah prosedur Rehbein, Duhamel, Soave, dan Swenson. Colostomy juga dimaksudkan
untuk mengecilkan kolon yang dilatasi sehingga ketika prosedur pull through dikerjakan akan
lebih mudah.

6.

Invaginasi / Intussusceptio
Invaginasi adalah suatu keadaan dimana bagian oral (proximal) usus menerobos masuk ke dalam

rongga bagian anal (distal). Ada beberapa jenis tergantung lokasinya:


a. Enterica
: usus halus masuk ke dalam usus halus.
b. Entero-colica : ileum masuk ke dalam coecum atau colon, jenis ini paling sering ditemukan.
c. Colica
: usus besar masuk ke dalam usus besar.
d. Prolapsus ani : rectum keluar melalui anus.

Insidensi:
a. Kebanyakan pada umur 3-28 bulan pertama (puncaknya umur 5-6 bulan).
b. Kausa hampir 90-95 % idiopatik. 5-10 % ada kelainan anatomis yang biasanya terjadi pada anak
yang lebih tua disebabkan oleh tumor seperti limfoma, polip, hemangioma dan diverticulum
meckel.
c. Terkadang terjadikarena kesalahan dokter dengan memberikan antispasmolitik pada diare non
spesifik pada diare.

Patofisiologi:
13

Intussusceptio 90% idiopatik, diduga karena hipertrofi jaringan limfoid (plaque peyer) akibat infeksi
virus (limfadenitis virus) yang biasanya mengikuti suatu gastroenteritis atau infeksi saluran nafas.
Intussusceptio menyebabkan pembengkakan bagian intussusceptum (bagian dalam) sedang bagian
yang melingkari disebut intussuscipiens. Terjadi edema intestinal dan obstruksi aliran vena yang
mengakibatkan terjadinya obstruksi intestinal, perdarahan dan infark bila tidak segera diatasi.

Diagnosis:
a. Anak mendadak kesakitan episodik, pucat, menangis dengan mengangkat kaki, muntah frekuen
dan muntahan berwarna hijau.
b. Defekasi dengan lendir dan darah.
c. Tanda obstruksi mekanis (+).

Pemeriksaan fisik:
a. Teraba massa tumor abdomen yang terjadinya spontan.
b. Nyeri tekan (+).
c. Dancen sign (+). Dancen sign adalah sensasi kekosongan pada kuadran kanan bawah karena
masuknya caecum pada coloc ascendens.
d. Pada colok dubur dapat ditemukan adanya pseudoportio (sensasi seperti portio vaginalis). Hal ini
disebabkan invaginasi usus yang sudah lama. Selain itu dapat juga teraba adanya lendir dan
darah.

Pemeriksaan radiologis:
a. Foto abdomen pada 3 posisi menunjukkan tanda obstruksi (+).
b. Colon inloop dengan Barium untuk melihat letak invaginasi.
c. Tanda obstruksi adalah: distensi abdomen, air-fluid level, hering bone (gambaran seperti tulang
ikan hering yang merupakan gambaran plica circularis usus).

Penatalaksanaan:
a. Stabilisasi keadaan umum, jika ada asidosis (yang ditandai dengan adanya bercak-bercak
kemerahan di kulit) berikan bicnat dan infus dengan cairan elektrolit karena cairan elektrolit
susunannya mirip dengan plasma.
b. Pada stadium dini dilakukan terapi reduksi dengan colon inloop dimasukkan Barium atau udara
bertekanan.
c. Jika operasi tidak berhasil, lakukan laparotomi darurat kemudian lakukan milking (diperas) jika
invaginasinya masih ringan, tapi pada invaginasi berat atau kalau milking tidak berhasil, maka
terpaksa dilakukan reseksi dan anastomosis end to end.
Nah setelah membahas invaginasi Pak Rochadi terus nanyain ginmana caranya membedakan invaginasi
dengan Megacolon. Gampang aja, kalau pada pasien yang invaginasi , terjadi ileus obstruktif, sehingga
pasien sangat kesakitan,biasanya nangis terus. Sedangkan pada megacolon pasiennya gak nangis,
malah masih bisa action waktu difoto.

Keganasan pada Anak


1.

Teratoma Sacrococcygeal

Merupakan massa tumor yang terletak dekat anus dan sacrum.

Tumor terdiri dari 3 derivate lapisan germinal: ekto, meso, dan entoderm.

Terletak pada garis tengah sehingga jangan salah dengan atheroma.

Sering timbul pada < 1 tahun.

Sering timbul gejala ileus jika tumor membesar ke depan.

14

Bisa juga terdapat di regio retroperitoneal, cervical, intrakranial (Pada dewasa terletak

pada ovarium, testis dan mediastinum).

Insidensi: 1 : 4000 ; laki-laki : perempuan = 3 : 1


Tanda-tanda:

massa tertutup kulit normal.

Teratoma terdiri massa cystis, multilokuler, ada bagian yang solid, berkapsula baik.

Isinya rambut, kartilago, tulang, lemak, lengan, gigi, usus, dll. Jaringan yang bermacam-macam
ini menunjukkan bahwa degenerasinya (diferensiasi) baik.
Jika degenerasi jelek maka termasuk ganas.

Ukurannya 1 cm sampai sebesar kepala, perluasan ke depan sacrum, ke peritoneal,

ke belakang coccygea.
Malignitas berhubungan dengan umur (yang terjadi / diekterpasi > 3 bulan akan
berkembang secara progresif maligna).
Khusus yang meluas ke sacral, akan mendesak vesica urinaria, anus dan rektum ke

depan. Akibatnya terjadi hidronefrosis, konstipasi, oedem extremitas inferior.

Pemeriksaan radiologis: 40% dengan


Diferensial diagnosisnya:

kalsifikasi.

lipoma cauda equina,


myelomeningocel anterior (sacralis),
spina bifida, bone defect sacrum dan ditandai dengan masa akan tegang saat menangis.

2.

Wilms tumor

Memberikan gambaran massa di abdomen.

Merupakan tumor gans ginjal setelah neuroblasoma.

Terdiri atas berbagai bentuk jaringan (glandula, kartilago, otot, lemak).

5% terjadi bilateral,

5% terdiagnosis pada umur 1,5 tahun.

80% terdiagnosis setelah infitrasi.

30% terdiagnosis setelah metastase ke limfonodi.

50% terdiagnosis metastase ke paru.

Jarang metastase ke tulang, hal ini yang membedakan dengan neuroblastoma.

Pemeriksaan fisik:
a.
b.
c.
d.
e.

90% teraba massa di abdomen.


Menonjol ke ventrolateral.
Suatu massa yang padat dan kenyal.
Nyeri telan (-).
Tidak melewati linea mediana. Tidak ikut bergerak pada pernafasan ataupun perubahan posisi.

Pemeriksaan radiologi:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bayangan massa di abdomen sebelah kanan atau kiri.


Pemeriksaan IVP ginjal terlihat masih berfungsi dan tampak distorsi calix / tubulus ren.
Venacavografi
: adanya emboli tumor.
Aortografi
: mengetahui batas tumor.
Colon inloop
: tampak pergeseran kolon.
Rontgen foto thorax : untuk mencari adanya metastase.

Terapi:
a. Operasi total / partial

15

b. Kemoterapi: aktinomisin d, vincristi-radiasi: 1-2 minggu post operasi (3000-4000 r).

Prognosis:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Kurang dari umur 2 tahun, 70-80 % survive.


Lebih dari umur 2 tahun 50% survive
Berat tumor > 300 gram.
Adanya emboli / invasi
Pada staging I-II cukup baik
Ada / tidaknya hematuri
Prognosis lebih baik 70-80 % tanpa melihat umur bila: diagnosis dini, operasi radikal, kemoterapi
dan radiasi adekuat.

Diferensial diagnosis:

3.

fibromatoid tumor (pada neonatus),

sifatnya benigna dan sangat seluler. Isinya stroma fibromatosa (cartilago jaringan
hemopietic, jaringan angiomatoid, tubuler displasi dan glomeruli).
rhabdomyosarcoma,

teratoma retroperitoneal,

Sarcoma

neuroblastoma,

tumor wilms.

Neuroblastoma
Berasal dari crista neuralis (sel simphatogonia sebagi sel simpatis primitif) embrional. Merupakan
salah satu penyebab kematian anak.
Penyebab kematian anak :
1. leukimia, (40%)
2. tumor ganas CNS,(15%)
3. limfoma maligna, (10%)
4. tumor neuroblastoma
5. tumor wilms.

Diagnosis klinik: ditemukan pada umur < 1 tahun (30%), 1-2 tahun (50%), 2-8 tahun (15%), > 8
tahun (5%).

Gejala dan tanda:


a. Massa abdomen keras, irreguler, meluas melewati linea mediana.
b. Keaktifan hormonal sehingga menyebabkan diare, panas, hipertensi, berat badan menurun,
anemia, konstipasi.
c. Keluhan kencing (cauda equina sindrome),
d. parese / paralisis extremitas inferior (+ / -).
e. Metastase: tulang, hepar, limfonodi, jaringan lemak, subcutis dan saraf.

Insidensi: 1 : 1000 kelahiran hidup.


Lokasi: leher (4%), mediastinum (12%), abdomen (75% 50% ginjal dan 25% non ginjal), lain-lain
(9%).

Pemeriksaan radiologi:
a. Bayangan tumor abdomen, melewati linea mediana.
b. IVP bayangan ginjal terdesak ke bawah.
c. Kolon inloop dengan kontras, kolon terdesak ke ventromedian.

Terapi: pembedahan, kemoterapi dan radiasi.


16

Prognosis:
a. Relatif berbeda tergantung pada umur waktu terdiagnosis
< 1 tahun 75% survive,
1-2 tahun 20% survive,
> 2 tahun 5% survive.
b. Prognosis 4 kali lebih baik apabila diagnosis ditegakkan sebelum ada metastase.
c. Prognosis tergantung lokasi tumor.
d. Prognosis tergantung operasi yang dilakukan, apakah total ataukah tidak.

Staging neuroblastoma:
Stadium (S) I : masih dalam organ
S II : tumor keluar organ tapi tidak melewati linea mediana.
S III : tumor keluar organ dan melewati linea mediana serta mengenai limfonodi regional.
S IV: metastase luas ke liver, kulit, medulla osseum, tulang, dll.
Familial insidensi:
a.
Pada pemeriksaan kromosom ditemukan adanya abnormalitas sitogenik regional yang
diturunkan dari orang tua pada anaknya pada trisomi 21.
b.
Ditemukan 33 kasus tumor ini pada orang dewasa dan mempunyai anak normal.
c.
Ada kasus dimana ibu dengan neuroblastoma pada mediastinum posterior, 4 dari 5
anaknya normal.
Oke itu semua kelainan-kelainan yang dibahas di transparansi Pak Rochadi. Tapi ada juga kelainankelainan yang tidak di bahas di trasnsparansi tapi ada di slide. Yaitu :
a. Gastroschisis
Keadaan dimana isi abdomen (usus) ada di luar abdomen tanpa kantong sehingga usus
bisa dipegang. Keadan ini terjadi karena korda lateralis tidak bertemu (menutup) dengan
sempurna. Penanganan: usus tidak boleh ditaruh di samping. Karena a. mesentericanya
bisa terlipat. Akibatnya usus tidak bisa menerima darah dan mengalkami iskemi. Pada kasus
seperti iniu usus diposisikan vertikal di atas abdomen. Prinsipnya a. mesenterica tidak boleh
sampai melipat. Kemudin ditutup kasa steril yang diberi NaCl fisiologis.
b. Ekstrofi vesica
Keadaan dimana vesica urinaria terekspos keluar karena penutupan abdomen sebelah
ventral tidak terjadi. Disamping itu terjadi pemisahan musculus rectus abdominis, symphisis
pubis dan corpus cavernosum, sedangkan klitoris seluruhnya terbelah. Penis menjadi
pendek, lebar dan mengarah ke depan karena tertarik oleh korda. Uretra terbuka di sebelah
ventral sehingga terjadi hypospadia. Tindakan : dengan menutup kandung kemih serta
membuat pasien dapat melakukan hubugan sex secara normal. Dinding abdomen ditutup
kemudain penis dibuat lurus dengan kordektomi dan pada hipospadia dilakukan
uretroplastik, operasi dilakukan secara bertahap.
Yap bedah anak selesai, abis ini masih harus bikin perioperative care ama pembedahan minor, padahal
besok ada ujian THT.. huh kapan mau belajarnya ya? Pak Rochadi bilang kalau soal-soal beliau
bakalan kurang lebih sama dengan tahun lalu. Jadi kalau waktu belajar kalian gak cukup, langsung baca
soal aja juga gak papa, met belajar ya!!! (Roesd)
Soal
1. Di bawah ini adalah tanda-tanda Ileus:
c. Muntah d.
Kembung

17

d. Nyeri perut
e. Obstipasi

e.

Benar semua

2. Tanda-tanda atresia atresia duodenum adalah sbb, kecuali:


a.
b.
c.
d.
e.

Muntah hijau
Muntah jernih
Kembung epigastrum
Gambaran Rontgen Double Bubble
Gangguan tumbuh kembang

3. Di bawah ini termasuk ileus mekanis, kecuali:


a.
b.
c.
d.
e.

Hernia skrotalis inkarserata


Volvulus
Invaginasi
Mekonium ileus
Hirschprung disease

4. Gambaran rontgen Ground glass appearance terlihat pada:


a.
b.
c.

Invaginasi
Mekonium ileus
Atresia ani

d.
e.

Hirschprung disease
Mal rotasi

5. Gambaran String sign tampak pada:


a.
b.
c.
d.
e.

Stenosis pilorus hipertofikans


Atresia duodenum
Atresia bilier
Atresia rekti
Stenosis rekti

6. Kebutuhan cairan bayi dengan BB: 4 kg:


a.
b.
c.

200 cc/24jam
400 cc/24jam
500 cc/24jam

d.
e.

600 cc/24jam
1000 cc/24jam

7. Kebutuhan Kalium pada bayi dengan BB: 5 kg:


a.
b.
c.

10 m Eq/24jam
50 m Eq/24jam
100 m Eq/24jam

d.
e.

150 m Eq/24jam
200 m Eq/24jam

8.
a.
b.
c.
9.
a.
b.
c.
10.
a.
b.
c.
11.
a.
b.
c.
d.
e.

Soave endorectal pull through adalah operasi:


Atresia ani letak tinggi d. Stenosis pilorus Hipertrofikans
Atresia dudenii e. Invaginasi
Hirschprung disease
Posterogenital anorecto plastic adalah operasi untuk:
Hirschprung disease d. Invaginasi
Atresia ani e. Malrotasi
Stenosis pilorus hipertrofikans
Berikut adalah kelainan regio umbilikal, kecuali:
Gastrosikisis d. Duktus omfalomesenterikus persisten
Omfalokel e. Bukan salah satu di atas
Urachus
Perbedaan cellulitis dengan phegmon pada:
Tempat terjadinya
Ada tidaknya port dentre
Hasil peperangan antara kuman dengan tubuh
Batasnya tegas / tidak
Virulensi kuman

18

Anda mungkin juga menyukai