Anda di halaman 1dari 3

Naskah drama Pakaian dan Kepalsuan memiliki beberapa elemen

yang mendukung
1.

UNSUR INTRINSIK
Judul
: Pakaian dan Kepalsuan
Topik
: Kebohongan
Tema
: Mengungkap kebohongan dan kepalsuan
Alur
:
Alur dalam naskah drama tersebut adalah alur campuran,
sebab di awal tokoh Hamid dan Rusman berbincang-bincang,
namun ditengah cerita tokoh Hamid seperti sudah mengetahui
apa yang dulu terjadi pada tokoh Samsu, Sumantri dan Mas

Abu.
Tokoh dan Penokohan:
1. Hamid : berani, sebab ia telah mengungungkapkan apa yang
sebenarnya terjadi juga mengungkapkan apa yang telah
dilakukan oleh tokoh lain.
2. Rusman :
3. Samsu
: Penipu, sebab ia telah menyalahgunakan
jabatannya sebagai manager perusahaan dan setelah dipaksa
akhirnya ia terpaksa mengakui sebagai seorang kyai
4. Sumantri : penakut, sebab ia telah merelakan istrinya untuk
tidak berbusana didepan lelaki lain
5. Mas Abu : penipu, ia telah menyalahgunakan kekuasaannya

sebagai Pegawai Negeri dengan memanfaatkan rakyatnya


6. Ratna : Pemberani, sebab ia telah berani menentang Hamid
Latar
:
- Tempat : Di suatu pondok dalam sebuah restoran kecil.
Di dalam restoran sudah sepi. Hanya rusman dan hamid yang masih duduk
berhadapan menghadapi sebuah meja kecil. Hamid minum kopi dan rusman
-

beer.
Waktu : Kira-kira pukul 22.00
Pukul 10.00. Restoran sudah sepi dan waktunya tutup. Cuma
rusman dan Hamid yang duduk berhadapan dengan pakaian yan
tidak terurus. Mereka bekas pejuang gerilya.

Suasana :
Tegang dan cemas
Hamid : Kamu bohong, Kyai Salim! Kamu bohong! Kamu
adalah seoarang Kyai. Aku tahu [pistolnya ditodongkan lebih
dekat lagi kearah dada Samsu].

Sumantri : [Sangat cemas. Dengan gagap berbisik kepada


Samsu] Sssttt, bung. Bilang saja bahwa saudara betul Kyai.
Apa salahnya. Jangan segan-segan. Orang ini agaknya sedikit

sakit.
Sudut pandang : Orang ketiga serba tahu.
Amanat
: Jangan pernah menyalahgunakan kekuasaan

yang telah dimiliki untuk menipu orang lain.


2. UNSUR EKSTRINSIK
Faktor Politik dan Sosial Budaya
Pakaian dan Kepalsuan adalah judul drama karya Achdiat K Mihardja saduran
naskah drama karya daramawan Rusia, Averchenko berjudul The Man with the
green Necktie. Drama ini pernah ditayangkan TVRI dengan pemeran utama Slamet
Rahardjo.
Hamid, salah satu tokoh dalam drama itu mengatakan, Dengar, Rus, politik dan
pemimpin politik adalah dua hal yang seperti meja dan kursi, sama sekali tidak
sama. Atau lebih tepat lagi, tak ubahnya dengan agama dan penganutnya atau
pemimpinnya. Dua pengertian yang berbeda-beda, karena kalau yang satu
merupakan tugas, maka yang lainnya merupakan petugasnya. Kalau petugasnya
jahat, itu tidak boleh diartikan bahwa tugasnya jahat pula. Betul tidak? Dan kalau
kita ketahui, bahwa politik sebagai tugas ialah berarti bersama-sama mengatur
susunan hidup, sehingga kepentingan dan kebutuhan hidup tiap orang bisa
terpenuhi, lahir maupun batin, maka bisakah kita pertahankan kebenaran slogan tadi
itu yang mengatakan, bahwa politik itu kotor?
Biarlah Hamid dengan pendapatnya itu, kali ini saya hanya ingin pinjam judulnya
saja. Pakaian dan Kepalsuan. Kemarin kita disuguhkan dua tontonan politik yang
tak kalah menarik dengan drama Achdiat itu. TV One menayangkan deklarasi
timses Prabowo-Hata, Metro tv menayangkan deklrasi timses Jokojeka.
Persamaannya, kedua kubu mengecam kampanye hitam. Keduanya bertekad
mengusung kampanye santun. Perbedaannya, kubu Prabowo-Hatta lebih banyak
bicara soal yang lebih luas, soal kebangsaan, kubu Jokojeka, terutama Jokowi lebih
banyak menyindir lawan politiknya, minim sekali bicara soal kebangsaan.

Salah satu yang disindir oleh Jokowi adalah soal pakaian. Dia menyebut seragam
putih-putih adalah idenya, kubu prabowo sebagai follower, yang kontan disambut
tepuk tangan riuh para hadirin. Dia juga menjabarkan filosofi seragam barunya. Dia
sengaja tidak seragam dengan Jeka, dia lebih memilih baju kotak-kotak, dan Jeka
tetap dengan baju putihnya. Dia juga membanggakan ketidak seragaman itu sebagai
revolusi seragam, keluar dari pakem seragam seperti yang dikenakan oleh lawan
politiknya, Prabowo-Hata. Agak aneh memang, suasana politik itu hanya
dimanfaatkan Jokowi untuk mengomentari seragam seperti rumpian ibu-ibu
pengajian yang mengomentari seragam pengajian barunya yang belum lunas.
Membanggakan seragamnya lebih baik dari seragam lawan politiknya.
Membanggakan segaram sih sah sah saja, tapi kalau sudah membandingkan dengan
seragam lawan politiknya.
3. SARANA DRAMATIK
Sarana dramatik yang terdapat pada naskah drama Pakaian
dan Kepalsuan yakni solilokui. Solilokui yang diucapkan seorang tokoh
biasanya panjang dan isinya merupakan pemikiran subjektif ditujukan kepada
penonton untuk menyarankan hal-hal yang akan terjadi. Hal tersebut sesuai
dengan adegan pertama. Yakni percakapan antara Rusman dan
Hamid. Serta pada adegan kedua antara Sumantri, Mas Abu,
Samsu dan Ratna.
Pada adegan pertama, Rusman dan Hamid secara bergantian
berdialog. Yang diucapkan oleh Hamid berikut :
Memang, Tapi itu sama sekali tidak berarti bahwa politik itu
kotor. sama sekali tidak. Itu hanya berarti bahwa partai-partai
itu sendiri, atau lebih tepat, orang-orangnya itu sendiri yang
busuk, yang tidak sanggup berbuat apa-apa, kalau tidak
dengan cara-cara yang busuk dan yang jahat. Jadi jelas,
bahwa bukanlah politik yang kotor dan busuk itu, melainkan
orang-orang itu sendiri.

Kutipan dialog oleh Hamid tersebut merupakan buah pemikiran penulis


naskah dengn memanfaatkan tokoh Hamid. Dialognyapun panjang dan isi dari
dialog tersebut merupakan pemikiran subjektif, yang merujuk pada orang di
partai politik yang ditujukan kepada penonton untuk menyarankan agar tidak
ikut campur ke dunia politik yang busuk dan jahat.