Anda di halaman 1dari 23

Dasar-Dasar Jurnalistik

Pesatnya kemajuan media informasi dewasa ini cukup memberikan kemajuan yang
signifikan. Media cetak maupun elektronik pun saling bersaing kecepatan sehingga tidak ayal
bila si pemburu berita dituntut kreativitasnya dalam penyampaian informasi. Penguasaan
dasar-dasar pengetahuan jurnalistik merupakan modal yang amat penting manakala kita
terjun di dunia ini. Keberadaan media tidak lagi sebatas penyampai informasi yang aktual
kepada masyarakat, tapi media juga mempunyai tanggung jawab yang berat dalam
menampilkan fakta-fakta untuk selalu bertindak objektif dalam setiap pemberitaannya.
Apa Itu Jurnalistik?
Menurut Kris Budiman, jurnalistik (journalistiek, Belanda) bisa dibatasi secara singkat
sebagai kegiatan penyiapan, penulisan, penyuntingan, dan penyampaian berita kepada
khalayak melalui saluran media tertentu. Jurnalistik mencakup kegiatan dari peliputan sampai
kepada penyebarannya kepada masyarakat. Sebelumnya, jurnalistik dalam pengertian sempit
disebut juga dengan publikasi secara cetak. Dewasa ini pengertian tersebut tidak hanya
sebatas melalui media cetak seperti surat kabar, majalah, dsb., namun meluas menjadi media
elektronik seperti radio atau televisi. Berdasarkan media yang digunakan meliputi jurnalistik
cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah
berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).
Jurnalistik atau jurnalisme, menurut Luwi Ishwara (2005), mempunyai ciri-ciri yang penting
untuk kita perhatikan.
a. Skeptis
Skeptis adalah sikap untuk selalu mempertanyakan segala sesuatu, meragukan apa yang
diterima, dan mewaspadai segala kepastian agar tidak mudah tertipu. Inti dari skeptis adalah
keraguan. Media janganlah puas dengan permukaan sebuah peristiwa serta enggan untuk
mengingatkan kekurangan yang ada di dalam masyarakat. Wartawan haruslah terjun ke
lapangan, berjuang, serta menggali hal-hal yang eksklusif.
Publikasi
e-Penulis
menyajikan
bahan-bahan
bermutu
seputar
dunia
tulis-menulis
seperti
artikel
seputar
dunia
kepenulisan,
berbagai
tips,
artikel
seputar
bahasa
dan
tokoh
dunia
tulis-menulis
yang
mendukung
para
penulis
Kristen
agar
semakin
trampil
dalam
bidang
tulis-menulis baik umum maupun dalam pelayanan literatur Kristen.
b. Bertindak (action)
Wartawan tidak menunggu sampai peristiwa itu muncul, tetapi ia akan mencari dan
mengamati dengan ketajaman naluri seorang wartawan.
c. Berubah
Perubahan merupakan hukum utama jurnalisme. Media bukan lagi sebagai penyalur
informasi, tapi fasilitator, penyaring dan pemberi makna dari sebuah informasi.
d. Seni dan Profesi
Wartawan melihat dengan mata yang segar pada setiap peristiwa untuk menangkap aspekaspek yang unik.
e. Peran Pers
Pers sebagai pelapor, bertindak sebagai mata dan telinga publik, melaporkan peristiwaperistiwa di luar pengetahuan masyarakat dengan netral dan tanpa prasangka. Selain itu, pers
juga harus berperan sebagai interpreter, wakil publik, peran jaga, dan pembuat kebijaksanaan
serta advokasi.
Berita
Ketika membahas mengenai jurnalistik, pikiran kita tentu akan langsung tertuju pada kata
"berita" atau "news". Lalu apa itu berita? Berita (news) berdasarkan batasan dari Kris

Budiman adalah laporan mengenai suatu peristiwa atau kejadian yang terbaru (aktual);
laporan mengenai fakta-fakta yang aktual, menarik perhatian, dinilai penting, atau luar biasa.
"News" sendiri mengandung pengertian yang penting, yaitu dari kata "new" yang artinya
adalah "baru". Jadi, berita harus mempunyai nilai kebaruan atau selalu mengedepankan
aktualitas. Dari kata "news" sendiri, kita bisa menjabarkannya dengan "north", "east", "west",
dan "south". Bahwa si pencari berita dalam mendapatkan informasi harus dari keempat
sumber arah mata angin tersebut.
Selanjutnya berdasarkan jenisnya, Kris Budiman membedakannya menjadi "straight news"
yang berisi laporan peristiwa politik, ekonomi, masalah sosial, dan kriminalitas, sering
disebut sebagai berita keras (hard news). Sementara "straight news" tentang hal-hal semisal
olahraga, kesenian, hiburan, hobi, elektronika, dsb., dikategorikan sebagai berita ringan atau
lunak (soft news). Di samping itu, dikenal juga jenis berita yang dinamakan "feature" atau
berita kisah. Jenis ini lebih bersifat naratif, berkisah mengenai aspek-aspek insani (human
interest). Sebuah "feature" tidak terlalu terikat pada nilai-nilai berita dan faktualitas. Ada lagi
yang dinamakan berita investigatif (investigative news), berupa hasil penyelidikan seorang
atau satu tim wartawan secara lengkap dan mendalam dalam pelaporannya.
Nilai Berita
Sebuah berita jika disajikan haruslah memuat nilai berita di dalamnya. Nilai berita itu
mencakup beberapa hal, seperti berikut.
1. Objektif: berdasarkan fakta, tidak memihak.
2. Aktual: terbaru, belum "basi".
3. Luar biasa: besar, aneh, janggal, tidak umum.
4. Penting: pengaruh atau dampaknya bagi orang banyak; menyangkut orang
penting/terkenal.
5. Jarak: familiaritas, kedekatan (geografis, kultural, psikologis).
Lima nilai berita di atas menurut Kris Budiman sudah dianggap cukup dalam menyusun
berita. Namun, Masri Sareb Putra dalam bukunya "Teknik Menulis Berita dan Feature",
malah memberikan dua belas nilai berita dalam menulis berita (2006: 33). Dua belas hal
tersebut di antaranya adalah:
1. sesuatu yang unik,
2. sesuatu yang luar biasa,
3. sesuatu yang langka,
4. sesuatu yang dialami/dilakukan/menimpa orang (tokoh) penting,
5. menyangkut keinginan publik,
6. yang tersembunyi,
7. sesuatu yang sulit untuk dimasuki,
8. sesuatu yang belum banyak/umum diketahui,
9. pemikiran dari tokoh penting,
10. komentar/ucapan dari tokoh penting,

11. kelakuan/kehidupan tokoh penting, dan


12. hal lain yang luar biasa.
Dalam kenyataannya, tidak semua nilai itu akan kita pakai dalam sebuah penulisan berita.
Hal terpenting adalah adanya aktualitas dan pengedepanan objektivitas yang terlihat dalam isi
tersebut.
Anatomi Berita dan Unsur-Unsur
Seperti tubuh kita, berita juga mempunyai bagian-bagian, di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Judul atau kepala berita (headline).
2. Baris tanggal (dateline).
3. Teras berita (lead atau intro).
4. Tubuh berita (body).
Bagian-bagian di atas tersusun secara terpadu dalam sebuah berita. Susunan yang paling
sering didengar ialah susunan piramida terbalik. Metode ini lebih menonjolkan inti berita
saja. Atau dengan kata lain, lebih menekankan hal-hal yang umum dahulu baru ke hal yang
khusus. Tujuannya adalah untuk memudahkan atau mempercepat pembaca dalam mengetahui
apa yang diberitakan; juga untuk memudahkan para redaktur memotong bagian tidak/kurang
penting yang terletak di bagian paling bawah dari tubuh berita (Budiman 2005) . Dengan
selalu mengedepankan unsur-unsur yang berupa fakta di tiap bagiannya, terutama pada tubuh
berita. Dengan senantiasa meminimalkan aspek nonfaktual yang pada kecenderuangan akan
menjadi sebuah opini.
Untuk itu, sebuah berita harus memuat "fakta" yang di dalamnya terkandung unsur-unsur 5W
+ 1H. Hal ini senada dengan apa yang dimaksudkan oleh Lasswell, salah seorang pakar
komunikasi (Masri Sareb 2006: 38).
1. Who - siapa yang terlibat di dalamnya?
2. What - apa yang terjadi di dalam suatu peristiwa?
3. WHERE - di mana terjadinya peristiwa itu?
4. Why - mengapa peristiwa itu terjadi?
5. When - kapan terjadinya?
6. How - bagaimana terjadinya?
Tidak hanya sebatas berita, bentuk jurnalistik lain, khususnya dalam media cetak, adalah
berupa opini. Bentuk opini ini dapat berupa tajuk rencana (editorial), artikel opini atau kolom
(column), pojok dan surat pembaca.
Sumber Berita
Hal penting lain yang dibutuhkan dalam sebuah proses jurnalistik adalah pada sumber berita.
Ada beberapa petunjuk yang dapat membantu pengumpulan informasi, sebagaimana
diungkapkan oleh Eugene J. Webb dan Jerry R. Salancik (Luwi Iswara 2005: 67) berikut ini.
1. Observasi langsung dan tidak langsung dari situasi berita.
2. Proses wawancara.
3. Pencarian atau penelitian bahan-bahan melalui dokumen publik.
4. Partisipasi dalam peristiwa.

Kiranya tulisan singkat tentang dasar-dasar jurnalistik di atas akan lebih membantu kita saat
mengerjakan proses kreatif kita dalam penulisan jurnalistik.
Sumber bacaan:
Budiman, Kris. 2005. "Dasar-Dasar Jurnalistik: Makalah yang disampaikan dalam Pelatihan
Jurnalistik -- Info Jawa 12-15 Desember 2005. Dalam www.infojawa.org.
Ishwara, Luwi. 2005. "Catatan-Catatan Jurnalisme Dasar". Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Putra, R. Masri Sareb. 2006. "Teknik Menulis Berita dan Feature". Jakarta: Indeks.

Pengetahuan Tentang Pers Dan Jurnalistik


Secara bahasa, Pers berarti media. Berasal dari bahasa Inggris press yaitu cetak. Apakah
media itu berarti hanya media cetak? Tentunya tidak. Pada awal kemunculannya media
memang terbatas hanya pada media cetak. Seiring percepatan tekhnologi dan informasi,
ragam media ini kemudian meluas. Muncul media elektronik: Audio, audio visual (pandangdengar) sampai internet. Jadi pers adalah sarana atau wadah untuk menyiarkan produkproduk jurnalistik.
Sedang jurnalistik merupakan suatu aktifitas dalam menghasilkan berita maupun opini. Mulai
dari perencanaan, peliputan dan penulisan yang hasilnya disiarkan pada public atau khalayak
pembaca melalui media/pers. Dengan kata lain jurnalistik merupakan proses aktif untuk
melahirkan berita.
Hasil dari proses jurnalistik yang kemudian menjadi teks yang dimuat di media, berupa
berita maupun opini.
Fungsi Pers
1.
Menyiarkan informasi; hal inimerupakan fungsi yang pertama dan utama karena
khalayak pembaca memerlukan informasi mengenai berbagai hal di bumu ini.
2.
Mendidik (to educate); artinya sebagai sarana pendidikan massa (mass education).
Adapun isi dari media atau hal yang dimuat dalam media mengandung unsur pengetahuan
khalayak pembaca pengetahuannya.
3.
Menghibur (to entertaint), khalayak pembaca selain membutuhkan informasi juga
membutuhkan hiburan. Ini juga menyangkut minat insani.
4.
Mempengaruhi (control social); tidak dapat dipungkiri dalam kehidupan ini ada
kejanggalan-kejanggalan, baik langsung ataupun tidak langsung, berdampak pada kehidupan
social. Pada fungsi ini media dimungkinkan menjadi control social, yang karena isi dari
media sendiri bersifat mempengaruhi.
Teori Pers
Fred S. Slebert, Thedorre Peterson dan Wilbur Schamm menyatakan bahwa pers di dunia saat
ini dapat dikatagorikan menjadi: Authorian Pers, social Responbility Pers dan Soviet
Communist Pers.

Adapun teori Soviet Communist Pers hanyalah perkembangan dari teori authoritarian Pers.
Pada teori itu fungsi pers sebagai media informasi kepada rakyat oleh pihak penguasa
mengenai apa yang mereka inginkan dan apa yang harus didukung rakyat.
Sedangkan teori Sosial Rseponbility merupakan perkembangan dari teori Lebertarian Pers.
Dan teori ini adalah kebalikan dari teori autoritarian pers, dimana pers bebas dari pengaruh
pemerintah dan bertindak sebagai Fouth State. Pada teori ini pers menempatkan posisinya
sebagai tanggung jawab social.
Apa Itu Berita?
Secara sederhana berita merupakan laporan seorang wartawan/jurnalis mengenai fakta.
Karena ada banyak fakta dalam kehidupan atau realitas social lantas apakah fakta/realitas
merupakan berita? Tidak? Fakta itu akan menjadi berita setelah dilaporkan oleh seorang
wartawan. Karena itu berita merupakan konstruksi dari sebuah fakta. Lantas seperti apa fakta
yang semestinya dilaporkan wartawan lalu menjadi berita? Secara teoritis ada banyak sekali
ukuran, namun secara umum ukuran itu dibagi dua, yakni penting dan menarik. Kemudian,
seberapa penting dan menarikkah suatu peristiwa itu layak dijadikan berita? Maka untuk
mempertimbangkan hal tersebut dibutuhkan nilai-nilai sebagai pertimbangan untuk
menentukan suatu peristiwa itu layak dijadikan berita. Dalam jurnalistik nilai-nilai tersebut
disebut dengan News Value (nilai berita).
Objek Berita
Karena berita adalah laporan fakta yang ditulis oleh seorang jurnalis, maka objek beritanya
adalah fakta. Dan fakta dalam jurnalsitik dikenal dalam beberapa kriteria, yaitu:
1.
Peristiwa, adalah suatu kejadian yang baru terjadi, artinya kejadian itu hanya sekali
terjadi.
2.
Kasus, adalah merupakan kejadian yang tidak selesai setelah peristiwa terjadi.
Maksudnya kejadian tersebut meninggalkan kejadian selanjutnya, peristiwa melahirkan
peristiwa berikatnya. Maka kejadian demi kejadian tersebut disebut dengan kasus.
3.
Fenomena, adalah merupakan suatu kasus yang ternyata tidak terjadi hanya pada batas
teritorial tertentu, artinya kasus tersebut sudah mewabah, terjadi dimana-mana.
Nilai-nilai Berita (News Value)
Secara umum nilai berita ditentukan oleh 10 komponen. Semakin banyak komponen tersebut
dalam berita maka semakin besar nilai khalayak pembaca terhadap berita tersebut, secara
lebih rinci dapat diringkaskan sebagai berikut:
1.
Kedekatan (Proximity), peristiwa yang memiliki kedekatan dengan khalayak, baik
secara geografis maupun psikis.
2.
Bencana (Emergency), tiap manusia membutuhkan rasa aman. Dan setiap rasa aman
akan menggugah perhatian setiap orang.

3.
Konflik (Conflict), ancaman terhadap rasa aman yang ditimbulkan manusia. Konflik
antar individu, kelompok maupun Negara tetap akan mengugah perhatian setiap orang.
4.
Kemashuran (Prominence), biasanya rasa ingin tahu terhadap seseorang yang
menjadi Public figure cukup besar.
5.
Dampak (Impact), peristiwa yang memiliki dampak langsung dalam kehidupan
khalayak/masyarakat.
6.
Unik, manusia cenderung ingin tahu tentang segala hal yang unik, aneh dan lucu.
Hal-hal yang belum pernah atau tak bias ditemui dalam kehidupan sehari-hari dan menarik
perhatian.
7.
Baru (Actual), suatu peristiwa yang baru terjadi akan memancing minat orang untuk
mengetaui.
8.
Kontroversial, suatu peristiwa yang bersifat controversial akan menarik untuk
diketahui karena mengandung kejanggalan.
9. Human Interest, derita cenderung dijahui manusia, dan derita sesame cenderung menarik
minat untuk mengetahui. Karena manusia menyukai suguhan informasi yang mengesek sisi
kemanusiaan.
10.
Ketegangan (Suspense), sesuatu yang membuat manusia ingin mengetahui apa yang
terjadi cenderung menarik minat, karena orang ingin tahu akhir dari peristiwa.
Namun sering kali ditemui dalam beberapa media yang melaporkan peristiwa yang sama. Ini
karena perbedaan sudut pandang (angel) yang diambil wartawan dalam menulis berita.
Unsur Berita
Diketahui bahwa berita merupakan hasil rekonstruksi dari fakta (peristiwa) oleh wartawan,
maka doperlukan perangkat untuk merekonstruksi peristiwa tersebut. Berangkat dari
pemikiran bahwa pada umumnya manusia membutuhkan jawaban atas rasa ingin tahunya
dalam enam hal. Maka dari itu materi berita digali melalui enam pokok unsure tersebut;
meliputi apa (what), siapa (who), dimana (where), kapan (when), mengapa (why), bagaimana
(how). Kemudian dikenal sebagai 5W+1H.
Sifat Berita
1. Mengarahkan (Directive), karena berita ini dapat mempengaruhi khalayak, baik
disengaja atau tidak. Maka berita ini sifatnya mengarahkan
2. Menbangkitkan Perasaan (effectife), melalui berita ini dapat membangkitkan perasaan
public
3. Memberi Informasi (Informatife), berita in harus memberi informasi tentang keadaan
yang terjadi sehingga memberi gambaran jelas dan menjadi pengetahuan public.
4.

Kaidah-kaidah Penulisan Berita


Dalam penulisan berita, dalam hal ini menkonstruk peristiwa (fakta) tidaklah semena-mena.
Penulisan berita didasarkan pada kaidah-kaidah jurnalistik. Kaidah-kaidah tersebut biasa
dikenal dengan konsep ABC (Accuracy, Balance, Clarity).
1. Accuracy (akurasi)
Disebut sebagai pondasi segala macam penulisan bentuk jurnalistik. Apabila penulis ceroboh
dalam hal ini, artinya sama dengan melakukan pembodohan dan membohongi khalayak
pembaca. Untuk menjaga akurasi dalam penulisan berita, bila perlu perhatikan beberapa hal
berikut:
1.
1. Dapatkan berita yang benar
2. Lakukan re-cek terhadap data yang diperoleh
3. Jangan mudah berspekulasi denga isu atau desas-desus
4. Pastikan semua informasi dan data yang diperoleh dapat dipertanggung
jawabkan kewenangan dan keabsahannya.
1. Balance (Keseimbangan)

Ini juga menjadi kaidah dalam penulisan berita. Sering terjadi sebuah karya jurnalistik
terkesan berat sebelah dengan menguntungkan satu pihak tertentu sekaligus merugikan pihak
lain. Keseimbangan dimungkinkan dengan mengakomodir kedua golongan (misalnya dalam
penulisan berita tentang konflik). Hal demikian dalam jurnalistik disebut dengan Both Side
Covered.
1. Clarity (Kejelasan)

Factor kejelasan bisa diukur apakah khalayak mengerti isi dan maksud berita yang
disampaikan, bukan jelas dalam konteks teknis, namun lebih condong pada factor topic, alur
pemikiran, kejelasan kalimat, kemudian pemahaman bahasa dan pernyaratan penulisan
lainnya.
Struktur/Susunan Penulisan Berita
Dalam berita terdapat struktur atau susunan berita juga memiliki bagian-bagian. Maka
sebelum mengenal struktur penulisan berita terlebih dulu kita mengenal bagian-bagian berita.
Dimana bagian-bagian tersebut dari Kepala Berita atau Judul (Head News). Topi Berita,
menunjukan lokasi peristiwa dan identitas media (misalnya, Surabay SP) biasanya digunakan
dalam penulisan Straight News, intro diletakkan setelah judul berfungsi sebagai penjelas
judul dan gambaran umum isi berita. Tubuh berita (news body), bisa dikatakan sebagai isi
berita.
Adapun strukrur penulisan berita sebagai berikut:

1.
Piramida Terbalik: artinya pokok atau inti berita diletakkan di awal-awal paragraph (12 paragraf) dan bukan berarti paragraph selanjtnya tidak penting. Cumin bukan merupakan
inti berita. Biasanya ini digunakan dalam penulisan staright news.
2.
Balok tegak: artinya pokok atau inti berita tidak hanya diletakkan di awal paragraph.
Terdapat di awal, tengah dan akhir paragraph. Biasanya ini digunakan dalam penulisan depth
news (Indepth reporting ataupun investigasi reporting).
Metode Penggalian Data
Dalam membuat berita, data menempati posisi penting, karena melalui datalah peristiwa
(fakta) dapat dilaporkan. Data merupakan mind (rekaman) dari suatu peristiwa. Dan
penulis (jurnalis) menyajikan knstruksi dari peristiwa/fakta tersebut yang disusun dari
berbagai data. Ada beberapa cara untuk penggalian data tersebut. Pertama, melalui
pengamatan langsung penulis (observasi) untuk mendapatkan data tentang kejadian. Kedua,
melakukan wawancara terhadap seseorang yang terlibat langsung (sekunder) dalam suatu
kejadian. Wawancara juga dimaksudklan untuk melakukan Cross Chek demi akurasi data
yang diperoleh melalui pengamatan (observasi). Ketiga, selain dua perangkat tersebut data
juga bisa diperoleh melalui data literary terhadap dokumen-dokumen dengan suatu fakta
kejadian ataupun fenomena (jika dimungkinkan) data demikian dianggap penting.
Obeservasi
Ini dilakukan pada tahap awal pencarian data tentang sesuatu. Dalam pengamatan sangat
mengandalkan kepekaan inderawi (lihat, dengar, cium, sentuh) dalam mengamati realitas.
Namun dalam pengamatan tersebut seorang observator tidak boleh melakukan penilain
terhadap realitas yang diamati.
Kegiatan observasi terkait dengan pekerjaan memahami realitas detail-detail kejadian yang
berlangsung. Untuk itu diperlukan upaya memfokuskan pengamatan pada obyek-obyek yang
tengah diamati.
Observasi memerlukan daya amatan yang kritis, luas. Namun tetap tajam dalam mempelajari
rincian obyek yang ada dihadapannya. Untuk mendapatkan pengamatan yang obyektif si
pengamat harus bisa mengontrol emosional dan mampu menjaga jarak dengan segala rincian
obyek yang diamati.
Dalam penggalian data melalui observasi ini sifatnya langsung dan orsinil. Langsung artinya
dalam pengamatannya tidak berdasarkan teori, pikiran dan pendapat. Ia menemukan langsung
apa yang hendak dicarinya. Orsinil artinya hasil amatannya merupakan hasil serapan indranya
bukan yang dilaporkan orang lain. Dan untuk selanjutnya akan dibahas secara lengkap
mengenai jenis pengamatan, mulai pengamatan I, II, III dan IV.
1. Pengamatan I
Tahap ini merupakan langkap untuk memfokuskan kesadaran dan kepekaan penginderaan
pada suatu obyek yang telah ditentukan agar mampu untuk mendeskripsikannya. Hal ini
dimaksudkan untuk membedah kesadaran antara obyektifitas dan subjektifitas, antara fakta
dan imajinasi sebagai bagian dari news. Dari sini diusahakan untuk mampu mendeskripsikan
keberadaan benda mati ke dalam bentuk sebuah tulisan.

Maksimalisasi panca indera sangat ditonjolkan untuk memfokuskan kesadaran dan kepekaan
penginderaan secara deskriptif. Dalam pendeskripsian ini harus mengoptimalkan
kemampuan indera dalam meggambarkan sebuah benda tanpa menyebutkan sifat objek.
Sebab jika mengungkapkan sifat pada sebuah objek, maka deskripsi akan bersifat subjektif.
Karena itu diperlukan batasan antara objektifitas dan subjektifitas. Objektifitas dapat
berpatokan pada: posisi letak, ukuran, warna, bahan, kedudukan, akurasi, identitas, dan non
justification. Sedangkan subjektifitas dalam pendeskripsian dapat di lihat dari: keadaan, agak/
kemiripan, imajinasi pendapat pribadi, gaya bahasa banyak mengulas mengulas,
mengungkapkan sifat, fungsi/ normative dan suasana.
Keduanya dapat dijadikan pisau dalam menganalisa suatu objek. Selanjutnya dari hasil
deskripsi, seorang yang membacanya dapat menyimpulkan sendiri berdasarkan data.
1. Pengamatan II
Dalam tahap ini deskripsi objek lebih di tingkatkan lagi pada benda bergerak/ hidup. Dengan
prinsip yang tidak jauh berbeda dengan pengamatan I. kemampuan indera lebih dipertajam
untuk memperoleh deskripsi yang maksimal. Pembatasan wilayah objektifitas dan
subjektifitas tetap ditekankan, namun disini lebih di kembangkan untuk penentuan fokus
pengamatan pada objek.
Dengan demikian selanjutnya akan lebih mengarahkan deskripsi pada focus benda (supaya
tidak meluas). Pengungkapan kondisi dan suasana lingkungan dapat dimasukkan dalam
pengamatan ini yang berusaha untuk memberikan deskripsi secara utuh (holistic)
1. Pengamatan III
tahap ini akan mengamati sebuah gambar atau foto dari sebuah peristiwa. Praktisnya adalah
berusaha untuk membangun analisis dan deskripsi objektif dari sebuah gambar atau foto yang
dianggap sebagai dunia nyata sekaligus pengamat diposisikan seolah-olah berada dalam
keadaan tersebut.
Dalam penagmatan ini diupayakan untuk memfokuskan kesadaran dan kepekaan
penginderaan pada peristiwa dunia dalam gambar tersebut. Aktualisasi analisis dapat
dilakukan dengan mengajukan dan menuliskan pernyataan sebanyak-banyaknya tentang
peristiwa yang diamati. Selanjutnya dapat diminta untuk mengajukan dan menuliskan
kemungkinan jawaban atas setiap pertanyaannya.
Focus kesadaran penginderaan benar-benar harus dicurahkan untuk mendapatkan deskripsi
yang detail dan akurat. Hasil pengamtan ini dapat dijadikan tolak ukur sehingga kekuatan dan
kemampuan seseorang jurnalis dalam menganalisa memecahkan persoalan sekaligus
kemudian menuangkannya dalan tulisan. Untuk mempertajam analisa dapat ditambah dengan
perinsip 5 W + 1 H.
1. Pengamatan IV
Pengamatan ini akan memfokuskan kesadaran dan kepekaan indera pada sebuah peristiwa
nyata untuk kemudian dideskripsikan. Di sini para calon jurnalis dapat menggali data dengan
alat bantu wawancara maupun cara lain yang berkaitan dengan perristiwa tersebut. Hanya

saja titik tekan lebih pada proses pengamatan (indera). Yang kemudian prinsip 5 W + 1 H
dalam tahap ini dapat di aplikasikan secara langsung dan menyeluruh.
Dalam tahap ini sebanarnya dinding pemisah antara subjektifitas dan objektifitas sangat tipis.
Apa yang di anggap objektifitas oleh seseorang bisa dianggap subjektifitas oleh orang lain,
begitu pula sebaliknya. Misalnya kita analogikan dengan sebuah pernyataan agama itu baik
bagi manusia atau agama itu tidak baik bagi manusia. Sehingga kemungkinan orang akan
mengatakan pernyataan pertama benar dan objektif dengan alasan misalnya banyak orang
telah membuktikan kebaikan agama. Tetapi dengan alasan dan bukti berbeda, orang lain akan
membenarkan pernyataan kedua.
Begitu pula dalam subuah peristiwa, bahwa objektifitas dan subjektifitas pendapat orang akan
bersifat relative, tergantung pada siapa yang mengatakan dan dalam kondisi bagaimana.
Subjektifitas akan dikatakan objektif apabila dikautkan dengan pendapat seseorang, dalam
arti bukan pendapat penulis/ jurnalis.
Wawancara
Wawancara merupakan aktifitas yang dilakukan dalam jurnalistik untuk memperoleh data.
Dalam menggali data tidak mungkin bag seorang jurnalis untuk menulis berita.
Hanya mengandalkan hasil observasi, tanpa melakukan wawancara. Karena dengan
wawancara bisa memperoleh kelengkapan data tentang peristiwa atau fenomena. Juga dengan
wawancara seorang jurnalis melakukan cross chek atau recheck dari data yang diperoleh
sebelumnya demi akurasi data.
Perlu diperhatikan bahwa wawancara bukanlah proses Tanya jawab saya bertanya-anda
menjawab wawancara lebih luas dari proses tanya jawab. Pewawancara dan yang
diwawancarai berbagi pekerjaan membagun ingatan tujuan umumnya merekonstruksi
kejadian yang entah baru terjadi atau lampau. Dalam aktifitas ini (wawancara) pewawancara
dan yang diwawancarai akan membangun kembali ingatan-ingatan tersebut.
Tekhnik Wawancara

Menguasai permasalahan

Ini penting untuk menghindari Miss Understanding antara pewawancara dan yang
diwawancarai.

Ajukan pertanyaan yang lebih spesifik


Pertanyaan yang lebih spesifik akan lenbih membantu dan mempermudah dalam
mengarahkan topic pembicaraan

Jangan menggurui

Karena wawancara bukan proses tanya jawab, tetapi aktifitas membangun ingatan
terhadap peristiwa yang baru terjadi atau telah lampau.

Study Literary

Suatu data tidak hanya di peroleh melalui pengamatan dan wawancara tetapi bisa juga
memanfaatkan (melacak) data-data yang terdokumentasikan. Pencarian data-data yang
terdokumentasikan juga sangat dipertimbangkan keabsahannya (valid) dan dapat
dipertanggung jawabkan, misalnya Keppres, Tap MPR, Undang-undang. Tidak mungkin di
dapatkan melalui didapatkan melalui pengamatan ataupun wawancara. Kebutuhan data yang
seperti itulah sangat memungkinkan dan merupakan keharusan untuk pencarian data yang
terdokumentasikan. Dan biasanya data-data yang seperti itu validitasnya dapat
dipertanggungjawabkan.
Karena tingkat validitas data itu harus dipertanggungjawabkan maka dalam pencarian dan
seseorang jurnalis harus hati-hati memanfaatkan dokomentasi yang sudah ada pemanfaatan
data yang terdokumentasikan tidak terbatas pada Keppres, Tap MPR, Undang-undang, hasil
dari penelitian, berita di media, arsip, buku, juga bisa dijadikan sebagai dokumen, tetapi juga
harus mempertimbangkan validitas dari data-data tersebut.
Koran atau majalah
Koran atau majalah menyediakan informasi cukup memadai untuk kebutuhan riset dokumen.
Informasi surat kabar cukup layak dijadikan sumber data otentik (terlepas bila mengandung
kesalahan informasi), riset dokumen yang dilakukan mempelajari terhadap berbagai
pemberitaan dari reportase yang obyektif, teks berita foto (caption), dan tulisan opini.
Teknik penelusuran data melalui Koran atau majalah ialah :

Melalui system kartu indeks perpustakaan

Melalui system kartu indeks yang diterbitkan oleh sindikasi

Buku
Pencarian data melalui buku terkait dengan kredibilitas penulisnya, penerbitnya, dan tahuntahun revisi penerbitannya. Juga memeriksa keterangan data-data statistic yang dikutip,
apakah dari abstraksi data yang terbaru buku layak dijadikan sumber data karena buku
biasanya memuat bahasan-bahasan yang mendalam dan cakupan pemahaman yang luas.

Bebrapa referensi buku yang bisa dimanfaatkan

Kamus

Ensiklopedi

Biografi

Tesis/disertasi

Jurnal

Internet

BENTUK PENULISAN BERITA

STRAIGHT NEWS
Straight news atau sering juga disebut berita langsung merupakan bentuk penulisan berita
yang paling sederhana, hanya dengan menyajikan unsure 4W (what, who, when, where) maka
tulisan tersebut bisa langsung menjadi berita. Namun bukan berarti straight news menafikan
unsure why dan how. Karena itu bentuk penyajiannya pun juga diatur sedemikian rupa,
sehingga khalayak pembaca bisa mengetahui pesan utama yang terkandung dalam berita itu
tanpa perlu membaca seluruh isi berita. Pola penulisan straight news sering dipakai oleh
media-media massa yang punya masa edar harian. Selanjutnya untuk media-media massa
yang terbit berkala banyak memakai pola penulisan feature, depth news (indepht reporting
maupun investigative reporting).
Permasalahnnya sekarang fakta yang bagaimana yang biasanya ditulis dengan bentuk straight
news. Tidak semua fakta bisa ditulis dengan bentuk straight news. karena straight news
sangat terikat dengan unsure kebaruan (aktualita). Maka suatu fakta itu dituls dengan bentuk
straight news;
1.
informasi/berita tentang peristiwa dan buku fenomena ataupun kasus. Akhirnya
kejadian yang hanya sekali itu saja terjadi. Bukan kejadian yang terjadi secara berlanjutan.
Misalnya kecelakaan lalu lintas, kejahatan, pergantian pejabat, dsb.
2.

informasi atau berita itu penting untuk segera diketahui khalayak

3.

baru (actual)

DEPTH NEWS
tulisan ini lazim disebut laporan mendalam, di gunakan untuk menuliskan permasalahan
(yang penting dan menarik) secara lebih lengkap, bersifat mendalam dan analitis, dimensinya
lebih luas, yang di jadikan berita biasanya suatu kasus maupun fenomena. Laporan ini ditulis
berdasarkan hasil liputan terencana, dan membutuhkan waktu panjang. Karena merupakan
hasil liputan terencana, maka diperlukan persiapan yang matang, sehingga dalam penuilsan
in-Depth reporting ini membutuhkan out line sebagai kerangka acuan dalam penggalian data
sampai analisa data.
Dalam Depth news materi penulisan berita penekanannya pada unsur How (bagaimana) dan
why (mengapa). Mencari dan memaparkan jawaban How dan Way secara lebih rinci dan
banyak dimensi
Karakteristik Depth News
1. Srukturnya balok tegak
2. Deskripsinya analitis, banyak mengungkapkan fakta-fakta penting dan pendukung
untuk kejelasan berita
3. lenggang cerita mengikat (berkesinambungan) antara paragraph sebelum dan
sesudahnya
4. Lebih mendalam dalam menguraikan fakta.

Pembuatan Perencanaa Liputan (Outline)


Karena pemberitaan dalam model depth news lebih menekankan pada unsure why dan how,
maka dibutuhkan kedalaman dalam mengurai realitas. Supaya dalam penguraian realitas tidak
terjadi pembiasan/pelebaran, dalam artian tetap focus dalam meguarai suatu realitas, maka
amat dibutuhkan kerangka (Outline) sebagai acuan dalam mengurai realitas tersebut, mulai
dari pengumpulan/pengalian data sampai penganalisaan data, sebelum dijadikan tulisan.
Adapun dalam pembuatan Outline, kita tidak kosong terhadap realitas (kasus atau fenomena)
yang akan diurai. Penegtahuan awal tentang fenomena yang akan diurai akan sangat
membantu dalam pembacaan fenomena tersebut. Karena tidak mungkin seluruh uraian
fenomena yang disajikan dalam tulisan, maka dalam outlinnya ditentukan sisi mana (angle)
yang akan diurai dan disajikan secara mendalam.
Sedangkan enggle di maksudkan sebagai penentu batasan-batasan fenomena yang akan diurai
sehingga dalam mengurai dan menganalisa sebuah fenomena tetap terfokus pada batasan
yang telah di rencanakan dan tidak melebar kemana-mana yang hanya akan menjadikan
pembiasan dalam penguraian dan penganalisaan.
Sebagai kerangka acuan dalam liputan mendalam Out Line juga memuat perencanaan
(ketentuan) data-data yang akan diacri. Dan untuk data yang di rencanakan melalui
wawancara, ditentukan pula poin-poin pertanyaan (drafting) secara garis besarnya.
FEATURES
Penulisan ini lazim di sebut berita kisah (narasi) atau cerita pendek non fiksi. Dikatakan non
fiksi karena tetap berdasarkan pula fakta. Features juga sering disebut berita ringan (soft
news) karena gaya penulisannya yang indah memikat, naratif, proasis, imajinatif dan
bahasanya lugas.
Biasanya featuers ini mengggunakan suatu peristiwa (realitas social) yang biasanya tidak
terlalu menjadi perhatian public dan isinya lebih menekankan pada sisi human interest
(menarik minat dan perasaan khalayak pembaca) model features dalam penulisan berita tidak
terikat aktualitas.
Namun dalam menulis features dibutuhkan kepekaan dan ketajaman menangkap fenomena
dalam realitas social melalui pengamatan dan wawancara yang mendalam, serta riset
dokumentasi yang cermat.
Ragam Features
1. Historikal Features
Menceritakan kejadian-kejadian yang menonjol pada waktu yang telah lewat, tetapi mesih
mempunyai nilai human interest.
1. Profile Feature

Mengemukakan pengalaman pribadi seseorang atau kelompok. Khalayak pembaca bisa


mengetahui sepak terjang tokoh tersebut, motivasinya, wawasannya, kerangka berfikirnya.
Dan dikemas seolah-olah kisah pengakuan diri dari orang yang bersangkutan.
1. Adventures Features
Menyajikan kejadian unik dan menarik yang dialami seseorang atau kelompok dalam
perjalanan kesuatu daerah tertentu, baik tentang alam maupun masyarakat.
1. Trend features
Mengungkapkan kisah tentang kehidupan sekelompok anak manusia ataupun perubahan gaya
hidupnya dalam proses transformasi social.
1. Seasonal Features
Mengisahkan aspek baru dari suatu peristiwa teragenda, seperti saat lebaran, natal, peringatan
hari lahir tokoh nasional dan sebagainya.
1. How-to-do-it Feature
Mengungkapkan bagaimana suatu perbuatan atau kegiatan dilakukan, seperti tulisan tentang
pemanfaatan daun sereh sebagai obat keluarga atau bagaimana cara menghapuskan virus
computer.
7. Explanatori/Backgrounder Feature
Mengisahkan suatu yang terjadi dibalik peristiwa atau penjelasan mengapa hal itu terjadi,
misalkan tentang pemogokan buruh, mengapa pemogokan itu terjadi, sebab apa yang melatar
belakangi pemogokan.
1. Human Interest Feature
Menceritakan tentang kisah hidup anak manusia yang menyentuh perasaan, seperti seorang
mahasiswa yang terus kuliah dengan mengandalkan hasil kerngatnya sendiri. Penulisan ini
ditekankan pada tingkah laku hidupnya bukan personnya.
Karakteristik Features
1. Teras Berita (Lead) bebas asal tetap menarik
2. Strukturnya bebas tapi tetap ringkas dan terus menarik
3. Bagian akhir tulisan dapat meningalkan pesan pada pembaca, artinya dapat membuat
pembaca tersenyum, tertawa, berdecap, bagian akhir yang demikian disebut Punch.
4. Lenggang cerita terkesan santai
5. Deskripsi bervariasi, mengungkapkan detil-detil yang menyentuh atau yang
membangkitkan emosi.

Pembuatan Opini, Tajuk Rencana (Editorial)


, Artikel, Kolom (Essai) dan resensi
Pembuatan antara opini, tajuk rencana, artikel, kolom dan resensi mempunyai spesifikasi
masing-masing yang sangat berbeda. Antara satu tema rubrik tajuk opini pasti akan berbeda
dengan rubric opini, begitupun yang lainnya. Sehingga dibawah ini akan dipaparkan
spesifikasi masing-masing.
a. Opini
Bila berita sebagai hasil konstuksi dari peristiwa (fakta) dan dituntut obyektif dalam
penyajiannya, maka tidak demikian halnya dengan opini. Opini bukan merupakan konstruksi
peristiwa, tetapi lebih pada penilaian terhadap peristiwa (fakta), jadi terdapat unsure-unsur
subyektifitas penulis dalam penyajiannya. Penulisannya tidak berdasarkan pada 5W+IH
sebagaimana berita.
Langkaha awal yang harus dilakukan sebelum mengumpulkan bahan dan menulis opini dalah
menentukan tema (problem yang akan diurai). Tema merupakan bentangan benang-merah
dalam benak penulis yang menggambarkan tujuan tulisan, merupakan gagasan pokok. Tanpa
tema tulisan opini tidak akan utuh dan menentu arahnya. Ada beberapa bentuk penulisan
opini dalam jurnalistik; artikel, kolom, esai, resensi. Beberapa bentuk tulisan tersebut
lazimnya merupakan ruang bagi pembaca.
Selain bentuk-bentuk tersebut masih ada penilisan lain yang disebut opini. Namun, opini ini
lebih merupakan pendapat media bersangkutan terhadap realitas yang berkembang. Salah
satunya adalah editorial/tajuk yang merupakan penilaian atau analisa dari redaksi tentang
situasi dan berbagai masalah. Juga ada pojok, ia merupakan tulisan tanpa sentilan, sindiran
terhadap realitas yang ditulis dengan gaya satire, lucu, kocak. Dan karikatur juga merupakan
penilaian redaksi terhadap realitas, ia tidak jauh beda dengan pojok, namun diungkapakn
melalui gambar/kartun.
Syarat-syarat Opini

Orsinil

Faktual, Aktual

Bersifat ilmiah

Sistematis

Mengandung gagasan atau ide

Menggunakan bahasa yang baik dan benar (Sesuai dengan kaidah bahasa, baik
Indonesia ataupun serapan).
b. Tajuk Rencana (Editorial)

Suatu karya tulis yang merupakan pandangan redaksi terhadap suatu fakta/realitas, karena
merupakan pandangan redaksi maka tajuk bersangkutan dengan penilaian redaksi. Tajuk
rencana memuat fakta dan opini yang disusun secara ringkas dan logis.
Yang perlu diperhatikan dalam membuat tajuk

Judul yang sifatnya meghimbau pembaca

Kalimat untuk lead (paragraf awal) tidak terlalu panjang

Tajuk rencana yang baik mengandung keseimbangan antara hasil karya seorang ilmuan dan
seorang seniman. Denga jiwa ilmuan, dimaksudkan dalam menentukan dan menganalisa
problema bersifat logis, sangat mempertimbangakn temuan-temuan dalam mengurai problem.
Dengan semangat seniman, dimaksudkan lebih pada penyajian hasil analisa dalam bentuk
tulisan agar lebih enak dibaca.
c. Artikel
Merupakan karya jurnalisik yang mempunyai karya ilmiah. Ada juga yang mengatakan
artikel merupakan karya ilmiah. Kenapa? Dalam artikel susunan penulisannya seperti halnya
karya ilmiah: ada batasan-batasan permasalahannya yang diungkapkan untuk selanjutnya
diurai dalam tulisan, juga dimungkinkan ada problem solfing. Bahasa yang digunakan adalah
bahasa-bahasa ilmiah-baku, namun tidak kaku. Jadi dalam menulis artikel langkah utama
adalah menentukan permasalahan yang akan diurai (tema). Mensistematiskan supaya lebih
mudah untuk ditarik benang merah. Ini perlu diperhatikan dalam menulis artikel.
Tema dalam bahasan artikel bisa berupa apa saja, dari teknologi sampai politik, dari masalah
yanglebih kecil sampai pada masalah yang paling besar.
d. Kolom / Essai
Sama halnya dengan artikel, menulis kolom diperlukan menentukan permasalahan yang akan
diurai, juga sistematisasi permasalahan untuk ditarik benang merah. Ini dimaksudkan untuk
menjadikan lebih terarah. Dalam penulisannya, kolom tidak ketat seperti artikel. Bahasa yang
digunakan lebih lentur, mudah dipahami, terkesan santai dalam memaparkan idenya.
Dalam essai lebih longgar lagi dan tulisannya lebih pendek dari kolom. Biasanya karakter
penulis tercerminkan dalam tulisan essai kekhasan personal lebih ditonjolkan. Sama halnya
dengan kolom dalam memaparkan idenya terkesan santai, bahasanya lentur,alur bahasa lebih
lugas. Juga seperti halnya dalam penulisan opini yang lain, ada permasalahan yang diuraikan.
e. Resensi
Resensi merupakan bentuk tulisan dalam hal pengambaran/analisa terhadap sebuah teks. Teks
disini bisa berupa buku, film, teater, maupun lagu. Sebagian menyebut resensi sama halnya
dengan synopsis, pengambaran secara global tentang teks. Tapi sebenarnya tidak sama,
karena dalam resensi ada sedikit sentuhan analisa penulis dan seorang resensor harus berlaku
subyektif mungkin dalam menggambarkan atau menganalisa teks.
PENULISAN BERITA

a. Membuat Judul
Judul berita memang bukan merupakan hal yang urgen dalam penulisan berita. Tapi bisa
menjadi hal yang vital. Sebelum membaca isi berita pembaca cenderung membaca judulnya
lebih awal. Ketika judul tidak menarik, pembaca akan enggan untuk membaca isinya.
Maka usahakan dalam membuat judul mudah dimengerti dengan sekali baca, juga menarik,
sehingga mendorong pembaca mengetahui lebih lanjut isi berita. Tapi judul yang menarik
belum tentu benar dalam kaidah penulisan judul. Pada dasarnya judul seharusnya
mencerminkan isi berita. Jadi disamping mencerminkan isi dan menarik. Judul perlu
kejelasan asosiatif setiap unsure subjek, objek dan keterangan.
Selain itu dalam menuliskan judul juga bisa menggunakan kalimat langsung, artinya
mengutip langsung ungkapan dari narasumber. Biasanya suatu pernyataan itu mengarah
subjek yang melontarkan, untuk menjelaskan subjek (nama-nama narasumber atau sebuah
kegiatan maka digunakan kickers (pra judul). Atau jika tidak menggunakan kickers,
penulisan judul dalam dua tanda petik.
b. Pembuatan Lead
lead merupakan paragraph awal dalam tulisan berita yang berfungsi sebagai kail sebelum
masuk pada uraian dalam tulisan berita. Ada beberapa maca lead yang bisa digunakan dalam
menulis berita:
1. Lead ringkasan: Biasanya dipakai dalam penulisan Berita keras. Yang ditulis inti
beritanya saja, sedangkan interesting reader diserahkan kepada pembaca, lead ini
digunakan karena adanya persoalan yang kuat dan menarik.
2. Lead bercerita: Ini digemari oleh penulis cerita fiksi karena dapat mebarik dan
membenamkan pembaca alur yang mengasikkan. Tekhniknya adalah membiarkan
pembaca menjadi tokoh utama dalam cerita.
3. Lead pertanyaan: Lead ini efektif apabila berhasil menantang pengetahuan pemabaca
dalam mengenal permasalah yang diangkat.
4. Lead menuding langsung: Biasanaya melibatkan langsung pembaca secara pribadi,
rasa ingin tahu mereka sebagai manusia diusik oleh penudingan lead oleh penulis.
5. Lead Penggoda: Mengelabui pembaca dengan acara bergurau. Tujuan utamanya
menggaet perhatian pembaca dan menuntunnya supaya pembaca habis cerita yang
ditawarkan.
6. Lead Nyetuk: Lead yang menggunakan puisi, pantun, lagu atau yang lain. Tujuannya
menarik pembaca agar menuntaskan cerita yang kita atawrkan. Gays lead ini sangat
has dan ekstrim dalam bertingkah.
7. Lead Deskriptif: Menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang seorang
tokoh atau suatu kejadian, Lead ini banyak digemari wartawan ketka menulis feature
profil pribadi.
8. Lead Kutipan: Lead yang mengutip perkataan, statement, teori dari orang terkenal.

9. Lead Gabungan: Lead yang menggabungkan dua atau lebih macam lead yang sudah
ada. Semisal lead kutipan digabung dengan lead deskriptif.
c. Pembuatan Ending
Untuk menutup ending atau ending story, ada beberapa jenis:
1. Penyegar: penuto yang biasanya diahiri kata-kata yang mengagetkan pembaca dan
seolah-olah terlonjak
2. Klimaks: penutup ini ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis.
3. Tidak ada penyelesaian: penulis mengahiri cerita dengan memberikan sebuah
pertanyaan pokok yang takterjawab. Jawaban diserahkan pada pembaca untuk
membuat solusi atau tanggapan tentang permasalahan yanga ada.
d. Alur Penulisan
Kita sering membaca sebuah tulisan, tapi setelah selesai kita tidak tahu apa yang dikatakan
dan yang dimaksud oleh tulisan tersebut. Dalam kasus ini, sebagai penulis ia gagal
msnyampaikan ide/pikiran pada pembaca. Ada dua kemungkinan kenapa pembaca tidak
memahami tulisan tersebut. Pertama bahasa yang digunakan penulis. Kedua, alur tulisan yang
tidak terarah. Jika yang terjadi adalah factor kedua maka penulis telah melakukan kesalahan
yang sangat fatal.
Ada beberapa hal yang dapat dijadikan acuan:
1.

Sebab- akibat

2.

Akibat- sebab

3.

Diskriptif-kronologis

BAHASA JURNALISTIK
Bahasa jurnalistik sewajarnya didasarkan atas terbatasnya ruang dan waktu. Salah satu sifat
dasar jurnalisme menghendaki kemampuan komunikasi capat dalam ruang dan waktu yang
relative terbatas. Dengan demikian diobutuhkan suatu bahasa jurnalistik yang lebih efisien.
Dengan efisien dimaksudkan lebih hemat dan lebih jelas.
Asas hemat dan jelas ini sangat penting buat seorang jurnalis dalam usaha kearah efisiensi
dan kejelasan dalam tulisan. Penghematan diarahkan kepada penghematan ruang dan waktu.
Ini bisa dilakukakn didua lapisan. (1) unsur kata, dan (2) unsur kalimat.
a. Penghematan.
Unsur Kata
1.
beberapa kata indinesia sebenarnya bisa dihemat tanpa mengorbankan tata bahasa dan
jelasnya arti. Misalnya

agar supaya menjadi agar, supaya


akan tetapi menjadi tapi
apabila menjadi bila
sehingga

menjadi hingga

meskipun

menjadi meski

walaupun menjadi walau


tidak menjadi tak
(kecuali diujung kalimat atau berdiri sendiri)
2.

kata daripada atau dari pada juga bisa disingkat jadi dari misalnya:

keadaan lebih baik dari pada zaman sebelum perang, menjadi keadaan lebih baik dari
sebelum perang, tapi mungkin masih janggal mengatakan:: dari hidup berputi mata, lebih
baik mati berputih tulang.
3.

Beberapa kata mempunyai sinonim yang lebih pendek. Misalnya:

kemudian

= lalu

makin

= kian

terkejut

= kaget

sangat
demikian
sekarang

= amat
= begitu
= kini

catatan: dua kata yang bersamaan arti belum tentu bersamaan efek, sebab bahasa bukan
hanya soal perasaan. Jadi dalam soal memilih sinonim pendek perlu mempertimbangkan rasa
bahasa.
Penghematan Unsur Kalimat
Lebih efektif penghematan kata adalah penghematan melalui struktur kalimat. Banyak contoh
pembuatan kalimat dengan pemborosan kata.
1. pemakaian kata yang sebenarnya tak perlu, diawal kalimat, misalnya:

adalah merupakan kenyataan, bahwa pencaturan politik internasional berubah-ubah


setiap zaman. (bisa disingkat: merupakan kenyataan, bahwa.)


apa yang dikatakan Wijoyo Nitisastro sudah jelas. (bisa disingkat: yang dikatakan
Wijoyo Nitisastro).
1. pemakaian apakah atau apa (mungkin pengaruh bahasa daerah) yang sebenarnya bisa
ditiadakan misalnya:

apakah Indonesia akan terus tergantung pada bantuan luar negeri (bisa disingkat:
akan terus tergantungkah Indonesia)

baik kita lihat, apa(kah) dia dirumah atau tidak, bisa disingkat baik kita lihat dia
dirumah atau tidak
1. pemakaian dari sepadan dengan of (inggris) dalam hubungan milik yang sebenarnya
bisa ditiadakan: juga dari pada misalnya:

dalam hal ini pengertian dari pemerintah diperlukan bisa disingkat: dalam hal ini
pengertian pemerintah diperlukan.

sintaksis adalah bagian dari pada tata bahasa bisa disingkat: sintaksis adalah
bagian tata bahasa.
1. pemakaian untuk sepadan dalam to (inggris) yang sebenarnya dapat ditiadakan.
Misalnya:

Unisoviet cenderung untuk mengakui hak-hak India , bisa disingkat Unisoviet


cenderung megakui hak-hak India.

pendirian semacam itu mudah untuk dipahami menjadi pendirian semacam itu
mudah dipahami.
Catatan:
Dalam kalimat: mereka setuju untuk tidak setuju, kata untuk demi kejelasan dipertahankan
1. pemakaian adalah sepadan dengan is atau are (inggris) tak selamanya perlu:

misalnya:kera adalah binatang pemamah biak bisa disingkat kera binatang


pemamah biak.
Catatan: dalam struktur kalimat lama, adalah ditiadakan, tapi kata itu ditambahkan,
misalnya dalam kalimat: pikir itu pelita hati. Kita bisa memakainya meski lebih baik
dihindari, misalnyakalua kita harus menerjemahkan man is a better driver than women,
bisa mengacaukan bila disalin:pria itu pengemudi yang lebih baik dari pada wanita.
1. pembunuhan akan, telah, sedang sebagai penunjuk waktu sebenarnya bisa
dihapuskan, kalau ada keterangan waktu. Misalnya:

presiden besok akan meninjau pabrik ban Goodyear bisa disingkat presiden
besok meninjau pabrik

tadi telah dikatakan bisa disingkat tadi dikatakan


kini Clay sedang sibuk mempersiapkan diri bisa disingkat kini Clay
mempersiapkan diri
1. pembunuhan bahwa sering bisa ditiadakan:
misalnya:

Gubernur Ali Sadikin membantah desas desus yang mengatakan bahwa ia akan
diganti.

Tidak diragukan lagi bahwa ialah orang yang tepat bisa disingkat tidak diragukan
ia lah orangnya yang tepat.
Catatan: sebagai ganti bahwa ditaruhkan koma, atau pembuka (;), bila perlu
1. yang, sebagai penghubung kata benda dengan kata sifat, kadang juga bisa ditiadakan
dalam konteks kalimat tettentu misalnya:

Indinesia harus menjadi tetangga yang baik dari Australia bisa disingkat Indonesia
harus menjadi tetangga yang baik Australia

kami adalah pewaris yang sah dari kebudayaan dunia


1. pembentukan kata benda (ke ++ an atau pe ++ an) yang berasal dari kata kerja
kata sifat, kadang meski tak selamanya menambah beban kalimat dengan kata yang
sebenarnya tak perlu. Misalnya:

PN sedang menderita kerugian Rp. 3 juta bisa disingkat PN sedang rugi Rp. 3
juta.

ia telah tiga kali melakukan penipuan tehadap saya bisa disingkat ia telah tiga
kali menipuan tehadap saya.
b. Kejelasan
Setelah dikemukakan 16 pasal yang merupakan pedoman dasar bagaimana penghematan
dalam menulis, dibawah ini pedoman dasar kejelasan dalam menulis. Menulis secara jelas
membutuhkan perasyarat:
1.
penulisan harus memahami betul soal yang mau ditulisnya, bukan pura-pura paham
atau belum yakin benar akan pengetahuan sendiri.
2.

penulis harus punya kesadaran tentang pembaca.

Kejelasan Unsur Kata


1. Berhemat dengan kata-kata asing.
Dewasa ini begitu derasnya arus istilah-istilah asing dalam pers kita. Misalnya: income
percapita, meet the press, steam-bath,midnight show, project officer, floating mass,

program-oriented, floor-price, City Hall, upgrading, the best photo of the year,
reshuffle, approach, single, seeded.dan lain lagi. Kata-kata itu sebenarnya bisa
diterjemahkan, tapi dibiarkan begitu saja sementara diketahui bahwa tingkat pelajaran bahasa
inggris sedang merosot, bisa diperhitungkan sebentar lagi pembaca Koran Indonesia akan
terasing dari informasi, mengingat timbulnya jarak bahasa yang kian melebar. Apalagi jika i
diingat rakyat rakyat kebanyakan memahami bahasa inggris sepatahpun tidak.
Sebelum terlambat, ikhtiar menterjemah kata-kata asing yang relative mudah diterjemah
harus segera dimulai. Tapi sementara ini diakui perkembangan bahasa tak berdiri sendiri
melainkan di topang perkembangan sector kebudayaan lain. Maka sulitlah kita mencari
terjemah dari lunar module feasibility study, after shafe-lotion,, drive-in, pant-sul dari
perbendaharaan kata-kata asing.
Tehnical know-how, backhand drive, smash, slow motion, enterperneur, boom, longplay,
crash program, buffet dinner, double-breast, dll. Karena pengertian-pengertian itu tak berasal
dari perbendaharaan cultural kita. Walau ikhtiar mencari salinan Indonesia yang tepat dan
enak (misalnya bell-bottom dengan cutbray) tetap perlu.
2. menghindari sejauh mungkin akronim
setiap bahasa mempunyai akronim tapi agaknya sejak lima belas tahun yang kemarin,
berbahasa Indonesia bertambah gemar mempergunakan akronim, hingga sampai hal-hal yang
kurang perlu. Akronim mempunyai manfaat menyingkap ucapan dan penulisan dengan cara
dan mudah diingat. Dalam bahasa Indonesia, yang kata-katanya bersuku, kata tunggal, dan
yang rata-rata dituliskan dengan banyak huruf, dan kecenderungan membentuk akronim
lumrah Hankam, Bappenas, Daswati, Humas, memang lebih ringkas dari
pertahanan dan keamanan, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Daerah
Swantara Tingkat, dan Hubungan Masyarakat
tapi kiranya akan teramat membingungkan kalau kita seenaknya saja membikin akronim
sendiri dan selalu sering, disamping itu, perlu diingat ada yang membuat akronim untuk alat
praktis dalam dinas (misalnya yang dilakukan kalangan ketentaraan) ada yang membaut
akronim untuk bergurau, mengejek, dan mencoba lucu (misalnya dikalangan remaja seharihari: (ortu) untuk (orang tua), (keruk nasi) untuk (kerukunan nasional). Tapi ada juga yang
membaut akronim atau menciptakan efek propaganda dalam permusuhan politik, misalkan:
(manikebu) untuk ( manifestasi kebudayaan), (Nikolin) untuk (neo kolonialisme), (cinkom)
untuk (cina komunis), (asu) untuk (Ali Suracman).
Bahasa jurnalistik dari sikap objektif, seharusnya menghindarkan akronim jenis yang terakhir.
Akronim bahas apojok sebaiknya juga dihindarkan dari bahasa pemberitaan, misalnya
(Djagung) untuk (jaksa agung). (Gepeng) untuk (gerakan penghematan), (sas-sus) untuk
(desas desus). Karena akronim bisa menghamburkan pengertian kata-kata yang diakronimkan
Kejelasan unsur kalimat
Seperti halnya dalam asas penghematan, asas kejelasan juga lebih efektif jika dilakukan
dalam struktur kalimat. Satu-satunya untuk itu ialah dihindarkannya kalimat-kalimat
majemuk yang paling panjang kalimatnya: terlebih-lebih lagi jika kalimat majemuk itu
bercucu kalimat.