Anda di halaman 1dari 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN GANGGUAN

HIV/ AIDS
Guna untuk memenuhi tugas mata kuliah Sistem Reproduksi II
Dosen Pembimbing: Ns. Titik. Suhartini, S.Kep, M. Kep

KELOMPOK 10
Anggota Kelompok:
1. Safiqur Rahman
2. Siti Zahrotul M
3. Sulvi Rohmatin

(14201.05.13032)
(14201.05.13039)
(14201.05.13042)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAFSHAWATY


ZAINUL HASAN GENGGONG
PROBOLINGGO
TAHUN 2015

PRAKATA

Assalamualaikum wr.wb
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, tuhan yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Atas bimbingan dan pertolongannya sehingga makalah ini dapat tersusun dengan
berdasarkan berbagai sumber pengetahuan yang bertujuan untuk membantu proses belajar
mengajar mahasiswa agar dapat berlangsung secara efektif dan efisien. Sehingga dapat di
terbitkan sesuai dengan yang di harapkan dan dapat di jadikan pedoman dalam melaksanakan
kegiatan keperawatan dan sebagai panduan dalam melaksanakan makalah dengan judul
ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN GANGGUAN HIV/ AIDS
Sebagai pembuka, kami mengucapkan terimakasih kepada :
1. KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah S.H., M.M. selaku ketua yayasan STIKES
Zainul Hasan Genggong.
2. Ibu Ns. Iin Aini Isnawati,M.Kes selaku ketua STIKES Zainul Hasan Genggong.
3. Ibu Ns. Achmad Kusyairi, S.Kep. M.Kep. selaku pembimbing akademik S1
Keperawatan.
4. Bapak Ns. Titik Suhartini,S. Kep, M.Kep . Selaku pembimbing mata kuliah Sistem
Kardiovaskuler yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam
pelaksanaan bimbingan, pengarahan, dorongan dalam rangka penyelesaian
penyusunan makalah ini
Penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan dan kesalahan,namun
selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun agar makalah ini dapat lebih baik lagi.Akhir kata penulis berharap agar
makalah ini bermanfaat bagi semua pembaca.
Wassalamualaikum wr.wb.

Penyusun
Kelompok 10
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kehamilan merupakan peristiwa alami yang terjadi pada wanita namun kehamilan
dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester
pertama . wanita hamil trimester pertama pada umumnya mengalami mua, muntah, nafsu
makan

berkurang

dan

kelebihan.

Menurunnya

kondisi

wanita

hamil

cenderung

memperberat kondisi kliniks wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV AIDS .
HIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Ini adalah
retrovirus, yang berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri untuk memproduksi
kembali dirinya. Asal dari HIV tidak jelas, penemuan kasus awal adalah dari sampel darah
yang dikumpulkan tahun 1959 dari seorang lakilaki dari Kinshasa di Republik Demokrat
Congo. Tidak diketahui bagaimana ia terinfeksi.
Saat ini terdapat dua jenis HIV: HIV1 dan HIV2. HIV1 mendominasi seluruh dunia
dan bermutasi dengan sangat mudah. Keturunan yang berbedabeda dari HIV1 juga ada,
mereka dapat dikategorikan dalam kelompok dan subjenis (clades). Terdapat dua
kelompok, yaitu kelompok M dan O. Dalam kelompok M terdapat sekurangkurangnya 10
subjenis yang dibedakan secara turun temurun. Ini adalah subjenis AJ. Subjenis B
kebanyakan ditemukan di America, Japan, Australia, Karibia dan Eropa. Subjenis C
ditemukan di Afrika Selatan dan India. HIV2 teridentifikasi pada tahun 1986 dan semula
merata di Afrika Barat. Terdapat banyak kemiripan diantara HIV1 dan HIV2, contohnya
adalah bahwa keduanya menular dengan cara yang sama, keduanya dihubungkan dengan
infeksiinfeksi oportunistik dan AIDS yang serupa. Pada orang yang terinfeksi dengan HIV
2, ketidakmampuan menghasilkan kekebalan tubuh terlihat berkembang lebih lambat dan
lebih halus. Dibandingkan dengan orang yang terinfeksi dengan HIV1, maka mereka yang
terinfeksi dengan HIV2 ditulari lebih awal dalam proses penularannya.
HIV dapat menular melalui kontak darah, namun disini kami akan mencoba
membahas bagaiamana HIV AIDS yang dialami ibu hamil dan bagaimana melakukan
sebuah proses keperawatan pada ibu hamil dengan HIV AIDS.

1.2 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Bagaimana pengertian penyakit HIV /AIDS?


Bagimana etiologi dari HIV /AIDS?
Bagimana patofisiologi dari HIV /AIDS?
Bagaiman manifestasi klinis dari HIV /AIDS?
Bagaimana pemeriksaan penumjang dari HIV /AIDS?
Bagaimana kompikasi dari HIV /AIDS?
Bagaimana asuhan keperawatan HIV /AIDS pada ibu hamil?

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Dengan disusunnya makalah ini, Mahasiswa dan semua pihak yang bersangkutan
dengan dunia kesehatan semoga bisa menjadikan makalah ini sebagai salah satu
sumber refrensi untuk mengembembangkan dan memberikan asuhan keperawatan di
klinik dengan baik khususnya pada ibu hamil dengan penderita HIV/ AIDS
1.3.2

Tujuan khusus
1.
2.
3.
4.

Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami pengertian dari HIV/ AIDS
Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami etiologi dari HIV/ AIDS
Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami klasifikasi dari HIV/ AIDS
Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami manifestasi klinis dari

HIV/ AIDS
5. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami pathofisiologi dari HIV/
AIDS
6. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami pemeriksaan penunjang
dari HIV/ AIDS.
7. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami penatalaksanaan dari
HIV/ AIDS
8. Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui dan memahami komplikasi dari HIV/
AIDS.
9. Mahasiswa diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan pada ibu hamil
dengan penyakit HIV/ AIDS

1.4

Manfaat
1.4.2

Manfaat Teoristi

Dengan disusunnya makalah yang berjudul Laporan Pendahuluan dan Asuhan


Keperawatan pada Kasus HIV/ AIDS ini, diharapkan bisa memeberikan manfaat dan
menjadi salah satu sumber refrensi bagi para pembaca.
1.4.3

Manfaat Klinis
Diharapkan dengan disusunnya makalah yang berjudul Laporan Pendahuluan
dan Asuhan Keperawatan pada HIV/ AIDS ini, bisa menjadi sumber refrensi dalam
pengembangan penerapan asuhan keperawatan di klinik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang
system kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat
menyebabkan AIDS, sedangkan AIDS sendiri adalah suatu sindroma penyakit yang muncul

secara kompleks dalam waktu relatif lama karena penurunan sistem kekebalan tubuh yang
disebabkan oleh infeksi HIV.
HIV adalah jasad renik yang menyebabkan terjadinya AIDS. HIV melumpuhkan sistem
kekebalan tubuh, terutama sel-sel darah putih yang membantu dalam menghalau penyakit (Dr.
Hutapea Ronald, 2011).

AIDS adalah sindrom dengan gejala penyakit oportunistik atau kanker tertentu akibat
menurunnya system kekabalan tubuh oleh infeksi virus HIV (Brunner,2001).

AIDS adalah tranmisi human imuno defisiensi virus, suatu retrovirus yang terjadi
terutama melalui pertukaran cairan tubuh (Friedland, 1987).

AIDS

adalah

suatu

penyakit

infeksi

yang

di

sebabkan

virus

HTL

2.2 Insiden
Sejumlah infeksi virus HIV terdiagnosis baru di tahun 2000 merupakan yang tertinggi
sejak pelaporan di mulai dan jumlah infeksi yang di dapat baru adalah melalui hubungan
seksual heteroseksual. Kira- kira 30.000orang hidp dengan HIV di inggris, sepertiganya tidak
terdiagnosis.
Bagi ibu positif HIV, kehamilan dan kelahiran bayi bias merupakan kejadian yang sangat
emosional. Ibu akan merasa sangat waspada terhdapa penyakitnya yang serius dan
kemungkinan bayinya akan di lahirkan postif HIV. Penularan intrauterine dapat terjadi selama
kehamilan, kelahiran, atau menyusui. Di perkirakan bahwa ibuyang baru saja terinfeksi, atau ibu
yang menderita sindrom imnunodefisiensi didapat (AIDS) lebih besar kemungkinnya mendapat
bayi yang terinfeksi (AVERT,2003). Ibu positif HIV memerlukan asuhan sensitive dari semua
staf, bimbingan, dan waktu khusus untuk bicara. Ibu mungkin meminta kamar samping tetapi
banyak ibu lain ingin bersama orang tua lainnya dan tidak di pisahkan. Kerahasiaan adalah vital.

2.3 Etiologi
Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency virus
(HIV). HIV pertama kali ditemukan pada tahun 1983 sebagai retrovirus dan disebut HIV-1. Pada
tahun 1986 di Afrika ditemukan lagi retrovirus baru yang diberi nama HIV-2. HIV-2 dianggap
sebagai virus kurang pathogen dibandingkaan dengan HIV-1. Maka untuk memudahkan
keduanya disebut HIV.

Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari lima fase yaitu :
1. Periode jendela. Lamanya 4 minggu sampai 6 bulan setelah infeksi. Tidak ada
gejala.
2. Fase infeksi HIV primer akut. Lamanya 1-2 minggu dengan gejala flu likes illness.
3. Infeksi asimtomatik. Lamanya 1-15 tahun atau lebih dengan gejala tidak ada.
4. Supresi imun simtomatik. Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam
hari, BB menurun, diare, neuropati, lemah, ruam kulit, limadenopati, perlambatan
kognitif, lesi mulut.
5. AIDS. Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali
ditegakkan. Didapatkan infeksi oportunis berat dan tumor pada berbagai system
tubuh, dan manifestasi neurologist (NANDA nic-noc).
Cara penularan HIV:
1. Melakukan penetrasi seks yang tidak aman dengan seseorang yang telah terinfeksi.
Kondom adalah satusatunya cara dimana penularan HIV dapat dicegah.
2. Melalui darah yang terinfeksi yang diterima selama transfusi darah dimana darah
tersebut belum dideteksi virusnya atau pengunaan jarum suntik yang tidak steril.
3. Dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang
yang telah terinfeksi.
4. Wanita hamil dapat juga menularkan virus ke bayi mereka selama masa kehamilan
atau persalinan dan juga melalui menyusui.
Penularan secara perinatal
1. Ibu hamil yang terinfeksi HIV dapat menularkan HIV pada bayi yang dikandungnya.
2. Penularan dari ibu terjadi terutama pada saat proses melahirkan, karena pada saat
itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi sehingga virus dari
ibu dapat menular pada bayi.
3. Bayi juga dapat tertular virus HIV dari ibu sewaktu berada dalam kandungan atau
juga melalui ASI
4. Ibu dengan HIV dianjurkan untuk PASI
Kelompok resiko tinggi:
1. Lelaki homoseksual atau biseks.
2. Orang yang ketagian obat intravena
3. Partner seks dari penderita AIDS
4. Penerima darah atau produk darah (transfusi).
5. Bayi dari ibu/bapak terinfeksi (purwaningsih,wahyu.2010).

2.4

Klasifikasi
CDC adalah menerapkan system klasifikasi pasien yang mengalami infeksi HIV
berdasarkan keadaan klinik yang di jumpai sebagai berikut.
1. Grup 1/ infeksi akut
Penyakit serokonveksi sampai AIDS berlangsung beberapa tahun kemudian infeksi
akut dari awal virus menginfeksi sampai kiara kira 6 minggu.
Penyakit seokonveksi ada 3 yaitu:
a. Penyakit mirip infeksi mononukleus.
Gejala demam, malaise, alergi, mialgia, atralgia, limfadenopati dan nyeri
tenggorokan kadang di jumpai juga enselopati akut reversible di sertai disorientasi,
lupa ingatan, kesadaran menurun dan perubahan kepribadian.
b. Meningitis.
c. Mielopati
2. Grup 2/ infeksi asimtomatik
Tanpa di sertai gejala
3. Grup 3/ infeksi lymphadenopathy peprsisten generalisata
Meliputi: infeksi kronis
Adanya pembesaran kelenjar getah bening
4. Grup 4/ penyakit lain
a. Sub grup a: penyakit constitutional
b. Sub grup b: penyakit neurologic
c. Sub grup c: penyakit infeksi lain contoh: herpes
d. Sub grup d: kanker sukender
e. Sub

grup

kondisi

lainnya,

misalnnya

pneumonitis

interstitial

limfosit

(purwaningsih,wahyu. 2010).

2.5 Patofisiologi
HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel Thelper dengan melekatkan dirinya pada
protein CD4. Sekali ia berada di dalam, materi viral (jumlah virus dalam tubuh penderita)
turunan yang disebut RNA (ribonucleic acid) berubah menjadi viral DNA (deoxyribonucleic acid)
dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase. Viral DNA tersebut menjadi bagian dari

DNA manusia, yang mana, daripada menghasilkan lebih banyak sel jenisnya, benda tersebut
mulai menghasilkan virusvirus HI. Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk
membentuk virusvirus yang baru. Virusvirus baru tersebut keluar dari sel tubuh dan bergerak
bebas dalam aliran darah, dan berhasil menulari lebih banyak sel. Ini adalah sebuah proses
yang sedikit demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem kekebalan tubuh dan meninggalkan
tubuh menjadi mudah diserang oleh infeksi dan penyakitpenyakit yang lain. Dibutuhkan waktu
untuk menularkan virus tersebut dari orang ke orang.
Respons tubuh secara alamiah terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan selsel yang
terinfeksi dan menggantikan selsel yang telah hilang. Respons tersebut mendorong virus untuk
menghasilkan kembali dirinya. Jumlah normal dari selsel CD4+T pada seseorang yang sehat
adalah 8001200 sel/ml kubik darah. Ketika seorang pengidap HIV yang selsel CD4+ Tnya
terhitung dibawah 200, dia menjadi semakin mudah diserang oleh infeksiinfeksi oportunistik.
Infeksiinfeksi oportunistik adalah infeksiinfeksi yang timbul ketika system kekebalan tubuh
tertekan. Pada seseorang dengn system kekebalan yang sehat. Infeksi infeksi tersebut tidak
biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang pengindap HIV hal tersebut dapat
teradi fatal (purwaningsih, wahyu.2010)
2.6 Pathway
Terlampir
2.7 Periode Penularan HIV/ AIDS Pada Ibu Hamil
Penyebab penularan AIDS pada ibu dan bayi adalah cairan serviks vagian, cairan amnion,
jaringan plasenta dan air susu yang berasal dari ibu yang darah darahnya terdapat virus HIV.
Cara penularannya secara:
1. Transmisi vertical
Melalui inutera, lewat plasenta
Dimana antigen HIV dapat di deteksi dalam cairan amnion dan jarinanvetus yang terlihat
dari terminasi kehamilan yang berusia 15 minggu.
2. Transmisi horizontal
Transmisinya melalui air susu (purwaningsih,wahyu.2010).
2.8 Tanda Dan Gejala HIV/ AIDS
HIV memasuki tubuh jika serum HIV menjafi positif dalam 10 minggu suatu pemaparan
yang menunjukkan gejala awal yang tidak spesifik yaiut:
1. Respon tipe influenza.

2. Demam.
3. Malaise.
4. Mialgia.
5. Mual
6. Diare
7. Nyeri tenggorokan
8. Ruam dapat menetap 2-3 minggu
9. Berat badan menurun
10. Fatique.
11. Anoreksia.
12. Mungkin menderita kandidiasis otot faring atau vagina
Pada masa perinatal
1. Keletihan
2. Anoreksi.
3. Diare kronik selama 1 bulan.
Kemataian ibu hamil dengan HIV positif kebanyakan di sebabkan oleh penyakit
oportunistik yang menyertai terutama pneumonitis carinif pneumonia.
2.9 Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium darah.
a. Trombositopeni
b. Anemia.
c. HDL>
d. Jumlah limfosit total
2. EIA atau EUSA dan tes western blot: postif, tetapi invalid.
a. EIAatau EUSA: mendeteksi antibody terhadap antigen HIV.
b. Test western blot mendeteksi adanya anti body terhadapbeberapa prot spesifik HIV.
3. Kultur HIV: dengan sel mononuclear darah perifer dan bila tersedia plasma dapat
mengukur beban virus.
4. Test reaksi polimer dengan leukosit darah perifer: mendeteksi DNA viral pada adanya
kuntitas kecil sel mononuclear perifer terinfeksi.
5. Antigen P24 serum atau plasma: peningkatan nilai kuantitatif dapat menjadi indikasi dari
kemajuan infeksi.
6. Penentuan immunoglobulin G, M, A serum kualitatif: data dasar immunoglobulin.
7. IFA: memastikan seropesivitas.

8. RIPA: mendteksi protein HIV.


9. Pemeriksaan parental juga dapat menunjukkan adanya goorhoe, kandidiasis, hepatitis
B, tuberkolosis, sitomegalovirus, dan toksoplasmosis (purwaningsih,wahyu.2010).
2.10

Penatalaksanaan
1. Penanganan infeksi yang berhubungan dengan HIV serta maliginasi, pengentian
replikasi HIV lewat preparat antivirus dan penguatan serta pemulihan system imun
melaui pengunaan preparat imnimodulator.
2. Terapi farmakologi
a. Obat primer di setujiu untuk terapi HIV yaitu azidodeoksimetidin (zidovudine,A2T
cretevir) berfungsi untuk memperlambat kematian dan menurunkan frekuensi serta
bertanya penyakit oportunistik.
b. Asitimidin terkendali pada wanita hamil mengurangi resiko transmisi HIV dari wanita
yang terinfeksi kejaninnya.
c. Perawatan suportif sangat penting karena infeksi HIV sangat menurunkan kedaan
imun pasien (mencankup, kelemahan, malnutris, imobilisasi, kerusakan kulit dan
perubahan status mental).
d. Memberikan perawatan kesehatan efektif dengan penuh kasih saying dan obyektif
pada semua individu (mencakup, malnutrisi, optimum, istirahat, latihan fisik, dan
reduksi stress) (purwaningsih, wahyu.2010)

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian
1. Biodata Klien

Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku dana kebangsaan, pendidikan, pekerjaan,
alamat, nomor regester, tanggal Masuk Rumah Sakit , diagnosa medis.
2. Riwayat Penyakit
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Umur
kronologis pasien juga mempengaruhi imunokompetens. Respon imun sangat tertekan
pada orang yang sangat muda karena belum berkembangnya kelenjar timus. Pada
lansia, atropi kelenjar timus dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Banyak
penyakit kronik yang berhubungan dengan melemahnya fungsi imun. Diabetes meilitus,
anemia aplastik, kanker adalah beberapa penyakit yang kronis, keberadaan penyakit
seperti

ini

harus

dianggap

sebagai

factor

penunjang

saat

mengkaji

status

imunokompetens pasien. Berikut bentuk kelainan hospes dan penyakit serta terapi yang
berhubungan dengan kelainan hospes :

Kerusakan respon imun seluler (Limfosit T )


Terapi radiasi, defisiensi nutrisi, penuaan, aplasia timik, limfoma, kortikosteroid,
globulin anti limfosit, disfungsi timik congenital.

Kerusakan imunitas humoral (Antibodi)


Limfositik leukemia kronis, mieloma, hipogamaglobulemia congenital, protein
liosing enteropati (peradangan usus)

3. Pemeriksaan Fisik (Objektif) dan Keluhan (Subyektif)


a) Aktifitas / Istirahat
-

Gejala : Mudah lelah,intoleran activity,progresi malaise,perubahan pola tidur.

Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktifitas


( Perubahan TD, frekuensi Jantun dan pernafasan ).

b) Sirkulasi
-

Gejala : Penyembuhan yang lambat (anemia), perdarahan lama pada


cedera.

Tanda : Perubahan TD postural,menurunnya volume nadi perifer, pucat /


sianosis, perpanjangan pengisian kapiler.

c) Integritas dan Ego


-

Gejala : Stress berhubungan dengan kehilangan,mengkuatirkan penampilan,


mengingkari doagnosa, putus asa,dan sebagainya.

Tanda : Mengingkari,cemas,depresi,takut,menarik diri, marah.

d) Eliminasi
-

Gejala : Diare intermitten, terus menerus, sering dengan atau tanpa kram
abdominal, nyeri panggul, rasa terbakar saat miksi

Tanda : Feces encer dengan atau tanpa mucus atau darah, diare pekat dan
sering, nyeri tekan abdominal, lesi atau abses rectal, perianal, perubahan
jumlah, warna dan karakteristik urine.

e) Makanan / Cairan
-

Gejala : Anoreksia, mual muntah, disfagia

Tanda : Turgor kulit buruk, lesi rongga mulut, kesehatan gigi dan gusi yang
buruk, edema

f)

Hygiene
-

Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS

Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.

g) Neurosensoro
-

Gejala : Pusing, sakit kepala, perubahan status mental,kerusakan status


indera,kelemahan otot,tremor,perubahan penglihatan.

Tanda : Perubahan status mental, ide paranoid, ansietas, refleks tidak


normal,tremor,kejang,hemiparesis,kejang.

h) Nyeri / Kenyamanan
-

Gejala

Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala,nyeri dada

pleuritis.
-

Tanda : Bengkak sendi, nyeri kelenjar,nyeri tekan,penurunan rentan


gerak,pincang.

i)

Pernafasan
-

Gejala : ISK sering atau menetap, napas pendek progresif, batuk, sesak
pada dada.

Tanda : Takipnea, distress pernapasan, perubahan bunyi napas, adanya


sputum.

j)

Keamanan
-

Gejala : Riwayat jatuh, terbakar,pingsan,luka,transfuse darah,penyakit


defisiensi imun, demam berulang,berkeringat malam.

Tanda : Perubahan integritas kulit,luka perianal / abses, timbulnya nodul,


pelebaran kelenjar limfe, menurunya kekuatan umum, tekanan umum.

k) Seksualitas

Gejala : Riwayat berprilaku seks dengan resiko tinggi, menurunnya libido,

penggunaan pil pencegah kehamilan.


Tanda : Kehamilan,herpes genetalia.

l)

Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian, adanya

trauma AIDS.
Tanda : Perubahan interaksi.

4. Pemeriksaan Diagnostik
a) Tes Laboratorium
Telah dikembangkan sejumlah tes diagnostic yang sebagian masih bersifat
penelitian. Tes dan pemeriksaan laboratorium digunakan untuk mendiagnosis Human
Immunodeficiency Virus (HIV) dan memantau perkembangan penyakit serta
responnya terhadap terapi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Serologis
-

Tes blot western

Mengkonfirmasi diagnosa Human Immunodeficiency Virus (HIV)


-

Sel T limfosit

Penurunan jumlah total


-

Sel T4 helper

Indikator system imun (jumlah <200>


-

T8 ( sel supresor sitopatik )

Rasio terbalik ( 2 : 1 ) atau lebih besar dari sel suppressor pada sel helper ( T8 ke
T4 ) mengindikasikan supresi imun.
-

P24 ( Protein pembungkus HIV)

Peningkatan nilai kuantitatif protein mengidentifikasi progresi infeksi


-

Kadar Ig

Meningkat, terutama Ig A, Ig G, Ig M yang normal atau mendekati normal


-

Reaksi rantai polimerase

Mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler.

Tes PHS

Kapsul hepatitis B dan antibody, sifilis, CMV mungkin positif


Neurologis
-

EEG, MRI, CT Scan otak, EMG (pemeriksaan saraf)

Tes Lainnya

Sinar X dada

Menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCP tahap lanjut atau adanya
komplikasi lain

Tes Fungsi Pulmonal

Deteksi awal pneumonia interstisial

Skan Gallium Ambilan difusi pulmonal terjadi pada PCP dan bentuk pneumonia
lainnya.

Biopsis

Diagnosa lain dari sarcoma Kaposi

Bronkoskopi / pencucian trakeobronkial Dilakukan dengan biopsy pada waktu


PCP ataupun dugaan kerusakan paru-paru

Tes Antibodi
Jika seseorang terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV), maka system
imun akan bereaksi dengan memproduksi antibody terhadap virus tersebut.
Antibody terbentuk dalam 3 12 minggu setelah infeksi, atau bisa sampai 6 12
bulan. Hal ini menjelaskan mengapa orang yang terinfeksi awalnya tidak
memperlihatkan hasil tes positif. Tapi antibody ternyata tidak efektif, kemampuan
mendeteksi

antibody

Human

Immunodeficiency

Virus(HIV)

dalam

darah

memungkinkan skrining produk darah dan memudahkan evaluasi diagnostic. Pada


tahun 1985 Food and Drug Administration (FDA) memberi lisensi tentang uji kadar
Human Immunodeficiency Virus (HIV) bagi semua pendonor darah atau plasma. Tes
tersebut, yaitu:
-

Tes Enzym Linked Immunosorbent Assay ( ELISA)

Mengidentifikasi antibody yang secara spesifik ditujukan kepada virus Human


Immunodeficiency Virus (HIV). ELISA tidak menegakan diagnosa AIDS tapi
hanya menunjukkan bahwa seseorang terinfeksi atau pernah terinfeksi (HIV).
Orang yang dalam darahnya terdapat antibody Human Immunodeficiency Virus
(HIV) disebut seropositif.
-

Western Blot Assay

Mengenali antibody Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan memastikan


seropositifitas Human Immunodeficiency Virus (HIV)
-

Indirect Immunoflouresence

Pengganti pemeriksaan western blot untuk memastikan seropositifitas.

Radio Immuno Precipitation Assay ( RIPA )

Mendeteksi protein dari pada antibody.


3.2

Diagnosa Keperawatan
1. Resiko infeksi.
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3. Intolerans aktivitas.
4. Penurunan koping keluarga
3.3 Intervensi Keperawatan

No
1.

Diagnosa
keperawatan
Nutrisi
kurang
dari
kebutuhan
tubuh.
Definisi : asupan
nutrisi
tidak
cukuo
untuk
memenuhi
kebutuhan
metabolic.

2.
Intoleransi
aktivitas

Noc

Nic

NOC:
Nutritional
status
Nutritional
status : food
dan fluid
Intake
Nutritional
status: nutrient
intake
Weight control
Kriteria Hasil :
Adanya
peningkatan
berat
badan
sesuai dengan
tujuan.
Berat
badan
ideal
sesuai
dengan
tinggi
badan
Mampu
mengidentifikas
i
kebutuhan
nutrisi
Tidak
ada
tandatanda

1. Yakinkan
diet
yang
dimakan
mengandung
tinggi
serat
untuk
mencegah konstipasi.
2. Monitor jumlah nutrisi
dari kandungan kalori.
3. Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi.
4. Kaji kemampuan pasien
untuk
mendapatkan
nutrisi yang dibutuhkan.
5. Kolaborasi dengan ahli
gizi untuk
menetukan
jumlah kalori dan nutrisi
yang di butuhkan pasien.

1. Bantu klien untuk


mengidentifikasi aktivitas

Definisi:
ketidak
kecukupan energy
psikologi
atau
fisiologi
untuk
melanjutkan atau
menyelesaikan
aktifitas
kehidupan seharihari yang harus
atau
yang
di
lakukan

3.

Penurunan koping
keluarga.
Definisi : orang
terdekat
anggota
keluarga
atau
sahabat).
Yang
memberikan
dukungan,
rasa
nyaman, bantuan,
atau motivasi tidak
adekuat,
tidak
efektif,
atau

mal nutrisi

Nic :
Aktivit tolraice
Energy
converseration
Self care: ADLs
Kreteria Hasil :
berpartisipasi
dalam aktivitas
fisik tanpa di
sertai
peningkatan
tekanan
darah,nadi,RR
mampu
melakukan
akivitas seharihari secara
mandiri
tanda tanda
vital normal
energy
psikomotor.
Level
kelemahan.

Noc:
caregiver
stressor
family coping
,disable
parental
role,conflict
therapeutic

yang mampu di lakukan


2. Bantu pasien /keluarga
untuk mengintifikasi
kekurangan dalam
beraktivitas
3. Bantu pasien untuk
mengembangkan motvasi
diri dalam penguatan
4. Bantu pasien untuk
melakukan aktivitas yang
di perlukan

1. Peningkatan
koping
:membantu
pasien
beradaptasi
dengan
persepsistressor
perubahan
atau
ancaman
yang
menggangu pemenuhan
tuntutan
dan
peran
hidup
2. Dukungan
emosi
memberikan penenangan
,penerimaan
dan
dorongan selama proses
steres
3. Mobilitas
keluarga
penggunaan
kekuatan

mengalamu
penurunan
yang
mungkin
di
perlukan
oleh
klien
untuk
mengelola
atau
menguasai tugas
tugas
adaptif
terkait
masalah
keperawatan.

4.

regimen
management
ineffective
Kreteria Hasil :
keluarga tidak
mengalami
penurunan
koping keluarga
hubungan
pasien pemberi
kesehatan
adekuat
kesejahteraan
emosi pemberi
asuhan
kesehatan
keluarga
koping keluarga
meningkat

Resiko infeksi
Definisi
:
mengalami
NIC:
peningkatan resiko
Immune status
terserang
Knowledge:
organisme
infection control
patogenik.
Risk control
Kriteria Hasil:
Klien bebas dari
tanda
dan
gejala
Mendeskripsika

keluarga
untuk
mempengaruhi
kesehatan pasien kearah
yang positif
4. Dukungan
keluarga
meningkatkan
nilai,minat,dan
tujuan
keluarga
5. Panduan
system
kesehatan memfasilitasi
local
pasien
dan
penggunaan pelayanan
kesehatan yang sesuai

1. Inspeksi
kulit
dan
membrane
mukosa
terhdapa
kemerahan,
panas, drainase.
2. Instrusikan pasien untuk
minum antibiotic sesuai
resep.
3. Ajarkan
pasien
dan
keluarga tanda dan gejala
infeksi
4. Ajarakan
cara
menghindari infeksi.

n
proses
penularan
penyakit, factor
yang
mempengaruhi
penularan serta
penatalaksanaa
nnya

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
HIV ( Human immunodeficiency Virus ) adalah virus pada manusia yang menyerang system
kekebalan tubuh manusia yang dalam jangka waktu yang relatif lama dapat menyebabkan
AIDS. Penyebab infeksi adalah golongan virus retro yang disebut human immunodeficiency
virus (HIV). Cara penularan HIVmelakukan penetrasi seks, melalui darah yang terinfeksi,
dengan mengunakan bersama jarum untuk menyuntik obat bius dengan seseorang yang telah
terinfeksi, wanita hamil. Penularan secara perinatal terjadi terutama pada saat proses
melahirkan, karena pada saat itu terjadi kontak secara lansung antara darah ibu dengan bayi
sehingga virus dari ibu dapat menular pada bayi.

Kelompok resiko tinggi: lelaki homoseksual atau biseks, orang yang ketagian obat
intravena, partner seks dari penderita AIDS, penerima darah atau produk darah (transfusi), bayi
dari ibu/bapak terinfeksi. Gejala mayor infeksi HIV adalah BB menurun lebih dari 10% dalam 1
bulan, diare kronik yang berlangsung lebih dari 1 bulan, penurunan kesadaran dan adanya
gangguan neurologis, demensia / HIV ensefalopati. Gejala minor: batuk menetap lebih dari 1
bulan, dermatitis generalist, adanya herpes zoster yang berulang, kandidiasis orofaringeal,
herpes simplex kronik progresif, limfadenopati generalist, infeksi jamur berulang pada kelamin
wanita, retinitis cytomegalovirus.
4.2 SARAN
Dengan dibuatnya makalah HIV pada ibu hamil ini, diharapkan nantinya akan
memberikan manfaat bagi para pembaca terutama pemahaman yang berhubungan dengan
bagaimana melakukan sebuah proses asuhan keperawatan maternitas terutama pada ibu hamil
yang juga menderita HIV. Tak lupa kritik dan saran dari pembaca sangat kami harapkan guna
untuk penyempurnaan makalah ini, karena mungkin makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.

DAFTAR PUSTAKA
Purwaningsih,wahyu, Dkk. 2010. Asuhan Keperawatan Maternitas. Yogykarta.
Nuraif, Amin huda.2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
Nanda. Jilid 1-3 Yogyakarta : Media Action.