Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha ESA, Karena atas limpahan
karunianya Laporan Hasil Pengamatan Bryophyta, pteridophyta, monocotyle, dan
dycotyle, ini dapat terselesaikan.
Laporan Pengamatan ini berisi tentang pengamatan Bryophyta, pteridophyta,
monocotyle, dan dycotyle.
baik mengenai ciri-ciri, bentuk tubuh, struktur tubuh maupun cara reproduksinya.
Sehingga kita mempunyai pengetahuan mengenai gejala bakteri yang akan berguna bagi kita
di kehidupan, baik sekarang maupun mendatang.
Untuk itu semoga bagi para pembaca bisa mengambil sedikit ilmu dan pengetahuan
dalam Laporan Pengamatan yang telah kami buat.
Bagi pembimbing kami memohon saran dan kritiknya mengenai Laporan Pengamatan
ini, sehingga kami bisa memperbaiki hal-hal kekurangan dalam Laporan Pengamatan ini.

Banyuwangi, 14 februari 2016

Kelompok 7

DAFTAR ISI

A.
B.
C.
D.
E.

HALAMAN
JUDUL.........................................................................................
.........................
KATA
PENGANTAR ................................................................................
.............................
DAFTAR
ISI ..............................................................................................
................................
BAB
I
PENDAHULUAN ...........................................................................
...............................
A.
Latar
belakang ......................................................................................................
.....................
B.
Tujuan pengamatan
............................................................................................................
......
C.
Rumusan
masalah .......................................................................................................
...............
D.
Hipotesis ......................................................................................................
...............................
BAB
II
LANDASAN
TEORI .........................................................................................
..........
BAB
III
METODE
PENGAMATAN .............................................................................
.........
Objek
pengamatan .................................................................................................
....................
Lokasi
pengamatan .................................................................................................
...................
Waktu
pelaksanaan
pengamatan ................................................................................................
Alat
dan
bahan ...........................................................................................................
................
Langkah
kerja .............................................................................................................
................
BAB
IV
DATA
HASIL
PENGAMATAN .............................................................................
..

BAB
V
KESIMPULAN ..............................................................................
...............................
BAB

VI

DAFTAR

PUSTAKA ....................................................................................
.............

BAB I
PENDAHULUAN
Anatomi (berasal dari bahasa Yunani anatomia, dari anatemnein, yang berarti memotong)
adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari makhluk
hidup. Tumbuhan merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang ada di bumi. Sehingga
anatomi tumbuhan adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan
organisasi dari tumbuhan itu sendiri yaitu struktur yang pembangun tumbuhan tersebut.

Dalam system klasifikasi makhluk hidup, Tumbuhan dikelompokkan dalam kingdom


plantae. Kingdom plantae beranggotakan semua organisme eukariotik multiseluler
fotosintetik yang memiliki klorofil A dan B, menyimpan karbohidrat yang biasanya berupa
tepung, dan embrionya dilindungi oleh jaringan tumbuhan parental.
Kingdom plantae atau dunia tumbuhan dikelompokkan menjadi tumbuhan tidak dan
tumbuhan berpembuluh.
Tumbuhan tidak berpembuluh adalah kelompok lumut, sedangkan tumbuhan
berpembuluh meliputi tumbuhan paku-pakuan dan tumbuhan berbiji. Bryophyta (Tumbuhan
Lumut) dan Pteridophyta ( Tumbuhan Paku) merupakan organisme eukariotik yang dengan
mudah kita dapatkan di kehidupan sehari-hari. Secara sepintas, kedua tumbuhan ini berwarna
kecil dan hijau, serta biasanya menempel pada dinding-dinding yang sudah tua.
Namun secara ilmiah kita bisa mendapatkan informasi-informasi penting
mengenai kedua tumbuhan ini, dengan cara melakukan Metode Ilmiah. Dengan Metode
Ilmiah kita bisa mengetahui ciri-cirinya, cara reproduksinya, dan tempat hidupnya.
Selain itu, Bryophyta (Tumbuhan Lumut) dan Pteridophyta ( Tumbuhan Paku)
juga bermanfaat dalam kehidupan kita, diantaranya menjadi bahan obat, bahan penggosok
(ampelas). Tentu hal itu dapat diketahui dengan melalui Metode Ilmiah. Untuk itu Metode
ilmiah sangan berguna dalam membantu usaha mensejahterakan manusia.
Tumbuhan Berbiji (spermatophyte) merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki
ciri khas, yaitu adanya suatu organ yang berupa biji. Biji merupakan bagian yang berasal dari
bakal biji dan didalamnya mengandung calon individu baru, yaitu lembaga.
Spermatophyta diklasifikasikan lagi menjadi 2 subdivisi , yakni tumbuhan biji terbuka
(Gymnospermae) dan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae)
Berdasarkan jumlah keping bijinya, Tumbuhan biji tertutup dibedakan menjadi 2 ,
yaitu tumbuhan biji berkeping satu (monokotil) dan tumbuhan biji berkeping dua (dikotil).

Tubuh makhluk hidup tersusun atas jutaan sel. Sel-sel yang memiliki struktur dan fungsi
yang sama membentuk suatu jaringan. Beberapa macam jaringan akan membentuk suatu
organ. Kumpulan bermacam-macam organ membentuk suatu sistem organ. Akhirnya,
beberapa macam sistem organ saling melengkapi dan bekerja sama untuk membentuk suatu
individu makhluk hidup. Namun, pada tumbuhan tidak terdapat sistem organ. Pertumbuhan
hanya sampai pada organ kemudian membentuk satu individu tumbuhan.
Kita ketahui setiap makhluk memiliki struktur yang menyusunnya, seperti halnya pada
tumbuhan dikotil dan monokotil disusun atas berbagai organ seperti akar, batang, daun,
bunga dan biji. Organ-organ tersebut juga tersusun dari berbagai jaringan, seperti jaringan
meristem, parenkim, sklerenkim, kolenkim, epidermis, dan jaringan pengangkut. Meskipun
sama-sama diklasifikasikan sebagai tumbuhan berbiji (spermatophyte), pada kenyataannya
tumbuhan dikotil dan monokotil mempunyai perbedaan yang cukup jelas baik secara anatomi
maupun secara morfologinya.
Kalau secara morfologi mungkin kita bisa melihatnya secara langsung seperti bentuk daun,
akar, dan akarnya tetapi kalau struktur penyusun bagian-bagian tersebut kita tidak dapat
melihatnya dengan kasat mata karena sel-sel yang berukuran sangat kecil. Untuk itu kami
melakukan praktikum untuk mengamati dengan lebih jelas mengetahui dan mengidentifikasi
serta membuktikan apakah benar seperti yang dipaparkan di buku bentuk susunan dan letak
sel-sel penyusun bagian-bagian tumbuhan monokotil dan dikotil serta dapat membedakan
antara struktur monokotil dan dikotil secara anatominya.

B.

Tujuan Pengamatan
Pengamatan ini bertujuan untuk mengamati struktur Bryophyta, pteridophyta,
monocotyle, dan dycotyle.

C.

Rumusan Masalah
Bagaimana struktur Bryophyta ?
Bagaimana struktur Pteridophyta ?

Bagaimana struktur Monocotyle?


Bagaimana struktur Dycotyle?
D. Hipotesis
Ada yang berbentuk lembaran (Hepaticopsida), kecil dan tegak (Bryopsida), serta berukuran
kecil sekitar 1-2 cm
Sudah berbentuk kormus atau sudah memiliki bagian akar, batang, dan daun sejati yang
menyirip.

BAB II
LANDASAN TEORI
A. Lumut.
Lumut dapat dijumpai di berbagai tempat, misalnya di tanah lembab, di pohon, tembok, di
permukaan batu bata dan bahkan dikutub yang memiliki ekosistem tundra. Lumut ada yang
seperti beledu hijau dan ada juga yang seperti lembaran daun.

Ciri-Ciri Tumbuhan Lumut


Ciri-ciri lumut secara umum adalah sebagai berikut :

Berwarna hijau, karena sel-selnya memiliki kloroplas (plastida).


Memiliki batang semu, daun semu dan akar semu.
Struktur tubuhnya masih sederhana, belum memiliki jaringan pengangkut.
Proses pengangkutan air dan zat mineral di dalam tubuh berlangsung secara difusi dan

dibantu oleh aliran sitoplasma.


Tumbuhan peralihan antara bertalus dan berkormus.
Hidup di rawa-rawa atau tempat yang lembab.
Ukuran tinggi tubuh 20 cm.
Dinding sel tersusun atas sellulose.
Daun lumut tersusun atas selapis sel berukuran kecil mengandung kloroplas seperti jala,

kecuali pada ibu tulang daunnya.


Hanya mengalami pertumbuhan primer dengan sebuah sel pemula berbentuk tetrader.
Belum memiliki akar sejati, sehingga menyerap air dan mineral dalam tanah menggunakan

rhizoid.
Rhizoid terdiri atas beberapa lapis deretan sel parenkim.
Sporofit terdiri atas kapsul dan seta.
Sporofit yang ada pada ujung gametofit berwarna hijau dan memiliki klorofil, sehingga bisa
melakukan fotosintesis

Klasifikasi Tumbuhan Lumut


Tumbuhan lumut dibagi menjadi 3 divisi, yaitu :
A. Divisi Lumut Hati (Hepatophyta)
Berbentuk lembaran, hidup menempel di atas permukaan tanah yang lembab atau terapung
diatas air. Contoh spesies :
1. Ricciocarpus natans
Hidup di atas air. Mengalami pergiliran keturunan atau metagenesis yaitu tumbuhan
generasi sporofit yang menghasilkan spora (vegetatif) dan tumbuhan generasi gametofit
yang menghasilkan sel-sel gamet (generatif).
2. Marchantia polymorpha
Lumut berbentuk lembaran daun yang hidup menempel di permukaan tanah, pohon,
tebing yang lembab dan basah. Di bagian bawah terdapat rizoid guna menempel dan
menghisap zat-zat makanan. Reproduksi vegetatif lumut ini dengan cara membentuk gema
atau kuncup. Dari gema tersebut dapat membentuk talus-talus baru. Sedangkan untuk
reproduksi generatif dengan cara membentuk gamet.

B. Divisi Lumut Tanduk (Anthocerophyta)


Berhabitat di tepi sungai, danau, atau di sepanjang selokan. Seperti halnya lumut hati,
lumut tanduk juga mengalami metagenesis yang terjadi antara fase sporofit dan gametofit.
Fase gametofit merupakan fase yang paling dominan dalam daur hidup lumut jadi yang kita
lihat di tanah adalah tubuh dalam fase gametofit. Contoh dari lumut ini adalah Anthoceros.
C. Divisi Lumut Daun (Bryophyta)
Lumut daun tumbuh di tanah, tembok, dan tempat-tempat yang terbuka. Batangnya tegak,
bercabang, dan berdaun kecil. Reproduksi vegetatifnya dengan membentuk kuncup di
cabang-cabang batang. Jadi, jika dari batang muncul kuncup terbentuklah lumut yang baru.
Lumut ini juga mengalam metagenesis fase sporofit dan gemetofit. Contoh lumut daun adalah
Polytrichum juniperinum, Furaria, Pogonatum cirratum, dan Sphagnum.

Daur Hidup Tumbuhan Lumut


Pada siklus hidup tumbuhan lumut, sporofit menghasilkan spora yang akan berkecambah
menjadi protonema. Protonema tumbuh menjadi tumbuhan lumut. Selanjutnya tumbuhan
lumut akan muncul gametofit yaitu anteridium yang menghasilkan sperma dan arkegonium
yang menghasilkan ovum. Setelah fertilisasi terbentuklah zigot. Selanjutnya pembelahan
zigot membentuk sporofit dewasa yang terdiri dari kaki sebagai pelekat pada gametofit, seta
atau tangkai dan kapsul (sporangium) di bagian ujungnya.Kapsul merupakan tempat
dihasilkannya spora melalui meiosis. Setelah spora masak dan dibebaskan dari dalam kapsul
berarti satu siklus hidup telah lengkap

Manfaat Lumut bagi Kehidupan Manusia


Suatu penelitian yang menyangkut kegunaan Bryophyta di seluruh dunia telah dilakukan.
Berdasarkan data yang ada, lumut dapat digunakan sebagai bahan untuk membantu
pelapukan batuan, hiasan rumah tangga, obat-obatan, bahan untuk ilmu pengetahuan dan
sebagai indikator biologi untuk mengetahui degradasi lingkungan. Selain sebagai indikator
lingkungan, keberadaan lumut di dalam hutan hujan tropis sangat memegang peranan penting
sebagai tempat tumbuh organisme seperti serangga dan waduk air hujan.
Sphagnum kadang-kadang digunakan sebagai media alternatif untuk mengerami telur
buaya oleh para petani buaya di Philipina. Lumut sering juga digunakan untuk pertamanan

dan rumah kaca. Hal lain yang telah dilakukan dengan lumut ini adalah menggunakannya
sebagai bahan obat-obatan. Seperti gatal-gatal dan penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri
dan jamur.

B. PAKU
Ciri-ciri Tumbuhan Paku
Tumbuhan paku memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
Tumbuhan paku memiliki akar, batang, dan daun sejati. (berkormus)
Baik pada akar, batang, dan daun memiliki berkas pembuluh angkut,yaitu xilem dan floem
(tracheophya).
Habitat tumbuhan paku ada yang di darat dan ada pula yang di perairan serta ada yang
hidupnya menempel.
Pada waktu masih muda, biasanya daun tumbuhan paku menggulung dan bersisik.
Dalam siklus hidup (metagenesis) terdapat fase sporofit, yaitu tumbuhan paku sendiri (sifat
dominan).
Memiliki klorofil sehingga cara hidupnya hidupnya fotoautotrof.
Macam-macam daun pada tumbuhan paku :
a. Berdasarkan ukurannya
1) Mikrofil : daun yang berukuran kecil.
2) Makrofil : daun yang berukuran besar.
b. Berdasarkan fungsinya
1) Tropofil : daun yang berfungsi untuk melakukan
fotosintesis.
2) Sporofil : daun yang berfungsi untuk menghasilkan spora.
3.)Troposporofil : daun yang berfungsi untuk fotosintesis dan menghasilkan spora.

Berdasarkan jenis-jenis spora yang dihasilkan :


a) Paku homospora
Merupakan jenis paku yang hanya menghasilkan spora jantan atau spora betina saja.
Contohnya adalah Lycopodium atau paku kawat.
b) Paku peralihan
Merupakan jenis paku yang dapat menghasilkan dua macam spora, yaitu spora jantan dan
spora betina. Spora tersebut memiliki ukuran yang sama. Contohnya adalah Equisetum
debile.

c) Paku Heterospora
Jenis paku yang menghasilkan spora dengan jenis dan ukuran yang berbeda, yaitu spora
jantan dan spora betina. Spora jantan memiliki ukuran yang lebih kecil (mikrospora) dan
spora betina memiliki ukuran yang lebih besar (makrospora). Contohnya adalah Marsilea
crenata (semanggi) dan Selaginella widenowii.

Klasifikasi Tumbuhan Paku


Tumbuhan paku dapat diklasifikasikan menjadi 4 kelas, yaitu:
1. Psilophyta (Paku telanjang)
Paku ini tidak berdaun atau daunnya kecil. Kebanyakan hidup di zaman purba. Satu jenis
yang masih ada adalah Psilotum.
2. Lycophyta (Paku kawat)
Berdaun kecil dan tersusun spiral, sporangium muncul di ketiak daun dan berkumpul
membentuk strobilus. Batangnya seperti kawat. Contoh Lycopodium, Selaginella dan Isoetes.
3. Sphenophyta (Paku ekor kuda)
Berdaun kecil, tunggal dan tersusun melingkar. Sporangium terdapat dalam strobilus.
Contohnya yaitu Equisetum dan Calamites.
4. Pterophyta (Paku sejati)
Merupakan tumbuhan paku yang dapat dilihat di sekitar kita. Daunnya besar, daun muda
menggulung, sporangium terdapat di sporofil. Contohnya yaitu paku tiang (Alsophilla
glauca) yang bentuknya seperti pohon palem, Suplir (Adiantum cuneatum), dan Semanggi
(Marsilea creanata).

Daur hidup tumbuhan paku


Pada metagenesis tumbuhan paku, baik pada paku homospora, paku heterospora, ataupun
paku peralihan, pada prinsipnya sama. Ketika ada spora yang jatuh di tempat yang cocok,
spora tadi akan berkembang menjadi protalium yang merupakan generasi penghasil gamet
atau biasa disebut sebagai generasi gametofit, yang akan segera membentuk anteredium yang
akan menghasilkan spermatozoid dan arkegonium yang akan menghasilkan ovum. Ketika
spermatozoid dan ovum bertemu, akan terbentuk zigot yang diploid yang akan segera
berkembang menjadi tumbuhan paku. Tumbuhan paku yang kita lihat sehari-hari
merupakan generasi sporofit karena mampu membentuk sporangium yang
akan menghasilkan spora untuk perkembangbiakan. Fase sporofit pada metagenesis
tumbuhan paku memiliki sifat lebih dominan daripada fase gametofitnya. Apabila kita amati

daun tumbuhan paku penghasil spora (sporofil), di sana akan kita jumpai organ-organ
khusus pembentuk spora. Spora dihasilkan dan dibentuk dalam suatu wadah yang disebut
sebagai sporangium. Biasanya sporangium pada tumbuhan paku terkumpul pada permukaan
bawah daun.

Manfaat Tumbuhan paku bagi kehidupan Manusia


Dalam kehidupan sehari-hari, tumbuhan paku juga berperan dalam kehidupan, antara lain:
1. Sebagai tanaman hias, misalnya Adiantum cuneatum (suplir), Asplenium nidus (paku sarang
burung) dan Platycerium biforme (paku simbar menjangan).
2. Sebagai tanaman obat, misalnya rimpang dari Aspidium filixmas (Dryopteris) yang mampu
mengobati cacingan.
3. Sebagai bingkai dalam karangan bunga.
4. Sebagai pupuk hijau.
5. Sebagai sayuran, contohnya adalah Marsilea crenata (semanggi).

C. Monokotil dan Dikotil


Ciri-ciri tumbuhan dikotil :
Keping biji berbelah dua
Berkas vaskuler (pembuluh angkut) pada batang bertipe kolateral terbuka (antara
cilem dan floem terdapat kambium) dan terusun melingkar dengan kedudukan xilem
di sebelah dalam dan floem di sebelah luarnya. Sementara pada berkas vaskuler
akarnya bertipe radila atau letak xilem dan floem bergantian menurut jari-jari
lingkaran.

Batang dan akar mempunyai kambium sehingga dapat terjadi pertumbuhan sekunder
dan tentunya akan tumbuh membesar

Berakar tunggang dan bercabang-cabang

Batang bercabang-cabang dengan ruas batang yang tidak jelas

Tidak mempunya pelindung ujung akar (koleoriza) dan pelindung ujung batang
(koleoptil)

Bagian bunga terdiri atas kelopak bunga, mahkota bunga, benang sari tersebut
berjumlah 4 atau 5 atau kelipatannya

Ciri-Ciri tumbuhan monokotil :


Keping biji tunggal atau satu

Memiliki berkas vaskuler (pembuluh angkut) yang terdapat di batang yang bertipe
kolateral tertutup (antara xilem dengan floem tidak terdapat kambium). Letak dari
xilem dan floem tersebar atau tidak teratur. Umunya batang dan akar tidak memiliki
kambium sehinga tidak dapat terjadi pertumbuhan sekunder dan tidak akan tumbuh
membesar. Namun, ada juga tumbuhan monokotil yang berkambium, seperti sisal
(Agave sisalana).

Umumnya batang tidak bercabang, memiliki rambut-rambut halus, dan ruas-ruas pada
batang tampak jelas

Berakar serabut

Ujung akar dilindungi oleh koleoriza dan ujung batang dilindungi oleh koleoptil

Umumnya berdaun tunggal, kecuali pada kelompok kalem. Urat daun sejajar atau
melengkung dan berpelepah daun.

Bagian bunga terdiri atas kelopok bunga, mahkota bunga, benang sari tersebut
berjumlah tiga atau kelipatan tiga.

Macam-Macam Contoh Tumbuhan Dikotil dari Klasifikasinya


Belimbing ( Averrhoa carambola)
Daun majemuk yang panjangnya dapat mencapai 50 cm, bunga berwarna merah muda yang
umumnya muncul di ujung dahan. Pohon ini bercabang banyak dan dapat tumbuh hingga
mencapai 5 m. Tidak seperi tanaman tropis lainnya, pohon belimbing tidak memerlukan
banyak sinar matahari. Penyebaran pohon belimbing sangat luas, karena benihnya disebarkan
oleh lebah.

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)

Sub Kelas: Rosidae

Ordo: Geraniales

Famili: Oxalidaceae (suku belimbing-belimbingan)

Genus: Averrhoa

Spesies: Averrhoa carambola L.

Tomat (Solanum lycopersicum syn. Lycopersicum esculentum)

Tomat adalah tumbuhan dari keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika Tengah dan
Selatan, dari Meksiko sampai Peru. Tomat merupakan tumbuhan siklus hidup singkat, dapat
tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter. Tumbuhan ini memiliki buah berawarna hijau, kuning, dan
merah yang biasa dipakai sebagai sayur dalam masakan atau dimakan secara langsung tanpa
diproses. Tomat memiliki batang dan daun yang tidak dapat dikonsumsi karena masih
sekeluarga dengan kentang dan Terung yang mengadung Alkaloid.

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas: Asteridae

Ordo: Solanales

Famili: Solanaceae (suku terung-terungan)

Genus: Solanum

Spesies: Solanum lycopersicum L

Macam-Macam Contoh Tumbuhan Monokotil dari Klasifikasinya


Padi ( O. sativa )
Padi adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Meskipun
terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada
beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang disebut padi liar.
Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia setelah jagung dan gandum.
Namun demikian, padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi mayoritas penduduk
dunia.

Ciri-Ciri
- Berakar serabut,
- Daun berbentuk lanset (sempit memanjang),
- Urat daun sejajar,
- Memiliki pelepah daun,
- Bunga tersusun sebagai bunga majemuk dengan satuan bunga berupa floret,
- Floret tersusun dalam spikelet, khusus untuk padi satu spikelet hanya memiliki satu floret,
- Buah dan biji sulit dibedakan karena merupakan bulir (Ing. grain) atau kariopsis.
Klasifikasi ilmiah

Divisio: Spermatophyta

Sub divisio: Angiospermae

Kelas: Monocotyledoneae,

Ordo: Poales,

Famili: Graminae

Genus: Oryza Linn

Species : Oryza sativa L.

Salak ialah salah satu tumbuhan yang tumbuh dengan daun berduri pada lahan tertentu.
Dimana Salak yang memiliki nama latin Salacca edulis reinw. Nama yang indah ini tentunya
juga memiliki klasifikasi tersendiri entah itu secara klasifikasi dan morfologi.
Dimana pada karakteristik tersebut menjadikan suatu perbedaan yang lebih spesifik
dengan berbagai tumbuhan yang lain. Karena karakteristik tersebut memberikan penjelasan
yang lebih detail terhadap keluarga dan unsur lain yang ada pada tanaman Salak.
Di Indonesia ini, terdapat berbagai jenis Salak yang bisa dijumpai nan dikonsumsi.
Masing-masing daerah pun memiliki khas Salak dengan rasa manis yang berbeda. Sekalipun
pada perbedaan jenis tersebut, buah Salak tetap memiliki satu klasifikasi yang sama. Seperti
halnya pada beberapa detail berikut ini yang menjadi klasifikasi tanaman Salak, yaitu:

Kingdom

Divisi

Sub devisi

: Plantae
: Spermatophyta
: Angiospermae

Class

: Monocotyledonae

Ordo

: Lilifrorae

Famili

: Palmaceae

Genus

: Salacca

Spesies

: Salacca edulis reinw

III. HASIL PENGAMATAN


A. Lumut
No Nama lumut

Gambar pengamatan

Gambar literatur

1.

Lumut hati
(Hepatophyta)

2.

Lumut daun
(Bryophyta)

3.

Lumut tanduk
(Anthocerotops
ida)

B. Paku
No.

Nama Tumbuhan
Paku

Gambar pengamatan

Gambar literatur

1.

Suplir (Adiantum
cuneatum)

2.

Pakis
(Sakis)

3.

Ekor kuda
(Equisetum)

Rane
(Selaginella)

Semanggi
(Marsilea)

Sarang burung
(Asplenium
nidus)

IV. PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan di atas, tumbuhan lumut yang kami amati adalah tumbuhan lumut
dalam fase gametofit. Lumut berwarna hijau dan memiliki ukuran kecil dan pendek. Lumut
juga memiliki batang semu, daun semu dan akar semu/rizoid yang digunakan untuk melekat
pada substrat dan mengangkut air dan zat-zat hara ke seluruh bagian.
Lumut hati berbentuk lembaran daun. Pada lumut hati terdapat gema atau kuncup
sebagai alat reproduksi secara vegetatif. Untuk reproduksi secara generatif membentuk

gamet. Bentuk arkegonium seperti payung yang memiliki lekuk-lekuk pada tepinya
sedangkan anteridium seperti payung yang tepinya rata.
Lumut daun mempunyai batang bercabang dan daun yang kecil, hampir seperti
tumbuhan tingkat tinggi tapi belum sejati. lumut daun hampir mirip seperti rumput, tetapi
lebih pendek. Lumut daun memiliki kuncup untuk reproduksi vegetatifnya.
Pada praktikum kali ini juga kami mengamati beberapa jenis tumbuhan paku. Tumbuhan
paku adalah tumbuhan yang memiliki daun, akar dan batang sejati (berkormus). Pada
praktikum kali ini juga ditemukan daun muda yang menggulung.
Batang tumbuhan paku berada di dalam tanah dan disebut rizom. Pada rizom muncul
akar-akar kecil yang merupakan akar serabut. Rizom juga berfungsi untuk alat
perkembangbiakan secara vegetatif.
Tumbuhan ini tidak menghasilkan biji untuk reproduksinya tetapi menggunakan spora
yang dihasilkan oleh kotak spora (sporangium). Sporangium berkumpul didalam sorus yang
terletak di bagian bawah daun. Ukuran, bentuk dan warna sorus berbeda-beda. Dan tidak
semua daun tumbuhan paku memiliki sorus atau dapat disebutkan daun yang berfungsi
penghasil spora (sporofil).
Perbedaan anatomi akar monokotil dan dikotil, akar monokotil memiliki batas ujung
akar dan kalipra jelas, perisikel terdiri dari beberapa lapis sel, punya empelur yang luas
sebagai pusat akar, tidak ada kambiumnya, jumlah lengan protoxilem banyak, letak xilem dan
floemnya berselang seling. Sedangkan akar dikotil memiliki batas ujung akar dan kalipra
tidak jelas, perisikel terdiri dari 1 lapis, tidak punya empelur, mempunyai kambium, jumlah
lengan xilem antara 2-6, letak xilem di dalam dan floem di luar.
Perbedaan anatomi batang monokotil dan dikotil, batang monokotil tidak bercabangcabang, pembuluh akut tersebar, tidak punya jari-jari empulur, tidak ada lkambium vaskular
sehingga tidak ada membesar, empulur tidak dapat dibedakan di daerah korteks. Batamg
dikotil bercabang-cabang, pembuluh akut teratur, punya jari-jari empulur, mempuyai
kambium vaskular sehingga dapat membesar, dapat dibedakan antara daerah kortexs dan
empulur, ada kambium diantara xilem dan floem.
Struktur anatomi batang secara umum batang tersusun atas epidermis yang
berkutikula dan terkadang terdapat stomata, sistem jaringan dasar berupa korteks dan
empulur, dan sistem berkas pembuluh yang terdiri atas xilem dan floem. Xilem dan floem
tersusun berbeda pada kedua kelas tumbuhan tersebut. Xilem dan floem tersusun melingkar
pada tumbuan dikotil dan tersebar pada tumbuhan monokotil.

Perbedaan anatomi daun monokotil dan dikotil daun pada banyak dikotil bersifat
dorsiventral, yaitu memiliki permukaan atas dan bawah yang berbeda secara morfologis.
Epidermis atas terdiri dari satu lapis sel, terbentuk persegi, dinding terluarnya ditutupi oleh
kutikula dan tidak mengandung kloroplas. Mesofil palisade terletak persis di bawah
epidermis atas dan terdiri dari satu atau lebih lapisan yang agak sempit, sel-selnya berdinding
tipis yang sangat berdekatan, sel-sel persegi memanjang kearah epidermis.
Struktur anatomi daun. Daun tumbuhan tersusun atas epidermis yang berkutikula dan
terdapat stomata atau trikoma. Sistem jaringan dasar pada daun monokotil dan dikotil dapat
dibedakan. Pada tumbuhan dikotil sistem jaringan dasar dpat dibedakan atas jaringan pagar
dan bunga karang, tidak demikian halnya pada monokotil khususnya famili Graminae. Sistem
berkas pembuluh terdiri atas xilem dan floem yang terdapat pada tulang daun.

V. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan ini, dapat disimpulkan bahwa :

Lumut hidup di tempat-tempat yang lembab.


Tumbuhan lumut memiliki daun semu, batang semu, dan akar semu sehingga dapat

dikatakan sebagai peralihan dari tanaman berkormus dan bertalus.


Tumbuhan lumut memiliki akar semu atau rizoid yang digunakan untuk menempel dan

mengangkut air dan zat-zat hara.


Metagenesis lumut terdiri dari fase sporofit dan gametofit (dominan)

Lumut hati bereproduksi secara vegetatif dengan cara membentuk gema atau kuncup, dan

secara generatif dengan cara membentuk gamet.


Lumut daun berproduksi dengan cara vegetatif dengan membentuk kuncup dan mengalami

metagenesis.
Tumbuhan paku merupakan tumbuhan yang berkormus atau memiliki akar, batang dan daun

sejati.
Memiliki rizom atau batang tumbuhan paku yang berada di dalam tanah. Pada rizom terdapat

akar serabut.
Daun mudanya menggulung.
Perkembangbiakan secara vegetatif dengan cara membentuk spora. Spora tersebut terdapat
di dalam kotak spora atau sporangium. Sporangium terkumpul di wadah yang disebut sorus

yang terletak di bawah daun.


Daun tumbuhan paku ada yang berfungsi sebagai penghasil spora, berfungsi untuk

fotosintesis atau bahkan kedua-duanya.


Perkembangbiakan secara generatif dengan cara peleburan antara spermatozoid dengan
ovum yang dihasilkan oleh protalium.
Tumbuhan dikotil dan monokotil merupakan bagian dari tumbuhan berbiji tertutup

(angiospermae).
Tunbuhan dikotil merupakan tumbuhan yang memiliki biji berkeping 2, sedangkan

monokotil berkeping 1 bijinya.


Tak banyak perbedaan dari monokotil dan dikotil. Yang paling mencolok ialah jumlah

keping biji, sistem akarnya, daun,dan batangnya.


Selain itu perbedaan pada monokotil dan dikotil adalah generatifnya tidak terlalu
mencolok, karena dari bunga hanya berbeda dari jumlah mahkota bunganya saja.