Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN ACARA IV

KUNJUNGAN WAWANCARA KELOMPOK TANI/KWT

Oleh :
1. Ali Mustofa

(13152)

2. Alvina Clara Giovanni

(13210)

3. Chailendriani Pradaneira

(13390)

4. Irafanty Mufidah

(13444)

Golongan

: B1

Kelompok

:4

Asisten

: 1. Eka Putri Dharmayanti


2. Bintang Soma Perdana
3. Diah Fitria

LABORATORIUM PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Saat ini, permasalahan di bidang pertanian bukan hanya tentang kurangnya pasokan
pupuk, mewabahnya hama dan penyakit tumbuhan atau gagal panen, tetapi lebih dari itu
permasalahan pertanian yang menjadi salah satu penentu keberhasilan perkembangan
pertanian adalah masalah penyuluhan pertanian. Penyuluhan pertanian di Indonesia dinilai
hingga saat ini masih kurang baik dalam hal jumlah penyuluh maupun media penyuluhan
pertanian. Kurangnya penyuluhan pertanian menjadi salah satu faktor mengapa pertanian di
Indonesia masih masuk dalam golongan pertanian subsistem, dimana para petani
memproduksi hasil pertanian hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka
tidak berorientasi pada profit maksimal, tetapi pendapatan maksimal.
Salah satu kelompok petani yang memiliki masalah dalam hal penyuluhan adalah
Kelompok tani Kalangan. Kelompok tani ini merupakan salah satu kelompok tani yang
berada di kawasan Banguntapan, Bantul. Kelompok Tani Kalangan ini sudah berdiri sejak
tahun 2006 namun sampai saat ini berusia 8 tahun belum dapat menghasilkan prestasi dan
penghargaan tersendiri. Ini dikarenakan kurang kompaknya anggota tani dalam kelompok
tani ini, rasa malas untuk bertani karena seringnya gagal panen akibat ulah hama maupun
penyakit menjadi alasan mereka mengapa mereka malas bertani padahal benih untuk
menanam merupakan benih gratis pemberian dari pemerintah. Sebab-sebab itulah yang
menadi penghambat Kelompok Tani Kalangan belum dapat berprestasi dan belum pernah
menerima penghargaan dalam umur yang sudah 8 tahun ini. Kegiatan yang dilakukan
kelompok petani inipun seperti yang dikatakan oleh Ketua Kelompok Tani Kalangan, Pak
Harowi, jarang dilakukan, jikalau diadakan kegiatan hanya kumpul-kumpul biasa seperti
kumpul sebelum menanam dan setelah panen, maupun kumpul untuk musyawarah dan
sosialisasi dari PPL yang menanggungi kelompok tani tersebut.
Karena berbagai masalah yang dihadapi Kelompok Tani Kalangan selain rasa malas
anggota-anggota taninya, terdapat berbagai masalah lain yang nanti akan dibahas dalam
makalah ini. Dalam makalah ini akan dijabarkan pula solusi serta saran untuk permasalahan
Kelompok Tani Kalangan tersebut. Solusi yang ada kemudian dituangkan dalam alat peraga
penyuluhan pertanian berupa poster, leaflat, atau folder untuk kemudian diberikan kepada
kelompok tani tersebut.

B. Tujuan
Tujuan diadakanya kunjungan petani pada kali ini yaitu;
1

1. Melatih mahasiswa agar dapat merangsang dan membuat alat peraga penyuluhan
yaitu poster, leafleat, atau folder berdasarkan masalah yang ada pada sasaran.
2. Melatih mahasiswa untuk memberikan penyuluhan dengan alat peraga penyuluhan.
3. Melatih mahasiswa untuk melakukan difusi dan diseminasi inovasi kepada
kelompok tani melalui alat peraga.

II.

ISI

A. Permasalahan
2

Kelompok Tani Kalangan yang sudah berdiri sejak tahun 2006 dan sampai saat ini
diumurnya yang mencapai 8 tahun belum mendapat prestasi dan hanya merupakan kelompok
tani biasa-biasa saja ternyata menghadapi berbagai masalah yang menghalangi perkembangan
kelompok tani mereka. Hal ini mengakibatkan petani mengalami kerugian dan kurang bisa
berkembang dalam usaha taninya. Masalah yang kerap dialami oleh Kelompok Tani
Kalangan ini antara lain adalah masalah hama tikus yang menyerang lahan, lalu masalah
gulma, sistem pembagian irigasi dengan kelompok tani ikan dan masalah internal dari
Kelompok Tani Kalangan sendiri. Namun, dalam makalah kali ini akan dibahas mengenai
permasalahan gulma.
Menurut Sastrautomo (1998), kehadiran gulma di suatu areal pertanaman secara
umum memberikan pengaruh negatif terhadap tanaman, karenagulma memiliki daya
kompetitif yang tinggi sehingga memungkinkan terjadinya persaingan cahaya, CO2, air,
unsur hara, ruang tumbuh yang digunakan secara bersamaan. Selain itu gulma memiliki
peranan lain yaitu sebagai alelopati, alelomediasi dan alelopoli. Alelopati, karena gulma dapat
mengeluarkan bahan kimia untuk menekan bahkan mematikan tumbuhan atau tanaman lain
sedangkan alelomediasi, karena gulma merupakan tempat tinggal bagi beberapa jenis hama
tertentu atau gulma sebagai penghubung antara hama dengan tanaman budidaya, dan
alelopoli, karena gulma selalu bersifat monopoli atas air, hara, CO2, O2 dan sinar matahari.
Kehadiran gulma pada pertanaman kacang tanah merupakan salah satu penyebab
rendahnya hasil kacang tanah. Pengaruh gulma terhadap tanaman dapat terjadi secara
langsung yaitu dalam hal bersaing untuk mendapatkan unsur hara, air, cahaya dan ruang
tumbuh. Secara tidak langsung sejumlah gulma merupakan inang dari hama dan penyakit.
Gulma yang dibiarkan tumbuh pada tanaman kacang tanah dapat menurunkan hasil sampai
dengan 47% (Moenandir, 1993).
Menurut Sastroutomo (1990) terdapat sekitar 42 spesies gulma yang tumbuh pada
pertanaman kacang tanah, terdiri dari 14 spesies golongan rerumputan, 4 spesies teki-tekian
dan 24 spesies berdaun lebar. Pak Harowi mengatakan bahwa gulma yang ada pada lahan
kacang tanah ini adalah berbentuk seperti rumput teki, diprediksikan gulma yang menyerang
adalah famili Cyperaceae yaitu spesies Cyperus rotundus dengan nama lain teki ladang
(rumput teki).
B. Solusi Permasalahan
Untuk mengurangi gulma di pertanaman kacang tanah dilakukan pengendalian
yang efektif dan efisien dengan menerapkan teknik-teknik budidaya dan sedapat mungkin
3

meminimalkan penggunaan bahan kimia yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Salah


satu cara yang banyak dilakukan petani adalah dengan melakukan penyiangan karena mudah
dan murah, selain itu juga ramah lingkungan. Efektivitas penyiangan sangat ditentukan oleh
ketepatan dalam menetapkan waktu pelaksanaannya. Bila tanaman bebas gulma selama
periode kritisnya diharapkan produktivitasnya tidak terganggu. Periode kritis persaingan
dengan gulma adalah periode pertumbuhan tanaman yang sangat peka terhadap gangguan
gulma. Dengan diketahuinya periode kritis, pengendalian gulma menjadi ekonomis sebab
hanya terbatas pada awal periode kritis, tidak harus pada seluruh siklus hidup tanaman
(Moenandir, 1993).
Penyiangan termasuk pengendalian mekanis secara manual, yaitu dengan cara
merusak sebagian atau seluruh gulma sampai terganggu pertumbuhannya atau mati sehingga
tidak menganggu tanaman (Rukmana dan Saputra, 1999). Penyiangan yang tepat biasanya
dilakukan sebelum gulma memasuki fase generatif (Sukman dan Yakup, 1995). Sastroutomo
(1990) juga mengatakan bahwa pada awal pertumbuhan belum terjadi kompetisi antara
tanaman dengan gulma, namun pengendalian gulma pada periode ini paling efisien dan
efektif karena memberikan kesempatan bagi tanaman budidaya untuk tumbuh dan menguasai
ruang tumbuh. Penyiangan disamping dapat menekan pertumbuhan gulma juga dapat
memperbaiki sifat fisik tanah (Moenandir, 1993). Jadi dari beberapa sumber dan pendapat
para peneliti yang kami temukan, kami menyimpulkan bahwa penyiangan adalah cara yang
tepat untuk mengendalikan gulma, bukan dengan penggunaan bahan-bahan kimia seperti
penyemprotan herbisida karena lama kelamaan akan berdampak negatif bagi tanaman, tanah
dan lingkungan itu sendiri.
Penyiangan memang merupakan cara paling efektif pada lahan pak Harowi yang
hanya 1200m2, tetapi untuk lahan yang berhektar-hektar akan menjadi masalah tenaga yang
rumit. Maka dari itu, selain melakukan penyiangan, dilakukan pula cara seperti pengolahan
tanah dan penyemprotan herbisida (obat pembasmi gulma). Pengolahan tanah biasanya
dilakukan saat sebelum masa tanam, tanah diolah sedemikian rupa sehingga tidak
memungkinkan gulma untuk tumbuh disana dengan cara diambil (dibersihkan) sisa-sisa dari
vegetasi gulma yang sebelumnya tumbuh (harus sampai ke akarnya). Pengolahan tanah inin
tujuannya agar sisa-sisa vegetasi gulma yang tertinggal akan bersih sehingga gulma
terhambat untuk tumbuh kembali.
Kemudian dengan cara penyemprotan herbisida, herbisida sendiri adalah obat yang
digunakan untuk membasmi gulma yang terbuat dari bahan-bahan alami maupun kimia,
pemberiannya pada tanaman pun tidak boleh sembarangan dan harus sesuai takaran yang
4

dianjurkan, sebaiknya digunakan pada saat periode kristis pertumbuhan gulma yaitu 3
minggu, 6 minggu, dan 9 minggu dari awal menanam tanaman budidaya. Penyemprotan
herbisida ini hanya mematikan atau memberantas bagian gulma yang ada di atas permukaan
tanah, sedangkan yang ada dibawah tanah (akar) tidak akan hilang. Hal ini (akar) lah yang
akan memicu kembali pertumbuhan gulma karena tidak dihilangkan sampai ke sisa-sisa
vegetasinya, maka cara pengolahan tanah yang selanjutnya dilakukan jika sisa-sisa vegetasi
gulma masih ada.
C. Alat Peraga
Poster adalah karya seni atau desain grafis yang memuat komposisi gambar dan
huruf di atas kertas berukuran besar yang berisi pesan pesan atau informasi yang biasanya
di tempel di tembok tembok, di tempat tempat umum atau di kendaraan umum. Sifat
sebuah poster adalah mencari perhatian mata sekuat mungkin.
Tujuan poster adalah menginformasikan kepada pembaca tentang sebuah informasi
yang dikemas dengan kata-kata lebih singkat, padat, jelas dan menarik. Manfaat poster adalah
agar para pembaca lebih mengerti apa yang ingin di ungkapkan sang penulis poster dengan
menggunakan kata-kata yang lebih singkat dan sederhana.
Kelebihan:

Dapat menjadikan motivasi bagi orang yang melihatnya.


Warna yang digunakan menarik perhatian.
Kata-katanya singkat dan jelas.
Khalayak umum dapat membacanya berulang-ulang kali
Ketika pembaca tidak paham pada satu bagian dari isinya, pembaca dapat
menanyakan pada orang lain.

Kekurangan:

Terkadang tulisannya sukar dipahami.


Untuk menikmatinya diperlukan kemampuan membaca dan atensi atau perhatian,

karena tidak bersifat auditif dan visual,


Pembaca harus bisa berimajinasi untuk menikmati dan memahaminya.
Membutuhkan proses penyusunan dan penyebaran yang kompleks

dan

membutuhkan waktu yang relatif lama.

III.

PENUTUP

A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah permasalahan yang diambil
pada Kelompok Tani Kalangan ini adalah mengenai gulma, yaitu gulma Cyperus rotundus
(teki ladang).

Solusi untuk mengatasi masalah gulma adalah dengan cara 3P (Pengolahan lahan,
Penyiangan, Penyemprotan herbisida). Solusi ini dilakukan bukan hanya untuk jenis gulma
ini Cyperus rotundus saja namun juga untuk berbagai gulma diberbagai keadaan lahan dan
berbagai budidaya tanaman.
Metode penyuluhan yang diambil adalah dengan menggunakan alat peraga poster
yang mempunyai beberapa keunggulan yaitu sederhana dan menarik perhatian.
B. Saran
Pelaksanaan wawancara untuk melakukan penyuluhan kepada kelompok tani sudah
merupakan sesuatu yang baik dan bermanfaat khususnya bagi praktikan (mahasiswa) dan
sasaran (petani) karena kami praktikan dapat belajar untuk memeberikan penyuluhan berupa
alat peraga yang berisi solusi untuk masalah yang dihadapi kelompok tani tersebut, dan bagi
para petani akan merasa terbantu dengan adanya praktek penyuluhan dengan peraga ini.
Untuk pembuatan peraga agak sedikit menyulitkan praktikan karena tema dari permasalahan
yang luas dan dari pihak penyelenggara praktikum juga kurang menjelaskan dan
menspesifikasikan mengenai masalah yang dihadapi. Misalkan masalah yang harus diberi
solusi adalah mengenai OPTnya, mengenai masalah internalnya atau mengenai keuangan
(dana), sehingga praktikan akan menjadi lebih jelas dan mengerti maksud dan tujuan dari
praktikum penyuluhan ini.

DAFTAR PUSTAKA
Moenandir, J. 1993. Persaingan Tanaman Budidaya dengan Gulma. Cetakan kedua. Rajawali
Press. Jakarta.
Rukmana dan Saputra, 1999. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Kanisius.
Jakarta.Sitompul, S.M. dan B. Guritno, 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Hal: 407
Sastroutomo, S.S. 1990. Ekologi Gulma. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. Hal: 217
Sastroutomo, S. 1988. Ekologi Gulma. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Sukman, Y. dan Yakup, 1995. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Penerbit Rajawali Press.
Jakarta. Hal: 157.