Anda di halaman 1dari 7

LAPORAN PRAKTIKUM LAPANGAN EKOLOGI TUMBUHAN

Penentuan Pola Distribusi Acalypha indica


di Hutan Wisata Tinjomoyo

MAHENDRA NOOR FEBRIYANTO


4411413019

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

Penentuan Pola Distribusi Acalypha indica di Hutan Wisata Tinjomoyo

A. Tujuan
Mengetahui pola distribusi dari Acalypha indica dengan menggunakan
kuadrat acak yang dianalisis menggunakan Poisson analysis di Hutan Wisata
Tinjomoyo
B. Rumusan Masalah
Bagaimana pola distribusi Acalypha indica di Hutan Wisata Tinjomoyo
C. Dasar Teori
Tumbuhan berbagai jenis hidup secara alami di suatu tempat membentuk
suatu kumpulan yang di dalamnya menemukan lingkungan yang dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam kumpulan ini terdapat kerukunan
untuk hidup bersama, toleransi kebersamaan dan hubungan timbal balik yang
menguntungkan sehingga dalam kumpulan ini terbentuk sutu derajat
keterpaduan. Suatu komunitas dapat mengkarakteristikkan suatu unit
lingkungan yang mempunyai kondisi habitat utama yang seragam. Unit
lingkungan ini disebut biotop. Biotop ini juga dapat dicirikan oleh unsur
organismenya, misalnya padang alang-alang, hutan tusam, hutan cemara,
rawa kumpai, dan sebagainya (Setiadi, 1984).
Pola adalah distribusi menurut ruang. Data pola penyebaran tumbuhan
dapat memberi nilai tambah pada data densitas dari suatu spesies tumbuhan.
Pola penyebaran tumbuhan dalam suatu wilayah dapat dikelompokan menjadi
tiga yaitu:
1. Penyebaran secara acak
Pola ini jarang terdapat di alam. Penyebaran ini biasanya terjadi apabila
faktor lingkungan sangat seragam untuk seluruh daerah dimana populasi
berada, selain itu tidak ada sifat-sifat untuk berkelompok dari organisme
tersebut. Dalam tumbuhan ada bentuk-brntuk organ tertentu yang
menunjang untuk terjadinya pengelompokan trmbuhan.
2. Mengelompok
Pola penyebaran mengelompok (Agregated atau undispersed),
menunjukan bahwa hadirnya suatu tumbuhan akan memberikan indikasi
untuk menemukan tumbuhan yang sejenis. Anggota tumbuhan yang
ditemukan lebih banyak ditemukan secara mengelompok dikarenakan ada
beberapa alasan :
a. Reproduksi tumbuhan yang menggunakan:
1) ruuner atau rimpang.
2) Reproduksi tumbuhan yang menggunakan biji cenderung jatuh
di sekitar induk.
b. Lingkungan /habitat mikro pada tiap spesies yang mempunyai
kesamanan pada anggota spesies. Habitat dikatakan homogen pada

lingkungan makro, namun pada lingkungan mikro sangat berbeda.


Mikrositus yang paling cocok untuk suatu spesies cenderung
ditempati lebih padat untuk spsies yang sama.
3. Teratur
Pola penyebaran teratur jika secara reguler dapat ditemui pada
perkebunan, agricultur yng lebih diutamakan efektifitas dan efisiensi
lahan. Penyebaran secara merata, penyebaran ini umumnya terdapat pada
tumbuhan. Penyebaran semacam ini terjadi apabila da persaingan yang
kuat antara individu-individu dalam populasi tersebut. Pada tumbuhan
misalnya persaingan untuk mendapatkan nutrisi dan ruang.
Pola-pola penyebaran adalah khas untuk setiap spesies dan jenis habitat.
Seringkali dilakukan pendeteksian factor-faktor sebab bagi suatu pola
penyebaran tertentu. Umumnya, factor-faktor tidak kentara dan sulit untuk
ditentukan. Penyebaran spesies di dalam suatu komunitas mencerminkan
informasi yang banyak mengenai hubungan antara spesies. Jenis penyebaran
mempengaruhi rencana pengambila sampel dan cara analisis data. Perubahan
dalam penyebaran harus selalu diperhatikan bersamaan dengan ukuran
populasi. Sebagai contoh, ukuran, persaingan, kematian, dan sevagainya
dapat mengurangi ukuran populasi dan mengubah pola dari satu agregasi ke
pola acak (Michael, 1994).
Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan pola persebaran
adalah dengan menggunakan kuadrat acak kemudian nilai harapan dari
jumlah plot yang didalamnya terdapat sejumlah tertentu suatu tumbuhan
terukur dihitung sesui dengan analisis distribusi Poisson (Barbour et al.
1987).
Distribusi Poisson dilihat dari jumlah tumbuhan dari tiap plot kemudian
di talis. Ada 6 kategori yang dicantumkan pada tabel analisis, antara lain: plot
dengan jumlah individu 0, plot dengan jumlah individu hanya 1, plot dengan
jumlah individu 2, plot dengan jumlah individu 3, plot dengan jumlah
individu 4, dan plot dengan jumlah individu 5. Plot dengan jumlah
tumbuhan tertentu ditalis sesuai dengan kategorinya. Nilai tengah dari rerata
jumlah tumbuhan tiap plot digunakan untuk menentukan nilai harapan.
Rumus perhitungan untuk menentukan nilai harapan adalah sebagai berikut :
2
m m
(
)
e
(100 )
Expected =
x!

( )

Perbedaan antara data hasil observasi dan nilai harapan di hitung dengan
menggunakan chi-square. Distribusi Poisson merupakan distribusi yang
mengikuti pola bilangan acak, sehingga apabila H0>Ha, maka H0 diterima dan
dapat dikatakan distribusi dari tumbuhan yang di analisis memiliki persebaran
acak. Sebaliknya apabila H0<Ha, maka H0 ditolak sehingga tumbuhan tersebut
memiliki persebaran yang non-acak (Barbour et al, 1987).

D. Alat dan Bahan


Plot ukuran 1x1m, data sheet, bolpoin
E. Cara Kerja
1. Melakukan survey lapangan
2. Meletakkan kuadrat secara acak
3. Mengamati kuadrat, menghitung jumlah Acalypha indica yang ada, dan
memasukkan data sesuai kategori bilangan poisson (jika jumlah > 5 maka
masuk kategori 5)
4. Melakukan pengulangan hingga 100 kuadrat
5. Melakukan perhitungan pola penyebaran, menganalisis hasilnya.
F. Hasil
Hasil pengamatan disajikan dalam bentuk thally.
Tabel.1 Hasil pengamatan

Thally

Jumlah

IIII II

IIII IIII IIII IIII IIII IIII

30

IIII IIII IIII IIII I

21

IIII IIII IIII I

16

IIII III

5
IIII III IIII III
18

100
Dimana x merupakan jumlah indivudu yang terdapat di dalam tiap kuadrat
G. Analisis Data
Data yang telah diperoleh dianalisis berdasarkan pola distribusi Poisson
dengan H0 = Acalypha indica terdistribusi secara acak.
Menurut data yang telah diamati jumlah tumbuhan yang teramati
mencapai 242 individu, sehingga nilai rata rata tumbuhan pada tiap plot(m)
adalah 2,42. Berikut perhitungan untuk memperoleh nilai m :
m=

( 0 x 7+1 x 30+2 x 21+3 x 16+4 x 8+5 x 18 )


100

m=

242
100

m=2 , 42

Dari nilai rata rata tersebut dapat diketahui nilai e-m , sehingga dapat
diketahui nilai harapan plot dari tiap jumlah tumbuhan.
e=2,72
m=2 , 42

Maka,
m
2,42
e =2,72
m

e =0,0 9
Perhitungan nilai harapan adalah sebagai berikut:
x
( em ) m ( 100 )
x!

( )

m= 2,42
e-m = 0,09
x=0

( 0,09 )

( )

2,422
(100 ) = 26,00
2!

( )

x=3

( 0,09 )

2,421
( 100 ) = 21,49
1!

x=2

( 0,09 )

( )

x=1

( 0,09 )

2,420
( 100 ) = 8,88
0!

2,423
(100 ) = 20,97
3!

( )

x=4
4

( 0,09 )

( )

2,42
( 100 ) = 12,69
4!

x=5

( 0,09 )

2,425
(100 ) = 6,14
5!

( )

Tabel.2 Analisis Poisson persebaran Acalypha indica di Hutan Wisata Tinjomoyo


No. of plants
Observed no.
Expected no. of
( observedexpected )2
2
X
=
per
of quadrat
quadrats with x plats
expected
quadrat(x)
with x plants

=
0
1
2
3
4
5

7
30
21
16
8
18
100

x
( em ) m ( 100 )

( x! )

8.88
21.49
26.00
20.97
12.69
6.14
96,16

0.40
3.37
0.96
1.18
1.73
22.90
30.54

Derajat kesalahan () yang digunakan adalah sebesar 0,01 dengan derajat


bebas = n-2.
n=6
db = n-2
db = 6-2
db = 4
sehingga X2 Tabel adalah 13,28.
Dari analisis tersebut dapat diketahui bahwa X2 hitung > X2 tabel, sehingga H0
ditolak.
H. Pembahasan
Dari hasil analisis data, Acalypha indica terdistribusi secara non-acak.
Hal ini ditunjukan dengan nilai X2 tabel lebih kecil daripada X2 hitung. Hal
tersebut mengakibatkan H0 ditolak. Berdasarkan teori yang digunakan
Distribusi Poisson merupakan perhitungan yang mengikuti pola bilangan
acak, sehingga apabila pola dari suatu kumpulan bilangan tidak mengikuti
distribusi Poisson maka pola dari kumpulan bilangan tersebut tidak acak.
Sama halnya dengan analisis yang telah dilakukan, yaitu Acalypha indica
terdistribusi secara non-acak.
Seperti yang sudah dipaparkan dalam dasar teori di atas, pola non acak
memang sering terjadi karena dua faktor utama. Pertama, karena reproduksi
dan kedua karena lingkungan mikro. Ini juga yang terjadi pada tumbuhan
Acalypha indica yang ada di Hutan Wisata Tinjomoyo.
Dari analisis data menunjukan adanya kecenderungan pola persebaran
non acak reguler. Hal ini ditunjukan dengan melihat table 2. Kuadrat dengan
jumlah individu 1 teramati lebih dari yang diharapkan, begitu pula dengan
kuadrat dengan jumlah individu 5 atau lebih. Selain itu, kuadrat dengan
jumlah individu 2, 3,dan 4 teramanati dengan jumlah yang hamper sama. Hal
ini menjadi penanda bahwa diduga persebaran spesies cenderung reguler.
I. Simpulan

Dari hasil analisis data menggunakan Poisson, dapat disimpulkan bahwa


Acalypha indica di Hutan wisata Tinjomoyo diduga memiliki pola
penyebaran yang non acak dan cenderung reguler.

Daftar Pustaka
Barbour, Michael G. Burk, Jack H. Pitts, Wanna D. 1987. Terrestrial Plant
Ecology Second Edition. Cummings Publishing Company, Inc:
California.
Djufri. 2012. Analisis Vegetasi pada Savana Tanpa Tegakan Akasia
(Acacia Nilotica) di Taman Nasional Baluran Jawa Timur. Jurnal
Ilmiah Pendidikan Biologi. Vol. 4. No. 2: 104 111.
Michael. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan
Laboratorium. Jakarta: UI Press.
Setiadi, D. 1984. Inventarisasi Vegetasi Tumbuhan Bawah dalam
Hubungannya dengan Pendugaan Sifat Habitat Bonita Tanah di
Daerah Hutan Jati Cikampek, KPH Purwakarta, Jawa
Barat. Bogor: Bagian Ekologi Departemen Botani, Fakultas
Pertanian, IPB.