Anda di halaman 1dari 20

1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Gandum (Triticum aestivum L.) adalah salah satu tanaman yang
berasal dari daerah subtropis. Tanaman ini termasuk salah satu
golongan serealia dari famili gramineae. Gandum merupakan bahan
baku tepung terigu yang banyak digunakan untuk pembuatan
berbagai jenis produk makanan seperti roti, mie, kue, biskuit dan
makanan ringan lainnya.
Di Indonesia tanaman gandum hanya terbatas ditanam di
dataran tinggi dan pegunungan, pada areal yang tidak begitu luas.
Bercocok tanam tanaman gandum masih dilakukan dengan cara
yang sederhana seperti untuk padi gogo. Di daerah iklim sedang,
gandum ditanam pada musim dingin (winter) dan musim semi
(spring). Gandum yang ditanam di Indonesia adalah dari jenis
gandum musim semi yang diintroduksi dari Jepang. Filipina dan
Meksiko. Gandum musim dingin umumnya termasuk golongan
tanaman berhari panjang (long day plant), yang tidak mungkin
dapat berproduksi di daerah tropis.
Telah kita ketahui bersama gandum adalah bahan utama dalam
pembuatan mie dan roti. Namun sampai saat ini pemerintah masih
mengimpor semua kebutuhan gandum di Indonesia. Padahal
banyak wilayah di Indonesia yang memenuhi syarat untuk budidaya

gandum. Sehingga perlu di budayakan menanam gandum di


Indonesia supaya Impor gandum bisa terkurangi.
1.2. Tujuan
Untuk mengetahui apa itu tanaman gandum, morfologi dan

syarat tumbuh tanaman gandum


Mengetahui bagimana cara membudidayakan

gandum
Mengetahui prospek pengembangan gandum di indonesia
Mengetahui kendala pengembangan gandum

1.3.

tanaman

Manfaat Makalah
Untuk menambah wawasan bagi para pembaca
Menambah informasi yang berguna untuk memberikan
motivasi

dan

keinginan

bagi

para

pembaca

mengembangkan tanaman gandum tersebut.

untuk

11. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Gandum


Gandum merupakan tanaman pangan penting di dunia. Dua
puluh persen dari bahan makanan (kalori) yang di konsumsi didunia
berasal dari gandum, 20 % beras, dan 60% lainnya adalah jagung,
kentang, dan lain-lain. Gandum memiliki keunggulan di bandingkan
dengan jenis sereal lainnya, yaitu kandungan protein gandum lebih
tinggi di bandingkan dengan padi dan jagung, begitu pula dengan
asam-asam amino yang terdapat pada gandum lebih lengkap dan
lebih besar jumlah nya di bandingkan keduanya (Wiyono, 1980 ).
Gandum tumbuh baik di daerah sub tropis. Namun demikian
gandum memiliki toleransi pada iklim yang luas. Oleh karenanya
gandum dapat di budidayakan di berbagai negara, termasuk
indonesia ( tropis). Faktor utama yang menjadi kendala budidaya
gandum pada daerah iklim tropis seperti indonesia adalah suhu
udara dan curah hujan. Kedua faktor iklim ini membatasi cocok
tidak nya suatu lokasi untuk penanaman gandum ( Wiyono, 1980 ).
Gandum adalah tanaman semusim yang dapat tumbuh dari
permukaan laut sampai 3000 m dpl. Diindonesia gandum telah di
tanam di beberapa provinsi antara lain sulawesi selatan ( malindo),

jawa timur ( Tosari ), jawa tengah ( salatiga) dan dumatra barat


(sukarami) (Dahlan ,2010).
Sebagai

sumber

bahan

pangan

yang

penting

gandum

memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman


lainnya seperti padi. Gandum dapat beradaptasi pada kondisi tanah
dan iklim yang luas, dapat tumbuh di berbagai daerah diseluruh
dunia, bernilai ekonomis, dan memiliki hasil panen yang bagus
walaupun di bawah kondidi tanpa pemupukan (Ahmad et al, 2009).
Gandum merupakan sumber pangan terpenting di indonesia
setelah padi. Sebagian besar makanan yang biasa di jumpai setiap
hari seperti mie, roti, biskuit, donat, cookies, dan yang lainnya,
berbahan dasar gandum. Gandum memiliki senyawa gluten yang
tidak di miliki oleh tanaman lainnya, yang membuat keunggulan
daya kembang pada tepung gandum ( budiarti, 2005).
Beberapa jenis gandum yang telah berhasil di lepas sebagai
varietas gandum nasional di antaranya adalah varieta Dewata,
selayar dan nias . ketiga varietas ini merupakan jenis gandum
dataran tinggi ( tumbuh baik pada daerah sejuk). Akan tetapi
ketiganya memiliki ciri khas yang berbeda satu sama lain.
2.2. Syarat Tumbuh Gandum
Pertumbuhan gandum sangat di pengaruhi oleh beberapa
faktor seperti keasaman( ph) tanah, kelembaban, curah hujan,

intensitas cahaya, dan yang lainnya. Kondisi lingkungan yang sesuai


selama pertumbuhan akan meransang tanaman untuk berbunga
dan menghasilkan benih. Fase pertumbuhan tanaman gandum
dapat di bagi ke dalam pembentukan anakan, pemanjangn batang,
keluar malai dan penuaan biji,. Fase-fase ini akan berjalan dengan
baik( optimal) apabila semua kebutuhannya tercukupi dengan baik
(Dahlan,2010).
Keasaman (pH) tanah dapat mempengaruhi pertumbuhan
gandum karena pH sangat berhubungan dengan ketersediaan unsur
hara. Pada pH yang rendah ketersediaan N,P,K,S,MG,Ca, dan Mo
sangat rendah, sedangkan pada pH yang tinggi P,K,S,B,dan Mo
cukup banyak. Gandum tidak menyukai pH yang rendah ( terlalu
asam) dan basa.kisaran pH yang baik untuk pertumbuhan gandum
adalah antara 6-8 . pada kondidi pH 6-7 mikroorganisme tanah
sangat aktif melakukan penguraian bahan organik dan membantu
cepat nya ketersediaan unsur hara di dalam tanah ( agustina,
2004).
Selain

pH,

kelembaban

dan

curah

hujan

juga

sangat

mempengaruhi pertumbuhan gandum . kondisi lingkungan yang


lembab sangat tidak menguntungkan untuk pertumbuhan gandum.
Secara umum gandum membutuhkan air dan kelembaban lebih
rendah dari pada tanaman pangan tropis . kelembaban rata-rata

untuk pertumbuhan gandum adalah 80-90% dengan curah hujan


600-825 mm/ tahun. Kelembaban sangat berhubungan dengan
curah hujan . semakin tinggi curah hujan maka semakin tinggi pula
kelembabannya. Curah hujan yang terlalu tinggi akan mengganggu
proses pembungaan, karena dapat menurnkan aktivitas serangga
penyerbuk dan menyababkan kepala putik dan tepung sari menjadi
busuk. ( Amilla, 2009).
Setiap tanaman yang sedang dalam fase pertumbuhan sangat
membutuhkan intensitas cahaya yang cukup. Untuk dapat tumbuh
dan berkembang dengan baik, gandum membutuhkan intensitas
penyinaran 9-12 jam/ hari. Cahaya matahari dalah faktor kunci
dalam pembentuka asimilatsaat fotosintesis. Kekurangan cahaya
matahari akan menghambat pembentukan asimilat yang pada
akhirnya akan mempengaruhi pertumbuhannya ( Gardner et al,
1991).
Disamping

beberapa

faktor

di

atas,

ketinggian

tempat

( ketinggian dari permukaan air laut) juga sangat mempengaruhi


pertumbuhan tanaman gandum. Suatu daerah di kategorikan
sebagai daerah daratan rendah jika berada pada ketinggian 250400 m diatas permukaan laut ( dpl), sedangkan daerah dataran
tinggi adalah daerah yang berada pada ketinggian di atas 800 m
dpl. Umumnya gandum yang di tanam di dataran rendah memiliki

umur yang lebih pendek di bandingkan dengan tanaman gandum


yang di tanam di dataran tinggi. Gandum yang di tanam di dataran
rendah siap panen apabila tanaman telah berumur 90 dan berumur
107 hari untuk dataran menengah dan 112 hari untuk dataran
tinggi. Ini menunjukkan adanya perbedaan faktor lingkungan dapat
mempengaruhi
pertumbuhan

pertumbuhan
gandum

di

gandum.

dataran

rendah

Faktor
adalah

pembatas
cekaman

lingkungan abiotik antara lain suhu tinggi dan kekeringan ( dahlan


2010 ).
2.3. Morfologi Gandum
Akar merupakan organ vegetatif utama yang memasok air,
mineral, dan bahan-bahan lainnya yang di butuh kan untuk
pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Pada tanaman gandum
memiliki sistem perakaran serabut seperti padi, tetapi akar gandum
tidak tahan terhadap genangan air, karena dapat mengakibatkan
kebusukan. Tanaman gandum dewasa memiliki dua tipe akar yang
berbeda, yaitu akar seminal dan nodal. Akar seminal adalah akar
yang tumbuh dan berkembang dari awal perkembangan biji,
sedangkan akar nodal adalah akar yang tumbuh pada waktu
tertentu saat terjadi pertumbuhan kuncup ( anakan).
Batang tanaman gandum tegak, berbentuk silinder dan
membentuk tunas.

Ruas-ruasnya pendek dan buku-bukunya

berongga. Pada tanaman dewasa terdiri dari rata-rata enam ruas.


Tinggi tanaman gandum atau panjang batang dipengaruhi oleh sifat
genetik dan lingkungan tumbuh (Dirjen Bina Produksi Tanaman
Pangan, 2001 cit., Puspita 2009). Gandum termasuk kedalam
kelompok tanaman calmus, yakni memiliki batang yang tidak
keras , beruas-ruas, dan berongga. Tanaman gandum dewasa
memiliki batang utama yang menyokong daun-daun gandum yang
tumbuh pada sisi berlawanan( berselang-selang) dan berulang pada
setiap ruas yang disebut phytomer. Pada phytomer terdapat nodus,
internodus, dan kuncup yang berada pada ketiak daun. Pada saat
berbunga, empat sampai lima ruas batang tanaman gandum bagian
atas akan mengalami pemanjangan secara vertikal memisahkan
daun-daun sebelah atas.
Gandum memiliki bentuk daun linearis dan termasuk jenis
daun tidak lengkap, karena hanya terdiri dari upih dan helai daun,
tidak memiliki tangkai daun. Setiap daun gandum terdiri dari
tangkai pelepah (upih daun). Helai daun dan ligula dengan dua
pasang daun telinga yang terletak pada dasar helai daun. Daun
pertama gandum, berongga dan berbentuk silinder, diselaputi
plumula yang terdiri dari dua sampai tiga helai daun. Helaian daun
gandum tersusun dalam setiap batang, setiap daun membentuk
sudut 1800 dari daun yang satu dengan daun yang lainnya. Daun

telinga

(auricle)

barwarna

pucat

atau

kemerah-merahan.

Sedangkan lidah daun tidak berwarna, tipis dan berujung bulu-bulu


dan halus (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001).
Bunga adalah organ yang terbentuk di awal fase generatif
tanaman gandum. Terbentuk nya bungan menandakan telah
berakhirnya

fase

vegetatif

tanaman

gandum.

Pembentukan

primordia bunga terjadi atau di mulai karena adanya induksi


pembungaan, yaitu suatu proses perubahan fisiologis internal yang
mengakibatkan perubahan pola pertumbuhan yang berada secara
morfologis. Beberapa faktor lingkungan yang dapat menginduksi
pembungaan adalah intensitas cahaya dan suhu.
Biji

gandum

berbentuk

oval

dengan

lipatan

tegahnya, sehingga terlihat seperti biji dikotil.

di

bagian

Butir gandum

(kernel, grain) secara botani adalah buah (caryopsis). Kulit biji


berimpit dengan kulit buah. Biji terdiri dari nutfah (germ atau
embrio), endosperm, scutellum. dan lapisan aleuron. Bentuk butir
bervariasi dari lonjong bundar sampai lonjong lancip. Biji gandum
berwarna merah kecoklat-coklatan, putih dan warna diantara
keduanya (Dirjen Bina Produksi Tanaman Pangan, 2001 cit, Puspita,
2009).

III. PEMBAHASAN
3.1. Budidaya Tanaman Gandum
Pengembangan

gandum

ditujukan

untuk

memantapkan

daerahdaerah yang sudah biasa menanam gandum, sedang daerah


bukaan baru lebih di fokuskan kepada sosialisasi dan demplotdemplot agar petani yang ingin mengembangkan gandum dapat
belajar tentang budidaya gandum yang benar. Peningkatan areal
tanam gandum ini terus diupayakan melalui pemasyarakatan tanam
gandum. Agar tecapainya keberhasilan pengembangan gandum

maka waktu tanam yang tepat, kualitas benih dan pemilihan lokasi
seperti ketinggian tempat, suhu merupakan faktor penting.
Untuk itu maka budidaya tanaman gandum yang harus di
lakukan adalah :

Pemilihan benih

Benih gandum yang baik yaitu berasal dari malai yang matang
pada

batang

utama,

mempunyai bentuk dan warna yang seragam,bebas dari hama dan


penyakit, dan mempunyai bobot yang tinggi dan seragam.

Pengolahan Tanah

Tanah dicangkul sedalam 25-30 cm setelah

tanah

dicangkul, dibiarkan/diangin
anginkan selama 7 hari.Penggemburan tanah dilakukan agar bongk
ahan tanah menjadi butiran yang lebh halus.Kemudian tanah diangi
nanginkan selama 7 hari agar terhindar dari unsur-unsur
beracun yang kemungkinan ada di dalam tanah

Pembuatan Bedengan

Setelah tanah diolah/digemburkan dibuat bedengan selebar 200


cm. Panjang bedengan menyesuaikan kondisi lahan.Diantara beden
gan dibuat selokan selebar 50 cm dan sedalam 25 cm.Tanah dari ga
lian selokan diambil dan ditaburkan diatas bedengan
sehingga menambah tinggi bedengan.Permukaan bedengan dihalus
kan dan diratakan sehingga rata benar.Pada setiap bedengan nantin
ya terdapat 8 barisan tanaman dengan jarak antar baris 25 cm.

Penanaman

Varietas
Indonesia

yang

ada

baru beberapa

Selayar

dan

varietas

dan

pernah
di

dikembangkan

antaranya

Nias,

Dewata .

di

Timor,
Namun

dari ke 4 varietas tersebut yang banyak di tanamoleh petani varieta


s Selayar dan Dewata.

Kebutuhan Benih

Benih yang digunakan hendaknya benih bermutu, hal ini


sangat penting
tinggi

disamping

juga tahan

untuk menghasilkan

terhadap

hama

dan

produksi
penyakit

yang
yang

menyerang. Kebutuhan benih per hektar 100 kg atau sama


dengan 1 kg/100 m dengan sistim larikan jika ditanam dengan
sistim tugal kebutuhan benih bisa kurang dari 100 kg/ha.

Waktu Tanam

Tanam yang tepat adalah pada awal musim kemarau dan di a


khir musim penghujan, pada sebagian besar daerah di
Pulau Jawa biasanya berada di antara bulan April Mei dimana
di perkirakan curah hujan tidak terlalu tinggi. Namun demikian,
ada

beberapadaerah yang waktu tanamnya tidak pada bulan-

bulan tersebut. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut mempuny


ai musim kemarau dan penghujan yang berbeda.

Cara Bertanam

Buat alur/larikan pada bedengan dengan jarak antara 25 cm.


Benih

yang

akan

ditanam,

dicampur

terlebih

dahulu

dengan Dithane. Benih dimasukan dalam alur sedalam 3,5 cm


dengan cara seretan. Taburi Furadan ditempat biji dalam alur,
kemudian

ditutup

dengan

tanah

halus. Pemberian Furadan dimasukan agar benih tidak terkena ham


a dan penyakit.

Pengairan

Pada waktu setelah tanam yang diikuti pemupukan ke I lahan per


lu diairi agar benih berkecambah dan dapat tumbuh dengan baik.Pa

da waktu tanaman berumur 30 HST (hari setelah tanam) yaitu pada


waktu setelah penyiangan dan pemupukan ke II,tanaman perlu diair
i agar dapat menyerap pupuk dengan baik.Waktu tanaman berumur
4565 HST yakni pada waktu fase bunting sampai keluar malai, tana
man perlu diairi agar jumlah bunga dan biji yang dihasilkan banyak.
Pada fase pengisian biji sampai masak ( 70/90 HST) tanaman perl
u diairi agar tidak menurunkan berat biji yang dihasilkan

Pemupukan

Waktu pemupukan dapat dilakukan sebelum tanam atau pada saat t


anam sebagai pupuk dasar. Pupuk pertama diberikan TSP dan KCl s
erta sebagaian pupuk N. Dosis pupuk dapat ditentukan oleh jumlah
hara

yang

tersedia

didalam

tanah. Biasanya pupuk organik 10 ton/ha, sedangkan pupuk anorga


nik 120sampai 200 kg N/ha,
P 45sampai150 kg/ha dan 30sampai70 kg K/ha.
Pemberian pupuk Urea dapat diberikan 2 sampai3 kali.
Pemberian I
P
Pemberian II
hari

: Sepertiga bagian bersama dengan pupuk


dan

K dalam bentuk pupuk majemuk.

: Sepertiga bagian pada saat bertunas 25-30


setelah

tanam.

Pemberian III : Sisanya pada saat pembentukan primordia


bunga untuk

mendorong pembentukan malai, butir

gandum dan peningkatan protein.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan 2
tergantung banyaknya populasi

sampai
gulma.

kali

Penyiangan I

: tanaman berumur 1 bulan


Penyiangan II : dilakukan 3 minggu dari penyiangan pertama
Penyiangan III: tergantung banyaknya dan tingginya populasi
gulma.

Pengendalian Hama dan Penyakit

untuk dataran tinggi (<1000 m dpl) Hama dan penyakit utama


yang banyak menyerang tanaman gandum adalah Ulattanah,
Aphids, Kepik hijau dan Jamur. Ulat tanah menyerang pada malam
hari saat umur tanaman 1-4 minggu. Sementara itu, Kepik hijau
umumnya menyerang saat pengisian biji sehingga biji menjadi
hampa/malai menjadi berwarna putih. Jamur menyerang saat curah
hujan yang sangat tinggi sehingga menyebabkan tanaman menjadi
rebah. Ulat tanah dapat dikendalikan dengan pemberian insektisida
Furadan dengan dosis 20 kg/ha pada lubang larikan saat tanam.

Hama Aphids dapat dikendalikan dengan penyemprotan insektisida


Decis 2,5 EC.

Panen

Gandum siap dipanen apabila 80% dari rumpun telah bermalai,


batang dan daun telah menguning serta biji sudah mengeras. Umur
panen bervariasi, antara 90-125 hari tergantung ketinggian tempat.
Semakin tinggi tempat maka umur panennya juga semakin lama.
Panen sebaiknya dilakukan pada kondisi cuaca cerah untuk
memudahkan proses perontokan biji. Panen dilakukan dengan sabit
bergerigi. Selanjutnya malai dijemur dan dirontok dengan thresher
khusus gandum, atau dapat juga dengan mesin thresher padi yang
dimodifikasi terlebih dahulu. Setelah perontokan selanjutnya biji
gandum dikeringkan dibawah sinar matahari atau mesin pengering
sebelum diolah menjadi tepung terigu. Untuk penepungan skala
komersil dianjurkan adanya uji mutu terlebih dahulu.
3.2. Prospek Pengembangan Gandum Di Indonesia
Tanaman

gandum

mempunyai

peluang

besar

untuk

di

kembangkan di Indonesia. Hal ini di dasari dengan adanya


penelitian tentang tanaman gandum yang mampu tumbuh dan
berproduksi di indonesia, kemudian adanya petani yang mulai
tertarik menanam gandum, dan adanya beberapa wilayah di

indonesia di mana secara agroklimat berpotensi untuk di tanami


gandum. Di Indonesia tanaman gandum hanya terbatas ditanam di
dataran tinggi dan pegunungan, pada areal yang tidak begitu luas.
Bercocok tanam tanaman gandum masih dilakukan dengan cara
yang sederhana seperti untuk padi gogo. Di daerah iklim sedang,
gandum ditanam pada musim dingin (winter) dan musim semi
(spring). Gandum yang ditanam di Indonesia adalah dari jenis
gandum musim semi yang diintroduksi dari Jepang. Filipina dan
Meksiko. Gandum musim dingin umumnya termasuk golongan
tanaman berhari panjang (long day plant), yang tidak mungkin
dapat berproduksi di daerah tropis.
Selain itu adapun keunggulan dari tanaman gandum tersebut
apabila di budidayakan di indonesia adalah biaya pemupukan relatif
sedikit, dapat memutus siklus hama pada tanaman kentang,
pemeliharaan tidak seintensif padi, hama burung tidak ada karena
adanya perisai/duri pada gabah, proses pasca panen lebih mudah.
Kemudian manfaat dari tanaman gandum tersebut adalah
dapatdi olah menjadi makanan ringan roti, mie, biscuit, pudding, es
krim, macroni, kue, dapat di jadikan bahan pakan ternak seperti
gabah, dedak, bungkil dan untuk industri dalam pembuatan
kerajinan, hiasan, lem dan pembuatan kertas.

3.3. Kendala Pengembangan Gandum


Pengembangan tanaman gandum di Indonesia harus di dukung
dari berbagai kalangan yaitu mulai dari lembaga penelitian,
perguruan tinggi, LSM, pemerintah dan petani sebagai pelaku
utama sektor pertanian. Yang menjadi permasalahan di dalam
pengembangan gandum di tingkat masyarakat adalah :
1. Masyarakat belum banyak mengenal tanaman gandum mulai
dari budidaya, prosessing hasil serta pengolahan menjadi
makanan yang dapat di santap dengan sayur atau lauk
lainnya.
2. Konsumsi gandum saat ini oleh masyarakat masih terbatas
pada penggunaan tertentu untuk kue dan makanan ringan
lainnya,

tetapi

penggunaan

sebagai

makanan

pokok

pengganti nasi belum di kenal oleh masyarakat. Oleh karena


itu kebiasaan makan serta pengolahan gandum yang lebih
bervariasi perlu di kenalkan ke masyarakat.
3. Sementara itu untuk pengembangan tanaman gandum secara
monoculture di lahan petani saat ini menghadapi kendala
adanya persaingan dengan tanaman lain yang selama ini
telah di kembangkan masyarakat secara terus menerus. Dan
disisi lain kepemilikan lahan di tingkat petani sangat lah
rendah.

IV. PENUTUP
4.1. Kesimpulan
Kebutuhan pangan manusia semakin hari semakin meningkat
sejalan dengan jumlah penduduk. Di perhitungkan pada tahun 2020
kebutuhan pangan akan meningkat sebesar 40% lebih. Oleh karena
itu dalam rangka keamanan pangan, indonesia perlu melakukan
diversifikasi pangan di harapkan kita harus sadar yaitu jangan
hanya bertumpu pada satu komoditi pengembangan yaitu padi/
beras saja. Dalam hal ini tanaman gandum sangat ideal untuk di
kembangkan di indonesia.
Pengembangan tanaman gandum di indonesia memang perlu
di topang dari berbagai sector mulai dari pemerintahan, peneliti,
masyarakat, dan LSM yang ada. akan tetapi pada jangka pendek ini
dapat kiranya di lakukan arah penelitian gandum.
4.2. Saran
Sebaiknya perlu di lakukan pengembangan gandum secara
intensif lagi yaitu dapat dengan menciptakan varietas baru yang
adapted di indonesia serta tahan terhadap hama dan penyakit dan
perlu adanya penyuluhan ke masyarakat tentang tanaman gandum

yang memiliki keunggulan dan prospek yang baik apabila di


kembangkan di indonesia.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad , 2009. Pengaruh berbagai macam dosis N,P,K, terhadap
pertumbuhan dan hasil tanaman gandum. Bogor
Agustina ,L. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. Cet. Ke-2. Rineka Cipta.
Jakarta
Budiarti.2005. pengaruh dosis P terhadap pertumbuhan dan hasi
tanaman gandum. Jakarta.
Dahlan,M. 2010. Teknologi Produksi Benih Gandum. Balai Penelitian
Tanaman Serealia. Bogor.
Garnier. 1991. seleksi awal dan produksi benih gandum. Jakarta