Anda di halaman 1dari 13

PANCASILA SEBAGAI ETIKA POLITIK

Laporan
Laporan ini disusun guna memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Pendidikan Pancasila

Oleh:

1.
2.
3.
4.

FATTUL QAIRIAH (1301785)


MUHAMMAD AZIS SAPUTRA (1300983)
WINDA ELVA YUANITA (1305366)
YUNI ARNI (1305321)

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2013

KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur kami panjatkan ke Hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-nya sehingga kami dapat menyusun laporan hasil diskusi ini
dengan baik dan benar, serta tepat pada waktunya. Dalam laporan hasil diskusi ini kami akan
membahas mengenai Pancasila sebagai Etika Politik.
Laporan hasil diskusi ini telah dibuat dengan beberapa studi pustaka dan beberapa
bantuan dari berbagai pihak untuk membantu menyelesaikan tantangan dan hambatan selama
mengerjakan makalah ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan laporan hasil diskusi
ini.
Kami menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada laporan hasil
diskusi ini. Oleh karena itu kami mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik
yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk
penyempurnaan laporan hasil diskusi ini selanjutnya.
Akhir kata semoga laporan ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Padang,

Oktober 2013

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.......................................................................................................
KATA PENGANTAR......................................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN...............................................................................................
A. Latar Belakang Masalah......................................................................................
B. Rumusan Masalah................................................................................................
C. Tujuan..................................................................................................................
BAB 2 PEMBAHASAN..................................................................................................
A. Pengertian Etika...................................................................................................
B. Pengertian Politik.................................................................................................
C. Pengertian Etika Politik.......................................................................................
D. Pancasila sebagai Sistem Etika............................................................................
E. Pancasila sebagai Etika Politik............................................................................
F. Etika Politik Indonesia.........................................................................................
BAB 3 PENUTUP...........................................................................................................
A. Pertanyaan............................................................................................................
B. Jawaban dari Pertanyaan......................................................................................
C. Kesimpulan..........................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................................

ii

i
ii
iii
1
1
2
2
3
3
3
4
5
6
8
9
9
9
10
11

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Setiap negara-negara di dunia pasti memiliki landasan etika dalam berpolitik. Seperti
Indonesia yang mengimplementasikan Pancasila yang tidak hanya sebagai landasan etika
dalam berpolitik tetapi juga merupakan landasan dan ideologi Negara. Merupakan hal yang
biasa ketika harapan tidak pernah selaras dengan kenyataan. Realita politik yang terjadi justru
bertentangan dengan etika politik yang ada. Di Indonesia sendiri pengamalan atau praktek
Pancasila dalam berbagai kehidupan dewasa ini memang sudah sangat sulit untuk ditemukan.
Tidak terkecuali dikalangan intelektual dan kaum elit politik bangsa Indonesia tercinta ini.
Aspek kehidupan berpolitik, ekonomi, dan hukum serta hankam merupakan ranah kerjanya
Pancasila di dunia Indonesia yang sudah menjadi dasar Negara.
Secara hukum Indonesia memang sudah merdeka, namun jika kita telaah secara individu
(minoritas) hal itu belum terbukti. Masih banyak penyimpangan yang dilakukan para elit
politik dalam berbagai pengambilan keputusan yang seharusnya mampu menjunjung tinggi
nilai-nilai Pancasila dan keadilan bersama. Sehingga cita-cita untuk mewujudkan rakyat yang
adil dan makmur lenyap ditelan kepentingan politik pribadi. Dalam fakta sejarah tidak sedikit
orang berpolitik dengan menghalalkan segala cara. Dunia politik penuh dengan intrik-intrik
kotor guna memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Bertemunya berbagai kepentingan
antar golongan, kelompok dan parpol dalam kalangan elit politik adalah sebuah keniscayaan
akan terjadinya konflik bila tidak adanya kesefahaman bersama, dan tidak jarang berujung
pada penyelesaian dengan jalan kekerasan. Rambu-rambu moral memang sering disebutsebut sebagai acuan dalam berpolitik secara manusiawi dan beradab. Tetapi hal itu hanya
menjadi bagian dari retorika politik.
Pancasila sebagai suatu sistem filsafat pada hakikatnya merupakan suatu nilai sehingga
merupakan sumber dari segala penjabaran norma baik norma hukum, norma moral maupun
norma kenegaraan lainnya. Dalam filsafat Pancasila terkandung didalamnya suatu pemikiranpemikiran yang bersifat kritis, mendasar, rasional, sistematis dan komprehensif (menyeluruh)
dan sistem pemikiran ini merupakan suatu nilai. Oleh karena itu suatu pemikiran filsafat tidak
secara langsung menyajikan norma-norma yang merupakan pedoman dalam tindakan atau
suatu aspek praksis melainkan suatu nilai-nilai yang bersifat mendasar.
Sebagai suatu nilai, Pancasila merupakan dasar-dasar yang bersifat fundamental dan universal
bagi manusia baik dalam hidup bermasyarakat, berbangasa dan bernegara. Adapun manakala

nilai-nilai tersebut akan dijabarkan dalam kehidupan yang bersifat praksis maka nilai-nilai
tersebut kemudian dijabarkan dalam suatu norma-norma yang jelas. Norma yang bersumber
dari sumber moralitas utama yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk
bagaimana etika yang benar dalam berpolitik.1 Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis
akan menjabarkan mengenai etika politik dan Pancasila sebagai etika politik Indonesia.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian etika?
2. Apakah pengertian politik?
3. Apakah pengertian etika politik?
4. Bagaimanakan Pancasila sebagai sistem etika?
5. Bagaimanakan Pancasila sebagai etika politik?
6. Bagaimanakan etika politik di Indonesia?
C. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian etika.
2. Menjelaskan pengertian etika.
3. Menjelaskan pengertian etika politik.
4. Menjelaskan Pancasila sebagai sistem etika.
5. Menjelaskan Pancasila etika politik.
6. Menjelaskan etika politik Indonesia.

BAB 2
PEMBAHASAN
A. Pengertian Etika
Menurut Bartens, sebenarnya terdapat tiga makna dari etika. Pertama, etika dipakai
dalam arti nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seorang atau
suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya (sistem nilai dalam hidup manusia
perseorangan atau hidup bermasyarakat). Kedua, etika dipakai dalam arti kumpulan asas
dan nilai moral, yang dimaksud disini adalah kode etik. Ketiga, etika dipakai dalam arti
ilmu tentang yang baik atau yang buruk (sama dengan filsafat moral).
Etika termasuk kelompok filsafat praktis yang membahas bagaimana manusia
bersikap terhadap segala sesuatu yang ada. Etika dibagi menjadi dua kelompok yaitu etika
umum dan etika khusus. Etika merupakan suatu pemikiran kritis dan mendasar tentang
ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Etika adalah suatu ilmu yang membahas
tentang bagaimana dan mengapa kita mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau
bagaimana kita harus mengambil sikap yang bertanggung jawab berhadapan dengan
pelbagai ajaran moral (Suseno, 1987). Etika umum mempertanyakan prinsip-prinsip yang
berlaku bagi setiap tindakan manusia, sedangkan etika khusus membahas prinsip-prinsip
itu dalam hubungannya dengan pelbagai kehidupan manusia (Suseno, 1987). Etika khusus
dibagi menjadi etika individual yang membahas kewajiban manusia terhadap diri sendiri
dan etika sosial yang membahas kewajiban manusia terhadap manusia lain dalam hidup
bermasyarakat, yang merupakan suatu bagian terbesar dari etika khusus.
Etika berkaitan dengan perbagai masalah nilai karena etika pada pokoknya
membicarakan masalah-masalah yang berkaitan dengan predikat nilai baik dan buruk
segala sesuatu. Sebagai bahasan khusu etika membicarakan sifat-sifat yang menyebabkan
orang dapat disebut susila atau bijak. Kualitas-kualitas ini dinamakan kebajikan yang
berlawanan dengan kejahatan (tidak susila). Etika lebih banyak bersangkutan dengan
prinsip-prinsip dasar pembenaran dalam hubungan dengan tingkah laku manusia
(Kattsoff, 1986). Atau dengan kata lain etika berkaitan dengan dasar-dasar filosofis dalam
hubungan dengan tingkah laku manusia.
B. Pengertian Politik
Pengertian politik berasal dari kosa kata politics yang memiliki makna bermacammacam kegiatan dalam suatu sistem politik atau negara yang menyangkut proses tujuan
penentuan-penentuan tujuan dari sistem itu dan diikuti dengan pelaksanaan tujuan-tujuan
itu. Pengambilan keputusan atau decisionsmaking mengenai apakah yang menjadi

tujuan dari sistem politik itu yang menyangkut seleksi antara beberapa alternatif dan
penyusunan skala prioritas dari tujuan-tujuan yang dipilih tersebut.
Untuk pelaksanaan tujuan-tujuan itu perlu ditentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan
umum atau public policies, yang menyangkut
pengaturan dan pembagian atau
3
distributions dari sumber-sumber yang ada.
Untuk melakukan kebijaksanaankebijaksanaan itu diperlukan suartu kekuasaan (power), dan kewenangan (authority) yang
akan dipakai baik untuk membina kerjasama maupun menyelesaikan konflik yang
mungkin timbul dalam proses ini. Cara-cara yang dipakai dapat bersifat persuasi, dan jika
perlu dilakukan suatu pemaksaan (coercion). Tanpa adanya suatu paksaan kebijaksanaan
ini hanya merupakan perumusan keinginan belaka (statement of intents) yang tidak akan
pernah terwujud. Secara operasional bidang politik menyangkut konsep-konsep pokok
yang berkaitan dengan negara (state), kekuasaan (power), pengambilan keputusan
(decisionsmaking), kebijaksanaan (policy), pembagian (distributions) serta alokasi
(allocation).
Politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat (public goals), dan
bukan tujuan pribadi seseorang (privat goals). Selain itu politik menyangkut kegiatan
berbagai kelompok termasuk partai politik, lembaga masyarakat maupun perseorangan.
Dalam hubungan dengan etika politik pengertian politik harus dipahami dalam pengertian
yang luas yaitu menyangkut seluruh unsur yang membentuk suatu persekutuan hidup
yang disebut masyarakat negara.
C. Pengertian Etika Politik
Etika politik merupakan sebuah cabang dalam ilmu etika yang membahas hakikat
manusia sebagai makhluk yang berpolitik dan dasar-dasar norma yang dipakai dalam
kegiatan politik. Etika politik sangat penting karena mempertanyakan hakikat manusia
sebagai makhluk sosial dan mempertanyakan atas dasar apa sebuah norma digunakan
untuk mengontrol perilaku politik. Etika politik menelusuri batas-batas ilmu politik,
kajian ideologi, asas-asas dalam ilmu hukum, peraturan-peraturan ketatanegaraan,
asumsi-asumsi, dan postulat-postulat tentang masyarakat dan kondisi psikologis manusia
sampai ke titik terdalam dari manusia melalui pengamatan terhadap perilaku, sikap,
keputusan, aksi, dan kebijakan politik. Etika politik tidak menerima begitu saja sebuah
norma yang melegitimasi kebijakan-kebijakan yang melanggar konsep nilai intersubjektif
(dan sekaligus nilai objektif juga) hasil kesepakatan awal. Jadi, tugas utama etika politik
sebagai metode kritis adalah memeriksa legitimasi ideologi yang dipakai oleh kekuasaan
dalam menjalankan wewenangnya. Namun demikian, bukan berarti bahwa etika politik

hanya dapat digunakan sebagai alat kritik. Etika politik harus pula dikritisi. Oleh karena
itu, etika politik harus terbuka terhadap kritik dan ilmu-ilmu terapan.
Etika politik bukanlah sebuah norma. Etika politik juga bukan sebuah aliran filsafat
atau ideologi, sehingga tidak dapat dijadikan sebuah pedoman siap pakai dalam
pengambilan kebijakan atau tindakan politis. Etika politik tidak dapat mengontrol seorang
politikus dalam bertindak atau mengambil keputusan, baik keputusan individu, organisasi,
atau kelompok. Namun, etika politik dapat dijadikan rambu-rambu yang membantu
politikus dalam mengambil keputusan.
Fungsi etika politik dalam masyarakat terbatas pada penyediaan alat-alat teoritis untuk
mempertanyakan serta menjelaskan legitimasi politik secara bertanggung jawab. Jadi,
tidak berdasarkan emosi, prasangka dan apriori, melainkan secara rasional objektif dan
argumentative. Etika politik tidak langsung mencampuri politik praktis. Tugas etika
4
politik membantu agar pembahasan masalah-masalah ideologis dapat dijalankan secara
objektif.
Hukum dan kekuasaan Negara merupakan pembahasan utama etika politik. Hukum
sebagai lembaga penata masyarakat yang normatif, kekuasaan Negara sebagai lembaga
penata masyarakat yang efektif sesuai dengan struktur ganda kemampuan manusia
(makhluk individu dan sosial). Pokok permasalahan etika politik adalah legitimasi etis
kekuasaan. Sehingga penguasa memiliki kekuasaan dan masyarakat berhak untuk
menuntut pertanggung jawaban. Legitimasi etis mempersoalkan keabsahan kekuasaan
politik dari segi norma-norma moral. Legitimasi ini muncul dalam konteks bahwa setiap
tindakan Negara baik legislatif maupun eksekutif dapat dipertanyakan dari segi normanorma moral. Moralitas kekuasaan lebih banyak ditentukan oleh nilai-nilai yang diyakini
kebenarannya oleh masyarakat.
D. Pancasila sebagai Sistem Etika
Kedudukan Pancasila merupakan sistem etika. Artinya manusia Indonesia harus
menumbuhkan kesadaran pada diri sendiri bila berhadapan dengan perbuatan baik dan
buruk. Pancasila merupakan sebuah sistem etika yang dapat diartikan Pancasila menjadi
pedoman moral langsung objektif dalam kehidupan.
Pancasila dapat dijadikan tolak ukur suati perbuatan manusia yang baik atau buruk,
dengan pedoman moral langsung yang bersifat objektif fan subjektif, dan pedoman moral
tidaklangsung yang mendalam dari Tuhan.
Suara hati merupakan pedoman moral
5 langsung subjektif, merupakan petunjuk,
rambu-rambu, serta orientasi yang menunjukkan baik buruknya perbuatan. Kata hati bisa
disebut index (petunjuk), iudex (haim), dan vindex (penghukum). Suara hati menerapkan

prinsip-prinsip moral pancasila dan perbuatan yang hendak, sedang atau telah kita
lakukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Suara hati
menerapkan nilai-nilai Pancasila sebagai norma moral sosial dalam perbuatan-perbuatan
konkret.
E. Pancasila sebagai Etika Politik
Pancasila sebagai dasar falsafah bangsa dan negara yang merupakan satu kesatuan
nilai yang tidak dapat dipisah-pisahkan dengan masing-masing silanya. Makna Pancasila
terletak pada nilai-nilai dari masing-masing sila sebagai satu kesatuan yang tidak bisa
diukar-balikkan letak dan susunannya. Idealnya, Pancasila hadir dalam praktik kekuasaan
negara, menjiwai setiap kebijakan pemerintah, menjadi landasan di berbagai interaksi
politik, serta menyemangati hubungan-hubungan ekonomi, sosial, dan budaya bangsa
Indonesia.
Dalam praktik pemerintahan, pengamalan nilai-nilai Pancasila seharusnya menjadi
landasan etis, dan karena itu tercermin dalam proses perumusan kebijakan dan
penyelenggaraan kekuasaan negara, serta dalam seluruh tingkah laku aparatur negara.
Ada gejala yang melekat dalam realitas kehidupan bermasyarakat yang dapat diangga
sebagi ganjalan terhadap Pancasila sebagai etika politik. Gejala itu antara lain adalah
perilaku sosial, ekonomi, dan politik yang cenderung terlalu berorientasi pada kekuasaan.
Pancasila sebagai etika politik perlu ditegaskan sebagai tolok ukur untuk menilai
keberhasilan bangsa Indonesia membangun sebuah sisem pemerintahan yang memihak
kepada kepentingan rakyat.
Jika diperhatika secara seksama Pancasila terdiri dari dua fundamen. Pertama,
fundamen moral yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Kedua, fundamen politik yaitu peri
kemanusiaan, persatuan Indonesia, demokrasi dan keadilan sosial (Hatta, 1966: 30).
Etika politik berdasarkan Pancasila sebagai bagian dari konsep etika Pancasila secara
umum mengacu kepada hakikat sila-sila Pancasila. Nilai-nilai abstrak yang bersumber
dari hakikat Tuhan, hakikat manusia, hakikat satu, hakikat rakyat, dan hakikat adil yang
dijabarkan menjadi konsep etika Pancasila yang bersifat tematis menjadi sistem etika
Pancasila yang bercorak normatif.
6
Berikut adalah norma dasar etika yang terkandung dalam sila-sila Pancasila:
1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa.
Hakikat Tuhan dan manusia sebagai makhluk Tuhan adalah sikap untuk hidup
taklim dan taan kepada Tuhan.
2. Sila kemanusiaan yang adil dan beradab.
Sikap manusia Indonesia yang memiliki bawaan sebagai makhluk Tuhan adalah
mencakup sikap berikut ini:
- Memenuhi kehidupan religiusnya.

Melakukan perbuatan-perbuatan yang tertuju pada kebaikan, kebenaran, serta

kenyataan mutlak yaitu Tuhan.


- Melakukan perbuatan-perbuatan dalam keselarasan harmonis-dinamis.
3. Sila persatuan Indonesia
- Berusaha mengurangi perpecahan dan pertikaian.
- Bekerjasama dalam perbedaan.
- Berusaha dan bersedia mempertahankan kesatuan Indonesia.
- Melaksanakan kebijaksaan hidup, nilai-nilai hidup kemanusiaan, dan nilainilai hidup religius yang sewajarnya.
4. Sial kerakyatan yang dipimpin oleh

hikmat

kebijaksanaan

dalam

permusyawaratan perwakilan.
- Mendukung kepentingan demokrasi guna tercapainya kesejahteraan dan
-

kebahagian jasmani, rohani religius.


Dalam pelaksaan dan penyelenggaraan negara, segala kebijaksaan, kekuasaan
serta kewenangan harus dikembalikan kepada rakyat sebagai pendukung

pokok negara.
5. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
- Melaksanakan dan menikmati kesamaan, kemerdekaan/ kebebasam, dan
kerukunan perorangan dalam keseimbangan dengan sifat hakikat makhluk
-

sosial.
Dalam penyelenggaraan negara, segala kebijakan, kekuasaan, kewenangan

serta pembagian senantiasa harus berdasarkan hukum yang berlaku.


Etika politik Pancasila dapat dijadikan sebagai alat untuk menelaah perilaku politik
negara, terutama sebagai metode kritis untuk memutuskan benar atau salah sebuah
kebijakan dan tindakan pemerintah dengan cara menelaah kesesuaian dan tindakan
pemenrintah itu dengan makna sila-sila Pancasila.
7
F. Etika Politik Indonesia
Etika politik di Indonesia menjurus kepada cara kekuasaan itu diadapatkan secara
demokratis dan sekaligus menggunakannya secara demokratis juga. Demokrasi bangsa
Indonesia menurut Hatta (1966: 24) adalah demokrasi sosial, yakni meliputi seluruh
lingkungan hidup yang menentukan nasib manusia. Namun, demokrasi dalam Pancasila
adalah demokrasi yang diberkahi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam praktik demokrasi telah diterjemahkan kedaulatan rakyat sebagai pemilik
kekuasaan ke dalam kehidupan politik dan sosial yang nyata. Kedaulatan rakyat pada
dasarnya adalah legitimasi demokratis.
Hambatan demokrasi di Indonesia disebabkan lima hal sebagai berikut:
1. Masyarakat Indonesia lebih banyak diwarnai ole perbedaan kebudayaan politik,
ideologi, kedaerahan, agama dari pada perbedaan kepentingan.

2. Perbedaan yang menyolok antara harapan yang tinggi dengan kenyataan yang ada
dan bisa dicapai.
3. Komunikasi.
4. Pengalaman masyarakat Indonesia dalam berorganisasi modern.
5. Penyelesaian masalah terasa lamban karena demokrasi malalui proses kompromi
terlebih dahulu.
Pancasila sebagi etika politik bagi bangsa dan negara Indonesia adalah etika yang
dijiwai oleh falsafah negara Pancasila, yaitu:
1. Etika yang berjiwa Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Etika yang berperikemanusiaan
3. Etika yang dijiwai oleh rasa kesatuan nasional
4. Etika yang berjiwa demokrasi
5. Etika yang berkeadilan sosial

BAB 3
PENUTUP
A. Pertanyaan
Selama pelaksanaan diskusi mengenai Pancasila sebagai etika politik, timbul beberapa
pertanyaan mengenai topik pembahasan. Pertanyaan tersebut, yaitu:
1. Bagaimanakan kedudukan Pancasila di dunia politik? (Pertanyaan ini disampaikan
oleh Yuni Arni/ 1305321).
2. Mengapa praktik politik di Indonesia semakin memburuk? (pertanyaan ini
disampaikan oleh Muhammad Azis Saputra/ 1300983).
3. Di dalam pelaksanaan pemerintahan terdapat beberapa hambatan di antaranya
adalah kurangnya komunikasi. Bagaimanakah memperlancar komunikasi antara
rakyat dengan pemerintah agar aspirasi rakyat tersampaikan? (pertanyaan ini
disampaikan oleh Winda Elva Yuanita/1305366).
4. Dewasa ini banyak ditemukan kasus pelanggaran hukum oleh para aparatur
pemerintah, namun mengapa proses penanganan kasus-kasus tersebut banyak
yang tidak diselesaikan secara tuntas? (pertanyaan ini disampaikan oleh Fattul
Qairiah/ 1301785).
B. Jawaban dari Pertanyaan
Berikut ini adalah jawaban dari pertanyaan di atas yang telah disepakati oleh penulis,
yaitu:
1. Dalam dunia politik Pancasila berfungsi sebagai panduan para elite politik dalam
mengambil keputusan maupun tindakan. Dengan Pancasila diharapkan praktik
politik dapat berjalan secara jujur.
2. Praktik politik di Indonesia semakin memburuk disebabkan oleh beberapa hal, di
antaranya adalah krisis etika politik. Apabila mereka sudah tidak menjadikan
Pancasila sebagai pedoman dalam mengambil keputusan, maka praktik politik
telah tidak menjunjung tinggi kepentingan rakyat, justru sebaliknya mereka
mementingkan kepentingan pribadi/ kelompok.
3. Untuk memperlancar komunikasi antara rakyat dengan pemerintah, diperlukannya
sebuah wadah untuk menampung aspirasi mereka. DPR dan DPRD bertugas
menampung serta menyampaikan aspirasi rakyat kepada pemerintah, namun
peranan DPR dan DPRD tersebut harus didasari pada Pancasila sehingga mereka
juga harus memiliki etika dalam keikutsertaannya dalam pemerintah. Dengan
begitu diharapkan DPR dan DPRD tidak mengutamakan kepentingan pribadi dan
golongan. Begitu juga dengan rakyat, penyampaian aspirasi dapat melalui

demonstrasi. Sebuah demonstrasi juga harus memiliki etika agar tidak merugikan
pihak lain maupun menimbulkan kerusuhan.
4. Proses penanganan kasus-kasus yang menyangkut aparatur pemerintah sebagai
tersangkanya sering tidak dituntaskan. Para pejabat yang sudah diberi kepercayaan
oleh rakyat untuk duduk di pemerintahannya cenderung menggunakan kekuasaaan
secara berlebihan, sehingga terjadi
perilaku kesewenang-wenangan dalam
9
pemerintah. Hal tersebut dapat melahirkan tindak kolusi. Selain itu diperlukannya
supremasi hukum untuk menindak kasus-kasus yang berhubungan dengan
aparatur pemerintah, dengan begitu diharapkan terbentuknya sebuah keadilan
hukum.
C. Kesimpulan
Etika politik merupakan sebuah cabang dalam ilmu etika yang membahas hakikat
manusia sebagai makhluk yang berpolitik dan dasar-dasar norma yang dipakai dalam
kegiatan politik. Etika politik Indonesia tidak boleh terlepas dari Pancasila sebagai
ideologi bangsa.
Pancasila sebagi etika politik bagi bangsa dan negara Indonesia adalah etika yang
dijiwai oleh falsafah Pancasila.

10