Anda di halaman 1dari 17

PRAKTIKUM LIQUID LIQUID EQUILIBRIUM

I.

TUJUAN
Tujuan dari percobaan praktikum ini adalah:
1. Mendapatkan data LLE dari kresol + metanol + air isobarik pada tekanan
atmosfir.
2. Mendapatkan volume dan densitas dari ekstrak dan rafinat.

II.

DASAR TEORI
II.1. Kesetimbangan Cair - Cair
Dalam termodinamika, suatu sistem termodinamika yang menggambarkan
sebuah campuran multikomponen, istilah "sistem" mengacu pada heterogen,
sistem tertutup yang terdiri dari fase homogen yang berbeda. Setiap fase dalam
heterogen, sistem tertutup ditandai oleh temperatur (T), tekanan (P), dan kimia

potensi

dalam komponen tersebut. Dengan mengabaikan kekuatan eksternal

dan efek seperti membran semi-permeabel, listrik, magnet, atau medan gravitasi,
dapat dituliskan keseimbangan termodinamika multikomponen sebuah sistem
multiphase sebagai berikut. (Modell dan Reid, 1983)

(1)
Dimana adalah jumlah fase dan j = 1,2, ...,k menandakan sistem
komponen k. Suhu, tekanan, dan potensi kimia sistem tidak semua merupakan
variabel independen. Ketergantungan variabel tersebut digambarkan oleh
hubungan Gibbs-Duhem dan mendefinisikan fase aturan Gibbs'. Total Gibbs
energi G dari multifase, sistem multikomponen dapat dihitung dari jumlah molar

n j
dari spesies kimia dalam fase yang berbeda dan potensi kimianya
G j n j G int

(2)

G int merupakan jumlah dari energi antarmuka, misalnya, dihasilkan dari


gas-cair dan cair-cair antarmuka. Sementara untuk partikel yang cukup kecil /

fase energi antarmuka bisa menjadi penting, dengan mengabaikan hal tersebut
maka (G int = 0). Dengan demikian, model tersebut berlaku untuk sistem yang
didominasi oleh fase multikomponen daripada fase energy antarmuka dan oleh
karena itu juga mengabaikan efek kelengkungan.
Pada energi Gibbs yang minimum dari sebuah sistem multiphase pada
kondisi tertentu, seperti suhu konstan dan diketahui komposisi secara
keseluruhan, Persamaan 1 semua terpenuhi. Oleh karena itu, ada dua pilihan
untuk menghitung sifat sistem tersebut dalam kesetimbangan termodinamika.
Pilihan (1) melibatkan pemecahan kondisi kesetaraan Persamaan (1) dengan
parameter sistem, seperti partisi dari komponen yang berbeda dalam satu fase
memvariasikan dan menentukan campuran dengan energi Gibbs minimun. Pilihan
(2) didasarkan pada pencarian langsung untuk Gibbs energi minimum dari sistem.
Kedua kasus dapat diperlakukan sebagai masalah optimasi dan diselesaikan
dengan menggunakan metode numerik (Amundson et al., 2007a, b).
Untuk menghitung energi Gibbs menggunakan Persamaan. (2), diperlukan
potensi kimia komponen yang berbeda dalam semua fase. Untuk non-elektrolit
( x s0 1

(organik, air) yang kita gunakan murni

), pada suhu T atas dasar fraksi

mol (x) sebagai acuan. Potensi kimia non-elektrolit seperti itu, di sini
dilambangkan sebagai pelarut s, dalam fasa cair l adalah

(3)

sI ( p, T , xj) so ,( x ) RT ln a s( x )

Potensial kimia adalah besaran yang tidak mudah dipahami dan sulit untuk
dihubungakan dengan variable-variabel yang mudah diukur seperti suhu, tekanan,
dan komposisi. Untuk mengatasi hal tersebut, Lewis mengemukakan sebuah
konsep yang dikenal sebagai konsep fugasitas. Berdasarkan konsep ini, kesamaan
potensial potensial kimia dapat diartikan sebagai kesamaan fugasitas tanpa
mengurangi arti yang terkandung di dalamnya. (Prausnitz dkk, 1998)

i i 0 RT ln

fi
fi0

(4)

Pada fase I, persamaan menjadi:

iI i0 I RT ln

fiI
f i0I

(5)

Pada fase II, persamaan menjadi:

iII i0 II RT ln

f i II
f i 0 II

(6)

Kriteria kesetimbangan cair-cair dapat dinyatakan sebagai:

iI iII

(7)

Substitusi persamaan 5 dan persamaan 6 pada kriteria kesetimbangan


persamaan 7, maka:

0I
i

fiI
f i II
0 II
RT ln 0 I i RT ln 0 II
fi
fi

(8)

Karena kondisi standar pada kedua fase adalah sama (fasa cair), maka:

i0 I i0 II

(9)

f i 0 I f i 0 II

(10)

Dengan demikian dari persamaan 8, 9, 10, kriteria kesetimbangan dapat


pula dinyatakan sebagai berikut (Prausnitz dkk, 1998):
f i I f i II

(11)

Persamaan diatas menandakan fugasitas parsial komponen I didalam fasa I


dan fasa II. Dalam bentuk variable-variabel terukur, fugasitas parsial suatu
komponen dalam campuran fasa cair dapat ditulis sebagai berikut
f i xi i f i 0

(12)

f i I f i II

Karena

, maka persamaan menjadi

xiI iI xiII iII

i = 1,2,.N

(13)

Untuk sebagian besar aplikasi LLE, pengaruh tekanan pada i dapat


diabaikan, dan persamaan. (12) merupakan satu set persamaan ke-n yang
berkaitan dengan suhu dan komposisi kesetimbangan satu sama lain. Untuk
variabel suhu, solusi dari persamaan tersebut membutuhkan satu persamaan lain
untuk menentukan komposisi, Gibbs Energy cocok untuk kedua fasa cair. Tidak
semua persamaan untuk Gibbs Energy mencukupi, bahkan pada prinsipnya,
karena beberapa tidak dapat mewakili fase cair-cair.
II.2. Model Termodinamika
1) Persamaan Van Laar
Dalam teori van Laar yang mengarah ke koefisien aktivitasnya yang
didasarkan pada aplikasi dari van der Waals persamaan equation of state,
untuk dua campuran komponen dengan fraksi mol X1 dan X2, dua asumsi
utama yang terlibat, yaitu ini berarti bahwa ketika pencampuran dua
komponen murni tidak ada perubahan volume yang terjadi, dan perubahan
entropi pencampuran adalah sama dengan nilai ideal.
Teori Van Laar terdiri dari tiga tahap sebagai berikut :
1. Ekspansi cairan murni isotermal ke tekanan yang sangat rendah.
2. Pencampuran gas yang ideal dihasilkan (karena tekanan sangat rendah).
3. Kompresi isotermal campuran gas yang ideal.
Van Laar digunakan untuk perumusan kelebihan energi bebas
Gibbs pencampuran dan memperoleh persamaan berikut untuk koefisien
aktivitas komponen (1) dan (2):

A x
ln 1 A12 1 12 1
A21 x 2

(1)

A x
ln 2 A21 1 21 2
A12 x1

(2)

2) Two Suffix Margules


Persamaan Two Suffix Margules dikembangkan oleh Margules. Ada
beberapa persamaan Margules dimana perbedaan antara satu persamaan
yang lain tergantung pada jumlah akhiran. Persamaan ini

memberikan

gambaran yang baik untuk campuran cairan sederhana yang memiliki


kesamaan volume molar komponen. Persamaan dinyatakan sebagai berikut:

ln 1 x22 A12 2 A21 A12 x1

ln 2 x12 A21 2 A12 A21 x2

III.

ALAT DAN BAHAN


1. Alat
Picnometer
10 mL dan 25 mL
Labu takar
Gelas ukur
Erlemeyer
Pipet ukur
Ball filler
Corong pemisah
Corong kaca
Sheker
2. Bahan

Kresol
Metanol
Kerosen
Aquades

(3)
(4)

3. Gambar Alat dan Bahan

Gambar III.1
Picnometer

Gambar III.2
Beaker Gelas

Gambar III.3
Pipet Ukur

Gambar III.4
Erlenmeyer

Gambar III.5
Corong kaca

Gambar III.6
Labu Takar

Umpan
Kresol
Gambar
2 % , 6 %, 12III.7
%
Corong Pemisah

Solvent

Kerosen
Metanol + Aquades
25 mlGambar III.8
Gambar
III.9
50
mL
Gelas Ukur
Ball Filler

Dicampurkan dalam labu takar I Dicampurkan dalam labu takar II


Gambar III.10
Sheker
4. Skema Kerja
Umpan + Solvent dicampurkan dalam erlemeyer
Kecepatan 200 rpm selama 1 jam
Dishaker
Diamkan selama 1 jam, akan terbentuk dua lapisan
Masukkan dalam corong pisah
Pisahkan lapisan ekstrak dan rafinat
Masukkan kedalam gelas ukur

Ukur volume dan densitasnya

Gambar III.1. Skema kerja praktikum Ekstraksi Cair cair

IV.

DATA PENGAMATAN
Tabel IV.1. Tabel data pengamatan praktikum LLE

1. Membuat

Cara Kerja
larutan umpan,

dengan

konsentrasi kresol 2%, 6%, dan 12% ,


didalam labu takar.
2. Larutan
kresol
konsentrasi

masing-masing

ditambahkan

Hasil Pengamatan
Kresol 2% = 0,5 ml
Kresol 6% = 1,5 ml
Kresol 12%= 3 ml

Penambahan kerosen sampai volume

dengan

kerosen.
3. Membuat larutan solvent, metanol +
aquades.
4. Larutan umpan + solvent dicampurkan
dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer
5. Larutan kemudian dishaker dengan
kecepatan 200 rpm, dengan waktu
shaker 1 jam.
6. Larutan di masukkan kedalam corong
pemisah
7. Larutan dipisahkan antara ekstrak dan

25 ml
-

Metanol = 40 ml
Metanol + aquades = 50 ml

Kecepatan = 200 rpm


Waktu = 1 jam

Diamkan

terbentuk 2 lapisan
Larutan ekstrak diambil dimasukkan

selama

jam

sampai

rafinatnya

8. Ukur volume dan densitas dari ekstrak

kedalam picnometer 25 ml
Larutan rafinat diambil dimasukkan

kedalam picnometer 10 ml
Didapatkan volume dan densitas fase

dan rafinat

ekstrak dan fase rafinat, lihat pada


-

tabel :
Tabel IV.2
Tabel IV.3
Tabel IV.4
Tabel IV.5

Tabel IV.2. Tabel berat densitas Rafinat dengan volume Picnometer 10 mL


Konsentrasi Feed

Picnometer

Picnometer+

2%
6%
12 %

Kosong
16,37 gram
15,8 gram
15, 8 gram

Larutan
24,91 gram
24,46 gram
24,45 gram

Densitas
0,854 gram/ cm3
0,866 gram/ cm3
0,865 gram/ cm3

Tabel IV. 3. Tabel berat volume pada Rafinat


Konsentrasi

Volume

2%

24 mL

6%

23 mL

12 %

21 mL

Tabel IV.4. Tabel berat densitas Ekstrak dengan volume picnometer 25 mL


Konsentrasi Feed
2%
6%
12 %

Picno kosong
26,96 gram
24,94 gram
25,45 gram

Tabel IV.5. Tabel berat volume pada Ekstrak


Konsentrasi Feed

Volume

2%

50 mL

6%

52 mL

12 %

53 mL

Picno + Larutan
48,86 gram
46,70 gram
47,47 gram

Densitas
0,876 gram/cm3
0,870 gram/cm3
0,880 gram/cm3

V.

PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, variabel yang digunakan adalah konsentrasi dari
feed ( umpan ) , yaitu sebesar 2 %, 6 %, dan 12 %, dengan perbandingan solvent
1 : 2. Praktikum ini bertujuan untuk memisahkan solute berupa kresol yang ada
dalam larutan pembawanya yaitu kerosene, pemisahan dilakukan dengan
menambahkan solven yang berupa methanol. Pertama membut larutan umpan
yaitu kresol dengan variabel 2% sebanyak 0,5 ml, konsentrasi 6% sebanyak 1,5
ml, dan konsentrasi 12 % sebanyak 3 ml dimasukkan kedalam labu takar
kemudian ditambahkan kerosen sampai mencapai volume 25 ml. Membuat
larutan solvent yaitu metanol dengan perbandingan 1 : 2 metanol sebanyak 40 ml
dimasukkan kedalam labu takar, kemudian ditambahkan aquades sampai dicapai
volume 50 ml. Campuran dari kresol dan kerosen (umpan) masing masing
konsentrasi dimasukkan kedalam erlenmeyer, dan campuran dari metanol dan
aquades (solvent) juga dimasukkan kedalam erlenmeyer. Methanol dipilih sebagai
solven karena mempunyai kelarutan yang relatif tinggi dan bersifat inert sehingga
tidak bereaksi dengan komponen lainnya. Pada eksperimen ini, solven dan diluen
bersifat immiscible yaitu tidak saling larut dan mempunyai fase yang berbeda.
Larutan solven tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap ekstraksi zat
terlarut Larutan modifier dapat juga ditambahkan ke pengencer untuk
meningkatkan kelarutan ekstraksi atau meningkatkan efektivitas ekstraksi (Perry,
2008).
Kemudian larutan tersebut dikocok-kocok hingga semua larutan
tercampur, yaitu menggunakan shaker dengan kecepatan sheker 200 rpm, dan
waktu yang dibutuhkan untuk menshaker selama 1 jam. Hal itu bertujuan agar
larutan umpan dan solvent dapat tercampur secara homogen, dan proses shaker
ini agar kresol dapat terekstrak dari pelarut pembawanya yaitu kerosene dan
bercampur dengan methanol (larutan solven), semakin lama proses pengadukan
atau shaker maka dimungkinkan akan semakin banyak kresol yang terekstrak oleh
methanol. Setelah dishaker larutan yang ada dalam erlenmeyer tersebut
dimasukkan kedalam corong pemisah. Hal ini bertujuan untuk memisahan fase
rafinat dan ekstrak dari larutan hasil shaker. Komposisi fase rafinat dalam
percobaan ini terdiri dari larutan pembawa (kerosene) dan sisa solute (kresol) atau
kresol yang belum terekstrak, sementara fase ekstrak terdiri dari larutan solven
(metanol) dan solute (kresol) didiamkan selama 60 menit untuk memisahkan

antara lapisan atas dan bawah dari larutan tersebut. Lapisan atas berupa rafinat
dan lapisan bawah berupa ekstrak. Ketiga sampel tersebut tampak jelas dapat
terpisah dengan baik, dalam lapisan ekstrak inilah terdapat solute yang
diinginkan. Semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk proses pemisahan, maka
ekstrak yang diperoleh akan semakin tinggi, namun penambahan waktu tidak
sebanding dengan ekstrak yang diperoleh karena akan menyebabkan larutan
umpan bercampur kembali dengan solvent. Kedua lapisan tersebut dipisahkan,
untuk larutan ekstrak dimasukkan kedalam gelas ukur untuk diketahui
volumenya, kemudian dimasukkan kedalam picnometer dengan volume 25 ml
untuk diketahui densitas larutannya. Sedangkan untuk larutan rafinat dimasukkan
kedalam gelas ukur untuk diketahui volumenya, kemudian dimasukkan dalam
picnometer yang bervolume 10 ml untuk diketahui berat densitas larutan.
Berat volume yang didapatkan pada rafinat dapat dilihat pada Tabel. IV.3.
dari data tersebut diketahui jika semakin tinggi konsetrasi kresol maka volume
dari rafinat akan semakin kecil, hal ini dikarenakan semakin banyaknya kresol
yang terekstrak sehingga akan meningkatkan volume ekstrak yang diperoleh dan
volume rafinat menjadi lebih sedikit. Berat densitas yang didapatkan dapat dilihat
pada tabel IV.2. dan densitas paling tinggi terdapat pada konsentrasi 6 % yaitu
sebesar 0,866 gram/cm3. Sedangkan volume larutan ekstrak dapat dilihat pada
tabel IV.5. dari data tersebut diketahui jika semakin tinggi konsentrasi kresol
maka volume esktrak yang didapatkan akan semakin banyak. Berat densitas yang
didapatkan oleh larutan ekstrak dapat dilihat pada tabel IV.4. dari tabel diketahui
densitas terbesar dari larutan ekstrak adalah pada konsentrasi feed (umpan) yaitu
12 % sebesar 0,880 gram/cm3.
Setelah didapatkan densitas dari fase ekstrak dan rafinat, selanjutnya
memplotkan data tersebut pada kurva kalibrasi untuk mendapatkan fraksi kresol
yang terdapat pada kedua fase tersebut.

18%
16%
14%

f(x) f(x)
= 19.62x^2
- 28.87x
+ 10.58
= - 16.35x^2
+ 30.9x
- 14.43

12%
10%
Konsentrasi

ekstrak

8%

Polynomial (ekstrak)

6%

rafinat

4%

Polynomial (rafinat)

2%
0%
0.7

0.8

0.9

Densitas Ekstrak dan Rafinat

Grafik. V.1. Grafik kurva kalibrasi


Dari grafik diatas dapat diketahui persamaan yang diperoleh untuk fase
ekstrak yaitu, Y = 19.618 x2 - 28.872x + 10.577 dimana X merupakan densitas
larutan ekstrak dan rafinat dan Y merupakan konsentrasi ekstrak. Sedangkan
persamaan yang diperoleh untuk fase rafinat yaitu, Y = -16.355x 2 + 30.899x 14.428 dimana X merupakan densitas larutan dan Y merupakan konsentrasi solute
dalam fase rafinat. Pengeplotan tersebut bertujuan untuk mendapatkan
konsentrasi ekstrak maupun rafinat berdasarkan larutan standar. Dari pengeplotan
grafik diatas maka diperoleh data sebagai berikut:
Tabel V.1. Tabel konsentrasi ekstrak dan rafinat
Densitas ekstrak
Konsentrasi ekstrak
Densitas rafinat
Konsentrasi Rafinat
0,876
0,3395103
0,854
0,317828
0,87
0,3072242
0,866
0,065003
0,88
0,3618192
0,865
0,062415
Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui pada fase ekstrak jika
densitasnya besar maka konsentrasi ekstraknya besar, pada fase rafinat jika
densitasnya besar maka konsentrasi rafinat juga besar. Jika konsentrasi feed
(kresol) besar konsentrasi pada fase ekstak besar, tapi tidak berlaku pada
konsentrasi rafinat, karena pada konsentrasi feed (kresol) konsentrasi besar belum
tentu konsentrasi rafinat besar juga.

VI.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
1. Data LLE dari larutan umpan yang berupa campuran kresol, kerosene dan
larutan pelarut berupa air, methanol pada keadaan isobarik dapat diketahui
di tabel IV.
2. Volume yang didapatkan pada larutan ekstrak paling besar adalah
konsentrasi 12 % yaitu sebanyak 53 ml, sedangkan pada larutan rafinat
adalah pada konsetrasi kresol 2 % sebanyak 24 ml.
B. Saran
1. Pada saat membuat larutan umpan dan solven perlu diperhatikan volume
kresol, kerosen, metanol yang akan diambil untuk pembuatan larutan
tersebut.
2. Saat memisahkan antara fase ekstrak dengan rafinat, perlu ketelitian yang
cukup tinggi agar ekstrak yang diambil dapat benar-benar terpisah dengan
rafinatnya, karena akan mempengaruhi ekstrak yang diperoleh.
3. Sebaiknya menggunakkan Alat Pelindung Diri yang lengkap karena kresol
bersifat racun bagi tubuh manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Praustnistz, J. M., Lichtenthaler, R. N., and de Azevedo, E. G. 1999. Molecular


Thermodynamics of Fluid-Phase Equilibria, 3rd ed., Prentice Hall PTR.
USA
Kondepudi., 2008. Introduction to Modern Thermodynamics. John Wiley & Sons,
Ltd., England
Smith, J.M. Vans Ness, H.C, and Abbot, M.M., 2001. Chemical Engineering
Thermodynamic 6th ed. Singapore McGraw-Hill International Edition.

LAMPIRAN
1
a
-

Perhitungan Densitas Ekstrak dan Rafinat


Densitas Ekstrak
Konsentrasi feed 2%
Berat piknometer kosong
: 26,96 gr
Berat piknometer + isi
: 48,86 gr
Volume piknometer
: 25 ml
m
=
V
=

48,86 gr26,96 gr
25 ml

=0,876 gr /ml
-

Konsentrasi feed 6%
Berat piknometer kosong
Berat piknometer + isi
Volume piknometer
m
=
V
=

:24,94 gr
: 46,70 gr
: 25 ml

46,70 gr24,94 gr
25 ml

=0,870 gr /ml

Konsentrasi feed 12%


Berat piknometer kosong
Berat piknometer + isi
Volume piknometer
m
=
V
=

47,47 gr 25,45 gr
25 ml

=0,880 gr /ml

: 25,45 gr
: 47,47 gr
: 25 ml

b
-

Densitas Rafinat
Konsentrasi feed 2%
Berat piknometer kosong
Berat piknometer + isi
Volume piknometer
m
=
V
=

: 16,37 gr
: 24,91 gr
: 10 ml

24,91 gr 16,37 gr
10 ml

=0,854 gr /ml
-

Konsentrasi feed 6%
Berat piknometer kosong
Berat piknometer + isi
Volume piknometer
m
=
V
=

: 15,8 gr
: 24,46 gr
: 10 ml

24,46 gr15,8 gr
10 ml

=0,866 gr /ml

Konsentrasi feed 12%


Berat piknometer kosong
Berat piknometer + isi
Volume piknometer
m
=
V
=

: 15,80 gr
: 24,45 gr
: 10 ml

24,45 gr15,80 gr
10 ml

=0,865 gr /ml

2
a
-

Perhitungan Fraksi Kresol di Ekstrak dan Rafinat


Fraksi Kresol di Ekstrak
Konsentrasi feed 2%
=0,876 gr /ml
y=19.618 x 228.872 x +10.577
y=19.618 x 228.872 x +10.577

y=19.618 ( 0,876 ) 28.872. 0,876+10.577


y=15,05425,291+10,57 7
y=0,3 4

y=3 4
-

Konsentrasi feed 6%
=0,870 gr /ml
y=19.618 x 228.872 x +10.577
y=19.618 . ( 0,870 )228.872 . 0,870+ 10.577
y=14,848 25,118 +10.577
y=0,307

y=30,7

Konsentrasi feed 12%


=0,880 gr /ml
y=19.618 x 228.872 x +10.577
y=19.618 ( 0,880 )228.872 . 0,880+10.577
y=15,19225,407+10.577
y=0,36 3

y=36,3

b
-

Fraksi Kresol di Rafinat


Konsentrasi feed 2%
=0,854 gr /ml
y=16.355 x2 +30.899 x14.428
y=16.355 ( 0,854 )2 +30.899 .0,85414.428
y=11,927+26,38714.428
y=0,032

y=3,2

Konsentrasi feed 6%
=0,866 gr /ml
y=16.355 x2 +30.899 x14.428
y=16.355 ( 0,866 )2 +30.899.0,86614.428
y=12,265+26,75814.428

y=0,065
y=6,5

Konsentrasi feed 12%


=0,865 gr /ml
y=16.355 x2 +30.899 x14.428
y=16.355 ( 0,865 )2+ 30.899.0,86514.428
y=12,237+26,7214.428

y=0,055
y=5,5