Anda di halaman 1dari 31

PROFIL PELEPASAN TABLET LEPAS LAMBAT

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Prinsip Percobaan

Berdasarkan pengaruh matriks terhadap profil disolusi tablet lepas lambat asam
asetil salisilat (asetosal).

I.2

Tujuan Percobaan

Untuk mempelajari pengaruh matriks terhadap profil disolusi tablet lepas lambat
asam asetilsalisilat (asetosal).

BAB II
PREFORMULASI

Formulasi
Tiap tablet mengandung
Asetosal

160,0 mg

Amilum kering (5%)

12,85 mg

Asam stearat (1%)


Aerosil (2%)

5,14 mg

Avicel (20%)

51,4 mg

Laktosa

Monografi
Asam asetil salisilat

25 mg

2,57 mg

Nama lain

: asetosal atau acidum asetylosalicylicum

Rumus kimia : C9H8O4


Berat molekul : 180,16
Persyaratan

asam asetilsalisilat mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak lebih
dari 100,5% C9H8O4 dihitung terhadap zat yang telah dikeringkan.
Pemerian

hablur putih, umumnya seperti jarum atau lempengan tersusun, atau serbuk
hablur putih; tidak berbau atau berbau lemah. Stabil diudara kering; didalam udara
lembab secara bertahap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat.
Kelarutan :
sukar larut dalam air, mudah larut dalam etanol, larut dalam kloroform dan
dalam eter, agak sukar larut dalam eter mutlak.
Suhu lebur : 141-144C
Khasiat dan penggunaan : analgetik dan antipiretik.
Dosis maksimum : sekali 1 gram, sehari 8 gram .(Depkes RI, 1955)

Etil selulosa
Nama lain
Rumus kimia
Pemerian

: aquacoat ECD, aqualon, E462, Ethocel, Surelease.


: C12H23O6(C12H22O5)nC12H23O5
: serbuk berwarna putih, tidak berasa.

Inkompatibilitas : dengan lilin parafin dan mikrokristalin.


Kegunaan : coating agent, tablet binder, tablet filer, peningka
viskositas.
(American Pharmaceutical Association and The Pharmaceutical Society of Great
Britian,. 1986)

Asam stearat
Nama lain

: acidum stearicum

Asam stearat adalah campuran asam organic padat yang diperoleh dari
lemak sebagian besar terdiri dari asam oktadekanoat C18H36O2 dan asam
heksadekanoat C16H32O2.
Pemerian : zat padat keras, mengkilat menunjukkan susunan hablur, putih
atau kuning pucat, mirip lemak lilin.
Kelarutan : praktis tidak larut dalam air, larut dalam 20 bagiam etanol( 95
%) P, dalam 2 bagian kloroform pekat dan dalam 3 bagian eter pekat.
Suhu lebur : tidak kurang dari 54C
Khasiat dan penggunaan : zat tambahan.( Depkes RI,1979)

Aerosil
Nama lain

: koloidal silika, Cab-O-Sil, silika, koloidal silikon dioksida

Rumus empiris : SiO2


Berat molekul

: 60,08

Pemerian : aerosil adalah merupakan uap silika submikroskopik dengan


ukuran partikel sekitar 15 nm. Berwarna putih terang, tidak berbau, tidak berasa.
Inkompatibilitas : dengan dietil stil bestrol
Penggunaan : absorben anticakeking agent, penstabil emulsi ( emulgator ),
glidan. Suspending agent, disintegran tablet, peningkat viskositas.
(American Pharmaceutical Association and The Pharmaceutical Society of
Great Britian, 1986)

Avicel
Nama lain

: celex, selulosa gel, celpher, vivapur.

Rumus empiris : (C6H10O5)n dimana n lebih dari 220.


Berat molekul
Pemerian
berasa.
Inkompatibilita

: lebih dari 36000


: serbuk kristal berwarna putih, tidak berbau dan tidak
: dengan agen oksidasi kuat.

Kegunaan

: adsorben, suspending agent, tablet disintegran.

(American Pharmaceutical Association and The Pharmaceutical Society of


Great Britian, 1986)

Laktosa
Nama lain

: sacharum lactis

Rumus molekul

: C12H22O11.H2O

Berat molekul

: 36,30

Pemerian

: serbuk hablur putih tidak berbau dan rasa agak manis

Kelarutan : larut dalam 6 bagian air, larut dalam 1 bagian air mendidih,
sukar larut dalam etanol 95%, praktis tidak larut dalam klorofom dan eter pekat.
Khasiat dan penggunaan : sebagai zat tambahan. (Depkes RI, 1955)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Farmakodinamik
Salisilat merupakan obat yang paling banyak digunakan sebagai anlgesik,
antipiretik dan antiinlamasi. Aspirin atau asam asetilsalisilat dosis terapi bekerja
cepat dan efektif sebagai antipiretik. Dengan dosis ini laju metabolisme juga
meningkat. Pada dosis toksik obat ini justru memperlihatkan efek piretik sehingga
terjadi demam dan hiperhidroksis pada keracunan berat. Untuk memperoleh efek
antiinflamasi yang baik kadar plasma perlu dipertahankan antara 250 300 mcg/ml.
Kadar ini tercapai tercapai dengan dosis aspirin oral 4 gram per hari untuk orang
dewasa. Pada penyakit demam reumatik, aspirin masih tetap belum dapat
digantikan oleh obat AINS yang lain dan ,masih dianggap sebagai standar dalam
studi perbandingan penyakit artritis reumatoid. ( Bagian farmakologi fakultas
kedokteran UI, 1995)

Efek terhadap keseimbangan asam-basa, dalam dosis terapi yang tinggi, salisilat
menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen dan produksi CO2 terutama di otot
skelet karena perangsangan fosforilasi oksidatif. Karbon dioksida yang dihasilkan
selanjutnya mengakibatkan perangsangan pernafasan sehingga karbon dioksida
dalam darah tidak meningkat. Ekskresi bikarbonat yang disertai Na+ dan K+
melalui ginjal meningkat, sehingga bikarbonat dalam plasma menurun dan pH
darah kembali normal. Keadaan ini disebut alkalosis respiratoar yang
terkompensasi, dan sering dijumpai pada orang dewasa yang mendapar terapi
salisilat secara intensif. Keadaan yang lebih buruk biasanya terjadi pada bayi dan
anak yang mendapat dosis toksik atau orang dewasa yang menelan dosis salisilat
sangat besar. Pada bayi dan anak fase alkalosis respitoar sering tidak terdeteksi
sehingga mereka baru dibawa ke dokter setelah keadaannya memburuk, yaitu
setelah terjadi asidosis metabolik. ( Bagian farmakologi fakultas kedokteran UI,
1995)
Efek urikosurik, efek ini sangat ditentukan oleh besarnya dosis. Dosis kecil ( 1g atau
2g sehari ) menghambat ekskresi asam urat, sehingga kadar asam urat dalam
darah meningkat. Dosis 2 atau 3g sehari biasanya tidak mengubah ekskresi asam
urat. Tetapi pada dosis lebih dari 5 g perhari terjadi peningkatan ekskresi asam urat
melalui urin, sehingga kadar asam urat dalam darah turun. Hal ini terjadi karena
pada dosis rendah salisilat menghambat reabsorpsinya dengan hasil akhir
peningkatan ekskresi asam urat. Efek urikosurik ini bertambah bila urin bersifat
basa. Dengan memberikan NaHCO3 kelarutan asam urat dalam urin meningkat
sehingga tidak terbentuk kristal asam urat dalam tubuli ginjal. ( Bagian farmakologi
fakultas kedokteran UI, 1995)
Efek terhadap darah, pada orang sehat aspirin menyebabkan perpanjangan masa
perdarahan. Hal ini bukan karena hipoprotrombinaemia, tetapi karena asetilasi
siklo-oksigenase trombosit sehingga pembentukan TXA2 terhambat. Dosis tunggal
650 mg aspirin dapat memperpanjang masa perdarahan kira kira 2 kali lipat. Pada
pemakaian obat antikoagulan jangka lama sebaiknya berhati hati memberikan
aspirin, karena bahaya perdarahan mukosa lambung. Sekarang, aspirin dosis kecil
digunakan untuk profilaksis trombosis koroner dan serebral. Aspirin tidak boleh
diberikan pada penderita dengan kerusakan hati berat, hipoprotrombinemia,
defisiensi vitamin K dan hemofilia, sebab dapat menimbulkan perdarahan. ( Bagian
farmakologi fakultas kedokteran UI, 1995)
Efek terhadap hati dan ginjal, salisilat bersifat hepatotoksik dan ini berkaitan
dengan dosis, bukan akibat reaksi imun. Gejala yang sering terlihat hanya kenaikan
SGOT dan SGPT, beberapa penderita dilaporkan menunjukkan hepatomegali,
anoreksia, mual dan ikterus. Bila terjadi ikterus pemberian aspirin harus dihentikan
karena dapat terjadi nekrosis hati yang fatal. Oleh sebab itu aspirin tidak dianjurkan
diberikan kepada penderita penyakit hati kronik. Walaupun belum dapat dibuktikan
secara jelas, tetapi secara penelitian epidemiologis ada hubungan erat antara
salisilat dan sindrom Reye. Pada sindrom ini terjadi kerusakan hati dan enselofati.

Sindrom ini jarang tetapi berakibat fatal dan dihubungkan pada pemakaian salisilat
pada infeksi varicella dan virus lainnya pada anak. Salisilat dapat menurunkan
fungsi ginjal pada penderita dengan hipovolemia atau gagal jantung. ( Bagian
farmakologi fakultas kedokteran UI, 1995)
Efek terhadap saluran cerna, efek iritasi saluran cerna yang lebih berat dapat terjadi
perdarahan lambung. Hal ini dapat terjadi pada pemberian dosis besar dan
pemberian kronik. ( Bagian farmakologi fakultas kedokteran UI, 1995)

II.2 Farmakokinetik
Pada pemberian oral, sebagian salisilat diabsorpsi dengan cepat dalam bentuk utuh
dilambung, tetapi sebagian besar diusus halus bagian atas. Kadar tertinggi dicapai
kira kira 2 jam setelah pemberian. Kecepatan absorpsinya tergantung dari
kecepatan disintegrasi dan disolusi tablet, pH permukaan mukosa dan waktu
pengosongan lambung. Absorpsi pada pemberian secara rektal, lebih lambat dan
tidak sempurna sehingga cara ini tidak dianjurkan. Asam salisilat diabsorpsi cepat
dari kulit sehat, terutama bila dipakai sebagai obat gosok dan salep. Keracunan
dapat terjadi dengan olesan pada kulit yang luas. Metil-salisilat juga diabsorpsi
dengan cepat melalui kulit utuh, tetapi penyerapan dilambung lambung dan lama
bertahan dilambung, oleh karena itu bila terjadi keracunan, bilas lambung masih
berguna walaupun obat sudah ditelan lebih dari 4 jam. (Bagian farmakologi fakultas
kedokteran UI, 1995)
Setelah diabsorpsi, salisilat segera menyebar ke seluruh jaringan tubuh dan cairan
transelular sehingga ditemukan dalam cairan sinovial, cairan spinal, cairan
peritoneal, liur dan air susu. Obat ini mudah menembus sawar darah otak dan
sawar uri. Kira kira 80% sampai 90 % salisilat plasma terikat pada albumin. Aspirin
diserap dalam bentuk utuh, dihidrolisis menjadi asam salisilat terutama dalam hati,
sehingga hanya kira kira 30 menit terdapat dalam plasma. (Bagian farmakologi
fakultas kedokteran UI, 1995)
Biotransformasi salisilat banyak terjadi di bagian jaringan, tetapi terutama di
mikrosom dan mitokondria hati. Salisilat diekskresi dalam bentuk metabolitnya
terutama melalui ginjal, sebagian kecil melalui keringat dan empedu. (Bagian
farmakologi fakultas kedokteran UI, 1995)
Setelah mengetahui salisilat, dapat dilihat derivat dari salisilat yaitu asam asetil
salisilat. Asam asetil salisilat ini merupakan derivat salisilat yang paling sering
digunakan dalam terapinya diantara derivat salisilat yang lainnya. (Bagian
farmakologi fakultas kedokteran UI, 1995)
Asam asetilsalisilat atau asetosal adalah obat anti-nyeri tertua ( 1899 ! ), yang
sampai kini paling banyak digunakan diseluruh dunia. Zat ini juga berkhasiat anti-

demam kuat dan pada dosis rendah sekali ( 40 mg ) berdaya menghambat agregasi
trombosit. Efek antitrombotis ini tidak reversible dan berdasarkan blockade enzim
siklo-oksigenase yang bertahan selama hidupnya trombosit. Dengan demikian,
sintesa tromboksan A2 ( Tx A2 )- yang bersifat trombotis dan vasokonstriktif
dihindarkan. Pada dosis lebih besar dari normal ( diatas 5 g sehari ) obat ini juga
berkhasiat antiradang akibat gagalnya sintesa prostaglandin-E ( PgE2 ). (Tan hoan
tjay dan Kirana rahardja, 200
Penggunaannya selain sebagai analgetikum, asetosal ini banyak digunakan sebagai
alternative dari antikoagulansia sebagai obat pencegah infrak kedua setelah terjadi
serangan. Hal ini berkat daya antitrombotisnya. Obat ini juga efektif untuk
profilaksis serangan stroke kedua setelah menderita TIA ( Transient Ischaemic
Attack = serangan kekurangan darah sementara di otak ), terutama pada pria. (Tan
hoan tjay dan Kirana rahardja, 2002)
Resorpsinya cepat dan praktis lengkap, terutama di bagian pertama duodenum.
Namun, karena bersifat asam, sebagian zat diserap pula dilambung. BA-nya lebih
rendah akibat FPE ( First Pass Efect ) dan hidrolisa selama resorpsi. Mulai efek
analgetis dan antipiretisnya cepat, yakni setelah 30 menit dan bertahan 3 6 jam;
kerja antiradangnya baru nampak setelah 1 4 hari. Resorpsi dari rectum
( suppositoria ) lambat dan tidak menentu, sehingga dosisnya perlu digandakan.
Dalam hati, zat ini segera dihidrolisa menjadi asam salisilat dengan daya anti-nyeri
lebih ringan. Pp-nya 90-95%, plasma-t1/2-nya 15-20 menit, masa paruh asam
salisilat adalah 2-3 jam pada dosis 1-3g/hari. (Tan hoan tjay dan Kirana rahardja,
2002)
Efek samping yang palinga sering terjadi berupa iritasi mukosa lambung dengan
risiko tukak lambung dan perdarahan samar ( occult ). Penyebabnya adalah sifat
asam dari asetosal, yang dapat dikurangi melalui kombinasi dengan suatu
antasidum ( MgO, aluminiumhidroksida, CaCO3 ) atau garam kalsiumnya
( carbasalat, Ascal ). Pada dosis besar, faktor lain memegang peranan, yakni
hilangnya efek pelindung dari prostasiklin ( PgI2 ) terhadap mukosa lambung, yang
sintesanya turut dihalangi akibat blokade siklo-oksigenase. . (Tan hoan tjay dan
Kirana rahardja, 2002)
Selain itu, asetosal menimbulkan efek efek spesifik, seperti reaksi alergi kulit dan
tinnitus ( telinga berdengung ) pada dosis lebih tinggi. Efek yang lebih serius adalah
kejang kejang bronchi hebat, yang pada pasien asma, meski dalam dosis kecil,
dapat mengakibatkan serangan. Anak anak kecil yang menderita cacar air atau
flu/selesma sebaiknya jangan diberikan asetosal ( melainkan parasetamol ), karena
berisiko terkena Sindroma Rye yang berbahaya. Sindroma ini berciri muntah hebat,
termangu-mangu, gangguan pernafasan, konvulsi, dan adakalanya koma. (Tan hoan
tjay dan Kirana rahardja, 2002)

Wanita hamil tidak dianjurkan menggunakan asetosal dalam dosis tinggi, terutama
pada triwulan terakhir dan sebelum persalinan, karena lama kehamilan dan
persalinan dapat diperpanjang, juga kecenderungan perdarahan meningkat. Kendati
masuk kedalam air susu, ibu dapat menggunakan asetosal selama laktasi, meski
sebaiknya secara insidentil. (Tan hoan tjay dan Kirana rahardja, 2002)
Interaksi. Asetosal memperkuat daya kerja antikoagulansia, antidiabetika oral dan
metotreksat. Efek obat encok probenesid dan sulfinpirazon berkurang, begitupula
diuretika furosemid dan spironolakton. Kerja analgetisnya diperkuat oleh antara lain
kodein dan d-propoksifen. Alkohol meningkatkan risiko perdarahan lambung-usus.
Reaksi alergi sesungguhnya yang diamati setelah pemberian asam asetil salisilat
terutama disebabkan oleh ketidakmurnian, khususnya dengan anhidrida asam
asetilsalisilat yang bersifat alergen kuat. Karena itu sebagian besar dapat dicegah
dengan memakai sediaan asam asetilsalisilat murni. Bahwa reaksi alergi itu palsu
telah dibuktikan. Karena efek antitrombositnya yang mengakibatkan risiko
perdarahan meningkat, penggunaan asetosal perlu dihentikan satu minggu sebelum
pencabutan gigi ( geraham bungsu ). (Bagian farmakologi fakultas kedokteran UI,
1995)

II.3. Bentuk bentuk asetosal yang melarut :


Karbasalatkalsium ( Ascal ) adalah garam kalsium dari asetosal, dimana air kristal
diganti oleh urea ( 1951 ). Garam ini tidak bereaksi asam dan kurang merangsang
mukosa lambung. 100mg Ascal = 80mg asetosal.
Lysin-asetosal adalah persenyawaan yang setelah melarut pecah dalam bentuk
asam amino lisin dan asetosal, yang kemudian dihidrolisa menjadi salisilat.
Kombinasinya ( 1620 mg ) dengan metoklopramida ( 10 mg ) dianjurkan untuk
migrain ( Migrafin ). (Tan hoan tjay dan Kirana rahardja, 2002)

II.4. Tablet lepas lambat


Suatu sediaan lepas lambat didesain untuk memberikan suatu dosis zat aktif
sebagai terapi awal (dosis muatan) dan diikuti oleh pelepasan zat aktif yang lebih
lambat dan konstan. Kecepatan pelepasan dosis pemeliharaan didesain sedemikian
rupa agar jumlah zat aktif yang hilang dari tubuh karena eliminasi diganti secara
konstan. Dengan memberikan sediaan lepas lambat, konsentrasi zat aktif dalam
plasma dipertahankan selalu konstan dengan fluktuasi minimal. (Charles, Siregar,
2010 )
Pada umunya, tujuan pembuatan bentuk sediaan lepas lambat mempertahankan
konsentrasi zat aktif dalam darah atau jaringan untuk periode waktu yang

diperpanjang. Tujuan ini biasanya dapat dicapai dengan mencoba memperoleh


bentuk sediaan dengan tipe pelepasan orde-nol (zero order). Pelepasan orde-nol
berarti bahwa pelepasan zat aktif dari bentuk sediaan tidak bergantung pada
jumlah zat aktif dalam sistem pemberian (artinya, kecepatan pelepasan konstan).
Sistem lepas lambat umumnya tidak menunjukkan tipe pelepasan ini, tetapi
biasanya mencoba meniru tipe pelepasan orde-nol dengan menyediakan zat aktif
pelepasan orde-pertama yang diperlambat. (Charles, Siregar, 2010 )

Kelebihan atau manfaat tablet lepas lambat yaitu :


Memastikan keamanan dan memperbaiki daya kerja (efikasi) zat aktif serta
meningkatkan kepatuhan pasien. Hal ini dicapai karena pengendalian konsentrasi
zat aktif dalam plasma lebih baik dan frekuensi pemberian berulang.
1.
Memperbesar jarak waktu pendosisan yang diperlukan atau dipersyaratkan.
Hal ini mengurangi jumlah total dosis yang diperlukan per hari. Pengurangan
frekuensi dosis harian lebih nyaman bagi pasien dan dapat meningkatkan
kepatuhan pasien.
2.

Mengurangi fluktuasi konsentrasi zat aktif dalam darah di sekitar rata-rata.

3.
Mengurangi iritasi saluran cerna dan efek samping lain yang berkaitan
dengan dosis.
4.
Menghasilkan efek yang lebih seragam. Respon farmakologis yang lebih
seragam merupakan salah satu tujuan utama sediaan lepas lambat
5.
Menghindari pemberian obat pada malam hari karena jarak waktu pemberian
yang lebih lama sehingga jam tidur pasien tidak terganggu.
6.

Menghasilkan manfaat ekonomi bagi pasien.

7.
Beberapa zat aktif, seperti klorfeniramin, mempunyai waktu paruh yang
panjang. Jadi, durasi kerja farmakologis yang panjang sudah menjadi sifat yang
melekat dalam zat-zat lain.
8.
Memberikan konsentrasi zat aktif dalam darah yang terus-menerus dan
menghasilkan respon klinis yang diperpanajang dan konstan dalam pasien.
9.
10.

Memperbaiki efisiensi pengobatan, yakni optimasi terapi.


Memperbaiki ketersediaan hayati beberapa zat aktif.

11. Meningkatkan ketersediaan hayati zat-zat aktif yang mempunyai jendela


spesifik untuk absorpsi. Dalam hal ini, peningkatan ketersediaan hayati dapat

dicapai dengan melokalisasi sistem pemberian lepas lambat dalam bagian saluran
cerna tertentu.
12. Memperbaiki efisiensi pengobatan dengan mengambil bentuk khusus dari efek
terapi khusus yang tidak mungkin diperoleh dengan bentuk sediaan yang
konvensional
13.

Mendatangkan keuntungan ekonomi.

Mengurangi jumlah zat aktif yang digunakan. (Charles, Siregar, 2010 )


Bentuk sediaan lepas lambat kemungkinan mempunyai berbagai keterbatasan,
yaitu:
1.
Faktor fisiologis yang berubah-ubah (misalnya, pH saluran cerna, aktivitas
enzim, kecepatan transit lambung, dan usus, adanya makanan dan penyakit pada
pasien.
2.
Kecepatan transit sediaan lepas lambat per oral di sepanjang saluran cerna
membatasi periode maksimum respon terapi yang dapat dipertahankan setelah
pemberian dosis tunggal sampai kira-kira 12 jam ditambah jangka waktu zat
absorpsi untuk menggunakan kerja yang terjadi setelah pemberian dosis tunggal.
3.
Sediaan lepas lambat yang cenderung tetap utuh dapat tersangkut pada
suatu tempat disaluran cerna. Jika hal ini terjadi, pelepasan lambat zat aktif dari
sediaan dapat mengakibatkan konsentrasi zat aktif tinggi di lokasi tertentu.
4.
Sediaan lepas lambat dosis tunggal biasanya mengandung jumlah total zat
aktif lebih besar daripada kandungan zat aktif sediaan yang biasa diberikan dalam
bentuk konvensional dosis tunggal. Ada kemungkinan terjadi overdosis.
5.
Tidak semua jenis zat aktif dapat dijadikan calon yang sesuai untuk
pembuatan formulasi lepas lambat per oral.
6.
Harga per unit sediaan lepas lambat pada umumnya lebih mahal daripada
bentuk sediaan konvensional yang mengandung zat aktif yang sama.
7.
Bentuk sediaan lepas lambat mengandung dosis yang ekivalen dengan dua
kali atau lebih dosis yang terkandung di dalam sediaan yang diberikan dalam
bentuk konvensional. Oleh karena itu, kegagalan bentuk sediaan ini dapat
menimbulkan banjir-dosis.

8.
Kekuatan yang dikurangi untuk penyesuaian dosis merupakan kekurangan
yang utama beberapa sediaan yang lepas lambat.
9.

Metabolisme hepatik merupakan proses yang bersifat dapat jenuh.

10. Penurunan absorpsi zat aktif merupakan bahaya yang melekat pada semua
bentuk sediaan lepas lambat.
11. Waktu transit suatu bentuk sediaan melintasi saluran cerna tidak saja
bergantung pada karakteristik fisik formula, tetapi juga bergantung pada berbagai
faktor fisiologi.
12. Jika pasien mengalami reaksi obat merugikan atau terjaid keracunan secara
tidak sengaja, pembersihan zat aktif sistem ini lebih sulit daripada sediaan lepas
segera.
13. Sediaan obat lepas lambat yang diberikan secara oral dapat memperlihatkan
absorpsi zat aktif yang tidak menentu atau berubah-ubah karena berbagai interaksi
zat aktif dengan kandungan saluran cerna dan mengubah motilitas (daya gerak)
saluran cerna.

14. Zat aktif yang dalam bentuk sediaan konvensional biasa diberikan dalam dosis
besar (>500 mg) tidak praktis untuk formulasi sediaan (tablet) lepas lambat karena
sediaan (tablet) lepas lambat dapat mengandung dua kali atau lebih dosis yang
diberikan secara konvensional.
15. Pemberian sediaan lepas lambat tidak memungkinkan penghentiaan terapi
dengan segera.
16. Dokter kurang fleksibel dalam penyesuaian regimen dosis. Pengaturan dosis
sudah ditetapkan oleh desain bentuk sediaan.
Bentuk sediaan lepas lambat didesain untuk populasi normal berdasarkan waktu
paruh zat aktif rata-rata. Akibatnya, keadaan penyakit yang mengubah disposisi zat
aktif, perbedaan (variasi) pasien yang signifikan, dan sebagainya tidak
diperhitungkan. (Charles, Siregar, 2010 )
Faktor yang mempengaruhi desain dan daya guna tablet lepas lambat :
Faktor Tidak Tepat, meliputi Sifat zat aktif, Rute pemberian, Daerah sasaran, Terapi
akut atau kronis, penyakit,dan pasien.
a.
Faktor Fisikokimia Zat Aktif, meliputi kelarutan dalam air, ukuran dosis,
Ionisasi,pKa, dan kelarutan dalam air, koefisien partisi, Stabilitas, dan ikatan protein.
Faktor Biologis, meliputi absorpsi, waktu paruh biologis, metabolisme dan distribusi.
(Charles, Siregar, 2010 )
Mekanisme pelepasan zat aktif.

Pelepasan zat aktif orde-nol diperlukan untuk bentuk sediaan ini. Hal ini berarti
kecepatan pelelapasan zat aktif tidak bergantung pada konsentrasi zat aktif.
b.
Suatu produk dengan pelepasan zat aktif yang konstan dan pelepasan orde
pertama yang lambat tidak mungkin dihasilkan pada waktu yang bersamaan. Suatu
pelepasan orde-pertama yang lambat kira-kira akan sama dengan pelepasan ordenol, sepanjang pelepasan hanya diikuti oleh satu fraksi zat aktif yang dilepaskan,
yaitu diikuti kurang dari satu waktu paruh.

Untuk memperoleh kecepatan orde-nol, ada beberapa mekanisme dan bentuk


sediaan yang dimodifikasi yang dapat digunakan. (Charles, Siregar, 2010 )

Kinetika Tablet Lepas Lambat


Jumlah atau dosis zat aktif yang dibutuhkan dalam suatus sediaan lepas lambat
untuk memberikan konsentrasi zat aktif yang kontinu di dalam tubuh ditentukan
oleh farmakokinetik zat aktif, tingkat terapi zat aktif yang diinginkan dan lama kerja
yang dimaksudkan. Secara umum, dosis yang dibutuhkan (Dtot) adalah jumlah
dosis pemeliharaan (Dm) dan dosis awal yang segera dilepaskan (Di) untuk
memberikan tingkat terapi yang dibutuhkan dalam darah.
Dtot = Di + Dm
Dalam praktik, Dm dilepaskan selama periode waktu tertentu dan besarnya adalah
hasil perkalian td (durasi kerja) dan ko, untuk kecepatan orde nol. Jadi persamaan
dinyatakan dengan :
Dtot = Di + ko td
Untuk zat aktif yang mengikuti model satu kopartemen terbuka, kecepatan eliminasi
(R) yang diperlukan untuk mempertahankan zat aktif pada tingkat terapi (Cp)
adalah :
R = k. VD. Cp

(Charles, Siregar, 2010 )

BAB IV
PROSEDUR PERCOBAAN

IV.1. Alat dan Bahan


1. Alat-alat yang digunakan
a.

Timbangan analitik

b.

Mesin cetak tablet

c.

Ayakan mesh 8 dan 16

d.

Alat uji disolusi

e.

Alat-alat gelas

f.

Syringe dan Syringe holder

g.

Spektrofotometer UV

h.

pH meter

2. Bahan-bahan yang digunakan


Asam asetil salisilat (asetosal)
HPMC atau Etil selulosa
Aerosil
Laktosa
Asam salisilat
Air suling

IV.2.
a.

Cara Kerja
Penentuan panjang gelombang isosbestik antara asam salisilat dan asetosal

Buat masing-masing larutan asetosal 100 mg/mL dan asam salisilat 100 mg/ml.
Kemudian buat kurva serapan masing-masing yang ditumpangtindihkan (overlay).
Titik dimana serapan keduanya berpotongan (serapan sama) dinamakan panjang
gelombang (titik) isosbestik.

b.

Pembuatan kurva baku pada panjang gelombang isosbestik

Ditimbang seksama 100,0 mg asam asetilsalisilat kemudian dimasukkan ke dalam


labu ukur 100 mL dan dilarutkan dengan air suling hingga 100,0 mL. Kemudian dari
larutan induk asam asetilsalisilat dibuat seri larutan dalam konsentrasi 80, 100,
120, 140, dan 160 bpj. Kemudian diukur serapannya pada panjang gelombang
isosbestik ( 265 nm) secara spektrofotometri ultra violet. Kurva baku dapat dibuat
dengan memplot serapan terhadap konsentrasi.

c.
Pembuatan Tablet Lepas Lambat Asam Asetilsalisilat dengan Cara Cetak
Langsung
Pembuatan tablet lepas lambat asam asetilsalisilat dengan matrik HPMC atau etil
selulosa dengan cetak langsung adalah dengan mengayak bahanbaban
menggunakan pengayak mesh 50 dan ditimbang sesuai dengan yang dibutuhkan.
Seluruh asetosal, laktosa dan HPMC/etil selulosa dicampur dan digranulasi dengan
penambahan alkohol 95% hingga mudah dikepal kemudian diayak dengan ayakan
mesh 8 dan dikeringkan selama kurang lebih 1 jam suhu dibawah 60o C. Kemudian
diayak dengan ayakan mesh 16. Granul yang ada ditimbang dan ditambahkan
avicel pH 102, dan aerosil dan dicampur hingga homogen. Kemudian massa cetak
tablet dicetak dan uji disolusi.
Tabel 1. Formula tablet lepas lambat asam asetilsalisilatBahan-bahan
Asetosal (mg)
HPMC/Etil selulosa (%)
Asam stearat (%)
Aerosil (%)
Avicel (%)
Laktosa (mg)
10
1
2
20
25

160

FC

b.

Penentuan Profil Laju Disolusi Tablet Lepas Lambat Asetosal

Ke dalam bejana disolusi dimasukkan air suling 1000 mL dengan suhu 37oC + 0,5.
Satu tablet lepas lambat asam asetilsalisilat dimasukkan dalam bejana disolusi
dengan alat sayap pengaduk, kemudian diputar dengan kecepatan 30 rpm selama 6
jam, sampel diambil pada rentang waktu 5, 10, 15, 30, 45, 60, 75, 90, 105, 120,
150, 180, 210, 240, 270, 300, 330, dan 360 menit. Setiap pengambilan sampel
(10,0 mL) diganti dengan air suling sebanyak 10,0 mL. Sampel diukur
absorbansinya pada panjang gelombang titik isosbestik ( 265,0 nm) dan dihitung
persentase zat terlarut terhadap jumlah zat aktif dalam tablet. Kemudian hasil uji
disolusi dari masingmasing formula dibandingkan berdasarkan kesesuaian
persentase zat aktif terlarut pada waktu tertentu dengan persyaratan USP 26.

c.

Evaluasi Data

Dibuat profil disolusi yang menggambarkan hubungan jumlah obat yang terdisolusi
sebagai fungsi waktu setelah dikoreksi karena adanya pengurangan kadar larutan
oleh sampel yang diambil.

BAB V
HASIL PERCOBAAN DAN PERHITUNGAN

V. 1. Hasil Percobaan
Penentuan gelombang isostestik antara asal salisilat dan asetosal
Asam salisilat
Timbang 100 mg as. Salisilat diencerkan dengan aquadest
Add 100 mL

(1000 ppm)
Pipet 1 mL
Add aquadest 10 mL

10

x1000 =100 ppm

100 mL

Ukur spektro
Titik isobestik=264,9 nm

Asetosal
Timbang 100 mg asetosal diencerkan dengan aquadest add 100 mL

(1000 ppm)
Pipet 1 mL
Add aquadest 10 mL

(100 ppm)

Ukur spektro
(titik isobestik 264,9 nm)
Pembuatan kurva baku pada panjang gelombang isobestik
100 mg asam asetil salisilat diencerkan dengan aquadest add 100 mL

(1000 ppm)

80 ppm

100 ppm

4 add 50

120 ppm

5 add 50

140 ppm

6 add 50

7 add 50

Konsentrasi (ppm) Serapan (A)


80

0,312

100

0,381

120

0,449

140

0,545

160

0,618

Penentuan profil laju disolusi tablet lepas lambat Asetosal


Media disolusi

: 1000 mL air suling

Suhu

: 370C 0,5

Kecepatan

: 30 rpm

t disolusi

: 6 jam

isostestik

: 264,9 nm

160 ppm

8 add 50

dilakukan secara duplo (A&B)

Data Percobaan Formula 1


waktu (menit)

TABLET A

TABLET B

Absorban

%Q

Q Rata-Rata

(%)
Absorban

%Q

0,0287

4,69 %

0,0222

3,66 %

4,175

10

0,0254

4,19 %

0,0193

3,21 %

3,7

15

0,0271

4,46 %

0,0270

4,44 %

4,45

30

0,0337

5,52 %

0,0338

5,53 %

5,525

45

0,0446

7,27 %

0,0580

9,42 %

8,345

60

0,0543

8,84 %

0,0543

8,85 %

8,845

75

0,0594

9,66 %

0,0630

10,24 %

9,95

90

0,0695

11,28 %

0,0684

11,11 %

11,195

105

0,0782

12,69 %

0,0760

12,33 %

12,51

120

0,0797

12,93 %

0,0853

13,83 %

13,38

150

0,0863

13,99 %

0,0945

15,31 %

14,65

180

0,1028

16,64 %

0,1115

18,04 %

17,34

210

0,1150

18,61 %

0,1226

19,83 %

19,22

240

0,1265

20,46 %

0,1353

21.88 %

21,17

270

0,1343

21,72 %

0,1378

22,29 %

22,005

300

0,1476

23,86 %

0,1460

23,60 %

23,73

330

0,1506

24,35 %

0,1553

25,09 %

24,72

360

0,1575

25,46 %

0,1635

26,42 %

25,94

v Tidak perlu dilakukan pengenceran karena tidak pada max sehingga hasil
disolusi langsung diukur serapannya.
Profil Perbandingan % Q pada ke empat formulaWaktu
(menit)

Rata-rata Q (%)

F1

F2

F3

4,175 12,17 11,245

12,595

10

3,7

9,63

116,625

5,665

15

4,45

4,7

123,345

5,015

30

5,525 10,39 14,035

7,3

45

8,345 13,02 15,595

16,615

60

8,845 14,26 16,345

32,745

75

9,95

90

11,195

105

12,51 18,505

20,195

9,46

120

13,38 19,545

22,505

10,385

150

14,65 21,585

24,17 15,87

180

17,34 24,305

26,885

210

19,22 26,615

27,6

240

21,17 28,74 30,76 67,22

270

22,005

300

23,73 31,715

330

24,72 33,37 34,475

32,99

360

25,94 35,46 35,665

31,8

F4

15,525

16,745

16,945

7,045

17,726

19,15

21,61

29,83 32,49 35,888


32,64 41,155

7,585

v Grafik Profil Perbandingan % Q terlampir pada lampiran

BAB VI
PEMBAHASAN DAN KESIMPULAN

VI.1 Pembahasan
Pada percobaan pembuatan tablet lepas lambat digunakan zat aktif Asam asetil
salisilat (asetosal). Asetosal memiliki waktu paruh (t1/2) yang sangat singkat sekitar
12 menit. Selain itu jika asetosal diberikan secara terus menerus maka akan
meningkatkan resiko mengiritasi lambung. Sehingga untuk menghindari hal-hal
tersebut asetosal dibuat dalam sediaan tablet lepas lambat. Pada percobaan ini
asetosal dibuat dengan menggunakan matrik hidroksipropil metil selulosa (HPMC).
Formula dibuat dengan 4 variasi perbandingan untuk dapat mengetahui pengaruh
HPMC terhadap disolusi tablet asetosal. Perbandingan HPMC untuk masing-masing
formula F1, F2, F3 dan F4 adalah 5%, 7%, 9% dan 10%.
Uji laju disolusi tablet asetosal lepas lambat dilakukan selama 6 jam. Perbedaan
sangat terlihat mencolok sekali pada masing-masing ke 4 varian. Berdasarkan data
dari USP 27 tahun 2004 ditentukan persyaratan % Q yang terdisolusi pada masingmasing waktu adalah sebagai berikut:Waktu (jam) Jumlah terdisolusi (%)
1

15 40

25 60

35 75

Tidak kurang dari 70%

Berdasarkan persyaratan tersebut pada waktu 1 jam, F1 dan F2 tidak memenuhi


persyaratan karena asetosal yang terlarut masih dibawah persyaratan yang
ditentukan. F1 8,845 % dan F2 14,26 %. Formula 3 dan 4 memenuhi persyaratan
USP karena pada waktu 1 jam terlarut Formula 3 dan 4 masih dalam dalam rentang
persyaratan yang ditentukan yaitu F3 16,345 % dan F4 32,745 %.
Pada waktu 2 jam disolusi tablet untuk Formula 1, 2, 3 dan 4 tidak memenuhi
persyaratan yang ditentukan. Kadar asetosal yang terlarut (%Q) untuk masingmasing formula berturut-turut adalah F1 13,38 %; F2 19,545 %; F3 22,505 %; dan
F4 10,385 %.

Setelah 4 jam disolusi didapatkan informasi bahwa hanya Formula 4 yang


memenuhi persyaratan yaitu 67,22%, sedangkan F1, F2 dan F3 tidak memenuhi
persyaratan yaitu F1 21,17 %; F2 28,74 %; dan F3 30,76 %.
Dari hasil pengujian tablet lepas lambat asetosal dapat diketahui peranan HPMC
dalam mengendalikan pelepasan asetosal terbukti dengan perbedaan konsentrasi
zat terdisolusi pada setiap formula dengan konsentrasi HPMC yang berbeda.

TABLET LEPAS LAMBAT


I.

DEFINISI

Sistem lepas lambat adalah setiap modifikasi obat atau sediaan obat yang
memperpanjang aktivitas terapetik dari obat (Sumber: Lachman-Tablets, vol. 3,
150).
Tablet lepas lambat adalah sediaan tablet yang dirancang untuk memberikan
aktivitas terapetik diperlama dengan cara pelepasan obat secara terus-menerus
selama periode tertentu dalam sekali pemberian (Sumber: Powerpoint kuliah DR.
Heny R., Phd.).
Tablet lepas lambat adalah tablet yang dibuat sedemikian rupa sehingga zat aktif
akan tersedia dalam jangka waktu tertentu setelah obat diberikan. Istilah lepas
lambat digunakan untuk tujuan farmakope dan persyaratan pelepasan obat
dijelaskan dalam masing-masing monografi (Sumber: FI. IV, 6).

II.

KEUNTUNGAN dan KERUGIAN

Keuntungan yang dimiliki tablet lepas lambat, antara lain:


1.

Frekuensi pemberian obat untuk mendapatkan efek tertentu berkurang

2.

Efek terapetik yang diperoleh lebih lama

3.

Lebih disukai dibanding sediaan konvensional karena lebih efisien

4. Efek merugikan dari obat dapat ditekan karena berkurangnya frekuensi


pemberian obat (tidak ada fluktuasi kadar obat dalam darah)
Kerugian yang dimiliki tablet lepas lambat, antara lain:
1.

Biaya produksi lebih tinggi sehingga harga obat lebih mahal

2. Kemungkinan terjadinya keracunan obat lebih besar dibandingkan sediaan


konvensional. Hal ini disebabkan karena absorpsi obat yang diperlama kadangkadang diikuti dengan eliminasi obat diperlambat.
3. Kemungkinan zat aktif gagal dilepaskan pada kondisi yang diinginkan sehingga
mengakibatkan kelebihan dosis untuk waktu yang lama dan efek toksik bahan obat
yang sukar diberi antidotum (penawar racun), maka konsentrasi toksik dari obat
dapat terlampaui.

4. pelepasan tidak pada tempatnya dan sangat berbahaya terutama bila obat
sangat aktif dan selanjutnya terjadi keadaan kurang dosis.
5. Adanya pengulangan dan keteraturan farmakologi tergantung pada pengosongan
isi lambung, sering terjadi perubahan skema pelepasan zat aktif, bila obat tidak
seluruhnya ditelan, melainkan dipecah, digerus, dikunyah dengan resiko terjadi over
dosis,
6. Ukuran tablet kemungkinan lebih besar. Hal ini menyulitkan terutama untuk
pasien yang tidak dapat menelan obat
(Sumber: Powerpoint kuliah DR. Heny R., Phd.)

III.

ASPEK-ASPEK PEMBUATAN

Beberapa aspek yang harus dikaji dalam pembuatan tablet lepas lambat antara
lain:
a. Aspek farmakodinamik
Tujuan utama pengembangan sediaan lepas lambat adalah untuk mempertahankan
konsentrasi zat aktif dalam darah pada konsentrasi efektif.
b. Aspek biofarmasi
Informasi sifat biofarmasi zat aktif merupakan hal penting dalam pengembangan
sediaan lepas lambat. Aspek biofarmasi meliputi:

Lokasi utama di mana obat diabsorpsi,

Kecepatan absorpsi,

Waktu paruh eliminasi obat,


Apakah absorpsi non-linier dikarenakan penjenuhan absorpsi obat, first pass
effects, atau yang lain

Apakah eliminasi yang tidak linier disebabkan penjenuhan metabolisme,


Inaktivasi atau metabolisme obat dalam tubuh
(Sumber: Powerpoint kuliah DR. Heny R., Phd.)

IV.

MEKANISME LEPAS LAMBAT

(Sumber: Lachman-Tablets, vol. 3, 157-162)


Pelepasan obat yang diperlukan harus mengikuti pelepasan orde 0, yaitu kecepatan
pelepasan obat tidak dipengaruhi oleh konsentrasi obat.
Rumus pelepasan obat orde 0:

Kadang-kadang sulit mencapai pelepasan obat konstan, dan seringnya yang terjadi
adalah pelepasan lambat orde 1.
Untuk memperoleh orde 0, dilakukan modifikasi sediaan dan beberapa mekanisme
pelepasan:
1.

Difusi

Beberapa produk tablet lepas lambat bekerja dengan mekanisme difusi yang
merupakan proses perpindahan molekul dari larutan dengan konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah. Hukum pertama Fick tentang difusi menyatakan bahwa difusi
obat melintas membran sebanding dengan penurunan konsentrasi di luar membran
difusi.

Keterangan:
J

= fluks obat (jumlah/ luas-waktu)

D = koefisien difusi (luas/waktu)


C = konsentrasi
X = jarak
Jika polimer tidak larut air, maka kelarutan obat dalam membran merupakan faktor
penting yang mendorong terjadinya difusi melintas membran.Sedangkan jika
membran merupakan polimer larut air, sebagian polimer akan terlarut membentuk
saluran-saluran yang merupakan panjang lintasan difusi yang bersifat konstan.

2.

Disolusi

Obat disalut dalam bahan polimerik dan kecepatan disolusi polimer menentukan
kecepatan pelepasan obat. Kontrol disolusi dari pelepasan obat ialah melalui
ketebalan barier membran salut dan kecepatan disolusi.
3.

Osmosis

Penempatan membran semipermeabel di sekeliling tablet, partikel atau larutan


obat, yang menyebabkan terbentuknya perbedaan tekanan osmotik antara bagian
dalam dan bagian luar tablet sehingga memompa larutan obat keluar dari tablet
melalui celah kecil dan memberikan sifat pelepasan obat yang diperlama.
Faktor penentu mekanisme ini adalah kemampuan larutan obat menarik air melalui
membran semipermeabel dengan cara osmosis. Karena larutan obat terkandung
dalam sistem yang cukup rigid, larutan obat tersebut dapat dipompa keluar dari
tablet atau partikel pada tetapan kecepatan yang terkendali. Jika lubang yang
diciptakan pada permukaan salut kecil maka aktivitas obat dapat dipertahankan
selama waktu tertentu.

V.

JENIS SEDIAAN LEPAS LAMBAT

(Sumber: Lachman-Tablets, vol. 1, 181-190, Powerpoint kuliah DR. Heny R., Phd.,
others information about prolonged release or sustained release dosage form are
available at: www. rohmhaas. com)
1.

Tablet matriks

Sistem matriks telah lama dipergunakan untuk membuat sediaan lepas lambat
karena sistem matriks dipertimbangkan sebagai metode yang sederhana dan relatif
tidak mahal. (Sumber: Wicaksono, Y., E. Hendrardi, Radjaram, A., Seminar Nasional
MIPA 2005, 24-26 November 2005)
Dalam sistem matriks, obat dicampur dengan polimer dalam keadaan kering.
Kecepatan pelepasan obat ditentukan oleh jenis dan konsentrasi polimer yang
digunakan. Konsep sistem matriks terutama sesuai untuk obat-obat dosis rendah.
Eksipien bersifat hidrofilik maupun hidrofobik dapat ditambahkan untuk
mempengaruhi profil pelepasan obat melalui cara difusi atau erosi. Contoh polimer
yang digunakan dalam sistem matriks misalnya Eudragit. Konsentrasi yang biasa
digunakan adalah antara 10-50%.
Zat aktif yang mudah larut lebih sulit dibuat dalam bentuk tablet sustained release
matrics dibandingkan zat aktif yang sedikit larut karena prinsip sistem lepas lambat
secara luas adalah efek tahan air.
Tablet sistem matriks dapat dibuat dengan:

Kempa langsung, dengan Eudragit S 100 dan Eudragit RS PO.

Granulasi basah melalui dispesi polimer dalam air. Polimer yang dapat digunakan
misalnya Eudragit L 30 D-55 dan Eudragit NE 30 D.
Metode granulasi basah digunakan untuk zat aktif dosis tinggi dan yang larut cepat
dalam air. Pelepasan zat aktif dari tablet matriks dalam cairan lambung mula-mula
terjadi melalui difusi melalui pori, dimana secara bertahap tablet ter-erosi (terkikis)
dan selanjutnya hancur secara perlahan-lahan. Faktor yang mempengaruhi
kecepatan pelepasan obat adalah ukuran partikel, dosis, kelarutan obat, jenis dan
konsentrasi matriks, porositas dan perilaku penghancuran tablet.
Beberapa matriks yang digunakan untuk tablet matriksKarakteristik
Matriks

Bahan

Inert dan tidak larut


Etilselulosa

Polietilen, PVC, Kopolimer metil akrilat-metakrilat,

Erosif dan tidak larut

Lemak karnauba

- Stearilalkohol, as.stearat, PEG lemak kastor


- PEG monostearat trigliserida
Hidrofilik
Metilselulosa, HEC, HPMC, Na-CMC,Karboksipolimetilen,
Galaktomanosa, Na-alginat

2.

Sediaan partikel ganda (multiparticulate dosage form)

Yaitu sediaan lepas lambat yang bahan aktifnya terbagi ke dalam banyak satuan
individu, yang disebut sub-unit. Sepanjang obat yang tidak terlarut masih ada
dalam inti, maka pelepasan obat akan berlangsung pada kecepatan tetap,
mengikuti reaksi orde 0. Setelah seluruh obat terlarut, maka kecepatan pelepasan
berubah ke orde 1.
Keuntungan sediaan multipartikel adalah dapat mempertahankan ketersediaan
hayati dan pelepasan obat sesuai yang diinginkan (mikroenkapsulasi merupakan
proses di mana partikelpartikel kecil atau tetesan-tetesan diselimuti oleh salut
homogen (mikrokapsul) atau dengan matrik polimer (mikrofer).
Bahan penyalut yang digunakan misalnya polimer golongan metakrilat: Eudragit
NE 30 D, Eudragit RL 30 D, Eudragit RS 30 D.
Persyaratan khusus tablet lepas lambat sistem multipartikel

Memerlukan pengaturan yang teliti tentang parameter fisikokimia dari bahan inti,
formulasi salut dan eksipien untuk tablet

Salut film harus cukup elastis terhadap gaya kompresi

Eksipien yang ditambahkan untuk pencetakan tablet harus punya kompresibilitas


tinggi dan harus mampu mengisi antar-ruang antara partikel-partikel dalam masa
tablet dan mempertahankan bagian-bagian yang menyebabkan penggabungan
salut

VI.

BAHAN POLIMER

Beberapa polimer untuk tablet lepas lambat yang umum digunakan adalah sebagai
berikut:
1.

Eudragit

Sinonim
: Polymeric methacrylates, Eastacryl 30D; Kollicoat MAE 30 D; Kollicoat
MAE 30 DP.
Kegunaan :

Pembentuk film; pengikat dan pelincir dalam tablet.

Aplikasi
: Eudragit secara umum digunakan dalam formulasi tablet sebagai
bahan salut film. Karakteristik kelarutan dan salut film yang terbentuk tergantung
dari jenis polimer yang digunakan. penggunaan Eudragit kering untuk mengontrol
pelepasan zat aktif pada tablet matriks adalah sekitar 5-20%. Sedangkan pada
metode kempa langsung sekitar 10-50%.
Jenis
: -Eudragit E digunakan untuk membentuk film tipis; larut dalam
cairan lambung pH < 5. Jenis polimer lain memiliki kelarutan pada pH berbeda
seperti Eudragit L 100 larut > pH 6, Eudragit S 100 larut > pH 7.
-Eudragit RL, RS, dan NE 30 D digunakan untuk salut film sediaan
lepas lambat tidak larut air. Eudragit RL lebih permeabel dibanding Eudragit RS, dan
pencampuran keduanya menghasilkan permeabilitas berbeda.
-Eudragit L 30 D-55 digunakan dalam salut film enterik untuk sediaan
tablet. Salut ini resisten terhadap cairan lambung tetapi larut > pH 5,5. Eudragit L
100-55 merupakan pilihan lain dari Eudragit L 30 D-55. umumnya berbentuk serbuk
tabur.
-Eastacryl 30D, Kollicoat MAE 30 D, dan Kollicoat MAE 30 DP,
merupakan dispersi aqueous dari methacrylic acid atau ethyl acrylate copolymers.
Juga dapat digunakan dalam salut enterik untuk sediaan tablet.

(Sumber: HOPE, 2nd ed., 362-370,HOPE 5th ed 553, others information available at:
www.roehm.com)
2.

Carnauba Wax

Sinonim

: Brazil wax; caranda wax.

Kegunaan

: Penyalut

Aplikasi : Carnauba wax (10-50% w/w) digunakan sebagai bahan tunggal atau
kombinasi dengan HPC, alginat atau gelatin-pektin, Eudragit, dan steril-alkohol
dalam formulasi sediaan padat lepas lambat.
(Sumber: HOPE, 2nd ed., 352, HOPE 5th ed 809)
3.

Hydroxypropylcellulose

Sinonim : Cellulose, hydroxypropyl ether; Methocel; HPC; oxypropylatecellulose.


Kegunaan : Penyalut; emulsifier; stabilizing agent; suspending agent; pengikat
dalam tablet; peningkat viskositas.
Aplikasi
: Konsentrasi hydroxypropyl cellulose 2-6% w/w digunakan sebagai
pengikat dalam pembuatan tablet metode granulasi basah atau granulasi kering
atau metode kempa langsung. Konsentrasi hydroxypropyl cellulose 15-35% w/w
digunakan untuk pembuatan tablet lepas lambat.
(Sumber: HOPE, 2nd ed., 223, HOPE 5th ed 333, 336, 342,348, 352)

Mekanisme Pelepasan obat Terkendali (controlled drug release) Menggunakan


polimer
1.

Delayed Dissolution

Polimer bekerja dengan menunda disolusi obat sehingga memperlambat kontak


obat dengan lingkungan berair. Mekanisme ini diperoleh dengan menggunakan
polimer penyalut atau matrix yang terlarut pada laju yang lebih rendah daripada
obat

2.

Diffusion Controlled

Difusi molekul obat di dalam larutan air dihambat oleh matriks polimer tidak larut
(insoluble polymer matrix).Mekanisme ini terjadi pada sistem yang menggunakan

polimer sambung-silang (crosslinked) hidrogel sebagai penghalang difusi.


Penghalang difusi menurun dengan mengembangnya hidrogel terbentuk
kekosongan dalam struktur gel.
Hidrogel ini memiliki keuntungan bioadhesive dalam sal.cerna pada periode
tertentu.

3.

Drug Solution Flow Control

Perangkat pada sistem ini dimana pengendalian aliran larutan obat menggunakan
potensial osmotik gradien yang melewati suatu polimer penghalang yang bersifat
semipermeable yang membangkitkan tekanan. Tekanan diperoleh dari aliran larutan
obat keluar dari perangkat sistem.Kecepatan aliran dikendalikan dengan adanya
pori-pori dalam skala mikrometer.

VII.

FAKTOR-FAKTOR PENGEMBANGAN SEDIAAN

(Sumber: Lachman-Tablets, vol. 3, 156-157)


Pertimbangan sifat merugikan dari obat yang mempengaruhi sediaan lepas lambat.
a. Sifat fisikokimia
Ukuran dosis
Jika dosis oral > 0,5 g, maka obat tersebut bukan merupakan kandidat yang baik
untuk dibuat sediaan lepas lambat karena ukuran produk akan sangat besar.
Kelarutan dalam air
Obat yang sangat mudah larut dalam air sangat tidak sesuai untuk sediaan lepas
lambat sedangkan obat yang sangat sukar larut air akan sulit dimasukkan ke dalam
sistem lepas lambat. Batas bawah kelarutan obat adalah 0,1 mg/ mL.
Koefisien partisi
Obat yang sangat lipofilik atau hidrofilik (koefisien partisinya sangat ekstrim) akan
memberikan fluks ke dalam jaringan sangat lambat atau sangat cepat (selanjutnya
terjadi penumpukan obat dalam jaringan) merupakan golongan obat yang tidak
sesuai untuk lepas lambat.
Stabilitas obat

Obat yang tidak stabil dalam GI akan menyulitkan jika dibuat lepas lambat karena
obat tersebut harus berada dalam GI pada waktu cukup lama.
b.

Sifat biologi

Absorpsi
Obat yang absorpsinya lambat atau diabsorpsi dengan kecepatan absorpsi yang
bervariasi merupakan kandidat yang kurang baik untuk sediaan lepas lambat. Untuk
sediaan lepas lambat oral, batas bawah tetapan kecepatan reaksi adalah 0,25/ jam
dengan anggapan waktu transit dalam GI 10-12 jam).
Distribusi
Obat dengan volume distribusi nyata tinggi, yang selanjutnya mempengaruhi
kecepatan eliminasi obat, merupakan kandidat yang kurang baik untuk sediaan
lepas lambat.
Metabolisme
Sistem lepas lambat yang dimetabolisme selama kecepatan metabolisme
merupakan golongan yang tidak sesuai untuk sediaan lepas lambat.
Lama aksi
Waktu paruh biologi (lama aksi obat) merupakan faktor utama yang harus
dipertimbangkan jika akan merancang sediaan lepas lambat. Obat dengan waktu
paruh panjang (>12 jam) dan dosis efektif besar atau waktu paruh pendek (<1 jam)
tidak sesuai untuk sediaan lepas lambat.
Terapetik
Obat dengan rentang terapetik pendek memerlukan kontrol dosis dalam darah tepat
tidak sesuai untuk sediaan lepas lambat, karena berisiko tinggi terjadinya efek
toksik.

VIII. PERHITUNGAN DOSIS


Secara umum dosis dalam sediaan lepas lambat terdiri dari :

IX.

CONTOH FORMULA

Formulasi per tablet

Ferrous sulfat
Laktosa

: 325 mg
: 70 mg

Methocel E 15 LV
Larutan HPC 15% dalam etanol 95%
Mg-stearat
Cab-O-Sil

: 100 mg
: 35 mg
: 15 mg
: 2 mg

Pembuatan
Campurkan besi (II) sulfat dan laktosa kemudian granulasi dengan larutan HPC dan
keringkan pada suhu 120-130oC; lakukan granulasi beberapa kali untuk
memperoleh dosis 25 mg HPC per tablet. Tambahkan Cab-O-Sil dan aduk selama 5
menit kemudian tambahkan pula Mg-stearat dan aduk selama 2 menit. Kempa
dengan punch 13/32 inci kemudian salut dengan larutan ftalat selulosa asetat
dalam alkohol dan etil asetat (Sumber: Lachman-Tablets, vol. 1, 183).

X.

EVALUASI

Evaluasi tablet lepas lambat tidak diatur dalam Farmakope Indonesia. Parameter
yang dievaluasi mengacu pada evaluasi tablet konvensional. (lihat Teori Sediaan
TABLET: Tablet Umum)

IV.

Daftar Pustaka

1. Lieberman, H.A., L. Lachman and J. B. Schwartz, Pharmaceutical Dosage Forms:


Tablet, Vol. 1, 2nd edition, Marcel Dekker, Inc., New York, 1989, 181-190.
2. Lieberman, H.A., L. Lachman and J. B. Schwartz (Editor), Pharmaceutical Dosage
Forms: Tablet, Vol. 3, 2nd edition, Marcel Dekker, Inc., New York, 1989, 150, 156162.
3.

Powerpoint Tablet Lepas Lambat Dr. Heni Rachmawati, Phd.

4. Wade, Ainley and Paul J. Weller (Editor), The Handbook of Pharmaceutical


Excipients 2nd edition, The Pharmaceutical Press, London, 1994, 223, 352, 362-370.
5. DepKes RI-DirJen POM, Farmakope Indonesia, Edisi IV, DepKes, Jakarta, 1995, 6.
6.
7.

www.rohmhaas.com
www.rohmh.com

http://sabdawahabsamanery.blogspot.com/2014/10/tablet-lepas-lambat.html