Anda di halaman 1dari 42

BAB

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

Seperti asset dan kewajiban, pembahasan pendapatan akan dibahas lebih dalam
karena sifatnya sebagai penyebab perubahan ekuitas, masalah pengertian dan
pengakuan pendapatan menjadi masalah kritis dalam pembahasan ini.
B.

Perumusan Masalah

Untuk memudahkan pembaca memahami isi makalah, penulis mencoba


mempersempit uraian-uraian dalam makalah ini menjadi beberapa garis besar
yang pada intinya membahas:
A.

Pengertian pendapatan.

B.

Karakteristik pendapatan.

C.

Kriteria pengakuan pendapatan.

D. Pengukuran dan pengakuan


keuangan no. 23.
C.

pendapatan

menurut

standar

akuntansi

Tujuan Penulisan

Secara umum, makalah ini bertujuan untuk memberikan sebuah pemaparan


tentang pengertian pendapatan, apa saja karakteristik pendapatan, beserta
kriteria pengakuan pendapatan, dan bagaimana pengukuran dan pengakuan
pendapatan menurut standar akuntansi keuangan no. 23.

BAB II
PEMBAHASAN
A.

Pengertian Pendapatan

Akuntansi merupakan kegiatan jasa yang berfungsi menyediakan informasi


keuangan suatu badan usaha tertentu. Informasi ini disajikan dalam laporan
keuangan yang terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan laba ditahan,
laporan perubahan posisi keuangan serta catatan atas laporan keuangan.
Neraca menunjukkan posisi keuangan suatu perusahaan pada suatu waktu
tertentu, dimana informasi yang tersedia berupa informasi harta, kewajiban serta
modal. Perhitungan laba rugi menunjukkan pendapatan yang diperoleh, biaya
yang dikeluarkan serta hasil usaha yang diperoleh dalam suatu periode yang
terakhir pada tanggal yang tertera di neraca. Laporan perubahan posisi
keuangan menyajikan kegiatan pembiayaan dan investasi perusahaan.
Dalam beberapa dasawarsa belakangan ini, perhatian pada perhitungan laba
rugi semakin dirasakan manfaatnya. Dengan adanya informasi mengenai
pendapatan, maka dapat membandingkan antara modal yang tertanam dengan
penghasilan sebagai alat untuk mengukur kinerja efisiensi perusahaan dan dapat
memprediksi distribusi dividen di neraca yang akan datang.
Pendapatan sebagai salah satu elemen penentuan laba rugi suatu perusahaan
belum mempunyai pengertian yang seragam. Hal ini disebabkan pendapatan
biasanya dibahas dalam hubungannya dengan pengukuran dan waktu
pengakuan pendapatan itu sendiri.
Secara garis besar konsep pendapatan dapat ditinjau dua segi, yaitu :
1. Menurut ilmu ekonomi
2. Menurut ilmu akuntansi

1.

Menurut ilmu ekonomi

Pendapatan menurut ilmu ekonomi merupakan nilai maksimum yang dapat


dikonsumsi oleh seseorang dalam suatu periode dengan mengharapkan keadaan
yang sama pada akhir periode seperti keadaan semula. Pengertian tersebut
menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama
satu periode. Dengan kata lain, pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal
periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan
hanya yang dikonsumsi.
Definisi pendapatan menurut ilmu ekonomi menutup kemungkinan perubahan
lebih dari total harta kekayaan badan usaha pada awal periode, dan
menekankan pada jumlah nilai statis pada akhir periode. Secara garis besar
pendapatan adalah jumlah harta kekayaan awal periode ditambah perubahan
penilaian yang bukan diakibatkan perubahan modal dan hutang.

2.

Menurut ilmu akuntansi

Banyak konsep pendapatan didifinisikan dari berbagai literatur akuntansi dan


teori akuntansi. Namun pada dasarnya konsep pendapatan dapat ditelusuri dari
dua sudut pandang, yaitu :
Pandangan yang menekankan pada pertumbuhan atau peningkatan jumlah
aktiva yang timbul sebagai hasil dari kegiatan operasional perusahaan.
Pendekatan yang memusatkan perhatian kepada arus masuk atau inflow adalah
Revenue is an inflow of assets in the form of cash, receivables of other property
for customer or client, which results from sales of merchandises or rendering of
services, or from investment for instance, interest may be carned on bonds or
saving deposit. Pandangan yang menekankan kepada penciptaan barang dan
jasa oleh perusahaan serta penyerahan barang dan jasa atau outflow.

Vernon Kam menyatakan Revenue is the gross increase in the value of asset and
capital and that the increase eventually pertain to cash.
For the primary operations of the business, the cash inflow is created mainly by
the production and sale of the output of the firm.
Kam berpendapat, bahwa pendapatan adalah kenaikan kotor dalam jumlah atau
nilai aktiva dan modal, dan biasanya kenaikan tersebut berwujud aliran kas
masuk ke unit usaha. Aliran kas masuk ini terjadi terutama akibat penciptaan
melalui produksi dan penjualan output perusahaan.
Konsep dasar pendapatan pada dasarnya adalah suatu proses mengenai arus
penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan selama jangka waktu tertentu. The
basic concept of revenue is that it is a flow process the creation of goods and
services by an enterprises during specific internal of time. Konsep pendapatan
sering dilihat melalui pengaruhnya terhadap ekuitas pemilik. Berbagai definisi
yang timbul sering merupakan kombinasi konsep-konsep tersebut.
FASB SFAC No.6 memberikan pemahaman pendapatan adalah Revenues are
inflow or other enhancemant of assets of an entity or settlements of its liability
(or combination of both) from delivery or producing goods, rendering, services,
or other activities that constitute the entitys on going major or central
operations.
Definisi di atas, menekankan pengertian pendapatan pada arus masuk
penambahan lain atas aktiva suatu entitas atau penyelesaian kewajibankewajibannya atau kombinasi keduanya yang berasal dari penyerahan atau
produksi barang, pemberian jasa atau kegiatan-kegiatan lain yang merupakan
operasi inti.
Dari kutipan di atas, dapat dilihat bahwa ada dua penggolongan mengenai
pendapatan, yaitu penggolongan secara luas dan secara sempit. Pendapatan
secara luas menitikberatkan kepada keseluruhan kegiatan perusahaan yang
menghasilkan kenaikan aktiva atau berkurangnya hutang dan dapat merubah
modal pemiliknya. Keseluruhan kegiatan perusahaan itu terdiri dari kegiatan
utama dan kegiatan lain di luar kegiatan utama.

Pemfokusan kegiatan perusahaan terhadap kegiatan utama yang berakibat


kepada kenaikan aktiva atau pengurangan hutang dan yang dapat merubah
modal tersebut pendapatan dalam arti sempit.

B.

KARAKTERISTIK PENDAPATAN

Pendapatan
diakibatkan
oleh
kegiatan-kegiatan
perusahaan
dalam
memanfaatkan faktor-faktor produksi untuk mempertahankan diri dan
pertumbuhan. Seluruh kegiatan perusahaan yang menimbulkan pendapatan
secara keseluruhan disebur earning process. Secara garis besar earning process
menimbulkan dua akibat yaitu pengaruh positif atau pendapatan dan
keuntungan dan pengaruh negatif atau beban dan kerugian. The activity of
earning process creates two effect, possitive stream (revenues and gains) and
negative stream (expenses and loses).
Selisih dari keduanya nantinya menjadi laba atau income dan rugi atau less.
Pendapatan umumnya digolongkan atas pendapatan yang berasal dari kegiatan
normal perusahaan dan pendapatan yang bukan berasal dari kegiatan normal
perusahaan.
Pendapatan dari kegiatan normal perusahaan biasanya diperoleh dari hasil
penjualan barang ataupun jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama
perusahaan. Pendapatan yang bukan berasal dari kegiatan normal perusahaan
adalah hasil di luar kegiatan utama perusahaan yang sering disebut hasil non
operasi. Pendapatan non operasi biasanya dimasukkan ke dalam pendapatan
lain-lain, misalnya pendapatan bunga dan deviden.
Ada beberapa karakteristik tertentu dari pendapatan yang menentukan atau
membatasi bahwa sejumlah rupiah yang masuk ke perusahaan merupakan
pendapatan yang berasal dari operasi perusahaan. Karakteristik ini dapat dilihat
berdasarkan sumber pendapatan, produk dan kegiatan utama perusahaan dan
jumlah rupiah pendapatan serta proses penandingan.
1. Sumber pendapatan

Jumlah rupiah perusahaan bertambah melalui berbagai cara tetapi tidak semua
cara tersebut mencerminkan pendapatan. Tambahan jumlah rupiah aktiva
perusahaan dapat berasal dari transaksi modal; laba dari penjualan aktiva yang
bukan barang dagangan seperti aktiva tetap; surat berharga; ataupun penjualan
anak atau cabang perusahaan; hadiah, sumbangan atau penemuan; revaluasi
aktiva tetap; dan penjualan produk perusahaan. Dari semua transaksi di atas,
hanya transaksi atas penjualan produk saja yang dapat dianggp sebagai sumber
utama pendapatan walaupun laba atau rugi mungkin timbul dalam hubungannya
dengan penjualan aktiva selain produk utama perusahaan.

2. Produk dan kegiatan utama perusahaan

Produk perusahaan mungkin berupa barang ataupun dalam bentuk jasa.


Perusahaan tertentu mungkin sekali menghasilkan berbagai macam produk atau
baik berupa barang atau jasa atau keduanya yang sangat berlainan jenis
maupun arti pentingnya bagi perusahaan.
Terkadang, produk yang dihasilkan secara insidental bila dihubungkan dengan
kegiatan utama perusahaan atau yang timbul tidak tetap, sering dipandang
sebagai elemen pendapatan non operasi, maka pemberian pembatasan tentang
epndapatan sangat perlu, untuk itu produk perusahaan harus diartikan meliputi
seluruh jenis barang atau jasa yang disediakan atau diserahkan kepada
konsumen tanpa memandang jumlah rupiah relatif tiap jenis produk tersebut
atau sering tidaknya produk tersebut atau sering tidaknya produk tersebut
dihasilkan.

3. Jumlah rupiah pendapatan dan proses penandingan


Pendapatan merupakan jumlah rupiah dari harga jual per satuan kali kuantitas
terjual. Perusahaan umumnya akan mengharapkan terjadinya laba yaitu jumlah
rupiah pendapatan lebih besar dari jumlah biaya yang dibebankan. Laba atau
rugi yang terjadi baru akan diketahui setelah pendapatan dan beban
dibandingkan. Setelah biaya yang dibebankan secara layak dibandingkan
dengan pendapatan maka tampaklah jumlah rupiah laba atau pendapatan neto.

C.

KRITERIA PENGAKUAN PENDAPATAN

Pengakuan sebagai pencatatan suatu item dalam perkiraan-perkiraan dan


laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan, beban, keuntungan
dan kerugian. Pengakuan itu termasuk penggambaran suatu item baikd alam
kata-kata maupun dalam jumlahnya, dimana jumlah mencakup angka-angka
ringkas yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
Empat kriteria mendasar yang harus dipenuhi sebelum suatu item dapat diakui
adalah :

1. Definsi item dalam pertanyaan harus memenuhi definisi salah satu dari tujuh
unsur laporan keuangan yaitu aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban,
keuntungan dan kerugian.
2. Item tersebut harus memiliki atribut relevan yang dapat diukur secara andal,
yaitu karakteristik, sifat atau aspek yang dapat dikuantifikasi dan diukur.
3. Relevansi informasi mengenai item tersebut mampu membuat suatu
perbedaan dalam pengambilan keputusan.

4. Reliabilitas informasi mengenai item tersebut dapat digambarkan secara wajar


dapat diuji, dan netral.

Empat kriteria pengakuan di atas, diterapkan pada semua item yang akan diakui
pada laporan keuangan. Namun SFAC No.5 menyatakan persyaratan yang lebih
mengikat dalam hal pengakuan komponen laba dan pada pengakuan perubahan
lainnya dalam aktiva atau kewajiban.

Sebagai tambahan pada empat kriteria pengakuan secara umum yang telah
dijelaskan sebelumnya, pendapatan dan keuntungan umumnya diakui apabila :
1. Pendapatan dan keuntungan tersebut telah direalisasikan.
2. Pendapatan dan keuntungan tersebut telah dihasilkan karena sebagian besar
dari proses untuk menghasilkan laba telah selesai.

Pendapatan direalisasikan ketika kas diterima untuk barang dan jasa yang dijual.
Pendapatan itu dapat direalisasikan ketiga klaim atas kas (misalnya, aktiva non
kas seperti piutang usaha atau wesel tagih) diterima yang ditentukan dapat
segera dikonversikan ke dalam kas tertentu.
Kriteria ini juga dipenuhi jika produk tersebut adalah suatu komoditas, seperti
emas, dimana ada pasar publik untuk jumlah tak terhingga, dan produk tersebut
dapat dibeli dan dijual pada harga pasar yang telah diketahui.
Pendapatan dihasilkan ketika perusahaan secara mendasar menyelesaikan
semua yang harus dilakukannya agar dikatakan menerima manfaat dari
pendapatan yang terkait. Secara umum pendapatan diakui ketiga proses
menghasilkan laba diselesaikan atau sebenarnya belum diselesaikan selama
biaya-biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan proses menghasilkan laba
dapat diestimasi secara tepat.

D. PENGUKURAN DAN PENGAKUAN


AKUNTANSI KEUANGAN NO. 23.

PENDAPATAN

MENURUT

STANDAR

Kemampuan dari akuntansi memberi suatu informasi yang baik dapat dilihat dari
kemampuannya untuk memberikan konsep pengakuan pendapatan dengan
tepat sehingga membantu pemakai dalam mengambil keputusan.

Standar Akuntansi Keuangan NO.23 mendefinisikan pendapatan sebagai berikut :


Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari
aktivitas normal perusahaan selama satu periode bila arus masuk itu
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanaman
modal.
Penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pendapatan hanya terdiri dari arus
masuk bruto dari manfaat ekonomi yang diterima perusahaan itu sendiri, di luar
dari pernyataan di atas yang tidak memiliki manfaat ekonomi dalam peningkatan
ekuitas bagi perusahaan dikeluarkan dari pendapatan.
Saat menentukan pendapatan diakui dapat ditinjau dari besar kemungkiman
manfaat ekonomi masa depan akan mengalir ke perusahaan dapat diukur dan
diprediksikan dengan normal.

1. Pengukuran pendapatan

Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang
dapat diterima. Jumlah pendapatan yang timbul dari suatu transaksi biasanya
ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dengan pembeli atau pemakai
aktiva tersebut. Jumlah tersebut diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima
atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat
volume yang diperbolehkan oleh perusahaan. Pada umumnya imbalan tersebut
berbentuk kas atau setara kas dan jumlah pendapatan adalah jumlah kas atau
setara kas yang diterima atau yang dapat diterima. Namun jika terdapat
perbedaan antara nilai wajar dan jumlah nominal, maka imbalan tersebut diakui
sebagai pendapatan bunga. Nilai wajar disini dimaksudkan sebagai suatu jumlah
dimana kegiatan mungkin ditukarkan atau suatu kewajiban diselesaikan antara
pihak yang memakai dan berkeinginan untuk meakukan transaksi wajar,
kemungkinan kurang dari jumlah nominal kas yang diterima atau dapat diterima.
Barang yang dijual atau jasa yang diberikan untuk diperkirakan atau barter
dengan barang atau jasa yang tidak sama, maka pertukaran dianggap sebagai
transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Tetapi bila barang atau jasa yang
dipertukarkan untuk barang atau jasa dengan sifat dan nilai yang sama maka
pertukaran tersebut tidak dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan
pendapatan.

2. Pengakuan pendapatan

Pendapatan yang timbul dari kegiatan normal perusahaan memiliki identifikasi


tertentu. Menurut PSAK No.23 kriteria pengakuan pendapatan biasanya
diterapkan secara terpisah kepada setiap transaksi, namun dalam keadaan
tertentu adalah perlu untuk menerapkan kriteria pengakuan tersebut kepada
komponen-komponen yang dapat diidentifikasi secara terpisah dari suatu
transaksi tunggal supaya mencerminkan substansi dari transaksi tersebut.

Sebaliknya, kriteria pengakuan diterapkan pada dua atau lebih transaksi


bersama-sama bila transaksi tersebut terikat sedemikian rupa sehingga
pengaruh komersialnya tidak dapat dimengerti tanpa melihat rangkaian
transaksi tertentu secara keseluruhan.

Masalah pengukuran dan pengakuan pendapatan

a. Masalah pengukuran pendapatan

Pengukuran akuntansi haruslah diarahkan ke penyajian informasi yang relevan


untuk penggunaan yang ditetapkan. Pembatasan data yang tersedia dan ciri-ciri
tertentu dari lingkungan membatasi keakuratan dan keterandalan pengukuran.
Oleh sebab itu keterbatasan ini harus dikemukakan secara eksplisit dan
dipertimbangkan dalam pengembangan prinsip serta prosedur akuntansi, karena
kendala-kendala ini tidak dapat dibuang oleh lingkungan atau kurangnya alat
pengukur memadai.
Nilai tukar produk atau jasa sebagai hasil penjualan perusahaan merupakan
ukuran terbaik dan paling objektif bagi pendapatan. Penentuan satuan ukur
untuk pendapatan secara umum dinyatakan dengan jumlah uang atau unit
moneter. Penentuan ini menimbulkan masalah, oleh sebab itu adanya penurunan
atau kenaikan daya beli umum sepanjang waktu.
Keterbatasan pengukuran pendapatan dapat timbul karena data akuntansi
disajikan berdasarkan asumsi bahwa data itu relevan. Meramalkan pada masa
yang akan datang pada umumnya tidak pasti, maka sulit menetapkan
pengukuran yang relevan untuk tujuan ini.
Namun, ketidakmampuan untuk membuat pengukuran pendapatan yang
terandal dan atribut khusus yang dianggap relevan dapat juga disebab oleh
kurangnya teknik pengukuran yang terandal dan ketidakmampuan untuk
menemukan prosedur pengukuran pendapatan yang menjelaskan secara layak
atribut yang sedang diukur.

b. Masalah pengakuan pendapatan

Pada penjelasan sebelumnya konsep pendapatan hingga saat ini sulit


dirumuskan oleh para ahli ekonomi maupun akuntansi, hal ini disebabkan
pendapatan menyangkut prosedur tertentu, perubahan nilai tertentu dan waktu
pendapatan harus dilaporkan.
Didalam definisi pendapatan sebagai produk perusahaan dalam mengukur dan
melaporkan pendapatan masih menghadapi masalah. Suatu alternatif
pengakuan pendapatan pada waktu penyelesaian kegiatan utama ekonomi
adalah konsep pelaporan pendapatan berdasarkan kejadian kritis atau yang

paling menentukan, dengan kata lain sebagian pendapatan diakui kemudian jika
fungsi atau kegiatan ekonomi tambahan akan terjadi kemudian.
Sebaliknya bahwa nilai tambahan oleh perusahaan seharusnya dialokasikan
beberapa titik waktu, bahkan jika pertambahan nilai oleh perusahaan dilaporkan
pada satu titik waktu saja maka jumlah pendapatan yang ditunjukkan oleh
pertambahan nilai karena faktor-faktor ekonomi lainnya harus dilaporkan pada
satu titik waktu saja. Walaupun pendapatan yang ditunjukkan oleh pertambahan
nilai karena faktor-faktor lainnya sesuah pengakuan utama. Inilah konsep nilai
bersih yang dapat direalisasikan yaitu harga penjualan tunai akhir dikurangi
biaya tambahan untuk memproduksi dan menjual.
Dari berbagai istilah dan penjelasan mengenai pengakuan pendapatan yang
dijelaskan oleh para ahli dan pakar akuntansi terlihat dengan jelas bahwa hingga
saat ini belum ada kesepakatan diantara para ahli berkaitan dengan masalah
pengakuan pendapatan, hal ini mungkin saja disebabkan perbedaan geografis
dan keadaan, serta praktek-praktek yang akan dihadapi di masing-masing
daerah atau negara. Untuk itu bagi perusahan dalam menggunakan konsep
pengakuan pendapatan memilih salah satunya dalam menggunakan konsep
pengakuan pendapatan dan diharapkan diterapkan secara konsisten dalam
perusahaan.
BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan

Teori tentang pendapatan menyangkut masalah definisi (pengertian) ,


karakteristik pendapatan, pengakuan dan masalah yang berhubungan dengan
pendapatan itu sendiri. Pendapatan adalah produk perusahaan sebagai hasil dari
upaya produktif. Pendapatan di ukur dengan jumlah rupiah aset baru yang
diterima dari pelanggan.

B.

Saran

Sebagai pelajar kita tentunya harus terus mempelajari dan mencari pemecahan
masalah yang berhubungan dengan pendapatan itu sendiri, karena sampai saat
ini masih terjadi banyak silang pendapat mengenai masalah yang berhubungan
dengan pendapatan itu sendiri baik dari segi pengertian, pengakuan, dan lain
sebagainya.

http://ismail125cc.blogspot.co.id/2013/09/makalah-tentang-pendapatan.html
maret mlm

Pengertian Pendapatan

25

Thu, 06/18/2015 - 12:17 Anonymous


2.1.
Pendapatan
Pada bab ini peneliti akan membahas mengenai metode pengakuan pendapatan
tetapi sebelumnya peneliti akan menguraikan pengertian pendapatan, sumbersumber pendapatan, proses-proses pendapatan, penilaian, pengakuan, dan
pengukuran pendapatan, metode pengakuan pendapatan, serta konsep
penjualan jasa yag dilakukan.
2.1.1 Pengertian Pendapatan
Pendapatan sangat berpengaruh bagi kelangsungan hidup perusahaan, semakin
besar pendapatan yang diperoleh maka semakin besar kemampuan perusahaan
untuk membiayai segala pengeluaran dan kegiatan-kegiatan yang akan
dilakukan oleh perusahaan.
Selain itu pula pendapatan juga berpengaruh terhadap laba rugi perusahaan
yang tersaji dalam laporan laba rugi. Dan yang perlu diingat lagi, pendapatan
adalah darah kehidupan dari suatu perusahaan. Tanpa pendapatan tidak ada
laba, tanpa laba, maka tidaka ada perusahaan. Hal ini tentu saja tidak mungkin
terlepas dari pengaruh pendapatan dari hasil operasi perusahaan.
Pengertian tentang pendapatan itu sendiri ada beberapa macam, berikut ini ada
beberapa pandangan yang menegaskan arrti konseptual dari pendapatan.
Sebelum penulis lebih lanjut menelaah mengenai pengertian pendapatan, maka
terlebih dahulu perlu diketahui mengenai konsep kesatuan usaha.
Konsep kesatuan usaha menurut Zaki Baridwan (1992 : 8 ) adalah sebagai
berikut:
Konsep ini menyatakan bahwa dalam akuntansi perusahaan dipandang sebagai
suatu kesatuan usaha atau badan usaha yangberdiri sendiri, bertindak atas
namanya sendiri da terpisah dari pemilik dan pihak lain yang menanamkan dana
dalam
perusahaan.
Berdasarkan konsep kesatuanusaha diatas, konsep tersebut mempunyai
koknsekuensi yaitu bahwa pendapatan dan laba harus dipandang sebagi
kenaikan kekayaan perusahaan, sedangkan biaya dan rugi sebagai pengurang
kekayaan perusahaan. Oleh karena itu, Standar Akuntansi harus menyelesaikan
pengertian pendapatan dan biaya dengan memendangnya sebagai perubahan
kekayaan, buka sebagai kenaikan atau penurunan kekayaan pemilik atau
pemegang saham.
Ikatan akuntan Indonesia dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan PSAK)
No. 23 mendefinisikan pendapata sebagai berikut:
Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari
aktivitas normal perusahaan selama suatu periode bila arus masuk iti
mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam
modal.
Disamping definisi yang dinyatakan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia. Untuk
menyatakan gambran yang lebih lengkap mengenai pengertian pendapatan,
penulis akan mengutip pendapat-pendapat yang diambil dari berbagai macam
bacaan.

Menurut Zaki Baridwan dalam Buku Intermediate Accounting merumuskan


pengertian
pendapatan
adalah:
Pendapatan adalah aliran masuk atau kenaikan lain aktiva suatu badn usaha
atau pelunasan utang (atau kombinasi dari keduanya) selama suatu periode
yang berasal dari penyerahan atau pembuatan barang, penyerahan jasa, atau
dari kegiatan lain yang merupakan kegiatan lain yang merupakan kegiatan
utama adan usaha
Menurut M. Munandar ( 1981 : 16 ) yang mengemukakan bahwa pendapatan
adalah:
Sutau pertambahan assets yang mengakibatkan bertambahnya Owners Equity,
tetapi bukan karena panambahan modal dari pemiliknya, dan bukan pula
merupakan pertambahan assets yang disebabkan karena betambahnya
liabilities
Menurut Eldon S. Hendriksen ( 2000 : 374 ) dalam Teori Akuntansi menjelaskan
bahwa
pendapatan
adalah:
Pendapatan (revenue dapat mendefinisikan secara umum sebagai hasil dari
suatu perusahaan. Hal itu biasanya diukur dalam satuan harga pertukaran yang
berlaku. Pendapatan diakui setelah kejadian penting atau setelah proses
penjualan pada dasarnya telah diselesaikan. Dalam praktek ini biasanya
pendapatan diakui pada saat penjualan
Disamping definisi yang dinyatakan diatas terdapat definisi pendapatan dari C.
Rollin Niswonger, Carl S. Warren dan Philip E. Fess ( 1992:56-57):
Pendapatan merupakan kenaikan kotor atau garis dalam modal pemilik yang
dihasilkan dari penjualan barang dagangan, pelayanan jasa kepada klien,
penyewaan harta, peminjaman uang dan semua kegiatan yang bertujuan untuk
memperoleh penghasilan.
Sofyan Syafri Harahap (2001:236) mengemukakan bahwa pendapatan adalah :
Pendapatan adalah hasil penjualan barang dan jasa yang dibebankan kepada
langganan/mereka yang menerima.
Eldon Hendriksen mengemukakan definisi mengenai pendapatan sebagai
berikut: :Konsep dasar pendapatan adalah pendapatan merupakan proses arus,
yaitu penciptaan barang dan jasa selama jarak waktu tertentu.
Definisi-definisi diatas memperlihatkan bahwa ada 2 konsep tentang pendapatan
yaitu sebagai berikut:
1. Konsep Pendapatan yang meusatkan pada arus masuk (inflow) aktiva sebagai
hasil dari kegiatan operasi perusahaan. Pendekatan ini menganggap pendapatan
sebagai
inflow
of
net
asset.
2. Konsep Pendapatan yang memusatkan perhatian kepada penciptaan barang
dan jasa serta penyaluran konsumen atau produsen lainnya, jadi pendekatan ini
menganggap pendapatan sebagai outflow of good and services.
Jika pendapatan dirumuskan dengan cara lain maka pengecualian harus
dinyatakan dengan jelas, misalnya pendapatan diakui sebelum arus masuk
aktiva benar-benar terjadi.

Konsep dasar pendapatan yang diungkapkan oleh Patton dan Littleton


dinamakan sebagai produk perusahaan yang menekankan bahwa pendapatan
merupakan arus yaitu penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan.
2.2 Sumber-Sumber Pendapatan
Soemarso SR mengatakan pendapatan dalam perusahaan dapat diklasifikasikan
sebagai pendapatan opeerasi dan non operasi. Pendapatan operasi adalah
pendapatan yang diperoleh dari aktivitas uama perusahaan. Sedangkan,
pendapatan non opearsi adalah pendapatan yang diperoleh bukan dari kegiatan
utama perusahaan.
Jumlah nilai nominal aktiova dapat bertambah melalui berbagai transaksi tetapi
tidak semua transaksi mencerminkan timbulnya pendapatan. Dalam penentuan
laba adalah membedakan kenaikan aktiva yang menunjukkan dan mengukur
pendapatan kenaikan jumlah nilai nominal aktiva dapat terjadi dari:
1. Transaksi modal atau endapatan yang mengakibatkan adanya tambahan dana
yang
ditanamkan
oleh
pemegang
saham.
2. Laba dari penjualan aktiva yang bukan berupa barang dagangan seperti
aktiva tetap, surat-surat berharga, atau penjualan anak atau cabang
perusahaan.
3.
Hadiah,
sumbangan,
atau
penemuan.
4.
Revaluasi
aktiva.
5. Penyerahan produk perusahaan, yaitu aliran penjualan produk.
Dari kelima sumber tambahan aktiva diatas hanya butir kelima yang harus diakui
sebagai sumber pendapatan walaupun laba atau rugi mungkin timbul dalam
hubungannya dengan penjualan aktiva selain produk sebagaimana yang
disebutkan dalam butir ke-dua.
2.3. Proses Pendapatan
Ada dua konsep yang sangat erat hubungannya dengan masalah proses
pendapatan yaitu konsep proses pembentukan pendapatan (Earning Process)
dan proses realisasi pendapatan (Realization Process).
1. Proses pembentukan pendapatan (Earnings Process)
Proses pembentukkan pendapatan adalah suatu konsep tentang terjadinya
pendapatan. Konsep ini berdasrkan pada asumsi bahwa semua kegiatan opoerasi
yang diperlukan dalam rangka mencapai hasil, yang meliputi semua tahap
kegiatan produksi, pemasaran, maupun pengumpulan piutang, memberikan
kontribusi terhadap hasil akhir pendapatan berdasarkan perbandingan biaya
yang terjadi sebelum perusahaan tersebut melakukan kegiatan produksi.
2. Proses realisasi pendapatan (realization Process)
Proses realisasi pendapatan adalah proses pendapatan yang terhimpun atau
terbentuk sesudah produk selesai dikerjakan dan terjual atas dkontrak penjualan.
Jadi, pendapatan dimulai dengan tahap terakhir kegiatan produksi, yaitu pada
saat barang atau jasa dikirimkan atau diserahkan kepada pelanggan. Jika,
kontrak penjualan mendahului produksi barang atau jasa maka pendapatan
belum dapat dikatakan terjadi, karena belum terjadi proses penghimpunan
pendapatan.

Proses realisasi pendapatan ditandai oleh dua kejadian berikut ini:


? Kepastian perubahan produk menjadi potensi jasa yang lain melalui proses
penjualan
yang
sah
atau
semacamnya.
? Pengesahan atau validasi transaksi penjualan tersebut dengan aktiva lancar.
2.4. Penilaian, Pengukuran, Pengakuan, dan Pemgungkapan Pendapatan.
2.4.1. Penilaian Pendapatan
Standar Akuntansi memberikan pedoman dasar penilaian yang dapat digunakan
untuk menentukan berapa rupiah yan diperhitungkan dan dicatat pertama kali
dalam suatu transaksi atau berapa jumlah rupiah yang harus diletakkan pada
suatu akun dalam laporan keuangan.
Ada empat dasar dalam penilaian pendapatan antara lain sebagai berikut:
1. Biaya Historis (historical cost) : Aktiva dicatat sebesar pengeluaran kas (atau
setara kas) yang dibayar ssebesar nilai wajar dari imbalan yang diberikan untuk
memperoleh aktiva tersebut pada saat perolehan.
2. Biaya Kini (current cost): aktiva dinilai dalam wujud kas (atau setara kas) yang
seharusnya dibayar bila aktiva yang sama atau setara yang diperoleh sekarang.
3. Nilai realisasi atau penyelesaian (realization/settlement value) : Aktiva
dinyatakan dalam jumlah kas (atau setara kas) yang sama atau setara aktiva
yang sekarang dengan menjual aktiva dalam pelepasan normal (orderly
disposal).
4. Nilai sekarang (present value) : Aktiva dinyatakan sebesar kas masuk bersih
dimasa depan yang didiskontokan ke nilai sekarang dari pos yang diharapkan
dapat memberikan hasil dalam pelaksanaan usaha normal.
2.4.2. Pengukuran Pendapatan
Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada saat suatu pendapatan diakui, yaiti
pengukuran pendapatan dengan satuan atau ukuran moneter dan penetapan
waktu bahwa pendapatan tersebut dapat dilaporkan sebagai pendapatan.
Ikatan Akuntan Indonesia (2002:23) memberikan ketentuan mengenai
pengukuran pendapatan yang dinyatakan dalam Standar Akuntansi Keuangan
yang isinya sebagai berikut:
Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang dapat diterima,
jumlah pendapatan yang imbul dari suatu transaksi biasanya ditentukan oleh
persetujuan antra perusahaan pembeli atau pemakai perusahaan tersebut.
Jumlah tersebut, dapat diukur denga nilai wajar imbalan yang diterima atau yang
dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah diskon dagang dan rabat volume
yang diperbolehkan perusahaan.
Pendapatan dapat diukur dengan nilai tukar, ada dua hal yang perlu diperhatikan
dalam nilai tukar ini yaitu sebagai berikut:
1. Potongan pembayaran dan pengurangan lain dari harga seperti rugi [iutang
ragu-ragu perlu disesuaikan untuk menghitung net cash yang sebenarnya.
2. Untuk transaksi bukan dengan kas., apabila nilai dari barang yang diserahkan

dianggap sama dengan nilai pasar wajar dari barang yang akan diterima maka
nilai tukarnya adalah nilai buku barang yang akan diterima lebih atau kurang dari
nilai buku barang yang akan diserahkan maka selisihnya nilai pasar barang yang
diterima dengan nilai buku barang yang diserahkan merupakan keuntungan.
Berikut ini ada berbagai macam dasar pengukuran pendapatan antara lain:
a)
Cash
Equivalent
Jumlah rupiah kas penghargaan produk yang terjual baru akan menjadi
pendapatan yang sepenuhnya setelah produk yang tejual baru akan diproduksi
dan
penjualan
benar-benar
terjadi.
b) Nilai setara kas
Jumlah rupiah kas yang diperkirakan atau diterima atau dibayarkan pada masa
mendatang dari hasil, penjualan aktiva dalam kegiatan normal perusahaan.
c) Harga dibawah harga pasar
Harga pasar yang berlaku sekarang tetap, nilainya dibawah harga semula.
d) Harga pasar
Harga jual bersih yang diperkirakan dikurangi biaya simpanan, biaya penjualan,
dan biaya penyerahan produk.
e) Harga kesepakatan
Harga dimana yang nerupakan kesepakatan dengan pelanggan dari setiap
jumlah rupiah penjualan yang disepakati dengan pelanggan.
2.4.3. Pengakuan Pendapatan
Tujuan dari semua usaha pada akhirnya dalah untuk mendapatkan pendapatan
yang bias meningkatkan nilai perusahaan. Secara umu, pendapatan diakui pada
saat
realisasinya
atau
sepanjang
tahap
(siklus)operasi.
Ikatan Akuntan Indonesia dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK)
No. 23 menjelaslan kapan suatu pendapatan diakui adalah sebagai berikut:
1. Pendapatan dari transaksi penjuala produk diakui pasa saat tanggal penjualan,
biasanya merupakan tanggal penyerahan produk kepada pelanggan.
2. Pendapatan atas jasa yang diberikan oleh perusahaan jasa diakui pada saat
jasa tersebut telah dilakukan dapat dibuat fakturnya.
3. Imbalan yang diperoleh atas penggunaan aktiva sumber-sumber ekonomi
perusahaan oleh pihak lain, seperti pendapata bunga, dan royalty diakui sejalan
dengan berlakunya waktu atau pada saat digunakan aktiva yan bersangkutan.
4. Pendapatan dari penjualan aktiva diluar barang dagangan seperti penjualan
aktiva tetap atau surat berharga diakui pada saat tangal penjualan.
Pendapatan harus diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang
dapat diterima. Pada umumnya imbalan tersebut berbentuk kas atau setara kas.
Bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan, nilai wajar dari imbalan
tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima atau yang
dapat
diterima.
Berkaitan dengan masalah pendapatan tersebut, ada beberapa hal yang perlu

diketahui tentang prinsip pengakuan pendapatan yang menyatakan bahwa


pendapatan
harus
diakui
dalam
laporan
keuangan
ketika:
1.
Pendapatan
dihasilkan,
dan
2. Pendapatan direalisasi atau dapat direalisasi.
Pengakuan pendapatan mendapat kendala yaitu proses penentuan kapan
pendapatan dapat diakui dan dilaporkan untuk suatu periode tertentu dan
berapa jumlahnya, proses penetuan waktu dan besarnya pendapatan yang
diakui ini berkaitan dengan konsep realisasi pendapatan (Revenue Realization)
Eldon S HEndriksen mengutp pernyataan American Accounting Association
Committee on Concept and Standard External reporting mengenai realisasi ini
yaitu:
Realisasi bukan suatu determinan dalam konsep laba, realisasi hanya berfungsi
sebagai pedoman memutuskan kapan kejadian yang jika dipecahkan sebagai
termasuk dalam laba objektif yaitu apabila ketidakpastian telah sampai tingkat
yang dapat diterima.
Secara teoritik titik waktu dari pengakuan pendapatan dapat dilakukan pada
berbagai
saat,
yait:
1.
Pengakuan
pendapatan
diakui
pada
saat
proses
produksi
2.
Pengakuan
pendapatan
diakui
pada
saat
selesainya
produksi
3.
Pengakuan
pendapatan
diakui
pada
saat
penjualan
4. Pengakuan pendapatan diakui pada saat penerimaan kas
1. Pengakuan pendapatan diakui pada saat proses produksi
Pengakuan pendapatan diakui pada saat proses produksi biasanya dilakukan oleh
perusahaan yang menjalankan produksi untuk kontrak jangka panjang. GAAP
memperbolehkan dua metode akuntansi untu pendapatan atas kontrak jangka
panjang, yaitu sebagai berikut:
a. Metode Persentase Penyelesaian (Percentage of Completion Method)
Metode persentase penyelesaian adalah bentu alternative atas metode kontrak
selesai. Dalam metode ini, pengakuan pendapatan dicatat berdasarkan tingkat
kemajuan pekerjaan atau dengan kata lain jumlah pendapatan yang diakui untuk
tiap periode ditentukan berdasarkan tingkat penyelesaian, bagian pendapatan
dan beban (dan juga laba) diakui ketika dihasilkan pada setiap periode
akuntansi.
Besarnya tingkat penyelesaian dari suatu kontrak harus diukur dimana
pengukuran yang biasa digunakan adalah pengukuran masukan dan pengukuran
keluaran.
1. Pegukuran masukan (input measure)
Pengukuran masukan adalah upaya yang dikorbankan pada suatu proyek pada
tanggal tertentu dibandingkan dengan total upaya yang diperkirakan yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek. Pengukuran ini meliputi:
? Metode biaya ke biaya (cost to cost method)
Metode ini paling sering digunakan, dimana tingkat penyelesaian ditentukan
dengan membandingkan biaya yang telah dikeluarkan dengan estimasi biaya
total yang diharapkan.

? Metode usaha yang diupyakan (effort expended method)


Metode ini didasarkan oleh ukuran dari pelaksanaan pekerjaan yang meliputi jam
kerja, upah, jam mesin, atau kuantitas bahan. Bahan penyelesaian dengan
menggunakan metode ini diperoleh dengan cara yang sama seperti metode
biaya
ke
biaya.
2.
Pengeluaran
keluaran
(output
measure)
Pengukuran keluraran adalah hasil pada tanggal tertentu dibandingkan dengan
total hasil kerja proyek yang diselesaikan. Pengukuran pendapatan dengan
menggunakan ukuran keluaran didasarkan pada hasil yang dicapai dengan nilai
tambah.
b. Metode kontrak selesai (completed contract method)
Menurut metode ini, pendapatan diakui jika pekerjaan sudah selesai 100%.
Semua biaya selama pelaksanaan dalam pekerjaan. Tagihan atas kemajuan tidak
dicatat sebagaimana pendapatan, tetapi diakumulasikan dalam akun kontrak
persediaan.
Metode
kotrak
selesai
harus
digunakan
hanya:
(1) Jika suatu entitas terutama mempunyai kontrak jangka pendek,
(2) Jika syarat-syarat untuk menggunakan metode persentase penyelesaian tidak
dapat
dipenuhi,
atau
(3) Jika terdapat bahaya yang melejat dalam kontrak itu diluar resiko bisnis yang
normal dan berulang.
Metode kontak selesai (completed contract method) ini hanya akan diguakan jika
metode perssentase penyelesaian (percentage of completion method) tidak
tepat.
2. Pengakuan pendapatan pada saat selesainya produksi
Pengakuan pendapatan atas dasar penyelesaian produksi ditujukan untuk produk
dalam
criteria;
(1) Adanya harga jual yang dapat ditentukan atau harga pasar yang stabil,
(2)
Biaya
pemasaran
yang
tidak
besar,
(3) Unit-unit yang dipertukarkan pelaoran pendapatan pada waktu penyelesaian
produksi tergantung pada tingkat kepastian diaman harga jual dan biaya
tambahan dapat diestimasi.
Kriteria utama untuk menmggunakan metode ini adalah kemampuan realisasi
yang handal yaitu produk harus dapat dipasarkan segera pada harga tertentu
yang dapat dipengaruhi produsen tertentu.
3. Pengakuan pandapatan pada saat penjualan
Untuk tujuan pengakuan pendapatan saat terjadinya penjualan merupakan dasar
yang paling utama. Hal tersebut didukung dengan alasan antara lain:
?
Harga
produk
sekarang
sudah
lebih
pasti.
? Produk telah berada diluar perusahaan dan aktiva baru sudah
menggantikannya,
yakni
pertukaran
telah
terjadi.
? Untuk sebagian perusahaan, penjualan diasumsikan sebagai peristiwa
keuangan yang paling penting dalam kegiatan ekoknomi perusahaan.
? Sebagian besar biaya yang menyangkut pembuatan atau peroleha produk dan
biaya pelepasan sekarang telah terjadi atau sekarang sudah ditentukan.

Dasar pengakuan ini sangat tepat untuk diterapkan pada perusahaan yang
bergerak dlam bidang produksi atau perusahaan dagang. Kegiatan penjualan
merupakan hal yang paling menentukan dan mempunyai arti keuangan sebab
transaksi penjualan mengakibatkan masuknya aktiva bau kedalam perusahaan
yang berupa kas atau piutang.
4. Pengakuan pendapatan pada saat penerimaan kas
Penerimaan kas merupakan hal yang signifikan dalam pengukuran pendapatan.
Umumnya, tidak kritis dalam proses opersaional untuk meningkatkan aktiva
bersih perusahaan. Penerapan dasar penerimaan kas paling banyak dijumpai
dalam perusahaan yang melakukan penjualan yang bayarannya secara
angsuran.
Dalam perusahan jasa, kalau satuan jasa dilakukan dalam waktu relative pendek.
Misalnya, perusahaan angkutan atau bioskop maka saat penerimaan uang dari
konsumen hamper bersamaan dengan penyerahan jasa sehingga keduanya
dapat dijadikan dasar dalam pengukuran dan pengakuan pendapatan. Untuk
jangka panjang didalam satuan jasa, misalnya penyewaan ruangan atau
bangunan maka terdapat perbedaan antara jumlah rupiah pendapatan yang
diakui dala suatu periode atas dasar penerimaan uang.
2.4.4. Pengungkapan Pendapatan
Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 mengenai
pengungkapan pendapatan, perusahaan harus mengungkapkan sebagai berikut:
a. Kebijakan akuntansi yang dianut untuk pengakuan pendapatan termasuk
metode yang dianut untuk menentkan tingkat penyelesaian transaksi penjualan
jasa.
b. Jumlah setiap kategori signifikan dari pendapatan diakui selama periode
tersebut
termasuk
pendapatan
dari:
(1)
Penjualan
barang
(2)
Penjualan
Jasa
(3)
Bunga
(4)
Dividen,
dan
(5) Royalty.
2.5. Kriteria Pengakuan Pendapatan
Pengaakuan pendapatan yang diajukan oleh Financial Accounting Standard Board
(FASB) ada dua kriteria yaitu sebagai berikut:
1. Pendapatan baru diakui jika jumlah pendapatan terealisasi atau cukup pasti
akan
segera
terealisasi.
2. Pendapatan baru adapat diakui jika pendapatan tersebut sudah terbentuk
atau
terhimpun.
2.5.1. Metode Pencatatan Pendapatan
Di dalam laporan akuntansi dasar pencatatan pendapatan harus berdasarkan
ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Nilai ekonomis harus sudah ditambahkan perusahaan pada produknya
2.
Jumlah
pendapatan
harud
dapat
diukur
3.
Pengukuran
yang
dilakukan
haruslah
bebas

4. Biaya-biaya yang berkaitan harus dapat diestimasi dengan tingkat kecermatan


yang memuaskan.
Metode dalam pencatatan pendapatan terdiri dari dua metode, yaitu sebagai
berikut: metode berbasis kas(cash basis method) dan metode aberbasis akrual
(accrual basis method)
1. Metode cash basis
Suatu system dimana pendapatan belum diakui sebelum pendapatan tersebut
belum diterima. Metode ini banyak digunakan pada perusahaan kecil dan orangorang yang menjual jasa, pada umumnya adalah orang-orang yang memiliki
keahlian tertentu.
2. Metode accrual basis
Metode pencatatan pendapatan, dimana pendapatan itu dicatat pada saat sudah
terjadi hak tanpa memperhatikan pendapatan tersebut diterima. Keuntungan
metode ini adalah karena metode ini sangat teliti dalam pengukuran keuntungan
(dalam laporan laba rugi) dan neraca selisih.
2.6. Metode pengakuan pendapatan untuk penjualan jasa
Ada empat metode pengakuan pendapatan untuk perusahaan yang kegiatannya
sebagian besar dalam penjualan jasa dibandingkan produksi yaitu sebagai
berikut:
1. Metode kinerja khusus
Metode ini digunakan untuk penapatan jasa yang dihasilkan dengan melakukan
aksi
tunggal.
Sebagai contoh: seorang dokter gigi menghasilkan pendapatan atas
penyelesaian penambalan gigi.
2. Metode Kinerja Profesional
Metode ini digunakan untuk mengakui pendapatan jasa yang dihasilkan oleh
lebih dari satu aksi tunggal dan hanya ketika jasa melebihi satu periiode
akuntansi.
3. Metode Kinerja Selesai
Metode ini digunakan untuk mengakui pendapatan jasa yang dihasilkan dengan
melakukan serangkaian tindakan dimana yang terakhir sangat penting dalam
hubungannya dengan total transaksi jasa dimana pendapatan jasa dianggap
telah dihasilkan hanya setelah tindakan terakhir terjadi. Metode ini serupa
dengan metode kontrak selesai, yang digunakan untuk kontrak jangka panjang.
4. Metode Penagihan
Metode ini digunakan untuk pendapatamn jasa ketika ketdakpastian penagihan
sangat tinggi atau estimasi beban yang terkait dengan pendapatan tidak dapat
dipercaya sehingga persyaratan reliabilitas tidak dipenuhi. Pendapatan diakui
hanya ketika kas diperoleh. Metode ini serupa dengan metode pemulihan biya
yang digunakan untuk penjualan produk.
2.7. Konsep dasar yang diperkirakan dalam pengakuan pendapatan

Ada beberapa konsep dasar yang melandasi laporan keuangan antara lain
sebagai berikut:
1. Konsep Upaya dan HAsil (effort and accomplishment concept)
Konsep ini menyatakan bahwa kas merupakan pengukur upaya dan pendapatan
merupakan pengukur hasil.
2. Konsep Bukti Berdaya Uji dan Objektif
Laporan keuangan akan mempunyai tingkat manfaat dan tingkat keandalan
6yang cukup tinggi apabila data keuangan didalamnya di dukung oleh bukti-bukti
yang objektif dan dapat diuju kebenarannya,
3. Konsep Akuntansi mengakui adanya asumsi yang relevan (assumption
consept)
Konsep akuntansi menagkui adanya asumsi-asumsi seperti bidang pengetahuan
lain, dalam banyak hal konsep dasar akuntansi dengan sendirinya merupakan
asunsi atau paling tidak didasarkan atas asumsi yangtidak dapat diuji
validitasnya dengan pembuktian yang tuntas tetapi dianggap mempunyai
relevansi
dengan
tujuan
pelaporan
keuangan.
4. Konsep Biaya Historical
Konsep biaya histories merupakan pengukur potensi jasa yang paling objektif
untuk jasa yang baru diperoleh. Baiaya histories ini menunjukkan harga
pertukaran padasaat terjadinya salah satu keunggulan biaya histories yang
terjadi dari hasil kesepakatan dua pihak yang independent.
--DAFTAR PUSTAKA
Zaki Baridwan, (1997) Intermediate Accounting, BPFE. Yogyakarta, Yogyakarta.
Dyckman, Dukes dan Davis (1999), Akuntansi Keuangan Menengah
(terjemahan), Jilid I, Edisi 3, Alih Bahasa : Munir Ali, Jakarta: Erlangga.

Harahap, Sofyan Syafri, (2001), Teori Akuntansi, Peneribit Raja Grafindo Persada.
Jakarta
Eldon S. Hendriksen,(1997), Teori Akuntansi, (terjemahan), Alih Bahasa :
Wimliyono, Edisi 4. Jakarta,Erlangga.
------------- and Michael F. Van Breda, (2000), Teori Akunting, (terjemahan) Buku I,
Edisi Kelima, Penerbit Interaksara, Jakarta, hal. 374.
Ikatan Akuntan Indonesia, (2002), Standar Akuntansi Keuangan, Penerbit
Salemba Empat, Jakarta.
M. Munandar (1981), Pokok-pokok Intermediate Accounting, Penerbit Liberty,
Yogyakarta.
C. Rollin Niswonger, Carl S. Warren dan Philip E. Fess, (1992), Prinsip-prinsip
Akuntansi (terjemahan), Alih Bahasa : Alfonsus Sirait, Jilid I, Edisi 16, Penerbit
Erlangga, Jakarta, Hal. 56-57.
Suwardjono, (1989), Teori Akuntansi, Penerbit BPFE Yogyakarta. Yogyakarta.

Soemarsono. SR, (2000) Akuntansi Suatu Pengantar, Jilid 2, Edisi 4, Jakarta PT.
Rineka Cipta.
Tuanakotta, Theodorus M., (2000), Teori Akuntansi, Lembaga Penerbit Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta.
http://skripsitesisdisertasi.com/pengertian_pendapatan

Teori Akuntansi-Konsep Pendapatan.Nendi Nefendi.UNSWAGATI


BAB
PEMBAHASAN

II

PENGANTAR
Urutan yang logis setelah pembahasan aset dan kewajiban adalah ekuitas karena
ketiganya merupakan elemen neraca. Pendapatan dan biaya dibahas terlebih
dahulu sebelum ekuitas karena merupakan penyebab penting perubahan ekuitas
yang berasal dari kegiatan operasi perusahaan dan pembentuk statemen laba
rugi yang menentukan laba perusahaan. Konsep dasar upaya dan hasil
menyatakan bahwa hasil dan capaian harus diperoleh dengan upaya atau bukan
sebaliknya capaian dulu baru capaian menanggung biaya.jadi, tidak adda
capaian tanpa upaya. Konsep dan hasil mempunyai implikasi bahwa pendapatan
dihasilkan oleh biaya. Artinya, hanya dengan biaya pendapatan dapat tercipta
dan
bukan
sebaliknya
pendapatan
menanggung
biaya.
Walaupun demikian, secara teknis akuntansi, pendapatan biasanya diukur lebih
dahulu dan baru kemudian biaya yang diperkirakan menghasilkan pendapatan
tersebut diukur sehingga laba dapat ditentukan dengan tepat. Seperti aset dan
kewajiban, pembahasan pendapatan meliputi pengertian, pengukuran,
pengakuan dan penilaian. Masalah teoritis pendapatan dapat dilukiskan dalam
gambar
berikut.

2.1
DEFINISI
PENDAPATAN
Berbagai sumber mamaknai pendapatan kurang kebih sama walaupun dengan
variasi yang berbeda. Dalam SFAC No. 6 FASB mendefinisikan pendapatan dan
untung
sebagai
berikut
:
Revenues are inflows or other enhancements of asset of an entity or setlements

of its liabilities (or combination of both) from delivering or producing goods,


rendering service, or other activities that constitute the entitys ongoing major or
central
operations
(prg
78).
Pendapatan adalah arus masuk atau perangkat tambahan lain aset dari suatu
entitas atau penyelesaian kewajiban (atau kombinasi keduanya) dari pengiriman
atau produksi barang, jasa render, atau kegiatan lainnya yang merupakan
operasi yang sedang berlangsung oleh entitas besar atau pusat (prg. 78)
Gains are increasea in equity (net assets) from peripheral or incedental
transaction of an entity and from all other transaction and other events and
circumstances affecting the entity except those that result from revenues or
invesment
by
owners
(prg
82).
Keuntungan adalah kenaikan ekuitas (aktiva bersih) dari transaksi perifer atau
insidental dari suatu entitas dan dari semua transaksi lain dan peristiwa lain dan
keadaan yang mempengaruhi entitas kecuali yang dihasilkan dari pendapatan
atau
investasi
oleh
pemilik
(prg
82).
Paton dan Littleton (1970) mengkarakterisasi pendapatan sebagai berikut :
Revenues is the product of enterprise, masured by amount of new assets
received from customer; ... Steted in terms of asset the revenue of the enterprise
in presented, finally, by the flow of fund from the customer or patrons in
exchange for the product of the business, either commodities or service (hlm.
47-47).
Pendapatan adalah produk dari perusahaan, diukur dengan jumlah aset baru
yang diterima dari pelanggan, ... dinyatakan dalam hal aset pendapatan dari
perusahaan diwakili, akhirnya, oleh aliran dana dari pelanggan atau pelanggan
dalam pertukaran untuk produk bisnis, baik komoditas atau jasa (hlm, 47-47)
Dalam Standar Akuntansi Keuangan (2002), IAI mengadopsi definisi pendapatan
dari IASC yang menempatkan pendapatan (revenue) sebagai unsur penghasilan
(income)
sebagai
berikut
:
Income is increase in economic benefits during the accounting period in the form
inflows or enhancement of assets or decreases of liabilities that result in increase
in equity, other than those relating to equity participants (hlm. 17).
Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode akuntansi dalam
bentuk arus masuk atau perangkat tambahan aset atau penurunan kewajiban
yang mengakibatkan kenaikan ekuitas, selain yang berkaitan dengan peserta
ekuitas
(hlm.
17)
The definition of income acompasses both revenue and gains. Revenue arises on
the course of the ordinary activitiesof an enterprise and is referred to by a
variety of different names including sales, fees, interests, dividends, royalties,
and
rents
(hlm.
18).
Definisi penghasilan ecompasses baik pendapatan dan keuntungan. Pendapatan
timbul dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan disebut dengan berbagai
nama yang berbeda termasuk penjualan, biaya, bunga, dividen, royalti, dan
sewa
(hlm.18)
Gains represent other items that meet the definition of income and may, or may
not, arise in the course of the ordinary activities of an enterprise. Gaints
represent increase in economic benefit and as such are no different in nature
from revenues. Hense, they are not regarded as constituting a separate element
in
this
framework
(hlm.
18).
Keuntungan merupakan item lainnya yang memenuhi definisi penghasilan dan
mungkin, atau tidak mungkin, timbul dalam perjalanan dari aktivitas normal

perusahaan. Keuntungan merupakan kenaikan manfaat ekonomi dan dengan


demikian tidak berbeda di alam dari pendapatan. Oleh karena itu, mereka tidak
dianggap sebagai merupakan elemen yang terpisah dalam kerangka kerja ini
(hlm.
18)
Definisi-definisi di atas memisahkan antara pengertian dan pengakuan sehingga
tidak ada yang menjukkan kriteria pengakuan. Sementara itu, APB (1970)
mendefinisikan pendapatan dengan memasukkan kriteria pengakuan sebagai
berikut
(APB
Statement
No
4
prg
134)
:
Revenue-gross increase in assets or gross decreases in liabilities recognized and
measured in confirmity with generally accepted accounting principles that result
from those types of profit-directed activities of an enterprise that can cange
owners
equity.
Pendapatan - kenaikan bruto dalam aset atau penurunan bruto dalam kewajiban
yang diakui dan diukur sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum
yang dihasilkan dari jenis-jenis laba-kegiatan diarahkan kegiatan perusahaan
yang
dapat
mengubah
ekuitas
pemilik.
2.2
KARAKTERISTIK
PENDAPATAN
Dari beberapa definisi di atas dapat didaftar karakteristik karakteristik atau kata
kata kunci yang membentuk pengertian pendapatan dan untung. Yang
membentuk
pengertian
pendapatan
dan
untung
adalah
:
1.
Aliran
masuk
atau
kenaikan
aset
2. Kegiatan yang mempresentasi operasi utama atau sentral yang menerus.
3.
Pelunasan,
penurunan,
atau
pengurangan
kewajiban.
4.
Suatu
entitas
5.
Produk
perusahaan
6.
Pertukaran
produk
7.
Menyandang beberapa nama atau mengambil beberapa bentuk.
8.
Mengakibatkan
kenaikan
ekuitas.
Beberapa karakteristik di atas dikatakan merupakan turunan/konsekuensi dsari
atau dikandung secara implisit oleh kata kunci yang lain. Karakteristik (3) sampai
(8) sebenarnya merupakan penjabaran atau konsekuensi dari ketiga karakteristik
sebelumnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa karakteristik (1) dan (2)
merupakan
karakteristik
konsekuensi,
pendukung,
atau
penjelas.
1.
Kenaikan
Aset
Paton dan Litleton (1970:47) menyebutkan bahwa aset dapat bertambah karena
berbagai
transaksi,
kejadian,
atau
keadaan
sebagai
berikut:
a.
Transsaksi pendanaan yang berasal dari kreditor dan investor.
b. Laba yang berasal dari kegiatan investasi, misalnya penjualan aset tetap,
surat
berharga,
segmen
bisnis,
dan
anak
perusahaan.
c.
Hadiah,
donasi
atau
temuan
d.
Revaluasi
aset
yang
telah
ada.
e.
Penyediaan
dan/atau
penyerahan
produk
(barang
dan
jasa)
Untuk disebut sebagai pendapatan, aliran aset masuk adalah jumlah rupiah
kotor. FASB mengisyaratkan jumlah kotor dengan menyatakan bahwa
pendapatan adalah jumlah rupiah yang datang dari p-enyerahan produk atau
pelaksanaan jasa. (IASC) menunjuk jumlah kotor dengan menyebutkan bahwa
jumlah rupiah pendapatan dapat berupa penjualan, imbalan jasa, bunga, dividen,
royalitas,
dan
sewa.

Pendefinisian pendapatan sebagai kenaikan aset merupakan pendefinisian


dengan konsep aliran masuk. Konsep ini mempunyai kelemahan karena
pendapatan dianggap baru ada setelah transaksi penjualan terjadi.dengan kata
lain pendapatan timbul karena peristiwa atau transaksi pada saat tertentu dan
bukan karena proses selama suatu periode. Kelemahan lain adalah definisi ini
mengacaukan pengukuran dan penentuan saat pengakuan dengan proses
penciptaan pendapatan. IAI harus membatasi bahwa kenaikan aset tersebut
adalah yang menaikkan ekuitas kecuali yang berasal dari transaksi dengan
pemilik.konsep ka\enaikan aset mengalami masalah dalam hal aliran masuk
yang berupa pembayaran di muka yang berasal dari pelanggan. Walaupun
pembayaran semacam ini merupakan bagian dari operasi utama perusahaan,
pada kenyataannya aliran masuk tersebut tidak atau belum dianggap
pendapatan. Demikian juga, walaupun penjualan kredit menimbulkan piutang
usaha,
piutang
sering
dianggap
buakan
suatu
aliranmasuk
aset.
2.

Operasi
Utama
Berlanjut
Tidak semua kenaikan aset di atas membentuk pendapatan. Kegiatan utama
atau sentral yang menerus atau berlanjut merupakan karakteristik yang
membatasi kenaikan yang dapat disebut pendapatan. Kenaikan aset harus
berasal dari kegiatan operasi dan bukan kegiatan investasi dan pendanaan.
Kegiatan operasi ini diwujudkan dalam bentuk memproduksi dan mengirimkan
berbagai barang kepada pelanggan atau menyerahkan atau melaksanakan
berbagai
jasa.
Pengertian operasi utama menunjukkan kegiatan sebagaimana pengertian
operasi dalam klasifikasi kegiatan yang membentuk statemen aliran kas yaitu,
operasi, investasi, dan pendanaan. Akan tetapi, pendapatan atau untung yang
tidak berasal dari operasi utama dengan sendirinya lalu dapat disebut sebagai
pos
nonoperasi.
a.
Operasi
dan
Non-operasi
Produk yang dihasilkan secara tidak rutin atau insidential sering dianggap
sebagai pos pendapatan non-operasi dan dipisahkan penyajiannya.
Pembedaan memang perlu tetapi mengklasifikasinya sebagai non-operasi dapat
menyesatkan dalam pengukuran kinerja atau daya melaba perusahaan.
Paton dan Litleton (1970) berpendapat bahwa pemisahan laba atau rugi sebagai
pos operasi dan non-operasi hanya dapat dibenarkan kalau laba atau rugi
sebagai pos operasi tesebut benar benar luar biasa dan berkaitan dengan tujuan
perusahaan utama hanya secara sangat kebetulan saja. Jadi, istilah nonoperasi kurang deskriptif untuk mengklasifikasikan beberapa pendapatan atau
untung yang sebenarnya masuk dalam pengertian operasi dalam arti luas. Bila
tidak bersifat luar biasa, pos-pos tersebut lebih tepat dilaporkan sebagai
pendapatan
lain-lain
dan
untung
(other
revenue
and
gains).
3.

Penurunan
Kewajiban
Hal ini terjadi bila suatu entitas telah mengalami kenaikan aset sebelumnya
misalnya menerima pembayarn di muka dari pelanggan penerimaan ini bukan
merupakan pendapatan karena perusahaan belum melakukan prestasi yang
menimbulkan hak penuh atas aset yang diterima. Oleh karena itu, jumlah rupiah
yang diterima biasanya diperlukan sebagai pendapatan tekterhak atau
pendapatan tangguhan yang statusnya adalah kewajiban sampaiada prestasi
dari perusahaan berupa pengirimkan barang atau pelaksanaan jasa. Pengiriman

barang atau pelaksanaan jasa akan mengurangi kewajiban yang menimbulkan


pendapatan. Kejadian itu mengubah kewajiban menjadi pendapatan.
4.
Suatu
Entitas
Dimasukkan kata entitas atau perusahaan dalam definisi mengisyaratkan bahwa
konsep kesatuan usaha dianut dalam pendefinisian. Pendapatan didefinisikan
sebagai kenaikan aset bukannya kenaikan ekuitas bersih. Jadi, aset yang masuk
itulah yang disebut pendapatan. Aset tersebut dikuasai oleh perusahaan. Akan
tetapi, karena hubungan perusahaan dengan pemilik merupakan hubungan
utang-piutang, pada saat aset naik sebagai pendapatan utang perusahaan
kepada pemilik juga naik dengan jumlah yang sama. Hal ini mengisyaratkan
bahwa konsep kesatuan usaha dianut dalam pendefinisian. Karena pendapatan
didefinisikan
sebagai
kenaikan
aset
bukan
kenaikan
ekuitas.
5.
Produk
Perusahaan
Paton dan Littleton menyatakan bahwa pendapatan adalah produk perusahaan.
Di sini pendapatan didefinisikan secara fisis bukan moneter. Definisi ini juga
netral terhadap saat pengakuan. Aliran aset dari pelanggan berfungsi hanya
sebagai pengukur tetapi bukan pendapatan itu sendiri; produk fisis yang
dihasilkan oleh kegiatan usaha itulah pendapatan. Pengertian semacam ini
sesuai dengan konsep upaya dan capaian (efford and accomplishment) yaitu
pendapatan merupakan capaian upaya produktif perusahaan. Produk merupakan
capaian dari tiap kegiatan produktif. Dengan pengertian ini, pendapatan
terbentuk atau terhimpun bersamaan dengan atau selama kegiatan produktif
tanpa harus menunggu kejadian atau saat penyerahan produk kepada
pelanggan.
Ada dua aliran yang berkaitan dengan pendapatan yaitu aliran fisis dan moneter.
Pendapatan merupakan aliran masuk aset (unit moneter dan hal tersebut
berkaitan dengan aliran fisis berupa penyerahan produk (output) perusahaan.
Dalam hal ini, Kam (1990, hlm. 237) mempertanyakan apakah pendapatan itu
objek atau kejadian. Untuk menjawab hali tersebut, Kam merinci lebih lanjut
kedua
aliran
tersebut
yaitu:
a.
Aliran
fisis
berupa
:

Kejadian
memproduksi
dan
menjual
produk

Objek,
yaitu
produk
fisis
itu
sendiri.
b.
Aliran
moneter
berupa
:
Kejadian menaiknya nilai aset perusahaan karena produksi atau penjualan
produk
ke
konsumer.

Objek, yaitu jumlah rupiah aset atau produk yang dihasilkan atau dijual.
6.
Pertukaran
Ini dikarenakan pendapatan akhirnya harus dinyatakan dalam satuan moneter
untuk dicatat dalam sistem pembukuan. Satuan moneter yang paling objektif
adalah kalau jumlah rupiah tersebut merupakan hasil transaksi atau pertukaran
antara
pihak
independen.
7.
Berbagai
bentuk
dan
Nama
Pendapatan adalah konsep yang bersifat generik dan mencakupi semua pos
dengan berbagai bentuk dan nama apapun. Pendapatan untuk perusahaan
perdagangan
misalnya
disebut
dengan
penjualan.

Untung
IAI dan APB tidak membedakan untung dan pendapatan dan keduanya digabung
dalam konsep penghasilan. Kata kunci yang melekat pada untung adalah :
1. Kenaikan ekuitas (aset bersih) dan; 2. Transaksi periferal atau insidental.
1.
Selain yang berupa pendapatan atau investasi oleh pemilik.
Dari ketiga karakteristik di atas, yang paling membedakan dengan pendapatan
adalah karakteristik (2) sebagai lawan dari operasi utama. Karakteristik (akibat
konsep kesatua usaha). Tidak ada petunjuk bahwa kenaikan aset yang
menyebabkan kenaikan ekuitas (akibat konsep kesatuan usaha). Tidak ada
petunjuk bahwa kenaikan aset yang menyebabkan kenaikan ekuitas tersebut
merupakan jumlah kotor atau bersih. Jadi, untung dapat merupakan jumlah kotor
atau jumlah bersih. Karakteristik (3) juga merupakan karakteristik pendapatan
karena untuk disebut pendapatan kenaikan aset harus bukan berasal dari
transaksi dengan pemilik (investasi oleh pemilik). Karena secara konseptual dan
essensial karakteristik pendapatan tidak berbeda dengan untung. IAI dan APB
tidak memandang untung sebagai elemen tersendiri dan didefinisi secara formal.
APB memandang untung semata-mata merupakan klasifikasi pendapatan dalam
penyajian statemen laba-rugi. Menurut APB, pendapatan dapat berasal dari
penjualan
aset
selain
produk
perusahaan.
FASB membedakan antara untung dan pendapatan karena adanya karakteristik
sumber yang dapat dibedakan dengan operasi utama. Karakteristik sumber dari
untung
itu
sendiri
adalah
:
a.
Periferal dan insidental: misalnya penjualan investasi dalam surat-surat
berharga, penjualan aset tetap, pelunasan utang obligasi sebelum jatuh tempo.
b.
Transfer nontimbal-balik (nonreciprocal transfer) dengan pihak lain :
misalnya hadiah dan donasi (bagi organisasi nonprofit) dan penerimaan ganti
rugi
pemenangan
tuntutan
perkara
hukum.
c.
Penahanan aset (holding asset) : misalnya kenaikan harga sekuritas
investasi, kenaikan nilai tukar valuta asing, dan kenaikan karena penahanan
sediaan
(holding
gains)
d.
Faktor lingkungan : misalnya ganti rugi asuransii musibah alam yang
melebihi
kos
aset
yang
rusak.
FASB sendiri mengakui bahwa pembedaan tersebut sebenarnya lebih
dimaksudkan untuk kepentingan penyajian pendapatan atas dasar sumbernya
daripada untuk membedakan secara tegas karakteristik antara pendapatan dan
untung.
(Sumber
Suwardjono,
2005
:
351-362).

2.3
PEMBENTUKAN
dan
REALISASI
PENDAPATAN
Pengakuan adalah pencatatan jumlah rupiah secara resmi ke dalam sistem
akuntansi sehingga jumlah tersebut terefleksi dalam statemen keuangan.
Pengertian atau definisi pendapatan harus dipisahkan dengan pengakuan
pendapatan bahkan pengertian pendapatan sebenarnya juga harus dipisahkan
dengan pengukuran pendapatan. Dengan demikian, suatu jumlah yang
memenuhi definisi pendapatan tidak dengan sendirinya jumlah tersebut diakui
(dicatat
secara
resmi)
sebagai
pendapatan.
Pendapatan sebagai produk perusahaan tidak mengisyaratkan berapa jumlahnya

dan berapa harus dicatat tetapi lebih mengisyaratkan berapa jumlahnya dan
kapan harus dicatat tetapi lebih mengisyaratkan bahwa pendapatan memang
ada atau terwujud, definisi tersebut lebih difokuskan pada eksistensi
pendapatan.
Pengakuan pendapatan tidak boleh menyimpang dari landasan konseptual. Oleh
karena itu, secara konseptual pendapatan hanya dapat diakui kalau memenuhi
kualitas keterukuran (measurability), dan keterandalan (reliability). Kualitas
tersebut harus diopersionalkan dalam bentuk kriteria pengakuan pendapatan.
Sebagai produk perusahaan, kriteria keterukuran berkaitan dengan masalah
berapa jumlah rupiah produk tersebut dan kriteria keterandalan berkaitan
dengan masalah apakah jumlah tersebut objektif serta dapat diuji kebenarannya.
Kedua kriteria harus dipenuhi untuk pengakuan pendaptan. Pendapatan yang
diukur dengan jumlah penghargaan sepakatan produk yang terjual baru akan
menjadi pendapatan yang sepenuhnya setelah produk selesai diproduksi dan
penjualan benar-benar terjadi. Dengan kata lain, pendapatan belum terealisasi
sebelum terjadinya penjualan yang nyata ke pihak lain. Sebaliknya, terjadinya
kontrak penjualan belum cukup untuk menandai eksistensi pendapatan sebelum
barang/jasa sudah cukup selesai dikerjakan atau diserahkan kepada pelangan.
Dengan kata lain, pendapatan belum terbentuk sebelum perusahaan melakukan
upaya produktif. Untuk menjabarkan kriteria kualitas informasi menjadi kriteria
pengakuan pendapatan, perlu dipahami dua konsep penting yaitu pembentukan
pendapatan
dan
realisasi
pendapatan.
a.
Pembentukan
Pendapatan
(Earning
Process)
Pembentukan pendapatan adalah suatu konsep yang berkaitan dengan masalah
kapan dan bagaimana sesungguhnya pendapatan itu timbul dan menjadi ada.
Dengan kata lain, apakah pendapatan itu timbul dari keadaan produktif atau
karena kejadian tertentu. Konsep ini menyatakan bahwa pendapatan terbentuk ,
terhimpun atau terhal bersamaan dan dengan melekat pada seluruh atau
totalitas proses berlangsungnya operasi perusahaan dan bukan sebagai hasil
transaksi tertentu. Konsep dasar ini sering disebut pendekatan proses
pembentukan
pendapatan
atau
pendekatan
kegiatan.
Pendekatan ini dilandasi oleh konsep dasar upaya dan hasil capaian serta
kontiuitas
usaha.
Biaya
merepresentasikan
upaya
dan
pendapatan
merepresentasikan capaian. Karena tujuan perusahaan adalah menciptakan
laba, manajemen atau pengusaha mengharapkan diharapkan bahwa pendapatan
selalu lebih besar dari biaya. Tanpa harapan adanya kelebihan tersebut orang
tidak bersedia melakukan usaha secara sengaja dan senang hati. Laba
merupakan imbalan untuk tenaga, pikiran, serta risiko yang ditanggung
pengusaha
atau
perusahaan.
Pendekatan ini juga dilandasi oleh konsep homogenesitas kos yaitu bahwa
semua tahap kegiatan atau unsur di dalamnya (direpresentasikan) mempunyai
kedudukan atau arti penting yang sama dalam menghasilkan pendapatan (Paton
dan
Littleton
1970
:
67
dalam
Suwardjono,
2005
:
364).
Implikasi dari konsep ini adalah semua tahap kegiatan memberi sumbangan
dalam penciptaan pendapatan yang secara proporsional sama dengan besarnta
kos. Jadi, begitu kos suatu objek biaya terjadi, pendapatan dapat dianggap
terbentuk
sehingga
laba
juga
terbentuk.

b.
Kosep

Realisasi
realisasi

Pendapatan
pendapatan:

Menurut konsep ini, pendapatan baru dikatakan terjadi atau terbentuk pada saat
terjadi kesepakatan atau kontrak dengan pihak independen untuk membayar
produk baik produk telah selesai dan diserahkan atau belum dibuat sama sekali.
Dengan kata lain, pendapatan terbentuk pada saat produk selesai dikerjakan dan
terjual langsusng atau pada saat terjual atas dasar kontrak penjualan (barang
mungkin belum jadi atau belum diserahkan). Berdasarkan konsep, pendapatan
sebenarnya terjadi akibat transaksi tertentu yaitu transaksi penjualan atau
kontrak sehingga sebelum transaksi atau kontrak tersebut terjadi pendapatan
belum
terjadi
atau
terbentuk.
Konsep penghimpunan dan realisasi pendapatan sangat penting artinya dalam
pengakuan pendapatan. Berdasarkan konsep dasar upaya dan hasil, konsep
penghimpunan pendapatan secara konseptual lebih unggul dan lebih konsisten
daripada konsep realisai bila dikaitkan dengan definisi pendaptan secara umum,
karena didukung oleh konsep dasar upaya dan hasil serta konsep homogenitas
kos. Konsep realisasi lebih berkaitan dengan masalah pengukuran pemdapatan
secara objektif dan lebih bersifat kriteria pengakuan daripada bersifat makna
pendapatan. Konsep realisasi atau pendekatan transaksi lebih menekankan
kejadian
yang
dapat
menandai
pengakuan
pendapatan
yaitu
:
1.
Kejadian perubahan produk menjadi potensi jasa lain melalui proses
penjualan
yang
sah
atau
semacamnya.
2. Penguatan atau validassi transaksi penjualana tersebut dengan diperolehnya
aset
lancar.
Dari kedua kejadian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa proses realisasi
merupakan
koonfirmasi
proses
penghimpunan
dana.
2.4
PENGAKUAN
PENDAPATAN
Kriteria
Pengakuan
Pendapatan
Pendapatan baru dapat diakui setelah suatu produk selesei diproduksi dan
penjualan benar-benar telah terjadi yang ditandai dengan penyerahan barang.
Dengan kata lain, pendapatan belum dapat dikatakan ada dan diakui sebelum
ada penjualan yang nyata. Hal ini didasarkan pada gagasan bahwa pengakuan
suatu jumlah rupiah dalam akuntansi harus didasarkan pada konsep dasar
keterukuran dan reliabilitas; jumlah rupiah harus cukup pasti dan ditentukan
secara
objektif
oleh
pihak
independen.
Sebaliknya, terjadinya kontrak penjualan belum cukup untuk mengakui
pendapatan sebelum barang atau jasa sudah cukup selesai dikerjakan walaupun
jumlah rupiah pendapatan telah terealisasi karena belum ada upaya yang
membentuk pendapatan. Atas dasar konsep kesatuan usaha, tidak ada
pendapatan tanpa upaya. Tanpa upaya yang cukup pendapatan belum dapat
diakui. FASB mengajukan dua kriteria pengakuan pendapatan (dan untung) yang
keduanya
harus
dipenuhi
yaitu
(SFAC
No.
5,
prg.
83):
a.
Terealisasi
atau
cukup
pasti
terealisasi

Pendapatan dikatakan terealisasi bilamana produk telah terjual atau ditukarkan


dengan kas atau klai atas kas. Dan dikatakan cukup pasti terealisasi bilamana
aset berkaitan yang diterima atau ditahan mudah dikonversi menjadi kas atau
klaim
atas
kas
yang
cukup
pasti
jumlahnya.

b.
Terbentuk
atau
terhak
Pendapatan dikatakan dapat terbentuk bila mana perusahaan telah melakukan
secara substansial kegiatan yang harus dilakukan untuk dapat menghaki
manfaat
atau
nilai
yang
melekat
pada
pendapatan.
Walaupun kedua kriteria harus dipenuhi, bobot pentingnya untuk suatu kegiatan
tertentu dapat berbeda artinya dalam keadaan tertentu perhimpun menjadi lebih
kritis daripada realisasi dan sebaliknya. Terbentuknya pendapatan, tidak selalu
harus mendahului realisasi pendapatan, dapat terjadi pendapatan sebelum
realisasi terbentuk. Kam (1990) mengemukakan kriteria pengakuan secara
teknis. Pendapatan baru dapat diakui kalau dipenuhi syarat-syarat berikut :
1.
Keterukuran
nilai
asset
(measurability
of
asset
value)
2.
Adanya
suatu
transaksi
(existence
of
a
transaction)
3.
Proses
perhimpunan
secara
substansial
telah
selesai
Syarat (1) dan (2) telah dicakupi dalam kriteria dari FASB. Agar dapat dikatakan
terealisasi pendapatan memang harus diukur secara objektif dan hal tersebut
pada umunya dapat dicapai setelah adanya transaksi penjualan atau kontrak.
Syarat (1) berkaitan dengan masalah apakah aliran masuk asset harus bersifat
likuid dan bila pendapatan dalam bentuk piutang apakah ketertagihan
(collectability) cukup pasti sehingga jumlah rupiah pendapatn yang dicatat benar
merefleksi jumalh rupiah yang akhirnya diterima. Dengan demikian pengukkuran
pendapatan sangat andal. Syarat (3) tidak berbeda dengan kriteria b dari FASB.
(Sumber
Suwardjono,
2005
:
362-369)

2.4.1
Saat
Pengakuan
Pendapatan
Masalah kapan suatu pendapatan dapat diakui berkaitan dengan saat (timing)
pengakuan pendapatan itu sendiri. Ada beberapa gagasan mengenai hal ini :
a.
Pada
Saat
Kontrak
Penjualan
Dapat terjadi ketika perusahaan telah menandatangani kontrak perusahaan dan
bahkan sudah menerima kas untuk seluruh nilai kontrak tetapi perusahaan
belum mulai memproduksi barang. Pendapatan sudah terealisasi tetapi belum
terbentuk karena hanya satu kriteria yang terpenuhi dan tidak dapat diakui
sebagai pendapatan. Sementara itu, pembayaran dimuka harus diakui sebagai
kewajiban sampai barang atau jasa diserahkan kepada pembeli, biasanya dalam
jangka waktu kurang dari satu tahun. Pada umumnya, perlakuan semacam ini
berlaku untuk perusahaan yang memproduksi barang konsumsi dan jarak antara
penandatangan kontrak dan penyerahan barang cukup pendek (kurang dari satu
tahun).
b.
Selama
proses
produksi
secara
bertahap
Dalam industri tertentu, pembuatan produk memerlukan waktu yang cukup
lama. Misalnya dalam industri konstruksi bangunan. Biasanya produk semacam
itu diperlakukan sebagai projek dan dilaksankan atas dasar kontrak sehingga
pendapatan terealisasi untuk seluruh periode kontrak tetapi mungkin belum
cukup terbentuk pada akhir tiap periode akuntansi. Dalam hal ini, pengakuan

pendapatan dapat dilakukan secara bertahap (per periode akuntansi) sejalan


dengan kemajuan proses produksi atau sekaligus pada saat projek selesai
dilakukan. Yang pertama disebut metode persentase penyelesaian, sedangkan
yang
terakhir
disebut
metode
kontrak
selesai.
Permasalahan teoritis yang kemudian dapat terjadi jika seluruh pendapatan
diakui dengan memakai metode kontrak selesai, akan terjadi kemungkinan
terjadi ketidakseimbangan volume pendapatan dan kegiatan produksi antar
tahun. Masalah juga timbul kalau perusahaan tidak memperlakukan tiap kontrak
sebagai projek dan mengakui pendapatan pada saat produk diserahkan tanpa
mengakumulasi kos yang berkaitan dengan produk sehingga penandingan yang
tepat
tidak
tercapai.
Suatu alternatif untuk memecahkan masalah di atas adalah penggunaan projek
atau angkatan produksi sebagai wadah atau takaran penentuan dan pelaporan
laba bukannya periode waktu. Sebagai alternatif lain, perusahaan dapat
mengakui pendapatan secara bertahap dan tetap menggunakan periode sebagai
takaran
penghitung
laba.
Persentase kemajuan fisis produk bukan merupakan proporsi yang tepat untuk
dasar pengukuran pendapatan yang harus diakui karena persentase tersebut
belum tentu menunujukkan persentase penyerapan kos kecuali kenyataannya
memang demikian. Demikian juga, jumlah rupiah kas yang telah diterima atas
dasar termin pembayaran kontrak tidak dapat dijadikan basis untuk menentukan
pendapatan yang harus diakui. Walaupun kontrak konstruksi menetapkan adanya
harga yang pasti, hasil pekerjaan belum pasti sehingga kos bagi perusahaan
kontraktor juga tidak pasti. Karena hal inilah pengukuran pendapatan dengan
metode
kontrak
selesai
lebih
umum
digunakan.
Masalah yang yang timbul dari pengakuan selama proses produksi ini adalah :
1. Akresi. Yaitu pertambahan nilai akibat pertumbuhan fisis atau prose alamiah
lainnya. Per definisi, akresi memenuhi pengertian pendapatan karena aset jelas
telah bertambah dan banyaknya tambahan fisis tersebut dapat ditentukan
secara objektif. Tapi yang terjadi sekarang adalah pendapatan sudah terbentuk
tapi belum terealisasi. Untuk merealisasikan pertambahan tersebut nilai
tersebut, proses produksi masih diperlukan dan masih diikuti dengan perubahan
aset menjadi aset lancar baru. Oleh karena itu, tidak selayaknya karesi dianggap
sebagai
pendapatan.
2. Apresiasi. Yaitu, selisih nilai pasar wajar aset perusahaan dengan kos (atau
nilai buku aset terdepresiasi). Dibandingkan akresi, apresiasi lebih kurang
memenuhi definisi pendapatan karena tidak berkaitan langsung dengan operasi
perusahaan
tetapi
lebih
berkaitan
dengan
kondisi
pasar.
3.
Penghematan Kos. Penghematan kos sering dikenal dengan potongan
pembelian. Hal ini bukanlah suatu pendapatan, kalau pembelian dilakukan
dengan cara bijaksana, yang terjadi yang terjadi hanyalah bahwa kos akan
menjadi lebih rendah dibandingkan dengan pembelian biasa. Memang benar
bahwa efisiensi dan keberuntungan dalam pembelian akan mempunnyai
pengaruh terhadap labayang akhirnya diperoleh. Akan tetapi, diperolehnya laba
tersebut
masih
menunggu
realisasi
penjualan.
c.
Pada
saat
produk
selesai
Pengakuan semacam ini setara dengan pengakuan pendapatan metode kontrak
selesai. Pengakuan pendapatan atas dasar saat produk selesai diproduksi dapat

dianggap layak untuk industri ekstraktif (pertambangan) termasuk pertanian.


Bahan dasar hasil produksi biasanya memiliki harga yang sudah pasti. Kondisi ini
memungkinkan untuk menaksir dengan cukup tepat nilai jual yang dapat
direalisasi suatu sediaan barang jadi ada pada tanggal tertentu, sehingga kedua
kriteria
pengakuan
dianggap
dapat
terpenuhi.
Walaupun dasar pengakuan pendapatan atas dasar produk selesai mempunyai
alasan logis dan kuat untuk industri ekstraktif, namun penggunaannya secara
umum kurang dapat diterima. Kegiatan produksi yang tanpa ada penguatan dari
penjualan dengan harga yang disepakati tidak dapat selalu dijadikan penguji
yang objektif dan menentukan untuk dasar pencatatan dan pengakuan
pendapatan. Statemen keuangannya juga menuntut penjelasan (pengungkapan)
yang jelas mengenai kondisi yang melandasi penyimpangan dari standar umum
(Penjualan).
Kalau sudah ada kontrak penjualan sebelumnya, tidak ada masalah dengan
pengakuan pendapatan pada saat produksi selesai karena pendapatan sudah
terealisasi dan pada saat produk selesai pendapatan secara subtansial sudah
terbentuk. Pengakuan ini setara dengan metoda kontrak-selesai Namun bila
belum ada kontrak penjualan sebelumnya hanya kriteria terbentuk yang
terpenuhi. Dan hal seperti ini keberatan untuk dikatan sebagai pendapatan.
d.
Pada
saat
penjualan
Pengakuan ini merupakan dasar yang paling umum karena pada saat penjualan
kriteria penghimpunan dan realisasi telah terpenuhi. Kriteria terealisasi telah
terpenuhi karena telah ada kesepakatan pihak lain untuk membayar jumlah
rupiah pendapatan secara objektif. Dengan demikian, saat penjualan merupakan
saat yang kritis dalam operasi perusahaan. Transaksi penjualan mengakibatkan
masuknya aset baru ke dalam perusahaan (kas atau piutang) untuk:

Menutup kos (potensi jasa) yang terserap untuk melaksanakan kegiatan


produksi
yang
berkulminasi
dengan
penyerahan
produk.

Menyediakan dana sebagai imbalan untuk pembayaran pajak kepada


pemerintah, bunga kepada kreditor, dan dividen kepada pemegang saham.
Kendati saat penjualan menjadi standar umum pengakuan pendapatan, terdapat
beberapa hal yang sering diajukan sebagai keberatan terhadap dasar tersebut.
Hal pertama yaitu berkaitan dengan kepastian pengukuran pendapatan akibat
kos purna jual dan masalah kedua adalah adanya kemungkinan retur barang.
Akhirnya kemungkinan akan ada piutang tak tertagih, sehingga piutang tidak
dapat
dijadikan
bukti
terealisasinya
pendapatan.
Masalah
pengakuan
saat
penjualan
:
1.
Kembalian
dan
potongan
tunai
Adanya hak pengembalian tidak menghalangi pengakuan pendapatan pada saat
penjualan. FASB menyatakan bahwa suatu perusahaan menjual produknya
dengan hak mengembalikan maka pendapatan dapat diakui pada saat
penjualana kalau syarat-syarat berikut terpenuhi (SFAS No. 48 prg.6) :
Harga
jual
cukup
pasti
Pembeli
sudah
membayar
kepada
penjual
Kewajiban membayar oleh pembeli tidak berubah dalam hal terjadi
penculikan
atau
kerusakan
fisis
produk.
Pembeli
benar-benar
ada
secara
substantif
- Penjual tidak mempunyai kewajiban yang material untuk melakukan tindakan
di masa datang yang secara langsung menjadikan pembeli mampu menjual

produk
bersangkutan
Jumlah
rupiah
kembalian
dapat
ditaksir
secara
layak.
Adanya potongan tunai tidak menghalangi pengakuan pendapatan pada saat
penjualan. Masalah yang timbul tidak berkaitan dengan pengakuan pendapatan
tetapi
berapa
jumlah
rupiah
pendapatan
harus
dicatat.
2.

Kos
purna-jual
Masalah yang paling pelik dan sulit adalah masalah yang bersangkutan
dengan penyesuaian yang diperlukan untuk mengakui pengaruh kegiatan yang
mungkin akan terjadi setelah penjualan dan harus dibebankan terhadap
penjualan tersebut. Prosedur yang umum dilakukan untuk mengantisipasi kos
semacam itu adalah mendebit jumlah rupiah yang sama ke dalam satu akun
cadangan
melalui
penyesuaian
akhir
tahun.
3.
Kerugian
piutang
Keberatan lain terhadap dasar penjualan adalah pendapat yang menyatakan
bahwa piutang bukanlah merupakan bukti yang efektif terhadap realisasi
pendapatan. Alasannya, piutang bukan merupakan sarana yang dapat digunakan
sebagai alat pembayaran sehingga kurang tepat digunakan sebagai pengukur
pendapatan. Masalah kerugian piutang dapat diatasi dengan perlakuan yang
sama seperti kos purna jual, yaitu dengan membentuk cadangan kerugian
piutang. Dengan demikian pendapatan disajikan dalam statemen sejumlah
piutang
yang
benar-benar
dapat
direalisasi.
4.
Transaksi
penjualan
Secara umum, penjualan adalah transaksi pertukaran barang atau jasa hasil
produksi perusahaan dengan kas atau klaim atas kas. Secara teknis, transaksi
penjualan adalah transaksi pertukaran aset secara aktual bukan transaksi
kontrak itu sendiri. Penjualan dikatakan telah terjadi secara teknis bila produk
(dan risiko yang melekat) telah ditransfer ke pembeli dan sebagai penghargaan
penjual
mendapat
kas
atau
klaim
atas
kas.
Kontrak penjualan yang belum disertai transfer produk secara teknis belum
dapat dikatakan sebagai transaksi penjualan betapapun perusahaan telah
menerima uang muka. Namun, secara konseptual kontrak penjualan dapat
dipandang sebagai realisasi pendapatan. Masalah lebih banyak terletak pada
kriteria realisasi. Melalui PSAK No. 23, IAI membuat ketentuan dapat mengakui
pendapatan dari penjualan barang sebagai berikut (Pasal 13 atau 38)24:

Perusahaan telah memindahkan risiko secara signifikan dan telah


memindahkan
manfaat
kepemilikan
barang
kepada
pembeli.
Perusahaan tidak lagi mengelola atau melakukan pengendalian efektif atas
barang
yang
dijual.

Jumlah
pendapatan
tersebut
dapat
diukur
dengan
andal.
Besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dibuhungkan dengan transaksi
akan
mengalir
ke
perusahaan
tersebut.
Biaya yang terjadi atau yang akan terjadi sehubungan dengan transasksi
penjualan
dapat
diukur
dengan
andal.
e.
Pada
saat
kas
terkumpul
Pengakuan pendapatan pada saat kas terkumpul sebenarnya merupakan
pengakuan pendapatan berdasarkan asas kas. Penerapan pengakuan

berdasarkan kas paling banyak dijumpai pada perusahaan jasa dan perusahaan
yang melakukan penjualan secara angsuran. Pengakuan dasar kas digunakan
untuk
transaksi
penjualan
yang
barang
atau
jasanya
telah
diserahkan/dilaksanakn tetapi kasnya baru akan diterima secara berkala dalam
waktu
yang
cukup
panjang.
Alasan digunakannya dasar ini adalah adanya ketidakpastian tentang
kolektabilitas atau ketertagihan piutang. Pendapatan suatu periode diakui secara
proporsional atas dasar kas yang telah diterima dalam periode tersebut. Ini
berarti, jumlah rupiah tagihan sejalan dengan kemajuan pekerjaan. Adapun halhal yang harus diperhatikan dalam pengakuan pendapatan pada saat kas
terkumpul
adalah:

Jasa
Dikonsumsi
Dalam
Jangka
Pendek
Dalam perusahaan jasa seperti perusahaan angkutan dan bioskop, transaksi
dilakukan dalam waktu yang relatif pendek. Penerimaan kas hampir bersamaan
dan sejalan dengan penyerahan jasa. Ini berarti bahwa saat penerimaan kas atau
penyerahan jasa dapat dijadikan pengujian untuk dasar pengukuran dan
pengakuan
pendapatan.

Jasa
Dikonsumsi
Dalam
Jangka
Panjang
Di lain pihak, apabila jasa yang diberikan adalah kompleks dan baru akan selesai
dalam periode yang relatif panjang seperti halnya penyewaan ruang, maka besar
kemungkinan akan terjadi perbedaan yang mencolok antara jumlah rupiah
pendapatan
yang
diakui
dengan
basis
akrual
dan
basis
kas.

Argumen
Pendukung
Validitas pengakuan pendapatan secara proporsional dengan penerimaan kas
didasarkan
atas
tiga
pertimbangan
yang
saling
berkaitan,
yaitu:

Seluruh atau sebagian piutang yang timbul bukan merupakan aset yang
mempunyai
daya
beli
murni
(dapat
dibelanjakan).

Makin lama jangka waktu untuk mengangsur makin besar kemungkinan


piutang
tidak
tertagih.
Kos purna-jual, terutama kos penagihan dan pengumpulan piutang, biasanya
lebih tinggi dibandingkan dengan kos purna jual untuk penjualan kredit (biasa).

Alasan
Penyanggah
Patton dan Litteton (1970) menegaskan bahwa pengakuan pendapatan dasar kas
(untuk
perusahaan
jasa)
kurang
dapat
didukung
dengan
alasan:

Tagihan (piutang) yang timbul akibat penyerahan jasa pada dasarnya


mempunyai kedudukan yuridis yang sama dengan piutang yang timbul dari
penjualan
barang.

Belum tentu kegagalan untuk penerimaan peluanasan piutang dalam


perusahaan jasa lebih besar daripada perusahaan barang dagang.

Dalam hal penerimaan pembayaran dimuka, kemungkinan terjadinya


kerugian piutang memang sudah tidak ada lagi tetapi tidak berarti bahwa
pendapatan
sudah
dapat
diakui.
Jadi, pada dasarnya pengakuan pendapatan atas penerimaan kas hanya berlaku
untuk jasa profesi yang mempunyai karakteristik: (1) jasa bersifar unik dan tidak

dapat ditentukan secara jelas dan pasti pada permulaan pekerjaan, dan (2)
jumlah pendapatan total yang harus ditagih tergantung pada hasil pekerjaan
yang
bersangkutan.

Prosedur
Akuntansi
Dasar
Kas
Patton dan Litteton (1970) menggambarkan prosedur akuntansi untuk mencapai
penandingan
yang
tepat
sebagai
berikut:

Pada saat kontrak penjualan angsuran dan pengiriman seluruh barang,


perusahaan
mencatat
sebagai
berikut:
Pengiriman
Barang-Dasar
Kas
xxx
Sediaan
Barang
Dagangan
xxx
Jumlah di atas dicatat atas dasar kos. Piutang angsuran dicatat secara memorial
(tidak dijurnal). Pengiriman barang-dasar kas mempunyai status sebagai aset
perusahaan
(semacam
barang
konsinyasi).
Bila perusahaan menerima uang muka atau angsuran, penerimaan dicatat
sebagai:
Kas
xxx
Penjualan-Dasar
Kas
xxx
Seluruh jumlah rupiah kas yang telah diterima dari penjualan dalam suatu
periode yang tampak dalam saldo akun Penjualan-Dasar Kas yang merupakan
pendapatan
yang
diakui
dan
dilaporkan
dalam
periode
tersebut.
Pada akhir periode harus diperhitungkan kos produk yang dapat dibebankan
secara tepat (sebagai biaya) ke pendapatan dasar kas tersebut. Jurnal yang
harus
dibuat
pada
akhir
tahun
adalah:
Cost
Barang
Terjual-Dasar
Kas
xxx
Pengiriman
Barang-Dasar
Kas
xxx
Kalau ternyata ada akhir periode terdapat penjualan yang sudah diterima
kasnya tetapi barang belum dikirim maka cost barang tersebut harus ditaksir
dan ditambahkan ke kos barang terjual dasar kas. Jurnal yang harus dibuat pada
akhir
periode
adalah:
Cost
Barang
Terjual-Dasar
Kas
xxx
Utang
Pengiriman
Barang-Dasar
Kas
xxx
Dalam neraca, pos Pengiriman Barang-Dasar Kas akan disajikan sebagai aset
lancar sebesar kosnya dan pos Utang Pengiriman Barang-Dasar Kas dapat
dilaporkan sebagai kewajiban atau dikontrakan dengan pos Pengiriman BarangDasar
Kas.

Biaya
Administrasi
dan
Penjualan
Pada umumnya cost administrasi dan penjualan bukan merupakan cost yang
dapat diperlakukan seperti cost sediaan yaitu tersediakan. Cost tersebut harus
segera dibebankan ke pendapatan sebagai biaya periode. Dalam hal inilah
pengakuan pendapatan atas dasar kas menunjukkan kelemahannya. Sementara
cost produk dapat diperhitungkan secara cukup teliti untuk ditandingkan dengan
pendapatan dasar kas, biaya administrasi dan umum sangat sulit untuk dikaitkan
dengan
pendapatan
tersebut.
2.4.2
Saat
Pengakuan
Penjualan
Jasa
Pengakuan pendapatan dari penjualan jasa secara umum mengikuti pemikiran
yang melandasi pengakuan pendapatan untuk penjualan barang. Masalah

teoritis yang dihadapi lebih banyak menyangkut kriteria realisasi daripada


pembentukan pendapatan. Yang sering sulit ditentukan adalah mengenali
kejadian atau kegiatan yang menandai bahwa penyerahan jasa telah terjadi dan
selesai.
AICPA memberikan kaidah pengakuan umum untuk penjualan jasa sebagai
berikut:
Kalau pemberian jasa terdiri atas pelaksanaan satu pekerjaan atau tindakan,
pendapatan harus diakui pada saat pekerjaan tersebut telah dilakukan.

Kalau pemberian jasa terdiri atas pelaksanaan serangkain pekerjaan atau


tindakan secara bertahap, pendapatan harus diakui selama periode pelaksanaan
pekerjaan
secara
proporsional.
Kalau pemberian jasa terdiri atas pelaksanaan serangkaian pekerjaan atau
tindakan secara bertahap, pendapatan dapat diakui pada saat seluruh pekerjaan
telah
selesai
dilaksanakan
bila
kondisi
berikut
terpenuhi:
i. Proporsi jasa yang dilaksanakan pada tahap akhir pekerjaan begitu kritisnya
sehingga seluruh pekerjaan tidak dapat dikatakan selesai sebelum tahap akhir
dilaksanakan.
ii. Jasa harus diberikan dalam beberapa tahap yang tidak dapat ditetukan di
muka selama waktu yang tidak pasti dan tidak ada cara yang cukup layak untuk
menentukan
tingkat
penyelesaian
pekerjaan.
Terdapat tingkat ketidak pastian yang tinggi berkenaan dengan ketertagihan
atau kolektabilitas pendapatan jasa, pendapatan baru diakui setelah kas
terkumpul.
Dalam PSAK No. 23, IAI menetapkan bahwa pengakuan pendapatan atas dasar
kemajuan pelaksanaan merupkan ketentuan utama sedangkan kaidah lain
merupakan pengecualian dari kaidah ini. IAI mengeksplisitkan asumsi atau
kondisi yang melandasi keterterapan pengakuan atas dasar kemajuan
pelaksanaan
yaitu:

Jumlah
pendapatan
dapat
diukur
dengan
andal.
Besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut
akan
diperoleh
perusahaan.
Tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca dapat diukur
dengan
andal.
Biaya yang terjadi untuk transaksi tersebut dan biaya untuk menyelesaikan
transaksi
tersebut
dapat
diukur
dengan
andal.

2.4.3
Pedoman
Umum
Pengakuan
Pendapatan
FASB meringkas pedomam umum dalam SFAC No. 5 paragraf 84 sebagai berikut:

Kriteria terbentuk dan terealisasi biasanya dipenuhi pada saat produk


diserahkan
kepada
konsumen.

Kalau kontrak penjualan atau penerimaan kas mendahului produksi atau


pengiriman barang, pendapatan dapat diakui pada saat terhak dan pengiriman.
Kalau produk dikontrak sebelum diproduksi, pendapatan dapat diakui secara
bertahap dengan metode persentase penyelesaian pada saat sudah terbentuk
asalkan
dapat
diukur
secara
andal.
Kalau jasa diberikan atau hak untuk menggunakan aset berlangsung secara
terus-menerus selama suatu periode dengan kontrak harga yang pasti,

pendapatan
dapat
diakui
bersamaan
dengan
berjalannya
waktu.

Kalau produk atau aset lain dapat segera terealisasi karena dapat dijual
dengan harga yang cukup pasti tanpa biaya tambahan berarti, pendapatan dan
untung rugi dapat diakui pada saat selesainya produksi atau pada saat harga
aset
tersebut
berubah.
Kalau produk, jasa atau aset lain ditukarkan dengan aset non moneter yang
tidak segera dapat dikonversi menjadi kas, pendapatan atau untung rugi dapat
diakui pada saat telah terhak atau transaksi telah selesai asalkan nilai wajar aset
non
moneter
yang
dapat
ditentukan
dengan
layak.

Kalau ketertagihan aset yang diterima untuk produk, jasa, atau aset lain
meragukan, pendapatan dapat diakui atas dasar kas yang terkumpul.
Prosedur
Pengakuan
Kebijakan akuntansi perusahaan harus menetapkan kejadian atau kegiatan
internal apa yang dapat digunkan sebagai pemicu pencatatan ke dalam sistem
akuntansi.

Kegiatan Internal Sebagai Pemicu dan Bukti Pengakuan Pendapatan:


Kaidah Pengakuan Kegiatan Internal yang Terlibat Kegiatan Pemicu dan Bukti
Pengakuan
1. Pada saat kontrak penjualan. Penandatanganan kontrak, penerimaan uang
muka.
Pendapatan belum diakui. Surat kontrak dan penerimaan bukti setor
bank
sebagai
dasar
pencatatan
uang
muka.
2. Selama proses produksi secara bertahap. Penggunaan BB, BTKL, dan BOP.
Pembayaran biaya Adm. Penagihan. Penyesuaian akhir tahun. Penyiapan dan
pengiriman surat penagihan. Penyesuaian akhir tahun atas dasar catatan
akumulasi
kos.
3. Pada saat proses produksi selesai. Pemindahan barang jadi dari pabrik ke
gudang. Penyesuaian akhir tahun.
Belum ada kontrak : (1) penyerahan
barang ke gudang disertai nota penerimaan, atau (2) penyesuaian akhir tahun.
Sudah ada kontrak: Penyerahan barang ke bagian gudang disertai nota
penerimaan
dan
surat
kontrak
atau
order
pembelian.
4.
Pada saat penjualan.
Penerimaan order pembelian. Penerimaan uang
muka. Pengiriman barang. Pengiriman faktur penjualan. Penerimaan nota terima
barang dari pembeli. - Pengiriman barang disertai pengiriman faktus sesuai
syarat.
Penerimaan
nota
terima
barang
didukung
faktur
dan
order
pembelian/penjualan.
5. Pada saat kas terkumpul Pengiriman surat tagihan angsuran. Penerimaan
kas atau alat pembayaran lain. Penyesuaian akhir tahun.
Penerimaan kas
didukung nota pembayaran atau bukti transfer. Penyesuaian akhir tahun atas
dasar
catatan
kas
yang
terkumpul
sampai
akhir
periode.

Penyajian
Masalah penyajian berkaitan dengan penyajian pendapatan adalah memisahkan

antara pendapatan dan untung dan pemisahan berbagai sifat untung menjadi
pos biasa dan luar biasa dan cara menuangkannya dalam statemen laba rugi.
(Sumber
Suwardjono,
2005
:
369-392)
2.4.4
Pendapatan
Menurut
Bragg
Pendapat Bragg mengenai pengakuan pendapatan adalah sebagai berikut :
1.
Mengukur
pendapatan
untuk
penjualan
barang
Pendapatan diukur pada jumlah nilai wajar yang akan diteriuma, dengan
memasukkan jumlah potongan harga dan rabat penjualan berdasarkan jumlah
yang dibeli, yang diterima oleh entitas. Bila perusahaan dibayar secara tunai,
jumlah pendapatan yang diakui adalah jumlah kas yang diterima atau piutang
usaha.
2.
Mengukur pendapatan saat ada pembayaran yang ditangguhkan
Dalam hal pembayaran tunai yang ditangguhkan, jumlah nilai wajar dari
penerimaan dapat dikurangi. Bila pembayaran tertunda secara efektif
merupakan transaksi pendanaan, pendapatan harus diakui sebagai arus kas
transaksi yang didiskontokan., dengan menggunakan tingkat bunga yang dapat
ditentukan lebih jelas, yaitu (a) tingkat bunga yang berlaku untuk sebuah
transaksi yang sama oleh entitas dengan sebuah peringkat kredit yang sama;
atau (b) tingkat bunga yang mendiskontokan transaksi berdasarkan pada harga
tunai
saat
ini
dari
barang
atau
jasa.
Apabila suatu transaksi didiskontokan untuk tujuan pengakuan pendapatan,
maka selisih antara nilai wajar dan jumlah nilai nominal yang dibayarkan dicatat
sebagai
pendapatan
bunga.
3.
Mengakui
pendapatan
dalam
barter
Sebuah transaksi tidak menghasilkan pendapatan jika melibatkan pertukaran
barang atau jasa yang sifat atau nilainya sama. Jika pertukarannya untuk barang
atau jasa yang berbeda, transaksi ini menciptakan pendapatan; ini diukur pada
nilai wajar dari nilai barang atau jasa yang diterima, sebagaimana telah diubah
oleh jumlah uang tunai yang ditransfer. Jika nilai wajar dari barang atau jasa
yang diterima tidak dapat diukur dengan andal, maka gunakan nilai wajar dari
barang atau jasa yang diserahkan, sebagaimana telah diubah oleh jumlah uang
tunai
yang
ditransfer.
4.
Kapan
dapat
diakui
penjualan
barang
Pendapatan dari penjualan barang dapat diakui bila seluruh kondisi berikut telah
diakui
:
a.
Jaminan manfaat. Manfaat ekonomi yang berhubungan dengan transaksi
akan
mengalir
kepada
entitas.
b. Pengukuran biaya. Biaya yang berkaitan dengan transaksi tersebut dapat
diukur
secara
andal.
c.
Pelepasan kepemilikan. Entitas tidak lagi memegang kendali manajemen
atas
barang
yang
dijual.
d.
Pengukuran pendapatan. Jumlah pendapatan yang diakui dapat diakui
secara
andal.
e. Pemindahan risiko dan manfaat. Semua risiko dan manfaat yang signifikan
yang terkait dengan barang telah dialihkan kepada pembeli. Hal ini biasanya
bertepatan dengan pengalihan hak-hak hukum atau kepemilikan kepada
pembeli.

5.
Pengakuan pendapatan dalam transaksi penerimaan kas pada saat
pengiriman.
Jika seorang penjual menjual barang berdasarkan syarat penerimaan kas pada
saat pengiriman, maka perusahaan harus mengakui pendapatan ketika
perusahaan mengirimkan barang dan menagih kas dari transaksi tersebut.
6.
Mengakui
pendapatan
dari
penjualan
langganan
Ketika penjual melakukan pengiriman publikasi dan barang yang sama kepada
pembelian dengan perjanjian berlangganan, perusahaan biasanya mengakui
pendapatan atas dasar garis lurus selama periode ketika barang tersebut
diberikan. Namun, jika barang tersebut berbeda nilainya setiap periode, maka
penjual harus mengakui pendapatan berdasarkan nilai penjualan masing-masing
barang secara proporsional terhadap total estimasi nilai penjualan dari semua
barang
yang
termasuk
dalam
berlangganan.
7.
Mengakui
pembayaran
uang
muka
Pembeli dapat mengirimkan pembayaran penuh atau pembayaran sebagian
kepada penjual sebelum pengiriman barang. Penjual mungkin belum memiliki
barang dalam persediaan, barang tersebut mungkin masih dalam proses
produksi, atau barang akan dikirim oleh pihak ketiga. Dalam keadaan ini, penjual
tidak boleh mengakui pendapatan sampai barang diserahkan kepada pembeli.
8.
Mengakui
penjualan
angsuran
Pembeli dapat mengirimkan serangkaian pembayaran kepada penjual sebagai
pertukaran untuk pengiriman barang yang segera dari penjual kepada pembeli.
Dalam hal ini, penjual dapat mengakui pendapatan setelah diserahkan , namun
jumlah yang diakui adalah nilai tunai dari seluruh pembayarn., dimana penjual
menghitung dengan mendiskontokan pembayaran pada tingkat bunga yang
diestimasikan. Penjual mengakui bagian bunnga dari pembayaran, yang
menghitungnya dengan menggunakan metode bunga efektif pada saat
menerimanya.
9.
Mengakui
penjualan
layaway
Penjualan layaway terjadi pada saat barang diserahkan kepada pembeli hanya
ketika pembeli telah menyelesaikan pembayaran akhir dalam serangkaian
pembayaran angsuran. Dalam sebuah penjualan layaway, penjualan mengakui
pendapatan hanya jika pada saat perusahaan mengirimkan barang. Namun, jika
pengalaman historis penjual menunjukkan bahwa sebagian besar transaksi
layaway dikonversi menjadi penjualan, maka perusahaan dapat mengakui
pendapatan pada saat perusahaan menerima setoran uang (deposit) yang
signifikan, dengan ketentuan bahwa barang tersedia, teridentifikasi , dan siap
untuk
pengiriman.
10.
Mengakui
transaksi
Bill
and
Hold
Di dalam penjualan bill and hold, pembeli meminta supaya pengiriman ditunda,
tetapi menerima tagihan dan mengambil hak atas barang tersebut. Penjual
mengakui pendapatan pada saat pembeli mengambil hak dan kondisi berikut
dipenuhi:
a.
Persyaratan
pembayaran
normal
berlaku
untuk
transaksi.
b.
Pembeli
mengakui
intruksi
penundaan
pengiriman

c.
d.

Ada
kemungkinan
bahwa
pengiriman
akan
dilakukan.
Barang barang teridentifikasi, tersedia, dan siap untuk pengiriman.
Penjual tidak dapat mengakui pendapatan yang berkaitan dengan transaksi
bill and hold jika hanya ada niat untuk memperoleh atau memproduksi barang
dalam waktu pengiriman, sebagai kebalikan dari ketersediaan barang.
11.
Pengakuan
penjualan
jasa
Entitas dapat mengakui pendapatan sehubungan dengan pemberian jasa bila
memenuhi
segala
kondisi
berikut
:
Pengukuran pendapatan. Jumlah pengakuan yang diakui dapat diukur secara
andal.

Jaminan manfaat. Manfaat ekonomi yang terkait dengan transaksi akan


mengalir
kepada
entitas.
Pengukuran penyelesaian. Tahap penyelesaian pada akhir periode pelaporan
dapat
diukur
secara
andal.

Pengukuran biaya. Biaya yang berkaitan dengan transaksi tersebut dapat


diukur
dengan
andal,
seperti
biaya
untuk
dapat
menyelesaikan.
12.
Cara
menghitung
pendapatan
dari
penjualan
jasa
Hal
hal
yang
perlu
diperhatikan
adalah
:
Pengakuan garis lurus. Jika jasa yang diberikan termasuk jumlah tindakan
yang tidak jelas sesama jangka waktu tertentu, pendapatan harus diakui dengan
metode garis lurus selama perioda waktu yang ditentukan, kecuali beberapa
metode
lain
yang
menyajikan
pemberian
jasa
yang
lebih
baik.
Aktivitas yang signifikan. Jika suatu aktivitas tertentu secara substansial lebih
penting daripada kegiatanlainnya, maka suatu entitas harus menunda
pengakuan
pendapatan
sampai
kegiatan
itu
telah
diselesaikan.

Estimasi yang tidak dapat diandalkan. Ketika entitas tidak dapat


memperkirakan hasil dari jasa secara andal, perusahaan harus mengakui
pendapatan hanya sejauhmana beban yang diakuidapat dipulihkan. Dalam hal
ini, tidak ada laba yang diakui. Jika biaya yang terjadi tidak mungkin dipulihkan,
maka perusahaan tidak mengakui pendapatan dan mengakui semua biaya yang
terjadi
sebagai
beban.
13.
Mengakui
Pendapatan
Royalti
Pengakuan sesuai dengan persyaratan perjanjian yang bersangkutan, kecuali
substansi perjanjian menyerukan untuk metode yang berbeda. Dari perspektif
praktis, pengakuan mungkin dengan dasar garis lurus selama juangka waktu
perjanjian. Jika perjanjian adalah penyerahan hak dalam pertukaran untuk
sebuah imbalan yang ditetapkan atau jaminan yang tidak dapat dikembalikan di
mana pemberi lisensi tidak memiliki sisa liabilitas kinerja., pemberi lisensi
tersebut dapat mengakui pendapatan pada saat penjualan. Jika pembayaran
dengan perjanjian adalah kontingensi atas terjadinya peristiwa masa depan,
pendapatan harus diakui apabila besar kemungkinan bahwa biaya atau royalti
akan
diterima.
(Bragg,
2010
227-259)
1.
Pendapatan
(IAS18/PSAK23)
No.
Keterangan
IAS
18
PSAK
23
1 Pengertian Pendaptan (revenue) itu sendiri didefinisikan sebagi pendapatan
yang timbul dari aktivitas normal suatu entitasbaik perseorang atau badan

usaha yang melakukan aktivitas usahadalam berbagai varian, mungkin


disebut:
1.
Penjualan;
2.
Fee;
3.
Bunga;
4.
Dividend;
5. Royalti - Penghasilan (income) meliputi pendapatan (revenue) maupun
keuntungan
(gain).
- Pendapatan adalah penghasilan yang timbul selama dalam aktivitas normal
entitas dan dikenal dengan bermacam-macam sebutan yang berbeda seperti
penjualan,
penghasilan
jasa
(fees),
bunga,
dividen
dan
royalti.
2
Ruang
lingkup
(a)
penjualan
barang;
(b)
penjualan
jasa;
dan
(c) penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti,
dan
dividen.
(a)
penjualan
barang;
(b)
penjualan
jasa;
dan
(c) penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti,
dan
dividen.
3 Istilah penting/ definisi - Nilai wajar adalah jumlah darimana suatu aset
dapat dipertukarkan atau suatu liabilitas yang diselesaikan antara pihak-pihak
yang
berpengetahuan,
berkeinginan
dalam
transaksi
yang
wajar.
Pendapatan (revenue) adalah arus masuk kotor dari imbalan ekonomis
selama periode yang ditimbulkan dalam rangkaian aktivitas biasa dari suatu
entitas apabila arus masuk menimbulkan kenaikan dalam ekuitas selain dari
kenaikan yang terkait dari iuran peserta ekuitas. - Nilai wajar adalah jumlah
dimana suatu aset dapat dipertukarkan atau suatu liabilitas diselesaikan antara
pihak yang memahami dan berkeinginan untuk melakukan transaksi wajar (arms
length
transaction).
- Pendapatan(income) adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang
timbul dari aktivitas normal entitas selama suatu periode jika arus masuk
tersebut mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi
penanam
modal.
4 Pengukuran pendapatan Pendapatan diukur atas dasar jumlah nilai wajar
yang diterima atau ditagihkan dengan memperhitungkan jumlah potongan
perdagangan dan volume rabat yang diperbolehkan suatu entitas. Pendapatan
diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau dapat diterima.
5
Pengidentifikasian transaksi
Dalam kondisi yang umum, kriteria standar
pengakuan diterapkan terhadap setiap transaksi. Akan tetapi, dalam transaksi
yang lebih kompleks, kriteria perlu diterapkan kepada kompomem suatu
transaksi. Pendapatan diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau
dapat
diterima.
6 Pendapatan atas penjualan barang
Pendapatan (revenue) dari penjualan
barang harus diakui hanya bilamana seluruh kondisi ini terpenuhi :
a. Risiko dan imbalan yang signifikan dari kepemilikan atas barang tersebut
yang
telah
ditransfer
oleh
entitas
kepada
pembeli.
b. Entitas tidak memiliki kendali yang efektif atas banrang sudah dijual atau
tidak memiliki keterlibatan menajerial yang berkelanjutan hingga suatu tingkatan
yang
biasanya
berhubungan
denga
kepemilikan.
c.
Jumlah
pendapatan
dapat
diukur
dengan
andal
d. kemungkinan besar imbalan secara ekonomi yang terkait dengan transaksi

yang
akan
mengalir
kepada
entitas
tersebut;
dan
e. biaya yang terjadi atau akan terjadi dalam kaitan dengan transaksi dapat
diukur dengan andal.
Pendapatan dari penjualan barang diakui jika seluruh
kondisi
berikut
dipenuhi:
a. entitas telah memindahkan risiko dan manfaat kepemilikan barang secara
signifikan
kepada
pembeli;
b.
entitas tidak lagi melanjutkan pengelolaan yang biasanya terkait dengan
kepemilikan atas barang ataupun melakukan pengendalian efektif atas barang
yang
dijual;
c.
jumlah
pendapatan
tersebut
dapat
diukur
dengan
andal;
d.
kemungkinan besar manfaat ekonomi yang terkait dengan transaksi
tersebut
akan
mengalir
kepada
entitas
tersebut;
dan
e.
biaya yang terjadi atau akan terjadi sehubungan transaksi penjualan
tersebut
dapat
diukur
dengan
andal.
7 Pendapatan dari penyerahan jasa Pendapatan (revenue) dari penyerahan
jasa harus diakui melalui rujukan kepada tahap penyelesaian dari transaksi pada
akhir
periode
pelaporan
bilamana:
a.
Jumlah
pendapatan
(revenue)
dapat
diukur
dengan
andal.
b. Kemungkinan bahwa imbalan ekonomis yang terkait dengan trasaksi akan
mengalir
ke
dalam
entitas.
c.
Tahapan penyelesaian dari transaksi pada akhir periode pelaporan dapat
diukur
dengan
andal.
d. Biaya yang terjadi atas transaksi dan biaya untuk menyelesaikan transakasi
dapat
diukur
dengan
andal
(Penjualan
jasa);
Jika hasil transaksi yang terkait dengan penjualan jasa dapat diestimasi dengan
andal, pendapatan sehubungan dengan transaksi tersebut harus diakui dengan
acuan pada tingkat penyelesaian dari transaksi pada tanggal neraca. Hasil
transaksi dapat diestimasi dengan andal jika seluruh kondisi berikut ini dipenuhi:
a.
jumlah
pendapatan
dapat
diukur
dengan
andal;
b.
kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi
tersebut
dapat
diperoleh
entitas;
c. tingkat penyelesaian dari suatu transaksi pada tanggal neraca dapat diukur
dengan
andal;
dan
d.
biaya yang timbul untuk transaksi dan biaya menyelesaikan transaksi
tersebut
dapat
diukur
dengan
andal.
8
Bunga, royalti, dan dividen
Pendapatan (revenue) yang timbul dari
penggunaan aset entitas oleh pihak ketiga dan menghasilkan bunga, royalti dan
deviden
baru
diakui
bilamana
:
a. Dimungkinkan bahwa imbalan ekonomis yang terkait dengan transaksi akan
mengalir
kepada
entitas.
b.
Jumlah
pendapatan
dapat
diukur
dengan
andal
Pendapatan
(revenue)
harus
diakui
atas
dasar
sebagai
berikut:
a. Bunga harus diakui dengan menggunakan metode bunga efektif (IAS 39)
b. Royalti harus diakui atas dasar akrual sesuai dengan syarat perjanjian yang
relevan
c.
Dividen harus diakui bilamana pemegang saham berhak menerima
pembayaran. Pendapatan yang timbul dari penggunaan aset entitas oleh pihak
lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen diakui atas dasar yang
dijelaskan
dalam
paragraf
30,
jika
:

a. Kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut


akan
diperoleh
entitas;
dan
b.
Jumlah
pendapatan
dapat
diukur
dengan
andal.
Pendapatan
diakui
dengan
dasar
sebagai
berikut:
a. Bunga diakui menggunakan metode suku bunga efektif seperti yang dijelaskan
di PSAK 55 (revisi 2006): Instrumen keuangan: pengakuan dan pengukuran
paragraf
8
dan
PA
17-20;
b. Royalti diakui atas dasar akrual sesuai dengan substansi perjanjian yang
relevan;
dan
c. Dividen diakui jika hak pemegang saham untuk menerima pembayaran
ditetapkan.
9
Pengungkapan
Pengungkapan
berikut
harus
dilakukan
:
a. Kebijakan akuntansi yang diadopsi untuk pengakuan pendapatan (revenue)
termasuk metode yang diadopsi untuk menentukan tahapan penyelesaian dan
transaksi
yang
terkait
dengan
penyerahan
jasa.
b.
Jumlah dari setiap kategori dari pendapatan yang signifikan yang diakui
selama periode berjalan , termasuk pendapatan(revenue) yang berasal dari:
o
penjualan
barang;
o
penjualan
jasa;
o
bunga;
royalti
dan
dividen.
c. Jumlah pendapatan yang berasal dari pertukaran barang atau jasa termasuk di
dalam setiap kategori pendapatan yang signifikan
Entitas mengungkapkan:
a. Kebijakan akuntansi yang digunakan untuk pengakuan pendapatan, termasuk
metode yang digunakan untuk menentukan tingkat penyelesaian transaksi yang
melibatkan
pemberian
jasa;
b. Jumlah setiap kategori signifikan dari pendapatan yang diakui selama periode
tersebut,
termasuk
pendapatan
yang
berasal
dari:
o
penjualan
barang;
o
penjualan
jasa;
o
bunga;
o
royalti;
o
dividen;
c.
Jumlah pendapatan yang berasal dari pertukaran barang atau jasa yang
tercakup
dalam
setiap
kategori
signifikan
dari
pendapatan.
(Sumber Ankarat, 2012 : 117-124) dan (PSAK 23 Edisi Revisi 2009)

BAB

IV

KESIMPULAN

KESIMPULAN
Dari pemaparan-pemaparan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendapatan
adalah keseluruhan penerimaan dari suatu unit usaha selama satu periode
tertentu setelah dikurangi dengan penjualan retur dan potongan-potongan.
Maksud penjualan retur adalah pengembalian barang oleh pelanggan karena
barang tertentu yang dikirim rusak atau tidak sesuai pesanan. Sedangkan
potongan penjualan adalah potongan yang diberikan kepada pelanggan karena
pelanggan membayar lebih cepat sesuai dengan waktu yang telah ditentukan
untuk
mendapat
potongan.
Maka dengan demikian pendapatan dapat diakui ketika pada saat penjualan
merupakan titik yang menentukan untuk dapat menimbulkan pendapatan yang
memenuhi pengertian atau persyaratan dari pendapatan itu sendiri. Saat
penjualan dapat dijadikan saat pengakuan karena proses realisasi pendapatan
telah
terjadi.
Penjualan baru dapat dikatakan terjadi bilamana telah terjadi peralihan hak milik
atas suatu barang, akan tetapi peralihan hak milik merupakan masalah yang
sangat teknis dan untuk dasar penentuan saat pengakuan dalam prosedur
pembukuan pendapatan disarankan untuk tidak terlalu menekankan pada aspek
yuridis formal karena kegiatan penjualan itu sendiri terdiri atas rangkaian
kegiatan yaitu berupa penjualan yang sifatnya kontinyu.
http://nefendi01.blogspot.co.id/2013/12/teori-akuntansi-konseppendapatannendi.html 25 maret mlm