Anda di halaman 1dari 11

Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Warmadewa

| Tahun Ajaran 2014/2015

RESTORASI SUNGAI LAMA AKIBAT BANTARAN SUNGAI SEBAGAI


SARANA TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH
Oleh:
Dewa Ayu Putu Nita Wahyuni | 1461121054
Hera Agustina | 1461121060
Kadek Oxi Arimbawa | 1461121066
I Putu Dody Andhika Pratama | 1461121038
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Warmadewa, Denpasar
Jl. Trompong 36, Tanjung Bungkak Denpasar Bali 80235, Indonesia
Abstrak
Sungai di Jl. Raya kampus unud, jimbaran kecamatan kuta utara persis depan fakultas hukum
universitas udayana saat ini mengalami kekeringan dan daerah bantarannya saat ini banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai kegunaan seperti pembuangan sampah dan limbah
sehingga terjadi degradasi (penurunan) kemampuan sungai untuk mendukung berbagai macam
fungsinya. Restorasi sungai adalah mengembalikan fungsi alami/renaturalisasi sungai, yang telah
terdegradasi oleh intervensi manusia. Restorasi sungai merupakan perubahan paradigma dalam
ilmu rekayasa sungai (river engineering) yaitu perubahan dari pola penyelesaian berdasarkan aspek
teknik sipil hidro secara parsial menjadi penyelesaian terintegrasi aspek hidraulik, fisik, ekologi,
sosial. Pembangunan berkelanjutan adalah proses pembangunan yang berprinsip memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Salah satu
faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana
memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan
keadilan sosial. Mengkaji dari konsep pembangunan berkelanjutan dan restorasi sungai maka dapat
disimpulkan bahwa restorasi sungai adalah jawaban dari pembangunan sungai yang berkelanjutan
yaitu restorasi sungai bertujuan memperbaiki kehancuran lingkungan sungai tanpa mengorbankan
kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.
Kata kunci: kekeringan, sampah, restorasi, sungai, pembangunan, berkelanjutan
PENDAHULUAN

PSDA | Restorasi
Sungai Lama

Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan satu kesatuan ekosistem yang unsur-unsur utamanya terdiri
atas sumberdaya alam tanah, air dan vegetasi serta sumberdaya manusia sebagai pemanfaat sumberdaya
alam tersebut. DAS di beberapa tempat di Indonesia memikul beban amat berat sehubungan dengan
tingkat kepadatan penduduknya yang sangat tinggi dan pemanfaatan sumberdaya alamnya yang intensif
sehingga terdapat indikasi belakangan ini bahwa kondisi DAS semakin menurun dengan meningkatnya
kejadian tanah longsor, erosi dan sedimentasi, banjir, dan kekeringan. Disisi lain tuntutan terhadap
kemampuannya dalam menunjang system kehidupan, baik masyarakat di bagian hulu maupun hilir
demikian besarnya. Sebagai suatu kesatuan tata air, DAS dipengaruhi kondisi bagian hulu khususnya
kondisi biofisik daerah tangkapan dan daerah resapan air yang di banyak tempat rawan terhadap ancaman
gangguan manusia. Hal ini mencerminkan bahwa kelestarian DAS ditentukan oleh pola perilaku, keadaan
sosial-ekonomi dan tingkat pengelolaan yang sangat erat kaitannya dengan pengaturan kelembagaan
(institutional arrangement).
Tidak optimalnya kondisi DAS yang ditandai dengan meningkatnya lahan kritis setiap tahun di
bagian hulu dan tingkat erosi yang terus meningkat antara lain disebabkan tidak adanya keterpaduan antar
sektor dan antar wilayah dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan DAS tersebut sehingga
membawa implikasi menurunnya kondisi DAS. Dimana, masing-masing daerah kadang berjalan sendirisendiri dengan tujuan yang kadangkala bertolak belakang. Sulitnya koordinasi dan sinkronisasi tersebut
lebih terasa dengan adanya otonomi daerah dalam pemerintahan dan pembangunan dimana daerah
berlomba memacu meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan memanfaatkan sumberdaya
alam yang ada di wilayah DAS. Permasalahan ego-sektoral dan ego-kedaerahan ini akan menjadi sangat
komplek pada DAS yang lintas kabupaten/kota dan lintas propinsi.
Tingkat kekritisan lahan suatu DAS ditunjukkan oleh menurunnya penutupan vegetasi permanen dan
meluasnya lahan kritis sehingga menurunkan kemampuan DAS dalam menyimpan air yang berdampak
pada meningkatnya frekuensi banjir, erosi dan penyebaran tanah longsor pada musim penghujan dan
kekeringan pada musim kemarau. Sampai dengan tahun 2007 penutupan hutan di Indonesia sekitar 50%
luas daratan dan ada kecenderungan luasan areal yang tertutup hutan terus menurun dengan rata-rata laju
deforestasi tahun 2000-2005 sekitar 1,089 juta ha per tahun. Sedangkan lahan kritis dan sangat kritis
masih tetap luas yaitu sekitar 30.2 juta ha (terdiri dari 23,3 juta ha sangat kritis dan 6,9 juta ha kritis),
erosi dari daerah pertanian lahan kering yang padat penduduk tetap tinggi melebihi yang dapat ditoleransi
(15 ton/ha/th) sehingga fungsi DAS dalam mengatur siklus hidrologi menjadi menurun.
Jumlah penduduk yang terus berkembang, sementara lapangan kerja sangat terbatas sebagaimana
disinggung di atas, telah mendorong masyarakat memanfaatkan setiap jengkal lahan untuk memperoleh
produksi pertanian sebagai upaya memenuhi kebutuhan hidup. Permasalahan degradasi lingkungan DAS
timbul, apabila pemanfaatan lahan ini dilakukan pada daerah berlereng tanpa memperhatikan kemampuan
lahannya. Aktivitas penggunaan lahan demikian tidak saja merugikan wilayah setempat (on site) tetapi
juga menjadikan derita di wilayah hilirnya (off site). Proses ini terangkai dalam sistem aliran sungai yang
berjalan mengikuti kaidah alami (proses hidrologis) yang tidak terikat oleh batas administrasi. Oleh
karena itu, tingkat kekritisan DAS sangat berkaitan pula dengan tingkat sosial ekonomi masyarakat petani
di daerah tengah hingga hulu DAS terutama jika kawasan hutan dalam DAS tidak luas. Tingkat kesadaran
dan kemampuan ekonomi masyarakat petani yang rendah akan mendahulukan kebutuhan primer dan
sekunder (sandang, pangan, dan papan) bukan kepedulian terhadap lingkungan (upaya konservasi)
sehingga sering terjadi perambahan hutan di daerah hulu DAS, penebangan liar dan praktik-praktik
pertanian lahan kering di perbukitan yang akan meningkatkan kekritisan DAS.

Disisi lain, adanya kesenjangan pemanfaatan ruang dalam pengelolaan DAS antara elit lokal
(pengusaha) dengan masyarakat petani sekitar DAS telah membuka peluang konflik kepentingan. Kondisi
ini menjadi ancaman terhadap daya dukung DAS karena pemanfaatan dan pengelolaan DAS akan
dilakukan semaunya tanpa memperhatikan karakteristik dan kelestarian fungsi DAS. Adanya konflik
kepentingan dalam pemanfaatan wilayah DAS dan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar DAS yang
masih jauh dari sebuah hidup yang layak, maka perlu adanya upaya harmonisasi pemberdayaan
masyarakat sekitar DAS dan upaya konservasinya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan
pentingnya DAS dalam mengatur fungsi hidrologi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat itu
sendiri.
Pada prinsipnya gambaran kerusakan lingkungan DAS di Indonesia telah menjadi keprihatinan
banyak pihak, baik di dalam negeri maupun oleh dunia internasional. Hal ini ditandai dengan
meningkatnya bencana alam yang dirasakan, seperti bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan yang
semakin meningkat. Rendahnya daya dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai suatu ekosistem
diduga merupakan salah satu penyebab utama terjadinya bencana alam yang terkait dengan air (water
related disaster) tersebut. Kerusakan DAS dipercepat oleh peningkatan pemanfaatan sumberdaya alam
sebagai akibat dari pertambahan penduduk dan perkembangan ekonomi, konflik kepentingan dan kurang
keterpaduan antar sektor, antar wilayah hulu-tengah-hilir, terutama pada era otonomi daerah.
Tidak dipungkiri bahwa upaya-upaya untuk memperbaiki kondisi DAS sebenarnya sudah dimulai
sejak tahun 1970-an melalui Program Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air (PPHTA), melalui Inpres
Penghijauan dan Reboisasi, kemudian dilanjutkan dengan Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan
Lahan (GN-RHL), Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GNKPA) dan Revitalisasi Pertanian,
Perikanan dan Kehutanan (RPPK). Tujuan dari upaya-upaya tersebut pada dasarnya adalah untuk
mewujudkan perbaikan lingkungan seperti penanggulangan bencana alam banjir, tanah longsor, dan
kekeringan secara terpadu, transparan dan partisipatif, sehingga sumberdaya hutan dan lahan berfungsi
optimal untuk menjamin keseimbangan lingkungan dan tata air DAS, serta memberikan manfaat sosial
ekonomi yang nyata bagi masyarakat, namun tingkat keberhasilannya masih rendah.
Berdasarkan uraian di atas menunjukkan perlunya upaya konservasi wilayah DAS guna mendukung
pembangunan wilayah DAS secara terpadu dan berkelanjutan yang harus melibatkan pemangku
kepentingan pengelolaan sumberdaya alam yang terdiri dari unsurunsur masyarakat, dunia usaha,
Pemerintah, dan Pemerintah Daerah dengan prinsip-prinsip keterpaduan, kesetaraan dan berkomitmen
untuk menerapkan penyelenggaraan pengelolaan sumberdaya alam di wilayah DAS yang adil, efektif,
efisien dan berkelanjutan dan Konsep restorasi dia bangun guna mengembalikan sungai seperti sediakala.
Dalam survey restorasi sungai yang dilakukan di Jl. Raya kampus unud, jimbaran kecamatan kuta
utara, depan fakultas hukum universitas udayana didapat rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa manfaat survey tersebut bagi mahasiswa ?
2. Bagaimana cara mengembalikan fungsi sungai seperti sediakala (Restorasi) ?
3. Bagaimana konsep penanganan sungai ?
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui kondisi lingkungan sekitar dan dapat memahami lebih
dalam restorasi sungai tersebut
2. Mengetahui bagaimana cara mengembalikan fungsi sungai seperti sediakala (Restorasi)
3. Mengetahui bagaimana konsep penanganan sungai
LANDASAN TEORI

Konsep pembangunan sungai tahap pertama pada umumnya bersifal parsial hidraulik murni
sedangkan konsep pada tahap terakhir bersifat integral Ekohidraulik. Indonesia, sebagian besar metode
pembangunan sungainya masih menggunakan metode tahap pertama river development atau hidraulik
murni.
a. Pembangunan Sungai dengan Konsep Hidraulika Murni
Konsep pembangunan hidraulika murni tidak mempertimbangkan aspek ekologi dan dampak
yang akan terjadi setelah pembangunan. Metode ini telah merubah penampakan alami dan alur
alamiah sungai menjadi buatan yang berbentuk trapesium dengan alur relatif lurus.
Beberapa pembangunan sungai yang dilakukan dengan konsep hidraulika murni antara lain
koreksi sungai (river correction) atau normalisasi sungai berupa pelurusan, sudetan, penyempitan
alur, penyederhanaan tampang sungai. Kegiatan lainnya adalah koreksi dan rekayasa sungai pada
pembangunan transportasi sungai, regulasi sungai, proteksi tebing, pengerukan, dan penaikkan
elevisi muka air. Pembangunan hydropower plan, bendungan, bendung, pencabangan, dan
penggenangan termasuk ke dalam kegiatan koreksi dan rekayasa sungai. Sebagian besar dari
tebing-tebing sungai dan daerah bantaran atau sempadan sungai hilang karena pelurusanpelurusan, sudetan, pembuatan tanggul, dan pertalutan.
b. Pembangunan Sungai dengan Konsep Ekohidraulika
Konsep ekohidrolika merupakan konsep pembangunan sungai integratif yang berwawasan
lingkungan. Dalam konsep ini, sungai didefinisikan sebagai suatu sistem keairan terbuka yang
padanya terjadi interaksi antara faktor biotis dan abiotis yaitu flora dan fauna disatu sisi dan
hidraulika air dan sedimen disisi yang lain, serta seluruh aktivitas manusia yang berhubungan
langsung atau tidak langsung dengan sungai.
Aktivitas yang dilakukan dengan konsep ini antara lain adalah restorasi sungai (river
restoration), repitalisasi sungai (river revitalisation) atau renaturalisasi sungai (river
renaturalisation). Maksud dari pembangunan sungai integratif dengan wawasan lingkungan
tersebut adalah pembangunan sungai dengan memperhatikan faktor biotik (seluruh makhluk
hidup-ekologi) dan abiotik (seluruh komponen fisik-hidraulik) yang ada di wilayah sungai.
METODOLOGI
Desain Survey Dilapangan
Survey yang akan dilaksanakan adalah penelitian lapangan (field experiment), survey lapangan
mengenai kondisi sungai dari hulu (bangunan bendung) sampai ke hilir (sungai berkarang), penelitian
berupa penumpukan sampah, kekeringan pada sungai, survey mengenai partisipasi masyarakat dalam
pencegahan pencemaran sungai dan pengendalian system aliran air sungai
Peralatan yang digunakan untuk survey, yaitu :
1. Meteran (50 m)
2. Odometer untuk mengukur lebar DAS
3. Kamera untuk dokumentasi
4. Alat tulis untuk mencatat data yang didapat
Lokasi Survey
Survey dilakukan di daerah hulu aliran bendung kering bersampah depan Jl. Raya kampus unud,
jimbaran kecamatan kuta utara, depan fakultas hukum universitas udayana sampai dengan menemukan

hilir syngai berkarang yang terdapat air, karakteristik fisik lapangan berbukit dan berkapur dengan
masalah sungai mengalami kekeringan dan bantaran sungai dimanfaatkan untuk pembuangan sampah.

Gambar 1. Lokasi Survei DAS


HASIL DAN PEMBAHASAN
Daerah hulu aliran sungai depan fakultas hukum udayana, bukit jimbaran berupa bangunan air
bendung kering bersampah dan bagian hilir berupa sungai berkarang yang didalamnya terdapat air.
Gambar 2 berikut ini adalah denah aliran sungai dari hulu ke hilir
Hilir

Hul
u

Gambar 2. Aliran sungai dari hulu ke hilir


Kondisi Hulu (Bangunan Bendung) dan Kondisi Hilir (Sungai Berkarang)
Untuk aliran sungai yang bersampah dan kering pengamatan dilakukan di bangunan bendung yaitu
pada bagian depan fakultas hukum universitas udayana kemudian bergerak ke bagian hulu yang berjarak
jarak 2 km dan berjalan dari jalan utama sekitar 500 m, melakukan pengamatan sampai menemukan
bagian cekungan sungai yang terdapat air sedalam 1 meter. Hasil pengamatan kondisi hulu dan hilir
sungai sebagai berikut :

Gambar 3. Kondisi Bangunan Bendung di Hulu


:
Kondisi DAS dibagian hulu terlihat bahwa penyalahgunaan fungsi DAS sebagai pembuangan
sampah. Hal ini dipicu karena kekeringan yang terjadi pada DAS tersebut.

Gambar 4. Kondisi Hulu Sungai


Kondisi DAS di bagian hilir, terlihat bahwa di daerah hilir sungai masih tergenang air kira -kira
kedalamannya 100 cm. Di bagian hilir daerah yang tergenang air terdapat batuan karang dan
sedimentasinya yang cukup tinggi akibat dedaunan atau tanah longsor.

Gambar 4. Kondisi Hili Sungai

Restorasi Sungai
Masalah restorasi sungai (disebut juga renaturalisasi atau revitalisasi sungai) di Indonesia sampai
penghujung tahun 2002 belum banyak ditertariki. Karena ide ini masih dianggap mengada-ada, sementara
usaha pembangunan sungai dengan konsep hidraulik murni yang distruktif sedang gencar berjalan. Ide
renaturalisasi sungai dimaksudkan untuk memberi gambaran ke depan tentang pengulangan sejarah
pembangunan sungai di Eropa oleh para insinyur sungai di Indonesia. Sehingga kesadaran kehati-hatian
akan tumbuh dalam pengelolaan sungai, sehingga restorasinya dikemudian hari tidak diperlukan lagi.
Renaturalisasi di beberapa negara seperti Jerman dan Jepang dilakukan secara selektif, dalam anti
lokas sungai yang akan direnaturalisasi atau restorasi dipilih dengan pertimbangan hidraulis dan ekologis.
Renturaisasi tidak dilkaukan secara serentak disepanjang sungai misalnya.
Sungai Bengawan Solo dan sungai Citarum misalnya, bisa direnaturalisasi dengan membuka
kembali beberapa tangul Oxbow hasil sudetan. Ekosistem kawasan Oxbow akan hidup kembali dan
konservasi air meningkat. Demikian juga sungai-sungai kecil di berbagai kota dan pinggiran kota yang
sudah ditalud tanpa alasan kuat, dapat direnaturalisasi secara selektif dengan membongkat talud yang ada
dan menanami bantaran bekas talud tersebut dengan vegetasi setempat yang cocok. Pulau-pulau buatan
dapat diinisiasi pada sungai-sungai kecil dan menengah di daerah pinggiran kota. Pembangunan pulaupulau ini akan meningkatkan deversivikasi ekologi sekaligus meningkatkan retensi hidraulis sungai dan
konservasi. Meandering sungai dapat dikembalikan dengan menginisiasi terbentuknya meander. Struktur
untuk menginisiasi dapat dipilih vegetatif atau gabungan bronjong batu dan vegetasi. Sehingga secara
dinamis sungai akan berubah berkelok-kelok lagis sesuai dengan kondisi awalnya.
.

Gambar 5. Ilustrasi Renaturalisasi Sungai yang Telah dibangun.


Renaturalisasi dilaksanakan secara selektif dengan pertimbangan hidraulik dan ekologis dan
sosial.Untuk sungai-sungai yang bermuara di dataran rendah seperti Jakarta dan Semarang, dapat
direnaturalisasi dengan memperlebar bantaran sungai di bagian hulu. Pelebaran sungai ini akan berfungsi
sebagai kolam retensi hulu ketika terjadi banjir, sehingga banjir ditahan di hulu dan dilepaskan secara
perlahan ke hilir.
Cara analisis Eko-hidraulis diatas kedepan menjadi salah satu analisis yang paling komprehensif,
yang akan dipakai pada setiap penyelesaian masalah keairan.

Konsep Penanganan Sungai


Development, conservation and restoration of rivers muss be started from the small rivers ("In
the small thing hide the big thing') (pembangunan, konservasi dan restorasi sungai; pembangunan dan
restorasi sungai harus dimulai dari sungai yang paling kecil, di dalam yang kecil itu tersimpan rahasia hal
yang besar).

Kekeringan di Daerah dan di Perkotaan


Kekeringan sebenarnya tidak hanya melanda daerah-daerah lahan pertanian, namun di
perkotaanpun sebenarnya dilanda kekeringan. Keringan perkotaan umunya ditandai dengan rendahnya
debit sungai-sungai kecil yang melintasi kota yang bersangkutan atau bahkan tidak ada aliran air sama
sekali. Sungai kecil dan menengah di perkotaan biasanya menjadi keranjang sampah dan saluran
comberan kota yang "mambek", baunya menyengat tanpa ada penggelontoran.
Lebih dari 50 tahun pembangunan fisik Indonesia, khususnya pada pembangunan wilayah
keairan, melupakan pengelolaan dan pelestarian sungai kecil. Ribuan bahkan jutaan sungai kecil yang
sebenarnya dapat berfungsi untuk menanggulangi kekeringan, mengendalikan banjir, mengkonservasi air
dan ekologi dari suatu kawasan, telah hancur total. Sungai kecil di hampir diseluruh daerah perkotaan dan
pinggiran telah dirubah menjadi saluran pembuangan limbah cair dan padat serta dirubah bentuknya dari
sungai alamiah dengan komponen ekologis dan hidrologisnya menjadi kanal comberan yang busuk
baunya dengan kualitas yang sangat rendah.

Kesalahan Pemahaman Tentang Sungai Kecil


Kesalahan fatal ini terjadi jelas karena keawaman masyarakat terhadap filosofi dan kegunaan
sungai kecil. Pemahaman bahwa sebenarnya sungai kecil merupakan bagian terpenting dari sistem sungai
dan padanya tersimpan rahasia kejadian kekeringan, banjir dan kerusakan wilayah keairan secara
menyeluruh dari suatu kawasan, sama sekali belum berkembang. Maka perlu dibuka fenomena barn
tentang pentingnya sungai kecil, berikut usaha yang diperlukan untuk melestarikan dan merepitalisasikan
fungsinya, sebelum kekeringan, banjir dan kehancuran lingkungan yang lebih fatal terjadi.

Sungai dapat dibedakan secara sederhana menjadi kelompok sungai kecil, sungai sedang dan
sungai besar. Contoh sungai besar di Jawa misalnya; Bengawan Solo, Ciliwung, Citandui, Brantas, dll, di
Sumatra misalnya; Musi, Siak, Indragiri dll., di Kalimantan misalnya; Mahakam, Kapuas, dll. Sungai
sedang adalah anak sungai langsung dari sungai-sungai besar tersebut. Sedangkan sungai kecil adalah
seluruh sungai setelah sungai sedang. Untuk lebih mudahnya, sungai kecil dapat didefinisikan sebagai
sungai yang umumnya melintas di sekitar kits yang lebarnya hanya sekitar 0,5 m sampai 20 m saja baca
Buku Eko-Hidraulika Pembangunan Sungai, Maryono,A. 2002).

Akibat Keterlantaran dan Pembangunan Sungai Kecil


Aktivitas manusia (antropogenik activities) dalam menangani sungai kecil (juga pada sungai
sedang dan besar) merupakan faktor yang sangat penting pada perubahan ekologi maupun hidraulik
sungai yang bersangkutan. Pembangunan pada sungai kecil, misalnya; pembuatan talud pasangan batu
dan beton, pengurugan tebing sungai, penyempitan tampang sungai, menggunakan daerah bantaran
sungai kecil untuk fasilitas umum dll. Tanpa disadari bahwa kegiatan tersebut sangat kontra produktif dan
bahkan berpengaruh dapat menyebabkan terjadinya kekeringan, banjir dan kerusakan ekologi lingkungan.
Dengan pembetonan tebing sungai misalnya, berarti menutup seluruh suplai air tanah dari tebing
sungai yang bersangkutan. Perlu disadari bahwa di sepanjang tebing sungai terdapatjutaan mata air baik
yang berskala mikro (kecil) maupun makro (besar). Mata air ini lah sebagai pensuplai air utama di sungai
kecil. Dengan matinya jutaan mata air ini, maka debit sungai di musim kemarau akan mengecil secara
drastis. Kekeringan akan terjadi karena pasokan air dari dan ke sungai tidak ado lagi. Lahan di sekitar
sungai menjadi kering karena tidak dapat lagi terjangkau air sungai kecil ini. Demikian juga, debit yang
kecil ini jelas tidak mampu lagi menjadi faktor pengencer air kotor sungai tersebut. Sehingga sungaisungai kecil di daerah perkotaan dan pinggiran pada musim kemarau dipenuhi oleh air limbah perkotaan
yang hampir tidak mengalir dan bahkan mengendap di badan sungai yang bersangkutan. Pada musim
penghujan, karena tampang alirannya yang mengecil dan banyak endapan sampahnya, maka sungai kecil
perkotaan ini tidak mampu lagi meresapkan dan mengalirkan air yang ado di ingkungannya. Akibatnya
adalah terjadinya banjir dan genangan sampah di lingkungan tersebut.
Akibat lain dari pembuatan talud dinding sungai kecil ini adalah matinya ekosistem sungai secara
total. Berbagai jenis plankton, mikroorganisme air, biota air, amphibi dan seluruh vegetasi tebing sungai
mengalami kepunahan masal. Seluruh amphibi sungai misalnya punch karena mereka tidak bisa naik dan
turun ke sungai lagi, sebagian besar ikon, kepiting, udang dan kerang punch karena habitatnya berubah
total. Dalam ilmu ekologi, kepunahan satu mata rantai utama suatu ekosistem pasti berakibat kematian
seluruh pendukung ekosistem lainnya. Dengan hancurnya ekologi sungai kecil ini, maka sungai tidak
mampu lagi untuk menguraikan limbah yang ada. Sisasisa bahan organik sama sekali tidak dapat
diuraikan dan akan tetap membusuk dan tertahan di sungai tersebut. Inilah penyebab utama kenapa sungai
kecil di kota dan terutama yang telah dibeton atau ditalud justru mengalami kehancuran total menjadi
saluran comberan hitam dan berbau.
Akibat yang sama, yaitu kekeringan di musim kemarau, banjir di musim hujan dan rusaknya
lingkungan, juga akan terjadi jika aktivitas pengurugan sungai kecil, penyimpitan tampang sungai kecil,
penjarahan bantaran sungai kecil dan aktivtas lain yang tidak didasari dengan konsep kelestarian
ekologishidraulis dilakukan terus-menerus.

Solusi Revitalisasi Sungai Kecil


Dengan kondisi sungai kecil di kota dan daerah pinggiran diseluruh Indonesia yang sudah hancur
ini, tidak ada upaya lain yang lebih penting untuk dilakukan kecuali memperbaiki kembali kondisi
ekologi dan hidrologi sungai kecil tersebut. Perlu dikembangkan talud ramah lingkungan yang mampu
menahan erosi dan longsoran tebing namun sekaligus tidak merusak ekosistem pinggir sungai.
Mengadakan pelarangan terhadap pengurugan, penyempitan dan penutupan total alur sungai kecil.
Sesegera mungkin menetapkan daerah bantaran sungai kecil yang tidak boleh dieksploatasi. Memperbaiki
kondisi ekologi-hidraulik sungai kecil berarti juga memperbaiki kondisi DAS secara keseluruhan.
Perhatian pemerintah yang selama ini hanya ditujukkan ke sungai-sungai besar saja perlu dikoreksi secara
substansial. Harus disediakan dana cukup untuk mengelola sungai kecil perkotaan dan pinggiran,
mengembalikannya lagi ke fungsi vitalnya sebagai komponen tata air utama dari suatu kawasan.
Memberdayakan masyarakat dan meningkatkan perannya dalam pengelolaan sungai kecil dengan
berwawasan lingkungan.

KESIMPULAN
Lebih Memperhatikan sumber daya air dan menjaga lingkungan tetap bersih konsep pembukaan
sungai kembali dengan metode ekohidrolika merupakan sebuah metode yang akan membuat kita lebih
memerhatikan lingkungan biotik dan abiotik dalam pembangunan DAS atau sungai-sungai kecil lainnya
untuk melestarikan seluruh ekosistem perairan yang ada, agar tetap terjadi keseimbangan alam, hewan
dan manusia.
Sepanjang aliran sungai dari hulu yang mengalami kekeringan dan penuh sampah menuju ke hilir
merupakan daerah sungai berkarang dan mengalami penyempitan Saluran dari hilir (bangunan bendung)
tidak berfungsi dengan maksimal akibat adanya endapan (sedimentasi) dan banyak sampah kayu, saluran
terputus di beberapa bagian akibat tertimbun tanah / sampah, dan saluran sudah banyak ditumbuhi
tanaman sehingga mudah terjadi pendangkalan. Pada tingkat saluran sekunder, sampah - sampah dan
tanaman pada saluran sekunder menghambat aliran air apalagi sungai tersebut sudah hampir jarang
terdapat air.
Tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi sampah dan kekeringan adalah sebagai berikut ::
1. Perlunya pengerukan sedimentasi dan tanaman di sungai dan saluran tersier lainnya
2. Penataan bantaran sungai
3. Perbaikan dan normalisasi saluran sungai, serta mengembalikan fungsi sungai yang sesungguhnya
4. Sosialisasi pentingnya daerah aliran sungai kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke
sungai
5. Membuat bak kontrol serta saringan agar sampah yang masuk ke saluran drainase dapat dibuang
dengan cepat agar tidak terjadi endapan
6. Pemberian sanksi kepada siapapun yang melanggar aturan, terutama membuang sampah
sembarangan, agar masyarakat mengetahui pentingnya manfaat saluran drainase
7. Peningkatan daya guna air, meminimalkan kerugian serta memperbaiki konservasi lingkungan

Daftar Pustaka
Gunawan. 2007. Pengembangan Daerah Riparian di Badan Sungai dengan
Pengembangan Konsep EkoHidrologi. ITB Press. Bandung.
Maryono, Agus. 2002. EKO-HIDRAULIK PEMBANGUNAN SUNGAI. Menanggulangi
Banjir dan Kerusakan Lingkungan Wilayah Sungai. Program Magister Sistem Teknik.
Fakultas Teknik. Universitas Gadjah Mada.

http://www.antaranews.com/berita/522718/normalisasi-sungaidengan-restorasi-bukan-betonisasi
http://www.ampl.or.id/digilib/read/restorasi-sungai-river-restorationpembangunan-sungai-dampak-pembangunan-sungai-restorasisungai/1326