Anda di halaman 1dari 14

1.

Pengertian Stratifikasi Sosial


Pemahaman antara stratifikasi sosial dan kelas sosial sering kali di samak
an, padahal di sisi lain pengertian antara stratifikasi sosial dan kelas sosial
terdapat perbedaan. Penyamaan dua konsep pengertian stratifikasi sosial
dan kelas sosial akan melahirkan pemahaman yang rancu. Stratifikasi sosi
al lebih merujuk pada pengelompokan orang kedalam tingkatan atau strat
a dalam hirarki secara vertikal. Membicarakan stratifikasi sosial berarti me
ngkaji posisi atau kedudukan antar orang/sekelompok orang dalam keada
an yang tidak sederajat. Adapun pengertian kelas sosial sebenarnya berad
a dalam ruang lingkup kajian yang lebih sempit, artinya kelas sosial lebih
merujuk pada satu lapisan atau strata tertentu dalam sebuah stratifikasi s
osial. Kelas sosial cenderung diartikan sebagai kelompok yang anggotaanggota memiliki orientasi polititik, nilai budaya, sikap dan prilaku sosial y
ang secara umum sama.
Paul B. Horton dan Chester L. Hunt mengatakan bahwa terbentuknya strat
ifikasi dan kelas sosial di dalammnya sesungguhnya tidak hanya berkaitan
dengan uang. Stratifikasi sosial adalah strata atau pelapisan orang-orang
yang berkedudukan sama dalam rangkaian kesatuan status sosial. Namun
lebih penting dari itu, mereka memiliki sikap, nilai-nilai dan gaya hidup ya
ng sama. Semakin rendah kedudukan seseorang di dalam pelapisan sosial
, biasanya semakin sedikit pula perkumpulan dan kedudukan sosialnya. Se
bab asasi mengapa ada pelapisan sosial dalam masyarakat bukan saja kar
ena ada perbedaan, tetapi karena kemampuan manusia menilai perbedaa
n itu dengan menerapkan berbagai kriteria. Artinya menganggap ada sesu
atu yang dihargai, maka sesuatu itu (dihargai) menjadi bibit yang menum
puhkan adanya system berlapis-lapis dalam masyarakat.
Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi (Jakarta: Kencana, 20
11), Sesuatu yang dihargai dapat berupa uang atau benda-benda bernilai
ekonomis, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan dalam agama atau ke
turunan keluarga yang terhormat. Tingkat kemampuan memiliki sesuatu y
ang dihargai tersebut akan melahirkan lapisan sosial yang mempunyai ke
dudukan atas dan rendah. Proses terjadinya sistem lapisan-lapisan dalam

masyarakat dapat terjadi dengan sendirinya, atau sengaja disusun untuk


mengejar tujuan bersama.
Proses pelapisan sosial dalam masyarakat dengan sendirinya berangkat d
ari kondisi perbedaan kemampuan antar individu-individu atau anatar kelo
mpok sosial, contohnya sekelompok orang yang memiliki kemampuan lebi
h dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, tentunya akan menempati strata
sosial yang lebih tinggi dari pada kelompok yang memiliki sedikit kemamp
uan. Adapun proses pelapisan sosial yang disengaja disusun biasanya me
ngacu kepada pembagian kekuasaan dan wewenang yang resmi dalam or
ganisasi formal. Agar dalam masyarakat manusia hidup dengan teratur, m
aka kekuasaan dan wewenang yang ada harus dibagi-bagi dalam suatu or
ganisasi.
Sifat dari sistem berlapis-lapis dalam masyarakat ada yang tertutup dan a
da yang terbuka. Yang bersifat tertutup tidak mungkin pindahnya seorang
dan lapisan ke lapisan lain, baik gerak pindahnya ke atas maupun ke bawa
h.
Keanggotaan lapisan tertutup diperoleh dari kelahiran, sistem ini dapat dili
hat pada masyarakat yang berkasta, dalam masyarakat yang feodal atau
pada masyarakat yang sistem pelapisannya ditentukan oleh perbedaan ra
sial. Pada masyarakat yang lapisannya bersifat terbuka, setiap anggota m
empunyai kesempatan berusaha dengan kecakapannya sendiri untuk naik
lapisan sosial atau jika tidak beruntung dapat terjatuh kelapisan bawahny
a.
2. Cara Mempelajari Stratifikasi Sosial
Menurut Zarden, di dalam sosiologi dikenal tiga pendekatan untuk mempe
lajari stratifikasi sosial, yaitu;
a. Pendekatan Objektif
Pendekatan objektif artinya, usaha untuk memilah-milah masyarakat keda
lam beberapa lapisan dilakukan menurut ukuran-ukuran yang objektif ber
upa variable yang mudah diukur secara kuantitatif , contohnya tingkat pe
ndidikan dan perbedaan penghasilan

b. Pendekatan Subjektif
Pendekatan subjektif artinya munculnya pelapisan sosial dalam masyrakat
tidak diukur dengan kriteria-kriteria yang objektif, melainkan dipilih menur
ut kesadaran subjektif warga itu sendiri, contonya seseorang yang menur
ut kriteria objektif termasuk miskin, menurut pendekatan subjektif ini bisa
saja dianggap tidak miskin, kalau ia sendiri memang merasa bukan terma
suk kelompok masyarakat miskin.
c. Pendekatan Reputasional
Pendekatan reputasional artinya pelapisan social disusun dengan cara sub
jek penelitian diminta menilai setatus orang lain dengan jalan menempatk
an orang lain tersebut ke dalam sekala tertentu. Untuk mecari siapakah di
desa tertentu yang termasuk kelas atas, peneliti yang menggunakan pend
ekatan reputasional bisa melakukannya dengan cara cara menanyakan ke
pada warga didesa tersebut siapakah warga desa setempat yang paling k
aya atau menyakan siapakah warga desa setempat yang paling mungkin
diminta pertolongan meminjamkan uang dan sebagainya.
3. Sifat Stratifikasi Sosial
Menurut Soerjono Soekanto, dilihat dari sifatnya pelapisan sosial dibedaka
n menjadi sistem pelapisan sosial tertutup, sistem pelapisan sosial terbuk
a, dan sistem pelapisan sosial campuran.
a. Stratifikasi Sosial Tertutup (Closed Social Stratification)
Stratifikasi ini adalah stratifikasi dimana anggota dari setiap strata sulit m
engadakan mobilitas vertikal. Walaupun ada mobilitas tetapi sangat terbat
as pada mobilitas horisontal saja. Contoh:
1) Sistem kasta ; Kaum Sudra tidak bisa pindah posisi naik di lapisan Brah
mana.
2) Rasialis ; Kulit hitam (negro) yang dianggap di posisi rendah tidak bisa p
indah kedudukan di posisi kulit putih.
3) Feodal ; Kaum buruh tidak bisa pindah ke posisi juragan/majikan.
b. Stratifikasi Sosial Terbuka (Opened Social Stratification)

Stratifikasi ini bersifat dinamis karena mobilitasnya sangat besar. Setiap a


nggota strata dapat bebas melakukan mobilitas sosial, baik vertikal maup
un horisontal. Contoh:
1) Seorang miskin karena usahanya bisa menjadi kaya, atau sebaliknya.
2) Seorang yang tidak/kurang pendidikan akan dapat memperoleh pendidi
kan asal ada niat dan usaha.
c. Stratifikasi Sosial Campuran
Stratifikasi sosial campuran merupakan kombinasi antara stratifikasi tertut
up dan terbuka. Misalnya, orang Bali berkasta Brahmana mempunyai kedu
dukan terhormat di Bali, namun apabila ia pindah ke Jakarta menjadi buru
h, ia memperoleh kedudukan rendah. Maka, ia harus menyesuaikan diri de
ngan aturan kelompok masyarakat di Jakarta.
4. Unsur-Unsur Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial terdiri dari dua unsur, yaitu kedudukan (status) dan pera
nan (role). Kedudukan dan peranan merupakan dua unsur yang memiliki a
rti penting bagi sistem sosial.
1) Kedudukan (Status)
Status sosial menurut Ralph Linton adalah sekumpulan hak dan kewajiban
yang dimiliki seseorang dalam masyarakatnya. Orang yang memiliki statu
s sosial yang tinggi akan ditempatkan lebih tinggi dalam struktur masyara
kat dibandingkan dengan orang yang status sosialnya rendah.
Ada tiga macam status sosial dalam masyarakat:
a. Ascribed Status
Ascribed Status merupakan status yang diperoleh seseorang secara alami
ah, artinya posisi yang melekat dalam diri seseorang diperoleh tanpa mela
lui serangkaian usaha. Beberapa status sosial yang melekat pada seseora
ng yang diperoleh secara otomatis adalah;
1) Status perbedaan usia
Umumnya dalam masyarakat Indonesia terdapat pembagian antara hak d
an kewajiban antara orang-orang yang lebih tua dan yang lebih muda. Mis

alnya dalam suatu kehidupan rumah tangga, anak yang usia lebih tua me
miliki strata lebih tinggi di bandingkan dengan anak yang lebih muda, dala
m ritual keagamaan islam dimana membaca doa selalu mengutamakan ya
ng lebih tua. Bentuk lain penghormatan yang lebih tua adalah dengan me
mpersilahkan mereka untuk duduk di barisan depan.
2) Stratifikasi berdasarkan jenis kelamin (gender sex stratification)
Penstrataan sosial berdasarkan jenis kelamin ini dipengaruhi oleh adat tra
disi dan ada ajaran agama yang membedakan antara hak dan kwajiban be
rdasarkan jenis kelamin. Akan tetapi pergeseran sosial budaya juga berpe
ngaruh pada pergeseran peran wanita dimana kaum wanita terkadang me
miliki status sosial yang lebih tinggi disbanding dengan kaum laki-laki.
3) Status di dasarkan pada system kekerabatan
Fenomena ini dapat dilihat berbagai peran yang harus diperankan oleh ma
sing-masing anggota keluarga dalam suatu rumah tangga. Munculnya ked
udukan kepala keluarga, ibu rumah tangga dan anak-anak berimplikasi pa
da status dan peran yang harus diperankan oleh masing-masing orang dal
am rumah tangga. Seorang istri harus berbakti kepada suami dan suami j
uga harus menghormati istri karena perannya sebagai pengasuh anak, pe
ndidik anak, dan sebagainya, sedangkan anak-anak harus menaati naseha
t orang tua dan dari orangtuanya ia berhak mendapatkan kasih sayang.
4) Stratifikasi berdasarkan kelahiran (born stratification)
Seorang anak yang dilahirkan akan memiliki status sosial yang mengekor
pada status orang tuanya. Tinggi rendahnya seorang anak biasanya meng
ikuti status orang tuanya.
5) Stratifikasi berdasarkan kelompok tertentu (grouping stratification)
Perbedaan ras yang sering kali menimbulkan pemahaman sekelompok ma
nusia tertentu memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan manusia lain.
Pemahaman sebagian orang bahwa ras kulit putih lebih superior dibandin
gkan ras kulit hitam, merupakan salah satu contohnya.
b. Achieved Status

Achieved Status merupakan status sosial yang disandang melalui perjuan


gan. Pola-pola ini biasanya banyak terjadi distruktur sosial yang telah men
galami perubahan dari pola-pola tradisional kearah modern. Lebih-lebih da
lam struktur masyarakat kapitalis liberal dengan menekan pada kebebasa
n individu untuk mencapai tujuan masing-masing yang sarat dengan pers
aingan, dalam struktur seperti itu, biasanya struktur sosial lebih terbuka s
ehingga membuka peluang bagi siapa saja untuk meraih status sosial eko
nomi sesuai dengan tujuan masing-masing, beberapa contoh model ini ad
alah:
1) Stratifikasi berdasarkan Jenjang Pendidikan (education stratification)
Jenjang seseorang biasanya memperngaruhi setatus sosial seseorang di d
alam struktur sisialnya. Seseorang yang berpendidikan tinggi hingga berg
elar Doktor tentunya akan bersetatus lebih tinggi dibandingkan dengan se
orang yang lulusan SD.
2) Stratifikasi di bidang Senioritas
Gejala ini biasanya di kaitkan dengan profesi atau perkerjaan yang dimiliki
seseorang. Tingkat senioritas dalam berbagai lembaga perkerjaan biasany
a di tentukan berdasarkan tingkat tenggang waktu berkeja dan jenjang ke
pangkatan atau golongan yang lazi sering disebut dengan jabatan. Biasan
ya jabatan seseorang dalam suatu lembaga perkerjaan ditentukan oleh tin
gkat keahlian dan tingkat pendidikannya, artinya semakin tinggi tingkat p
endidikan seseorang dan keahlian seseorang, maka akan semakin tinggi j
uga jabatan yang disandangnya. Karena system lapisan sosial seperti ini b
ersifat terbuka, maka bagi siapa saja bisa menempati status sosial yang re
lative dianggap lebih mapan asal mereka mempunyai kemampuan dan us
aha yang gigih.
3) Stratifikasi di bidang Perkerjaan.
Berbagai jenis perkerjaan juga berpengaruh pada system pelapisan sosial.
Anda tuntu sering memiliki penilaian bahwa orang yang berprofesi sebaga
i panrik becak, kuli bangunan, buruh pabrik dan para pekerja kantoran yan
g berpakaian bersih, berpenampilan rapi, berdasi dan mengendari mobil, s
elalu membawa Hp tentu memiliki perbedaan status sosial dalam masyara

kat. Para pekerja kantoran akan memiliki status sosial yang relative lebih t
inggi dibandingkan dengan kelompok yang berprofesi sebagai penarik bec
ak. Pola seperti ini juga bersifat terbuka artinya system pelapisan sosial se
perti ini membuka peluang bagi siapa saja yang memiliki kegigihan dalam
usaha untuk meraihnya termasuk anda.
4) Stratifikasi di bidang Ekonomi
Gejala ini hampir ada diseluruh penjuru dunia. Yang paling mudah di identi
fikasi di dalam struktur sosial adalah didasarkan pada besar kecilnya peng
hasilan dan kepemilikan benda-benda materi yang sering disebut harta be
nda. Indikator antara kaya dan miskin juga mudah sekali di identifikasi, yai
tu melalui pemilikan sarana hidup. Orang kaya perkotaan dapat dilihat dar
i tempat tinggalnya seperti di kawasan real estate elite dengan rumah me
wahnya yang dilengkapi dengan taman, kolam renang, memiliki mobil me
wah dan benda-benda berharga lainnya. Sedangkan kelompok masyarakat
miskin berada dikawasan marginal (pinggiran), hidup di pemukiman kumu
h, tidak sehat, kotor, dan sebagainya. Adapun orang kaya perdesaan biasa
nya diidentifikasi dengan kepemilikan jumlah lahan pertanian, binatang te
rnak, kebun yang luas dan sebagainya.
c. Assigned Status
Assigned Status adalah status sosial yang diperoleh seseorang atau kelom
pok orang dari pemberian. Akan tetapi status sosial yang berasal dari pem
berian ini sebenarnya juga tak luput dari usaha-usaha seseorang atau sek
elompok orang sehingga dengan usaha-usaha tersebut ia memperoleh pe
nghargaan.
2) Peranan (Role)
Sedangkan peran sosial merupakan aspek yang lebih dinamis dibandingka
n dengan kedudukan. Status sosial merupakan unsur statis yang menunju
kkan tempat individu dalam organisasi masyarakat. Peran lebih menjurus
pada fungsi seseorang dalam masyarakat. Meskipun demikian, keduanya t
ak dapat dipisahkan karena satu dengan yang lainnya saling berhubungan
.

Berdasarkan cara memperolehnya, peranan dibedakan menjadi dua, yaitu


:
a) Peranan bawaan (ascribed roles), yaitu peranan yang diperoleh secara
otomatis, bukan karena usaha, misalnya peranan sebagai nenek, anak, ke
tua RT, dan sebagainya.
b) Peranan pilihan (achieve roles), yaitu peranan yang diperoleh atas kepu
tusannya sendiri, misalnya seseorang memutuskan untuk memilih Fakulta
s Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Berdasarkan pelaksanaannya, peranan sosial dapat dibedakan menjadi du
a, yaitu:
a) Peranan yang diharapkan (expected roles), yaitu cara ideal dalam pelak
sanaan peranan menurut penilaian masyarakat. Masyarakat menghendaki
peranan tersebut dilaksanakan secernat-cermatnya dan tidak dapat ditaw
ar dan harus dilaksanakan seperti yang telah ditentukan. Misalnya, perana
n hakim, diplomatik, dan sebagainya.
b) Peranan yang disesuaikan (actual roles), yaitu cara bagaimana sebenar
nya peranan tersebut dijalankan. Peranan ini pelaksanaannya lebih dinami
s, dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi tertentu.
Suatu peranan dapat membimbing seseorang dalam berperilaku, karena p
eran dapat berfungsi sebagai, pertama, memberi arah pada proses sosiali
sasi. Kedua, pewarisan tradisi, kepercayaan, nilai, norma, dan pengetahua
n. Ketiga, dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat. Keempat, m
enghidupkan sistem pengendali dan kontrol sehingga dapat melestarikan
kehidupan masyarakat.
5. Mobilitas Sosial
Dalam sosiologi, mobilitas sosial berarti perpindahan status dalam stratifik
asi sosial. Menurut Haditono, yang dimaksud mobilitas sosial ialah perpind
ahan seseorang atau sekelompok orang dari kedudukan satu ke keduduka
n yang lain. Mobilitas vertikal mengacu pada mobilitas ke atas atau ke ba
wah dalam stratifikasi sosial. Contoh mengenai mobilitas sosial individu ial

ah perubahan status seseorang dari seorang tukang menjadi seorang dokt


er.
Pitirim A. Sorokin menyatakan bahwa mobilitas sosial secara vertikal dapa
t dilakukan melalui beberapa hal, yaitu angkatan bersenjata, lembaga pen
didikan, lembaga keagamaan, organisasi politik, dan organisasi ekonomi.
Dalam keadaan perang di mana setiap negara menghendaki kemenangan
maka jasa seorang prajurit akan dihargai dalam masyarakat. Bisa jadi stat
us prajurit tersebut naik, bahkan memperoleh kekuasaan dan wewenang.
Melalui lembaga pendidikan seseorang dapat mengubah statusnya menja
di status yang lebih tinggi. Sedangkan melalui lembaga keagamaan, seseo
rang yang memiliki kedalaman agama dinilai lebih tinggi statusnya daripa
da yang tidak. Seseorang yang pandai berorganisasi dalam dunia politik d
apat menaikkan statusnya melalui partisipasinya sebagai anggota DPR. Ad
apun melalui organisasi ekonomi, perusahaan barang maupun jasa memb
erikan kesempatan seluas-luasnya untuk menaikkan statusnya, karena org
anisasi ini sifatnya relatif terbuka.
6. Pandangan tentang Stratifikasi Sosial
Ada dua pendapat mengenai pentingnya keberadaan stratifikasi sosial. Pa
ra penganut pendekatan fungsionalis biasanya menganggap bahwa strati
fikasi sosial merupakan hal yang penting bagi kelangsungan sistem sosial.
Hal tersebut bertolak belakang dengan penganut pendekatan konflik yang
menyatakan bahwa timbulnya pelapisan sosial merupakan ulah kelompok
elit masyarakat atas yang berusaha mempertahankan dominasinya.
Kingsley Davis dan Wilbert Moore, pelopor pendekatan fungsionalis menya
takan bahwa stratifikasi dibutuhkan demi kelangsungan hidup masyarakat
yang membutuhkan berbagai jenis pekerjaan. Tanpa adanya stratifikasi ini
, masyarakat tidak akan terangsang untuk menekuni pekerjaan-pekerjaan
sulit atau pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan proses yang lama dan
mahal.
Sedangkan pendekatan konflik yang dipelopori Karl Marx berpandangan b
ahwa adanya pelapisan sosial bukan sebagai hasil dari konsensus (semua

anggota masyarakat menyetujui dan membutuhkan hal itu), melainkan ka


rena mereka masyarakat terpaksa menerima perbedaan karena mereka ti
dak memiliki kemampuan untuk menentangnya.
Marx sering mengungkapkan bahwa stratifikasi sosial merupakan bentuk
penindasan suatu kelas tinggi kepada kelas yang lebih rendah. Menurutny
a, di dalam masyarakat kapitalis, para pemiliki sarana produksi (kelas atas
) melakukan tekanan dan pemaksaan kontrol kepada kelas buruh yang po
sisinya lebih rendah.
7. Bentuk-bentuk Stratifikasi Sosial Dalam Kehidupan Sehari-hari
Untuk membuat skala pengukuran yang menjadi indicator penentu kelom
pok golongan kelas atas, menengah, dan golongan kelas bawah dalam ke
hidupan sehari-hari bukan sesuatu yang sulit. Sebab prilaku masingmasing kelas dapat diindentifikasi melalui berbagai ukuran, mulai tingkat
penghasilan, benda-benda berharga yang dimiliki hingga pada acara berp
akaian yang disebut gaya hidup (life skyle).
Perbedaan dalam Kesanggupan dan Kemampuan Anggota masyarakat yan
g menduduki strata tertinggi, tentu memiliki kesanggupan dan kemampua
n yang lebih besar dibandingkan masyarakat yang ada di posisi bawahnya
, contoh PNS golongan IV kebanyakan mampu membeli mobil, sedangaka
n PNS yang bergolongan I dan II tentu hanya sanggup untuk membeli sep
eda motor. Tingkat kesanggupan dapat dilihat dari:
1) Perlengkapan rumah tangga dan barang-barang konsumsi sehari-hari.
2) Perbedaan dalam berbusana.
3) Tipe tempat tinggal dan lokasinya.
4) Menu makanan.
Perbedaan gaya hidup dapat dilihat dari:
1) Perbedaan pakaian yang dikenakan.
2) Gaya berbicara.
3) Sebutan gelar, baik gelar bangsawan feodalisme, maupun gelar-gelar a
kademis.

4) Jenis kegiatan dan kegemaran.


Perbedaan dalam hal hak dan akses memanfaatkan sumber daya. Seoran
g yang menduduki jabatan tinggi biasanya akan semakin banyak hak dan
fasilitas yang diperolehnya, sementara itu seseorang yang tidak mendudu
ki jabatan yang strategis apa pun tentu hak dan fasilitas yang mampu dini
kmati akan semakin kecil.
8. Hubungan Pendidikan dengan Stratifikasi Sosial
a. Golongan Sosial dan Tingkat Pendidikan
Menurut penelitian, terdapat korelasi yang tinggi antara kedudukan sosial
seseorang dengan tingkat pendidikan yang ditempuhnya. Meskipun tingka
t pendidikan sosial seseorang tidak bisa sepenuhnya diramalkan melalui k
edudukan sosialnya, namun pendidikan sosial yang tinggi sejalan dengan
kedudukan sosial yang tinggi pula.
Anak golongan rendah kebanyakan tidak melanjutkan studinya hingga ke
perguruan tinggi. Sedangkan orang golongan tinggi cenderung mengingin
kan anaknya untuk menyelesaikan pendidikan tinggi. Hal tersebut terjadi
karena faktor biaya pendidikan yang tergolong mahal.
b. Golongan Sosial dan Jenis Pendidikan
Golongan sosial juga menentukan jenis pendidikan yang dipilih oleh orang
tua siswa. Umumnya, anak-anak yang orang tuanya mampu, cenderung m
enyekolahkan anaknya di sekolah menengah umum sebagai persiapan stu
di di universitas. Sedangkan orang tua yang memiliki keterbatasan keuang
an, cenderung memilih sekolah kejuruan bagi anaknya. Dapat diduga bah
wa sekolah kejuruan lebih banyak menampung siswa golongan rendah dar
ipada golongan tinggi. Karena itulah dapat timbul pendapat bahwasanya s
tatus sekolah umum lebih tinggi daripada sekolah kejuruan. Siswa sendiri
cenderung lebih memilih sekolah menengah umum daripada sekolah kejur
uan. Sekalipun sekolah kejuruan dapat memberikan jaminan yang lebih ba
ik untuk langsung terjun di lapangan pekerjaan.
c. Mobilitas Sosial dan Pendidikan

Dalam sistem stratifikasi sosial terbuka (opened social stratification), sese


orang dapat melakukan perpindahan dari status rendah ke status tinggi m
aupun sebaliknya. Perpindahan status ini disebut dengan mobilitas sosial.
Pendidikan merupakan salah satu jalan untuk melakukan mobilitas sosial t
ersebut. Pendidikan dipandang sebagai sebuah kesempatan untuk beralih
dari suatu golongan ke golongan yang lebih tinggi. Pendidikan secara mer
ata memberi kesamaan dasar pendidikan dan mengurangi perbedaan ant
ara golongan tinggi dan rendah.
Menurut Beteille, pendidikan merupakan sesuatu hal yang sangat berharg
a karena dapat memberikan akses untuk jabatan dengan bayaran yang le
bih baik. Banyak contoh yang dapat diamati tentang seseorang yang statu
snya meningkat berkat pendidikan yang ditempuhnya. Pada jaman penjaja
han Belanda misalnya, orang yang mampu menyelesaikan pendidikannya
di HIS (Hollands-Indlandsche School) mempunyai harapan untuk menjadi p
egawai dan mendapat kedudukan sosial yang terhormat. Terlebih jika ia b
erhasil lulus MULO (Meer Uitgebreid Lager Oderwijs), AMS (Algemene Midd
lebare School), atau perguruan tinggi, maka semakin besar peluangnya m
endapatkan kedudukan yang baik dan masuk golongan sosial menengah a
tas.
Di samping itu, ada juga beberapa faktor lain yang mempengaruhi mobilit
as sosial di bidang pendidikan.
1) Faktor guru. Para guru dapat mendorong anak didiknya untuk meningka
tkan status sosialnya melalui prestasi yang tinggi. Guru tersebut juga dap
at menjadi model mobilitas sosial berkat usahanya belajar sungguhsungguh sehingga kedudukannya meningkat. Sebaliknya, guru juga dapat
menghambat proses mobilitas sosial apabila guru memandang rendah da
n tidak yakin akan kemampuan anak-anak golongan bawah.
2) Faktor sekolah. Sekolah dapat membuka kesempatan untuk meningkatk
an status sosial anak-anak golongan bawah. Di sekolah memiliki hak yang
sama dalam memperoleh pendidikan yang sama, mempelajari buku yang
sama, diajar oleh guru yang sama, bahkan berpakaian seragam yang sam
a dengan anak golongan tinggi.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Stratifikasi sosial adalah adanya lapisan-lapisan, penggolonganpenggolongan, pengelompokkan-pengelompokkan dalam masyarakat, kar
ena adanya perbedaan kriteria/ukuran tertentuyang menjadi dasar terjadi
nya stratifikasi sosial. Terjadinya stratifikasi sosial itu lebih banyak tidak se
ngaja dibentuk oleh individu-individu yang bersangkutan, akan tetapi timb
ul dengan sendirinya dalam proses pertumbuhan masyarakat itu, namun k
endatinya ada juga yang sengaja dibentuk. Hingga saat ini ukuran determi
nasi untuk mengukur posisi atau kedudukan seseorang dalam struktur sos
ial belum memiliki patokan yang pasti.
Hanya saja secara umum determinasi dari stratifikasi sosial dapat dilihat d
ari dimensi usia, jenis kelamin, agama kelompok etnis atau ras tertentu, ti
ngkat pendidikan formal yang diraihnya, tingkat perkerjaan, besarnya kek
uasaan dan kewenangan, status sosial, tempat tinggal, dan dimensi ekono
mi. Berbagai dimensi strata sosial tersebut tentunya memiliki perbedaan
pengaruhnya didalam masyarakat. Hal itu sangat tergantung pada perke
mbangan masyarakat dan konteks sosial yang berlaku dalam suatu daera
h.
B. Saran
Masyarakat diharapkan tidak bersifat tertutup, namun lebih bersifat terbu
ka dalam melakukan gerak sosial agar tercipta kehidupan sosial yang sela
ras tanpa adanya diskriminasi.
DAFTAR PUSTAKA
Setiadi, Elly M dan Kolip Usman.2011.Pengantar Sosiologi.Jakarta; Kencana
.
Suharto.1986.Stratifikasi Sosial.Yogyakarta; Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga.
Salim, Agus.2006.Stratifikasi Etnik.Semarang; FIP UNNES dan Tiara Wacan
a.

http://uphilunyue.blogspot.com/2013/01/makalah-stratifikasisosial.html#ixzz2MrNUJwIg