Anda di halaman 1dari 6

STRATIFIKASI SOSIAL

Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu terhadap hal-hal tertentu


dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang lebih tinggi terhadap hal-hal
tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan yang lebih tinggi dari hal-hal
lainnya. Kalau suatu masyarakat lebih menghargai kekayaan material daripada kehormatan,
misalnya, maka mereka yang lebih banyak mempunyai kekayaan material akan menempati
kedudukan yang lebih tinggi apabila dibandingkan dengan fihak-fihak lain. Gejala tersebut
menimbulkan lapisan masyarakat, yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu
kelompok dalam kedudukan yang berbeda-beda secara vertikal. Dalam masyarakat
pengertian kelas adalah paralel dengan pengertian lapisan, namun kelas biasanya
dihubungkan dengan tolok ukur ekonomi dan kedudukan/status dikaitkan dengan
kehormatan.
Cara yang paling mudah untuk memahami pengertian konsep stratifikasi sosial adalah
dengan berfikir membanding-bandingkan kemampuan dan apa yang dimiliki anggota
masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat lainnya.
Sadar atau tidak, pada saat Anda mulai membedakan kemampuan antara anggota
masyarakat yang satu dengan yang lain dan mulai menyusun pemilahan-pemilihan
masyarakat ke dalam berbagai golongan atau strata itu, sebenarnya anda mulai sedikit paham
tentang hakekat stratifikasi sosial.

A. PENGERTIAN
Dalam sosiologi, pelapisan dalam masyarakat dikenal dengan istilah stratifikasi sosial ( sosial
stratification ) kata stratifikasi sosial berasal dari bahasa Latin Stratum : tingkatan dan Socius
: rekan/masyarakat.
Pendapat para pakar mengenai pelapisan sosial :
PLATO (428-347/345 SM) masyarakat negara dibedakan menjadi tiga golongan yaitu : filsuf
pemimpin negara, prajuritpenjamin hukum, rakyat/petaniwarga negara.
ARISTOTELES(384-322 SM) kaya sekali, melarat dan diantara keduanya.
PITRIM SOROKIN masyarakat menjadi tingkatan scr vertikal dari sesuatu yang berharga
yang dimilikinya.
Jadi pelapisan sosial ada dua unsur : 1. Pembedaan 2. Hirarki Vertikal
Sehingga dilihat dari unsur tersebut dapat dirumuskan :

Pelapisan Sosial : Pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal,


yang diwujudkan dengan adanya tingkatan masyarakat dari yang tinggi sampai
ke yang lebih rendah.

Karakteristik Stratifikasi Sosial :

Perbedaan dalam kemampuan atau kesanggupan


Perbedaan dalam gaya hidup (life style)
Perbedaan dalam hal hak dan akses dalam memanfaatkan sumber daya
Awal pelapisan dari perbedaan tertentu menyangkut status diri / turunan pekerjaan/profesi
beragam/konplekintelektual,politik, ekonomi.

B. PROSES TERBENTUKNYA
-

1. Secara Tidak Sengaja:


terbentuk sejalan dg perkembangan masyarakat.
Terbentuk diluar kontrol masyarakat
Terjadi sesuai dengan kondisi sosbud di wilayah ybs.
Status dan peranan terjadi secara otomatis. Ex. Tkt. Umur, sex, kepandaian, sifat keaslian
keanggotaan kerabat seorang kepala masyarakat, dan mungkin juga harta dalam batas-batas
tertentu..
2. Secara Sengaja
Pelapisan sosial yg dibentuk oleh suatu kelompok sosial/masy dlm rangka mengejar tujuan
tertentu.
bertujuan untuk pengaturan interaksi sosial dengan berorientasi pada kepentingan bersama.
Diperlukan masy agar mampu menyesuaikan diri dengan keperluan2 yg nyata contoh :
badan-badan resmi
Menggalang keteraturan dalam suatu kelompok sosial ( masyarakat ) demi tercapainya
tujuan bersama.

C. KRITERIA PELAPISAN SOSIAL


Tolok ukur yang menjadi dasar pembentukan pelapisan sosial, yang berupa sesuatu yg
dianggap berharga oleh masyarakat, yang berbeda-beda antara masyarakat yang satu dan
masyarakat yang lain. (KOMULATIF)

SOERJONO SOEKANTO : kekayaan,kekuasaan, kehormatan dan ilmu pengetahuan.


BERNARD BARBER : jabatan/pekerjaan, wewenang/kekuasaan, pendidikan/IP, keagamaan,
dan kedudukan dalam system kekerabatan.
PAUL B. HORTON : kekayaan/penghasilan, pekerjaan dan pendidikan.
Jadi dibagi menjadi kriteria EKONOMI, SOSAL, POLITIK

D. JENIS-JENIS PELAPISAN SOSIAL


1.

Menurut Kriteria Ekonomi: berkaitan dengan kekayaan

pendapatan
Propesi/jabatan. Kriteria ekonomi berdasarkan pada piramida yaitu dari gol
ekonomi lemah , sedang dan gol ekonomi kuat.
2.
Menurut Kriteria Sosial : berdasarkan nilai status, tinggi rendah
penghormatan(keseganan) warga masyarakat terhadapnya yang tergantung pada kondisi
masing-masing kelompok masyarakat :
a. Pelapisan sosial di Desa
b. Pelapisan sisial di kota
3. Menurut Kriteria Politik : membedakan masyarakat menjadi pihak yang berkuasa
dan pihak yang dikuasai. Makin tinggi kekuasaan makin tinggi kedudukan.

E. SIFAT SISTEM PELAPISAN MASYARAKAT


a. Sistem Pelapisan Sosial Tertutup (closed sosial stratificaton) : pelapisan sosial yang tidak
memungkinkan warga masyarakat pindah dari lapisan yang satu ke lapisan yang lain dimana
status sosial ditentukan sejak lahir. Kasta, feodal, rasial (kawin sekasta / ENDOGAMI )
Contoh : DEGREGATION ( kulit putih dan hitam di US) APARTEHID ( di Afrika Selatan ),
PATRILINIAL ( laki lebih dominan)
b. Sistem Pelapisan Sosial Terbuka (open sosial stratification) pelapisan yang membuka
kesempatan warganya untuk turun-naik antarlapisanberlaku dalam masyarakat modern.
F. PERSPEKTIF TENTANG STRATIFIKASI SOSIAL
Stratifikasi sosial anggota masyarakat ke dalam berbagai kelas sosial itu sebenarnya
diperlukan atau tidak ? Jawaban atas pertanyaan ini sifatnya relatif, tergantung dari mana
sudut kita melihatnya dan pendekatan macam apa yang kita jadikan titik acuan.
Pendekatan Fungsional
Pelopor pendekatan fungsionalis adalah Kingsley Davis dan Wilbert Moore. Menurut kedua
pakar ini stratifikasi dibutuhkan demi kelangsungan hidup masyarakat yang membutuhkan
pelbagai macam jenis pekerjaan.. Tanpa adanya stratifikasi sosial, masyarakat tidak akan
terangsang untuk menekuni pekerjaan-pekerjaan sulit atau pekerjaan-pekerjaan yang
membutuhkan proses belajar yang lama dan mahal.
Disini tercakup pengertian bahwa pelapisan sosial itu perlu ada agar masyarakat berfungsi,
bahwa berbagai lapisan dalam masyarakat bergerak bersama untuk menjamin terpenuhinya
kebutuhan masyarakat dan bahwa sistem yang ada, paling tidak secara diam-diam memang
telah disetujui oleh para anggota masyarakat.

Tujuan pelapisan sosial : dalam rangka penataan masyarakat, dimana setiap masyarakat
harus menempatkan individu-individu pada tempat-tempat tertentu dalam struktur sosial dan
mendorong mereka untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya sebagai akibat penempatan
tersebut. Dengan demikian pelapisan sosial berfungsi untuk menempatkan individu-individu
tersebut dan kedua mendorong agar mereka melaksanakan kewajibannya.
Pendekatan Konflik
Pendekatan konflik memiliki asumsi yang berhadapan secara diametral dengan pendekatan
fungsional. Dengan dipelopori oleh Karl Marx, pendekatan konflik berpandangan bahwa
bukan kegunaan fungsional yang menciptakan stratifikasi sosial, melainkan dominasi
kekuasaan. Artinya menurut pendekatan konflik, adanya pelapisan sosial bukan dipandang
sebagai hasil konsensus, tetapi lebih dikarenakan anggota masyarakat terpaksa harus
menerima adanya perbedaan itu sebab mereka tidak memiliki kemampuan untuk
menentangnya dan dasar pembentukannya merupakan penghisapan suatu kelas oleh kelas lain
yang lebih tinggi.
Bagi penganut pendekatan konflik, pemberian kesempatan yang tidak sama dan semua
bentuk diskriminasi dinilai menghambat orang dari strata rendah untuk mengembangkan
bakat dan potensi mereka semaksimal mungkin.
G. CARA MEMPELAJARI STRATIFIKASI SOSIAL
Pendekatan Objektif
Artinya, usaha untuk memilah-milah masyarakat ke dalam beberapa lapisan dilakukan
menurut ukuran-ukuran yang objektif berupa variabel yang mudah diukur secara kuantitatif. (
katagori statistik )
Pendekatan Subjektif
Artinya, munculnya pelapisan sosial dalam masyarakat tidak diukur dengan kriteria-kriteria
yang objektif, melainkan dipilih menurut kesadaran subjektif warga masyarakat itu sendiri.
( katagori sosial ).
Pendekatan Reputasional
Artinya, pelapisan sosial disusun dengan cara subjek penelitian diminta menilai status orang
lain dengan jalan menempatkan orang lain tersebut tersebut ke dalam skala tertentu.
F. UNSUR-UNSUR LAPISAN SOSIAL

1.
Dalam
sosiologi
status sosial
bersifat
netral.

STATUS SOSIAL : posisi seseorang dalam masyarakat dalam hubungannya dengan orang lain,
baik mencakup perilaku, hak maupun kewajiban. STATUS : Tpt./posisi seseorang dalam
suatu klp. Sosial KEDUDUKAN. Jika menyangkut masyarakat luas maka status sosial
makin tinggi.
A. STATUS YANG DIUSAHAKAN ( ACHIEVED STATUS) : kedudukan di dalam masyarakat
yang diraih melalui usaha sendiri yang disengaja (terbuka).
B. STATUS YANG DIGARISKAN (ASCRIBED STATUS) : kedudukan dalam masyarakat yang
diperoleh melalui garis keturunan/kalahiran. (tertutup).
C. STATUS YANG DIBERIKAN (ASSIGNED STATUS) : yakni kedudukan yang lebih tinggi
yang diberikan kpd seseorang/sklp. Karena dianggap telah bekerja sama memenuhi
kepentingan masyarakatnya berjasa, misalnya gelar kehormatan, kenaikan pangkat dsb.

2.

PERANAN SOSIAL (aspek dinamis dari status sosial ; hak dan kewajiban yang
dilaksanakan sesuai status sosial ) : rangkaian norma dan perilaku yang dijalankan seseorang
sesuai dengan status sosialnya dalam masyarakat.
( Jika seseorang melaksanakan hak & kewajibannya sesuai dengan kedudukannya maka dia
menjalankan suatu peranan.
Perubahan status sosial akan berdampak pada perubahan peranan sosial.

1. PERANAN PILIHAN ( ACHIEVED ROLES ) : peranan yang hanya diperoleh melalui usaha
tertentu achieved status.
2. PERANAN BAWAAN ( ASCRIBED ROLES ) : peranan yang diperoleh secara otomatis
bukan karena usaha tertentu.
3. PERANAN YANG DIHARAPKAN ( EXPECTED ROLES): peranan yang dilaksanakan
sesuai ketentuan yang telah ditetapkan bersama bersama.
4. PERANAN YANG DISESUAIKAN ( ACTUAL ROLES ) : peranan yang dilaksanakan sesuai
situasi yang selalu berubah-ubah.
Di Indonesia : mengutamakan kedudukan dibandingkan peranan karena lebih mengutamakan
material dpd spiritual konsumtifhedonisme.
(MEMPEROLEH ROLE FACILITIES)

3. KONSEKUENSI STRATIFIKASI SOSIAL


a.

Terbentuknya simbol status : status sosial terungkap dari gaya hidupnya sehingga gaya hidup
merupakan lambang suatu status sosial ( yang melekat pada status sosial dan menjadi cirri
hidupnya) gejala inilah yang dinamakan simbol status (status symbol).internalized.
b. Terjadinya Integrasi Status dan Peranan Sosial : penerimaan seseorang atau sekelompok
warga terhadap status dan peranan sosialnya :

1. Aktif : integrasi terjadi secara sukarela


2. Pasif : integrasi terjadi secara paksaan.
c. Munculnya Konflik Status dan Peranan Sosial : hal ini muncul saat kepentingan seseorang
tidak lagi sejalan dengan kepentingan masyarakat kesenjangan peranan (role distance)
d. Peluang Hidup dan Kesehatan ; Studi yang dilakukan Robert Chambers (1987) menemukan
bahwa di lingkungan keluarga yang miskin, tidak berpendidikan dan rentan, meraka
umumnya lemah jasmani dan mudah terserang penyakit.
e. Respons Terhadap Perubahan ; Orang-orang kelas rendah pada umumnya ragu-ragu untuk
menerima pemikiran dan cara-cara baru serta curiga terhadap para pencipta hal-hal baru.
Kelas sosial atas- dimana sebagian besar berpendidikan relatif memadai cenderung lebih
responsif terhadap ide-ide baru, sehingga acapkali mereka lebih sering bisa m emetik manfaat
dengan cepat atas program baru atau inovasi yang diketahuinya.
f. Peluang Bekerja dan Berusaha ; peluang bekerja dan berusaha antara kelas sosial rendah
dengan kelas sosial di atasnya umumnya jauh berbeda.
g. Perilaku Politik ; berbagai studi memperlihatkan bahwa kelas sosial mempengaruhi perilaku
politik orang.

4. PERLUNYA SISTEM LAPISAN MASYARAKAT


Pelapisan sosial dapat memecahkan persoalan yang dihadapi masyarakat : yaitu penempatan
individu dalam tempat-tempat yang tersedia dalam struktur sosial dan mendorongnya agar
melaksanakan kewajiban yang sesuai dengan kedudukan serta peranannya. Pengisian tempattempat tersebut merupakan daya pendorong agar masyarakat bergerak sesuai dengan
fungsinya, maka tak dapat dihindarkan bahwa masyarakat harus menyediakan beberapa
macam sistem pembalasan jasa sebagai pendorong agar individu mau melaksanakan
kewajiban-kewajibannya yang sesuai dengan posisinya dalam masyarakat.

Sumber : Sosiologi Suatu Pengantar, Soerjono Soekanto


Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, J.dwi Narwoko-Bagong Suyatno (ed.)