Anda di halaman 1dari 20

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Komponen-komponen kimia yang terkandung didalam senyawa seperti yang
terdapat di dalam tumbuh-tumbuhan sangat dibutuhkan oleh keperluan hidup
manusia. Dimana seiring dengan berkembangnya zaman, banyak para peneliti farmasi
yang mengkaji berbagai tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat dalam hal ini
ditinjau berdasarkan jenis zat aktif yang terkandung didalamnya. Zat aktif tersebut
kemudian akan diisolasi dan dijadikan sebagai komponen utama dalam sediaan
famasi dengan berbagai bentuk sediaan. Komponen tersebut dapat diperoleh dengan
metode ekstraksi, dimana ekstraksi merupakan proses penyarian zat-zat berkhasiat
atau zat-zat aktif dari tumbuhan atau biota laut dengan menggunakan pelarut dan
metodeyang sesuai (Sitty. 1999). Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi,
ekstraksi dibagi menjadi dua yaitu ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair. Pada
ekstraksi cair-cair, bahan yang menjadi analit berbentuk cair dengan pemisahannya
menggunakan dua pelarut yang tidak saling bercampur sehingga terjadi distribusi
sampel di antara kedua pelarut terebut. Pendistribusian sampel dalam kedua pelarut
tersebut dapat ditentukan dengan perhitungan KD (koefisien distribusi). Sedangkan
ekstraksi padat-cair terdiri atas ekstraksi panas dan dingin. Jarak (Ricinus
communis).kemiri (Aleurites moluccana), Kunyit (Curcuma domestica) adalah
tumbuhan yang telah diekstraksi padat cair sehingga mendapatkan ekstrak. Dimana
ektrak ini berperan penting dalam menentukan senyawa yang terkandung didalam
tumbuhan tersebut. Dandengan adanya ekstraksi cair-cair maka identifikasi yang akan
dilakukan menjadi lebih mudah. Berdasarkan dari latar belakang di atas,
makadilakukanlah percobaan untuk melakukan ekstraksi secara cair-cair.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah bagaimana prinsip dari proses
ekstraksi berserta alat alat ekstraksi.
.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan ini adalah agar pembaca mengetahui prinsip dari
proses ekstraksi beserta alat alatnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ekstrasi adalah pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau
cairan dengan bantuan pelarut. Ekstraksi juga merupakan proses pemisahan satu atau
lebih komponen dari suatu campuran homogen menggunakan pelarut cair (
solven) sebagai separating agen. Pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang
berbeda dari komponen-komponen dalam campuran.
Ekstraksi pelarut atau sering disebut juga ekstraksi air merupakan metode
pemisahan atau pengambilan zat terlarut dala m larutan (biasanya dalam air) dengan
menggunakan pelarut lain (biasanya organik).
Pemisahan zat-zat terlarut antara dua cairan yang tidak saling mencampur
antara lain menggunakan alat corong pisah. Ada suatu jenis pemisahan lainnya
dimana pada satu fase dapat berulang-ulang dikontakkan dengan fase yang lain,
misalnya ekstraksi berulang-ulang suatu larutan dalam pelarut air dan pelarut organik,
dalam hal ini digunakan suatu alat yaitu ekstraktor sokshlet. Metode sokshlet
merupakan metode ekstraksi dari padatan dengan solvent (pelarut) cair secara
kontinu. Alatnya dinamakan sokshlet (ekstraktor sokshlet) yang digunakan untuk
ekstraksi kontinu dari sejumlah kecil bahan.
Ekstraksi pelarut menyangkut distribusi suatu zat terlarut (solute) di antara dua
fasa cair yang tidak saling bercampur. Teknik ekstraksi sangat berguna untuk
pemisahan secara cepat dan bersih baik untuk zat organik maupun zat anorganik.
Cara ini juga dapat digunakan untuk analisis makro maupun mikro. Selain untuk
kepentingan analisis kimia, ekstraksi juga banyak digunakan untuk pekerjaanpekerjaan preparatif dalam bidang kimia organik, biokimia dan anorganik di
laboratorium. Alat yang digunakan dapat berupa corong pemisah (paling sederhana),
alat ekstraksi soxhlet sampai yang paling rumit berupa alat Counter Current Craig.
Diantara berbagai jenis metode pemisahan, ekstraksi pelarut atau dise but juga
ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan populer. Alasan
utamanya adalah bahwa pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam tingkat makro
maupun mikro. Seseorang tidak memerlukan alat yang khusus atau canggih kecuali
corong pemisah. Prinsip metode ini didasarkan padsa distribusi zat terlarut dengan
perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidang saling bercampur, seperti
benzen, karbon tetraklorida, atau kloroform. Batasannya adalah zat terlarut dapat
ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase pelarut. Teknik ini dapat
digunakan untuk kegunaan preparatif, pemurnian, memperkaya, pemisahan serta

analisis pada semua skala kerja. Mula-mula metode ini dikenal dalam kimia analisis,
kemudian berkembang menjadi metode yang baik, sederhana, cepat dan dapat
digunakan untuk ion-ion logam yang bertindak sebagai trace (pengotor) dan ion-ion
logamdalam jumlah makrogram.
1

Secara umum, terdapat empat situasi dalam menentukan tujuan ekstraksi:


Senyawa kimia telah diketahui identitasnya untuk diekstraksi dari organisme.
Dalam kasus ini, prosedur yang telah dipublikasikan dapat diikuti dan dibuat
modifikasi yang sesuai untuk mengembangkan proses atau menyesuaikan
dengan kebutuhan pemakai.

Bahan diperiksa untuk menemukan kelompok senyawa kimia tertentu, misalnya


alkaloid, flavanoid atau saponin, meskipun struktur kimia sebetulnya dari
senyawa ini bahkan keberadaannya belum diketahui. Dalam situasi seperti ini,
metode umum yang dapat digunakan untuk senyawa kimia yang diminati dapat
diperoleh dari pustaka. Hal ini diikuti dengan uji kimia atau kromatografik yang
sesuai untuk kelompok senyawa kimia tertentu

Organisme (tanaman atau hewan) digunakan dalam pengobatan tradisional, dan


biasanya dibuat dengan cara, misalnya Tradisional Chinese medicine (TCM)
seringkali membutuhkan herba yang dididihkan dalam air dan dekok dalam air
untuk diberikan sebagai obat. Proses ini harus ditiru sedekat mungkin jika
ekstrak akan melalui kajian ilmiah biologi atau kimia lebih lanjut, khususnya
jika tujuannya untuk memvalidasi penggunaan obat tradisional.

Sifat senyawa yang akan diisolasi belum ditentukan sebelumnya dengan cara
apapun. Situasi ini (utamanya dalam program skrining) dapat timbul jika
tujuannya adalah untuk menguji organisme, baik yang dipilih secara acak atau
didasarkan pada penggunaan tradisional untuk mengetahui adanya senyawa
dengan aktivitas biologi khusus.
Hal yang perlu diperhatikan ada 4 faktor:

1. Ukuran partikel
Ukuran partikel mempengaruhi laju ekstraksi dalam beberapa hal. Semakin
kecil ukurannya, semakin besar lusa permukaan antara padat dan cair; sehingga
laju perpindahannya menjadi semakin besar. Dengan kata lain, jarak untuk
berdifusi yang dialami oleh zat terlarut dalam padatan adalah kecil.
2. Zat pelarut

Larutan yang akan dipakai sebagai zat pelarut seharusnya merupakan pelarut
pilihan yang terbaik dan viskositasnya harus cukup rendah agar dapat dapat
bersikulasi dengan mudah. Biasanya, zat pelarut murni akan diapaki pada
awalnya, tetapi setelah proses ekstraksi berakhir, konsentrasi zat terlarut akan
naik dan laju ekstraksinya turun, pertama karena gradien konsentrasi akan
berkurang dan kedua zat terlarutnya menjadi lebih kental.
3. Temperatur
Dalam banyak hal, kelarutan zat terlarut (pada partikel yang diekstraksi) di
dalam pelarut akan naik bersamaan dengan kenaikan temperatur untuk
memberikan laju ekstraksi yang lebih tinggi.
4. Pengadukan fluida
Pengadukan pada zat pelarut adalah penting karena akan menaikkan proses
difusi, sehingga menaikkan perpindahan material dari permukaan partikel ke zat
pelarut.
Menurut Indra Wibawa (2010), Istilah-istilah berikut ini umumnya digunakan
dalam teknik ekstraksi:
1. Bahan ekstraksi: Campuran bahan yang akan diekstraksi
2. Pelarut (media ekstraksi): Cairan yang digunakan untuk melangsungkan
ekstraksi
3. Ekstrak: Bahan yang dipisahkan dari bahan ekstraksi
4. Larutan ekstrak: Pelarut setelah proses pengambilan ekstrak
5. Rafinat (residu ekstraksi): Bahan ekstraksi setelah diambil ekstraknya
6. Ekstraktor: Alat ekstraksi
7. Ekstraksi padat-cair: Ekstraksi dari bahan yang padat
8. Ekstraksi cair-cair (ekstraksi dengan pelarut = solvent extraction): Ekstraksi
dari bahan ekstraksi yang cair.
Pada ekstraksi tidak terjadi pemisahan segera dari bahan-bahan yang akan
diperoleh (ekstrak), melainkan mula-mula hanya terjadi pengumpulan ekstrak dalam
pelarut.
Ekstraksi cair-cair digunakan untuk memisahkan senyawa atas dasar perbedaan
kelarutan pada dua jenis pelarut yang berbeda yang tidak saling bercampur. Jika analit
berada dalam pelarut anorganik, maka pelarut yang digunakan adalah pelarut organik,
dan sebaliknya.
Pada metode ekstraksi cair-cair, ekstraksi dapat dilakukan dengan cara bertahap
(batch) atau dengan cara kontinyu. Cara paling sederhana dan banyak dilakukan
adalah ekstraksi bertahap. Tekniknya cukup dengan menambahkan pelarut
pengekstrak yang tidak bercampur dengan pelarut pertama melalui corong pemisah,

kemudian dilakukan pengocokan sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi solut


pada kedua pelarut. Setelah didiamkan beberapa saat akan terbentuk dua lapisan dan
lapisan yang berada di bawah dengan kerapatan lebih besar dapat dipisahkan untuk
dilakukan analisis selanjutnya.
Diantara berbagai jenis metode pemisahan, ekstraksi pelarut atau dise but juga
ekstraksi air merupakan metode pemisahan yang paling baik dan populer. Alasan
utamanya adalah bahwa pemisahan ini dapat dilakukan baik dalam tingkat makro
maupun mikro. Seseorang tidak memerlukan alat yang khusus atau canggih kecuali
corong pemisah. Prinsip metode ini didasarkan padsa distribusi zat terlarut dengan
perbandingan tertentu antara dua pelarut yang tidang saling bercampur, seperti
benzen, karbon tetraklorida, atau kloroform. Batasannya adalah zat terlarut dapat
ditransfer pada jumlah yang berbeda dalam kedua fase pelarut. Teknik ini dapat
digunakan untuk kegunaan preparatif, pemurnian, memperkaya, pemisahan serta
analisis pada semua skala kerja. Mula-mula metode ini dikenal dalam kimia analisis,
kemudian berkembang menjadi metode yang baik, sederhana, cepat dan dapat
digunakan untuk ion-ion logamyang bertindak sebagai trace (pengotor) dan ion-ion
logam dalam jumlah makro gram.
Cara ini digunakan jika harga D cukup besar ( 1000). Bila hal ini terjadi, maka
satu kali ekstraksi sudah cukup untuk memperoleh solut secara kuantitatif. Nmaun
demikian, ekstraksi akan semakin efektif jika dilakukan berulangkali menggunakan
pelarut dengan volume sedikit demi sedikit.
Bila suatu zat terlarut membagi diri antara dua cairan yang tak dapat campur,
ada suatu hubungan yang pasti antara konsentrasi zat terlarut dalam dua fase pada
kesetimbangan. Nernst pertama kalinya memberikan pernyataan yang jelas mengenai
hukun distribusi ketika pada tahun 1981 ia menunjukkan bahwa suatu zat terlarut
akan membagi dirinya antara dua cairan yang tak dapat campur sedemikian rupa
sehingga angka banding konsentrasi pada kesetimbangan adalah konstanta pada suatu
temperatur tertentu:
= tetapan
Menyatakan konsentrasi zat terlarut A dalam fase cair 1. Meskipun hubungan ini
berlaku cukup baik dalam kasus-kasus tertentu, pada kenyataannya hubungan ini
tidaklah eksak. Yang benar, dalam pengertian termodinamik, angka banding aktivitas
bukannya rasio konsentrasi yang seharusnya konstan. Aktivitas suatu spesies kimia
dalam satu fase memelihara suatu rasio yang konstan terhadap aktivitas spesies itu
dalam fase cair yang lain:
= KDA

Di sini menyatakan aktivitas zat terlarut A dalam fase 1. Tetapan sejati KD A disebut
koefisien distribusi dari spesies A.
Dalam klasifikasi ekstraksi, ekstraksi adalah suatu proses pemisahan substansi
atau zat dari campuranya dengan mernggunakan yang sesuai. Menurut Estien Yazid
(2005, h,181-18) Ekstraksi dapat digolongkan berdasarkan bentuk campuran yang
diekstraksi dan proses pelaksanaannya.
a. Bentuk campuranya
Berdasarkan bentuk campuran yang diekstraksi, suatu ekstraksi dibedakan
menjadi ekstraksi padat-cair dan ekstraksi cair-cair.
1. Ekstraksi padat-cair
Zat yang diekstraksi terdapat didalam campuran yang berbentuk padatan.
Ekstraksi jenis ini banyak dilakukan didalam usaha mengrisolasi zat berkhasiat
yang terkandung didalam bahan alam seperti steroid, hormon, antibiotika, dan
lipida pada biji-bijian.
2. Ekstraksi cair-cair
Zat yang diekstraksi teradpat didalam campuran yang berbentuk cair.
Ekstraksi cair-cair sering juga disebut ekstraksi pelarut banyak dilakukan untuk
memisahkan zat seperti iod, atau logam-logam tertentu dalam larutan air.
b. Proses pelaksanaannya
Menurut proses pelaksanaannya ekstraksi dibedakan menjadi ekstraksi
berkesinambungan (kontinyu) dan ekstraksi bertahap.
1. Ekstraksi kontinyu (Continues Extraction)
Pada ekstraksi kontinyu, pelarut yang digunakan secara berulang-ulang
sampai proses ekstraksi selesai. Tersedia berbagai alat dari jenis ekstraksi ini
seperti alat soxhlet atau Craig Countercurent.
2. Ekstraksi bertahap (batch)
Pada ekstraksi bertahap, setiap kali ekstraksi selalu digunakan pelarut yang
baru sampai proses ekstraksi selesai. Alat yang biasa digunakan adalah berupa
corong pisang.
Ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaitu pencampuran
secara intensif bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fasa cair itu
sesempurna mungkin. Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu
ekstrak meninggalkan pelarut yang pertarna (media pembawa) dan masuk ke dalam
pelarut kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan
pelarut tidak saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi

perpindahan masa yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah
diusahakan agar terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan
tersebut. Untuk itu salah satu cairan distribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya
dengan bantuan perkakas pengaduk).
Tentu saja pendistribusian ini tidak boleh terlalu jauh karena akan menyebabkan
terbentuknya emulsi yang tidak dapat lagi atau sukar sekali dipisah. Turbulensi pada
saat mencampur tidak perlu terlalu besar. Yang penting perbedaan konsentrasi sebagai
gaya penggerak pada bidang batas tetap ada. Hal ini berarti bahwa bahan yang telah
terlarutkan sedapat mungkin segera disingkirkan dari bidang batas. Pada saat
pemisahan, cairan yang telah terdistribusi menjadi tetes-tetes hanis menyatu kembali
menjadi sebuah fasa homogen dan berdasarkan perbedaan kerapatan yang cukup
besar dapat dipisahkan dari cairan yang lain.
Pada metode ekstraksi cair-cair, ekstraksi dapat dilakukan dengan cara bertahap
(batch) atau dengan cara kontinyu. Cara paling sederhana dan banyak dilakukan
adalah ekstraksi bertahap. Tekniknya cukup dengan menambahkan pelarut
pengekstrak yang tidak bercampur dengan pelarut pertama melaluicorong pisah,
kemudian dilakukan pengocokan sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi solut
pada kedua pelarut.setelah didiamkan beberapa saat akan terbentuk dua lapisan, dan
lapisan yang berada dibawah dengan kerapatan lebih besar dapat dipisahkan untuk
dilakukan analisa selanjutnya.
Ekstraksi merupakan suatu proses penarikan senyawa dari tumbuh-tumbuhan,
hewan dan lain-lain dengan menggunakan pelarut tertentu. Ekstraksi bisa dilakukan
dengan berbagai metode yang sesuai dengan sifat dan tujuan ekstraksi. Pada proses
ekstraksi dapat digunakan sampel dalam keadaan segar atau yang telah dikeringkan,
tergantung pada sifat tumbuhan dan senyawa yang akan diisolasi. Penggunaan sampel
segar lebih disukai karena penetrasi pelarut yang dig selama penyarian kedalam
membran sel tumbuhan secara difusi akan berlangsung lebih cepat, selain itu juga
mengurangi kemungkinan terbentuknya polimer berupa resin atau artefak lain yang
dapat terbentuk selama proses pengeringan. Penggunaan sampel kering dapat
mengurangi kadar air didalam sampel sehingga mencegah kemungkinan rusaknya
senyawa akibat aktivitas anti mikroba.
Beberapa macam metode Ekstraksi :

1. Maserasi
Maserasi merupakan proses penyarian yang sederhana yaitu dengan cara
merendam sampel dalam pelarut yang sesuai selama 35 hari.
Prinsip maserasi :
Pelarut akan menembus ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif,
sehingga akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif
di dalam sel dengan yang di luar sel, maka senyawa kimia yang terpekat didesak
ke luar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi
antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Kecuali dinyatakan lain, dilakukan
dengan merendam 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat
kehalusan tertentu, dimasukkan kedalam bejana. Tambahkan pelarut sebanyak 70
bagian sebagai penyari, tutup dan biarkan 3-5 hari pada tempat yang terlindung
cahaya. Diaduk berulang- ulang serta diperas, cuci ampas dengan cairan penyari
secukupnya, hingga didapatkan hasil maserasi sbyk 100 bagian. Pindahkan
kedalam bejana tertutup dan biarkan ditempat sejuk terlindung dari cahaya
selama 2 hari.
Keuntungan metoda maserasi :
Teknik pengerjaan dan alat yang digunakan sederhana serta dapat digunakan
untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat termolabil.
2. Sokletasi
Sokletasi adalah metode penyarian secara berulang- ulang senyawa bahan alam
dengan menggunakan alat soklet. Sokletasi merupakan teknik penyarian dengan
pelarut organik menggunakan alat soklet. Pada cara ini pelarut dan sampel
ditempatkan secara terpisah.
Prinsip Sokletasi :
Prinsipnya adalah penyarian yang dilakukan berulang-ulang sehingga penyarian
lebih sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. Bila penyarian telah
selesai maka pelarutnya dapat diuapkan kembali dan sisanya berupa ekstrak yang
mengandung komponen kimia tertentu. Penyarian dihentikan bila pelarut yang
turun melewati pipa kapiler tidak berwarna dan dapat diperiksa dengan pereaksi
yang cocok.
Keuntungan metode sokletasi :

Sampel terekstraksi secar sempurna, karena dilakukan berulang kali dan


kontinu.
Pelarut yang digunakan tidak akan habis, karena selalu didinginkan dengan
kondenser dan dapat digunakan lagi setelah hasil isolasi dipisahkan.
Proses ekstraksi lebih cepat (wkt nya singkat)
Pelarut yang digunakan lebih sedikit.

Kelemahan Sokletasi :
Tidak cocok untuk senyawa- senyawa yang tidak stabil terhadap panas
(senyawa termobil), contoh : Beta karoten.
Cara mengetahui ekstrak telah sempurna atau saat sokletasi harus dihentikan adalah :
Pelarutnya sudah bening atau tidak berwarna lagi
Jika pelarut bening, maka diuji dengan meneteskan setetes pelarut pada kaca
arloji dan biarkan menguap. Bila tidak ada lagi bercak noda, berarti sokletasi
telah selesai.
Untuk mengetahui senyawa hasil penyarian (kandungannya) , dapat dilakukan
dengan tes identifikasi dengan menggunakan beberapa pereaksi.
3. Perkolasi
Merupakan teknik penyarian dengan pelarut organik yang sesuai secara lambat
menggunakan alat perkolator.
Prinsip Perkolator :
Dilakukan dg merendam 10 bagian sampel dg derajat kehalusan tertentu dg
cairan penyari sebyk 2,5- 5 bagian, perendaman sekurang-kurangnya selama 3
jam dalam bejana tertutup.
Pindahkan masa sedikit demi sedikit ke dlm perkolator, sambil sesekali ditekan
secara hati-hati, tuang dg cairan penyari secukupnya hingga cairan penyari
menetes (bahan harus terendam cairan penyari).
Tutup perkolator biarkan selama 24 jam. Biarkan cairan menetes selam 1
ml/menit, tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya hingga
diperoleh 100 bagian perkolat.
Tutup dan biarkan selama 2 hari ditempat sejuk dan terlindung dari cahaya.
Pada cara ini pelarut dialirkan melewati sampel sehingga penyarian lebih
sempurna. Tapi metoda ini membutuhkan pelarut yang relatif banyak.
4. Digestasi

10

Digestasi adalah proses penyarian yang sama seperti maserasi dengan


menggunakan pemanasan pada suhu 30-40oC. Metoda ini digunakan untuk
simplisia yang tersari baik pada suhu biasa.
5. Infusa
Infusa adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia nabati dengan air
pada suhu 90oC selama 15 menit, kecuali dinyatakan lain, dilakukan dengan cara
sebagai berikut : simplisia dengan derajat kehalusan tertentu dimasukkan kedalam
panci dan ditambahkan air secukupnya, panaskan diatas penangas air selama 15
menit, dihitung mulai suhu 90oC sambil sesekali diaduk, serkai selagi panas
melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas sehingga
diperoleh volume infus yang dikehendaki.
6. Dekokta
Proses penyarian dengan metoda ini hampir sama dengan infus, perbedaanya
terletak pada lamanya waktu pemanasan yang digunakan. Dekokta membutuhkan
waktu pemanasan yang lebih lama dibanding metoda infus, yaitu 30 menit
dihitung setelah suhu mencapai 90oC. Metoda ini jarang digunakan karena proses
penyarian kurang sempurna dan tidak dapat digunakan untuk mengekstraksi
senyawa yang termolabil.
7. Fraksinasi
Fraksinasi merupakan teknik pemisahan atau pengelompokan kandungan kimia
ekstrak berdasarkan kepolaran. Pada proses fraksinasi digunakan dua pelarut yang
tidak bercampur dan memiliki tingkat kepolaran yang berbeda
Tujuan Fraksinasi :
Tujuan fraksinasi adalah memisahkan senyawa-senyawa kimia yang ada di dalam
ekstrak berdasarkan tingkat kepolarannya. Senyawa-senyawa yang bersifat non
polar akan tertarik oleh pelarut non polar seperti heksan & pertolium eter.
Senyawa yg semipolar seperti golongan terpenoid dan alkaloid akan tertarik oleh
pelarut semi polar seperti etil asetat & DCM. Senyawa-senyawa yang bersifat
polar seperti golongan flavonoid dan glikosida akan tertarik oleh pelarut polar
seperti butanol dan etanol.
Penerapan Ekstraksi di industri :
1. Bahan Kimia : Pengolahan air, pencucian asam/basa dan senyawa polar
2. Ekstrak alami, minyak atsiri, oleoresin, pewarna dan aroma makanan

11

3. Bahan Farmasi :Antibiotik, vitamin dan produk farmasi


4. Bahan Makanan : Asam laktat dan Flavor
5. Polimer :Caprolactar dan adiponitri
6. Refining : Oli dan aromatik

Contoh alat ekstraksi pada industri:


EKSTRAKSI PADA INDUSTRI SAWIT
1
Oil Clarifier

Minyak sawit yang didapatkan dari expeller masih berupa minyak kental karena
mengandung partikel padat yang berwujud seperti lumpur dan susah dipisahkan
dari minyak. Berbagai metoda telah digunakan oleh banyak ilmuwan untuk
memisahkan padatan dari minyak, tetapi cara yang paling efektif adalah
menambahkan banyak air pada minyak. Penambahan ini akan memisahkan minyak
bening ke atas dan air bersama kotoran ke bawah. Alat berupa dua silinder, dengan
satu silinder lebih kecil berada di dalam silinder yang lebih besar. Minyak
dimasukkan kedalam silinder yang besar melalui bagian bawahnya. Minyak
beningan akan naik ketas, seiring penambahan minyak ke dalam silinder besar.
Minyak bening dari silinder besar selanjutnya mengisi silinder kecil dan
dikeluarkan melaui bagian bawah silinder kecil. Minyak ini kemudian dipanaskan
untuk mengurangi kadar air dan didapatkan CPO.
2. Singgle/double Srew
Proses Ekstraksi Minyak dengan cara pengempaan menggunakan single/double
Screw pada tekanan 40-50 Bar.Fungsi dari alat ini adalah untuk proses

12

pengepresan buah sawit yang telah dilumatkan menjadi minyak sawit kasar
(minyak yang belum di murnikan).

Vakum Dryer

Vacum dryer adalah alat yang berfungsi untuk memisahkan air dari minyak
dengan cara penguapan dalam kondisi hampa udara. Hasil yang diharapkan dari
proses ini adalah minyak dengan kadar air 0,1 0,15% dan kadar kotoran 0,013
0,015%. Melalui tangki apung (float tank) inilah yang mengatur jumlah minyak,
pertama minyak dialirkan ke vacum drayer.Minyak terhisap kedalam tabung
melalui pemercikan (nozzle) karena adanya hampa udara dan minyak terpencar
kedalam tabung hampa.

EKSTRAKSI PADA INDUSTRI OLEORESIN DARI CASSIA VERA

13

Alat ekstraksi oleoresin ini merupakan alat yang praktis dan menggunakan
teknologi sederhana yang dapat diaplikasikan pada industri kecil dan menengah
dalam upaya meningkatkan nilai tambah dan diversifikasi produk cassia vera.

Prinsip Kerja :
Sistem yang digunakan pada unit ini yaitu mekanisme dengan pemanasan yang
diatur menggunakan thermostat dan pengadukan menggunakan motor penggerak
berpengaduk. Ekstraksi dilakukan didalam silinder dengan volume 50
liter.Mekanisme penyaringan dilakukan dengan pengaturan pemakuman melalui
kran-kran dan vakum meter.Penyaringan menggunakan kompressor yang
dimodifikasi dari outletnya dengan meteran vakum memakai motor penggerak.
Hasil uji coba dari 4 kg bahan memerlukan waktu penyaringan 50 menit, tekanan
rata-rata 10 cm Hg dan dapat menyaring sebanyak 560 ml.Sistem penyulingan
vakum ini dilakukan dengan pengaturan pemanasan memakai thermostat dan
pemakukan memakai pompa vakum.

EKSTRAKSI PADA INDUSTRI OBAT-OBATAN


Untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan serta menyediakan bahan
baku obat herbal berkualitas terbaik, maka pada tahun 2003 Borobudur Natural
Herbal

14

Industry mendirikan unit ekstraksi modern yaitu Borobudur Extraction Center (BEC).
BEC menggunakan mesin berteknologi canggih buatan Jerman, menggunakan 3
tahapan dalam proses ekstraksi yaitu Perkolasi, Evaporasi dan Drying.

Perkolasi bertujuan untuk mengambil sari/kandungan bahan aktif dari rempah


rempah dengan menggunakan pelarut yang sesuai sehingga didapat ekstrak cair.
Proses ini dilakukan secara berkesinambungan sehingga menjamin kandungan
bahan aktifnya optimal. Kapasitas perkolasi ini adalah 4 x 2000 liter sehingga
dapat memproses 40 50 ton rempah kering per bulan.

15

Alat Ekstrak Vakum Multi Effect

Digunakan untuk penanganan proses Ekstraksi dan pengkonsentrasian cairan


dalam farmasi, kimia, makanan, susu produk industri, terutama yang berlaku untuk
berkonsentrasi obat termal di bawah system vakum dan suhu rendah).

EKSTRAKSI PADA INDUSTRI KOPI


Ekstraksi menggunakan pelarut air. Prosesnya melalui dua tahap yaitu Perkolasi
(dingin) dan Ekstraksi ( panas). Alatnya seperti yang dibawah ini :
Perkolasi

Ekstraksi per Batch

16

Aroma kopi dipertahankan dengan cara reverse osmosis menggunakan membran


filtasi. Selain itu, proses ekstraksi dengan panas juga akan mempengaruhi aroma,
untuk itu pasca ekstraksi proses berikutnya adalah pendinginan ekstrak hingga
suhu di bawah nol derajat celcius.

-Evaporasi ( Penguapan) :

17

Fungsinya adalah untuk mendapatkan kadar ekstrak ideal

Pemisahan :
Dipisah sesuai dengan kebutuhan hasil akhir olahan kopi yang dibutuhkan yaitu :
a. Spray Dried
b. Aglomerasi
c. Ekstraksi Biasa

Spray Drying

18

Prinsipnya adalah untuk menghilangkan air, dengan cara ekstrak dilewatkan dalam
sebuah kolom; temperatur tinggi dalam kolom tersebut akan menguapkan air
hingga didapatkan bubuk kopi. Bubuk kopi dikumpulkan pada bagian bawah
kolom. Karbondioksida bertekanan tinggi disemburkan via nozzle dengan butiran
halus kopi.

Alat spray drier seperti ini

Aglomerasi
Bubuk kopi spray dried direbus lagi untuk mendapatkan gumpalan antar partikel
bubuk yang lebih besar, fungsinya adalah untuk mendapatkan rasa yang lebih kaya
dan aroma yang lebih kuat.
Alat aglomeratornya seperti ini :

19

Ekstraksi
Kopi hasil ekstraksi awalan tidak mengalami proses lagi, dan langsung dikemas.
Berikut prinsip ekstraksinya:

20

BAB III
KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat di ambil adalah: