Anda di halaman 1dari 13

STANDAR PROFESI KEBIDANAN

A. Macam-macam Standar Profesi Kebidanan

Standar Profesi ini terdiri dari Standar Kompetensi Bidan Indonesia,


Standar Pendidikan, Standar Pelayanan Kebidanan, dan Kode Etik Profesi.
1. Standar kompetensi bidan
Standar kompetensi bidan terdiri dari 9 :
a. pengetahuan;
b. pra konsepsi, KB dan ginekologi,
c. asuhan dan konseling selama kehamilan,
d. asuhan selama persalinan dan kelahiran;
e. asuhan pada ibu nifas dan menyusui;
f. asuhan pada bayi baru lahir;
g. asuhan pada bayi dan balita;
h. kebidanan komunitas,
i. dan asuhan pada ibu/ wanita dengan gangguan reproduksi.
2. Standar Pendidikan Bidan
Terdiri dari:
a. Standar I : Lembaga Pendidikan
b. Standar II : Falsafah
c. Standar III : Organisasi
d. Standar IV : Sumber Daya Pendidikan
e. Standar V : Pola Pendidikan Kebidanan
f. Standar VI : Kurikulum
g. Standar VII : Tujuan Pendidikan
h. Standar VIII : Evaluasi Pendidikan
i. Standar IX : Lulusan
3. Standar Pendidikan Berkelanjutan Bidan
Terdiri dari:

a. Standar I: Organisasi
b. Standar II : Falsafah
c. Standar III : Sumber Daya Pendidikan
d. Standar IV : Program Pendidikan Dan Pelatihan
e. Standar V : Fasilitas
f. Standar VI: Dokumen Penyelenggaraan Pendidikan Berkelanjutan
g. Standar VII : Pengendalian Mutu
4. Standar Pelayanan Kebidanan
Terdiri dari:
a. Standar I : Falsafah Dan Tujuan
b. Standar II : Administrasi Dan Pengelolaan
c. Standar III : Staf Dan Pimpinan
d. Standar IV : Fasilitas Dan Peralatan
e. Standar V : Kebijakan Dan Prosedur
f. Standar VI : Pengembangan Staf Dan Program Pendidikan
g. Standar VII : Standar Asuhan
h. Standar VIII : Evaluasi Dan Pengendalian Mutu
5. Standar Praktik Kebidanan
Terdiri dari :
a.

Standar I : Metode Asuhan

b. Standar II : Pengkajian
c.

Standar III : Diagnosa Kebidanan

d. Standar IV : Rencana Asuhan


e.

Standar V : Tindakan

f.

Standar VI : Partisipasi Klien

g. Standar VII : Pengawasan


h. Standar VIII : Evaluasi
i.

Standar IX : Dokumentasi

6. Kode etik bidan indonesia


Kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai-nilai
internal dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan
komprehensif suatu profesi yang memberikan tuntunan bagi anggota
dalam melaksanakan pengabdian profesi.
B. Ruang Lingkup Standar Profesi Kebidanan
1. Standar Pelayanan Umum ( Terdapat 2 Standar )
Standar 1 : Persiapan untuk kehidupan keluarga sehat
Persyaratan standar : Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada
perorangan, keluarga dan masyarakat terhadap segala halyang berkaitan
dengan kehamilan, termasuk penyuluhan umum, gizi, KB, kesiapan dalam
menghadapi kehamilan dan menjadi calon orang tua, menghindari
kebiasaan yang tidak baik dan mendukung kebiasaan baik
Standar 2 : Pencatatan dan Pelaporan
Persyaratan standar : Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang
dilakukan, yaitu registrasi. Semua ibu hamil diwilayah kerja, rincian yan
yg diberikan kpd setiap ibu hamil/bersalin/nifas dan BBL, semua
kunjungan rumah dan penyuluhan kpd masy. Disamping itu bidan
hendaknya mengikutsertakan kader untuk mencatat semua ibu hamil dan
meninjau upaya masy yg berkaitan dg ibu dan BBL. Bidan meninjau scr
teratur cat tsb untukmenilai kinerja dan penyusunan rencana kegiatan
untuk meningkatkan pelayanannya
2. Standar Pelayanan Ant Enatal (ada 6 standar)
Standar 3 : Identifikasi Ibu hamil
Persyaratan standar : Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi
dengan masyarakat secara berkala untukmemberikan penyuluhan dan
memotivasi ibu, suami dan anggota masyarakat agar mendorong ibu untuk
memeriksakan kehamilan sejak dini secara teratur
Standar 4 : pemeriksaan dan pemantauan antenatal
Persyaratan standar : Bidan memberikan sedikitnya 4 x pelyanan antenatal.
Pemeriksaan meliputi anamnesa dan pemantauan ibu dan janin dengan
seksama untuk menilai apakah perkembangan berlangung normal. Bidan

juga

hrs

mengenal

gizi,hipertensi,

resti/kelainan,

PMS/infeksi

khususnya

HIV;memberikan

anemia,

pelayanan

kurang

imunisasi,

nasehat dan penyuluhan kes serta tugas terkaitlainnya yg diberikan oleh


puskesman. Bidan harus mencatat data yang tepat pada setiapkunjungan
Bila ditemukan kelainan, bidan harus mampu mengambil tindakan yang
diperlukan dan merujukuntuk tindakan selanjutnya
Standar 5 : Palpasi Abdomen
Persyaratan standar : Bidan melakukan pemeriksaan abdominal secara
seksamamelakukan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, dan
bilaumur kehamilan bertambahmemeriksa posisi, bagian terendah janin
dan masuknya kepalajanin ke dalam rongga panggul, untuk mencari
kelaianan serta melakukan rujukan tepat waktu
Standar 6 : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan
Persyaratan standar : Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan,
penganan dan atau rujukan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku
Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan
Persyaratan standar : Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan
tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda serta gejala
preeklamsia lainnya, serta mengambil tindakan yang tepat dan
merujuknnya
Standar 8 : Persiapan Persalinan
Pernyataan standar : Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu
hamil, suami serta keluarganya pada trimester ketiga, untuk memastikan
bahwa persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang
menyenangkan akan direncanakan dengan baik, di samping persiapan
transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-tiba terjadi keadaan gawat
darurat. Bidan hendaknya melakukan kunjungan rumah untuk hal ini.
3. Standar Pelayanan Kebidanan. (Ada 4 standar)
Standar 9 : Asuhan Persalinan Kala I.
Pernyataan standar : Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah
mulai, kemudian memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai,
dengan memperhatikan kebutuhan klien, selama proses persalinan
berlangsung.

Standar 10 : Persalinan Kala II Yang Aman.


Pernyataan standar : Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman,
dengan sikap sopan dan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan
tradisi setempat.
Standar 11 : Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala Tiga.
Pernyataan standar : Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar
untuk membantu pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap.
Standar 12 : Penanganan kala II dengan gawat janin melalui
episiotomi.
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin
pada kala II yang lama, dan segera melakukan episiotomi dengan aman
untuk memperlancar persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.
4. Standar Pelayanan Nifas.(Ada 3 standar)
Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir.
Pernyataan standar : Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk
memastikan pernafasan spontanmencegah hipoksia sekunder, menemukan
kelainan, dan melakukan tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan.
Bidan juga harus mencegah atau menangani hipotermia.
Standar 14 : Penanganan Pada Dua Jam Pertama Setelah Persalinan.
Pernyataan standar : Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap
terjadinya komplikasi dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan
tindakan yang diperlukan. Di samping itu, bidan memberikan penjelasan
tentangan hal-hal mempercepat pulihnya kesehatan ibu, dan membantu ibu
untuk memulai pemberian ASI.
Standar 15 : Pelayanan Bagi Ibu Dan Bayi Pada Masa Nifas.
Pernyataan standar : Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas
melalui kunjungan rumah pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu
keenam setelah persalinan, untuk membantu proses pemulihan ibu dan
bayi melalui penanganan tali pusat yang benar; penemuanan dini
penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi pada masa
nifas; serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum,
kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir,
pemberian ASI, imunisasi dan KB.
5. Standar Penanganan Kegawatan Obstetri Dan Neonatal (Ada 9
standar)

Di samping standar untuk pelayanan kebidanan dasar ( antenatal,


persalinan dan nifas), di sini ditambahkan beberapa standar penanganan
kegawatan obstetri-neonatal. Seperti telah dibahas sebelumnya, bidan
diharapkan mampu melakukan penanganan keadaan gawat darurat
obstetric-neonatal tertentu untuk penyelamatan jiwa ibu dan bayi. Di
bawah ini dipilih sepuluh keadaan gawat darurat obstetri-neonatal yang
paling sering terjadi dan sering menjadi penyebab utama kematian
ibu/bayi baru lahir.
Standar 16 : Penanganan Perdarahan Dalam Kehamilan, Pada Trimester III
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala
perdarahan pada kehamilan, serta melakukan pertolongan pertama dan
merujuknya.
Standar 17 : Penanganan Kegawatan Pada Eklamsia.
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala
eklamsia mengancam. Serta merujuk dan atau memberikan pertolongan
pertama.
Standar 18 : Penanganan Kegawatan Pada Partus Lama/Macet
Pernyataan standar : Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus
lama/macet serta melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu
atau merujuknya.
Standar 19 : persalinan dg penggunaaan Vakum Ekstraktor
Pernyataan standar : Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi
vakum,melakukannya

secara

benar

dalammemberikan

pertolongan

persalinan dengan memastikan keamnannya bagi ibu dan janin


Standar 20 : Penanganan Retensio Plasenta
Pernyataan standar : Bidan mampu mengenali retensio placenta dan
memberikan pertolongan pertama termasuk plasenta manual dan penangan
perdarahan sesuai dengan kebutuhan
Standar 21 : Penangan Perdarahan Postpartum Primer
Pernyataan standar : Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebuhan
dalam 24 pertama setelah persalinan (perdarahan postpartum primer) dan
segera melakukan pertolongan pertama untuk mengendalikan perdarahan
Standar 22 : Penanganan Perdarahan Postpartum Sekunder

Pernyataan standar: Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda
serta gejala perdarahan postpartum sekunder, dan melakukan pertolongan
pertama untuk penyelamatan jiwa ibu dan atau merujuknya
Standar 23 : Penanganan Sepsis Puerperalis
Pernyataan standar: Bidan mampu mengenali secara tepat tanda dan gejala
sepsis puerperalis, serta melakukan pertolongan pertama atau merujuknya
Standar 24 : Penanganan Asfesia Neonatorum
Pernyaan standar : Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir
dengan asfeksia, serta melakukan resusitasi secepatnya, mengusahakan
bantuan medis yang diperlukan dan memberikan perawatan lanjutan.

RUANG LINGKUP PELAYANAN KEBIDANAN


1. Bidan Praktek Mandiri
Pengertian
Bidan Praktek Mandiri (BPM) merupakan bentuk pelayanan kesehatan
dibidang kesehatan dasar. Praktek bidan adalah serangkaian kegiatan
pelayanan kesehatan yang diberikan oleh bidan kepada pasien (individu,
keluarga, dan masyarakat) sesuai dengan kewenangan dan kemampuannya.
Bidan yang menjalankan praktek harus memiliki Surat Izin Praktek Bidan
(SIPB) sehingga dapat menjalankan praktek pada sarana kesehatan atau
program.
Bidan praktek mandiri mempunyai tanggung jawab besar karena harus
mempertanggungjawabkan sendiri apa yang dilakukan. Dalam hal ini Bidan
Praktek Mandiri menjadi pekerja yang bebas mengontrol dirinya sendiri.
Situasi ini akan besar sekali pengaruhnya terhadap kemungkinan terjadinya
penyimpangan etik.
Tujuan
a. Meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan ibu hamil,
pertolongan persalinan, perawatan nifas, kesehatan bayi dan anak balita,

serta pelayanan dan konseling pemakaian kontrasepsi serta keluarga


berencana melalui upaya strategis.
b. Terjaringnya seluruh kasus risiko tinggi ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi
baru lahir untuk mendapatkan penanganan yang memadai sesuai kasus dan
rujukannya.
c. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembinaan kesehatan ibu dan
anak.
d. Meningkatkan perilaku hidup sehat pada ibu, keluarga dan masyarakat
yang mendukung upaya penurunan angka kematian ibu dan angka
kematian bayi. (Ambarwati, 2010 : 02)

Persyaratan Pendirian Bidan Praktek Mandiri


1. Bidan dalam menjalankan praktek harus :
a. Memiliki tempat dan ruangan praktek yang memenuhi persyaratan
kesehatan.
b. Menyediakan tempat tidur untuk persalinan minimal 1 dan maksimal 5
tempat tidur.
c. Memiliki peralatan minimal sesuai dengan ketentuan dan melaksanakan
prosedur tetap (protap) yang berlaku.
d. Menyediakan obat-obatan sesuai dengan ketentuan peralatan yang
berlaku.
2. Bidan yang menjalankan prakytek harus mencantumkan izin praktek
bidannya atau foto copy prakteknya diruang praktek, atau tempat yang
mudah dilihat.
3. Bidan dalam prakteknya memperkerjakan tenaga bidan yang lain, yang
memiliki SIPB untuk membantu tugas pelayanannya
4. Bidan yang menjalankan praktek harus harus mempunyai peralatan
minimal sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan peralatan harus tersedia
ditempat prakteknya.
5. Peralatan yang wajib dimilki dalam menjalankan praktek bidan sesuai
dengan jenis pelayanan yang diberikan .
6. Dalam menjalankan tugas bidan harus serta mempertahankan dan
meningkatkan keterampilan profesinya antara lain dengan :

a.

Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan atau saling tukar

informasi dengan sesama bidan .


b. Mengikuti kegiatan-kegiatan akademis dan pelatihan sesuai dengan
bidang tugasnya, baik yang diselenggarakan pemerintah maupun oleh
c.

organisasi profesi.
Memelihara dan merawat peralatan yang digunakan untuk praktek
agar tetap siap dan berfungsi dengan baik.

Selain itu juga harus memenuhi persyaratan bangunan yang meliputi :


1. Papan nama
a. Untuk membedakan setiap identitas maka setiap bentuk pelayan medik
dasar swasta harus mempunyai nama tertentu, yang dapat diambil dari
nama yang berjasa dibidang kesehatan, atau yang telah meninggal atau
nama lain yang sesuai dengan fungsinya.
b. Ukuran papan nama seluas 1 x 1,5 meter.
c. Tulisan blok warna hitam, dan dasarnya warna putih.
d. Pemasangan papan nama pada tempat yang mudah dan jelas mudah
terbaca oleh masyarakat .
2. Tata ruang
a. Setiap ruang priksa minimal memiliki diameter 2 x 3 meter.
b. Setiap bangunan pelayanan minimal mempunyai ruang priksa, ruang
adsministrasi/kegiatan lain sesuai kebutuhan, ruang tunggu, dan kamar
mandi/WC masing-masing 1 buah.
c. Semua ruangan mempunyai ventilasi dan penerangan/pencahayaan.
3. Lokasi
a. Mempunyai lokasi tersendiri yang telah disetujui oleh pemerintah
daerah setempat (tata kota), tidak berbaur dengan kegiatan umum
lainnya seperti pusat perbelanjaan, tempat hiburan dan sejenisnya.
b. Tidak dekat dengan lokasi bentuk pelayanan sejenisnya dan juga agar
sesuai fungsi sosialnya yang salah satu fungsinya adalah mendekatkan
pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
4. Hak dan guna pakai.
a. Mempunyai surat kepemilikan (surat hak milik/surat hak guna pakai)
b. Mempunyai surat hak guna (surat kontrak bangunan) minimal 2 tahun.
Pelayanan yang Diberikan Bidan Praktek Mandiri
Dalam bidan praktek mandiri memberikan pelayanan yang meliputi :

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Penyuluhan Kesehatan
Konseling KB
Antenatal Care (senam hamil, perawatan payudara)
Asuhan Persalinan
Perawatan Nifas (senam nifas)
Perawatan Bayi
Pelayanan KB ( IUD, AKBK, Suntik, Pil )
Imunisasi ( Ibu dan Bayi )
Kesehatan Reproduksi Remaja
Perawatan Pasca Keguguran.

Biaya Pelayanan di Bidan Praktek Mandiri


Ikatan Bidan Indonesia ( IBI ) tahun 2012 dan Dinas Kesehatan
wilayah Jawa Timur telah menetapkan biaya pelayanan yang di berikan bidan
praktek mandiri untuk pelayanan persalinan saja belum termasuk biaya
perawataan bayi sebesar Rp 350.000 - 400.000. tetapi pada kenyataannya
biaya tersebut tidak sesuai dengan patokan yang telah di tetapkan, karena
banyak faktor yang mempengaruhinya. Untuk biaya perawatan bayi di bidan
praktek mandiri sebesar Rp 150.000, biaya untuk kontrasepsi IUD sebesar Rp
650.000, AKBK sebesar Rp 250.00, KB suntik sebesar Rp 15.000 20.000,
dan KB pil sebesar Rp 5.000 10.000.
2. Layanan Kebidanan Kolaborasi
Layanan Kolaborasi adalah layanan yang dilakukan oleh Bidan sebagai
anggota timyang kegiatannya dilakukan secara bersamaan atau sebagai salah
satu dari sebuah proses kegiatan pelayanan kesehatan.
Tugas kolaborasi/kerjasama
a. Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai
fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga
1) Mengkaji masalah yang berkaitan dengan komplikasi dan keadaan
kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi
2) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas kegawatdaruratan yang
memerlukan tindakan kolaborasi
3) Merencanakan tindakan sesuai dengan prioritas kegawatdaruratan dan
hasil kolaborasi serta kerjasama dengan klien

4) Melaksanakan tindakan sesuai dengan rencana dan dengan melibatkan


klien
5) Mengevaluasi hasil tindakan yang telah diberikan
6) Membuat rencana tindak lanjut bersama klien
7) Membuat pencatatan dan pelaporan
b. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan risiko tinggi dan
pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan
kolaborasi
1) Mengkaji masalah yang berkaitan dengan komplikasi dan keadaan
kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi
2) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor
risiko dan kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan pertama
dan tindakan kolaborasi
3) Menyususn rencana asuhan dan tindakan pertolongan pertama sesuai
dengan prioritas
4) Melaksanakan asuhan kebidanan pada kasus ibu hamil risiko tinggi
dan memberikan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas
5) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama
6) Membuat rencana tindak lanjut bersama klien
7) Membuat pencatatan dan pelaporan
c. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan
risiko tinggi dan keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan pertolongan
pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga
1) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa
persalinan denan risiko tinggi dan keadaan kegawatdaruratan yang
memerlukan pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi
2) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor
risiko dan keadaan kegawatdaruratan
3) Menyususn rencana asuhan dan tindakan pertolongan pertama sesuai
dengan prioritas

4) Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan


dengan risiko tinggi dan memberikan pertolongan pertama sesuai
prioritas
5) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama pada
ibu dalam masa persalinan dengan risiko tinggi
6) Membuat rencana tindak lanjut bersama klien dan keluarga
7) Membuat pencatatan dan pelaporan
d. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan risiko
tinggi dan pertolongan pertama pada kegawatdaruratan yang memerlukan
tindakan kolaborasi dengan klien dan keluarga
1) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas
dengan risiko tinggi dan keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan
pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi
2) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor
risiko dan keadaan kegawatdaruratan
3) Menyususn rencana asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas
dengan risiko tinggi dan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas
4) Melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas dengan
risiko tinggi dan memberikan pertolongan pertama sesuai prioritas
5) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama
6) Membuat rencana tindak lanjut bersama klien dan keluarga
7) Membuat pencatatan dan pelaporan
e. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan risiko tinggi
dan yang mengalami komplikasi serta kegawatdaruratan yang memerlukan
pertolongan pertama dengan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien
dan keluarga
1) Mengkaji kebutuhan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan
risiko tinggi dan keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan
tindakan kolaborasi
2) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor
risiko dan keadaan kegawatdaruratan

3) Menyususn rencana asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan


risiko tinggi dan memerlukan pertolongan pertama sesuai dengan
prioritas
4) Melaksanakan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan risiko
tinggi dan memberikan pertolongan pertama sesuai prioritas
5) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama
6) Membuat rencana tindak lanjut bersama klien dan keluarga
7) Membuat pencatatan dan pelaporan
f. Memberikan asuhan kebidanan pada balita dengan risiko tinggi dan yang
mengalami komplikasi serta kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan
kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga
1) Mengkaji kebutuhan asuhan pada balita dengan risiko tinggi dan
keadaan kegawatdaruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi
2) Menentukan diagnosa, prognosa dan prioritas sesuai dengan faktor
risiko dan keadaan kegawatdaruratan
3) Menyusun rencana asuhan kebidanan pada balita dengan risiko tinggi
dan memerlukan pertolongan pertama sesuai dengan prioritas
4) Melaksanakan asuhan kebidanan pada balita dengan risiko tinggi dan
memberikan pertolongan pertama sesuai prioritas
5) Mengevaluasi hasil asuhan kebidanan dan pertolongan pertama
6) Membuat rencana tindak lanjut bersama klien dan keluarga
7) Membuat pencatatan dan pelaporan