Anda di halaman 1dari 30

USAHATANI PERKOTAAN KREATIF

KOMODITAS KAILAN

Disusun Oleh Kelompok 1:


1.
2.
3.
4.
5.

Rifky Aulia Fuady


Pika Shabirah
Olivia Windy M.H
Siti Fildzah
Achmad Ibrahim T

135040100111004
135040100111008
135040100111025
135040100111042
135040100111029

6. Irfan Fahrizza
7. Dinna Fitri N.J
8. Cindy Pasaribu
9. Julius Parahsian

Kelas F
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB 1

135040100111082
135040100111060
135040100111054
135040100111121

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Usahatani merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seorang petani
mengalokasikan sumber daya yang terbtas secara efektif dan efisien untuk
memperoleh keuntungan. Usahatani dilakukan oleh petani tinggi pada waktu
tertentu untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya seperti memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Dalam usahatani, terdapat beberapa perhitungan untuk memperoleh
keuntungan yang akan diterima. Perhitungan tersebut meliputi analisis biaya,
analisis pendapatan, analisis BEP (Break Event Point), dan R/C ratio. Dimana
perhitungan-perhitungan itu digunakan agar orang yang melakukan usahatani
mengetahui biaya-biaya apa saja yang dikeluarkan untuk usahatani, apakah
biaya-biaya tersebut melebihi atau memenuhi target keuntungan yang
diinginkan.
Pertanian perkotaan ini dilakukan agar mahasiswa dapat memahami dan
mengaplikasikan usahatani perkotaan. Komoditas yang kami tanam adalah
kailan. Dengan diadakannnya praktikum pertanian perkotaan atau disebut juga
agropolitan, maka akan mengatasi masalah lahan sempit/konversi lahan yang ada
di perkotaan. Selain itu juga dapat membantu memberikan kapasitas tambahan
pangan bagi warga perkotaan.

1.2

Tujuan
1. Untuk mengetahui tentang Usaha Tani Perkotaan Kreatif
2. Untuk memahami cara menghitung biaya dan analisis data sesuai dengan
kegiatan usaha tani yang telah dilakukan
3. Untuk lebih memahami tentang komoditas kailan yang telah dikembangkan.
4. Untuk

menentukan

dikembangkan

berusahatani

kalian

layak

atau

tidak

untuk

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Usahatani Perkotaan Kreatif
Pertanian Kota (Urban Agriculture/Urban Farming) memiliki berbagai
macam pengertian, di antaranya adalah praktek pertanian (meliputi kegiatan
Tanaman Pangan, Peternakan, Perikanan, Kehutanan) di dalam atau di pinggiran
kota. Lahan yang digunakan bisa tanah tempat tinggal (pekarangan, balkon, atau
atap-atap bangunan), pinggiran jalan umum, atau tepi sungai. Oleh sebab itu
masih banyak pengertian usahatani perkotaan kreatif, antara lain:
Pertanian kota dilakukan untuk menambah pendapatan atau menghasilkan
bahan pangan. Peran Pertanian Kota untuk keamanan dan keselamatan pangan
dalam dua jalan: Pertama, meningkatkan jumlah makanan yang tersedia bagi
orang yang tinggal di kota. Kedua, tersedianya buah-buahan dan sayur-mayur
segar untuk konsumen-konsumen kota. Karena itu Pertanian Kota sebagai
promosi penghematan energi produksi makanan lokal, Pertanian Kota dan
pinggiran kota adalah praktek-praktek ketahanan Pangan. (Luc Mougeot, 1999).
Karakteristik dari pertanian kota diantaranya adalah kedekatannya dengan
pasar, kompetisi tinggi untuk lahan, lahan yang sangat terbatas, menggunakan
sumber daya kota seperti sampah organik dan air buangan, rendahnya tingkat
organisasi petani, mengandalkan produk yang dapat terurai dan memiliki tingkat
spesialisasi yang tinggi.
Berdasarkan UNDP (1996), pertanian kota memiliki pengertian, yaitu satu
aktivitas produksi, proses, dan pemasaran makanan dan produk lain, di air dan di
daratan di dalam kota dan di pinggiran kota, menerapkan metode-metode
produksi yang intensif, dan daur ulang (reused) sumber alam dan sisa sampah
kota, untuk menghasilkan keanekaragaman peternakan dan tanaman pangan.

Menurut Baumgartner dan Belevi (2007), Urban Agriculture memiliki


pengertian sebagai suatu industri yang terletak di dalam kota (intra-urban) atau
di pinggiran kota (peri-urban) dari suatu kota kecil atau kota besar, yang tumbuh
dan berkembang, distribusi dan proses keanekaragaman makanan dan produk
bukan makanan (non food produk), sebagian besar menggunakan sumber daya
alam dan manusia (lahan, air, genetika, energi matahari dan udara), jasa dan
produk-produk yang tersedia di dalam dan di sekitar wilayah kota, dan pada
gilirannya sebagai penyedia sumber daya material dan manusia, sebagian jasa
dan produk untuk wilayah perkotaan itu.
Pertanian Kota (Urban Agriculture/Urban Farming), tidak memerlukan
lahan yang luas. Banyak sekali buku atau panduan di internet tentang bercocok
tanam. Apabila kami menyukai berkebun, bertaman, atau memanfaatkan lahan di
rumah dengan tanaman sayur, buah dan tanaman hias. Maka aktivitas yang
bersifat rekreasi ini dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat. Komunitas ini akan
makin banyak dan saling berbagi.
Sehingga, di masa mendatang urban farming akan menjadi model rekreasi,
ekonomi dan kewirausahaan, penelitian, kesehatan dan kesejahteraan serta
pemulihan dan perbaikan lingkungan hidup. Urban farming juga akan
menciptakan keindahan dan suasana asrinya desa dalam lingkungan kota yang
modern.
2.2 Tinjauan Desain Usahatani Perkotaan Kreatif
Vertikultur diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara vertikal
sehigga penanamannya dilakukan dengan menggunakan sistem bertingkat.
Teknik vertikal berawal dari ide vertical garden yang dilakukan oleh sebuah
perusahaan di Swiss pada tahun 1944. Definisi sistem vertikultur masih banyak
lagi, diantaranya:
Vertikultur berasal dari bahasa Inggris yaitu vertical dan culture. Secara
lengkap di bidang budidaya tanaman arti vertikultur adalah salah satu teknik
bercocok tanam di ruang sempit dengan memanfaatkan bidang vertikal sebagai

tempat bercocok tanam yang dilakukan secara bertingkat popularitas bertanam


bertingkat berkembang pesat di Negara Eropa (Noverita Sv, 2005).
Vertikultur adalah sistem tanam di dalam pot yang disusun/dirakit
horizontal dan vertikal atas bertingakat. Cara tanam ini sesuai diusahakan
pada lahan terbatas atau halaman rumah. Jenis tanaman adalah tanaman hias
atau sayuran (Lakamin, 1995).
Vertikultur dapat diartikan sebagai teknik budidaya tanaman secara
vertikal sehingga penanaman dilakukan secara bertingkat. Teknik budidaya
ini tidak memerlukan lahan yang luas, bahkan dapat dilakuakan pada
rumah yang tidak memiliki halaman sekalipun (Dedi Sugandi, 2012).
Pemanfaatan teknik vertikultur ini memungkinkan untuk berkebun dengan
memanfaatkan tempat secara efisien. Secara estetika, tanaman vertikultur
berguna sebagai penutup pemandangan yang tidak menyenangkan atau sebagai
latar belakang yang menyuguhkan pemandangan yang indah dengan berbagai
warna. Dalam perkembangan selanjutnya, teknik vertikultur juga dimanfaatkan
untuk bercocok tanam di pekarangan yang sempit bahkan tidak memiliki
pekarangan sedikitpun (Anya P Damastuti, 1996).
Menurut Andoko (2004) ada beberapa kelebihan dari teknik budidaya
secara vertikultur, di antaranya sebagai berikut:
a) Populasi tanaman per satuan luas lebih banyak karena tanaman disusun ke
atas dengan tingkat kerapatan yang dapat diatur sesuai keperluan.
b) Media tanam yang disterilisasi meminimalkan risiko serangan hama dan
penyakit sehingga mengurangi biaya untuk pengendalian hama dan
penyakit.
c) Kehilangan pupuk oleh guyuran air hujan dapat dikurangi karena jumlah
media tanam yang sudah ditentukan hanya berada di sekitar perakaran
tanaman di dalam wadah terbatas.
d) Perlakuan penyiangan gulma sangat berkurang atau bahkan tidak ada sama
sekali karena sedikit media tanam terbuka yang memungkinkan media
tanam tersebut ditumbuhi gulma.

e) Berbagai bahan di sekitar rumah seperti karung bekas, batang bambu, pipa
paralon, dan bekas gelas air mineral dapat dimanfaatkan sebagai wadah
budidaya vertikultur.
f) Tempat dibangunnya bangunan vertikultur menampilkan nilai estetika, atau
dapat dikatakan sebagai tanaman hias.
g) Bangunan vertikultur dapat dipindah-tempatkan ke tempat yang diinginkan,
terutama untuk vertikultur dengan konstruksi yang dapat dipindahpindahkan.
Pada kelompok kalian memakai sistem vertikultur yang bertingkat keatas,
karena dari segi lahan yang dipakai lebih efisien, dan dengan sistem vertikultur
bertingkat kami bisa menanam kalian lebih banyak, dan dapat menghasilkan
hasil yang banyak pada saat panen, dan dari segi desain lebih mudah dan praktis,
untuk segi pengairan kami bisa tidak menyiram dari tingkatan atas, sehingga air
mengalir turun kebawah dan mengenai tanaman yang dibawah, sehingga air pun
bisa dimanfaatkan semua, dan tidak ada yang terbuang.
2.3 Tinjauan Komoditas Kailan
Tanaman kailan (Brassica oleraceae) merupakan salah satu jenis sayuran
famili kubis-kubisan (Brassicaceae) yang diduga berasal dari negeri China.
Kailan masuk ke Indonesia sekitar abad ke-17, namun sayuran ini sudah cukup
populer dan diminati di kalangan masyarakat. Oleh sebab itu, beberapa ahli
memberikan berbagai definisinya mengenai tanaman kalian, antara lain:
Tanaman kailan adalah salah satu jenis sayuran yang termasuk dalam kelas
dicotyledoneae. Sistem perakaran kailan adalah jenis akar tunggang dengan
cabang-cabang akar yang kokoh. Cabang akar (akar sekunder) tumbuh dan
menghasilkan akar tertier yang akan berfungsi menyerap unsur hara dari dalam
tanah (Darmawan, 2009).
Tanaman kailan mempunyai batang berwarna hijau kebiruan, bersifat
tunggal dan bercabang pada bagian atas. Warna batangnya mirip dengan
kembang kol. Batang kailan dilapisi oleh zat lilin, sehingga tampak mengkilap,

pada batang tersebut akan muncul daun yang letaknya berselang seling
(Sunarjono, 2004).
Tanaman kailan adalah salah satu jenis sayuran daun, dimana rasanya enak
serta mempunyai kandungan gizi yang dibutuhkan tubuh manusia, seperti
protein, mineral dan vitamin. Kandungan gizi serta rasanya yang enak, membuat
kailan menjadi salah satu produk pertanian yang diminati masyarakat, sehingga
mempunyai potensi serta nilai komersial tinggi.
Menurut Rukmana (1995), klasifikasi tanaman kailan adalah sebagai
berikut:
Kingdo

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Subdivisio

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Papavorales

Famili

: Cruciferae (Brassicaceae)

Genus

: Brassica

Spesies

: Brassica oleraceae Var. acephala

Syarat Tumbuh Iklim Tanaman Kailan


Tanaman kailan sesuai ditanam di kawasan yang mempunyai suhu antara
23 35 C. Kelembapan udara yang sesuai bagi pertumbuhan kailan berkisar
antara 80 90 % (Sunarjono, 2004). Pada umumnya tanaman kailan baik
ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian antara 1.000 - 3.000 meter di atas
permukaan laut, seperti halnya kubis tunas yang hanya baik ditanam pada
ketinggian lebih dari 800 m di atas permukaan laut. Beberapa varietas kubiskubisan (Brassicaceae) ada yang dapat ditanam di dataran rendah, seperti kailan
mampu beradaptasi dengan baik pada dataran rendah (Sunarjono, 2004).
Tanaman kailan memerlukan curah hujan yang berkisar antara 1000 - 1500
mm/tahun, keadaan curah hujan ini berhubungan erat dengan ketersediaan air
bagi tanaman. Kailan termasuk jenis sayuran yang toleran terhadap kekeringan

atau ketersediaan air yang terbatas. Curah hujan terlalu banyak dapat
menurunkan kualitas sayur, karena kerusakan daun yang diakibatkan oleh hujan
deras (Cahyono, 2001).
2.4 Tinjauan Biaya Usahatani
Dalam berbudidaya, analisis usaha tani sangat diperlukan untuk
mengetahui biaya-biaya yang digunakan, adapun beberapa hal yang dibahas
dalam analisis antara lain:
a. Biaya Tetap (FC)
Yaitu seluruh biaya yang tidak langsung berkaitan dengan jumlah
tanaman yang dihasilkan diatas lahan (biaya ini harus dibayar apakah
menghasilkan sesuatu atau tidak, termasuk didalamnya sewa lahan, pajak
lahan, pembayaran kembali pinjaman, biaya hidup).
Biaya tetap atau bisa disebut overhead adalah biaya-biaya yang dalam
batas tertentu tidak berubah ketika tingkat kegiatan berubah. Jadi, kenaikan
penggunaan lahan sebanyak 20% untuk suatu jenis tanaman, atau jumlah
ternak, tidak meningkatkan biaya tetap. Apabila kenaikan sebesar 100%
sekalipun, akan meningkatkan biaya tetap. Pada kebanyakan usahatani,
biaya-biaya tetap tidak terlalu banyak berubah mengikuti tingkat atau
campuran perubahan kegiatan, kecuali kenaikan karena pertambahan biaya.
Biaya tetap total (TFC) dilukiskan sebagai garis lurus (horizontal)
sejajar dengan sumbu kuantitas. Hal ini menunjukkan bahwa berapapun
jumlah output yang dihasilkan, besarnya biaya tetap total (TFC) tidak
berubah, yaitu sebesar n.
Biaya tetap memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Biaya yang jumlah totalnya tetap konstan tidak dipengaruhi oleh
perubahan volume kegiatan atau aktivitas sampai dengan tingkatan
tertentu.
2) Pada biaya tetap, biaya satuan (unit cost) akan berubah berbanding
terbalik dengan perubahan volume penjualan, semakin tinggi volume

kegiatan semakin rendah biaya satuan, semakin rendah volume kegiatan


semakin tinggi biaya satuan.
b. Biaya Variabel (VC)
Yaitu seluruh biaya yang secara langsung berkaitan dengan jumlah
tanaman yang diusahakan dan dengan input variabel yang dipakai (misalnya
penyiangan, tenaga kerja, pupuk, bibit).
Biaya variabel juga dikenal sebagai biaya-biaya langsung. Biaya-biaya
ini berubah-ubah mengikuti ukuran dan/atau tingkat output suatu kegiatan.
Misalnya, jika lahan yang ditanami suatu komoditas diperluas 50%, maka
bibit, pupuk dan tenaga kerja juga akan bertambah (walaupun tidak harus
50%).
Upaya untuk mengidentifikasi biaya-biaya variabel suatu kegiatan
dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada petani mengenai
besarnya perubahan biaya jika memperluas atau mengontrak kegiatan
apapun. Biaya variabel memiliki karakteristik sebagai berikut :
1)

Biaya yang jumlah totalnya akan berubah sebanding (proporsional)


dengan perubahan volume kegiatan, semakin besar volume kegiatan
semakin tinggi jumlah total biaya variabel, semakin rendah volume
kegiatan semakin rendah jumlah biaya variabel.

2)

Pada biaya variabel, biaya satuan tidak dipengaruhi oleh volume


kegiatan, jadi biaya semakin konstan.

c. Biaya Total (TC)


Biaya total adalah seluruh biaya yang dikorbankan yang merupakan
total biaya tetap ditambah biaya variabel. Besarnya biaya total dapat
dihitung dengan rumus sebagai berikut :
TC= VC + FC
Dimana VC adalah Variable Cost dan FC adalah Fixed Cost.

d. Penerimaan
Penerimaan adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan
harga jual dan biasanya produksi berhubungan dengan negatif dengan harga,
artinya harga akan turun ketika produksi berlebihan. (Soekartawi, 1995)
TR = P . Q
Dimana P adalah harga (price) sedangkan Q adalah quantity yang
dihasilkan.
e. Keuntungan
Keuntungan adalah selisih lebih pendapatan atas beban sehubungan
dengan kegiatan usaha. Apabila beban lebih besar dari pendapatan,
selisihnya disebut rugi. Keuntungan atau kerugian merupakan hasil dari
perhitungan berkala. Hal itu diketahui secara pasti saat perusahaan
menghentikan kegiatannya dan dilakukan likuidasi. (Soemarso, 2005).
Rumus untuk mencari keuntungan adalah:
= TR TC
f. Break Event Point
Menurut Riyanto (1995) analisis break event adalah suatu teknik
analisis untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap, biaya variabel,
keuntungan dan volume kegiatan. Oleh karena itu analisis tersebut
mempelajari hubungan antar biaya, keuntungan dan volume kegiatan.
Dalam perencanaan keuntungan, analisis break event merupakan
profit planning approach yang mendasarkan pada hubungan antar biaya
(cost) dan penghasilan penjualan (revenue). Untuk menghitung BEP bisa
dihitung dalam bentuk unit atau price tergantung untuk kebutuhan.
g. R/C Ratio
Analisis return cost (R/C) rasio merupaan perbandingan (rasio / nisbah)
antara penerimaan (revenue) dan biaya (cost). Penyataan tersebut dapat
dinyatakan dalam rumus sbb:

a = R/C
R = Py x Y
C = FC + VC
a = Py x Y(FC+VC)
Dimana:
a = R/C ratio

Py = Harga output

R = Penerimaan (Revenue) Y = output


C = biaya (cost)

FC = biaya tetap (fixed cost)

Kriteria keputusan;
R/C > 1, usahatani untung
R/C<1, usahatani rugi
R/C=1, usahatani impas (tidak untung dan tidak rugi)
h. B/C Ratio
Analisis benefit cost (B/C) ratio merupakan perbandingan (rasio atau
nisbah) antara manfaat (benefit) dan biaya (cost).
R/C ratio = Penerimaan Biaya
Kriteria keputusan :

B/C>1, Usahatani menguntungkan (tambahan manfaat/penerimaan


lebih besar dari tambahan biaya)

B/C<1, Usahatani rugi (tambahan biaya lebih besar dari tambahan


penerimaan)

B/C=1, Usahatani impas (tambahan penerimaan sama dengan tambahan


biaya)
(Susanto, 2006)

2.5 Tinjauan Pemasaran


Pemasaran merupakan kunci keberhasilan suatu bisnis, terutama di era
persaingan bisnis yang begitu canggih. Pemahaman pemasaran bagi pihak
pemasaran sangat penting dalam rangka pengenalan kebutuhan dan keinginan
pelanggan, penentuan pasar sasaran mana yang dapat dilayani dengan sebaikbaiknya oleh perusahaan, serta merancang produk, jasa dan program yang tepat
untuk melayani pasar tersebut.
Kotler dan Amstrong (2001) mendefinisikan pemasaran sebagai berikut:
Marketing is a social and managerial process by which individuals and groups
obtain what need went trough creating, offering and exchanging product of
value with others. Pemasaran adalah suatu proses sosial dan managerial yang
membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan
inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan
orang lain.
Boyd (2000) mengemukakan pemasaran adalah adalah suatu proses sosial
yang melibatkan kegiatan-kegiatan penting yang memungkinkan individu dan
perusahaan mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui
pertukaran dengan pihak lain dan untuk mengembangkan hubungan pertukaran.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa pemasaran merupakan usaha
dalam memenuhi kebutuhan manusia. Melalu proses pendistribusian barang dan
jasa dari produsen ke konsumen. Selain itu, pemasaran akan berhasil jika
pemasaran itu mengarah ke pemuasan kebutuhan dan keinginan pembeli.
Pembeli akan membalas jasa berupa loyalitas bagi penjual apabila salah satu
keinginanya suadah terpenuhi dengan baik.

BAB III
METODOLOGI
3.1 Teknik Pembuatan Desain Usahatani Perkotaan Kreatif
Potong bambu dengan ukuran panjang 2,5 m. Pilih 4 bambu
dengan ukuran diameter yang sama
Haluskan kulit bambu supaya tidak melukai tangan

Buat 4 lubang dengan masing-masing jarak antara lubang 3 meter


untuk tempat penancapan bambu

Cari bambu lagi untuk membuat gantungan untuk tanamannya.

Belah bambu menjadi separuh bagian, gantungkan botol air mineral


yang sudah di desain sedemikian rupa dengan alat bantu gantung
kawat.
Pindahkan tanaman kedalam botol air mineral yang sudah
digantungkan

3.2 Teknik Budidaya


1. Alat dan bahan
a. Alat

Mika plastik

Sprayer

Gergaji

Palu

Tali ijuk

Kawat

Botol air mineral kosong 1,5 L

Linggis

Cutter

b. Bahan

Bibit kailan

Tanah

Pupuk

Air

Agen hayati

2. Pembenihan
Menyiapkan alat dan bahan (mika plastik, sprayer, bibit
kailan, tanah dan air)
Masukan tanah ke dalam mika plastik
Masukan benih kailan ke dalam tanah
Tutup tipis permukaan tanah yang terdapat benih kailan
dengan sedikit tanah

Siram tanah dengan sprayer

Letakan pada tempat yang teduh

Siram setiap hari

3. Persiapan lahan
Menyiapkan alat dan bahan (bambu, kawat, tali ijuk, linggis,
gergaji, dan palu)

Merakit bambu menjadi bersusun 4 sebanyak 2 rakamin


Menancapkan rangkaian bambu ke dalam tanah
Menyiapkan botol air mineral berukuran 1,5 L lalu potong
menjadi 2 bagian
Pasangkan kawat pada samping botol untuk tempat
bergantunngnya botol pada bambu

Beri lubang pada bagian dasar botol untuk memudahkan air


turun kebawah
Masukan tanah yang telah dicampur kompos ke dalam botol

Gantungkan botol pada bambu

4. Transplanting
Menyiapakan bibit yang telah tumbuh minimal sudah
tumbuh 3 helai daun

Memindahkan dari mika plastik ke dalam media tanam yaitu


ke botol air mineral yang telah terisi tanah
Menyiram tanaman dengan sprayer

5. Perawatan
Menyiram tanaman setiap hari dengan air

Lakukan pembersihan pada media tanam dengan menyabut


gulma yang tumbuh
Memberikan agen hayati B.bassiana, A. niger dan
Trichoderma pada tanaman sebanyak 3x selama pertumbuhan

6. Panen
Lakukan panen pada 70 atau 75 hari setelah tanam

Pilih tanaman yang telah siap panen dengan melihat fisiologi


tanaman yaitu jika sudah berdaun lebar dan daunnya banyak

Cabut secara perlahan sampai perakaran dari media tanam


Potong bagian perakaran dengan cutter untuk mempermudah
pemasaran

3.3 Teknik Pemasaran


Produk

Penawaran produk ke berbagai konsumen

Proses negosiasi dan penentuan harga

Pembelian produk

3.4 Teknik Perhitungan Biaya


Jumlahkan semua sub biaya variabel sehingga diketahui Total
Biaya Variabel (TVC)

Menghitung Biaya tetap diantaranya sewa lahan, pajak, dan


peralatan.

Jumlahkan semua sub biaya tetap sehingga diketahui Total Biaya


Tetap (TFC)

Jumlahkan kedua biaya yaitu TVC dan TFC sehingga diketahui


Biaya Total (TC) dari suatu usaha tani tersebut.

3.5 Teknik Perhitungan Penerimaan


Menentukan harga untuk 1 produk ( P )

Mentukaan jumlah produk yang akan dijual ( Q )

Mengkalikan antara ( P ) X (Q) atau TR = P x Q

Maka akan didapatkan penerimaan yang dapat diperoleh

3.6 Teknik Perhitungan Pendapatan


Hitung berapa jumlah Total penerimaan (TR) dari usaha
tani

Hitung berapa jumlah Total biaya (TC) dari usaha tani

Kurangkan jumlah Total Penerimaan (TR) dengan Total


Biaya (TC)

Dari proses tersebut akan diketahui berapa jumlah


Pendapatan bersih yang diterima dari usaha tani tersebut.

3.7 Teknik Perhitungan Kelayakan Usaha (BEP dan R/C Ratio)


a. R/C Ratio
Hitung total jumlah penerimaan (TR) yang di dapat dari
usaha tani.

Hitung total biaya (TC) yang di dapat dari usaha tani.

Bagi total jumlah penerimaan (TR) dengan total biaya


(TC) usaha tani . (TR/TC)

Maka akan diketahui berapa R/C Ratio, sehingga


diketahui usaha tani tersebut layak atau tidak. Apabila
R/C ratio > 1 maka usaha tani tersebut dapat dikatakan
layak, apabila <1 maka usaha tani tersebut tidak layak.

b. BEP Unit
Harus diketahui berapa jumlah total biaya tetap (TFC),
harga produk (P), kuantitas produk (Q), dan total biaya
variabel (TVC).

Hitung BEP Unit dengan rumus

TFC
TVC
P(
)
Q

c. BEP Rupiah
Harus diketahui berapa jumlah total biaya tetap (TFC),
harga produk (P), kuantitas produk (Q), dan total biaya
variabel (TVC).

Hitung BEP rupiah dengan menggunakan rumus


TFC
TVC
1(
/Q)
P

sehingga akan diketahui berapa BEP

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Kegiatan Budidaya
Kegiatan budidaya kailan dilakukan dengan menyemaikan benih terlebih
dahulu. Penyemaian benih dilakukan di tray atau tempat penyemaian benih.
Sebelum disemaikan, benih direndam selama sekitar 12 jam agar benih
mengembang dan kulit benih mengelupas sehingga waktu disemaikan cepat
tumbuh. Setelah selesai direndam selama 12 jam benih di semaikan kedalam
tray atau tempat persemaian benih. Setiap lubang tray diisi terlebih dahulu
dengan menggunakan media tanam berupa tanah yang telah dicampurkan
kompos dan menyiram media tersebut.
Benih dimasukkan kedalam media tanam tersebut, tidak terlalu dalam,
kemudian ditutup kembali menggunakan media tetapi tidak terlalu tebal.
Menunggu sekitar 2 minggu untuk benih dapat tumbuh menjadi bibit. Setelah
benih sudah menjadi bibit atau sudah muncul 4 daun, bibit tersebut di pindah
kan atau ditanam kedalam botol air mineral yang telah dibuat. Botol air mineral
dipotong bagi 2 bagian dan digunakan sebagai tempat penanaman, dan pinggiran
botol air mineral dipasang kawat agar bisa digantungkan di bambu yang telah
dibuat.
Setelah penanam selesai, melakukan penyiraman agar tanaman dapat
tumbuh

dengan

baik.

Begitu

pula

pemeliharaan

setelah

penanaman,

pemeliharaan sangat perlu dilakukan agar tanaman kalian tetap tumbuh dengan
baik, tidak mati dan tidak terserang hama dan penyakit. Pemeliharaan dilakukan
antara lain penyiraman rutin, pemberian agen hayati, menghilangkan daun yang
rusak.

4.2 Gambaran Umum Kegiatan Pemasaran


Dikarenakan tanaman kailan hasil budidaya kelompok 1 masih belum siap
dipanen dalam bentuk tanaman siap olah, hasil panen tanaman kailan kelompok
1 dijual dalam bentuk bibit sebanyak 56 buah. Tiap bibit kami jual dengan harga
Rp 5.000,00. Bibit ini kami jual ke warga sekitar rumah kost tiap anggota
kelompok kami dengan berkeliling. Sebagian besar bibit yang kami jual
diborong oleh seorang pengusaha sayuran di sebuah kompleks perumahan di
Lowokwaru. Sisanya dibeli oleh warga sekitar. Sebagian besar pembeli bibit
kami adalah ibu rumah tangga.
4.3 Hasil Perhitungan Pendapatan
a.

Biaya Variabel
Komponen

Media Pembenihan
Benih
a) Kailan
Agen Hayati
a) B.bassiana
b) A. niger dan
Trichoderma
Pupuk Organik
Jumlah
b.

Jumlah
Unit

Satuan

Biaya
Satuan
(Rp)

Total
Biaya
(Rp)
140.000
40.000

Total
Biaya per
Kelas
(Rp)
10.000
2.857

Total Biaya
per
kelompok
(Rp)
3.333
2.857

2
4

Sak
Pak

5.000
20.000

0.03
0.06

Liter
Liter

50.000
50.000

21.000
42.000

1.500
3.000

500
1.000

150

Kg

450

945.000
30.190

67.500

22.500

Tenaga Kerja

Tenaga Kerja Laki-Laki


Pembuatan Vertikultur
Penanaman
Pemupukan
Penyiraman
Pemberian Pestisida
Panen
Tenaga Kerja Perempuan

Jumlah
Orang
3
2
3
4
2
4

Jumlah
Hari
2
1
1
60
8
1

Jumlah
Jam/Hari
2
1
1
1
1
1

HOK

Upah/HOK
-

Penanaman
Pemupukan
Penyiraman
Pemberian Pestisida
Panen

2
5
5
2
5

1
1
60
8
1

1
1
1
1
1

Keterangan: Standar kerja per hari adalah pukul14.00-16.00 (2 jam)


c.

Penerimaan
Keterangan
Kailan

d.

Jumlah Unit
56

Satuan
Tanaman

Total Penerimaan
56 x 5.000 = 208.000

e.

Perhitungan

Laki-Laki
HOK Pembuatan Vertikultur : 3 x 2 x 2 / 2
:6
HOK Penanaman

:2x1x1/2
:1

HOK Pemupukan

:3x1x1/2
: 1.5

HOK Penyiraman

: 4 x 60 x 1 / 2
: 120

HOK Pemberian Pestisida

:2x8x1/2
:8

HOK Panen

:4x1x1/2
:1

Perempuan
HOK Penanaman

:2x1x1/2

Harga per Satuan


5.000

:1
HOK Pemupukan

:5x1x1/2
: 2.5

HOK Penyiraman

: 5 x 60 x 1 / 2
: 150

HOK Pemberian Pestisida

:2x8x1/2
:8

HOK Panen

:5x1x1/2
: 2.5

Total HOK Laki-Laki dan Perempuan : -

Total Biaya Variabel (TVC)


TVC

= 3.333 + 2.857 + 500 + 1.000 + 22.500


= 30.190

Biaya Penyusutan
B. Penyusutan Tray

= 1 buah @ 15.000
Umur ekonomis 3 tahun
Asumsi di pasar saat 3 tahun 0
1 (15.000 0) / 3 = 5.000 / 4
= 1.250

B. Penyusutan Gembor

= 3 buah @ 45.000
Umur ekonomis 5 tahun
Asumsi di pasar saat 5 tahun 2.000
3 (45.000 - 2.000) / 5 = 25.800 / 4
= 6.450

B. Penyusutan Selang

= 1 buah @ 80.000
Umur ekonomis 10 tahun

Asumsi di pasar saat 10 tahun 0


1 (80.000 0) / 10 = 8.000 / 4 = 2.000

Total Biaya Tetap (TFC)


TFC = 1.250 + 6.450 + 2.000 + 6.000 + 5.000 + 2.000 + 10.000 +
33.000 = 65.700

Total Biaya (TC)


TC

= TFC + TVC
= 65.700 + 30.190
= 95.890

Total Penerimaan (TR)


TR

= P output x O ouput
= 5.000 x 56
= 280.000

Keuntungan (Profit)
Profit

= TR-TC
= 280.000 - 95.890
= 184.110

Biaya Tetap
Harga
Akhir
per unit
(Rp)

Tahun
Ekonomis

Total
Biaya
(Rp)

Total
Biaya per
kelas
(Rp)

Total
Biaya per
kelompok
(Rp)

Jumlah
Unit

Satuan

Harga
Awal per
unit (Rp)

Tray

Buah

15.000

15.000

1.071

357

Gembor

Buah

45.000

2.000

135.000

9.642

3.214

Selang

Buah

80.000

10

80.000

5.714

1.904

Tanah
Kawat
besar

525.000

37.500

12.500

Gulungan

6.000

6.000

Komponen

Kawat
kecil
Tempat
Pembibitan
Tali Ijuk
Shanding
Net

Gulungan

5.000

5.000

Buah

2.000

2.000

Gulungan

10.000

10.000

Meter

33.000

33.000

Jumlah

73.975

4.4 Hasil Perhitungan Kelayakan Usaha


1. Kelayakan Usaha Tani
a.

R/C Ratio

= TR/TC
= 280.000 / 95.890
= 2,920

b.

BEP ( Unit )

= TFC / P ouput (TVC / n)


= 65.700 / 5.000 - (30.190 - 47)
= -2,608

c.

BEP ( Rupiah ) = TFC / 1 (TVC / n) / P output


= 65.700 / 1 - (30.190 - 47) / 5.000
= -0,0005216

4.5 Deskripsi Permasalahan


Dalam usaha tani kelompok kami, terdapat beberapa permasalahan yakni
sebagai berikut:

Pada bagian awal yaitu pembibitan, kelompok kami mengalami kendala.


Bibit yang kami tanam tidak tumbuh, kemudian kelompok kami melakukan
penanaman bibit ulang pada hari jumat 2 minggu setelah pembibitan. Semua
bibit yang kami tanam ulang tumbuh normal, pada minggu ke 4 setelah
pembibitan ulang kami melakukan transplanting.

Selain itu, tanaman kalian yang sudah di transplanting tidak tumbuh dengan
baik, dikarenakan lahan yang kami tempati tidak terkena penyinaran
matahari yang baik.

4.6 Solusi
Solusi yang kami lakukan, pada proses penanaman bibit ulang kami
melakukan penyiraman yang intensif (pagi dan sore) setiap harinya, dan
ditempatkan dibawah sinar matahari selama 1 jam. Dan setiap anak dikelompok
kami juga membuat penanaman bibit ulang agar dibuat cadangan tanaman
kalian. Dan solusi yang kedua, karena tanaman kami yang kurang penyinaran,
kami melakukan solusi dengan memindahkan tanaman kalian ke tingkat yag
paling atas agar tanaman mendapat penyinaran yang cukup.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Terdapat beberapa teknik budidaya tanaman kalian, antara lain:
pengolahan lahan, pemupukan, pembibitan, pemeliharaan, panen, dan pasca
panen. Dengan diketahuinya BEP dan R/C Ratio dapat disimpulkan bahwa
usahatani yang kami lakukan tidak layak untuk dilakukan, karena dapat
menimbulakn

kerugian

bagi

petani

atau

orang

lain

yang

ingin

membudidayakannya apabila usaha tani kailan perkotaan tersebut dilanjutkan.


Tanaman kalian yang didapat masih belum tumbuh dengan baik, karena
kebanyakan tanaman masih belum siap panen.
5.2 Saran
Sebaiknya untuk media tanamnya dirubah agar lebih simple, karena media
tanam yang digunakan kelihatan mudah rubuh jika terkena hujan deras. Selain
itu mohon untuk tempat penanamannya dicarikan tempat yang pancaran sinar
mataharinya menyeluruh pada setiap plot.

DAFTAR PUSTAKA
Andoko, A. (2004). Budi Daya Cabai Merah Secara Vertikultur Organik. Cetakan I. 13,5. Jakarta: Penebar Swadaya.
Baumgartner, N, and H. Belevi. 2007. A Systematic Overview of Urban Agriculture in
Developing Countries AWAG Swiss Federal Institute for Environmental
Science & Technology. SANDEC Dept. of Water & Sanitation in
Developing Countries
Irawan, Rudi. 2011. Budidaya Tanaman Kailan. Sumatra Utara: Universitas Sumatera
Utara
Kustiwan, Iwan. 1996. Tesis: Permasalahan dan Kebijaksanaan Pengendalian
Konversi Lahan Pertanian di Wilayah Pantai Utara Pulau Jawa. Bandung:
Institut Teknologi Bandung. Tesis tidak diterbitkan.
Kustiawan, Iwan. 2013. Potensi Pengembangan Pertanian Perkotaan Untuk
Mewujudkan Kawasan Perkotaan Bandung yang Berkelanjutan. Volume 2,
No.

1.

(online)

http://sappk.itb.ac.id/jpwk2/wp-

content/uploads/2013/09/V2N1-Potensi-Pengembangan-Pertanian-PerkotaanUntuk-Mewujudkan-Kawasan-Perkotaan-Bandung-yang-Berkelanjutan.pdf.
Diakses pada 27 November 2014
Leitmann, Josep. 1999. Sustaining Cities: Environmental Planning and Management
in Urban Design. USA: Mc Graw Hill.
Sarosa, Wicaksono. 2002. A Framework for the Analysis of Urban Sustainability.
Jakarta: URDI.
Soekartawi. 1995. Analisis Usaha Tani. Jakarta: UI-Press.
UNDP. 1996. Urban Agriculture; Food, Jobs and Sustainable Cities. New York:
UNDP
Widarto, L. 1996. Perbanyakan Tanaman Dengan Biji, stek, Cangkok, Sambung,
Okulasi dan Kultur Jaringan. Yogyakarta: Kanisius.

LAMPIRAN