Anda di halaman 1dari 6

Laporan Praktikum Biologi

Uji Kerja Enzim Katalase

Disusun Oleh :

I.

Judul

Uji faktor yang mempengaruhi kerja enzim katalase


II.

III.

Tujuan

- Mengetahui
- Mengetahui
- Mengetahui
- Mengetahui
Dasar Teori

pengaruh
pengaruh
pengaruh
pengaruh

H2O2 terhadap kerja enzim katalase


NaOH terhadap kerja enzim katalase
HCl terhadap kerja enzim katalase
suhu tinggi dan diberi H2O2 enzim katalase

Enzim merupakan senyawa yang dibentuk secara alamiah oleh


tubuh organisme. Enzim ini memiliki peranan dalam membantu proses
penting di dalam tubuh organisme tersebut seperti metabolisme. Didalam
proses metabolisme enzim berperan sebagai zat katalis ,enzim yang
tersusun atas protein dan molekul lainnya bekerja dengan menurunkan
energi aktivasi, sehingga tidak diperlukan suhu dan energi tinggi untuk
melakukan suatu reaksi kimia didalam tubuh.
Enzim katalase ini terdiri atas 4 gugusan heme. Ia ada pada tulang,
ginjal, membran mukosa dan juga hati. Adapun aktifitas enzim katalase
ini ditemukan di wilayah mitokondria, peroksosom dan juga sutoplasma.
Enzim katalase ini mempunyai 4 rantai polupeptida yang pada masingmasing rantainya tersusun atas kurang lebih 500 asam amino. Selain itu,
enzim katalase ini juga mempunyai empat kelompok ehem yang
terbentuk dari cincin protoporphyrin. Cincin ini mengandung atom besi
yang tunggal. Adapun berat molekul tersebut sekitar 118.054,25
gram/mol.
Enzim katalase ini dimasukkan ke dalam golongan enzim
hidroperoksidase dimana ia melindungi tubuh organisme dari senyawa
peroksida yang berbahaya. Penumpukan senyawa ini bisa memancing
radikal bebas yang jika tidak diurai akan membuat membran sel di dalam
tubuh rusak dan memancing penyakit semacam kanker dan juga
arterosklerosis.
Enzim Katalase berperan dalam mengurai senyawa peroksida yang
ada di dalam tubuh. Senyawa tersebut bernama Hidrogen Peroksida atau
H2O2. Ia merupakan hasil peranapasan dan terdapat di dalam sel-sel
organisme. H2O2 ini harus dibuang. Pada posisi inilah enzim katalase
dibutuhkan. Enzim ini akan melakukan serangkaian proses yang mengurai
H2O2
menjadi
oksigen
dan
juga
air.
Pada kondisi tertentu, organisme utamanya manusia bisa saja
kekurangan enzim katalase. Kondisi akan akan membawa sejumlah
kerugian terutama yang berkaitan dengan organ yang banyak
menyimpan enzim katalase. Kondisi kurangnya enzim ini akan memicu
sejumlah
penyakit
antara
lain:
1.
Akatalasia, yakni penyakit dimana seseorang mengalami kelainan pada
darahnya sehingga gusi dan bagian mulutnya mudah terluka. Gejala ini akan
muncul semakin sering setelah masa pubertas tiba. Penyakit ini diturunkan secara
genetis.

2.
Penyakit Vitiligo yakni sejenis penyakit kulit yang gejalanya muncul
berupa bercak putih di beberapa bagian kulit tubuh. Hal ini merupakan indikasi
H2O2 di dalam tubuh tidak sebanding dengan enzim katalase.
3.
Rambut beruban. Gejala ini disebabkan melimpahnya H2O2 dan
kurangnya enzim katalase yang pada akhirnya menghambat produksi melamin
yakni pigmen yang menjadi pewarna alamiah rambut manusia.
Terdapat beberapa factor yang mempengaruhi kerja enzim antara
lain :

Suhu
Semua enzim membutuhkan suhu yang cocok agar dapat bekerja
dengan baik. Laju reaksi biokimia meningkat seiring kenaikan suhu.
Hal ini karena panas meningkatkan energi kinetik dari molekul
sehingga menyebabkan jumlah tabrakan diantara molekul-molekul
meningkat.
Sedangkan dalam kondisi suhu rendah, reaksi menjadi lambat karena
hanya terdapat sedikit kontak antara substrat dan enzim.
Namun, suhu yang ekstrim juga tidak baik untuk enzim. Di bawah
pengaruh suhu yang sangat tinggi, molekul enzim cenderung
terdistorsi, sehingga laju reaksi pun jadi menurun. Enzim yang
terdenaturasi gagal melaksanakan fungsi normalnya. Dalam tubuh
manusia, suhu optimum di mana kebanyakan enzim menjadi sangat
aktif berada pada kisaran 35C sampai 40C. Ada juga beberapa enzim
yang dapat bekerja lebih baik pada suhu yang lebih rendah daripada
ini.

Nilai pH
Efisiensi suatu enzim sangat dipengaruhi oleh nilai pH atau derajat
keasaman sekitarnya. Ini karena muatan komponen asam amino enzim
berubah bersama dengan perubahan nilai pH. Secara umum,
kebanyakan enzim tetap stabil dan bekerja baik pada kisaran pH 6 dan
8. Tapi, ada beberapa enzim tertentu yang bekerja dengan baik hanya
di
lingkungan
asam
atau
basa.
Nilai pH yang menguntungkan bagi enzim tertentu sebenarnya
tergantung pada sistem biologis tempat enzim tersebut bekerja. Ketika
nilai pH menjadi terlalu tinggi atau terlalu rendah, maka struktur dasar
enzim dapat mengalami perubahan. Sehingga sisi aktif enzim tidak
dapat mengikat substrat dengan benar, sehingga aktivitas enzim
menjadi sangat terpengaruhi. Bahkan enzim dapat sampai benar-benar
berhenti berfungsi.

Konsentrasi Substrat
Konsentrasi substrat yang lebih tinggi berarti lebih banyak jumlah
molekul substrat yang terlibat dengan aktivitas enzim. Sedangkan
konsentrasi substrat yang rendah berarti lebih sedikit jumlah molekul

substrat yang dapat melekat pada enzim, menyebabkan berkurangnya


aktivitas
enzim.
Tapi ketika laju enzimatik sudah mencapai maksimum dan enzim
sudah dalam kondisi paling aktif, peningkatan konsentrasi substrat
tidak akan memberikan perbedaan dalam aktivitas enzim. Dalam
kondisi seperti ini, di sisi aktif semua enzim terus terdapat substrat,
sehingga tidak ada tempat untuk substrat ekstra.

Konsentrasi Enzim
Semakin besar konsentrasi enzim maka kecepatan reaksi akan
semakin cepat pula. Konsentrasi enzim berbanding lurus dengan
kecepatan reaksi, tentunya selama masih ada substrat yang perlu
diubah menjadi produk.

Aktivator & Inhibitor


Aktivator merupakan molekul yang membantu enzim agar mudah
berikatan dengan substrat.
Inhibitor adalah substansi yang memiliki kecenderungan untuk
menghambat aktivitas enzim. Inhibitor enzim memiliki dua cara
berbeda mengganggu fungsi enzim. Berdasarkan caranya, inhibitor
dibagi menjadi 2 kategori: inhibitor kompetitif dan inhibitor nonkompetitif.
Inhibitor kompetitif memiliki struktur yang sama dengan molekul
substrat, inhibitor ini melekat pada sisi aktif enzim sehingga
menghalangi pembentukan ikatan kompleks enzim-substrat.
Inhibitor non-kompetitif dapat melekat pada sisi enzim yang bukan
merupakan sisi aktif, dan membentuk kompleks enzim-inhibitor.
Inhibitor ini mengubah bentuk/struktur enzim, sehingga sisi aktif enzim
menjadi tidak berfungsi dan substrat tidak dapat berikatan dengan
enzim tersebut.

IV.

Alat dan Bahan :


-

Bunsen
5 Tabung reaksi dan
rak
Corong
Gelas beker 100ml
Gelas beker 200ml
Asbes dan Kaki tiga
Mortar
Pipet
Penjepit

Lidi
Kertas Saring
Silet
Pengaduk
Termometer
Hati ayam segar
Larutan H2O2
Larutan NaOH 30%
Larutan HCl 30%
Spiritus
Air

V.

Cara Kerja
1. Memotong hati ayam utuh menjadi setengah
2. Menumbuk hati ayam menggunakan mortar hingga halus
3. Menambahkan air sebanyak 40ml, tambahkan air sedikit demi
sedikit jangan sampai terlalu encer atau terlalu kental
4. Membasahi kertas saring pada corong
5. Menyaring ekstrak hati ayam
6. Menampung ekstrak hati ayam dalam gelas beker
7. Memasukkan ekstrak hati ayam pada 4 tabung reaksi dengan
masing-masing tabung diisi 1 ml(20tetes) ekstrak hati ayam
menggunakan pipet
- Perlakuan 1 :
1. Memasukkan 1ml ( 20 tetes ) H 2O2 pada tabung reaksi yang
berisi ekstrak hati ayam
2. Tutup bagian atas tabung reaksi dengan jari dan sedikit
digoyang
3. Membakar lidi dan mematikan api hingga muncul bara pada
lidi
4. Mengamati apakah terdapat gelembung dan mengamati
bagaimana yang terjadi saat bara di masukkan ke dalam
tabung
5. Lakukan perlakuan kedua dan ketiga dengan cara yang sama
dengan menambahkan larutan NaOH dan HCl sebelum diberi
larutan H2O2
6. Lakukan percobaan keempat dengan cara yang sama seperti
perlakuan 1 namun ekstrak hati dipanaskan terlebih dahulu
pada air bersuhu 70o selama 5 menit sebelum di beri H2O2
-

VI.

Data
-

Variabel
Ekstrak
Hati + H2O2
- Ekstrak
Hati + HCl
+ H2O2
- Ekstrak
Hati
+NaOH+
H2O2
Ekstrak
-

Bara Api
Menyala
Terang

Gelembung
-

Banyak

Meredup
-> Padam

Sedikit

Meredup
-> Padam

Sedikit

Meredup

Cukup

Hati yang
dipanaskan
+ H2O2

Banyak

VII. Analisa Data


- Percobaan 1 ( Ekstrak Hati + H2O2 )
- Saat ekstrak hati diberi H2O2 terbukti enzim katalase yang
terdapat pada hati ayam langsung bereaksi mengurai H 2O2 yang
ditandai timbulnya gelembung, dan pada saat dimasukkan lidi yang
membara, timbul nyala api. Itu menunjukkan bahwa enzim katalase
bekerja dengan baik menguraikan H2O2 menjadi oksigen, enzim
katalase dapat bekerja dengan baik dipengaruhi oleh Ph yang
optimal, pada percobaan ke 1 Ph dalam keadaan normal tanpa
ditambah larutan asam maupun basa.
- Percobaan 2 ( Ekstrak Hati + HCl + H2O2 )
- Saat ekstrak terlebih dahulu ditambahkan larutan HCl, hanya
terbentuk gelembung dalam jumlah yang sangat sedikit ketika
diberi H2O2, dan saat di uji coba dengan memasukkan lidi yang
membara, nyala bara berangsur padam, itu membuktikan enzim
katalase tidak dapat bekerja dalam keadaan yang terlalu asam.
- Percobaan 3 ( Ekstrak Hati + NaOH + H2O2 )
- Saat ekstrak hati terlebih dahulu diberi larutan NaOH, muncul
gelembung yang sedikit ketika diberi larutan H2O2, dan waktu di uji
coba dengan lidi yang membara, nyala bara berangsur padam, itu
juga menunjukkan bahwa enzim katalase juga tidak dapat bekerja
dalam keadaan yang terlalu basa.
- Percobaan 4 ( Ekstrak Hati dipanaskan + H2O2 )
- Saat ekstrak hati yang sudah dipanaskan selama 5 menit pada
air bersuhu sekitar 70o dan kemudian diberi larutan H2O2, muncul
sedikit gelembung, dan saat di uji coba dengan lidi yang membara,
nyala bara terang sekejap dan berangsur padam, itu membuktikan
bahwa enzim katalase juga tidak dapat bekerja pada suhu yang
terlalu tinggi.
VIII. Kesimpulan
Enzim katalase yang terdapat dalam hati ayam, memiliki
fungsi utama untuk proses detoksifikasi ( menawar racun )
terutama menguraikan senyawa H2O2 , namun terdapat beberapa
factor yang dapat mempengaruhi kerja enzim katalase, diantaranya
dibutuhkan Ph yang netral agar enzim katalase dapat bekerja
dengan baik selain itu suhu juga mempengaruhi kerja enzim
katalase, enzim katalase tidak dapat bekerja dengan baik dan
bahkan rusak pada suhu yang tinggi .