Anda di halaman 1dari 7

BAB III

ILUSTRASI KASUS
A. Identitas Pasien
Nama

: Tn. Z

Umur

: 30 tahun

Jenis kelamin

: Pria

Alamat

: Solo, Jawa Tengah

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Supir Taksi

Status
No. RM

: Sudah menikah
: 01138XXX

Tanggal Periksa : 24 Maret 2016


B. Anamnesis
1. Keluhan Utama
Bersin-bersin dan hidung tersumbat
2. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang dengan keluhan bersin-bersin dan hidung tersumbat setiap
pagi hari atau jika terkena udara dingin, keluhan hilang timbul sejak 1
bulan yang lalu. Dalam 4 hari terakhir keluhan dirasakan terus menerus.
Pasien juga mengeluh di hidung mulai beringus sejak 2 hari terakhir.
Nyeri pada pipi kiri (-) nyeri pada pangkal hidung (-) nyeri di daerah dahi
(-), mimisan (-), batuk (-), demam (-). Keluhan sering gatal di hidung (+).
Keluhan di telinga (-), keluhan tenggorokan pasien merasa ada lendir
yang mengalir di tenggorokan (-). Pasien pernah mengalami keluhan
serupa kira-kira 2 bulan yang lalu. Pasien sudah berobat tetapi belum ada
perbaikan.

3. Riwayat penyakit dahulu


Riwayat keluhan serupa : (+) 2 bulan yang lalu
12

13

Riwayat sakit gigi

: disangkal

Riwayat alergi dingin

: disangkal

Riwayat alergi obat

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat DM

: disangkal

Riwayat Keganasan

: disangkal

4. Riwayat penyakit keluarga


Riwayat sakit serupa

: (-)

Riwayat asma

: (+) Ayah pasien

Riwayat alergi makanan : disangkal


Riwayang keganasan

: disangkal

5. Riwayat sosial ekonomi


Pasien adalah seorang supit, tinggal dengan istri dan kedua
anaknya pengobatan ditanggung oleh BPJS.
6. Riwayat kebiasaan
Riwayat makan sembarangan
: (-)
Riwayat olah raga
: jarang
Riwayat minum obat-obatan
: disangkal
Riwayat makan pedas
: disangkal
Riwayat minum alkohol
: disangkal
Riwayat merokok
: disangkal
C. Pemeriksaan Fisik
a. keadaan umum

: compos mentis, tampak sakit sedang

b. Vital sign
1) Tensi

: 130/80 mmHg

2) Respirasi rate

: 22x/menit

3) Nadi

: 88x/ menit

4) Suhu

: 36.60C

c.

Kepala

: dalam batas normal

d.

Mata

: dalam batas normal

e.

Telinga

f.

Hidung

: lihat status lokalis

g.

Tenggorokan

: dalam batas normal

g.

Mulut

: gigi molar 1 kiri atas sisa akar

: dalam batas normal

14

h.

Leher

: dalam batas normal,


tidak ada pembesaran KGB

i.

Thorax posterior

: dalam batas normal

j.

Thorax anterior

: dalam batas normal

k.

Abdomen

: dalam batas normal

l.

Ekstermitas superior : dalam batas normal

m. Ekstermitas inferior
1.

: dalam batas normal

Status lokalis
Dextra
Lapang

Sinistra
Lapang

(+)Mukopurulen

(+) mukopurulen

Conca inferior

Eutrofi

Eutrofi

Meatus nasi media

Lapang

Lapang

Meatus nasi inferior

Lapang

Lapang

(-)

(-)

Cavum nasi
Discharge

Septum deviasi
Nyeri di daerah:
-

Sinus frontalis

(-)

(-)

Sinus Etmoid

(-)

(-)

Sinus Maksilaris

(-)

(-)

Sinus Sphenoidalis

(-)

(-)

Deformitas (-)

Deformitas (-)

Krepitasi (-)

Krepitasi (-)

Os Nasal

D. DIAGNOSA BANDING
Rhinitis alergika
Rhinitis akut ec rhinogen
E. DIAGNOSIS KERJA
Rhinitis alergika
F. TERAPI

15

R/ Pseudoefedrin HCL tab mg 60 No. XI


3 dd tab I p.r.n
R/ Loratadin tab mg 10 No. III
1 dd tab I p.r.n
Pro: Tn. Z

(30 tahun)

a. Pseudoefedrin tablet mg 60
1) Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja pseudoefedrin adalah dengan cara menstimulasi
secara langsung reseptor 1 adrenergik yang terdapat pada
pembuluh darah mukosa saluran pernapasan bagian atas yang
menyebabkan vasokonstriksi. Pseudoefedrin juga menstimulasi
reseptor reseptor adrenergik yang menyebabkan relaksasi
bronkus dan peningkatan kontraksi dan laju jantung. Efek
terapeutik dari pseudoefedrin adalah berkurangnya kongesti
hidung, hiperemia dan pembengkakan saluran hidung.
2) Farmakokinetik

Absorpsi

Pseudoefedrine diabsorpsi dengan baik setelah pemberian oral.


Kadar maksimum pseudoephedrine dalam plasma sebesar 206
ng/mL, dicapai dalam waktu 6 jam setelah pemberian oral.

Distribusi

Tampak memasuki cairan serebrospinal dan kemungkinan


menembus plasenta dan masuk dalam ASI.

Metabolisme dan Ekskresi

Sebagian dimetabolisme oleh hati. Waktu paruh eliminasi


pseudoephedrine adalah 4-6 jam tergantung dari pH urin.
Waktu paruh eliminasi akan menurun pada pH urin < 6 dan
dapat meningkat pada pH urin > 8. Sekitar 55-75% dosis
tunggal pseudoephedrine HCl akan diekskresikan di dalam

16

urin dalam bentuk utuh, sedangkan sisanya dimetabolisme di


dalam hati.
3) Indikasi
Pseudoefedrin sebagai penatalaksanaan gejala kongesti yang
berhubungan dengan infeksi virus akut pada saluran pernapasan
atas. Banyak digunakan dalam kombinasi dengan antihistamin
dalam penatalaksanaan berbagai kondisi alergi. Selain itu
digunakan untuk membuka sumbatan tuba Eustachius pada
inflamasi atau infeksi telinga kronik.
4) Kontraindikasi.
Pseudoefedrin

tidak

boleh

diberikan

pada

orang

dengan

hipersensitivitas terhadap amin simpatomimetik, orang dengan


hipertensi dan penyakit arteri koronaria yang parah. Penggunaan
bersama terapi inhibitor MAO dan diketahui intoleran terhadap
alkohol (beberapa produk cair). Pseudoefedrin digunakan secara
hati-hati

pada

penderita

hipertiroidisme,

diabetes

mellitus,

hipertrofi prostat, penyakit jantung iskemik, kehamilan dan laktasi


serta pada penderita glaukoma.
5) Efek samping.

SSP : gugup, eksitasi, gelisah, kelemahan, pusing, insomnia,


sakit kepala, mengantuk, ansietas, halusinasi dan kejang.

Kardiovaskular : takikardia, palpitasi, dan hipertensi.

Gastrointestinal : anoreksia, dan mulut kering.

Genitourinaria : disuria

Respirasi : kesulitan bernapas.

6) Dosis dan Administrasi.

Dosis dewasa dan anak-anak > 12 tahun : 60 mg tiap 4-6 jam


sesuai kebutuhan (tidak lebih dari 240 mg/hari). 120 mg untuk
preparat lepas lambat tiap 12 jam atau 240 mg preparat lepas
lambat tiap 24 jam.

17

Dosis anak-anak 6-12 tahun : 30 mg tiap 4-6 jam sesuai


keperluan (tidak lebih dari 120 mg/hari) atau 4 mg/kgBB/hari
atau 125 mg/m2/hari terbagi dalam 4 dosis.

Dosis anak-anak 2-6 tahun : 15 mg tiap 4-6 jam (tidak lebih


dari 60 mg/hari) atau 4 mg/kgBB/hari atau 125 mg/m 2/hari
terbagi dalam 4 dosis.

Dosis anak-anak 1-2 tahun : 7 tetes 0,2 ml/kgBB tiap 4-6 jam
(tidak lebih dari 4 dosis/24 jam).

Dosis anak-anak 3-12 bulan : 3 tetes/kgBB tiap 4-6 jam (tidak


lebih dari 4 dosis/24 jam).

b. Loratadin tablet mg 10
1) Mekanisme Kerja
Loratadine adalah antihistamin kerja panjang yang mempunyai
selektivitas tinggi terhadap reseptor histamin-H1 perifer dan
afinitas yang rendah terhadap reseptor-H1 di sususnan saraf
pusat. Loratadine juga mempunyai afinitias lemah terhadap
reseptor adrenergik alfa dan reseptor asetilkolin.
2) Indikasi
Mengurangi gejala-gejala yang berkaitan dengan rhinitis alergik,
seperti bersin-bersin, pilek, dan rasa gatal pada hidung, rasa
gatal dan terbakar pada mata. Mengurangi gejala-gejala dan
tanda-tanda urtikaria kronik serta penyakit dermatologik alergi
lain.
3) Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap loratadin

4) Efek samping
Loratadine tidak memperlihatkan efek samping yang secara klinis
bermakna, karena rasa mual, lelah, sakit kepala, mulut kering
jarang dilaporkan. Frekuensi efek-efek ini pada loratadine
maupun placebo tidak berbeda secara statistik.

18

5) Dosis
Dewasa, usia lanjut, anak 12 tahun tahun atau lebih : 10 mg sehari
Anak-anak usia 2 12 tahun : BB > 30 kg : 10 mg sehari BB
30 kg : 5 mg sehari
Khasiat dan keamanan penggunaan pada anak-anak usia
dibawah 2 tahun belum terbukti.
6) Interaksi Obat
Hati-hati pemakaian bersama obat-obat yang menghambat
metabolisme

hati

seperti

ketoconazole,

erythromycin,

cimetidine. Sama seperti antihistamin lain, disarankan untuk


menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan.