Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM MATAKULIAH FITOPATOLOGI

PENGENALAN GEJALA PENYAKIT TANAMAN

Oleh :
Isnainy Dinul Mursyalati Yus
A352150021

Diampuh oleh Dosen :


Dr. Supramana
Asisten praktikum :
Hagia Sophia Khairani

MAYOR FITOPATOLOGI
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tanaman yang sakit biasanya akan memperlihatkan gejala penyakit khusus
yang menyerangnya. Pada beberapa macam penyakit yang ditunjukkan oleh
tanaman sebagai akibat adanya kehadiran penyakit. Gejala penyakit ini
ditunjukkan dengan adanya perubahan-perubahan yang ditunjukkan oleh tanaman.
Perubahan-perubahan yang ditunjukkan dapat berupa perubahan warna, bentuk
ataupun penampilan lainnya yang secara terlokalisasi pada jaringan yang sakit
ataupun pada bagian yang luka.
Penyakit tertentu dapat dibedakan dengan penyakit lainnya berdasarkan
gejala yang ditimbulkan pada tanaman. Gejala dapat berbeda berdasarkan pada
lingkungan, varietas dari inang dan patogen yang menyerang. Gejala selalu
berubah dengan berkembangnya penyakit. Hal ini dikarenakan penyakit bersifat
dinamis. Penyebab munculnya penyakit pada tanaman bisa terjadi karena disuatu
tempat ada tanaman yang rentan, patogen ganas serta lingkungan yang
mendukung (segitiga penyakit).
Penyakit tanaman menimbulkan kerugian, baik secara langsung maupun
tidak langsung. Kerugian secara langsung menyebabkan tanaman itu sendiri
menjadi sakit bahkan mati. Hal ini dikarenakan fungsi metabolisme (fungsi
fisiologis) dalam jaringan tanaman terganggu dan terhambat akibat adanya
patogen tanaman. Kerugian secara tidak langsung menyebabkan produksi tanaman
yang berkurang sehingga kualitas dan kuantitas tanaman pada nilai ekonomi juga
menurun.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini ialah untuk mengetahui gejala penyakit yang
ditimbulkan patogen pada tanaman inang dan mengetahui berbagai morfologi
serta sifat patogen penyebab penyakit sehingga mengenal dan memahami tentang
patogen penyebab penyakit tersebut.

2.

METODE

2.1 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam kegiatan praktikum, di lapang maupun di
laboratorium, yaitu mikroskop, jarum, kaca preparat, cover glass, air, tisu, selotip,
kamera dan alat tulis.
Bahan yang digunakam dalam kegiatan praktikum di laboratorium, antara lain:
sampel gejala penyakit dari daun karet, daun pisang, daun kopi, kaktus, awetan puru
akar, dan awetan akar gada. Sedangkan bahan yang digunakan di lapang, antara lain :
gejala penyakit pada pohon sengon, tanaman pagar, sisa tanaman berkayu, tanaman
tembakau, tanaman mentimun, pohon jambu bol dan tanaman pisang.
2.2 Metode Pengamatan
A. Pengamatan di lapang
Pengamatan di lapang dengan melihat gejala yang ditimbulkan pada tanaman
inang yang diamati di sekitar lingkungan Departemen Proteksi Tanaman.
B. Pengamatan di laboratorium
Pengamatan yang dilakukan di laboratorium dilakukan dengan 2 cara, yakni
dengan pengamatan morfologi dan pengamatan histologi. Pengamatan morfologi
yaitu pengamatan pada gejala luar yang dapat dilihat dan dapat diketahui melalui
panca indera manusia dan dapat ditunjukkan pada tubuh tanaman. Sedangkan
pengamatan histologi yaitu gejala yang hanya dapat diketahui lewat pengamatan
secara mikroskopis dari jaringan tanaman yang sakit. Pengamatan ini harus
dilakukan dibawah mikroskop.

3.
Tanaman inang
Jambu bol

Nama penyakit
Benalu

Nama patogen
Lorantus sp.

Jambu bol

Puru daun

Pagodiela sp.

Tanaman
berkayu

Kelompok
Basidiomycetes

TABEL HASIL

Deskripsi gejala
Parasit yang tumbuh pada pohon
lainnya. Daun tunggal, kerapkali
berhadapan,
dan
kadang-kadang
berseling. Bunga berkelamin 1 atau 2,
dan bakal buahnya tenggelam. Buah
buni atau buah batu. Benalu
merupakan tumbuhan parasit yang
hidupnya menempel pada pohon
lainnya.
Terdapat bintil-bintil seperti bisul
pada daun yang berisi ulat Pagodiela
sp. yang lama-kelamaan akan
mengering dan menjadi lubang pada
daun.

Tanaman yang terserang penyakit akar


biasanya pada awal serangan tidak
terlihat gejalanya, namun apabila
serangan sudah lanjut ditandai dengan
layu atau tajuk menguning dan daun
berwarna kusam, hingga tanaman
mengalami kematian. Jamur ini
memiliki tudung kepala (cap) yang
kuat dan tumbuh pada pohon yang
masih hidup ataupun yang sudah mati.

Gejala makrokopis

Gejala mikrokopis

Tanaman
berkayu,
tanaman pagar
(salah satunya
Schinus
terebinthifolius)

Tali putri

Cuscuta sp.

Memparasit melalui haustoria kecil


(yang digunakan untuk mengambil
nutrisi dari tanaman inang melalui
membran sel inang). Tanaman ini
melekat pada tubuh inang dengan cara
membelit, bulat, lunak, berwarna
hijau atau kuning kecokelatan.

Sengon

Kanker batang

Phytoptora
palmivora

Batang
yang
terserang
akan
mengalami
pertumbuhan
yang
abnormal. Awal infeksi biasanya
terjadi pada batang yang patah atau
luka. Bisa juga melalui luka yang
dibuat oleh serangga.

Pisang

Bunchy top virus

Virus bunchy top

Daun mengalami klorosis, daun


menyempit, lebih tegak, bagian tepi
daun menggulung ke atas dan tampak
menguning, tangkai daun pendek serta
tumbuh
kerdil
perkembangan
pucuknya (bunchy top). Pohon dengan
gejala ini sering kali tidak mampu
menghasilkan buah.

Mentimun

Penyakit embun
tepung atau
powdery mildew

Pseudoperonospora
cubensis

Ditandai adanya bercak putih seperti


tepung pada permukaan atas dan
bawah daun. Daun yang terserang
menjadi kuning, mati dan gugur.

Tembakau

Tobacco Mosaic
Virus (TMV)

Tobacco Mosaic
Virus (TMV)

Karet

Embun tepung
karet

Oidium sp.

Mengalami klorosis dan daun rontok,


terdapat
belang-belang
atau
perubahan warna daun, bunga dan
buah, tanaman menjadi kerdil dan
dapat mati. Pada tanaman tembakau,
gejala yang timbul dapat berupa
mosaik yang khas. Virus yang
virulensinya
tinggi
dapat
mengakibatkan perubahan warna
jaringan diantara tulang-tulang daun,
nekrosis yang membentuk garis
bergerigi pada bagian bawah daun.
Nampak bercak putih tepung, yang
merupakan hifa yang kemudian
membentuk lingkaran koloni. Ketika
daun yang sakit terinfeksi, daun akan
layu dan gugur. Jika daun muda
terinfeksi, maka akan nampak terlihat
bintik-bintik kuning kecokelatan dan
daun tersebut akan bertahan untuk
beberapa
waktu
dengan
menampakkan gejala bintik-bintik
nekrotik.

Pisang

Bintik daun

Cordana musae

Mula-mula timbul bercak menjorong


atau bulat telur, kadang berbentuk
berlian, kemudian membesar dan
berwarna coklat pucat dengan tepi
yang berwarna coklat kemerahan,
dikelilingi halo berwarna kuning
cerah.

Pisang

Early blight

Alternaria sp.

Pada daun terdapat bercak -bercak


kecil bulat, bersudut, dan berwarna
coklat tua sampai hitam. Di sekitar
bercak nekrotik terdapat halo sempit.
Pada serangan berat banyak terdapat
bercak, daun menjadi layu dan gugur
sebelum waktunya.

Pisang

Bercak daun

Cercospora sp.

Gejala pertama tampak jelas pada


daun ke-3 dan ke-4 dari pucuk
sebagai bintik-bintik memanjang,
berwarna kuning pucat dengan
ukuran panjang 1-2 mm atau lebih,
arahnya sejajar dengan tulang daun.
Sebagian dari bintik-bintik tersebut
berkembang menjadi bercak berwarna
coklat tua sampai hitam, jorong atau
bulat panjang, yang panjangnya 1 cm
atau lebih, lebarnya kurang dari
sepertiga panjangnya. Pada daun yang
lebih tua pusat becaknya mengering,
berwarna kelabu mudah dengan
tepinya berwarna coklat tua dan
dikelilingi oleh halo berwarna kuning
cerah.

Tanaman kopi

Karat Daun Kopi

Hemileia vastantrix

Daun akan berwarna kuning yang


ditutupi bedak atau noda yang tampak
pada permukaan bagian bawah daun

Tanaman
berfamili
Solanaceae

Puru akar

Meloidogyne sp.

Kubis

Akar gada

Plasmodiophora
brassicae Wor.

Kaktus

Phytoplasma

Phytoplasma

Akar tanaman yang terserang akan


menjadi bengkak dan memanjang
dengan bervariasi. Akibat gangguan
ini menyebabkan pertumbuhan
terhambat (kerdil), daun layu dan
menguning, serta jumlah bunga dan
buah akan menjadi berkurang.
Daun-daun tanaman layu jika hari
panas dan kering, kemudian pulih
kembali pada malam hari, serta
kelihatan normal dan segar pada pagi
hari. Pembengkakan akar merupakan
ciri khas penyakit akar gada.
Pertumbuhan terhambat, terjadi
pembesaran cladode (modifikasi daun
kaktus) dan hilangnya warna hijau
daun.

4.

PEMBAHASAN

Berdasarkan cara hidupnya, parasit dibagi menjadi 2, yakni parasit obligat dan parasit
fakultatif. Parasit obligat ialah parasit yang hanya dapat hidup pada organisme (jaringan)
yang masih hidup. Menurut Westwood, 2010, parasit obligat harus memparasit tanaman
inang untuk kelangsungan hidupnya. Semua organisme yang bersifat patogen merupakan
parasit obligat. Pada praktikum, semua sampel/patogen tanaman yang diamati merupakan
contoh parasit obligat. Sebaliknya parasit fakultatif dapat hidup autotrof (membuat makanan
sendiri) dan bereproduksi tanpa ada kontak dengan tanaman inang, tetapi tidak menutup
kemungkinan untuk memparasit ketika di lingkungan sekitarnya dapat dijadikan tempat untuk
berparasit (tersedia).
Nelson (2008) menyatakan bahwa tanaman Cuscuta sp. memparasit jaringan tanaman
dengan haustoria kecilnya (menginfeksi melalui struktur perekatnya yang digunakan untuk
mengambil nutrisi dari tanaman inang melalui membran sel). Hal ini membuktikan bahwa
tanaman Cuscuta sp. dan juga tanaman benalu merupakan tanaman parasit obligat.
Dari kegiatan praktikum, patogen yang termasuk dalam gejala nekrosis, antara lain :
kanker batang, embun tepung, bercak daun (Oidium sp., Cordana sp., Cercospora sp.,
Hemileia vastantrix). Nekrosis merupakan gejala penyakit yang ditandai dengan adanya
kerusakan pada sel-sel, jaringan, organ & seluruh tumbuhan. Kenampakan gejala ini dapat
berupa bercak, pembusukan, eksudasi, layu, nekrosis, dan gosong. Gejala hiperplasia ialah
gejala yang timbul akibat pertumbuhan abnormal

(melebihi

ukuran

biasa)

dari

organ

tumbuhan misalnya keriting, puru, kudis, membengkoknya tajuk atau menggulungnya daun.
Untuk patogen yang termasuk dalam gejala hiperplasia, antara lain : puru akar dan akar gada.
Gejala hipoplasia ialah gejala yang timbul akibat adanya gangguan atau hambatan dari
jaringan tanaman untuk berkembang secara penuh. Gejala umum dari hipoplasia yaitu
pertumbuhan yang dibawah biasa/normal dan warna yang pucat, misal kerdil, mosaik. Contoh
patotgen yang termasuk dalam gejala hipoplasia, antara lain : Bunchy top virus, phytoplasma
dan Tobacco Mosaik Virus (TMV).
Berdasarkan pernyataan Liyanage bahwa gejala embun tepung karet akibat jamur
Oidium sp. salah satunya menyebabkan bintik-bintik kuning yang terlihat jelas dan daun
mengalami bintik-bintik nekrosis. Hal ini membuktikan bahwa embun tepung karet
merupakan salah satu gejala nekrosis. Gejala pisang yang terinfeksi memperlihatkan daun
klorosis, sempit, tangkai daun pendek, dan tumbuh tegak sehingga memberikan kesan kerdil
pada perkembangan pucuknya (bunchy top). Gejala kerdil merupakan salah satu gejala

hipoplasia, akibat adanya gangguan pada jaringan tanaman sehingga terjadi pertumbuhan
dibawah normal. Hasil penelitian Sulyanti, et al. (2011), menyatakan bahwa penyakit bercak
Cordana menimbulkan bercak-bercak jorong atau bulat telur. Gejala bercak ialah salah satu
gejala nekrosis. Serangan patogen P. brassicae yang menyebabkan bengkak pada akar.
Pembengkakan pada jaringan akar dapat mengganggu fungsi akar seperti translokasi zat hara
dan air dari dalam tanah ke daun. Keadaan ini mengakibatkan tanaman layu, kerdil, kering
dan akhirnya mati (Karling 1968 dalam Cicu, 2006).

5.

KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapat adalah gejala penyakit berdasarkan cara hidupnya


ada 2 cara, yaitu secara parasit obligat dan parasit fakultatif. Dari hasil praktikum
didapat bahwa semua sampel/gejala yang diamati, baik di lapang maupun di
laboratorium merupakan parasit obligat. Selain itu, diperoleh hasil pengamatan secara
makrokopis dan mikrokopis yang diamati di laboratorium, diantaranya penyakit yang
menyebabkan embun tempung pada daun mentimun ialah Oidium sp., penyakit
penyebab bintik daun pada pisang merupakan serangan patogen jamur Cercospora
sp., penyakit penyebab early blight pada pisang disebabkan oleh patogen Alternaria
sp., penyakit penyebab bercak daun disebabkan Cercospora sp., dan penyakit karat
daun pada daun kopi ialah jamur Hemileia vastantrix.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2015. Disease of rubber and Their Control. Available at http://dl.nsf.ac.lk/
bitstream/handle/1/9178/BRRISL-20-5.pdf?sequence=2. Verified 26 September 2015.
Anonim. 2015. Gejala Alternaria Pada Pisang. Available at http://ditlin.hortikultura.
pertanian.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=103&Itemid=176.
Verified 29 September 2015.
Cicu. 2006. Penyakit Akar Gada (Plasmodiophora brassicae Wor.) Pada Kubis-kubisan dan
Upaya Pengendaliannya. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan. No
1: 25.
Megia, R. Anceau, C 1997. Deteksi Banana Bunchy Top Virus Menggunakan Immuno
CapturePolymerase Chain Reaction. Vol. 4 (2): 53-54. Available at
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/42633/Rita%20Megia
%20(RK).pdf;jsessionid=AA51ED94591DEB72E0EBFF4D89565BB7?sequence=1.
Verified 25 September 2015.
Nelson, C. S. 2008. Cassytha filiformis. Department of Plant and Environmental Protection
Sciences. University of Hawaii Manoa.
Nurhayati. 2012. Virus Penyebab Penyakit Tanaman. Universitas Sriwijaya
Sudiono. Prasetyo, J. 2004. Pemetaan Persebaran Penyakit Bunchy Top Pada Tanaman Pisang
di
Provinsi
Lampung.
Vol.
4
(2):
94-101.available
at
.
http://idci.dikti.go.id/pdf/JURNAL/JURNAL%20HAMA%20&%20PENYAKIT
%20TUMB.TROPIKA/VOL.4%20NO.2%20SEPTEMBER%202004/454.pdf.
Verified 25 September 2015.
Sulyanti, E. Liswarni, Y. Indri. 2011. Inventarisasi Penyakit Tanaman Pisang (Musa
paradisiaca Linn.) Berdasarkan Gejala di Kabupaten Tanah Datar. Vol. 12 (2): 49-54.
Westwood, H. J. Yoder. I. J. Timko. P. M. dePamphilis W. C. 2010. The Evolution of
Parasitism in Plant.