Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM MATAKULIAH FITOPATOLOGI

PEMBUATAN PREPARAT NEMATODA

Oleh :
Isnainy Dinul Mursyalati Yus
A352150021

Diampuh oleh Dosen :


Dr. Supramana
Asisten praktikum :
Hagia Sophia Khairani

MAYOR FITOPATOLOGI
DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Nematoda merupakan kelompok hewan yang mempunyai ukuran mikron
sehingga tidak dapat diamati dengan mata secara langsung dan hanya dapat diamati
dengan menggunakan mikroskop. Untuk dapat mengamati nematoda, maka harus
dilakukan isolasi atau ekstraksi nematoda dari habitatnya di tanah. Nematoda yang
ada dalam tanah perlu dilakukan pengamatan dan teknik tertentu agar nematoda bisa
diamati, baik dalam keadaan hidup atau mati, serta bersifat parasit ataupun non
parasit.
Penggunaan preparat dapat berupa preparat asli yakni preparat yang
menggunakan bagian yang masih hidup, atau dapat berupa preparat dalam bentuk
awetan. Preparat nematoda digunakan untuk mengamati struktur dan morfologi
nematoda, baik nematoda parasit maupun non parasit. Pembuatan preparat untuk
nematoda dimaksudkan karena ukuran tubuh nematoda yang sangat kecil dan rentan
hancur bila tidak segera diamati.
Nematoda parasit tanaman dapat diekstrak dari tanah dan tanaman dengan
banyak cara. Tipe nematoda tertentu atau pada bagian khusus tanaman, ada beberapa
metode lebih efektif daripada yang lain. Ada banyak cara yang dapat digunakan
untuk mengisolasi nematoda dari habitatnya, yakni teknik corong Bearmann, teknik
inkubasi akar, teknik maserasi atau filtrasi, teknik penyabutan, teknik penyaringan,
teknik dua botol Erlenmeyer, teknik ilustrasi (M. Luc, 1988).
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui metode pembuatan
preparat semi-permanen nematoda.

2. METODE
2.1 Waktu dan Tempat
Praktikum fitopatologi untuk materi nematoda dilaksanakan pada tanggal 8
Oktober 2015 di Laboratorium Pendidikan Departemen Proteksi Tanaman Fakultas
Pertanian Institut Pertanian Bogor.
2.2 Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam praktikum ialah suspensi hasil ekstraksi
nematoda, larutan FAA, parafin dan tisu. Sedangkan alat yang digunakan dalam
praktikum ialah mikroskop, kaca preparat dan cover glass, cup borer, glass wool, alat
pancing nematoda, pipet serta kamera.
2.3 Metode Pengamatan
Metode yang digunakan dalam praktikum ini, yaitu :
Siapkan suspensi hasil ekstraksi nematoda
yang telah difiksasi

Buat lingkaran parafin dengan menggunakan cup borer


yang telah dipanaskan kemudian tempelkan ke kaca
preparat. Tunggu beberapa detik, lalu tetesi larutan FAA (1
tetes)

Pancing/packing beberapa ekor nematoda (3-5


ekor nematoda) dengan posisi anteriornya
sejajar satu sama lainnya.

Susun glass wool pada 3 bagian. Hal ini untuk


memudahkan pengamatan nematoda nantinya.

Tutup kaca preparat dengan cover glass. Panaskan kaca


preparat tersebut diatas api bunsen atau pada alat hot
plate. Setelah parafin mencair tunggu beberapa detik
sampai nantinya parafin akan menutup pinggiran dari
kaca preparat.

Catat hasil identifikasi dan dokumentasikan

3. HASIL DAN PEMBAHASAN


Nematoda parasit tanaman akan berkembang didalam air, yang juga didalam
tanah atau dalam tanaman, untuk bergerak dan menjadi tidak aktif atau mati bila tidak
ada air. Beberapa spesies masuk ke dalam fase dorman ketika kekurangan atau
temperaturnya menurun dan dan bertahan hidup pada jangka waktu yang lama di
beberapa kondisi. Hal inilah yang menyebabkan perlu dilakukannya pembuatan preparat
pada nematoda. Dengan pembuatan preparat permanen nematoda, banyak pengamatan
yang dapat dibuat dalam struktur bias seperti bagian kepala, saluran pencernaan, lubang
ekresi dan spikula (Ravichandra, 2014).
Umumnya dalam ilmu taksonomi, spesimen nematoda akan diawetkan secara
permanen dalam gliserol, yang diletakkan diantara dua penutup preparat dalam preparat
aluminium Cobbs atau diatas kaca preparat dengan ditutup penutup preparat. Keduanya,
dengan

penggunaan

kaca

fiber

yang

diameternya

cocok,

berguna

untuk

menjaga/melindungi spesimen nematoda dari tekanan yang diakibatkan oleh penutup


preparat (Huang et al., 1984). Dalam pelaksanaan praktikum, digunakan kaca preparat
sebagai tempat pengawetan nematoda. Menghindari adanya tekanan yang ditimbulkan
oleh kaca penutup kaca preparat, maka digunakannya glass wool sebagai penahan
sehingga spesimen nematoda terhindar dari tekanan yang dapat menyebabkan struktur
spesimen rusak.

(c)

(a)

(b)

Gambar 1. (a) Preparat aluminium Cobbs (b) kaca preparat dan (c) penutup kaca preparat (cover glass)

Penggunaan parafin dalam pembuatan preparat semi-permanen yang dilakukan


pada praktikum, berfungsi sebagai pembatas sampel nematoda sehingga nematoda tetap
pada posisi yang mudah untuk diamati. Sesuai dengan Huang et al., 1984, yang
menyatakan bahwa ketebalan lingkaran parafin yang cocok dapat digunakan tidak hanya

untuk penyangga penutup kaca preparat, tetapi juga untuk menahan nematoda tetap pada
posisi yang diinginkan.
Fiksasi nematoda menggunakan larutan FAA (formalin-acetic acid-alcohol).
Larutan FAA terdiri dari bahan formalin komersil (37-40% formaldehid) sebanyak 2,4
ml, glacial acetic acid sebanyak 1,6 ml, ethyl alcohol 95% sebanyak 60 ml dan aquabides
sebanyak 80 ml. Formalin (4-5%) merupakan salah satu bahan yang paling sering
digunakan sebagai fiksatif. Efeknya terjadi pengerasan dan menyebabkan nematoda
sedikit menyusut. Kombinasi bahan menjadikan efek sebaliknya, seperti asam asetat dan
asam propionat, yang digunakan untuk menetralkan efek penyusutan yang berlebihan
(van Bezooijen, 2006).
Nematoda yang mati, struktur internalnya seperti organ kelamin bisa terhalangi
oleh permukaan granular dari usus. Nematoda dapat dibersihkan dengan menggunakan
laktofenol atau bisa juga dengan gliserol (Hooper, 1990 dalam Ravichandra, 2014).
Persiapan preparat permanen lebih mudah pada nematoda yang telah difiksasi dan
dipindahkan ke gliserin. Ada berbagai tipe preparat dan penyangga, tetapi umumnya
parafin digunakan pada kaca penutup preparat sebagai penyegel dan pemisah (van
Bezooijen, 2006).
Teknik dengan menggunakan gliserin merupakan teknik preparat permanen. Ada
dua metode dengan menggunakan gliserin, yakni pertama dengan metode gliserin-etanol
(Seinhorst, 1959 dalam van Bezooijen, 2006), yang mana dengan metode ini nematoda
dikeringkan dan diinfiltrasi dengan gliserin menggunakan dua larutan. Metode ini
memakan waktu dan digunakan untuk memindahkan individu nematoda yang akan
dijadikan awetan permanen.
Metode kedua yaitu dengan metode gliserin-formalin (Bongers, 1993 dalam van
Bezooijen, 2006), yang mana nematoda lebih dahulu di proses dalam formalin selama 6
minggu hingga menjadi keras. Setelah itu, gliserin murni ditambahkan untuk
mendapatkan campuran gliserin-formalin dengan perbandingan 1:1. Metode ini,
utamanya, digunakan secara bersamaan dalam memindahkan beberapa nematoda untuk
jadi awetan. Hasil awalnya menunjukkan bahwa metode langsung menghasilkan gambar
atau foto yang baik tetapi belum diketahui hasil dari penyimpanan jangka panjang
(struktur nematoda masih bisa dilihat dengan baik atau tidak).
Metode lainnya yakni pada pengawetan pada parineal patterns. Parineal patterns
merupakan

salah

satu

karakteristik

dalam

mempelajari

dan

mengidentifikasi

Meloidogyne spp. Pada pengawetan ini digunakan laktofenol-cotton blue untuk menutupi

awetan. Pengawetan lainnya yakni pengawetan pada nematoda kista (Vulva cone of cyst
nematodes). Terlepas dari bentuk dan warna, identifikasi nematoda kista juga didasarkan
pada struktur vulva dan fenestra, serta sekeliling struktur internal dan eksternal.
Penggunaan awetan lainnya pada pengawetan melintang pada bagian tubuh nematoda
mulai pada bagian kepala hingga posterior (van Bezooijen, 2006).
Pengawetan semi permanen bisa dengan menggunakan air. Nematoda hidup lebih
mudah diidentifikasi dan dipelajari dalam media air. Dengan menggunakan air, sejumlah
struktur tubuh, seperti ujung mulut, saluran pencernaan dan lubang eksresi dapat terlihat
dengan mudah di kaca preparat, dengan cincin parafin. Penyegelan dilakukan dengan cat
kuku atau lilin (van Bezooijen, 2006). Selain itu, pada pengawetan semi permanen juga
bisa menggunakan laktofenol. Tahapan dalam penggunaan laktofenol hampir sama
dengan proses yang dilakukan dengan menggunakan gliserin. Bedanya, pemindahan
nematoda ke dalam laktofenol harus dilakukan dengan cepat. Setelah pemindahan
nematoda kedalam setetes laktofenol pada kaca preparat, kaca preparat dipanaskan dalam
pada hot plate selama setengah jam pada suhu 30C.

Hasil pengamatan yang dilakukan pada preparat semi-permanen, yaitu :


No.
1.

Dokumentasi
Tampak anterior :

Uraian
a. Bibir set off
b. Terdapat stilet yang cukup tebal

c. Stilet berbentuk stomatostilet


b

d. Anulasi halus
e. Bentuk ekor rounded
Klasifikasi nematoda yang ditemukan:

Tampak posterior :
e

Kingdom

: Animalia

Phylum

: Nematoda

Class

: Secernentea

Subclass

: Diplogasteria

Ordo

: Tylenchida

Famili

: Pratylenchidae

Genus

: Radopholus

2.

Tampak anterior :

a. Bibir set off


b. Terdapat stilet yang cukup kuat
c. Stilet berbetuk stomatostilet
d. Anulasi halus
e. Overlapping ke arah ventral
a
b,c

f. Bentuk ekor rounded

e
d

Tampak posterior :
f

Klasifikasi nematoda yang ditemukan:


Kingdom

: Animalia

Phylum

: Nematoda

Class

: Secernentea

Subclass

: Diplogasteria

Ordo

: Tylenchida

Famili

: Pratylenchidae

Genus

: Radopholus

4. KESIMPULAN
Didapatkan kesimpulan yakni penggunaan preparat permanen mendapatkan hasil
yang baik (mudah untuk diidentifikasi dan gambar nampak jelas). Akan tetapi hingga
saat ini preparat permanen belum diketahui jangka waktu penyimpanannya. Sedangkan
pada praktikum penggunaan preparat semi-permanen memiliki kelebihan mudah dalam
pembuatannya dan realtif singkat dalam pengerjaannya. Hanya saja tidak dapat bertahan
lama dalam penyimpanan (cepat rusak). Dari hasil identifikasi nematoda saat praktikum,
didapat nematoda dari genus Radopholus. Hal ini karena kenampakan morfologinya
hampir menyerupai morfologi dari genus tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Huang, C. S. Bittencourt, C. Silva Mota E. F. S. 1984. Preparing Nematode Permanent
Mounts with Adhesive Tapes. Journal of Nematology 16 (3): 341-342.
van Bezooijen, J. 2006. Method and Techniques for Nematology (revised version).
Ravichandra, N. G. 2014. Horticultural Nematology. DOI: 10.1007/978-81-322-1841-8