Anda di halaman 1dari 116

LAPORAN SEVEN JUMP

SKENARIO KASUS 1 DENGAN GANGGUAN


PADA SISTEM REPRODUKSI : VAGINITIS

Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sistem Reproduksi


Dosen Pengampu : Ns. Dewi Erna Melisa, M.Kep

Disusun oleh :
Kelompok A
Siti Kholifah
(213.C.0003)
Yuhana
(213.C.0005)
Soni Riyadi
(213.C.0007)
Annisa Juliarni
(213.C.0009)
Sri Rahayu
(213.C.0011)
Devi Nur R
(213.C.0012)
Neneng Humairoh (213.C.0014)
Dicky Priadi S
(213.C.0016)
Maula Rizka S
(213.C.0017)
Enika Nurul I.K (213.C.0018)
Ady Hidayatullah (213.C.0023)
Khaedar Ali
(213.C.0030)
Chintya Intansari (213.C.0032)
Rivna Andrari L (213.C.0035)
Afif Ubaidillah (213.C.0037)
Nurtusliawati
(213.C.0041)
Fitria Dewi
(213.C.0046)
Nosa Defitha A (214.C.1037)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) MAHARDIKA
CIREBON
2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan dengan
judul Laporan Seven Jump Dengan Gangguan Pada Sistem Reproduksi:
Vaginitis. Laporan ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas Mata Kuliah
Sistem Reproduksi pada Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan (STIKes) Mahardika Cirebon.
Selama proses penyusunan laporan ini kami tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak yang berupa bimbingan, saran dan petunjuk baik berupa moril,
spiritual maupun materi yang berharga dalam mengatasi hambatan yang
ditemukan. Oleh karena itu, sebagai rasa syukur dengan kerendahan hati, kami
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Ibu Ns. Dewi Erna Melisa, M.Kep yang telah memberikan bimbingan dan
dorongan dalam penyusunan laporan ini sekaligus sebagai tutor Mata Kuliah
Sistem Reproduksi.
2. Orangtua kami yang tercinta serta saudara dan keluarga besar kami yang telah
memberikan motivasi/dorongan dan semangat, baik berupa moril maupun
materi lainnya.
3. Sahabat-sahabat kami di STIKes Mahardika, khususnya Program Studi Ilmu
Keperawatan yang telah membantu dalam penyusunan laporan ini.
Semoga Allah swt. membalas baik budi dari semua pihak yang telah
berpartisipasi membantu kami dalam menyusun laporan ini. Kami menyadari
bahwa laporan ini jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik serta
saran yang bersifat membangun untuk perbaikan penyusunan selanjutnya.
Kami berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Amiin
Wassalamualaikum wr.wb.
Cirebon, April 2016
Kelompok A

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ......................................................................................

Daftar Isi .................................................................................................

ii

Laporan Seven Jump ..............................................................................

Step 1 Kata Kunci ..................................................................................

Step 2 Pertanyaan Kasus .......................................................................

Step 3 Jawaban Kasus ...........................................................................

Step 4 Mind Mapping ............................................................................

25

Step 5 Learning Objektif .......................................................................

26

Step 6 Informasi Tambahan ..................................................................

27

Step 7 Pendahuluan ...............................................................................

28

Lampiran 1 Teori dan Analisis Kasus ....................................................

29

Lampiran 2 Jurnal ..................................................................................

106

Daftar Pustaka

ii

SEVEN JUMP

Mata kuliah

: Blok Sistem Reproduksi

Tingkat / semester

: 3 / VI

Hari / tanggal

: Sabtu, 16 April 2016

SKENARIO KASUS I

Seorang wanita berusia 37 tahun bekerja sebagai marketing produk


makanan bagian pasar tradisional datang ke Poli Kandungan sebuah RS di kota
Cirebon. Klien mengeluh sudah seminggu merasakan gatal-gatal di daerah vagina
dan sekitarnya, pada awalnya gatal-gatal itu terasa ketika klien sering melakukan
kegiatan fisik baik saat di rumah maupun di tempat kerja sehingga banyak
berkeringat. Gatal sangat mengganggu terutama pada malam hari. Kemudian
setelah tiga hari keluar keputihan yang lebih banyak dari biasanya, berbau amis
seperti susu basi. Klien mencoba minum dan cebok dengan ramuan tradisional
(daun sirih) tetapi tidak sembuh.
Sebelumnya pasien belum pernah menderita gatal-gatal seperti ini.
Menarche usia 13 tahun. Pola menstruasi 1 bulan sekali dengan lama 5-7 hari.
Tidak ada keluhan menjelang atau selama menstruasi. Klien memiliki anak 2
orang. Klien memakai alat kontrasepsi suntikan Depoprovera (3 bulan sekali).
Hasil pemeriksaan fisik diperoleh tingkat kesadaran kompos mentis. Vital
sign TD : 110/80 mmHg. Temp : 37,70C. Nadi : 80 x/menit. Resp : 28 x/menit.

A.

TUGAS MAHASISWA
1.

Setelah membaca dengan teliti skenario di atas mahasiswa membahas


kasus tersebut dengan kelompok, dipimpin oleh ketua dan sekretaris.

2.

Melakukan aktifitas pembelajaran individual di kelas dengan


menggunakan buku ajar, jurnal dan internet untuk mencari informasi
tambahan.

3.

Melakukan diskusi kelompok mandiri (tanpa dihadiri fasilitator) untuk


melakukan curah pendapat bebas antar anggota kelompok untuk
menganalisa informasi dalam menyelesaikan masalah.

4.

Berkonsultasi pada narasumber yang telah ditetapkan oleh fasilitator.

5.

Mengikuti kuliah khusus dalam kelas untuk masalah yang belum jelas
atau tidak ditemukan jawabannya untuk konsultasi masalah yang
belum jelas

6.

B.

Melakukan praktikum pemeriksaan fisik antenatal dan sadari.

PROSES PEMECAHAN MASALAH


Dalam diskusi kelompok mahasiswa diharapkan dapat memecahkan
problem yang terdapat dalam scenario dengan mengikuti 7 langkah
penyelesaian masalah di bawah ini:
1.

Klarifikasi istilah yang tidak jelas dalam skenario di atas, dan tentukan
kata / kalimat kunci skenario di atas.

2.

Identifikasi problem dasar skenario, dengan membuat beberapa


pertanyaan penting.

3.

Analisa problem-problem tersebut dengan menjawab pertanyaanpertanyaan di atas.

4.

Klarifikasikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

5.

Tentukan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai oleh mahasiswa atas


kasus di atas. Lahkah 1 sampai 5 dilakukan dalam diskusi tutorial
pertama dengan fasilitator.

6.

Cari informasi tambahan informasi tentang kasus di atas di luar


kelompok tatap muka; dilakukan dengan belajar mandiri.

7.

Laporkan hasil diskusi dan sintetis informasi-informasi yang baru


ditemukan; dilakukan dalam kelompok diskusi dengan fasilitator.

8.

Seminar; untuk kegiatan diskusi panel dan semua pakar duduk


bersama untuk memberikan penjelasan atas hal-hal yang belum jelas.

Penjelasan:
Bila dari hasil evaluasi laporan kelompok ternyata masih ada informasi
yang diperlukan untuk sampai pada kesimpilan akhir, maka proses 6 bisa
diulangi dan selanjutnya dilakukan lagi langkah 7.
Kedua langkah di atas bisa diulang-ulang di luar tutorial dan setelah
informasi dirasa cukup dilakukan langkah nomor 8.

STEP 1
KATA KUNCI

1.

Vagina : saluran muscular elastis mulai dari vestibulum sampai dengan


serviks. Terlentak antara kandung kemih, uretra dan rectum. Pada dinding
vagina terdapat otot polos dan epitel skuamosa. Keadaan dinding vagina
makin menebal sesuai dengan bertambahnya usia. Pada daerah vagina tidak
memiliki kelenjar, tetapi dilumasi oleh cairan serviks. Cairan vagina bersifat
asam dengan PH sekitar 4.5 sehingga berfungsi mencegah pertumbuhan
bakteri. Tingkat keasaman cairan vagina dipengaruhi oleh hormon estrogen.
Pada masa produktif seiring meningkatnya hormon estrogen cairan menjadi
lebih asam, tetapi pada masa sebelum pubertas dan menopause cairan
vagina menjadi basa. Vagina mempunyai tiga fungsi utama yaitu sebagai
tempat pengeluaran cairan atau darah menstruasi, tempat penyaluran sperma
pada saat berhubungan seks untuk masuk ke uterus dan merupakan tempat
jalan lahir, serta membantu mencegah infeksi karena suasana vagina yang
asam (Tarwoto, 2009).

2.

Menarche : haid pertama yang terjadi akibat proses sistem hormonal yang
kompleks. Setelah panca indra menerima rangsangan yang diteruskan ke
pusat dan di olah oleh hipotalamus, dilanjutkan dengan hipofisis melalui
sistem fortal dikeluarkan hormon gonatropik perangsang folikel dan
luteininzing hormon untuk merangsang indung telur. Hormon perangsang
folikel (FSH), merangsang folikel primordial yang di dalam perjalanannya
mengeluarkan hormon estrogen sehingga terjadi pertumbuhan dan
perkembangan seks sekunder, ini juga merupakan tanda-tanda remaja yang
mengalami pubertas (Ida Bagus, 2005).

3.

Gatal (Pruritus) : sensasi yang menimbulkan keinginan kuat untuk


melakukan penggarukan. Definisi ini bahkan telah diungkapkan oleh samuel
Hafenreffer sekitar 340 tahun yang lalu. Secara umum, pruritus adalah
gejala dari berbagai penyakit kulit, baik lesi primer maupun lesi sekunder,

meskipun ada pruritus yang ditimbulkan akibat faktor sistemik nonlesi kulit.
Pruritus yang tidak disertai kelainan kulit disebut pruritus esensial (pruritus
sine materia) (Juanda, dkk, 2007).

4.

Keputihan : cairan putih yang keluar dari liang senggama secara berlebihan
(Manuaba, 2009). Keputihan (Leukorea/flour albus/vaginal discharge
leukorea) merupakan cairan yang keluar dari vagina. Dalam keadaan biasa,
cairan ini tidak sampai keluar namun belum tentu bersifat patologis
(berbahaya). Keputihan artinya keluarnya cairan yang berlebihan dari alat
kelamin (vagina). Vagina memproduksi cairan untuk menjaga kelembapan,
membersihkan dari dalam, dan menjaga keasaman vagina karena banyak
mengandung bakteri menguntungkan. Selama keseimbangan bakteri yang
menguntungkan itu bagus, infeksi pada organ reproduksi wanita dapat
dicegah. Sebenarnya keputihan ada dua macam, yaitu keputihan normal dan
keputihan tidak normal (Koes Irianto, 2013). Keputihan normal yaitu
dengan merasakan adanya cairan yang lebih banyak dari biasanya.
Keputihan normal biasanya terjadi sebelum menstruasi atau setelah
menstruasi. Bisa juga terjadi pada masa subur, yaitu sekitar dua minggu
sebelum menstruasi. Keputihan normal terjadi karena perubahan hormon
estrogen dan hormon progesteron. Biasanya cairan yang keluar warnanya
bening, tidak lengket, tidak berbau, tidak gatal, dan biasanya tidak keluar
terus-menerus. Keputihan tidak normal yaitu keadaan patologis yang
terjadi karena infeksi bakteri, jamur, virus, atau mungkin karena proses
radang karena energi. Keputihan patologis ini gejalanya antara lain keluar
cairan banyak dan terus-menerus dari vagina. Cairan tidak jernih, berwarna
putih, kuning sampai kehijauan. Terasa gatal, berbau tidak enak sehingga
mengganggu aktivitas sehari-hari (Koes Irianto, 2013).

5.

Alat Kontrasepsi : upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan upaya itu


dapat bersifat sementara, dapat pula bersifat permanen. Penggunaan alat
kontrasepsi merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi fertilitas.
(Prawirohardjo, 2006).

6.

Suntikan Depoprovera : mengandung senyawa 6-alfa-medroxyprogesterone


yang digunakan sebagai kontrasepsi parenteral karena mempunyai efek
progesteron yang kuat dan sangat efektif. Depo provera adalah suatu sintesa
progesteron yang mempunyai efek seperti progesteron asli dari tubuh
wanita. Preparat ini dicoba pada tahun 1958 untuk mengobati abortus
habitualis dan endometriosis, ternyata pada pengobatan abortus habitualis
seringkali terjadi kemandulan setelah kehamilan berakhir. Sehingga obat
kontrasepsi suntik ini cukup manjur dan aman dalam pelayanan keluarga
berencana.11 Cara kerjanya dengan mencegah terjadinya ovulasi dengan
jalan menekan pembentukan releasing factor di hipotalamus, mengentalkan
lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma melalui
serviks uteri, dan menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi, serta
menghambat transportasi gamet pada tuba (A.Wulandari, 2014).

7.

Menstruasi : peluruh lapisan jaringan pada uterus yaitu endometrium


bersama dengan darah. Menstruasi diperkirakan terjadi setiap bulan selama
masa reproduksi, dimulai saat pubertas (menarche) dan berakhir saat
menopause kecuali saat kehamilan. Sebagai seorang perempuan pubertas
merupakan tanda alat reproduksi wanita muda mulai bekerja (Rosenblatt,
2007). Menstruasi yaitu perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus
yang disertai pelepasan endometrium pada saat ovum tidak dibuahi. Panjang
siklus menstruasi atau haid adalah jarak antara tanggal mulainya haid yang
lalu dan tanggal mulainya haid berikutnya dengan kisaran waktu sekitar 28
hari (Koes Irianto, 2013).

8.

Tingkat Kesadaran
Menurut Koes Irianto (2013), untuk mengetahui tingkat kesadaran
seorang klien yaitu dengan cara Glasgow Coma Scale (GCS). Cara ini
didasarkan pada penilaian terhadap tiga aspek, yaitu respon mata, verbal dan
motorik yang masing-masing mempunyai nilai tertentu. Nilai terburuk
adalah 3, sedangkan yang terbaik adalah 15. Nilai kurang atau sama dengan
7 disebut coma.

Respon
Respon Membuka Mata
1. Spontan membuka mata
2. Membuka mata bila mendengar suara
3. Membuka mata dengan sensasi nyeri
4. Tidak membuka mata terhadap semua rangsangan
Respon Verbal
1. Orientasi baik
2. Bingung (bisa membentuk kalimat tetapi arti kacau)
3. Mengerti, bisa menyusun kata tetapi tidak dapat
mengucapkan kata atau kalimat
4. Bisa mengeluarkan kata yang tidak mempunyai arti
5. Tidak dapat mengeluarkan kata-kata dan pengertian tidak
ada
Respon Motorik
1. Menurut perintah
2. Dapat melokalisir rangsangan sensorik di kulit
3. Menolak rangsangan nyeri pada anggota gerak bawah
(withdrawal)
4. Menjauhi rangsangan nyeri (fleksi)
5. Ekstensi spontan
6. Tidak ada gerakan

Nilai
4
3
2
1
5
4
3
2
1

6
5
4
3
2
1

STEP 2
PERTANYAAN KASUS

1.

Apakah yang terjadi pada kasus tersebut?

2.

Apakah pola menstruasi berpengaruh terhadap kasus tersebut?

3.

Seberapa efektifkah daun sirih pada kasus tersebut?

4.

Apakah alat kontrasepsi suntikan Depo Provera berpengaruh terhadap kasus


tersebut?

5.

Apa saja penatalaksanaan kasus tersebut?

6.

Pemeriksaan fisik apa yang dikaji? Pemeriksaan penunjang apakah yang


dilakukan? Serta diagnosa keperawatan apa saja yang mungkin muncul?

7.

Apakah Menarche pada usia 13 tahun berpengaruh terhadap kasus tersebut?

8.

Pendidikan kesehatan apakah yang diberikan kepada klien?

9.

Apakah ada kaitan dengan riwayat kesehatan keluarga terhadap kasus


tersebut?

10.

Apa tanda dan gejala lain secara teori yang belum ada pada kasus tersebut?

11.

Bagaimana proses terjadinya keputihan?

12.

Bagaimanakah klien dalam menjaga kebersihan organ intimnya?

13.

Apakah pola menstruasi 5-7 minggu di kasus tersebut normal?

14.

Apakah gangguan tersebut bisa menular kepada orang lain?

STEP 3
JAWABAN KASUS

1.

Seorang wanita berusia 37 tahun mengalami Vaginitis. Vaginitis adalah


inflamasi vagina yang dicirikan oleh perubahan sekresi cairan vagina, yang
dapat banyak, berbau dan purulen, dan dapat diikuti oleh disuria dan
perdarahan vagina. Sering terdapat gatal pada vulva, dan klien umumnya
mengeluhkan ketidaknyamanan saat berkemih juga dispareunia (Black &
Hawks, 2004). Vaginitis didefinisikan sebagai spektum kondisi yang
menyebabkan vagina dan gejala kadang-kadang vulva seperti gatal,
terbakar, iritasi, bau, dan keputihan. Keluhan vulvovaginal adalah salah satu
yang paling umum alasan bagi perempuan untuk mencari saran medis
(Barry L, et, al, 2011).

2.

Tidak berpengaruh. Menstruasi disertai ovulasi terjadi selang beberapa


bulan sampai 2-3 tahun setelah menarche yang berlangsung sekitar umur
17-18 tahun. Dengan memperhatikan komponen yang mengatur menstruasi
dapat dikemungkakan bahwa setiap penyimpangan system akan terjadi
penyimpangan pada patrum umun menstruasi. Pada umumnya menstruasi
akan berlangsung setiap 28 hari selama 7 hari. Lama perdarahannya sekitas
3-5 hari dengan jumlah darah yang hilang sekitar 30-40 cc. Puncak
pendarahannya hari ke-2 atau 3 hal ini dapat dilihat dari jumlah pemakaian
pembalut sekitar 2-3 buah. Diikuti fase proliferasi sekitar 6-8 hari (Manuaba
dkk, 2006 dalam D Roza, 2011 ). Pada setiap wanita, siklus menstruasi
adalah berbeda-beda yaitu sekitar 25 hingga 35 hari. Namun, terdapat
beberapa wanita yang tidak memiliki siklus haid teratur dan hal ini bisa
terjadi karena adanya masalah kesuburan. Siklus menstruasi bisa dihitung
dari hari perdarahan bermula yang disebut sebagai hari pertama hingga satu
hari sebelum perdarahan menstruasi pada bulan berikunya yang disebut
dengan hari terakhir (Biohealth Indonesia, 2007).

3.

Bagi penderita keputihan, kesan dari luar memang tidak terlihat, tetapi hal
ini akan mengganggu penampilan dan secara tidak sadar akan menurunkan
rasa percaya diri. Pemberian air rebusan daun sirih untuk membasuh vagina

dapat mengurangi keputihan fisiologis. Daun sirih mengandung minyak


atsiri yang terdiri dari betlephenol, kavikol, seskuiterpan, hidroksikavikol,
cavibetol, estragol, eugenol, dan karvakol (Wayan et al, 2014). Penggunaan
daun sirih pada kasus ini efektif karena dapat mengurangi kadar keputihan
dan rasa gatal dan juga bau yang diakibatkan dari keputihan. Membersihkan
area vagina (cebok) dengan ekstrak daun sirih sebagai anti bakteri dan
mampu membantu mencegah keputihan, karena daun sirih (piper betle)
mengandung zat aktif yang berefek merangsang saraf pusat, merangsang
daya pikir, merangsang kejang, meningkatkan gerak peristaltik, serta
meredakan sifat mendengkur. Daun sirih (piper betle) memiliki efek
mengurangi sekresi cairan pada liang vagina, mematikan jamur candida
albicans (Agoes, 2010). Daun sirih (piper betle) secara umum telah dikenal
masyarakat sebagai bahan obat tradisional, seperti halnya antibiotika.
Euganol yang merupakan turunan dari fenol senyawa minyak atsiri bersifat
antifungal dengan menghambat pertumbuhan yeast (sel tunas) dari
C.Albicans dengan cara merubah struktur dan menghambat pertumbuhan
dinding sel sehingga menyebabkan gangguan fungsi dinding sel dan
peningkatan permeabilitas membran terhadap benda asing dan seterusnya
menyebabkan kematian sel (haviva, 2011). Upaya pengobatan secara
farmakologi dilakukan dengan menggunakan obat-obat antifungi seperti
senyawa-senyawa golongan alilamin, azol, polien dan antifolat (Santosa &
purwantini, 2003).
4.

Kontrasepsi adalah suatu cara untuk mencegah terjadinya kehamilan sebagai


akibat pertemuan antara sel telur dengan sperma dan upaya untuk
membatasi jarak kelahiran anak. Upaya itu dapat bersifat sementara, dapat
pula bersifat permanen. Penggunaan kontrasepsi merupakan salah satu
variabel yang mempengaruhi fertilitas (A.Wulandari, 2014). Dari sekian
banyak alat kontrasepsi yang beredar di Indonesia yang paling populer
adalah kontrasepsi suntik. Kontrasepsi suntik merupakan kontrasepsi yang
berupa cairan yang berisikan hormon progesterone ataupun kombinasi
estrogen dan progesterone yang disuntikkan dalam tubuh wanita secara
periodik (A.Wulandari, 2014). Sediaan kontrasepsi suntik kombinasi ada

10

beberapa macam antara lain : Depo Medroksi Progesteron Asetat (Depo


Provera) 25 mg, Estradiol Sipionat (cyclofem) 5 mg dan Noretindron
Enantat 50 mg, serta Estradiol Valerat 5 mg yang diberikan injeksi
intramuscular (IM) di m.gluteus sebulan sekali. Kontrasepsi Depo Provera
150 mg setiap 3 bulan dan Noretisteron Enantat (Depo Noristerat) 200 mg
setiap 2 bulan. Semua sediaan tersebut merupakan kontrasepsi progestin
yang telah digunakan secara efektif diseluruh dunia selama bertahun-tahun.
Tingginya peminat kontrasepsi suntik progestin karena sangat efektif, aman,
sederhana, dan dapat dipakai oleh semua perempuan dalam usia reproduksi,
kembalinya kesuburan lebih lambat yakni rata-rata 4 bulan, cocok untuk
masa laktasi karena tidak menekan produksi ASI (A.wulandari, 2014). Depo
provera mengandung senyawa 6-alfa-medroxyprogesterone yang digunakan
sebagai kontrasepsi parenteral karena mempunyai efek progesteron yang
kuat dan sangat efektif. Depo provera adalah suatu sintesa progesteron yang
mempunyai efek seperti progesteron asli dari tubuh wanita. Preparat ini
dicoba pada tahun 1958 untuk mengobati abortus habitualis dan
endometriosis, ternyata pada pengobatan abortus habitualis seringkali terjadi
kemandulan setelah kehamilan berakhir. Sehingga obat kontrasepsi suntik
ini cukup manjur dan aman dalam pelayanan keluarga berencana.Ada 11
cara kerjanya dengan mencegah terjadinya ovulasi dengan jalan menekan
pembentukan releasing factor di hipotalamus, mengentalkan lendir serviks
sehingga menurunkan kemampuan penetrasi sperma melalui serviks uteri,
dan menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi, serta menghambat
transportasi gamet pada tuba (A.Wulandari, 2014).
Kelebihan dan kekurangan kontrasepsi suntik depo provera :
a.

Kelebihan Suntik Depo Provera


Kelebihan pemakaian kontrasepsi suntik depo provera antara lain :
mencegah kehamilan jangka panjang, membantu mencegah kanker
endometrium dan kehamilan ektopik, dapat pula menurunkan kejadian
tumor payudara dan krisis anemia bulan sabit (sickle cell). Selain itu,
membuat produksi ASI bertambah karena progesteron menyebabkan
peningkatan protein dan lactose sehingga merangsang laktasi.,

11

kontrasepsi ini dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun


sampai perimenopause dan cukup menyenangkan bagi akseptor
karena diinjeksikan hanya 4x setahun (A.Wulandari, 2014).
b.

Kekurangan Suntik Depo Provera


Kekurangan pemakaian kontrasepsi suntik depo provera antara lain :
pemakai kontrasepsi menjadi sangat bergantung pada tempat
pelayanan kesehatan. Sering pula ditemukan gangguan haid, seperti :
siklus haid yang memendek atau memanjang, perdarahan yang banyak
atau sedikit, perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)
hal ini terjadi karena kontrasepsi ini menggangu perubahan histologi
endometrium dari fase proliferasi sampai atrofi dari endometrium.
Keluarnya keputihan dari vagina yang disebabkan oleh progesteron
merubah flora dan pH vagina, sehingga jamur mudah tumbuh di
dalam vagina dan menimbulkan keputihan. Selain itu tidak dapat
dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya apabila
peserta kontrasepsi ingin mengganti dengan kontrasepsi jenis lain.
Terlambatnya kembali kesuburan setelah pemakaian dihentikan
karena belum habisnya efek pelepasan obat tersebut dari deponya
(tempat suntikan). Timbulnya jerawat disebabkan oleh hormon
progestin terutama 19-Norpogestine menyebabkan peningkatan kadar
lemak. Serta permasalahan berat badan merupakan efek samping
tersering pada pemakai kontrasepsi depo provera. Sedangkan pada
penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan kepadatan
tulang, menurunkan libido, sakit kepala, dan nervositas (A.Wulandari,
2014).

Indikasi dan kontraindikasi kontrasepsi suntik depo provera yaitu:


a.

Indikasi
Kontrasepsi suntik depo provera dianjurkan pada nulipara yang telah
memiliki anak dan menghendaki kontrasepsi jangka panjang yang
memiliki efektivitas tinggi, bisa digunakan untuk ibu menyusui dan
membutuhkan kontrasepsi yang sesuai. Kontrasepsi ini dapat

12

digunakan pada wanita yang telah memiliki banyak anak, tetapi belum
menghendaki tubektomi, juga pada wanita yang memiliki tekanan
darah <180/110 mmHg dengan masalah gangguan pembekuan darah
atau anemia bulan sabit, atau wanita yang mengalami abortus atau
keguguran dan menggunakan obat untuk epilepsi (fenitoin dan
barbiturat)

atau

obat

tuberkulosis

(rifampisin).

Penggunaan

kontrasepsi suntik depo provera sangat baik untuk wanita yang sering
lupa menggunakan pil kontrasepsi, serta yang mendekati usia
menopause yang tidak mau dan tidak boleh menggunakan pil
kontrasepsi kombinasi.17 Sedangkan waktu yang tepat untuk
pemberian kontrasepsi suntik depo provera adalah pada ibu yang tidak
haid atau ibu dengan perdarahan tidak teratur. Pada suntikan pertama
dapat diberikan setiap saat asalkan dapat dipastikan ibu tersebut tidak
hamil dan tidak boleh melakukan hubungan seksual selama 7 hari
setelah suntikan (A.Wulandari, 2014).
b.

Kontraindikasi
Kontraindikasi pada pemakai kontrasepsi suntik depo provera yakni :
pada wanita hamil atau dicurigai hamil (resiko cacat pada janin 7 per
100.000 11 kelahiran) atau yang mengalami perdarahan pervaginam
yang belum jelas penyebabnya, dan menderita kanker payudara atau
yang memiliki riwayat kanker payudara, serta mempunyai penyakit
Diabetes Mellitus yang disertai komplikasi (A.Wulandari, 2014).

5.

Penatalaksanaan Farmakologi
Diliat dari jenis infeksinya yaitu:
a.

Jamur

Miconazole, clotrimazole, atau terconazole (krim, tablet vagina


atau supositoria).

b.

Fluconazole atau ketoonazole (tablet).

Bakteri
Metronidazole atau clindamycin (tablet vagina). Jika penyebabnya
gonokokus biasanya diberikan suntikan ceffriaxon dan tablet
doxicylin.

13

c.

Klamidia
Doxicylin atau ozithromycin (tablet).

d.

Trikomonas
Metronidazole (tablet).

e.

Virus papiloma manusia (kulit genitalis)


Asam triklorasetat (dioleskan ke kutil), untuk infeksi yang berat
digunakan larutan nitrogen atau fluorouracil (dioleskan dikutil).

f.

Virus herpes
Acyclovir (tablet atau salep).

6.

Pemeriksaan Fisik
a.

Pemeriksaan bagian luar


1)

Inspeksi

Rambut

pubis:

distribusi,

bandingkan

sesuai

usia

perkembangan klien.

Kulit dan area pubis: apaka terdapat lesi, eritema, Visura


leokoplakia dan eksoria.

Labia mayora, minora, klitoris, meatus uretra terhadap


perkembangan ulkus, keluaran dan nodul.

2)

Pemeriksaan bagian dalam


a)

Inspeksi
Serviks : ukuran, laserasi, erosi, nodula, massa, keluaran
dan warna.

b)

Palpasi

Raba dinding vagina, apakah ada nyeri tekan dan


nodula.

serviks: posisi, ukuran, konsistensi, regularitas,


mobilitas dan nyeri tekan.

Uterus: ukuran, bentuk, konsistensi dan mobilitas.

ovarium: ukuran, mobilitas, bentuk, konsistensi dan


nyeri tekan.

14

Diagnosa Keperawatan yang muncul:


a.

Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit dengan


batasan karakteristik gatal-gatal, rasa ketidaknyamanan & iritasi

b.

Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (peradangan)

c.

Gangguan pola nafas berhubungan dengan kecemasan, nyeri

d.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan lesi, iritasi

e.

Gangguan citra diri berhubungan dengan disfungsi seksual

f.

Disfungsi seksual berhubungan dengan ketidaknyamanan saat


melakukan hubungan seksual

g.

Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, perubahan pada status


kesehatan

h.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

i.

Nyeri akut berhubungan dengan lesi, eritema, tekanan pada urat saraf

j.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan faktor biologi

k.

Inkontinensia urin berhubungan dengan penekanan pada kandung


kemih & urat saraf

7.

Tidak berpengaruh, karena Menarche pada usia 13 tahun adalah normal


(Tarwoto, 2009).

8.

Menurut Indrawati Koes (2013) dalam kasus tersebut hal-hal yang perlu
diberikan dalam isi pendidikan kesehatan pada klien antara lain:
a.

Hindari bathub dan pusaran air panas SPA. Bilas sabun diluar area
genital setelah mandi, dan keringkan area itu dengan baik untuk
mencegah iritasi. Jangan gunakan sabun wangi atau kasar, seperti
deodoran.

b.

Hindari iritasi dengan tidak menggaruk daerah gatal.

c.

Usap dari depan ke belakang setelah menggunakan toilet. Hindari


penyebaran bakteri dari tinja ke vagina.

d.

Jangan menggunakan douche, karena vagina tidak memerlukan


pembersihan lain dari mandi biasa. Berulang menggunakan douce

15

akan mengganggu organisme normal yang berada di vagina dan dapat


benar-benar meningkatkan resiko infeksi vagina. Douche tidak
menghilangkan sebuah infeksi vagina.
e.

Gunakan kondom lateks laki-laki, ini membantu mencegah infeksi


yang ditularkan melalui hubungan seksual.

f.

Gantilah celana dalam sehari 2 kali untuk menjaga kebersihan.

Cara menjaga organ reproduksi selama menstruasi:


a.

Memilih pembalut yang cocok, yang mampu menyerap banyak darah


yang keluar.

b.

Sering mengganti pembalut minimal 2 kali sehari, namun paling


banyak 4 kali sehari.

c.

Makan makanan yang bergizi dan seimbang.

d.

Mencuci tangan sebelum dan sesudah mengganti pembalut.

e.

Tetap mandi dan keramas saat menstruasi

Cara menjaga kebersihan organ reproduksi perempuan:


a.

Bersihkan alat kelamin dan sekitarnya paling sedikit setiap setelah


buang air besar, buang air kecil, dan pada saat mandi.

b.

Sebelum membersihkan alat kelamin, bersihkan lebih dahulu anus dan


sekitarnya dengan sabun, kemudian bilas bersih dengan air. Lakukan
membersihkan anus dengan gerakan ke arah belakang, agar kotoran
dari anus tidak terbawa ke depan ke arah alat kelamin.

c.

Kemudian, cuci tangan dengan sabun sampai bersih, telapak dan


punggung tangan, sela-sela jari dan kuku, lalu bilas bersih dengan air.

d.

Setelah itu barulah bersihkan alat kelamin dengan sabun. Bersihkan


semua bagian alat kelamin sampai keseluruh lipatan/lekuk sehingga
tidak ada kotoran yang tertinggal.

e.

Cara membersihkannya: Sabunlah semua bagian luar yang berambut,


dan semua bagian, sampai ke lipatan/lekuk dari arah depan, baru
siram/bilas dengan air bersih juga dari arah depan ke belakang.
Kemudian keringkan dengan tissue atau handuk kering yang bersih,
dengan cara menekan, jangan menggosok.

Jangan mengeringkan

dengan menggerakkan handuk atau tissue maju-mundur, karena

16

gerakan tersebut akan menyebabkan handuk atau tissue yang sudah


mengenai anus akan mengenai alat kelamin.
f.

Pada saat haid dinding bagian dalam rahim terlepas sehingga amat
mudah terkena infeksi, oleh karenanya sangat perlu menjaga
kebersihan dengan cara:

a.

Gunakan pembalut bersih dan ganti secara teratur 2-3 kali dalam
sehari atau setiap setelah buang air kecil, atau bila pembalut telah
penuh darah, atau saat mandi.

b.

Bila pembalut yang digunakan adalah pembalut sekali pakai, maka


bersihkan/ bilas terlebih dahulu pembalut dengan menggunakan air,
bungkus kemudian buanglah di tempat sampah.

c.

Bila pembalut digunakan berkali-kali (biasanya terbuat dari bahan


handuk tau katun) segeralah cuci bersih begitu selesai digunakan dan
jemur hingga benar-benar kering, kemudian setrika untuk mematikan
kuman, dan siap untuk digunakan kembali (Depkes RI, 2012).

9.

Kemungkinan besar riwayat penyakit keluarga yang memiliki riwayat sama


tidak menjadi faktor resiko terjadinya vaginitis, karena menurut Barry L
Hainer (2011) etiologi dari Vaginitis sebagian besar disebabkan karena
infeksi bakteri dan jamur seperti

Gardnerella vaginalis, Mycoplasma

hominis, Anaerobic bacteria: Prevotella species, Mobiluncus species,


Candida albicans, Candida krusei, Candida glabrata dan Trichomonas
vaginalis (Barry L et al, 2011).

10.

Menurut Barry L Hainer (2011) selain gatal-gatal, tanda dan gejala dari
Vaginitis antara lain:
a.

Adanya kemerahan pada daerah kelamin

b.

Adanya cairan yang keluar dari vagina yang berbau busuk dan
warnanya beragam.

c.

Nyeri saat berkemih.

17

11.

Greer, Cameron dan Mangowan (2003) mengemukakan bahwa di dalam


vagina terdapat berbagai bakteri, 95% adalah bakteri lactobacillus dan
selebihnya bakteri patogen (bakteri yang menyebabkan penyakit). Dalam
keadaan ekosistem vagina yang seimbang, bakteri patogen tidak akan
mengganggu. Peran penting dari bakteri dalam flora normal vagina adalah
untuk menjaga derajat keasaman (pH) agar tetap pada level normal. Dengan
tingkat keasaman tersebut, lactobacillus akan tumbuh subur dan bakteri
patogen akan mati. Pada kondisi tertentu, pH bisa berubah menjadi lebih
tinggi atau lebih rendah dari normal. Jika pH wanita naik menjadi 4,2
(kurang asam), maka jamur akan tumbuh dan berkembang. Akibatnya
lactobacillus akan kalah dari bakteri patogen. Meskipun banyak variasi
warna, konsistensi, dan jumlah dari sekret vagina bisa dikatakan suatu yang
normal, tetapi perubahan itu selalu diinterpretasikan penderita sebagai suatu
infeksi, khususnya disebabkan oleh jamur. Beberapa perempuan pun
mempunyai sekret vagina yang banyak sekali. Dalam kondisi normal, cairan
yang keluar dari vagina mengandung sekret vagina, sel-sel vagina yang
terlepas dan mukus serviks, yang akan bervariasi karena umur, siklus
menstruasi, kehamilan, dan atau penggunaan pil KB (Greer et al, 2003).
Lingkungan vagina yang normal ditandai adanya suatu hubungan yang
dinamis antara lactobacillus acidophilus dengan flora endogen lain,
estrogen,

glikogen, dan hasil metabolit lain. lactobacillus acidophilus

menghasilkan endogen peroksida yang toksik terhadap bakteri patogen.


Karena aksi dari

estrogen pada epitel vagina, produksi glikogen,

lactobacillus (Doderlein) dan produksi asam laktat yang menghasilkan pH


vagina yang rendah sampai 3,8-4,5 dan pada level ini dapat menghambat
pertumbuhan bakteri lain (Greer et al, 2003). Kandidiasis vaginalis
merupakan infeksi vagina yang disebabkan oleh candida sp. terutama C.
albicans. Infeksi Candida terjadi karena perubahan kondisi vagina. Sel ragi
akan berkompetisi dengan flora normal sehingga terjadi kandidiasis. Hal-hal
yang mempermudah pertumbuhan ragi adalah penggunaan antibiotik yang
berspektrum luas, penggunaan kontrasepsi, kadar estrogen yang tinggi,
kehamilan, diabetes yang tidak terkontrol, pemakaian

18

pakaian ketat,

pasangan seksual baru dan frekuensi seksual yang tinggi (Greer et al, 2003).
Perubahan lingkungan vagina seperti peningkatan produksi glikogen saat
kehamilan atau peningkatan hormon esterogen dan progesteron karena
kontrasepsi oral menyebabkan perlekatan candida albicans pada sel epitel
vagina dan merupakan media bagi pertumbuhan jamur. candida albicans
berkembang dengan baik pada lingkungan pH 5-6,5. Perubahan ini bisa
asimtomatis atau sampai menimbulkan gejala infeksi. Penggunaan obat
immunosupresan juga menjadi faktor predisposisi kandidiasis vaginalis
(Greer et al, 2003). Pada penderita dengan Trikomoniasis, perubahan kadar
estrogen dan progesteron menyebabkan peningkatan pH vagina dan kadar
glikogen sehingga berpotensi bagi pertumbuhan dan virulensi dari
trichomonas vaginalis. Vaginitis sering disebabkan karena flora normal
vagina berubah karena pengaruh bakteri patogen atau adanya perubahan dari
lingkungan vagina sehingga bakteri patogen itu mengalami proliferasi.
Antibiotik kontrasepsi, hubungan seksual, stres dan hormon dapat merubah
lingkungan vagina tersebut dan memacu pertumbuhan bakteri pathogen
(Greer et al, 2003). Pada vaginosis bakterial, diyakini bahwa faktor-faktor
itu dapat menurunkan jumlah hidrogen peroksida yang dihasilkan oleh
lactobacillus acidophilus sehingga terjadi perubahan pH dan memacu
pertumbuhan gardnerella vaginalis, mycoplasma hominis dan mobiluncus
yang normalnya dapat dihambat. Organisme ini menghasilkan produk
metabolit misalnya amin, yang menaikkan pH vagina dan menyebabkan
pelepasan sel-sel vagina. Amin juga merupakan penyebab timbulnya bau
pada fluor albus pada vaginosis bacterial (Greer et al, 2003). Fluor albus
mungkin juga didapati pada perempuan yang menderita tuberculosis,
anemia, menstruasi, infestasi cacing yang berulang, juga pada perempuan
dengan keadaan umum yang jelek, higiene yang buruk dan pada perempuan
yang sering menggunakan pembersih vagina, disinfektan yang kuat (Greer
et al, 2003).

19

12.

Dalam kasus tersebut dapat di klasifikasikan beberapa penyebab terjadinya


gatal-gatal dan keluar cairan putih pada vagina yaitu diantaranya faktor
eksogen (berasal dari luar tubuh) sebagai berikut:
a.

Infeksi yang meliputi infeksi jamur, bakteri, parasit dan virus seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya.

b.

Non-infeksi yang meliputi masuknya benda asing ke vagina baik


sengaja maupun tidak, perilaku cebok kurang tepat dan tidak bersih,
daerah sekitar kemaluan lembab, stres dan kelainan endokrin atau
hormon.
1)

Benda Asing : Vagina bagaikan lorong terbuka yang


memungkinkan masuknya benda asing ke dalam tubuh. Sisa
pembalut, kapas atau mungkin kondom adalah benda-benda
asing yang bisa tertinggal di dalam vagina dan menyebabkan
terjadinya keputihan. Pada anak perempuan mungkin bisa
kemasukkan biji kacang, kancing, peniti yang setelah lama
tertanam di dalam vagina akan membusuk dan menyebabkan
keputihan (Kinasih, 2012). Benda-benda yang dimasukkan
secara sengaja atau tidak sengaja ke dalam vagina seperti
tampon, obat atau alat kontrasepsi, rambut kemaluan, benang
yang

berasal

dari

selimut,

celana

dan

lainnya

dapat

menyebabkan keputihan (Suryana, 2009). Masuknya benda


asing ke vagina baik sengaja maupun tidak yang dapat melukai
epitel vagina misal tampon kondom dan benang AKDR
(Sabardi, 2009).
2)

Cebok atau cara membersihkan vagina kurang tepat : alat


reproduksi dapat terkena sejenis jamur atau kutu yang dapat
menyebabkan rasa gatal atau tidak nyaman apabila tidak dirawat
kebersihannya. Gerakan cara membersihkan adalah dari daerah
vagina ke arah anus untuk mencegah kotoran dari anus masuk
ke vagina (Kusmiran, 2012). Membersihkan vagina perlu
menggunakan trik yang khusus agar kuman yang ada di bagian
belakang dekat anus tidak pindah ke bagian depan. Akan lebih

20

baik jika membersihkan vagina dari bagian depan ke bagian


belakang. Jangan melakukan berulangulang, karena tetap saja
kuman dapat berpindah (Soebachman & Kissantie, 2012). Untuk
membersihkan vagina dengan air, sebaiknya dilakukan dengan
menggunakan shower toilet. Cara membersihkan vagina dengan
shower toilet adalah dengan menyemprot permukaan luar vagina
pelan-pelan dan menggosoknya dengan tangan. Membilas
vagina dengan cairan khusus boleh saja, tapi tidak dianjurkan,
asal jangan terlalu sering dan pilih yang tanpa parfum dengan
pH-nya netral agar tidak mempengaruhi pH vagina (Suryana,
2009).
3)

Area vagina yang lembab : kondisi vagina yang lembab dapat


terjadi ketika setelah buang air kecil, daerah kemaluan tidak
dikeringkan sehingga celana dalamnya basah dan menimbulkan
kelembaban di sekitarnya (Sabardi, 2009). Lingkungan sekitar
vagina yang lembab bisa menyebabkan bakteri dan jamur yang
ada tumbuh dengan pesat, karena kondisi ini merupakan
lingkungan yang ideal bagi jamur dan bakteri untuk berkembang
biak. jika hal ini terus menerus dibiarkan, bisa menyebabkan
infeksi (Ilahi, 2012). Tinggal di daerah tropis yang panas
membuat kita sering berkeringat. Keringat ini membuat tubuh
kita lembab, terutama organ seksual dan reproduksi yang
tertutup dan berlipat. Akibatnya bakteri mudah berkembang biak
dan ekosistem di vagina terganggu sehingga menimbulkan bau
tak sedap serta infeksi (keputihan) (Kinasih, 2012). Celana
dalam ikut menentukan kesehatan organ intim. Bahan yang
paling baik dari katun, karena dapat menyerap keringat dengan
sempurna. Celana dari bahan satin ataupun bahan sintetik
lainnya, justru menyebabkan organ intim menjadi panas dan
lembab. Bahan pakaian luar pun perlu diperhatikan seorang
wanita. Bahan dari jeans memiliki pori-pori yang sangat rapat,
sehingga tidak memungkinkan udara untuk mengalir secara 40

21

leluasa. Kondisi yang lembab dan basah bisa menjadi tempat


pertumbuhan jamur dan kuman yang dapat menimbulkan
keputihan (Pribakti, 2010). Jamur tumbuh subur pada keadaan
yang hangat dan lembab. Celana dalam yang terbuat dari nilon
tidak

dapat

menyerap

keringat

sehingga

menyebabkan

kelembaban. Campuran keringat dan sekresi alamiah vagina


sendiri mulai bertimbun, sehingga membuat selangkangan terasa
panas dan lembab. Keadaan ini menjadi tempat yang cocok
untuk pertumbuhan jamur candida dan bakteri lain yang
merugikan (Clayton, 2005).
4)

Kondisi Stres : kondisi tubuh yang selalu tegang, cemas,


kelelahan dan kurang istirahat dapat menimbulkan keputihan
(Sabardi, 2009). Semua organ tubuh kinerjanya dipengaruhi dan
dikontrol oleh otak, maka ketika reseptor otak mengalami
kondisi stres, hal ini dapat menyebabkan terjadinya perubahan
dan keseimbangan hormon-hormon dalam tubuh dan hal ini
dapat menimbulkan terjadinya keputihan (Suparyanto, 2010).
Stres merupakan respon tubuh yang tidak spesifik terhadap
setiap kebutuhan tubuh yang terganggu, suatu fenomena
universal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan tidak
dapat dihindari, setiap orang mengalaminya, stres memberi
dampak secara total 41 pada individu yang meliputi fisik,
psikologis, intelektual, sosial dan spiritual, stres dapat
mengancam keseimbangan fisiologis. Stres dapat berpengaruh
terhadap dinamika regulasi hormonal yang berdampak terhadap
perubahan fungsi fisiologis sistem tubuh. Salah satunya adalah
sistem reproduksi. Tanda-tanda dan gejala stres diantaranya
adalah adanya peningkatan denyut jantung atau berdebar-debar,
kekakuan otot terutama dibagian leher dan bahu, sulit tidur
(insomnia), menurunnya konsentrasi atau suka lupa, makan
terlalu banyak atau sedikit, mudah tersinggung dan marah,
bertindak agresif dan defensive, otot-otot tegang, selalu merasa

22

lelah, sakit kepala, perut, dan diare (Selye, 1956; Davis, et al,
1989; Kozier, et al, 1989 dalam Rasmun, 2009).
5)

Gangguan hormonal : keputihan terjadi akibat perubahan


hormon estrogen. Biasanya terjadi pada masa peralihan antara
masa pubertas dan menjelang menopause (setelah masa subur
atau reproduktif) (Susmeiati, 2009).

13.

Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara hipotalamus,


hipofisis, dan ovarium dengan perubahan-perubahan terkait pada jaringan
sasaran pada saluran reproduksi normal, ovarium memainkan peranan
penting dalam proses ini, karena tampaknya bertanggung jawab dalam
pengaturan perubahan-perubahan siklik maupun lama siklus menstruasi
(Bobak, 2004 dalam D Roza, 2011). Menstruasi disertai ovulasi terjadi
selang beberapa bulan sampai 2-3 tahun setelah menarche yang berlangsung
sekitar umur 17-18 tahun. Dengan memperhatikan komponen yang
mengatur menstruasi dapat dikemungkakan bahwa setiap penyimpangan
system akan terjadi penyimpangan pada patrum umun menstruasi. Pada
umumnya menstruasi akan berlangsung setiap 28 hari selama 7 hari. Lama
perdarahannya sekitas 3-5 hari dengan jumlah darah yang hilang sekitar 3040 cc. Puncak pendarahannya hari ke-2 atau 3 hal ini dapat dilihat dari
jumlah pemakaian pembalut sekitar 2-3 buah. Diikuti fase proliferasi sekitar
6-8 hari (Manuaba et a;, 2006 dalam D Roza, 2011). Pada setiap wanita,
siklus menstruasi adalah berbeda-beda yaitu sekitar 25 hingga 35 hari.
Namun, terdapat beberapa wanita yang tidak memiliki siklus haid teratur
dan hal ini bisa terjadi karena adanya masalah kesuburan. Siklus menstruasi
bisa dihitung dari hari perdarahan bermula yang disebut sebagai hari
pertama hingga satu hari sebelum perdarahan menstruasi pada bulan
berikunya yang disebut dengan hari terakhir (Biohealth Indonesia, 2007).

14.

Penyakit tersebut termasuk golongan penyakit yang menular karena : Infeksi


menular seksual (IMS) disebut juga Penyakit Menular Seksual (PMS) atau
dalam bahasa Inggrisnya Sexually Transmitted Disease (STDs), Sexually
Transmitted Infection (STI) or Venereal Disease (VD). Dimana pengertian
dari IMS ini adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan

23

seksual dengan pasangan yang sudah tertular. IMS disebut juga penyakit
kelamin atau penyakit kotor. Namun ini hanya menunjuk pada penyakit
yang ada di kelamin. Istilah IMS lebih luas maknanya, karena menunjuk
pada cara penularannya (Ditjen PPM & PL, 1997 dalam D Handayani,
2011). IMS atau Seksually Transmitted Disease adalah suatu gangguan atau
penyakit yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak
hubungan seksual. IMS yang sering terjadi adalah Gonorhoe, Sifilis, Herpes,
namun yang paling terbesar diantaranya adalah AIDS, kaena mengakibatkan
sepenuhnya pada kematian pada penderitanya. AIDS tidak bisa diobati
dengn antibiotik (Zohra dan Rahardjo, 1999 dalam D handayani 2011).
Menurut

Aprilianingrum

(2002),

Infeksi

Menular

Seksual

(IMS)

didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan karena adanya invasi


organisme virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar
menular melalui hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun
sesama jenis. Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Sebutan
lain penyakit ini adalah kencing nanah. Penyakit ini menyerang organ
reproduksi dan menyerang selaput lendir, mucus, mata, anus dan beberapa
organ tubuh lainnya. Bakteri yang membawa penyakit ini adalah Neisseria
Gonorrhoeae.Gejala akibat penyakit ini pada wanita antara lain :
a.

Keputihan kental berwarna kekuningan

b.

Rasa nyeri di rongga panggul

c.

Dapat juga tanpa gejala

Pada Wanita : seringkali tanpa gejala, bila ada duh tubuh putih atau kuning
terutama di daerah mulut rahim sehingga perlu pemeriksaan dalam. (Depkes
RI, 2008). Konsekwensi kesehatan yang paling penting akibat infeksi
gonorrhea adalah kerusakan tuba fallopi yang berkaitan dengan predisposisi
terjadinya kehamilan ektopik (tuba) dan infertilitas. (Linda, 2008).

24

STEP 4
MIND MAPPING

ASKEP:
PENGKAJIAN
DIAGNOSA
INTERVENSI

PENCEGAHAN:
PRIMER
SEKUNDER
TERSIER

JURNAL:

VAGINITIS

LP:
DEFINISI
ANFIS
ETIOLOGI
PATOFISIOLOGI

MEKANISME
PERUBAHAN
PASIEN
DENGAN
VAGINITIS

25

STEP 5
LEARNING OBJEKTIF

1. Mahasiswa mampu memahami anatomi dan fisiologi sistem reproduksi


2. Mahasiswa mampu memahami penyakit vaginitis
3. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi vaginitis
4. Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada klien vaginitis

26

STEP 6
INFORMASI TAMBAHAN

(terlampir)

27

STEP 7
LAPORAN PENDAHULUAN

(terlampir)

28

Lampiran 1 Teori dan Analisis Kasus

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Vaginosis merupakan salah satu dari penyebab yang paling
sering keluhan ginekologis. Vaginosis disebabkan oleh ketidakseimbangan
flora normal dari vagina, memungkinkan
disebabkan

oleh

bakteri.

timbulnya

Lactobacillus

sp,

penyakit

floranormal

yang
vagina,

digantikan oleh bakteri fakultatif anaerob antara lain didominasi oleh


Mobiluncus

species,

Bacteroides

species,

khususnya

Gardnerella

vaginalis. Pengeluaran rabas vagina pada kehamilan dapat merupakan


tanda servisitis atau vaginitis dan dapat disebabkan oleh Trichomonas
vaginalis atau vaginosis bakteri (Wheeler L, 2004 dalam Ernawati,
2013). Uji tapis dan pengobatan vaginosis bakteri sangat penting dilakukan
karena penyakit ini terkait dengan peningkatan risiko persalinan prematur,
ketuban pecah dini, kelahiran prematur, dan korioamnionitis histologik
(Graber M.A et al, 2006 dalam Ernawati, 2013). Prevalensi dari
Vaginosis bakteri dan distribusi bentuk tipenya bervariasi diantara populasi
dunia. Beberapa penelitian melaporkan bahwa prevalensi vaginosis bakteri
tinggi diantara populasi penduduk Afrika, Afro-Amerika dan Afro-karibia.
Penelitian pada wanita Asia di India dan Indonesia melaporkan bahwa
prevalensi vaginosis bakteri sekitar 32% (Ocviyanti D et al, 2010).
Pada tahun 2005 di Jakarta prevalensi infeksi saluran reproduksi
yang

terjadi

yaitu candidiasis 6,7%, tricomoniasis 5,4% dan bacterial

vaginosis 5,1%. Menurut data tahun 2007 di Indonesia prevalensi infeksi


saluran reproduksi sebagai berikut bacterial vaginosis 53% serta vaginal
kandidiasis 3%. Tahun 2008 prevalensi infeksi saluran reproduksi pada
remaja putri dan wanita dewasa yang disebabkan oleh bakterial
vaginosis sebesar 46%, candida albicans 29%, dan tricomoniasis 12%.
Infeksi

bakteri

sekalipun hanya vagina vaginosis bakterial harus

29

disembuhkan karena akan dapat menimbulkan infeksi langsung pada bayi


dan infeksi

setelah

persalinan

(Manuaba

I.B.G,

2007).

Strategi

pencegahan dibutuhkan untuk mengurangi insiden vaginosis bakteri.


Identifikasi faktor risiko merupakan upaya kewaspadaan penting.
Seseorang memiliki peluang lebih besar menderita vaginosis bakteri
bila melakukan irigasi vagina, atau seringkali membersihkan vagina
dengan sabun atau produk lain (Department of Health New York State,
2006 dalam Ernawati et al, 2013). Hasil penelitian Alice et al (2012)
mengemukakan bahwa terdapat peningkatan 9,3% wanita dari BV negatif
menjadi positif setelah satu bulan pemasangan IUD. Kebersihan tangan
adalah hal yang sangat penting untuk mencegah penyebaran infeksi.
Mencuci tangan merupakan salah satu praktik hygiene yang penting untuk
mencegah terjadinya infeksi termasuk pada organ genitalia (vagina)
(Ernawati, 2013). Jamur dan bakteri banyak tumbuh dalam kondisi tidak
bersih dan lembab. Organ reproduksi merupakan daerah

tertutup

dan

berlipat, sehingga lebih mudah untuk berkeringat, lembab dan kotor


(Ernawati, 2013). Perilaku buruk dalam menjaga kebersihan genitalia,
seperti mencucinya dengan air kotor, memakai

pembilas

secara

berlebihan, menggunakan celana yang tidak menyerap keringat, jarang


mengganti celana dalam, tak sering mengganti pembalut dapat menjadi
pencetus timbulnya infeksi yang menyebabkan keputihan tersebut
(Ernawati, 2013). Penelitian terhadap faktor risiko yang berhubungan
dengan vaginosis telah dilakukan di beberapa negara. Populasi penelitian
sangat sedikit dan selektif sehingga tidak menggambarkan populasi secara
umum (Ernawati, 2013).

B.

Rumusan Masalah
Dari pemaparan dan uraian latar belakang masalah di atas, agar dalam
penyusunan laporan ini lebih terarah pembahasannya dan mendapatkan
gambaran secara komprehensif. Maka sangat penting untuk dirumuskan
pokok permasalahannya, yakni:
1.

Kalimat atau kata kunci apa saja yang belum jelas dalam kasus ?

30

2.

Pertanyaan apa saja yang mungkin muncul dalam kasus ?

3.

Informasi tambahan apa saja yang mungkin muncul dalam kasus ?

4.

Bagaimana hasil diskusi dan sintetis informasi-informasi baru yang


ditemukan pada kasus ?

C.

Tujuan Penulisan
1.

Tujuan Umum
Adapun tujuan umum penyusunan laporan ini adalah untuk mengetahui
hasil analisis kasus mahasiswa semester 6 terhadap konsep asuhan
keperawatan klien dengan glaukoma di Mata Kuliah Blok Sistem
Reproduksi.

2.

Tujuan Khusus
a.

Menentukan kalimat atau kata kunci yang belum jelas.

b.

Mengidentifikasi masalah dan membuat pertanyaan penting.

c.

Menganalisa masalah dengan menjawab pertanyaan penting.

d.

Mencari informasi tambahan guna menunjang analisa kasus.

e.

Melaporkan hasil diskusi dan sintetis informasi-informasi yang


baru ditemukan kepada fasilitator.

D.

Manfaat Penulisan
Adapun manfaat yang ingin diperoleh dari penyusunan laporan ini
adalah:
1.

Bagi Masyarakat atau Klien


Diharapkan

penulisan

ini

akan

menjadi

tambahan

ilmu

pengetahuan yang berhubungan dengan konsep asuhan keperawatan


klien dengan vaginitis.
2.

Bagi Penulis
Hasil analisis kasus ini diharapkan dapat memberi informasi
tentang konsep asuhan keperawatan terhadap klien dengan gangguan
sistem

reproduksi

akibat

vaginitis.

Penulis

dapat

menambah

pengetahuan serta dapat menerapkan ilmu pengetahuan dan menjadi


acuan untuk penulisan selanjutnya.

31

3.

Bagi STIKes Mahardika


Keperawatan sebagai profesi yang didukung oleh pengetahuan
yang kokoh, perlu terus melakukan berbagai tulisan-tulisan terkait
praktik keperawatan yang akan memperkaya ilmu pengetahuan
keperawatan. Penulisan ini diharapkan dapat memperkaya literatur
dalam bidang keperawatan

32

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.

Definisi
Vagina adalah saluran dari vulva yang mengarah ke uterus yang
berfungsi sebagai saluran keluarnya bayi. Ukuran dan ketebalan dinding
vagina mengalami beberapa kali perubahan, paling besar dan paling tebal
adalah pada masa produktif (dibandingkan pada anak-anak atau wanita pada
fase menopause). Ukuran ini dipengaruhi oleh sejumlah hormon estrogen
yang dihasilkan ovarium (Budisetyono Anwar, 2011).
Infeksi dan inflamasi terjadi jika organisme menganggu atau
mengalahkan mekanisme pertahanan tubuh. Leukorea sekresi cairan vagina
normal, putih yang disekresi oleh kelenjar endoserviks yang bertujuan untuk
menjaga kelembaban membran mukosa vagina. Perubahannya pada jumlah,
warna, sifat atau bau dari keluaran tubuh dapat mengidentifikasikan masalah
(Black J.M & Jane H, 2014).
Vaginitis adalah inflamasi vagina yang dicirikan oleh perubahan
sekresi cairan vagina, yang dapat banyak, berbau dan purulen, dan dapat
diikuti oleh disuria dan perdarahan vagina. Sering terdapat gatal pada vulva,
dank lien umumnya mengeluhkan ketidak nyamanan saat berkemih juga
dispareunia (Black & Hawks, 2014). Vaginitis didefinisikan sebagai
spektrum kondisi yang menyebabkan vagina dan gejala kadang-kadang
vulva, seperti gatal, terbakar, iritasi, bau, dan keputihan. Keluhan
vulvovaginal adalah salah satu yang paling umum alasan bagi perempuan
untuk mencari saran medis (Barry L. et.al, 2011).
Vaginitis (colpitis) adalah infeksi pada vagina yang disebabkan oleh
berbagai bakteri, parasit atau jamur (Manuaba, 2001 dalam Anisa, 2014).
Vaginitis di sebabkan oleh jamur dan bakteri akibat tidak bersihnya
genetalia, gejala pada vaginitis biasanya di sertai keluar cairan vagina atau
keputihan yang abnormal,di katakan abnormal karena keputihan tersebut
sangat berlebihan berbau dan terjadi iritasi di sekitar vagina, vaginitis bisa
juga di sebabkan bawaan pada saat bersalin karena kurangnya keseterilan

33

dari alat atau dari henskun si penolong yang kurang seteril (Bagus Ida et al,
2001 dalam febbi 2014).
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, maka dapat disimpulkan
bahwa vaginitis yaitu suatu kondisi peradangan pada organ reproduksi
dalam wanita yang menyerang vagina yang ditandai dengan adanya
perubahan sekresi cairan vagina, gatal, berbau, keputihan, iritasi, dan dapat
juga mengalami perdarahan.

B.

Anatomi Fisiologi
1.

Alat Reproduksi Wanita


Seperti halnya reproduksi pria, alat reproduksi wanita terdiri dari
genetalia eksterna dan genetalia interna, namun demikian fisiologi
reproduksi wanita jauh lebih rumit (Tarwoto, 2009).
a.

Genetalia Eksterna Wanita


Genetalia eksterna wanita meliputi, mons pubis, labia
mayora, labia minora, klitoris, vestibulum, introitus atau
orificium vagina, vagina dan perineum (Tarwoto, 2009).
1)

Vulva atau Pudendum


Area genetalia eksterna wanita yang membentang
dari mons pubis sampai tepi perineum. Vulva terdiri dari
mons pubis, labia mayora, labia minora, klitoris,
vestibulum, introitus atau orificium vagina, vagina dan
perineum (Tarwoto, 2009).

2)

Mons Pubis atau Mons Veneris


Jaringan subkutan dari jaringan kenektif yang
melapisi simpisis pubis. Pada setelah masa pubertas
daerah ini ditumbuhi rambut halus dan dilengkapi oleh
kelenjar sebasea (Tarwoto, 2009).

3)

Labia Mayora
Dua lipatan kulit melengkung yang menutupi lemak
dan jaringan ikat yang menyatu dengan mons pubis dan
berhubungan dengan perineum pada bagian bawah, labia

34

mayora sama dengan skrotum pada laki-laki yang


berfungsi menutup dan mencegah masuknya organ pada
pulva (Tarwoto, 2009).
4)

Labia Minora
Lipatan jaringan tipis dibawah labia mayora, tidak
mempunyai folikel rambut, membentang dari bawah
klitoris sampai dengan fourchette. Pada labia minora
banyak terdapat pembuluh darah, saraf dan otot sehingga
berwarna merah dan lebih sensitif serta bersifat erektil
(Tarwoto, 2009).

5)

Klitoris
Klitoris homolog dengan penis pada pria, terletak
pada

superior

vulva,

tepat

dibawah

arkus

pubis.

Bentuknya pendek, silindris dengan ukuran 6 x 6 mm.


Termasuk organ yang sangat erektil dan sensitif terutama
pada ujung badan klitoris. Jika wanita terangsang seksual
gland dan badan klitoris akan membesar. Banyaknya
pembuluh darah dan saraf membuat klitoris sangat sensitif
terhadap

sentuhan,

suhu

maupun

sensasi

tekanan

(Tarwoto, 2009).
6)

Vestibulum
Area tertutup oleh labia minora, terletak diantara
klitoris, labia minora dan fourchette. Vestibulum terdiri
dari saluran atau orificium yaitu lubang muara uretra
(orificium uretra), vagina, ductus glandula

Bartholini

kanan dan kiri (Tarwoto, 2009).


7)

Introitus atau Orificium Vagina


Daerah dibawah vestibulum, pada daerah disekitar
introitus vagina terdapat lipatan tipis yang tertutup
mukosa, bersifat elestis yang disebut hymen atau selaput
dara. Pada wanita yang masih gadis hymen masih utuh
tanpa robekan dan hymen dapat rusak karena trauma. Pada

35

dinding bagian dalam terdapat kelenjar vestibular atau


kelenjar Bartholins yang memproduksi secret untuk
membantu pada saat koitus (Tarwoto, 2009).
8)

Perineum
Daerah muscular yang ditutupi kulit, antara introitus
vagina dan anus. Jaringan otot ini juga menopang rongga
panggul dan menjaga panggul tetap pada tempatnya
(Tarwoto, 2009).

b.

Genetalia Interna Wanita


Genetalia interna wanita terdiri atas vagina, uterus, tuba
falopii dan ovarium (Tarwoto, 2009).
1)

Vagina
Muscular elastis mulai dari vestibulum sampai
dengan serviks. Terletak antara kandung kemih, uretra dan
rectum. Pada dinding vagina terdapat otot polos dan epitel
skuamosa. Keadaan dinding vagina makin menebal sesuai
dengan bertambahnya usia. Pada daerah vagina tidak
memiliki kelenjar, tetapi dilumasi oleh cairan servik.
Cairan vagina bersifat asam dengan pH sekitar 4.5
sehingga berfungsi mencegah pertumbuhan bakteri.
Tingkat keasaman cairan vagina dipengaruhi oleh hormon
estrogen. Pada masa produktif seiring meningkatnya
hormon estrogen cairan menjadi lebih asam, tetapi pasda
masa sebelum pubertas dan menopause cairan vagina
menjadi basa. Vagina mempunyai tiga fungsi utama yaitu
sebagai tempat pengeluaran cairan atau darah menstruasi,
tempat penyaluran sperma pada saat hubungan seks untuk
masuk ke uterus dan merupakan tempat jalan lahir, serta
membantu mencegah infeksi karena suasana vagina yang
asam (Tarwoto, 2009).

36

2)

Uterus
Uterus

merupakan

organ

muscular

berbentuk

kantong seperti buah pear yang terletak di rongga pelvis


antara kandung kemih dengan rektum. Posisi uterus
normalnya anteflesi (menekuk dan maju ke depan).
Panjangnya sekitar 7.5 cm dengan berat kira-kira 60 gram.
Uterus terdiri dari dua bagian yaitu badan atau korpus dan
leher atau cerviks. Badan uteri merupakan 2/3 dari uterus
dengan panjang 4 cm, berbentuk triangular, dan pada
bagian apeks berhubungan dengan cerviks. Pada bagian
atas disebut fundus uteri dan berhubungan dengan tuba
uteri atau tuba falopii.pada bagian tepi samping uterus
berhubungan

dengan

tuba

falopii

disebut

cornu.

Sedangkan pada bagian antara korpus uteri dengan serviks


terdapat area yang menyempit yang disebut isthmus.
Cerviks uteri merupakan bagian bawah uterus, panjangnya
2.5 cm, berbentuk silindris dan bagian bawahnya
berhubungan dengan vagina. Dinding uterus tersusun oleh
tiga lapisan yaitu lapisan luar perimetrium, lapisan tengah
miometrium dan lapisan dalam endometrium (Tarwoto,
2009).
a)

Endometrium
pembuluh

tersusun

darah

mengandung

yang

dari

jaringan-jaringan

disebut

kelenjar-kelenjar

stroma,

tubular.

yang
Stroma

tertutup olrh sebuah lapisan epitel kulumner bersilia


dan sel yang tidak bersilia berada dibawah stroma
berbatasan

dengan

miometrium

membentuk

kelenjar. Selama usia produksi lapisan ini selalu


berganti menurut fase dalam siklus reproduksi.
Lapisan superficial meluruh ketika seorang wanita
mengalami menstruasi dari endometrium yan baru

37

terbetuk dari lapisan dibawahnya (basal layer)


(Tarwoto, 2009).
b)

Lapisan miometrium tersusun atas serat-serat otot


polos yang menimbulkan ketebalan dinding uterus.
Otot tersebut membentuk spiral dari kornu menuju
serviks, memberi efek sirkler disekeliling tuba
falopii dan serviks serta efek oblique pada korpus
uteri. Pada keadaan hamil miometrium menjadi lebih
tebal (Tarwoto, 2009).

c)

Lapisan perimetrium adalah lapisan peritoniu yang


membungkus uterus dan tuba uterine. Dari depan
perimetrium menutupi korpus uteri menuju vesika
urinaria setinggi ostium uteri internium (Tarwoto,
2009).
Uterus berfungsi untuk mempersiapkan penerimaan

ovum hasil fertilisasi, menyediakan tempat yang nyaman


untuk pertumbuhan dan perkembangan fetus selama
kehamilan dan membantu pengeluaran fetus dan plasenta
saat melahirkan, menyediakan nutrisi hasil konsepsi
(Tarwoto, 2009).
3)

Tuba Uterina
Disebut juga tuba falopii atau oviduk, merupakan
saluran tempat ovum (sel telur) berjalan menuju uterus. Di
tempat ini terjadi fertilisasi atau pembuahan antara sel
telur dengan sperma. Panjang tuba falopii sekitar 10 cm
dan diameter 0.7 cm, terletak menggantung ligament
uterus Tuba falopii dibagi menjadi empat bagian yaitu
infundibulim,

ampula,

isthumus

dan

interstitialis

(Tarwoto, 2009).
a)

Infundibulum, merupakan bagian ujung tuba falopii


dan pada bagian akhirnya berbentuk terompet
dengan rumbai-rumbai

38

yang disebut fimbriae.

Fimbriae berperan untuk mengarahkan langsung sel


telur dari ovarium ke lumen tuba falopii (Tarwoto,
2009).
b)

Ampula, merupakan saluran yang panjang dari tuba


falopii, terletak antara infundibulum dengan isthmus.
Normalnya fertilisasi terjadi di ampula (Tarwoto,
2009).

c)

Isthmus, merupakan lumen sempit diantara uterus


dan ampula tuba falopii (Tarwoto, 2009).

d)

Interstitialis, yaitu daerah ujung akhir dari jaringan


otot uterus dengan isthmus (Tarwoto, 2009).
Fungsi tuba fallopi adalah menangkap sel ovum,

menyalurkan spermatozoa dan tempat konsepsi sampai


blastula (Tarwoto, 2009).
4)

Ovarium
Ovarium
dipermukaan

merupakan
posterior

kelenjar

ligamentum

yang

berada

latum,

didekat

infundibulum. Terdiri dari 2 buah, berbentuk seperti


almond, berwarna putih keruh. Memiliki panjang 4 cm,
lebar 0.4 cm dan berat sekitar 3 gr. Ovarium dibungkus
oleh peritoneum dan ditopang oleh ligamen mesovarium,
ligamentum

latun,

ligamen

ovarika

dan

ligamen

infundubulum (Tarwoto, 2009).


Ovarium dibagi atas dua bagia yaitu bagian korteks
atau kulit dan bagian medulla. Korteks merupakan lapisan
terluar,terdiri atas stroma dan folikel ovarium yaitu unit
fungsional pada ovarium yang sangat penting dalam
proses oogenosit. Sedangkan bagian medulla terdiri
stroma, pembuluh darah, limfatik, serabut saraf dan otot
polos (Tarwoto, 2009).

39

Gambar 1. Anatomi Reproduksi Wanita


(Pearce, 2009)

Gambar 2. Anatomi Vulva


(Destur, 2015)

40

2.

Hormon Yang Mempengaruhi Reproduksi Wanita


Masa pubertas pada wanita merupakan masa produktif yaitu
masa untuk mendapatkan keturunan, yang berlangsung 40 tahun.
Setelah itu, wanita memasuki masa klimakterium yaitu masa peralihan
antara masa reproduksi dengan masa senium (kemunduran), di mana
haid berangsur-angsur berhenti selama 1 2 bulan dan kemudian
berhenti sama sekali, yang disebut menopoause. Selanjutnya terjadi
kemunduran alat-alat reproduksi, organ tubuh, dan kemampuan fisik
(Syaifuddin, 2013).
a.

Hormon Estrogen : disekresi oleh sel-sel Trache (serviks/leher)


intrafolikel ovarium, korpus luteum, dan plasenta, estrogen
mempermudah pertumbuhan folikel ovarium dan meningkatkan
pertumbuhan tuba uterus, jumlah otot uterus, serta kadar protein
kontraktil uterus. Estrogen memengaruhi organ endokrin dengan
menurunkan sekresi FSH, di mana pada beberapa keadaan akan
menghambat sekresi LH dan pada keadaan lain meningkatkan
LH. Estrogen meningkatkan pertumbuhan duktus-duktus yang
terdapat pada kelenjar mamae, selain itu juga merupakan hormon
feminisme wanita terutama yang dipengaruhi oleh hormon
androgen. Kerja estrogen pada uterus, vagina, serta beberapa
jaringan lainnya menyangkut interaksi dan reseptor protein dalam
sitoplasma sel. Pengaruh terhadap organ seksual antara lain pada
pembesaran ukuran tuba falopii, uterus, vagina, pengendapan
lemak pada mons veneris, pubis, dan labia, serta mengawali
pertumbuhan mamae. Pengaruh lainnya adalah kelenjar mamae
berkembang dan menghasilkan susu, tubuh berkembang dengan
cepat, tumbuh rambut pada pubis dan aksila, serta kulit menjadi
lembut (Syaifuddin, 2013).

b.

Hormon Progesteron : dihasilkan oleh korpus luteum dan


plasenta, bertanggung jawab atas perubahan endometrium siklik
dalam serviks serta vagina. Progesteron juga berpengaruh anti
estrogenik pada sel-sel miometrium, menurunkan kepekaan otot

41

tersebut, sensitivitas miometrium terhadap oksitosin, dan aktivitas


listrik spontan. Miometrium sementara meningkatkan potensial
membran serta bertanggung jawab meningkatkan suhu basal
tubuh pada saat ovulasi. Efek progesteron terhadap tuba falopii
adalah meningkatkan sekresi dan mukosa. Pada kelenjar mamae
akan meningkatkan perkembangan lobulus dan alveolus kelenjar
mamae, keseimbangan elektrolit, serta peningkatkan sekresi air
dan natrium (Syaifuddin, 2013).
c.

Folikel Stimulating Hormon (FSH) : mulai ditemukan pada


perempuan umur 11 tahun dan jumlahnya terus-menerus
bertambah sampai dewasa. FSH dibentuk oleh lobus anterior
kelenjar hipofisis. Pembentukan FSH ini akan berkurang pada
pembentukan / pemberian estrogen dalam jumlah yang cukup
seperti pada kehamilan (Syaifuddin, 2013).

d.

Lutein Hormon (LH) : LH bekerja sama dengan FSH untuk


menyebabkan terjadinya sekresi estrogen dari folikel de Graaf.
LH juga menyebabkan penimbunan substansi dari progesteron
dalam sel granulosa. Bila estrogen dibentuk dalam jumlah yang
cukup besar akan menyebabkan pengurangan produksi FSH,
sedangkan produksi LH bertambah hingga tercapai suatu rasio
produksi FSH dan LH sehingga dapat merangsang terjadinya
ovulasi (Syaifuddin, 2013).

e.

Prolaktin atau Luteotropin Hormone (LTH) : ditemukan pada


wanita yang mengalami menstruasi. Jumlah terbanyak terdapat
pada urin wanita hamil, masa laktasi, dan menopause. Prolaktin
dibentuk oleh sel alpha (asidophil) dari lobus anterior kelenjar
hipofisis.

Fungsi

hormon

ini

adalah

untuk

memulai

mempertahankan produksi progesteron dari korpus luteum.


Kelenjar hipofisis dirangsang dan diatur oleh pusat yang lebih
tinggi yaitu hipotalamus untuk menghasilkan gonadotrophin
relasing factor.

42

3.

Siklus Menstruasi
Pada wanita yang sehat dan tidak hamil, setiap bulan secara
teratur mengeluarkan darah dari alat kandungannya yang disebut
menstruasi (haid). Pada siklus menstruasi, selaput lendir rahim terjadi
perubahan-perubahan yang berulang-ulang dari hari ke hari. Selama 1
bulan mengalami 4 masa (stadium).
a.

Stadium Menstruasi (Desquamasi)


Pada masa ini, endometrium terlepas dari dinding rahim disertai
dengan perdarahan, hanya lapisan tipis yang tertinggal disebut
stratum basale. Stadium ini berlangsung selama 4 hari. Melalui
haid, keluar darah, potongan-potongan endometrium, dan lendir
dari serviks. Darah ini tidak membeku karena adanya fermen
(biokatalisator) yang mencegah pembekuan darah dan mencairkan
potongan-potongan mukosa. Banyaknya perdarahan selama haid
50 cc (Syaifuddin, 2013).

b.

Stadium Post Menstruasi (Regenerasi)


Luka yang terjadi karena endometrium terlepas, lalu berangsurangsur ditutup kembali oleh selaput lendir baru dari sel epitel
kelenjar endometrium. Pada masa ini, tebal enddometrium kirakira 0,5 mm. Stadium ini berlangsung selama 4 hari (Syaifuddin,
2013).

c.

Stadium Inter Menstruasi (Proliferasi)


Pada masa ini endometrium tumbuh menjadi tebal 3,5 mm,
kelenjar-kelenjarnya tumbuh lebih cepat dari jaringan lain.
Stadium ini berlangsung 5 14 hari dari hari pertama haid
(Syaifuddin, 2013).

d.

Stadium Pra Menstruasi (Sekresi)


Pada stadium ini, endometrium tetap tebal, tetapi bentuk kelenjar
berubah menjadi panjang dan berliku-liku serta mengeluarkan
getah. Dalam endometrium telah tertimbun glikogen dan kapur
yang diperlukan sebagai makanan untuk sel telur. Perubahan ini

43

dilakukan untuk mempesiapkan endometrium dalam menerima


sel telur (Syaifuddin, 2013).
Lapisan endometrium dapat terlihat yaitu lapisan atas yang
padat (stratumkompaktum) yang hanya ditembus oleh saluran-saluran
keluar dari kelenjar. Lapisan stratum spongeosum memiliki banyak
lubang-lubang karena terdapat rongga dari kelenjar, sedangkan lapisan
bawah disebut stratum basale. Stadium ini berlangsung 14 28 hari.
Jika tidak terjadi kehamilan, maka endometrium dilepas dengan
perdarahan dan berulang lagi siklus menstruasi (Syaifuddin, 2013).

Gambar 3. Siklus Menstruasi


(Wordpress, 2013)

44

Gambar 4. Peran Hormon dalam Siklus Menstruasi


(Wordpress, 2013)

Gambar 5. Siklus Menstruasi dan Hormon


(Wordpress, 2013)
45

4.

Pembentukan Embrio dan Janin


a.

Pembuahan
Penyatuan antara sperma dan sel telur yang telah dewasa /
matang sehingga terbentuk zigot. Zigot berarti berpasangan atau
berhubungan, peristiwa berpasangan kedua belah kromosom
gamet, pihak jantan dan pihak betina yang saling haplon =
haploid (gen menyatu) sehingga zigot terjadi dalam susunan
diplon = diploid (dua bentuk kromosom).
Setelah terjadi pembuahan, zigot mengalami pertumbuhan
(embriologi) sperma bergerak bersentuhan dengan sel telur dan
sperma akan terikat oleh pengaruh semacam sekresi yang
dikeluarkan oleh sel telur (Syaifuddin, 2013).

b.

Kehamilan
Bila ovum dibuahi, maka terjadi rangkaian peristiwa baru
yang disebut gestasi atau kehamilan. Pembuahan ovum akhirnya
berkembang sampai menjadi fetus yang aterm. Bila terjadi
ovulasi, ovum bersama beratus-ratus sel granulosa yang melekat
padanya

akan

dikeluarkan

langsung

ke

dalam

rongga

peritoneum. Selanjutnya, masuk ke dalam salah satu tuba


falopii. Untuk mencapai kavum uteri, secara terus-menerus
bergerak ke arah pembukaan osteum tuba falopii yang terlihat
seperti arus cairan lambat yang mengalir ke arah osteum dan
masuk ke dalam salah satu tuba (Syaifuddin, 2013).
Pembuahan ovum terjadi setelah ejakulasi dalam waktu 5
10 menit. Beberapa sperma akan ddihantarkan melalui uterus
ke ampula. Pada bagian akhir, dari tuba falopii, ovarium yang
dibantu oleh kontraksi uterus dan tuba falopii yang dirangsang
oleh prostaglandin dalam cairan seminal dan cairan oksitosin
yang dilepas dari kelenjar hipofisis posterior selama orgasme
wanita. Hampir setengah milyar di deposit ke dalam vagina,
tetapi hanya beberapa ribu yang mencapai ampula (Syaifuddin,
2013). Pembuahan ovum umumnya terjai segera setelah ovum

46

memasuki ampula. Sebelum sperma memasuki ovum, sperma


harus menembus berlapis-lapis granulosa yang melekat di sisi
luar ovum yang ddisebut corona radiata. Sekali sebuah sperma
telah masuk ke dalam ovum, kepala sperma akan membengkak
dengan cepat untuk membentuk pronukleus pria. Kromosom
yang telah berpasangan menyalurkan 46 kromosom atau 23
dalam sebuah ovum yang sudah dibuahi (Syaifuddin, 2013).
c.

Siklus Ovarium
Dalam ovarium banyak terdapat sel-sel telur muda yang
dikelilingi oleh sel gepeng, bangunan ini disebut folikel
premordial. Sebelum pubertas ovarium masih dalam keadaan
istirahat, sedangkan pada waktu pubertas ovarium berada di
bawah pengaruh hormon dari lobus hipofisis anterior yaitu
Folikel Stimulating Hormon (FSH). Folikel premordial mulai
tumbuh walaupun hanya satu yang matang, kemudian pecah,
dan yang lainnya mati. Mani dihantarkan ke dalam tubuh wanita
lewat alat pengantar yang dimasukkan atau berkontak ketat
dengan saluran kelamin wanita, alat tersebut disebut penis,
dalam penis terkandung uretra (duktus urogenitalis) untuk
mengeluarkan urine juga menampung aliran mani dari duktus
ejakulatorius (Syaifuddin, 2013).
Tempat pertemuan sperma dan ovum sering terjadi di
ampula tuba pada bagian 1/3 lateral tuba falopii. Setelah
diejakulasi, sperma ditumpuk pada bagian atas vagina dan untuk
sampai ke tuba, sperma dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut
ini: 1) Gerakan berenang aktif sperma sendiri dengan bantuan
ekornya, 2) Kerutan anti peristaltik kelamin wanita atau daya
aspirasi (mengisap) dari uterus, 3) Daya ejakulasi sendiri,
dengan tidak terdapatnya faktor-faktor di atas, maka dapat
menjadi salah satu penyebab kemandulan (Syaifuddin, 2013).

47

d.

Pematangan Folikel Premordial


Mula-mula sel-sel dikelilingi ovum berlipat ganda
kemudian timbul di antara sel-sel rongga yang berisi cairan
liqour follikuli. Ovum terdesak ke pinggir dan terdapat di tengah
tumpukan sel yang menonjol ke dalam rongga folikel.
Tumpukan sel dengan sel telur di dalamnya ini disebut cumulus
ophurus. Antara sel telurdan sel sekitarnya terdapat zona
pellucida. Dengan tumbuhnya folikel jaringan, ovarium sekitar
folikel tersebut terdesak keluar dan membentuk dua lapisan: 1)
Theca Interna (lapisan vesikular interna) yang banyak
mengandung pembuluh darah, 2) Theca Eksterna (lapisan
fibrosa eksterna) yang terdiri atas jaringan ikat padat
(Syaifuddin, 2013).
Folikel yang masak disebut folikel de Graf dan
menghasilkan estrogen, tempat pembuatan hormon ini terletak
di theca interna. Sebelum pubertas, terdapat pada lapisan dalam
korteks ovarium dan tetap tinggal di lapisan tersebut. Setelah
pubertas, folikel tersebut mendekati permukaan dan menonjol
keluar karena ligamentum follikuli terbentuk terus sehingga
tekanan dalam folikel makin lama makin tinggi. Namun,
terjadinya ovulasi tidak hanya tergantung pada tekanan tinggi
tersebut, tetapi juga harus mengalami perubahan-perubahan
nekrobiotik pada permukaan folikel (Syaifuddin, 2013). Pada
permulaan, sel-sel ovarium menjadi tipis hingga pada suatu
waktu folikel akan pecah dan mengakibatkan keluarnya liqour
follikuli bersama ovum. Keluarnya sel telur dari folikel de Graf
yang pecah disebut ovulasi. Sel granulosa mengelilingi sel telur
yang telah bebas disebut corona radiata. Setelah ovulasi, sel-sel
granulosa dari dinding folikel mengalami perubahan dan
mengandung zat

berwarna

(Syaifuddin, 2013).

48

kuning

yang

disebut

lutein

Dengan demikian, sisa folikel berubah menjadi butir


kuning yang disebut korppus luteum dan mengeluarkan hormon
yang disebut progesteron di samping estrogen, tergantung
apakah terjadi konsepsi (pembuahan) atau tidak terjadi. Korpus
luteum dapat menjadi korpus luteum graviditatum atau korpus
luteum menstruationum (Syaifuddin, 2013).
e.

Korpus Luteum Menstruationum


Mempunyai masa hidup 8 hari setelah berdegenerasi dan
diganti dengan jaringan ikat yang menyerupai stroma ovarium.
Korpus luteum yang berdegenerasi disebut korpus albikan yang
berwarna putih. Setelah itu, pembentukan hormon progesteron
dan estrogen mulai berkurang bahkan berhenti sama sekali.
Keadaan ini menghasilkan iskemia dan nekrosis endometrium,
disusul dengan menstruasi. Estrogen dapat menyebabkan
proliferasi dari endometrium, fase ini disebut fase fikuler
(preovulatori) yang berlangsung pada hari pertama menstruasi
sampai ovulasi (Syaifuddin, 2013).

f.

Korpus Luteum Graviditatum


Setelah terjadi ovulasi (pelepasan ovum), sel telur masuk
ke dalam tuba dan diangkut ke kavum uteri. Hal ini terjadi pada
waktu ovulasi, di mana ujung ampula tuba akan menutupi
permukaan ovarium. Selanjutnya, sel telur digerakkan oleh
peristaltik dan rambut getar dari sel-sel selaput lendir tuba ke
arah kavum uteri. Jika tidak terjadi kehamilan, sel telur mati
dalam beberapa jam. Akan tetapi, bila terjadi kehamilan, maka
terjadilah pertemuan dan bersenyawaan dari sel telur dan sel
sperma dalam ampula tube (Syaifuddin, 2013).
Sel telur yang telah dibuahi tersebut berjalan ke kavum
uteri dan menanamkan diri dalam endometrium, inilah yang
disebut nidasi. Zigot (sel telur yang dibuahi) mengeluarkan
hormon-hormon hingga korpus luteum biasanya hidup hanya 8
hari. Sekitarnya tidak mati bahkan tumbuh menjadi lebih besar

49

dinamakan korpus luteum graviditatum, yang hidup sampai


bulan keempat dari kehamilan. Setelah bulan keempat fungsinya
diambil alih oleh plasenta. Karena korpus luteum tidak mati,
maka progesteron dan estrogen terus terbentuk (Syaifuddin,
2013).
Keadaan ini membuat endometrium menjadi lebih tebal
dan berubah menjadi deciduas (uuterus dalam keadaan hamil)
sehingga selama kehamilan berlangsung tidak terjadi haid.
Perubahan pada endometrium dipengaruhi oleh kejadiankejadian dalam ovarium dan kejadian dalam ovarium akan
dipengaruhi oleh kelenjar yang lebih tinggi kedudukannya yaitu
kelenjar hipofisis (Syaifuddin, 2013).

C.

Etiologi
Menurut Endang et al (2015), etiologi yang bisa menyebabkan
vaginitis yaitu:
1.

Infeksi
a.

Bakteri (Clamidia, Gonokokus)

b.

Jamur (Candida), terutama pada penderita diabetes mellitus,


wanita hamil, dan pemakaian antibiotik

2.

c.

Protozoa (Trichomonas vaginalis)

d.

Virus (virus Papiloma manusia dan virus Herpes)

Zat atau benda yang bersifat iritatif


a.

Spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup serviks, dan


spons

b.

Sabun cuci dan pembalut pakaian

c.

Deodoran

d.

Zat di dalam air mandi

e.

Pembilas vagina

f.

Pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berpori-pori, dan tidak


menyerap keringat

50

g.

D.

Tinja

3.

Tumor ataupun jaringan abnormal lainnya

4.

Terapi penyinaran obat-obatan

5.

Perubahan hormonal

Patofisiologi
Sekelompok

kuman

harus

bekerja

secara

sinergistik

untuk

menimbulkan kejadian vaginosis. Flora campuran kuman anaerob dapat


tumbuh secara berlebihan sebagai akibat adanya peningkatan substrat,
peningkatan pH, dan hilangnya dominasi flora normal laktobasili yang
menghambat pertumbuhan kuman lain. Pada wanita normal dijumpai
kolonisasi

strain

Laktobasili

yang

mampu

memproduksi

H2O2,

sedangkan pada penderita vaginosis terjadi penurunan jumlah populasi


laktobasili secara menyeluruh, sementara populasi yang tersisa tidak
mampu menghasilkan H2O2 (Putra B.R.M, 2014).
Diketahui bahwa H2O2 dapat menghambat pertumbuhan kumankuman yang terlibat dalam vaginitis, yaitu oleh terbentuknya H2Ohalida karena pengaruh peroksidase alamiah yang berasal dari serviks.
Dengan meningkatnya pertumbuhan kuman, produksi senyawa amin oleh
kuman anaerob juga bertambah, yaitu berkat adanya dekarboksilase
mikrobial. Senyawa amin yang terdapat pada cairan vagina yaitu putresin,
kadaverin, metilamin, isobutilamin, fenetilamin, histamin, dan tiramin.
Bakteri anaerob dan enzim yang diproduksi oleh Trichomonas vaginalis
dalam suasana pH vagina yang meningkat akan mudah menguap dan
menimbulkan bau amis, bau serupa juga dapat tercium jika pada sekret
vagina yang diteteskan KOH 10%. Senyawa amin aromatik yang berkaitan
yang berkaitan dengan timbulnya bau amis tersebut adalah trimetilamin,
suatu senyawa amin abnormal yang dominan pada vaginitis (Putra B.R.M,
2014).
Bakteri anaerob akan memproduksi aminopeptida yang akan
memecah protein menjadi asam amino dan selanjutnya menjadi proses
dekarboksilasi yang akan mengubah asam amino dan senyawa lain menjadi

51

amin, yaitu dekarboksilasi ornitin (metabolit arginin) akan menghasilkan


putresin,

dekarboksilasi

lisin

akan

menghasilkan

kadaverin

dan

dekarboksilasi betain (metabolit kolin) akan menghasilkan trimetilamin.


Poliamin asal bakteri ini bersamaan dengan asam organik yang terdapat
dalam vagina penderita infeksi BV, yaitu asam asetat dan suksinat, bersifat
sitotoksik dan menyebabkan eksfoliasi epitel vagina (Putra B.R.M, 2014).
Hasil eksfoliasi yang terkumpul membentuk sekret vagina. Dalam
pH yang alkalis Trichomonas vaginalis melekat erat pada sel epitel vagina
yang lepas dan membentuk clue cells. Secara mikroskopik clue cells
nampak sebagai sel epitel yang sarat dengan kuman, terlihat granular
dengan pinggiran sel yang hampir tidak tampa (Putra B.R.M, 2014).

52

Pathway

53

54

E.

Manifestasi Klinis
Gejala yang paling sering ditemukan adalah keluarnya cairan
abnormal dari vagina. Dikatakan abnormal jika jumlahnya sangat banyak,
baunya menyengat atau disertai gatal-gatal dan nyeri (Endang et al, 2015).
Cairan yang abnormal sering tampak lebih kental dibandingkan cairan
yang normal dan warnanya bermacam-macam. Misalnya bisa seperti keju
atau kuning kehijauan atau kemerahan. Infeksi vagina karena bakteri
cenderung mengeluarkan cairan berwarna putih, abu-abu atau keruh
kekuningan dan berbau amis. Setelah melakukan hubungan seksual atau
membersihkan vagina dengan sabun, bau cairannya semakin menyengat
karena terjadi penurunan keasaman vagina hingga bakteri semakin banyak
yang tumbuh. Vulva terasa agak gatal dan mengalami iritasi. Infeksi jamur
menyebabkan gatal-gatal sedang sampai hebat dan rasa terbakar pada vulva
dan vagina. Kulit tampak merah dan terasa kasar. Dari vagina keluar cairan
kental seperti keju. Infeksi ini cenderung berulang pada wanita penderita
diabetes dan wanita yang mengkonsumsi antibiotik. Infeksi karena
trichomonas vaginalis menghasilkan cairan berbusa yang berwarna putih,
hijau keabu-abuan atau kekuningan dengan bau yang tidak sedap. Gatalgatalnya sangat hebat (Endang et al, 2015).
Cairan yang encer dan terutama jika mengandung darah, bisa
disebabkan oleh kanker vagina, servik (leher rahim) atau endometrium.
Polip pada serviks bisa menyebabkan perdarahan vagina setelah melakukan
hubungan seksual. Rasa gatal atau rasa tidak enak pada vulva bisa
disebabkan oleh infeksi virus papiloma manusia maupun karsinoma in situ
(kanker stadium awal yang belum menyebar ke daerah lain). Luka terbuka
yang menimbulkan nyeri di vulva disebabkan olehh infeksi herpes atau
abses. Luka terbuka tanpa rasa nyeri bisa disebabkan oleh kanker atau
sifilis. Kutu kemaluan (pedikulosis pubis) bisa menyebabkan gatal-gatal di
daerah vulva (Endang et al, 2015).

55

F.

Komplikasi
Menurut (Putra B.R.M, 2014) vaginitis yang tidak mendapat
penanganan yang baik dapat menyebabkan komplikasi, antara lain :
1.

Endometritis

2.

Penyakit Radang Panggul

3.

Sepsis Pasca Aborsi

4.

Infeksi Pasca Bedah

5.

Infeksi Pasca Histerektomi

6.

Peningkatan Resiko Penularan HIV dan IMS Lain


Vaginitis merupakan faktor risiko potensial untuk penularan HIV

karena pH vagina meningkat dan faktor biokimia lain yang diduga merusak
mekanisme pertahanan host. Penelitian dari seluruh dunia mengenai
vaginitis langsung tertuju kepada sejumlah komplikasi obstetrik yaitu
keguguran, lahir mati, perdarahan, kelahiran prematur, persalinan prematur,
ketuban pecah dini, endometritis paskapersalinan dan kejadian infeksi
daerah operasi (IDO) (Putra B.R.M, 2014).

G.

Pemeriksaan Penunjang
1.

Kultur (Usap Vagina)


Usap vagina dikultur baik anaerob maupun aerob pada
permukaan brain heart infusion plate agar dilengkapi dengan vitamin
K (0,5mg/l) dan Haemin (5mg/l), agar darah dan agar coklat. Sebagai
tambahan

Bacteroides

Bile

Esculin,

Neomycin

Vancomycin

Chocolate agar diinokulasi untuk kultur anaerob. Setiap media


diperiksa setelah 48 jam, 96 jam dan 7 hari,hasil kultur yang telah
diisolasi diidentifikasi dengan menggunakan teknik mikrobiologi yang
telah distadarisasi (Goyal R, 2005 dalam Putra B.R.M, 2014).
2.

Kriteria Spiegel
Metode pemeriksaan Spiegel merupakan penilaian yang
berdasar pada jumlah kuman Lactobacillus, Gardnerella dan flora
campuran dalam menegakkan diagnosis apakah seseorang terdiagnosis
vaginitis atau tidak. Kriteria Spiegel bersifat lebih tegas karena hanya
56

terdapat 2 kriteria aja, yaitu normal dan Vaginitis positif, sehingga


lebih memudahkan dalam menentukan perlu atau tidaknya dilakukan
terapi (Bayu I.P, 2008 dalam Putra B.R.M, 2014). Jika pada
pewarnaan Gram menunjukkan predominasi (3+ - 4+) Lactobacillus,
dengan atau tanpamorfotipe Gardnerella, diinterpretasikan normal.
Jika pada pengecatan Gram menunjukkan flora campuran meliputi
bakteri Gram positif, bakteri Gram negatif,atau bakteri Gram variabel
dan morfotipe Lactobacillus menurun atau tidak ada (0-2+),
diinterpretasikan infeksi vaginitis (Bayu I.P, 2008 dalam Putra B.R.M,
2014).
3.

Kriteria Nuggent
Kriteria Nuggent atau juga dikenal sebagai skor Nugent
merupakan metode diagnosis infeksi vaginitis dengan pendekatan
berdasarkan jumlah bakteri yang ada sekret vagina. Kriteria Nuggent
merupakan modifikasi dari metode Spiegel dalam penghitungan
jumlah kuman pada preparat basah sekret vagina (Udayalaxmi G.B
dkk, 2011 dalam Putra B.R.M, 2014). Kriteria Nuggent dinilai dengan
adanya

gambaran

Lactobacillus,

Gardnerella

vaginalis

dan

Mobiluncus spp (skor dari 0 sampai 4 tergantung pada ada atau


tidaknya pada preparat) (Udayalaxmi G.B dkk, 2011 dalam Putra
B.R.M, 2014). Berikut Tabel Skor Nuggent:

Skor

Lactobacillus per
lapang pandang
(100x Objektif)

Gardnerella /
Bacteroides (Basil
gram negatif) per
lapang pandang (100x
Objektif)

0
1
2
3
4

>30
5 30
14
<1
0

0
<1
14
5 30
>30

57

Basil gram
variabel
berbentuk
koma per
lapang pandang
(100x Objektif)

0
14
>5
Tidak ada
Tidak ada

Interpretasi:

0 3 Normal

4 6 disertai clue cells = Vaginosis, 4 6 tidak disertai dengan


clue cells = bukan Vaginosis

4.

7 10 Vaginosis

Kriteria Amsel
Kriteria Amsel dalam penegakan diagnosis vaginitis harus
terpenuhi 3 dari 4 kriteria berikut:
a.

Adanya peningkatan jumlah cairan vagina yang bersifat


homogen. Keluhan yang sering ditemukan pada wanita dengan
vaginitis adalah adanya gejala cairan vagina yang berlebihan,
berwarna putih yang berbau amis dan menjadi lebih banyak
setelah melakukan hubungan seksual. Pada pemeriksaan
spekulum didapatkan cairan vagina yang encer, homogen, dan
melekat pada dinding vagina namun mudah dibersihkan. Pada
beberapa kasus, cairan vagina terlihat berbusa yang mana gejala
hampir mirip dengan infeksi trikomoniasis sehingga kadang
sering keliru dalam menegakan diagnosis.

b.

pH cairan vagina yang lebih dari 4,5


pH vagina ditentukan dengan pemerikasaan sekret vagina yang
diambil dari dinding lateral vagina menggunakan cotton swab
dan dioleskan pada kertas strip pH. Pemeriksaan ini cukup
sensitif, 90% dari penderita vaginitis mempunyai pH cairan
vagina lebih dari; tetapi spesitifitas tidak tinggi karena PH juga
dapat meningkat akibat pencucian vagina, menstruasi atau
adanya sperma. pH yang meningkat akan meningkatkan
pertumbuhan flora vagina yang abnormal (Umbara P.J.A, 2009
dalam Putra B.R.M, 2014 ).

c.

Whiff Test
Positif Whiff test diuji dengan cara meneteskan KOH 10% pada
sekret vagina, pemeriksaan dinyatakan positif jika setelah
penentesan tercium bau amis.1,4,20 Diduga meningkat pH

58

vagina

menyebabkan

asam

amino

mudah

terurai

dan

menegeluarkan putresin serta kadaverin yang berbau amis khas.


Bau amis ini mudah tercium pada saat melakukan pemeriksaan
spekulum, dan ditambah bila cairan vagina tersebut kita tetesi
KOH 10% . Cara ini juga memberikan hasil yang positif
terhadap infeksi trikomoniasis (Umbara P.J.A, 2009 dalam Putra
B.R.M, 2014 ).
d.

Ditemukan Clue Cells Pada Pemeriksaan Mikroskopis


Menemukan clue cells di dalam sekret vagina merupakan hal
yang sangat esensial pada kriteria Amsel. Clue cells merupakan
sel-sel epitel vagina yang dikelilingi oleh bakteri Gram variabel
coccobasilli sehingga yang pada keadaan normal sel epitel
vagina yang ujung-ujungnya tajam, perbatasanya menjadi tidak
jelas atau berbintik. Clue cells dapat ditemukan dengan
pengecatan

gram

sekret

vagina

dengan

pemeriksaan

laboratorium sederhana dibawah mikroskop cahaya. Jika


ditemukan paling sedikit 20% dari lapangan pandang (Tamonud
Modak PA, 2011 dalam Putra B.R.M, 2014 ).
5.

Gas Liquid Chromatography (GLC)


GLC merupakan salah satu metode diagnosis infeksi vagina
secara tidak langsung, yaitu dengan cara mendeteksi adanya hasil
metabolisme mikro organisme sekret vagina. Pada infeksi vaginitis
salah satu gejala yang menjadi karakteristik yang khas yaitu
didapatkan bau amis pada sekret vagina. Bau ini berhubungan dengan
adanya hasil matabolisme bakteri yaitu diamin, putresin dan kadaverin
(Umbara P.J.A, 2009 dalam Putra B.R.M, 2014 ).

59

Gambar 6. Gas Liquid Chromatography (GLC)


(Wikipedia, 2016)

H.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan

keputihan

meliputi

usaha

pencegahan

dan

pengobatan yang bertujuan untuk menyembuhkan seorang penderita dari


penyakitnya, tidak hanya untuk sementara tetapi untuk seterusnya dengan
mencegah infeksi berulang (Endang, 2003). Apabila keputihan yang dialami
adalah yang fisiologik tidak perlu pengobatan, cukup hanya menjaga
kebersihan pada bagian kemaluan. Apabila keputihan yang patologik,
sebaiknya segera memeriksakan kedokter, tujuannya menentukan letak
bagian yang sakit dan dari mana keputihan itu berasal. Melakukan
pemeriksaan dengan menggunakan alat tertentu akan lebih memperjelas.
Kemudian merencanakan pengobatan setelah melihat kelainan yang
ditemukan. Keputihan yang patologik yang paling sering dijumpai yaitu
keputihan yang disebabkan Vaginitis, Candidiasis, dan Trichomoniasis.
Penatalaksanaan yang adekuat dengan menggabungkan terapi farmakologi
dan terapi nonfarmakologi (Tamonud Modak PA, 2011 dalam Putra, 2014).

60

1.

Terapi Farmakologi
Pengobatan keputihan yang disebabkan oleh Candidiasis dapat
diobati dengan anti jamur atau krim. Biasanya jenis obat anti jamur
yang sering digunakan adalah Imidazol yang disemprotkan dalam
vagina sebanyak 1 atau 3 ml. Ada juga obat oral anti jamur yaitu
ketocinazole dengan dosis 2x1 hari selama 5 hari. Apabila ada
keluhan gatal dapat dioleskan salep anti jamur (Jones, 2005 dalam
Putra B.R.M, 2014). Pengobatan Fluor albus yang disebabkan oleh
Trichomoniasis

mudah

dan

efektif

yaitu

setelah

dilakukan

pemeriksaan dapat diberikan tablet metronidazol (Flagy) atau tablet


besar Tinidazol (fasigin) dengan dosis 3x1 hari selama 7-10 hari.
Pengobatan keputihan (Fluor albus) yang disebabkan oleh vaginitis
sama dengan pengobatan infeksi Trichomoniasis. yaitu dengan
memberikan metronidazol atau Tinidazol dengan dosis 3x1 selama 710 hari. Pengobatan kandidiasis vagina dapat dilakukan secara topikal
maupun sistemik. Obat anti jamur tersedia dalam berbagai bentuk
yaitu: gel, krim, losion, tablet vagina, suppositoria dan tablet oral.
Nama obat adalah sebagai berikut: (1) Derivat Rosanillin, Gentian
violet 1-2 % dalam bentuk larutan atau gel, selama 10 hari. (2)
Povidone iodine, Merupakan bahan aktif yang bersifat antibakteri
maupun anti jamur. (3) Derivat Polien; Nistatin 100.000 unit
krim/tablet vagina selama 14 hari. Nistatin 100.000 unit tablet oral
selama 14 hari. (4) Drivat Imidazole: Topical (Mikonazol : 2% krim
vaginal selama 7 hari, 100 mg tablet vaginal selama 7 hari, 200 mg
tablet vaginal selama 3 hari, 1200 mg tablet vaginal dosis tunggal.
Ekonazol 150 mg tablet vaginal selama 3 hari. Fentikonazol 2% krim
vaginal selama 7 hari, 200 mg tablet vaginal selama 3 hari, 600 mg
tablet vaginal dosis tunggal. Tiokonazol 2% krim vaginal selama 3
hari, 6,5 % krim vaginal dosis tunggal. Klotrimazol 1% krim vaginal
selama 7 14 hari, 10% krim vaginal sekali aplikasi, 100 mg tablet
vaginal selama 7 hari, 500 mg tablet vaginal dosis tunggal.
Butokonazol 2% krim vaginal selama 3 hari. Terkonazol 2% krim

61

vaginal selama 3 hari). Sistemik (Ketokanazol 400 mg selama 5 hari.


Trakanazol 200 mg selama 3 hari atau 400 mg dosis tunggal.
Flukonazol 150 mg dosis tunggal (Endang, 2003).
2.

Terapi Non-Farmakologi
a.

Perubahan Tingkah Laku


Keputihan (Fluor albus) yang disebabkan oleh jamur lebih cepat
berkembang di lingkungan yang hangat dan basah maka untuk
membantu penyembuhan menjaga kebersihan alat kelamin dan
sebaiknya menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun
serta tidak menggunakan pakaian dalam yang ketat. Keputihan
bisa ditularkan melalui hubungan seksual dari pasangan yang
terinfeksi oleh karena itu sebaiknya pasangan harus mendapat
pengobatan juga (Tamonud Modak PA, 2011 dalam Putra,
2014).

b.

Personal Hygiene
Memperhatikan personal hygiene terutama pada bagian alat
kelamin sangat membantu penyembuhan, dan menjaga tetap
bersih dan kering, seperti penggunaan tisu basah atau produk
panty liner harus betul-betul steril. Bahkan, kemasannya pun
harus diperhatikan. Jangan sampai menyimpan sembarangan,
misalnya tanpa kemasan ditaruh dalam tas bercampur dengan
barang lainnya. Karena bila dalam keadaan terbuka, bisa saja
panty liner atau tisu basah tersebut sudah terkontaminasi.
Memperhatikan kebersihan setelah buang air besar atau kecil.
Setelah bersih, mengeringkan dengan tisu kering atau handuk
khusus. Alat kelamin jangan dibiarkan dalam keadaan lembab
(Tamonud Modak PA, 2011 dalam Putra, 2014 ).

c.

Pengobatan Psikologis
Pendekatan psikologik penting dalam pengobatan keputihan.
Tidak jarang keputihan yang mengganggu, pada wanita kadang
kala pemeriksaan di laboratorium gagal menunjukkan infeksi,
semua pengujian telah dilakukan tetapi hasilnya negatif namun

62

masalah atau keluhan tetap ada. Keputihan tersebut tidak


disebabakan oleh infeksi melainkan karena gangguan fsikologi
seperti kecemasan, depresi, hubungan yang buruk, atau beberapa
masalah psikologi yang lain yang menyebabkan emosional.
Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan konsultasi dengan ahli
psikologi. Selain itu perlu dukungan keluarga agar tidak terjadi
depresi (Tamonud Modak PA, 2011 dalam Putra, 2014).

63

I.

Konsep Asuhan keperawatan


Menurut Sawaludin S.E (2011) dan Mitayani (2013) konsep asuhan
keperawatan secara teori sebagai berikut:
1.

Anamnesia
a.

Identitas
1)

Identitas Klien
Nama

: Sebagai identitas, upayakan agar petugas

kesehatan memanggil dengan nama panggilan agar hubungan


komunikasi menjadi lebih baik dan menghindari terjadinya
kesalahan penanganan pasien yang akan di padukan dengan
tanggal lahir pasien. Wanita lebih rentan terkena sistitis dari
pada

laki-laki karena uretra wanita yang pendek dan lebih

dekat dengan anus.


Tanggal lahir

: Di kaji untuk memastikan keakuratan nama

pasien dan umur pasien sehingga dapat mentukan tindakan


keperawatan dengan tepat.
Umur

: Vaginitis

dapat

mempengaruhi

perempuan dari segala usia (Anak : usia < 13 tahun, Pubertas


: > 14 tahun, Reproduksi : 20 35 tahun, dan Menopuose : >
55 tahun).
Agama

: Sebagai

dasar

untuk

memberikan

dukungan mental dan spiritual terhadap klien dan keluarga.


Pekerjaan

: Data ini akan menggambarkan tingkat

sosial ekonomi, pola

sosialisasi,

dan

data

pendukung

dalam menentukan komunikasi selama asuhan diberikan.


Pendidikan

: Untuk mengetahui tingkatan pengetahuan

sehingga dalam memberikan asuhan disesuaikan dengan


tingkat pendidikan dan pengetahuan klien.
Suku

: Data ini berhubungan dengan sosial budaya

yang dianut oleh klien dan keluarga dan mempengaruhi


pemberian konseling, informasi, dan edukasi.

64

Alamat
klien sehingga

: Data ini untuk mengetahui tempat tinggal


memudahkan

pengkaji

bila

sewaktu-

waktu memerlukan keterangan lebih lanjut tentang klien


serta keadaan lingkunan klien yang dapat mempengaruhi
kejadian vaginitis.
Status perkawinan : Kaji status perkawinan klien, tanyakan
pada klien perkawinan ke berapa saat ini untuk mengetahui
tingkah laku seksual pada klien. Lama perkawinan :
Bergonta-ganti

pasangan

seksual

cenderung

menjadi

penyebab vaginitis pada usia produksi

2)

Tanggal Masuk RS

Tanggal Pengkajian

No. Rekmed

Diagnosa Medik

Identitas Penanggung Jawab


Nama

Umur

Jenis Kelamin

Agama

Pendidikan

Pekerjaan

Hubungan dengan klien :


Alamat

b.

Keluhan Utama
Berisi tentang keluhan yang dirasakan klien saat pengkajian atau
alasan klien datang ke petugas kesehatan yang diungkapkan
dengan bahasa sendiri. Keluhan keluhan yang mungkin dirasakan
pada wanita dengan vaginitis diantaranya :
1)

Terdapat leukorea yang encer sampai kental, bewarna


kekuning-kuningan dan agak berbau, keputihan yang
meyebabkan rasa gatal yang membakar pada vulva dan

65

vagina, kadang-kadang sering sakit saat BAK (Terjadi pada


usia reproduksi dengan pola seksual yang sering
Trikomonas).
2)

Terdapa leukorea berwarna keputih-putihan dan vulva sangat


gatal, pada dinding vulva dan vagina juga terdapat membranmembran kecil berwarna putih (Terjadi pada anak/pubertas
dan juga pada masa reproduksi kandida albicans).

3)

Terdapat leukorea berwana putih bersemu kelabu, kadangkadang kekuningan dengan bau yang kurang sedap, terasa
gatal disebakan oleh bakteri Hemofilus vaginitis.

4)

Terdapat leukorea dan rasa gatal hingga pedih, disuria dan


sering kencing (Terjadi pada masa menopuose).

5)

c.

Terjadi perubahan fungsi seksual.

Riwayat Kesehatan
1)

Riwayat Kesehatan Sekarang


Ditanyakan apakah klien mengalami diabetes melitus
atau

tidak. Hal ini di duga karena pada diabetes sudah

terjadi kelainan fungsional pada hormon estrogen maupun


fungsi leukosit sebagai pertahanan tubuh. Klien juga
menderita infeksi alat kelamin.
2)

Riwayat Kesehatan Dahulu


Dapat terjadi pada wanita yang memiliki riwayat penyakit
PMS (Penyakit Menular Seksual) dan DM.

3)

Riwayat Kesehatan Keluarga


Ditanyakan apakah suami menderita PMS atau tidak. PMS
dapat ditularkan melalui hubungan seksual dan riwayat
keluarga dengan DM.

4)

Riwayat Menstruasi
a) Menarche : Awal terjadinya menstruasi yang pertama
dialami oleh seorang wanita biasanya terjadi pada usia
13 tahun, dan berakhirnya pada usia rata-rata 51 tahun

66

yang disebabkan karena sudah usangnya folikel ovarium


akibat turunnya produksi estrogen
b) Siklus Menstruasi : Siklus mentruasi dipengaruhi oleh
hormon estrogen dan progesteron yang berperan dalam
perubahan endometrium uterus. Sebelum terjadinya fase
menstruasi, endometrium mengalami fase proliferasi dan
fase sekrotori. Fase proriferasi terjadi 10 hari atau lebih
dimana endometrium akan tumbuh menjadi tebal, karena
jumlah sel stroma bertambah banyak dan pertumbuhan
kelenjar,

pembuluh

darah

di

endometrium

juga

bertambah. Fasesekresi terjadi 12 sampai 14 hari setelah


fase proliferasi. Setelah ovulasi terjadi korpus rubrum
menjadinkorpus luteum yang memproduksi progesterone
dan keadaan endometrium menghasilkan getah yang
mengandung glikogen dan lemak yang berfungsi
menyediakan makanan bagi ovum diawal inplamasi.
Keadaan endometrium pada fase ini sangat optimal untuk
proses pertumbuhan dan perkembangan embrio. Setelah
fase sekresi, endometrium mengalami fase menstruasi
yaitu pelepasan lapisan endometrium. Pelepasan lapisan
endometrium disebabkan karena berkurangnya estrogen
dan progesterone secara drastis. Progesteron dan
estrogen yang menurun ini mengakibatkan dilatasi dan
statis

yang

endometrium.

diikuti

spasme

Selanjutnya

dan

lapisan

iskemia
ini

lapisan

mengalami

degenerasi dan perdarahan serta pelpasan lapisan


endometrium yang nekrotik. Keluaran menstruasi terdiri
dari sel-sel pecahan endometrium dan stroma, sel-sel
darah tia dan sekresi kelenjar. Menstruasi terjadi rata-rata
4-6 hari dan darah yang dikeluarkan selama menstruasi
normal sekitar 50-100 ml. Menstruasi yang pertama
kamu dialami oleh seorang wanita disebut menarke,

67

biasanya terjadi pada usia 13 tahun, dan berakhirnya


pada usia rata-rata 51 tahun yang disebabkan karena
sudah usangnya folikel

ovarium

akibat

turunnya

produksi estrogen (Tarwoto, 2009).


c) Dismenora : Awal tanda sakit terjadinya hari pertama
menstruasi dengan bahasa kesehatan.
d) Flour albus : Banyak, berbau, kental, warna keputihan
5)

Riwayat Perkawinan
a) Status perkawinan : Kaji status perkawinan klien,
tanyakan pada klien perkawinan ke berapa saat ini untuk
mengetahui tingkah laku seksual pada klien.
b) Lama perkawinan : Bergonta-ganti
cenderung

pasangan

seksual

menjadi penyebab vaginitis pada usia

produksi.
6)

Riwayat Obstetri
Umumnya klien pada pruritus tinggi dapat menyebabkan
vagintis.

7)

Riwayat Penggunaan Kontrasepsi


Penggunaan kontrasepsi pil KB kombinasi dan estrogen
berbasis terapi pengganti hormon.

8)

Pola Kebiasaan Sehari-hari


a) Pola istirahat : beberapa klien

dengan vaginitis

mengalami gangguan pola tidur atau istirahat karena rasa


gatal pada vulva.
b) Pola Nutrisi : nutrisi yang tidak seimbang menyebabkan
ketahanan tubuh menurun memudahkan bakteri atau
jamur penyebab infeksi masuk ke tubuh.
c) Pola aktivitas : beberapa klien

dengan

vaginitis

mengalami gangguan dalam beraktivitas karena rasa


gatal dan ketidaknyamanan pada vulva.
d) Pola eliminasi : sering berkemih (Disuria) atau rasa sakit
dan kesulitan dalam berkemih.

68

e) Pola Personal hygiene : cara cebok yang salah, dari


belakang

ke

depan,

dari

arah

anus

ke

vagina

memungkinkan masuknya bakteri ke dalam vagina.


Pemakaian bahan-bahan pewangi alat reproduksi. Sering
memakai celana dalam yang mengakibatkan genitalia
lembab dan panas sehingga membuat bekteri tumbuh
subur. Kurang memperhatikan kebersihan celana dalam
dan menggantinya selama 3x sehari.
f)

Hubungan

Seksual

Hubungan

seksual

dapat

menyebabkan masuknya bakteri kedalam alat genitalia.


1) Bergonta-ganti pasangan seksual (memiliki > 1
pasangan)

cenderung

vulvovaginitis
menopuse

menjadi

pada

dengan

berkurangnya

penyebab

usia reproduksi. 2) Pada masa


dinding vagina yang tipis dan

lendir

dapat

menyebabkan

mudah

masuknya bakteri/jamur pada wanita menopuse dengan


pola seksual yang tinggi.
9)

Riwayat Psikososial
a) Komunikasi : untuk mengetahui komunikasi kilen
dengan keluarga dan masyarakat sekitar dan untuk
mengetahui bahasa sehari-hari yang digunakan ibu untuk
berkomunikasi.
b) Psikologi
apakah

keadaan emosional : untuk


ada

gangguan

psikologis

mengetahui
pada

klien,

mengalami gangguan rasa nyaman karena keputihan


yang berbau, dan rasa gatal.
c) Sosial / hubungan keluarga : bagaimana hubungan klien
dengan keluarga.
d) Pengambil

keputusan

untuk

mengetahui

siapa

pengambil keputusan untuk setiap tindakan yang


diperlukan dan bila terjadi kegawatdaruratan.

69

2.

Pemeriksaan Fisik
a.

Pemeriksaan abdomen
1)

Inspeksi : perhatikan bentuk pembesaran atau cekungan,


pergerakan pernafasan, kondisi kulit, parut operasi.

2)

Palpasi, perkusi, auskultasi : seperti halnya pemeriksaan


abdomen. Dsini mempunyai kepentingan untuk menegakkan
diagnose adanya kasus ginekologi seperti mioma, kegansan
dan kehamilan. Pasien harus diperiksa dalam posisi telentang
dengan kandung kemih kosong.Periksalah abdomen, bukalah
seluruh abdomen sampai dengan tepat diatas simpisi pubis.
Amati ada tidaknya peradangan, cari jaringan parut dan
peregangan dan terutama peregangan panggul.
Lakukan pemeriksaan abdomen bawah mulai dari umbilicus,

periksa ke bawah menuju tulang pubis dengan tangan kiri,dan raba


adanya massa suprapubis lalu ke sebelah kanan dan kiri suprapubis.
Periksa nyeri di fossa illiaka dan periksa lipat paha mencari
limfadenopati dan hernia.
1)

Pemeriksaan Genetalia

2)

Pemeriksaan Fisik
Untuk melakukan pemeriksaan fisik, pasien perlu disiapkan

terlebih dahulu :
1)

Minta pasien untuk mengosongkan kandung kemih dan


rectum.

2)

Posisikan pasien litotomi.

3)

Pakailah sarung tangan sebelum melakukan pemeriksaan.

4)

Sebelum melakukan pemeriksaan, informasikan apa yang


akan pemeriksa lakukan.

1)

Pemeriksaan Genitalia
a) Genitalia Eksterna dan Rambut Pubis
Pada genitalia eksterna pemeriksa dapat melakukan
penilaian antara mons veneris untuk melihat adanya lesi

70

atau

pembengkakan.Rambut

pubis

untuk

melihat

polanya. Kulit vulva untuk melihat adanya kemerahan,


ekskoriasi, massa, leukoplakia, dan pigmentasi. Jika
menemukan kelainan harus dilanjutkan dengan palpasi.
b) Labia Mayor dan Minor
Sampaikan kepada pasien bahwa anda akan membuka
labia, dengan tangan kanan, labia mayor dan minor
dibuka terpisah oleh ibu jari dan jari telunjuk tangan
kanan. Periksalah introitus vagina. Catat setiap lesi
peradangan,

ulserasi,

secret

parut,

kutil,

trauma,

bengkak, perubahan atropik ataupun massa.


c) Klitoris
Diperiksa untuk melihat ukuran dan adanya lesi. Ukuran
normal 3-4 mm.
d) Meatus Uretra
Lihat apakah ada pus atau peradangan.
e) Kelenjar Bartholini
Sampaikan kepada pasien bahwa nada akan melakukan
pemeriksaan palpasi kelenjar bartholin di labia. Palpasi
daerah kelenjar kanan pada posisi jam 7-8 dengan
memegang bagian posterior labia kanan diantara jari
telunjuk kanan di dalam vagina dan ibu jari kanan di
luar. Perhatikan adanya keluhan nyeri tekan, bengkak,
atau pus. Pakailah tangan kiri untuk memeriksa daerah
kelenjar kiri pada posisi jam 4-5.
f)

Perineum Perineum dan Anus


Diperiksa untuk melihat adanya massa, parut, fisura atau
fistel, dan warna. Periksa pula anus untuk melihat adanya
hemorrhoid, iritasi dan fissure.

71

2)

Pemeriksaan Fisik
a) Pemeriksaan Bagian Luar

Inspeksi : rambut pubis, distribusi bandingkan usia


perkembangan klien, kulit dan raea pubis, adakah
lesi, eritema, visura, leukoplatia dan eksoria labia
mayora, minora, klitoris, meatus ureatra terhadap
pembekakakn ulkus, keluaran dan nodul.

Palpasi : Raba dinding vagina, kaji adanya nyeri


tekan dan nodula. Serviks : kaji posisi ukuran,
konsistensi, regularitas, mobilitas dan nyeri tekan.
Uterus : kaji ukuran dan bentuk, konsistensi dan
mobilitas.

b) Pemeriksaan Bagian Dalam

Inspeksi : kaji serviks yaitu ukuran, laserasi, erosi,


nodula, massa, keluaran dan warnanya.

Untuk pemeriksaan ginekologi dikenal 3 letak penderita :

Letak Litotomi : letak ini paling sering dilakukan,


diperlukan meja ginekologi dan penyangga bagi
kedua tangkai. Penderita berbaring diatas meja
ginekologi, sambil lipat lututnya diletakkan pada
penyangga dan tungkainya dalam fleksi santai,
sehingga penderita dalam posisi mengangkang.
Dengan penerangan lampus sorot, vulva, anus dan
sekitarnya dapat terlihat jelas dan pemeriksaan baik
bimanual

maupun

dilakukan.Pemeriksaan

dengan

speculum

inspekulo

dapat

dilakukan

dengan pemeriksaan duduk, sedang pemeriksaan


bimanual sebaiknya dengan berdiri.

Letak Miring : pasien diletakkan di pinggir tempat


tidur miring ke sebelah kiri, sambil paha dan
lututnya ditekuk dan kedua tungkai sejajar.Posisi
ini hanya baik untuk pemeriksaan inspekulo.

72

Letak Simm : letak ini hampir sama dengan letak


miring. Hanya tungkai kiri hampir lurus, tungkai
kanan ditekuk kea rah perut, dan lututnya
diletakkan pada alas, sehingga panggul membuat
sudut miring dengan alas, lengan kiri di belakang
badan dan bahu sejajar alas.Dengan demikian
penderita berbaring setengah tengkurap.Dengan
posisi ini pemeriksaan inspekulo lebih mudah
dilakukan.

Pemeriksaan genitalia eksterna dengan inspeksi perlu


diperhatikan bentuk, warna, pembengkakan, dan sebagainya
dari genitalia eksterna, perineum, anus dan sekitarnya, dan
apakah ada flour albu, atau darah. Apakah hymen masih utuh
dan klitoris normal.
Pemeriksaan

dengan

Spekulum

Setelah

dilakukan

inspeksi alat genital, pemeriksaan lebih lanjut dapat


dilakukan dengan speculum, terutama apabila dilakukan
dengan sitology vagina.Namun ada juga yang memulai
dengan pemeriksaan bimanual terlebih dahulu. Untuk wanita
yang belum pernah melahirkan di pilih speculum yang lebih
kecil, atau pada anak kecil apabila memang diperlukan
menggunakan speculum paling kecil sesuai dengan kecilnya
introitus vagina.
Pemeriksaan Genekologim sebagai berikut:
1) Cara Pemasangan speculum

Spekulum SIMM : dipasang terlebih dahulu kedalam


vagina bagian belakang (posterior). Mulamula ujung
speculum dimasukkan agak miring ke dalam
introitus vagina, didorong ke dalam sedikit, dan
diletakkan melintang dalam vagina : lalu speculum
ditekan ke belakang dan di dorong lebiih ke dalam
lagi, sehingga ujung speculum menyentuk puncak

73

vagina di fornik posterior. Setelah speculum pertama


di pasang makam maka speculum kedua yang lebih
kecil menjadi sangat mudah, ujung diletakkan di
fornik anterior dan ditekan sedikit ke depan.
Biasanya portio langsung tampak dengan jelas.
Apabila portio menghadap terlampau ke depan atau
ke belakang, maka posisi speculum disesuaikan,
sehingga letak portio tepat ditengah speculum.

Spekulum Cocor Bebek : dalam keadaan tertutup,


speculum dimasukkan ujungnya kedalam introitus
vagina sedikit miring, kemudian diputar kembali
menjadi melintang dalam vagina dan di dorong
masuk lebih dalam kea rah fornik posterior sampai
di puncak vagina, lalu speculum di buka melalui
mekanik pada tangkainya. Dengan demikan dinding
vagian depan dipisah dari yang belakang, dan portio
tampak jelas. Apabila portio belum tampak jelas,
posisi speculum dapat disesuaikan. Waktu speculum
dibuka daun depan tidak menyentuh portio karena
agak lebih pendek dari daun belakang. Dengan
menggunakan speculum, periksa dinding vagina
(rugrae, carcinoma, flour albus), dan portio (bulat,
terbelah

melintang,

peradangan,

polip,

mudah

berdarah,

tumor

atau

erosion,

ulkus,

juga

diperhatikan warna, dan OUE membuka/menutup)


Selain di pasang speculum dapat dilakukan usap
vagina dan usap serviks untuk pemeriksaan sitology,
getah kanalis servikalis untuk pemeriksaan GO, dan
getah dari fornik posterior untuk pemriksaan
trikomoniasis dan kandidiasis. Dapat juga digunakan
untuk pelepasan AKDR.

74

Alat dan Bahan. Pemeriksaan ginekologi memerlukan


alat dan bahan sebagai berikut :

Bed Ginekologi

Sarung tangan

Spekulum simm dan cocor bebek

Cunam kapas/ kurentang

Kateter nelaton dan kateter logam

Kapas lisol

Kaca benda untuk pemeriksaan sitology vagina

Spatel ayre dan etil alcohol untuk sitology vagina

Kapas lidi

Cunam portio

Sonde uterus

Cunam biopsy

Mikro kuret

Lampu sorot

Relaksasi pelvis dengan labia terpisah lebar minta pasien


untuk mengejan atau batuk. Jika ada relaksasi vagina,
mungkin akan terlihat penggembungan dinding anterior
(sistokel) atau posterior (rektokel). Jika ada inkontinensia
stress.

Batuk

atau

mengejan

akan

menyebabkan

menyemprotnya urin dari uretra.


J.

Diagnosa Keperawatan
1.

Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit dengan


batasan karakteristik gatal-gatal, rasa ketidaknyamanan & iritasi

2.

Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (peradangan)

3.

Gangguan pola nafas berhubungan dengan kecemasan, nyeri

4.

Gangguan integritas kulit berhubungan dengan lesi, iritasi

5.

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan disfungsi seksual

6.

Disfungsi seksual berhubungan dengan ketidaknyamanan saat


melakukan hubungan seksual
75

7.

Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, perubahan pada status


kesehatan

8.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi

9.

Nyeri akut berhubungan dengan lesi, eritema, tekanan pada urat saraf

10.

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan faktor biologi

11.

Inkontinensia urin berhubungan dengan penekanan pada kandung


kemih & urat saraf

76

K.
No.
1.

Rencana Asuhan Keperawatan


Diagnosa

Tujuan (NOC)

Keperawatan
Gangguan

rasa Setelah

nyaman

dilakukan

Intervensi (NIC)
tindakan Relaxation therapy

keperawatan selama 3x24 jam 1. Monitor TTV

berhubungan dengan diharapkan status kenyamanan 2. Ajak klien untuk relaksasi


gejala

penyakit meningkat dengan criteria hasil :

dengan
karakteristik,
gatal,

batasan
gatalrasa

ketidaknyamanan &
iritasi.

Rasional
Relaxation therapy
1. Untuk mengetahui keadaan klien
2. Dengan berrelaksasi gangguan
rasa nyaman berkurang.

1. Klien merasa nyaman


2. Gatal berkurang

Sleep Enhancement

Sleep Enhancement

3. TTV dalam batas normal

1. Monitor tidur klien

1. Kualitas dan kuantitas tidur yang

TD : 120/80 mmHg
S

kurang

: 37 C

dapat

menandakan

gangguan kenyamanan

RR : 16-20 x/menit
N : 80-100 x/menit

Calming technique

Calming technique

1. Ajarkan tekhnik napas dalam dan

1. Napas dalam dan distraksi dapat

distraksi

memberikan efek menenangkan


sehingga cemas dapat berkurang

2. Beri penjelasan kepada klien secara


lembut dan pelan

77

2. Suara lembut dan pelan dapat


memberikan kesan menghargai

sehingga diharapkan klien dengan


usia lanjut dapat melaksanakan
perintah dari perawat.
2.

Hipertermi

Setelah

dilakukan

tindakan Temperature regulation

berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam 1. Monitor TTV


proses

penyakit diharapkan suhu dalam batas

(peradangan)

normal dengan kriteria hasil:


1. Suhu : 36,1 37,2 0 C

Temperature regulation
1. Mengetahui status perkembangan
penyakit dan pengobatan

2. Monitor temperature setiap 2 jam 2. Mengetahui status perkembangan


sekali
3. Monitor warna kulit dan suhu kulit

penyakit dan pengobatan


3. Mengetahui keefektifan obat
antibiotik

4. Kolaborasi pemberian antibiotik

4. Mempercepat penurunan panas

(paracetamol)
3.

Gangguan pola nafas Setelah

dilakukan

tindakan Respiratory Monitoring

berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam. 1. Monitor tingkat, kedalaman, dan
kecemasan, nyeri.

Diharapkan pola nafas efektif

upaya untuk bernapas

dengan kriteria hasil :


1.

Respirasi dalam batas


normal (RR: 16-24 x/mnt)

2.

Dypsneu hilang

78

Respiratory Monitoring
1. Mengetahui perubahan pola napas

4.

Gangguan integritas Setelah


kulit
dengan

dilakukan

tindakan Skin Surveillance

berhubungan keperawatan selama 3x24 jam. 1. Monitor warna kulit dan suhu
perubahan Diharapkan integritas kulit baik.

sensasi (lesi).

Skin Surveilance
1. Mengetahui hasil pemeriksaan
klien lewat warna kulit dan suhu

Dengan kriteria hasil :

tubuh untuk menetukan tindakan

1. Tidak ada lesi kulit

selanjutnya.

2. Tidak ada edema

2. Inspeksi kulit dan membran

3. Elastisitas kulit baik

2. Membran

mukosa

yang

mukosa untuk kemerahan,

kemerahan dapat mempengaruhi

kehangatan yang ekstrim, edema,

dari hasil pemeriksaan untuk

atau drainase

klien.
3. Penggunaan keketatan pakaian

3. Inspeksi keketatan pakaian

terutama

pada

mempengaruhi

celana
kesehatan

genetalia pada klien dan hasil


pemeriksaan dapat berpengaruh.
5.

Gangguan citra diri Setelah

dilakukan

tindakan Body Image Enhancement

berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam.


disfungsi seksual

Diharapkan

citra

tubuh

1. Bantu klien untuk meningkatkan


koping pada klien

Body Image Enhancement


1. Peningkatan koping klien dapat
membantu proses pertahanan

meningkat. Dengan kriteria hasil

klien dari perawatan yang klien

jalani selama ini.

79

1. Penyesuaian terhadap status


kesehatan
2. Kepuasan

2. Beri motivasi pada klien untuk


meningkatkan harga diri

terhadap

fungsi

2. Dengan adanya peningkatan


harga diri pada klien dapat
membantu klien untuk bertahan

tubuh

dengan hasil pemeriksaan.

3. Penggunaan strategi untuk


peningkatan fungsi tubuh

3. Monitor sosialisai klien terhadap


lingkungan disekitarnya

3. Mengetahui tingkat sosiali yang


klien lakukan saat berada di
lingkungan rumah ataupun tempat
kerja.

4. Anjurkan keluarga untuk

4. Membantu klien untuk dapat

membantu klien dalam menjaga

menerima keadaan yang sedang

emosinya

klien rasakan saat ini.

5. Kolaborasi dengan tim kesehatan

5. Dengan kolaborasi tim kesehatan

untuk membantu perawatan pada

lainnya dapat membantu proes

klien.

penyembuhan perawatan klien


dari hasil pemeriksaan yang
sudah ada.

6.

Disfungsi

seksual Setelah

dilakukan

tindakan 1. Bantu klien untuk melakukan terapi

1. Membantu klien untuk

berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam. relaksasi

mengurangi rasa gatal yang di

ketidaknyamanan

rasakan nya saat ini

Diharapkan

meningkatkan

80

saat

melakukan fungsi seksual. Dengan kriteria Sexual counseling

hubungan seksual.

hasil :

1. Bantu klien untuk proses

1. Melaporkan kesehatan fungsi


seksual
2. Menggambarkan resiko yang

Se1xual counseling
1. Mengetahui

klien

dalam

pengambilan keputusan tentang

pengambilan keputusan tentang

kedaan klien

pemeriksaan selanjutnya

2. Kolaborasi dengan tim kesehatan

2. Mengetahui

tentang

berhubungan dengan aktifitas

untuk melakukan konseling sexual

sexual

seksual

yang terjadi pada klien

konseling dengan tim kesehatan

3. Melaporkan kenyamanan saat


melakukan

klien

kesehatan

dengan

cara

lainnya

hubungan

seksual.
7.

Ansietas

Setelah

dilakukan

tindakan 1. Bantu klien untuk mengurangi 1. Dapat

berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam.


krisis

situasional, Diharapkan

perubahan

ansietas

tingaktan

stress yang relokasi pada klien

dapat 2. Berikan terapi relaksasi pada klien 2. Mengurangi rasa kecemasan yang

pada terkontrol. Dengan kriteria hasil

status kesehatan.

stress relokasi

mengurangi

untuk mengurangi kecemasan yang

berlebih pada klien

terjadi pda klien

1. Klien

mengungkapkan 3. Monitor vital sign

kecemasan secara verbal


2. TTV

dam

3. Membantu

dalam

hasil

pemeriksaan dari vital sign klien

rentang

normal(TD: 120/80mmhg, N:

81

16-24 x/menit)
3. Mampu dalm pengambilan
keputusan
8.

Kurang pengetahuan Setelah

dilakukan

tindakan 1. Berikan

berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam.


kurang pengetahuan

informasi

melalui

konseling mengenai seksual klien

Diharapkan pengetahuan klien


pendidikan

kesehatan

kepada klien

1. Mengetahui
penting
kesehatan

untuk

lebih

pada

mengenal

oleh klien

tentang 3. Berikan

2. Mengetahui efek terapeutik

pengetahuan

masalah seksual yang dirasakan

petugas

penggunaan obat saat ini.

2. Menambah
klien

informasi
dari

seksual yang dialami oleh klien


saat ini

meningkat. Dengan kriteria hasil 2. Berikan


:

1. Membantu klien lebih mengenal

bimbingan

kesehatan

3. Untuk lebih mengarahkan klien

kepada klien mengenai masalah

untuk tetap menjaga kesehatan

seksualitasnya

pada seksualitas klien

dan efek samping obat


9.

Nyeri

akut Setelah

dilakukan

tindakan Pain Management

Pain Management

berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam. 1. Monitor tanda-tanda vital sign 1. Mengetahui tingkatan vital sign
agen injuri biologis Diharapkan
(infeksi)

nyeri

terkontrol.

klien

Dengan kriteria hasil :


1. Menggambarkan

pada klien untuk pemeriksaan


selanjutnya

faktor 2. Menggunakan strategi komunikasi 2. Mengetahui tingkatan nyeri yang

82

penyebab nyeri

terapeutik

2. Menggunakan analgesik dan


non analgesik
3. Melaporkan

untuk

mengetahui

respon terhadap nyeri

dirasakan oleh klien tentang nilai


nyeri yang dirasakan klien saat itu

3. Kaji pengetahuan klien tentang 3. Membantu


nyeri

dapat

nyeri

untuk

pemeriksaan

terkontrol

hasil

yang

dari
sudah

dilakukan kepada klien


4. Kaji pengetahuan budaya klien 4. Mengethui budaya klien tentang
terhadap respon nyeri

respon terhadap nyeri yang di


rasakannya

5. Evaluasi

efektivitas

tindakan 5. Mengkaji pengendalian tindakan

pengendalian nyeri masa lalu yang

nyeri yang dirasakan oleh klien

telah digunakan
6. Kolaborasi

dengan

tenaga 6. Membantu klien dalam proses

kesehatan lain dalam pemberian

penyembuhan

dengan

resep analgetik untuk klien

menggunakan

pemberian

analgetik

Calming technique

Calming technique

1. Ajarkan tekhnik napas dalam dan 1. Napas dalam dan distraksi dapat
distraksi

83

memberikan efek menenangkan

sehingga cemas dapat berkurang


2. Beri penjelasan kepada klien secara 2. Suara lembut dan pelan dapat
lembut dan pelan

memberikan kesan menghargai


sehingga diharapkan klien dengan
usia lanjut dapat melaksanakan
3. perintah dari perawat

10.

Ketidakseimbangan

Setelah

dilakukan

tindakan Nutrition Management :

nutrisi kurang dari keperawatan selama 3x24 jam


kebutuhan

tubuh diharapkan

nutrisi

klien

berhubungan dengan terpenuhi. Dengan kriteria hasil:


faktor biologi

1. Identifikasi alergi makanan pada


klien
2. Anjurkan klien tentang pemenuhan

Nutrition Management :
1. Mengetahui makanan yang dapat
memicu alergi pada klien
2. Memberikan

kemudahan

pada

1. Nutrisi adekuat

gizi (diskusikan dengan klien

klien tentang makanan yang akan

2. Intake makanan adekuat

tentang makanan yg disukai)

di konsumsi

3. Energi adekuat

3. Atur pola makan yang diperlukan

4. BB naik

3. Mengetahui pola makan yang

klien (seperti tinggi protein &

akan

diberikan

pada

klien

kalori)

sehingga klien tahu jadwal pola


makannya

Nursing Monitoring :

Nursing Monitoring :

1.

1. Mengetahui naik dan turunnya

Monitor BB klien

BB pada klien

84

2.

Monitor turgor dan elastisitas

2. Memberikan nutrisi yang dapat

kulit

membentu

klien

dalam

pemenuhan nutrisinya
3.

Monitor mual & muntah

3. Mengetahui

4.

muntah

frekuensi

pada

klien

mual
untuk

menhindari secara berlebihan


11.

Inkontinensia

urin Setelah

dilakukan

tindakan 1. Identifikasi

faktor

penyebab 1. Mengetahui penyebab utama dari

berhubungan dengan keperawatan selama 3x24 jam.

inkontenesia (urin output & pola

Nyeri (Peradangan)

eliminasi)

Diharapkan inkontinensia urin


dapat terkontrol.
Dengan kriteria hasil :

2. Jelaskan

penyebab

masalah

& 2. Dapat

rasional tindakan selanjutnya

3. Urin jernih tidak berbau

membantu

mengagkakn

1. Pola eliminasi urin teratur


2. Warna urin bening

inkontenensia urin

untuk

diagnosa

yang

terjadi pada klien


3. Monitor

eliminasi

(Output/Input
frekuensi,

urin

konsistensi,

urin 3. Mengathui output urin pada klien


termasuk
volume,

dari

freakuensi,

konsistensi,

volume, warna dan bau

warna dan bau)


4. Berikan masukan positif untuk 4. Membantu klien dengan keluhan
mengurangi
pada klien

85

inkontrenensia

urin

yang sedang dirasakan oleh saat


ini

5. Instruksikan klien untuk minum 5. Mencegah terjadinya kompleks


minimal 1500 cc perhari

inkontenesia

urin

lanjut pada klien

86

yang

lebih

BAB III
PEMBAHASAN KASUS

A. Pengkajian
1. Identitas
a. Identitas Klien
Nama

: Ny. X

Umur

: 37 Tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Pekerjaan

: Marketing Produk Makanan bagian pasar


tradisional

Diagnosa medis : Vaginitis


Tgl pengkajian

: 11 April 2016

2. Keluhan Utama
Klien mengatakan, Merasakan gatal-gatal di daerah vagina dan
sekitarnya

3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang (OPQRST)
Klien mengatakan, Sudah seminggu merasakan gatal-gatal didaerah
vagina dan sekitarnya pada awalnya gatal-gatal itu terasa ketika klien
sering melakukan kegiatan fisik baik saat dirumah maupun ditempat
kerja sehingga banyak keringat. Gatal sangat mengganggu terutama
pada malam hari kemudian setelah 3 hari keluar keputihan yang lebih
banyak dari biasaanya, berbau amis seperti susu basi.
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan, Sudah pernah minum dan cebok dengan ramuan
tradisional (daun sirih) tetapi tidak sembuh. Sebelumnya pasien belum
pernah menderita gatal-gatal seperti ini. Menarche usia 13 tahun. Pola
menstruasi 1 bulan sekali dengan lama 5-7 hari. Tidak ada keluhan

87

menjelang atau selama menstruasi. Telah memakai alat kontrapsepsi


suntikan depoprovera ( 3 bulan sekali ).
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak dikaji
Genogram
Klien mengatakan, Memiliki 2 orang anak.

4. Pola Pemenuhan Aktivitas


No.
1.

Aktivitas sehari-hari

Sehat

Sakit

Nutrisi
A. Makan (Pokok

Tidak dikaji

Tidak dikaji

&Selingan)

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Jenis menu

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Frekuensi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Jumlah

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Porsi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Pantangan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Waktu

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Makanan khusus (Diet)

Tidak dikaji

Tidak dikaji

Minuman

Tidak dikaji

Rebusan daun

Tidak dikaji

sirih

Tidak dikaji

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Keluhan
B. Minum
- Jenis minuman
- Frekuensi
- Jumlah
- Pantangan

Tidak dikaji

- Keluhan
2.

Istirahat dan tidur


A. Malam

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Jumlah jam

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Dari jam s.d jam

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Kebiasaan tidur

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Keluhan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

88

B. Siang

3.

- Jumlah jam

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Dari jam s.d jam

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Kebiasaan tidur

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Keluhan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

A. BAK

Cebok dengan

Tidak dikaji

- Frekuensi

ramuan

Tidak dikaji

- Jumlah

tradisional (daun

Tidak dikaji

- Warna

sirih)

Tidak dikaji

- Konsistensi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Bau

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Keluhan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

B. BAB

Tidak dikaji

- Frekuensi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Jumlah

Tidak dikaji

Tidak dikaji

Eliminasi

- Warna

Tidak dikaji

- Bau

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Konsistensi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Penggunakan pencahar

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Keluhan

Tidak dikaji

Tidak dikaj

Tidak dikaji
Tidak dikaji
Tidak dikaji
4.

Personal hygiene
A. Mandi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Frekuensi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Waktu

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Menggunakan sabun

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Air yang digunakan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Keluhan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

B. Gosok Gigi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

89

5.

- Frekuensi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Waktu

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Penggunaan pasta gigi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Keluhan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

C. Mencuci Rambut

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Frekuensi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Waktu

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Menggunakan shampo

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Air yang digunakan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Keluhan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

D. Berpakaian

Tidak dikaji

Tidak dikaji

Frekuensi ganti baju

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Waktu

Tidak dikaji

Tidak dikaji

rekreasi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Jenis Aktifitas

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Waktu aktivitas

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Jenis olahraga

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Waktu olahraga

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Jenis rekreasi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Waktu Rekreasi

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Kesulitan

Tidak dikaji

Tidak dikaji

- Penggunaan alat bantu

Tidak dikaji

Tidak dikaji

Mobilitas, aktivitas dan

5. Riwayat Obstetri Ginekologi


a. Menstruasi
Klien mengatakan, Menarche usia 13 tahun. Pola menstruasi 1 bulan
sekali dengan lama 5-7 hari. Tidak ada keluhan menjelang atau selama
menstruasi.
b. Hubungan Seksual
Tidak dikaji

90

c. Kehamilan & Persalinan


Dalam kasus tidak dijelaskan tentang berapa kali mengalami
kehamilan. Klien memiliki 2 orang anak.
d. Perkawinan
Tidak dikaji
e. Penggunaan Kontrasepsi
Klien mengatakan, Menggunakan alat kontrasepsi Depopprovera, 3
bulan sekali
f. Penyakit Seksual
Tidak dikaji
6. Riwayat Psikososial, Spritual dan Budaya
a. Psikososial

: Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)

b. Spiritual

: Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)

c. Budaya

: Minum ramuan tradisional (daun sirih)

7. Pemeriksaan Fisik
a. Penampilan umum
Kesadaran : Kompos Mentis
Tanda-tanda Vital :
TD

: 110/80mmHg

: 37,7 0C

: 80 x/menit

RR

: 28 x/menit

TB

: Tidak terkaji

BB

: Tidak terkaji

b. Kulit, Kuku dan Rambut : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
d. Nodus limfe : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
e. Kepala : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
f. Mata : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
g. Telinga : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
h. Hidung dan Sinus : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
i. Mulut, tenggorokan : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
j. Leher : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
k. Kelenjar limfe : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)

91

l. Payudara : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)


m. Paru-paru : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
n. Kardivaskuler : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
o. Abdomen : Tidak tercantum dalam kasus (Tidak dikaji)
p. Genital

Inspeksi : Inspeksi : Tampak keluar cairan keputihan yang lebih


banyak dari biasanya, berbau amis seperti susu basi.

Palpasi : adanya tanda-tanda infeksi (kulit hangat,, kemerahan,


bengkak, nyeri).

B. Pemeriksaan Penunjang
Tidak dikaji

C. Informasi Tambahan
Tidak dikaji

92

D.

Analisa Data

No.
1.

Data-data

Etiologi

DS :
Klien mengatakan, Sudah seminggu

Alat kontrasepsi, Bakteri protozoa,


jamur,perubahan hormonal.

merasakan gatal-gatal didaerah vagina


dan sekitarnya pada awalnya gatal-gatal

fisik

baik

saat

dirumah

Vaginitis

terutama pada malam hari kemudian


setelah 3 hari keluar keputihan yang

Ig.E stimulating
(Bradikinin, Histamin, Serotonin, Prostaglandin)

lebih banyak dari biasaanya, berbau


amis seperti susu basi.

rasa

berhubungan

dengan

dengan

nyaman
gejala
batasan

karakteristik gatal-gatal, rasa


ketidaknyamanan & iritasi.

Peningkatan konsentrasi flora normal

maupun ditempat kerja sehingga banyak


keringat. Gatal sangat mengganggu

Gangguan

penyakit
Personal hygiene kurang

itu terasa ketika klien sering melakukan


kegiatan

Masalah keperawatan

Sekret Purulen

DO :

Gatal

Tampak keluar cairan keputihan yang


lebih banyak dari biasanya, berbau amis

Lesi

seperti susu basi.

93

Gangguan Rasa Nyaman


2.

DS : Tidak dikaji

Alat kontrasepsi, Bakteri protozoa,


jamur,perubahan hormonal.

pola

berhubungan
kecemasan, nyeri.

DO :
RR : 28 x/menit

Gangguan

Personal hygiene kurang

Peningkatan konsentrasi flora normal

Vaginitis

Ig.E stimulating
(Bradikinin, Histamin, Serotonin, Prostaglandin)

Sekret Purulen

Gatal

Lesi

94

nafas
dengan

Gangguan Rasa Nyaman

Ansietas

Gangguan Pola Napas


3.

DS : Tidak dikaji

Alat kontrasepsi, Bakteri protozoa,


jamur,perubahan hormonal.

dengan

berhubungan
proses

(peradangan).

DO :
Suhu : 37,70C (Normal : 36,1-37,20C)

Hipertermi

Personal hygiene kurang

Peningkatan konsentrasi flora normal

Vaginitis

Ig.E stimulating
(Bradikinin,Histamin,Serotonin,Prostaglandin)

95

penyakit

Pada kelenjar bartholini

Peradangan berupa pembesaran kelenjar bartholini

Akumulasi monosit makrofag sel T helper &


fibroblast

Pelepasan Pirogen Endogen (Sitokinin)

Interleukin 1- Interleukin 6

Merangsang Saraf Vagus

Sinyal mencapai Sistem Saraf Pusat

Pembentukan Prostaglandin di Otak

Merangsang hipotalamus peningkatan titik


patokan suhu

96

Mengigil

Hipertermi
4

DS:

Klien

mengatakan

mencoba

minum dan cebok dengan ramusional

Alat kontrasepsi, Bakteri protozoa,


jamur,perubahan hormonal.

traditional (daun sirih) tetapi tidak


sembuh.

pengetahuan

berhubungan
kurangnya informasi.

Personal hygiene kurang

DO: Keluar keputihan lebih banyak dari


biasanya dan berbau amis

Kurang

Peningkatan konsentrasi flora normal

Vaginitis

Ig.E stimulating
(Bradikinin,Histamin,Serotonin,Prostaglandin)

Sekret Purulen

Gatal

97

dengan

Kurangnya Informasi

Kurang Pengetahuan

E.

Diagnosa Keperawatan
1.

Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan gejala penyakit dengan batasan karakteristik gatal-gatal, rasa ketidaknyamanan &
iritasi.

2.

Gangguan pola nafas berhubungan dengan kecemasan, nyeri.

3.

Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (peradangan).

4.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

98

F.

Rencana Asuhan Keperawatan

No

Diagnosa Keperawatan

1.

Gangguan rasa nyaman


berhubungan dengan
Gatal

2.

Tujuan (NOC)

Intervensi (NIC)

Setelah dilakukan tindakan


Relaxation therapy
keperawatan selama 3x24 jam 1. Monitor TTV
diharapkan status
2. Ajak klien untuk relaksasi
kenyamanan meningkat
dengan criteria hasil :
1. Gatal berkurang
Sleep Enhancement
2. Klien merasa nyaman
1. Monitor tidur klien
3. TTV dalam batas normal
TD : 120-130/80-90
mmHg
S : 36,5-37,5 mmHg
Calming technique
RR : 16-24 x/menit
1. Ajarkan tekhnik napas dalam dan
N : 80-100 x/menit
distraksi

Rasional
Relaxation therapy
1. Untuk mengetahui keadaan klien
2. Dengan berrelaksasi gangguan
rasa nyaman berkurang.
Sleep Enhancement
1. Kualitas dan kuantitas tidur yang
kurang dapat menandakan
gangguan kenyamanan

Calming technique
1. Napas dalam dan distraksi dapat
memberikan efek menenangkan
sehingga cemas dapat berkurang
2. Beri penjelasan kepada klien 2. Suara lembut dan pelan dapat
secara lembut dan pelan
memberikan kesan menghargai
sehingga diharapkan klien dengan
usia lanjut dapat melaksanakan
perintah dari perawat.
Gangguan Pola Nafas Setelah dilakukan tindakan Respiratory Monitoring
Respiratory Monitoring
berhubungan
dengan keperawatan selama 3x24 1. Monitor tingkat, kedalaman, dan 1. Mengetahui perubahan pola napas
Dypsneu (RR : 28x/ mnt) jam. Diharapkan pola nafas
upaya untuk bernapas

99

3.

4.

efektif dengan kriteria hasil :


1. Respirasi dalam batas
normal (RR: 16-24 x/mnt)
2. Dypsneu hilang
Hipertermi berhubungan Setelah dilakukan tindakan Temperature regulation
dengan proses penyakit
keperawatan selama 3x24 jam 1. Monitor TTV
diharapkan suhu dalam batas
normal dengan kriteria hasil: 2. Monitor temperature setiap 2 jam
1. Suhu : 36,1 37,2 0 C
sekali
3. Monitor warna kulit dan suhu
kulit
4. Kolaborasi pemberian antipiretik
(paracetamol)

Kurangnya pengetahuan
berhubungan
dengan
kurangnya
sumber
informasi

Temperature regulation
1. Mengetahui status perkembangan
penyakit dan pengobatan
2. Mengetahui keadaan
perkembangan klien.
3. Mengetahui ada atau tidaknya
perubahan warna kulit dan suhu
kulit.
4. pemberian antipiretik
(paracetamol) dapat menurunkan
suhu tubuh.

Setelah dilakukan tindakan


keperawatan
1x24
jam 1. Berikan
informasi
melalui 1. Membantu klien lebih mengenal
diharapkan pengetahuan klien
konseling mengenai seksual klien.
seksual yang dialami oleh klien
meningkat. Dengan kriteria
saat ini.
hasil :
2. Berikan pendidikan kesehatan 2. Menambah pengetahuan pada
1. Mengetahui
informasi
kepada klien.
klien untuk lebih mengenal
penting
dari
petugas
masalah seksual yang dirasakan

100

kesehatan
tentang
oleh klien.
penggunaan obat saat ini.
3. Berikan bimbingan kesehatan 3. Untuk lebih mengarahkan klien
2. Mengetahui
efek
kepada klien mengenai masalah
untuk tetap menjaga kesehatan
terapeutik
dan
efek
seksualitasnya
pada seksualitas klien
samping obat

101

G.

Kesenjangan Antara Teori dan Kasus


1.

Pada kasus,klien mengalami vaginitis karena klien mengeluh gatalgatal di daerah vagina dan sekitarnya dan keluar cairan lebih banyak
dari vagina berbau amis seperti susu basi dan mengganggu
kenyamanan dalam beraktifitas. Vaginitis sendiri adalah inflamasi
vagina yang dicirikan oleh perubahan sekresi cairan vagina, yang
banyak, berbau dan purulen, dan dapat diikuti oleh disuria dan
perdarahan vagina. Sering terdapat gatal pada vulva, dan klien
umumnya mengeluhkan ketidak nyamanan saat berkemih juga
dispareunia (Black & Hawks, 2014). Vaginitis didefinisikan sebagai
spektrum kondisi yang menyebabkan vagina dan gejala kadangkadang vulva, seperti gatal, terbakar, iritasi, bau, dan keputihan (Barry
L. et.al, 2011). Sedangkan pada kasus tidak ditemukan gejala seperti
disuria, dispareunia, perdarahan vagina, rasa terbakar dan iritasi.

2.

Pada kasus klien mengatasi keputihan yang dating dengan mencoba


minum dan cebok dengan ramuan tradisional (daun sirih), dan tidak
kunjung sembuh, namun pada teori penatalaksanaan yang baik pada
keputihan Pemberian air rebusan daun sirih untuk membasuh vagina
dapat mengurangi keputihan fisiologis. Daun sirih mengandung
minyak atsiri yang terdiri dari betlephenol, kavikol, seskuiterpan,
hidroksikavikol, cavibetol, estragol, eugenol, dan karvakol (Wayan et
al, 2014). Pada vaginitis dapat

dilakukan penatalaksanaan non

farmakologi seperti :
a.

Perubahan tingkah laku : tidak menggunakan pakaian dalam


yang ketat, menggunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun
dan menjaga perilaku hubungan seksual dari pasangan yang
terinfeksi (Tamonud Modak PA, 2011 dalam Putra, 2014).

b.

Personal Hygiene : menjaga tetap bersih dan kering alat kelamin


dan jangan biarkan dalam keadaan lembab, perhatikan
kebersihan setelah BAB dan BAK dengan mengeringkannya
dengan

menggunakan

102

tisu

kering

atau

handuk

khusus.Penggunaan tisu atau produk pantyliner harus betul-betul


steril (Tamonud Modak PA, 2011 dalam Putra, 2014).
c.

Pengobatan psikologis : keputihan tersebut tidak disebabakan


oleh infeksi melainkan karena gangguan fsikologi seperti
kecemasan, depresi, hubungan yang buruk, atau beberapa
masalah psikologi yang lain yang menyebabkan emosional.
Pengobatan yang dilakukan yaitu dengan konsultasi dengan ahli
psikologi. Selain itu perlu dukungan keluarga agar tidak terjadi
depresi (Tamonud Modak PA, 2011 dalam Putra, 2014).

103

BAB IV
PENUTUP

A.

Simpulan
Vaginitis adalah inflamasi vagina yang dicirikan oleh perubahan
sekresi cairan vagina, yang dapat banyak, berbau dan purulen, dan dapat
diikuti oleh disuria dan perdarahan vagina. Sering terdapat gatal pada vulva,
dank lien umumnya mengeluhkan ketidak nyamanan saat berkemih juga
dispareunia (Black & Hawks, 2014). Vaginitis didefinisikan sebagai
spektrum kondisi yang menyebabkan vagina dan gejala kadang-kadang
vulva, seperti gatal, terbakar, iritasi, bau, dan keputihan. Keluhan
vulvovaginal adalah salah satu yang paling umum alasan bagi perempuan
untuk mencari saran medis (Barry L. et.al, 2011).
Menurut Endang et al (2015), etiologi yang bisa menyebabkan
vaginitis yaitu Infeksi seperti bakteri (Clamidia, Gonokokus), jamur
(Candida), protozoa (Trichomonas vaginalis), virus (virus Papiloma
manusia dan virus Herpes), pemakaian antibiotik) dan Zat atau benda yang
bersifat iritatif seperti spermisida, pelumas, kondom, diafragma, penutup
serviks, spons, sabun cuci dan pembalut pakaian, deodoran, zat di dalam air
mandi, pembilas vagina, pakaian dalam yang terlalu ketat, tidak berporipori, dan tidak menyerap keringat.
Kasus 1 pada sistem reproduksi ini merupakan kasus tentang
Vaginitis. Vaginitis (colpitis) adalah infeksi pada vagina yang disebabkan
oleh berbagai bakteri, parasit atau jamur (Manuaba, 2001 dalam Anisa,
2014). Vaginitis di sebabkan oleh jamur dan bakteri akibat tidak bersihnya
genetalia, gejala pada vaginitis biasanya di sertai keluar cairan vagina atau
keputihan yang abnormal,di katakan abnormal karena keputihan tersebut
sangat berlebihan berbau dan terjadi iritasi di sekitar vagina,vaginitis bisa
juga di sebabkan bawaan pada saat bersalin karena kurangnya keseterilan
dari alat atau dari henskun si penolong yang kurang seteril (Bagus Ida et al,
2001 dalam febbi 2014). Keluhan utama dari kasus 1 yaitu merasakan gatalgatal di daerah vagina dan sekitarnya. Diagnosa keperawatan yang

104

ditemukan sesuai dengan kasus yaitu Gangguan rasa nyaman berhubunhan


dengan gejala penyakit dengan batasan karakteristik gatal-gatal, rasa
ketidaknyamanan & iritasi, Gangguan pola nafas berhubunhan dengan
kecemasan, nyeri, Hipertermi berhubunhan dengan proses penyakit
(peradangan) dan Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi.

B.

Saran
Laporan ini merupakan makalah vaginitis pada sistem reproduksi.
Saran kamu sebagai penulis, kepada mahasiswa keperawatan dan pembaca
agar terus memperluas pengetahuan tentang vaginitis dengan mencari
referensi lain baik dari jurnal penelitian maupun buku terbaru. Diharapkan
dari referensi-referensi tersebut dapat menjadi bahan perbandingan
kebenaran informasi oleh para pembaca, sehingga perlunya suatu analisa
data hingga pengujian ilmu, dan mengambil kesimpulan, yang kemudian
dapat diaplikasikan di ruang lingkuo dunia kesehatan.
Kasus di atas merupakan salah satu cerminan kondisi dan penyakit
degenerative pada masyarakat di Indonesia. Sehingga dari hal tersebut kita
sebagai calon tenaga pelayanan kesehatan perlu mengantisipasi terjadinya
vaginitis

pada

lansia,

dewasa,

maupun

remaja,

yaitu

dengan

mensosialisasikan kepada masyarakat untuk terus menjaga kesehatan


kepada petugas pelayanan kesehatan, dimulai dari diri sendiri, keluarga dan
masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

105

Artikel Penelitian

Efikasi Sabun Ekstrak Sirih Merah


dalam Mengurangi Gejala
Keputihan Fisiologis

Farida Zubier,* Kusmarinah Bramono,* Sandra Widaty,* Hanny Nilasari,*


Melva Louisa,** Yeva Rosana***
*

Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Unversitas Indonesia/
Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Jakarta,
**
Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
***
Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Abstrak: Keputihan atau keluarnya cairan berlebihan dari genitalia eksterna merupakan hal
yang kerap dikeluhkan seorang wanita. Piper crocatum extract atau ekstrak daun sirih merah
diketahui memiliki kandungan kimia yang berefek antiseptik dan antibakteri. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui efek antiseptik sabun ekstrak sirih merah dan melihat efeknya
dalam mengurangi gejala keputihan fisiologis pada daerah genital dengan disain uji klinik
terbuka, komparatif, 2 kelompok berpasangan. Dari 52 subjek yang ditapis, 35 subjek memenuhi
kriteria seleksi dan ikut serta dalam uji klinik hingga selesai. Sabun ekstrak sirih merah atau
kontrol yang dioleskan pada perineum mengurangi koloni Candida albicans dan Staphylococcus epidermidis. Tidak ditemukan Streptococcus sp. pada perineum yang dioles produk uji
maupun kontrol. Sabun ekstrak sirih merah mengurangi skor klinis total (kulit kemerahan,
bau, skor lendir, edema dan skuamasi) dari 1,40 menjadi 0,20 setelah penggunaan selama 1
minggu. Evaluasi kartu harian subjek pada hari ke-1 dan hari ke-8 menunjukkan bahwa produk
sirih merah menurunkan skor keputihan dari 0,65 pada hari pertama penggunaan produk
menjadi 0,24 pada hari ke-8. Hanya ada satu kejadian yang tidak diinginkan yaitu skuamasi.
Kata kunci: ekstrak sirih merah, keputihan, Candida sp., Staphylococcus epidermidis, Streptococcus sp.

Maj Kedokt Indon, Volum: 60, Nomor: 1, Januari 2010

Efikasi Sabun Ekstrak Sirih Merah dalam Mengurangi Gejala Keputihan Fisiologis

The efficacy of Piper crocatum Extract in Reducing the Symptoms of


Physiological Fluor Albus
Farida Zubier,* Kusmarinah Bramono,* Sandra Widaty,* Hanny Nilasari,*
Melva Louisa,** Yeva Rosana***
*Department of Dermato-Venereology Faculty of Medicine University of Indonesia/
Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta,
**Department of Pharmacology and Therapeutic Faculty of Medicine University of Indonesia,
***Department of Microbiology Faculty of Medicine University of Indonesia

Abstract: Leukorrhea or increased vaginal discharge is a common complaint female adolescences.


Piper crocatum extract or red betel vine extract is known to have antiseptic and antibacterial
effect. The aim of the study was to investigate the antiseptic effect of Piper crocatum extract soap
in the reduction of symptoms of physiologic leukorrhea in the external genitalia area. This was an
open, comparative, 2 parallel groups, clinical trial. Thirty five out of 52 screened subjects met the
selection criteria and finished the clinical trial. In the evaluation of Candida sp, Streptococcus sp.
and Staphylococcus epidermidis on the product-smeared or control-smeared perineum, it was
found that the colony of Candida sp. and Streptococcus epidermidis is less on the productsmeared perineum than in the control-smeared perineum. Streptococcus sp. was not found in both
product-smeared or control-smeared perineum. Piper crocatum extract soap reduced the total
score (skin redness, unpleasant odor, score of vaginal discharge, edema and squammation) from
1,40 to 0,20 after one week. From the analysis of the subjects diary card it was found that Piper
crocatum extract soap reduced the score of vaginal discharge from 0,65 (Day 1) to 0,24 (Day 8).
There is no adverse event recorded except for one event of squammation.
Key words: red betel vine extract, leucorrhea, Candida sp., Staphylococcus epidermidis, Streptococcus sp.

Pendahuluan
Keputihan atau keluarnya cairan berlebihan dari genitalia eksterna merupakan hal yang kerap dikeluhkan seorang
wanita.1 Lebih dari 75% wanita dewasa pernah mengalami
keputihan sepanjang siklus hidupnya.1,2 Bila ditinjau dari
penyebabnya, maka keputihan dapat dibedakan menjadi
keputihan fisiologis dan keputihan patologis. Salah satu
penyebab keputihan patologis adalah jamur Candida sp.
terutama spesies Candida albicans yang sebenarnya
merupakan flora normal vagina. Penyebab lain adalah bakteri,
antara lain Streptococcus sp., meskipun jarang. Candida sp.
dan Streptococcus sp. dapat ditemukan pada arena genital
luar (perineum) yang dapat masuk ke dalam vagina setelah
berhubungan seksual.3 Keputihan dapat disertai dengan
keluhan subjektif rasa gatal, bau yang tidak sedap dan rasa
tidak nyaman saat berhubungan seksual akibat terlalu banyak
lendir vagina serta rasa basah di daerah kelamin.1,3
Piper crocatum extract atau ekstrak daun sirih merah
adalah salah satu bahan tradisional yang telah lama
dimanfaatkan secara empiris untuk mengobati berbagai
penyakit antara lain diabetes melitus, hemorrhoid, inflamasi,

10

kanker, peningkatan kadar asam urat, hipertensi, hepatitis


dan gastritis.4,5 Daun sirih merah mempunyai daya antiseptik
dua kali lebih tinggi dari daun sirih hijau. Kandungan kimia
dalam ekstrak sirih merah antara lain adalah minyak atsiri,
hidroksikavikol, kavikol, kavibetol, alilprokatekol, karvakrol,
eugenol, p-cymene, cineole, cariofelen, kadimen estragol,
terpen dan fenil propada. Karvakrol bersifat desinfektan dan
antijamur sehingga digunakan sebagai obat antiseptik untuk
bau mulut dan keputihan.5
Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui
khasiat antiseptik dan antibakteri sirih merah. Penelitian yang
dilakukan oleh Safihtri dan Fahma6 menunjukkan bahwa
ekstrak sirih merah mengandung flavonoid, alkaloid, tanin
dan minyak atsiri. Alkaloid inilah yang terutama bersifat
sebagai antimikroba.5-7 Juliantina et al.7 dalam penelitiannya
membuktikan bahwa ekstrak sirih merah memiliki efek
antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Eschericia
coli. Hingga saat ini belum diketahui efek antiseptik sabun
ekstrak sirih merah secara klinik terhadap Candida sp. dan
Streptococcus sp.

Maj Kedokt Indon, Volum: 60, Nomor: 1, Januari 2010

Efikasi Sabun Ekstrak Sirih Merah dalam Mengurangi Gejala Keputihan Fisiologis
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan
sabun ekstrak sirih merah (Resik VTM) dalam mengurangi
gejala keputihan fisiologis dan bau tidak sedap pada daerah
genital wanita serta efek antiseptiknya terhadap Candida
sp., Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus sp.
Metode
Studi ini merupakan uji klinik terbuka, komparatif, 2
kelompok berpasangan untuk mengetahui kemampuan sabun
ekstrak sirih merah (Resik VTM) dalam mengurangi gejala
keputihan fisiologis dan bau tidak sedap pada daerah genital wanita, serta efek antiseptik terhadap Candida sp., Staphylococcus epidermidis dan Streptococcus sp.
Protokol studi, informed consent dan semua informasi
sehubungan dengan uji klinik telah mendapatkan persetujuan
dari Komite Etik FKUI dan Komisi Etik BPOM. Studi ini
dilakukan dengan mematuhi kaidah-kaidah CUKB (cara uji
klinik yang baik).
Penelitian dilakukan di Divisi Infeksi Menular Seksual,
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit Kelamin FKUI/RSUPN
CM. Kultur Candida albicans dilakukan di Divisi
Dermatomikologi, Departemen Ilmu Kesehatan Kulit Kelamin
FKUI/RSUPNCM. Kultur bakteri (Streptococcus sp, Staph.
epidermidis) dilakukan di Departemen Mikrobiologi FKUI.
Subjek yang masuk dalam populasi studi adalah wanita
umur 16-45 tahun; lulusan SMP; telah membaca dan
menandatangani informed consent; berada dalam kondisi
sehat tanpa penyakit kulit atau kondisi fisik lain yang menurut
Peneliti dapat mempengaruhi aplikasi atau evaluasi area studi;
setuju berhenti menggunakan produk perawatan area
kewanitaan lain selama studi berlangsung kecuali produk
yang disediakan untuk studi; setuju untuk tidak melakukan
perawatan khusus pada area kewanitaan selama studi
berlangsung dan setuju untuk mematuhi seluruh persyaratan
studi.
Yang termasuk dalam kriteria eksklusi adalah subjek yang
sedang hamil atau sedang merencanakan kehamilan; sedang
menstruasi; sedang menggunakan obat-obatan untuk
keputihan; mempunyai riwayat sakit kanker jenis apapun
dalam 5 tahun terakhir; memiliki riwayat/sedang dalam
perawatan penyakit kulit dan/atau mempunyai karsinoma
kulit pada area kewanitaan; subjek merasa memiliki kulit
perineum yang sangat sensitif atau pernah mengalami reaksi
setelah menggunakan sabun atau produk perawatan di area
kewanitaan; subjek telah berpartisipasi dalam studi yang
menggunakan perineum sebagai area tes dalam 3 bulan
terakhir atau sedang berpartisipasi dalam studi apapun saat
ini (baik sebagai panelis atau tim pelaksana studi); tidak
menderita keputihan akibat kandidosis, trikomoniasis,
vaginosis bakterial, atau gonore dan infeksi genital nonspesifik.
Produk yang diteliti adalah Produk sabun Resik-V
Ekstrak Sirih Merah produksi PT Kinocare Era Kosmetindo
yang mengandung bahan aktif Piper crocatum extract.
Maj Kedokt Indon, Volum: 60, Nomor: 1, Januari 2010

Prosedur Studi
Peneliti menginformasikan seluruh aspek dari penelitian
ini, kemudian subjek dimintai tanda-tangan dalam 2 formulir
yang terpisah; 1 formulir dibawa pulang oleh pasien, 1 formulir
lainnya disimpan oleh Peneliti.
Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi
dicatat keluhan jumlah lendir dengan skor 0-3, serta ada
tidaknya bau tak sedap. Kemudian subjek diperiksa dalam
posisi litotomi di atas meja ginekologi. Peneliti memeriksa
dan menilai secara klinis kondisi dinding perineum subjek
mengenai: kulit kemerahan, keputihan, bau, edema dan
skuamasi. Oleh peneliti, secara steril dilakukan pencucian
area genital (dinding perineum) sisi kanan dengan campuran
5 mL akuades dan 5 ml produk uji dan didiamkan 3 menit.
Kemudian swab yang dibasahi dengan kaldu nutrien
diusapkan di sisi kanan atas, dan diinokulasi pada media
biakan Sabouraud untuk kultur jamur. Sedangkan dari sisi
kanan bawah diambil sediaan usap dengan swab yang
dibasahi kaldu nutrien, kemudian dicelupkan ke tabung yang
berisi 3 mL kaldu nutrien, divorteks lalu diambil 100 L,
diinokulasikan ke medium plat agar darah untuk kultur bakteri.
Prosedur pencucian dan pengambilan sediaan usap yang
sama juga dilakukan pada perineum kiri, tetapi bahan pencuci
berupa akuades 10 mL, sebagai kontrol. Setelah pengambilan
spesimen usap tersebut di atas, kedua sisi dinding perineum
dibilas dengan larutan aquades steril.
Selanjutnya setiap subjek diberi kartu catatan harian
dan 1 botol produk uji untuk dipakai sendiri di rumah. Produk
uji digunakan 2 kali sehari, pagi dan sore selama 7 hari. Cara
penggunaan adalah sebagai berikut: area genital dicuci
dengan air bersih, kemudian produk ditakar dengan tutup
botol, dituangkan ke telapak tangan subjek dan dicampur
dengan air sama banyak, dibasuhkan pada area genital secara
merata, didiamkan selama 3 menit, selanjutnya dibilas hingga
bersih dan area genital tersebut dikeringkan dengan tisu.
Perubahan keluhan jumlah lendir dan bau dicatat subjek dalam
buku harian.
Pemeriksaan ulang dilakukan pada hari terakhir aplikasi
produk uji. Dilakukan penilaian secara obyektif oleh peneliti
mengenai kondisi klinis dan diulang pemeriksaan kultur jamur
Candida sp. dan bakteri dari spesimen usap perineum.
Kriteria Evaluasi
Kriteria evaluasi untuk menilai efikasi adalah evaluasi
kultur jamur dan bakteri, evaluasi klinis oleh Peneliti mengenai
kondisi klinis daerah perineum subjek serta evaluasi skor
keputihan oleh subjek berdasarkan kartu catatan harian.
Evaluasi keamanan dengan mencatat seluruh kejadian yang
tidak diinginkan.
Uji Statistik
Direncanakan analisis statistik menggunakan uji t
berpasangan atau uji Wilcoxon, tergantung sebaran data.
11

Efikasi Sabun Ekstrak Sirih Merah dalam Mengurangi Gejala Keputihan Fisiologis
Hasil Penelitian
Jumlah Subjek
Direncanakan jumlah minimal subjek yang direkrut
adalah 30 orang.
Pada pelaksanaan uji klinik, dari 52 subjek yang ditapis,
35 subjek memenuhi kriteria seleksi dan mendapatkan produk
uji. Ke-35 pasien dapat menyelesaikan studi. Alur pasien
selama studi digambarkan dalam flow-chart pada Gambar 1.
Demografi 35 pasien yang masuk dalam randomisasi
tercantum dalam Tabel 1.
skrining = 52

memenuhi kriteria seleksi = 35

menyelesaikan studi = 35
Gambar 1. Alur Pasien dalam Uji Klinik

Tabel 1. Demografi Pasien

Mean (SD)
Median
Range

Umur (tahun)

Berat badan
(kg)

Tinggi badan
(cm)

35,5 (5,16)
35,0
26-45

53,4 (9,56)
52,0
33-79

154,2 (4,44)
155,0
144-162

Evaluasi Daerah Perineum oleh Peneliti


Evaluasi klinis daerah perineum menurut peneliti
sebelum dan sesudah penggunaan sabun ekstrak sirih merah
(Tabel 2) menunjukkan bahwa: 1) Sirih merah mengurangi
kejadian kulit kemerahan dari 11,4% (4/35) menjadi 2,9% (1/
35); 2) Sirih merah mengurangi jumlah lendir. Pada kunjungan
pertama terdapat 10 subjek (28,6%) pasien dengan skor=2
dan 25 subjek (71,4%) dengan skor =1. Pada kunjungan ke2, tidak ada subjek dengan skor = 2; 5 subjek (14,3%) dengan
skor = 1 dan 30 subjek (85,7%) dengan skor = 0; 3) Satu (1)
subjek mengalami skuamasi pada kunjungan kedua; 4) Tidak
ada kejadian edema pada daerah perineum selama uji klinik;
5) Produk sirih merah secara bermakna mengurangi skor total (kulit kemerahan, bau, jumlah lendir, edema dan skuamasi)
dari 1,40 menjadi 0,20 setelah penggunaan selama 1 minggu.
Kultur bakteri seluruh sediaan usap baik pada kunjungan pertama maupun pada kunjungan ulang tidak
menunjukkan Streptococcus sp, hanya ditemukan Staphylococcus epidermidis. Evaluasi kultur jamur dan bakteri
menunjukkan bahwa (Tabel 3): 1) Pada kunjungan pertama,

12

Tabel 2. Evaluasi Klinis Daerah Perineum oleh Peneliti setel a h Penggunaan Sabun Ekstrak Sirih Merah Selama
1 Minggu
Kunjungan
pertama
n (%)
Jumlah Subjek
Kulit kemerahan
0 = normal, tidak
terjadi kemerahan
1 = sedikit, hanya
daerah labia
minor
2 = merah, daerah
labia minor dan
minor atau lebih luas
Bau
0 = tidak berbau
1 = berbau
Jumlah lendir
0 = tidak ada duh
genital
1 = ada sedikit duh
genital
2 = ada duh genital
tapi tidak mengalir
3 = duh genital
banyak sampai
mengalir
Edema
0 = tidak ada edema
1 = ada edema
Skuamasi
0 = tidak ada skuamasi
1 = ada skuamasi Skor Total
0
1
2
Mean
Median
Range

35

Tindak
lanjut
n (%)

Wilcoxon
test

p-value

35

31 (88,6)

4 (11,4)

34 (97,1)

30 (85,7)

25 (71,4)

5 (14,3)

10 (28,6)

0,32
(NS)

1 (2,9)

35 (100,0) 35 (100,0)
-

- 1.00

- 4,98

<0,001

-1,00

0,32
(NS)

-5,11

<0,001

35 (100,0) 35 (100,0)
35 (100,0) 34 (97,1)
1 (2,9)

21 (60,0)
14 (40,0)
1,40
1,0
1-2

29 (82,9)
5 (14,3)
1 (2,9)
0,20
0,0
0-2

jumlah koloni Candida sp. dan Staph. Epidermidis pada


perineum yang dioles sirih merah lebih sedikit dibandingkan
yang dioles kontrol, namun tidak berbeda bermakna; 2) Pada
kunjungan ulang, jumlah koloni Candida sp. dan Staph.
epidermidis tidak berbeda bermakna dengan jumlah koloni
pada kunjungan ulang.
Evaluasi Kartu Catatan Harian Subjek
Evaluasi kartu harian subjek pada hari ke-1 dan hari ke8 menunjukkan bahwa produk sirih merah secara bermakna
menurunkan skor keputihan dari 0,65 pada hari pertama
penggunaan produk menjadi 0,24 pada hari ke-8.

Maj Kedokt Indon, Volum: 60, Nomor: 1, Januari 2010

Efikasi Sabun Ekstrak Sirih Merah dalam Mengurangi Gejala Keputihan Fisiologis
Tabel 3. Evaluasi Mikrobiologis di Daerah Perineum pada
Kunjungan Pertama dan Kunjungan Ulang
Sirih Merah Kontrol

Uji Wilcoxon

Jumlah koloni Candida sp. /cc kunjungan pertama


Mean
192,34
556,11
-1,668

Nilai p

0,095
(NS)

Median
42,0
40,0
Range
0-2000
0-5000
Jumlah koloni Candida sp. /cc tindak lanjut
Mean
575,43
Median
20,0
Range
0-5000
Jumlah koloni Staph epidermidis/cc (10 4 ) pada kunjungan
pertama
Mean1
196,12
1647,0
-1,248
0,212
(NS)
Median
580,0
964,0
Range
0-7620
0-8770
Jumlah koloni Staph epidermidis/cc (10 4) tindak lanjut
Mean
1214,0
Median
830,0
Range
0-7680

Pada hari pertama ada 1 subjek dengan skor=1 pada


bau, pada hari ke-8 skor bau pada semua subjek adalah 0.
(Gambar 2)
Kejadian Tidak Diinginkan (KTD)
KTD pada uji klinik ini, ada 1 kejadian skuamasi yang
telah tercatat pada Tabel 3.
Diskusi
Pada uji klinik terbuka, komparatif, 2 kelompok berpasangan ini menunjukkan bahwa sabun ekstrak sirih merah
yang dioleskan pada perineum dapat mengurangi koloni
Candida sp.dan Staphylococcus epidermidis. Pada
pemeriksaan Streptococcus sp. pada subjek, tidak ditemukan

0,7
0,6
0,5
0,4

Hari pertama

0,3

Hari ke-8

0,2
0,1
0
Keputihan

Bau

Gambar 2. Evaluasi Skor Keputihan dan Skor Bau Berdasarkan Kartu Harian Subjek Hari ke-1 dan Hari ke8 Setelah Menggunakan Produk Sirih Merah.
*p<0,05

Maj Kedokt Indon, Volum: 60, Nomor: 1, Januari 2010

koloni bakteri tersebut baik pada perineum yang dioles


produk uji maupun kontrol. Hal ini dapat diduga disebabkan
oleh karena subjek merupakan subjek sehat dengan keputihan
fisiologis, sehingga akan kecil kemungkinannya untuk
mendapatkan koloni ini, walaupun menurut Hillier,8 Streptococcus sp. umumnya dapat ditemukan pada satu dari tiga
wanita sehat dalam konsentrasi sangat kecil.
Efek antibakteri dan antimikotik sabun ekstrak sirih merah
diperkirakan berasal dari kandungan flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan minyak atsiri.5,6 Flavonoid berfungsi sebagai
antibakteri dengan cara membentuk senyawa kompleks
terhadap protein ekstraseluler yang mengganggu integritas
membran sel bakteri.9 Alkaloid juga memiliki kemampuan
sebagai antibakteri, dengan cara mengganggu komponen
penyusun peptidoglikan pada sel bakteri.9 Sedangkan tanin
bekerja sebagai antibakteri dengan efeknya sebagai astringent sehingga dapat menginduksi pembentukan kompleks
antara tanin dengan substrat mikroba.10 Saponin merupakan
salah satu kandungan dalam ekstrak sirih merah yang memiliki
aktivitas antibakteri dan antijamur. Penelitian oleh Soetan et
al. 11 Menunjukkan bahwa saponin memiliki aktivitas
farmakologi terhadap Staphylococcus aureus dan Candida
albicans.
Deterjen yang terdapat dalam bahan pembawa sabun
ekstrak sirih merah juga dapat mempengaruhi dalam
mengurangi jumlah koloni Candida spp. maupun Staphylococcus epidermidis dengan cara mengurangi perlekatan
bakteri atau jamur pada kulit. Pada hari ke-8 (kunjungan ulang)
masih ditemukan sejumlah Candida sp. pada kulit (575,43
koloni). Hal ini dapat dijelaskan karena Candida merupakan
flora normal di daerah genitalia dan mampu bereplikasi dalam
waktu yang singkat, sedangkan subjek penelitian menggunakan produk pada saat mandi pagi hari dan pemeriksaan
dilakukan pada siang hari.
Pada penilaian klinis oleh Peneliti, sabun ekstrak sirih
merah secara bermakna mengurangi skor total (kulit kemerahan, bau, lendir, edema dan skuamasi). Demikian pula
penilaian subjektif oleh pasien menunjukkan bahwa sabun
ekstrak sirih merah dapat mengurangi skor keputihan pada
penggunaan selama 1 minggu. Hasil ini menunjukkan bahwa
penggunaan sabun ekstrak sirih merah 2 kali sehari selama 1
minggu efektif dalam mengurangi lendir pada keputihan
fisiologis, tanpa mengganggu flora normal. Hasil pengurangan lendir ini konsisten didapatkan baik dari penilaian
Peneliti maupun subjek penelitian. Tidak ditemukan uji klinik
sejenis menggunakan sabun pembersih kewanitaan lain.
Hanya ada satu penelitian yang sedang berlangsung yaitu
uji klinik sabun pembersih menggunakan bahan aktif asam
laktat. Uji klinik ini juga dilakukan pada keputihan fisiologis
pada wanita berumur 18 65 tahun, dengan lama penggunaan
21 hari.12
Penggunaan sabun ekstrak sirih merah hingga 1 minggu
2 kali sehari relatif aman (tercatat hanya ada satu kejadian
skuamasi) dan tidak mempengaruhi flora normal. Keseim13

Efikasi Sabun Ekstrak Sirih Merah dalam Mengurangi Gejala Keputihan Fisiologis
bangan flora normal kulit sangat dibutuhkan agar tidak terjadi
kelainan kulit yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen
atau oportunistik. Tidak seperti penggunaan pembersih
kewanitaan dengan cara vaginal douching, telah diketahui
bahwa aktivitas aktivitas membersihkan vagina dengan cara
ini dapat mempengaruhi lingkungan fisiologis vagina.13,14
Penggunaan vaginal douching jangka panjang (lebih dari
satu minggu) diketahui dapat meningkatkan risiko infeksi
vagina dan serviks seperti infeksi HPV, HSV-2, Chlamydia
dan trikomoniasis. Berbeda dengan sabun yang hanya digunakan untuk membersihkan genitalia eksterna, membersihkan
vagina dengan cara douching dapat memfasilitasi transport
bakteri patogen ke dalam genitalia interna.14 Tidak diketahui
profil keamanan sabun ekstrak sirih merah terhadap keseimbangan flora normal vagina pada penggunaan jangka
panjang/lebih dari satu minggu.
Sebagai kesimpulan, pada penelitian ini pengunaan
sabun ekstrak sirih merah hingga 1 minggu dapat mengurangi
keluhan keputihan dengan mengurangi jumlah lendir tanpa
mempengaruhi flora normal, sehingga relatif aman untuk
mengurangi keputihan fisiologis.

2.

3.
4.
5.
6.

7.

8.
9.
10.

11.

12.

Ucapan Terima Kasih


Terima kasih kepada seluruh subjek penelitian untuk
partisipasi dalam studi, seluruh personel uji klinik untuk
komitmen dalam menyelesaikan studi, dan PT Kinocare Era
Kosmetindo untuk menyediakan produk uji serta pendanaan
uji klinik.
Daftar Pustaka
1.

14

Sobel JD. Vulvovaginal Candidiasis. In: Holmes KK, Sparling PF,


Stamm WE, Piot P, Wasserheit JN, et al, editors Sexually Transmitted Diseases. 4th ed. New York; McGraw Hill: 2008.p.82338.

13.

14.

Sobel JD, Wiesenfeld HC, Martens M, Danna P, Hooton TM,


Rompalo A, et al. Maintenance fluconazole therapy for recurrent vulvovaginal candidiasis. N Engl J Med. 2004;351:876-83.
Eckert LO. Acute vulvovaginitis. N Engl J Med. 2006;355:124452.
Sudewo B. Basmi penyakit dengan sirih merah. PT Agromedia
Pustaka, Jakarta. 2007.
Manoi F. Sirih merah sebagai tanaman multi fungsi. Warta
Puslitbangbun. 2007;13(2).
Safihtri M, Fahma F. Potency of Piper crocatum decoction as an
antihyperglycemia in rat strain Sprague Dawley. Hayati J Biosci.
2008:15(1):45.
Juliantina R, Citra DA, Nirwani B, Nurmasitoh T, Bowo ET.
Manfaat sirih merah (Piper crocatum) sebagai agen antibakterial
terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. J Kedokt
Kesehatan Ind. 2009;1(1):15-30.
Hillier SL. The complexity of microbial diversity of bacterial
vaginosis. N Engl J Med. 2005;353(18):1886-7.
Cowan MM. Plant products as antimicrobial agents. Clin Microbiol
Rev. 1999;12(4):564-82.
Akiyama H, Fujii K, Yamasaki O, Oono T, Iwatsuki T. Antibacterial action of several tannins against Staphylococcus aureus. J
Antimicrob Chem. 2001;48:587-91.
Soetan, Oyekunie MA, Aaiyelaagbe OO, Fafunsi MA. Evaluation
of the antimicrobial activity of saponins extract of Sorghum
bicolor L. Moench. African J Biotech. 2006;5(23):2405-7.
Monocentric study, Phase III, for safety dermatological evaluation: acceptability with gynecological follow upDermacyd
PH_DESILTY--_FL (Lactic Acid). ClinicalTrials.gov Identifier:
NCT00933699.
Brotman MR, Klebanoff MA, Nansei TR, Andrews WW, Schwebkr
JR, Zhang J. A longitudinal study of vaginal douching and bacterial vaginosis A marginal structural modelling analysis. Am J
Epidemiol. 2008;168(2):188-96.
Zhang J, Thomas G, Leybovich E. Vaginal douching and adverse
health effects: A meta-analysis. Am J Public Health. 1997;87:120711.
MS

Maj Kedokt Indon, Volum: 60, Nomor: 1, Januari 2010

DAFTAR PUSTAKA
Bulechek, M, Gloria, et.all. (2015). Nursing Interventions Classification (NIC).
Elsevier Mosby: St. Louis Missouri.
Clayton, C. (2009). Keputihan dan Jamur Kandida Lain. Jakrta: EGC.
Depkes

RI.

(2012).

http://www.depkes.go.id/resources/download/promosi-

kesehatan/juknis-media-kie-abat-mahasiswa-dan-pekerja.pdf. Diakses
tanggal 12 April 2016.
Endang et al. (2015). Panduan Materi Kesehatan Reproduksi & Keluarga
Berencana. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.
Ernawati et al. (2013). Faktor Determinan Terjadinya Vaginosis Bakterial Pada
Wanita Usia Subur Di Kota Makassar. Sulawesi: Universitas
Hasanuddin.
Hainer,

Barry

et.al.

(2011).

Vaginitis:

Diagnosis

and

Treatment.

www.aafp.org/afp. Jurnal American Family Physician Volume 83,


Number 7, April 1, 2011. Diakses 12 April 2016.
Koes Irianto. (2013). Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa. Bandung:
Alfabeta.
Kusmiran, Eny. (2011). Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta: Salemba
Medika http:// digilib.ump.ac.id/files/disk1/12/jhptump-a-harmono572-2-babii.pdf.
Mitayani. (2013). Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta: Salemba Medika.
Moorhed, Sue et.all. (2015). Nursing Outcomes Classification (NOC). Elsevier
Mosby. St. Louis Missouri.

Pribakti B. (2010). Tips dan Trik Merawat Organ Intim. Panduan Praktis
Kesehatan Reproduksi Wanita. Edisi ke-1. Jakarta: Penerbit Buku CV
Sagung Seto.
Pribakti. (2010). Tips dan Trik Merawat Organ Intim. Jakarta: Sugung Seto.
Sawaludin, S.E. (2011). Hubungan Jumlah Paritas Dengan Mioma Uteri Di
RSUP H. Adam Malik. Fakultas Kedokteran universitas sumatra utara
medan 2011. http://www.respiratori.usu.ac.id Diakses 12 April 2016.
Syaifuddin. (2013). Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan.
Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika.
Tarwoto. (2009). Anatomi dan Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:
Trans Info Media.
Herdman, T, Heather and Kamitsuru Shigemi. (2015). Nursing Diagnoses:
Definition & Classification 2015 - 2017. Willey Black Well.
Wayan Mustika et al. (2014). Penggunaan Air Rebusan Daun Sirih Terhadap
Keputihan Fisiologis Di Kalangan Remaja Putri Mahasiswa Poltekes
Denpasar. Jurnal Skala Husada Volume 11 Nomor 1 April 2014 : 101
106. Denpasar : Dosen Jurusan Keperawatan Politeknik Kesehatan
Denpasar.
Wikipedia. (2016). Gas Chromatography. https://en.wikipedia.org/wiki/Gaschro
matography Diakses 12 April 2016.