Anda di halaman 1dari 27

INTISARI

Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan
buah tumbuhan genus Citrus (jeruk jerukan).Senyawa ini merupakan bahan pengawet
yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan
dan minuman ringan. Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7. Tujuan dari praktikum
ini adalah membuat asam sitrat dari sari buah semangka dengan cara fermentasi
menggunakan media semi padat dan mengetahui bagaimana pengaruh penyediaan
nutrient yang berbeda terhadap hasil fermentasi asam sitrat dari sari buah semangka.
Karbohidrat yang dipecah dengan cara fermentasi dapat menghasilkan
berbagai macam senyawa organik diantaranya adalah asam sitrat. Banyak jenis mikroba
yang dapat digunakan dalam pembuatan asam sitrat, diantaranya A. niger, A. wentii, A.
ciavatus, Penicillum luteum. Diantara semuanya, A. niger merupakan galur yang paling
produktif. A. niger termasuk salah satu jenis kapang. Media semi solid dibuat dengan
tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media tetapi tidak
mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Medium cair akan memberi
kesempatan bakteri untuk menyebar dan tercampur dengan seluruh nutrisi sehingga
lebih cocok untuk mengoptimumkan pertumbuhan mikroba.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sumber karbohidrat,
Aspergillus niger, Bekatul, Ca(OH)2, Sekam padi, H2SO4, Urea, NaOH, KH2PO4,
Aquades, dan MgSO4.7H2O. Alat yang digunakan adalah petridish, beaker glass,
Erlenmeyer, gelas ukur, buret, statif, dan klem, pipet, inkubator, dan oven . Langkah
kerja yang dilakukan dibagi menjadi 2 bagian yaitu penyiapan media dan analisa hasil.
Seharusnya semakin lama waktu fermentasi maka semakin rendah pH larutan
tersebut karena makin banyak asam sitrat yang dihasilkan. Dalam praktikum yang telah
dilakukan tidak sesuai dengan teori yang seharusnya. Hal ini disebabkan oleh
keberadaan nutrient urea.Semakin hari, volume titran yang dibutuhkan semakin banyak
dikarenakan hasil fermentasi dari Aspergillus niger yang menghasilkan asam sitrat.
KH2PO4 diperlukan pada media fermentasi sebagai nutrisi agar mikroba dapat tumbuh.
Kondisi optimum pembentukan Aspergillus niger dan pembentukan asam sitrat adalah
pada pH 2, suhu 28-290C, laju pengadukan 120 rpm dan waktu fermentasi 1-2 minggu.
Hati-hati saat mengambil Aspergillus niger dengan kawat osse. Sterilkan ruang
aseptik dengan alkohol sebelum digunakan. Cermat dalam pembuatan reagen, berhatihatilah saat menimbang. Dan cuci alat dengan bersih sebelum digunakan.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Asam sitrat merupakan asam organik lemah yang ditemukan pada daun dan

buah tumbuhan genus Citrus (jeruk jerukan). Senyawa ini merupakan bahan pengawet
yang baik dan alami, selain digunakan sebagai penambah rasa masam pada makanan
dan minuman ringan. Dalam biokimia, asam sitrat dikenal sebagai senyawa antara
dalam siklus asam sitrat, yang penting dalam metabolisme makhluk hidup, sehingga
ditemukan pada hampir semua makhluk hidup. Zat ini juga dapat digunakan sebagai zat
pembersih yang ramah lingkungan sebagai antioksidan. Asam sitrat terdapat pada
berbagai jenis buah dan sayuran, namun ditemukan pada konsentrasi tinggi, yang dapat
mencapai 8% bobot kering, pada jeruk lemon dan limau (misalnya jeruk nipis dan jeruk
purut). Rumus kimia asam sitrat adalah C6H8O7.
Asam sitrat digunakan oleh banyak industri didunia sebagai bahan baku
produksi seperti industri makanan, minuman, farmasi, kosmetik, dan lain-lain.
Berdasarkan kenyataan bahwa penggunaan asam sitrat yang luas dalam dunia industri,
maka kebutuhan pemenuhan bagi asam sitrat baik di dalam maupun luar negeri masih
sangat besar. (Damayanti, 2010)

1.2.

Tujuan Praktikum
1. Untuk membuat asam sitrat dari sari buah nanas dengan cara fermentasi
menggunakan media cair.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh penyediaan nutrient yang berbeda
terhadap hasil fermentasi asam sitrat dari sari buah nanas.

1.3.

Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa mampu membuat asam sitrat dari sari buah nanas dengan cara
fermentasi menggunakan media cair.
2. Mahasiswa mengetahui bagaimana pengaruh penyediaan nutrient yang berbeda
terhadap hasil fermentasi asam sitrat dari sari buah nanas.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Pengertian Asam Sitrat


Asam sitrat merupakan senyawa intermediet dari asam organik yang

berbentuk kristal atau serbuk. Pemecahan karbohidrat dengan cara fermentasi dapat
menghasilkan berbagai macam senyawa organik diantaranya adalah asam sitrat. Dengan
enzim amylase, glukoamilase, atau amiloglukosidase, senyawa karbohidrat akan
dipecah menjadi glukosa, dan melalui jalur EMP glukosa akan diubah menjadi
asam piruvat. Asam piruvat melalui siklus krebs atau siklus TCA akan diubah
menjadi asam sitrat. Kapang (mold) Aspergillus niger adalah kapang yang dapat
menghasilkan enzim yang dapat mengubah karbohidrat menjadi asam sitrat.
Penggunaan asam sitrat untuk industri misalnya makanan, minuman, dan farmasi.
(Oktavia, 2010)

2.2.

Landasan Teori
Teori Aspergillus niger

Banyak jenis mikroba yang dapat digunakan dalam pembuatan asam sitrat,
diantaranya A. niger, A. wentii, A. ciavatus, Penicillum luteum. Diantara semuanya, A.
niger merupakan galur yang paling produktif. A. niger termasuk salah satu jenis kapang.
Berbeda dengan bakteri dan khamir, kapang adalah multiseluler, terdiri dari banyak sel
yang bergabung menjadi satu.Melalui mikroskop dapat dilihat bahwa kapang terdiri
dari benang yang disebut hifa. Kumpulan dari hifa disebut miselium. Kapang tumbuh
dengan cara memperpanjang hifa pada ujungnya. Kapang dapat berwarna hitam, putih
atau lainnya. Secara biokimia kapang bersifat aktif karena merupakan organisme
saprofit. Organisme ini dapat menguraikan bahan-bahan organik kompleks menjadi
bahan yang lebih sederhana. (Damayanti, 2010)

2.3.

Reaksi Pembuatan Asam Sitrat dan Permuniannya


a) Reaksi Pembentukan
(C6H10O5)n(s) + n(H2O)(l) (C12H22O11)(s)

Karbohidrat

sukrosa

(C12H22O11)(s) + (H2O)(l) C6H12O6(s) + C6H12O5(s)


Glukosa

fruktosa

C6H12O6(s) + O2(g) C6H8O7(s) + 2H2O(l)


As. sitrat

b) Reaksi Permunian
C6H8O7(s) + 3 Ca(OH)2(l) Ca3(C6H5O7)2(s) + 6 H2O(l)
Ca. Sitrat
Ca3(C6H5O7)2(s) + 3 H2SO4(l) 3 CaSO4(s) + 2 C6H8O7(s)
Ca. Sulfat

As. Sitrat

C6H8O7(s) + 3 NaOH(l) Na3(C6H8O7)(s) + 3 H2O(l)


Na. Sitrat

2.4.

Hal-Hal yang Berpengaruh

a) Waktu 7 hari adalah optimum, bila kurang dari 7 hari, bahan baku belum
terfermentasi semua. Bila lebih mungkin asam sitrat berubah menjadi asam oksalat.
b) Mikroba
Pada percobaan ini digunakan jamur Aspergillus niger. Keuntungan dari
penggunaan jamur ini adalah penanganannya mudah, dapat digunakan bahan baku
yang murah, yield tinggi dan konsisten, serta ekonomis.
c) Jangan menaruh petri dalam keadaan terbalik, karena percobaan dalam surface
culture.
d) Konsentrasi gula awal
Konsentrasi gula awal menentukan yield asam sitrat dan asam organik lain.
Untuk Aspergillus niger adalah 15-18%, jika lebih dari 18% tidak ekonomis
dan jika kurang dari 15% terbentuk asam oksalat.
e) pH
Pengaturan pH sangat penting dalam fermentasi. Ini disebabkan pada pH
tertentu, strerilisasi mudah dilakukan. Sterilisasi mula-mula dilakukan pada pH

2,2 atau lebih rendah. Sebagai pengatur digunakan asam klorida. Sedang pH yang
baik 3,4 - 4,5. Pada pH tinggi dihasilkan asam oksalat. Untuk kondisi tertentu
(misal percobaan) kadang akan menghasilkan enzim yang hanya berfungsi
mengubah karbohidrat menjadi asam sitrat. Untuk kondisi lain akan dihasilkan
enzim yang lain pula.
f) Pemberian Oksigen
Pemberian oksigen yang terlalu banyak menimbulkan efek merugikan bagi
hasil asam sitrat. Sebaliknya, bila pemberian oksigen terlalu sedikit akan kurang
menguntungkan.
g) Suhu
Suhu yang baik adalah 26 28 oC. Jika lebih dari 30oC, keasaman naik dan akibatnya
ada asam oksalat.
h) Komposisi Media Fermentasi
KOMPONEN
Sukrosa
Ammonium Nitrat
Potassium Dihidrogen Phospat
Magnesium Sulfat
HCl
2.5.

KUANTITAS
125-150
2,0-2,5
0,75-1,0
0,20-0,25
(untuk pengaturan pH)

Perbedaan Media Semi Padat dan Cair


Media semi padat (semisolid) yaitu media yang mengandung agar 0,3-0,4%

sehingga menjadi sedikit kenyal, tidak padat, dan tidak begitu cair. Media semi solid
dibuat dengan tujuan supaya pertumbuhan mikroba dapat menyebar ke seluruh media
tetapi tidak mengalami percampuran sempurna jika tergoyang. Misalnya bakteri yang
tumbuh pada media NfB (Nitrogen free Bromthymol Blue) semisolid akan membentuk
cincin hijau kebiruan di bawah permukaan media, jika media ini cair maka cincin ini
dapat dengan mudah hancur. Semisolid juga bertujuan untuk mencegah/menekan difusi
oksigen, misalnya pada media Nitrate Broth, kondisi anaerob atau sedikit oksigen
meningkatkan metabolisme nitrat tetapi bakteri ini juga diharuskan tumbuh merata
diseluruh media.
Media cair yaitu media yang mengandung larutan cair dari satu atau lebih bahan.
Media cair tidak mengandung agar. Contohnya adalah NB(Nutrient Broth), LB(Lactose

Broth). Medium cair akan memberi kesempatan bakteri untuk menyebar dan tercampur
dengan seluruh nutrisi sehingga lebih cocok untuk mengoptimumkan pertumbuhan
mikroba. Dapat juga untuk mengetahui karakter suatu mikroba berdasarkan kebutuhan
oksigen. (Pradhika, 2014)
2.6.

Enzim yang Dihasilkan Aspergillus niger


Enzim dihasilkan oleh semua mahkluk hidup untuk mengkatalis reaksi biokimia

dalam tubuh mahkluk hidup tersebut sehingga reaksi-reaksi itu dapat berlangsung lebih
cepat. Aktivitas

enzim di lingkungan yang terjadi pada berbagai sumber

mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Mikroorganisme ini menghasilkan enzim


intraseluler dan enzim ekstraseluler. Enzim intraseluler merupakan enzim yang langsung
digunakan didalam sel dan sering ditemukan pada bagian membran dari sebuah organel
sel. Enzim ekstraseluler merupakan merupakan enzim yang dilepas dari sel ke
lingkungan untuk menghidrolisis polimer dilingkungan, seperti selulosa, hemiselulosa,
lignin, atau juga untuk menfasilitasi kebutuhan metabolismenya (Maier.et,al, 2000).
Enzim ekstraseluler yang dihasilkan Aspergillus niger diantaranya, enzim
selulase, enzim kitinase, -amilase, -amilase, glukoamilase, katalase, pektinase, lipase,
laktase, invertase, asam protease (Rat ledge, 1994).
Substrat merupakan sumber nutrien utama bagi jamur. Dalam pertumbuhannya,
Aspergillus niger berhubungan langsung dengan makanan yang terdapat dalam substrat.
Molekul sederhana yang terdapat disekeliling hifa dapat langsung diserap, sedangkan
molekul yang lebih kompleks seperti selulosa, protein, pati dan protein harus dipecah
atau dipisah terlebih dahulu sebelum diserap kedalam sel dengan menghasilkan
beberapa enzim ekstraseluler. Bahan organik didalam substrat digunakan oleh jamur
Aspergillus niger untuk aktivitas transport, pemeliharaan struktur sel dan mobilitas
(pergerakan) sel (Hardjo,et.al, 1989).
Enzim selulase dihasilkan oleh berbagai jenis mikroorganisme diantaranya
bakteri dan fungi. Meskipun banyak mikroorganisme yang dapat mendegadrasi selulosa
(polisakarida), hanya beberapa mikroorganisme yang memproduksi enzim selulase
dalam jumlah yang signifikan yang mampu menghidrolisa kristal selulosa secara invitra.

Fungi adalah mikroorganisme utama yang dapat memproduksi enzim selulase,


meskipun beberapa bakteri telah dilaporkan juga menghasilkan aktivitas selulase, fungi
berfilamen seperti Trichoderma dan Aspergillus sangat efisien dalam memproduksi
enzim selulase (Aderemi dkk, 2008).
Kitin merupakan selulosa alami yang banyak terdapat pada hewan arthopoda yang
merupakan komponen eksoskeleton dan komponen dinding sel fungi maupun bakteri.
Senyawa kitin dapat didegradasi secara kimia dan enzimatik. Degadrasi kitin secara
enzimatik yaitu dengan menggunakan enzim kitinase yang dihasilkan oleh bakteri
maupun fungi (Aderemi dkk, 2008).
2.7.

Fungsi Penambahan Nutrient


Hasil analisa variabel penambahan nutrien dari data dapat dilihat bahwa

penambahan nutrient nitrogen dari senyawa ammonium nitrat yang semakin banyak
maka dihasilkan asam sitrat yang terbaik (Soedarmaji, 2000). Hal ini disebabkan
nitrogen merupakan unsur makromolekul yang paling banyak dibutuhkan bagi
pertumbuhan Aspergillus niger. Semakin banyak nutrisi nitrogen maka laju
pertumbuhan mikroba meningkat dan mengakibatkan jumlah pertumbuhan mikroba
meningkat dan mengakibatkan jumlah gula terkonversi menjadi asam sitrat semakin
bertambah. Selain itu penambahan nutrien nitrogen dari senyawa ammonium nitrat
dapat berfungsi untuk menurunkan pH media fermentasi karena pada proses fermentasi
asam sitrat dibutuhkan pH yang rendah. Jadi dengan pH yang rendah dapat dihasilkan
asam sitrat dengan lebih optimal.
Penambahan nutrien magnesium dari senyawa magnesium sulfat yang semakin
banyak maka dihasilkan asam sitrat yang baik juga setelah penambahan nutrien nitrogen
dari senyawa ammonium nitrat. Hal ini disebabkan Magnesium dapat mengubah
glukosa menjadi asam piruvat yang menyebabkan pembentukan asam sitrat menjadi
lebih cepat.
Penambahan nutrien bekatul yang semakin banyak maka dihasilkan asam sitrat
yang baik setelah penambahan nutrien magnesium dari senyawa magnesium sulfat. Hal
ini disebabkan bekatul merupakan sumber vitamin b bagi pertumbuhan Aspergillus
niger.

Sedangkan pada penambahan nutrien phospat dari senyawa kalium phospat yang
semakin banyak maka dihasilkan asam sitrat yang kurang optimal (Soedarmaji, 2000).
Hal ini disebabkan penambahan phospat yang terlalu banyak akan mengakibatkan
pembentukan asam asam lain selain asam sitrat sehingga asam sitrat yang dihasilkan
kurang optimal.
2.8 Aplikasi Asam Sitrat pada Industri
Asam sitrat merupakan asam organik yang secara komersial umumnya
tersedia dalam bentuk bubuk. Berbagai buah yang berasa asam mengandung jumlah
tinggi asam sitrat, seperti jeruk, lemon, mangga, dan nanas. Beberapa jenis berry
seperti blackberry dan raspberry juga mengandung jumlah tinggi asam
sitrat.Tergantung pada kondisi iklim dan tanah, jumlah substansi ini dalam buahbuahan dan sayuran akan bervariasi. Salah satu penggunaan umum asam sitrat
adalah untuk mengawetkan makanan. Senyawa ini juga ditambahkan untuk
memberikan rasa asam pada makanan dan minuman.
Menurut Riski (2013) ada beberapa penggunaan asam sitrat, antara lain:
a. Aditif Makanan
Asam sitrat sering digunakan sebagai aditif makanan dan agen penyedap.
Senyawa ini dikenal mampu mengawetkan makanan dan minuman, serta
digunakan untuk membuat permen karena rasa asamnya. Saat membeli permen
asam, kita sering menemukan lapisan bubuk putih yang tidak lain adalah asam
sitrat. Produsen es krim juga menggunakan asam sitrat sebagai emulsifier dan
membantu menghilangkan gelembung-gelembung lemak.
b. Proses Pengalengan
Asam sitrat digunakan dalam prose pengalengan berbagai buah-buahan
seperti apel, aprikot, pir, buah persik, dan buah-buahan lain yang memiliki
kandungan asam rendah. Asam ini mampu meningkatkan pH makanan kaleng

sehingga efektif membantu menghentikan botulisme. Sebagaimana diketahui,


botulisme merupakan bakteri berbahaya yang bisa mengancam kesehatan.
c. Dapur
Asam sitrat memiliki kemampuan memecah protein dalam daging yang
berarti bisa digunakan untuk membuat daging lebih lunak dan lembut. Selain
itu, substansi ini juga digunakan selama proses pembuatan keju karena
membantu menggumpalkan susu lebih cepat.
d. Pengasam Anggur
Dalam proses pembuatan anggur, jika buah yang digunakan tidak
mengandung asam sitrat yang tinggi, maka senyawa ini perlu ditambahkan
secara artifisial. Proses tersebut sebagian besar digunakan untuk memproduksi
anggur murah.
e. Perawatan Kulit
Asam sitrat juga digunakan dalam pembuatan produk kecantikan dan
dicampur dengan natrium bikarbonat untuk membuat tablet mandi dan bath
fizzes. Selain itu, senyawa ini juga digunakan dalam pembuatan sebagian
lotion dan masker kulit. Asam sitrat bertindak sebagai antioksidan yang
membantu menyegarkan kulit sehingga membantu mencegah kulit kendur.
Selain itu, asam sitrat memiliki sifat menghancurkan radikal bebas dan
mendorong pertumbuhan kulit. Namun, harus diperhatikan bahwa terlalu
banyak asam sitrat justru akan menyebabkan iritasi pada kulit.
f. Perawatan Rambut
Asam sitrat umum digunakan bersama dengan sampo untuk mencuci
bahan pewarna rambut. Namun, gunakan asam sitrat dalam jumlah yang sangat
kecil karena kuantitas berlebih justru bisa membahayakan rambut.

g. Agen Pembersih
Salah satu penggunaan umum asam sitrat adalah sebagai agen pembersih
peralatan dapur dan kamar mandi. Jika Anda tidak ingin menggosok gelas yang
bernoda, cukup gunakan larutan asam sitrat dan noda akan segera terhapus.
h. Penggunaan Industri
Kegunaan industri asam sitrat amat banyak dan terutama digunakan
dalam algicides, pakan ternak, papan sirkuit, pupuk mikronutrien, makanan
hewan, dll.
2.9 Kandungan Gizi pada Nanas
Nutritional value per 100 g (3.5 oz)

Vitamin B6

(9%) 0.112 mg

Energy 209 kJ (50 kcal)

Folate (B9)

(5%) 18 g

Carbohydrates 13.12 g

Choline

(1%) 5.5 mg

Sugars 9.85 g

Vitamin C

(58%) 47.8 mg

Dietary fiber 1.4 g

Minerals

Fat 0.12 g

Calcium

(1%) 13 mg

Protein 0.54 g

Iron

(2%) 0.29 mg

Vitamins

Magnesium

(3%) 12 mg

Thiamine (B1) (7%) 0.079 mg

Manganese

(44%) 0.927 mg

Riboflavin (B2) (3%) 0.032 mg

Phosphorus

(1%) 8 mg

Niacin (B3)

Potassium

(2%) 109 mg

Pantothenic acid (B5)

Sodium

(0%) 1 mg

(4%) 0.213 mg

Zinc

(1%) 0.12 mg

(3%) 0.5 mg

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1.

Alat dan Bahan yang Digunakan


3.1.1. Bahan
1. Sari buah nanas
2. Bekatul 15 gr
3. Sekam padi 21 gr
4. Urea 10 gr
5. KH2PO4 6 gr
6. MgSO4.7H2O 5 gr

7. Aspergillus niger
8. Ca(OH)2 5 gr
9. H2SO4
10. NaOH 0,1 N 500 ml
11. Aquades

3.1.2 Alat
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
3.2.

Petridish
Beaker glass
Erlenmeyer
Gelas ukur
Buret, statif, dan klem
Pipet
Inkubator untuk fase semi padat
Inkubator untuk fase cair
Oven

Gambar Alat

Petridish

Beaker Glass

Erlenmeyer

Gelas Ukur

Buret, statif, klem

Pipet tetes

Inkubator
3.3.

Oven

Variabel Operasi
Tabel 3.1 Data variabel operasi

Variabel 1
Variabel 2
Variabel 3

MgSO4
1 gr
1 gr
3 gr

KH2PO4
2 gr
2 gr
2 gr

Urea
2 gr
4 gr
4 gr

Sekam
5 gr
5 gr
5 gr

Bekatul
7 gr
7 gr
7 gr

pH
3
3
3

Hari
7
7
7

3.4.

Cara Kerja
3.4.1. Pembuatan biakan kapang/starter/suspensi spora
1.
2.
3.
4.

Siapkan media untuk pembiakan kapang (mold)


Buat biakan Aspergillus niger pada media tersebut.
Inkubasikan pada 28oC atau 30oC selama 2-4 hari.
Larutkan spora hasil pembiakan di atas dengan air steril.
Agar selalu dapat dipertahankan percobaan dalam keadaan aseptik, lakukanlah
pembuatan suspensi spora di atas dalam keadaan aseptik.

3.4.2. Fermentasi pada media semi cair


1. Siapkan sumber karbohidrat yang

akan

digunakan,

ukur

sumber

karbohidrat sesuai variabel lalu tambahkan nutrient nutrient dan aquadest


hingga volume menjadi 100 mL dalam erlenmeyer lalu ditutup dengan
alumunium foil.
2. Atur pH sesuai variabel.
3. Sterilkan pada 121oC selama 15 menit menggunakan oven lalu didinginkan.
4. Setelah dingin, tanami dengan suspensi Aspergillus niger secara aseptik di ruang
aseptik.
5. Cara penanaman suspensi spora:
Menyiapkan kawat osse, bunsen, alkohol, dan HCl.

Semprot ruang aseptik dengan menggunakan alkohol dan diamkan

selama 1 menit. Lalu bisa dilakukan penanaman suspensi spora.


Penanaman suspensi spora dilakukan dengan cara mensterilkan kawat
osse: Panaskan kawat osse menggunakan bunsen kemudian memasukkan

ke larutan HCl kemudian panaskan kawat osse lagi.


Ambil beberapa kawat osse Aspergillus niger dari biakan murni yang
telah disediakan dan masukkan ke dalam sampel yang sudah di oven, lalu

siap di inkubasikan.
6. Inkubasikan selama 7 hari sesuai variabel pada 28oC 30oC (dalam inkubator
goyang).
Setelah selesai inkubasi, saring dengan kertas saring atau pompa vakum dan
filtratnya ditest untuk asam sitratnya.
Analisa Hasil
o Panaskan filtrat yang diperoleh dari percobaan di atas sampai 70 oC.
Tambahkan

larutan sebanyak 10

mL. Buat

larutan Ca(OH) 2 dengan

melarutkan 5gr Ca(OH)2 dengan aquadest sampai 50 mL (jaga temperatur


konstan).
o Endapan yang timbul cepat-cepat disaring (dalam keadaan panas 70 oC),
kemudian dicuci dengan air panas 70 oC. Endapan tersebut adalah Kalsium
Sitrat.
o Keringkan endapan di oven kemudian timbang beratnya. Catat beratnya.
o Endapan tersebut dilarutkan dengan H2SO4 encer, sesuai perhitungan, saring
dengan kertas saring. Filtratnya merupakan asam sitrat dan endapannya
adalah Kalsium Sulfat.
o Untuk mengetahui berat asam sitrat yang diperoleh pada percobaan, titrasi
filtrat tersebut dengan NaOH 0,1N. Catat kebutuhan titran.
* Menghitung kebutuhan H2SO4 encer
Ca3(C6H5O7)2(s) + 3H2SO4(l) 3CaSO4(s) + 2C6H8O7(s)
X gr
= A mol
BM CaSitrat

3A mol

Buat larutan H2SO4 dengan melarutkan 5 mL H2SO4 pekat menjadi 100 mL


gr H2SO4

= vol H2SO4 . H2SO4 . kadar H2SO4


= 5 mL . 1,84 gr/cm3 . 100/98
= 9,39 gr

Molar H2SO4 =

mol
V

9,39 gr
gr
98
mol
0,1 L

gr
BM
V

= 0,92 M
Molar H2SO4

= mol / V

0,958 M

=
V

3 A mol
V

= ............ L = ................... mL

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil Percobaan
Tabel 4.1. Analisa Hasil pada Masing-Masing Variabel
Variabel
Variabel I
Variabel II
Variabel II

4.2.

Parameter

Hari II

pH
Volume titran
pH
Volume titran
pH
Volume titran

3
11,4 ml
3
7,5 ml
3
9,7 ml

Hari
III
3
1,9 ml
3
2,5 ml
3
2,5 ml

Hari
VI
3
7,4 ml
3
5 ml
3
4,5 ml

Hari
VII
3
21,4 ml
3
12,6 ml
3
16,5 ml

Pembahasan
4.2.1. Hubungan Waktu Fermentasi (Hari) terhadap pH
4

pH 2

variabel 1
variabel 2
variabel 3

0
0

Waktu Fermentasi

Gambar 4.1 Hubungan Waktu Fermentasi vs pH


Berdasarkan grafik di atas, dapat disimpulkan bahwa pH tetap konstan seiring
bertambahnya waktu fermentasi. Pada variabel 1, pH awalnya adalah 3 kemudian
hingga akhir fermentasi tetap pH 3. Pada variabel 2, pH awalnya adalah 3 kemudian
hingga akhir fermentasi tetap pH 3. Pada variabel 3, pH awalnya adalah 3 kemudian
hingga akhir fermentasi tetap pH 3. Seharusnya semakin lama waktu fermentasi maka

semakin rendah pH larutan tersebut karena makin banyak asam sitrat yang dihasilkan.
Mekanismenya pertama-tama, asetilko-A hasil dari reaksi antara (dekarboksilasi
oksidatif) masuk

kedalam

siklus

dan

bergabung

dengan

asam

oksaloasetat

membentuk asam sitrat. Setelah "mengantar" asetil masuk kedalam siklus Krebs, ko-A
memisahkan diri dari asetil dan keluar dari siklus. Kemudian, asam sitrat mengalami
pengurangan dan penambahan satu molekul air sehingga terbentuk asam isositrat.
Lalu, asam isositrat mengalami oksidasi dengan
mereduksi NAD+ menjadi NADH, dan

melepas ion H +, yang kemudian

melepaskan satu

molekul

CO2

dan

membentuk asam a-ketoglutarat (baca: asam alpha ketoglutarat). Setelah itu, asam
a-ketoglutarat kembali melepaskan satu molekul CO2, dan teroksidasi dengan
melepaskan satu ion H+ yang kembali mereduksi NAD+ menjadi NADH. Selain itu,
asam a-ketoglutarat mendapatkan tambahan satu ko-A dan membentuk suksinil ko-A.
Setelah terbentuk suksinilko-A, molekul ko-A kembali meninggalkan siklus, sehingga
terbentuk asam suksinat. Pelepasan ko-A dan perubahan suksinilko-A menjadi asam
suksinat menghasilkan cukup energi untuk menggabungkan satu molekul ADP dan satu
gugus fosfat anorganik menjadi satu molekul ATP. Kemudian, asam suksina mengalami
oksidasi dan melepaskan dua ion

H+, yang kemudian diterima oleh FAD dan

membentuk FADH2, dan terbentuklah asam

fumarat. Satu molekul air kemudian

ditambahkan ke asam fumarat dan menyebabkan perubahan susunan (ikatan) substrat


pada asam fumarat, karena itu asam fumarat berubah menjadi asam malat. Terakhir,
asam malat mengalami oksidasi dan kembali melepaskan satu ion H +, yang kemudian
diterima oleh NAD+ dan membentuk NADH, dan asam oksaloasetat kembali terbentuk
dan sehingga fenomena ini menyebabkan penurunan pH terhadap media fermentasi.
Dalam praktikum yang telah dilakukan tidak sesuai dengan teori yang
seharusnya. Hal ini disebabkan oleh keberadaan nutrient urea. Hal ini menjadi sumber
nitrogen untuk Aspergillus niger. Aspergillus niger akan mengurai nutrient urea ini
menjadi gas NH3 dan CO2. Gas NH3 ini akan bereaksi dengan H2O menjadi NH4OH
yang bersifat basa, sehingga walaupun terbentuk asam sitrat yang semakin banyak dan
seharusnya semakin asam, namun pH tetap konstan. (Sunarya, 2007)
4.2.2.Hubungan Waktu Fermentasi dan Volume Titran

Waktu fermentasi dari hari ke hari menimbulkan data volume titran yang
berbeda setiap hari nya. Volume titran yang dibutuhkan ini sangat berpengaruh dengan
asam sitrat yang dihasilkan selama proses fermentasi. Berikut data dari waktu
fermentasi degan volume titran yang diperlukan.
Tabel 4.2 Data Waktu Fermentasi VS Volume Titran

Variabel I
Variabel II
Variabel III

Hari II
11,4 ml
7,5 ml
9,7 ml

Hari III
1,9 ml
2,5 ml
2,5 ml

Hari VI
7,4 ml
5 ml
4,5 ml

12
10
8

Volume Titran (ml)

6
Variabel I
4

Variabel II

2
0
Hari II

Har
Hari III i

Hari VI

Waktu Fermentasi

Gambar 4.2.1 Hubungan Waktu Fermentasi vs Volume Titran Variabel I dan II

12
10
8

Volume Titran (ml)

6
Variabel II
4

Variabel III

2
0
Hari II

Hari III

Hari VI

Waktu Fermentasi

Gambar 4.2.2 Hubungan Waktu Fermentasi vs Volume Titran Variabel II dan III
Dari gambar 4.2.1 dan 4.2.2 dapat dilihat hubungan antara volume titran dari
hari ke hari. Semakin hari, volume titran yang dibutuhkan variabel I lebih banyak
daripada variabel II dan variabel III (kebutuhan volume titran variabel I > Variabel II >
Variabel III). Semakin banyaknya volume titran yang dibutuhkan dikarenakan hasil
fermentasi dari Aspergillus niger yang menghasilkan asam sitrat.Sehingga secara
teoritis, pH untuk variabel I-III akan semakin asam setiap harinya.
Dimana jumlah volume titran yang dibutuhkan untuk sampel 1 dan 2 berbeda
karena sampel 2 lebih banyak mengandung urea, dimana urea merupakan senyawa yang
mengandung basa lemah. Sehingga pH vaiabel II lebih mendekati netral yang
berdampak pada kebutuhan titran NaOH yang lebih sedikit daripada variabel I dengan
pH yang lebih asam.
Untuk variabel II dan III diketahui berdasarkan grafik bahwa pada hari II
variabel III lebih banyak membutuhkan titran sedangkan pada hari VI variabel II lebih
banyak membutuhkan titran. Perbedaan kedua variabel ini terletak pada variabel III
yang lebih banyak mengandung MgSO4 dimana senyawa ini adalah makronutrien yang
dibutuhkan oleh Aspergillus niger. Sehingga pada hari kedua telah terbentuk asam sitrat
yang lebih banyak daripada variabel II yang menyebabkan pH variabel III lebih asam

daripada variabel II sehingga membutuhkan lebih banyak titran untuk menetralkannya


(Manfaati, 2011).
4.2.3. Fungsi MgSO4 pada fermentasi alkohol
Media fermentasi untuk biosintesis asam sitrat terdiri dari substrat yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroorganisme, terutama terdiri dari substrat yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroorgaisme terutama sumber karbon, nitrogen dan
fosfor. Selain itu air dan udara dapat pula dimasukkan sebagai substrat fermentasi.
Kondisi operasi fermentasi asam sitrat:
1

Jenis media mengandung sukrosa, KH2PO4, MgSO4, (NH4)2CO3, FeCl3, dan

HCl
2 pH media 2
3 Suhu 29 C
(Arief Satrio dkk., 2012)
Penambahan magnesium dari MgSO4 mempercepat perubahan glukosa menjadi
asam piruvat lebih cepat. Dengan semakin cepatnya terbentuk asam piruvat, maka
semakin cepat pula terbentuknya asam sitrat.
4.2.4 Fungsi Urea dan Kadar Optimum dalam Pembuatan Asam Sitrat
Urea dalam percobaan digunakan sebagai sumber nitrogen merupakan pilihan
yang tepat karena selama proses ammonium akan dikonsumsi oleh Aspergillus niger
dan melepaskan ion hidrogen sehingga akan menurunkan pH media fermentasi.
Konsentrasi ion ammonium selama proses fermentasi asam sitrat berada dalam rentang
yang cukup luas yaitu 0,31,5 g NH4 +/lt. Penambahan ion ammonium secara bertahap
selama proses fermentasi akan meningkatkan produksi asam sitrat, terutama pada saat
laju produksi asam sitrat menurun.
(Moo Young, 1984).
Produksi asam sitrat oleh Aspergillus niger sangat dipengaruhi oleh komposisi
media fermentasi. Pada penelitian ini produksi asam sitrat yang tinggi akan tercapai
pada konsentrasi gula antara 14 22 % (w/v).
(Rintis M, 2011)

Penambahan nutrien nitrogen dari senyawa ammonium nitrat yang semakin


banyak maka dihasilkan asam sitrat yang terbaik. Hal ini disebabkan nitrogen
merupakan unsur makromolekul yang paling banyak dibutuhkan bagi pertumbuhan
Aspergillus niger. Semakin banyak nutrisi nitrogen maka laju pertumbuhan mikroba
meningkat dan mengakibatkan jumlah pertumbuhan mikroba meningkat dan
mengakibatkan jumlah gula terkonversi menjadi asam sitrat semakin bertambah. Selain
itu penambahan nutrien nitrogen dari senyawa ammonium nitrat dapat berfungsi untuk
menurunkan pH media fermentasi karena pada proses fermentasi asam sitrat dibutuhkan
pH yang rendah. Jadi dengan pH yang rendah dapat dihasilkan asam sitrat dengan lebih
optimal.
(Naomi M,2009)

BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
1. pH larutan meningkat seiring bertambahnya hari. Hal ini dikarenakan
keberadaan nutrient urea. Hal ini menjadi sumber nitrogen untuk Aspergillus
niger. Aspergillus niger akan mengurai nutrient urea ini menjadi gas NH 3 dan
CO2. Gas NH3 ini akan bereaksi dengan H2O menjadi NH4OH yang bersifat basa.
Sehingga akan menaikkan pH media fermentasi.
2. Volume titran yang dibutuhkan semakin banyak dikarenakan hasil fermentasi
dari Aspergillus niger yang menghasilkan asam sitrat.
3. Kondisi optimum pembentukan Aspergillus niger dan pembentukan asam sitrat
adalah pada pH 2, suhu 28-290C, laju pengadukan 120 rpm dan waktu fermentasi
1-2 minggu.

5.2. Saran
1. Hati-hati saat mengambil Aspergillus niger.
2. Sterilkan ruang aseptik dengan alkohol sebelum digunakan.
3. Tutup baik-baik mulut erlenmeyer agak tidak robek saat diinkubasi goyang.
4. Cermat dalam pembuatan reagen.
5. Cuci alat dengan bersih sebelum digunakan.

DAFTAR PUSTAKA

Damayanti, Oktavia.2010. Pabrik Asam Sitrat dari Nira Siwalan Dengan Proses
Submerged Fermentation. Surabaya: ITS.
Manfaati, Rintis.2011.Pengaruh Komposisi Media Fermentasi Terhadap
Produksi Asam Sitrat Oleh Aspergillus niger.Bandung: Politeknik Negeri Bandung.
Maulana.2011. Pembuatan Pabrik Asam Sitrat. Yogyakarta: UPN Veteran.
Satrio, Arief.2012. Fermentasi Asam Sitrat oleh Aspergillus niger. Bandung:
Politeknik Negeri Bandung.
Sunarya.2007.Mudah dan Aktif Belajar Kimia. Bandung: Setia Purna Inves.
Madonna, Naomi dan Dias, Rizki Nur. 2009. Fermentasi Ubi Jalar menjadi
Asam Sitrat dengan menggunakan Metode Surface Culture. Semarang: Seminar Tugas
Akhir S-1 Jurusan Teknik Kimia UNDIP 2009.

LEMBAR PERHITUNGAN

Kadar AsamSitrat=

M Asam Sitrat=

( V . N ) NaOH BM AsamSitrat Fp
V titrasi 1000

Kadar asam sitrat 1000

BM Asam Sitrat
v

Keterangan :
Fp

= 10

Vt

= 1,8 x 10-5

BM

= 192 gr/mol

1. Variabel 1
a. Hari ke 0, pH = 3
b. Hari ke 2, V NaOH = 11,4 ml
Kadar=

M=

11,4 0,1 192 10


=0,21888 gr
10 1000

0,21888 1000

=0,0114 M
192
100

pH=log 0,0144 = 0,9715

c. Hari ke 3, V NaOH = 1,9 ml


Kadar=

M=

1,9 0,1 19210


=0,03648 gr
10 1000

0,03648 1000

=0,0019 M
192
100

pH=log 0,0019 = 1,3606

d. Hari ke 6, V NaOH = 7,4 ml

Kadar=

M=

7,4 0,1 192 10


=0,14208 gr
10 1000

0,14208 1000

=0,0074 M
192
100

pH=log 0,0074 = 1,0654

e. Hari ke 7, V NaOH = 21,4 ml


Kadar=

M=

21,4 0,1 192 10


=0,4109 gr
10 1000

0,4109 1000

=0,0214 M
192
100

pH=log 0,0214 = 0,8348

2. Variabel 2
a. Hari ke 0, pH = 3
b. Hari ke 2, V NaOH = 7,5 ml
Kadar=

M=

7,5 0,1 19210


=0,144 gr
10 1000

0,144 1000

=0,0075 M
192
100

pH=log 0,0075 = 1,0625

c. Hari ke 3, V NaOH = 2,5 ml


Kadar=

M=

2,5 0,1 192 10


=0,048 gr
10 1000

0,048 1000

=0,0025 M
192
100

pH=log 0,0025 = 1,3010

d. Hari ke 6, V NaOH = 5 ml
Kadar=

M=

5 0,1 19210
=0,096 gr
10 1000

0,096 1000

=0,005 M
192
100

pH=log 0,005 = 1,1505

e. Hari ke 7, V NaOH = 12,6 ml


Kadar=

M=

12,6 0,1 192 10


=0,24192 gr
10 1000

0,2419 1000

=0,0126 M
192
100

pH=log 0,0126 = 0,9498


3. Variabel 3
a. Hari ke 0, pH = 3
b. Hari ke 2, V NaOH = 9,7 ml
Kadar=

M=

9,7 0,1 192 10


=0,18624 gr
10 1000

0,18624 1000

=0,0097 M
192
100

pH=log 0,0097 = 1,0066

c. Hari ke 3, V NaOH = 2,5 ml


Kadar=

2,5 0,1 192 10


=0,048 gr
10 1000

M=

0,048 1000

=0,0025 M
192
100

pH=log 0,0025 = 1,3010

d. Hari ke 6, V NaOH = 4,5 ml


Kadar=

M=

4,5 0,1 192 10


=0,0864 gr
10 1000

0,0864 1000

=0,0045 M
192
100

pH=log 0,0045 = 1,1734

e. Hari ke 7, V NaOH = 16,5 ml


Kadar=

M=

16,5 0,1 19210


=0,3168 gr
10 1000

0,3168 1000

=0,0165 M
192
100

pH=log 0,0165 = 0,89126