Anda di halaman 1dari 15

I.

PENDAHULUAN
a. Latar belakang
Hewan harus ditangani dengan baik untuk mencapai kesejahteraan hewan, penting
bahwa pengurus hewan ternak memahami perilaku hewan dan prinsip-prinsip dasar
penanganan hewan dengan stres rendah.
Mengendalikan dan mengekang hewan sangat diperlukan untuk berbagai tujuan
baik dalam tatalaksana pemeliharaan ataupun yang terkait dengan kesehatan hewan, seperti
melakukan pemeriksaan atau pengobatan. Diperlukan cara cara mengendalikan dan
mengekang hewan dengan benar dan baik, agar hewan terkendali dengan baik tanpa
menyebabkan stress, luka atau trauma baik pada hewan ataupun pengendali, baik pemilik,
paramedik ataupun dokter hewan.
Tujuan dari praktikum yaitu,mengajarkan kepada mahasiswa cara menghandling
hewan dengan baik dengan memperhatikan prisip kesejahteraan hewan dan mengajarkan
cara memasang iv catheter dan melakukan anestesi yang tepat.

II.PEMBAHASAN
a. Handling dan Pemasangan Restrain

Handling dan restrain menjadi bagian yang sangat penting terutama bagi praktisi
veteriner. Sebagian besar aktifitas praktisi hewan kesayangan atau ternak, mulai
memeriksa hingga melakukan terapi membutuhkan restrain. Demikian juga bagi praktisi
pada hewan coba, dalam melakukan treatment atau perlakukan juga memerlukan restrain.
Handling merupakan tindakan untuk menangani hewan meliputi cara memegang
yang baik dan benar sedangkan restrain merupakan tindakan untuk menguasai hewan atau
memberikan batasan baik dalam pergerakan hewan baik menggunakan peralatan maupun
tanpa peralatan khusus. Handling dan restrain dilakukan agar tidak terjadi cidera baik pada
hewannya maupun pada orang yang menanganinya. Untuk tindakan anestesi pada hewan
sebelum masuk pada tindakan premedikasi anestesi hewan terlebih dahulu di handling atau
jika diperlukan dilakukan restrain dengan peralatan yang disesuaikan dengan jenis hewan
yang digunakan.
Restrain adalah alat atau tindakan pelindung untuk membatasi gerakan
aktivitas fisik pasien atau bagian tubuh pasien (kozier,2004). Restrain di
klarifikasi mendadi 2 yaitu fisikal (physical) dan kemikal (chemical) restrain.
Fisikal restrain adalah restrain dengan metode manual atau alat bantu
mekanik,atau alat-alat yang dipasang pada tubuh pasien sehingga pasien
tidak dapat bergerak dengan mudah dan terbatas geraknya, sedangkan
kemikal restrain yaitu restrain yang menggunakan bahan kimia yaitu
neuroleptics,anxioulytics,sedatif,dan psikotropika yang digunakan untuk
mengontrol tingkah laku sosial yang merusak.
Penggunaan jangka pendek restrain hanya di izinkan apabila pasien
melakuakan tindakan yang agresif dan berbahaya bagi pasien dan orang di
sekitarnya. Penggunaan restrain harus melalui instruksi dokter,observasi
setiap 2 atau 4 jam dan melakukan dokumentasi pasien setiap kondisi
apapun (videbeck,2008).
Berikut adlah 5 kriteria dalam memilih restrain:
Membatasi gerak pasien sedikit mungkin
Bisa di terima oleh pasien dan klien
Tidak mempengaruhi proses perawatan
Mudah di lepas atau di ganti
Aman untuk pasien
1. Anjing

Pemasangan brangus
1. Anjing harus berada pada posisi duduk pada meja periksa atau lantai,
tergantung ukuran anjing. Kadang-kadang dibutuhkan seorang asisten untuk
memasangkan brangus.
2. Berdiri disamping anjing dengan memegang brangus pada tangan.

3. Letakkan brangus pada moncong anjing dan tarik tali dengan kedua tangan dan
ikatkan di belakang.

4. Ikatan yang tepat akan memungkinkan untuk menyelipakn satu jari pada tali

Restrain anjing
1. Tempatkan tali jerat pada anjing.
2. Lingkarkan lengan kanan di bagian bawah dagu anjing hingga menyentuh
punggungnya, dan tangan kiri melingkar pdari bagian bawah perut hingga
punggungnya. Jauhkan moncong anjing dari orang yang melakukan prosedur
agar terhindar dari gigitan.

3. Pegang tubuh anjing hingga merapat pada tubuh. Pindahkan salah satu lengan
tergantung pemeriksaan apa yang akan dilakukan. Apakah pemeriksaan pada
dubur atau pada muka.

Restrain Anjing Posisi Lateral


1. Letakkan tali jerat pada anjing dan posisikan anjing berdiri.
2. Tempatkan lengan kanan di leher anjing hingga melewati antara kaki depan
anjing dan genggam kaki depan kanan anjing. Sedangkan tangan kiri
melingkar dari punggung anjing dan menggenggam kaki kanan belakang (pada
posisi ini, anjing siap untuk direbahkan lateral).

.
3. Dengan posisi anjing yang merapat pada tubuh, angkat tungkai dengan pelan
yang memungkinkan anjing rebah lateral pada meja.

4. Jangan lepaskan kaki dari genggaman hingga anjing tidak merasa stress.
Lengan kanan dapat digunakan untuk memberi tekanan pada leher jika
dibutuhkan dan memberi control lebih.
5. Jika anjing berukuran besar, diperlukan 2 orang untuk menahannya. Satu orang
menahan bagian tubuh depan, dan satu lagi menahan bagian belakang.

2. Kucing

Pemasangan Burrito pada Kucing


1. Siapkan handuk yang sesuai dengan ukuran tubuh kucing.

2. Lipat bagian ujung handuk dari ekor hingga punggung. Lanjutkan


membungkus kucing dengan menyelipkan handuk di sisi bawah kucing.

3. Bawa kedua sisi handuk ke bagian punggung kucing

Restrain Kucing Posisi Lateral


1. Posisikan kucing pada meja periksa
2. Pegang tengkuk kucing dengan satu tangan dan angkat dari meja, gunakan
tangan lain untuk mengekang kaki belakang.

3. Letakkan kucing pada meja operasi dengan posisi rebah lateral dan pegangi
bagian kaki.
b. Catheter
Catheter adalah alat berupa pipa kosong yang terbuat dari logam, gelas, karet,
plastic dengan cara penggunaanya yaitu dimasukkan ke dalam rongga tubuh melalui
saluran atau kanal.

Gambar 1.catheter
IV catheter adalah catheter yang dimasukkan ke dalam pembuluh vena.
Kegunaanya yaitu sebagai vena tambahan (perpanjangan vena) untuk pengobatan iv
catheter dapat digunakan dalam terapi cairan melalui intravena yaitu pada pemberian
cairan infus dalam jangka lama yang lebih dari 48 jam.
Terapi cairan merupakan tindakan pengobatan esensial untuk pasien dalam kondisi
kritis atau memerlukan perawatan intensif. Terapi cairan harus menjadi pilihan dan
mendapat perhatian yang serius terutama pada pasien anjing dan kucing yang telah lama
tidak mau makan dan minum. Hewan masih dapat hidup dalam beberapa minggu tanpa
makan, tetapi akan mati hanya dalam beberapa hari atau beberapa jam jika tidak ada air.
terapi cairan pada hewan dapat dilakukan melalui beberapa cara yaitu melalui oral,
subcutan, intraperitoneal dan melalui intravena.( Suartha,2010)
Pemberian cairan secara intravena dilakukan jika tingkat dehidrasi yang diderita
oleh hewan mencapai 7% atau lebih. Lokasi tempat pemberian secara intravena yaitu vena
periperal (misal vena saphena), vena jugularis dan intraosseus. Pemberian secara intra vena
juga dilakukan untuk perbaikan volume cairan ekstraseluler yang harus segera dilakukan
pada kasus hemorhagic shock karena luka atau operasi (bedah).( Suartha,2010)
Efek samping pemberian secara intravena yaitu ( Suartha,2010) :

dapat menimbulkan phlebitis, septicemia, dan overhidrasi,


memerlukan waktu pemberian yang lama,
memerlukan asisten untuk restrain pasien. Untuk mengurangi efek samping itu
dapat digunakan vena cateter.

Keuntungan penggunaan intravena catheter ( Suartha,2010):

akses yang cepat menuju sirkulasi,


dapat melakukan infuse secara kontinyu tanpa merusak vena,
dapat mengurangi kebocoran perivascular,
dapat mengukur tekanan vena central

Penggunaan catheter yang lama (menetap) kadang-kadang menimbulkan


komplikasi seperti thromboplebitis, thromboembolism, septikemia, dan bakterial
endocarditis.
Untuk mengurangi efek dari itu dianjurkan ( Suartha,2010):

penggunaan cateter yang harus menetap hanya benar-benar diperlukan,


pertahankan kondisi yang seaseptik mungkin saat pemasangan cateter,
letakan tampon yang berisi betadin diatas tempat masuknya catheter ke kulit,

periksa secara rutin kulit disekitar tempat masuknya catheter, terutama adanya
kemerahan, dan bengkak dan periksa adanya demam, leukositosis atau aritmia. Jika
gejala itu teramati segera cabut catheter dan berikan antibiotika pada pasien,
jika harus menggunakan catheter dalam waktu lama, ganti catheter setiap 4-5 hari
dengan yang baru

Menurut Scales (2005), tahap-tahap pelaksanaan pemasangan infuse adalah sebagai


berikut:
1. Letakkan pasien pada posisi yang nyaman
2. Identifikasi vena yang akan dikanulasi
3. Cuci tangan dan gunakan sarung tangan non
4. Pasang torniket pada lengan yang akan dikanulasi, nadi harus tetap teraba.
5. Bersihkan bagian kulit dengan larutan alcohol 70%, biarkan sampai kering dan
jangan raba atau sentuh lagi bagian tersebut.
6. Buka iv-catheter yang sudah dipilih ukurannya, pegang dengan posisi bevel stylet
menghadap keatas.
7. Pegang tangan pasien dengan tangan kiri, gunakan ibu jari menekan dan fiksasi
(untuk stabilisasi) distal vena yang akan dikanulasi
8. Pegang iv-catheter sejajar vena, dan membentuk sudut 100-300 dengan permukaan
kulit, lakukan insersi (tusukan). Bila iv-catheter sudah masuk yang ditandai dengan
adanya darah yang masuk kedalam chamber (flash back), kemudian datarkan ivcatheter untuk mencegah tertusuknya dinding posterior dari vena, sorong masuk
1 mm.
9. Tarik stylet perlahan dan darah harus terlihat masuk kedalam iv-catheter, hal ini
memberi konfirmasi bahwa kanula berada dalam vena.
10. Sorong masuk iv-catheter kedalam vena dengan perlahan, bebaskan torniket,
masukkan stylet kedalam kantong sampah benda tajam.
11. Flush iv-catheter untuk memastikan patensi dan mudahnya penyuntikan tanpa
adanya rasa sakit, resistensi, dan timbulnya pembengkakan.
12. Fixasi iv-catheter dengan moisture-permeable transparent dressing ( supaya bila
ada phlebitis atau dislodge dapat terlihat)

c. Anestesi

Anestesi atau yang di kenal dengan istilah pembiusan adalah tindakan untuk
menghilangkan rasa sakit pada proses pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang
menimbulkan rasa sakit pada tubuh.
Istilah Anestesia digunakan pertama kali oleh Oliver Wendell Holmes pada tahun
1948. Anestesi terbagi ke dalam 2 kelompok, yaitu analgetik dan anestesi keadaan sadar.
Analgetik tidak selalu menghilangkan seluruh rasa nyeri, tetapi selalu meringankan rasa
nyeri. Beberapa jenis anestesi menyebabkan hilangnya kesadaran, sedangkan jenis yang
lainnya hanya menghilangkan nyeri dari bagian tubuh tertentu dan pemakainya tetap
sadar. Obat-obatan anestetik yang diberikan pada hewan akan membuat hewan tersebut
tidak peka terhadap rasa sakit sehingga hewan menjadi lebih tenang, dengan demikian
pembedahan dapat dilaksanakan lebih aman dan lancar. (Latief, dkk, 2001).
Tujuan umum pemberian anestesi adalah sebagai berikut (staf pengajar anestesi,1989) :
1. Mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri dengan meminimalkan kerusakan
beberapa organ tubuh terutama pada pasien dengan kondisi khusus seperti pada
pasien tua, bayi atau penderita penyakit komplikasi
2. Membuat hewan tidak terlalu banyak bergeak bila dibutuhkan relaksasi muskulus
(mengendalikan hewan)
Dalam melakukan anestesi harus diperhatikan beberapa faktor antara lain: kondisi
hewan, lokasi pembedahan, lama pembedahan, ukuran tubuh/jenis hewan, kepekaan
hewan terhadap obat anestetik dan penyakit-penyakit yang diderita hewan. Sebelum
anestesi sangat perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan hewan, karena kadang-kadang
anestesi umum mempunyai resiko yang jauh lebih besar dibandingkan pembedahan yang
dijalankan. Ada beberapa tipe anestesi antara lain sebagai berikut (staf pengajar
anestesi,1989):

Pembiusan total adalah hilangnya kesadaran total


Pembiusan lokal adalah hilangnya rasa pada daerah tertentu yang diinginkan (pada
sebagian kecil daerah tubuh).
Pembiusan regional adalah hilangnya rasa pada bagian yang lebih luas dari tubuh
oleh blokade selektif pada jaringan spinal atau saraf yang berhubungan dengannya

Obat bius memang diciptakan dalam berbagai sediaan dan cara kerja. Namun,
secara umum obat bius atau istilah medisnya anestesi ini dibedakan menjadi tiga
golongan yaitu anestesi lokal, regional, dan umum (Joomla, 2008).
1. Anestesi lokal
Anestesi lokal adalah tindakan pemberian obat yang mampu menghambat
konduksi saraf (terutama nyeri) secara reversibel pada bagian tubuh yang spesifik
(Biworo, 2008). Pada anestesi umum, rasa nyeri hilang bersamaan dengan
hilangnya kesadaran penderita. Sedangkan pada anestesi lokal (sering juga
diistilahkan dengan analgesia lokal), kesadaran penderita tetap utuh dan rasa nyeri
yang hilang bersifat setempat (lokal) (Bachsinar, 1992).
Pembiusan atau anestesi lokal biasa dimanfaatkan untuk banyak hal.
Misalnya, sulam bibir, sulam alis, dan liposuction, kegiatan sosial seperti
sirkumsisi (sunatan), mencabut gigi berlubang, hingga merawat luka terbuka yang
disertai tindakan penjahitan (Joomla, 2008). Anestesi lokal bersifat ringan dan
biasanya digunakan untuk tindakan yang hanya perlu waktu singkat. Oleh karena
efek mati rasa yang didapat hanya mampu dipertahankan selama kurun waktu

sekitar 30 menit seusai injeksi, bila lebih dari itu, maka akan diperlukan injeksi
tambahan untuk melanjutkan tindakan tanpa rasa nyeri (Joomla, 2008).
Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk suatu jenis obat yang
digunakan sebagai anestetika lokal, antara lain: tidak merangsang jaringan, tidak
mengakibatkan kerusakan permanen terhadap susunan saraf, toksisitas sistemik
yang rendah, efektif dengan jalan injeksi atau penggunaan setempat pada selaput
lendir, mula kerjanya sesingkat mungkin dan bertahan untuk jangka waktu yang
cukup lama, dapat larut dalam air dan menghasilkan larutan yang stabil, juga tahan
terhadap pemanasan/sterilisasi, anestetika yang ideal adalah anestetika yang
memiliki sifat antara lain tidak iritatif/merusak jaringan secara permanen, onset
cepat, durasi cukup lama, larut dalam air, stabil dalam larutan, dan dapat disterilkan
tanpa mengalami perubahan. Contohnya: Tetrakin, Benzokain, Kokain, dan
Prokain. Senyawa amida contohnya adalah Dibukain, Lidokain, Mepivakain dan
Prilokain. Senyawa lainnya contohnya fenol, Benzilalkohol, Etilalkohol,
Etilklorida, dan Cryofluoran ( Siahaan, 2000).
2. Anestesi regional biasanya dimanfaatkan untuk kasus bedah yang pasiennya perlu
dalam kondisi sadar untuk meminimalisasi efek samping operasi yang lebih besar,
bila pasien tak sadar. Misalnya, pada persalinan Caesar, operasi usus buntu, operasi
pada lengan dan tungkai. Caranya dengan menginjeksikan obat-obatan bius pada
bagian utama pengantar register rasa nyeri ke otak yaitu saraf utama yang ada di
dalam tulang belakang. Sehingga, obat anestesi mampu menghentikan impuls saraf
di area itu.
3. Anestesi umum
Anestesi umum (general anestesi) atau bius total disebut juga dengan nama
narkose umum (NU). Anestesi umum adalah meniadakan nyeri secara sentral
disertai hilangnya kesadaran yang bersifat reversibel (Miharja, 2009). Anestesi
umum biasanya dimanfaatkan untuk tindakan operasi besar yang memerlukan
ketenangan pasien dan waktu pengerjaan lebih panjang, misalnya pada kasus bedah
jantung, pengangkatan batu empedu, bedah rekonstruksi tulang, dan lain-lain
(Joomla, 2008). Cara kerja anestesi umum selain menghilangkan rasa nyeri,
menghilangkan kesadaran, dan membuat amnesia, juga merelaksasi seluruh otot.
Maka, selama penggunaan anestesi juga diperlukan alat bantu nafas, selain deteksi
jantung untuk meminimalisasi kegagalan organ vital melakukan fungsinya selama
operasi dilakukan (Joomla, 2008).
Menurut sardjana dkk (2000), tahapan dalam anestesi terdiri dari 4 stadium
yaitu stadium pertama berupa analgesia sampai kehilangan kesadaran, stadium 2
sampai respirasi teratur, stadium 3 dan stadium 4 sampai henti napas dan henti
jantung. Dalam memberikan anestesi kita perlu mengetahui stadium2 anestesi
untuk memonitoring sejauh manapasien bisa diberikan intervensi seperti
pembedahan.

Stadium I: stadium induksi (analgesia sampai kesadaran hilang)

Stadium I (Stadium Analgesia/Cisorientasi) dimulai dari saat pemberian zat


anestetik sampai hilangnya kesadaran. Pada stadium ini pasien masih dapat
mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit). Tindakan
pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar, dapat dilakukan
pada stadium ini. Stadium ini berakhir dengan ditandai oleh hilangnya refleks bulu
mata.
Stadium II: stadium eksitasi (sampai respirasi teratur)
Stadium II (Stadium Eksitasi/Delirium) Mulai dari akhir stadium I dan
ditandai dengan pernapasan yang irreguler, pupil melebar dengan reflekss cahaya
(+), pergerakan bola matatidak teratur, lakrimasi (+), tonus otot meninggi dan
diakhiri dengan hilangnya reflex menelan dan kelopak mata.
Stadium III : stadium anestesi
Stadium III yaitu stadium sejak mulai teraturnya lagi pernapasan hingga
hilangnya pernapasan spontan. Stadia ini ditandai oleh hilangnya pernapasan
spontan, hilangnya reflekss kelopak mata dan dapat digerakkannya kepala ke kiri
dan kekanan dengan mudah. Stadium III dibagi menjadi 4 tahap yaitu:

Tahap 1 : Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang, terjadi


gerakan bola mata yang tidak menurut kehendak, pupil midriasis, refleks
cahaya ada, lakrimasi meningkat, refleks faring dan muntah tidak ada, dan
belum tercapai relaksasi otot lurik yang sempurna. (tonus otot mulai
menurun).
Tahap 2 : Pernapasan teratur, spontan, perut-dada, volume tidak menurun,
frekuensi meningkat, bola mata tidak bergerak, terfiksasi di tengah, pupil
midriasis, refleks cahaya mulai menurun, relaksasi otot sedang, dan refleks
laring hilang sehingga dikerjakan intubasi.
Tahap 3 : Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai
paralisis, lakrimasi tidak ada, pupil midriasis dan sentral, refleks laring dan
peritoneum tidak ada, relaksasi otot lurik hampir sempuma (tonus otot
semakin menurun).
Tahap 4 : Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal
paralisis total, pupil sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks sfmgter
ani dan kelenjar air mata tidak ada, relaksasi otot lurik sempuma (tonus otot
sangat menurun).

Stadium IV (henti nafas dan henti jantung)


Respirasi tipe abdominal disertai paralisa muskulus intercostal, tekanan
darah menurun, dilatasi pupil, kegagalan pernapasan (apnea) yang kemudian akan
segera diikuti kegagalan sirkulasi/ henti jantung dan akhirnya pasien meninggal.
Pasien sebaiknya tidak mencapai stadium ini karena itu berarti terjadi kedalaman
anestesi yang berlebihan.
Obat anestesi umum yang ideal menurut Kumala (2008), mempunyai sifatsifat antara lain : pada dosis yang aman mempunyai daya analgesik relaksasi otot
yang cukup, cara pemberian mudah, mula kerja obat yang cepat dan tidak
mempunyai efek samping yang merugikan. Selain itu obat tersebut harus tidak

toksik, mudah dinetralkan, mempunyai batas keamanan yang luas, tidak


dipengaruhi oleh variasi umur dan kondisi pasien. Obat-obatan anestesi yang umum
dipakai pada pembiusan total adalah N2O, halotan, enfluran, isofluran, sevofluran,
dan desfluran. Obat anestesi umum yang ideal haruslah tidak mudah terbakar, tidak
meledak, larut dalam lemak, larut dalam darah, tidak meracuni end-organ (jantung,
hati, ginjal), efek samping minimal, tidak dimetabolisasi oleh tubuh, dan tidak
mengiritasi pasien.
Premedikasi anestesi
Premedikasi anestesi adalah pemberian obat-obatan preanestik yang digunakan
untuk mempersiapkan hewan sebelum pemberian obat anestesia baik anestesi local
maupun anestesi regional maupun anestesi umum. Premedikasi diberikan kurnag lebih
setengah sampai satu jam sebelum pemberian anestesi umum atau anestesi local.(katzung
dkk,2002)
Obat-obatan tersebut diberikan secara intramuscular, subkutan atau bahkan
intravena. Manfaat dari dilakukannya premedikasi adalah sebagai berikut (katzung
dkk,2002) :

Membuat hewan menjadi lebih tenang dan terkendali


Premedikasi akan menyebabkan fase induksi menjadi lebih tenang dan
memberikan rasa nyaman bagi pasien maupun dokter hewannya
Menguangi dosis anestesi
Beberapa kombinasi obat dapat bersift sinergis sehingga diharapkan dapat
menghemat obat anestetik dan sekaligus mengurangi efek toksiknya
Mengurangi efek-efek otonomik yang tidak diinginkan
Hal ini mencakup efek parasimpatetik, bradikardia melalui peningkatan
tonus vagal dan saliva yang berlebihan
Mengurangi efek-efek samping yang tidak diinginkan
Obat-obat premedikasi tertentu dipakai khusus untuk mengantisipasi efekefek samping obat anestetik yang tidak diinginkann seperti nausea, vomit,
dan postoperasi
Mengurangi nyeri postoperasi
Pemberian analgesic seringkali dibutuhkan untuk mengurangi kepekaan
pasien terhadap rasa nyeri. Beberapa analgesic dapat diberikan sebelum
dan sesudah anestesi atau pembedahan
Obat-obatan dan dosis yang digunakan untuk premedikasi dipelih tergantung pada :

Umur, kondisi dan temperamen hewan


Ada tau tidaknya rasa nyeri
Tehnik anestesi yang dipakai
Adanya antisipasi komplikasi
Kondisi-kondisi khusus seperti adanya fetus pada hewan gravid

Sedative, transquilizer dan analgesic lainnya biasanya digunakan untuk


menurunkan respon terhadap adanya stimulasi pada system syaraf pusat dan kemudian
berpengaruh pada obat-obat anestetik, misalnya obat-obat sedative yang menimbulkan
depresi respirasi sehingga bila diberikan sebelum anestetik akan menimbulkan depresi

respirasi dan kegagalan respirasi dapat terjadi sebelum anestesi tercapai.(plumb


dkk,2000)
Obat-obatan yang digunakan dalam anestesi premedikasi adalah (plumb dkk,2000) :

Anticholinergic
Analgesic
Neuroleptanalgesik
Transquilizer
Obat dissosiatif
Barbiturate

III.PENUTUP
a. Kesimpulan

Handling dan restrain menjadi bagian yang sangat penting terutama bagi praktisi
veteriner. Sebagian besar aktifitas praktisi hewan kesayangan atau ternak, mulai
memeriksa hingga melakukan terapi membutuhkan restrain.
Restrain adalah alat atau tindakan pelindung untuk membatasi gerakan
aktivitas fisik pasien atau bagian tubuh pasien.
Catheter adalah alat berupa pipa kosong yang terbuat dari logam, gelas, karet,
plastic dengan cara penggunaanya yaitu dimasukkan ke dalam rongga tubuh melalui
saluran atau kanal.
Anestesi atau yang di kenal dengan istilah pembiusan adalah tindakan untuk
menghilangkan rasa sakit pada proses pembedahan dan berbagai prosedur lainnya yang
menimbulkan rasa sakit pada tubuh.
Anestesi lokal adalah tindakan pemberian obat yang mampu menghambat konduksi
saraf (terutama nyeri) secara reversibel pada bagian tubuh yang spesifik
Anestesi umum adalah meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya
kesadaran yang bersifat reversibel.

DAFTAR PUSTAKA
Archibald, 1966 . Pemantauan pasien yang dibius. London: churchchill livingstone
Bachsinar, 1992. Bedah minor. Jakarta: hipokrates
Biworo, 2008. Penuntun praktis anestesi. Jakarta: EGC

Dachlan. 1989. Manajemen keperawatan. aplikasi dalam praktek keperawatan profesional.


Jakarta: Salemba Medika
Joomla, 2008.Petunjuk praktis anetesiologi. Jakarta: FKUI
Katzung, Bertram G. 2002. Farmakologi Dasar Dan Klinik (Basic Clinical Pharmacology). Alih
Bahasa: Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta: Salemba
Medika
kozier,2004. Anestesi umum. Medan: pustaka widyasarana.
Kumala. 1994. Anestesi lokal. seri farmakologi. Medan: Pustaka Widyasarana
Latief, dkk, 2001. Anestesi lokal dan regional. Medan: USU Press
Miharja, 2009. Anestesi lokal. seri farmakologi. Medan: Pustaka Widyasarana
Plumb, Donald C. 2005. Veterinary DrugHandbook : 5th edition. Blackwell Publishing : Iowa
Sardjana, I Komang Wiarsa Dan Kusumawati,Diah, 2004, Anestesi Veteriner Jilid 1, Gadjah Mada
University Press: Yogyakarta
Staf Pengajar Bagian Anestesiologi Dan Terapi Intensif. 1989. Anestesiologi. Jakarta : CV. Info
Medika
Scales, K. 2005. Vascular access:a guide to peripheral venous cannulation
Siahaan. 2000. Anestesi lokal dan regional. Medan: USU Press
Suartha, Nyoman I, 2010, Terapi Cairan Pada Anjing dan Kucing, Buletin Veteriner Udayana Vol.
2 No.2. :69-83 ISSN : 2085-2495 2010
videbeck,2008. Anestesiologi. anesthetics for medical students. London: churchchill
livingstone

Anda mungkin juga menyukai