Anda di halaman 1dari 3

PSIKOLOGI FAAL

Indera Pembau (Indera Olfaktus)


Nama Anggota :
1. Tofan Arvile

802010050

2. Erlina Kristi N.

802010087

3. Devi Wulan Sari

802010039

4. Chrysta T latupeirissa

802009039

5. Novely Alfons

802009801

6. Ketrine Surlialy

802009120

7. Maria Oktavianti

802010012

8. Endah wijayanti

802009008

9. Yeni Permatasari

802009042

10.

Arthur Huwae

802010129

11.

Debora Chen Etni Ginting

802010027

12.

Budi arianto

802006129

13.

Prisilia Tuparia

802010021

14.

Ria Sugiharti

802006021

15.

Merlin A. Hilli

802009110

16.

Christin Ratu

802009098

17.

Yuned Rambu

802009124

18.

Olisiani nduarama

802000062

Fisiologi Indera Pembau


Rangsang bau diterima oleh sel-sel olfaktoria yang terdapat pada rongga
hidung. Sel olfaktoria ini merupakan sel saraf bipolar dengan dendrite yang amat
pendek berbentuk pendek dan berbentuk pendek dan ujung-ujungnya mengandung
rambut halus serta tidak memiliki mielin pada axonnya. Sel-sel olfaktoria hanya
terangsang saat udara mengalir ke bagian superior hidung, yaitu saat inspirasi .
Impuls akan dibawa oleh serabut-serabut saraf N.I (Nervus Olfaktorius) yang
menghubungkan mukosa rongga hidung dengan bulbus olfaktorius dan selanjutnya
akan dibawa ke korteks untuk diinterpretasikan. Manusia dapat membedakan 20004000 macam bau.
Bahan-bahan yang dapat menimbulkan rangsang bau pada umumnya bersifat :

Mudah menguap (sehingga mudah dihirup melalui lubang hidung)


Sedikit larut dalam air
Larut dalam lemak

Efek psikologi dari daya pembauan antara lain :

Timbul sekresi air liur dan getah lambung sehingga timbul rasa lapar
Memantau kebersihan
Informasi sosial melalui penciuman
Mempengaruhi terhadap tingkah laku seksual
Mempengaruhi keadaan emosi (kegembiraan, kelesuan, dll)

Pemeriksaan Indra pembau :


1. Pemeriksaan tahap awal dilakukan
dengan memeriksa hidung dan mukosa
rongga hidung apakah dalam keadaan
baik atau tidak, jika terdapat kelainan
dapat
mengurangi
ketajaman
penciuman.
2. Pemeriksaan penciuman dengan zat-zat
non iritatif secara berturut-turut misalnya kopi, teh, panili, tembakau dan jeruk
bergantian pada sisi kiri dan kanan. Sisi yang tidak diperiksa ditutup dengan jari.
Jika dapat diidentifikasikan secara benar dapat dikatakan bahwa daya
penciuman orang tersebut baik.

Zat yang dipilih untuk pemeriksaan adalah zat yang non iritatif karena zat-zat
yang bersifat iritatif seperti amoniak, mentol, alkohol, formalin, dan kamfer akan
merangsang N.V (syaraf trigeminus) sehingga periksaan tidak akurat karena akan
menimbulkan efek bersin.
Gangguan Daya Pembau
1. Anosmia

: Hilangnya daya pembauan

2. Hiposmia

: Berkurangnya daya pembauan

3. Hiperosmia : Terlalu pekanya daya pembauan


4. Parosmia

: Bau yang tercium tidak seperti stimulusnya

5. Kakosmia

: Parosmia yang cenderung ke bau yang tidak enak

6. Halusinasi Olfaktori: Terciumnya bau-bauan tertentu tanpa ada rangsang bau.


Anosmia dapat timbul pada seseorang yang mengalami trauma kepala atau
adanya kerusakan pada reseptor olfaktori akibat rangsang yang berlebihan karena
penggunaan narkoba.
Hiposmia biasa timbul pada orang berusia lanjut dan merupakan gejala dari
radang pada rongga hidung (Rhinitis).
Hiperosmia, Parosmia, Kakosmia biasanya merupakan menivestasi konversi
histeri. Halusinasi olfaktori merupakan manivestasi dari psikosis dan sering
ditemukan dalam kasus epilepsi.
Cara Pemeriksaan:
Periksa lubang hidung, apakah ada sumbatan atau kelainan setempat,
misalnya ingus atau polip. Hal ini dapat mengurangi ketajaman penciuman. Zat
pengetes yang digunakan sebaiknya zat yang dikenal sehari-hari, misalnya kopi,
teh, tembakau, jeruk.
Jangan menggunakan zat yang dapat merangsang mukosa hidung (nervus V)
seperti mentol, amoniak, alkohol, dan cuka. Zat pengetes didekatkan ke hidung
pasien, dan pasien disuruh untuk menciumnya. Tiap lubang hidung diperiksa satu
persatu dengan jalan menutup satu hidung yang lainnya dengan tangan.