Anda di halaman 1dari 22

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)

KELOMPOK 3

BAB I
PERCOBAAN ALIRAN MELALUI AMBANG LEBAR
A.

Maksud dan Tujuan Percobaan


1. Mengamati dan menganalisis aliran pada saluran terbuka dengan
model ambang lebar.
2. Menentukan koefisien debit (Cd)
3. Menentukan batas moduler ambang ((Y3P)/Hw) dan Gambar
Hubungan Q vs ((Y3 P)/Hw)
4. Mengamati Aliran Fluida diatas Ambang Lebar
5. Menentukan Hubungan Cd vs hw/L dan Cd vs Hu/L dalam satu gambar

B.

Alat dan Bahan


a.

Satu set model saluran terbuka (Open Channel Apparatus)

b.

Alat ukur kedalaman (Point Gauge)

c.

Model Pintu sorong

d.

Alat ukur panjang

C. Prosedur Percobaan
1.

Memasang model ambang lebar dan pintu sorong pada unit saluran
terbuka (Open Channel Apparatus).

2.

Mengalirkan air ke dalam unit saluran terbuka sehingga akan


terbentuk profil aliran. H diatur pada manometer. Berdasarkan
pengamatan profil aliran yang dilakukan, akan diperoleh harga-harga
Y1, Y3, dan hw dengan pengukuran menggunakan alat Point Gauge.

3.

Kemudian pintu sorong diturunkan secara perlahan-lahan sehingga


tinggi Y3 didapatkan semaksimal mungkin tanpa mempengaruhi
ketinggian pada Y1 dan hw. Ukur kembali harga-harga Y1, Y3, dan hw.

4.

Ulangi prosedur nomor 2 dan 3 sebanyak dua kali namun dengan


harga selisih tinggi air raksa pada manometer (H) yang berbeda.

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

5.

Profil aliran air yang terbentuk pada setiap keadaan disketsakan,


lengkap dengan data-data yang diperoleh berdasarkan pengamatan
secara langsung.

D. Hasil Pengamatan
Dimensi ambang lebar:
Tinggi ambang (P)

101,1 mm = 10,1 cm

Panjang ambang (L) =

349 mm = 34,9 cm

Lebar ambang (B)

75,7 mm = 7,57 cm

Tabel I.1. Data hasil percobaan ambang lebar di laboratorium


H
No

Y1

Y3

hw

(mm)
147.25
150
154
154
154.25
155
152.5
152
153
150
153
153.5
151.2
151.5
152

(mm)
61.25
61.5
65
59.25
59.25
78
58.5
58.5
80.5
56.5
60.5
88.5
56
63.75
77.2

(mm)
34
34
34.5
33.5
33.5
34
33
33
33.6
33.5
33.5
34
34.25
34.25
34.5

300

290

280

4
5

E.

(mmHg

270

260

Q
(mmHg)
4345.47
4345.47
4345.47
4321.59
4321.59
4321.59
4246.43
4246.43
4246.43
4169.91
4169.91
4169.91
4091.96
4091.96
4091.96

Ket.

43.4
37
32.5
32
30
30.8
32
32
34.2

Perhitungan
E.1. Dasar Teori
Bangunan ukur ambang lebar dianjurkan karena bangunan itu kokoh
dan mudah dibuat. Karena bisa mempunyai berbagai bentuk mercu,
bangunan ini mudah disesuaikan dengan tipe saluran apa saja.
FAKULTAS TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

Hubungan tunggal antara muka air hulu dan debit mempermudah


pembacaan debit secara langsung dari papan duga, tanpa memerlukan tabel
debit.
Alat ukur ambang lebar adalah bangunan aliran atas (over flow), untuk
tinggi energi hulu lebih kecil dari panjang mercu. Karena pola aliran diatas
alat ukur ambang lebar dapat ditangani dengan teori hidrolika yang sudah
ada sekarang, maka bangunan ini bisa mempunyai bentuk yang berbedabeda, sementara debitnya tetap serupa. Alat ukur ambang lebar memiliki
kelebihan-kelebihan, antara lain:

Memiliki bentuk hidrolis yang luwes dan sederhana.

Konstruksinya kuat, sederhana dan tidak mahal.

Benda-benda hanyut dapat dilewatkan dengan mudah.


Selain itu, ada pula kelemahan yang dimiliki alat ukur ambang lebar,

yaitu bangunan ini hanya dapat dipakai sebagai bangunan pengukur saja.
Ambang lebar yang sering digunakan di Indonesia adalah ambang
lebar datar hidung bundar (round-nose horizontal broad-crested weir).
Bentuk ambang bagian depan ujung atasnya dibundarkan dengan radius
tertentu. Bentuk bagian hilirnya dapat berbentuk vertikal dan membentuk
slope. Bangunan ukur ini dapat dipakai pada saluran dimana headloss kecil
walaupun memerlukan kondisi aliran bebas (free-flow).
(Bos, M.G. ed., 1978.)
1.

Menentukan Debit Aliran Aktual (Qact)


Persamaan Bernoulli
E1 = E2 (Hukum Kekekalan Energi)
2

P1 V1
P2 V 2 2
Z1

Z2
air 2g air
2g

Karena saluran horizontal, maka Z1 = Z2


2

P1 P2 V2 V1

air
2g

... (1)

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

Hukum Kontinuitas
A1.V1 = A2.V2

V1

A 2 .V2
A1

0,25.3,14.d .V
0,25.3,14.d
2

d .V
V1 2 4 2
d1
2

...(2)

Substitusikan persamaan (2) ke dalam persamaan (1) :


4

P1 P2

air

V2

d 2 .V2
d1

2g

2
V2 1 d 2
4
.d1
P1 P2

air
2g

...(3)

Dalam kondisi keseimbangan didapat :


P1 + air (H + y) = P2 + air.y + Hg.H
P1 + air.H + air.y = P2 + air.y + Hg.H
P1 + air.H = P2 + Hg.H
Hg
P1
P
H 2
H
air
air air
Hg H
P1
P
2
- H
air air
air
( Hg - air ) H
P1 P2

air
air

P1 P2
H( Hg air )
air

; dimana Hg = 13,6 ; air = 1

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

P1 - P2
12,6 H
air

...(4)

Persamaan (4) disubstitusikan ke dalam persamaan (3) :


4

2
V2 1 d 2 4
d1

12,6H
2g
4

2
12,6H.2g V2 1 d 2
4
d1

25,2H .g

V2

d
1 2

Q =

d 1
4

A2 . V2
0,25. 3,14 . d 2 . (25,2 . H . g) 1 2
2

1 d

4
2

/d 1

...(5)

Dari data diketahui :


d1 = 3,14 cm
d2 = 2,00 cm
g

= 981 cm/det2

maka persamaan (5) menjadi :


Qact = 253,733

Dimana : 253,733 = didapat dari hasil kalibrasi alat

2.

Qact

Debit sebenarnya yang melewati ambang (cm3/det)

Selisih tinggi air raksa pada manometer (cmHg)

Menentukan Debit Teoritis (QT)


Jika aliran melewati puncak ambang lebar (seperti yang terlihat pada
Gambar I.2.), maka debit aliran persatuan lebar adalah:

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

QT =

2
3

Jika hw =

Hw
2
3

2
g Hw '
3

...(1)

Hw = h kritis

Hw adalah tingi peluapan di sebelah hulu dengan mengabaikan tinggi


kecepatan. Dalam praktek terjadi kehilangan energi sepanjang puncak
ambang lebar, maka rumus di atas menjadi:
Qnyata

2
= 3 Cd Hw

2
g Hw '
3

...(2)

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

Hw

Y1

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

Gambar 1.1. Sketsa Percobaan Ambang Lebar


Untuk menghitung koefisien Cd dan Cv, rumus diatas dapat
disederhanakan:
QT

Nap

= q.b

hw
3

Dimana = Qt = debit teoritis (cm /det)


CdT

Qt
3/ 2
= 1,074.b.H

dengan: H = Total head di hulu bendung (Y1)


Dalam pengamatan Laboratorium:
QT

= 1,704. CdT. Cv. b. Hw3/2

CvT

Qt
3/ 2
= 1,074.Cdt.b.Hw'

dengan:
Hw

= Tinggi peluapan di atas puncak bendung


= Y1 p

Hw = Hu
E.2. Contoh Perhitungan
Contoh perhitungan diambil dari percobaan untuk data pertama (data
no.1) ambang lebar (pintu sorong terbuka), dimana :
Y1

H = 147,25 mm = 14,7 cm

75,7 mm

= 7,57 cm (lebar ambang)

101,1 mm

= 10,1 cm (tinggi ambang)

349 mm

= 34,9 cm (panjang ambang)

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

300 mmHg

= 30 cmHg

981 cm/det2

Y3 = 62,5 mm = 6,25 cm

Hw =

Hu = 14,7 10,1 = 4,6 cm

hw

3,4 cm

4,6

3,4

14,7
10,1

6,25
34,9
Gambar 1.2. Profil aliran dengan

Data dari percobaan I


a. Menghitung Debit Aktual Aliran persatuan lebar (Qact)
Qact

= 253,733

= 253,773

30

= 1389,75 cm3/det
b. Menghitung Koefisien Debit Aktual (Cdact)
Cdact

Cdact

Cdact

Qact
1,074.b.H 3 / 2
1389,75
1,074 7,57 14,73/ 2
3,035

c. Menghitung Koefisien Kecepatan Datang Aktual (Cvact)

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

Cvact

Cvact

Cvact

Qact
1,074 Cdact b Hw'3 / 2
1389,75
1,074 3,032 7,57 4,63 /2
5,661

d. Menghitung (Y3-p), (Y3-p)/Hu dan Hu/L


Y3 p

6,125 10,1 = 3,975 cm

(Y 3 p)
Hu

hw
L

3,4
34,8

0,097

Hu
L

4,6
34,9

0,132

3,85
4,6

0,836

e. Menghitung Debit Teoritis (QT)

QT =

2
2
H w'
gH w'
3
3

QT =

2
2
4,6 981 4,6
3
3

QT = 169.576 cm3/det
f. Menghitung Koefisien Debit (CdT)
CdT

Qt
3/ 2
= 1,074.b.H

CdT =

169.576
1,074 7,57 14,73/ 2

CdT = 0.37
g. Menghitung CvT
Qt
3/ 2
CvT = 1,074.Cdt.b.Hw'
FAKULTAS TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

CvT =

169.576
3 /2
1,074 0.37 7,57 4,6

CvT = 5,713
Hasil perhitungan selanjutnya dimasukkan dalam tabel I.2.

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

E.3. Tabel Hasil Perhitungan

(cm)

(cm)

(cm)

7.57

10.1

34.9

7.57

10.1

34.9

7.57

10.1

7.57

H
(cmHg)

Y1

Y3

hw

Hw' =
Hu

Qact

(mm)

(mm)

(mm)

(cm)

(cm /dt)

147.25

61.25

34

4.625

1389.97

150

61.5

34

4.9

1389.97

34.9

154

65

34.5

5.3

1389.97

10.1

34.9

154

59.25

33.5

5.3

996.528

7.57

10.1

34.9

154.25

59.25

33.5

5.325

996.685

7.57

10.1

34.9

155

78

34

5.4

996.685

7.57

10.1

34.9

152.5

58.5

33

5.15

1342.84

7.57

10.1

34.9

152

58.5

33

5.1

1342.84

7.57

10.1

34.9

153

80.5

33.6

5.2

1342.84

7.57
7.57

10.1
10.1

34.9
34.9

150
153

56.5
60.5

33.5
33.5

4.9
5.2

1318.6
43
1318.6
43

300

290

280

270

Cdact

Cvact

QT

CdT

CvT

(cm /dt)
3.0358
6
2.9527
5
2.8384
6
2.0350
1
2.0303
8
2.0156
7
2.7827
7
2.7965
1
2.7691
4
2.8012
3
2.7192

5.6618
3
5.3380
7
4.9363
9
4.9363
9
4.9136
4.8467
3
5.0785
5.1280
5
5.0300
7
5.3380
7
5.0300

169.57
63
184.92
33
208.02
3
208.02
3
209.49
66
213.93
82
199.25
46
196.35
99
202.16
34
184.92
33
202.16
34

Y3 - P

(Y3P) / Hu

hw/L

(cm)
0.369

5.713

51.15

-3.975

0.392

5.356

51.4

-3.95

0.423

4.953

54.9

-3.6

0.423

4.953

49.15

-4.175

0.425

4.930

49.15

-4.175

0.431

4.863

67.9

-2.3

0.412

5.096

48.4

-4.25

0.408

5.145

48.4

-4.25

0.415

5.047

70.4

-2.05

0.392
0.415

5.356
5.047

46.4
50.4

-4.45
-4.05

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

0.097
4
0.097
4
0.098
9
0.096
0
0.096
0
0.097
4
0.094
6
0.094
6
0.096
3
0.096
0
0.096
0

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

7.57
7.57

10.1
10.1

34.9

153.5

34.9

7.57

10.1

34.9

7.57

10.1

34.9

151.2
260

88.5
56

34
34.25

5.25
5.02

151.5

63.75

34.25

5.05

152

77.2

34.5

5.1

1318.6
43
1293.9
93
1293.9
93
1293.9
93

4
2.7059
7
2.7162
2.7081
4
2.6947
9

7
4.9827
1
5.2097
1
5.1787
4
5.1280
5

205.08
63
191.75
79
193.47
94
196.35
99

0.419
0.401

4.999
5.227

78.4
45.9

-1.25
-4.5

0.404

5.196

53.65

-3.725

0.408

5.145

67.1

-2.38

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

0.097
4
0.098
1
0.098
1
0.098
9

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

F. Analisa Hasil Percobaan


-2.5
-2
-1.5

(Y3-p)/Hu

R = 0.14

-1
-0.5
0
2100 2150 2200 2250 2300 2350 2400 2450 2500 2550

Qact (cm3/det)
Gambar 1.3. Grafik Hubungan Qact vs (Y3-p)/Hu
Analisa Grafik:
Berdasarkan grafik hubungan Qact vs (Y3-p)/Hu dapat dikatakan
bahwa terdapat data yang salah. Hal ini terbukti dari nilai korelasi yang
begitu kecil, yaitu sebesar R2 = 0,104. Garis linier korelasi tersebut tidak
mewakili data-data yang telah di-plot pada grafik. Kesalahan pengambilan
data dapat terjadi karena adanya kesalahan pada saat pengukuran
(kekurangtelitian

praktikan)

atau

terdapat

kesalahan

pada

saat

pengkalibrasian alat. Grafik Qact vs (Y3-p)/Hu merupakan grafik linier


turun, artinya semakin besar harga Qact, semakin kecil harga (Y3-p)/Hu.

5.4

R = 0.78

5.3
5.2

Cd 5.1
5
4.9
0.070

0.080

0.090

hw/L

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

Gambar 1.4. Grafik Hubungan Cdact vs hw/L


Analisa grafik:
Berdasarkan grafik hubungan Cdact vs hw/L dapat dikatakan bahwa
data yang di-plot sudah benar. Hal ini terbukti dari nilai korelasi yang
besar, yaitu sebesar R2 = 0,778. Garis linier korelasi tersebut sudah
mewakili data-data yang telah di-plot pada grafik. Grafik Cdact vs (Y3-p)/Hu
merupakan grafik linier naik yang berarti bahwa semakin besar harga Cd act,
semakin besar pula harga hw/L.

5.4

R = 0.89

5.3
5.2

Cdact 5.1
5
4.9
0.11

0.12

0.13

0.14

0.15

Hu/L
Gambar 1.5. Grafik Hubungan Cdact vs Hu/L
Analisa Grafik:
Berdasarkan grafik hubungan Cdact vs Hu/L terlihat bahwa data
yang di-plot sudah betul. Hal ini terbukti dari nilai korelasi (R 2) = 0,893
(kuat, 0,599). Nilai tersebut mengartikan bahwa hubungan diantara
variabel adalah kuat yang mana dapat diwakilkan dalam satu garis lurus.
Grafik Cdact vs Hu/L merupakan grafik linier naik yang berarti bahwa
semakin besar harga Cdact, semakin besar pula harga Hu/L.

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

G. Kesimpulan
1.

Besar kecilnya debit aliran yang melalui saluran dengan menggunakan


ambang lebar sebagai alat ukur dipengaruhi oleh selisih tinggi air raksa pada
manometer. Semakin besar selisih tinggi air raksa, maka semakin besar pula
debit aliran yang dihasilkan. Debit terkecil adalah 2123,94 cm3/det pada H =
15,5 cmHg, sementara debit terbesar adalah 2501,48 cm3/det pada H = 21,5
cmHg (lihat Tabel I.2.). Dari hasil percobaan, nilai koefisien debit aktual (Cd act)
yang dihasilkan adalah antara 4,91 5,39.

2.

Dari hasil percobaan, batas moduler ambang ((Y3-P)/Hu) yang dihasilkan


adalah antara -2.18 sampai dengan -1,08. Hubungan yang terlihat adalah
berbanding terbalik dimana semakin besar nilai debit aktual (Q act) maka semakin
kecil nilai batas moduler ambang ((Y3-P)/Hu). Hubungan Qact vs ((Y3 P)/Hu)
dapat dilihat pada grafik hubungan Q vs ((Y3 P)/Hu)(lihat Gambar I.3.).

3.

Aliran fluida dari percobaan ini dapat dilihat pada lampiran (bagian sketsa
aliran fluida).

4.

Berdasarkan grafik hubungan antara Cdact vs hw/L terlihat bahwa semakin


besar harga Cdact, semakin besar pula harga hw/L (lihat Gambar I.4.).

5.

Berdasarkan grafik hubungan antara Cdact vs Hu/L terlihat bahwa semakin


besar harga Cdact, semakin besar pula harga Hu/L(lihat Gambar I.5.).

6.

Penggunaan data Qact sebagai perbandingan karena data Qact (harga debit
yang diperoleh langsung berdasarkan pengamatan) lebih akurat dibandingkan
Qteoritis.

7.

Harga Qact lebih besar daripada harga Qteoritis karena terdapat perbedaan
rumus diantara keduanya dan juga perbedaan input data yang ditinjau. Jika Q act

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

berdasarkan selisih tinggi air raksa (H) sedangkan QT berdasarkan pada tinggi
peluapan di atas muka bendung (Hw).
8.

Perbedaan besar antara Qact dan QT secara otomatis mempengaruhi besar


koefisien debit (Cd) masing-masing. Secara rumus sama, namun karena nilai Q act
lebih besar dari nilai QT, maka harga Cdact lebih besar pula dibandingkan dengan
harga CdT.

9.

Meskipun Qact dan QT serta Cdact dan CdT berbeda dalam besarnya harga,
namun besar dari koefisien kecepatan datang (Cv) adalah sama. Berdasarkan
perhitungan diperoleh bahwa besar Cvact = besar CvT. Hal ini dikarenakan
perbandingan antara faktor pembilang dan faktor penyebut pada Cv act memiliki
rasio yang sama dengan perbandingan antara faktor pembilang dan faktor
penyebut pada CvT

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

Daftar Pustaka
1. Anonim, ___________. Irigasi dan Bangunan Air I.
2. Bos, M.G. ed, 1978. Discharge Measurement Structure. ILRI, Wageningen,
The Netherlands, pp 121-125;

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

H. Lampiran
1. Gambar Profil Aliran Fluida
a. Saat H = 215 mmHg (pintu sorong 5 cm dari dasar saluran)

hw = 3,05
Y1 = 14,91

Y3 = 1,52
190

200

300

450

550

700

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

(ukuran dalam cm)

b.

Saat H = 215 mmHg (pintu sorong 1,5 cm dari dasar saluran)

hw = 3,08
Y1 = 15

Y3 = 4,85
190

200

450

300

550

700

(ukuran dalam cm)

c.

Saat H = 185 mmHg (pintu sorong 5 cm dari dasar saluran)

hw = 2,64
Y1 = 14,5

Y3 = 1,35
190

200

300

450

550

700

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

(ukuran dalam cm)


d.

Saat H = 185 mmHg (pintu sorong 1,5 cm dari dasar saluran)

hw = 2,7
Y1 = 14,53

Y3 = 3,82

190

200

450

300

550

700

(ukuran dalam cm)

e.

Saat H = 155 mmHg (pintu sorong 5 cm dari dasar saluran)

hw = 2,54
Y1 = 14,2

Y3 = 1,18

190

200

300

450

550

700

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

(ukuran dalam cm)

f.

Saat H = 155 mmHg (pintu sorong 1,5 cm dari dasar saluran)

hw = 2,56
Y1 = 14,23

Y3 = 4,38

190

200

300

450

550

700

(ukuran dalam cm)

2. Sketsa Alat

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU

PRAKTIKUM HIDROLIKA (HSKB 412)


KELOMPOK 3

FAKULTAS TEKNIK SIPIL


UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU