Anda di halaman 1dari 3

Hati yang Kembali Menyongsong Masa

Aku beringsut dari kegelapan hatiku


mengumpulkan kembali ingatan-ingatan masa lalu
kembali melangkah walaupun pahit dan perih
perih yang selama ini bersembunyi di kehilapan jiwa
terseret langkahku menyongsong masa
mencoba berpijak pada jiwa yang telah mati
tertidur dalam buaian semu
berarak menghampiri mentari yang tak pernah mati
Semoga hati ini kian bercahaya
setelah lama mati dan hilang arah
aku kini yang bertahan di kepingan terakhir
asa hidup yang kembali bermula
harapan yang kembali terhimpun
menapak jejak di sela genangan air mata
menghapus semua luka yang mengibas asa

Aksara Hatiku

Satu hari berganti lagi


lembaran baru kembali terisi
oleh kisah yang masih belum bertepi
dan pena takdir masih saja terus menari
seakan tak ingin berhenti
goreskan cerita suka dan duka
akhirnya pada koma aku terjeda
akankah sampai pada titiknya?
ataukah terus menggantung pada sebuah tanya?
Adakah aksara yang terangkai menumbuhkan rasa?
membangkitkan jiwa
untuk lebih dekat menautkan jemari kita
menyapa panorama senja
dan mencipta makna
pada satu muara "cinta karena-Nya"

Tertatih dalam Pusaran Kata

Ada yang diam-diam membangun sarang


dari remah-remah mimpi
ketika lelah menyergap lamunan
Sarang angin termangu menatap wajah-wajah lelah
ketika gelegak dingin membungkam pusaran laju
segores luka terasa di ngilu punggungnya.
Pada deretan kata yang tak sempat diterjemahkan
ia tertatih menyusuri sepercik rindu yang mungkin bisa direguknya di sela perjalanan.
meski gelap membayangi bahasa yang terangkai
Ibu, anakmu tergagap dalam pencarian makna
terlunta dalam bising riuh pusaran kata
tiada kepastian mengalir hingga ujung bulan
Maka kudaraskan puisi ini jauh di garis dinding
yang patah menjelma cakrawala sebuah tiada,
sebuah jengah yang terus merambati ruang tersisa. Seberkas cahaya yang ku genggam,
perlahan ku eja manis senyum dunia