Anda di halaman 1dari 10

DIFTERI

GEJALA DAN TANDA

Terdapat peradangan pada tenggorokan


Demam tidak tinggi
Pembengkakan leher (bull neck)
Terjadi pembentukan memebran keputihan pada tenggorokan dan tonsil yang mudah
berdarah bila dilepas

KOMPLIKASI

Komplikasi dapat terjadi karena efek toksin darikuman yang menyerang saraf

menyebabkan kelumpuhan dan menyerang jantung menyebabkan miokarditis


Obtruksi saluran nafas atas/ paralise pallatum kegagalan pernafasan.
Akibat miokarditis gagal jantung syok kardiogenik.
Ostruksi saluran nafas dipilah menjadi: Derajat I, II, III dan IV.
EPIDEMOLOGI
Tersebar luas di dunia
Setelah penggunaan toksoid difteria angka kejadiannya menurun
PATOGENESIS DAN PATOFISIOLOGI
Kuman C.diphtheriae masuk mll mukosa/ kulit
Melekat dan berkembang biak pd permukaan mukosa saluran nafas bagian atas
memproduksi toksin merembes ke sekeliling menyebar ke seluruh tubuh mll
pemb.limfe & pemb.darah
Toksin difteria mula-mula menempel pada membran sel hambatan pembentukan
protein dalam sel sel akan mati terjadi nekrosis didaerah kolonisasi kuman respons:
inflamasi lokal + jaringan nekrotik
infeksi semakin

bercak eksudat produksi toksin >> daerah

lebar fibrin dan suatu membran berwarna kelabu kehitaman yang

melekat erat, bila dipaksa melepaskannya akan tjd perdarahan

Infeksi pada mukosa/ kulit pseudomembran.


Pada saluran nafas obstruksi saluran nafas.
Eksotoksin:
- pada syaraf (3-7 mg) paralise otot pernafasan dan

pallatum

- pada jantung miokarditis (10-14 hari) gangguan irama jantung, gagal jantung
dan syok kardiogenik,
-pada organ lain nekrosis toksik, degenerasi hialin.
MANIFESTASI KLINIS
Tanpa gejala sampai keadaan/ penyakit yang hipertoksik serta fatal tergantung:
- imunitas pejamu thd toksin difteria
- virulensi & toksigenitas C.diphtheriae
- lokasi penyakit secara anatomis
Masa tunas difteria: 2- 6 hari
Berdasarkan lokasi:
- Difteria hidung
- Difteria tonsilo faring
- Difteria laring
- Difteria kulit, vulvovaginal, konjungtiva dan telinga
Berdasarkan kepastian diagnosis:
- observasi difteri dan

PROGNOSIS
Angka kematian kasus secara keseluruhan 3-5%.
Waktu pemberian ADS mempengaruhi mortalitas: hari I: 0,3%; hari II: 4%; hari III 12%;
>hari III dst: 25%.
Kematian umumnya disebabkan oleh komplikasi.
DIAGNOSIS
Dasar diagnosis:
Observasi Difteri: Pseudomembran
Difteri: + mikrobiologi C. diphtheriae (+)
(apusan langsung dengan pewarnaan
methylen blue/Neisser/toluidine, atau
biakan (+)).
Kriteria obstruksi Gejala obstruksi saluran nafas bagian atas sesuai derajat obstruksi
sebagai berikut:
- Derajat I: Anak tenang, Dispneu ringan, Stridor
inspiratoar, Retraksi suprasternal
- Derajat II: Anak gelisah, Dispneu hebat, Stridor
makin hebat, Retraksi suprasternal dan
epigastrium, Sianosis belum tampak
Derajat III: Anak sangat gelisah, Dispneu makin
hebat, Stridor makin hebat, Retraksi
suprasternal dan epigastrium serta

interkostal, Sianosis
- Derajat IV: Letargi, Kesadaran menurun,
Pernafasan melemah, Sianosis
Langkah diagnosis:
Pemeriksaan klinis: demam, sakit menelan, suara serak, bull neck
Pseudomembran: membran putih kelabu, sukar diangkat, kalau diangkat berdarah.
Tanda-tanda obstruksi saluran nafas dan tanda miokarditis. Laringoskopi bila dicurigai
laringitis.
Penunjang: EKG, Pemeriksaan apusan tenggorokan dengan pewarnaan khusus dan
biakan C.diphtheriae.

TATALAKSANA
Perawatan
Isolasi penderita di ruangan khusus.
Tirah baring 2-4 minggu. Pada penderita dengan komplikasi miokarditis sampai
miokarditis hilang.
Diet makanan lunak yang mudah dicerna, tinggi kalori dan protein. Bila perlu dapat
diberikan infus dengan cairan yang sesuai dan pemberian oksigen.
Medikamentosa
Hari I: ADS 40.000 IU diberikan perdrip dengan pengenceran 20 kali dengan NaCl 0,9%.
Sebelumnya dilakukan skin test bila (+) diberikan secara Besredka
Hari II: ADS 40.000 IU diberikan secara intra muskular

P.P 50.000 IU/kgBB/hari selama 10 hari


Cortison 10-15 mg/kgBB selama 3 hari diteruskan dengan prednison 2 mg/kgBB/hari
per oral selama 3 minggu dosis penuh kemudian tapering off selama 1 minggu
Bila disertai miokarditis prednison: 4 minggu dosis penuh kemudian tapering off
selama 2-4 minggu bila disertai miokarditis
Sedatif: bila anak gelisah diberikan largactil 1-2 mg/kgBB/hari atau luminal 4-5
mg/kgBB/hari
Laksansia: diberikan bila kesulitan defekasi.
Operatif
Tindakan operatif dilakukan dibagian THT bila terdapat obstruksi jalan nafas derajat II
atau lebih
Pengamatan
Pengamatan terhadap komplikasi miokarditis:
- Pemeriksaan EKG dilakukan pada waktu penderita dirawat selanjutnya tergantun
keadaan atau seminggu sekali.
Bila ada tanda-tanda heart blok, diberikan sulfas
atropin 0,01 mg/kgBB/ hari selama 10 hari.
- Bila pada pemeriksaan usap tenggorok
Corinebacterium (-) maka pemeriksaan diulangi
lagi besoknya 2 hari berturut-turut.
PENCEGAHAN
Imunisasi dilakukan 4-6 minggu setelah pengobatan kortikosteroid di stop.

PERTUSIS
ETIOLOGI

Disebabkan oleh bakteri Bordetella pertusiss termasuk kelompok kokobasilus gram


negative , tidak bergerak dan tidak berspora. ukuran panjang:0,5-1 m & diameter 0,2-

0,3m
bila dibiakkan, dg media pembenihan yg disebut: bordet gengou (potato-blood-glycerol
agar) + penisilin G 0,5 g/ml unt menghambat pertumbuhan organisme lain

EPIDEMOLOGI

Dapat ditularkan melalui udara secara kontak langsung dari droplet penderita selama
batuk

Penyakit endemik

Dapat menyerang semua golongan umur terbanyak: < 1 tahun

Makin muda usia makin berbahaya penyakitnya

Kematian dan jumlah kasus yang dirawat tertinggi usia < 6 bulan

PATOGENESIS

B.pertussis mll udara melekat pd silia epitel sal. Pernapasan


Ada 4 tingkatan mekanisme patogenesis infeksi B.pertussis: perlekatan, perlawanan thd
mekanisme pertahanan pejamu, kerusakan lokal & kmd timbul penyakit sistemik

Setelah perlekatan bermultiplikasi & menyebar keseluruh permukaan epitel sal.


Pernapasan (proses ini tidak invasif shg tidak tjd bakteremia)

Selama pertumbuhan B.pertussis pertussis toxin

Toksin peradangan ringan dg hiperplasia jaringan limfoid peri bronkial &


meningkatkan jumlah mukos pd permukaan silia fungsi silia sebagai pembersih
terganggu mudah tjd infeksi sekunder

Penumpukan mukus plug obstruksi dan kolaps paru gangguan pertukaran


oksigenasi pd saat ventilasi apnu saat terserang batuk hipoksemia dan sianosis

GEJALA KLINIS

Masa inkubasi: 6-20 hari, rata-rata 7 hari

Perjalanan penyakit, bisa berlangsung 6-8 minggu atau lebih dalam 3 stadium:
Stadium kataralis (prodormal, preparoksismal)
Stadium akut paroksismal (paroksismal, spasmodik)
Stadium konvalesens
STADIUM KATARALIS (1-2 minggu)

Gejala awal menyerupai infeksi sal.napas atas: rinore (pilek) dg lendir yg cair dan jernih,
injeksi konjungtiva, lakrimasi, batuk ringan, panas tidak begitu tinggi
sejumlah besar organisme tersebar dalam inti
droplet dan anak sangat infeksius
STADIUM PAROKSISMAL/ STADIUM SPASMODIK (2-4 minggu)

Frekuensi & derajat batuk bertambah, khas terdpt pengulangan 5-10 kali batuk kuat
selama ekspirasi yang diikuti oleh usaha inspirasi masih yang mendadak &
menimbulkan bunyi melengking (whoop) udara yg dihisap melalui glotis yg

menyempit
Selama serangan: muka merah dan sianosis, mata meonjol, lidah menjulur, lakrimasi,
salivasi, dan distensi vena leher bahkan smp terjadi petekie di wajah (conjungtiva

bulbi)
Cukup khas: muntah setelah batuk paroksismal tanda kecurigaan anak menderita
pertusis

STADIUM KONVALESEN (1-2 minggu)


Ditandai dg berhentinya whoop dan muntah dg puncak serangan paroksismal yang

berangsur-angsur menurun
Batuk akan mulai menghilang sekitar 2-3 mingg

DIAGNOSIS

ANAMNESIS

R/ kontak penderita pertusis

Serangan khas paroksismal dan bunyi whoop yang jelas

R/ imunisasi

PEMERIKSAAN FISIK
G/ klinis stadium saat pasien diperiksa

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Leukositosis (20.000-50.000 /Ul)
Limfositosis absolut (akhir stadium kataral dan selama stadium paroksismal)
Isolasi B.pertussis dr sekret nasofaring
Serologi
Foto toraks: infiltraat perihiler, atelektasis atau empisema

DIAGNOSIS BANDING

Bronkiolitis

Pneumonia bakterial

Sistik fibrosis

Tuberkulosis

dll

PENGOBATAN

Eritromisin 50 mg/kgBB/hr atau Ampisilin 100mg/kgBB/hr dpt meng-eliminasi


organisme dr nasofaring 3-4 hari

Terapi suportif:

o menghindari yg menimbulkan serangan batuk


o hidrasi
o nutrisi
penghisapan lendir
o mencegah obstruksi bronkus betamasol &
salbutamol
PENCEGAHAN

Imunisasi

Seorang yang kontak dg pasien pertusis ttp belum pernah imunisasi beri eritromisin
selama 14 hari setelah kontak setelah kontak diputuskan.

Jika kontak tidak dapat diputuskan eritromisin sampai pasien berhenti batuk atau
setelah pasien mendapat eitromisin selam 7 hari

PROGNOSIS

Anak yg lebih tua mpy prognosis lebih baik


Bayi risiko kematian (0,5-1%) ec ensefalopati

Macam prognosis :
1. Ad vitam (hidup)
2. Ad fuctionam (fungsi)
3. Ad sanationam (sembuh)
Jenis prognosis :
1. Sanam (sembuh)\
2. Bonam (baik)
3. Malam (buruk jelek)
4. Dubia
- Dubia (ad sanam / bonam (tidak tentu/ ragu-ragu, cenderung sembuh/ baik)
- Dubia ad malam (tidak tentu/ ragu-ragu, cenderung buruk/jelek)