Anda di halaman 1dari 7

REVIEW JURNAL PSIKOLOGI PENDIDIKAN

MOTIVASI BELAJAR
Diajukan untuk memenuhi tugas Psikologi Pendidikan

Nama Kelompok
1. Irvan Akram (2283150022)
2. Johan Wisnu Aji
3. Rian Pratama

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SULTAN AGENG TIRTAYASA
KOTA SERANG BANTEN
TAHUN AJARAN 2015/2016

REVIEW JURNAL
MOTIVASI BELAJAR PADA ANAK-ANAK YANG
BERPROFESI SEBAGAI LOPER KORAN YANG
BERSEKOLAH
IRVAN AKRAM
JOHAN WISNU ADJI
RIAN PRATAMA
FAKULTAS PENDIDIKAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
A. LATAR BELAKANG
Sejak Indonesia dilanda krisis ekonomi, banyak barang-barang kebutuhan
menjadi lebih mahal, angka kemiskinan yang semakin tinggi, dan biaya-biaya
yang

lainnya termasuk di sektor pendidikan menjadi mahal yang membuat

banyak anak dari keluarga miskin putus sekolah.


Pada zaman ini, zaman dimana apapun serba sulit, pendidikan pun menjadi
barang yang sangat mahal harganya, padahal kita tahu bahwa pendidikan adalah
salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dimana aspek
pendidikan sangat menentukan maju dan berkembangnya sebuah negara atau
bangsa. Namun masih banyak sekali masyarakat yang tidak begitu perduli tentang
pentingnya pendidikan, baik secara formal ataupun informal .
Semenjak krisis moneter yang melanda Indonesia, sektor pendidikan pun
ikut terkena imbasnya. Untuk menanggulanginya atau meredam masalah krisis
moneter tersebut, anggaran untuk pendidikan pun dikurangi menjadi 20% oleh
pemerintah pusat.
Krisis moneter yang terjadi, tidak hanya berdampak negatif terhadap
sektor pendidikan secara makro, namun secara mikro pun ikut terkena. Salah satu
contohnya adalah semakin meningkatnya jumlah angka keluarga miskin di

Indonesia, yang berpengaruh pula terhadap meningkatnya jumlah anak putus


sekolah dikarenakan tidak adanya biaya sekolah.
Banyaknya anak-anak yang putus sekolah dan banyaknya anak-anak yang
harus bekerja sambil sekolah, membuat masalah ini menjadi sebuah masalah yang
sangat penting untuk ditangani oleh semua pihak, khususnya pemerintah pusat.
Anak-anak yang terpaksa bekerja mencari nafkah, telah membuat mereka
mempunyai dilema Apakah aku harus memilih, bekerja membantu orang tua atau
tetap bersekolah?. Mereka yang memilih untuk tetap bersekolah dan bekerja pada
siang harinya setelah pulang sekolah, mereka akan mengalami gangguan baik
secara fisik ataupun psikologis.
Secara tidak langsung mereka harus bisa membagi waktu mereka, secara
lebih teratur untuk sekolah dan untuk bekerja membantu orang tua. Terkadang
kondisi tersebut membuat psikologis mereka tertekan. Mereka menjadi tidak
fokus dan tidak konsentrasi secara penuh terhadap pelajaranpelajaran yang mereka
dapat dari sekolah.
Mereka menjadi sulit untuk membagi waktu mereka dan sulit menyisakan
waktu untuk mengerjakan PR (Pekerjaan Rumah) atau untuk membaca buku
pelajaran. Keadaan dan kondisi tersebut akan menghambat proses belajar mereka,
dibandingkan dengan mereka yang tidak bekerja membantu orang tuanya selesai
sekolah. Pada akhirnya hal tersebut akan merugikan mereka.
Seringkali

kita

jumpai

anak-anak

dengan

seragam

sekolahnya

mengantarkan koran ke rumah-rumah atau ke kantorkantor dan menjajakan koran


ditempat-tempat umum pada saat sebelum atau sesudah jam pelajaran sekolah.
Hasil dialog pendek dengan loper koran yang berseragam sekolah ini ternyata
mereka memang masih bersekolah dan menjadi loper koran untuk membantu
orang tua.
Loper koran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Rahmi, 1994),
adalah suatu pekerjaan kecil yang menjajakan atau menjual koran, baik secara
berkeliling atau bermukim. Loper koran adalah salah satu pekerjaan yang
dilakukan oleh anak-anak. Menurut Yayasan Loper Indonesia (2005), loper koran

sering dianggap oleh masyarakat mengganggu ketertiban dan mendapat predikat


anak jalanan serta rawan operasi penertiban.
Secara tidak langsung anak-anak loper koran yang tetap bersekolah
mempunyai beban yang cukup berat, tetapi ini dapat diatasinya karena sadar akan
pentingnya pendidikan. Hal inilah yang menjadi penggerak atau pendorong
mereka untuk tetap belajar sambil bekerja.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan
daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang
menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada
kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat
tercapai.
Motivasi belajar merupakan faktor yang paling menentukan dalam
menciptakan anak-anak yang pintar dan cerdas, sehingga sejalan dengan tekad
pemerintah dan orang tua untuk meningkatkan mutu pendidikan dan memperbaiki
kesenjangan sosial masyarakat, motivasi belajar anak-anak loper koran ini
merupakan salah satu yang perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak yaitu
pemerintah, masyarakat, serta orang tua.
Hal ini menarik untuk diteliti dan untuk mengetahui bagaimana motivasi
belajar anak-anak yang bekerja sebagai loper koran serta untuk mencari tahu
faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar pada anak-anak loper koran
yang bersekolah, sehingga dapat diperoleh masukan untuk merumuskan kebijakan
yang tepat untuk meningkatkannya.
B. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dilakukan oleh para peneliti disini menurut kami,
mereka menggunakan sistem kualitatif dimana mereka meneliti para Loper Koran
yang berusia kiranya 10 sampai dengan 14 tahun dan mereka menentukan jumlah
subjek pengujian sejumlah 2 orang.
Teknik pengumpulan datanya pun dilakukan dengan cara wawancara
secara langsung kepada para subjek atau anak yang mejadi bahan pengujiannya,
sehingga mendapatkan data secara langsung dan akurat.

C. HASIL PENELITIAN
Para peneliti menuliskan hasil penelitian mereka dalam 2 opsi, yaitu :
1. Motivasi belajar dari kedua subjek, memberikan informasi, bahwa kedua
subjek tersebut mendapatkan motivasi belajar dengan adanya dorong,
yaitu dorongan untuk mencapai keinginan, dorongan untuk berprestasi,
dorongan untuk belajar, dorongan untuk keterlibatan, dan dorongan untuk
membantu orangtua.
2. Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar pada kedua subjek yang
bersekolah menurut para peneliti tersebut adalah pengaruh sosial ekonomi
dan budaya, pengaruh orangtua, pengaruh sekolah, pengaruh pribadi
siswa, pengaruh usia anak-anak, pengaruh pekerjaan dan pengaruh
bekerja.

D. KESIMPULAN
Dari semua data dan informasi yang kami dapatkan dari Jurnal Motivasi
Belajar, akhirnya kami dapat menyimpulkan hal tersebut kedalam 2 opsi yaitu :
1. Motivasi belajar pada subjek penelitian yang bekerja sambil tetap
bersekolah.
Dapat dilihat dari kedua subjek disini, mereka mendapatkan motivasi
belajar dari suatu apa yang diinginkan, disini pada subjek I dia mendapatkan
dorongan motivasi belajar dari hal yang dia cita citakan yaitu menjadi seorang
Dokter. Sedangkan pada subjek II dia mendapatkan motivasi belajar ingin
merubah perekonomian yang ada dalam keluarganya dan membuatnya lebih baik
lagi.
Kedua subjek mengalami hambatan pada pembelajaran secara maskimal,
disini penyebabnya adalah faktor kelelahan. Karena mereka telah berjualan setiap
hari sampai akhirnya tubuh mereka merasa lemah dan letih sehingga membuat
mereka menjadi kurang maksimal dalam belajar.

Dapat dilihat juga dari faktor prestasi kedua subjek, pada Subjek I prestasi
di sekolah adalah untuk mengetahui kemampuan Subjek I menguasai pelajaran
sekolah yang dapat mendorong Subjek I untuk belajar. Sedangkan bagi Subjek II
sulit untuk berprestasi karena harus bekerja membantu orangtuanya.
Faktor keinginan untuk belajar dari kedua subjek pun sangat berbeda. Pada
Subjek I , mengembangkan diri mendorong Subjek I untuk belajar secara kontinyu
baik yang didapat dari sekolah maupun dari luar sekolah. Sedangkan pada Subjek
II dapat mendorong Subjek II untuk belajar dimana saja dan kapan saja baik
pelajaran sekolah maupun dari luar sekolah.
Adanya keinginan untuk meraih cita-cita pada Subjek I mendorong Subjek
I bekerja untuk membiayai sekolahnya sendiri guna meringankan beban orang tua.
Adanya keinginan untuk merubah ekonomi keluarga menjadi lebih baik,
menyebabkan Subjek II bekerja untuk membantu kedua orang tuanya sambil tetap
bersekolah.
2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap motivasi belajar.
Disini yang pertama dari Faktor Budaya, pada subjek penelitian yang
keduanya berasal dari keluarga menengah kebawah, justru budaya dari
masyarakat yang menengah kebawah cenderung budayanya itu pemalas, tapi tidak
untuk kedua Subjek. Mereka memperlihatkan suatu yang bertolak belakang dari
fakta yang ada.
Adanya dukungan dari orangtua Subjek I dan Subjek II mendorong Subjek
I dan Subjek II untuk tetap bersekolah.
Rasa kesadaran mereka pun berbeda dari kedua Subjek penelitian.
Kesadaran untuk belajar pada Subjek I timbul karena adanya dorongan dari apa
yang ingin dia cita citakan. Sedangkan kesadaran untuk bersekolah agar dapat
memperbaiki keadaan ekonomi keluarga mendorong Subjek II untuk belajar.
Kedua Subjek disini memiliki rasa takut dan gelisah yang sama akan
adanya Ujian. Baik itu Ujian Harian sampai Ujian Nasional, ini karena kurangnya
persiapan mereka untuk belajar sebelum menghadapi ujian tersebut.

Umur dari semua Subjek yang diteliti adalah anak anak, mereka
berkorban kehilangan waktu kanak kanak nya untuk dapat menggapai cita cita
mereka masing masing .
Pekerjaan mereka sendiri adalah sebagai Loper Koran, hal ini tidak
menyurutkan semangat mereka untuk memotivasi diri mereka untuk belajar,
karena mereka masih mempunyai waktu yang dapat mereka manfaatkan untuk
belajar.
Wawasan Subjek I dan Subjek II menjadi luas, lebih mandiri, berani
mengemukakan dan menerima pendapat, serta belajar menyelesaikan masalah.
Bekerja sebagai loper koran tidak mengganggu prestasi Subjek I, sebaliknya
Subjek II tidak dapat berprestasi lebih baik dari sebelum menjadi loper koran.