Anda di halaman 1dari 6

BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN LAINNYA

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Banten


Pertemuan ke-3
Perkembangan Bank Lanjutan
1. Bank sebagai Pusat perekonomian
Dengan aktivitas bank maka :
1. Masyarakat dididik dan dimotivasi melaksanakan
tabungan
yang
efektif
produktif
menambah
pendapatannya.
2. Perusahaan hanya mungkin tumbuh dan berkembang
dengan bantuan jasa-jasa bank, dalam melakukan
kegiatan perusahaannya.
3. Idle money dengan peranan jasa-jasa bank dapat
dikurangi, sehingga uang tersebut lebih bermanfaat
membiayai pembangunan.
4. Stabilitas moneter dapat dipertahankan dengan cara
kebijaksanaan likuiditas, kebijaksanaan diskonto dan
politik pasar terbuka.
5. Pertumbuhan ekonomi nasional akan semakin cepat jika
terdapat dukungan yang baik dari jasa-jasa bank di
negara bersangkutan.
6. Kegiatan perekonomian dan perdagangan akan semakin
ramai bila mendapat dukungan yang baik dari jasa-jasa
bank.
Dr. Mirza Nurulhuda berkata, bahwa bank pada saat ini
sudah menempatkan diri pada pusat penghidupan dunia
perekonomian.
Ini
disebabkan
karena
bank
bertanggungjawab untuk mengumpulkan kredit (dana)
dan memberikan kredit, mengeluarkan uang kartal dan
uang giral.

Perbankan di Indonesia diatur dan harus berpedoman


kepada Undang-undang No. 14 tahun 1967 tentang
Pokok-Pokok Perbankan dan Surat Edaran Bank
Indonesia. Undang-undang No. 14 tahun 1967 tentang
Pokok-pokok Perbankan yaitu : Bab 1:Ketentuan
Umum; Bab II: Jenis dan Macam Lembaga Perbankan;
Bab III: Pendirian dan Pimpinan Bank; Bab IV: Bank
Asing; Bab V: Usaha-Usaha Perbankan; Bab VI;
Pengawasan dan Pembinaan bank; Bab VII: KetentuanKetentuan Lain; Bab VIII: Ketentuan Pidana; Bab IX:
Ketentuan Peralihan; dan Bab X: Ketentuan Penutup.
a. Kebijaksanaan di Bidang Perbankan
Perkembangan bank di Indonesia semakin cepat
dengan ditetapkannya kebijaksanaan deregulasi dan
debirokratisasi tanggal 1 juni 1983 yang kemudian
dilanjutkan dengan Paket 27 Oktober 1988 (Pakto),
Paket 25 Maret 1989, Paket 1 Desember 1989, Paket
29 Januari 1990 (Pakjan), dan Paket Kebijaksanaan
28 Pebruari 1991 (Paktri). Dalam Paket 29 Januari
1990 (Pakjan) ditetapkan kebijaksanaan perkreditan
bank:
1. Mulai tanggal 1 Pebruari 1990 semua bank
praktis tidak lagi mendapat dana kredit
likuiditas (KL) berbunga rendah (3%-5%) per
tahun dari Bank Indonesia. Dana KL disalurkan
oleh BI kepada bank-bank pelaksana dalam
program kredit ekonomi lemah seperti : Kredit
Investasi Kecil (KIK) dan Kredit Modal Kerja
Permanen (KMKP). Karena dana KL tidak lagi
diberikan, berarti bank-bank tidak perlu lagi
meneruskan program KIK dan KMKP, tetapi
para pengusaha golongan ekonomi lemah tidak

usah risau, karena pemerintah mematok


program baru yaitu: Kredit Usaha Kecil (KUK)
yang mewajibkan kepada setiap bank untuk
menyalurkan 20 % dari kreditnya kepada
pengusaha golongan ekonomi lemah. Dalam
kaitan ini pengertian golongan ekonomi lemah
ialah pengusaha yang unit usahanya memiliki
asset (di luar rumah dan tanah) maksimal Rp
600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah).
Pengusaha golongan ekonomi lemah ini berhak
mendapatkan
kredit
maksimal
Rp
20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah).
2. Bank diwajibkan secara mandiri menyalurkan
minimal 20% dari total kreditnya kepada
golongan ekonomi lemah, jika tidak
melaksanakan akan dikenakan sanksi oleh
Bank Indonesia.
Kalau kita amati Pakjan 29 tahun 1990 ini akan
memotivasi para banker untuk bekerja keras,
efisien dan professional, agar banknya tetap
jaya. Di samping itu pemerintah secara
bertahap mendorong bank untuk lebih dewasa
dan berkembang mandiri. Bank Indonesia juga
menetapkan posisi likuiditas pada saat ini
minimal 2%. Hal ini memberikan kelonggaran
pada bank untuk dapat mengurangi idle money
dan memberikan kesempatan kredit yang
semakin besar dari kemampuan yang
dimilikinya. Bank Indonesia juga membatasi
besarnya kredit yang dapat diambil pemilik

bank bersangkutan. Selain itu Bank Indonesia


selalu melakukan pengawasan dan penilaian
terhadap semua bank. Pengawasan itu
dilakukan dengan mengharuskan agar setiap
bank melaporkan neraca likuiditasnya setiap
minggu kepada Bank Indonesia, dan tiap 3
bulan setiap bank harus mengumunkan
neracanya di surat kabar. Hal tersebut
dimaksudkan
agar
masyarakat
dapat
mengetahui keadaan bank bersangkutan.
b. Penilaian Bank.
Penilaian bank dilihat dari dua segi yaitu : kualitatif
dan kuantitatif.
Penilaian kualitatif dilakukan
dengan melihat siapa pemilik bank yang
bersangkutan, apa mereka benar-benar jujur, kaya,
dan berperilaku baik atau tidak. Penilaian semacam
ini sifatnya subyektif dan tradisional. Untuk bankbank milik pemerintah penilaian semacam ini dapat
dipertanggungjawabkan, karena selama pemerintah
ada maka bank tersebut tidak mungkin dilikuidasi.
Sebaliknya bank-bank milik swasta penilaian
semacam ini kurang dapat dipertanggungjawabkan
karena pemiliknya dapat saja melarikan diri,
sehingga banknya dilikuidasi.
Penilaian kuantitatif dilakukan untuk menetapkan
apakah suatu bank itu sehat, cukup sehat, kurang
sehat, dan tidak sehat. Penilaianya didasarkan atas
likuiditas, rentabilitas, dan solvabilitas bank
bersangkutan. Ketiga hal tersebut dianggap sebagai
factor yang mewakili keadaan keuntungan suatu
bank. Selain itu menilai kesehatan bank, perlu dilihat
Capital Adequasi Ratio (CAR), Loanto Deposits

Ratio (LDR), Return ON Equity (ROE), dan Return


of Assets (ROA).
Hal tersebut semua mencerminkan keadaan
keuangan, kualitas aktivitas yang produktif dan tata
kerja serta kepatuhan terhadap ketentuan yang
berlaku. Misalnya suatu bank dikatakan sehat jika
posisi likuiditasnya selama setahun tidak pernah di
bawah 2%, minimal kreditnya 20% disalurkan
kepada perusahaan-perusahaan kecil (KUK) dan
mematuhi semua peraturan yang ada.
CAR adalah kecukupan modal sebuah bank
dalam aktivitas usahanya.
LDR adalah ukuran untuk mengetahui lajunya
dana masyarakat dibanding laju kredit.
ROA adalah kemampuan bank dalam
menciptakan laba dengan menggunakan
seluruh kekayaan.
ROE adalah kemampuan bank untuk
menciptakan keuntungan dengan menggunakan
modal sendiri.
Jadi perkembangan perbankan yang sangat pesat
itu semula bersifat pasif, berkembang menjadi
aktif dan kemudian menjadi pusat kehidupan
perekonomian serta salah satu alat politik
pemerintah.

Penyusun:
Supriyadi, SE