Anda di halaman 1dari 43

Case Kecil

STATUS EPILEPTIKUS

Oleh:
INDRA FAKHREZA
1408465673
Pembimbing :

dr. Yossi Maryanti, Sp.S, M.Biomed


KEPANITRAAN KLINIK SENIOR
BAGIAN ILMU SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU
RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU
2016

Identitas Pasien
Nama

Ny.WB

Umur

64 tahun

Jenis kelamin

Perempuan
Jl. Jati, Gg. Jati, No. 9, Kec. Bukit Raya,

Alamat
Agama

Pekanbaru
Islam

Status perkawinan Kawin


Pekerjaan

IRT

Tanggal Masuk RS 9 Februari 2016


Tanggal
9 Februari 2016
Pemeriksaan
Medical Record
00 55 25 54

Anamnesis
Keluhan Utama
Kejang sejak 1 jam SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


1 jam SMRS rumah sakit pasien mengalami kejang yang terjadi
mendadak. Kejang tidak disertai demam. Sebelum kejang pasien
mengalami nyeri kepala dan muntah sebanyak 1x, namun muntah
tidak menyemprot. Kejang terjadi seluruh tubuh, pandangan mata
melihat-lihat keatas, kejang terjadi selama lebih dari 30 menit. Pasien
langsung dibawa ke IGD RSUD Arifin Achmad dan sesampainya di
rumah sakit kejang masih terjadi. Pasien diberi obat melalui infus,
kejang lalu berhenti, setelah kejang pasien tidak sadarkan diri. Dan
kemudian pasien dirawat. Anak pasien mengaku jika ibu nya rutin
minum obat yang diberikan dari rumah sakit, yaitu fenitoin, namun
jika obat tersebut habis, mereka melanjutkan obat dari puskesmas,
namun obatnya berbeda dari yang diberikan oleh rumah sakit.

Lanjutan
Riwayat Penyakit Dahulu
Kejang pertama kali terjadi sekitar 1 tahun
yang lalu, pasien dibawa berobat ke RSUD
AA, pada saat pengobatan juga diketahui
bahwa pasien menderita hipertensi dan
pecah pembuluh darah pada bagian
kepala.
Pasien mengaku tidak pernah mengalami
kejang sebelum 1 tahun yang lalu.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada anggota keluarga yang
mengeluhkan hal yang sama.
Riwayat kejang demam keluarga
tidak ada
Riwayat epilepsy keluarga tidak ada

RESUME ANAMNESIS
Ny. WB, perempuan, 64 tahun. Datang ke RSUD Arifin
Achmad dengan keluhan kejang. Kejang terjadi secara
mendadak. Sebelum kejang pasien mengeluhkan pusing
kepala dan muntah tidak menyemprot. Kejang berupa
gerakan yang terjadi pada lengan dan tungkai sebelah
kiri, pandangan mata melihat-lihat keatas, kejang terjadi
selama lebih dari 30 menit. Saat sampai di IGD RSUD AA,
pasien diberi obat dengan cara bolus melalui infus,
kejang lalu berhenti, setelah kejang pasien tidak
sadarkan diri. Dan kemudian pasien dirawat. Anak pasien
mengaku jika ibu nya rutin minum obat yang diberikan
dari rumah sakit, namun jika obat tersebut habis, mereka
melanjutkan obat dari puskesmas, yaitu amitriptiline.

Pemeriksaan Fisik
III. PEMERIKSAAN
KEADAAN UMUM
Tekanan darah : 180/100 mmHg,
Denyut nadi : 80x/mnt,
Paru: Respirasi: 20x /mnt
Suhu : 36,7oC

STATUS NEUROLOGIK
KESADARAN : Komposmentis
M6
FUNGSI LUHUR : Normal
KAKU KUDUK : Tidak ada

GCS 15: E4 V5

Nervus Kranialis
N. I (Olfactorius)

Kanan Kiri

Keterangan

Daya pembau

DBN

Dalam Batas Normal

DBN

N.II (Opticus)

Kanan

Kiri

Keterangan

Daya
penglihatan
Lapang
pandang
Pengenalan
warna

DBN
DBN
DBN

DBN
DBN
DBN

Dalam
Normal

Batas

N.III (Oculomotorius)
Kanan
Ptosis
(-)
Pupil

Bentuk
Bulat
Ukuran
2 mm
Gerak bola mata DBN
Refleks pupil

Langsung
(+)
Tidak (+)
langsung
N. IV (Trokhlearis)

Kanan

Gerak bola mata DBN

Kiri
(-)

Bulat
2 mm
DBN

(+)
(+)

Keterangan
Normal

Normal
Normal
Normal

Normal
Normal

Kiri

Keterangan

DBN

Dalam Batas Normal

N. V (Trigeminus)

Kanan

Kiri

Motorik
Sensibilitas
Refleks kornea

DBN
(+)
(+)

DBN
(+)
(+)

Keterangan

Dalam Batas Normal

N. VI (Abduscens)

Kanan

Kiri

Gerak bola mata


Strabismus
Deviasi

DBN
(-)
(-)

DBN
(-)
(-)

Keterangan

Dalam Batas Normal

N. VII (Facialis)
Kanan

Kiri

Keterangan

(-)

Normal
(+)
(+)
(+)
Normal
Normal

(-)

Normal
(+)
(+)
(+)
Normal
Normal

Dalam
Normal

Normal
-menggembungkan Normal
pipi
(-)
Daya perasa
Tanda chvostek

Normal
Normal
(-)

Tic
Motorik:
-sudut mulut
-menutup mata
-mengerutkan
dahi
-mengangkat alis
-lipatan nasolabial
-meringis

Batas

N. VIII (Vestibulo-Kokhlearis)

Kanan

Kiri

Keterangan

Pendengaran

DBN

DBN

Dalam Batas Normal

Kiri
DBN
DBN
(+)

Keterangan
Dalam Batas Normal

N. IX (Glossofaringeus)

Arkus farings
Daya perasa
Refleks muntah

Kanan
DBN
DBN
(+)

N. X (Vagus)

Kanan

Kiri

Keterangan

Arkus farings
Dysfonia

DBN
(-)

DBN
(-)

Dalam batas normal

Kanan

Kiri

Keterangan

Motorik
-Menengok
-Mengangkat
bahu
Trof

DBN
DBN
Eutrofi

DBN
DBN
Eutrofi

Dalam Batas Normal

N. XI (Assesorius)

N. XII (Hipoglossus)

Kanan

Kiri

Keterangan

Motorik
Trof
Tremor
Disartri

DBN
Eutrofi
-

DBN
Eutrofi
-

Dalam Batas Normal

SISTEM MOTORIK

Kanan

Kiri

Keterangan

Kesan:

Kesan:

Distal

Proksimal

Normal

Tonus

Trof

Eutrofi

Eutrofi

Ger.involunter

(-)

(-)

Ekstremitas atas
Kekuatan

Ekstremitas bawah
Kekuatan

Kesan:

Kesan:

Distal

Proksimal

Tonus

Trof

Eutrofi

Eutrofi

Ger.involunter

(-)

(-)

Normal

Lanjutan Sistem Motorik


Ekstremitas bawah

Kekuatan

Kesan:

Kesan:

Distal

Proksimal

Tonus

Trof

Eutrof

Eutrof

Ger.involunter

(-)

(-)

Trof

(-)

(-)

Normal

Ger. Involunter

(-)

(-)

Normal

Ref.dinding perut

(+)

(+)

Normal

Badan

Sistem Sensorik
Sensasi
Raba

Kanan
Normal

Kiri
Normal

Keterangan

Nyeri

Normal

Normal

Suhu

Normal

Normal

Dalam Batas Normal

Propioseptif

Normal

Normal

Tekan

Normal

Normal

Getar

Normal

Normal

Posisi

Normal

Normal

dua Normal

Normal

Diskriminasi
titik

Refleks
Refleks
Fisiologis

Kanan

Kiri

Biseps

(+)

(+)

Triseps

(+)

(+)

KPR

(+)

(+)

APR
Patologis

(+)

(+)

Babinski

(-)

(-)

Chaddock

(-)

(-)

(-)

(-)

Tromer

Reflek primitif :

(-)

(-)

Palmomental

(-)

(-)

Hoffman

Snout

Keterangan
Refleks fisiologis (+) Normal

Refleks patologis (-)

Sistem Koordinasi
Pemeriksaan

Kiri

Keterangan

telunjuk Normal

Normal

Dalam Batas Normal

Normal

Normal

Test tumit lutut Normal

Normal

Gait

Normal

Normal

Tandem

Normal

Normal

Test
hidung

Romberg

Kanan

SISTEM OTONOMI
Miksi

: retensio urin (-)

Defekasi : konstipasi (-)


PEMERIKSAAN KHUSUS/LAIN
Laseque

: Tidak terbatas

Kernig

: Tidak terbatas

Patrick

: (-)/(-)

Kontrapatrick

: (-)/(-)

Valsava test

: (-)

Brudzinski

: (-)/(-)

RESUME PEMERIKSAAN
Kesadaran : komposmentis , GCS : E4 M6 V5
Tekanan darah: 180/100 mmHg
Denyut nadi : 80 x/mnt,teratur
Pernafasan : 20 kali permenit
Fungsi luhur : Dalam Batas Normal
Rangsang meningeal : (-)
Saraf kranial : DBN
Motorik
: 5/5
5/5
Sensorik : +/+ dalam batas normal
Kordinasi : dalam batas normal
Otonom
: dalam batas normal
Refleks Fisiologis : dalam batas normal
Patologis : (-)

Diagnosis
DIAGNOSIS KERJA
DIAGNOSA KLINIS: Status Epileptikus
DIAGNOSA TOPIK : Intrakranial
DIAGNOSA ETIOLOGIK : Simptomatik
DIAGNOSA BANDING : Space Occupaying Lession

USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pemeriksaan MRI Kepala
CT Scan Kepala Kontras
Pemeriksaan EEG

Penatalaksanaan
PENATALAKSANAAN
a. Umum
Pasien di rawat inap
Kontrol vital sign
b. Khusus
O2 2-3 L/menit
IVFD Ringer laktat 12 tpm
Phenitoin tab 3x100 mg
Asam folat tab 1x1
Diazepam injeksi 10 mg (up bila kejang)

Hasil Pemeriksaan
Penunjang
Darah Rutin (9 Februari 2016)
Hb

: 13,7 mg/dL

Hct

: 39,1%

Leukosit : 14.600/L
Trombosit

: 362.000/L

Kimia Darah (9 Februari 2016)

GLU: 173 mg/dL


URE: 33,5 mg/dL
CRE: 1,16 mg/dL
AST: 31 IU/L
ALT: 30 U/L

Dasar Diagnosis
Dasar Diagnosis Klinis : Status Epileptikus
Dari anamnensis didapatkan pasien mengalami kejang.
Kejang berlangsung lebih dari 30 menit. Kejang terjadi
pada seluruh tubuh, pandangan mata melihat-lihat
keatas. Setelah kejang pasien tidak sadarkan diri. Hal ini
sesuai dengan status epileptikus didefinisikan sebagai
keadaan dimana terjadinya dua atau lebih rangkaian
kejang tanpa adanya pemulihan kesadaran diantara
kejang, atau serangan yang berlangsung terus menerus
selama 30 menit atau lebih. Serangan yang
berlangsung terus menerus lebih dari 5 menit atau yang
kesadarannya belum pulih setelah 5 menit harus
dipertimbangkan sebagai SE.5

Dasar Diagnosis Topis :


Intrakranial
Dari anamnesis didapatkan pasien
mengalami kejang bersifat umum,
ditandai adanya bangkitan epileptik
berulang akibat gangguan fungsi
otak secara intermiten yang terjadi
oleh karena lepas muatan listrik
abnormal neuron-neuron secara
paroksismal akibat berbagai etiologi.

Dasar Diagnosis Etiologis :


Simptomatik
Simptomatik, disebabkan oleh
kelainan/lesi pada susunan saraf
pusat (SSP), misalnya trauma kepala,
infeksi SSP, kelainan kongenital, lesi
desak ruang, gangguan peredaran
darah otak, toksik (alkohol, obat),
metabolik, kelainan
neurodegeneratif.

Diagnosis Banding : SOL


Dari anamnensis didapatkan pasien
mengalami kejang, kejang berlangsung
lebih dari 30 menit. Kejang terjadi pada
seluruh tubuh, pandangan mata melihatlihat keatas. Setelah kejang pasien tidak
sadarkan diri. Pada riwayat penyakit
dahulu didapatkan pasien pernah pecah
pembuluh darah pada bagian kepala dan
kejang setelahnya.

Diagnosis akhir
Diagnosis akhir pasien ini adalah
status epilepticus e.c susp. post
stroke.

FOLLOW UP
10 Februari 2016

11 Februari 2016

S : Pasien mengeluhkan nyeri kepala,


demam (-), kejang (-)
O: Keadaan umum Tampak sakit ringan
Kesadaran : komposmentis, GCS: E4 V5
M6
Vital sign :
TD : 160/100 mmHg
Nadi : 80 x/menit
RR : 20 x/menit
T
: 36,70c
Motorik :

S : Pasien tidak ada keluhan.


O: Keadaan umum baik
Kesadaran : komposmentis, GCS: E4 V5
M6
Vital sign :TD : 160/100 mmHg
Nadi : 80x/menit
RR : 20x/menit
T
: 36,70c
5 5
Reflex : Fisiologis : +/+
Patologis : -/-

5 5
5 5

Reflex : Fisiologis : +/+


Patologis : -/-

Otonom : Terpasang kateter


A : Status Epileptikus
P : IVFD RL 20 tpm
Fenitoin tab 3x100 mg
Diazepam 10 mg IV (K/P Bila kejang
bolus pelan)

5 5

Otonom : Terpasang kateter


A : Status Epileptikus
P : IVFD RL 20 tpm
Fenitoin tab 3x100 mg
Asam folat 1x1 mg
Amlodipin 1x10 mg
Diazepam 10 mg IV (K/P Bila kejang
bolus pelan)
Pasien dipulangkan

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Di Indonesia
sekitar 1-4
juta jiwa

semua
umur,
dapat
menyebabk
an hendaya
serta
mortalitas

EPILEP
SI

trauma
kepala,
intoksikasi,
tumor otak,
gangguan
elektrolit dan
infeksi

RSCM
sekitar 175200
pasien/tahun
, terbanyak
usia 5-12
tahun

suatu komplikasi
dari perubahan
dalam
pengobatan,
infeksi atau
pembedahan
otak

kejang berulang
yang terjadi
sedemikian
sering kondisi
epileptik yang
menetap dan
berlanjut

STATUS
EPILEPTIK
US

pertahankan
fungsi vital,
memberikan
OAE, mencari
penyebab dan
mencegah
kejang berulang

TINJAUAN PUSTAKA

Status
Epileptikus
Definisi
terjadinya dua atau lebih rangkaian kejang tanpa
adanya pemulihan kesadaran diantara kejang,
atau serangan yang berlangsung terus menerus
selama 30 menit atau lebih

area tertentu
dari korteks
(Partial
onset)
kedua
hemisfer
otak
(Generalized
onset)

Klinis

Menurut lokasi awal


bangkitan

Klasifikasi

konvulsi
non-konvulsi

Etiologi
Idiopatik

Penyebabnya tidak diketahui


genetik

Kriptogen
ik

simptomatik tatapi penyebabnya


belum diketahui
sindrom west, sindrom lennoxgastaut, dan epilepsi mioklonik

Simtomat
ik

Disebabkan oleh kelainan atau lesi


pada susunan saraf pusat

Pengobatan yang tibaPenderita epilepsi tanpa


tiba dihentikan atau
pengobatan atau dosis
gangguan penyerapan
pengobatan yang tidak
GIT
memadai
Faktor
pencetus
Pengunaan atau
Keadaan umum yang
withdrawal alkohol, drug
menurun akibat stres
abuse, atau obat-obat
psikis, atau stres fisik.
anti depresi

Patofisiologi
peningkatan aktifitas listrik yang berlebihan
pada neuron
merangsang sel neuron lain untuk bersamasama melepaskan muatan listriknya

kemampuan membran sel sebagai pacemaker neuron


untuk melepaskan muatan listrik yang berlebihan
berkurangnya inhibisi oleh neurotransmitter asam
gama amino butirat [GABA]
Meningkatnya eksitasi sinaptik oleh transmiter asam
glutamat dan aspartat melalui jalur eksitasi yang
berulang

Eksita
si
Gamma
amino
butyric
acid
(GABA)

Status
epileptikus

Inhibi
si

Glutamat
Aspartat
Norepinefri
n
Asetilkolin

eksitasi yang berlebihan dan


berlangsung terus-menerus
akibat proses inhibisi yang tidak
sempurna

Status
Epileptikus
Mioklonik

Status
Epileptikus
Non
Konvulsif
Status
Epileptikus
Parsial
Sederhana

Status
Epileptikus
Tonik

Status
Epileptikus
TonikKlonik
Umum

Manifest
asi Klinis

Status
Epileptikus
Parsial
Kompleks

Tatalaksana
0-10 menit
Jalan napas baik
Monnitor tanda vital,
O2, pertahankan
perfusi oksigen
pemeriksaan umum
dan neurologis
secara cepat apabila
kondisi stabil
Cari tanda trauma,
kelumpuhan fokal
dan infeksi

10-60 menit
EKG
Pemasangan infuse
Melakukan
pemeriksaan lab
darah
Menghentikan
kejang dengan
segera : diazepam
10-20 mg IV dengan
kecepatan <2-5
mg/menit atau
rectal. Dapat diulang
15 menit kemudian.
Pemberian 50 cc
dextrose 50%
dengan atau tanpa
thiamin 250 mg IV

0-60/90 menit
Menentukan
etiologi
Bila kejang
berlangsung
setelah
pemberian
kejang demam
pertama, beri
fenitoin IV 15-18
mg/kgBB
dengan
kecepatan 50
mg/menit

30-90 menit
Bila kejang tidak
teratasi dalam
30-60 menit,
rawat di ICU
untuk
pemberian
propofol atau
thiopentone
(konsul dr.
Sp.An atau
dokter intensive
care)
Monitoring
bangkitan dan
EEG serta mulai
dengan OAE

Anda mungkin juga menyukai