Anda di halaman 1dari 18

Makalah

EFEKTIVITAS JAMUR Marasmius sp UNTUK


MENDEGRADASI LIMBAH PENGOLAHAN AGAR (Gracilaria sp)
SEBAGAI BAHAN BAKU BIOETANOL

OLEH:
NURFADHILA SAFITRI ARSYAD
632 413 002
THPi A

TEKNOLOGI HASIL PERIKANAN


FAKULTAS ILMU PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2016

Page | 1

KATA PENGANTAR
Pertaman-tema saya ingin mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang
Maha Esa yang telah meridhoi saya. Sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Saya juga mengucapkan terimakasih begi seluruh pihak yang telah membantu
saya dalam pembuatan makalah ini dan berbagai sumber yang telah saya pakai
pakai sebagai data dan fakta pada makalah ini.
Saya mengakui bahwa saya adalah manusia yang mempunyai keterbatasan
dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan
makalah ini yang telah saya selesaikan. Tidak semua hal dapat saya deskripsikan
dengan sempurna dalam makalah ini saya melakukannya semaksimal mungkin
dengan kemampuan yang saya miliki dimana saya juga memiliki keterbatasan
kemampuan.
Saya akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan
yang dapat memperbaiki makalah saya di masa yang akan datang. Sehingga
semoga makalah berikutnya dan makalah lain dapat diselesaikan dengan hasil
yang baik. Dengan menyelesaikan makalah ini saya mengharapkan banyak
menfaat yang dapat dipetik dan diambil dari makalah ini.
Gorontalo, April 2016

Penyusun

Page | 2

DAFTAR ISI
Kata Pengantar....................................................................................................1
Daftar Isi...............................................................................................................2
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.................................................................................................3
1.2 Tujuan..............................................................................................................4
1.3 Manfaat............................................................................................................4
BAB II Pembahasan
2.1 Sejarah.............................................................................................................5
2.2 Pengertian Bioetanol.......................................................................................5
2.3 Kegunaan Bioetanol .......................................................................................7
2.4 Produksi Bioetano...........................................................................................8
2.5 Efektivita Jamur Marasmius sp untuk mendegradasi limbah pengolahan agar
sebagai bahan baku bioetanol................................................................................12
BAB III Penutup
3.1 Kesimpulan......................................................................................................16
Daftar Pustaka

Page | 3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Minyak bumi merupakan sumber energi yang tidak dapat diperbarui.
Dengan deposit yang terbatas, cepat atau lambat cadangannya pasti akan habis.
Hal ini mendorong dilakukannya usaha penghematan energi dan pencarian sumber
energi baru sebagai alternatif.
Jika biodiesel adalah bahan bakar alternatif pengganti solar, maka bioetanol
adalah bahan bakar alternatif pengganti gasoline yang biasa disebut gasohol
(campuran antara gasoline dan alkohol). Sama seperti biodiesel, bioetanol
memiliki beberapa keunggulan, diantaranya ramah lingkungan dengan sifatnya
yang nontoxic. Aplikasi pada mesin juga tidak memerlukan modifikasi khusus
sehingga dapat langsung dipakai pada mesin-mesin konvensional (dengan catatan
kandungan etanol tidak lebih dari 10%). Penggunaan bioetanol juga dapat
mengurangi emisi karbonmonoksida, karena hasil pembakaran bioetanol
menghasilkan karbondiaoksida dan air. Bahan baku bioetanol berasal dari
tumbuhan

penghasil

karbonmonoksida.

karbohidrat

Sehingga

yang

penggunaan

untuk

tumbuhnya

bioetanol

secara

memerlukan
masif

dapat

mengurangi kandungan emisi rumah kaca (karbondioksida).


Manusia tidak pernah lepas dari ketergantungan akan energi. Konsumsi
energi dalam jumlah besar merupakan ciri dari peradaban modern. Sejak
ditemukannya api, manusia mulai merekayasa energi. Hal ini menuntut
pengeksploitasian akan sumber-sumber energi yang semakin besar dan gencar.
Namun, hal ini masih terbatas pada sumber- sumber energi tak terbarukan seperti
minyak bumi, gas alam dan batubara. Kontinuitas penggunaan bahan bakar fosil
memunculkan sedikitnya dua ancaman serius, seperti : (1) faktor ekonomi, berupa
jaminan ketersediaan bahan bakar fosil untuk beberapa dekade mendatang,
masalah suplai, harga, dan fluktuasinya. (2) polusi akibat emisi pembakaran bahan
bakar fosil ke lingkungan.
Minyak bumi yang ketersediaannya yang terus berkurang. Peraturan
presiden No. 5 tahun 2005 tentang kebijakan energi nasional. Produk alternatif
yang berpeluang untuk dikembangkan adalah bioetanol dan biodisel . Jamur yang

Page | 4

dapat diinokulasikan ke dalam bahan yang berlignoselulosa adalah jamur


Marasmius sp. Pabrik besar berkapasitas produksi 80 ton menghasilkan limbah
sebanyak 56 ton (Ujiani, 2007). Bioetanol adalah etanol yang diproduksi dari
makhluk hidup dengan bantuan makhluk hidup (Luthfi, 2008)
1.2 Tujuan
Untuk mengetahui apa itu bioetanol, bagaimana proses produksi bioetanol serta

efektivitas dosis inokulum dan lama waktu fermentasi jamur Marasmius sp untuk
mengelola limbah industi pabrik agar (Gracilaria sp) sebagai bahan baku
pembuatan bioetanol.
1.3 Manfaat Penelitian
Pemanfatan limbah industi pabrik agar (Gracilaria sp) sebagai bahan baku
bioetanol dapat dijadikan salah satu upaya untuk pengelolaan limbah.
Pemanfaatan limbah industi pabrik agar (Gracilaria sp) untuk bioetanol
sebagai renewable energy dapat dijadikan sebagai salah satu solusi terhadap
kelangkaan bahan bakar minyak di Indonesia yang masih mengandalkan bahan
baku fosil.

BAB II

Page | 5

PEMBAHASAN
2.1 Sejarah
Bioetanol telah digunakan manusia sejak zaman prasejarah sebagai bahan
pemabuk dalam minuman beralkohol. Campuran dari bioetanol yang mendekati
kemurnian untuk pertama kali ditemukan oleh seorang ahli kimia yang
mengembangkan proses distilasi pada masa Kalifah Abbasid. Antoine Lavoisier
menggambarkan bahwa bioetanol adalah senyawa yang terbentuk dari karbon,
hidrogen dan oksigen. Pada tahun 1808, Nicolas- Theodore de Saussure dapat
menentukan rumus kimia etanol. Lima puluh tahun kemudian (1858), Archibald
Scott Couper menerbitkan rumus bangun etanol. Dengan demikian, etanol adalah
salah satu senyawa kimia yang pertama kali ditemukan rumus bangunnya. Etanol
pertama kali dibuat secara sintetis pada tahun 1829 di Inggris oleh Henry Hennel
dan S.G.Serullas di Perancis. Michael Faraday membuat etanol dengan
menggunakan hidrasi katalis asam pada etilen pada tahun 1982, yang digunakan
pada proses produksi etanol sintetis hingga saat ini.
Etanol adalah senyawa organik yang terdiri dari karbon, hidrogen, oksigen
dengan rumus molekul CH3CH2OH dan merupakan derivat senyawa hidrokarbon
yang mempunyai gugus hidroksil sehingga dapat dioksidasi. Dalam berjalannya
waktu, bioetanol mempunyai banyak manfaat yaitu sebagai intermediate dengan
kadar etanol sebesar 88%. Kadar 95% digunakan sebagai bahan pelarut. Kadar 9596% digunakan sebagai bahan pendukung pabrik farmasi dan kosmetik serta
kadar 99,6% digunakan sebagai bahan bakar.
2.2 Pengertian Bioetanol
Bioetanol merupakan cairan hasil proses fermentasi gula dari sumber
karbohidrat (pati) menggunakan bantuan mikroorganisme. Produksi bioetanol dari
tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat, dilakukan melalui proses
konversi karbohidrat menjadi gula (glukosa) dengan beberapa metode diantaranya
dengan hidrolisis asam dan secara enzimatis. Metode hidrolisis secara enzimatis
lebih sering digunakan karena lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan
katalis asam. Glukosa yang diperoleh selanjutnya dilakukan proses fermentasi
atau peragian dengan menambahkan yeast atau ragi sehingga diperoleh bioetanol
sebagai sumber energi.
Page | 6

Etanol atau biasa juga disebut etil alkohol, alkohol murni, alkohol absolut,
atau alkohol adalah sejenis cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak
berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari. Senyawa ini merupakan obat psikoaktif dan dapat ditemukan pada
minuman beralkohol dan termometer modern. Etanol adalah salah satu obat
rekreasi yang paling tua.
Etanol termasuk ke dalam alkohol rantai tunggal, dengan rumus kimia
C2H5OH dan rumus empiris C2H6O. Ia merupakan isomer konstitusional dari
dimetil eter. Etanol sering disingkat menjadi EtOH, dengan "Et" merupakan
singkatan dari gugus etil (C2H5).
Etanol banyak digunakan sebagai pelarut berbagai bahan-bahan kimia yang
ditujukan untuk konsumsi dan kegunaan manusia. Contohnya adalah pada parfum,
perasa, pewarna makanan, dan obat-obatan. Dalam kimia, etanol adalah pelarut
yang penting sekaligus sebagai stok umpan untuk sintesis senyawa kimia lainnya.
Dalam sejarahnya etanol telah lama digunakan sebagai bahan bakar.
Ethanol merupakan senyawa yang tidak terdapat secara bebas di alam. Zat
ini adalah golongan alkohol biasa atau alkohol primer yang dibuat dari glukosa
atau jenis gula yang lain dengan jalan peragian.
Alkohol sebagai minuman keras dibagi menjadi 2 jenis, yaitu:
Minuman yang tidak disuling, yaitu minuman yang hanya mengandung alkohol
paling banyak 12%, contoh bir dan anggur.
Minuman yang disuling, yaitu minuman yang mengandung alkohol kurang lebih
55%, contoh Whisky, arak, cognac.
Agar alkohol yang digunakan sebagai bahan bakar dan keperluan farmasi
serta industri tidak diminum, maka ethanol dibuat tidak terminum dengan cara
diberi methanol dan zat pewarna(denaturasi alkohol), misalnya alkohol yang
dipakai sebagai spirtus bakar.

Rumus Kimia

Page | 7

(Bio)Etanol sering ditulis dengan rumus EtOH. Rumus molekul etanol


adalah C2H5OH atau rumus empiris C2H6O atau rumus bangunnya CH3-CH2
-OH. (Bio)Etanol merupakan bagian dari kelompok metil (CH3-) yang terangkai
pada kelompok metilen (-CH2-) dan terangkai dengan kelompok hidroksil (-OH).
Secara umum akronim dari (Bio)Etanol adalah EtOH(Ethyl-(OH)).

Rumus Bangun
(Bio)Etanol tidak berwarna dan tidak berasa tapi memilki bau yang khas.
Bahan ini dapat memabukkan jika diminum. Karena sifatnya yang tidak beracun
bahan ini banyak dipakai sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan industri
makanan dan minuman.
2.3 Kegunaan Bioetanol
Berdasarkan (Fessenden, 1992) kegunaan bioetanol (alkohol) adalah:
Digunakan dalam minuman keras.
Sebagai pelarut dan reagensia dalam laboratorium dan industri.
Sebagai bahan bakar.
Bioetanol merupakan bahan bakar yang jika dicampur dengan gasoline
dimana presentase 10% etanol dan 90% gasoline akan menghasilkan produk
dengan nama dagang Gasohol Berdasarkan (Austin, 1984) kegunaan bioetanol
adalah :
Sebagai bahan industri kimia.
Sebagai bahan kecantikan dan kedokteran.
Sebagai pelarut dan untuk sintesis senyawa kimia lainnya.
Sebagai bahan baku (raw material) untuk membuat ratusan senyawa kimia lain,
seperti asetaldehid, etil asetat, asam asetat, etilene dibromida, glycol, etil
klorida, dan semua etil ester.

Page | 8

Berdasarkan (Uhligh, 1998) kegunaan bioetanol adalah :


Sebagai pelarut dalam pembuatan cat dan bahan-bahan kosmetik.
Diperdayakan di dalam perdagangan domestik sebagai bahan bakar.

2.4 Produksi Bioetanol


1) Bahan Baku Pembuatan Bioetanol
Bahan baku pembuatan bioetanol ini dibagi menjadi tiga kelompok yaitu:
Bahan sukrosa
Bahan-bahan yang termasuk dalam kelompok ini antara lain ; nira tebu,nira
sargum manis, nira kelapa, nira aren, dan sari buah mete.
Bahan berpati
Bahan-bahan yang termasuk kelompok ini adalah bahan-bahan yang
mengandung pati atau karbohidrat. Bahan-bahan tersebut antara lain ; tepungtepung ubi ganyong, sorgum biji, jagung, cantel, sagu, ubi kayu, ubi jalar, dll.
Bahan berselulosa
Bahan berselulosa (lignoselulosa artinya adalah bahan tanaman yang
mengandung selulosa (serat), antara lain ; kayu, jerami, batang pisang, dll.
Berdasarkan ketiga jenis bahan baku tersebut, bahan berselulosa merupakan bahan
yang jarang digunakan dan cukup sulit untuk dilakukan. Hal ini karena adanya
lignin yang sulit dicerna sehingga proses pembentukan glukosa menjadi lebih
sulit.
2) Produksi Bioetanol
Proses pembuatan bioetanol melalui beberapa tahap yaitu isolasi pati,
hidrolisis pati menjadi glukosa, fermentasi atau perubahan glukosa menjadi etanol
atau bioetanol, dan destilasi bioetanol lalu didehidrasi.
Hidrolisis Pati
Pati adalah salah satu jenis polisakarida yang amat luas tersebar di alam.
Pati disimpan oleh tanaman sebagai cadangan makanan di dalam biji buah
maupun di dalam umbi batang dan umbi akar. Pati merupakan polimer dari
glukosa atau maltosa. Unit terkecil dari rantai pati adalah glukosa yang
merupakan hasil fotosintesis di dalam bagian tubuh tumbuh-tumbuhan yang
mengandung klorofil. Pati tersusun atas ikatan - D- glikosida. Molekul glukosa

Page | 9

pada pati dan selulosa hanya berbeda dalam bentuk ikatannya, dan , namun
sifat-sifat kimia kedua senyawa ini sangat jauh berbeda. Proses hidrolisis pati
yaitu pengubahan molekul pati menjadi monomernya atau unit-unit penyususnya
seperti glukosa.
Hidrolisis pati dapat dilakukan dengan bantuan asam atau enzim pada suhu,
pH, dan waktu reaksi tertentu. Pemotongan rantai pati oleh asam lebih tidak
teratur dibandingkan dengan hasil pemotongan rantai pati oleh enzim. Hasil
pemotongan oleh asam adalah campuran dekstrin, maltosa dan glukosa, sementara
enzim bekerja secara spesifik sehingga hasil hidrolisis dapat dikendalikan. Enzim
yang dapat digunakan dalam proses hidrolisis pati adalah amilase. Enzim amilase
merupakan endoenzim yang menghidrolisis ikatan - 1,4- glukosida secara
spesifik.
Fermentasi
Proses

fermentasi

sering

didefinisikan

sebagai

proses

pemecahan

karbohidrat dan asam amino secara aerobik, yaitu tanpa memerlukan oksigen.
Senyawa yang dapat dipecah dalam proses fermentasi terutama adalah
karbohidrat, sedangkan asam amino hanya dapat difermentasi oleh beberapa jenis
bakteri tertentu. Prinsip dasar fermentasi adalah mengaktifkan kegiatan mikroba
tertentu dengan tujuan mengubah sifat bahan agar dihasilkan suatu yang
bermanfaat. Perubahan tersebut karena dalam proses fermentasi jumlah mikroba
diperbanyak dan digiatkan metabolismenya didalam bahan tersebut dalam batas
tertentu. Beberapa langkah utama yang diperlukan dalam melakukan suatu proses
fermentasi diantaranya adalah :
Seleksi mikroba atau enzim yang sesuai dengan tujuan.
Seleksi media sesuai dengan tujuan.
Sterilisasi semua bagian penting untuk mencegah kontaminasi oleh mikroba yang
tidak dikehendaki.
Yeast merupakan fungsi uniseluler yang melakukan reproduksi secara
pertunasan ( budding ) atau pembelahan ( fission ). Yeast tidak berklorofil, tidak
berflagella, berukuran lebih besar dari bakteri, tidak dapat membentuk miselium
berukuran bulat, bulat telur, batang, silinder seperti buah jeruk, kadang-kadang

Page | 10

dapat mengalami diforfisme, bersifat saprofit, namun ada beberapa yang bersifat
parasit. Saccharomyces cerevisiae merupakan yeast yang termasuk dalam kelas
Hemiascomycetes, ordo Endomycetales , famili Saccharomycetaceae, Sub famili
Saccharoycoideae , dan genus Saccharomyces.
Saccharomyces cerevisiae merupakan organisme uniseluler yang bersifat
makhluk mikroskopis dan disebut sebagai jasad sakarolitik, yaitu menggunakan
gula sebagai sumber karbon untuk metabolisme. Saccharomyces cerevisiae
mampu menggunakan sejumlah gula, diantaranya sukrosa, glukosa, ruktosa,
galaktosa, mannosa, maltosa dan maltotriosa. Saccharomyces cerevisiae
merupakan mikrobia yang paling banyak digunakan pada fermentasi alkohol
karena dapat berproduksi tinggi, tahan terhadap kadar alkohol yang tinggi, tahan
terhadap kadar gula yang tinggi dan tetap aktif melakukan aktivitasnya pada suhu
4320C.
Distilasi
Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar
adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 780C sedangkan air adalah
1000C (Kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78
1000C akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit
kondensasi akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 9% volume. Semakin
murni etanol, semakin bagus untuk mesin. Harga jualnya pun lebih tinggi.
Dehidrasi
Proses ini merupakan proses untuk membuang air sampai menjadi 99,5%.
etanol 99,5% ini yang bisa digunakan untuk menjadi bahan bakar energi alternatif.
Proses dehidrasi etanol secara konvensional yang umum digunakan adalah dengan
distiIasi azeotopik yang saat ini mulai digantikan dengan molecular sieve. Metode
yang sedang dikembangkan saat ini adalah pervaporasi dengan membran. Proses
dehidrasi ini ada tiga macam yaitu proses azeotropic distillation, molecular sieve
dan membran pervoration.
Dehidrasi etanol merupakan tahapan akhir dalam proses produksi etanol
anhidrat atau fuel grade ethanol. Setelah melalui tahapan proses destilasi, etanol
perlu dimurnikan kembali karena masih terdapat kadar air dalam technical grade
ethanol yang berkisar antara 4-5% atau hanya menghasilkan etanol dengan

Page | 11

persentase 95%. Untuk menghasilkan etanol anhidrat dengan kualitas yang baik
harus diimbangi dengan metode pemurnian etanol yang handal (konsumsi energi
yang relatif rendah), ramah lingkungan dan biaya produksi yang relatif murah.
Proses dehidrasi etanol dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu: azeotropic
distillation, moleculer sieve dan membrane pervaporation.
Pada dasarnya ada 5 tahap proses dehidrasi untuk membuang kandungan air
dalam campuran etanol azeotropik (etanol 95-96%). Proses yang pertama, yang
sudah digunakan di banyak pabrik etanol sejak dulu, adalah proses yang disebut
distilasi azeotropik. Distilasi azeotropik dilakukan dengan cara menambahkan
benzena atau sikloheksana ke dalam campuran. Ketika zat ini ditambahkan, maka
akan membentuk campuran azeotropik heterogen. Hasil akhirnya nanti adalah
etanol anhidrat dan campuran uap dari air dan sikloheksana/benzena. Ketika
dikondensasi, uap ini akan menjadi cairan. Metode lama lainnya yang digunakan
adalah distilasi ekstraktif. Metode ini digunakan dengan cara menambahkan
komponen terner dalam etanol hidrat sehingga akan meningkatkan ketidakstabilan
relatif etanol tersebut. Ketika campuran terner ini nantinya didistilasi, maka akan
menghasilkan etanol anhidrat.
Saat ini penelitian juga sedang mengembangkan metode pemurnian etanol
dengan menghemat energi. Metode yang saat ini berkembang dan mulai banyak
digunakan oleh pabrik-pabrik pembuatan etanol adalah penggunaan saringan
molekul untuk membuang air dari etanol. Dalam proses ini, uap etanol bertekanan
melewati semacam tatakan yang terdiri dari butiran saringan molekul. Pori-pori
dari dari saringan ini dirancang untuk menyerap air. Setelah beberapa waktu,
saringan ini pun divakum untuk menghilangkan kandungan air di dalamnya. 2
tatakan biasanya digunakan sekaligus sehingga ketika satu sedang dikeringkan,
yang satunya bisa dipakai untuk menyaring etanol. Teknologi dehidrasi ini
diperkirakan dapat menghemat energi sebesar 3.000 btus/gallon (840 kJ/L) jika
dibandingkan dengan distilasi azeotropik.
2.5 Efektivitas Jamur Marasmius Sp Untuk Mendegradasi
Pengolahan Agar (Gracilaria Sp) Sebagai Bahan Baku Bioetanol

Page | 12

Limbah

Gracilaria sp merupakan rumput laut penghasil agar-agar, dapat tumbuh


dengan lebih baik pada perairan dangkal serta memiliki intensitas cahaya tinggi.
Suhu optimum untuk pertumbuhannya adalah 20-28 oC serta dapat hidup pada
kisaran salinitas yang tinggi (Wiratmaja 2011).
Menghasilkan Limbah agar-agar dari ganggang merah adalah produk
samping pabrik agar-agar yang jumlahnya sangat melimpah. Lima puluh enam ton
dari 80 ton bahan baku dalam pembuatan agar-agar jelly di pabrik terbuang
sebagai limbah karena pabrik hanya memakai ekstraknya saja. (ujiani 2008)
Limbah agar-agar tersebut dimanfaatkan menjadi bioetanol karena
biomassa yang mengandung lignoselulosa dapat digunakan sebagai sumber
glukosa yang murah dan mudah didapat untuk menggantikan bahan pati dalam
proses fermentasi (Graf dan Koehler 2000)
Dilakukan secara enzimatik menggunakan jamur Marasmius sp, dimana
Marasmius sp dapat menghasilkan enzim selulase yang dapat memecah ikatan
glikosidik (Widjastuti 2007). Model bioproses yang dilakukan untuk konversi
selulosa menjadi bioetanol yaitu menggunakan model SHF (separate hidrolysis
and fermentation) (Wingren et al. 2003).
2.5.1

Prosedur
Prosedur penelitian yaitu terdiri dari analisis proksimat dan produksi

bioetanol yang meliputi proses hidrolisis, penentuan kadar glukosa, fermentasi


alkohol, dan penentuan kadar etanol
Analisis Proksimat
Analisis proksimat dilakukan untuk mengetahui kadar lignoselulosa limbah
pengolahan agar yang mengacu pada metode Van Soest (1982).
Produksi bioetanol
Hidrolisis

Page | 13

1. Persiapan bahan baku limbah pengolahan agar


2. Persiapan kultur Marasmius sp
3. Tepung limbah pengolahan agar sebanyak 41,75 g dimasukan ke dalam
erlenmeyer
4. Aquades dimasukan sebanyak 150 ml yang telah dipanaskan sampai suhu
50oC
5. Dosis inokulum Marasmius sp pada kulutr besar dimasukan sebanyak 5 %,
7,5 % dan 10 % dari jumlah substrat.
6. Kemudian diinkubasi selama 2, 3 dan 4 minggu.
7. Adonan kemudian dimasukan kedalam autoclave hingga mencapai
tekanan 1,4 bar
8. Adonan kemudian ditentukan kadar glukosa
Penentuan kadar glukosa
Penentuan kadar glukosa dilakukan untuk mengetahui glukosa yang
terbentuk setelah proses hidrolisis. Metode penentuan kadar glukosa pada
penelitian ini menggunakan metode Nelson-Somogyi (Apriyantono dkk. 1989
dalam Putra 2011)
Fermentasi alkohol

Persiapan kultur Saccharomyces cerevisiae

Kemudian ditambahkan 2% inokulum (10 ml) ragi Saccharomyces


cerevisiae pada kultur besar ke dalam adonan yang difermentasi pada
suhu 30oC selama 96 jam

Penentuan kadar etanol


Proses pemurnian bertujuan untuk memisahkan alkohol dan air dengan cara
destilasi. Proses pemurnian bioetanol pada penelitian ini menggunakan prosedur
yang dilakukan oleh Soerawidjaja dkk. (2007) dalam Putra (2011)
2.5.2 Hasil
Kadar Lignoselulosa Limbah Pengolahan Agar yang diperoleh :

Page | 14

No

Komponen

Presentasi (%)

Lignin

3.05

Selulosa

17.04

Hemiselulosa

32.15
Kadar

selulosa ini (sebesar 17,04 %) cukup tinggi bila dibandingkan dengan rumput laut
jenis yang lain (Kim at al. 2008), menjadikan limbah ini berpotensi sebagai bahan
baku bioetanol.
Kadar Selulosa Berbagai Jenis Rumput Laut :
Jenis alga
Selulosa (%)
Alga Merah
Gelidium amansii.
16,8
Marocco
Gelidium amansii, joju
23
Eucheuma cottoni
7,1
Gracilaria sp
19,7
17,04*
Alga Hijau
Codium fragile
10,9
Alga Coklat
Undaria pinattinda
2,4
Laminaria japonica
6,7
Kim dkk, 2008 dalam Wiratmaja, 2011 * adalah data primer
Kadar etanol
Kadar etanol yang dianalisis berasal dari hasil hidrolisis pada dosis
inokulum 7,5 % dan 10 % selama 3 minggu dan kemudian difermentasi
menggunakan Saccharomyces cerevisiae dengan dosis inokulum 2 % dan lama
fermentasi 6 hari.
No Kode Sampel
Kadar Etanol (%)
.
1
D2W2 (1)
0,8019
2
D2W2 (2)
0,6201
3
D2W2 (3)
0,6394
4
D3W2 (1)
0,5135
5
D3W2 (2)
0,4309
6
D3W2 (3)
< 0,43
Ket : (1),(2),(3) adalah ulangan perlakuan

Rata-rata

0,6871

0,4581

Jumlah glukosa yang dihasilkan dari hasil hirolisis tidak selalu dapat
merepresentasikan besarnya kadar etanol yang diperoleh dari proses fermentasi
alkohol.

Page | 15

Hal ini dapat dijelaskan karena pengaruh beberapa faktor, diantaranya


adalah performa dari agen fermentasi alkohol dan ketidak khususan produk akhir
yang dihasilkan (Stanbury and Whitaker 2003).
Saccharomyces cerevisiae tidak hanya merubah glukosa menjadi etanol
sebagai produk akhir. Produk lain yang dihasilkan yaitu berupa asam asetat, asam
levulinat, dan gliserol (Iriani dkk. 2009) .
Kadar etanol tertinggi pada penelitian ini 0,6871 %

Page | 16

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Limbah pengolahan Gracilaria sp berpotensi sebagai bahan baku bioetanol
karena memiliki kandungan selulosa 17,04 %. Hasil pengujian memperlihatkan
bahwa dosis 10 % dengan lama waktu fermentasi 3 minggu merupakan kombinasi
terbaik untuk menghasilkan kadar glukosa tertinggi yaitu sebesar 0,072 mg/mL,
dan kadar etanol 0,4581 %.

Page | 17

DAFTAR PUSTAKA
Kurniadi, R., 2012. Efektivitas Jamur Marasmius sp untuk mendegradasi limbah
pengolaha agar (gracilaria sp) sebagai bahan baku bioetanol). Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Padjadjaran
Ramadhani N., dkk., 2013. Bioetanol. Politeknik Negeri Ujung Pandang. Maksar
Assadad, L., 2010. Pemanfaatan Mikroalga. Departemen Teknologi Hasil
Perikanan. Fakultas Perikanan. IPB

Page | 18