Anda di halaman 1dari 12

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

RAWAT GABUNG IBU DAN BAYI

Oleh :
1. Chasanah
2. Mely Dwitasari Tadjang
3. Oktaviany Ismiarika S
4. Amirotul Mudhmainnah

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIDAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
2012

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS AIRLANGGA


SATUAN ACARA PENYULUHAN
Topik

: Rawat Gabung Ibu dan Bayi

Tempat: Ruang Cendrawasih RSUD dr. Soetomo Surabaya


Hari/Tanggal : Selasa, 6 November 2012
Waktu

: 08.00-09.00 WIB

I. Pendahuluan
Sistem rawat gabung merupakan sistem perawatan bayi yang disatukan dengan ibu,
sehingga ibu dapat melakukan semua perawatan dasar bagi bayinya. Bayi bisa tingga
bersama ibunya daam satu kamar sepanjang siang maupun malam hari sampai keduanya
keluar dari rumah sakit atau bayi dapat dipindahkan ke bangsa neonatus atau ke ruang
observasi pada saat-saat tertentu, seperti pada malam hari atau pada jam-jam kunjungan atau
besuk. Rawat gabung memiiki banyak keuntungan.sistem ini memberikan kesempatan pada
ibu baru, khusunya primipara, untuk mempeajari dengan sungguh-sungguh bagaimana cara
merawat bayinya dan memudahkan staf perawatan untuk menjawab semua pernyataan yang
diajukan oeh ibu tersebut.
Dengan adanya rawat gabung, akan membantu memperlancar pemberian ASI. Karena
dalam tubuh ibu menyusui ada hormon oksitosin. Hormon ini sangat berpengaruh pada
keadaan emosi ibu. Jika Ibu tenang dan bahagia karena dapat mendekap bayinya, maka
hormon ini akan meningkat dan ASI pun cepat keluar. Sehingga bayi lebih puas mendapatkan
ASI . Manfaat lain dari perawatan rooming in bagi bayi akan lebih cepat menyesuaikan
dengan waktu tidur dan bangun dengan ibu. Selain itu jika bayi menangis akan langsung
didekap ibu sehingga bayi akan tenang mendengarkan detak jantung ibu.
Pentingnya ibu mengetahui rawat gabung agar terjalin kasih sayang antara ibu dan
anaknya serta ibu tahu bagaimana cara perawatan bayi yang baik dan benar. Adanya rawat
gabung sangat menguntungkan bagi ibu karena dapat menurunkan angka kesakitan pada bayi
seperti ibu dapat memberi ASI esklusif kepada bayinya yang dapat memberikan sistem
kekebalan tubuh pada bayi. Rawat gabung juga akan membantu menurunkan angka kematian
ibu, dengan dilakukannya rooming in akan menurunkan terjadinya perdarahan post partum
yaitu dengan cara ibu memberikan ASI esklusif.

II. Tujuan Instruksional Umum


Pada akhir proses penyuluhan, diharapkan pasien dapat melaksanakan rawat gabung
ibu dan bayi.
II.

Tujuan Instruksional Khusus


Setelah diberikan penyuluhan pasien dapat :

1.

Menjelaskan pengertian tentang rawat gabung.

2.

Menjelaskan tujuan rawat gabung.

3.

Menjelaskan syarat ibu dan bayi rawat gabung.

4.

Menjelaskan kontraindikasi rawat gabung.

5.

Menjelaskan manfaat rawat gabung.

III.

Materi
1. Pengertian rawat gabung.
2. Tujuan rawat gabung.
3. Syarat ibu dan bayi rawat gabung.
4. Kontraindikasi rawat gabung.
5. Manfaat rawat gabung.

IV.

Metode

a. Ceramah
b. Tanya Jawab
V.

Media
a. Leaflet
b. LCD

VI.

Sasaran
Pasien di Ruang Cendrawasih RSUD dr. Soetomo Surabaya.

VII.

Kriteria Evaluasi

1.

Evaluasi Struktur

Peserta hadir di tempat penyuluhan

Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Cendrawasih RSUD dr.


Soetomo Surabaya.


2.

Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya


Evaluasi Proses

Penyuluhanberjalandenganlancar

Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan

Peserta mengajukan pertanyaan dan fasilitator menjawab pertanyaan dengan


benar

3.

Evaluasi Hasil

Peserta dapat menjelaskan pengertian, tujuan, syarat, kontraindikasi, dan


manfaat.

Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar.


Pertanyaan :
1. Apa pengertian dari rawat gabung?
2. Apa saja tujuan dilakukan rawat gabung untuk ibu dan bayi?
3. Apa saja syarat dilakukan rawat gabung untuk ibu dan bayi?

Seluruh pasien hadir untuk mengikuti penyuluhan.

VIII Kegiatan Penyuluhan


N
O
1.

KEGIATAN

TAHAP
Pembukaan

Penyuluh

3 menit

Peserta
Menyampai

kan salam pembuka

njawabsalam
Memperken

alkan diri

Menyampai

10 menit
Diskusi dan
tanya jawab

Me
mperhatikan

Menggali
Pengetahuan peserta tentang

Penyuluhan

Me
ndengarkan

kan tujuan penyuluhan

2.

Me

Me

rawat gabung ibu dan bayi


Menyampai

njawabpertanyaan

kan materi tentang rawat gabung

mperhatikan dan

ibu dan bayi

mendengarkan

Memberi
kesempatan untuk

Me

Me
nanyakanhal yang

3.

10 menit
Evaluasi

Bertanya

4menit

kurangjelas
Menanyaka

n kepada peserta tentang materi

Me
njawab pertanyaan

yang telah diberikan dan


reinforcement kepada peserta
4.

Terminasi

3menit

yang dapat menjawab pertanyaan


Menyimpul
kan kegiatan pelatihan

Me
ndengarkan

Mengucapk
an terimakasih atas peran serta
peserta

Menyampai
kan salam penutup

VIII.

Pengorganisasian

Presentator

: Amirotul Mudhmainnah dan Mely Dwitasari Tadjang

Moderator

: Chasanah

Fasilitator dan Observer : Oktaviany Ismiarika S.


Pembimbing

: Woro Setia N., S. Keb, Bd

MATERI PENYULUHAN
RAWAT GABUNG IBU DAN ANAK
1. Konsep Rawat Gabung
1.1 Pengertian
Rawat gabung adalah suatu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan
tidak dipisahkan, melainkan di tempatkan dalam sebuah ruangan kamar atau tempat bersamasama selama 24 jam penuh dalam seharinya (Maryuni, 2009; Rukiyah, 2010).
Ada dua jenis rawat gabung :
a. RG kontinu : bayi tetap berada disamping ibu selama 24 jam
b. RG parsial : ibu dan bayi bersama - sama hanya dalam beberapa jam seharinya. Misalnya
pagi bersama ibu sementara malam hari dirawat di kamar bayi.
Rawat gabung parsial saat ini tidak dibenarkan dan tidak dipakai lagi.
(Maryuni, 2009; Rukiyah, 2010)
1.2 Tujuan rawat gabung
a. Memberikan bantuan emosional
1). Ibu dapat memberikan kasih sayang sepenuhnya kepada bayi
2).Memberikan kesempatan kepada ibu dan keluarga untuk mendapatkan pengalaman
dalam merawat bayi
b. Penggunaan ASI
1). Agar bayi dapat sesegera mungkin mendapatkan kolostrum/ASI
2). Produksi ASI akan makin cepat dan banyak jika diberikan sesering mungkin
c. Pencegahan infeksi
d. Pendidikan kesehatan
1). Dapat dimanfaatkan untuk memberikan pendidikan kesehatan pada ibu
e. Memberikan stimulasi mental dini tumbuh kembang pada bayi
1.3 Syarat dan sasaran ibu dan bayi yang dapat di rawat gabung
a. Bayi lahir dengan spontan , baik presentasi kepala atau bokong

b. Jika bayi lahir dengan tindakan maka rawat gabung dapat dilakukan setelah bayi cukup
sehat, reflek hisap baik, tidak ada tanda-tanda infeksi dsb
c. Bayi yang lahir dengan Sectio Cesarea dengan anestesi umum, RG dilakukan segera stelah
ibu dan bayi sadar penuh (bayi tidak ngantuk) misalnya 4-6 jam setelah operasi.
d. Bayi tidak asfiksia setelah 5 menit pertama (nilai apgar minimal 7)
e. Umur kehamilan 37 minggu atau lebih
f. Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih
g. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum
h. Bayi dan ibu sehat
(Prawirohardjo, 2008; Maryuni, 2009).
1.4 Kontraindikasi Rawat Gabung
Rawat gabung tidak dianjurkan pada keadaan :
a. Ibu

Penyakit jantung derajat III


Pasca eklamsi
Penyakit infeksi akut, TBC
Hepatitis B (namun jika bayi telah diimunisasi diizinkan untuk rawat gabung)

b. Bayi

Bayi kejang
Sakit berat pada jantung
Bayi yang memerlukan pengawasan intensif
Catat bawaan sehingga tidak mampu menyusu

Kegiatan rawat gabung dimulai sejak ibu bersalin di kamar bersalin dan di bangsal
perawatan pasca persalinan. Akan tetapi, tidak semua bayi atau ibu dapat segera dirawat
gabung. Ibu yang tidak dapat melaksanakan rawat gabung adalah ibu dengan kelainan
jantung yang ditakutkan menjadi gagal jantung, ibu dengan preklamsia dan eklamsia berat,
ibu dengan penyakit akut yang berat, ibu dengan karsionoma payudara, dan ibu dengan
psikosis. Sedangkan bayi yang tidak dapat di rawat gabung adalah bayi dengan berat lahir
sangat rendah, bayi dengan kelainan kongenital yang berat, bayi yang memerlukan observasi
atau terapi khusus (bayi kejang, sakit berat) (Prawirohardjo, 2008).

1.5 Manfaat Rawat Gabung


a. Bagi ibu
1). Aspek psikologi

Antara ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant-mother bonding) dan

lebih akrab akibat sentuhan badan antara ibu dan bayi


Dapat memberikan kesempatan pada ibu untuk belajar merawat bayinya
Memberikan rasa percaya kepada ibu untuk merawat bayinya. Ibu dapat memberikan
ASI kapan saja bayi membutuhkan, sehingga akan memberikan rasa kepuasan pada ibu
bahwa ia dapat berfungsi dengan baik sebagaimana seorang ibu memenuhi kebituhan
nutrisi bagi bayinya. Ibu juga akan merasa sangat dibutuhkan oleh bayinya dan tidak
dapat digantikan oleh orang lain. Hal ini akan memperlancar produksi ASI.

2). Aspek fisik

Involusi uteri akan terjadi dengan baik karena dengan menyusui akan terjadi kontraksi

rahim yang baik


Ibu dapat merawat sendiri bayinya sehingga dapat mempercepat mobilisasi

b. Bagi bayi
1). Aspek psikologi

Sentuhan badan antara ibu dan bayi akan berpengaruh terhadap perkembangan pskologi
bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak

dibutuhkan oleh bayi.


Bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung, dan ini merupakan dasar bagi
terbentuknya rasa percaya pada diri anak

2). Aspek fisik

Bayi segera mendapatkan colostrum atau ASI jolong yang dapat memberikan

kekebalan/antibodi
Bayi segera mendapatkan makanan sesuai pertumbuhannya
Kemungkinan terjadi infeksi nosokomial kecil
Bahaya aspirasi akibat susu botol dapat berkurang
Penyakit sariawan pada bayi dapat dihindari/dikurangi
Alergi terhadap susu buatan berkurang

c. Bagi keluarga
1). Aspek psikologi
Rawat gabung memberikan peluang bagi keluarga untuk memberikan support pada ibu untuk
memberikan ASI pada bayi
2). Aspek ekonomi

Lama perawatan lebih pendek karena ibu cepat pulih kembali dan bayi tidak menjadi sakit
sehingga biaya perawatan sedikit.
Kontak dini antara ibu dan bayi yang telah dibina sejak dari kamar bersalin
seharusnya tetap dipertahankan dengan merawat bayi bersama ibunya. Secara fisik, rawat
gabung bermanfaat memudahkan ibu untuk menjangkau bayinya untuk melakukan perawatan
sendiri dan menyusui setiap saat, kapan saja bayinya menginginkan. Perawatan sendiri dan
menyusui sedini mungkin, akan mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi silang dari
pasien lain atau petugas kesehatan (Mappiwali, 2008; Suradi dan Kristina, 2004).
Secara fisiologis, rawat gabung memberikan kesempatan pada ibu untuk dekat dengan
bayinya, sehingga bayi dapat segera disusui dan frekuensi ibu memberi ASI akan lebih
sering. Proses ini merupakan proses fisiologis yang alami, di mana bayi mendapat nutrisi
alami yang paling sesuai dan baik. Hal ini akan menimbulkan refleks prolaktin yang akan
memacu proses produksi ASI. Selain itu, ibu dengan menyusui akan mengalami refleks
oksitosin yang akan membantu proses fisiologis involusi rahim (Mappiwali, 2008; Suradi dan
Kristina, 2004).
Secara psikologis, Ibu dan bayi akan segera terjalin proses lekat (early infant-mother
bonding) karena adanya sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini mempunyai pengaruh
yang besar terhadap perkembangan psikologis bayi karena kehangatan tubuh ibu merupakan
stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi (Mappiwali, 2008; Suradi dan Kristina,
2004). Rawat gabung juga akan memberikan kepuasan pada ibu karena ibu dapat
melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi bagi bayinya
dan keadaan ini akan memperlancar produksi ASI karena seperti telah diketahui, refleks letdown bersifat psikosomatis. Sebaliknya bayi akan mendapatkan rasa aman dan terlindung,
merupakan dasar bagi terbentuknya rasa percaya pada diri anak. Ibu akan merasa bangga
karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila suaminya berkunjung, akan
terasa adanya suatu ikatan kesatuan keluarga (Prawirohardjo, 2008).
Secara edukatif, ibu akan diajari cara menyusui yang benar, cara merawat payudara,
merawat tali pusat, memandikan bayi (Mappiwali, 2008). Keterampilan ini diharapkan dapat
menjadi modal bagi ibu untuk merawat bayi dan dirinya sendiri setelah pulang dari rumah
sakit dan di samping pendidikan bagi ibu, dapat juga dipakai sebagai sarana pendidikan bagi
keluarga, terutama suami, dengan cara mengajarkan suami cara merawat ibu dan bayi. Suami
akan termotivasi untuk memberi dorongan moral bagi istrinya agar mau menyusui bayinya
(Prawirohardjo, 2008).

Secara ekonomi, rawat gabung memungkinkan ibu untuk memberikan ASI sedini
mungkin. Bagi rumah bersalin terutama rumah sakit pemerintah, hal tersebut merupakan
suatu penghematan anggaran pengeluaran untuk pembelian susu formula, botol susu, dot
serta peralatan lain yang dibutuhkan. Lama perawatan ibu menjadi lebih pendek karena
involusi rahim terjadi lebih cepat dan infeksi nosokomial dapat dicegah atau dikurangi,
berarti penghematan biaya bagi rumah sakit maupun keluarga ibu (Mappiwali, 2008; Suradi
dan Kristina, 2004).
Secara medis, pelaksanaan rawat gabung akan menurunkan terjadinya infeksi
nosokomial pada bayi serta menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu maupun bayi
(Mappiwali, 2008; Prawirohardjo, 2008).
1.6 Persyaratan Rawat Gabung yang Ideal
a. Bayi

Ranjang bayi tersendiri yang mudah terjangkau dan dilihat oleh ibu
Bagi yang memerlukan tersedia rak bayi
Ukuran tempat tidur anak 40 x 60 cm

b. Ibu

Ukuran tempat tidur 90 x 200 cm


Tinggi 90 cm

c. Ruang

Ukuran ruang untuk satu tempat tidur 1,5 x 3 m


Ruang dekat dengan ruang petugas (bagi yang masih memerlukan perawatan)

d. Sarana

Lemari pakaian
Tempat mandi bayi dan perlengkapannya
Tempat cuci tangan ibu
Setiap kamar mempunyai kamar mandi ibu sendiri
Ada sarana penghubung
Petunjuk/sarana perawatan payudara, bayi dan nifas, pemberian makanan pada bayi

dengan bahasa yang sederhana


Perlengkapan perawatan bayi

e. Petugas

Rasio petugas dengan pasien 1 : 6


Mempunyai kemampuan dan ketrampilan dalam pelaksanaan RG

1.7 Model Pengaturan Ruangan Rawat Gabung

a. satu kamar dengan satu ibu dan anaknya


b. empat sampai lima orang ibu dalam 1 kamar dengan bayi pada kamar yang lain
bersebelahan dan bayi dapat diambil tanpa ibu harus meninggalkan tempat tidurnya
c. beberapa ibu dalam 1 kamar dan bayi dipisahkan dalam 1 ruangan kaca yang kedap udara
d. model dimana ibu dan bayi tidur di atas tempat tidur yang sama
e. bayi di tempat tidur yang letaknya disamping ibu
1.8 Keuntungan dan Kerugian
a. Keuntungan

Menggalakkan penggunaan ASI


Kontak emosi ibu dan bayi lebih dini dan lebih erat
Ibu segera dapat melaporkan keadaan-keadaanbayi yang aneh
Ibu dapat belajar merawat bayi
Mengurangi ketergantungan ibu pada bidan
Membangkitkan kepercayaan diri yang lebih besar dalam merawat bayi
Berkurangnya infeksi silang
Mengurangi beban perawatan terutama dalam pengawasan

b. Kerugian

Ibu kurang istirahat


Dapat terjadi kesalahan dalam pemberian makanan karena pengaruh orang lain
Bayi bisa mendapatkan infeksi dari pengunjung
Pada pelaksanaan ada hambatan tekhnis/fasilitas

DAFTAR PUSTAKA
Asuhan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Makassar: YAPMA.
Asparin, dkk. 1986. Rawat Gabung Di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito. Yogyakarta:
Universitas Gadjah Mada.
Maryam, A. 2003. Asuhan Kebidanan Neonatus Bayi dan Anak Balita. Makassar: UIT.

Mappiwali, Asrul. 2008. Rawat Gabung (Rooming In). Makassar: FK UNHAS.


Prawirohardo, Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Selasi. Rawat Gabung, Diunduh tanggal 30 Oktober 2012 : http://www.selasi.net/rumahsakit-sayang-ibu-dan-bayi/rawat-gabung.
Stikes Surabaya. Rawat Gabung Diunduh tanggal 30 Oktober 2012 :
http://suratbidanku.blogspot.com/2009/12/ rawat-gabung-rooming-in.html.