Anda di halaman 1dari 16

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Jiwa

Referat
Gangguan Obsesif Kompulsif

Oleh:
Steaffie Eunike Cassandra
11-2014-169
Pembimbing :
dr. Elly Ingkiriwang, Sp.KJ

Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp. 021-56942061

TINJAUAN PUSTAKA
PENDAHULUAN
Gambaran penting gangguan obsesif kompulsif (obsessive-compulsive disorder, OCD)
adalah gejala obsesi atau kompulsi berulang yang cukup berat hingga menimbulkan penderitaan
yang jelas pada orang yang mengalaminya. Obsesi atau kompulsi memakan waktu dan cukup
mengganggu fungsi rutin normal, pekerjaan, aktivitas social biasa, atau hubungan seseorang.
Pasien dengan OCD dapat memiliki obsesi atau kompulsi atau keduanya.1
Obsesi adalah pikiran, perasaan, gagasan, atau sensasi yang berulang dan mengganggu.
Berlawanan dengan obsesi yang merupakan peristiwa mental, kompulsi adalah suatu perilaku.
Secara rinci, kompulsi adalah perilaku yang disadari, standard, dan mengulang, seperti
menghitung, memeriksa, atau menghindar. Pasien dengan OCD menyadari ketidakrasionalan
obsesi dan merasakan obsesi serta kompulsi sebagai ego-distonik.1,2,3
Walaupun tindakan kompulsif dapat dilakukan dalam upaya mengurangi ansietas terkait
obsesi, tindakan ini tidak selalu berhasil. Dilakukannya tindakan kompulsif dapat tidak
memengaruhi ansietas dan bahkan dapat meningkatkannya.
EPIDEMIOLOGI
Prevalensi gangguan obsesif kompulsif pada populasi umum diperkirakan adalah 2
sampai 3 persen. Beberapa peneliti memperkirakan bahwa gangguan obsesif-kompulsif
ditemukan pada sebanyak 10 persen pasien rawat jalan di klinik psikiatrik. Angka tersebut
menyebabkan gangguan obsesif-kompulsif sebagai diagnosis psikiatrik tersering keempat setelah
fobia, gangguan yang berhubungan dengan zat, dan gangguan depresif berat.1,4,5
Untuk orang dewasa, laki-laki dan perempuan sama mungkin terkena, tetapi untuk
remaja, laki-laki lebih sering terkena gangguan obsesif-kompulsif dibandingkan perempuan.
Usia onset rata-rata adalah kira-kira 20 tahun. Secara keseluruhan, kira-kira dua pertiga dari
pasien memiliki onset gejala sebelum usia 25 tahun, dan kurang dari 15 persen pasien memiliki
onset gejala setelah usia 35 tahun. Orang yang hidup sendirian lebih banyak terkena gangguan
obsesif-kompulsif dibandingkan orang yang menikah. Gangguan obsesif-kompulsif ditemukan
lebih jarang diantara golongan kulit hitam dibandingkan kulit putih.1,5

Pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif umumnya dipengaruhi oleh gangguan mental


lain. Prevalensi seumur hidup untuk gangguan depresif berat pada pasien dengan gangguan
obsesif-kompulsif adalah kira-kira 67 persen dan untuk fobia sosial adalah kira-kira 25 persen.
Diagnosis psikiatrik komorbid lainnya pada pasien dengan gangguan obsesif-kompulsif adalah
gangguan penggunaan alkohol, fobia spesifik, gangguan panik, dan gangguan makan.1
KOMORBIDITAS
Orang degan OCD biasanya mengidap gangguan jiwa lainnya. Penderita OCD
mempunyai prevalesi 67 persen mengalami gangguan depresif mayor seumur hidup. Diagnosis
lain yang juga sering mendampingi penderita OCD yaitu penyalahgunaan alcohol, gangguan
ansietas menyeluruh, fobia spesifik, gangguan panic, gangguan makan dan gangguan
kepribadian. Insiden gangguan Tourette pada pasien dengan OCD adalah 5 hingga 7 persen, dan
20 hingga 30 persen pasien OCD memiliki riwayat gangguan tic.1,2,4
ETIOLOGI
Faktor Biologis

Neurotransmiter
Sistem Serotonergik. Banyak percobaan yang dilakukan menyokong hipotesis bahwa

kelainan regulasi serotonin terlibat dalam pembentukan gejala obsesi dan kompulsi. Data
menunjukan bahwa obat serotonergik lebih efektif dibandingkan obat yang mempengaruhi
system neurotransmitter lain, tetapi tidak jelas bahwa serotonin ikut terlibat dalam penyebab
OCD.1,2

Genetik
Penelitian pada anak kembar untuk gangguan obsesif-kompulsif telah secara konsisten

menemukan adanya angka kesesuaian yang lebih tinggi secara bermakna pada kembar
monozigotik dibandingkan kembar dizigotik. Penelitian keluarga pada pasien gangguan obsesif
kompulsif menemukan bahwa 35 persen sanak saudara derajat pertama pasien gangguan obsesifkompulsif juga menderita gangguan.1,2

Faktor Perilaku
Menurut ahli teori pembelajaran, obsesi adalah stimulus yang dipelajari. Stimulus yang
relative netral menjadi dikaitkan dengan rasa takut atau ansietas melalui suatu proses
pembelajaran responden yaitu memasangkan stimulus netral dengan peristiwa yang berbahaya
sifatnya atau menimbulkan ansietas. Dengan demikian, objek dan pikiran yang tadinya netral
menjadi stimulus yang mencetuskan ansietas atau ketidaknyamanan.1,2
Kompulsi dibentuk dengan cara yang berbeda. Ketika seseorang menemukan bahwa
suatu tindakan tertentu mengurangi ansietas yang melekat dengan pikiran obsesional, itu akan
membentuk strategi penghindaran aktif dalam bentuk kompulsi atu perilaku ritualistic untuk
mengendalikan ansietasnya.1
Faktor Psikososial

Faktor Kepribadaian
Gangguan obsesif kompulsif adalah berbeda dari gangguan kepribadian obsesif-

kompulsif. Sebagian besar pasien gangguan obsesif kompulsif tidak memiliki gejala kompulsif
pramorbid. Dengan demikian sifat kepribadian tersebut tidak diperlukan atau tidak cukup untuk
perkembangan gangguan obsesif kompulsif. Hanya kira-kira 15-35 persen pasien gangguan
obsesif kompulsif memiliki sifat obsesional pramorbid.1,2

Faktor Psikodinamik

Sigmund freud asalnya mengonsepkan keadaan yang sekarang kita sebut OCD sebagai
neurosis obsesif kompulsif. Ia menganggap terdapat kemunduran defensive dalam mengalami
dorongan oedipus yang mencetuskan ansietas.1,2 Ia mendalilkan bahwa pasien dengan neurosis
obsesif kompulsif mengalami regresi perkembangan psikoseksual ke fase anal.1
Walaupun terapi psikoanalitik tidak akan mengubah obssi atau kompulsi yang berkaitan
dengan penyakit secara langsung, tilikan psikodinamik dapat memberikan banyak bantuan dalam
memahami masalah dengan kepatuhan terapi, kesulitan interpersonal, dan masalah kepribadian
yang menyertai gangguan Axis I.1

Meskipun gejala OCD dapat didorong secara biologis, pasien dapat menjadi tertarik untuk
mempertahankan simtomatologi karena adanya keuntungan sekunder. Contohnya, pasien lakilaki yang ibunya tinggal di rumah untuk merawatnya, secara tidak sadar dapat ingin bertahan
pada gejala OCD-nya karena gejala tersebut berarti ibunya tetap memperhatikannya.1
Kontribusi pemahaman psikodinamik lainnya melibatkan dimensi interpersonal. Sejumlah
studi menunjukan bahwa kerabat akan mengakomodasi pasien melalui partisipasi aktif di dalam
ritual atau modifikasi kegiatan rutin sehari-hari yang signifikan. Bentuk akomodasi keluarga ini
berhubungan dengan tekanan di dalam keluarga, sikap penolakan terhadap pasien, dan fungsi
keluarga yang buruk. Seringkali, anggota keluarga terlibat dalam upaya mengurangi ansietas
pasien atau mengendalikan ekspresi kemarahan pasien. Pola keterkaitan ini dapat terinternalisasi
dan dimunculkan kembali ketika pasien memasuki lingkungan terapi.
Akhirnya, satu kontribusi pemikiran psikodinamik lainnya adalah mengenali presipitasi yang
memulai atau memperberat gejala. Seringkali, kesulitan interpersonal meningkatkan ansietas
pasien sehingga juga meningkatkan simtomatologi pasien. Riset mengesankan bahwa OCD dapat
dicetuskan oleh sejumlah stressor lingkungan, khususnya melibatkan kehamilan, kelahiran anak,
atau perawatan anak oleh orangtua. Pengertian akan stressor tersebut dapat membantu klinisi
dalam rencana terapi keseluruhan yang mengurangi peristiwa yang membuat stress itu sendiri
atau maknanya bagi pasien.1

Faktor Psikodinamik Lain


Pada teori psikoanalitik klasik, gangguan obsesif kompulsif dinamakan neurosis obsesif

kompulsif dan merupakan suatu regresi dari fase perkembangan oedipal ke fase psikoseksual
anal. Jika pasien dengan gangguan obsesif kompulsif merasa terancam oleh kecemasan tentang
pembalasan dendam atau kehilangan objek cinta yang penting, mereka mundur dari posisi
oedipal dan beregresi ke stadium emosional yang sangat ambivalen yang berhubungan dengan
fase anal. Ambivalensi adalah dihubungkan dengan menyelesaikan fusi yang halus antara
dorongan seksual dan agresif yang karakteristik dari fase oedipal. Adanya benci dan cinta secara
bersama-sama kepada orang yang sama menyebabkan pasien dilumpuhkan oleh keragu-raguan
dan kebimbangan.1

Suatu ciri yang melekat pada pasien dengan gangguan obsesif kompulsif adalah derajat
dimana mereka terpaku dengan agresi atau kebersihan, baik secara jelas dalam isi gejala mereka
atau dalam hubungan yang terletak dibelakangnya.dengan demikian, psikogenesis gangguan
obsesif kompulsif mungkin terletak pada gangguan dan perkembangan pertumbuhan normal
yang berhubungan dengan fase perkembangan anal-sadistik.1
Ambivalensi.

Ambivalensi

adalah

akibat

langsung

dari

perubahan

dalam

karakteristikkehidupan impuls. Hal ini adalah ciri yang penting pada anak normal selama fase
perkembangan anal-sadistik; yaitu anak merasakan cinta dan kebencian kepada suatu objek.
Konflik emosi yang berlawanan tersebut mungkin ditemukan pada pola perilaku melakukantidak melakukan pada seorang pasien dan keragu-raguan yang melumpuhkan dalam berhadapan
dengan pilihan.
Pikiran Magis. Pikiran magis adalah regresi yang mengungkapkan cara pikiran awal,
ketimbang impuls; yaitu fungsi ego dan juga fungsi id, dipengaruhi oleh regresi. Yang melekat
pada pikiran magis adalah pikiran kemahakuasaan. Orang merasa bahwa mereka dapat
menyebabkan peristiwa di dunia luar terjadi tanpa tindakan fisik yang menyebabkannya, sematamata hanya dengan berpikir tentang peristiwa tersebut. Perasaan tersebut menyebabkan memiliki
suatu pikiran agresif akan manakutkan bagi pasien gangguan obsesif kompulsif.1
DIAGNOSIS
Sebagai bagian criteria diagnostic OCD, DSM-IV-TR memungkinkan klinisi merinci
apakah pasien memiliki OCD tipe tilikan yang buruk jika mereka umumnya tidak menyadari
obsesi dan kompulsinya berlebihan.1,2
Kriteria Diagostik DSM-IV-TR Gangguan Obsesi Kompulsif
A. Baik obsesi atau kompulsi:
Obsesi seperti yang dijelaskan dalam (1), (2), (3), dan (4):
(1) Pikiran, impuls atau bayangan yang berulang dan menetap yang dialami pada suatu
waktu selama terjadi gangguan, sebagai sesuatu yang mengganggu dan tidak sesuai
serta dapat menyebabkan ansietas atau distress yang nyata.

(2) Pikiran, impuls atau bayanganan bukalah kekhawatiran berlebihan mengenai masalah
kehidupan yang nyata.
(3) Orang tersebut berupaya mengabaikan atau menekan pikiran, impuls, atau bayangan
tersebut, atau menghilangkannya dengan pikiran atau tindakan lain.
(4) Orang menyadari bahwa pikiran, impuls, atau bayangan obsesional itu adalah hasil
pikiran mereka sendiri (bukan dari luar seperti pada insersi pikiran).
Kompulsi seperti yang dijelaskan dalam (5), dan (6):
(5) Perilaku berulang (cth., mencuci tangan, melakukan urutan, memeriksa) atau tindakan
mental (cth., berdoa, menghitung, mengulang kata-kata di dalam hati) yang membuat
orang tersebut terdorong untuk melakukannya harus sebagai respon terhadap obsesi,
atau menurut aturan yang harus diterapka dengan kaku.
(6) Perilaku atau tindakan mental tersebut ditunjukkan untuk mencegah atau mengurangi
penderitaan atau mencegah peristiwa atau situasi yang menakutkan; meskipun
demikian, perilaku atau tindakan mental ini benar-benar berlebihan atau tidak
berkaitan secara realistic dengan apa yang awalnya hendak dihilangkan atau dicegah.
B. Pada suatu titik selama perjalanan gangguan, penderita menyadari bahwa obsesi atau
kompulsi mereka berlebihan atau tidak beralasan. Catatan: hal ini tidak berlaku pada anak.
C. Obsesi atau kompulsi menyebabkan distress nyata, memakan waktu (lebih dari 1 jam per
hari), atau mengganggu rutinitas normal, fungsi pekerjaan (atau akademik), atau aktivitas
maupun hubungan social secara signifikan.
D. Jika terdapat gangguan aksis I lainnya, isi obsesi atau kompulsi tidak terbatas pada hal
tersebut (cth., preokupasi terhadap makanan dengan adanya trikotilomania; peduli dengan
penampilan dengan adanya gangguan dismorfik tubuh; preokupasi memiliki penyakit berat
dengan adanya hipokondriasis; preokupasi terhadap dorongan atau fantasi seksual dengan
adanya parafilia; atau berpikir mendalam akan rasa bersalah dengan adanya gangguan
depresif berat).
E. Gangguan ini tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung suatu zat (cth., penyalahgunaan
obat, pengobatan) atau kondisi medis umum.

Tentukan jika:
Dengan tilikan buruk: jika untuk sebagian besar waktu selama episode saat ini, orang
tersebut tidak menyadari bahwa obsesi dan kompulsinya berlebihan atau tidak beralasan.
Pedoman diagnosis menurut PPDGJ III (F42 Gangguan Obsesif-Kompulsif)6

Untuk menegakkan diagnosis pasti, gejala-gejala obsesif atau tindakan kompulsif, atau
kedua-duanya, harus ada hampir setiap hari selama sedikitnya dua minggu berturut-turut.

Hal tersebut merupakan sumber penderitaan (distress) atau mengganggu aktivitas


penderita.

Gejala-gejala obsesif harus mencakup hal-hal berikut:


a) Harus disadari sebagai pikiran atau impuls diri sendiri.
b) Sedikitnya ada satu pikiran atau tindakan yang tidak berhasil dilawan, meskipun
ada lainnya yang tidak lagi dilawan oleh penderita.
c) Pikiran untuk melakukan tindakan tersebut di atas bukan merupakan hal yang
memberi kepuasan atau kesenangan (sekedar perasaan lega dari ketegangan atau
anxietas, tidak dianggap sebagai kesenangan seperti dimaksud di atas).
d) Gagasan, bayangan pikiran, atau impuls tersebut harus merupakan pengulangan
yang tidak menyenangkan (unpleasantly repetitive).

Ada kaitan erat antara gejala obsesif, terutama pikiran obsesif, dengan depresi. penderita
gangguan obsesif kompulsif seringkali juga menunjukkan gejala depresif, dan sebaliknya
penderita gangguan depresi berulang dapat menunjukkan pikiran-pikiran obsesif selama
episode depresifnya.
Dalam berbagai situasi dari kedua hal tersebut, meningkat atau menurunnya gejala
depresif umumnya dibarengi secara paralel dengan perubahan gejala obsesif. Bila terjadi
episode akut dari gangguan tersebut, maka diagnosis diutamakan dari gejala-gejala yang
timbul lebih dahulu.
Diagnosis gangguan obsesif kompulsif ditegakkan hanya bila tidak ada gangguan
depresif pada saat gejalobsesif kompulsif tersebut timbul. Bila dari keduanya tidak
adayang menonjol, maka baik menganggap depresi sebagai diagnosis yang primer. Pada
gangguan menahun, maka prioritas diberikan pada gejala yang paling bertahan saat gejala
yang lain menghilang.

Gejala obsesif sekunder yang terjadi pada gangguan skizofrenia, sindrom Tourette, atau
gangguan mental organk, harus dianggap sebagai bagian dari kondisi tersebut.6

GAMBARAN KLINIS
Obsesi dan kompulsi memliki ciri khas tertentu yang sama: suatu gagasan atau impuls
masuk ke dalam kesadaan orang secara menetap dan paksa. Perasaan takut dan cemas menyertai
menifestasi utama dan sering menyebabkan orang mengambil tindakan balas terhadap gagasan
atau impuls awal. Obsesi dan kompulsi merupakan ego-alien; dirasakan sebagai sesuatu yang
asing bagi pengalaman diri sendiri mahluk psikologis. Tidak peduli seberapa kuat dan
memaksanya obsesi atau kompulsi, orang tersebut biasa mengenalinya sebagai sesuatu yang aneh
dan tidak rasional. Orang yang menderita obsesi dan kompulsi biasnya merasakan keinginan
yang kuat untuk menahannya.1-5 Meskipun demikian, separuh dari semua pasien memberikan
tahanan terhadap kompulsi walaupun sekitar 80 persen pasien yakin bahwa kompulsi itu tidak
rasional. Kadang pasien terlalu menilai lebih obsesi dan kompulsi. Contohnya, seseorang pasien
dapat memaksa bahwa kebersihan kompulsif secara moral adalah benar walaupun ia dapat
kehilangan pekerjaan karena waktu yang dihabiskan untuk membersihkan.1,2
Pola Gejala
Tampilan obsesi dan kompulsi heterogen pada orang dewasa dan anak serta remaja.
Gejala seorang pasien dapat berubah dan tumpang tindih seiring berjalannya waktu, tetapi OCD
memiliki empat pola gejala umum.1,7
Kontaminasi. Pola yang paling lazim ditemukan adalah obsesi terhadap kontaminasi,
diikuti kegiatan mencuci atau disertai penghindaran kompulsif objek yang diduga
terkontaminasi. Objek yang ditakuti sering sulit dihindari (contohnya feses, urine, debu, atau
kuman). Pasien mungkin mengelupas kulit tangan dengan mencuci tangan secara berlebihan atau
mungkin tidak mampu meninggalkan rumah karena takut kuman. Walaupun ansietas adalah
respon utama yang lazim terhadap objek yang ditakuti, rasa malu dan jijik obsesif yang lazim.
Pasien dengan obsesi kontaminasi biasaya yakin bahwa kontaminasi disebarkan dari objek ke
objek atau dari orang ke orang bahkan melalui kontrak terkecil.1,2,7

Keraguan Patologis. Pola gejala yang paling lazim kedua adalah suatu obsesi keraguan,
diikuti kompulsi memeriksa. Obsesi ini sering melibatkan suatu bahaya kekerasan (seperti lupa
mematikan kompor atau tidak mengunci pintu). Seperti contoh, pemeriksaan ini dapat berupa
bolak-balik ke rumah untuk memeriksa kompor. Pasien memeliki obsesi keraguan akan diri
sendiri dan selalu merasa bersalah karena lupa atau melakukan sesuatu.
Pikiran yang Mengganggu. Pola gejala yang paling lazim ketiga adalah adanya pikiran
obsesif yang mengganggu tanpa suatu kompulsi. Obsesi seperti itu biasanya merupakan pikiran
berulang mengenai tindakan sensual atau agresif yang tercela bagi pasien. Pasien yang terobsesi
dengan pikiran tindakan yang agresif atau seksual dapat melaporkan dirinya sendiri ke polisi atau
mengaku pada pendeta.
Simetri. Pola gejala yang paling lazim keempat adalah kebutuhan akan simetri atau
ketepatan yang dapat menyebabkan kompulsi mengenai kelambatan. Pasien dapat memakan
waktu berjam-jam untuk makan atau mencukur wajahnya.
Pola Gejala Lain. Obsesi religious dan kompulsi menumpuk sesuatu lazim ditemukan
pada pasien dengan OCD. Trikotilomania (kompulsi menarik-narik rambut) dan menggigit-gigit
kuku dapat merupakan kompulsi yang terkait dengan OCD.1,2,7
Pemeriksaan Status Mental
Pada pemeriksaan status mental, pasien dengan OCD juga dapat menunjukan gejala
gangguan depresif. Gejala seperti itu terdapat pada sekitar 50 persen pasien. Sejumlah besar
pasien OCD memiliki ciri khas yang mengesankan gangguan kepribadian obsesif kompulsif
tetapi sebagian besar tidak. Pasien dengan OCD, terutama laki-laki, memiliki angka yang
membunjang lebih tinggi dari rata-rata. Pasien yang menikah memiliki jumlah perpecahan
perkawinan yang lebih besar dari biasa.1,2,7
PERJALANAN GANGGUAN DAN PROGNOSIS
Lebih dari separuh pasien dengan OCD memiliki awitan gejala yang mendadak. Awitan
gejala untuk sekitar 50 hingga 70 persen pasien terjadi setelah peristiwa yang penuh tekanan,
seperti kehamilan, masalah seksual, atau kematian kerabat. Karena banyak orang tetap
merahasiakan gejalanya, sering terdapat penundaan 5 hingga 10 tahun sebelum pasien datang

untuk medapatkan perhatian psikiatri, walaupun penundaan mungkin memendek dengan


meningkatnya kewaspadaan terhadap gangguan ini. Perjalanan gangguan biasanya lama terapi
bervariasi; sejumlah pasien mengalami perjalanan gangguan yang berfluktuasi sedangkan pasien
lain mengalami perjalanan gangguan yang konstan.1,2,7
Sekitar 20 hingga 30 persen pasien mengalami perbaikan gejala yang signifikan dan 40
hingga 50 persen mengalami perbaikan sedang. Sisa 20 sampai 40 persen tetap sakit atau
mengalami perburukan gejala.
Sekitar sepertiga hingga separuh pasien dengan OCD memiliki gangguan depresif berat
dan bunuh diri merupakan resiko untuk semua pasien dengan OCD. Prognosis buruk ditunjukkan
dengan menyerah pada (bukan menahan) kompulsi, awitan pada masa kanak, kompulsi yang
aneh, kebutuhan akan perawatan di rumah sakit, gangguan depresif berat yang juga timbul
bersamaan, keyakinan waham, adanya penilaian berlebihan terhadap gagasan (yaitu penerimaan
obsesi dan kompulsi), dan adanya gangguan kepribadian (terutama gangguan kepribadian
skizotipal). Prognosis yang baik ditunjukkan dengan adanya penyesuaian social dan pekerjaan
yang baik, adanya peristiwa yang mencetuskan, dan sifat episodic gejala. Isi obsesional
tampaknya tidak berkaitan dengan prognosis.1,2,7
TERAPI
Dengan meningkatnya bukti bahwa OCD dalam porsi besar ditentukan oleh factor
biologis, teori psikoanalitik klasik tidak disetujui. Lebih lagi, karena kebanyakan gejala OCD
tampak refrakter terhadap psikoterapi psikodinamik dan psikoanalisis, terapi farmakologis dan
perilaku menjadi lazim. Namun, factor psikodinamik dapat cukup menguntungkan dalam
memahami hal yang menginduksi perburukan gangguan dan dalam memahami hal yang
menginduksi perburukan gangguan dan dalam menterapi berbagai bentuk resistensi terhadap
terapi, seperti ketidakpatuhan pengobatan.1,2
Banyak pasien dengan OCD bertahan menolak upaya terapi. Mereka menolak meminum
obat dan menolak menjalankan tugas rumah serta aktivitas lain yang disarankan ahli terapi
perilaku. Gejala obsesif kompulsif itu sendiri, walaupun memiliki dasar biologis, dapat memiliki
arti psikologis penting yang membuat pasien enggan menghentikannya. Penggalian
psikodinamik resistensi pasien terhadpat terapi dapat meningkatkan kepatuhan.

Studi yang terkontrol baik menemukan bahwa farmakoterapi, terapi perilaku, atau
kombinasi keduanya sama efektif dalam mengurangi gejala pasien OCD secara signifikan.
Keputusan mengenai terapi yang akan digunakan didasarkan pada penilaian dan pengalaman
klinis serta pada penerimaan pasien terhadap berbagai modalitas.1
Farmakoterapi
Efektivitas faarmakoterapi terhadap OCD terbukti melalui banyaknya percobaan klinis
dan diperkuat dengan adanya pengamatan bahwa studi tersebut menemukan angka respons
placebo sekitar 5 persen. Presentase ini rendah dibandingkan 30 hingga 40 persen angka respons
placebo yang sering terlihat pada studio bat antidepresan dan ansiolitik.
Semua obat-obatnya yang digunakan dalam terapi gangguan depresif atau gangguan jiwa
lainnya, dapat digunakan dengan kisaran dosis yang biasa. Efek awal unumnya terlihat setelah 4
sampai 6 minggu terapi walaupun 8 hingga 16 minggu biasanya diperlukan untuk memperoleh
keuntungan terapeutik maksimal. Terapi dengan obatan antidepresan masih konvensional dan
suatu proporsi signifkan dengan pasien dengan OCD yang memberikan respons terhadap terapi
obat antidepresan cenderung kambuh jika terapi obat dihentikan.1,2
Pendekatan standarnya adalah memulai dengan SSRI atau clomipramine (Anafranil) dan
kemudian berpindah ke strategi farmakologis lain jika obat spesifik serotonin tidak efektif. Obat
serotonergik meningkatkan presentase pasien dengan OCD yang cenderung memberikan respons
terhadap terapi hingga kisaran 50 sampai 70 persen.1-5,7
Selective Serotonin Reuptake Inhibitor. SSRI- fluoxetine (Prozac), sitalopram
(Celexa), escitalopram (Lexapro), fluvoksamin (Luvox), paroksetin (Paxil), sertralin (Zoloft)
telah disetujui U.S. Food and Drug Administration (FDA) untuk terapi OCD. Dosis yang lebih
tinggi sering diperlukan untuk memberikan efek yang menguntungkan, seperti fluoxetine 80 mg
per hari. Walaupun SSRI dapat menyebabkan gangguan tidur, mual dan diare, sakit kepala,
ansietas, dan kegelisahan, efek simpang ini sering sementara dan umumnya tidak terlalu
menyulitkan daripada efek simpang obat trisiklik, seperti clomipramine (Anafranil). Hasil klinis
terbaik didapatkan ketika SSRI dikombinasikan dengan terapi perilaku.1,2,7

Clomipramine. Dari semua obat trisiklik dan tetrasiklik, clomipramine adalah yang
paling selektif untuk ambilan kembali serotonin versus ambilan kembali norepinefrin, dan dalam
hal ini hanya dilebihi oleh SSRI. Potensi ambilan kembali serotonin oleh clomipramine
dilampaui hanya oleh sertralin dan paroksetin. Clomipamine adalah obat pertama yang disetuji
U.S FDA untuk terapi OCD. Penggunaan dosisnya harus dititrasi meningkat selama 2 hingga 3
minggu untuk menghindari efek simpang gastrointestinal dan hipotensi ortostatik serta, seperti
obat trisiklik lainnya, obat ini menimbulkan sedasi dan efek antikolinergik yang bermakna,
termasuk mulut kering dan konstipasi. Seperti SSRI, hasil terbaik berasal dari kombinasi obat
dengan terapi perilaku.1-5,7
Obat Lain. Jika terapi dengan clomipramine atau SSRI tidak berhasil, banyak terapis
memperkuat obat pertama dengan penambahan valproat (Depakene), litium (Eskalith), atau
karbamazepin (Tegretol). Obat lain yang dapat dicoba di dalam terapi OCD adalah venlafaksin
(Effexor), pindolol (Viksen), dan MAOI, khususnya fenelzin (Nadril). Agen farmakologis lain
untuk terapi pasien yang tidak responsive mencakup buspiron (BuSpar), 5-hidroksitriptamin (5HT), L-triptofan, dan klonaxepam (Klonipin). Agen antipsikotik dapat membantu ketika juga
terdapat gangguan tic atau sindrom Tourette.1
Terapi Perilaku
Walaupun baru sedikit perbandingan satu per satu yang telah dilakukan, terapi perilaku sama
efektifnya dengan farmakoterapi pada OCD, dan sejumlah data menunjukkan bahwa efeknya
menguntungkan bertahan lama dengan adanya terapi perilaku. Dengan demikian, banyak lebih
klinisi mempertimbangkan terapi perilaku sebagai terapi perilaku sebagai terapi pilihan OCD.
Terapi perilaku dapat dilakukan dilingkungan rawat inap dan rawat jalan. Pendekatan perilaku
yang penting di dalam OCD adalah pajanan dan pencegahan respons. Desentisisasi, penghentian
pikiran, pembajiran, terapi implosi, dan aversive conditioning juga telah digunakan pada pasien
OCD. Di dalam terapi perilaku, pasien harus benar-benar berkomitmen terhadap perbaikan.1-5,7
Psikoterapi
Tanpa adanya studi yang adekuat mengenai psikoterapi berorientasi tilikan untuk OCD,
setiap generalisasi yang valid mengenai evfektivitasnya sulit dibuat, walaupun terdapat laporan

tidak resmi mengenai keberhasilannya. Analis individual melihat perubahan mencolok dan
bertahan lama untuk kebaikan pasien dengan gangguan kepribadian obsesif kompulsif,
khususnya ketika mereka bisa menghadapi impuls agresif yang terletak di belakang cirri karakter
mereka. Demikian juga, analis dan psikiater berorientasi dinamis mengamati perbaikan
simtomatik yang nyata pada pasien dengan OCD dalam proses analisis atau psikoterapi tilikan
yang lama.1-5,7
Psikoterapi suportif secara pasti memiliki tempat, terutama pada pasien OCD yang
walaupun gejalanya memiliki keparahan yang beragam, mampu bekerja dan melakukan
penyesuaian social. Dengan kontak regular dan terus-menerus dengan orang yang professional,
tertarik, simpatik, dan member semangat, pasien mungkin mampu berfungsi dengan bantuan ini,
yang tanpanya, gejala tersebut dapat menjadikan mereka lemah. Kadang-kadang ketika ritual
obsesional dan ansietas mencapai intensitas yang tidak dapat ditoleransi pasien perlu di rawat
inap sampai tempat singgah di institusi dan penjauhan dari stres lingkungan mengurangi gejala
hingga tingkat yang dapat ditoleransi.1,2
Anggota keluarga pasien sering didorong ke ambang keputusasaan karena perilaku
pasien. Setiap upaya keras psikoterapi harus mencakup perhatian anggota keluarga melalui
pemberian dukungan emosional, penenangan, penjelasan, dan saran untuk mengatur dan
berespons kepada pasien.1
Terapi Lain
Terapi keluarga sering berguna dalam mendukung keluarga, membantu mengurangi
perpecahan perkawinan akibat gangguan ini, dan membangun hubungan kerjasama terapi dengan
anggota keluarga untuk kebaikan pasien. Terapi kelompok berguna sebagai system dukungan
untuk sejumlah pasien.1
Untuk kasus ekstrem pada pasien yang sangat resisten terhadap terapi, terapi
elektrokonvulsif dan psychosurgery dapat dipertimbangkan. Terapi elektrokonvulsif tidak
seefektif psychosurgery, tetapi harus dicoba sebelum melakukan pembedahan. Prosedur
psychosurgery yang paling lazim untuk OCD adalah eingulotomi, yang berhasil di dalam terapi
25 sampai 30 persen pasien yang tidak responsif dengan terapi lain. Komplikasi psychosurgery

yang paling lazim adalah timbulnya kejang, yang hampir selalu dapat dikendalikan oleh terapi
fenitoin (Dilantin). Sejumlah pasien yang tidak berrespon terhadap farmakoterapi atau terapi
perilaku sebelum operasi, berespon terhadap farmakoterapi atau terapi perilaku setelah
psychosurgery.1,2

Daftar Pustaka
1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadock buku ajar psikiatri klinis. Ed. 2. Jakarta:
EGC; 2010. h. 247-52.
2. Kay J, Tasman A. Essentials of psychiatry. England: John Wiley & Sons; 2006. h.

3.

607-25.
The British Psychological Society & The Royal College of Psychiatrists.
Obsessive-compulsive disorder and body dysmorphic disorder. PubMedHealth

2006; 31.
4. Fenske JN, Schwenk TL. Obsessive compulsive disorder: diagnosis and
5.

management. Am Fam Physician 2009; 80 (3): 23945.


Grant JE. Clinical practice: Obsessive-compulsive disorder. The New England

Journal of Medicine 2014; 371 (7): 64653.


6. Maslim R. Diagnosis gangguan jiwa, rujukan ringkas ppdgj-iii. Jakarta: Bagian
Ilmu Kedokteran Jiwa FK-Unika Atmajaya; 2003. h. 76.
7. Elvira SD, Hadisukanto G. Buku ajar psikiatri. Edisi kedua. Jakarta: Badan

Penerbit FKUI; 2013. h. 273-6.

Anda mungkin juga menyukai