Anda di halaman 1dari 23

PENGAWASAN DAN PENDUGAAN KUALITAS LINGKUNGAN

MAKALAH
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Pencemaran Lingkungan
yang dibina oleh Ibu Frida Kunti Setiowati, S.T., M.Si.

Oleh Kelompok 2:
Kelompok 2/Kelas GK-HK/ Offering G-H
Arifah Fikriya Z. M.

(130342615339)

Erni Widya Ningtiyas (130342615334)


Nafisatuzzamrudah

(130342615327)

Nanda Agus A. T.

(130342615351)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
April 2016

PENGAWASAN DAN PENDUGAAN DAMPAK KUALITAS LINGKUNGAN


Kualitas lingkungan hidup yang semakin menurun telah mengancam kelangsungan
perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, serta pemanasan global yang semakin
meningkat yang mengakibatkan perubahan iklim dan hal ini akan memperparah penurunan
kualitas lingkungan hidup. Untuk itu perlu dilakukan perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup yang sungguh-sungguh dan konsisten oleh semua pemangku kepentingan.
PENGAWASAN DAMPAK KUALITAS LINGKUNGAN
Hukum merupakan instrumen dari sosial kontrol, dan sarana perubahan sosial atau
sarana

pembangunan,

maka

pengaturan

hukum

diperlukan

guna

mencegah

dan

menanggulangi dampak negatif dari pembangunan. Kebutuhan terhadap pengaturan hukum


secara komprehensif menjadi alasan bagi istilah pengaturan hukum sebagai bagian dari
keseluruhan judul penelitian ini. Pengaturan hukum menurut Alvi Syahrin (1999)
mencerminkan bagaimana suatu bangsa berupaya menggunakan hukum sebagai instrumen
mencegah dan menanggulangi dampak negatif dari pembangunan.
Hukum lingkungan merupakan bidang ilmu yang masih muda yang perkembangannya
baru terjadi pada dua dasawarsa terakhir ini. Apabila dikaitkan dengan peraturan perundangundangan yang mengatur berbagai aspek lingkungan, maka panjang atau pendeknya sejarah
tentang peraturan tersebut tergantung daripada apa yang dipandang sebagai environmental
concern (perhatian terhadap lingkungan)(Hardjasoemantri,1999).
Menurut Siti Sundari Rangkuti, bahwa hukum lingkungan sebagai hukum yang
fungsional yang merupakan potongan melintang bidang-bidang hukum klasik sepanjang
berkaitan dan/atau relevan dengan masalah lingkungan hidup.13 Artinya, hukum lingkungan
mencakup aturan-aturan hukum administrasi, hukum perdata, hukum pidana dan hukum
internasional sepanjang aturan-aturan itu mengenai upaya pengelolaan lingkungan hidup.
Pencakupan beberapa bidang hukum ke dalam hukum lingkungan berdasarkan pemikiran
para pakar ekologi, bahwa masalah lingkungan harus dilihat dan diselesaikan berdasarkan
pendekatan menyeluruh dan terpadu.
Law enforcementatau penegakan hukum lingkungan terhadap pencemar dan perusak
lingkungan diperlukan sebagai salah satu jaminan untuk mewujudkan dan mempertahankan
kelestarian fungsi lingkungan. Oleh karena itu, meningkatnya kepatuhan pelaku
pembangunan untuk menjaga kualitas fungsi lingkungan menjadi sasaran prioritas di bidang
penaatan lingkungan. Program-program di bidang penaatan lingkungan ini mencakup:

pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan dan pengembangan kapasitas


pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
Upaya preventif dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup perlu
dilaksanakan dengan mendayagunakan secara maksimal instrumen pengawasan dan
perizinan. Dalam hal pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup sudah terjadi, perlu
dilakukan upaya represif berupa penegakan hukum yang efektif, konsekuen, dan konsisten
terhadap pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup yang sudah terjadi. Sehingga perlu
dikembangkan satu sistem hukum perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup yang
jelas, tegas, dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum sebagai landasan bagi
perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam serta kegiatan pembangunan lain
(Patterson,1963).
Di bidang pengendalian pencemaran, penegakan hukum pidana dan administrasi
lingkungan menjadi salah satu kegiatannya. Indikatornya adalah meningkatnya efektifitas
penegakan hukum pidana dan administrasi lingkungan, terlaksananya advokasi litigasi kasus
pidana lingkungan, pembinaan dan optimalisasi, peningkatan jumlah dan kapasitas Pejabat
Pengawas Lingkungan Hidup dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil, serta terselenggaranya
sistem penegakan hukum satu atap di daerah.
Masih dalam lingkup pengendalian pencemaran, penegakan hukum perdata dan
penyelesaian sengketa di luar pengadilan merupakan kegiatan utamanya. Indikator kegiatan
ini adalah meningkatnya efektifitas penegakan hukum perdata dan penyelesaian sengketa
lingkungan di luar pengadilan, terbentuknya jaringan antara ahli, organisasi non politik
(LSM), pengacara dalam penanganan gugatan lingkungan, Penaatan hukum di bidang
lingkungan hidup oleh para pelaku kegiatan di bidang lingkungan hidup mutlak diperlukan
untuk mencegah dampak negatif dari kegiatan yang dilakukan. Menurut struktur
ketatanegaraan di era otonomi daerah, koordinasi pengelolaan lingkungan termasuk penaatan
hukum berada di tingkat Nasional, Provinsi, Kabupaten dan Kota. Karena itu diperlukan kerja
sama yang baik antara institusi di tingkat pusat, dalam hal ini Kementerian Negara
Lingkungan Hidup dengan Badan Lingkungan Hidup Provinsi, utamanya dalam hal
penguatan kapasitas kelembagaan di bidang penegakan hukum.
Dalam Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 32
tahun 2009, disebutkan bahwa untuk mewujudkan kualitas lingkungan hidup yang lebih baik,
diperlukan adanya fungsi pengawasan, pemantauan dan penyidikan. Pengawasan dan
penyidikan merupakan salah satu komponen penting dalam penegakan hukum baik hukum
administrasi, perdata maupun pidana.

Dalam melaksanakan pengawasan dan pemantauan kualitas lingkungan hidup di


daerah, Pemerintah Indonesia memiliki Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup Daerah yang
disingkat dengan (PPLHD) seperti yang diamanatkan dalam Undang-Undang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Nomor 32 Tahun 2009 bahwa dalam melaksanakan
pengawasan, Menteri, Gubernur, atau Bupati/Walikota menetapkan pejabat pengawas
lingkungan hidup yang merupakan pejabat fungsional. Peranan, fungsi dan kedudukan serta
kewenangan PPLHD dimaksud lebih dipertegas lagi dengan Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup RI Nomor 58 Tahun 2002 tentang Tata Kerja Pejabat Pengawas
Lingkungan Hidup di Provinsi/Kabupaten/Kota.
Meskipun sudah lewat tujuh tahun dari proses perubahan terakhir UUD 1945 pada
tahun 2002, belum banyak pihak-pihak yang menaruh perhatian atas kajian konstitusi yang
bersentuhan dengan permasalahan lingkungan hidup. Padahal ketentuan hasil perubahan
membawa makna penting sekaligus secercah harapan bagi tersedianya jaminan konstitusi atas
keberlangsungan lingkungan di alam khatulistiwa ini. Pasal 28H ayat (1) dan Pasal 33 ayat
(4) UUD 1945 merupakan ketentuan kunci tentang diaturnya norma mengenai lingkungan di
dalam konstitusi. Secara berturut turut kedua Pasal tersebut berbunyi sebagai berikut:
Pasal 28H ayat (1) : Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat
tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh
pelayanan kesehatan.
Pasal 33 ayat (4) : Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi
ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan,

berkelanjutan, berwawasan

lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan


ekonomi nasional
Berdasarkan kedua Pasal tersebut di atas maka sudah jelas bahwa UUD 1945 juga
telah mengakomodasi perlindungan konstitusi (constitutional protection) baik terhadap warga
negaranya untuk memperoleh lingkungan hidup yang memadai maupun jaminan terjaganya
tatanan lingkungan hidup yang lestari atas dampak negatif dari aktivitas perekonomian
nasional.
Ketentuan ini mengandung pengertian bahwa setiap warga negara berhak dan
memperoleh jaminan konstitusi (constitutional guranteee) untuk hidup dan memperoleh
lingkungan hidup yang baik dan sehat untuk tumbuh dan berkembang. Perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan Pasal 1 angka (2) Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH) adalah
upaya sistematis dan terpadu yang dilakukan untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup dan

mencegah terjadinya pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup yang meliputi


perencanaan, pemanfaatan, pengendalian, pemeliharaan, pengawasan, dan penegakan hukum.
Pengendalian dampak lingkungan hidup merupakan upaya untuk melakukan tindakan
pengawasan terhadap suatu aktivitas yang dilakukan oleh setiap orang terutama perusahaanperusahaan yang menimbulkan dampak besar tehadap lingkungan. Dalam hal ini dampak
lingkungan hidup diartikan sebagai pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yng
diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan(Santosa,2004).
Oleh karena itu upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup menjadi
kewajiban bagi negara, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan dalam pelaksanaan
pembangunan berkelanjutan agar lingkungan hidup Indonesia dapat tetap menjadi sumber
dan penunjang hidup bagi rakyat Indonesia serta makhluk hidup lain.
Ketentuan Pasal 1 angka (3) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, menetapkan bahwa pembangunan
berkelanjutan sebagai upaya sadar dan terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup,
sosial, dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan
hidup serta keselamatan, kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan
generasi masa depan.
Pengelolaan lingkungan hidup memberikan kemanfaatan ekonomi, sosial, dan budaya
serta perlu dilakukan berdasarkan prinsip kehati-hatian, demokrasi lingkungan, desentralisasi,
serta pengakuan dan penghargaan terhadap kearifan lokal dan kearifan lingkungan, sehingga
lingkungan hidup Indonesia harus dilindungi dan dikelola dengan baik berdasarkan asas
tanggung jawab negara, asas keberlanjutan, dan asas keadilan.
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan
makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri,
kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Upaya
pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup adalah pengelolaan
dan pemantauan terhadap usaha dan/atau kegiatan yang tidak berdampak penting terhadap
lingkungan

hidup

yang

diperlukan

bagi

proses

pengambilan

keputusan

tentang

penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.


PENDUGAAN KUALITAS LINGKUNGAN
Pasal 3 huruf g Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlidungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup menjelaskan bahwa perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup bertujuan untuk menjamin pemenuhan dan perlindungan hak atas

lingkungan hidup sebagai bagian dari hak asasi manusia. Artinya bahwa orang perseorangan,
kelompok orang, atau badan hukum berhak untuk menikmati lingkungan hidup yang tertata
apik (asri) dan memenuhi syarat-syarat kesehatan, sehingga terwujud lingkungan yang
harmoni dimana manusia Indonesia dapat berkembang dalam keselarasan, keserasian, dan
keseimbangan yang dinamis. Secara tidak langsung, pemerintah mempunyai kewajiban untuk
mewujudkan suatu
lingkungan yang baik dan sehat tersebut.
Dengan adanya hak asasi sosial atau hak subjektif ini, maka setiap warga negara
berhak menuntut negara untuk mewujudkan suatu lingkungan yang baik dan sehat. Heinhard
Steiger dengan tulisan The Fundamental Right to a Decent Environment dalam Trends in
Environmental Policy and Law menyatakan bahwa apa yang dinamakan hak-hak subjektif
(subjective right) adalah bentuk yang paling luas dari perlindungan seseorang.
Dengan hak-hak subjektif tersebut akan diberikan kepada yang mempunyainya suatu
tuntutan yang sah guna meminta kepentingannya akan suatu lingkungan hidup yang baik dan
sehat itu dihormati, suatu tuntutan yang dapat didukung oleh prosedur hukum, dengan
perlindungan hukum oleh pengadilan dan perangkat-perangkat lainnya. Tuntutan tersebut
mempunyai 2 (dua) fungsi yang berbeda, yaitu fungsi pertama, adalah yang dikaitkan pada
hak membela diri terhadap gangguan dari luar yang menimbulkan kerugian pada
lingkungannya, sedangkan fungsi yang kedua dikaitkan pada hak menuntut dilakukannya
sesuatu tindakan agar lingkungannya dapat dilestarikan, dipulihkan atau diperbaiki.
Penegakan peraturan perundang-undangan perlu sekali bagi perlindungan hukum
lingkungan hidup seseorang. Perlindungan ini biasanya dilaksanakan melalui proses
peradilan.
Akan tetapi, adapula kemungkinan-kemungkinan lain guna penegakan hukum
lingkungan, sepeti misalnya hak untuk berperan serta dalam prosedur administratif atau untuk
mengajukan permohonan banding kepada lembagalembaga administratif yang lebih tinggi.
Apabila hak atas lingkungan yang baik dan sehat dihubungkan dengan kewajiban memelihara
kelestarian fungsi lingkungan hidup, berarti lingkungan hidup beserta dengan sumber daya
yang terdapat di dalamnya merupakan milik bersama dan dengan sendirinya tidak hanya
melindungi kepentingan individual, kelompok orang atau badan hukum saja, tetapi juga
melindungi kepentingan bersama secara menyeluruh dari orang yang mendiami lingkungan
hidup tersebut. Karena itu, masyarakat atau individu dapat mengajukan gugatan ganti
kerugian dan/atau tuntutan melakukan tindakan tertentu terhadap individu, kelompok orang
atau badan hukum yang telah melakukan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup,

yang membawa akibat pada terganggunya kelestarian fungsi lingkungan hidup yang baik dan
sehat tersebut. Guna mencegah terjadi permasalahan dalam pengelolaan lingkungan hidup
diperlukan sebuah pengawasan yang eligible (memenuhi syarat) dan dilengkapi dengan
perangkat-perangkat hukum sebagai dasar pengawasan itu sendiri. Secara terminologi
menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup RI Nomor 7 Tahun 2001 bahwa pengawasan
lingkungan hidup adalah kegiatan yang dilaksanakan secara langsung atau tidak langsung
oleh PPLH dan PPLHD untuk mengetahui tingkat ketaatan penanggung jawab usaha dan atau
kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan pengendalian pencemaran dan
atau kerusakan lingkungan hidup.
Ironisnya, meskipun konstitusi dan Undang-Undang berikut peraturan perundangundangan lainnya telah mengamanatkan bahwa pemerintah mempunyai
kewenangan untuk melakukan pengawasan terhadap kegiatan dan/atau usaha, namun dalam
kenyataannya pengawasan dimaksud belum dapat berjalan dengan optimal.
Masih banyak kendala yang dihadapi oleh pemerintah yang dalam hal ini dijalankan
oleh Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH) dan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup
Daerah (PPLHD) untuk melakukan pengawasan dalam rangka perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup.
LICHEN
Menurut Permen Lingkungan Hidup No 12 Tahun 2010, pencemaran udara adalah
masuknya atau dimasukkannya zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam udara ambien
oleh kegiatan manusia, sehingga melampaui baku mutu udara yang telah ditetapkan. Zat,
energi dan/atau komponen lain tersebut disebut polutan. Polutan tersebut jika terlalu banyak
di lingkungan akan merusak lingkungan yang ada di sekitarnya baik itu manusia, hewan, dan
tumbuhan.
Beberapa tumbuhan dapat memberikan respon yang kurang baik terhadap adanya
pencemaran di udara

misalnya

lumut kerak. Lumut kerak dapat digunakan sebagai

bioindikator adanya pencemaran udara karena mudah menyerap zat -zat kimia yang ada di
udara dan dari air hujan. Hadiyati, dkk (2013) menyatakan bahwa talus lumut kerak tidak
memiliki kutikula sehingga mendukung lumut kerak dalam menyerap semua unsur senyawa
di udara termasuk SO2 yang akan diakumulasikan dalam talusnya. Kemampuan tersebut
yang menjadi dasar penggunaan lumut kerak untuk pemantauan pencemaran udara.
Selanjutnya, Hardini (2010) menyatakan bahwa lumut kerak adalah spesies indikator terbaik
yang menyerap sejumlah besar kimia dari air hujan dan polusi udara. Adanya kemampuan ini

menjadikan lumut kerak sebagai bioindikator yang baik untuk melihat adanya suatu kondisi
udara pada suatu daerah yang tercemar atau sebaliknya.
Menurut Richardson (1988, dalam Wijaya, 2010), lumut kerak sangat berguna dalam
menunjukkan beban polusi yang terjadi dalam waktu yang lama. Untuk melihat apakah udara
pada suatu daerah telah tercemar atau tidak, dapat di lihat dari pertumbuhan lumut kerak yang
menempel di pohon-pohon atau batu. Lumut kerak yang berada pada suatu daerah yang telah
tercemar akan menunjukkan respon pertumbuhan yang kurang baik dibandingkan dengan
lumut kerak yang tumbuh subur di daerah yang tidak tercemar. Hardini (2010) menyatakan
bahwa pertumbuhan dan kesuburan lumut kerak kurang baik bila daerahnya telah mengalami
perubahan kondisi lingkungan akibat pencemaran udara, yang secara langsung atau tidak
langsung, dapat menyebabkan beberapa hal yang dapat menghambat pertumbuhan atau
keberadaan suatu jenis lumut kerak.
Lichen merupakan tumbuhan epifit pada pohon-pohon, di atas tanah, terutama di
daerah tundra di sekitar kutub utara. Tergolong tumbuhan perintis yang berperan dalam
pembentukan tanah. Tidak memerlukan syarat hidup yang tinggi dan tahan kekurangan air
dalam jangka waktu yang lama dan pertumbuhan talus sangat lambat. Lichen adalah spesies
indikator terbaik yang menyerap sejumlah besar kimia dari air hujan dan polusi udara.
Sensitif terhadap racun sehingga berguna sebagai indikator peringatan dini untuk memantau
kesehatan lingkungan. Distribusi dan kerapatan lichen berguna untuk mengidentifikasi daerah
yang terkontaminasi.
Lichen digunakan sebagai bahan penelitian, dengan melihat secara morfologi dan
fisiologis, karena tumbuhan ini berpotensi untuk menunjukkan adanya polusi udara.
Penelitian lainnya menggunakan bioindikator lichen yaitu Leprariasp yang tumbuh pada
pohon mahoni (Swietenia macrophyllaKing.) untuk mengetahui tingkat pencemaran Pb
di udara akibat emisi kendaraan bermotor. Peningkatan volume kendaraan akan diikuti
dengan peningkatan konsentrasi Pb pada Lepraria sp.
Pada daerah dimana pencemaran udara telah terjadi jumlah jenis yang ada akan
sedikit dan jenis yang peka sekali akan hilang. Ketiga genus tersebut Lecidea, Parmeliadan
Lecanora, merupakan genus yang resisten terhadap tampak

Lecideapaling banyak

ditemukan. Umumnya Lichen tahan terhadap perubahan temperature dan kekeringan,


tetapi ada juga yang tidak tahan. Banyak diantara lichen tidak dapat bertahan terhadap polusi
udara, sensitif terhadap sulfur dioksida dan racun udara lainnya. Kematian Lichen dan
peningkatan dalam jumlah spesies yang lebih tahan dalam suatu daerah dapat dijadikan
peringatan dini akan kualitas udara yang sedang memburuk.

Lichen sebagai tumbuhan fotosintetik membutuhkan CO2 sampai batas tertentu. Jika
kadar CO2 telah melampaui batas yang dibutuhkan, justru menurunkan laju fotosintetik.
Dengan meningkatkan SO2, CO, dan CO2 di udara akan meningkatkan suhu udara disekitar
lingkungan tersebut. Suhu yang tinggi akan meningkatkan laju respirasi dan menurunkan laju
fotosintesis. Jika hal tersebut terus berlangsung akan menyebabkan kematian lichen.
Perubahan

lingkungan menyebabkan lumut kerak berubah dalam keanekaragamannya,

morfologinya, fisiologinya, genetik, dan kemampuan mengakumulasi zat pencemar udara


(Hardini,2010).
Berikut ini adalah beberapa jenis spesies yang sering ditemui sebagai bioindikator.
1. Physcia aipolia
Physcia aipolia merupakan jenis lumut kerak dari suku Physciaceae dengan ciri-ciri
melekat pada kayu, memiliki tipe talus foliose, terdapat soredia pada talusnya dan
permukaan atas dengan titik putih.
2. Parmelia sulcata
Parmelia sulcata memiliki ciri-ciri memiliki talus foliose yang berwarna hijau,
terdapat isidia dan soredia tetapi tidak memiliki lobus tidak tetap, permukaan atas
talus tanpa pori -pori dengan permukaan bagian bawah hitam. Permukaan talus
soredia bawah berwarna hitam, terdapat garis putih pada permukaan atas, dan
permukaan atas soredia tepi jarang pada batas.
3. Dirinaria picta
Dirinaria picta adalah talusnya memiliki soredia dengan bentuk membulat dan biasa,
serta terdapat lobus berlainan. Dirinaria picta ini memiliki tipe talus foliose.

Penggunaan

lichen

sebagai bioindikator

dinilai lebih efisien dibandingkan

menggunakan alat atau mesin indikator ambien yang dalam pengoperasiannya memerlukan
biaya yang besar dan penanganan khusus (Loopi et al. 2002). Lumut kerak atau lichen
adalah salah satu organisme yang digunakan sebagai bioindikator pencemaran udara.
Kematian lichen yang sensitif dan peningkatan dalam jumlah spesies yang lebih tahan

dalam suatu daerah dapat dijadikan peringatan dini akan kualitas udara yang memburuk
(Cambell, 2003).
PEMBAHASAN TERMINAL
Menurut Sani (2010), transportasi adalah perpindahan orang atau barang dari satu
tempat ke tempat lainnya atau dari tempat asal ke tempat tujuan dengan menggunakan sebuah
wahana yang digerakkan manusia, hewan, atau mesin. Transportasi bertujuan untuk mempercepat dan mempermudah perpindahan orang atau barang ke suatu tempat. Menurut Sani
(2010) fungsi transportasi terdiri dua hal, yakni: sebagai penggerak pembangunan (the
promotion function) dan melayani kegiatan nyata (the servicing

function).

Selain itu,

menurut Adisasmita (2011) terdapat fungsi trans-portasi yang lain. Pertama, transportasi
sebagai sektor penunjang terhadap peng-embangan kegiatan sektor-sektor lain. Kedua, fungsi
trans-portasi sebagai pendorong, artinya berfungsi untuk menyediakan jasa transportasi yang
efektif untuk menghubungkan daerah-daerah terpencil dengan daerah berkembang yang
berada di luar wilayahnya, sehingga terjadi interaksi pemba-ngunan antar kedua daerah
tersebut (Ekawati,2014).
Seiring dengan tingginya tingkat mobilisasi dan kebutuhan sarana transportasi yang
mudah, murah dan aman maka tingkat penggunaan kendaraan bermotor juga akan meningkat.
Hal ini jelas berkaitan erat dengan pencemaran udara. Sumber pencemaran udara dapat
terjadi dimana mana baik itu berasal dari sumber tidak bergerak seperti aktivitas industri,
proses alam maupun lainnya dan sumber bergerak yakni buangan emisi kendaraan bermotor
(Ramli,2015).
Menyadari pentingnya peranan moda transportasi umum, maka moda transportasi
umum atau angkutan jalan harus ditata dalam satu tempat yang terpadu. Salah satu
infrastruktur transportasi ialah terminal sedangkan berdasarkan Keputusan Menteri
Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995, Terminal penumpang berdasarkan fungsi pelayanannya
dibagi lagi menjadi Terminal Penumpang Tipe A yang berfungsi melayani kendaraan umum
untuk angkutan antar kota dalam/antarpropinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. Tipe
B untuk kendaraan umum angkutan antar kota dalam propinsi dan atau pedesaan serta tipe C
untuk kendaraan umum angkutan pedesaan. Terminal memegang peranan untuk membantu
memperlancar kegiatan transportasi terutama dalam proses pendistribusian penumpang.
Terminal terdapat di setiap kota atau kabupaten untuk menghubungkan antar kota atau antar
provinsi (Adhitama,2014). Terminal merupakan sebuah prasarana transportasi jalan untuk

keperluan menaik turunkan penumoang, perpindahan intra dan atau antar moda transportasi
serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan angkutan umum.
Terminal Gadang adalah salah satu dari tiga terminal besar di Kota Malang. Terminal
jenis A ini dulunya menjadi terminal penghubung Kota Malang dengan kawasan Malang
selatan, dan daerah Malang timur. Tak hanya angkot, Terminal Gadang juga menjadi tempat
transit bagi angkutan desa (angkudes). Ada jalur K1 (Gadang Kepanjen Karangkates), GS
(Gadang Sumbersuko, Wagir), Gadang Wajak, Gadang Bululawang Tumpang,
Gadang Bululawang Kepanjen, Gadang Gondanglegi Bantur, GWK (Gadang
Wadung Kepanjen), Gadang Kepanjen Karangkates Ngliyep, Gadang Kepanjen
Pagak Ngliyep, Gadang Turen Sendangbiru, TTG (Turen Tirtosari Gadang), dan
lain-lain.

Agak ke barat, tepatnya di depan pos polisi Gadang, yang berada di Jalan Satsuit
Tubun, terdapat pangkalan khusus angkot GL, LG, GA dan GML. Pangkalan ini memakan
halaman sebuah ruko dan dealer kendaraan bermotor. Sementara itu, di jalan kembar menuju
ke Pasar Induk Gadang, biasa menjadi pangakalan bagi bus-bus ke arah Dampit, Lumajang,
Blitar, Tulungagung, dan Trenggalek. Sementara di pojokan jalan perempatan yang menuju
ke selatan biasa dihuni oleh angkudes jalur Wajak, Gondanglegi, Bantur, serta bison jurusan
Dampit.
Pada terminal gadang, jumlah kendaraan yang keluar sebanyak 33 buah dan yang
masuk sebanyak 18 buah selama 2 jam dengan presentase perkiraan jelaga 5%. Tidak terdapat
lichen yang menempel pada pohon. Berdasarkan jumlah kendaraan yang masuk, diperkirakan
bahwa pada tiap jam terdapat 9 kendaraan yang masuk dan 17 kendaraan keluar. Jumlah yang
cukup sedikit mengingat pengamat melakukan pengamatan pada pukum 10.30-12.45 dimana
aktivitas berjalan normal dan tidak dalam keadaan ramai.

Udara merupakan suatu campuran gas yang terdapat pada lapisan yang mengelilingi
bumi. Udara merupakan komponen kehidupan yang sangat penting untuk kelangsungan
hidup manusia maupun makhluk lainnya seperti tumbuhan dan hewan (Fardiaz,
1992).Pencemaran udara adalah salah satu komponen yang mempengaruhi pencemaran
lingkungan. Pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya mahkluk hidup,
zat, energi dan atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia
sehingga kualitasnya turun sampai tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan tidak
berfungsi sesuai peruntukkannya.
Data dari Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) tahun 2010 menyebutkan polusi
udara dari kendaraan bermotor bensin menyumbang 70% karbon monoksida (CO), 100%
Plumbum (Pb), 60% hidro karbon (HC) dan 60% oksida nitrogen (NOX). Bahkan beberapa
daerah yang tingg kepadatan lalu lintasnya menunjukkan bahan pencemar seperti Pb, ozon
(O), dan CO melebihi ambang batas yang ditetapkan. Dengan tingginya tingkat penggunaan
kendaraan bermotor, tidak terkecuali angkutan umum baik luar maupun dalam provinsi
trayek angkutan kota dalam provinsi, angkutan kota dan angkutan dengan perbandingan
jumlah armada 29% jenis kendaraan umum dan 71% kendaraan pribadi maka jumlah
penumpang akan berbanding lurus dengan banyaknya jumlah kendaraan. Dengan demikian
penggunaan kendaraan bermotor dikawasan terminal juga akan meningkat yang berakibat
pencemaran udara juga ikut meningkat (Ramli,2015). Jumlah kendaraan di terminal Gadang
tidak sebanyak jumlah kendaraan yang keluar masuk di terminal yang lain. Maka dari itu,
dapat dikatakan bahwa tingkat pencemaran udara di terminal Gadang lebih rendah dari
terminal lainnya dilihat dari jumlah kendaraan yang masuk dan keluar.
Perkembangan transportasi menyebabkan masalah lalu lintas di perkotaan, antara lain:
kecelakaan, kurangnya lahan parkir untuk kendaraan pribadi, dan kongesti lalu lintas.
Kemacetan lalu lintas kendaraan bermotor menimbulkan dampak negatif dalam berbagai
aspek. Menurut Adisasmita dan Adisasmita (2011) berdasarkan waktu, kemacetan lalu lintas
akan mengurangi kelancaran lalu lintas perkotaan, sehingga waktu tempuh perjalanan lebih
lama. Berdasarkan biaya, waktu perjalanan lama dan tidak mematikan mesin kendaraan akan
mengkonsumsi bahan bakar lebih banyak. Artinya pembelian bahan bakar menjadi lebih.
Berdasarkan lingkungan, kemacetan lalu lintas akan menimbulkan polusi udara. Jumlah
kendaraan yang sedikit akan meminimalisir tingkat kemacetan sekaligus terjadi pengurangan
polusi udara yang terjadi.
Tidak ditemukan lichen pada terminal Gadang. Lichen merupakan tumbuhan epifit
pada pohon-pohon, di atas tanah, terutama di daerah tundra di sekitar kutub utara. Tergolong

tumbuhan perintis yang berperan dalam pembentukan tanah. Tidak memerlukan syarat hidup
yang tinggi dan tahan kekurangan air dalam jangka waktu yang lama dan pertumbuhan talus
sangat lambat. Lichen adalah spesies indikator terbaik yang menyerap sejumlah besar kimia
dari air hujan dan polusi udara. Lichen sensitif terhadap racun sehingga berguna sebagai
indikator peringatan dini untuk memantau kesehatan lingkungan. Distribusi dan kerapatan
lichen berguna untuk mengidentifikasi daerah yang terkontaminasi. Lichen digunakan
sebagai bahan penelitian, dengan melihat secara morfologi dan fisiologis, karena tumbuhan
ini berpotensi untuk menunjukkan adanya polusi udara.
Pada daerah dimana pencemaran udara telah terjadi jumlah jenis yang ada akan
sedikit dan jenis yang peka sekali akan hilang. Ketiga genus tersebut Lecidea, Parmelia dan
Lecanora, merupakan genus yang resisten terhadap pencemaran. Dari ketiga genus tersebut
tampak Lecidea paling banyak ditemukan. Umumnya Lichen tahan terhadap perubahan
temperature dan kekeringan, tetapi ada juga yang tidak tahan. Banyak diantara lichen tidak
dapat bertahan terhadap polusi udara, sensitif terhadap sulfur dioksida dan racun udara
lainnya. Kematian Lichen dan peningkatan dalam jumlah spesies yang lebih tahan dalam
suatu daerah dapat dijadikan peringatan dini akan kualitas udara yang sedang memburuk.
Lichen sebagai tumbuhan fotosintetik membutuhkan CO2 sampai batas tertentu. Jika
kadar CO2 telah melampaui batas yang dibutuhkan, justru menurunkan laju fotosintetik.
Dengan meningkatkan SO2, CO, dan CO2 di udara akan meningkatkan suhu udara disekitar
lingkungan tersebut. Suhu yang tinggi akan meningkatkan laju respirasi dan menurunkan laju
fotosintesis. Jika hal tersebut terus berlangsung akan menyebabkan kematian lichen.
Perubahan

lingkungan menyebabkan lumut kerak berubah dalam keanekaragamannya,

morfologinya, fisiologinya, genetik, dan kemampuan mengakumulasi zat pencemar


udara(Haridini,2010). Berdasarkan keberadaan lichen maka dapat dikatakan bahwa kualitas
udara di Terminal Gadang cukup buruk. Terdapat kandungan polusi dan tingkat pencemaran
yang tinggi sehingga lichen tidak bisa hidup. Walaupun jumlah kendaraan keluar dan masuk
di terminal Gadang sangat sedikit, tetapi tidak memperbaiki kualitas udara. Mengingat bahwa
terminal Gadang terletak pada jalan raya dan jalan lintas kota maka tidak heran bahwa
kualitas udara yang ada akan semakin buruk karena adanya polusi udara berlebih. Selain itu,
konsentrasi jelaga sebanyak 5% merupakan indikasi bahwa terdapat pencemaran di terminal
Gadang. Sumber pencemaran yang cukup besar berasal dari Industri Metalurgi Petrochemical
Tekstil, Pusat Tenaga Listrik, yang terdiri dari : Aldehida, Amoniak, Arsen, Florin, Sulfur
Dioksida, juga hasil buangan industri ini berupa padatan partikulat yang berbaur dengan
udara, seperti debu, jelaga yang dapat membentuk smog dan fog, sehingga cahaya matahari

terhalang masuk menyinari tanaman sepenuhnya (Foy dalam Rumawas, 1971). Karbon
monoksida (CO), Nitrogen dioksida (NO 2), Sulfur dioksida (SO2), Partikulat (asap atau
jelaga), Chlorofluorocarbon (CFC), Timbal (Pb), karbon dioksida (CO 2) merupakan bahan
pencemar udara.
Pada terminal landungsari, diperoleh total jumlah kendaraan yang masuk sebanyak
468 buah dan jumlah kendaraan yang keluar sebanyak 584 buah. Pengamatan dilakukan
selama 2 jam, dengan jenis kendaraan yang diamati antara lain bis, angkutan umum, taksi,
maupun sepeda motor dan mobil pribadi. Diperoleh hasil persentase jelaga pada tisu sebesar
36%. Persentase lichen pada tumbuhan di sekitar terminal sebesar 80%. Banyaknya
kendaraan yang keluar dan masuk yaitu dengan total 1.052 mengindikasikan bahwa di
lingkungan terminal landungsari mobilitasnya padat dan dapat dikatakan ramai. Jumlah
kendaraan bermotor yang banyak mengindikasikan bahwa, tingkat pencemaran di sekitar
terminal landungsari juga tinggi. Jenis kendaraan yang berbahan bakar solar, yaitu seperti
bus, angkutan dan kendaraan pribadi dapat menambah tingginya tingkat pencemaran di
sekitar terminal landungsari. Hal tersebut dikarenakan, kendaraan yang berbahan bakar solar
umumnya menimbulkan emisi gas buang (gas CO) yang lebih besar. Emisi gas CO
merupakan salah satu penyebab terjadinya pencemaran lingkungan. Jelaga yang timbul akibat
menempelnya partikel gas buang dari knalpot kendaraan bermotor pada tissue yang disebar di
sekitar terminal landungsari menunjukkan presentase sedang yaitu berkisar kurang lebih
36%, hal ini karena tidak semua jelaga dapat menempel pada tissue yang disebar, beberapa
jelaga dapat bercampur dengan udara dan diterpa oleh angina sehingga tidak mengenai tissue.
Kondisi lichen di sekitar terminal landungsari juga sangat banyak, hal ini terlihat dari pohon
di beberapa lokasi yang berbeda di sekitar terminal landungsari, yaitu dengan presentase
80%.
Udara sebagai komponen lingkungan yang penting dalam kehidupan perlu dipelihara
dan ditingkatkan kualitasnya sehingga dapat memberikan daya dukungan bagi mahluk hidup
untuk hidup secara optimal. Oleh karena itu, tumbuhan dapat digunakan sebagai bioindikator
yang akan menunjukan perubahan keadaan, ketahanan tubuh, dan akan memberikan reaksii
sebagai dampak perubahan kondisi lingkungan yang akan memberikan informasi tentang
perubahan dan tingkat pencemaran lingkungan (Kovacs, 1992).
Tumbuhan yang ada, terutama di sekitar pencemaran udara terjadi, dapat berguna
sebagai biological monitoring. Beberapa tumbuhan tersebut dapat memberikan respon khusus
yang sensitif terhadap adanya pencemaran di udara misalnya Lichens. Lichens dapat
digunakan sebagai bioindikator adanya pencemaran udara karena mudah menyerap zat-zat

kimia yang ada di udara dan dari air hujan (Usuli dkk, 2013). Talus Lichens tidak memiliki
kutikula sehingga mendukung Lichens dalam menyerap semua unsur senyawa di udara,
dinyatakan dalam Hadiyati dkk, 2013. Unsur senyawa di udara, terutama keberadaan zat
pencemar udara yang melebihi ambang batas tersebut kemudian diakumulasikan dalam
talusnya. Hardini (2010) juga menyatakan bahwa Lichens adalah spesies indikator terbaik
yang menyerap sejumlah besar kimia dari air hujan dan polusi udara. Adanya kemampuan ini
menjadikan Lichens sebagai bioindikator yang baik untuk pemantauan pencemaran udara
dalam melihat adanya suatu kondisi udara pada suatu daerah yang tercemar atau sebaliknya.
Lichen merupakan hasil asosiasi simbiotik dari fungi dan alga. Jenis alga yang
bersimbiosis yaitu Cyanobacteriae atau Chlorophyceae, sedangkan fungi yang bersimbiosis
biasanya merupakan Ascomycetes, dan terkadang juga berasal dari Basidiomycetes atau
Phycomycetes. Alga merupakan bagian yang mengandung nutrient, nutrient inilah yang
memuat krolofil, sementara fungi berfungsi memberikan alga supply air dan mineral (Conti,
2001).
Umumnya, Lichen hidup sebagai epifit pada pohon-pohonan tapi dapat juga hidup di
atas tanah bahkan dapat hidup di daerah yang ekstrim, sehingga Lichens sering disebut
dengan organisme perintis Lichen sebagai tumbuhan perintis yang hidup tumbuh dialam pada
kondisi yang tidak menguntungkan. Lichen tersebut memulai pembentukan tanah dengan
melapukkan pohon dan batu-batuan serta dalam proses terjadinya tanah. Lichen sangat tahan
terhadap kekeringan. Jenis-jenis Lichens yang hidup pada bebatuan pada musim kering
berkerut sampai terlepas alasnya tetapi organisme tersebut tidak mati dan hanya berada dalam
hidup laten/dormancy. Jika segera mendapat air maka tubuh tumbuhan yang telah kering
tersebut mulai menunjukkan aktivitasnya kembali (Hasnunidah,2009) Jenis tumbuhan
perintis berpengaruh terhadap sebagian besar sifat-sifat fisik, kimia dan biologi tanah
(Prawito, 2009). Lichens sangat sensitif terhadap pencemaran udara dan cepat menghilang
pada daerah yang mempunyai kadar polusi udara yang berat. Salah satu yang menyebabkan
ini terjadi Lichen dapat menyerap dan mengendapkan mineral dari air hujan dan udara dan
tidak dapat mengeluarkannya sehingga konsentrasi senyawa yang mematikan seperti SO2
sangat mudah masuk. Lichen melalui perannya sebagai tumbuhan perintis menjadikan dirinya
mempunyai kemampuan regenerasi yang tinggi. Dalam artian Lichen bisa tumbuh kembali
apabila kondisi udara di ekosistem tempatnya tumbuh sudah mulai pulih.
Penggunaan lichen sebagai bioindikator dinilai lebih efisien dibandingkan
menggunakan alat atau mesin indikator ambien yang dalam pengoperasiannya memerlukan
biaya yang besar dan penanganan khusus (Loopi et al. 2002). Lumut kerak atau lichen adalah

salah satu organisme yang digunakan sebagai bioindikator pencemaran udara. Kematian
lichen yang sensitif dan peningkatan dalam jumlah spesies yang lebih tahan dalam suatu
daerah dapat dijadikan peringatan dini akan kualitas udara yang memburuk (Cambell, 2003).
Lichen diketahui merupakan tumbuhan yang peka terhap pencemaran udara. Jika
kulitas udara di suatu lingkungan telah menurun maka beberapa jenis lichen akan menghilang
seiring dengan meningkatnya konsentrasi polusi di udara. Lichen dapat mengindikasikan atau
mencirikan polusi udara khususnya yang berasal dari emisi kendaraan bermotor. Dengan
adanya pencemar di udara akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan lichen. Selain itu,
terjadi juga penurunan jumlah jenis (genus) lichen yang dapat dijadikan indikator
pencemaran udara. Beberapa jenis lichen yang dapat dijadikan bioindikator pencemaran
udara misalnya Parmelia, Hypogymnia dan Strigula(Pratiwi, 2006). Berdasarkan studi kasus
yang dilakukan di Thailand (Conti & Cecchett i, 2001), mengindikasikanbahwa ada 7 jenis
lichen dari sekitar 20 pohon yang dijadikan sampel untuk meneliti jenis lichen yang
ditemukan di daerah yang terpolusi yaitu Buelia punctata, Laurera bengaulensis, Lecanora
paliida, D. picta, Trypethelium tropicum, Graphis liberta, dan Cryptothecia sp.

Gambar 1. Lichen di beberapa titik (Terminal Landungsari)

Gambar 2. Situasi Terminal Landungsari

Makrozaoobentos Sebagai Indikator Pencemaran Sungai di Sekitar FMIPA (Sungai


deket lepangan tenis gracak sampai belakang GLB)

Bioindikator adalah salah satu cara untuk mengetahui tingkat pencemaran dalam suatu
perairan. Menurut (Bahri,2007) menjelaskan bahwa komponen biotik dapat memberikan
gambaran mengenai kondisi fisika, kimia dan biologi dalam suatu perairan. Salah satu biota
yang dapat digunakan sebagai parameter biologi dalam menentukan kondisi suatu perairan
adalah hewan makrozoobentos. Sebagai organisme yang hidup di perairan, hewan makro
bentos sangat peka terhadap perubahan kualitas air tempat hidupnya sehingga akan
berpengaruh terhadap komposisi dan kelimpahannya.
Menurut Lee et al (1978) dalam Asra (2009), bahwa klasifikasi ekologis rendah (1,0
H 1,59), berarti bahwa komunitas bersangkutan dalam kondisi tidak stabil dan sangat
rendah, sedangkan jika nilai H< 1,0 itu berarti bahwa komunitas bersangkutan dalam kondisi
sangat tidak stabil. Perbedaan nilai indeks keanekaragaman jenis tersebut dipengaruhi oleh
faktor fisika, yaitu arus dan kedalaman, selain itu ketersediaan makanan bagi hewan
makrobentos tersebut.
Menurut Siahan (2012) menyatakan bahwa suatu komunitas dikatakan mempunyai
keanekaragaman spesies yang tinggi apabila terdapat banyak spesies dengan jumlah individu
masing-masing relatif merata.Berdasarkan indeks keanekaragaman jenis dari hewan
makrobentos pada masing-masing lokasi penelitian yang diamati, dapat diketahui tingkat
pencemarannya. Menurut Anggoro (1988), kriteria tingkat kondisi perairan berdasarkan
indeks keanekaragaman jenis tersaji dalam tabel berikut :

Nilai H
<1,0
1 1,5

Indikasi
Pencemaran berat, Kesuburan sulit dimanfaatkan
Pencemaran sedang sampai berat, Kesuburan

sulit

dimanfaatkan
1,5 2

Pencemaran ringan sampai sedang, Kesuburan dapat

>2,0

dimanfaatkan
Pencemaran ringan atau belum tercemar, Kesuburan dapat
dimanfaatkan
Sumber: (Anggoro, 1988)

Berdasarkan data hasil pengamatan yang diperoleh dapat diketahui adanya perbedaan
jumlah total individu yang sangat berbeda diantara stasiun 1 dan stasiun 2 (Dari sungai dekat

lapangan tenis gracak sampai kimia) ,3 dan 4 ( sungai belakang GLB) hal ini terjadi karena
perbedaan lokasi wilayah tempat pengamatan. Berikut adalah hasilnya :
Pada stasiun 1 ditemukan 3 spesies

yaitu kepiting sungai (Parathelphusa

convexa),larva mutu penggigit dan siput berpintu dengan nilai indeks keanekaragamannya
1,04 dengan total individu yang paling sedikit daripada dua stasiun lainnya semua spesies
sebanyak 4 individu. Pada stasiun 2 ditemukan lebih banyak spesies dengan total 5 spesies
dengan rincian larva nyamuk, cacing (Tanytarsus sp.), siput kolam, kepiting sungai
(Parathelphusa convexa) dan tungau air dengan nilai indeks keanekaragamannya sebesar
1,41316 dengan total individu dari semua spesies sebanyak 9 individu. Pada stasiun 3
ditemukan 4 macam spesies yaitu larva mrutu biasa (Chironomidae Sp.), limpet air tawar,
nimfa lalat sehari (Leptoplebiidae Sp.) dan cacing (Tanytarsus sp.)dengan total individu
sebanyak 65 individu dengan nilai indeks keanekaragaman sebesar 0,65. Pada stasiun
terakhir yaitu stasiun 4 ditemukan 4 macam spesies juga dan hampir sama jenisnya seperti
pada stasiun 3 yaitu Larva mrutu biasa (Chironomidae Sp.),kepiting sungai ,limpet air tawar
dan larva lalat dengan total individu 44 dengan nilai indeks keanekaragaman sebesar 0,67.
Berdasarkan hasil perhitungan indeks keanekaragaman jenis hewan makrobentos yang
didapatkan pada Stasiun 1 sebesar 1,04, pada Stasiun 2 sebesar 1,41316, pada Stasiun 3
sebesar 0,65 dan pada stasiun 4 sebesar 0,67. Indeks keanekaragaman jenis pada Stasiun 1
dan Stasiun 2 termasuk dalam kategori rendah, sedangkan pada stasiun 3 dan 4 termasuk
dalam kategori sangat rendah. Hasil tersebut diperkuat dengan pernyataan Lee et al (1978)
dalam Sinaga (2009), bahwa klasifikasi ekologis rendah (1,0 H 1,59), berarti bahwa
komunitas bersangkutan dalam kondisi tidak stabil dan rendah, sedangkan kondisi ekologis
sangat rendah jika nilai H< 1,0 itu berarti bahwa komunitas bersangkutan dalam kondisi
sangat tidak stabil. Perbedaan nilai indeks keanekaragaman jenis tersebut dipengaruhi oleh
faktor fisika, yaitu arus dan kedalaman, selain itu ketersediaan makanan bagi hewan
makrobentos tersebut.
Indeks keanekaragaman pada kategori rendah tersebut mungkin disebabkan oleh
keberadaan individu atau spesies pada semua stasiun pengamatan relatif tidak merata. Hal ini
diperkuat oleh Brower et al (1990) dalam Sinaga (2009) yang menyatakan bahwa suatu
komunitas dikatakan mempunyai keanekaragaman spesies yang tinggi apabila terdapat
banyak

spesies

dengan

jumlah

individu

masing-masing

relatif

merata.

Indeks

keanekaragaman jenis paling tinggi terdapat pada Stasiun 1 dan 2 yaitu sebesar 1,04 dan

1,41316 sedangkan indeks keanekaragaman jenis paling rendah terdapat pada Stasiun 3 dan
stasiun 4 yaitu sebesar 0,65 dan 0,67.
Jika ditinjau dari jumlah total individu dari semua spesies di keempat stasiun,
terdapat ketimpangan antara jumlah total individu semua spesies yang terdapat pada
stasiun 1 dan stasiun 2 yaitu 4 dan 9 individu dengan stasiun 3 dan 4 sebanyak 65 individu
dan 44 individu. Perbedaan jumlah ini sangat jauh sekali. Namun spesies yang mendominasi
dari keempat stasiun adalah sama yaitu larva mrutu biasa atau Chironomus sp yang berwarna
merah.
Berdasarkan indeks keanekaragaman jenis dari hewan makrozoobentos pada masingmasing lokasi penelitian yang diamati, dapat diketahui tingkat pencemarannya.
Berdasarkan kategori tingkat kondisi perairan berdasarkan bioindikator makrobentos
dan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa Stasiun 1 (H=1,04) dan stasiun 2 (H =
1,41316) terindikasi pencemaran sedang hingga berat dan kesuburan sulit dimanfaatkan.
Stasiun 3 (H=0,65) dan stasiun 4 (H= 0,67) terindikasi pencemaran berat dan kesuburan
sulit dimanfaatkan. Pencemaran berat yang terjadi pada stasiun 3 dan 4 diduga akibat dari
gedung GLB, serta pemukiman penduduk yang dekat dengan sungai membuang limbahnya
ke dalam sungai sehingga mempengaruhi keanekaragaman hewan makrobentos.
Perbedaan jumlah total individu yang sangat berbeda diantara stasiun 1 dan satsiun 2
dengan stasiun 3 dan 4 ini terjadi karena perbedaan lokasi wilayah pengamatan. Stasiun 1 dan
2 tercemar sedang sampai berat karena lokasi stasiun satu terletak dibelakang kimia yang
merupakan gedung khusus mahasiswa kimia untuk praktikum saja sedangkan untuk teori
mahasiwa kimia kebanyakan berada di gedung 03 (GKB) sehingga walaupun terdapat
buangan limbah sisa praktikum tapi tidak terlalu banyak sehingga tingkat pencemaran
tergolong sedang sampai dengan berat. Sedangkan stasiun 3 dan 4 tercemar berat karena
kedua stasiun ini terletak tepat dibelakang Gedung Laboraturium Bersama (GLB) yang
notabene gedung ini merupakan tempat belajar sekaligus praktikum, sehingga sedikit banyak
limbah kimia dibuang ke dua stasiun ini. Pembuangan limbah kimia organik dan non organik
ini sangat berpengaruh terhadap keberadaan makrozoobentos yang hidup di dalamnya.
Stasiun 1, 2,3 dan 4 keseragamannya (E) didominasi oleh spesies larva mrutu biasa.
Larva mrutu biasa merupakan hewan dari kelas Hexapoda yaitu Chironomus sp. Hewan ini
mengindikasikan bahwa perairan tersebut telah mengalami pencemaran bahan organik.
Menurut Fadli (2012), Chironomus sp. merupakan organisme yang termasuk dalam golongan
organisme dan merupakan indikator kunci dalam tingkat pencemaran disuatu perairan.

Hewan makrobentos yang menjadi indikator pencemaran suatu perairan selain Chironomus
sp. adalah Tubifex sp., Limnodrillus

sp., dan Nais sp. Hewan makrobentos dari kelas

Oligochaeta tersebut merupakan biota toleran terhadap pencemaran bahan organik. Hal ini
diperkuat dengan pendapat Michael (1984) dalam Sinaga (2009), air yang terpolusi oleh
bahan organik yang cukup berat, hanya mengandung bakteri, jamur dan hewan yang tahan
seperti cacing Tubifex dan larva Chironomid, selanjutnya Sastrawijaya (2000) dalam
Sinaga

(2009), menjelaskan bahwa keberadaan Chironomus

sp. dan Tubifex

sp. ,

menandakan bahwa pemanfaatan perairan untuk kegiatan domestik oleh masyarakat di sekitar
sungai, termasuk kakus. Jenis Chironomus sp. dan Tubifex sp., bersifat toleran dan memiliki
kemampuan osmoregulasi yang baik, sehingga organisme tersebut dapat menyesuaikan diri
terhadap kondisi ekstrim yang ada di sekitarnya.
Kesimpulan
Berdasarkan kategori tingkat kondisi perairan berdasarkan bioindikator makrobentos
dan data yang diperoleh dapat diketahui bahwa Stasiun 1 (H=1,04) dan stasiun 2 (H =
1,41316) terindikasi pencemaran sedang hingga berat dan kesuburan sulit dimanfaatkan.
Stasiun 3 (H=0,65) dan stasiun 4 (H= 0,67) terindikasi pencemaran berat dan kesuburan
sulit dimanfaatkan.
Stasiun 1, 2,3 dan 4 keseragamannya (E) didominasi oleh spesies larva mrutu biasa.
Larva mrutu biasa merupakan hewan dari kelas Hexapoda yaitu Chironomus sp. Hewan ini
mengindikasikan bahwa perairan tersebut telah mengalami pencemaran bahan organik
Saran :
1. Lebih teliti saat menghitung makrozoobentos karena ukurannya kecil
2. Mengambil pasir dengan arah yang berlawanan dengan air

DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita, Sakti Adji. 2011. Perencanaan Pembangunan Transportasi. Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Adhitama, Muhammad Okto dan Imam Hanafi. 2014. Dampak Kebijakan Pembangunan
Infrastruktur Di Kota Malang. Jurnal Reformasi Vol.4(1): 2327
Ekawati,Natalia Niken, Mochammad Saleh Soeaidy, Heru Ribawanto. 2014. Kajian Dampak
Pengembangan Pembangunan Kota Malang Terhadap Kemacetan Lalu Lintas (Studi
Pada Dinas Perhubungan Kota Malang). Jurnal Administrasi Publik (Jap) Vol.
2(1):129-133

Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Udara dan Air. Yogyakarta: Kanisius


Hardini,Yunita. 2010. Keanekaragaman Lichen di Denpasar Sebagai Bioindikator
Pencemaran Udara. Seminar Nasional Biologi 2010
Ramli, Isran, Muralia Hustim dan Yasti Nurul. 2015. Analisis Tingkat Pencemaran Udara
Pada Kawasan Terminal Malengkeri Di Kota Makassar. Program Studi Teknik
Lingkungan Jurusan Sipil Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin Makassar
Rumawas, F. 1971. Bahan Bacaan Mata Ajaran Ekologi Tanaman Pertanian Program
Pascasarjana. Bogor : Institut Pertanian Bogor.
Sani, Zulfar. 2010. Transportasi (Suatu Pengantar). Jakarta: UI-Press
Undang-Undang 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup
Syahrin,Alvi.1999.Pembangunan Berkelanjutan(Perkembangannya, Prinsip-Prinsip dan
Status Hukumnya). Medan: Fakultas Hukum USU
Hardjasoemantri,Koesnadi.1999.Hukum Tata Lingkungan.PressYogyakarta: , Gadjah Mada
University,
Santosa,Mas Achmad.2004.Peraturan Perundang-undangan dalam Lingkungan, Makalah,
Training Pengelolaan Lingkungan Hidup Bagi Eksekutif. Jakarta: Kementerian
Lingkungan Hidup
Patterson,Edwin.1963.Law In A Scientific Age. University Press, New York : Columbia
Bakor, M. and Loppi, S. (2009) Review: Interactions of lichens with heavy metals. Biologia
Plantarum 53(2): 214-222.
Conti, M.E dan Cecchetti, G (2001). Biological monitoring: lichens as bioindicators of air
pollutan assessment-a review. Environmental Pollution, 114 Hal 471-492.
Jamhari, Mohammad (2014). Hubungan Kandungan Timbal (Pb) Di Udara Dengan Pb Dalam
Talus Lichen Xanthoparmelia Xanthofarinosa. Seminar Nasional VIII Pendidikan
Biologi
Jovan, Sarah. (2008). Lichen Bioindication of Biodiversity, Air Quality, and Climate:
Baseline Results From Monitoring in Washington, Oregon, and California. United
States Department of Agriculture, Portland
Gerhardt, A (2014). Bioindicator Species and Their Use in Biomonitoring. Environmental
Monitoring, Vol 1
Hasnunidah, Neni.2009.Botani Tumbuhan Rendah. Bandarlampung:Unila
Mizwar, Andy (2013). Bioremediasi Bahan Pencemar Logam Berat di Udara. Institut Sepuluh
Nopember, Surabaya.
Nimis, P.L., dan Tretiach, M (1995). The Lichen of Italy a phytoclimatical outline. Crypt.
Bot. 5, 199-208.
Notter, M (1988). Radionuclides in the environment around Swedish nuclear power stations,
1983. Govt. Reports announce,ents & Index Issue 11.
Nurjanah, Siti., Anitasari, Yousep., Mubaidullah, Shofa dan Bashri, Ahmad (2014).
Keragaman Dan Kemampuan Lichen Menyerap Air Sebagai Bioindikator
Pencemaran Udara Di Kediri. Universitas Nusantara PGRI, Kediri.
Panjaitan, Desi Maria., Fitmawati dan Martina, Atria (2014). Keanekaragaman Lichen
Sebagai Bioindikator Pencemaran Udara Di Kota Pekanbaru Provinsi Riau.
Keanekaragaman Lichen Sebagai Bioindikator Pencemaran, Volume 01: Hal 01-17.
Prawito, P. 2009. Pemanfaatan Tumbuhan Perintis Dalam Proses Rehabilitasi Lahan
Paskatambang Di Bengkulu. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan Vol. 9 No. 1 p: 712. Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu
Sanit di Toppi, L., Pawlik-Skowroska, B., Vurro, E., Vattuone, Z., Kalinowska, R., Restivo,
F.M., Musetti, R., and Skowroski, T. (2008) First and second line mechanisms of
cadmium detoxification in the lichen photobiont Trebouxia impressa (Chlorophyta).
Environmental Pollution 151: 280-286

Saulovic, Durdja., Blocanin, Rade dan Rodriguez, Bibiana (2014). Bioindicators In Human
Environment. Professional peper, University of Belgrede, Serbia.
Schumacher, M,. Domingo, J.L,. Liobet, J.M,. Muller, L dan Jager, J (1997). Levels of
PCDD/Fingrasses and weeds collectednear a manucipal waste incinerator (19961997). Science Total Enviro, 218 (2-13). 175-183.
Triulzi, C., Marzino, F.N dan Vaghi, M (1996). Important alpha, beta and gamma-emitting
radionuclides in lichens and mosses collected in different world areas. Annali di
Chimics (86) 11-12. 699-704.
Usuli, Yuliani., Uno.D, Wirnangsi dan Baderan, Dewi W. K (2013). Lumut Kerak Sebagai
Bioindikator Pencemaran Udara. Universitas Negeri Gorontalo, Gorontalo.
Zambrano, A dan A, Nash III, T.H (2000). Lichen responses to short-term transplantation in
Desierto de los Leones, Mexico city. Environmental Pollution 107, 407-417.