Anda di halaman 1dari 16

Konsep Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU)

Disusun guna memenuhi nilai tugas mata kuliah Komunitas semester 5.

Oleh:
Kelompok 9
Mutia Ainur Rahmah
P17320113051
N. Wini Apriliyani
P17320113004
Tita Rahayu
P173201130082
Zaeni Alfiyanti
P17320113037
Tingkat 2B

Program Studi D III Jurusan Keperawatan


Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung
Jln. Dr otten no 32 Bandung
2015

BAB I
PENDAHULUAN
1.1LATAR BELAKANG
Pemberdayaan masyarakat adalah sebagai subjek sekaligus objek dari sistem
kesehatan. dalam dimensi kesehatan, pemberdayaan merupakan proses yang dilakukan
oleh masyarakat (dengan atau tampa campur tangan pihak luar) untuk memperbaiki
kondisi lingkungan, sanitasi dan aspek lainnya yang secara langsung maupun tidak
langsung berpengaruh dalam kesehatan masyarakat.
Program pemberdayaan yang akan mempengaruhi kualitas hidup adalah
pemberdayaan masyarakat miskin. Faktor ini akan mampu memutuskan ketinggalan
rakyat baik dari segi pendidikan, ekonomi maupun kesehatan. Fektor lain yang akan
menjamin penguatan daya tawar dan akses guna mendukung masyarakat untuk
memperolah dan memamfaatkan input sumber daya yang dapat meningkatkan kegiatan
ekonomi adalah melakukan penguatan lembaga dan organisasi masyarakat.
Pembangunan merupakan proses perubahan menuju peningkatan taraf hidup dan
kesejahteaan masyarakat. Seberapa jauh proses pembangunan tersebut telah mampu
menghasilkan perubahan-perubahan yang membawa dampak pada peningkatan taraf
hidup dan kesejahtraan masyarakat, diukur dengan indikator-indikator yang umum
bersifat ekonomi.
Rendahnya tingkat perubahan kondisi kehidupan masyarakat melalui kebijakan
pemerataan melahirkan paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia.
Implementasinya tercerminpada pogram-pogram yang secara lansung ditujukan kepada
masyarakat lapisan bawah seperti pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat (pangan,
sandang, papan, kesehatan, pandidikan) maupun pogram penanggulangan kemiskinan.
Kebijakn paradigma pembangunan yang berpusat pada manusia implementasinya
cukup berhasil, namun secara proses terlihat lambat akibat masih adanya intervensi
kekuasaan pemerintahan dalam menetapkan prioritas pogram yang diperuntukkan bagi
kepentinagn masyarakat dan menguatnya dominasi kekuasaan pemerintah dalam
pengololaan paradigma pemberdayaan masyarakat.

1.2RUMUSAN MASALAH
Bagaimanakah konsep Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU)?

1.3TUJUAN
Tujuan penyusunan makalah ini adalah agar mendapatkan informasi dan
pemahaman mengenai konsep Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU).

1.4METODE
Metode yang kami gunakan dalam penulisan makalah ini diantaranya melalui
media literatur perpustakaan dan elektronik.

1.5SISTEMATIKA
Secara umum makalah ini terbagi menjadi tiga bagian diantaranya; BAB I tentang
Pendahuluan, BAB II yang berisi Pembahasan dan BAB III tentang kesimpulan dan
saran.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Posbindu menurut Depkes RI (2002) adalah pusat bimbingan pelayanan kesehatan
yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis
dari petugas kesehatan dalam rangka pencapai masyarakat yang sehat dan sejahtera.
Posbindu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat (UKBM) yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan
kebutuhan masyarakat itu sendiri, khususnya penduduk usia lanjut. Posbindu
kependekan dari Pos Pembinaan Terpadu, program ini berbeda dengan Posyandu,
karena Posbindu dikhususkan untuk pembinaan para orang tua baik yang akan
memasuki masa lansia maupun yang sudah memasuki lansia (Depkes, 2007).
Posbindu lansia adalah suatu forum komunikasi alih teknologi dan pelayanan
bimbingan kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai
strategis dalam mengembangkan sumberdaya manusia sejak dini (Effendy, 2001).

2.2 TUJUAN POSBINDU


Tujuan diadakannya Posbindu adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan
keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan. Jadi
dengan adanya Posbindu diharapkan adanya kesadaran dari usia lanjut untuk membina
kesehatannya serta meningkatkan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam
mengatasi kesehatan usia lanjut.
Fungsi dan tugas pokok Posbindu yaitu membina lansia supaya tetap bisa
beraktivitas, namun sesuai kondisi usianya agar tetap sehat, produktif dan mandiri
selama mungkin serta melakukan upaya rujukan bagi yang membutuhkan (Depkes,
2007).
Tujuan pokok dari pelayanan Posbindu adalah :

1.

Memperlambat angka kematian kelompok masyarakat lansia

2.

Meningkatkan pelayanan kesehatan kelompok masyarakat lansia

3.

Meningkatkan kemampuan kelompok masyarakat lansia untuk mengembangkan


kegiatan kesehatan dari kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan hidup
sehat.

4.

Pendekatan dan pemerataan pelayan kesehatan pada kelompok masyarakat lansia


dalam usa meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan pada penduduk berdasarkan
letak geografis.

5.

Meningkatkan pembinaan dan bimbingan peran serta kelompok masyarakat lansia


dalam rangka alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat
(Effendy, 1998).

Ketaatan lansia untuk menggunakan sarana kesehatan atau mengikuti program


kesehatan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: pengetahuan, sikap, persepsi,
perilaku dalam bentuk praktik yang sudah nyata berupa perbuatan terhadap situasi atau
rangsangan dari luar (kepercayaan) dan keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan.
Secara umum perilaku kesehatan seseorang mencakup perilaku terhadap sakit dan
penyakit, perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan, maupun perilaku terhadap
program kesehatan.
Faktor lain yang mempengruhi perilaku ketaatan seseorang pada kesehatan adalah
sebagai berikut: kebutuhan, jumlah dan struktur keluarga, faktor sosial budaya, etnik,
jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, harga/biaya pelayanan, jarak, persepsi terhadap
sarana kesehatan, dan kekuatan pengambilan keputusan (Notoatmodjo, 2003).

2.3 PEMBENTUKKAN POSBINDU


Pada prinsipnya pembentukan Posbindu didasarkan atas kebutuhan masyarakat
usia lanjut tersebut. Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam pembentukan
posbindu dimasyarakat sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing daerah,
misalnya mengambangkan kelompok-kelompok yang sudah ada seperti kelompok
pengajian, kelompok jemaat gereja, kelompok arisan usia lanjut dan lain-lain.
Pembentukan Posbindu dapat pula menggunakan pendekatan Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa (PKMD).
Pendekatan PKM merupakan suatu pendekatan yang sudah umum dilaksanakan
dan merupkan pendekatan pilihan yang dianjurkan untuk pembentukan Posbindu baru.
Langkah-langkahnya meliputi:

1.

Pertemuan tingkat desa

2.

Survey mawas diri

3.

Musyawarah Masyarakat Desa

4.

Pelatihan kader

5.

Pelaksanaan upaya kesehatan oleh masyarakat

6.

Pembinaan dan pelestarian kegiatan

2.4 KOMPONEN
Posbindu sebagai wadah yang bernuansa pemberdayaan masyarakat, akan berjalan
dengan baik dan optimal apabila memenuhi beberapa komponen pokok, yaitu: adanya
proses kepemimpinan, terjadinya proses pengorganisasian, adanya anggota dan kader
serta tersedianya pendanaan.

1. Kepemimpinan
Posbindu merupakan kegiatan dari, oleh dan untuk masyarakat. Untuk
pelaksanaanya memerlukan orang yang mampu mengurus dan memimpin
penyelenggaraan kegiatan tersebut sehingga kegiatan yang dilaksanakan mencapai
hasil yang optimal. Pemimpin Posbindu bisanya berasal dari anggota Posbindu itu
sendiri.

2. Pengorganisasian
Ciri dari suatu proses pengorganisasian dapat dilihat dari adanya pembagian tugas,
penunjukan kader, jadwal kegiatan yang teratur dan sebagainya. Struktur
organisasi Posbindu sedikitnya terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara dan
beberapa seksi dan kader.

3. Anggota Kelompok
Jumlah anggota kelompok Posbindu berkisar antara 50-100 orang. Perlu
diperhatikan juga jarak antara sasaran dengan lokasi kegiatan dalam penentuan
jumlah anggota, sehingga apabila terpaksa tidak tertutup kemungkinan anggota
Posbindu kurang dari 50 orang atau lebih dari 100 orang.

4. Kader
Jumlah kader di setiap kelompok tergantung pada jumlah anggota kelompok,
volume dan jenis kegiatannya, yaitu sedikitnya 3 orang.

5. Pendanaan

Pendanaan bisa bersumber dari anggota kelompok Posbindu, berupa iuran atau
sumbangan anggota atau sumber lain seperti donatur atau sumber lain yang tidak
mengikat.

2.5 PELAYANAN KESEHATAN


Pelayaan kesehatan di Posbindu meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental
emosional. Kartu Menuju Sehat (KMS) Usia Lanjut sebagai alat pencatat dan pemantau
untuk mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman
masalah kesehatan yang dihadapi dan mencatat perkembangannya dalam Buku
Pedoman Pemeliharaan Kesehatan (BPPK) Usia Lanjut atau catatan kondisi kesehatan
yang lazim digunakan di Puskesmas. Jenis pelayanan kesehatan yang dapat diberikan
kepada usia lanjut dikelompok sebagai berikut:

1. Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari (activity of daily living) melipui


kegiatan dasar dalam kehidupan seperti makan/minum, berjalan, mandi,
berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air besar/kecil dan sebagainya

2. Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional


dengan menggunakan pedoman 2 menit

3. Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi
badan dan dicatat pada grafik Indeks Masa Tubuh (IMT)

4. Pengukuran tekanan darah dengan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan


denyut nadi selama 1 menit

5. Pemeriksaan hemoglobin menggunakan Talquist atau Sahli


6. Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula
(diabetes mellitus)

7. Pemeriksaan adanya protein dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit
ginjal

8. Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan


kelainan

9. Penyuluhan bisa dilakukan di dalam maupun di luar kelompok dalam rangka


kunjungan rumah dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan masalah
kesehatan yang dihadapi oleh individu dan atau kelompok usia lanjut

10. Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota kelompok usia lanjut
yang tidak datang, dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan masyarakat (public
health nursing).

11. Pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penyuluhan contoh menu


makanan dengan memperhatikan aspek kesehatan dan gizi usia lanjut serta
menggunakan bahan makanan yang berasal dari daerah tersebut

12. Kegiatan olah raga seperti senam lansia, gerak jalan santai dan lain sebagainya
untuk meningkatkan kebugaran

2.6 SARANA DAN PRASARANA


Untuk kelancaran pelaksanaan Posbindu, dibutuhkan sarana dan prasarana
penunjang antara lain:

1. Tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat terbuka)


2. Meja dan kursi
3. Alat tulis
4. Buku pencatatan kegiatan (buku register buntu)
5. Kit usia lanjut yang berisi: Timbangan dewasa, meteran pengukur tinggi badan,
stetoskop, tensimeter, peralatan laboratorium sederhana termometer

6. Kartu Menuju Sehat (KMS) usia lanjut


2.7 MEKANISME PELAKSANAAN KEGIATAN
Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima terhadap usia lanjut di
kelompok, mekanisme pelaksanaan kegiatan yang sebaiknya digunakan sistem 5
tahapan/5 meja sebagai berikut:

1. Tahap pertama: Pendaftaran, dilakukan sebelum pelaksanaan pelayanan


2. Tahap kedua: Wawancara, Pencatatan kegiatan sehari-hari yang dilakukan usila,
3. Tahap ketiga: Pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan
status mental serta penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan

4. Tahap keempat: Pemeriksaan air seni dan kadar darah (laboratorium sederhana)

5. Tahap Kelima: Pemberian penyuluhan dan konseling

Berikut ini sebagai salah satu contoh pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan
posbindu:

1. Surveilans hipertensi
Setelah
kader
Posbindu
dilatih,
langkah
selanjutnya
adalah
pelaksanaan surveilans. Yang dimaksud dengan surveilans adalah survey lapangan
untuk mengumpulkan data tentang prevalensi hipertensi di masyarakat. Surveilans
dilakukan oleh kader Posbindu yang telah diberikan pelatihan surveilans, dan data
yang terkumpul diolah dan dianalisis bersama oleh kader, tokoh masyarakat, dan
tenaga kesehatan. Instrumen surveilans berupa angket/kuesioner yang terlebih
dahulu telah disiapkan oleh tim pengabdian masyarakat.

2. Pembuatan peta kewaspadaan hipertensi


Data hasil surveilans dijadikan dasar untuk menyusun peta kewaspadaan
hipertensi di komunitas. Peta ini sekaligus sebagai bukti dokumentasi hasil
surveilans yang telah dilakukan dan diberi kode-kode khusus berdasarkan
kesepakatan tim tentang kategori masyarakat dalam kaitannya dengan
kewaspadaan hipertensi.

3. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin


Pemeriksaan tekanan darah secara rutin merupakan bagian dari pelayanan
Posbindu. Namun demikian dalam kasus tertentu, pemeriksaan tekanan darah
tidak dilakukan secara pasif (menunggu di Posbindu), tetapi justru dilakukan
secara aktif dari rumah ke rumah (door to door) pada kelompok masyarakat yang
memiliki faktor risiko dan kelompok lansia atau dikenal sebagai penemuan kasus
hipertensi secara aktif (active case finding). Penemuan kasus secara aktif ini
merupakan upaya penapisan (screening) kasus hipertensi di masyarakat sebagai
salah satu upaya deteksi dini kasus hipertensi dan komplikasinya.

4. Pelaksanaan senam jantung sehat dan senam lansia secara rutin


Kegiatan senam jantung sehat dan senam lansia juga merupakan bagian dari
pelayanan Posbindu. Dalam konteks ini, pelaksanaan senam ini juga bukan saja
diikuti oleh kelompok masyarakat berisiko atau kelompok lansia saja, tetapi juga
bisa diikuti oleh seluruh elemen masyarakat. Kegiatan ini merupakan bentuk nyata
dari upaya pencegahan penyakit jantung dan pembuluh darah serta pengendalian
salah faktor risiko hipertensi.

5. Promosi kesehatan yang berkaitan dengan bahaya hipertensi


Promosi kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat
dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Program ini dirancang untuk
membawa perubahan (perbaikan), baik dalam masyarakat itu sendiri, maupun
dalam organisasi dan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut maka strategi
promosi kesehatan yang akan dikembangkan dalam rangka pencegahan hipertensi
adalah:

a. Advokasi (advocacy)
Kegiatan ini ditujukan untuk para pembuat keputusan dan penentu
kebijakan di tingkat kecamatan dan desa. Diharapkan melalui advokasi ini,
semua aparatur pemerintahan di Desa Randobawa Ilir bisa memberikan
dukungan, baik dukungan moral maupun material, terhadap kegiatankegiatan yang telah direncanakan sebelumnya.

b. Dukungan sosial (social support)


Kegiatan ini difokuskan bagi para tokoh masyarakat dan tokoh agama
yang ada di Desa Randobawa Ilir. Diharapkan para tokoh masyarakat dan

tokoh agama tersebut dapat menjembatani komunikasi antara pengelola


program kesehatan dan masyarakat.

c. Pemberdayaan masyarakat (empowerment)


Kegiatan ini diarahkan pada masyarakat langsung sebagai sasaran primer
promosi kesehatan. Tujuannya adalah agar masyarakat memiliki kemampuan
dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatannya sendiri (self
reliance in health). Bentuk kegiatannya lebih ditekankan pada penggerakkan
masyarakat untuk kesehatan, dalam hal ini adalah pengelolaan Posbindu.
Ruang lingkup promosi kesehatan sendiri meliputi tatanan keluarga
(rumah tangga) dan di fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan tingkat
pelayanan kesehatan yang diberikan, promosi kesehatan yang dilakukan
hanya berada pada level promosi kesehatan, perlindungan spesifik, serta
diagnosis dini dan pengobatan segera.
Kegiatan promosi kesehatan pada setiap level tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut:

1) Promosi kesehatan: Senam jantung sehat dan senam lansia, Kampanye


anti-rokok, Penyuluhan gizi lansia, Pelatihan pemeriksaan tekanan
darah bagi keluarga lansia

2) Pencegahan spesifik: Pemberian multivitamin bagi lansia,Diagnosis dini


dan pengobatan segera:

3) Pemeriksaan tekanan darah teratur bagi penderita hipertensi


4) Pemeriksaan tanda-tanda komplikasi hipertensi (pemeriksaan protein
urin, pemeriksaan neurologis, Dan lain-lain)

d. Penyuluhan kesehatan tentang pencegahan & penatalaksanaan hipertensi


Penyuluhan kesehatan merupakan bagian dari strategi promosi
kesehatan yang tujuannya memampukan masyarakat untuk dapat
menghindari perilaku-perilaku yang berisiko meningkatkan kejadian
hipertensi dan/atau melakukan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah
hipertensi pada masyarakat dan keluarga penderita hipertensi.

e. Pelatihan pengukuran tekanan darah bagi keluarga lansia dan keluarga


penderita hipertensi

Kegiatan ini juga ditujukan sebagai salah satu upaya memperpendek


akses pelayanan kesehatan, khususnya bagi penderita hipertensi dalam
melakukan pemantauan (monitoring) terhadap kondisi kesehatannya. Pada
akhirnya setiap keluarga dari penderita hipertensi dapat melakukan
pemantauan tekanan darah penderita hipertensi secara teratur, tanpa harus
pergi ke Puskesmas yang memakan waktu dan biaya transportasi. Karena
itu, ketersediaan tensimeter atau sphygmomanometer di Posbindu harus
cukup sebagai antisipasi bagi kebutuhan terhadap pemantauan tekanan darah
secara mandiri oleh keluarga penderita. Sudah barang tentu, anggota
keluarga yang dilatih adalah mereka yang memenuhi syarat tertentu
sehingga dimungkinkan mampu menguasai dalam mempraktikkan dan
menginterpretasikan hasil pengukuran tekanan darahnya.

f. Pengumpulan dana sosial Tanggap Hipertensi


Kegiatan ini merupakan manifestasi nyata dari strategi gerakan
masyarakat sebagai salah satu strategi promosi kesehatan. Dalam hal
pengumpulan dana sosial maka dibutuhkan dukungan dari para pengambil
keputusan di tingkat desa dan kecamatan, serta kesadaran dari masyarakat
itu sendiri. Tentu dalam kondisi yang tidak mengikat, kegiatan ini bersifat
fleksibel terutama ditujukan bagi kelompok masyarakat dengan tingkat
kemampuan ekonomi menengah ke atas. Dana sosial ini ditujukan untuk
membantu pembiayaan warga masyarakat yang mengalami komplikasi
hipertensi sehingga membutuhkan pengobatan lebih kompleks atau rujukan
ke rumah sakit.

2.8 REKUTMEN DAN PELATIHAN KADER POSBINDU


Kader sebaiknya berasal dari anggota kelompok Posbindu sendiri atau dapat saja
diambil dari anggota masyarakat lainnya yang bersedia menjadi kader. Adapun
persyaratan untuk menjadi kader Posbindu adalah:

1. Dipilih dari masyarakat dengan prosedur yang disesuaikan dengan kondisi


setempat;

2. Mau dan mampu bekerja secara sukarela;


3. Bisa membaca dan menulis huruf latin;
4. Sabar dan memahamil usia lanjut.

Setelah melakukan Musyawarah Masyarakat Desa dan Musyawarah


di tingkat RW, maka panitia mengumumkan secara terbuka tentang rekrutmen kader
Posbindu sesuai dengan persyaratan di atas. Jika sampai pada waktu yang ditetapkan
masih sedikit, maka panitia bersama pengurus RW melakukan musyawarah kembali
untuk menentukan kader Posbindu berdasarkan pertimbangan tokoh masyarakat
setempat.
Setelah rekrutmen kader Posbindu selesai, maka dilanjutkan
penyelenggaraan pelatihan kader Posbindu dengan materi pelatihan meliputi:

dengan

1.

Pengelolaan dan Pengorganisasian Posbindu

2.

Surveilans hipertensi (survey mawas diri)

3.

Prosedur deteksi dini hipertensi dan komplikasinya

4.

Penatalaksanaan hipertensi dan komplikasinya

5.

Pencegahan hipertensi

6.

Pertolongan pertama kedaruratan penyakit kardiovaskuler dan serebrovaskuler

Tenaga untuk kegiatan Posbindu lakukan oleh 5 orang kader dengan di bantu oleh tenaga
kesehatan dari puskesmas setempat.
No

Tenaga

Peranan

Koordinator

Ketua dari perkumpulan dan penanggungjawab kegiatan


serta berkoordinasi terhadap Puskesmas dan Para Pembina
terkait di wilayahnya.

Kader Penggerak

Anggota perkumpulan yang aktif, berpengaruh dan


komunikatif bertugas menggerakkan masyarakat, sekaligus
melakukan wawancara dalam penggalian informasi

Kader Pemantau

Anggota Perkumpulan yang aktif dan komunikatif bertugas


melakukan pengukuran Faktor risiko PTM

Kader Konselor/Edukator

Anggota Perkumpulan yang aktif, komunikatif dan telah


menjadi panutan dalam penerapan gaya hidup sehat,
bertugas melakukan konseling, edukasi, motivasi serta
menindaklanjuti rujukan dari Puskesmas

Kader Pencatat

Anggota perkumpulan yang aktif dan komunikatif bertugas


melakukan pencatatan hasil kegiatan Posbindu PTM dan
melaporkan kepada koordinator Posbindu PTM.

Syarat menjadi seorang kader;


a. Berasal dari anggota kelompok masyarakat/lembaga/institusi
b. Peduli terhadap masalah penyakit tidak menular dan bersedia melaksanakan kegiatan
Posbindu PTM
c. Pendidikan sebaiknya minimal setingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas)
Tugas Kader;
a. Melakukan pendekatan kepada pimpinan kelompok/lembaga/institusi.
b. Melakukan survai mawas diri/pendataan bersama petugas.
c. Melaksanakan musyawarah bersama dalam penyelesaian masalah termasuk penentuan
jadwal penyelenggaraan posbindu PTM.
d. Mendorong anggota kelompok masyarakat/kelompok/lembaga/institusi untuk datang ke
posbindu PTM ( mengajak anggota keluarga/masyarakat agar hadir, memberikan serta
menyebarluaskan informasi kesehatan, menggali dan menggalang sumber daya termasuk
dana yang berasal dari masyarakat).
e. Melaksanakan kegiatan posbindu PTM termasuk kunjungan rumah bila diperlukan.
f. Melakukan pencatatan hasil kegiatan Posbindu PTM

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Posbindu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersumberdaya
masyarakat (UKBM) yang dibentuk oleh masyarakat berdasarkan inisiatif dan
kebutuhan masyarakat itu sendiri, khususnya penduduk usia lanjut. Posbindu
kependekan dari Pos Pembinaan Terpadu, program ini berbeda dengan Posyandu,
karena Posbindu dikhususkan untuk pembinaan para orang tua baik yang akan
memasuki masa lansia maupun yang sudah memasuki lansia.

3.2 SARAN
Pemahaman dan keahlian dalam aplikasi Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU)
merupakan salah satu cabang ilmu keperawatan yang harus dimiliki oleh tenaga
kesehatan khususnya perawat agar dapat mengaplikasikannya serta berinovasi dalam
pemberian
asuhan
keperawatan
pada
pasien.
Ini
akan
mendukung profesionalisme dalam wewenang dan tanggung jawab perawat sebagai
bagian dari tenaga medis yang memberikan pelayanan Asuhan Keperawatan secara
komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2006. Pedoman pelatihan kader kelompok usia lanjut bagi petugas
kesehatan. Direktorat kesehatan keluarga.
Effendi, Nasrul, 1998. Dasar-Dasar Perawatan Kesehatan Masyarakat, Jakart.
EGC.