Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA

PERCOBAAN IV
PENETAPAN KADAR PROTEIN DENGAN UJI BIURET

OLEH :
NAMA

: NURSAN

STAMBUK

: F1C1 13 028

KELOMPOK

: IV

ASISTEN

: WAODE NURFIARNI SAADAH

LABORATORIUM BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2015
I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebanyakan masyarakat pada umumnya memenuhi kebutuhan gizi dengan
cara mengkonsumsi susu. Susu tersebut merupakan produk buatan pabrik yang
dapat berupa susu cair atau dalam bentuk susu bubuk. Selain enak, alasam
masyarakat sering mengkonsumsi susu adalah karena susu merupakan minuman
pelengkap bagi kebutuhan gizi manusia karena mengandung hampir semua zat
gizi yang diperlukan tubuh manusia misalkan karbohidrat, protein, lemak/ lipid,
vitamin dan mineral. Susu merupakan salah satu makanan paling lengkap.
Bermacam-macam jenis susu, baik dari manusia maupun dari hewan mengandung
vitamin, mineral, karbohidrat, lemak dan protein (sebagian besarnya kasein).
Untuk jenis susu berbeda, kandungan nutrisinya pun juga berbeda. Susu sapi
berbeda dengan susu kambing walaupun terdapat beberapa kesamaan dalam hal
zat penyusunnya.
Komponen utama dari susu sebenarnya adalah air, lemak dan protein.
Protein yang terdapat dalam susu terdiri atas kasein dan whey. Protein penting
dalam menyusun komponen sel, terutama dalam proses pertumbuhan dan
perkembangan. Sekitar 80% dari protein yang terdapat dalam susu adalah kasein
yang biasanya berupa garam dari kalsium. Oleh karena itu, sering kali dikatakan
bahwa kasein juga adalah protein susu. Kasein yang dikenal sebagai protein padat
dalam susu berasal dari bahasa Latin caseus yang berarti keju. Kasein merupakan
fosfoprotein paling dominan yang terdapat pada susu dan keju. Kasein merupakan
protein yang terkoagulasi dan tidak mempunyai jembatan disulfida. Sebagian

kecil memiliki struktur sekunder dan sisanya merupakan struktur tersier. Karena
strukturnya itu, kasein tidak terdenaturasi seperti protein lain pada umumnya .
Kasein juga merupakan protein hidrofobik yaitu asam amino yang
mengandung rantai samping non-polar. Protein susu/ kasein merupakan senyawa
kompleks dengan partikel yang besar dan sering disebut sebagai kasein misel
(casein micell). Ukuran partikel tersebut berkisar antara 30 300 nm. Kasein
berwarna putih seperti salju dalam keadaan normal, selain itu kasein tidak berbau
dan tidak mempunyai rasa yang khas. Oleh karena itu kasein dalam susu dapat
dikoagulasikan atau digumpalkan oleh asam yang terbentuk di dalam susu sebagai
aktivitas dari mikroba. Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan
percobaan tentang penentuan kadar protein dalam susu dengan menggunakan
metode biuret.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan dalam praktikum ini yaitu bagaimanakah cara menetapkan
kadar protein dalam susu secara Biuret?
C.

Tujuan
Tujuan yang akan dicapai pada praktikum ini adalah untuk menetapkan
kadar protein dalam susu secara Biuret.

D.

Manfaat
Manfaat yang diperoleh pada praktikum ini adalah menambah pengetahuan
mengenai salah satu metode analisis kadar protein yang terkandung dalam susu
dengan menggunakan pereaksi Biuret.
II. TINJAUAN PUSTAKA

Protein merupakan biomolekul yang sangat penting. Beberapa fungsi


protein adalah sebagai katalisator (enzim), pengangkut dan penyimpanan,
penyebab gerakan, pendukung sistem kekebalan, pembentuk dan transmisi impuls
saraf, pengontrol pertumbuhan dan diferensiasi, pendukung kekakuan structural,
dan lain-lain. Monomer pembentuk protein, asam amino, juga mempunyai
peranan penting dalam metabolisme sel hidup. Peranan tersebut adalah sebagai
substrat untuk sintesis protein, pemasok nitrogen untuk sintesis senyawa yang
mengandung nitrogen lain, dan sumber energy bila dikatabolisme (Toha, 2001).
Protein tinggi mempunyai kelas bermacam-macam dalam biomolekuler.
Mulai dari perbedaan sifat kimia, seperti berat, bentuk, ukuran dan daya larut,
sehingga memungkinkan untuk melaksanakan banyak fungsi biologi. Fungsi ini
meliputi katalisator enzim, pengaturan metabolik, mengikat dan mengangkut
molekul kecil, pengaturan gen, pertahanan imunologi dan struktur sel. Aktivitas
selular dan fungsi tersebut melibatkan satu atau lebih protein. Struktur dasar dari
protein adalah asam amino. Dimana ada 20 asam amino yang menyusun protein,
semuanya mempunyai bentuk struktural tertentu. Bentuk ini adalah gugus asam
karboksilat (-COOH) dan gugus dasar amino (-NH2). Oleh karena itu, yang
membedakan bentuk satu dengan yang lain adalah rantai penyusun strukturnya.
Asam amino dari protein dihubungkan oleh ikatan peptida antara gugus karboksil
dan aminonya membentuk polimer linier (Enechi dan Nwabueze, 2013).
Peran dan aktivitas protein dalam proses biologis antara lain sebagai katalis
enzimatik, bahwa hampir semua reaksi kimia dalam sistem biologi dikatalis oleh
makromolekul yang disebut enzim yang merupakan satu jenis protein. Sebagian

reaksi seperti hidrasi karbondioksida bersifat sederhana, sedangkan reaksi lainnya


seperti replikasi kromosom sangat rumit. Enzim mempunyai daya katalitik yang
besar, urnumya meningkatkan kecepatan reaksi sampai jutaan kali. Peran lainnya
dari protein dalam sistem biologi adalah sebagai transport dan penyimpanan.
Contohnya transport oksigen dalam eritrosit oleh hemoglobin dan rnioglobin
yakni sejenis protein yang mentransport oksigen dalam otot. Selain itu terdapat
beberapa jenis protein lainnya seperti filamen yang berfungsi dalam koordinasi
gerak; protein fibrosa yang berfungsi untuk menjaga ketegangan kulit dan tulang;
protein kolagen yang merupakan komponen serat utama dalam kulit, tulang,
tendon, tulang rawan dan gigi; antibodi merupakan protein yang sangat spesifik
dan dapat mengenal serta berkombinasi dengan benda asing seperti virus (Katili,
2009).
Spektroskopi UV adalah salah satu ilmu pengetahuan tentang teknik fisika
dari spektroskopi optis penggunaan cahaya tampak, UV, dan mendekati jangkauan
inframerah. Spektroskopi UV-Vis digunakan untuk menentukan konsentrasi dari
alat penyerap pada suatu larutan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana
dengan cepat perubahan absorbansi dengan konsentrasi. Spektroskopi UV-tampak
digunakan untuk memperoleh absorbansi spectra dari satu senyawa larutan atau
suatu zat padat. Hal yang diamati dengan spektroskopi adalah absorbansi dari
energi serap cahaya atau penyinaran elektromagnetik, eksitasi elektron dari
keadaan dasar yang merupakan keadaan eksitasi tunggal pada suatu senyawa atau
materi. Daerah UV- tampak energi untuk spektrum elektromagnetik adalah 1.5 -

6.2 eV yang mana panjang gelombangnya berkisar dari 800 - 200 nm (Gandhimati
dkk., 2012).
Prinsip dasar spektrofotometri UV-Vis adalah analisis yang didasarkan pada
pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu laju larutan berwarna pada
panjang gelombang spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau kisi
difraksi dengan detektor fototube ( Setiono, 2013).Spektrofotometri UV-Vis
adalah metode analisis berdasarkan interaksi antara radiasi elektromagnetik ultra
violet dekat (190-380 nm) dan sinar tampak (380-780 nm) dengan memakai
instrumen spektrofotometer dengan suatu materi (senyawa). Metode ini
berdasarkan penyerapan sinar ultraviolet maupun sinar tampak yang menyebabkan
terjadinya transisi elektron (perpindahan elektron dari tingkat energi yang rendah
ke tingkat energi yang lebih tinggi). Apabila dua buah atom saling berikatan dan
membentuk molekul maka akan terjadi tumpang tindih dua orbital dari kedua
atom yang masing-masing mengandung satu elektron dan kemudian terbentuk
orbital molekul (Octaviani dkk., 2014).
III. METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Kamis, tanggal 8 Oktober 2015
pukul 15:30-17:30 WITA di Laboratorium Kimia Biokimia Jurusan Kimia
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Halu Oleo,
Kendari.
B. Alat dan Bahan

1. Alat

Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah pipet tetes, tabung
reaksi, rak tabung, stopwatch dan seperangkat alat spektrofotometer UV-Vis.
2. Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah Susu murni,
akuades dan reagen Biuret.
C. Prosedur Kerja
Larutan sampel
-

diambil 1 ml
ditambahkan 4 ml reagen biuret
dikocok
didiamkan 30 menit pada suhu kamar
dibaca serapannya pada panjang
gelombang 540 nm dengan blanko
aquades + 4 ml reagen biuret
dihitung kadar protein menggunakan
kurva standar

Hasil Pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Data Pengamatan
1. Tabel Data Pengamatan
Tabel Pengamatan
No.

Perlakuan

Hasil Pengamatan

1.

1 mL larutan
susu sapi + 4
mL reagen
biuret,
didiamkan 30
menit

Larutan berwarna
ungu

2.

1 mL larutan
ASI + 4 mL
reagen biuret,
didiamkan 30
menit

Gambar

Absorbans

1,859

1,805
Larutan berwarna
orange

Tabel kurva standar protein


Konsentrasi (ppm)
0
1
2
3
4
5
6

Absorbans
0
0,321
0,576
1,342
1,657
2,115
2,876

2. Grafik Hubungan Konsentrasi dengan Absorbans

Hubungan antara Konsentrasi dengan Absorbans


3.5
3
2.5

f(x) = 0.47x - 0.16


R = 0.98

Absorbans (A) 1.5


1
0.5
0

Konsentrasi (ppm)

3. Analisis Data
Sampel larutan susu sapi
Absorbansi sampel = 1,859
y = 0,474x 0,155
0,474x 0,155 = 1,859
0,474x = 1,859 + 0,155

0,474x = 2,014
x = 4,25
Kadar protein = 4,25 mg/L x faktor pengenceran
= 4,25 mg/L x 10
= 42,5 mg/L
Sampel larutan ASI
Absorbansi sampel = 1,805
y = 0,474x 0,155
0,474x 0,155 = 1,805
0,474x = 1,805 + 0,155
0,474x = 1,960
x = 4,14
Kadar protein = 4,14 mg/L x faktor pengenceran
= 4,14 mg/L x 10
= 41,4 mg/L
4. Reaksi
B. Pembahasan
Protein merupakan senyawa polimer yang tersusun atas asam-asam amino.
Asam amino yang terikat dengan asam amino yang lain akan membentuk ikatan
peptida (COO-NH2). Protein dibedakan satu sama lain berdasarkan tipe, jumlah
dan susunan asam aminonya. Perbedaan ini menyebabkan perbedaan struktur
molekuler, kandungan nutrisi dan sifat fisikokimia. Percobaan ini dilakukan untuk
menetapkan kadar protein secara biuret. Pada penetapan kadar protein tersebut

didasarkan pada pengukuran serapan cahaya oleh ikatan kompleks yang berwarna.
Sampel yang digunakan untuk menetapkan kadar protein secara biuret adalah susu
cair. Larutan susu tersebut dicampurkan reagen biuret dan didiamkan selama 30
menit. Tujuan larutan tersebut didiamkan agar proses pembentukan senyawa
kompleks berwarna dapat berlangsung dengan benar-benar sempurna, dimana
semakin lama larutan disimpan maka ion Cu2+ semakin banyak berkoordinasi
dengan gugus amino sehingga warna larutan semakin jelas. Setelah larutan
didiamkan, larutan yang berisi susu cair menunjukkan hasil positif yaitu berupa
warna ungu, sedangkan larutan yang berisi ASI menunjukan hasil negatif yaitu
warna orange pudar. Hal ini disebabkan karena ASI yang digunakan sudah terlalu
lama disimpan dalam lemari pendingin sehingga susu tersebut sebagian
mengendap atau mengalami koagulasi.
Proses pembentukan senyawa kompleks tersebut, akan terjadi ikatan
kompleks yang berwarna ungu apabila protein bereaksi dengan tembaga dalam
suasana alkali dalam hal ini digunakan NaOH sebagai basa kuat yang memiliki
ion OH- yang tinggi dalam larutan sehingga mampu mengikat ion H+ pada larutan
tersebut. Ion H+ yang lebih reaktif tersebut dapat diikat dan tak akan bereaksi
dengan gugus amino, sehingga ion Cu2+ dapat bereaksi dengan gugus amino dari
ikatan peptida dari protein dalam larutan susu (kasein). Senyawa kompleks ini
akan terlihat setelah penambahan reagen biuret dengan terbentuknya warna
ungu pada larutan. Dimana, senyawa dengan dua atau lebih ikatan peptida apabila
direaksikan dengan garam Cu2+ (kupri) pada suasana basa maka akan membentuk
suatu kompleks warna ungu violet yang absorbansinya dapat dibaca pada panjang

gelombang 540 nm. Reaksi warna bisa terjadi karena ion Cu 2+ merupakan
golongan transisi yang orbital d nya tidak penuh. Sehingga terjadi transisi elektron
pada senyawa kompleks (ligan-ion logam) dari orbital d yang satu ke orbital d
lainnya. Transisi ini terjadi dari ligan yang kaya elektron ke ion Cu 2+ yang miskin
elektron.
Percobaan tersebut digunakan uji biuret untuk menentukan ikatan peptida
pada protein yang berupa cairan. Oleh karena itu, dengan uji biuret dapat
diketahui ikatan peptida yang terdapat dalam susu. Dimana uji biuret merupakan
jenis pengujian untuk identifikasi protein secara umum. Uji Biuret akan selalu
memberikan hasil positif untuk semua jenis protein yang berupa cairan. Reagen
biuret terdiri dari CuSO4 dalam aquades, KI dalam aquades, Na-sitrat, Na2CO3 dan
NaOH. Dimana, CuSO4 sebagai penyedia ion Cu2+ yang nantinya akan
membentuk kompleks dengan protein. KI berfungsi untuk mencegah terjadinya
reduksi pada Cu2+ sehingga tidak mengendap. Na-sitrat dan Na 2CO3 berfungsi
sebagai buffer dan NaOH berfungsi sebagai penyedia suasana basa. Suasana basa
akan membantu membentuk Cu(OH)2 yang nantinya akan menjadi Cu2+ dan 2OH-.
Hal ini membantu untuk membentuk kompleks dengan nitrogen dari karbon dari
ikatan peptida dalam larutan basa. Perubahan pada warna sampel uji akan
memberikan hasil yang positif atau negatif. Terjadinya warna ungu terbentuk dari
ikatan antara Cu dan N pada gugus amino, dimana unsur N terdapat pada peptide
menyumbangkan pasangan elektronnya ke atom pusat Cu menghasilkan CuN
yang terjadi dalam suasana basa. Makin panjang suatu ikatan peptida, maka warna
ungu yang terbentuk makin jelas dan makin pekat.

Selanjutnya pengukuran dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer


UV-Vis pada panjang gelombang 540 nm. Percobaan ini digunakan metode
spektroskopi karena untuk mengidentifikasi suatu sampel dengan menggunakan
larutan berwarna yaitu warna dari protein yang berasal dari susu sapi dan ASI
yang direaksikan dengan reagen biuret. Didalam spektrofotometer, larutan protein
mengadsorbsi cahaya yang diberikan kepadanya. Hal ini merupakan wujud dari
interaksi suatu atom dengan cahaya. Dimana energi elektromagnetiknya ditransfer
ke atom atau molekul sehingga partikel dalam protein dipromosikan dari tingkat
energi yang lebih rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi, yaitu tingkat
tereksitasi. Dari hasil pengukuran pada spektrofotometer UV-Vis, didapatlah harga
absorbans pada masing-masing sampel. Berdasarkan hasil pengamatan yang
dilakukan absorbans sampel yang diperoleh adalah larutan susu sapi sebesar
1,859 dan larutan ASI sebesar 1,805. Dari hasil interpolasi harga absorbans ke
dalam kurva standar protein, diperoleh persamaan y = 0,474x + 0,155. Jika y
ekuivalen dengan nilai absorbans sampel dan x ekuivalen dengan nilai kadar
protein maka dengan perhitungan sederhana diperoleh nilai kadar protein pada
susu sapi sebesar 42,5 mg/L dan kadar protein pada ASI sebesar 41,4 mg/L.

V. KESIMPULAN
Berdasarkan tujuan dan hasil pengamatan dari percobaan ini, maka dapat
disimpulkan bahwa penetapan kadar protein secara biuret didasarkan atas
pengukuran serapan cahaya oleh ikatan kompleks berwarna ungu violet yang
terjadi ketika protein bereaksi denga tembaga dalam lingkungan alkali. Uji Biuret

digunakan untuk menentukan ikatan peptida pada protein yang berupa cairan.
Dari hasil yang diperoleh, semakin lama larutan protein didiamkan maka semakin
banyak ion Cu2+ berkoordinasi dengan N pada gugus amino sehingga warna yang
dihasilkan semakin jelas warna ungunya. Berdasarkan data yang diperoleh, maka
tetapan kadar protein dalam susu sapi adalah sebesar 42,5 mg/L, sedangkan kadar
protein dalam ASI adalah sebesar 41,4 mg/L. Kadar protein dalam susu sapi lebih
banyak daripada kadar protein dalam ASI.

DAFTAR PUSTAKA
Enechi, O.C., dan Nwabueze, C. E. 2013. A New Colorimetric Method for the
Determination of Proteins. Advances in Biological Research. Vol. 7 (5):
159-162
Gandhimathi, R., S. Vijayaraj., M.P. Jyothirmaie. 2012. Analytical Process of
Drugs By Ultraviolet (UV) Spectroscopy A Review. International
Journal of Pharmaceutical Research & Analysis. Vol. 2 (2)
Katili, A.S. 2009. Struktur dan Fungsi Protein Kolagen. Jurnal Pelangi Ilmu. Vol.
2 (5)
Octaviani, T., Any, G., Hari, S. 2014. Penetapan Kadar -Karoten pada Beberapa
Jenis Cabe (Genus Capsicum) dengan Metode Spektrofotometri Tampak.
Jurnal Pharmaciana. Vol. 4 (2)
Setiono, Monica H. & Avriliana Dewi A. 2013. Penentuan Jenis Solven dan pH
Optimum pada Analisis Senyawa Delphinidin dalam Kelopak Bunga
Rosela dengan Metode Spektrofotometri UV-Vis. Jurnal Teknologi Kimia
dan Industri. Vol. 2. (2)

Toha, A.H.A. 2001. Biokimia : Metabolisme Biomolekulel. Bandung: ALFABETA