Anda di halaman 1dari 5

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Definisi Tumor Odontogenik
Tumor adalah massa yang dalam dan padat dengan diameter lebih dari
1 centimeter. Tumor odontogenik merupakan tumor yang paling seringa
terjadi pada rahang. Tumor ini dapat terjadi dari satu atau semua jaringan
pembentuk gigi, atau mengandung sel odontogenik pada suatu stadium
pertumbuhan

tanpa

menghasilkan

suatu

struktur

interseluler

yang

karakteristik. Ada tumor yang berasal dari sel epitel ektodermal yaitu yang
akan membentuk organ email, dan tumor yang terbentuk dinamakan tumor
odontogenik ektodermal. Ada pula tumor yang berasal dari bagian
mesodermal gigi dan tumornya dinamakan tumor odontogenik mesodermal.
Ada pula yang berasal dari derivat epitel maupun bagian mesodermal, tumor
yang terbentuk dinamakan tumor campur odontogenik, misalnya odontoma.
Jika tidak mengandung substansi gigi yang mengalami kalsifikasi,
dinamakan odontoma lunak. Jika stuktur interselularnya tumbuh dan
mengalami kalsifikasi, dinamakan odontoma keras (1).
2.2 Klasifikasi Tumor Odontogenik
Klasifikasi tumor odontogenik menurut American Academy of Oral
Pathology (1):
A. Tumor Odontogenik Ektodermal
1. Enameloma
2. Ameloblastoma (tipe primitif, tipe pleksiform, tipe stelata, tipe
folikular, tipe sel basal, dan tipe akantomatosus)
3. Adenoameloblastoma
4. Melanoameloblastoma
5. Ameloblastoma malignant
B. Tumor Odontogenik Mesodermal
1. Odontogenik miksoma
2. Odontogenik fibroma
3. Sementoma (Sementoblastoma)
4. Dentinoma (Dentinoblastoma)
5. Odontogenik fibrosarkoma
C. Tumor Odontogenik Campur
1. Ameloblastik fibroma.
2. Ameloblastik hemangioma
3. Ameloblastik neurinoma
4. Ameloblastik odontoma (odontoblastoma)

5. Odontoma (Geminated odontoma, Odontoma kompon, Odontoma


kompleks, Dilated odontoma, Odontoma kistik)
6. Ameloblastik sarkoma
7. Adonto-ameloblastoma sarkoma.
Klasifikasi tumor odontogenik menurut Robert J. Gorlin adalah
berdasarkan pada efek induksi satu jaringan gigi terhadap jaringan gigi lain
(1):
A. Tumor Odontogenik Epitelial
1. Perubahan minimal pada jaringan penyambung:
- Ameloblastoma
- Tumor
adenomatoid
odontogenik
(tumor

adenomatoid

ameloblastik)
- Calcifying epithelial odontogenic tumor
2. Perubahan induksi yang nyata pada jaringan penyambung:
- Ameloblastik fibroma
- Ameloblastik fibrosarkoma
- Odontoma
Ameloblastik odontoma (odontomameloblastik)
Ameloblastik dentino sarkoma
Odontoma kompleks
Odontoma kompon
B. Tumor Odontogenik Mesodermal
1. Odontogenik miksoma dan/atau miksofibroma
2. Odontogenik fibroma
3. Sementoma:
- Periapikal sementoma (fibrous) dysplasia
- Sementoblastoma
- Cementifying fibroma
- Gigantiform cement (familial multiple cementoma)
2.3 Definisi Ameloblastoma
Ameloblastoma merupakan tumor odontogenik epitel yang paling
sering menyebabkan induksi ringan pada derivat mesodermal. Malassez
(1885) pertama kali mempelajari tumor ini dan menduga bahwa tumor ini
berasal dari sisa epitel selubung akar dan menamakannya adamantin
epiteloma. Derjinsky (1890) pertama kali menamakan tumor ini dengan
adamantinoma, sebutan ini banyak dijumpai dalam literature Jerman. Ivy
dan Churchill keberatan dengan penamaan tumor ini, karena email tidak
terbentuk sama sekali dan menamakan tumor ini sebagai ameloblastoma.
Nama ini banyak digunakan dalam literature Inggris-Amerika. Akan tetapi

istilah ameloblastoma juga tidak tepat karena asalnya bukan dari sel
ameloblas (1).
Tumor ini diduga berasal dari beberapa sumber seperti sisa organ
email atau lamina dental dan lapisan basal dari membrane mukosa mulut(1).
Banyak pendapat yang mengatakan bahwa ameloblastoma dapat
terjadi dari kista dentigerous, akan tetapi sampai sekarang frekuensinya
masih belum diketahui. Ameloblastoma berhubungan dengan kosta folikular
dari gigi impaksi. Nampaknya jumlah kasus ameloblastoma menurun
setelah usia 30 tahun. diduga potensi perubhan mejadi ameloblastoma akan
hilang karena adanya perubahan epitel odontogenik menjadi epitel gepeng
(skuamosa) di dalam kosta atau folikel setelah penderita bertambah tua (1).
Gambaran klinis dapat berupa tidak ada rasa sakit dan
pertumbuhannya lambat, gigi menjadi goyang dan menimbulkan sedikit
deformitas wajah (1).
Kadang-kadang ameloblastoma dapat ditemukan pada anak-anak
tetapi setelah diperiksa lebih lanjut ternyata merupakan ameloblastik
fibroma, odontoma atau tumor kelenjar liur minor. Predileksi tumor pada
mandibula sebesar 80% dan 70% di antaranya terdapat di daerah molar dan
ramus mandibula (1).
Pada rahang atas, ameloblastoma ditemukan pada daerah kaninus dan
antral. Tumor pada daerah ini dapat meluas ke sinus maksilis, hidung, mata
bahkan dasar tengkorak (1).
Gambaran radiologi ameloblastoma nampak multiokular. Jika
uniokular, sulit dibedakan dengan kista dentigerous atau kelainan-kelainan
tulang rahang yang memberikan gambaran radiolusensi (1).
2.4 Tahap Pemeriksaan Ameloblastoma
2.5 Penatalaksanaan Ameloblastoma
Pengobatan tumor dengan tindakan bedah, jika perlu dilakukan
hemiseksi. Tumor bersifat radiosensitive tinggi dan memiliki derajat
kekambuhan yang tinggi. Oleh karena itu tumor yang invasive dan
kekambuhan tinggi, tumor ini disebut locally malignant tumor (1).
Metastasis jarang sekali terjadi dan umumnya terjadi pada penderita
yang sudah menderita tumor dalam waktu yang lama, atau penderita dengan

meyebaran lokal yang ekstensif dan penderita yang seringkali mengalami


tindakan bedah atau radioterapi (1).
2.6 Diagnosis Banding Ameloblastoma
1. Kista Dentigerous
Banyak pendapat mengatakan bahwa kista berasal dari intrafolikular
yaitu pembesaran folikel sekitar mahkota gigi. Ada juga berpendapat bahwa
kista berasal ekstrafolikular, mengingat kista pertama kali berkembang dari
sisa-sisa epitel ekstrafolikular yang kemudian bersatu denga folikel gigi
yang erupsi (1).
Dinding epitel kista dentigerous mempunyai potensi yang luas. Kista
dentigerous mempunyai potensi untuk menjadi ameloblastoma (1).
Gambaran klinis dijumpai disekitas mahkota gigi yang tidak bererupsi
atau gigi berlebih. Terjadinya mungkin melalui perubahan reduksi
epithelium email sesudah mahkota terbentuk sempurna. Cairan terkumpul
baik di antara lapisan epithelium email maupun antara epitel dan mahkota
gigi. Kista dapat juga terjadi dari degenerasi kistis sisa-sisa lamina
dental(1).
Tempat predileksi kista dentogerous umumnya pada molar tiga bawah,
kaninus atas, molat tiga atas dan premolar dua bawah. Meskipun demikian,
kista ini dapat terjadi pada setiap gigi yang tidak bererupsi, dimana
mahkota gigi tersebt terdapat dalam lumen kista.
2. Kista Primordial
Istilah kista primordial digunakan untuk menunjukkan kista berasal dari
organ email sebelum pembentukan gigi. Degenerasi stelat retikulum
menghasilkan ruang kista yang dibatasi lapisan epithelium email dalam dan
luar yang berubah menjadi epitel pipih berlapis (1).
Kista primordial paling sering dijumpai di daerah molar tiga bawah atau
lebih ke belakang pada tepi anterior ramus asenden mandibula. Kista dapat
berasal dari benih gigi berlebih. Kista tidak harus melebar atau berkontak
dengan mahkota atau ujung akar gigi. Secara mikroskopis, kista primordial
seperti odontogenic keratocyst dapat uni atau multiokular (1).
3. Kista Odontogenik Keratosis
Nama odontogenic keratocyst dipakai untuk menunjukkan tipe spesifik
dari perubahan yang terjadi dalam kista-kista folikular, residual, kadang-

kadang kista radikular dan fisural. Di sini epitel tampak seragam tanpa rate
ridge dan lapisan basal dbatasi oleh sel-sel silindris atau kubis. Epitel
diliputi lapisan ortokeratin atau parakeratin tipis yang merupakan tanda
perbedaannya dengan kis-kista lain. Kista ini cenderung menjadi besar dan
umumnya multiokular. Lapisan epitelnya sangat tpis, umumnya kurang dari
2 mm. kista lebih sering mengenai mandibula dan lebih dari setengahnya
menunjukkan kekambuhan (1).
4. Osteosarkoma
5. Sel Granuloma