Anda di halaman 1dari 18

Laporan Magang III

PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan


BAB II Stasiun Gilingan

BAB II
STASIUN GILINGAN
A. Pengertian Alat Pekerja Pendahuluan
Fungsi utama dari alat pekerja pendahuluan adalah meringankan kerja dari
stasiun gilingan dan meningkatkan kapasitas giling.
Sebelum tebu masuk ke alat pekerja pendahuluan maka tebu akan melewati
beberapa tahap antara lain :
1. Cane unloading crane
Berfungsi mengangkat atau memindahkan tebu dari truk atau lori ke meja
tebu.

Kapasitas alat=

24 x 60
x berat teburatarata
waktu siklus

Dari total kapasitas unloading crane lebih dari cukup untuk memenuhi
kapasitas giling 2.982,0 tcd.
2. Meja Tebu

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

Fungsi dari meja tebu sendiri adalah sebagai tempat menampung dan
mengatur tebu masuk cane carrier sehingga terjadi keajegkan dan kerataan
tebu atau umpan pada saat masuk alat pekerja pendahuluan dan mulut
gilingan.

3
Kapasitas alat= x S (luas mejatebu m 2)
2

Power penggerak meja tebu=0,25 x S(luas mej a tebu m2 )

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

Dalam proses pemerahan tebu, meja tebu memiliki peran yang sangat
penting karena sebagai pengatur kerataan umpan yang masuk alat
pendahuluan dan mulut gilingan. Kerugian yang dapat ditimbulkan dari
ketidak rataan umpan antara lain :
Mengakibatkan beban kejut pada alat pekerja pendahuluan.
Pemerahan yang dilakukan tidak akan optimal, karena ketebalan yang
tidak sama.
Untuk menjaga kerataan umpan adalah dengan mengatur kecepatan tebu
saat masuk ke cane carrier.
3. Cane Carrier.
Fungsi dari alat ini adalah untuk mengangkut tebu dari meja tebu menuju
alat pekerja pendahuluan

Kapasitas CaneCarrier=60 . U . L . h . d
U

= Kecepatan rantai cane carrier (m/menit)

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

L =
h =
d =
NB :
d =
d =
d =

Lebar cane carrier (m)


Tinggi rata rata tebu di cane carrier (m)
Berat jenis tebu di cane carrier
150 kg/m untuk tebu tidak teratur.
175 kg/m untuk tebu teratur.
150 kg/m untuk tebu setelah dicacah.

Kapasitas cane carrier dapat dibesarkan dengan menambah kecepatan dari


rpmnya, sehingga dapat mencukupi kapasitas giling sesuai dengan RKAP.
B. Alat alat Pekerjaan Pendahuluan
Fungsi dari alat ini tebu diharapkan dapat dicacah hingga luas permukaan
menjadi lebih besar (sel sel banyak yang terbuka) dan kondisi tebu lebih
masif atau padat saat masuk ke mulut gilingan, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan kapasitas giling dan meningkatkan ekstraksi pada stasiun
gilingan.
Di Pabrik Gula Pagottan terdapat dua buah alat pekerjaan pendahuluan yaitu
Cane Cutter ( Cane Knife ) dan Unigrator.
1. Cane Cutter atau Cane Knife

10

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

Sebelum masuk unigrator terlebih dahulu tebu masuk ke cane knife


dimana fungsi dari alat ini memotong tebu sehingga kerja unigrator akan
lebih ringan.

Menurut Toat.S hal III - 10


Daya yang dibutuhkan ratarata=2028 pk /tfh
Ton sabut tiap jam=

Kapasitas giling
x kadar sabut
24

Asumsi

Untuk Pabrik Gula Pagottan daya yang terpasang sebesar 418 kw maka
kapasitas cane knife yang dapat dicapai jika kadar sabut 12,5 %

11

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

2. Unigrator
Fungsi unigrator sama dengan cane cutter akan tetapi tebu yang keluar dari
unigrator lebih lembut sehingga kerja dari gilingan akan lebih mudah
dalam melakukan ekstraksi.

Kap. Unigrator=

daya terpasang
x 24
Kadar sabut x kebutuhan power

Daya yang dibutuhkan = 25 kw/tfh

(E. Hugot, hal 44)

12

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

Hasil kerja dari alat pekerjaan pendahuluan dapat dilihat dari besarnya
nilai PI (Preparation Index) yaitu terbukanya sel batang tebu.
Rumus untuk mencari PI (Preparation Index) menurut E. Hugot sebagai
berikut :
PI =63,7 .W 0,09
PI = Preparation index
W = Kebutuhan power/tfh

13

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

untuk preparation index yang bagus nilainya berkisar 95 %. Karena


ampas mampu menahan nira 10x beratnya, sehingga semakin tinggi nilai
PI atau semakin kecil ampas maka semakin sulit nira keluar.

14

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

Masalah yang sering terjadi di unigrator adalah kurang stabilnya umpan


sehingga sering terjadi perubahan beban sehingga dapat menggangu dari
kerja unigrator sendiri seperti trip, putusnya pisau, dan lain sebagainya.
Untuk mengurangi kejadian tersebut maka umpan yang masuk diusahakan
benar benar stabil. Setelah melewati beberapa tahapan maka tebu
dilakukan pemerahan di stasiun gilingan.
C. Gilingan
Fungsi utama dari alat ini adalah melakukan ekstraksi semaksimal mungkin
dengan menekan kehilangan nira yang masih terikut dalam ampas seminimal
mungkin.

1. Kapasitas Gilingan
Menurut E Hugot ( hal. 191) perhitungan kapasitas gilingan sebagai
berikut :
Kap. Giling=
c

n
D
L
N
f

=
=
=
=
=

0,9 . c . n . L. D . (10,06 . n . D ) . N
f

factor alat pekerjaan pendahuluan


Menurut Landher, hal 69
1,1 1,2
( 1 set pisau )
1,15 1,25
( 2 set pisau )
1,1
( 1 shredder )
1,2
( 1 set pisau + 1 shredder )
1,23
( 2 set pisau + 1 shredder )
putaran roll
( rpm)
diameter roll
(m)
panjang roll
(m)
jumlah roll
kadar sabut

15

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

Berdasarkan data alat yang ada maka pabrik gula pagottan memiliki
kapasitas giling sebesar 3325 tcd.
2. Penyetelan Gilingan :
Penyetelan gilingan yaitu penentuan letak rol - rol dan posisi plat ampas,
posisi rol pengumpan dan lainnya dalam posisi yang benar dan tepat agar
didapatkan bukaan kerja dan lubang penyetelan.
Bukaan kerja adalah jarak antara dua rol pada saat kerja yang didalamnya
terisi penuh oleh sabut, sedang lubang penyetelan adalah selisih dari jarak
antara sumbu rol dengan rata-rata koreksi kedua rol.
Agar diperoleh setelan gilingan yang baik, maka ada beberapa aturan dan
variable yang harus diperhitungkan, yaitu :
a. Perbandingan Bukaan Kerja
Yang dimaksud perbandingan bukaan kerja atau biasa disebut WOR
(Work Opening Ratio) adalah nilai perbandingan antara bukaan kerja
belakang dengan bukaan kerja depan atau muka biasanya dengan
notasi (i). Unit gilingan di Pabrik Gula Pagottan terdiri dari 1 roll

16

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

pengumpan (voding rol) dan 3 rol penggiling yaitu roll atas, muka dan
belakang.
Tebu diperah pada 2 tempat disetiap unit gilingan yaitu antara rol atas
dengan rol muka dan rol atas dengan roll belakang oleh karena hal
tersebut maka bukaan kerja belakang lebih kecil dibandingkan dengan
bukaan kerja depan. Oleh karena itu bukaan kerja belakang selalu
dihitung terlebih dahulu dibandingkan dengan bukaan kerja depan,
dimana bukaan kerja depan dihitung dengan mengalikan bukaan kerja
belakang dengan nilai perbandingan bukaan kerja (i). Nilai i di pabrik
pabrik gula di jawa biasanya ditetapkan mengecil ke belakang.
Contoh :

b. Kecepatan Roll
Kecepatan roll gilingan dengan penggerak mesin uap pada umumnya
berkisar antara 1,5 3,5 rpm, sedang gilingan dengan penggerak turbin
uap biasanya kecepatan putaran roll gilingan berkisar antara 4,0 4,5
rpm. Rpm gilingan biasanya ditetapkan berdasarkan :

Kapasitas giling
Diameter roll
Kecepatan mesin penggerak dan perbandingan perpindahan roda
gigi penggerak.

c.

Penetapan Kadar Sabut (f)


Kadar sabut merupakan komponen utama dalam

rumus kapasitas

giling, karena dalam perhitungan setelan gilingan selalu dianggap


bahwa yang digiling sabut. Prosentase sabut biasanya diambil dari
sabut prosen tebu rata rata giling 3 tahun terakhir.
d. Beban Sabut (fibre loading)
Beban sabut adalah angka yang menunjukkan berat sabut yang diolah
lewat gilingan per jam, angka ini untuk menentukan tebal lapisan
ampas atau tebu yang akan dilewatkan pada gilingan tersebut.

17

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

e. Fiber Index (kg sabut /dm isi terusan)


Fiber index adalah angka kepadatan sabut dengan kg pada tiap dm
volume yang melalui bukaan kerja belakang, diambil dari tabel
berdasarkan jenis alat pekerja pendahuluan dengan jumlah unit
gilingan.
i. Perhitungan Bukaan Kerja
Perhitungan bukaan kerja dihitung terlebih dahulu bukaan kerja
belakang dengan rumus :
belakang=

Q x f x 100.000
24 x 100 x c x n x x Dc x L

Dimana :
Q

Kapasitas Gilingan (TCD)

Kadar sabut (%)

Fibre index (Kg/dm)

Putaran roll atas (put/menit)

Dc

Diameter koreksi roll (dm)

Panjang roll (dm)

18

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

Bukaan

kerja

depan

(N)

depan belakang x Perbanding an bukaan kerja (i)


S

Top
Roll

Feed
Roll

P Q R

K
Bottom
Fron
Roll
t

Bac
k
Bottom
Roll

Penentuan Plat Ampas Saat Kerja (metode jawa)


D

1. Buast garis vertikal melalui titik B (pusat roll gilingan atas)


2. Buat

garis

BA

dengan

1, tentukan titik A dengan BA = Rb + adep +

Ra
3. Buat

garis

BC

dengan

2, tentukan titik C dengan BC = Rb + abel +

Rc
4. Buat lingkaran lingkaran roll gilingan dengan jari jari koreksi Ra,
Rb, Rc

5. Buat

1 2
6

, memotong busur Ra di D

19

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

6. Buat

garis

horizontal

BE,

dengan

panjang

Rb dep
25

7. Dengan titik pusat E, buat lingkaran dengan jari jari ED, melalui titik
F dan G
8. CG = Rc + 20 s.d 25 mm
2 . Ra
6

9. Buat IH =

10.Tarik garis HB memotong DF di J


11.Buat busur KJ, dengan H sebagai pusat, HJ sebagai jari jari
12.KJFG merupakan letak plat ampas dengan roll gilingan atas sedang
kerja.

Top Roll
Feed
Roll

B
Rb

Bottom
Fron
Roll
t

Ra K

J F G

Rc

I
D. Peralatan PendukungAdi Stasiun Gilingan

Bottom Roll
Back

Untuk menunjang kelancaran ekstraksi di stasiun gilingan terdapat beberapa


alat pendukung antara lain :
1. Tekanan Hidrolik
Alat ini berfungsi sebagai pengatur kestabilan tekanan di roll gilingan,
sehingga tekanan yang diberikan roll gilingan akan stabil dan hal ini
tentunya akan mempengaruhi hasil ekstraksi. Untuk tekanan hidrolik
sendiri dipabrik gula pagottan sebesar 200 kg/cm.
Rumus tekanan hidrolik (materi kuliah Paiman STP dosen LPP) :

20

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

Tekanan Hidrolik=
D
L
d
p

=
=
=
=

p . D. L
0,785. d .2

diameter roll (dm)


panjang roll (dm)
diameter piston (cm)
Standart alat pekerja pendahuluan ( AKP )
Unigrator
= 2000 2500 kg/dm
Cane cutter
= 2000 2500 kg/dm
Crasher
= 2500 3000 kg/dm

Berdasarkan perhitungan maka tekanan hidrolik minimum di Pabrik Gula


Pagottan seharusnya sebesar 150 kg/cm dan 190 kg/cm.
2. Intermediate Carrier
Fungsi alat ini adalah sebagai alat angkut tebu setelah dilakukan ekstraksi
dari gilingan satu ke gilingan berikutnnya. Berbentuk seperti penggaruk
yang terhubung olah rantai yang digerakkan oleh rol gilingan atas.

21

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

3. Imbibisi
Imbibisi untuk Pabrik Gula Pagottan menggunakan sistem imbibisi
majemuk, imbibisi yang diberikan 200 % sabut. Pemberian imbibisi
sendiri bertujuan untuk mempermudah proses ekstraksi pada stasiun
gilingan sehingga mencegah kehilangan gula lebih banyak lagi.
Dimana imbibisi diberikan kepada ampas setelah keluar dari gilingan 2, 3
dan 4, sedangkan untuk nira yang keluar dari gilingan 5 masuk ke ampas
yang keluar dari gilingan 3, nira dari gilingan 4 masuk ke ampas yang
keluar ke gilingan 2 dan nira dari gilingan 3 masuk ke ampas yang keluar
dari gilingan 1 hal ini disebut imbibisi majemuk. Hal hal yang dapat
ditimbulkan jika pemberian imbibisi kurang tepat :
Air imbibisi yang diberikan kurang :

Ekstraksi gilingan kurang baik.


Menimbulkan keausan pada gilingan.
Banyak gula hilang bersama ampas.
Air imbibisi yang diberikan terlalu banyak :

Gilingan mudah slep.


ZK ampas rendah (ampas basah).
Kalori yang dibutuhkan untuk penguapan tinggi.

22

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

Jumlah imbibisi akan berpengaruh terhadap ekstraksi gilingan. Makin


besar jumlah air imbibisi, akan didapatkan ekstraksi yang meningkat.
Selain kuantitas imbibisi kualitas (suhu) dan derajat pencampuran juga
sangat mempengaruhi hasil ekstraksi menutur E. Hugot tabel variasi
ekstraksi pada berbagai imbibisi, seperti dibawah ini :
Imbibisi % Tebu
10
20
30
40

Ekstraksi %
92,1
93,7
94,8
95,6

Untuk Pabrik Gula Pagottan dimana imbibisi % tebu 40, maka ekstraksi
yang terjadi diharapkan mencapai 95,6 %. Selain hal diatas di stasiun
gilingan dilakukan perlakuan perlakuan untuk mencegah kerusakan nira
akibat bakteri antara lain steaming maupun pemberian chemikalia seperti
voltabio 2303, karmand SN 01, dan biofast 8603.
E. Masalah dan cara mengatasi :
Tebu ambrol saat dipancing.
Untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menaikkan ambrolan kedalam
meja tebu, dan dengan melakukan koordinasi dengan pihak tebang angkut
dalam hal penataan tebu. Akibat yang ditimbulkan dengan masalah ini

kapasitas giling akan menurun.


Kerataan tebu yang tidak stabil.
Masalah ini dapat menggangu kerja dari alat pekerjaan pendahuluan,
karena dengan tidak ratanya umpan maka tegangan listrik akan terjadi
fluktuatif yang dapat berpengaruh pada ketahanan alat, selain itu dapat
mengakibatkan jubel. Sedangkan hal yang terjadi pada gilingan adalah
pressing gilingan akan tidak stabil tentunya hal ini akan mempengaruhi
proses ekstraksi sendiri. Untuk menghindari hal ini maka disosialisasikan

pada operator meja tebu agar keajegkan umpan dapat terjaga.


Gilingan selip
Untuk mengatasi hal tersebut maka dilakukan semasukkan secara manual
dan tekanan hidrolig dikurangi terlebih dahulu, selain itu pemberian

23

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB II Stasiun Gilingan

imbibisi dilihat kembali jika pemberian terlalu besar maka pemberian


imbibisi dikurangi.

24