Anda di halaman 1dari 24

Laporan Magang III

PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan


BAB III Stasiun Pemurnian

BAB III
STASIUN PEMURNIAN
A. Pengertian
Stasiun pemurnian merupakan tempat untuk memisahkan kotoran atau bukan
gula dalam nira mentah sebanyak banyaknya dengan mencegah kerusakan
gula sedikit dikitnya. Pemisahan bukan gula dilakukan secara fisika, kimia
maupun kimia fisika.
Secara Fisika

Dengan pemanasan, pengendapan, penyaringan.

Secara Kimia

Mereaksikan nira mentah dengan suatu bahan untuk


membentuk endapan.

Secara Kimia Fisika :

Proses penyerapan (adsorbsi) kotoran oleh endapan.

Agar proses pemisahan bukan gula di stasiun pemurnian dapat maksimal dan
kerusakan gula seminimal mungkin maka harus memperhatikan dan mengatur
pH, suhu, serta waktu tinggal seoptimal mungkin.
B. Peralatan di Stasiun Pemurnian
1. Timbangan Nira Mentah
Timbangan nira mentah bertujuan untuk mengetahui berapa banyaknya
nira yang dihasilkan, sehingga bisa dipergunakan untuk menghitung
angka angka pengawasan dan dapat mengetahui kondisi pabrik.
Timbangan nira mentah di Pabrik Gula Pagottan menggunakan flow
meter.
Contoh perhitungan berat dari nira mentah :

2. Pemanas pendahuluan

29

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Pemanas pendahuluan (Juice Heater) yang terdapat di pabrik gula


Pagottan sebanyak 9 buah dimana juice heater nomor 1 sampai dengan 6
dapat digunakan sebagai pemanas pendahuluan I dan II sedang untuk 7
sampai 9 digunakan untuk pemanas pendahuluan III. Suhu dan fungsi
dari pemanas pendahuluan adalah :
Suhu nira yang diharapkan setelah keluar dari pemanas pendahuluan I, II,
III dengan tujuannya :
a.

Pemanas Pendahuluan I ( 75C 80C )

1. Mempercepat reaksi susu kapur dengan phospat.


2. Membunuh jasad jasad renik.
b.

Pemanas Pendahuluan II ( 102C 115C )


1.Untuk mempercepat pengendapan bukan gula.
2.Memudahkan gas gas udara keluar melalui flash tank.

c. Pemanas Pendahuluan III ( 115C )


1. Memperingan kerja dari evaporator.
Cara kerja dari pemanas pendahuluan adalah :
Nira mentah masuk melalui pipa pemasukan dan mengalir di dalam pipa
nira. Uap bekas masuk ke ruang pemanas melalui pipa uap pemanas dan
memenuhi ruang pemanas. Terjadi perpindahan panas antara lain nira
dalam pipa nira dan uap dalam ruang pemanas. Nira bersikulasi melalui
sekat-sekat sirkulasi yang berada dalam alat pemanas. Satu kali sirkulasi
adalah satu kali naik satu kali turun. Dalam hal ini maka luas pemanas
menjadi hal sangat diperhatikan sehingga suhu yang diharapkan dapat
tercapai. Besarnya luas pemanas yang diharapkan dapat tergangu oleh
beberapa hal antara lain :
Terjadinya pengerakan baik disisi nira maupun disisi pemanas
Pengeluaran air konden yang tidak lancar.
Adanya gelembung gelembung gas pada nira yang mengakibatkan
transfer panas terganggu.
Data spesifikasi juice heather :

30

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Contoh perhitungan luas pemanas dan kebutuhan uap di juice heater


Rumus Luas pemanas Juice heater
S=

PxC
T
x ln
k
Tt

S = Luas pemanas

(m)

P = Jumlah nira dipanaskan

(Kg/jam)

T = Suhu uap pemanas

(C)

to = Suhu awal nira

(C)

t = Suhu akhir nira

(C)

C = Panas jenis

( kcal/kg C)

k = Koefisiensi perpindahan panas (Kcal/m.C.jam)


dimana :
C=1(0,006 x brix)
u
k =6 x T x
1,8

0,8

( )

T = Suhu uap pemanas

(C)

U = Kecepatan nira dalam pipa

( 1 2 ) m/s

31

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

32

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Untuk menperoleh suhu yang diharapkan maka berdasarkan hitungan


diperlukan luas pemanas pada pemanas pendahuluan I sebesar 200 m
sehingga dijalankan dua unit juice heater sebagai faktor amannya.
Rumus Kebutuhan uap juice heater
Gmp=

Qn. c .(t 2t 1)
Pl

Dimana :
Gmp
=
Qn
=
c
=
t1
=
t2
=
Pl
=

Jumlah uap dibutuhkan


Berat nira dipanaskan
Panas jenis nira
Suhu nira masuk
Suhu nira keluar
Panas laten uap pemanas

(kg/jam)
(kg/jam)
(kcal/kg. C)
(C)
(C)
(kcal/kg)

33

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Untuk memanaskan nira mulai dari pemanas pendahuluan I sampai

34

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

dengan ke pemanas pendahuluan III diperlukan uap sebesar 20.713,8


kg/jam atau 20,7 ton/jam.
Problematika yang terjadi

di

pemanas

pendahuluan

dan

cara

mengatasinya :
Uap bekas atau bleeding kurang
Jika hal ini terjadi maka suhu di juice heater tidaka akan tercapai dampak
yang ditimbulkan antara lain:
Terjadi periode buih di defikator
Reaksi tidak berjalan sempurna sehingga turbidity nira tidak

bagus.
Terjadi mubal pada single tray karena terjadi perbedaan suhu.
Memperberat kerja dari evaporator karena suhu yang masuk
evaporator terlalu rendah dan kotoran yang terikut dalam nira
masih banyak sehingga evaporator lebih cepat kotor.

Cara mengatasi dengan menambah suplesi uap baru atau menghentikan


penggunaan bleeding dan menggantinya dengan uap bekas. Hal ini
diharapkan agar suhu pada pemanas pendahuluan dapt tercapai.
3.

Defikator
Defikator merupakan alat yang digunakan dalam proses defikasi, yaitu
proses pemurnian nira yang paling sederhana, hanya terdiri dari proses
penghilangan sifat asam yang terdapat pada nira. Hal ini dilakukan
karena sifat dari sukrosa sendiri dapat rusak karena asam. Sifat asam
yang terdapat pada nira berasal dari asam organik, anorganik maupun
koloid yang bermuatan negatif (bersifat asam) oleh karena itu untuk
mencegah rusaknya sukrosa tersebut maka dalam peti defikator ditambah
dengan susu kapur (CaOH2) yang memiliki sifat basa. Reaksi kimia yang
terjadi :
Ca(OH)2

CaOH+ + OH-

CaOH-

Ca++ + OH-

Reaksi pada Phospat :


H3PO4

H+ + H2PO4-

35

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

H2PO4-

H++ + HPO42-

HPO42-

H+ + PO43-

Sehingga terjadi reaksi :


Ca2+ + H2PO4-

Ca(PO4)3

Ca2+ + HPO42-

CaHPO4

Ca2+ + PO43-

Ca3(PO4)2

Ca3(PO4)2 mempunyai sifat adsorbsi kotoran yang melayang dan sangat


kuat, ini yang disebabkan bila kadar PO4 rendah maka hanya sedikit
endapan yang terbentuk dan masih banyak kotoran yang terdapat pada
nira.
Data spesifikasi alat :

36

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Proses yang terjadi didefikator :


Defikator I
Diberi penambahan susu kapur sampai pH 7,2 dengan harapan nira
yang semula bersifat asam akan menjadi netral sehingga kerusakan
sukrosa akan semakin kecil, selain itu dengan pemambahan susu
kapur akan terjadi ikatan antara Ca(OH)2 dengan H3PO4 sehingga
terbentuk ikatan Ca3(PO4)2 yang dapat mengadsorbsi kotoran yang

melayang.
Defikator II
Di defikator dua tidak terjadi penambahan susu kapur, didefikator ini
berfungsi untuk menyempurnakan reaksi dan percampuran akan

lebih homogen.
Defikator III
Untuk defikator tiga diberi penambahan susu kapur hingga 9,2
dengan tujuan kotoran yang tidak terikat pada defikator satu akan
terikat di defikator tiga karena titik isoelektris pada kotoran berbeda
beda. Sesuai hukum BOSTRA bahwa kerusakan nira pada alkalis
tinggi rendah atau diabaikan jika waktu tinggal kurang dari 1 menit.

Masalah yang terjadi di defikator dan cara mengatasi :


Terjadi buih
Hal diatas sering terjadi hal ini disebabkan panas nira yang masuk
defikator kurang, sehingga reaksi tidak sempurna atau kurang cepat,

37

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

untuk menghindari hal tersebut maka pemanas pendahuluan pertama

ditambah atau mungkin panas kurang sehingga perlu suplesi.


pH tidak tercapai
Jika hal ini yang terjadi maka kemungkinan adalah kualitas dan
kuantitas dari susu kapur kurang sehingga perlu dilakukan
penambahan CaO.

4.

Drum pemadam kapur


Fungsi dari alat ini sebagai penyedia susu kapur untuk keperluan reaksi
di defikator.
Kapasitas giling :
2750 x D x x t
Q=

Q
= Kapasitas giling
D
= diameter drum

= Berat jenis susu kapur


t
= Lama waktu pemadaman

= Pemakaian susu kapur % tebu


Data alat :

5.

(tcd)
(m)
(ton/m)
(jam)

Sulfitator
Fungsi dari alat ini adalah tempat terjadinya reaksi antara SO 2 dengan
Ca2+ berlebih sehingga terbentuk endapan CaSO3.
Pemberian gas SO2 bertujuan untuk :
Mendapatkan reaksi lanjut antara kelebihan kapur dengan SO2
sehingga didapatkan pH netral untuk menghindari kerusakan sukrosa

yang lebih banyak.


Membentuk endapan garam kalsium sulfit ( CaSO 3 ) yang bertujuan
untuk menyelubungi endapan yang telah terbentuk dalam proses
defikasi.

38

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Data spesifikasi alat :

Reaksi yang terdapat dalam peti sulfitator adalah sebagai berikut :


Ca(OH)2
CaOH
Ca(OH)2

CaOH+ + OHCa2+ + OHCa2+ + 2OH-

SO2 + H2O

H2SO3

39

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

H+ + HSO3H+ + SO322CaSO3

H2SO3
HSO3
Ca2+ + 2SO3-

Fungsi dari endapan CaSO3 adalah menyelubungi endapan Ca3(PO4)2


dimana

endapan

yang

dulunya

bersifat

incompresible

menjadi

compresible sehingga endapan dapat dipisahkan dengan penapisan.

Gambar peti sulfitasi dengan reaktor Thomson :

Kebutuhan gas dari reactor Thomson :


Kebutuhan gas = 5 x Volume nira.
1 m3 SO2 mensirkulasi : 3 m3 nira.

40

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

3 m3 nira memerlukan 5 m3 SO2.

Jumlah nira yang bersikulasi dalam peti sulfiter 42,45 m tiap menitnya.
Masalah yang terjadi di sulfitator :
Masalah yang sering muncul pH tidak tercapai hal ini disebabkan antara
lain penyempitan pipa akibat kerak cara mengatasinya dengan melakukan
korek secara rutin, suplay SO2 kurang mengecek kondisi belerang dalam
tobong (masih atau sudah habis) dan melakukan pengecekan pada pompa
O2 tekanan udara keyel angin 0,5 Kg/cm jika kurang maka perlu
ditambah.
6.

Tobong belerang
Fungsi alat ini sebagai pembuat gas SO2.
Gas SO2 berasal dari pembakaran belerang dengan oxigen dimana akan
terbentuk rekasi :

41

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

S + O2

SO 2 Reaksi ini berlangsung dalam phase dan

merupakan reaksi eksoterm yang mengeluarkan panas = 2.216,7 Kcal per


kg belerang yang terbakar. Reaksi pembakaran berlangsung pada suhu
363C jika terlampau tinggi maka akan terbentuk sulfat yang merupakan
komponen yang sangat tidak disukai karena :

Reaktivitas sulfat lebih tinggi sehingga perusakan gula dan alat


lebih banyak.

Kualitas kristal gula terpengaruhi karena kadar sulfat yang tinggi.

Kelebihan panas juga dapat menyebabkan meningkatnya gas belerang


sehingga dapat berpengaruh :

Naiknya kebutuhan belerang karena pemakaian yang banyak.

Akan tersublimnya gas belerang yang mengakibatkan buntu pada


pipa pipa yang terlewati gas belerang.

Oleh karena hal tersebut maka tobong belerang maupun yang keluar
tobong segera didinginkan dengan air mengalir, akan lebih baik jika suhu
gas keluar tobong sekitar 80 C.
Kapasitas tobong menurut LANDHEER :

Sulfitasi nira mentah

0,1 m / LB / 1000 kui tebu / 24 jam.

Sulfitasi nira kental

0,05 m / LB / 1000 kui tebu / 24

jam.
Sehingga untuk kapasitas 3000 TCD luas bakar yang diperlukan adalah :

0,1 m / 100 TCD x 3000 TCD = 3 m untuk nira mentah.


0,05 m / 100 TCD x 3000 TCD = 1,5 m untuk nira kental.

Kebutuhan tekanan udara :

42

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

7.

Flash tank
Alat ini berfungsi sebagai tempat melepaskan gas-gas/udara yang
terdapat dalam nira sebelum menjalani proses pengendapan di clarifier.
Adanya udara atau gas-gas dalam nira yang akan diendapkan dapat
mengganggu proses pengendapan karena bergerak berlawanan arah
dengan endapan.

43

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Desain flash tank sangat dipengaruhi oleh luas area dari pada volumenya,
formula La Musse :
A=

4,168 x W x(t 1t 2)
L

Dimana :
A = Luas area untuk flashing (m)
W = Berat nira ton per jam
t1 = Suhu masuk (C)
t2 = Suhu keluar (C)
L = Panas laten uap pada t2 (kcal/kg)
8.

Single tray
Kapasitasnya ditentukan oleh waktu tinggal nira dalam ruang pengendap.
Bejana ini untuk memisahkan kotoran-kotoran dari dalam nira melalui
proses pengendapan. Agar terjadi proses pengendapan yang lebih cepat
nira sebelum masuk ditambahkan floculant. Dari proses ini akan didapat
nira jernih dan nira kotor.
Faktor-faktor yang mempengarui proses pengendapan

Ukuran gumpalan endapan

Densitas endapan

Viscositas

Temperatur
Data spesifikasi alat :

44

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Masalah yang sering terjadi di single tray :


Masalah yang sering muncul adalah sering mubalnya endapan biasanya
hal ini disebabkan oleh panas yang tidak tercapai untuk mengatasinya
maka dengan memaksimalkan kerja dari pemanas pendahuluan, terutama
pada saat skrap harus bener bener bersih. Terjadinya perubahan pH
pada saat pH keluar dari peti sulfitator harus sesuai dengan yang
diharapkan 7,2 jika tidak maka akan terjadi rekasi di bejana pengendap.
9.

DSM Screen

45

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Saringan nira encer berfungsi menyaring ampas halus pada nira jernih
yang berasal dari peti pengendap, sebelum dipanaskan di PP III sampai
suhu 105 C, karena ampas halus mengandung tannin dan saccharetin
yang apabila dipanaskan akan menghasilkan warna.
Perhitungan kapasitas saringan dengan ketentuan 7500 ltr nira per lebar
10 cm atau 100 ton / jam per lebar 1 m (Hugot) hal 356
Data spesifikasi alat

Kebutuhan saringan DSM di pabrik gula Pagottan untuk nira encer


sebanyak 2 buah.
10.

Rotary vacuum filter


Alat penapis yang digunakan di Pabrik Gula Pagottan berupa adalah
rotary vacuum filter, dari penapisan diperoleh nira tapis dan blotong

46

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

dengan syarat pol < 2 %. Sebelum ditapis nira kotor di campur oleh
ampas halus (Bagasillo) yang gunanya untuk membentuk media tapis
kotoran agar mempermudah proses penapisan.
Q=

22 x F x n x
10 x q

Dimana :
F= x D x L
Q
F
L
D
n

=
=
=
=
=
=
=

Kapasitas giling ( tcd )


Luas saringan (m)
Panjang RVF
Diameter RVF
Jumlah rotary yang dipakai
Angka penyaringan rata rata = 400 kg/m/jam
Nira kotor % tebu.

Data spesifikasi alat :

47

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Kapasitas rotary vacuum filter di pabrik gula pagotta sebesar 4107 tcd
sehingga cukup untuk kapasitas 3000 tcd.
Menurut A. Landheer hal 318 kebutuhuan luas saringan vacuum filter
2,5 m2/100 ton tebu / 24 jam.

Perhitungan kebutuhan luas saringan berdasarkan Landheer :

Dengan kapasitas giling 3000 tcd berdasarkan hitungan Landheer


maka keperluan luas saringan pada rotary vacuum filter sebesar 75 m.
Masalah yang sering muncul di rotary vacuum filter :
Masalah yang timbul pol blotong > 2 % hal ini dimungkinkan karena
Low dan High vacuum yang tidak tercapai, proses pemberian afsoed
yang tidak merata dan suhu air afsoed yang tidak tercapai, saringan

48

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

sobek. Dari penyebab diatas dapat diatasi dengan diperbaiki untuk low
dan high vacuum untuk low vacuum 15 cmHg dan high vacuum 30
cmHg. Untuk pemberian siraman yaitu dengan perbaikan spuyer yang
buntu atau rusak, untuk suhu yang tidak tercapai air dikrengseng
dengan uap sehingga suhu dapat tercapai dan unutk saringan yang
robek dilakukan penggantian.

C. Bahan Pembantu Proses


Bahan pembantu yang digunakan dalam proses pemurnian adalah :
Kapur tohor (CaO).
Belerang (S).
Flukulant.
Pemakaian kapur tohor

49

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Untuk standart penggunaan bahan pembantu sebagai berikut :


Pemakaian kapur
= 130 kg/100 TT.
Pemakaian belerang
= 65 kg/100 TT.

50

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Pemakaian flucolant
= 2,5 ppm.
Hasil kerja dari pemurnian nira dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain
Alat
Bahan pembantu
Mutu nira mentah
Operator
Untuk menilai kinerja dari stasiun pemurnian dapat dilihat secara visual atau
dengan cara perhitungan analisa.
1.
Cara Visual
Pengamatan hasil dari stasiun pemurnian yang dilakukan secra visual
dengan mata antara lain :
Kecepatan dan volume endapan (makin cepat pengendapan akan

2.

semakin baik).
Kekeruhan nira encer (nira encer yang baik jernih dan dapat tembus

pandang).
Warna nira encer (warna seperti air teh tetapi tidak gelap).

Cara perhitungan dan analisa


Untuk semua analisa mempunyai angka standart dan angka perhitungan
digunakan sebagai perbandingan :
Kadar kapur nira encer < 1000 ppm
Efek pemurnian (EP) = 12 15 % untuk proses sulfitasi.
Ton bukan gula diasingkan dalam nira mentah / ton CaO. Semakin
tinggi nilai ini atau jumlah bukan gula nira mentah diasingkan lebih
banyak dengan pemakaian kapur, maka hasil pemurnian semakin

baik.
Selisih HK nira encer dengan hk nira mentah 2 3 point.
Sesuai dengan standart angka angka normal diatas maka hasil
pemurnian Pabrik Gula Pagottan berdasar data Laporan Periode II
sebagai berikut :
Nira mentah
Nira encer
BG Nira mentah
BG Nira encer

: % brix
: 11,19
% pol
:
7,60
HK
: 67,92
: % brix
: 11,66
% pol
:
8,27
HK
: 70,93
: ( 11,19 7,60) / 100 x 44.229,8 ton
: 1.587,8 ton
: ( 11,66 8,27) / 100 x 39.944,3 ton
: 1.354,1 ton

51

Laporan Magang III


PTPN XI (Persero) Pabrik Gula Pagottan
BAB III Stasiun Pemurnian

Efek pemurnian ( EP ) :

1.587,8 1.354,1
x 100 14,7 %
1.587,8

Kadar kapur nira encer :

encer > dari 1000.


% pol blotong : 1,63 %, sesuai angka standart dengan pol blotong

2 % maka pol blotong sedikit diatas yang diharapkan.


Kenaikan HK : selisih HK ne HK nm : 70,93 67,92 = 3,01 point,

1.051 mg CaO/ ltr nira, kadar kapur nira

yang berarti selisih HK tersebut memenuhi syarat.

52