Anda di halaman 1dari 17

POLITIK TIMUR TENGAH

POLITIK PEMERINTAHAN KELOMPOK NEGARA MONARKI (SAUDI ARABIA,


KUWAIT, BAHRAIN, QATAR)
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Politik & Pemerintahan Timur Tengah dengan
dosen pengampu M. Saeri M.Hum

OLEH KELOMPOK 6 :
AHMAD GIFFARI GIBRAN

(1301113992)

MUHAMMAD REZA SATRIA

(1301113845)

ROMI SUGIANTO

(1301120021)

SAID IRSAM ALFAJRI

( 1301156883)

JURUSAN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS RIAU
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, Inayah, Taufik dan Hidayahnya
sehingga kami penulis dari kelompok 6 bisa menyelesaikan penyusunan makalah untuk tugas
mata kuliah Politik dan Pemerintahan Timur Tengah dengan dosen pengampu Bapak H.
Muhammad Saeri M.Hum.
Harapan kami dari penulis semoga makalah ini bisa menambah wawasan khususnya bagi
kami sebagai penulis dan para pembaca. Kami menyadari penulisan makalah ini tentunya
terdapat banyak kelemahan dan jauh dari sempurna karena pengalaman kami sebagai penulis
yang masih kurang. Oleh karena itu kami berharap adanya masukan-masukan untuk
kesempurnaan makalah ini

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.........................................................................................................2
DAFTAR ISI.......................................................................................................................3
BAB I : PENDAHULUAN................................................................................................4
I.1 LATAR BELAKANG.........................................................................................4
I.2 MANFAAT DAN TUJUAN PENULISAN.......................................................4
BAB II : PEMBAHASAN................................................................................................5
II.I ARAB SAUDI...................................................................................................5
II.I.1 OVERVIEW....................................................................................................5
II.I.2 SISTEM POLITIK..................................................................................................5
II.II. BAHRAIN.......................................................................................................8

II.II.1 BENTUK NEGARA.........................................................................................................9


II.II.2 BENTUK DAN SISTEM PEMERINTAHAN................................................................9
II.II.3 POLITIK............................................................................................................................9
II.II.4 DEMOGRAFI................................................................................................................10
II.III. KUWAIT......................................................................................................11
II.III.1 PEMERINTAHAN........................................................................................................11
II.III.2 PEMERINTAHAN KUWAIT......................................................................................11
II.III.3 EMIR..............................................................................................................................11
II.III.4 PEMILIHAN.................................................................................................................11
II.III.5 CABANG YUDISISAL.................................................................................................12
II.IV QATAR..........................................................................................................13
II.IV.1 SEJARAH...................................................................................................... 13
II.IV.2 EKONOMI.....................................................................................................13
II.IV.3 WILAYAH......................................................................................................13
II.IV.4 GEOGRAFI................................................................................................... 13
II.IV.5 DEMOGRAFI.................................................................................................14
II.IV.6 HUKUM........................................................................................................ 14
BAB III : KESIMPULAN...............................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................16

BAB I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Timur Tengah merupakan kawasan yang memiliki situasi kompleks. Misalnya adanya
sumber minyak yang melimpah, konflik wilayah Palestina dan Israel, dan yang terbaru adalah
ISIS(Islamic State Of Iraq and Syria). Negara-negara yang berada dikawasan TImur Tengah
tentu saja negara-negara Arab. Negara Arab memiliki pendapatan perekonomian yang melimpah
karena adanya sumber minyak dan gas yang luar biasa banyak dan memiliki cadangan dalam
jumlah besar. Dengan pendapatan dari sumber minyak itu rakyat negara-negara Arab bisahidup
makmur walaupun sebagian rakyat yang lain mengalami nasib yang kurang beruntung.
2. Manfaat dan Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini agar kami sebagai penulis bisa menganalisis sebuah wilayah
kerajaan monarki arab seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait dan Qatar.
Manfaat dari penulisan makalah ini menurut kami para penulis adalah bisa menambah
wawasan kami sebagai penulis maupun para pembaca tulisan ini. Dengan penambahan wawasan

tertentu akan semakin dipahami bahwa situasi sebuah negara bisa mengalaami perubahan baik
yang biasa maupun perubahan ekstrim.

BAB II. ISI

II.1 Arab Saudi


1. Overview
Arab Saudi merupakan negara Timur Tengah yang terletak di Jazirah Arab, yang secara resmi
dinamakan Kerajaan Arab Saudi. Arab Saudi merupakan negara Arab terbesar di Asia Barat.
Kerajaan Arab Saudi dibentuk pada tahun 1932 oleh Ibn Saud. Ibn Saud berjasil menyatukan 4
wilayah yaitu Hejaz, Najd, Al-Hasa, dan Asir yang saat ini merupakan wilayah modern dari
Arab Saudi.
Aran Saudi saat ini memiliki total populasi sebanyak 28,7 Juta jiwa yang dimana 20 juta
merupakan penduduk asli Arab Saudi, sedangkan sisanya merupakan warga negara asing. Arab
Saudi juga merupakan pemain dominan dalam Industri Produksi minyak bumi dan merupakan
salah satu eksportir terbesar di dunia, Arab Saudi sendiri menyimpan cadangan minyak terbesar
ke dua di muka bumi.1
2. Sistem Politik
Arab Saudi merupakan sebuah negara Monarki yang dipimpin oleh seorang Raja, atau menganut
sistem Monarki Absolut.2 Akan tetapi menurut Hukum Dasar Arab Saudi yang diadopsi oleh
dekrit Kerajaan di tahun 1992, Raja harus mematuhi dan melaksanakan hukum Sharia dan Al1 OPEC Share of World Crude Oil Reserves, diakses dari,
http://www.opec.org/opec_web/en/data_graphs/330.htm, pada tanggal 10 Maret 2015

Quran yang menjadi hukum tertinggi negara. 3 Di Arab Saudi tidak diperbolehkan
dilaksanakannya Pemilihan Umum atau mendirikan Partai Politik.4
Raja Arab Saudi juga berperan sebagai Panglima tertinggi Angkatan Bersenjata dan juga berhak
untuk menunjuk Putra Mahkota yang membantu Raja dalam tugas-tugasnya. 5 Saat ini Raja Arab
Saudi yang berkuasa adalah Raja Salman yang dimahkotai pada tanggal 23 Januari 2015.
Pemerintahan Arab Saudi juga sangatlah didominasi oleh keluarga kerajaan.
a. Raja
Menurut hukum dasar Arab Saudi, Raja harus merupakan salah satu anak dari Raja
Pertama yaitu Raja Abdul Aziz Al Saud dan keturunan laki-laki nya 6 yang dimana
kemudian harus disetujui oleh pemimpin agama (Ulama).7 Pada tahun 2007
diciptakan Dewan Kesetiaan yang berwenang untuk menunjuk Putra Mahkota dari
anggota kerajaan, dewan ini beranggotakan anak Raja Abdul Aziz yang masih hidup
dan putra dari anak Abdul Aziz yang telah meninggal.8
Peran Raja menyatukan peran dari lembaga Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. 9 Raja
juga memiliki peran yang sama dengan Perdana Menteri karena dialah yang
mengkepalai Dewan Kementrian (Majlis Al-Wuzara) yang beranggotakan Wakil
Perdana Menteri 1 dan 2 juga 28 anggota Menteri lainnya.10 Raja juga menunjuk 150

2 Cavendish Marshal, Worlds and Its Peoples: the Arabian Peninsula, 2007, Hlm 78
3 Robert Gerhard, Encyclopedia of world constitutions Vol.1, 2007, Hlm 79
4 Cavendish Marshal, op.cit, Hlm 78
5 About Saudi Arabia, diakses dari, http://www.saudiembassy.net/about/countryinformation/government/, pada tanggal 9 Maret 2015
6 Joseph A. Kechichian, Succession in Saudi Arabia, 2001, Hlm 72
7 Ibid., Hlm 78
8 When Kings and Princes grow old The Economist, 15 Juli 2010
9 Christian Campbell, Legal Aspect of Doing Business in the Middle East, 2007, Hlm 265
10 Karl R DeRouen dan Paul Belammy, International Security and the United States: an encyclopedia
Vol.2, 2008, hlm 672

anggota Majelis Pertimbangan yang dimana dapat mengajukan hukum kepada Raja
akan tetapi tidak memiliki wewenang untuk menetapkannya.11
Walaupun secara teori Arab Saudi merupakan negara Monarki Absolut akan tetapi
secara praktiknya kebijakan penting negara dirumuskan diluar kerangka formal
kepemerintahan atau murni keputusan Raja seorang diri melainkan merupakan hasil
konsensus bersama yang dilakukan oleh keluarga kerajaan, bahkan terkadang juga
melibatkan para Ulama, Keluarga besar di sana, atau para pemimpin Suku.12
Sebagai negara yang menerapkan sistem Monarki Absolut, kepribadian dan
kapabilitas yang dimiliki oleh seorang Raja yang sedang berkuasa sangatlah penting
dan memberikan dampak politik dan kondisi negara yang sangatlah besar. Raja Saud
(1953-1964) sering dianggap sebagai Raja yang kurang kompeten dan boros yang
dimana dalam kepemimpinannya membawa Arab Saudi kejurang krisis ekonomi dan
politik yang dimana mengakibatkan diturunkannya beliau secara paksa dari
kekuasaan.13
Kemudian dilanjutkan oleh Raja Faisal (1964-1975), Raja Faisal sering dianggap
sebagai Raja modernis yang mengutamakan kemajuan dibidang ekonomi, teknologi,
dan pemerintahan akan tetapi juga merupakan penganut paham konservatif agama
dalam pelaksanaan politiknya.14 Raja Khalid (1975-1982) selama berkuasa
kebanyakan menyerahkan tugas kepemerintahannya kepada Putra Mahkota Fahd
yang dimana kemudian menggantikannya (1982-2005). Raja Fahd merupakan
administrator berbakat yang dimana sukses menginisiasikan perkembangan industri di
Arab Saudi selama masa kepemerintahannya, beliau sering dianggap sebagai Bapak
Modernisasi Kerajaan.15 Pada tahun 2005 Raja Abdullah naik tampuk menggantikan
Raja Fahd yang selama 10 tahun terakhir kepemerintahannya sakit. Raja Abdullah
sering dianngap sebagai tokoh reformis dalam banyak bidang di Arab Saudi.16

11 Abdullah Ahmad Naim, Islamic family law in a changing world: a global resources book, 2002, Hlm
136
12 Encyclopedia Britannica Online: Saudi Arabia, diakses dari,
http://www.britannica.com/EBchecked/topic/525348/Saudi-Arabia, pada tanggal 10 Maret 2015
13 Madawi Al Rasheed, A History of Saudi Arabia, 2010, Hlm 102-105
14 Ibid., Hlm 118-120
15 Ibid., Hlm 212
16 Helena Cooper, Abdullah King of Saudi Arabia The New York Times, 29 November 2010

b. Keluarga Kerajaan
Keluarga Kerajaan sangatlah mendominasi perpolitika di Arab Saudi. Besarnya
anggota kerajaan merupakan salah satu alasan mengapa dominasi meraka sangatlah
kuat. Hampir setiap pos penting kepemerintahan dikuasai atau dipimpin oleh anggota
keluarga kerajaan. Jumlah Pangeran di Kerajaan diduga sekitar 7000 orang, yang
dimana paling berkuasa merupakan 200 orang yang merupakan keturunan langsung
dari Raja Abdul Aziz. 17
Mendominasinya keluarga kerajaan dalam sistem kepemerintahan Arab Saudi banyak
dikritik karena mengakibatkan para masyarakat non keluarga Saud kesulita untuk
mendapatkan posisi atau jabatan yang layak dalam pekerjaannya.18
c. Ulama
Berpengaruhnya peran Ulama dalam perpolitikan Arab Saudi berasal dari posisi dan
peran penting Agama yang dimana yaitu Agama Islam dalam kehidupan sosial Arab
Saudi. Di Arab Saudi, Islam lebih dari sekedar agama melainkan merupakan jalan
hidup yang dimana hal ini lah yang menjadikan peran ulama sangatlah berpengaruh. 19
Peran Ulama bahkan memasuki lingkup kepemerintahan dengan terdapatnya peran
langsung ulama dalam kepemerintahan negara, hanya Iran negara di dunia yang
melakukan hal yang sama.20
Sejak tahun 1971, dewan ulama senior berperan untuk menjadi penasihat dalam
kebijakan Raja yang dipimpin oleh Mufti Agung dan pertemuannya dilakukan secara
informal. Pada tahun yang sama dewan ini di formalkan menjadi Dewan Pelajar
Senior yang anggotanya ditunjuk oleh Raja dan dibiyai oleh budget negara.21

17 The House of Saud: rulers of modern Saudi Arabia Financial Times, 30 September 2010
18 Karen Elliot House, On Saudi Arabia: Its People, past, Religion, Fault Lines, and Future, 2012, Hlm
10-13
19 Bahgat Korany dan Ali E. Hillal Desouki, The Foreign Policy of Arab States: The Challenge of
Globalization, 2010, Hlm 358
20 Natalie Goldstain dan Walton Brown-Foster, Religion and State, 2010, Hlm 118
21 Peter W. Wilson, Saudi Arabia: The Coming Storm, Hlm 26-27

II.2 BAHRAIN
Bahrain telah ditempati oleh manusia sejak zaman pra-sejarah. Lokasinya yang strategis
di Teluk Persia telah berpengaruh bagi orang-orang Assyria, Babilonia, Yunani, Persia, dan
terakhir sekali Arab (penduduknya kemudian menjadi Muslim). Pulau-pulau di Bahrain yang
terletak di tengah-tengah sebelah selatan Teluk Persia berhasil menarik penjajah sepanjang
sejarah. Bahrain dalam Bahasa Arab berarti "Dua Laut". Hal ini merujuk pada fakta yang pulau
ini mempunyai dua sumber air berbeda, air tawar yang muncul dari dalam tanah dan air asin
yang mengelilinginya.
Sebagai sebuah pulau yang strategis yang berada di antara Timur dan Barat, tanah yang
subur, dan air tawar berlimpah, dan tempat penyelam mencari mutiara telah menjadikan Bahrain
pusat pemukiman sepanjang. Selama 2300 tahun, Bahrain menjadi pusat perdagangan dunia di
antara Mesopotamia (sekarang Irak) dan Lembah Indus (sekarang sebuah wilayah di India).
Adalah peradaban Delmon yang mempunyai kaitan erat dengan Peradaban Sumeria pada abad
ke-3 SM. Bahrain menjadi bagian dariBabilon lebih kurang pada tahun 600 SM. Catatan-catatan
sejarah menunjukkan Bahrain dikenal melalui pelbagai julukan yang di antaranya "Mutiara Teluk
Persia".
Bahrain hingga tahun 1521 terdiri dari daerah Ahsa (yang lebih besar), Qatif (keduanya
kini menjadi provinsi timur Arab Saudi), serta Awal (kini pulau Bahrain). Daerah Bahrain
terbentang hingga (kini) Kuwait hingga Oman dan dinamakan Provinsi Bahrain (atau Iqlim AlBahrain). Namun pada 1521, kedatangan Portugis telah memisahkan Awal (kini Bahrain)
dengan daerah lainnya dan hingga kini Bahrain dikenal sebagai wilayah yang dikenal sekarang.
Dari abad ke-16 Masehi hingga tahun 1743, pemerintahan Bahrain sentiasa berubah-ubah
di antara Portugis dan Persia. Akhirnya, Sultan Persia, Nadir Shah menguasai Bahrain dan atas
alasan politik mendukung mayoritas Syiah. Pada lewat abad ke-18 Masehi Keluarga AlKhalifah mengambil alih pulau ini. Untuk menjaga agar pulau ini tidak jatuh kembali ke tangan
Persia, mereka menjalin persahabatan dengan Britania Raya dan menjadi negeri dibawah
naungan Britania.

Minyak ditemukan pada tahun 1931 dan sejak itu Bahrain dibangun dan mengalami
modernisasi pesat. Hal ini juga menjadikan hubungan dengan Britania Raya lebih baik dan
dibuktikan dengan makin banyaknya pangkalan-pangkalan Inggris yang pindah ke pulau
tersebut. Pengaruh menguat seiring dengan makin berkembangnya negara ini, puncaknya
saat Charles Belgrave dilantik menjadi penasihat. Belgrave kemudian mengukuhkan sistem
pendidikan modern sebagai bagian pendidikan di Bahrain.
Setelah Perang Dunia II, sentimen anti-Inggris menguat di wilayah-wilayah Arab dan
mengakibatkan terjadinya kerusuhan di Bahrain. Pada tahun1960-an, pihak Inggris menyerahkan
masa depan Bahrain pada Arbitrase internasional dan meminta agar PBB mengambil alih
tanggung jawab. Pada tahun 1970, Iran terus menerus menuntut haknya terhadap Bahrain dan
pulau-pulau lain di Teluk Persia, namun salah satu perjanjian dengan pihak Britania Raya,
mereka kemudian setuju untuk tidak meneruskan tuntutannya terhadap Bahrain jika tuntutan
(Iran) lainnya dikabulkan.
Britania Raya mundur dari Bahrain pada bulan Agustus 1971, menjadikan Bahrain
sebagai sebuah negara 'merdeka'. Peningkatan harga minyak pada tahun 1980-an sangat
menguntungkan Bahrain, namun harga minyak yang turun drastis malah tidak terlalu
mengguncang perekonomian walaupun terasa sulit. Hal ini mengakibatkan sektor ekonomi
dipaksa berkembang dan bervariasi.
Setelah terjadinya Revolusi Islam Iran pada tahun 1979, tokoh Syiah Bahrain pada
tahun 1981 melancarkan perebutan kekuasaan. Walau bagaimanapun, percobaan mereka gagal.
Pada tahun 1994, kerusuhan demi kerusuhan dilakukan oleh golongan Syiah yang tidak puas
dengan ketidakadilan pemerintahan. Pada bulan Maret 1999, Hamad ibn Isa alKhalifah menggantikan ayahandanya sebagai kepala negara. Ia menjalankan pelbagai perubahan,
di antaranya; memberi hak pilih kepada kaum wanita dan membebaskan semua tahanan politik.
Bahrain hingga hari ini merupakan anggota Liga Arab.
1. BENTUK NEGARA
Bentuk negara bahrain yaitu monarki konstitusional. Yaitu Negara yang melanjutkan
kekuasaannya dengan asas turun temurun kepada anak cucu yang kesemua tindak tanduk
pemerintahan tuinduk pada konstitusi yang telah dibuat baik oleh Negara secara arti sempit dan
arti luas.
2. BENTUK DAN SISTEM PEMERINTAHAN
Bahrain ialah sebuah negara yang menjalankan sistem monarki konstitusional yang
dikepalai oleh raja, Syekh Hamad bin Isa Al Khalifah; kepala pemerintahan saat ini ialah
Perdana Menteri Syekh Khalifah bin Salman Al Khalifah yang mengepalai anggota kabinet

sebanyak 15 orang. Bahrain mengamalkan sistem dwi-perundangan yaitu Dewan Perwakilan dan
Majelis Syura yang dipilih oleh raja. Kedua dewan mempunyai anggota sebanyak 40 orang.
3. POLITIK
Bahrain ialah sebuah negara yang menjalankan sistem monarki konstitusional yang
dikepalai oleh raja, Syekh Hamad bin Isa Al Khalifah; kepala pemerintahan saat ini ialah
Perdana Menteri Syekh Khalifah bin Salman Al Khalifah yang mengepalai anggota kabinet
sebanyak 15 orang. Bahrain mengamalkan sistem dwi-perundangan yaitu Dewan Perwakilan dan
Majelis Syura yang dipilih oleh raja. Kedua dewan mempunyai anggota sebanyak 40 orang.
Pemilihan umum diadakan pada tahun 2002 dengan anggota parlemen bertugas selama empat
tahun satu periode.
Hak politik kaum wanita di Bahrain mendapatkan satu kemajuan saat wanita diberi hak
untuk memilih dan bertanding dalam pemilu nasional buat pertama kali pada pemilu tahun2002.
Walaupun tidak ada wanita terpilih dan mendapatkan kursi pada pemilihan yang didominasi oleh
Shyah dan Sunni, sebagai kompensasinya enam orang calon wanita dilantik sebagai anggota dari
Majelis Syura, sekaligus mewakili komunitas Yahudi dan Kristen yang terdapat disana. Menteri
wanita pertama yang dilantik di Bahrain ialah Dr. Nada Haffadh sebagai Menteri Kesehatan. Ia
dilantik pada tahun 2004.
Raja baru-baru ini mendirikan Dewan Makamah Agung untuk menata pengadilanpengadilan di negara ini dan mensahkan pemisahan cabang administratif dan hukum
pemerintahan.
Pada 11-12 November 2005, Bahrain menganjurkan Forum Masa Depan yang dihadiri
pemimpin-pemimpin dari Timur Tengah dan negara-negara G8 dan membicarakan reformasi
politik dan ekonomi di wilayah bersangkutan.
4. DEMOGRAFI
Agama resmi Bahrain ialah Islam, dengan mayoritas penduduknya mengamalkan ajaran
Islam. Walau bagaimanapun, dengan kebanjiran pendatang dan pekerja asing dari non-Islam
seperti Filipina dan Sri Lanka persentase keseluruhan masyarakat Muslim di negara tersebut
menurun drastis pada tahun-tahun terakhir ini. Menurut sensus pada tahun 2001, 81,2%
penduduk Bahrain ialah Muslim, 9% Kristen, dan 9,8% mengamalkan ajaran lain.
Baru-baru ini, Bahrain telah berganti menjadi masyarakat kosmopolitan dengan dua
masyarakat campuran: dua pertiga penduduk Bahrain terdiri dari masyarakat Arab, sedangkan
yang lain adalah pendatang dan pekerja dari negara seperti Iran,Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Masyarakat terkini bisa diklasifikasikan sebagai Al-Khalifa, kabilah Arab yang bersekutu
dengan Al-Khalifa, masyarakatBaharnah (Syiah Arab), masyarakat Howilla (Sunah Arab dari
Persia), Sunah Arab (dari tanah besar), Ajam (Syiah Persia), masyarakat India yang berdagang
dengan Bahrain dan menetap di sana sebelum ditemukannya minyak (sebelum ini dikenal
sebagai Banyan), kelompok masyarakat Yahudi yang kecil, dan masyarakat-masyarakat lain.

II.3 KUWAIT
1.

Pemerintahan Kuwait

Negara Kuwait adalah monarki konstitusional dengan sistem politik semi-demokrasi,


yang terdiri dari parlemen populer terpilih dan eksekutif (pemerintah dan Emir). Konstitusi
Kuwait , disetujui dan diumumkan pada bulan November 1962 yang menyerukan pemilihan
langsung ke parlemen unikameral (Majelis Nasional). Sistem peradilan Kuwait adalah yang
paling independen di kawasan Teluk dan Mahkamah Konstitusi secara luas diyakini menjadi
salah satu yang paling secara hukum independen pengadilan di dunia Arab .
2.

Pemerintah

Emir menunjuk perdana menteri, yang pada gilirannya memilih kabinet (pemerintah).
Penunjukan pemerintahan baru memerlukan persetujuan Majelis Nasional, karena pemerintah
baru membutuhkan suara positif kepercayaan dari Majelis Nasional.

Setidaknya satu anggota kabinet harus deputi yang memenangkan pemilihan Majelis
Nasional. 1992 kabinet termasuk enam anggota terpilih dari Majelis Nasional, yang paling dari
setiap kabinet dalam sejarah Kuwait. Kabinet saat ini memiliki dua anggota terpilih Majelis.
Semua anggota kabinet memegang kursi di Majelis Nasional. Ukuran kabinet terbatas
dengan sepertiga jumlah deputi terpilih Majelis Nasional - yaitu, enam belas.
3.

Emir

Kekuatan Emir didefinisikan oleh 1.961 konstitusi. Kekuasaan ini termasuk menunjuk
perdana menteri. Putra mahkota harus disetujui oleh mayoritas mutlak dari anggota parlemen
Majelis Nasional. Jika putra mahkota baru gagal untuk memenangkan persetujuan dari Majelis
Nasional, Emir menyerahkan nama-nama dari tiga anggota yang memenuhi syarat dari keluarga
kepada Majelis Nasional, dan Majelis Nasional memilih salah satu untuk menjadi putra mahkota.
Setelah kematian Emir, putra mahkota berhasil.
4.

Pemilihan

Konstitusi panggilan untuk pemilu baru akan diadakan pada interval maksimal empat
tahun (atau lebih awal jika parlemen dibubarkan). Kuwait memiliki hak pilih universal orang
dewasa untuk warga Kuwait yang 21 atau lebih tua. Waralaba itu diperluas untuk mencakup
wanita Mei 2005. Pada tahun 1996 warga naturalisasi diberi hak untuk memilih, tetapi hanya
setelah mereka telah dinaturalisasi untuk setidaknya 30 tahun.
Setelah terpilih, banyak deputi membentuk blok suara di Majelis Nasional. Hukum
Kuwait tidak mengakui partai politik . Namun, banyak kelompok politik berfungsi sebagai de
facto partai politik dalam pemilu, dan ada blok di parlemen. De facto partai politik utama
termasuk: Aliansi Nasional Demokrat , Popular Aksi Blok , Hadas (Kuwait Ikhwanul Muslimin ),
Aliansi Nasional Islam dan Keadilan dan Perdamaian Alliance.
5.

Cabang Yudisial

Peradilan di Kuwait adalah tubuh yang relatif independen. Di setiap kabupaten


administrasi Kuwait ada Pengadilan Ringkasan (juga disebut Pengadilan Tingkat Pertama yang
terdiri dari satu atau lebih divisi, seperti Pengadilan Lalu Lintas atau Pengadilan Administratif);
maka ada Pengadilan Banding; Kasasi Pengadilan dan terakhir sebuah Mahkamah Konstitusi
yang menafsirkan konstitusi dan penawaran dengan sengketa yang berkaitan dengan
konstitusionalitas undang-undang. Kuwait memiliki hukum perdata sistem hukum.

II.4 QATAR
1. Sejarah:
Qatar menjadi negara merdeka pada tanggal 3 September 1971 setelah lepas dari
dominasi Inggris dan Kesultanan Utsmaniyah. Inggris menguasai Qatar sebagai tempat
persinggahan kapal dagang sebelum menujju India. Qatar memperoleh status sebagai dependen
dari Inggris, kemudian status protektorat Inggris dihentikan pada tahun 1916.
Setelah Perang Dunia Kedua, Qatar berusaha memperoleh kemerdekaannya, terutama setelah
India dan Kuwait mendapatkan kemerdekaan dari Inggris tahun 1950-an dan 1961. Pemerintah
Inggris menyatakan akan menghentikan kekuasaan politik namun tidak soal kekuasaan ekonomi.
2. Ekonomi:
Ekonomi Qatar difokuskan pada perikanan dan mutiara namun industri mutiara jatuh
karena adanya kemunculan mutiara yang dibudidayakan dari Jepang tahun 1920-an dan 1930-an.
Transformasi ekonomi terjadi pada tahun 1940-an, yaitu pada masa penemuan sumber minyak

bumi. Pemasukan utama Qatar melalui minyak bumi. Simpanan minyak negara Qatar
diperkirakan mencapai sebesar 15 miliar barel (2,4 km2).
Untuk beberapa tahun ke depan, Qatar akan tetap focus pada minyak dan gas bumi,
namun sudah mulai mengembangkan sektor swasta. Pada 2004, Qatar Science & Technology
Park dibuka untuk menarik dan melayani berbagai usaha berbasis teknologi, baik dari dalam
maupun dari luar Qatar.
3. Wilayah:
Qatar dibagi menjadi 9 Governorat (Muhafazah):

Ad Dawhah
Al Ghuwariyah
Al Jumaliyah
Al Khawr
Al Wakrah
Ar Rayyan
Jariyan al Batnah
Madinat ash Shamal
Umm Salal

4. Geografi:
Dataran Qatar hanya sebesar160 km dan lebih kecil dari negara bagian Connecticut di
AmerikaSerikat. Dataran Qatar terdiri dari gurun pasir. Tempat tertinggi Qatar adalah Jabal
Dukhan. Area ini mengandung jumlah gas alam yang sangat besar.

5. Demografi:
Kebanyakan penduduk Qatar beragama Islam.Selain etnik Arab, Qatar juga terdiri dari
banyak ekspatriat yang bekerja di Qatar dalam industry minyak. Kebanyakan ekspatriat berasal
dari Eropa, Asia Selatan, yaitu wilayah India, Pakistan dan Maladewa. Populasi penduduk
Muslim Sunni di Qatar lebih banyak dari Syiah yang hanya 3%. Sedangkan penganut Kristen
berasal dari ekspatriat Eropa.

6. Hukum:
Mekipun berada di kawasan Arab, hukum diQatar cenderung bebas dan liberal seperti
minuman alkohol diperbolehkan dalam jumlah terbatas. Selainitu Qatar telah mengalami
modernisasi dan liberalisasi dibawah kepemimpinan Emir Qatar, Hamid bin Khalifa Al-Thani.

KESIMPULAN
Dengan dibahasnya 4 negara Timur Tengah seperti Arab Saudi, Bahrain, Kuwait dan
Qatar, kami sebagai penulis mengambil kesimpulan bahwa 4 negara yang dibahas rata-rata
memiliki sistem monarki yang sama seperti para pemimpin dari 4 negara tersebut dipimpin oleh
Raja atau Emir yang sifatnya turun temurun, yang artinya sistem pergantian kekuasaan yang
berasal dari keluarga Kerajaan.
Dalam sistem perekonomian, negara-negara kerajaan arab monarki juga memiliki sumber
pendapatan yang terpenting dan utama yaitu minyak. Minyak menjadi sumber yang sangat
penting dan diutamakan untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Keempat negara Arab yang dibahas penulis menjalankan hukum Islam walaupun seperti
Qatar yang mulai liberal dengan dijualnya alkohol dalam jumlah yang terbatas.

DAFTRA PUSTAKA

Gerhard Robbers, Encyclopedia of World Constitutions (New York: Facts on File Inc.,
2007).
Matthew Sgard Shugart, Comparative Executive-Legislative Relations in R.A.W.
Rhodes, Sarah A. Binder, and Bert Rockman, eds., The Oxford Handbooks of Political
Institutions (New York: Oxford University Press, 2006)
Dra.sholihatin etin M Pd,ilmu Negara, laboratorium social politik,Jakarta, 2010
Al-Maududi, Abul Ala. 1990. Hukum dan Konstitusi: Sistem Politik Islam. Bandung:
Mizan
"Kuwait court ruling may threaten economic recovery". Reuters. 15 May
2013. Retrieved 1 July 2013.

Robert F. Worth (2008). "In Democracy Kuwait Trusts, but Not Much". New
York Times.

Nathan J. Brown. "Mechanisms of accountability in Arab governance: The


present and future of judiciaries and parliaments in the Arab world". p. 16-18.

Eran Segal. "Kuwait Parliamentary Elections: Women Making History". Tel Aviv
Notes. p. 1.
Al-Maududi, Abul Ala. 1990. Hukum dan Konstitusi: Sistem Politik Islam.
Bandung: Mizan
Robert F. Worth (2008). "In Democracy Kuwait Trusts, but Not Much". New
York Times.
Jump up ^ "Kuwait court ruling may threaten economic recovery". Reuters.
15 May 2013. Retrieved 1 July 2013.
www.cia.gov/library/publication/the-world-factbook/ (Negara Qatar)