Anda di halaman 1dari 15

Modul Perkuliahan

HUKUM PERBURUHAN

BAB VI
UPAH DAN JAMINAN SOSIAL
A. UPAH
1. Menurut PP No. 8 Tahun 1981 tentang Perlindungan Upah,
upah adalah suatu penerimaan sebagai imbalan dari
pengusaha kepada buruh untuk suatu pekerjaan atau jasa
yang telah atau akan dilakukan, dinyatakan atau dinilai
dalam bentuk uang yang ditetapkan menurut persetujuan
atau peraturan perundang-undangan yang berlaku dan
dibayarkan

atas

dasar

suatu

perjanjian

kerja

antara

pengusaha dengan pekerja termasuk tunjangan baik untuk


buruh maupun keluarganya.
2. Menurut UU No. 25 Tahun 1997 Upah ialah hak pekerja
yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai
imbalan dari pengusaha kepada pekerja atau jasa yang
telah atau akan dilakukan, ditetapkan, dan dibayarkan
menurut

suatu

perjanjian

kerja,

kesepakatan

atau

peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi


pekerja dan keluarganya.
3. Menurut UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan,
upah ialah: Upah adalah hak pekerja/buruh yang diterima
dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari
pengusaha atau pemberi kerja kepada pekerja/buruh yang
ditetapkan dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja,
kesepakatan,

atau

peraturan

perundang

undangan,

termasuk tunjangan bagi pekerja/buruh dan keluarganya


atas suatu pekerjaan dan/atau jasa yang telah atau akan
dilakukan.
Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

Dari

pengertian

ini

jelaslah

bahwa

upah

dibayarkan

berdasarkan kesepakatan para pihak, namun untuk menjaga


agar jangan sampai upah yang diterima terlampau rendah,
maka pemerintah turut serta menetapkan standar upah
terendah melalui perundang-undangan yang biasa disebut
upah minimum.
Hak

menerima

upah

timbul

timbul

pada

saat

adanya

hubungan kerja dan berakhir pada saat hubungan kerja putus.


Pengusaha dalam menetapkan upah tidak boleh diskriminasi
antara buruh laki-laki dan buruh wanita untuk pekerjaan yang
sama nilainya.
Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang
memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Untuk
mewujudkan penghasilan yang memenuhi penghidupan yang
layak bagi kemanusiaan, pemerintah menetapkan kebijakan
pengupahan yang melindungi pekerja/buruh.
Kebijakan

pengupahan

yang

melindungi

pekerja/buruh

meliputi :
a.

upah minimum;

b.

upah

kerja

lembur;
c.

upah tidak masuk kerja karena berhalangan;

d.

upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan


lain di luar pekerjaannya;

e.

upah
kerjanya;

Samun Ismaya, SH., MHum

karena

menjalankan

hak

waktu

istirahat

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

f.

bentuk

dan

cara

pembayaran

g.

denda dan potongan

upah;

upah;
h.

hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;

i.

struktur

dan

skala

pengupahan

yang

proporsional;
j.

upah untuk pembayaran pesangon; dan

k.

upah untuk perhitungan pajak penghasilan.

Pemerintah

menetapkan

upah

minimum

sebagaimana

dimaksud dalam ayat (3) huruf a berdasarkan kebutuhan


hidup layak dan dengan mem-perhatikan produktivitas dan
pertumbuhan ekonomi.
Upah

minimum

dapat

terdiri

atas

upah

minimum

berdasarkan wilayah provinsi atau kabupaten/kota; upah


minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi atau
kabupaten/kota.

Upah

minimum

diarahkan

kepada

pencapaian kebutuhan hidup layak. Upah minimum ditetapkan


oleh Gubernur dengan memperhatikan rekomendasi dari
Dewan Pengupahan Provinsi dan/atau Bupati/Walikota.
Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah
minimum. Bagi pengusaha yang tidak mampu membayar upah
minimum dapat dilakukan penangguhan.
Pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan
antara

pengusaha

Samun Ismaya, SH., MHum

dan

pekerja/buruh

atau

serikat

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

pekerja/serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan


pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Dalam hal kesepakatan lebih rendah atau
bertentangan

dengan

peraturan

perundang-undangan,

kesepakatan tersebut batal demi hukum, dan pengusaha wajib


membayar upah pekerja/buruh menurut peraturan perundangundangan yang berlaku.
Pengusaha

menyusun

struktur

dan

skala

upah

dengan

memperhatikan golongan, jabatan, asa kerja, pendidikan, dan


kompetensi. Pengusaha melakukan peninjauan upah secara
berkala dengan memperhatikan kemampuan perusahaan dan
produktivitas.
Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan
pekerjaan. Ketentuan ini tidak berlaku, dan pengusaha wajib
membayar upah apabila :
a. pekerja/buruh

sakit

sehingga

tidak

dapat

melakukan

pekerjaan;
Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang sakit
sebagai berikut :
1. untuk 4 (empat) bulan pertama, dibayar 100% (seratus
perseratus) dari upah;
2. untuk 4 (empat) bulan kedua, dibayar 75% (tujuh puluh
lima perseratus) dari upah;
3. untuk 4 (empat) bulan ketiga, dibayar 50% (lima puluh
perseratus) dari upah; dan

Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

4. untuk bulan selanjutnya dibayar 25% (dua puluh lima


perseratus) dari upah sebelum pemutusan hubungan
kerja dilakukan oleh pengusaha.
pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari

b.

pertama dan kedua masa haidnya sehingga tidak dapat


melakukan pekerjaan;
pekerja/buruh

c.

pekerja/buruh

menikah,

tidak

masuk

menikahkan,

bekerja

karena

mengkhitankan,

membaptiskan anaknya, isteri melahirkan atau keguguran


kandungan, suami atau isteri atau anak atau menantu atau
orang tua atau mertua atau anggota keluarga dalam satu
rumah meninggal dunia;
Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang tidak
masuk bekerja dalam hal ini sebagai berikut :
1.

pekerja/buruh menikah, dibayar untuk selama


3 (tiga) hari;

2.

menikahkan anaknya, dibayar untuk selama 2


(dua) hari;

3.

mengkhitankan anaknya, dibayar untuk selama


2 (dua) hari

4.

membaptiskan anaknya, dibayar untuk selama


2 (dua) hari;

5.

isteri melahirkan atau keguguran kandungan,


dibayar untuk selama 2 (dua) hari;

Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

suami/isteri, orang tua/mertua atau anak atau

6.

menantu meninggal dunia, dibayar untuk selama 2


(dua) hari; dan
anggota keluarga dalam satu rumah meninggal

7.

dunia, dibayar untuk selama 1 (satu) hari.


d. pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena
sedang

menjalankan

kewajiban

terhadap

melakukan

pekerjaannya

negara;
e. pekerja/buruh

tidak

dapat

karena menjalan-kan ibadah yang diperintahkan agamanya;


f. pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah
dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya, baik
karena

kesalahan

sendiri

maupun

halangan

yang

seharusnya dapat dihindari pengusaha;


g. pekerja/buruh melaksanakan hak
istirahat;
h. pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat
buruh atas persetujuan pengusaha;
dan
i. pekerja/buruh

melaksanakan

tugas

pendidikan

dari

perusahaan.
Dalam

hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan

tunjangan tetap maka besarnya upah pokok sedikit-dikitnya


75 % (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah upah pokok dan
tunjangan tetap.

Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

Pelanggaran

yang

dilakukan

kesengajaan

atau

kelalaiannya

Pengusaha

yang

karena

oleh

pekerja/buruh

dapat

kesengajaan

karena

dikenakan
atau

denda.

kelalaiannya

mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan


denda

sesuai

pekerja/buruh.
kepada

dengan

persentase

Pemerintah

pengusaha

tertentu

mengatur

dan/atau

dari

upah

pengenaan

denda

pekerja/buruh,

dalam

pembayaran upah. Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit


atau dilikuidasi berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang

berlaku,

pekerja/buruh

maka

upah

merupakan

dan

hak-hak

utang

lainnya

yang

dari

didahulukan

pembayarannya.
Tuntutan

pembayaran

pembayaran

yang

upah

timbul

pekerja/buruh

dari

hubungan

dan
kerja

kadaluwarsa setelah melampaui jangka waktu

segala
menjadi

2 (dua) tahun

sejak timbulnya hak.


Untuk memberikan saran, pertimbangan, dan merumuskan
kebijakan pengupahan yang akan ditetapkan oleh pemerintah,
serta untuk pengembangan sistem pengupahan nasional
dibentuk

Dewan

Pengupahan

Nasional,

Provinsi,

dan

Kabupaten/Kota.

Prinsip-prinsip Pengupahan dalam UU No. 13 Tahun 2003 tentang


Ketenagakerjaan adalah sebagai berikut:
(1) Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh penghasilan yang
memenuhi penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
(2) Untuk

mewujudkan

penghasilan

yang

memenuhi

penghidupan yang layak bagi kemanusiaan, pemerintah


Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

menetapkan

kebijakan

pengupahan

yang

melindungi

pekerja/buruh.
(3) Kebijakan

pengupahan

yang

melindungi

pekerja/buruh

meliputi :
a. upah minimum;
b. upah kerja lembur;
c. upah tidak masuk kerja karena berhalangan;
d. upah tidak masuk kerja karena melakukan kegiatan lain di
luar pekerjaannya;
e. upah karena menjalankan hak waktu istirahat kerjanya;
f. bentuk dan cara pembayaran upah;
g. denda dan potongan upah;
h. hal-hal yang dapat diperhitungkan dengan upah;
i. struktur dan skala pengupahan yang proporsional;
j. upah untuk pembayaran pesangon; dan
k. upah untuk perhitungan pajak penghasilan.
(4) Pemerintah
kebutuhan

menetapkan
hidup

layak

upah

minimum

dan

dengan

berdasarkan

mem-perhatikan

produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.


(5) Upah minimum dapat terdiri atas:
a.

upah

minimum

berdasarkan

wilayah

provinsi

atau

kabupaten/kota;
b. upah minimum berdasarkan sektor pada wilayah provinsi
atau kabupaten/kota.
(6) Upah minimum diarahkan kepada pencapaian kebutuhan
hidup layak.
(7) Upah

minimum

memperhatikan

ditetapkan
rekomendasi

oleh
dari

Provinsi dan/atau Bupati/Walikota.


Samun Ismaya, SH., MHum

Gubernur
Dewan

dengan

Pengupahan

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

(8) Pengusaha dilarang membayar upah lebih rendah dari upah


minimum
(9) Bagi

pengusaha

yang

tidak

mampu

membayar

upah

minimum dapat dilakukan penangguhan.


(10) Pengaturan pengupahan yang ditetapkan atas kesepakatan
antara

pengusaha

dan

pekerja/buruh

atau

serikat

pekerja/serikat buruh tidak boleh lebih rendah dari ketentuan


pengupahan yang ditetapkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
(11) Dalam hal kesepakatan lebih rendah atau bertentangan
dengan

peraturan

perundang-undangan,

kesepakatan

tersebut batal demi hukum, dan pengusaha wajib membayar


upah pekerja/buruh menurut peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
(12) Pengusaha menyusun struktur dan skala upah dengan
memperhatikan golongan, jabatan, masa kerja, pendidikan,
dan kompetensi.
(13) Pengusaha melakukan peninjauan upah secara berkala
dengan

memperhatikan

kemampuan

perusahaan

dan

produktivitas.
(14) Upah tidak dibayar apabila pekerja/buruh tidak melakukan
pekerjaan.
(15) Ketentuan tersebut di atas tidak berlaku, dan pengusaha
wajib membayar upah apabila :
a. pekerja/buruh

sakit

sehingga

tidak

dapat

melakukan

pekerjaan;
b. pekerja/buruh perempuan yang sakit pada hari pertama
dan kedua masa haidnya sehingga tidak dapat melakukan
pekerjaan;
Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

c. pekerja/buruh tidak masuk bekerja karena pekerja/buruh


menikah,

menikahkan,

mengkhitankan,

membaptiskan

anaknya, isteri melahirkan atau keguguran kandungan,


suami atau isteri atau anak atau menantu atau orang tua
atau mertua atau anggota keluarga dalam satu rumah
meninggal dunia;
d. pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena
sedang menjalankan kewajiban terhadap negara;
e. pekerja/buruh tidak dapat melakukan pekerjaannya karena
menjalan-kan ibadah yang diperintahkan agamanya;
f. pekerja/buruh bersedia melakukan pekerjaan yang telah
dijanjikan tetapi pengusaha tidak mempekerjakannya, baik
karena

kesalahan

sendiri

maupun

halangan

yang

seharusnya dapat dihindari pengusaha;


g. pekerja/buruh melaksanakan hak istirahat;
h. pekerja/buruh melaksanakan tugas serikat pekerja/serikat
buruh atas persetujuan pengusaha; dan
i. pekerja/buruh

melaksanakan

tugas

pendidikan

dari

perusahaan.
(16) Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang sakit
adalah sebagai berikut :
a. untuk 4 (empat) bulan pertama, dibayar 100% (seratus
perseratus) dari upah;
b. untuk 4 (empat) bulan kedua, dibayar 75% (tujuh puluh
lima perseratus) dari upah;
c. untuk 4 (empat) bulan ketiga, dibayar 50% (lima puluh
perseratus) dari upah; dan

Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

d. untuk bulan selanjutnya dibayar 25% (dua puluh lima


perseratus) dari upah sebelum pemutusan hubungan kerja
dilakukan oleh pengusaha.
(17) Upah yang dibayarkan kepada pekerja/buruh yang tidak
masuk bekerja adalah sebagai berikut :
a. pekerja/buruh menikah, dibayar untuk selama 3 (tiga) hari;
b. menikahkan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua) hari;
c. mengkhitankan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua)
hari;
d. membaptiskan anaknya, dibayar untuk selama 2 (dua)
hari;
e. isteri melahirkan atau keguguran kandungan, dibayar
untuk selama 2 (dua) hari;
f. suami/isteri, orang tua/mertua atau anak atau menantu
meninggal dunia, dibayar untuk selama 2 (dua) hari; dan
g. anggota keluarga dalam satu rumah meninggal dunia,
dibayar untuk selama 1(satu) hari.
(18) Dalam hal komponen upah terdiri dari upah pokok dan
tunjangan tetap maka besarnya upah pokok sedikit-dikitnya
75 % (tujuh puluh lima perseratus) dari jumlah upah pokok
dan tunjangan tetap.
(19) Pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja/buruh karena
kesengajaan atau kelalaiannya dapat dikenakan denda.
Pengusaha yang karena kesengajaan atau kelalaiannya
mengakibatkan keterlambatan pembayaran upah, dikenakan
denda

sesuai

dengan

persentase

tertentu

dari

upah

pekerja/buruh.
(20) Dalam hal perusahaan dinyatakan pailit atau dilikuidasi
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku,
Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

maka

upah

dan

hak-hak

lainnya

dari

pekerja/buruh

merupakan utang yang didahulukan pembayarannya.


Komponen Upah
Pemberian upah yang tidak dalam bentuk uang dibenarkan
asal tidak melebihi 25 % dari nilai upah yang seharusnya
diterima.
Berdasarkan Surat Edaran MTK No. 07/MEN/1990 tentang
Pengelompokan Komponen Upah dan Pendapatan Non Upah
disebutkan bahwa:
1. Termasuk komponen upah

Upah pokok
Merupakan imbalan dasar yang dibayarkan kepada
pekerja menurut tingkat atau jenis pekerjaan yang
besarnya ditetapkan menurut perjanjian.

Tujangan tetap
Suatu pembayaran yang teratur berkaitan dengan
pekerjaan yang diberikan secara tetap untuk buruh dan
keluarganya yang dibayarkan bersamaan dengan upah
pokok.

Tunjangan tidak tetap


Suatu pembayaran yang secara langsung maupun tidak
langsung berkaitan dengan buruh dan diberikan secara
tidak tetap dan tidak bersamaan dengan pembayaran
upah pokok.

2. Tidak termasuk komponen upah

Fasilitas

Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

Kenikmatan dalam bentuk nyata/natura karena hal-hal


yang

bersifat

khusus

atau

untuk

meningkatkan

kesejahteraan buruh.

Bonus
Pembayaran yang diterima buruh dari hasil keuntungan
perusahaan atau karena buruh berprestasi melebihi
taget produksi yang normal atau karena meningkatkan
produktifitas.

THR

Apabila pengusaha terlambat membayar upah maka ia


akan dikenai denda keterlambatan (PP No. 8 Tahun 1981
tentang Perlindungan Upah). Besarnya denda:
Mulai hari ke empat sampai ke delapan masing-masing
dikenakan denda 5 % setiap harinya. Sesudah hari ke
delapan

tiap-tiap

hari

dan

maksimal

denda

keterlambatan 50 % dari upah yang seharusnya dibayar.

Upah Lembur
Cara menghitung upah lembur adalah sebagai berikut:
I.

Pada hari kerja biasa upah kerja lembur dihitung:


a. Untuk satu jam I

= 1 X upah sejam

b. Untuk waktu selebihnya


II.

= 2 X upah sejam

Pada hari istirahat Mingguan/Hari Raya Resmi


a. Untuk setiap jam dalam batas waktu 7jam/ 5 jam jika
hari raya jatuh pada hari kerja terpendek pada salah
satu hari kerja upah lembur = 2 X upah sejam

Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

b. Untuk 1 jam I selebihnya 7 jam/5 jam jika hari raya


jatuh pada hari kerja terpendek pada salah satu hari
kerja upah lembur = 3 X upah sejam
c. Untuk waktu selebihnya dibayar = 4 X upah sejam
Upah sejam dihitung dengan rumus:
a. Upah sejam bagi pekerja bulanan

1/173

2/20

upah

upah sebulan
b. Upah sejam bagi pekerja harian

sehari
c. Upah sejam bagi pekerja borongan

1/7

rata-rata

hasil kerja sehari


B. JAMINAN SOSIAL
Setiap

pekerja/buruh

dan

keluarganya

berhak

untuk

memperoleh jaminan sosial tenaga kerja. Jaminan sosial


tenaga

kerja

dilaksanakan

sesuai

dengan

peraturan

perundang-undangan yang berlaku.


Untuk meningkatkan kesejahteraan bagi pekerja/buruh dan
keluarganya,
kesejahteraan.

pengusaha
Penyediaan

sanakan dengan

wajib

menyediakan

fasilitas

kesejahteraan

fasilitas
dilak-

memperhatikan kebutuhan pekerja/buruh

dan ukuran kemampuan perusahaan.


Peraturan sebagai pelaksanaan di bidang jaminan sosial
tenaga kerja diatur lebih lanjut dalam UU No. 40 Tahun 2004
tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Yang dimaksud
dengan Sistem Jaminan Sosial Nasional ialah suatu tata cara
penyelenggaraan program jaminan sosial oleh beberapa
badan penyelenggara jaminan sosial.
Samun Ismaya, SH., MHum

Modul Perkuliahan
HUKUM PERBURUHAN

Sistem Jaminan Sosial Nasional diselenggarakan berdasarkan


pada prinsip:
a.

kegotong-royongan;

b.

nirlaba;

c.

keterbukaan;

d.

kehati-hatian;

e.

akuntabilitas;

f.

portabilitas (mudah bergerak);

g.

kepesertaan bersifat wajib;

h.

dana amanat; dan hasil pengelolaan Dana Jaminan Sosial


dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program
dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial adalah:


a. Perusahaan Perseroan (Persero) Jaminan Sosial Tenaga
Kerja (JAMSOSTEK);
b. Perusahaan

Perseroan

(Persero)

Dana

Tabungan

dan

Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN);


c. Perusahaan Perseroan (Persero) Asuransi Sosial Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia (ASABRI); dan
d. Perusahaan

Perseroan

(Persero)

Indonesia (ASKES).
Jenis program jaminan sosial meliputi:
a.

jaminan kesehatan;

b.

jaminan kecelakaan kerja;

c.

jaminan hari tua;

d.

jaminan pensiun; dan

e.

jaminan kematian.

Samun Ismaya, SH., MHum

Asuransi

Kesehatan