Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A LATAR BELAKANG
Gastritis atau yang umum dikenal dengan sebutan Maag adalah
penyakit yang sering terjadi di masyarakat, namun begitu penyakit ini
sering diremehkan dan disepelekan oleh penderitanya. Pada kenyataannya,
penyakit gastritis tidak bisa diremehkan. Gastritis adalah penyakit
pencernaan pada lambung yang dikarenakan oleh produksi asam lambung
yang berlebihan. Hal ini mengakibatkan imflamasi atau peradangan dari
mukosa lambung. Penderitanya merasa akan merasa perutnya perih dan
mulas di daerah sekitar ulu hati. Jika hal ini dibiarkan dan diabaikan
berlarut-larut maka akan memicu erosi mukosa lambung. Dalam beberapa
kasus gastritis dapat menyebabkan bisul (ulkus) pada lambung dan
peningkatan kanker perut.
Pada tahun 2004 penyakit gastritis menempati urutan ke 9 dari 50
peringkat utama pasien rawat jalan di rumah sakit seluruh Indonesia
dengan jumlah kasus 218.500 (yanmed DEPKES RI http://bank data
depkes.go.id/data).
Kejadian penyakit gastritis meningkat sejak 5-6 tahun terakhir dan
menyerang laki-laki lebih banyak daripada wanita. Laki-laki lebih banyak
mengalami gastritis karena kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan
merokok. Faktor-faktor lain yang berkaitan dengan sakit maag antara lain
adalah riwayat keluarga yang menderita sakit maag, kurangnya daya
mengatasi atau adaptasi yang buruk terhadap stres.

B RUMUSAN MASALAH
1 Apakah pengertian gastritis ?
2 Apakah obat untuk pengobatan gastritis ?
C TUJUAN
1 Untuk mengetahui pengertian gastritis.
2 Untuk mengetahui obat pengobatan gastritis.
D MANFAAT
1 Sebagai masukan, literature dan pengembangan bagi mahasiswa
2

Poltekkes Pangkalpinang.
Menambah pengetahuan dan wawasan tentang Obat untuk
Pengobatan Gastritis.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Gastritis
Gastritis merupakan suatu peradangan mukosa lambung yang
bersifat akut, kronik difusi atau lokal, dengan karakteristik anoreksia,
perasaan penuh diperut (begah), tidak nyaman pada epigastrium, mual, dan
muntah (Tan Hoan Tjay, dkk. 2013)

Bila mukosa lambung sering kali atau dalam waktu cukup lama
bersentuhan dengan aliran balik getah duodenum yang bersifat alkalis,
peradangan sangat mungkin terjadi dan akhirnya malah berubah menjadi
tukak lambung. Hal ini di sebabkan karena mekanisme penutupan pylorus
tidak bekerja dengan sempurna sehingga terjadi refluk tersebut. Mukosa
lambung tipis oleh garam-garam empedu dan lysolesitin (dengan kerja
detegens). Akibatnya timbul luka0luka mikro, sehingga getah lambung
meresap ke jaringan-jringan dalam dan menyebebkan keluhan-keluhan
(Tan HoanTjay, dkk. 2013).
Penyebab lain adalah hipersekresi asam sehingga dinding lambung
dirangsang secara kontinu dan akhirnya dapat terjadi gastritis dan tukak.
Sekresi berlebihan bias merupakan efek samping dari suatu tukak usus
yang agak jarang disebabkan oleh suatu tumor di pancreas.Penyebab lain
adalah hipersekresi asam sehingga dinding lambung dirangsang secara
kontinu dan akhirnya dapat terjadi gastritis dan tukak. (Tan Hoan Tjay,
dkk. 2013).
Gejala-gejala umumnya tidak ada atau kurang nyata, kadang kala
dapat berupa gangguan pencernaan, nyeri lambung, dan muntah-muntah
akibat erosi kecil di selaput lender hingga perdarahan (Tan Hoan Tjay,
dkk. 2013).
B. Penggolongan Obat
1. Antasida
Antasida adalah basa-basa lemah yang digunakan untuk mengikat secara
kimiawi dan menetralkan asam lambung.
a. Antara lain alumunium hidroksida, bismut subsitrat, kalsium
karbonat, magnesiumoksida.
b. Mekanisme kerja : menetralkan HCL dalam lambung

c. Kontraindikasi : jangan diberikan pada penderita gangguan fungsi


ginjal yang berat karena menimbulkan hipermagnesia
d. ESO : konstipasi (sembelit), diare, ( garam magnesium)
2. Antibiotika
a. Antara lain amoksisilin, tetrasiklin, klaritromisin, metronidazole,
dan tinidazole.
b. Mekanisme kerja : menghambat sintesis dinding sel bakteri.
c. Kontraindikasi : hipersensitif terhadap antibiotik.
d. ESO : mual, muntah, diare, sakit kepala

3. Antikolinergika
a. Antara lain pirenzepin, fentonium
b. Mekanisme kerja : bekerja dengan menghambat sekresi asam
melalui reseptor muskarindan melawan kejang
c. Kontraindikasi :
d. ESO : kulit kering, pandangan kabur, mulut kering, mata kering,
dan sakit tenggorokan
4. Obat Penguat Motalitas
a. Antara lain metoclopramida, cisaprida dan domperidon.
b. Mekanisme kerja : antagonis dopamin yang secara periferal
bekerja selektif pada reseptor D2.
c. Kontraindikasi :hipersensitifitas
d. ESO : pusing, mengantuk, diare, sakit kepala, mulut kering, dan
ruam pada kulit.
5. Penghambat sekresi asam
a. H2-blokers : simetidin, ranitidin, famotidin, roksatidin, dan
nizatadin.
b. Penghambat pompa- proton ( ppp ) : omeprazol, lansoprazol,
pantoprazol, esomeprazol.
c. Mekanisme kerja : menghambat

d. Kontraindikasi : gangguan hati dan ginjal, wanita hamil dan


menyusui.
e. ESO : lelah, sakit kepala, diare, pusing.
6. Lainnya
a. Sedativa : meprobramat
Analogon prostaglandin-E1 : mesoprostol
b. Mekanisme kerja : bekerja pada sistem GABA, yaitu dengan
memperkuat fungsi hambatan neuron GABA.
c. Kontraindikasi : hipersensitifitas
d. ESO : mengakibatkan kecanduan, mengakibatkan otot-otot
menjadi lemah dan menimbulkan perasaan letih dan pusing
C. Obat Gastritis
1. Cimetidine
Cimetidine adalah obat untuk menangani beberapa kondisi
akibat produksi asam lambung yang berlebihan. Asam yang diproduksi
secara alami oleh sel-sel di dalam lapisan lambung ini sebenarnya
sangat penting untuk proses pencernaan. Namun jika jumlah asam
lambung terlalu banyak, maka dampaknya bisa buruk bagi kesehatan.
a. NamaZatAktif
Histamine H2-receptor antagonist
b. Nama Branded
Cimetidin, Benomet, Blokacid, Cetidin, Cimaag, Cimet,
Cimexol, Corsamet, Danamet, Decamet, Dinulkus, Farmetid,
Licomet, Magicul, Metinel, Nulcer, Priocid, Ramet, Recimet,
Sanmetidin, Sudimet, Tagamet, Tidifar, Ulcedine, Ulcumet,
Ulcusan, Ulsikur, Vargumeth, Xepamet
c. Indikasi
Mengobati tukak lambung, tukak usus halus, gangguan
pencernaan, refluks asam, serta iritasi lambung akibat penggunaan
obat anti inflamasi non-steroid.
d. Farmakokinetika
Absorbsi
- Bioavailabilitas

Oral: 60-70% .
- Onset
70% penurunan sekresiasam basal dalam waktu 45 menit setelah
tunggal 300 atau 400 mg dosis-IV pada laki-laki sehat
e. MekanismeKerja
Cimetidine adaiah penghambat histamin pada reseptor H2
secara selektif dan reversible, penghambatan histamin pada
reseptor H, akan menghambat sekresi asam lambung baik pada
keadaan istirahat maupun setelah perangsangan oleh makanan,
histamin, pentagastrin, kafein dan insulin. Cimetidine dengan cepat
diabsorbsi setelah pemberian oral dan konsentrasi puncak dalam
plasma dicapai dalam waktu 45-90 menit setelah pemberian.
Cimetidine diekskresikan melalui urin
f. Kontraindikasi
Pasien yang hipersensitif terhadap cimetidine
g. EfekSamping
1) Pada susunan saral pusat: sakit kepala, pusing, mengantuk,
mental

kebingungan,

agitasi,

psikosis,

depresl,

cemas,

halusinasi
2) Pada sistem endokrin: ginekomastia.
3) Pada sistem hematologi: penurunan {umlah sel darah putjh,
agtanukisitosis,

Irombosilopenia,

anemia

aplasik

atau

pansitopenia yang jarang.


4) Hipersensif I: demam dan reaksi alergi termasuk anafriaksis.
5) Pada sistem kardiovaskuler:bradikardia dan takikardia (jarang
terjadi).
6) Ginjal: peningkatan krealinin plasma, net itis interstitial, retensi
urin.
h. Dosis

Untuk tukak usus 12 jari yang aktif, 800 mg, 1 kali sehari pada
malam hari, atau 300mg 4 kali sehari pada saat makan dan malam
sebelum tidur, atau 400 mg 2 kali sehari pagi hari dan malam
sebelum tidur, Lama pengobatan 4 hingga 6 minggu. Pemberian
dengan antasida sebaiknya diberikan sesuai Kebutuhan untuk
mengurangi rasa sakit, akan tetapi pemberian bersamaan dengan
antasid tjdak dianjurkan karena antasid dapat mempengaruhi
absorbs! Cimetidine, Terapi pemeliharaan tukak usus 12 jari: 400
mg, 1 kali sehari malam hah sebelum tidur, Pengobatan tukak
lambung aktif yang jinak 800 mg, 1 kali sehari malam hari sebelum
tidur atau 300 mg 4 kali sehari pada saat makan dan sebelum tidur
selama 6-8 minggu.
2. Ranitidine
Ranitidin adalah obat yang diindikasikan untuk sakit maag.
Pada penderita sakit maag, terjadi peningkatan asam lambung dan luka
pada lambung. Hal tersebut yang sering kali menyebabkan rasa nyeri
ulu hati, rasa terbakan di dada, perut terasa penuh, mual, banyak
bersendawa ataupun buang gas.
a. NamaZatAktif
Ranitidin HCL
b. Nama Branded
Acran, Aldin, Anitid, Chopintac, Conranin, Fordin,
Gastridin, Hexer, Radin, Rancus, Ranilex, Ranin, Ranivel,
Ranticid, Rantin, Ratan, Ratinal, Renatac, Scanarin, Tricker, Tyran,
Ulceranin, Wiacid, Xeradin, Zantac, Zantadin, Zantifar
c. Indikasi

Pengobatan jangka pendek tukak usus 12 jari aktif, tukak


lambung aktif, mengurangi gejala refluks esofagitis. Terapi
pemeliharaan setelah penyembuhan tukak usus 12 jari, tukak
lambung. Pengobatan keadaan hipersekresi patologis (misal :
sindroma Zollinger Ellison dan mastositosis sistemik). Ranitidine
injeksi diindikasikan untuk pasien rawat inap di rumah sakit
dengan keadaan hipersekresi patologis atau ulkus 12 jari yang sulit
diatasi atau sebagai pengobatan alternatif jangka pendek pemberian
oral pada pasien yang tidak bisa diberi Ranitidine oral.
d. Farmakokinetika
1) Absorpsi. Ranitidin diabsorpsi dengan baik dari saluran cerna
maupun pada pemberian secara intramuskular. Bioavailabilitas
absolut ranitidin pada pemberian secara oral adalah sekitar
50%, demikian pula pada anak-anak. Sedangkan pada geriatrik
bioavailabilitasnya rata-rata 48%.
2) Distribusi. Ranitidin terdistribusi secara luas pada cairan tubuh
dan sekitar 10-19% berikatan dengan protein serum. Volume
distribusi ranitidin rata-rata 1,7 L/Kg dengan kisaran 1,2-1,9
L/Kg. Sedangkan volume distribusi pada anak sekitar 2,3-2,5
L/Kg dengan kisaran 1,1-3,7 L/Kg. Pada pemberian secara oral
ranitidin juga terdistribusi ke CSF. Ranitidin juga terdistribusi
ke susu.
3) Eliminasi. Waktu paruh eliminasi rata-rata pada orang dewasa
adalah 1,7-3,2 jam, dan dapat berkorelasi positif dengan usia.
Waktu paruh eliminasi akan meningkat pada pasien dengan

gangguan fungsi ginjal. Pada pasien lanjut usia waktu paruh


eliminasi umumnya meningkat seiring berkurangnya fungsi
ginjal. Ranitidin sebagian besar diekskresikan dalam urin
melalui filtrasi glomerular dan sekresi tubular.
4) Metabolisme. Ranitidin dimetabolisme dihati menjadi ranitidin
N-oksida, desmetil ranitidin, dan ranitidin S-oksida. Pada
pemberian oral, ranitidin juga mengalami metabolisme lintas
pertama dihati. Pada pasien dengan sirosis hati, konsentrasi
serum akan meningkat akibat rendahnya metabolisme lintas
pertama dihati dan bioavailabilitasnya rata-rata 70%.
5) Mekanisme Kerja
Ranitidine adalah suatu histamin antagonis reseptor H2
yang menghambat kerja histamin secara kompetitif pada
reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung.
Pada pemberian i.m./i.v. kadar dalam serum yang
diperlukan untuk menghambat 50% perangsangan sekresi asam
lambung adalah 3694 mg/mL. Kadar tersebut bertahan selama
68 jam. Ranitidine diabsorpsi 50% setelah pemberian oral.
Konsentrasi puncak plasma dicapai 23 jam setelah pemberian
dosis 150 mg. Absorpsi tidak dipengaruhi secara nyata oleh
makanan dan antasida. Waktu paruh 2 3 jam pada pemberian
oral, Ranitidine diekskresi melalui urin.
6) Kontraindikasi
Penderita yang hipersensitif terhadap Ranitidine.
7) EfekSamping
Efek samping yang ditimbulkan sangat jarang ditemukan.
Adapun efek samping tersebut beserta

persentase frekuensi

kemunculannya adalah sebagai berikut:Sakit kepala (3%), Sulit


buang air besar (<1%), Diare (<1%), Mual (<1%), Nyeri perut
(<1%), Gatal-gatal pada kulit (<1%).
8) Dosis
Dosis yang biasa digunakan adalah 150mg, 2 kali sehari,
dosis untuk penunjang dapat diberikan 150mg pada malam
hari, untuk sindrom Zollonger-Ellison : 150mg 3 kali sehari &
dosis dapat bertambah menjadi 900mg sehari, dosis pada
gangguan fungsi ginjal : bila bersihan kreatinin (50ml/menit),
150 mg setiap 24 jam dan bila perlu setiap 12 jam.
3. Tetrasiklin
Merupakan basa yang sukar larut dalam air, tetapi bentuk
garam natrium atau garam HClnya mudah larut.Dalam keadaan kering,
bentuk basa dan garam HCl tetrasiklin bersifat relatif stabil. Dalam
larutan, kebanyakan tetrasiklin sangat labil sehingga cepat berkurang
potensinya. Tetrasiklin adalah zat anti mikroba yang diperolah denga
cara deklorrinasi klortetrasiklina, reduksi oksitetrasiklina, atau denga
fermentasi. Tetracycline adalah spektrum luas Poliketida antibiotik
yang dihasilkan oleh Streptomyces genus dari Actinobacteria ,
diindikasikan untuk digunakan melawan infeksi bakteri banyak. It is a
protein synthesis inhibitor. Ini adalah inhibitor sintesis protein.
a. Farmakokinetika
Absorbsi
Kira-kira 30-80% tetrasklin diserap lewat saluran cerna.
Doksisiklin dan minosiklin diserap lebih dari 90%. Absorpsi ini
sebagian besar berlangsung di lambung dan usus halus bagian atas.

10

Berbagai faktor dapat menghambat penyerapan tetrasiklin seperti


adanya makanan dalam lambung (kecuali doksisiklin dan
monosiklin), pH tinggi, pembentukan kelat (kompleks tetrasiklin
dengan zat lain yang sukar diserap seperti kation Ca2+, Mg2+, Fe2+,
Al3+, yang terdapat dalam susu dan antasid). Oleh sebab itu
sebaiknya tetrasiklin diberikan sebelum atau 2 jam setelah makan.
Tetrasiklin fosfat kompleks tidak terbukti lebih baik absorbsinya
dari sediaan tetrasiklin biasa.
Distribusi
Dalam plasma serum jenis tetrasiklin terikat oleh protein
plasma dalam jumlah yang bervariasi. Pemberian oral 250 mg
tetrasiklin,

klortetrasiklin

dan

oksitetrasiklin

tiap

jam

menghasilkan kadar sekitar 2,0-2,5 g/ml. Masa paruh doksisiklin


tidak berubah pada insufisiensi ginjal sehingga obat ini boleh
diberikan pada gagal ginjal. Dalam cairan serebrospinal (CSS)
kadar golongan tetrasiklin hanya 10-20% kadar dalam serum.
Penetrasi ke CSS ini tidak tergantung dari adanya meningitis.
Penetrasi ke cairan tubuh lain dalam jaringan tubuh cukup baik.
Obat golongan ini ditimbun dalam sistem retikuloendotelial di hati,
limpa dan sumsum tulang, serta di dentin dan email gigi yang
belum bererupsi. Golongan tetrasiklin menembus sawar uri, dan
terdapat dalam air susu ibu dalam kadar yang relatif tinggi.
Dibandingkan

dengan

tetrasiklin

lainnya,

doksisiklin dan minosiklin ke jaringan lebih baik.


Metabolisme

11

daya

penetrasi

Obat golongan ini tidak dimetabolisme secara berarti di


hati. Doksisiklin dan minosiklin mengalami metabolisme di hati
yang cukup berarti sehingga aman diberikan pada pasien gagal
ginjal.
Ekskresi
Golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin berdasarkan
filtrasi glomerulus. Pada pemberian per oral kira-kira 20-55%
golongan tetrasiklin diekskresi melalui urin. Golongan tetrasiklin
yang diekskresi oleh hati ke dalam empedu mencapai kadar 10 kali
kadar serum. Sebagian besar obat yang diekskresi ke dalam lumen
usus ini mengalami sirkulasi enterohepatik; maka obat ini masih
terdapat dalam darah untuk waktu lama setelah terapi dihentikan.
Bila terjadi obstruksi pada saluran empedu atau gangguan faal hati
obat ini akan mengalami kumulasi dalam darah. Obat yang tidak
diserap diekskresi melalui tinja.
b. Contoh Obat
Contoh obat yang mengandung tetrasiklin antara lain:
1) Conmycin
Komposisi
Indikasi

: Tetracycline HCL
: Infeksi karena organisme yang peka

terhadap tetrasiklin
Dosis
: 1 kaps 4 x/ hr. Brucellosis 500 mg 4 x/hr
selama 3 minggu. Sifilis 30-40 g dalam dosis terbagi selama 15
hr.
Penggunaan obat : Berikan pada saat perut kosong 1 jam
sebelum atau 2 jam sesudah makan dengan segelas air, dalam
12

posisi tegak. Dapat diberikan bersama makanan untuk


mengurangi rasa tidak nyaman pada GI.
Kontra Indikasi :
Riwayat
hipersensitivitas

terhadap

tetrasiklin. Hamil, anak <12 tahun.


Efek samping
: Anoreksia, mual, muntah, diare, gossitis,
disfagia, enterokolitis, lesi inflamasi, ruam makulopapular dan
eritematosa, fotosensitif.
2) Corsamycin
Komposisi
: Oxytetracycline HCl
Indikasi : Bronkitis akut dan kronis termasuk pencegahan
eksaserbasi akut, bronkopneumonia dan atipikal pneumonia
disebabkan

oleh

mikoplasma

pneumonia,

bronkiektasis

terinfeksi, bronkiolitis, otitis media, angina vincenti, infeksi


traktus urinatius, uretritis non-GO, infeksi bakteri pada
trakusGI dan biliaris, infeksi jaringan lunak, infeksi pasca
persalinan (endometritis), meningitis dan endokarditis, akne
vulgaris, GO dan sifilis yang tidak sesuai dengan penisilin.
Granuloma

inguinal

dan

khankroid,

bruselosis,

kolera,

amubasis, tifus dan Q-fever, psikatosis dan limfogranuloma


venereum, trakoma.
Dosis
: Dewasa 250-500mg tiap 6 jam selama 5-10 hari
(untuk kebanyakan infeksi). Infeksi nafas seperti eksaserbasi
akut bronkitis dan pneumonia karena mikoplasma 500 mg 4
x/hr. Profilaksis infeksi saluran respiratorius 250 mg 2-3 x/hr.
GO dan sifilis, bruselosis total dosis 2-3 g/hr.
Penggunaan Obat : Berikan pada saat perut kosong 1 jam
sebelum atau 2 jam sesudah makan.

13

Kontra Indikasi

: Hipersensitif, gangguan ginjal. Hamil, anak

< 7 tahun.
Efek samping

: Gangguan GI, gatal di anus dan vulva.

Perubahanwarnagigi

dan

hipoplasia

pada

anak,

hambatanpertumbuhantulang sementara. Dosis tinggi: uremia.

3) Corsatet
Komposisi : Tetracycline HCl
Indikasi : Abses, akne, amubiasis, anthraks, disentri basiler,
bartonellosis,

bronkitis

akut

dan

kronis,

infeksi

bronkopulmoner, bruselosis, kankroid, difteri, infeksi traktus


genitourinaria,

GO,

granuloma

inguinale,

infeksi

yang

menyertai fibrosis kistik pankreas, listeriosis, limfograuloma


venereum, infeksi bakteri campuran, osteomielitis, otitis
eksterna dan media, pertusis, faringitis, pneumonia, psittakosis,
pielonefritis akut dan kronis, rocky mountain spotted fever,
demam scarlet, sinusitis, infeksi jaringan lunak, sifilis,
tonsilitis, tularemia, tifoid, ricketsia, uretritis (non-GO),
pencegahan pra dan pasca bedah dan dental.
Dosis
: Dewasa 250 mg 4 x/hr. Infeksi berat 1500-2000
mg/hr. Anak 20-40 mg/kg/BB/hr, dosis terbagi. Sifilis dosis
total 30-40 g dalam dosis terbagi rata selam 10-15 hari.
Bruselosis kombinasi dengan streptomisin.
Penggunaan obat : Berikan pada saat perut kosong 1 jam
sebelum atau 2 jam sesudah makan dengan segelas air, dalam

14

posisi tegak. Dapat diberkian bersama makanan untuk


mengurangi rasa tidak nyaman pada GI.
Kontra Indikasi : Hipersensitif, gangguan ginjal berat, hamil,
anak < 12 tahun.
Efek samping
: Gangguan GI, supersenitif, hepatotoksik
dan nefrotoksik. Jarang meningkatkan TIK, SLE. Perubahan
warna gigi dan hipoplasia gigi pada anak dalam masa
pertumbuhan.
c. Efek Samping Obat
Efek samping yang mungkin timbul akibat pemberian
golongan tetrasiklin dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu
reaksi kepekaan, reaksi toksik dan iritatif serta reaksi yang
timbul akibat perubahan biologik.
1) Reaksi Kepekaan
Reaksi kulit yang mungkin timbul akibat pemberian
golongan tetrasiklin ialah erupsi mobiliformis, urtikaria dan
dermatitis eksfoliatif. Reaksi yang lebih hebat ialah edema
angioneurotik
eosinofilia

dan

dapat

reaksi
pula

anafilaksis.

terjadi

pada

Demam
waktu

dan
terapi

berlangsung. Sensitisasi silang antara berbagai derivat


tetrasiklin sering terjadi.
2) Reaksi toksik dan iritatif
Iritasi lambung paling sering terjadi pada pemberian
tetrasiklin per oral, terutama dengan oksitetrasiklin dan
doksisiklin. Makin besar dosis yang diberikan, makin
sering terjadi reaksi ini. Keadaan ini dapat diatasi dengan
mengurangi dosis untuk sementara waktu atau memberikan

15

golongan tetrasiklin bersama dengan makanan, tetapi


jangan dengan susu atau antasid yang mengandung
alumunium, magnesium atau kalsium. Diare seringkali
timbul akibat iritasi dan harus dibedakan dengan diare
akibat superinfeksi stafilokokus atau Clostridium difficile
yang sangat berbahaya.
Manifestasi reaksi iritatif yang lain ialah terjadinya
tromboflebitis pada pemberian IV dan rasa nyeri setempat
bila golongan tetrasiklin disuntikkan IM tanpa anestetik
lokal. Terapi dalam waktu lama dapat menimbulkan
kelainan darah tepi seperti leukositosis, limfosit atipik,
granulasi toksik pada granulosit dan trombositopenia.
3) Reaksi fototoksik
Reaksi fototoksik paling jarang timbul dengan
tetrasiklin, tetapi paling sering timbul pada pemberian
dimetilklortetrasiklin.
fotosensitivitas,

Manifestasinya

kadang-kadang

disertai

berupa
demam

dan

eosinofilia. Pigmentasi kuku dan onikolisis, yaitu lepasnya


kuku dari dasarnya, juga dapat terjadi.
4) Efek samping akibat perubahan biologik
Seperti antibiotik lain yang berspektrum luas,
pemberian golongan tetrasiklin kadang-kadang diikuti oleh
terjadinya superinfeksi oleh kuman resisten dan jamur.
Superinfeksi kandida biasanya terjadi dalam rongga mulut,
faring,

bahkan

kadang-kadang

menyebabkan

infeksi

sistemik. Faktor predisposisi yang memudahkan terjadinya

16

superinfeksi ini ialah diabetes melitus, leukimia, lupus


eritematosus diseminata, daya tahan tubuh yang lemah dan
pasien yang mendapat terapi kortikosteroid dalam waktu
lama

BAB III
PENUTUP

17

A. Kesimpulan
Gastritis adalah penyakit pencernaan pada lambung yang
dikarenakan oleh produksi asam lambung yang berlebihan. Pengobatan
untuk penyakit gastritis terdiri dari enam golongan obat yaitu antasida,
antibiotika, Antikolinergika, Obat Penguat Motalitas, Penghambat sekresi
asam, dan lainnya. Masing-masing golongan dan contoh obat memiliki
indikasi, kontraindikasi dan efek samping yang berlainan tergantung dari
farmakokinetika obat itu sendiri.
B. Saran
1. Diharapkan pada teman-teman agar memberi motivasi dalam
penyusunan makalah ini.
2. Saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan agar dalam
penyusunan makalah berikutnya dapat lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Tjay, Tan Hoan, dkk. 2013. Obat-ObatPenting. Jakarta: Gramedia


MIMS. 2013. Petunjuk Konsultasi. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer
www./http://bank data depkes.go.id/data. Diakses 7 Maret 2016

18

http://bukusakudokter.org/2012/10/08/ranitidin. Diakses 7 Maret 2016


http://alodokter.org/2012/09/02. Diakses 7 maret 2016

19