Anda di halaman 1dari 8

PERILAKU BULLYING DITINJAU DARI PERAN KELOMPOK TEMAN SEBAYA DAN IKLIM

SEKOLAH PADA SISWA SMA DI KOTA GORONTALO


Oleh; Irvan Usman
Dosen Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Gorontalo
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris perilaku bullying pada siswa SMA, dengan
cara: (1) mengetahui apakah ada pengaruh secara bersama-sama faktor peran kelompok teman sebaya, iklim
sekolah, dan perilaku bullying pada siswa SMA; (2) mengetahui apakah ada pengaruh kepribadian terhadap
perilaku bullying pada siswa SMA; (3) mengetahui apakah ada pengaruh komunikasi interpersonal remaja
dengan orangtua terhadap perilaku bullying pada siswa SMA.
Subyek penelitian sebanyak 103 orang siswa kelas dua IPA dan IPS SMAN 2 Kota Gorontalo, SMAN
3 Kota Gorontalo, dan SMA Prasetya Kota Gorontalo. Data penelitian diperoleh dari skala peran kelompok
teman sebaya, skala iklim sekolah, dan skala perilaku bullying.
Hasil analisis data korelasi berganda menunjukkan bahwa antara peran kelompok teman sebaya, iklim
sekolah secara bersama-sama dengan perilaku bullying terdapat pengaruh yang signifikan. Hasil pengujian
dengan korelasi parsial menunjukkan bahwa variabel peran kelompok teman sebaya berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap perilaku bullying pada siswa SMA di kota Gorontalo. Hasil pengujian dengan korelasi
parsial menunjukkan bahwa variabel iklim sekolah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perilaku
bullying pada siswa SMA di kota Gorontalo.
Kata kunci: Perilaku Bullying, Teman Sebaya, dan Iklim Sekolah
Pengantar
Maraknya kasus-kasus kekerasan yang terjadi pada anak-anak usia sekolah saat ini sangat
memprihatinkan bagi pendidik dan orangtua. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi anak menimba ilmu
serta membantu membentuk karakter pribadi yang positif ternyata malah menjadi tempat tumbuh suburnya
praktek-praktek bullying, sehingga memberikan ketakutan bagi anak untuk memasukinya.
Perilaku bullying kurang begitu diperhatikan, karena dianggap tidak memiliki pengaruh yang besar
pada siswa. Penelitian Sejiwa (2007) menyebutkan bahwa sebagian kecil guru (27,5%) menganggap bullying
merupakan perilaku normal dan sebagian besar guru (73%) menganggap bullying sebagai perilaku yang
membahayakn siswa. Hal tersebut tidak bisa dianggap normal karena siswa tidak dapat belajar apabila siswa
berada dalam keadaan tertekan, terancam dan ada yang menindasnya setiap hari (Netto, 2007). Menurut
Edwards (2006) perilaku bullying paling sering terjadi pada masa-masa sekolah menengah atas (SMA),
dikarenakan pada masa ini remaja memiliki egosentrisme yang tinggi.
Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan pada beberapa orang siswa SMA di kota
Gorontalo, peneliti menemukan beberapa kasus bullying. Sebagian besar interviewee mengemukakan bahwa
mereka pernah melihat dan menjadi pelaku bullying. Adapun bentuk-bentuk bullying yang pernah terjadi antara
lain seperti menyuruh push up, membentak, memelototi, memalak, mengejek dan yang paling ekstrim adalah
pemukulan. Disamping itu perilaku bullying yang terjadi pada beberapa sekolah SMA di kota Gorontalo
merupakan tindakan yang dilakukan oleh kakak kelas kepada adik kelas. Hal ini menunjukkan bahwa senioritas
masih menjadi sebuah fenomena yang terus terjadi di sekolah. Adanya ketimpangan atau ketidakseimbangan
kekuatan baik fisik maupun mental menjadi penyebab terjadi perilaku bullying di sekolah.
Beberapa faktor diyakini menjadi penyebab terjadinya perilaku bullying di sekolah, antara lain adalah
faktor kelompok teman sebaya dan iklim sekolah. Kelompok teman sebaya memberikan pengaruh terhadap
tumbuhnya perilaku bullying di sekolah. Menurut Benitez dan Justicia (2006) kelompok teman sebaya yang
memiliki masalah di sekolah akan memberikan dampak yang negatif bagi sekolah seperti kekerasan, perilaku
membolos, rendahnya sikap menghormati kepada sesama teman dan guru. Teman di lingkungan sekolah
idealnya berperan sebagai partner siswa dalam proses pencapaian program-program pendidikan. Namun
demikian, fakta dilapangan berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan pada siswa SMA di Kota
Gorontalo mengungkapkan bahwa ada sebagian siswa yang melakukan perilaku bullying di sekolah disebabkan
oleh dorongan teman-temannya.
Iklim sekolah juga memberikan pengaruh pada siswa untuk menjadi pelaku bullying. Menurut
Setiawati (2008) kecenderungan pihak sekolah yang sering mengabaikan keberadaan bullying menjadikan para
siswa sebagai pelaku bullying mendapatkan penguatan terhadap perilaku tersebut untuk melakukan intimidasi
pada siswa yang lain. Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka bullying merupakan
perilaku yang dapat membahayakan siswa lain baik secara fisik maupun psikologis. Maka penelitian ini ingin
menguji secara empirik apakah peran kelompok teman sebaya dan iklim sekolah dapat dijadikan prediktor untuk
memprediksi perilaku bullying pada siswa SMA di Kota Gorontalo.

Dasar Teori
Perilaku Bullying
Herbert (Lee, 2004) mendefinisikan bullying sebagai suatu hal yang mengerikan dan kejam yang
dilakukan oleh seseorang kepada anak atau sekelompok anak. Bullying dapat terjadi sekali atau berulang-ulang.
Korban bullying akan merasakan malu, sakit atau terhina dan terancam. Adapun pelaku bullying mungkin saja
tidak menyadarinya. Adapun Hazler (Carney & Merrel, 2001) mendefinisikan bullying sebagai sebuah perilaku
yang dilakukan secara berulang-ulang untuk menyakiti orang lain. Perilaku ini dapat dilakukan dengan
menyerang secara fisik atau verbal dan mengucilkan korban.
Olweus (McEachern dkk, 2005) bahwa bullying merupakan tindakan negatif yang dilakukan oleh satu
siswa atau lebih dan diulang setiap waktu. Bullying terjadi karena adanya ketimpangan dalam
kekuatan/kekuasaan. Hal tersebut mempunyai arti bahwa siswa yang menjadi korban bullying tidak berdaya
dalam menghadapi pelaku bullying. Ada berbagai macam ketimpangan dalam kekuatan/kekuasaan ini, termasuk
korban yang secara fisik maupun mental lebih lemah dari pelaku, jumlah pelaku bullying lebih banyak
dibandingkan dengan korban bullying.
Berdasarkan definisi-definisi tentang bullying di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bullying
merupakan keinginan untuk melukai baik fisik maupun mental yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok
orang kepada orang lain secara berulang-ulang, terjadi ketidakseimbangan kekuatan antara pelaku dan korban
dan menimbulkan kepuasan dari pelaku dalam melakukan perilaku tersebut.
Bullying merupakan perilaku yang dapat merugikan orang lain baik secara fisik maupun mental (Hymel
dkk, 2005). Banyak pendapat dari para ahli yang mengungkapkan aspek-aspek dari perilaku bullying, beberapa
diantaranya adalah Craig dkk (2007), Rigby (2005), Eliot & Cornell (2009) dan Bauman & Rio (2005). Namun
pada penelitian ini peneliti akan menggunakan aspek-aspek perilaku bullying dari Sejiwa (2008), karena
menurut peneliti apa yang disampaikan oleh para ahli di atas tentang aspek-aspek bullying telah dirangkum
dengan lengkap oleh Sejiwa. Menurut Sejiwa (2008) aspek-aspek perilaku bullying meliputi:
a. Bullying fisik
Bullying ini adalah jenis bullying yang kasat mata. Siapa pun dapat melihatnya karena terjadi sentuhan
fisik antara pelaku bullying dan korbannya. Contoh-contoh bullying fisik antara lain: menampar, menimpuk,
menginjak kaki, menjegal, meludahi, memalak, melempar dengan barang, menghukum dengan berlari keliling
lapangan, menghukum dengan cara push-up dan menolak (Sejiwa, 2008).
b. Bullying non fisik atau verbal
Sejiwa (2008) mengungkapkan bahwa bullying verbal merupakan jenis bullying yang juga dapat
terdeteksi karena dapat tertangkap indera pendengaran. Contoh-contoh bullying verbal antara lain: memaki,
menghina, menjuluki, meneriaki, mempermalukan di depan umum, menuduh, menyoraki, menebar gossip,
memfitnah dan menolak. Hal senada juga diungkapkan oleh Wolke dkk (Woods & Wolke, 2004) bahwa
bullying non fisik atau verbal meliputi memanggil dengan nama panggilan yang jelek, menghina dan
mengancam.
c. Bullying mental/psikologis
Bullying ini merupakan jenis bullying yang paling berbahaya karena tidak tertangkap mata atau telinga
jika tidak cukup awas mendeteksinya. Praktek bullying ini terjadi diam-diam dan di luar radar pemantauan.
Adapun contoh-contoh bullying mental/psikologis antara lain: memandang sinis, memandang penuh ancaman,
mendiamkan, mengucilkan, meneror lewat pesan pendek telepon genggam atau e-mail, memandang yang
merendahkan, memelototi, dan mencibir (Sejiwa, 2008). Hal senada diungkapkan oleh Maliki dkk (2009) bahwa
bullying psikologis meliputi menyebarkan gosip dan mengucilkan.
Berdasarkan uraian dan penjelasan mengenai aspek-aspek bullying tersebut di atas, maka peneliti
mengacu pada aspek bullying dari Sejiwa (2008), yaitu bullying fisik, bullying verbal dan bullying mental atau
psikologis, karena bentuk-bentuk bullying tersebut sudah mencakup seluruh perilaku bullying dan dapat
dikenakan pada siswa SMA.
Beberapa faktor diyakini menjadi penyebab terjadinya perilaku bullying di kalangan siswa SMA.
Anderson dan Bushman (2002) mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku
bullying meliputi faktor personal dan faktor situasional. Faktor personal adalah semua karakteristik yang ada
pada siswa, termasuk sifat-sifat kepribadian, sikap dan kecenderungan genetik atau bawaan. Faktor personal ini
secara konsisten bertahan pada diri siswa setiap waktu dan situasi. Seperti contoh, siswa yang memiliki selfesteem yang rendah cenderung mudah marah. Adapun faktor situasional yang mempengaruhi siswa dalam
melakukan perilaku bullying, antara lain adalah provokasi, frustasi dan drugs (Krahe, 2005).
Berdasarkan pernyataan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi terjadinya perilaku bullying adalah faktor personal dan faktor situasional.
Peran Kelompok Teman Sebaya
Kelompok sebaya dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif bagi remaja. Santrock (2003)
mengungkapkan bahwa kelompok sebaya banyak memberikan informasi tentang dunia di luar keluarga. Dengan

bergaul bersama kelompok sebaya, remaja belajar untuk menerima umpan balik tentang kemampuan mereka,
belajar tentang prinsip-prinsip keadilan, mengamati minat teman-teman sebayanya, dan memahami hubungan
yang erat dengan teman-teman tertentu. Lebih lanjut Santrock menyebutkan bahwa penolakan dari teman sebaya
dapat menimbulkan perasaan kesepian dan dimusuhi, sehingga dapat mempengaruhi kesehatan mental dan
menimbulkan masalah kriminal. Teman sebaya juga dapat mengenalkan kepada alkohol, kenakalan, dan
perilaku abnormal. Dengan demikian, teman sebaya, memang memiliki pengaruh yang sangat besar dalam
kehidupan remaja, sehingga remaja selalu berusaha untuk tetap diterima dan berada diantara kelompok sebaya.
Hartup (Santrock, 2003) mengungkapkan bahwa teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja
dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Interaksi teman sebaya dengan usia yang sama
memainkan peran yang unik pada kehidupan remaja. Willis (2005) menambahkan selain umur atau usia yang
sama, teman sebaya adalah sekelompok anak atau remaja yang memiliki motivasi bergaul yang sama.
Menurut Brown (Ryan, 2001) mengungkapkan pengertian kelompok teman sebaya adalah segala
bentuk interaksi anak atau remaja dengan teman karib sepermainan yang memiliki tingkat usia, minat dan tujuan
yang sama. Steinberg (Ryan, 2001) mengkonseptualisasikan kelompok teman sebaya atau klik adalah anak atau
remaja yang memiliki dua sampai dua belas orang anggota kelompok yang rata-rata memiliki usia dan minat
yang sama.
Berdasarkan beberapa definisi tentang kelompok teman sebaya yang dikemukakan oleh para ahli di
atas, dapat disimpulkan bahwa peer groups adalah sekelompok teman sebaya yang mempunyai ikatan
emosional yang kuat dan mereka dapat berinteraksi, bergaul, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam
memberikan perubahan dan pengembangan dalam kehidupan sosial dan pribadinya.
Bransford (2003) mengemukakan aspek-aspek kelompok teman sebaya terdiri dari kelompok teman
sebaya yang memberikan tekanan yang bersifat pasif dan kelompok teman sebaya yang memberikan tekanan
yang bersifat aktif. Kelompok teman sebaya yang memberikan tekanan yang bersifat aktif terjadi ketika remaja
lain memberikan tekanan atau paksaan pada temannya untuk melakukan perilaku seperti yang dilakukannya.
Remaja yang melakukan hal ini akan merasa benar dalam perilakunya apabila remaja dapat mengajak temantemannya untuk ikut melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan norma-norma masyarakat. Misalnya
saja sekelompok remaja melakukan kegiatan bakti sosial untuk kebersihan lingkungan, maka remaja mengajak
dengan cara membujuk atupun memaksa temannya yang lain untuk melakukan hal yang sama.
Kelompok teman sebaya yang memberikan tekanan yang bersifat pasif (dan merupakan tekanan yang
lebih kuat) adalah kebutuhan remaja untuk menyesuaikan diri dengan apa yang dilakukan oleh temannya.
Menyesuaikan dengan apa yang dilakukan oleh teman sebaya berhubungan dekat dengan keinginan untuk
diterima dan disukai (Jersild, dkk, 1978).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa aspek-aspek dari peranan
kelompok teman sebaya meliputi kelompok teman sebaya yang berperan aktif dan kelompok teman sebaya yang
berperan pasif. Aspek-aspek inilah yang kemudian digunakan dalam penelitian ini dalam rangka melihat peran
kelompok teman sebaya terhadap perilaku bullying pada siswa SMA.
Iklim Sekolah
Menurut Haynes dkk (Pianta dkk, 2003) mengemukakan bahwa iklim sekolah adalah kualitas dan
konsistensi dari interaksi interpersonal di dalam komunitas sekolah yang mempengaruhi perkembangan kognitif,
sosial dan psikologis siswa. Lebih lanjut Haynes dkk mengemukakan bahwa semakin baik kualitas yang
dibangun dari interaksi interpersonal antara guru dan siswa di sekolah maka akan mempengaruhi perkembangan
kognitif, sosial, dan psikologis siswa ke arah yang lebih baik.
Bernard (Adeyemi, 2008) mengungkapkan bahwa iklim organisasi atau iklim sekolah adalah sebuah
sistem yang secara sadar menyelaraskan aktivitas-aktivitas yang dilakukan oleh anggota-anggotanya dan
mempengaruhi perilakunya. Sekolah adalah sebuah organisasi yang memiliki tujuan-tujuan objektif yang ingin
dicapai dan untuk mencapai tujuan yang objektif tersebut diperlukan iklim sekolah yang baik. Iklim sekolah
yang baik ini mengacu pada kondisi pekerjaan antara pimpinan sekolah dan para guru dalam mencapai tujuan
objektif tersebut. Jika kondisi pekerjaannya dibangun dengan baik dan transparan maka akan mengakibatkan
iklim sekolah yang baik pula dan ini akan menjadikan proses belajar mengajar di sekolah akan semakin baik
pula dan akan berdampak positif bagi siswa.
Berdasarkan beberapa pengertian iklim sekolah yang dikemukakan oleh para ahli di atas, peneliti
menyimpulkan bahwa iklim sekolah adalah sebuah sistem di mana anggota-anggotanya saling berinteraksi dan
interaksi tersebut dapat mempengaruhi sikap, kepercayaan, nilai-nilai, motivasi dan perilaku anggotaanggotanya.
Para peneliti di bidang pendidikan mengemukakan pentingnya iklim sekolah yang baik dalam
pencapaian hasil studi yang memuaskan bagi siswa. Iklim sekolah yang dibangun dengan positif, terbuka dan
penuh dengan pengasuhan akan menciptakan lingkungan yag produktif dan berprestasi bagi guru dan siswa.
Monrad dkk (2008) mengungkapkan tentang aspek-aspek iklim sekolah meliputi lingkungan belajar, lingkungan
fisik dan sosial, hubungan antara rumah dan sekolah, dan Keamanan sekolah. Menurut Monrad dkk (2008)

lingkungan belajar yaitu persepsi dari para siswa tentang konteks pembelajannya dan siswa bekerja keras serta
respek atas apa yang dilakukannya dalam proses pembelajaran. Dukungan dari guru dalam proses pembelajaran
akan meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Semakin baik iklim lingkungan belajar maka akan tercipta
suasana yang kondusif dalam proses belajar mengajar, sehingga siswa akan merasa nyaman dalam belajar.
Menurut Hoffman dkk (2009) bahwa dengan lingkungan belajar optimal akan menghasilkan outcomes dalam
hubungannya dengan akademik, perkembangan karakter dan emotional intelligence.
Lingkungan fisik dan sosial yaitu persepsi siswa tentang kebersihan sekolah, manajemen atau perilaku
di dalam kelas dan hubungan antara guru dan siswa. Lingkungan yang bersih, manajemen atau perilaku yang
baik yang tercipta di dalam maupun di luar kelas serta hubungan interpersonal antara guru dan siswa yang baik
akan menciptakan suasana atau iklim sekolah baik (Monrad dkk, 2008).
Hubungan antara rumah dan sekolah yaitu hubungan antara sekolah dengan orangtua. Terciptanya
hubungan yang baik antara sekolah dan rumah akan membuat siswa merasa aman dan nyaman dalam melakukan
aktivitas pembelajaran di sekolah (Monrad dkk, 2008). Menurut Meragvilia dkk (2003) terjalinnya komunikasi
yang baik antara pihak sekolah dan orangtua, dimana pihak sekolah selalu melibatkan orangtua dalam kegiatan
yang diadakan oleh sekolah akan mereduksi perilaku bullying di sekolah.
Menurut Monrad dkk (2008) keamanan sekolah yaitu sejauh mana siswa merasa aman dan nyaman
dengan lingkungan sekolahnya. Menurut Brand dkk (2003) siswa yang merasa aman selama berada di sekolah
akan mempengaruhi performansi akademiknya, perilaku, sosioemosional dan kesejahteraan psikologisnya.
Berdasarkan pada uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek iklim sekolah meliputi
lingkungan belajar, lingkungan fisik dan sosial, hubungan antara rumah dan sekolah, dan keamanan sekolah.
Aspek-aspek inilah yang kemudian digunakan dalam penelitian ini dalam rangka melihat pengaruh iklim
sekolah terhadap perilaku bullying pada remaja siswa SMA.
Pengaruh Peran Kelompok Teman Sebaya dan Iklim Sekolah Terhadap Perilaku Bullying
Perilaku bullying dan hubungan yang mempengaruhinya telah diuji keabsahannya dibeberapa negara
dan ditemukan adanya faktor-faktor yang signifikan yang mempengaruhi perilaku bullying pada kesehatan
psikologis dan perkembangan fisik (Haynie, Nansel, Eitel, Crump, Saylor, Yu, & Simons-Morton, 2001;
Olweus, 1997; Roland, 2000). Kemungkinan para siswa menjadi pelaku bullying dipengaruhi oleh beberapa
variabel. Beberapa studi telah mengidentifikasi variabel umum yang terdiri dari empat domain yaitu individual,
hubungan keluarga, kelompok teman sebaya dan sekolah, yang mana berkontribusi pada siswa dalam
berperilaku bullying.
Rubin, Bukowski, & Parker (Rodkin dkk, 2000) mengungkapkan hasil penelitian mereka pada siswa
sekolah menengah atas di German tentang hubungan antar teman sebaya bahwa beberapa siswa yang tidak
popular (ditolak oleh teman sebaya) memiliki perilaku agresi atau bullying yang tinggi, menarik diri dan
menahan dimensi-dimensi internal dan eksternal yang ada pada diri mereka. Disamping itu siswa-siswa yang
tidak popular ini selalu berubah-ubah persepsi diri mereka tentang kualitas hubungan interpersonal (Bierman,
Smoot, & Aumiller, 1993; Boivin & Begin, 1989; Hartup & Stevens, 1997; Hymel, Bowker, & Woody, 1993;
Patterson, Kupersmidt, & Griesler, 1990; Rodkin dkk, 2000). Seperti contoh yang dikemukakan oleh Bierman
dkk, bahwa siswa laki-laki agresif yang ditolak oleh teman sebaya mereka lebih suka berdebat, mengganggu
teman yang lain, tidak mempunyai rasa malu, kaku, dan secara sosial tidak sensitif dibandingkan dengan siswa
yang tidak berperilaku agresi atau bullying.
Perilaku bullying adalah masalah sosial dan lingkungan sekolah merupakan salah satu faktor atas
terjadinya perilaku tersebut. Olweus (Woods & Wolke, 2004) pertama kali berspekulasi bahwa perilaku
bullying/agresif yang dilakukan oleh para siswa merupakan sebuah reaksi dari rasa frustasi dan kegagalan di
sekolah. Hal ini didukung oleh sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Salwina dkk (2009) yang
mengungkapkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara rendahnya nilai prestasi belajar dengan perilaku
bullying. Akan tetapi, sebuah penelitian pada siswa di Greater Stockholm tidak memberikan bukti bahwa
perilaku bullying/agresif merupakan akibat dari nilai-nilai yang buruk di sekolah.
Hipotesis
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adalah: Ada pengaruh yang negatif peran kelompok teman sebaya, dan iklim sekolah terhadap
perilaku bullying. Ada pengaruh negatif antara peran kelompok teman sebaya dengan kecenderungan
berperilaku bullying. Ada pengaruh negatif iklim sekolah dengan kecenderungan berperilaku bullying.
Hasil Penelitian
Berdasarkan kategorisasi skor subjek pada skala perilaku bullying, dapat diketahui bahwa tidak ada
responden yang memiliki perilaku bullying sangat tinggi. Dengan perincian adalah sebanyak 16 orang (15,5%)
memiliki perilaku bullying yang tinggi, 35 orang atau 50% berperilaku bullying sedang, 27 orang atau 26,2%
berperilaku bullying yang rendah dan sebanyak 8 orang atau 7.8% memiliki perilaku bullying sangat rendah.
Hasil ini menunjukkan bahwa siswa siswi SMA di kota Gorontalo hanya memiliki perilaku bullying yang

sedang saja. Adapun hasil lengkap dari kategorisasi skor subjek pada skala perilaku bullying dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.
Tabel 1. Kategorisasi Skor Subjek Pada Skala Perilaku Bullying
Variabel
Rentang Nilai
Kategori
Jumlah
Prosentase (%)
Perilaku
bullying

X < 19.2

Sangat Rendah

19.2 X < 25.2

Rendah

25.2 X < 34.8

Sedang

34.8 X < 39.6

Tinggi

X > 39.6

Sangat Tinggi

Total

7.8

27

26.2

52

50.5

16

15.5
0.0

0
103

100

Kategorisasi variabel peran kelompok teman sebaya dapat diperoleh berdasarkan skor total subjek pada
skala kepribadian. Berikut kategorisasi untuk variabel kepribadian sebagai berikut:
Tabel 2. Kategorisasi Skor Subjek Pada Skala Peran Kelompok Teman Sebaya
Variabel
Rentang Nilai
Kategori
Jumlah
Prosentase (%)
Peran
kelompok
teman sebaya

X < 24

Sangat Rendah

31,5 X < 31.5

Rendah

31.5 X < 43.5

Sedang

43.5 X < 49.5

Tinggi

X > 49.5

Sangat Tinggi

4
3
22
36
38
103

Total

3,9
2,9
21,4
35,0
36,9
100

Berdasarkan hasil kategorisasi di atas, dapat diketahui bahwa peran kelompok teman sebaya, terdapat 4
orang (3,9%) dalam kategori sangat rendah, sebanyak 3 orang (2,9%) yang berada dalam kategori rendah,
kategori sedang sebanyak 22 orang (21,4%), 36 orang (35,0%) dalam kategori tinggi, dan sebanyak 38 orang
(36,9%) dengan kategori yang sangat tinggi.
Kategorisasi variabel peran kelompok teman sebaya dapat diperoleh berdasarkan skor total subjek pada
skala kepribadian. Berikut kategorisasi untuk variabel kepribadian sebagai berikut:
Tabel 3. Kategorisasi Skor Subjek Pada Skala Iklim Sekolah
Variabel
Rentang Nilai
Kategori
Jumlah
Prosentase (%)
Iklim
sekolah

X < 25.6

Sangat Rendah

25.6 X < 33.6

Rendah

33.6 X < 46.4

Sedang

46.4 X < 52.8

Tinggi

X > 52.8

Sangat Tinggi

Total

1
10
14
51
27
103

1.0
9.7
13.6
49.5
26.2
100

Berdasarkan hasil kategorisasi skor subjek di atas, dapat diketahui bahwa iklim sekolah, terdapat 1
orang (1%) menyatakan iklim sekolahnya dalam kategori sangat rendah, sebanyak 10 orang (9,7%) yang
menyatakan iklim sekolahnya berada dalam kategori rendah, kategori sedang sebanyak 14 orang (13,6%), 51
orang (49,5%) dalam kategori tinggi, dan sebanyak 27 orang (26,2%) dengan kategori yang sangat tinggi. Hal
ini berarti sebagian besar siswa SMA di Gorontalo menyatakan iklim sekolahnya memiliki memiliki kategori
yang tinggi.
Dari hasil analisis regresi ganda diperoleh F hitung = 13,785 dan (p<0,05). Dengan demikian koefisien
korelasi antara peran kelompok teman sebaya dan iklim sekolah secara bersama-sama perilaku bullying terdapat
pengaruh yang signifikan, dengan demikian hipotesis tersebut diterima.

Ditemukan pula koefisien determinasi RSquare sebesar 0,360 menunjukkan bahwa perilaku bullying
siswa 36% dapat dijelaskan oleh kedua variabel independen tersebut dan sisanya sebesar 64% dijelaskan oleh
variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian ini.
Hasil pengujian dengan korelasi parsial menunjukkan bahwa variabel peran kelompok teman sebaya
diperoleh t = -0,298 dan (p<0,05) yang berarti peran kelompok teman sebaya berpengaruh negatif dan signifikan
terhadap perilaku bullying pada siswa SMA di kota Gorontalo. Artinya semakin besar pengaruh kelompok
teman pada siswa SMA maka perilaku bullying akan semakin rendah.
Hasil pengujian dengan korelasi parsial menunjukkan bahwa variabel iklim sekolah diperoleh t = 0,391 dan (p<0,05) yang berarti iklim sekolah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap perilaku bullying
pada siswa SMA di kota Gorontalo. Artinya semakin baik iklim sekolah maka perilaku bullying akan semakin
rendah.
Pembahasan
Berdasarkan hasil kategorisasi skor subjek pada skala perilaku bullying di atas, dapat diketahui bahwa
sebanyak 16 orang (15,5%) memiliki perilaku bullying yang tinggi, 35 orang atau 50% berperilaku bullying
sedang, 27 orang atau 26,2% berperilaku bullying yang rendah dan sebanyak 8 orang atau 7.8% memiliki
perilaku bullying sangat rendah. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa siswi SMA di kota Gorontalo hanya
memiliki perilaku bullying yang sedang saja. Namun perlu diperhatikan juga bahwa ada 16 orang atau 15,5%
siswa yang melakukan perilaku bullying secara intens di sekolah. Hal ini tentu saja tidak dapat dibiarkan begitu
saja, karena dikhawatirkan akan sangat mempengaruhi kondisi psikologis dari siswa yang menjadi korban dan
hal ini menunjukkan bahwa masih ada siswa SMA di kota Gorontalo yang melakukan bullying di sekolah.
Hasil penelitian ketiga menemukan bahwa peran kelompok teman sebaya terbukti berpengaruh negatif
terhadap perilaku bullying pada siswa SMA di kota Gorontalo. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian
Nation dkk (2007) yang menemukan bahwa perilaku bullying disebabkan oleh tekanan dari teman sebaya agar
dapat diterima dalam kelompoknya. Kelompok teman sebaya adalah sekelompok teman yang mempunyai ikatan
emosional yang kuat dan siswa dapat berinteraksi, bergaul, bertukar pikiran, dan pengalaman dalam
memberikan perubahan dan pengembangan dalam kehidupan sosial dan pribadinya.
Berdasarkan kategorisasi skor siswa tentang peran kelompok teman sebaya menunjukkan bahwa peran
kelompok teman sebaya berada pada kategori tinggi atau sebesar 35% dan sangat tinggi atau sebesar 36,9%. Hal
ini menunjukkan bahwa tekanan dari kelompok teman sebaya pada siswa untuk melakukan perilaku bullying
sangat rendah. Senada dengan hal tersebut, Eisenberg dan Aalsma (2005) mengungkapkan bahwa siswa SMA
tidak tergantung lagi pada tekanan-tekan ataupun keputusan-keputusan dari teman sebayanya untuk melakukan
perilaku bullying, karena pada masa SMA ini siswa sudah mampu berpikir secara objektif tentang apa yang
harus dilakukannya dan meningkatnya nilai-nilai moralitas dalam dirinya.
Hasil penelitian keempat menemukan bahwa iklim sekolah berpengaruh negatif dan signifikan terhadap
perilaku bullying pada siswa se kota Gorontalo. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan dari Berger dkk
(2008) yang mengungkapkan bahwa iklim sekolah yang dibangun dengan baik yaitu dengan menumbuhkan
sikap toleransi yang tinggi antara guru, pimpinan sekolah, staf dan para siswa maka akan meminimalisir tumbuh
dan berkembangnya perilaku bullying pada siswa.
Berdasarkan kategorisasi skor siswa tentang iklim sekolahnya menunjukkan bahwa iklim sekolah
berada pada kategori tinggi atau sebesar 49.5% dan sangat tinggi atau sebesar 26.2%. Hal ini menunjukkan
bahwa iklim sekolah yang dibangun di sekolah tempat siswa belajar sangat baik sehingga kemungkinan siswa
untuk melakukan perilaku bullying sangat rendah. Senada dengan hasil tersebut, Bauman dan Del Rio (2005)
mengungkapkan bahwa iklim sekolah yang dibangun dengan baik, di mana terdapat komunikasi yang efektif
antara pimpinan sekolah, guru, staf dan para siswa serta terciptanya sekolah yang aman dan nyaman akan
mereduksi dan meminimalisir terjadinya perilaku bullying di antara para siswa.
Perilaku bullying sering terjadi di sekolah, untuk itu seluruh elemen yang ada di sekolah secara
bersama-sama menanggulangi tindakan bullying. Ada beberapa program yang telah dibuat oleh para ahli di
bidang pendidikan dan psikologi untuk menanggulangi perilaku bullying di sekolah. Salah satu program antibullying yang ditawarkan oleh para ahli adalah program SAHABAT yang dikembangkan oleh Astuti (2008).
Program ini mengutamakan nilai-nilai etika yang mengandung nilai-nilai sosial dan kultural persahabatan.
Elemen etika itu berupa kasih-SAyang, HArmoni, Baik-budi, bertAnggung jawab, dan persaTuan. Program
SAHABAT melibatkan semua pihak yang berada di sekolah termasuk orangtua. Aktivitas tersebut dapat berupa
support network, kampanye dan penelitian.
Penutup
Berdasarkan hasil penelitian maka diperoleh kesimpulan bahwa ada pengaruh negatif yang signifikan
antara peran kelompok teman sebaya dan iklim sekolah terhadap perilaku bullying pada siswa SMA di kota
Gorontalo.
1. Perilaku bullying merupakan perilaku yang dapat membahyakan orang lain baik secara fisik maupun
mental. Para siswa yang melakukan bullying kepada temannya hendaknya mampu menghargai orang lain,
mampu mengembangkan sikap empati, toleransi dan kasih sayang. Jika siswa memiliki sikap empati yang

2.

3.

tinggi berarti siswa tersebut akan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Dengan begitu siswa tidak
akan mau melakukan tindakan bullying terhadap temannya.
Perilaku bullying sering terjadi di sekolah, untuk itu seluruh elemen yang ada di sekolah secara bersamasama menanggulangi tindakan bullying. Ada beberapa program yang telah dibuat oleh para ahli di bidang
pendidikan dan psikologi untuk menanggulangi perilaku bullying di sekolah. Salah satu program antibullying yang ditawarkan oleh para ahli adalah program SAHABAT yang dikembangkan oleh Astuti
(2008). Program ini mengutamakan nilai-nilai etika yang mengandung nilai-nilai sosial dan kultural
persahabatan. Elemen etika itu berupa kasih-SAyang, HArmoni, Baik-budi, bertAnggung jawab, dan
persaTuan. Program SAHABAT melibatkan semua pihak yang berada di sekolah termasuk orangtua.
Aktivitas tersebut dapat berupa support network, kampanye dan penelitian.
Disarankan untuk penelitian selanjutnya agar mempertimbangkan faktor-faktor lain yang berpengaruh
terhadap perilaku bullying misalnya, faktor budaya, gender dan tingkat religiusitas.

Daftar Pustaka
Adeyemi, T.O. 2008. Organisational Climate and Teachers Job Performance in Primary Schooling Ondo State,
Nigeria: An Analitical Survey. Asian Journal of Information technology, 7 (4), 138-145.
Anderson, C.A & Bushman, B.J. 2002. Human Aggression. Annual Reviews Psychology, 53, 27-51.
Astuti, P.R. 2008. Meredam Bullying. 3 Cara Efektif Mengatasi Kekerasan Pada Anak. Gramedia Widiaswara
Indonesia: Jakarta
Bauman, S., & Del Rio, A. 2005. Knowledge and Beliefs about Bullying in Schools: Comparing Pre-Service
teachers in the United States and United Kingdom. Journal of School Psychology International,
26 (4): 428-442.
Benitez, J.L & Justicia, F. 2006. Bullying: Description and Analysis of the Phenomenon. Electronic Journal of
Research in Educational of Psychology, 4 (9): 151-170.
Berger, C., Karimpour, R., & Rodkin, P.C. 2008. Bullies and Victims at School: Perspectives and Strategies for
Primary Prevention. In T. Miller (ed). School Violence and Primary Prevention (pp: 287-314).
Springer-Verleg: New York.
Brand, S., Felner, R., Shim, M., Seitsinger, A., & Dumas, T. 2003. Middle School Improvement an Reform:
Development and Validation of a School-Level Assesment of Climate, Cultural Pluralism and
School Safety. Journal of Educational Psychology, 95: 570-588.
Bransford, J.D. 2003. The Best Years: Panduan Mendampingi Perkembangan Sosial dan Emosional Anak di
Masa Remaja. (Alih Bahasa: Rica Hapsari; Editor: Tim Prestasi Pustakaraya). Penerbit Prestasi
Pustakaraya: Jakarta.
Carney, A.G., & Merrell, K.W. 2001. Bullying in School: Perspectives on Understanding and Preventing an
International Problem. Journal of School Psychology International, 22 (3): 364-382.
Craig, W., Pepler, D., & Blais, J. 2007. Responding to Bullying: What Works. Journal of School Psychology
International, 28 (4): 465-477.
Edwards, D.C. 2006. Ketika Anak Sulit Diatur: Panduan Bagi Orang Tua Untuk Mengubah Masalah Perilaku
Anak. Kaifa: bandung.
Eliot, M & Cornell, D.G. 2009. Bullying in Middle School as a Function of Insecure Attachment and
Aggressive Attitudes. Journal of School Psychology International, 30 (2): 201-214.
Eisenberg, M.E & Aalsma, M.C. 2005. Bullying and Peer Victimization: Position Paper of the Society For
Adolescent Medicine. Journal of Adolescent Health, 36: 88-91.
Hymel, S., Rocke-Henderson, N., & Bonanno, R.A. 2005. Moral Disengagement: A Framework for
Understanding Bullying Among Adolescents. Journal of Social Science Special Issue, 8, 1-11.
Jersild, A.T., Brook, J.S., & Brook, D.W. 1978. The Psychology of Adolescence. Macmillan Publishing Co., Inc:
New York.
Krahe, B. 2005. Perilaku Agresif: Buku Panduan Psikologi Sosial. Terjemahan: Drs. Helly Prajitno Soetjipto,
MA & Dra. Sri Mulyantini Soetjipto. Pustaka Pelajar: Yogyakarta.
Lee, C. 2004. Preventing Bullying in School: A Guide for teachers and Other Profesionals. Paul Chapman
Publishing: London.
Maliki, A.E., Asagwara, C.G., & Ibu, J.E. 2009. Bullying Problem Among School Children. Journal of Human
Ecology, 25 (3): 209-213.
McEachern, A.G., Kenny, M., Blake, E., & Aluede, O. 2005. Bullying in School: International Variation.
Journal of Social Science Special Issue, 8: 51-58.
Meraviglia, M.G., Becker, H., Rosenbluth, B., Sanchez, E., & Robertson, T. 2003. The Expect Respect Project:
Creating a Positive Elementary School Climate. Journal of Interpersonal Violence, 18 (11):
1347-1360.
Monrad, D.M., May, R.J., DiStefano, C., Smith, J., Gay, J., Mindrila, D., Gareau, S., & Rawls, A. 2008. Parent,
Student, and Teacher Perception of School Climate: Investigations Across Organizational

Level.
www.ed.sc.edu/.../EOC%20Climate/Parent,%20Student,%20and%20Teacher%20Perc
eptions%20of%20School%20Climate.pdf. Diakses tanggal 2 Januari 2010.
Nation, M., Vieno, A., Perkins, D.D., & Santinello, M. 2007. Bullying in School and Adolescent Sense of
Empowerment: An Analysis of Relationship with Parents, Friends, and Teachers. Journal of
Community & Applied Social Psychology, 10 (3): 115-127.
Netto, G. 2007. Bullying Di Sekolah. http://genenetto.blogspot.com/2007/05/bullying-di-sekolah.html.
Diakses tanggal 2 Januari 2010.
Pianta, R.C., Hanre, B., & Stuhlman, M. 2003. Hand Book of Psychology: Volume 7 Educational Psychology.
(In Ed) William M. Reynolds & Gloria e. Miller. John Wiley & Son Inc: Kanada.
Rigby, K. 2005. Why Do Some Children Bully at School?: The Contribution of Negative Attitudes Towards
Victims and the Perceived Expectations of Friends, Parents, and Teachers. Journal of School
International, 26 (2): 147-161.
Rodkin, P.C., Farmer, T.W., Pearl, R and Acker, R.V. 2000. Heterogeneity of Popular Boys: Antisocial and
Prosocial Configurations. Journal of Developmental Psychology, 36 (1): 14-24.
Roland, E. 2000. Bullying in School: Three National Innovations in Norwegian School in 5 Years. Journal of
Aggressive Behavior, 26, 135-143.
Ryan, A.M. 2001. The Peer Group as a Context for the Development of Young Adolescent Motivation and
Achievement. Journal of Child Development, 72 (4): 1135-1150.
Salwina, W.W.I., Tan, S.M.K., Ruzyanei, N.N.J., Iryani, T.M.D., Syamsul, S., Aniza, A and Zasmani, S. 2009.
School Bullying Amongst Standard Six Students Attending Primary National Schools in The
Federal Territory of Kuala Lumpur: The Prevalence and Associated Socio Demographic
Factors. Malaysian Journal of Psychiatric, 18 (1): 5-12.
Santrock, J.W. 2003. Adolescence: Perkembangan Remaja. Edisi Keenam. (Terjemahan: Shinto B. Adler &
Sherly Saragih). Erlangga: Jakarta.
Setiawati,
O.R.
2008.
Bullying:
Kekerasan
Teman
Sebaya
di
Balik
Pilar
Sekolah.http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=13&jd=BULLYING%3A+Kekeras
an+Teman+Sebaya+di+Balik+Pilar+Sekolah&dn=20080623203208. Diakses tanggal 2
Januari 2010.
Willis, S.S. Remaja & Masalahnya: Mengupas Berbagai Bentuk Kenakalan Remaja, Narkoba, Free Sex dan
Pemecahannya. CV Alfabeta: Bandung.
Woods, S and Wolke, D. 2004. Direct and Relational Bullying Among Primary School Children and Academic
Achievement. Journal of School Psychology, 42: 135-155.
Yayasan Semai Jiwa Amini (SEJIWA). 2008. Bullying. Mengatasi Kekerasan di Sekolah dan Lingkungan
Sekitar Anak. Grasindo: Jakarta.