Anda di halaman 1dari 21

TUGAS AKHIR 1

Pengaruh Penggunaan Artificial Magnetic Conductor


Kapasitif terhadap Performansi dan Dimensi Antena
Mikrostrip Persegi

Disusun Oleh:
Ahmad Ikhyari
18112017

PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI


SEKOLAH TEKNIK ELEKTRO DAN INFORMATIKA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2015

BAB 1 PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Telekomunikasi

merupakan

aspek

kehidupan

yang

kini

menjadi perhatian utama masyarakat dunia. Telekomunikasi


muncul karena adanya kesadaran akan pentingnya komunikasi
antarmanusia, bahkan dalam jarak jauh sekalipun. Kesadaran ini
pun telah terwujud; layanan telekomunikasi di banyak negara
telah dinikmati oleh sebagian besar warganya, bahkan oleh
warga yang tinggal di open area. Hal ini diiringi dengan
peningkatan kapasitas layanan telekomunikasi massa.
Sistem

telekomunikasi

terdiri

atas

pemancar

informasi

(transmitter), kanal informasi (channel), dan penerima informasi


(receiver). Ketiga unsur pokok ini tak dapat dihilangkan satu
sama lain. Udara, relung yang seringkali dianggap sebagai
ruangan kosong, pun merupakan kanal informasi yang mudah
didapat. Meski begitu, ilmuwan terus mencermati pola fluktuasi
karakteristik udara sebagai kanal informasi.
Antena pun menjadi komponen telekomunikasi yang penting
selain kabel tembaga dan kabel serat optik. Antena mengubah
gelombang terbimbing saluran transmisi menjadi gelombang
bebas di udara, pun sebaliknya. Karena antena bekerja dengan
medium udara, antena menjadi piranti komunikasi utama di
wilayah terpencil. Struktur fisik antena pun disesuaikan dengan
tujuan pembuatan antena tersebut. Dengan kata lain, antena
televisi memiliki struktur yang berbeda dengan antena ponsel.
Penentuan
menentukan

dimensi

struktur

antena

parameter-parameter

secara

antena,

rinci

seperti

sangat
frekuensi

kerja, koefisien refleksi, gain, VSWR, dan pola radiasi. Penentuan


metode pencatuan pun berpengaruh secara khas terhadap
parameter-parameter

tersebut,

mempertimbangkan

faktor

kemudahan dalam fabrikasi kontra kinerja antena.


Beberapa teknik miniaturisasi telah dikembangkan guna
memperoleh dimensi patch antena yang lebih kecil untuk
1

frekuensi kerja tertentu. Penggunaan materi dengan konstanta


dielektrik tinggi, penggunaan slot pada patch, dan penggunaan
metamaterial, adalah sebagian teknik miniaturisasi yang dikenal.
Pada tugas ini, penulis mengajukan alternatif teknik miniaturisasi
patch dengan menggunakan struktur AMC kapasitif sebagai
pengganti ground plane.
Pada tugas ini akan diimplementasikan dua antena mikrostrip,
satu tanpa struktur AMC, dan yang lainnya dengan struktur AMC
kapasitif. Materi yang digunakan adalah FR4-Epoxy dengan
0=4,4 . Antena yang akan dirancang bekerja pada frekuensi
tengah 2,45 GHz dan memiliki bandwidth atau pita frekuensi
kerja antara 2,42,495 untuk aplikasi Wireless Local Area
Network (WLAN).
2. Tujuan
Tugas akhir ini menargetkan tercapainya beberapa tujuan
sebagai berikut:

Merancang dan melakukan simulasi antena mikrostrip dengan


struktur

AMC

kapasitif

sebagai

ground

plane

sehingga

memenuhi spesifikasi pita frekuensi dan frekuensi kerja yang

diinginkan.
Merealisasikan

karakteristik antena tersebut dengan hasil simulasi.


Membandingkan performansi antena mikrostrip biasa dengan

struktur

tersebut

dan

membandingkan

antena mikrostrip dengan AMC kapasitif sebagai ground

plane.
Melakukan karakterisasi beberapa parameter kunci pada
struktur AMC kapasitif yang digunakan.
3. Metodologi
Tugas ini dilakukan dengan beberapa tahapan sebagai berikut:

Studi literatur, terutama literatur mata kuliah Elektronika

Frekuensi Radio dan Antena dan Propagasi Gelombang.


Simulasi, dilakukan dengan bantuan perangkat lunak simulasi,
dilakukan hingga hasil simulasi memenuhi kriteria.
2

Implementasi, pencetakan rancangan dua jenis antena pada

tugas ini menjadi perangkat keras antena.


Pengukuran, dilakukan dengan memperhatikan

beberapa

parameter penting antena, seperti koefisien pantul, gain, dan


pola radiasi polar, serta membandingkan hasil pengukuran
dengan hasil simulasi.

BAB 2 TEORI DASAR


1 Antena Mikrostrip
Dalam aplikasi pesawat luar angkasa, satelit, dan misil dengan
batasan ukuran, berat, biaya, kinerja, kemudahan pemasangan,
dan profil aerodinamis, antena dengan low profile dibutuhkan,
antena mikrostrip. Antena mikrostrip dapat diterapkan pada
permukaan planar dan nonplanar, sederhana, dan tidak mahal.
Terlepas dari keuntungan tersebut, antena mikrostrip memiliki
efisiensi yang rendah, daya yang rendah, kinerja-pemindaian
yang rendah, dan pita frekuensi yang sangat sempit [1].
Antena mikrostrip menjadi perhatian masyarakat luas pada
1970-an, meski konsepnya telah dibuat pada 1953 dan patennya
telah ditetapkan pada 1955. Antena mikrostrip terdiri atas pita
(patch) logam yang sangat tipis, diletakkan di atas bidang
pentanahan (ground plane) dengan jarak

h 0 , biasanya

0,003 0 h 0,05 0 . Pita (patch) mikrostrip dirancang sehingga


pola maksimum tegak lurus terhadap patch. Pita dan bidang
pentanahan dipisahkan oleh lembaran dielektrik (dikenal sebagai
substrat) [2].

Gambar 1 Antena mikrostrip (a) Perspektif atas (b) Tampak samping (c) Sistem
koordinat pada slot peradiasi

Terdapat beberapa jenis substrat yang dapat digunakan dalam


perancangan antena mikrostrip; konstanta dielektrik biasanya
dalam rentang

2,2 r 12 . Substrat dengan konstanta dielektrik

rendah biasa digunakan dengan ketebalan yang cukup karena


menyediakan efisiensi yang tinggi, pita frekuensi yang lebar,
namun ukuran elemen yang lebih besar. Substrat tipis dengan
konstanta dielektrik yang tinggi biasa digunakan karena dapat
mengikat medan-medan yang bekerja hingga meminimalisasi
radiasi dan kopling daya yang tidak diinginkan, dan berimplikasi
pada ukuran elemen yang lebih kecil, namun efisiensi rendah dan
pita frekuensi sempit.
Seringkali antena mikrostrip diistilahkan dengan antena patch.
Elemen peradiasi dan pita pencatu daya dicetak di atas substrat
dielektrik. Struktur persegi, persegi panjang, dan sirkular umum
digunakan karena kemudahan analisis dan fabrikasi, serta
memiliki

radiasi

polarisasi-silang

(cross-polarization)

yang

rendah. Pada tugas ini digunakan antena mikrostrip rektangular.


4. Model Saluran Transmisi
Pemodelan

analisis

antena

mikrostrip

rektangular

menggunakan model saluran transmisi, model rongga, dan


direktivitas. Dari ketiga model di atas, model saluran transmisi
adalah model yang paling mudah dijelaskan, meski menghasilkan
implementasi

yang

paling

tidak

akurat.

Meski

demikian,

perubahan dimensi dengan model ini dapat dijelaskan secara


fisik.

Gambar 2 (a) Pita mikrostrip (b) Garis-garis medan listrik (c) Susunan geometri
patch/pita mikrostrip dalam konstanta dielektrik efektif

Efek fringing pada ujung-ujung patch terjadi karena dimensi


patch tidak tak terbatas, berbatas dalam besaran panjang
(length) dan lebar (width). Fenomena ini diilustrasikan pada
Gambar 2, baik pada panjang maupun lebar patch. Besaran
fringing adalah fungsi dimensi patch dan ketebalan substrat.
Pada bidang-E fringing adalah fungsi nisbah dari panjang patch
(L) terhadap ketebalan (h) substrat (L/h) dan fungsi dari
konstanta dielektrik substrat ( r ).
Sesungguhnya medan listrik melewati dua jenis dielektrik:
umumnya udara dan substrat. Sebagian besar dari garis medan
listrik melewati substrat, dan yang lain melewati udara. Karena
r

W/h >> 1 dan


di

substrat.

>> 1, garis-garis medan listrik terkonsentrasi

Dalam

kasus

ini,

fringing

menyebabkan

pita

mikrostrip nampak lebih luas secara elektrikal berbanding


terhadap dimensi fisiknya. Konstanta dielektrik efektif,

reff ,

diperkenalkan untuk dilibatkan dalam pendekatan perhitungan


parameter antena. Konstanta dielektrik efektif didefinisikan
sebagai konstanta dielektrik dari material dielektrik seragam
(uniform) sehingga pita mikrostrip memiliki karakteristik elektrik
yang

identik,

termasuk

konstanta

sesungguhnya.
6

propagasi,

sebagai

pita

Pada frekuensi rendah konstanta dielektrik efektif tetap. Pada


frekuensi-frekuensi intermediet, nilai konstanta tersebut menaik
secara monoton hingga mendekati nilai konstanta dielektrik dari
substrat. Nilai awal (nilai pada frekuensi rendah) dari konstanta
dielektrik efektif dikenal sebagai nilai statis, dan diberikan
sebagai [2]
W
>1
h
+1 1
h
reff = r + r
1+12
2
2
W

1
2

Gambar 3 Konstanta dielektrik efektif berbanding dengan frekuensi, untuk


beberapa substrat tertentu

Akibat terjadinya efek fringing, secara elektrik patch antena


mikrostrip terlihat lebih besar dari dimensi fisik. Pada bidang-E,
seperti terilustrasi pada Gambar 4, dimensi patch sepanjang
panjangnya terkembang pada tiap ujungnya sebesar
reff

sebagai fungsi dari

L ,

dan nisbah W/h. Hubungan secara

empiris untuk nilai perpanjangan panjang ternormalisasi adalah


L
=0,412
h

W
( reff +0,3 ) h +0,264

( reff

)
W
0,258 ) ( + 0,8)
h
7

Gambar 4 Panjang fisik dan efektif pada patch rektangular (a) Tampak atas (b)
Tampak samping

Akibat perpanjangan panjang patch sebesar

pada tiap

ujungnya, panjang efektif dari patch adalah ( L= /2

untuk

mode dominan TM010 tanpa fringing)


Leff =L+2 L
Untuk mode dominan TM010, frekuensi resonan dari antena
mikrostrip adalah fungsi dari panjang patch.

( f r )010 =

v0
1
=
2 L r 0 0 2 L r

dengan

v0

sebagai kecepatan cahaya pada ruang bebas.

Persamaan di atas tak memasukkan aspek fringing dalam


kalkulasinya. Jika memasukkan efek fringing, persamaan terakhir
menjadi

( f rc )010 =

1
2 Leff reff 0 0

Panjang fisik dari antena menjadi


L=Leff 2 L
Leff =

L=

1
2 ( f rc )010 reff 0 0

1
2 L
2 ( f rc ) 010 reff 0 0
8

Untuk peradiasi efektif, lebar patch dinyatakan sebagai


W=

v
1
2
2
= 0
2 f r 0 0 r +1 2 f r r +1

5. Teknik Pencatuan
Terdapat beberapa konfigurasi yang dapat digunakan untuk
mencatu antena mikrostrip dengan sumber daya, di antaranya
pita mikrostrip, probe koaksial, kopling apertur, dan kopling
proksimitas.

Pita

pencatuan

(microstrip

feed

line)

mudah

difabrikasi, mudah dalam menyesuaikan impedansi pada ujungujug pita dengan menentukan posisinya, dan sederhana dalam
pemodelan. Meski demikian, pita frekuensi kecil, terbatas pada
rentang 25% seiring dengan arus permukaan dan radiasi
samping yang meningkat karena tebalnya substrat.

Gambar 5 Beberapa teknik pencatuan antena mikrostrip yang lazim dipakai

Coaxial-line feed, dengan terhubungnya ground plane dan


konduktor luar koaksial, menembus substrat, dan terhubungnya
patch dan konduktor dalam koaksial, juga umum digunakan.
Metode probe koaksial ini mudah difabrikasi dan match dalam
penyesuaian impedansi, serta radiasi samping rendah, namun
memiliki pita frekuensi yang sempit dan sulit untuk dimodelkan.
Kedua mode tersebut masih menimbulkan radiasi polarisasisilang karena struktur yang asimetris. Untuk menangani masalah
tersebut, kopling apertur nirkontak digunakan. Dua metode
berikut ini mudah dimodelkan dan menghasilkan radiasi samping
yang moderat, namun dengan kelemahan berupa sulitnya
10

fabrikasi. Proximity coupling terdiri atas microstrip line yang


dihimpit oleh dua jenis substrat, patch di atas substrat-atas
dengan konstanta dielektrik yang lebih rendah, dan ground plane
di bawah substrat-bawah dengan konstanta dielektrik yang lebih
tinggi. Aperture coupling terdiri atas ground plane yang dihimpit
oleh dua jenis substrat, mikrostrip line di bawah substrat-bawah,
dan patch di atas substrat-atas.
6. Miniaturisasi Patch
Miniaturisasi patch adalah suatu cara yang dilakukan untuk
memperkecil ukuran patch yang dibutuhkan untuk menghasilkan
frekuensi resonan tertentu. Efektivitas teknik miniaturisasi patch
dapat dinyatakan dalam rasio miniaturisasi patch dan rasio
penurunan

frekuensi.

Rasio

miniaturisasi

patch

adalah

perbandingan selisih ukuran patch hasil miniaturisasi terhadap


ukuran patch konvensional. Rasio penurunan frekuensi adalah
perbandingan

antara

pengurangan

frekuensi

antena

hasil

miniaturisasi dan frekuensi antena konvensional.


Salah

satu

cara

miniaturisasi

patch

adalah

dengan

menggunakan material berkonstanta dielektrik ( r ) tinggi


sebagai substrat. Dengan begitu, panjang gelombang terbimbing
(guided wavelength) di bawah patch berkurang, sehingga ukuran
patch

juga

dapat

konvensional dengan
. Jika

diperkecil.
r

Antena

mikrostrip

senilai 23 berukuran sekitar

patch
0,35 0

dinaikkan menjadi 10, ukuran patch mengecil menjadi

hanya sekitar

0,2 0 .

Cara lain memperkecil dimensi patch adalah pembuatan slot


pada patch. Arus pada patch dan medan di bawah patch secara
implikatif akan merambat dari ujung satu ke ujung lain dengan
lintasan yang lebih panjang. Perubahan lintasan semacam ini
menurunkan frekuensi resonan patch.

11

7. AMC
Selain itu, miniaturisasi antena pun lazim dilakukan agar
dapat

diintegrasikan

dengan

komponen

lain

dalam

sirkuit

gelombang mikro. Salah satunya, penggunaan AMC (artificial


magnetic conductor). AMC, yang juga dikenal sebagai HIS
(permukaan

perimpedansi

tinggi,

high

impedance

surface)

adalah struktur yang memiliki sifat khas terkait fasa gelombang


pantul relatif terhadap fasa gelombang datang. Secara umum,
PEC (perfect electric conductor) adalah materi yang dapat
menghasilkan fasa refleksi 180. Lawan dari PEC secara teoretis
adalah PMC (perfect magnetic conductor), didefinisikan sebagai
materi yang dapat menghasilkan fasa relatif nol, tidak tersedia
secara alami. AMC berupa materi yang dapat menghasilkan fasa
relatif nol pada pita-sempit frekuensi tertentu adalah pendekatan
fisik dari PMC.
Implementasi

struktur

AMC

dapat

direalisasikan

dengan

menggunakan struktur berulang atau periodik. Lebih jauh lagi,


AMC dapat diimplementasikan dengan pencetakan susunan
periodik ganda dari elemen patch logam di atas struktur ground.
Pada tugas ini, struktur AMC yang digunakan adalah patch
periodik ganda yang disisipkan di tengah substrat secara
simetris. Patch-patch AMC dipisahkan satu sama lain dengan
menentukan gap luar dan dipisahkan dengan ujung substrat
dengan menentukan gap dalam. Stuktur AMC kapasitif diperoleh
dengan menghubungkan sisi patch-patch AMC yang berhadapan,
dengan kapasitor ukuran mikro.

12

BAB 3 PERANCANGAN ANTENA


Tujuan akhir dari tugas ini adalah implementasi antena
dengan struktur AMC kapasitif dan antena referensi tanpa AMC,
bekerja pada rentang frekuensi 2,4 GHz hingga 2,5 GHz. Sebagai
acuan dasar, sebelum mendesain antena dengan AMC kapasitif,
perancangan antena tanpa AMC dilakukan terlebih dahulu.
Seluruh

perancangan

dan

penghitungan

parameter

antena

dilakukan dengan bantuan perangkat lunak simulasi. Antena


dicatu daya dengan SMA connector dengan metode pencatuan
microstrip line.
Rancangan antena secara umum menggunakan parameter
geometris, sebagaimana yang tercantum dalam gambar di
bawah ini. Seluruh besaran ditentukan dalam satuan milimeter
[3].

38
W
38

L
w
l
(a)

13

t
h
t
(b)
Gambar 6 Dimensi umum antena tanpa AMC (a) Tampa katas (b) Tampak samping

Dimensi rancangan awal antena didapat dari persamaan pada


bab Dasar Teori di atas, menggunakan model saluran transmisi,
seperti berikut
r =4.4
h=3.2mm
9

f r=2.4 10 Hz
Perhitungan lebar patch W

W=

1
2

2 f r 0 0 r +1

W=

1
2
=38 mm
9
2(2.4 10 ) 0 0 4.4+1

Perhitungan konstanta dielektrik efektif


3 1
2

4.4 +1 4.41
3.2 10
r , eff =
+
1+12
2
2
0.038
Perhitungan panjang
L
=0.412
h

=3.89893

W
( r ,eff +0.3 ) h + 0.264

( r ,eff

)
W
0.258 ) ( +0.8 )
h

0.038
+ 0.264
3.2 103
3
L=0.412 ( 3.2 10 )
=1.45617 mm
0.038
( 3.898930.258 )
+0.8
3.2 103

( 3.89893+0.3 )

14

)
)

Perhitungan panjang fisik patch

1
L= 2 L=
2 L=28.7182 mm
2
2 f r 0 0 r ,eff
Karena nilai W yang didapat berhimpit dengan substrat, nilainilai W dan L di atas tidak digunakan pada desain awal. Sebagai
gantinya, desain awal pada Gambar 6 ditentukan dengan nilainilai sebagai berikut. Semua besaran dinyatakan dalam satuan
milimeter.
Tabel 1 Nilai-nilai besaran dimensi rancangan awal antena mikrostrip

32

28

0,5

15

t
3,
2

h
0,03
5

BAB 4 HASIL DAN EVALUASI SEMENTARA


Parameter-parameter dimensi antena disimulasikan secara
iteratif, dengan nilai-nilai yang berbeda. Pengubahan nilai-nilai
dimensi fisik pun dilakukan, dengan mempertahankan posisi titik
pusat patch yang berhimpit dengan titik pusat substrat dan
ground

plane.

Secara

teori

pengubahan

frekuensi

tengah

dilakukan dengan mengubah panjang patch. Kedalaman grafik


antara frekuensi dan koefisien-refleksi dapat ditajamkan dengan
mengubah rasio lebar microstrip line terhadap panjang patch.
Jarak antara tepi patch dan tepi substrat dijaga 3 mm, untuk
menghindari galat yang lebih serius antara simulasi dengan
implementasi. Hasil terakhir simulasi parameter koefisien refleksi
dari antena dengan dimensi tersebut cukup memuaskan, karena
frekuensi tengah atau resonan berada di dalam rentang 2,4 GHz
2,5 GHz. Hasil terbaik sejauh ini dihasilkan dari antena dengan
dimensi fisik seperti yang tertera di Tabel 1. Parameter koefisien
refleksi pada rentang tersebut berada pada level di bawah -10
dB.

0
-2
-4
-6

Return Loss (dB)

-8
-10
-12
-14
-16

Frequency (GHz)

Gambar 7 Koefisien refleksi dari desain awal antena

Antena ideal memiliki nisbah gelombang-berdiri tegangan


(VSWR)

bernilai

pada

frekuensi
16

resonan.

Hasil

terakhir

menunjukkan, nilai VSWR terendah yang dicapai adalah sekitar


1,45 pada frekuensi sekitar 2,44 GHz
40
35
30
25
20
15
10

VSWR

5
0

Frequency (GHz)

Gambar 8 VSWR dari desain awal antena pada berbagai nilai frekuensi

Besaran gain yang disimulasikan dari desain awal antena


diilustrasikan pada Gambar 9. Pengukuran gain difokuskan pada
frekuensi 2,4 GHz, pada Phi = 0 derajat dan pada Phi = 90
derajat. Gain maksimum diperoleh pada Theta = 0 derajat, yaitu
sebesar 2,2339.
4
2
0
-2
-4

Gain (dB)

-6
-8
-10
-12
-14

Theta (degree)
dB(GainTotal) - Freq='2.4GHz' Phi='0deg'
dB(GainTotal) - Freq='2.4GHz' Phi='90deg'

Gambar 9 Gain dari desain awal antena, pada frekuensi 2,4 GHz

17

Berikut ini pola radiasi dari antena yang didesain, hasil


simulasi. Pola radiasi diukur pada frekuensi 2,4 GHz. Hasil
pengukuran pola radiasi, pada Phi = 0 derajat (bidang XZ) dan
pada Phi = 90 derajat (bidang YZ) terlihat pada Gambar 10. Hasil
menunjukkan bahwa pola radiasi tak berbeda jauh pada Theta
yang tetap. Hasil tersebut juga menunjukkan bahwa masih ada
backlobe, meski tidak memiliki besar yang signifikan.

2D Radiation Pattern
dB(GainTotal) - Freq='2.4GHz' Phi='0deg'
dB(GainTotal) - Freq='2.4GHz' Phi='90deg'

-30

-20

-10

10

20

7.67

-40

30
40

-50

50

-60

60
-2.33

-70

70

-80

80

-90

-12.33

90

-100

100

-110

110

-120

120

-130

130

-140
-150

140
-160

-170 -180 170

160

150

Gambar 10 Pola radiasi 2-dimensi dari desain awal antena, pada frekuensi 2,4 GHz

18

BAB 5 KESIMPULAN
Dari

penjelasan

mengenai

Tugas

Akhir

ini,

penulis

menyimpulkan, bahwa
1. Antena tanpa AMC yang akan digunakan sebagai acuan untuk
Tugas Akhir 2 berdimensi dalam satuan milimeter sebagai
berikut:
W
L
w
l
t
h
32
28
0,5
5
3,2
0,035
2. Frekuensi kerja yang diperoleh sesuai dengan kriteria, yaitu
antara 2,42,5 GHz, dengan besar koefisien refleksi pada
rentang tersebut kurang dari -10 dB.
3. Dengan mengacu pada karakteristik umum AMC, diharapkan
koefisien refleksi minimum yang dapat dicapai dapat lebih
rendah dari desain antena tanpa AMC, serta radiasi backlobe
yang dihasilkan lebih sedikit.

19

2
[1

D. M. Pozar, Microwave Engineering, 3rd ed., New York:

[2

John Wiley & Sons Inc., 2003.


C. A. Balanis, Antenna Theory, 2nd ed., New York: John

[3

Wiley & Sons Inc., 1997, pp. 722-723.


F. Rahmadani and A. Munir, "Microstrip Patch Antenna

]
]
]

DAFTAR PUSTAKA

Miniaturization Using Artificial Magnetic Conductor," in The


6th International Conference on Telecommunication Systems,
Services, and Applications, Denpasar, 2011.

20