Anda di halaman 1dari 146

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Energi merupakan hal yang sangat penting dalam sendi kehidupan
manusia modern saat ini. Energi dapat menggerakkan mesin-mesin produksi
barang dan jasa, distribusi dan konsumsi akan kebutuhan manusia yang begitu
kompleks. Sumber dari energi yang selama ini sering dipakai dalam produksi,
distribusi dan konsumsi manusia adalah bahan bakar minyak dan gas serta batu
bara. Bahan bakar minyak, gas dan batu bara merupakan bahan bakar yang berasal
dari fosil makhluk hidup yang terpendam selama ribuan tahun baik itu hewan
maupun tumbuhan. Bahan bakar fosil ini kemudian menjadi komoditi yang sangat
berharga dan sangat menentukan sendi-sendi kehidupan manusia terutama
komoditi minyak dan gas.
Masalah energi bahan bakar fosil berkaitan dengan sumber daya alam
yang tidak dapat terbarukan. Perkiraan yang secara pasti bahwa akan datang masa
dimana sumber daya alam tersebut dapat habis tidak dapat ditebak. Pemimpin
dunia kadang hanya berpikir bagaimana melanggengkan kekuasaan dan
menganalisa lokasi sumber daya alam dibandingkan bersiap sedia ketika sumber
daya alam yang tak terbarukan itu habis. Untuk menggantikan sumber daya alam
terutama bahan bakar fosil dalam proses produksi dan konsumsi tentu akan sulit
karena banyak elemen dasar dalam proses manufaktur dan proses lainnya yang
secara sosial penting tak dapat digantikan antara struktur dan fungsi dari bahan
bakar fosil tersebut.1
1Walter S. Jones, 1993, Logika Hubungan Internasional : Kekuasaan, Ekonomi-Politik
Internasional, dan Tatanan Dunia 2, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, hal 484.

Bahan bakar fosil rentan terhadap kelangkaan karena sumber energi


ini terbatas dan tak dapat terbarukan. Ketika energi minyak, gas alam dan batu
bara habis maka perlu adanya inovasi dari manusia untuk mencari energi
alternatif. Ketika penyusutan sumber-sumber daya alam tersebut dalam keadaan
kritis, penggantian penggunaan sumber energi dari bahan bakar fosil tersebut
dapat digantikan dengan kombinasi energi nuklir, tenaga surya, bahan bakar
sintetis dan energi thermal laut. Sebagai antisipasi terhadap kelangkaan terhadap
bahan bakar fosil, maka dikembangkanlah energi yang dapat terbarukan yang
salah satunya biofuel.
Biofuel ini merupakan energi alternatif yang berasal dari tanaman
melalui proses kimiawi. Biofuel ini dapat berupa etanol dan biodiesel. Etanol
berasal dari alkohol hasil fermentasi bahan baku tumbuhan yang mengandung
karbohidrat seperti ketela pohon, jagung, dan tebu. Ethanol sering dipakai untuk
mesin berbahan bakar bensin. Sedangkan biodiesel merupakan bahan bakar
alternatif untuk mesin diesel yang berasal dari senyawa kimia bernama alkyl ester
dari lemak nabati. Biofuel selain dikenal sebagai sumber energi hijau juga
sebagai bahan bakar yang demokratis. Hal ini disebabkan karena sebagian besar
negara di dunia yang bergerak di bidang agraris berkesempatan untuk
mengembangkan biofuel ini. Tidak seperti bahan bakar fosil yang dikuasai hanya
beberapa negara tertentu yang memiliki sumber daya tersebut.
Biofuel memiliki kelebihan yakni ramah lingkungan. 2 Karena industri
biofuel merupakan industri yang minim akan polusi, malah dapat mengurangi
2 Untung Murdiyatmo, 2006, Pengembangan Industri Ethanol: Prospek, Kendala, dan
Tantangan. Paper Workshop Nasional Bisnis Biodiesel dan Bioethanol di Indonesia, hal
80.

limbah pada industri yang terpadu misalnya industri gula tebu yang limbah tebu
tersebut dapat dijadikan bahan baku ethanol. Ethanol sangat bagus sebagai
campuran BBM untuk sektor transportasi karena kandungan oksigennya tinggi
(35%) sehingga pembakaran lebih sempurna, memunyai nilai oktan yang lebih
tinggi serta ethanol bersifat terbarukan (renewable).3 Penggunaan biofuel ini juga
akan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak dan gas bagi negara
agraris. Negara agraris yang mengembangkan biofuel ini salah satunya yakni
Brazil.
Brazil merupakan salah satu negara di kawasan Amerika Latin yang
berhasil mengembangkan biofuel sebagai komoditi energi yang dapat terbarukan.
Ide biofuel dengan bahan baku gula telah mulai ketika tahun 1905 sampai 1920
ketika terjadi krisis stok minyak, sehingga menstimulasi penelitian mengenai
bahan bakar dari alkohol alias biofuel. Biofuel kemudian dicampur dengan bahan
bakar minyak untuk mengefisienkan stok minyak dalam negeri yang terbatas.
Berakhirnya Perang Dunia II membuat stok minyak kembali normal sehingga
biofuel menjadi tidak dilirik lagi. Namun, ketika terjadi kenaikan tajam harga
minyak dunia pada tahun 1973-1974 akibat embargo minyak yang diikuti politik
minyak dunia, perhatian pemerintah Brazil terhadap biofuel tumbuh kembali. 4
Embargo minyak yang dilakukan negara-negara OPEC untuk menghentikan
pengiriman minyak ke Eropa barat, Jepang, dan AS pada Oktober 1973 samapai
Maret 1974 merupakan hukuman atas dukungan terhadap Israel dalam Perang
3 Ibid, hal 81.
4 Marcelo de Almeida Medeiros dan Liliana Froio, 2012, Actors Interest and Strategies
of Brazilian Foreign Policy on Biofuels, hal 39.

Yom Kippur.5 Embargo minyak tersebut sangat berdampak pada energy security di
Brazil karena Brazil mengimpor 85% dari kebutuhan minyak di dalam negerinya.
Pada tahun 1975 Brazil memulai program nasional untuk mempromosikan
produksi dan konsumsi ethanol yang terbuat dari tebu sebagai tanggapan atas
meningkatnya harga minyak dunia pada saat itu.6
Di Brazil itu sendiri, industri tebu merupakan sumber kesejahteraan
karena membuka lapangan pekerjaan meskipun pendidikan pekerja sangat minim.
Dan agrobisnis tebu tersebut sangat murah untuk mempekerjakan pekerja yang
hanya membutuhkan biaya US$ 10 untuk menciptakan satu kesempatan kerja.
Dan biaya tersebut sangat murah bila dibandingkan industri lain seperti industri
produk konsumsi (US$ 44), industri otomotif (US$ 91), industri baja (US$ 145)
dan industri petrokimia (US$ 200). Hal ini menyebabkan biaya produksi ethanol
di Brazil sangat efisien dan murah yakni hanya US$ 17,5 per barel (sebelum
pajak). Sedangkan produsen ethanol dari bahan baku jagung di Amerika Utara
menghabiskan biaya produksi US$ 44,1 per barel.7
Pada tahun 2012, lebih dari setengah kendaraan di Brazil telah
menggunakan biofuel. Sebagai negara yang berhasil mengembangkan biofuel,
Brazil bekerja sama dengan negara lain dalam pengembangan biofuel ini. Salah
satunya yakni Amerika Serikat yang juga merupakan produsen dan konsumen
5 Paul Finkelman dan Peter Wallenstein, 2001, The Encyclopedia of American Political
History, Washington DC: CQ Press, hal 136.
6Peter J Meyer, 2012, Brazil-US Relations, Congressional Research Service,
http://www.fas.org/sgp/crs/row/RL33456.pdf diakses 5 Desember 2012.
7Khudori, Belajar Pengembangan Biofuel dari Brazil,
http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=5665&coid=1&caid=58 diakses 5
Desember 2012.

biofuel. Amerika Serikat tergolong ke dalam negara yang sangat haus akan
pasokan energi sehingga energi yang terbarukan merupakan peluang yang penting
untuk mengantisipasi bahan bakar fosil yang dapat habis. Brazil dan Amerika
Serikat telah menjadi produsen bioethanol yang menguasai 89% kebutuhan
bioethanol dunia pada tahun 2008.8
Amerika Serikat sangat bergantung kepada persediaan bahan bakar
fosil dalam negeri untuk menggerakkan industri manufakturnya. Untuk memenuhi
persediaan bahan bakar fosil tersebut, Amerika Serikat bergantung pada impor
dari negara lain terutama dari Timur Tengah. Hal ini menyebabkan kemandirian
energi Amerika Serikat sangat rentan.9 Tantangan dan peluang terhadap energi
terbarukan seperti biofuel telah dikembangkan Amerika Serikat sejak tahun 1970an ketika terjadi embargo minyak. Inovasi terhadap energi terbarukan tersebut
penting dalam menghadapi masa depan tak terduga dari persediaan bahan bakar
fosil yang tak menentu.
Pada tanggal 9 Maret 2007, Amerika Serikat dan Brazil, dua produsen
ethanol terbesar di dunia, menandatangani nota kesepahaman untuk meningkatkan
kerjasama yang lebih besar pada etanol dan biofuel yakni Memorandun of

8 Stephen Devadoss dan Martin Kuffel, 2010,Ethanol Trade Between Brazil and The
United States, presentasi paper pada Agricultural& Applied Economics Association 2010
AAEA, CAES, & WAEA Joint Annual Meeting, Denver, Colorado, 25-27 Juli 2010, hal
1, dalam http://ageconsearch.umn.edu/bitstream/60889/2/Submission%20for%20Ag
%20Econ%20Search%20of%20the%20Paper%20Ethanol%20Trade%20between
%20Brazil%20and%20the%20United%20States.pdf diakses pada 11 Mei 2013.
9Daniel Yergin, 2012, Americas New Energy Reality, dalam
http://www.nytimes.com/2012/06/10/opinion/sunday/the-new-politics-ofenergy.html?pagewanted=all, diakses 5 Desember 2012.

Understanding to Advance Cooperation on Biofuels10. Perjanjian tersebut


melibatkan tiga pendekatan11:
1) Bilateral: berbagi teknologi antara Amerika Serikat dan Brazil, yakni
seperti kerangka kerja sebelumnya yakni Brazil-U.S. Commercial
Dialogue (2006), the Consultative Committee on Agriculture (2003), the
Consultative Group on Energy (2003), the U.S./Brazil Common Agenda
for the Environment (1995), dan the Joint Commission on Cooperation in
Science and Technology (1984, diubah dan diperpanjang oleh Protokol
yang ditandatangani pada 21 Maret 1994)
2) Negara-negara ketiga: studi kelayakan dan bantuan teknis untuk
membangun industri biofuel dalam negeri di negara-negara ketiga
ditujukan untuk mendorong investasi sektor swasta di biofuel.
3) Global: upaya multilateral untuk memajukan perkembangan global
biofuel.
Pada perkembangan upaya multilateral dalam mengembangkan
biofuel, Amerika Serikat bersama-sama Brazil, Uni Eropa, Cina, India dan Afrika
Selatan bergabung dalam International Biofuel Forum (IBF). IBF merupakan
sebuah forum internasional yang mengupayakan standarisasi internasional
mengenai biofuel dan mempromosikan biofuel itu sendiri.

10 USA Government, Fact Sheet: The U.S.-Brazil Strategic Energy Dialogue, dalam
http://www.whitehouse.gov/the-press-office/2012/04/09/fact-sheet-us-brazil-strategicenergy-dialogue, diakses 5 Desember 2012.
11 USA. State Department, Memorandum of Understanding Between the U.S. and
Brazil to Advance Cooperation on Biofuel, dalam
http://www.state.gov/p/wha/rls/158654.htm, diakses 5 Desember 2012

Setelah pemerintahan George W. Bush, Presiden AS Barrack Obama


kemudian berupaya untuk memperluas MoU pada tahun 2007 tersebut.
Pengembangan yang diharapkan yakni dapat memperluas kerjasama dalam
pengembangan biofuel untuk penerbangan. Presiden AS, Barrack Obama
menyambut kerjasama ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan
bakar fosil.
Now, even as we focus on oil in the near term, we shouldnt lose sight
of the fact that the only long-term solution to the worlds dependence
on fossil fuels in clean energy technology. And thats why the united
states and brazil are deepening our cooperation on biofuels and why
were launching a US-Brazil Green Economy Partnership, because
we know that the development of clean energy is one of the best ways
to create new jobs and industries in both our nations.12
Untuk menyukseskan program jangka panjang pemakaian biofuel,
pemerintah AS berjanji untuk mengurangi konsumsi bensin AS sebesar 20 persen
pada 2017 melalui bahan bakar alternatif dan efisiensi energi, yang diikuti dua gol
sebelumnya pembuatan bahan bakar selulosa yang kompetitif pada tahun 2012
dan mengurangi impor minyak sebesar 30 persen pada tahun 2030. Tidak hanya
akan mencapai target-target mengurangi ketergantungan negara pada minyak
impor yang mahal dan mengurangi ketergantungan terhadap pengambilan
keputusan yang dibuat dari bagian dunia lain, dan juga sebagai langkah positif
dalam menangani tujuan lingkungan bersama.13
12 Joanne, Brazil and US to Deepen Cooperation on Energy; Aviation Biofuels, on-line posting
tanggal 22 Maret 2011 http://advancedbiofuelsusa.info/brazil-and-us-to-deepen-cooperation-onenergy-aviation-biofuels, diakses 5 Desember 2012.

13Council of American Ambassador, US-Brazil Cooperation in the Development of


Biofuels,dalam http://www.americanambassadors.org/index.cfm?
fuseaction=publications.article&articleid=122, diakses 5 Desember 2012.

Amerika Serikat sendiri telah mengembangkan produksi biofuel ini


selama tiga dekade terakhir. Produksi ethanol AS telah mencapai 9 milyar galon
pada tahun 2008 dengan akumulasi penambahan tiap tahun sebesar 1 milyar
galon.14 Setidaknya dengan pengembangan biofuel ini diharapkan dapat
menstabilkan defisit perdagangan energi Amerika Serikat.
Walaupun penelitian selama puluhan tahun, penerimaan konsumen
dan pengembangan sistem pemasaran, ethanol dari jagung di Amerika Serikat bisa
bertahan berkat usaha dari pemerintah Federal, negara bagian, dan mandat lokal
serta subsidi produksi. Tanpa subsidi dan mandat untuk industri ethanol maka
industri tersebut sulit untuk bertahan.15 Jika tidak ada dukungan pemerintah maka
produksi biofuel tersebut tidak dapat bersaing dan eksis sampai saat ini. Demikian
pula dengan pemerintah Brazil yang turut memberikan subsidi terhadap produksi
biofuel di dalam negaranya.
Pada September 2007, sebagai bentuk nyata pelaksanaan MoU
Biofuel, Brazil mengirimkan delegasi peneliti untuk berkunjung ke laboratoriumlaboratorium besar Amerika Serikat. Dan juga pemerintah kedua negara secara
aktif melakukan perdagangan biofuel. Akan tetapi, perjanjian tersebut tidak
melingkupi tentang tarif mengenai komoditi biofuel tersebut sehingga sempat

14Pedro Alvarez, et.al, 2010, Fundamentals Of Sustainable US Biofuel Policy,


http://www.bakerinstitute.org/publications/EF-pub-BioFuelsWhitePaper-010510.pdf,
diakses 7 Desember 2012, hal 19.
15 Gregory M. Perry, et.al. Biofuel Production and Consumption in the United States:Some
Facts and Answers to Common Questions, hal 2,
http://arec.oregonstate.edu/sites/default/files/faculty/perry/qadocument5.pdf, diakses 7 Desember
2012

terjadi ketegangan antara pemerintah Amerika Serikat dan Brazil. Pemerintah AS


menerapkan tarif impor terhadap etanol dari Brazil sebesa 54 sen/galon.
Untuk meneliti lebih lanjut mengenai efektivitas dari kerjasama
Amerika Serikat dan Brazil mengenai biofuel sebagai bahan bakar energi
alternatif dan mengeksplor lebih jauh mengenai MoU tersebut maka penulis
mengajukan judul skripsi yakni: Prospek Kerjasama Biofuel Antara Amerika
Serikat Dan Brazil.

B. Batasan dan Rumusan Masalah


MoU mengenai biofuel antara Amerika Serikat dan Brazil merupakan
rencana jangka panjang kedua negara dalam mengurangi ketergantungan akan
bahan bakar fosil yang tak terbarukan. Untuk itu perlu penelitian lebih lanjut
mengenai kerja sama yang dilakukan Amerika Serikat dan Brazil apakah telah
mencapai indikator yang diharapkan. Maka, penulis akan membatasi masalah
yang akan diteliti semenjak dimulainya perjanjian kerja sama antara Amerika
Serikat dengan Brazil dengan fokus biofuel jenis etanol, yakni bahan bakar
alternatif yang digunakan untuk menggantikan atau menambahkan bahan bakar
bensin pada kendaraan.
Dan berikut rumusan masalah yang membatasi penelitian penulis.
1. Bagaimanakah kepentingan nasional Amerika Serikat dan Brazil dalam
kerjasama biofuel AS-Brazil?
2. Bagaimanakah prospek dari adanya kerjasama biofuel antara Amerika
Serikat dan Brazil terhadap energy security kedua negara?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian


a. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini sesuai dengan batasan pada perumusan masalah, yaitu:
1.

Untuk menjelaskan kepentingan nasional Amerika Serikat dan Brazil dalam


kerjasama biofuel AS-Brazil.

2. Untuk menjelaskan prospek dari kerjasama biofuel antara Amerika Serikat


dan Brazil terhadap energy security kedua negara.

b. Kegunaan Penelitian
Dengan adanya hasil penelitian di lapangan, maka penelitian ini diharapkan:
1. Memberi sumbangan pemikiran dan informasi bagi Akademisi Ilmu
Hubungan Internasional, yaitu Dosen dan Mahasiswa dalam mengkaji dan
memahami kepentingan nasional yang ada dalam kerjasama antara Amerika
Serikat dan Brazil mengenai biofuel sebagai energi alternatif.
2. Sebagai bahan pertimbangan bagi setiap aktor Hubungan Internasional, baik
itu individu, organisasi, pemerintah, maupun organisasi non-pemerintah
baik dalam level nasional, regional, maupun internasional tentang prospek
dari kerjasama energi alternatif biofuel antara Amerika Serikat dan Brazil
dan dimungkinkan sebagai pertimbangan untuk pemerintah nasional dalam
pengembangan industri energi alternatif biofuel.

10

D. Kerangka Konseptual
Konsep

kepentingan

nasional

merupakan

konsep

yang

mendeskripsikan prinsip dan tujuan negara untuk melakukan hubungan


internasional. Lebih lanjut Yusuf menjelaskannya sebagai berikut:
Kepentingan nasional termasuk dalam visium yang diperjuangkan
oleh suatu bangsa atau negara untuk dipergunakan dalam rangka
ketertiban internasional. Konsep ini adalah buatan manusia yang
dirumuskan oleh para ahli teori politik dan dipatuhi oleh setiap
kepentingan golongan dan juga kepentingan para perumusnya.16
Untuk mencapai kepentingan nasional, suatu negara harus melakukan
interaksi dengan negara lain. Oleh karena itu, setiap negara membutuhkan
serangkaian kebijakan politik luar negeri. Setiap negara dalam interaksinya
dengan negara lain ialah untuk memenuhi kepentingan nasionalnya. Kepentingan
nasional menjadi alasan utama bagi tindakan dilakukan oleh setiap negara. Usahausaha interaksi yang dilakukan dapat melalui kerjasama, persaingan, ataupun
konflik.
Menurut Morgenthau, kepentingan nasional dari setiap negara adalah
mengejar kekuasaan.17 Kekuasaan dalam hubungan internasional dapat diartikan
sebagai

kemampuan

suatu

aktor

dalam

panggung

internasional

untuk

menggunakan segenap sumber daya yang terwujud maupun tidak berwujud serta
seluruh asetnya, sedemikian rupa, untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa

16Sufri Yusuf, 1989, Hubungan Internasional & Politik Luar Negeri, Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, hal. 10.

17Morgenthau, dalam Mohtar Masoed, 1990, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin


dan Metodologi, Jakarta: PT. Pustaka LP3ES, hal. 140.

11

internasional agar membawa hasil yang memuaskan. 18 Kekuasaan yang dimaksud


adalah apa saja yang dapat membentuk dan mempertahankan pengendalian suatu
negara atas negara lain.
Hubungan kekuasaan atau pengendalian ini dapat diciptakan melalui
teknik-teknik paksaan ataupun kerjasama. Morgenthau menekankan konsep
kepentingan nasional pada kelangsungan hidup (survival) dari suatu negara.
Setiap negara harus mampu mempertahankan integritas teritorialnya (identitas
fisik), rezim ekonomi-politiknya (identitas politik) yang bisa saja demokratis,
otoriter, sosialis, atau komunis, dan memelihara norma-norma etnis, religius,
linguistik, dan sejarahnya (identitas kultural). Berdasarkan tujuan-tujuan umum
ini, para pemimpin negara dapat menurunkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang
sifatnya spesifik terhadap negara lain, baik dalam bentuk kerjasama maupun
konflik. Misalnya, perimbangan kekuatan, perlombaan senjata, pemberian bantuan
asing, pembentukan aliansi kekuatan, dan atau perang ekonomi dan propaganda.
Sedangkan, menurut Wolfers, kepentingan nasional dijelaskan sebagai
berikut:
Secara minimum, kepentingan nasional mencakup keutuhan wilayah
suatu bangsa, kemerdekaan, dan kelangsungan hidup nasional.
Namun, kelangsungan hidup nasional itu sendiri diberi bermacammacam interpretasi oleh bermacam-macam negara yang menghadapi
kondisi yang berlain-lainan.19
Menurut Holsti, kepentingan nasional dapat diklasifikasi ke dalam tiga
hal. Pertama, core values, sesuatu yang dianggap paling vital bagi negara
menyangkut eksistensi suatu negara. Kedua, middle range objectives, tentang
18 Walter S. Jones, op.cit, hal 3.
19 Arnold Wolfers, dalam James E. Dougherty dan Robert L. Pfatzgraff, Jr, 1971, Contending
Theories in International Relations, New York: JB.Lippncot CO, hal. 62.

12

peningkatan derajat perekonomian suatu negara. Dan ketiga, long range goals
yaitu sesuatu yang bersifat ideal misalnya, keinginan untuk mewujudkan
perdamaian dan ketertiban dunia.20 Berbagai ahli memberikan beragam
identifikasi terkait jenis-jenis kepentingan nasional. Neuchterin, membagi jenis
kepentingan nasional menjadi kepentingan pertahanan, ekonomi, tata internasional
dan kepentingan ideologi.21 Padelfort dan Lincoln membaginya menjadi
kepentingan: kemanan nasional, peningkatan ekonomi, peningkatan kekuatan
nasional, dan prestise nasional.22
Konsep hubungan bilateral merupakan konsep dasar dalam hubungan
internasional yang mengutamakan sikap saling membutuhkan antara negara satu
dengan negara lainnya. Sikap saling membutuhkan ini tidak lepas dari konsep
bahwa negara tidak dapat mempertahankan eksistensinya tanpa hubungan dengan
negara-negara lain di dunia ini. Sikap saling membutuhkan ini terwujud dalam
hubungan antarnegara baik dalam pengembangan, peningkatan, kerja sama dan
berbagai keuntungan simbiosi mutualisme antara dua negara atau lebih dalam
aspek bernegara dan berbangsa serta dalam pengaktualisasian dan pembuktian
negara sebagai salah satu aktor dalam hubungan internasional yang peranannya
sangat penting. Dalam menjalin kerangka hubungan kerjasama untuk saling

20 Holsti, KJ. dalam Umar Suryadi Bakry, 1999, Pengantar Hubungan Internasional, Jakarta:
Jayabaya University Press, hal. 63.

21 Donald E. Neuchterin, dalam Ibid, hal. 62.


22 Padelfort dan Lincoln, dalam Ibid.

13

mengisi antara negara satu dengan yang lainnya, maka sebuah negara tidak pantas
untuk bersikap arogan terhadap negara lain.23
Pentingnya hubungan bilateral yang dikembangkan oleh negara
bangsa di dunia internasional juga diuraikan oleh Jowondono sebagaimana yang
dikemukakan sebagai berikut:
Bahwasanya hubungan bilateral merupakan hubungan interaksi antara
dua negara yang dikembangkan dan dimajukan dengan menghormati
hak-hak kedua negara untuk melakukan berbagai kerjasama pada
aspek-aspek kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa mengabaikan
dan mengucilkan keberadaan negara tersebut serta mewujudkan
perdamaian dan memberikan nilai tambah yang menguntungkan dari
hubungan bilateral ini.24
Hubunngan bilateral tersebut dapat dilakukan karena adanya motivasi
negara-negara dalam hal kepentingan nasionalnya sehingga diharapkan ketika
hubungan bilateral tersebut tercapai maka akan berdampak pada pencapaian
kepentingan nasional. Hubungan bilateral mengandung faktor-faktor yang
merupakan pendorong terciptanya hubungan yang harmonis antar-negara yang
melakukannya. Upaya suatu negara yang mengadakan hubungan bilateral dengan
negara lain didasarkan pada pertimbangan bahwa hubungan tersebut mendapatkan
keuntungan yang lebih utama dalam mewujudkan pencapaian kepentingan
nasional dan tujuan negara.
Interaksi internasional sebagai bentuk hubungan antar bangsa yang
berlangsung dalam masyarakat yang heterogen, dimana hubungan tersebut dari
23 Romi Librayanto, Ilmu Negara (Suatu Pengantar), Makassar: Pustaka Refleksi, hal
240.
24 Juwondono, 1991, Hubungan Bilateral: Defenisi dan Teori, Jakarta, Rajawali Press,
hal. 21.

14

waktu ke waktu selalu mengalami perubahan. Hubungan yang terjadi pada


dasarnya dilatar belakangi oleh kebutuhan tiap-tiap negara berbeda, sehingga
kebutuhannya tidak dapat dipenuhi sendiri. Maka pemecahan permasalahan
tersebut adalah dengan cara bekerjasama dengan negara lain, tentunya yang
diharapkan adalah berlangsungnya pola-pola kerjasama yang berlangsung secara
adil dan saling menguntungkan.
Dalam hubungan internasional dikenal 2 (dua) istilah yang popular,
yakni hard power dan soft power. Perbedaan antara keduanya cukup mencolok
ketika dilihat dari tiga hal: ciri, instrumen, dan implikasinya. Soft power berciri
mengkooptasi atau mempengaruhi dan dilakukan secara tidak langsung.
Sedangkan hard power bersifat memaksa atau memerintah dan dilakukan secara
langsung. Instrumen yang digunakan oleh hard power antara lain kekuatan militer
(military forces), sanksi, uang, suap, ataupun bayaran. Adapun instrumen soft
power yaitu berupa nilai, institusi, kebudayaan, dan kebijakan. Hubungan bilateral
AS dan Brazil mencakup berbagai bidang kerjasama. Salah satunya yakni
mengenai energi.
Energi dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan
kerja, kapasitas yang menyebabkan suatu materi bergerak atau berpindah. 25 Hal ini
membuat energi sebagai sebuah aset yang harus tercukupi dalam negeri baik
melalui distribusi dalam negeri ataupun suplai energi global. Namun, energi yang
banyak dipakai sebagai penggerak kegiatan produksi, distribusi dan konsumsi
25 Regina Anne Kelly dalam Budi Winarno, 2011, Isu-Isu Global Kontemporer,
Yogyakarta: CAPS, hal 152.

15

yakni bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil dapat berupa minyak bumi, gas alam
dan batu bara. Minyak bumi sebagai bahan penggerak mesin merupakan komoditi
yang berharga. Namun, ketersediaan bahan bakar fosil tersebut dapat habis dan
tak dapat terbarukan. Keterbatasan ketersediaanya di bumi membuat manusia
harus berpikir dan mencari alternatif lain ketika bahan bakar fosil ini habis.
Inovasi terhadap energi alternatif pun muncul seperti nuklir, tenaga
surya, geothermal, angin, gelombang laut, hydropower dan biofuel. Energi
alternatif tersebut hanya sebagian kecil yang mampu digunakan untuk
menggerakkan mesin-mesin produk terutama yang dijadikan sebagai bahan bakar.
Penggunaan energi alternatif tenaga surya terbatas pada adanya matahari dan
hanya dapat didapatkan dengan penggunaan panel surya. Panel surya itu sendiri
bukan benda yang murah dan mudah untuk didapatkan. Dan bahan bakar dari
energi alternatif yang ideal yakni biofuel.
Biofuel ini merupakan energi alternatif yang berasal dari tanaman
melalui proses kimiawi. Biofuel ini dapat berupa ethanol dan biodiesel. Ethanol
berasal dari alkohol hasil fermentasi bahan baku tumbuhan yang mengandung
karbohidrat seperti ketela pohon, jagung, dan tebu. Ethanol sering dipakai untuk
mesin berbahan bakar bensin. Sedangkan biodiesel merupakan bahan bakar
alternatif untuk mesin diesel yang berasal dari senyawa kimia bernama alkyl ester
dari lemak nabati. Biofuel selain dikenal sebagai sumber energi hijau juga
sebagai bahan bakar yang demokratis. Hal ini disebabkan karena sebagian besar
negara di dunia yang bergerak dibidang agraris berkesempatan untuk

16

mengembangkan biofuel ini. Tidak seperti bahan bakar fosil yang dikuasai hanya
beberapa negara tertentu yang memiliki sumber daya tersebut.
Biofuel memiliki kelebihan yakni ramah lingkungan. 26 Karena industri
biofuel merupakan industri yang minim akan polusi, malah dapat mengurangi
limbah pada industri yang terpadu misalnya industri gula tebu yang limbah tebu
tersebut dapat dijadikan bahan baku ethanol. Ethanol sangat bagus sebagai
campuran BBM untuk sektor transportasi karena kandungan oksigennya tinggi
(35%) sehingga pembakaran lebih sempurna, memunyai nilai oktan yang lebih
tinggi serta ethanol bersifat terbarukan (renewable).27 Namun, persediaan bahan
bakar biofuel ini sangat bergantung pada kondisi alam dan hasil panen. Sehingga
output dari biofuel tidak dapat terjamin kuantitasnya setiap saat.
Energy security merupakan istilah yang melekat erat pada suatu
kondisi terjaminnya pasokan kebutuhan energi minyak dan gas dalam suatu
negara demi keberlangsungan dan eksistensi negara tersebut, baik secara ekonomi
maupun pertahanan.28 Energy security secara konvensional merupakan isu yang
fokus pada menipisnya sumber daya alam terutama minyak, gas alam dan batu
bara. Energy security mulai menjadi pembicaraan setelah terjadinya embargo
minyak pada era 1970-an.29

26 Untung Murdiyatmo, Op, cit.


27 Ibid, hal 81.
28 Karen Agustiawan, 2011, Peran PT Pertamina (Persero) dalam Membangun
Ketahanan Energi , Jurnal Diplomasi: Ketahanan Pangan dan Energi, Vol.3 No.3,
Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia, hal 1.

17

Kenaikan harga minyak tak terhindarkan. Masyarakat internasional


kemudian menyadari bahwa energi yang mereka butuhkan ternyata rentan
terhadap faktor-faktor internal maupun eksternal. Faktor-faktor tersebut dapat
ancaman terorisme, ketidakstabilan di beberapa negara-negara pengekspor,
tendensi nasionalis, kekhawatiran berebut untuk persediaannya, persaingan
geopolitik, dan kebutuhan fundamental negara akan energi untuk pertumbuhan
ekonomi mereka.30
Indikator energy security suatu negara dapat dilihat dari ketersediaan
dan akses ke bahan bakar tersebut. Gangguan pasokan energi telah diidentifikasi
sebagai ancaman utama dalam energy security global. Jika pasokan energi bahan
bakar fosil terganggu maka dapat memengaruhi produksi ekonomi nasional
sebuah negara dan cenderung terjadi kenaikan harga energi dan memaksakan
peningkatan beban pada sektor bisnis dan rumah tangga. Energy security pada
akhirnya akan memengaruhi pemerintah dalam pengambilan kebijakan dalam
menjaga pasokan energi demi stabilitas negara.
Kemajuan suatu negara dalam perkembangan industri menuntut energi
yang lebih besar dalam pemenuhan produksi industri tersebut. Sehingga kemajuan
perkembangan industri yang berkelanjutan perlu didukung kebijakan energy
security yang berkelanjutan pula. Ketika minyak menjadi sumber daya energi
29 William J. Nuttal dan Devon L. Manz, A New Energy security Paradigm for the
Twenty-First Century, hal 3, dalam http://www.eprg.group.cam.ac.uk/wpcontent/uploads/2008/11/eprg0731.pdf, diakses 17 Desember 2012.
30Deniel Yergin, Ensuring Energy Security, hal 69 dalam
http://www.un.org/ga/61/second/daniel_yergin_energysecurity.pdf, diakses 17 Desember
2012.

18

yang penting dan krusial bagi suatu negara maka keberadaannya akan sangat
menentukan energy security negara yang bersangkutan. Bahkan, akan sangat
berpengaruh terhadap stabilitas dalam negeri. Diplomasi mengenai jaminan akses
dan pasokan sumber-sumber energi merupakan hal yang harus dilakukan oleh
negara untuk memenuhi kebutuhan konsumsi industri dan rumah tangga dalam
negeri.

Dan

semua

negara

memiliki

kepentingan

yang

sama

dalam

mempertahankan ketersediaan energi dalam negeri.31

E. Metode Penelitian
1. Tipe Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan oleh penulis adalah tipe deskriptifanalitik, yaitu penelitian yang menggunakan pola penggambaran keadaan fakta
empiris disertai argumen yang relevan. Kemudian, hasil uraian tersebut
dilanjutkan dengan analisis untuk menarik kesimpulan yang bersifat analitik. Tipe
penelitin deskriptif-analitik dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai
fenomena yang terjadi yang relevan dengan masalah yang diteliti. Metode
deskriptif digunakan untuk menggambarkan kerjasama antara Amerika Serikat
dan Brazil di bidang energi terbarukan yakni biofuel. Dan kemudian akan
menganalisa mengenai dampak kerjasama tersebut terhadap energy security
Brazil dan Amerika Serikat.

2. Teknik Pengumpulan Data

31 Budi Winarno, op.cit., hal 152-153.

19

Dalam teknik pengumpulan data, penulis melakukan library research.


Penulis menelaah sejumlah literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti
berupa buku, jurnal, dokumen, artikel dalam berbagai media, baik internet
maupun surat kabar harian.

3. Jenis Data
Jenis data yang penulis gunakan adalah data sekunder. Data sekunder
merupakan data yang diperoleh melalui studi literatur. Seperti buku, jurnal,
artikel, majalah, handbook, situs internet, institut dan lembaga terkait. Adapun,
data yang dibutuhkan ialah data yang berkaitan langsung dengan penelitian
penulis tentang kerjasama Amerika Serikat dengan Brazil dalam bidang energi
biofuel.
4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan oleh penulis dalam menganalisis
data hasil penelitian adalah teknik analisis kualitatif. Adapun dalam menganalisis
permasalahan digambarkan berdasarkan fakta-fakta yang ada, kemudian
menghubungkan fakta tersebut dengan fakta lainnya sehingga menghasilkan
sebuah argumen yang tepat. Sedangkan, data kuantitatif memperkuat analisis
kualitatif.
5. Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan oleh penulis ialah metode deduktif,
yaitu penulis mencoba menggambarkan secara umum masalah yang diteliti,
kemudian menarik kesimpulan secara khusus.

20

21

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kepentingan Nasional
Kepentingan

nasional

merupakan

hal

yang

penting

dalam

pembentukan kebijakan suatu negara untuk direfleksikan kepada negara lain


melalui kebijakan luar negeri dan prilaku-prilaku negara dalam kerangka
hubungan internasional. Konsep kepentingan nasional merupakan konsep yang
sering dipakai untuk mendeskripsikan, menjelaskan, meramalkan maupun
menganjurkan perilaku internasional. Kepentingan nasional ini dapat menjelaskan
mengapa suatu negara mengeluarkan kebijakan tertentu terhadap negara lain.32
Yusuf menjelaskan konsep kepentingan nasional sebagai berikut:
Kepentingan nasional termasuk dalam visium yang diperjuangkan
oleh suatu bangsa atau negara untuk dipergunakan dalam rangka
ketertiban internasional. Konsep ini adalah buatan manusia yang
dirumuskan oleh para ahli teori politik dan dipatuhi oleh setiap
kepentingan golongan dan juga kepentingan para perumusnya.33
Untuk mencapai kepentingan nasional, suatu negara harus melakukan
interaksi dengan negara lain. Oleh karena itu, setiap negara membutuhkan
serangkaian kebijakan politik luar negeri. Setiap negara dalam interaksinya
dengan negara lain ialah untuk memenuhi kepentingan nasionalnya. Kepentingan
nasional menjadi alasan utama bagi tindakan dilakukan oleh setiap negara. Usahausaha interaksi yang dilakukan dapat melalui kerjasama, persaingan, ataupun
konflik.
32 Mohtar Masoed, Loc.Cit.
33Sufri Yusuf, Loc.Cit.

22

Menurut Morgenthau, kepentingan nasional dari setiap negara adalah


mengejar kekuasaan.34 Kekuasaan dalam hubungan internasional dapat diartikan
sebagai

kemampuan

suatu

aktor

dalam

panggung

internasional

untuk

menggunakan segenap sumber daya yang terwujud maupun tidak berwujud serta
seluruh asetnya, digunakan untuk mempengaruhi peristiwa-peristiwa internasional
agar membawa hasil yang memuaskan. 35 Kekuasaan yang dimaksud adalah apa
saja yang dapat membentuk dan mempertahankan pengendalian suatu negara atas
negara lain. Kemampuan suatu negara untuk mengendalikan prilaku negara dalam
ranah kekuasaan dan kekuatan ini dapat mempermudah pencapaian kepentingan
nasional suatu negara terhadap negara lain.
Hubungan kekuasaan atau pengendalian ini dapat diciptakan melalui
teknik-teknik paksaan ataupun kerjasama. Morgenthau menekankan konsep
kepentingan nasional pada kelangsungan hidup (survival) dari suatu negara.
Setiap negara harus mampu mempertahankan integritas teritorialnya (identitas
fisik), rezim ekonomi-politiknya (identitas politik) yang bisa saja demokratis,
otoriter, sosialis, atau komunis, dan memelihara norma-norma etnis, religius,
linguistik, dan sejarahnya (identitas kultural). Berdasarkan tujuan-tujuan umum
ini, para pemimpin negara dapat menurunkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang
sifatnya spesifik terhadap negara lain, baik dalam bentuk kerjasama maupun
konflik. Misalnya; perimbangan kekuatan, perlombaan senjata, pemberian

34Morgenthau, dalam Mohtar Masoed, Loc.Cit.


35 Walter S. Jones, Loc.Cit.

23

bantuan asing, pembentukan aliansi kekuatan, dan atau perang ekonomi dan
propaganda.
Sedangkan, menurut Wolfers, kepentingan nasional dijelaskan sebagai
berikut:
Secara minimum, kepentingan nasional mencakup keutuhan wilayah
suatu bangsa, kemerdekaan, dan kelangsungan hidup nasional.
Namun, kelangsungan hidup nasional itu sendiri diberi bermacammacam interpretasi oleh bermacam-macam negara yang menghadapi
kondisi yang berlain-lainan.36
Menurut Holsti, kepentingan nasional dapat diklasifikasi ke dalam tiga
hal. Pertama, core values, sesuatu yang dianggap paling vital bagi negara
menyangkut eksistensi suatu negara. Kedua, middle range objectives, tentang
peningkatan derajat perekonomian suatu negara. Dan ketiga, long range goals
yaitu sesuatu yang bersifat ideal misalnya, keinginan untuk mewujudkan
perdamaian dan ketertiban dunia.37
James N. Rosenau mendapati bahwa kepentingan nasional memiliki
kegunaan untuk sebagai istilah analisis untuk menggambarkan, menjelaskan atau
mengevaluasi politik luar negeri dan sebagai alat tindakan politik yakni untuk
membenarkan, mengecam, atau mengusulkan kebijaksanaan.38 Dengan demikian,
politik luar negeri suatu negara dapat menjelaskan secara tidak langsung
mengenai kepentingan nasional suatu negara.
Istilah kepentingan nasional menimbulkan suatu masalah nilai yang
pada dasarnya menyejajarkan kepentingan-kepentingan individu dan atau
36 Arnold Wolfers, dalam James E. Dougherty dan Robert L. Pfatzgraff, Jr, Loc.Cit.
37 Holsti, KJ. dalam Umar Suryadi Bakry, Loc.Cit.
38 Mohtar Masoed, Loc.cit.

24

kelompok dalam suatu masyarakat dengan anggapan bahwa ada beberapa


kebijakan luar negeri yang absah bagi masyarakat tersebut. 39 Masalah-masalah
tersebut berkaitan dengan kepentingan-kepentingan subnasional yang harus
diwakili, kepentingan kolektif bangsa, dan cara membentuk proses perumusan
kebijakan untuk menangani interaksi di antara kepentingan subnasional
kelompok-kelompok dan kepentingan kolektif.
Berbagai ahli memberikan beragam identifikasi terkait jenis-jenis
kepentingan nasional. Neuchterin, membagi jenis kepentingan nasional menjadi
kepentingan pertahanan, ekonomi, tata internasional dan kepentingan ideologi. 40
Padelfort dan Lincoln membaginya menjadi kepentingan: keamanan nasional,
peningkatan ekonomi, peningkatan kekuatan nasional, dan prestise nasional.41

B. Hubungan Bilateral
Konsep hubungan bilateral merupakan konsep dasar dalam hubungan
internasional yang mengutamakan sikap saling membutuhkan antara negara satu
dengan negara lainnya. Sikap saling membutuhkan ini tidak lepas dari konsep
bahwa negara tidak dapat mempertahankan eksistensinya tanpa hubungan dengan
negara-negara lain di dunia ini. Sikap saling membutuhkan ini terwujud dalam
hubungan antarnegara baik dalam pengembangan, peningkatan, kerja sama dan
39 William D. Coplin, 1992, Pengantar Politik Internasional: Suatu Telaah Teoritis,
Bandung: CV Sinar Baru, hal 446.
40 Donald E. Neuchterin dalam Umar Suryadi Bakry, Loc.Cit.
41 Padelfort dan Lincoln, dalam Ibid.

25

berbagai keuntungan simbiosi mutualisme antara dua negara atau lebih dalam
aspek bernegara dan berbangsa serta dalam pengaktualisasian dan pembuktian
negara sebagai salah satu aktor dalam hubungan internasional yang peranannya
sangat penting. Dalam menjalin kerangka hubungan kerjasama untuk saling
mengisi antara negara satu dengan yang lainnya, maka sebuah negara tidak pantas
untuk bersikap arogan terhadap negara lain.42
Pentingnya hubungan bilateral yang dikembangkan oleh negara
bangsa di dunia internasional juga diuraikan oleh Jowondono sebagaimana yang
dikemukakan sebagai berikut:
Bahwasanya hubungan bilateral merupakan hubungan interaksi antara
dua negara yang dikembangkan dan dimajukan dengan menghormati
hak-hak kedua negara untuk melakukan berbagai kerjasama pada
aspek-aspek kehidupan berbangsa dan bernegara tanpa mengabaikan
dan mengucilkan keberadaan negara tersebut serta mewujudkan
perdamaian dan memberikan nilai tambah yang menguntungkan dari
hubungan bilateral ini.43
Hubunngan bilateral tersebut dapat dilakukan karena adanya motivasi
negara-negara dalam hal kepentingan nasionalnya sehingga diharapkan ketika
hubungan bilateral tersebut tercapai maka akan berdampak pada pencapaian
kepentingan nasional. Hubungan bilateral mengandung faktor-faktor yang
merupakan pendorong terciptanya hubungan yang harmonis antar-negara yang
melakukannya. Upaya suatu negara yang mengadakan hubungan bilateral dengan
negara lain didasarkan pada pertimbangan bahwa hubungan tersebut mendapatkan

42 Romi Librayanto, Loc.Cit.


43 Juwondono, Loc.Cit.

26

keuntungan yang lebih utama dalam mewujudkan pencapaian kepentingan


nasional dan tujuan negara.
Interaksi internasional sebagai bentuk hubungan antar bangsa yang
berlangsung dalam masyarakat yang heterogen, dimana hubungan tersebut dari
waktu ke waktu selalu mengalami perubahan. Hubungan yang terjadi pada
dasarnya dilatar belakangi oleh kebutuhan tiap-tiap negara berbeda, sehingga
kebutuhannya tidak dapat dipenuhi sendiri. Maka pemecahan permasalahan
tersebut adalah dengan cara bekerjasama dengan negara lain, tentunya yang
diharapkan adalah berlangsungnya pola-pola kerjasama yang berlangsung secara
adil dan saling menguntungkan.
Dalam hubungan internasional dikenal 2 (dua) istilah yang popular,
yakni hard power dan soft power. Perbedaan antara keduanya cukup mencolok
ketika dilihat dari tiga hal: ciri, instrumen, dan implikasinya. Soft power berciri
mengkooptasi atau mempengaruhi dan dilakukan secara tidak langsung.
Sedangkan hard power bersifat memaksa atau memerintah dan dilakukan secara
langsung. Instrumen yang digunakan oleh hard power antara lain kekuatan militer
(military forces), sanksi, uang, suap (gratifikasi), ataupun bayaran. Adapun
instrumen soft power yaitu berupa nilai, institusi, kebudayaan, dan kebijakan.

C. Energi Alternatif
Energi sebagai penggerak kegiatan produksi, konsumsi dan distribusi
sangat penting dalam mekanisme perkembangan kehidupan masyarakat di seluruh

27

dunia. Energi dari bahan bakar fosil masih merupakan primadona dalam
pemenuhan energi kehidupan sehari-hari terutama minyak. Negara-negara industri
Barat menyadari bahwa minyak adalah bahan bakar yang sensitif dari segi politik
khususnya sejak terjadinya embargo minyak pada tahun 1970-an. 44 Penghalangan
terhadap pemenuhan pasokan minyak dapat berakibat pada masalah keamanan
energi global. Dan berakibat pada masalah kemandekan ekonomi sehingga dapat
dikatakan bahwa minyak berfungsi sebagai bahan bakar perekonomian dunia. 45
Perkiraan mengenai suplai dan permintaan yang tak menentu apakah suatu negara
memiliki

kemampuan

untuk

memastikannya

dan

upaya-upaya

untuk

pengembangan sumber-sumber energi yang lain tentu membuktikan betapa


rawannya bahan bakar minyak tersebut.
AS dan banyak negara-negara industri menghabiskan banyak energi
pada rating yang tinggi. Dengan bertambahnya standar kehidupan masyarakat
modern mendorong pemakaian energi yang semakin besar.46 Realitas ini
memunculkan pengembangan energi alternatif yang mencuat ketika kebutuhan
akan pemenuhan bahan bakar fosil kemudian menjadi hal sulit untuk ditebak.
Terlebih lagi jika terjadi embargo atau kenaikan harga minyak yang sangat
44 Audrey Parry, 1978, The Growing Vulnerability of Oil Supplies, London: Foreign
Affairs Research Institute, dikutip oleh Kirdi Dipoyudo, 1980, Kerawanan Suplai
Minyak Negara-Negara Barat, Jurnal Analisa Berbagai Masalah Ekonomi
Internasional, Tahun IX No. 1 Januari 1980, Jakarta: CSIS, hal 81.
45 William J. Nuttall dan Devon L. Manz, Loc.Cit.
46 Stanley E . Manahan, 2009, Fundamentals of Environmental Chemistry, 3rd ed, USA:
CRC Press, Hal 1088.

28

signifikan. Pengembangan energi alternatif dapat berupa energi dari nuklir,


geothermal, sinar matahari, hydropower, angin dan biofuel. Energi altenatif
tersebut banyak dipakai sebagai pembangkit tenaga listrik. Sedangkan, energi
alternatif untuk mengganti bahan bakar minyak dapat berasal dari biofuel.
Biofuel ini merupakan bahan bakar energi alternatif yang berasal dari
tanaman melalui proses kimiawi. Biofuel ini dapat berupa etanol dan biodiesel.
Etanol berasal dari alkohol hasil fermentasi bahan baku tumbuhan yang
mengandung karbohidrat seperti ketela pohon, jagung, dan tebu. Etanol sering
dipakai untuk mesin berbahan bakar bensin. Sedangkan biodiesel merupakan
bahan bakar alternatif untuk mesin diesel yang berasal dari senyawa kimia
bernama alkyl ester dari lemak nabati.
Biofuel selain dikenal sebagai sumber energi hijau juga sebagai
bahan bakar yang demokratis. Hal ini disebabkan karena sebagian besar negara di
dunia yang bergerak di bidang agraris berkesempatan untuk mengembangkan
biofuel ini. Tidak seperti bahan bakar fosil yang dikuasai hanya beberapa negara
tertentu yang memiliki sumber daya tersebut. Seperti, minyak bumi yang sebagian
besar diproduksi oleh negara Timur Tengah. Penggunaan biofuel ini juga akan
mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak dan gas bagi negara
agraris. Negara agraris yang mengembangkan biofuel ini salah satunya yakni
Brazil.
Biofuel memiliki kelebihan yakni ramah lingkungan. 47 Karena industri
biofuel merupakan industri yang minim akan polusi, malah dapat mengurangi
limbah pada industri yang terpadu misalnya industri gula tebu yang limbah tebu
47 Untung Murdiyatmo, Ph.D, Loc.cit.

29

tersebut dapat dijadikan bahan baku etanol. Etanol sangat bagus sebagai campuran
BBM untuk sektor transportasi karena kandungan oksigennya tinggi (35%)
sehingga pembakaran lebih sempurna, memunyai nilai oktan yang lebih tinggi
serta etanol bersifat terbarukan (renewable).48
Peningkatan nilai oktan dalam bensin berhubungan dengan performa
mesin yang lebih baik dan lebih bersih. Pemakaian biofuel atau penambahan
biofuel dalam bensin dapat mengurangi emisi karbon monoksida. Dengan gasohol
E10 saja sudah dapat menambah nilai oktan sebesar 2,5. Bensin biasa hanya
memiliki nilai oktan 87, sedangkan gasohol mamiliki nilai oktan hingga 93,
bahkan etanol murni memiliki nilai oktan 113. Semakin tinggi nilai oktan
mengindikasikan bahwa mesin bekerja secara efisien.
GRAFIK 2.1 Peringkat Oktan Bahan Bakar

Sumber: RFA (Renewable Fuel Assosiation)49


Dari sudut pandang sumber daya alam, etanol dapat dipertimbangkan
sebagai sumber daya alam yang terbarukan karena melalui proses fotosintesis
sedangkan bahan bakar fosil tidak.50 Pengembangan dan produksi etanol dapat
menyerap kembali karbondioksida yang telah dihasilkan dari kendaraan.
48 Ibid, hal 81.
49 Renewable Fuel Assosiation (RFA), Ethanol Fact: Engine Performance, dalam
http://ethanolrfa.org/pages/ethanol-facts-engine-performance diakses 14 April 2013.
50 Stanley E. Manahan, Op. Cit, hal 1108.

30

Sedangkan jika penggunaan bensin saja, maka karbondioksida dilepaskan ke


atmosfir. Padahal ketika memproduksi etanol maka akan menambah tanaman
yang menghirup karbondioksida di atmosfir. Produksi etanol dari tumbuhan
menghasilkan bahan bakar dan tumbuhan itu sendiri pula yang mengurangi
karbondioksida yang dihasilkan oleh kendaraan. Hal tersebut tentu dapat
mengurangi karbondioksida di atmosfer sehingga efek pemanasan global dapat
dikurangi pula. Hal ini dapat dilihat pada ilustrasi siklus karbondioksida pada
gambar berikut.
GAMBAR 2.1 Siklus Hubungan Karbondioksida dan Bahan Bakar

31

Sumber: BEST Project (Biofuel for Sustainable Transport )51


Selain etanol, biodiesel juga termasuk dikembangkan sebagai bahan
bakar hidrokarbon cair terbarukan. Biodiesel merupakan bahan bakar yang
digunakan untuk khusus mesin diesel. Dari ekstraksi minyak bijih tanaman
merupakan bahan baku dari biodiesel seperti dari biji bunga matahari, kacang,
rapeseed, soybean, palm, coconut, jatropha.
Perkembangan produksi etanol telah berlanjut. Di AS dan Brazil
berusaha untuk mengembangkan generasi kedua dari etanol. Hal ini dengan
penggunaan ampas dan daun dalam produksi etanol sehingga dapat dihasilkan
etanol dua kali lipat. Proses produksi etanol dan generasi kedua dapat
digambarkan melalui Gambar. Bahkan dapat menghasilkan listrik dari ampas dan
sampah tebu.52
GAMBAR 2.2 Proses Produksi Etanol

51 BEST Project, Biofuel for Sustainable Transport, hal 36, dalam


http://www.baff.info/rapporter/BEST%20-%20BioEthanol%20for%20Sustainable
%20Transport.pdf diakses pada 4 Desember 2012.
52 Constanza Valdes, 2011, Brazil Ethanol Industry Looking Forward, hal 8, dalam
http://www.ers.usda.gov/media/126865/bio02.pdf, diakses pada tanggal 14 Februari 2013.

32

Sumber: USDA ERS, dari data CONAB (2008) dan MME/EPE (2010)53
Namun, penggunaan etanol tidak dapat dipakai untuk semua
kendaraan. Pada kendaraan biasa campuran etanol tidak boleh lebih dari 10%
sebab dapat merusak mesin secara permanen karena pengikisan pada mesin.
Untuk itu perlu dipahami bahwa campuran etanol harus disesuaikan dengan mesin
kendaraan. Khusus untuk mesin FFV (Flex Fuel Vehicles) atau mesin berbahan
bakar fleksibel dapat menggunakan campuran bensin dan etanol dengan
perbandingan berapapun.54
GAMBAR 2.3 Ilustrasi Pohon Bioetanol

53 United States Department of Agriculture Economic Research Service (USDA ERS)


dari data Conpanhia Nacional de Abastecimento (CONAB) 2008, Ministerio de Minas e
Energia, Empresa de Pesquisa Energetica (MME/EPE), 2010 dalam Ibid.
54 Yasushi Ueki, 2007, Discussion Paper No. 109 Industrial Development and The
Innvationa System of The Ethanol Sector in Brazil, hal 47, dari
http://www.ide.go.jp/English/Publish/Download/Dp/pdf/109.pdf, diakses 8 April 2013.

33

Sumber: BEST Project (Biofuel for Sustainable Transport )55


Namun, perlu dipahami bahwa energi alternatif yang dikembangkan
dalam suatu negara memerlukan keberpihakan politik.56 Karena apabila tidak
keterikatan politik maka kebijakan untuk menggunakan energi alternatif hanya
akan menjadi wacana seperti panas-panas tahi ayam. Ketika isu mengenai
keterbatasan energi dari bahan bakar fosil menguat misalnya dengan kenaikan
harga minyak maka isu mengenai bahan bakar alternatif selalu menjadi isu yang
hangat. Dan ketika harga minyak kembali normal maka isu mengenai
pengembangan energi alternatif kembali menguap.

55 BEST Project, Op. Cit, hal 20.


56Arief Winarto, Energi Alternatif Perlu Keberpihakan Politik, diunggah 23 Mei 2012,
dalam http://www.politikindonesia.com/index.php?k=pendapat&i=34583-EnergiAlternatif-Perlu-Keberpihakan-Politik diakses 17 Februari 2013.

34

D. Energy Security
Energy security merupakan istilah yang melekat erat pada suatu
kondisi terjaminnya pasokan kebutuhan energi minyak dan gas dalam suatu
negara demi keberlangsungan dan eksistensi negara tersebut, baik secara ekonomi
maupun pertahanan.57 Menurut PBB 2007, sebuah negara bangsa dapat dikatakan
memiliki energi yang aman pada tingkat ketersediaan layanan bahan bakar dan
energi yang memastikan: a) kelangsungan hidup bangsa, b) perlindungan
kesejahteraan nasional, dan c) minimalisasi risiko yang terkait dengan penyediaan
dan pemanfaatan bahan bakar dan jasa energi. Kelima dimensi keamanan energi
termasuk pasokan energi, ekonomi, teknologi, lingkungan, dimensi sosial dan
budaya, dan militer / keamanan.58
Ketersediaan energi yang memadai dapat mempengaruhi berbagai
bidang seperti ekonomi, kesehatan masyarakat, keamanan dan lingkungan. Dan
bahkan ketersediaan energi ini merupakan jalan hidup bagi negara-negara besar.
Energy security secara konvensional merupakan isu yang fokus pada menipisnya
sumber daya alam terutama minyak, gas alam dan batu bara. Energy security
mulai menjadi pembicaraan setelah terjadinya embargo minyak pada era 1970an.59 Kenaikan harga minyak tak terhindarkan. Masyarakat internasional
kemudian menyadari bahwa energi yang mereka butuhkan ternyata rentan
57Karen Agustiawan, Loc.Cit.
58 Brazilian GNESD Team, 2009, Energy Security Theme in Brazil, hal 3 dari
http://www.gnesd.org/upload/gnesd/pdfs/energy%20security/cenbio%20coppe
%20brazil_energy_security.pdf diakses 17 Januari 2013
59 William J. Nuttal dan Devon L. Manz, Loc.Cit.

35

terhadap faktor-faktor internal maupun eksternal. Faktor-faktor tersebut dapat


ancaman terorisme, ketidakstabilan di beberapa negara-negara pengekspor,
tendensi nasionalis, kekhawatiran berebut untuk persediaannya, persaingan
geopolitik, dan kebutuhan fundamental negara akan energi untuk pertumbuhan
ekonomi mereka.60
Indikator energy security suatu negara dapat dilihat dari ketersediaan
dan akses ke bahan bakar fosil tersebut. Gangguan pasokan energi telah
diidentifikasi sebagai ancaman utama dalam energy security global.61 Jika pasokan
energi bahan bakar fosil terganggu maka dapat memengaruhi produksi ekonomi
nasional sebuah negara dan cenderung terjadi kenaikan harga energi dan
memaksakan peningkatan beban pada sektor bisnis dan rumah tangga. Energy
security

pada akhirnya akan memengaruhi pemerintah dalam pengambilan

kebijakan dalam menjaga pasokan energi demi stabilitas negara. Aktivitas dalam
kehidupan sehari-hari dapat terganggu.
Ketidaktercapaian pasokan energi dalam negeri dapat menyebabkan
efek domino dalam keterpurukan sektor lain. Seperti pompa air yang bergantung
pada energi listrik untuk beroperasi, sedangkan pembangkit energi listrik biasanya
menggunakan bensin sebagai bahan bakar, dan ketika bahan bakar bensin
mengalami gangguan pasokan maka akan memengaruhi pasokan energi listrik.
Energi listrik yang terganggu akan memengaruhi ketersediaan air di masyarakat
sehingga dapat menyebabkan kekeringan dan atau kebutuhan air untuk
60 Deniel Yergin,, Loc.Cit.
61 William J. Nuttal dan Devon L. Manz, Loc.Cit.

36

masyarakat tidak tercukupi dan hal ini dapat menyebabkan kekacauan. Energi dari
bahan bakar minyak bumi yang merupakan sumber energi yang vital bagi
berbagai aspek kehidupan.
Semakin tinggi ancaman terhadap energy security maka akan
menambah risiko krisis energi. Ancaman tersebut belum tentu membuat negara
berada pada krisis energi, tetapi hanya menambah risiko negara tersebut akan
masuk ke dalam krisis energi. Apabila krisis energi telah sampai maka sulit untuk
bangkit karena kekacauan yang telah terjadi. Energy security dapat dikategorikan
sebagai independensi enegi sedangkan ketidaktahanan energi dikategorikan
sebagai saling kebergantungan energi.62
Energy security bertujuan untuk meminimalkan risiko ekonomi dan
lainnya yang berhubungan dengan pilihan pasokan energi yang berbeda. Variabel
untuk energy security yakni:63
sistem energi yang dapat diandalkan, terjangkau dan ramah
lingkungan,
ketersediaan energi berkelanjutan dalam bentuk bervariasi, dalam
jumlah yang cukup dan harga terjangkau, dan
keamanan pasokan energi, daya saing dan perlindungan lingkungan
62 Edmilson Moutinho dos Santos, Energy security in Latin America: Thoughts on the
Brazillian Experience, Brazil E.dos Santos powerpoint Slide 6 dalam
http://www.freewebs.com/infoenergia/Brazil.E.%20dos%20Santos.ppt diakses 17 Januari
2013
63 Jose Roberto Moreira dan Ricardo Esparta, Energy Security: Brazil: A Country
Profile on Sustainable Energy Development, hal 199, dalam
http://www.iaea.org/OurWork/ST/NE/Pess/assets/BRAZIL_FINAL_24April06.pdf
diakses 17 Januari 2013.

37

Ketersediaan

energi

berkelanjutan

diinterpretasikan dengan diversifikasi energi yakni

yang

bervariasi

dapat

energi alternatif. Energi

alternatif yang terbarukan merupakan suatu peluang yang dapat dimanfaatkan


untuk menjaga keamanan energi. Hal ini dikarenakan dengan semakin banyak dan
bervariasinya energi alternatif yang ditawarkan maka kebergantungan terhadap
salah satu sumber energi dapat dihindari. Hal ini akan memberikan langkah yang
nyata dalam memberikan energi yang aman dalam negeri.
Dalam menjaga stabilitas pasokan energi ketika terjadi embargo
minyak pada tahun 1970-an pemerintah Brazil mengambil inisiatif untuk
pengembangan biofuel demi energy security di dalam negerinya. Kebijakan yang
diambil pemerintah militer Brazil tersebut membawa perubahan yang besar
terhadap kebijakan pemerintah dalam bidang energi dan juga peluang investasi
dan bisnis di Brazil. Kebijakan energy security yang dilakukan oleh Brazil terus
dipertahankan melalui kebijakan domestiknya terutama dalam pengembangan
bioetanol itu sendiri. Komitmen pemerintah Brazil untuk pengembangan energi
biofuel ini patut diancungi jempol karena telah membawa Brazil sebagai salah
satu negara produsen bioetanol terbesar di dunia.
Kemajuan suatu negara dalam perkembangan industri menuntut energi
yang lebih besar dalam pemenuhan produksi industri tersebut. Sehingga kemajuan
perkembangan industri yang berkelanjutan perlu didukung kebijakan energy
security yang berkelanjutan pula. Ketika minyak menjadi sumber daya energi
yang penting dan krusial bagi suatu negara maka keberadaannya akan sangat
menentukan energy security negara yang bersangkutan. Bahkan, akan sangat

38

berpengaruh terhadap stabilitas dalam negeri. Dan semua negara memiliki


kepentingan yang sama dalam mempertahankan ketersediaan energi dalam
negeri.64 Diplomasi mengenai jaminan akses dan pasokan sumber-sumber energi
merupakan hal yang harus dilakukan oleh negara untuk memenuhi kebutuhan
konsumsi industri dan rumah tangga dalam negeri.

64 Budi Winarno, Loc.Cit.

39

BAB III
GAMBARAN UMUM HUBUNGAN BILATERAL AMERIKA SERIKATBRAZIL

A. Sejarah Perkembangan Hubungan Bilateral Amerika Serikat-Brazil


Hubungan bilateral antara Amerika Serikat (AS) dan Brazil dapat
dicirikan sebagai hubungan yang hangat dan ramah. AS memandang bahwa Brazil
merupakan negara yang ramah meskipun pemerintahnya merupakan sayap kiri
moderat. Hubungan yang cukup harmonis ditunjukkan dengan kerjasama antara
Amerika Serikat dan Brazil di berbagai isu bilateral dan regional dalam beberapa
tahun terakhir. Contohnya kedua negara terlibat dalam kontrak tingkat tinggi
terutama di bidang energi dan berbagai isu lainnya.
Kerjasama kedua negara dapat dilihat dari bidang energi, Brazil dan
AS telah melakukan kerjasama yakni Memorandum of Understanding to Advance
Cooperation on Biofuels.65 Di bidang keamanan seperti US-Brazil Defense
Cooperation66. Di bidang sains dan teknologi misalnya Science Technology
Innovation Space Education Cooperation67, dan berbagai kerjasama lainnya
65Brazil Council, MoU to Advance Cooperation on Biofuels, dalam
http://www.brazilcouncil.org/sites/default/files/MOUtoAdvanceCooperationonBiofuels
%20-Mar092007.pdf diakses 18 Maret 2013.
66 US Department of Defense, http://www.defense.gov/news/Fact_Sheet_USBrazil_Defense_Cooperation_14MAR2011.pdf diakses 11 Maret 2013.
67 USA Government, Brazil Science Technology Innovation Space Education
Cooperation, dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/uploads/Brazil_Science_Technology_Innov
ation_Space_Education_Cooperation.pdf diakses 11 Maret 2013.

40

seperti MoU on Cooperation to Support The Organization of Major Global


Sporting Event

68

dan MoU for The Implemetation of Technical Cooperation

Activities in Third Country69.


Brazil juga menerima bantuan luar negeri AS meskipun tergolong ke
dalam negara yang berpenghasilan menengah. Meskipun menerima bantuan luar
negeri AS, jumlahnya tidak banyak dan angkanya kadang turun dari tahun
sebelumnya. Hal ini dikarenakan Brazil termasuk ke dalam negara menengah
dengan GDP $2,1 trilliun (2012).70Untuk lebih lengkap mengenai bantuan AS ke
Brazil dapat dilihat dari grafik berikut.
GRAFIK 3.1 Bantuan Luar Negeri AS Terhadap Brazil

dalam juta ($)

30
25
20
15
10
5
0

25.1
16

14.8

23.3

17.2

8.6

6.1

Tahun

68 USA Government, Brazil MoU Sporting Event, dalam


http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/uploads/Brazil_MOU.pdf diakses 11 Maret
2013.
69 US Department of State, http://www.embaixadaamericana.org.br/secstate/mouthird0303.html diakses 11 Maret 2013.
70 Peter J. Meyer, Brazil-US Relations, CRS (Congressional Research Service) Report
for Congress, hal 6 dalam http://www.fas.org/sgp/crs/row/RL33456.pdf , diakses 5
Desember 2012.

41

Sumber: Diolah dari laporan CRS (Congressional Research Service) Report for
Congress 2012.71
Bantuan AS terhadap Brazil terfokus pada masalah lingkungan seperti
penguatan kapasitas lokal terhadap ancaman keberadaan Amazon, menghalangi
dan mencegah kegiatan terlarang serta mengurangi penularan penyakit menular.72
Selain itu kedua negara juga terlibat dalam berbagai isu lainnya seperti isu
keamanan, perdagangan, hak asasi manusia dan lingkungan.73 Kedua negara besar
tersebut memiliki beberapa kesamaan nilai yakni sebagai dua negara yang
demokratis dan ekonomi dunia terbesar. Banyaknya tujuan yang semakin
konvergen menjadikan AS dan Brazil sebagai mitra alami baik dalam isu-isu
bilateral, kawasan maupun global.
Hubungan Brazil dengan Amerika Utara seperti Amerika Serikat
terkadang baik-baik saja dan terkadang bersitegang. Pada isu-isu politik tertentu
seperti dalam pembuatan Free Trade of the Americas (FTAA) dan juga terhadap
masalah Irak, Brazil menjadi negara yang vokal untuk oposisi mengenai perang di
Irak dan embargo AS terhadap Kuba.74 Kepentingan kedua negara tersebut sama
sekali berbeda dan kebijakan luar negeri yang bebas telah menyebabkan

71 Peter J Meyer, Ibid, hal. 16 ; Clare Ribando Seelke dan Alessandra Durand, 2008,
Brazil-U.S. Relations, CRS (Congressional Research Service) Report for Congress
72 Clare Ribando Seelke dan Alexandra Durrand, Ibid.
73 Peter J Meyer, Op.Cit.
74 Stephanie Hanson, Brazil on the International Stage diunggah 2 Juli 2012 dari situs
http://www.cfr.org/brazil/brazil-international-stage/p19883 diakses 7 Desember 2012.

42

perselisihan perdagangan dan masalah-masalah politik. Seperti pada negosiasi


Putaran Doha yang macet akibat Brazil yang oposisi terhadap Amerika Serikat
dalam hal komoditi kapas. Perbedaan lain yang terlihat yakni pada tahun 2010 dan
2011, Brazil menggunakan kursi sementaranya di Dewan Keamanan PBB untuk
mendukung keterlibatan dalam masalah Iran, Libya dan Suriah sebagai masalah
konflik bersenjata, bukan sanksi seperti yang dikemukakan oleh anggota Dewan
Keamanan lain. Meskipun terlibat beberapa perselisihan dengan Amerika Serikat
dan terjadi peningkatan aktivitas Brazil dalam kancah internasional, hubungan AS
dan Brazil masih dapat terjalin dengan baik asalkan transparansi dan rasa hormat
kedua negara tetap terjaga.
Adapun bantuan AS dalam program pendukung pembangunaan di
Brazil dirancang juga untuk mempromosikan pembangunan di negara-negara
ketiga. Sekitar sepertiga dari permintaan bantuan untuk tahun 2013 akan
digunakan untuk memperkuat badan pembangunan pemerintah Brazil (Badan
Kerjasama Brazil) dan melaksanakan proyek yang didanai bersama di negaranegara berkembang lainnya. Departemen Luar Negeri AS dan USAID berencana
untuk hanya mendanai program yang dianggap mendesak dan yang menjadi
prioritas dalam kebijakan luar negeri.75 Hubungan kerjasama antara AS dan Brazil
di berbagai bidang misalnya keamanan (pemberantasan narkoba, pemberantasan
terorisme, keamanan dan pertahanan), dan hubungan dagang kedua negara.
Amerika Serikat dan Brazil bekerja sama dalam isu kontra narkotika
dengan berbagai cara. Seperti bantuan pelatihan untuk penegak hukum Brazil,
75 Peter J. Meyer, Op.cit, hal 20

43

membantu program interdiksi di bandara internasional Brazil, mendukung


program pencegahan narkoba serta meningkatkan kapasitas Brazil dalam
membongkar organisasi kriminal. Untuk melancarkan usaha Brazil dalam
penanganan narkotika, AS memberikan bantuan dengan akumulasi pada tahun
2010 sebesar $ 1 juta, 2011 $ 1 juta, 2012 $ 2,9 juta dan pada tahun 2013 sebesar
1,9 juta (estimasi).76 Bantuan yang diberikan diharapkan mampu untuk
mengurangi kasus kejahatan penyalahgunaan narkotika.
Brazil juga berperan sebagai jembatan atau penghubung antara
Amerika Serikat dan Bolivia dalam pengusiran Drug Enforcemert Administration
(DEA) dari wilayahnya pada tahun 2008 sebagai akibat dari dugaan gangguan
pada

masalah

internal

negara.

Kerjasama

trilateral

anti-narkoba

yang

ditandatangani pada bulan Januari 2012, Amerika Serikat dan Brazil memberikan
bantuan kepada Bolivia dalam pemantauan dan pemberantasasn tanaman koka.
Dalam perjanjian tersebut, Amerika Serikat memberikan bantuan mengenai
penyediaan peralatan pemantuan, Brazil bertanggung jawab untuk memperoleh
dan menafsirkan citra satelit, dan Bolivia bertanggungjawab untuk melakukan
pekerjaan lapangan yang diperlukan.
Perbatasan Argentina, Brazil dan Paraguay telah lama digunakan
untuk penyelundupan senjata, pencucian uang, dan tujuan terlarang lainnya.
Meskipun tidak berkaitan dengan Al-Qaeda atau kelompok Hizbullah, AS tetap
mencemaskan adanya aktivitas terlarang di daerah tersebut karena dikhawatirkan
hasil dari aktivitas legal tersebut untuk mendanai kelompok teroris. Amerika
Serikat kemudian bergabung dengan ketiga negara tersebut membentuk Group
76 Peter J Meyer, Ibid, hal. 16; Clare Ribando Seelke dan Alexandra Durrand, Op.Cit,
hal. 10.

44

3+1 pada wilayah perbatasan ketiga negara Amerika Latin tersebut pada tahun
2002. Grup ini membangun pusat inteligen gabungan untuk memerangi organisasi
kejahatan lintas batas di daerah perbatasan tersebut pada tahun 2007.
Selain terlibat dalam upaya di perbatasan Argentina, Paraguay dan
Brazil, Amerika Serikat juga bekerjasama dengan Brazil secara bilateral untuk
meningkatkan kemampuan aparat Brazil dalam hal kontra-terorismenya. Amerika
Serikat telah memberikan pelatihan kepada karyawan maskapai penerbangan
Brazil untuk mengidentifikasi dokumen palsu dan melaksanakan Container
Security Initiative (CSI) di pelabuhan Santos. Hal ini sangat penting berguna
untuk menghalangi masuknya teroris, imigran, atau kejahatan transnasional yang
rentan masuk melalui bandara dan pelabuhan.
Hubungan kerjasama pertahanan antara AS dan Brazil telah lebih erat
dibandingkan beberapa dekade sebelumnya. Hal ini terbukti dengan melihat
bagaimana eratnya hubungan AS dan Brazil dalam Misi Stabilisasi Haiti yang
diprakarsai oleh PBB. Upaya stabilisasi pasca gempa pada Januari 2010 di Haiti
merupakan operasi gabungan AS dan Brazil yang cukup langka terlihat
keakrabannya semenjak Perang Dunia II. Amerika Serikat dan Brazil juga turut
bekerjasama dalam Perjanjian Kerjasam Pertahanan pada April 2010.77
Kerjasama Pertahanan antara AS dan Brazil tersebut meliputi
peningkatan di berbagai bidang seperti penelitian dan pengembangan, teknologi
keamanan, dan akuisisi produk pertahanan dan jasa. Kemudian hal tersebut diikuti
dengan General Security of Military Information Agreement pada November 2010
yang fokus

rahasia pertahanan dan informasi militer. Dalam peningkatan

77 Peter J Meyer, Ibid, hal 23.

45

hubungan bilateral, Presiden Roussef dan Presiden Obama meluncurkan Dialog


Presiden mengenai kerjasama pertahanan pada tahun April 2012 yang meliput
pertukaran informasi, pelatihan militer gabungan dan latihan militer bersama.
Hubungan dagang antara Brazil dan AS memainkan peran sentral
dalam peningkatan hubungan kedua negara. Meskipun ketegangan antara AS dan
Brazil terlihat pada kasus Putaran Doha dan FTAA, tetapi kedua negara tetap
menjalin hubungan perdagangan yang cukup baik. Pada kunjungan Presiden
Obama ke Brazil pada Maret 2011, kedua negara membicarakan mengenai
Perjanjian Kerjasama Perdagangan dan Ekonomi yang bukan hanya sekedar
perjanjian perdagangan tetapi juga meliputi isu-isu seperti hak kekayaan
intelektual, fasilitasi perdagangan, hambatan teknis perdagangan.
Selama tahun 2012, Hillary Clinton selaku Menteri Luar Negeri AS
pada masa pemerintahan Obama yang pertama mengunjungi Brazil dengan
agenda memajukan hubungan perdagangan dengan menegosiasikan perjanjian
investasi bilateral dan akhirnya perdangan bebas. Namun, pemerintah Brazil tidak
pernah meratifikasi perjanjian tersebut karena memiliki perbedaan yang signifikan
mengenai isu-isu pedagangan. Kini terlihat pada sistem yang dianut oleh kedua
negara agak berbeda. Amerika Serikat yang sayap kanan dan Brazil yang
merupakan sayap kiri.
Perdagangan antara Amerika Serikat dan Brazil mencapai $
74.300.000.000 pada tahun 2011, meningkat 25% dari tahun 2010. Ekspor AS ke
Brazil senilai $ 42.900.000.000, sementara impor AS dari Brazil itu senilai $
31.400.000.000. Amerika Serikat adalah kedua mitra dagang terbesar Brazil, di

46

belakang Cina, dan Brazil adalah kedelapan terbesar mitra dagang Amerika
Serikat. Top ekspor AS ke Brazil yakni mesin, minyak dan batu bara, dan pesawat
sipil dan onderdil. Impor AS dari Brazil adalah minyak mentah, besi dan baja,
mesin, dan kopi.
Hubungan dagang antara AS dan Brazil semakin erat dengan
terjalinnya kerjasama ekonomi dan perdagangan yakni Agreement on Trade and
Economic Cooperation between The Government of The United States of America
and The Government of The Federative Republic of Brazil pada 18 Maret 2011.78
Kerjasama ini mempertimbangkan berbagai hal yakni fasilitasi dan liberalisasi
perdagangan dan investasi bilateral, kerjasama dalam berbagi tujuan dalam WTO,
komite konsultasi agrikultur, teknik hambatan perdagangan, hak properti
intelektual, isu regulasi yang mempengaruhi perdagangan dan investasi, informasi
dan komunikasi teknologi dan e-commerce, perdagangan dan pengembangan
kapasitas teknikal, dan perdagangan jasa.

B.

Perkembangan Hubungan Bilateral Amerika Serikat-Brazil di Bidang


Energi
Hubungan bilateral antara Amerika Serikat dan Brazil dapat dikatakan

bersahabat. Amerika Serikat dan Brazil merupakan negara dengan kemajuan


ekonomi yang pesat dan negara demokrasi terbesar di dunia. Kedua negara
tersebut juga sama-sama berada dalam benua yang sama yakni benua Amerika.
78 USA Government, Agreement on Trade and Economic Cooperation between AS and
Brazil, hal 4 dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/uploads/Brazil_ATEC.pdf diakses 24 Maret
2013.

47

Kerjasama dan dialog antara AS dan Brazil telah banyak dilakukan seperti dalam
bidang keamanan, energi, perdagangan, hak asasi manusia dan juga lingkungan.79
Meskipun demikian, hubungan kedua negara tersebut tak lepas intrik
karena perbedaan kepentingan dan kebijakan luar negeri yang berbeda padahal
kedua negara memiliki tujuan bersama. Perselisihan perdagangan dan masalah
politik terkadang menghalangi hubungan baik kedua negara. Seperti pada Putaran
Doha yang macet, Brazil menjadi oposisi Amerika Serikat yang berhubungan
dengan petani kapas. Dan ketika Brazil menjadi anggota tidak tetap Dewan
Keamanan PBB pada tahun 2010 dan 2011, Brazil mendukung advokasi terhadap
masalah seperti Iran, Suriah dan Libya dalam bentuk rezim internasional daripada
sanksi yang kadang mengawali konflik bersenjata. Namun, dalam kerangka
kerjasama antara Amerika Serikat dan Brazil masih berjalan dengan baik terutama
dalam bidang perdagangan.
Brazil juga mampu menjadi negara terdepan dalam kebijakan energi
untuk mengurangi ketergantungan pada impor minyak dalam pengembangan
energi alternatif dan diikuti peningkatan produksi dalam negeri. 85% listrik di
Brazil dihasilkan melalui PLTA. Penemuan deposit minyak di lepas pantai Brazil
jika berkembang dapat mengubah Brazil menjadi negara penghasil minyak dan
gas. Presiden Lula meresmikan output minyak pertama di lahan deposit minyak
baru tersebut pada tanggal 2 September 2008. Penemuan tersebut mulanya
diumumkan pada 8 November 2007 yang berlokasi di Cekungan Santos sekitar

79 Peter J Meyer, Op.Cit, hal 2.

48

350 mil di lepas pantai Rio de Janeiro. 80 Penemuan sumber minyak tersebut
berada 23.000 meter di bawah permukaan laut di bawah lapisan batu dan garam.
Cadangan minyak diperkirakan lebih dari 50 miliar barel minyak dan gas. 81
Amerika Serikat kemudian melihat potensi tersebut bahwa Brazil dapat menjadi
sumber energi penting bagi Amerika Serikat di kemudian hari.
Akan tetapi, pemerintah Brazil akan mengelola sekitar 70 persen dari
cadangan minyak dan gas tersebut yang belum dilelang. Hal ini dilakukan
pemerintah Brazil dalam meningkatkan harapan bahwa penggunaan sumber daya
alam tersebut dapat digunakan dalam jangka waktu yang lama. Sedangkan untuk
pengelolaannya, Kongres Brazil menetapkan BUMN Petroleo Brazileiro SA
(Petrobras) sebagai operator tunggal untuk proyek lepas pantai dengan rezim bagi
hasil, dan Kongres Brazil akan mengarahkan pendapatan dari proyek tersebut ke
dalam empat bidang utama yakni pendidikan, infrastruktur, ilmu pengetahuan dan
teknologi serta pengurangan kemiskinan.
Pada

Maret

2011, Presiden

Obama

dan

Presiden

Rousseff

meluncurkan Strategic Energy Dialogue untuk memfasilitasi kerjasama yang lebih


besar dalam pengembangan energi yang aman dan efisien. Melalui workshop
teknis dan kegiatan lainnya, kedua pemerintah dan industri swasta telah bertukar
pemikiran dalam berbagai isu seperti respon terhadap tumpahan minyak baik
integritas, penahan bawah laut, penggunaan dispersan dan rencana darurat

80 Clare Ribando Selke dan Alessandra Durand, Op.Cit, hal 15.


81 Ibid.

49

nasional dan juga termasuk dalam sektor etanol dan pembangkit listrik transmisi
distribusi atau generation-transmission-distribution (GTD).
Brazil dan Amerika Serikat bekerjasama pula dalam pembiayaan.
Bank Ekspor Impor AS menawarkan untuk pertimbangan pembiayaan untuk
pembelian barang dan jasa oleh Petrobas. Sejauh ini Bank Ekspor Impor AS telah
menyetujui pendanaan sebesar $ 300 juta, tetapi apabila diminta penawaran
pembiayaan dapat mencapai $ 2 milyar. Pembiayaan untuk pembelian barang dan
jasa oleh Petrobas merupakan produk manufaktur dari Amerika Serikat. 82

C. Perkembangan Hubungan Bilateral Amerika Serikat-Brazil di Bidang Energi


Alternatif
Energi alternatif merupakan salah sumber energi yang didapatkan
bukan dari energi konvensional dari sumber daya energi fosil. Energi alternatif
dapat berupa, tenaga surya, geothermal, hydropower, angin, nuklir dan biofuel.
Banyak negara telah mengembangkan energi alternatif sebagai sumber energi
yang lain selain sumber energi fosil. Brazil dan Amerika Serikat termasuk negara
yang mengembangkan energi alternatif seperti nuklir dan biofuel.
1. Nuklir
Brazil termasuk ke dalam negara yang kaya akan sumber daya alam.
Dengan kekayaan alam itu, Brazil merupakan negara yang berpotensi untuk
menjadi negara maju. Brazil pun saat ini telah mampu untuk mengembangkan
nuklir. Brazil mengaku bahwa nuklir yang dimilikinya digunakan untuk tujuan
82

Brazil Works, Energy and Brazil-United States Relations, diunggah 20 Agustus


2013 dalam http://www.brazil-works.com/energy-and-brazil-united-states-relations/
diakses 7 Desember 2012.

50

damai. Pengembangan nuklir di Brazil telah dimulai ketika pertengahan tahun


1970-an dan pertengahan 1980-an karena persaingan dengan Argentina dalam
dominasi politik dan militer di daerah kerucut selatan (Southern Cone) Amerika
Latin. Namun, persaingan tersebut berakhir ketika kedua negara tersebut
mencapai kesepakatan untuk menggunakan energi nuklir untuk tujuan damai pada
tahun 1991. Pada tahun 1998 Brazil menjadi bagian dalam Perjanjian
Nonproliferasi Nuklir (NPT) dan ikut aktif berpartisipasi dalam rezim
nonproliferasi multilateral seperti Missile Technology Control Regime and the
Nuclear Supplier Group (NSG) dan juga menjadi bagian dalam Treaty of
Tlatelolco yang menetapkan bahwa kawasan Amerika Latin sebagai kawasan yang
bebas senjata nuklir.
Brazil ternyata mengembangkan pengayaan uranium pada tahun 2004
di fasilitas nuklir Resende di luar Rio de Janeiro. Hal ini menimbulkan
ketidakpercayaan terhadap Brazil karena apabila berkaitan dengan pengayaan
uranium maka hal tersebut dapat mengarah ke tujuan damai yakni untuk
pembangkit listrik tenaga nuklir atau malah mengarah ke tujuan militer yakni
senjata nuklir. Pemerintah Brazil berkeras bahwa pengayaan uranium yang
dijalankannya untuk memproduksi bahan bakar untuk reaktor daya sehingga
tercipta kemandirian energi. Namun, pemerintah Brazil tidak memberikan akses
penuh kepada IAEA (International Atomic Energy Agency) ke lokasi pengayaan
karena alasan keamanan dan aspek kepemilikan teknologi nuklir Brazil pada
tahun 2005. Dan akhirnya negosiasi antara Brazil dan IAEA berakhir pada bulan
Oktober 2005 ketika pemerintahan Bush memberikan dukungan kepada Brazil

51

dengan menegaskan bahwa inspeksi terbatas sudah cukup untuk Brazil dalam
mematuhi kewajiban internasionalnya. Brazil telah membangun dua pembangkit
tenaga nuklir kontroversial di Rio de Janeiro. Bahkan pembangkit tenaga nuklir
ketiga telah dibangun pada pertengahan 2009 dengan estimasi dana sebesar US$
4,5 milyar.83 Diversifikasi energi yang diusahakan Brazil merupakan sebuah usaha
dalam mencari energi alternatif dalam memperoleh energi yang murah dan bersih,
meskipun pembangunan tenaga nuklir tidak bebas dari tantangan akan ancaman
yang dapat diakibatkan dari radiasi nuklir tersebut.

2. Kerjasama Biofuel Antara Amerika Serikat Dan Brazil Dalam MoU


to Advance Cooperation on Biofuels
Beberapa tahun terakhir, tingginya harga minyak dan gas alam,
ketidakstabilan

negara penghasil minyak, dan pertimbangan perubahan iklim

global telah menambah ketertarikan dalam pengembangan etanol dan jenis biofuel
lain sebagai alternatif dari produk petrolium.84 Faktor-faktor tak menentu tersebut
dapat menambah kekhawatiran pemerintah untuk persediaan energi dalam negeri.
Mengurangi ketergantungan minyak adalah tujuan bersama Amerika Serikat dan
banyak negara di Amerika Latin dan Karibia, yang mereka merupakan kawasan
negara-negara yang mengimpor minyak. Pada kawasan Amerika Latin, Brazil
83 Brazils Energy Matrix and Prospect For Energy Integration With South America, hal 9
dalam http://www.deloitte.com/assets/Dcom-Brazil/Local%20Assets/Documents/Ind
%C3%BAstrias/Petr%C3%B3leo%20e%20G%C3%A1s/Brazil's%20Energy%20Matrix.pdf,
diakses 17 Januari 2013.

84 Clare Ribando Seelke dan Brent D. Yacobucci, 2007, Ethanol and Other Biofuels: Potential
for U.S.-Brazil Energy Cooperation, summary, dalam
http://fpc.state.gov/documents/organization/93476.pdf, diakses 8 Desember 2012.

52

merupakan negara eksportir energi dan meningkatkan produksi dan penggunaan


etanol berbasis tebu.
Pada tanggal 9 Maret 2007, pemerintah AS dan Brazil sepakat untuk
bekerja sama dalam memajukan biofuel (MoU between US and Brazil to Advance
Cooperation on Biofuels). Kedua negara merupakan dua produsen ethanol
terbesar di dunia. Pangsa pasar biofuel kedua negara secara global sangat besar
terutama berhubungan dengan etanol. Setiap tahun terjadi peningkatan produksi
etanol di kedua negara. Sehingga tak mengherankan ketika AS dan Brazil menjadi
contoh sebagai negara yang sukses dalam pengembangan biofuel terutama etanol.
GRAFIK 3.2 Pasar Dunia Produksi Etanol Brazil dan AS

Sumber: Market Research Analyst85

85 Market Research Analyst, World Ethanol Production Forecast 2008-2012, dalam


http://www.marketresearchanalyst.com/2008/01/26/world-ethanol-production-forecast2008-2012/, diakses 26 Maret 2013.

53

Jika produksi etanol kedua negara digabungkan maka kedua negara


mendominasi sekitar 89% pasar etanol dunia (lihat Bab 1 hal 5). Hal ini terlihat
pada Tabel 3.1 di bawah bahwa produksi etanol dunia didominasi oleh Amerika
Serikat dan Brazil. Kemampuan kedua negara dalam memproduksi etanol dalam
jumlah besar membuktikan bahwa kedua negara mempu untuk mengembangkan
energi alternatif secara nyata dan tetap mempertahankannya dan bahkan
mengembangkannya dalam bentuk kebijakan dalam negeri
TABEL 3.1 Produksi Etanol Dunia oleh Negara ( dalam juta galon)

Nama negara
Brazil
U.S.
China
India
Perancis
Spanyol
Jerman
Kanada
Indonesia
Italia
Dunia

2008

2009

4.988
6198
1.075
531
285
163
319
230
76
50
16.21

5.238
6858
1.101
551
301
184
381
276
84
53
17.574

Tahun
2010
5.489
7518
1.128
571
317
206
444
322
92
55
18.934

2011

2012

5.739
8178
1.154
591
333
227
506
368
100
58
20.293

5.990
8838
1.181
611
349
249
569
414
108
60
21.653

5
Sumber: Data diolah dari Market Research Analyst86
Kerjasama kedua negara memiliki tujuan yakni untuk mengkatalisis
penggunaan biofuel di wilayah kedua negara dan sekitarnya, diversifikasi pasokan
energi, demokratisasi pasar energi, memperkuat kesejahteraan ekonomi,
memajukan pembangunan berkelanjutan dan melindungi lingkungan.87

86 Ibid

54

Diversifikasi pasokan energi ini berkaitan dengan usaha-usaha kedua


negara untuk memperbanyak varian bahan bakar di dalam negeri masing-masing.
Penggunaan etanol selain sebagai diversifikasi energi dapat menjadi sebagai suatu
komoditas baru sehingga mampu untuk membuka lapangan kerja baru dan usaha
baru. Di AS, laporan dari Urbanchuk memperkirakan setiap 50 juta galon setahun
maka akan membuka 40 lapangan kerja langsung dan 578 lapangan kerja tidak
langsung. 88 Energi inipun dapat dikembangkan di negara-negara industri ataupun
negara-negara berkembang. Hal ini disebabkan perkembangan etanol dapat
diiringi dengan perkembangan agrikultur. Hal ini dapat dilihat dari AS dan Brazil.
AS yang menggunakan jagung untuk membuat etanol, sedangkan Brazil
menggunakan tebu untuk membuat etanol.
Penggalakkan penggunaan biofuel juga dapat berdampak pada
lingkungan yakni pengurangan emisi karbon dioksida sebagai gas rumah kaca
penyebab utama dari pemanasan global. Biofuel merupakan energi yang ramah
lingkungan sebab penggunaan biofuel dapat menyempurnakan pembakaran atau
oksidasi dalam performa mesin kendaraan. Selain itu, siklus karbondioksida dapat
diserap kembali oleh tanaman basis biofuel sehingga mengurangi karbondioksida
secara berkelanjutan. Apabila pemakaian biofuel telah digalakkan di seluruh dunia
maka diharapkan pengurangan emisi gas rumah kaca dapat dikurangi.

87Kedutaan AS, US-Brazillian Cooperation in the Development of Biofuels dalam


http://www.americanambassadors.org/index.cfm?
fuseaction=publications.article&articleid=122,diakses pada tanggal 5 Desember 2012.
88 Gregory M. Perry, et.al, Op.Cit, hal 15.

55

Dimulai dari kerjasama AS dan Brazil dalam memajukan biofuel dan


negara-negara lain dapat ikut berpartisipasi dalam pertimbangan lingkungan
dalam penggunaan bahan bakar transportasi. Bukan hanya negara maju atau
negara industri yang ikut berperan tetapi negara-negara berkembang juga dapat
ikut berperan dalam mengurangi gas emisi rumah kaca dan menghasilkan
komoditas energi terbarukan di saat yang sama. Inilah tujuan kerjasama kedua
negara dalam hal demokratisasi pasar energi. Sehingga bukan hanya negara
industri, tetapi negara agraris dan negara berkembang yang belum tentu memiliki
sumber daya energi mampu untuk memiliki sember daya energi terbarukan.
Dari tujuan kemitraan biofuel yang dibangun oleh AS dan Brazil,
dapat diuraikan pendekatan yang kedua negara coba untuk kembangkan yakni:
4) Bilateral: berbagi teknologi antara Amerika Serikat dan Brazil.
5) Negara-negara ketiga: studi kelayakan dan bantuan teknis untuk
membangun industri biofuel dalam negeri di negara-negara ketiga
ditujukan untuk mendorong investasi sektor swasta di biofuel.
6) Global: upaya multilateral untuk memajukan perkembangan global
biofuel.
Dalam usaha berbagi teknologi, kedua

negara

telah

saling

mengirimkan para ilmuwan yang kapabel dalam biofuel untuk mendatangi lab-lab
penelitian kedua negara. Pada September 2007, sebagai bentuk nyata pelaksanaan
MoU Biofuel, Brazil mengirimkan delegasi peneliti untuk berkunjung ke
laboratorium-laboratorium besar Amerika Serikat seperti US DOE Labs di NREL
(National Renewable Energy Laboratory/ Laboratorium Nasional Energi
Terbarukan) dan Agricultural Research Services Labs milik USDA di California.

56

Dan ilmuwan AS juga mengunjungi 12 institusi yang meneliti mengenai biofuel di


Rio de Janeiro.89 Kerjasama teknologi kedua negara dapat menemukan dan
mengembangkan teknologi dalam efisiensi produksi biofuel, seperti generasi
kedua ethanol. Material yang dikembangkan dalam penelitian dan pengembangan
etanol tersebut yakni potongan kayu dan rumput.90 Diharapkan bahwa dari
material seperti potongan kayu ataupun potongan rumput mampu menghasilkan
biofuel sehingga produksi biofuel tidak bergantung pada tanaman panen seperti
tebu di Brazil dan jagung di AS.
MoU antara Brazil dan AS ini memperdalam usaha mereka dalam
mengembangkan sumber energi berkelanjutan, bersih dan dapat diandalkan. Pada
4 Maret 2008, setahun setelah MoU tersebut, UNICA, Institut Brazil dan APEXBrazil (Brazilian Trade and Investment Promotion Agency) datang bersama pada
diskusi meja bundar dalam Washington International Renewable Energy
Conference (WIREC) 2008 dalam rangka menelaah perkembangan MoU.91
Pembicaraan dalam pertemuan WIREC tersebut berpusat pada bagaimana AS dan
pemerintah Brazil dalam kemitraan dengan sektor privat dapat bekerjasama untuk

89Helena L. Chum, 2008, Brazil-US Bilateral MoU Biofuels hal 4-5, dalam
http://www.biofuels.apec.org/pdfs/apec_200810_chum_brazil_us_bilateral.pdf, diakses 5
Desember 2012.
90 International Centre for Trade and Sustainable Development (ICTSD), US, Brazil
Agree to Cooperate on Biofuels-But Leave Out Tariffs, dalam
http://ictsd.org/i/publications/7843/, diakses 5 Desember 2012.
91 Alam M. Wright, 2008, Brazil-US Biofuels Cooperation: One Year Later, hal 1
dalam http://www.wilsoncenter.org/sites/default/files/brazil.biofuels.wirec.pdf, diakses 5
Desember 2013.

57

melanjutkan dan memajukan MoU dalam visi ambisiusnya dan membantu untuk
mengekspansi produksi global biofuel.
Pertemuan WIREC, Direktur Institut Brazil Paulo Sotero berperan
sebagai moderator dan membuka debat dengan memberi catatan signifikansi
politik antara kerjasama biofuel Brazil-AS.92 Presiden Lula mendeskripsikan
biofuel sebagai jawaban atas tantangan energi pada abad ke 21 yang menjadi
kepentingan konvergen kedua negara. Kepentingan konvergen itu dapat termaktub
dalam kerjasama biofuel meskipun spektrum politik kedua negara berbeda.
AS dan Brazil juga berusaha mempromosikan biofuel di negaranegara ketiga terutama di kawasan Amerika Latin. Negara-negara tersebut yakni
Republik Dominika, El-Salvador, Haiti dan St Kitts and Nevis. Keempat negara
tertarik untuk mengembangkan industri biofuel di negaranya. Kerjasama terbuka
antara AS dan Brazil untuk mengambangkan kolaborasi dalam pengembangan
biofuel juga menarik negara lain setelah keempat negara sebelumnya, yakni;
Guatemala, Honduras, Jamaica, Guenia-Bissau, dan Senegal. 93 Para partner dalam
MoU AS-Brazil bekerja untuk mengembangkan industri lokal biofuel untuk
mengurangi dependensi akan bahan bakar impor dan mempromosikan
pembangunan berkelanjutan. Biofuel dapat dikatakan sebagai bahan bakar yang
demokratis sebab pengembangan biofuel dapat dikembangkan di negara-negara

92 Ibid
93 Reno L. Harnish, 2009, Promoting The Use of Renewable Energy Worldwide, hal
12, dalam http://www.state.gov/documents/organization/123400.pdf, diakses 11 Maret
2013.

58

agraris. Sehingga, negara-negara yang tidak memiliki sumber daya alam minyak
fosil tetap dapat memproduksi bahan bakar mereka sendiri dari biofuel.
Dalam usaha multilateral, Amerika Serikat bersama-sama Brazil, Uni
Eropa, Cina, India dan Afrika Selatan bergabung dalam International Biofuel
Forum (IBF).94 IBF merupakan sebuah forum internasional yang mengupayakan
standarisasi internasional mengenai biofuel dan mempromosikan biofuel itu
sendiri. Selain standarisasi, IBF juga menelaah kode atau etika dalam penggunaan
komoditas biofuel. IBF juga berperan dalam mendorong investasi di negaranegara yang memiliki potensi untuk pengembangan industri ini. Brazil sendiri
baru masuk ke IBF pada akhir tahun 2007.
Dengan adanya standarisasi internasional biofuel maka perdagangan
biofuel ke negara lain akan lebih mudah karena setiap negara yang ingin
memperdagangkan produk biofuelnya telah mengetahui standarisasi untuk ekspor
ke negara lain. Hambatan perdagangan pun diharapkan semakin berkurang karena
negara-negara produsen dan konsumen biofuel memiliki standar yang sama
mengenai biofuel itu sendiri. Misalnya, kandungan air dalam etanol yang
diperdagangkan itu memiliki batas atau aturan tertentu apakah jenis anhidrat atau
hidrat.
Perkembangan dari kerjasama biofuel antara AS dan Brazil dalam
memajukan biofuel pada tanggal 9 Maret 2007 telah meluas pada sektor lain yang
berhubungan dengan kerjasama energi terutama dalam hal bahan bakar yakni
Partnership for The Development of Aviation Biofuel atau Kemitraan dalam

94 Alam M. Wright, Op.cit, hal 4-5.


59

Pengembangan

Biofuel

untuk

Penerbangan.95

Kemitraan

dalam

bidang

penerbangan ini merupakan salah satu dari pengembangan dari hubungan bilateral
kedua negara yang terhubung dalam MoU to Advance Cooperation on Biofuels
dan kemudian merambah ke bidang spesifikasi lain seperti armada penerbangan.
Transportasi udara termasuk ke dalam transportasi yang menggunakan bahan
bakar cair yang tinggi energi seperti avtur, dan perhatian akan lingkungan yakni
pengurangan gas emisi rumah kaca dan sadar akan perubahan iklim, yang
menyebabkan kedua negara melakukan kemitraan dalam pengembangan biofuel
untuk bidang penerbangan tersebut.
Sama halnya dengan MoU to Advance Cooperation on Biofuel,
Partnership for The Development of Aviation Biofuel memperkuat sektor privat
dalam pengembangan biofuel penerbangan. Hal tersebut termasuk dukungan
dialog antara United States Commercial Aviation Alternative Fuels initiative
(CAAFI) dengan Brazilian Alliance fo Aviation Biofuels (ABRABA) yang
merupakan aliansi dari sektor privat dalam penerbangan kedua negara. 96
Kemitraan

dalam

pengembangan

biofuel

untuk

penerbangan

tersebut

ditandatangani pada Maret 201197 dan dilanjutkan dengan penetapan MoU on

95 USA Government, Partnership For The Development Of Aviation Biofuels, dalam


http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/uploads/Partnership_Development_Aviatio
n_Biofuels.pdf, diakses 11 Maret 2013.
96 GreenAir, US and Brazilian Government Sign Agreement on Partnership to Develop
Aviation Biofuels, dalam http://www.greenaironline.com/news.php?viewStory=1165,
diakses 11 Maret 2013.
97 Ibid.

60

Aviation Partnership pada tanggal 9 April 2012.98 Dapat dilihat bahwa hubungan
bilateral kedua negara dalam bidang energi terutama biofuel dalam MoU to
Advance Cooperation on Biofuels memberikan perluasan kerjasama dalam
pengembangan energi terbarukan tersebut.
Pada Maret 2011, kerangka MoU to Advance Cooperation on Biofuels
masuk dalam kerangka Strategic Energy Dialogue.99 SED ini merupakan usaha
AS dan Brazil untuk memperluas jangkauan kerjasama ekonomi, bukan hanya
biofuel dari MoU to Advance Cooperation on Biofuels tetapi juga dalam bidang
minyak dan gas alam, hydropower dan energi angin, efisiensi energi, sains dan
nuklir.100 SED ini lebih umum dalam dialog kerjasama energi dalam
pengembangan energi yang untuk perkembangan ekonomi, keamanan energi, dan
transisi ekonomi energi bersih.
D. Perkembangan Industri Biofuel di Amerika Serikat dan Brazil
1. Biofuel di Amerika Serikat
AS sendiri telah mengembangkan etanol sejak embargo minyak pada
tahun 1970-an. Pengembangan dan pengenalan biofuel di AS tidak lepas pada
tujuan AS untuk independensi energi dan mengurangi defisit perdagangan

98 USA Government, Memorandum of Understanding on the Aviation Partnership


dalam http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/Aviation_Partnership_FINAL.pdf ,
diakses 11 Maret 2013.
99 USA Government, Fact Sheet: The U.S. Brazil Strategic Energy Dialogue, dalam
http://www.whitehouse.gov/the-press-office/2012/04/09/fact-sheet-us-brazil-strategicenergy-dialogue, diakses 5 Desember 2012.
100 Ibid.

61

energi.101 Setelah puluhan tahun penelitian, penerimaan konsumen dan


pengembangan pasar maka etanol pun kini telah familiar di AS., Produksi etanol
di AS dapat bertahan karena produksi etanol jagung merupakan program
pemerintah federal, negara bagian dan mandat lokal, dan adanya subsidi produksi.
AS memberikan insentif/subsidi kepada petani agar tanaman jagung yang
dikembangkan ke arah industri biofuel.
Empat negara bagian yakni Minnesota, Hawai, Montana dan Oregon
telah menerapkan bioetanol E-10 di SPBU. Selain itu, etanol E85 juga
diperdagangkan dengan kualifikasi hanya untuk mesin FFv saja. Demi
mempromosikan biofuel itu sendiri pemerintah AS memberikan insentif pajak
terhadap pengguna biofuel dan memberikan insentif pada SPBU untuk menjual
biofuel. Setiap galon etanol di AS disubsidi 45 sen per galon.102 Jadi dengan
penggunaan E10 pemerintah Federal memberikan subsidi sebesar 4,5 sen per
galon. Standar etanol di AS yakni etanol anhidrat atau etanol dengan air kurang
dari 1%.103 Selain E10 dan E85, AS juga telah meningkatkan produk etanol
dengan memperkenalkan E15 (15% etanol dan 85% bensin). EPA (Environmental
Protection Agency) Amerika Serikat secara resmi menerima usulan dari RFS
(Renewable Fuels Assosiation) untuk menyalurkan E15 dan E10 pada SPBU di
101 Gregory M. Perry, et.al, Loc.Cit.
102 James M. Griffin dan Mauricio Cifuentes Soto, U.S. Ethanol Policy: The
Unintended Consequences, The Mosbacher Institute dalam
http://bush.tamu.edu/mosbacher/takeaway/TakeAwayVol3Iss1.pdf diakses 6 Juni 2013.
103Index Mundi, World Ethanol Fuel Production by Year (Thousand Barrel per Day)
dalam,http://www.indexmundi.com/energy.aspx?product=ethanol&graph=production,

62

Amerika Serikat yang telah memenuhi syarat dari EPA. 104 Dengan adanya
keterlibatan RFA, diharapkan akan memberikan kontribusi bagi kemajuan industri
etanol di AS.
RFA merupakan organisasi otoritas dari industri etanol AS yang
menginginkan AS untuk menjadi negara yang lebih bersih, aman dan memiliki
kemandirian energi. RFA yang beranggotakan produsen kecil hingga produsen
besar serta petani telah memberikan sumbangsih yang signifikan dalam
mendorong inisiatif pasar dan memperluas produksi dan penggunaan etanol di
dalam dan luar negeri.105 RFA ini berperan dalam mempromosikan etanol di AS.
Pemerintah AS menginvestasikan $ 800 juta untuk memajukan proyek
biofuel.106 Pemerintah AS memandang bahwa penting untuk memasukkan biofuel
ke dalam rancangan untuk menjaga masa depan energi di AS. Biofuel bukan
hanya sekedar bahan bakar tetapi juga usaha serius AS dalam pengembangan
bahan bakar masa depan. Dengan demikian tak mengherankan jika etanol
dimasukkan dalam kebijakan pemerintah AS dalam bentuk

diakses 27 Maret 2013.


104 United States Environmental Agency, E15 (a blend of gasoline and ethanol)
http://www.epa.gov/otaq/regs/fuels/additive/e15/, diakses 13 April 2013
105 RFA (Renewable Fuel Assosiation), Philosophy: Renewable Fuel Assosiation
dalam http://ethanolrfa.org/pages/philosophy diakses 13 April 2013.
106USA Government Blueprint for A Secure Energy Future, hal 38, dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/blueprint_secure_energy_future.pdf,
diakses pada tanggal 17 Desember 2012.

63

Fakta-fakta utama untuk kemajuan industri etanol AS dapat


digambarkan sebagai berikut:107
1920 -

Alkohol telah digunakan sebagai bahan bakar motor sejak hari awal
industri otomotif.

1930 -

Bensin menjadi tersedia dan murah-Pasar etanol kehilangan


maknanya.

1970 -

Krisis minyak, etanol menjadi lebih mapan sebagai bahan bakar


alternatif.

Mid 1970an - Banyak negara mengembangkan program nasional untuk


mempromosikan produksi dalam negeri Etanol, terutama Brazil.
1980 -

Etanol dilihat sebagai sumber oktan.

1990 -

Amandemen Clean Act disahkan kongres membutuhkan


penambahan oxygenates untuk bensin di wilayah paling
tercemar dengan MTBE dan etanol.

1998 -

Pertumbuhan produksi etanol dalam negeri karena dukungan


dari Pemerintah Federal dan Negara yang mengarah ke subsidi
pajak Etanol dan amanat penggunaan bensin tinggi oksigen.

2001 -

USDA telah menerapkan program bio-energi untuk mendorong


produksi bio-energi (bio-diesel dan etanol).

107 Alberto Peixoto, 2007, The Successful Case of Etanol in The United State dalam
Clean Energy: The Brazillian Etanol Experience, hal 45, dalam
http://www.brazil.org.uk/publications/index_files/cleanenergy.pdf, diakses pada tanggal
14 Februari 2013.

64

2004 -

California,

New

York

dan

Connecticut

menghentikan

penggunaan MTBE meningkatkan dan membangun permintaan


internal, menciptakan insentif untuk industri.
2007

pemerintah AS dan Brazil sepakat untuk bekerja sama dalam


memajukan biofuel yakni melalui MoU to Advance Cooperation
on Biofuels
mandat pemakaian etanol sebesar 9 juta galon pada tahun 2008,
13,2 juta galon pada 2012, 15 juta pada 2015 dan 36 juta pada
2022, melalui Energy Independence and Security Act of 2007
penting bagi pasar etanol.108
Dengan adanya Energy Independence and Security Act 2007 membuat

kebijakan etanol di AS menjadi lebih solid. Hal ini dikarenakan telah ada
dukungan kuat dari pemerintah AS untuk mengembangkan etanol sebagai salah
satu energi alternatif untuk bahan bakar kendaraan. Kebijakan pemerintah AS ini
juga memberikan perlindungan terhadap pengembangan usaha-usaha ataupun
industri yang bergerak di bidang etanol dan industri yang berkaitan dengan
produksi etanol jagung di AS. Industri merupakan penggerak perekonomian AS
dan tpenambahan sektor swasta di bidang energi ini memberikan peluang untuk
pengembangan ekonomi dan juga lingkungan. Selain dapat sebagai usaha baru
bagi masyarakat AS, etanol juga dapat berimbas pada lingkungan sebab etanol
merupakan bahan bakar yang ramah lingkungan dan efisien. Etanol memberikan
warna baru bagi perkembangan energi dan ekonomi serta lingkungan bagi AS.
108 Gregory M. Perry, et.al, Op. Cit, hal 7.

65

Meskipun ada konsensus politik, energy security merupakan tujuan


penting bagi AS, ada sangat sedikit konsensus tentang bagaimana untuk
mencapainya. Perdebatan baru pada pengeboran lepas pantai, perluasan
pengeboran di Alaska, kredit pajak bagi perusahaan minyak Amerika, dan insentif
pemerintah untuk energi terbarukan belum menghasilkan dukungan Kongres
untuk setiap opsi kebijakan tertentu. Tetapi, kebijakan untuk mengkonsumsi
etanol di AS tetap berjalan hingga saat ini. Dalam rangka meningkatkan konsumsi
diproduksi di dalam negeri etanol berbasis jagung, pemerintah AS telah
membentuk tiga kebijakan yakni kredit pajak, tarif impor pada etanol, dan
penetapan target konsumsi biofuel oleh Renewable Fuel Standard (RFS/ Standar
Bahan Bakar Terbarukan).
Kredit pajak atau Etanol Volumetric Ethanol Excise Tax Credit
(VEETC), menyediakan kredit pajak terhadap ethanol campuran atau gasohol
sebesar $ 0,45/galon.109 Tarif impor terhadap ethanol dari luar negeri sebesar $
0,54 per galon dimaksudkan untuk melindungi produsen dalam negeri dari
persaingan etanol oleh perusahaan asing. Renewable Fuel Standard (RFS) yang
didirikan oleh Kongres di bawah Energy Independence and Security Act (EISA)
pada tahun 2007 dan dilaksanakan oleh Environmental Protection Agency (EPA),
mengamanatkan bahwa etanol dan bahan bakar terbarukan lainnya tercampur
dengan bensin sebanyak 13,2 miliar galon pada tahun 2012 dan secara bertahap
akan meningkat menjadi 36 miliar galon etanol yang harus dicampur ke dalam

109 Renewable Fuel Association, diunggah April 2012, http://ethanolrfa.org/pages/taxincentives diakses 13 April 2013.

66

bensin pada tahun 2022.110 Dengan demikian kebjakan etanol di AS tetap


dipertahankan.

2. Industri Biofuel di Amerika Serikat


Berdasarkan pada Renewable Fuels Association pada 26 Maret 2013,
industri etanol di Amerika Serikat telah mencapai 211 perusahaan yang
berkapasitas 14.722,4 juta galon per tahun111 (untuk lebih rinci, dapat dilihat pada
lampiran Daftar Industri Etanol di Amerika Serikat). Ciri khas dari industri etanol
di Amerika Serikat yakni kepemilikan saham oleh petani pada industri etanol
melalui koperasi petani. Namun, pada tahun 2009, terjadi penurunan kepemilikan
saham petani pada pabrik etanol karena masuknya modal dari pemain non-petani.
Tren penurunan saham petani ini diakibatkan akuisisi langsung atau kepemilikan
saham mayoritas koperasi petani oleh firma etanol seperti POET.112
Etanol di AS awalnya agak sulit dalam pengenalan pemakaiannya
pada konsumen pada awal 1980-an karena spesifikasi mesin mobil yang belum
sesuai dengan bahan bakar baru ini. Dengan cepat industri otomotif kemudian
memperbaharui pabrikan komponen sistem bahan bakar mereka sehingga saat ini
semua pabrikan kendaraan kompatibel dengan bahan bakar etanol. 113 Pemakaian
bahan bakar etanol tak hanya sampai pada konsumsi publik saja, bahkan beberapa
110 Clare Ribando Seelke dan Brent D. Yacobucci, Op.Cit, hal 16.
111 RFA, Bio Refinery Locations, dalam http://www.ethanolrfa.org/bio-refinerylocations/, diakses 6 April 2013.
112 U.S. Department of Energy, 2010, Current State of the US Ethanol Industry, hal
13, dalam
http://www1.eere.energy.gov/biomass/pdfs/current_state_of_the_us_ethanol_industry.pdf,
diakses 1 April 2013.

67

tim kompetisi balap nasional dan internasional menggunakan etanol sebab nilai
oktan dan performa mesin yang baik. Pada tahun 2007 di Indiana Racing League
tim-tim yang bertanding menggunakan 100% etanol sebagai bahan bakar resmi.
Dengan demikian penggunaan etanol tidak tertutup pada konsumsi masyarakat
saja pada umumnya, tetapi juga pada ajang-ajang pertandingan balap juga.
Peningkatan penggunaan etanol berjalan seiring dengan kebijakan
pemerintah AS dalam Clean Air Act dan Renewable Fuel Standard yang
mengharuskan peningkatan oksidasi dari mesin kendaraan sehingga mengurangi
polutan. Kebijakan ini membuat permintaan jagung untuk digunakan sebagai
bahan baku etanol juga meningkat. Pada tahun 2012, digunakan 4,8 milyar
gantang jagung pada produksi bruto dengan nilai sebesar $33 milyar.114 Kebijakan
pemerintah AS tersebut memberi kepercayaan bagi pelaku-pelaku pasar untuk
tetap berinvestasi di bidang biofuel.
Pabrik etanol berdekatan dengan produsen jagung dan terpusat
terutama pada daerah Midwest (dapat dilihat di gambar di bawah). Hal ini
terutama dipengaruhi oleh ongkos tranportasi etanol yang dapat diminimalisir jika
jarak antara podusen jagung dan pabrik etanol berdekatan.
GAMBAR 3.1 Pabrik Etanol dan Produsen Jagung di AS

113 RFA (Renewable Fuel Assosiation), Ethanol Fact: Engine Performance, dalam
http://ethanolrfa.org/pages/ethanol-facts-engine-performance, diakses 15 April 2013.
114 John M. Urbanchuk, Contribution of the Ethanol Industry to the Economy of the
United State, hal 3, dalam
http://ethanolrfa.3cdn.net/af18baea89e31dadbe_68m6bnto3.pdf diakses 14 April 2013.

68

Sumber: USDA (United States Department of Agriculture )115


Pengangkutan ke stasiun pengisian bahan bakar digunakan kereta atau
truk atau melalui perahu (jalur air). Penggunaan etanol yang besar seiring dengan
penggunaan bensin yang besar pula. Hal ini menyebabkan daerah pesisir Barat
dan Timur menjadi konsumen terbesar etanol sebab konsumsi akan bensin juga
tinggi.
Etanol berbasis jagung merupakan salah satu pengecualian cerita khas
Washington atas masalah energi. Industri ini secara historis menerima dukungan
dari anggota kedua partai politik. AS telah mendukung penggunaan dan produksi
ethanol untuk bahan bakar mobil sejak tahun 1978. Ada dua alasan untuk
pengaruh politik terhadap industri etanol di AS. Pertama, negara bagian Midwest
yang merupakan penghasil etanol dan jagung memiliki sejumlah besar kekuasaan
di Kongres. Para pejabat dari Midwest tidak memiliki jumlah suara yang banyak
115 USDA (United States Department of Agriculture) dalam Ibid,hal 25.

69

di DPR, tetapi mereka memiliki jumlah representasi yang relatif besar di Senat.
Senator pertanian Midwestern yang bersatu dan mendukung satu sama lain untuk
kepentingan kolektif mereka. Para anggota kongres memiliki kepentingan utama
dalam mempertahankan apa yang mereka anggap menjadi bagian besar ekonomi
negara mereka.116 Jumlah mereka mungkin kecil, tetapi mereka berkomitmen,
sebaliknya, sebagian besar anggota kongres dan perusahaan swasta Amerika
memiliki saham signifikan dalam perdebatan kebijakan etanol.117
Kedua, dukungan publik untuk biofuel tersebar luas. Sebuah jajak
pendapat 2013 oleh Renewable Fuels Association (RFA) menemukan bahwa 64%
persen masyarakat AS percaya bahwa penggunaan etanol dalam negeri akan
mengurangi ketergantungan AS pada minyak impor.118 Dan bahkan 76 % dari
masyarakat AS setuju terhadap pembuatan mesin kendaraan yang mampu
beradaptasi dengan bahan bakar terbarukan dan energi alternatif lainnya selain
minyak seperti baterai, gas alam atau biofuel.

116 Dan Morgan, Powerful Interest Ally to Restructure Agriculture Subsidies,


Washington Post, December 12, 2006, http://www.washingtonpost.com/wpdyn/content/article/2006/12/21/AR2006122101634_pf.html diakses 12 Mei 2013.
117 Michael Grunwald, Why Our Farm Policy Is Failing, Time Magazine, 2
November 2007, http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1680139,00.html
diakses 12 Mei 2013.
118 RFA (Renewable Fuel Assosiation), New Poll Shows Strong Support for
Renewable Fuels Agenda, diunggah 6 Februari 2013, diakses dari
http://www.ethanolrfa.org/news/entry/new-poll-shows-strong-support-for-renewablefuels-agenda/ diakses 12 Mei 2013.

70

Etanol berbasis jagung juga memiliki beberapa lawan, termasuk


kelompok lingkungan dan konservatif fiskal.119 Kelompok-kelompok lingkungan
mengklaim bahwa produksi biofuel menyumbangkan penggunaan berlebih pada
pestisida dan pupuk. Konservatif fiskal tidak menyukai program pemerintah yang
menghabiskan sejumlah dana dari pembayar pajak. Meskipun adanya lawan dari
kebijakan etanol jagung tetapi pembuat kebijakan tetap mempertahankan
kebijakan etanol jagung tersebut. Bahkan berkembang pada industri infrastruktur
etanol itu sendiri seperti perusahaan mobil yang bermesin FFV. Pada tahun 2004,
hanya terdapat 8 model mesin FFV yang beredar di pasar. Dan terjadi
penimgkatan signifikan pada tahun 2008 yakni terdapat 28 model FFV yang
didominasi oleh GM, Chrysler, dan Ford. Mercedes Benz dan Nissan sebagai
pabrik luaran juga memproduksi FFV pada tahun 2008. Mitsubishi dan Toyota
juga memproduksi truk pick-up FFV pada tahun 2009. 120 Sehingga pada tahun
2010 7 juta FFV beroperasi di AS.
Etanol merupakan produk yang mudah terkontaminasi oleh air dan
etanol juga dapat mudah teresidu dalam pipa. Sehingga untuk mengangkut etanol
menuju terminal massal untuk pencampuran etanol dengan bensin membutuhkan
tangki penyimpanan khusus yang kompatibel dalam jumlah besar.121 Meskipun
demikian

saat

ini

telah

dikembangkan

usaha

pemerintah

AS

dalam

119 Carolyn Lochhead, Farm bills foes see Senate as next battle ground, San
Francisco Gate, 28 Juli 2007, http://www.sfgate.com/cgi-bin/article.cgi?
file=/c/a/2007/07/28/MNGMAR8KLK1.DTL&type=printable, diakses 12 Mei 2013.
120 U.S. Department of Energy, Op.Cit, hal 27.
121 John M. Urbanchuk, Op.cit, hal 24.

71

mendistribusikan etanol melalui pipa khusus. Dan di masa depan, penelitian dan
pengembangan etanol di AS dapat menemukan teknologi yang mengefisienkan
produksi etanol.
Penelitian dan pengembangan (Research and Development/ R&D)
etanol di AS ditangani secara tidak langsung oleh Departemen Energi (USDOE)
dan Departemen Agrikultur (USDA). Selain pemerintah federal, banyak negara
bagian yang turut andil dalam R&D bahan baku dan infrastruktur. Pengeluaran
untuk R&D biofuel di AS pada tahun 2012 sebesar $17 milyar.122 Hal ini berkaitan
dengan komitmen pemerintah AS dalam pengembangan biofuel untuk masa depan
energi AS yang lebih baik dan terdiversifikasi.

3. Biofuel di Brazil
Brazil telah menjadi negara yang maju dalam ekspor energi, terutama
biofuel. Brazil mulai meneliti tentang biofuel pada tahun 1905-1920. Dan
akhirnya berhasil menguji coba biofuel ke kendaraan pada tahun 1925.
Pemerintah Brazil telah memulai program pengembangan produksi dan konsumsi
etanol tebu sejak 1975 sebagai tanggapan terhadap embargo minyak yang
memandekkan industri dalam negeri Brazil ketika itu. Program pengembangan
industri etanol itu disebut dengan Pro-Alcohol Programme. Program ini oleh
pemerintah militer ketika itu diharapkan dapat menjadi jawaban terhadap
ketergantungan Brazil terhadap impor minyak dari Timur Tengah. Semangat

122 John M. Urbanchuk, Op. Cit, hal 4.

72

patriotisme pemerintah militer Brazil tidak memperhatikan pertimbangan


lingkungan ataupun aspek ekonomi.123
Kebijakan tersebut cukup efektif dalam mencapai sasarannya. Industri
otomotif di Brazil secara signifikan meningkatkan jumlah produksi kendaraan
yang mengunakan bahan bakar etanol. Puncaknya terjadi pada tahun 1985 dan
1986 dimana sekitar 75% sepeda motor dan 90% mobil dirancang untuk bisa
menggunakan campuran BBM-etanol.
Sejarah pengembangan biofuel sangat lama sebab ketika terjadi
penurunan harga minyak dan ketersediaan pasokan minyak memadai maka biofuel
kemudian kembali menjadi tidak populer. Hal ini terlihat pada tahun 1980-an dan
tahun 1990-an, biofuel mengalami masa suram. Pemerintah sipil yang mengambil
alih pemerintahan militer kurang memberi perhatian pada biofuel sebagai bagian
yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional.
Berikut fakta-fakta mengenai perkembangan biofuel di Brazil dapat
digambarkan sebagai berikut.124
1973-1974-embargo minyak Arab.
1975 -

Harga gula anjlok setelah ekspansi produksi yang cepat padahal


sebelumnya harga melonjak.

123 Tri Budiarto, 2012, Food vs Fuel :Analisis Kepentingan Pangan dan Energi,
dalam http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/02/29/%EF%BB%BF%EF%BB
%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF
%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF
%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB
%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BFfood-vs-fue-439227.html, diakses pada tanggal 7
Desember 2012.

73

November 1975- Proalcool ditetapkan oleh Keputusan Presiden. Program ini


menetapkan target 3 miliar liter (0,8 miliar galon) etanol pada
tahun 1980, sebagian besar dicampur ke gasohol. Untuk
mempromosikan

industri

etanol,

pemerintah

memerlukan

Petrobras, yakni BUMN dalam hal minyak, untuk membeli


etanol dengan jaminan harga dan akan dicampur dengan bensin.
Produksi etanol Brazil kurang dari 1 miliar liter per tahun.
1979 -

Oil shock kedua, produksi tahunan etanol sebesar 3,7 miliar liter
(980 miliar galon).

Juli 1979 -

Tahap 2 dari program Proalcool dicanangkan. Tujuan/mandat


produksi adalah diperluas menjadi 10,7 miliar liter (2,8 miliar
galon) pada tahun 1985. Untuk mempromosikan tujuan ini,
kebijakan baru beberapa didirikan: (1) pompa instalasi etanol
100% atau E100 (sebagai kompetitif gasohol) diberi mandat di
stasiun pengisian bahan bakar, (2) harga satu liter etanol dipatok
pada 59% dari harga per-liter bensin, (3) pemerintah
menyediakan pinjaman berbunga rendah kepada agribisnis
untuk memproduksi etanol, dan (4) pemerintah dan industri
otomotif Brazil mencapai kesepakatan dimana industri otomotif

124 Sumber : Michael Barzelay, The Politicized Market Economy: Alcohol in Brazils Energy
Strategy, Berkeley, 1986; Christoph Berg, World Fuel Ethanol Analysis and Outlook, Kent, UK,
2004; Christoph Berg, World Ethanol Production 2001, Kent, UK, 2001; F. Joseph Demetrius,
Brazils National Alcohol Program: Technology and Development in an Authoritarian Regime,
New York, 1990; Renewable Fuels Association, [http://www.ethanolrfa.org]; Harry Rothman, Rod
Greenshields, and Francisco Roillo Calle, The Alcohol Economy, London, 1983.dari Clare
Ribando Seelke dan Brent D. Yacobucci, Op.Cit, hal 12.

74

akan menghasilkan sebagian besar mobil baru dan truk ringan


dengan spesifikasi kendaraan khusus etanol.
1980 -

Penjualan etanol diizinkan, penjualan kendaraan alkohol murni


dimulai. Produksi etanol tahunan sebesar 5,5 miliar liter (1,5
miliar galon).

1985-1995

Produksi etanol tahunan kira-kira 11 miliar liter (3 milyar


galon).

1986 -

Penjualan kendaraan Alkohol mencapai puncak pada sekitar


90% dari penjualan mobil baru.

1989-1990 -

Naik harga etanol, penurunan harga minyak bumi, dan


penghapusan beberapa subsidi etanol menyebabkan penurunan
pasokan etanol. Penjualan kendaraan dengan mesin khusus
alkohol turun secara substansial.

1998 -

Penjualan kendaraan alkohol murni dihentikan.

1999-

Liberalisasi harga Ethanol. Etanol produksi tahunan di sekitar 11


miliar liter (3 milyar galon).

2003

Kendaraan bahan bakar Fleksibel (FFV) penjualan dimulai.

2006

Produksi etanol tahunan pada 17 miliar liter (4,5 miliar galon).


Penjualan FFV mewakili sekitar 90% dari penjualan kendaraan
baru pada akhir tahun.

2007-

Pemerintah AS dan Brazil sepakat untuk bekerja sama dalam


memajukan biofuel yakni melalui MoU between US and Brazil
to Advance Cooperation on Biofuels.

75

Insentif dan regulasi yang ditetapkan oleh pemerintah Brazil


mendukung bertahannya program etanol tersebut. Agar program ini dapat
terwujud, dua jenis subsidi merupakan intrumen kebijakan yang mendukung.
Subsidi jenis pertama adalah subsidi kepada petani yang menanam tebu untuk
diolah menjadi etanol sehingga mereka memperoleh pendapatan yang berimbang
bila dibandingkan dengan petani yang tebunya diolah menjadi gula. saat ini
pengembangan biofuel di Brazil telah menggunakan mekanisme pasar. Dari
seluruh produksi tebu, 50 persen diantaranya digunakan untuk industri bioetanol,
sedangkan sisanya untuk industri gula. Subsidi jenis kedua adalah subsidi harga
pada stasiun pengisian bahan bakar yang membuat etanol menjadi lebih murah
dari BBM.
Harga etanol/gasohol yang lebih murah 10% dari harga bensin tentu
memberikan pertimbangan untuk konsumen dalam memakai etanol sebagai bahan
bakar mereka.125 Mekanisme pasar dalam penentuan harga etanol membuat
konsumen dapat memilih jenis etanol yang ingin dibelinya. Brazil yang memiliki
33.000 SPBU yang menyediakan berbagai campuran bensin dan etanol serta
etanol murni.126 Total konsumsi Brazil untuk etanol pada tahun 2012 yakni 21,9

125Marcos Watanabe, 2008, Etanol Production in Brazil: Bridging its Economic and
Environmental Aspects, hal.45, dalam
http://www.iaee.org/en/publications/newsletterdl.aspx?id=89,diakses pada tanggal 4
Desember 2012.
126Don Hofstrand, 2009, Brazils Etanol IndustryPart Two, dalam
https://www.extension.iastate.edu/agdm/articles/hof/HofFeb09.html, diakses 14 Februari
2013.

76

milyar liter dan dari 1,9 milyar liter digunakan untuk konsumsi penggunaan lain
yakni permintaan industri kimia.127
Di Brazil terdapat dua tipe etanol yang diproduksi yakni etanol
anhidrat (etanol murni)

dan etanol hidro. Etanol anhidrat adalah jenis yang

dicampur dengan bensin dan etanol jenis ini dapat dipakai oleh kendaraan yang
tidak termodifikasi mulai 10% kandungan gasoline hingga 25% dengan
modifikasi sistem kalibrasi mesinnya agar dapat mendeteksi kandungan oksigen
yang tinggi pada campuran etanol . Sedangkan etanol hidro (E100) merupakan
etanol yang digunakan untuk mesin kendaraan khusus etanol dan mesin flexfuel yang ditenagai oleh gasoline (E25) dan etanol hidro dengan perbandingan
berapapun dalam satu tangki.128
Pemerintah Brazil telah memandatkan campuran etanol 25% di
gasoline per 1 Mei 2010. Namun, mandat itu pun berubah menjadi minimal 18%
hingga 20% melalui keputusan presiden Provisiona Measure (Medida ProvisionaMP)#532 pada tanggal 28 April 2011. Pengurangan mandat campuran etanol
tersebut diakibatkan kurangnya pasokan etanol nasional Brazil.129

127Sergio Barros, Brazil Biofuels Annual Report 2012, hal 13, dalam
http://gain.fas.usda.gov/Recent%20GAIN%20Publications/Biofuels%20Annual_Sao
%20Paulo%20ATO_Brazil_8-21-2012.pdf, diakses pada tanggal 14 Februari 2013.
128 Constanza Valdes, 2011, Op.Cit, hal 2.
129 Sergio Barros, Op. Cit, hal 2.

77

Harga gula yang meningkat dapat membuat subsidi untuk petani yang
tebunya diproses menjadi etanol meningkat tajam. Harga minyak yang menurun
dapat membuat biofuel menjadi tidak kompetitif. Dan perusahaan minyak negara
Brazil Petrobras menemukan ladang minyak baru di sebuah lepas pantai sehingga
Brazil menjadi lebih mampu menyediakan BBM dari dalam negeri. Hal tesebut
dapat

menimbulkan

dilema

sebab

apakah

pemerintah

Brazil

akan

mempertahankan program etanol atau mengeksploitasi ladang minyak baru di


lepas pantai. Namun, pemerintah Brazil mempertahankan kebijakannya dalam
produksi biofuel. Dan eksportasi kekayaan baru itu akan digali untuk kepentingan
rakyat. Hal ini dikemukakan oleh Presiden Lula da Silva pada upacara penerimaan
Chatham House Prize di London pada tanggal 5 November 2009:130
The major oil discoveries in the Pre-Salt reserves will not divert us
from our policy of emphasising the production of biofuels and
electrical energy, our energy system comes mainly from renewable
sources and we shall not succomb to the curse of oil. The large-scale
resources coming from the exsportation of these new riches will go to
tomorrows Brazillians. We shall use them to enlarge social policies,
to improve our educational system, for scientific and technological
research, and in spreading our culture.
Pemerintah Brazil yang tetap mempertahankan program bahan bakar
alkoholnya telah bertransformasi dari paradigma subsidi melalui mekanisme
regulasi pemerintah ke paradigma teknologi dengan proses deregulasi sektor dari
tahun 1996. Dan kemudian subsidi tadi diarahkan ke modernisasi teknologi. 131
130 Brazillian Foreign Policy Handbook Position Adopted by Brazil in 2008-2009, hal
198, dalam
http://www.funag.gov.br/biblioteca/dmdocuments/brazilian_foreign_policy_handbook_po
sitions_adopted_by_brazil_in_2008_2009.pdf, diakses pada tanggal 7 Desember 2012.
131 Marcelo de Almeida Medeiros dan Liliana Froio, Op.Cit, hal 42.

78

Petrobas sendiri melihat bahwa faktor-faktor penggerak untuk adopsi bahan bakar
etanol di Brazil yakni pengurangan ketergantungan minyak, diversifikasi energi,
pengembangan agribisnis, Protokol Kyoto dan peluang kredit karbon.132 Sehingga
produksi ethanol dan biofuel lainnya di Brazil tetap dianggap penting.
Brazil memiliki keunggulan alami dalam produksi etanol. Brazil
memiliki luas lahan yang tidak terpakai atau jarang digunakan yang dapat
dikonversi untuk produksi pertanian. Pemakaian lahan untuk perkebunan tebu di
Brazil hanya sekitar 1,5% dari luas Brazil keseluruhan, yakni sekitar 6,5 juta
hektar.133 Dari 6,5 juta hektar itu, 3,5 juta hektar untuk produksi etanol dan 3 juta
hektar untuk produksi gula. Selain itu, iklim tropis cocok untuk produksi tebu.134
Pada tahun 2012, pemerintah Brazil meluncurkan Rencana Strategi
untuk Sektor Gula-Alkohol (The Plano Estrategico do Sector Sucroalcooleiro)
yang bertujuan untuk memperbaiki beberapa kekurangan, terutama pertimbangan
pasokan eksternal.135 Insentif dalam perencanaan tersebut bertujuan untuk
132 Joaquim Dib Cohen, Bioethanol and Biodiesel in Brazil, hal 46, dalam
http://www.aae.wisc.edu/renk/library/PetrobasEurope_BiofuelsinBrazil.pdf diakses 4
Desember 2012.
133 Soybean and Corn Advisor, Brazil vs United States Ethanol Industries dalam
http://www.soybeansandcorn.com/Brazil-US-Ethanol-Production, diakses pada tanggal
14 Februari 2013.
134Don Hofstrand, Brazil Ethanol Industry, dalam
https://www.extension.iastate.edu/agdm/articles/hof/HofJan09.html, diakses pada tanggal
14 Februari 2013.
135 Marcelo de Almeida Medeiros dan Liliana Froio, Op.Cit, hal 43.

79

memberikan pelatihan agrikultur dalam penggunaan teknik produksi terbaru,


memperbaharui area penanaman untuk pemulihan produktivitas, mengembangkan
produktivitas penggilingan dan mengembangkan teknik produksi etanol selulosa.
Pelatihan teknik produksi terbaru penting dalam pelatihan tenaga-tenaga kerja
supaya memahami teknologi terbaru dalam budidaya tanaman tebu sehingga
menghasilkan hasil yang lebih maksimal. Dengan demikian, diharapkan bahwa
produksi etanol dapat lebih efisien dan dapat berkembang ke arah pasar global.
4. Industri Biofuel Brazil
Industri biofuel di Brazil berkembang seiring dengan kebijakan
pemerintah yang berupaya memperkenalkan etanol sebagai bahan bakar alternatif
semenjak embargo minyak pada tahun 1970-an. Program pengembangan bahan
bakar alternatif tersebut disebut sebagai The National Alcohol Program (Program
Alkohol Nasional) pada tahun 1975 atau biasa disebut Proalcool.136 Untuk
mendukung kebijakan Program Alkohol Nasional ada empat kebijakan yang
dilakukan pemerintah yakni:
a. Menunjuk Petrobas, perusahaan minyak utama di Brazil untuk membeli
produksi etanol
b. Memberikan $ 49 milyar pinjaman bunga rendah untuk merangsang
produksi etanol
c. Memberikan subsidi sehingga harga etanol lebih murah 41% dibandingkan
bensin
d. Semua bahan bakar dicampur dnegan etanol minimal 22 persen (E22).
Harga minyak yang turun pada tahun 1980-an dan tahun 1990-an tidak
membuat pemerintah Brazil berhenti untuk mengembangkan etanol. Meskipun
136 Don Hofstrand, Op.Cit.

80

industri etanol di Brazil pada saat itu sedikit lesu tetapi berkat dukungan dari
pemerintah, para pelaku industri etanol tetap bertahan. Pada tahun 2000,
pemerintah Brazil mengambil langkah besar dengan menderegulasi tentang pasar
etanol serta penghapusan subsidi tetapi mandat terhadap etanol dipertahankan.
Mandat pemakaian etanol dalam pencampuran dengan bahan bakar yakni sekitar
20-25 %. Namun, pada mandat per 1 Juni 2007 yakni 25 persen etanol dalam
bensin. Mandat ini bertahan hingga tahun 2010. Namun, pada tahun 2011 hingga
2012, mandat campuran etanol berubah menjadi minimal 18%-20% melalui
Keputusan Presiden atau Provisiona Measure (MP-#532). Perubahan mandat ini
dipengaruhi kurangnya stok etanol.137
Perkembangan mesin yang dapat memproses bahan bakar etanol baik
E25 sampai E100 terus dikembangkan Brazil. Pada tahun 1979 Fiat 147 adalah
mobil modern pertama yang berjalan pada etanol murni. Pada tahun 1988 hampir
90 persen dari semua mobil baru yang diproduksi di Brazil adalah mobil E100
(alkohol murni). Namun, kekurangan produksi etanol pada awal tahun 1990
menyebabkan penurunan besar dalam permintaan untuk mobil E100. Hal
dikarenakan harga minyak yang turun sehingga pegguanan bensin lebih populer
dibandingkan etanol. Pada tahun 1990, hanya 10 persen dari mobil baru yang
menggunakan khusus bahan bakar E100. Mobil dengan kemampuan dapat
berfungsi dengan bahan bakar etanol E100 tersebut menjadi tidak populer.
Setelah ketidakpopuleran mobil yang menggunakan E100 tidak
membuat pemerintah menyerah untuk tetap menggalakkan penggunaan etanol.
137 Sergio Barros, Op.Cit, hal 3.

81

Pada tahun 2003, diperkenalkanlah lagi mesin flex-fuel vehicles (FFVs) untuk
kendaraan yang dapat bekerja dengan menggunakan bahan bakar campuran bensin
dan etanol (gasohol yang lebih dikenal dengan E20-E25) ataupun etanol murni
(E100). Murahnya harga etanol dibandingkan bensin dan kecanggihan teknologi
FFVs yang menjadi alasan mengapa 90% kendaraan di Brazil menggunakan
etanol dan FFVs.

138

Industri otomotf cepat tanggap dalam melihat peluang yang

kebijakan pemerintah dalam penggalakkan penggunaan etanol di dalam negeri


Brazil.
Industri

tebu

Brazil

membutuhkan

lahan

yang

luas

untuk

memproduksi gula dan etanol. Untuk daerah produksi penanaman tebu di Brazil
memiliki zona tersendiri. Zona agrikultur untuk tebu berpusat di Sao Paulo. Dan
penanaman tebu tersebut tidak menyentuh kawasan hutan lindung Amazon.
Dengan demikian pengembangan etanol dari tebu tidak mengurangi kawasan
hutan lindung Amazon. Hutan Amazon masih bisa menjadi paru-paru dunia,
meskipun Brazil mengembangkan etanol dari tebu. Hal ini dapat dilihat pada
gambar berikut.
GAMBAR 3.2 Zona Agrikultur Tebu di Brazil

138 Arnaldo Walter, et.al, 2008, A Sustainability Analysis of the Brazilian Ethanol,
hal 12 dalam http://www.globalbioenergy.org/uploads/media/0811_Unicamp__A_sustainability_analysis_of_the_Brazilian_ethanol.pdf, diakses pada tanggal 14
Februari 2013.

82

Sumber: USDA (United States Department of Agriculture )139


The Sugarcane Technological Center (CTC) atau Pusat Teknologi
Tebu adalah pusat penelitian terkemuka untuk tebu dan etanol di Brazil. Badan ini
bertanggung jawab untuk lebih dari 80 persen dari kegiatan penelitian dan
pengembangan etanol. Brazil telah melakukan investasi besar dalam penelitian
untuk meningkatkan varietas tebu dalam beberapa dekade terakhir. Penelitian ini
telah menghasilkan varietas yang lebih tahan terhadap kekeringan dan hama,
bersama dengan hasil yang lebih tinggi dan kadar gula tinggi. Selama 30 tahun
terakhir, hasil tebu telah meningkat tiga kali lipat.140
Terdapat 378 pabrik etanol di Brazil, 126 di antaranya merupakan
pabrik produksi etanol saja sedangkan sisanya 252 pabrik merupakan pabrik yang

139 USDA (United States Department of Agriculture ) dalam Sergio Barros, Op.Cit, hal
8.
140 Don Hofstrand, Op.Cit.

83

memproduksi gula dan etanol.141 Dedini Corporation adalah pembangun pabrik


etanol terbesar di Brazil. Mereka sedang mengembangkan sebuah proses yang
dapat mengubah selulosa dari ampas tebu, atasan dan daun menjadi sukrosa untuk
produksi etanol. Teknologi ini memiliki potensi untuk hampir dua kali lipat
produksi etanol dari satu hektar tebu.
Selain Dedini Corporation sebagai pembangun pabrik etanol, maka
adapula perusahaan trader etanol terbesar yakni Copersucar. Copersucar juga
merupakan eksportir etanol. Copersucar berperan dalam pangsa pasar etanol di
Brazil sebesar 22 %.142 Pada tahun 2011-2012, Copersucar mampu menjual etanol
sebanyak 3,7 milyar liter yang 3 milyar liter digunakan untuk pasar domestik dan
sisanya diekspor ke luar negeri. Pada kancah pasar internasional, Copersucar
mampu menunjukkan eksistensinya dengan membuka cabang yakni Copersucar
Asia (Hong Kong), Copersucar Amerika Utara (Tennesse, AS) dan Copersucar
Eropa (Rotterdam, Belanda). Copersucar Amerika Utara memiliki saham di EcoEnergy, sebuah perusahaan dagang etanol di AS.
Selain Copersucar,terdapat pula perusahaan besar yang penting dalam
perdagangan etanol di Brazil, seperti Cosan SA, Odebrecht Transport
Participacoes SA, Camargo Correa Oleo e Gas SA, dan Uniduto Logistica SA.
Cosan SA berintegrasi dengan Shell membentuk anak perusahaan yakni Raizen
yang memiliki kapasitas produksi etanol sebanyak 2,2 milyar liter.143 Meskipun
141 Soybean and Corn Advisor, Op.Cit.
142 Copersucar, http://www.copersucar.com.br/perfil_en.html diakses 12 April 2013
143 Cosan, dalam http://www.cosan.com.br/Raizen diakses 12 April 2013.

84

perusahaan-perusahaan tersebut merupakan saingan tetapi Petrobras sebagai


BUMN Brazil dalam bidang minyak dan energi mengatur jaringan distribusi
etanol dengan lima perusahaan tersebut yakni Cosan SA sebanyak 20%,
Copersucar SA sebanyak 20%, Odebrecht Transport Participacoes SA, 20%;
Camargo Correa Oleo e Gas SA, 10% and Uniduto Logistica SA, 10% dengan
total $58 million.144
Selain perusahaan dagang etanol, organisasi bisnis sektor etanol juga
penting seperti UNICA. UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar/Asosiasi
Industri Tebu Brazil) merupakan organisasi yang mewakili produsen tebu, etanol
dan bioelectricity di Brazil. Anggota UNICA terdiri atas lebih dari 50 % produsen
etanol dan 60 % produsen gula.145 UNICA berperan dalam konsolidasi industri
tebu Brazil sebagai kompleks agroindustri modern dilengkapi untuk bersaing
secara berkelanjutan, di Brazil dan di seluruh dunia, sebagai pemasok etanol, gula
dan bioelectricity. Pada akhir 2007, UNICA membuka kantor internasionalnya di
Washington DC, AS dan juga di Eropa yakni di Brussels.

144 Diana Kinch, Petrobas, 5 partners to set up ethanol network, diunggah 13


November 2010, dalam http://www.marketwatch.com/story/petrobras-5-partners-to-setup-ethanol-network-2010-11-13 diakses 12 April 2013
145 UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar), Profile UNICA, dalam
http://english.unica.com.br/quemSomos/texto/show.asp?txtCode={A888C6A1-93154050-B6B9-FC40D6320DF1}, diakses 8 April 2013.

85

BAB IV
PROSPEK KERJASAMA BIOFUEL ANTARA AMERIKA SERIKAT DAN
BRAZIL
A. Kepentingan Amerika Serikat dan Brazil Dalam Kerjasama Biofuel
Amerika Serikat mengembangkan etanol sejak embargo minyak pada
tahun 1970-an yang mengakibatkan krisis energi terutama terhadap bahan bakar
minyak. Pengembangan dan pengenalan biofuel di AS tidak lepas pada tujuan AS
untuk independensi energi dan mengurangi defisit perdagangan energi.146
Independensi energi dan pengurangan defisit perdagangan ini berhubungan
dengan tidak stabilnya geopolitik minyak terutama di wilayah Timur Tengah.
Independensi energi terutama bahan bakar minyak akan mengurangi
risiko fluktuasi harga apabila terjadi krisis energi maupun defisit perdagangan
energi. Begitu pula dengan Brazil, program Pro-Alcool merupakan kebijakan
pemerintah Brazil dalam mengatasi krisis minyak tahun 1970-an dengan tujuan
mengurangi kebergantungan energi terhadap impor bahan bakar minyak.
Pengembangan etanol di AS merupakan pengembangan komoditas
ekspor baru selain pertimbangan masalah lingkungan. AS menerapkan
penggunaan etanol dalam campuran bahan bakar minyak untuk menggantikan
penggunaan MTBE (methyl tetra buthyl eter). MTBE dan etanol merupakan
komponen yang sering dipakai untuk memperbanyak stok bensin, meningkatkan
nilai oktan, dan penambahan oksigen dalam bahan bakar sehingga menciptakan

146 Gregory M. Perry, Loc.Cit.

86

standar udara yang lebih bersih dengan pembakaran atau oksidasi yang
sempurna.147 Namun, karena produksi MTBE memiliki kekurangan yakni
mudahnya air bawah tanah terkontaminasi oleh MTBE. Pemerintah AS mengganti
MTBE dengan etanol yang memiliki fungsi yang sama untuk meningkatkan nilai
oktan dan kandungan oksigen dalam bensin. Dengan pengembangan etanol juga
membuka lapangan kerja baru sebab pabrik produsen etanol memerlukan tenaga
buruh untuk menjalankan kerja-kerja produksi sehingga menambah sektor bisnis.
MoU antara AS dan Brazil juga membuka kesempatan investasi.
Menurut laporan Bank Sentral Brazil pada tahun 1996, FDI (Foreign Direct
Investment/ Penanaman Modal Langsung Luar Negeri) untuk bidang agribisnis
sebesar $568 juta atau sekitar 6% dari FDI dalam negeri Brazil pada tahun itu.
Dan pada tahun 2007, angka FDI naik dan tercatat $ 22,2 milyar.148 Dari daftar
sepuluh perusahaan terbesar di sektor etanol di Brazil, empat telah memiliki
penyertaan modal asing: Cosan, Bonfim, LDC Bioenergi dan Guarani. Sebuah
perusahaan kelima, Santa Elisa, baru-baru ini bermitra dengan American Global
Foods untuk membentuk National Sugar and Alcohol Company, yang berencana
untuk menginvestasikan $ 2 miliar untuk membangun empat pabrik di Goias dan
Minas Gerais. Brenco (Brazilian Renewable Energy Company) mengumpulkan
147 James McCarthy dan Mary Tiemann, MTBE in Gasoline:Clean Air and Drinking Water
Issues, hal 17 dari http://digitalcommons.unl.edu/cgi/viewcontent.cgi?
article=1025&context=crsdocs, diakses 10 Mei 2013.

148 Wilson Almeida, 2009, Ethanol Diplomacy: Brazil and U.S. in Search of
Renewable Energy dalam Revista Journal, Vol.3, No.3, GCG Georgetown University,
hal 121 diakses dari
http://gcg.universia.net/pdfs_revistas/articulo_140_1260809836496.pdf , diakses 3 April
2013

87

modal $ 2 milyar pada pasar saham untuk berinvestasi di Brazil. Brenco


berencana untuk membangun enam pabrik etanol di perbatasan antara Goias,
Mato Grosso dan Mato Grosso do Sul. Investasi ini merupakan bagian dari
rencana ekspansi ambisius yang bertujuan untuk membuat Brenco menjadi salah
satu perusahaan besar pada sektor ini.
Pada tahun 2015, perusahaan akan memiliki 10 pabrik yang mampu
menghasilkan sekitar 4 miliar galon. Brenco dikendalikan oleh mantan presiden
Petrobras Philippe Reichstul. Dua pabrik Brenco mulai beroperasi pada tahun
2008, dua lagi akan mulai beroperasi pada 2010. Brenco juga mencari mitra untuk
membangun sebuah saluran pipa alkohol (yaitu, pipa etanol) lebih dari seribu
kilometer dari Alto Taquari di Mato Grosso ke pelabuhan Santos di Sao Paulo.
Tapi Brenco telah menekankan bahwa jika perjanjian tidak terpenuhi dalam
pembangunan saluran pipa alkohol, maka mereka akan melaksanakan proyek itu
sendiri, diperkirakan sebesar $ 1 miliar.149 Dengan adanya saluran pipa alkohol
tersebut maka distribusi etanol dapat dilakukan tanpa harus melalui distribusi
melalui jalur darat atau menggunakan truk pengangkut bahan bakar.
Bank investasi AS, Goldman Sachs Group Inc, meresmikan kemitraan
dengan Santelisa Vale SA, sebuah perusahaan tebu-etanol baru terbentuk dari
merger antara Santa Elisa, Vale do Rosario dan tiga pabrik lainnya di So Paulo.
Perusahaan tersebut memulai debutnya dengan penggilingan sebesar 18,5 juta ton
tebu. Goldman Sachs masuk dengan kepemilikan saham sekitar 15%, dan
memberikan kontribusi sekitar $ 400 juta. Perusahaan lain Amerika, Cargill,
149 Ibid.

88

membeli 63% dari fasilitas produksi etanol dari Central Energy Valley's Sapuca
Ltda. (Cevasa) pada bulan Juni 2007, melakukan negosiasi untuk akuisisi unit lain
tahun 2009.150 Selain perusahaan dari Amerika, perusahaan firma swasta dari
London, yakni Infinity, mengumumkan bahwa akan berinvestasi sebanyak $ 110
juta pada Destilaria Itaunas SA, sebuah perusahaan penggilingan etanol di
Espirito Santo, Brazil.151 Dari uraian di atas, investasi di bidang biofuel meningkat
tajam di antaa kedua negara. AS dan Brazil melihat peluang pengembangan
biofuel terutama dalam sektor swasta.
Komitmen antara AS dan Brazil dalam pengembangan etanol telah
memberikan kepercayaan para pelaku industri. Meningkatnya investasi dalam
industri etanol memberikan kepercayaan bahwa industri ini bisa bertahan. Pemilik
modal percaya bahwa pengembangan industri etanol akan memberikan kontribusi
untuk bahan bakar di masa yang akan datang.
Meskipun investasi etanol di Brazil meningkat tetapi produktivitas
etanol sangat relatif. Produktivitas etanol dipengaruhi oleh produktivitas tebu dan
produktivitas tebu dapat dipengaruhi faktor-faktor eksternal seperti musim.
Penurunan produksi tebu akan mempengaruhi pasokan gula dan etanol di Brazil.
Begitu pula di AS yang menggunakan jagung sebagai bahan baku etanol.
150 Ibid.
151 Mark S. Langevin, Energy and Brazil-United States Relations, hal 13, diakses
dari https://doc-04-48docs.googleusercontent.com/docs/securesc/ra53l65rg4s5gt5sdoeedfktkv5m4ctl/f4sruvmin
o4q4k653u906gglf5acdovi/1375272000000/15609208109005993166/083407685846012
46705/0B7MqlY1WLL8eZnJUNGxxZlpSQi1KcGRlYUlOeHRRZw?
e=download&h=16653014193614665626&nonce=qcleoo7jter7c&user=08340768584601
246705&hash=oh6vp85s9vut16864ro44s8rda688ioe pada tanggal 31Juli 2013.

89

Penurunan produksi jagung membuat penurunnan produksi etanol. Kekurangan


pasokan etanol jagung maupun etanol tebu dapat berakibat pada inflasi harga dari
harga komoditas jagung, gula maupun etanol tebu dan etanol jagung. Sehingga
kedua negara melihat celah ini dalam produksi etanol dan kemudian bekerja sama
dalam MoU to Advance Biofuels dengan kepentingan untuk menjaga stabilitas
harga komoditas yang berkaitan dengan produksi etanol di kedua negara.
Pencegahan terhadap inflasi agar tidak terlalu tinggi ini penting
terhadap stabilitas harga bahan pokok seperti jagung di AS dan gula di Brazil.
Dengan adanya MoU biofuel antara AS dan Brazil diharapkan akan menjaga
stabilisasi harga komoditas jagung dan gula serta pasokan domestik etanol di
kedua negara. Meskipun pada akhirnya akan terjadi inflasi akibat faktor lain
seperti harga jagung dunia atau harga gula dunia yang meningkat tetapi
diharapkan inflasi terhadap bahan pangan dan etanol tidak terlalu tinggi di AS
maupun Brazil.
Meskipun MoU biofuel ini dimaksudkan untuk menjaga stabilitas
harga komoditas yang berkaitan dengan etanol, tetapi lebih mengkhusus dengan
agar menjaga harga etanol di kedua negara tetap murah.152 Harga etanol tebu
Brazil kadang terpengaruh oleh harga gula. Apabila harga gula tinggi maka harga
dan pasokan etanol tebu juga berpengaruh. Hal ini disebabkan tebu yang tadinya
yang ingin diolah jadi etanol tidak jadi diolah, dan produsen lebih memilih
memproduksi gula karena etanol menjadi tidak kompetitif. Begitupun dengan
etanol jagung yang dipengaruhi oleh harga jagung. Meskipun banyak faktor yang
152 Marcelo de Almeida Medeiros, Op.CIt, hal 45.

90

mempengaruhi harga pangan seperti jagung dan gula, namun hubungan antara
etanol dan bahan pangan tersebut tetap saja ada. 153 Hal ini dapat dilihat pada
grafik 4.1
GRAFIK 4.1 Harga Energi dan Jagung AS Tahun 2005-2012

Sumber: US EIA (United States Energy Information Administration), 2012;


Hofstrand, 2012.154
AS mengimpor etanol untuk menjaga pasokan etanol sehingga tidak
mempengaruhi harga jagung. Dengan demikian melalui MoU biofuel antara AS
dan Brazil, kedua negara dapat saling mengekspor etanol untuk menjaga pasokan
etanol dan harganya di pasar internal kedua negara.

153 Nathalia Monteiro, et.al, Understanding The Link Between Ethanol Production an
Food Prices, hal 15, dalam
http://www.pensaconference.org/vii_pensa_conference/flash/pdf/10/SUS
%2022%20aprov.pdf, diakses 10 Mei 2013.
154 US EIA (United States Energy Information Administration) dalam Hofstrand, D,
2012, Ethanol Supply Chain Profitability, Ames, Iowa: Agricultural Marketing
Resource Center, Iowa State University dalam Philip Abbott, 2013, Biofuel Binding
Constraints and Agricultural Commodity Price Volatility, Februari 2013, dalam
http://www.nber.org/chapters/c12808.pdf, diakses pada 30 Mei 2013.

91

Pada tahun 2006 hingga 2010, Brazil mengimpor etanol dalam jumlah
yang kecil, namun pada tahun 2011 meningkat tajam yakni sebesar $841 juta. 155
Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, kondisi keuangan dan cuaca
yang buruk menyebabkan penurunan dalam produksi tebu yang menjadi bahan
baku utama yang digunakan untuk etanol di Brazil. Kedua, perkembangan di
pasar gula global yang mengakibatkan harga gula tinggi sehingga mendorong
produksi hanya untuk ekspor gula saja dan produksi etanol menjadi tidak
kompetitif. Ketiga, perkembangan pasar etanol AS dengan mandat persyaratan
lingkungan yang ketat menyebabkan harga premium untuk etanol Brazil, sehingga
produsen etanol Brazil lebih tertarik untuk mengekspor etanol ke AS. Brazil
kemudian

mengimpor

etanol

jagung

AS

untuk

mengisi

kembali

ketidakseimbangan pasokan etanol domestik Brazil. Bahkan karena kekurangan


pasokan etanol, pemerintah Brazil mengurangi mandat campuran etanol dari 20%25% menjadi minimal 18 % (lihat Bab III hal 76).
Penggunaan etanol Brazil di AS dapat mengurangi kebergantungan
pada konsumsi besar-besaran pada etanol jagung yang dapat memengaruhi harga
bahan pokok. Dengan menggunakan etanol Brazil yang 25% lebih murah daripada
jenis etanol jagung AS, Amerika Serikat dapat menghemat anggaran, menghindari
kekurangan jagung atau fluktuasi harga yang besar, dan mencapai otonomi energi
yang lebih besar.156 Tetapi dalam pengembangan etanol diperlukan lahan yang
luas. Sedangkan di Amerika Tengah dan Karibia memiliki lahan tidur yang luas
155 US International Trade Commission, 2012, Brazil: Competitive Factor in Brazil
Affecting U.S. and Brazilian Agricultural Sales in Selected Third Country Markets ,
Investigation No. 332-524 USITC Publication 4310, hal 2-24, dari
http://www.usitc.gov/publications/332/pub4310.pdf , diakses 11 Mei 2013.

92

sehingga potensial untuk pengembangan etanol.157 Negara-negara di Amerika


Tengah dan Karibia berpeluang sangat besar dalam pengembangan biofuel.
Adanya MoU biofuel antara AS dan Brazil dapat pula dilihat sebagai
usaha pendekatan AS kepada Brazil. Brazil merupakan negara negara yang
menonjol di kawasan Amerika Latin. Bahkan, Menteri Luar Negeri AS pada
waktu pemerintahan Bush, Condoleezza Rice mengemukakan bahwa Brazil
merupakan aktor yang penting bukan hanya dalam kawasan tetapi juga secara
global.

158

Selain itu, pendekatan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Brazil

dapat ditafsirkan sebagai kebijakan populis Amerika Serikat dalam mengurangi


ketegangan hubungan antara negara-negara di kawasan Amerika Latin dan untuk
berurusan dengan pemerintah di kawasan tersebut. Karena hubungan AS dan
negara-negara di kawasan Amerika Latin belum terjalin dengan baik padahal
mereka berada pada satu kawasan yakni Benua Amerika. Berbeda dengan AS,
Brazil sendiri memiliki hubungan yang cukup dekat dengan banyak negara di
kawasan Amerika Latin.
Brazil di bawah pemerintahan Lula dan begitu pula di bawah
kepemimpinan Roussef telah banyak membantu negara-negara yang berada di
kawasan Amerika Latin seperti Venezuela, Ekuador, Bolivia dan Kolombia (kasus
156 Raul Zibechi, 2007, United States and Brazil: The New Ethanol Alliance, hal 2, dari
http://dspace.cigilibrary.org/jspui/bitstream/123456789/26436/1/United%20States
%20and%20Brazil%20-%20The%20New%20Ethanol%20Alliance.pdf?1, diakses pada
tanggal 9 Mei 2013.
157 Ibid.
158 Alam M. Wright, Loc.Cit.

93

perlawanan terhadap organisasi teroris dan pengedar narkoba). Brazil juga turut
berperan aktif dalam stabilisasi di Haiti melalui PBB. 159 Dengan melihat bahwa
hubungan Brazil dengan negara Amerika Latin lainnya yang dapat dikategorikan
sebagai hubungan yang baik. Maka untuk membangun kembali hubungan dengan
negara Amerika Latin, AS memandang dapat menggunakan Brazil sebagai
jembatan untuk membangun kembali hubungan dengan negara-negara Amerika
Latin.
Pendekatan lain dari MoU tersebut yakni pendekatan ke negara-negara
ketiga untuk studi kelayakan dan bantuan teknis untuk membangun industri
biofuel dalam negeri di negara-negara ketiga ditujukan untuk mendorong investasi
sektor swasta di biofuel. Pada bulan Agustus 2007, sebagai Presiden Lula
mengambil tur enam-hari Meksiko, Amerika Tengah dan Karibia untuk
mempromosikan perjanjian produksi biofuel.160 Sosialisasi penggunaan biofuel di
kawasan Amerika Latin disambut baik oleh negara-negara Amerika Latin seperti
Ekuador dan Bolivia. Menurut MoU, Brazil akan mentransfer teknologi pertanian
dan industri ke sejumlah negara berkembang seperti Honduras, Nikaragua, Costa
Rica, Panama Haiti dan Republik Dominika.161 Pendekatan yang dilakukan AS
dan Brazil terhadap negara-negara berkembang dapat dimulai melalui kerjasama
biofuel tersebut.

159 Ibid, hal 6.


160 Clare Ribando Seelke dan Brent D. Yacobucci , Op.Cit, hal 24
161 Wilson Almeida, Loc.cit.

94

Pengenalan dan pengembangan biofuel di negara-negara ketiga


merupakan bagian dari tugas Brazil. Jika ada negara berkembang yang ingin
mengembangkan biofuel maka Brazil membuka kerjasama produksi biofuel.
Perusahaan Brazil telah meakukan bisnis peralatan dalam produksi etanol untuk
Kolombia, seperti mesin penyulingan, dan membangun pusat distribusi etanol.
Jamaika juga termasuk ke dalam jejaring unit industri etanol Brazil. 162
Pengembangan etanol di negara-negara berkembang dapat dilihat sebagai usaha
Brazil dan AS untuk mendapat pasokan etanol untuk mengantisipasi kekurangan
etanol di kedua negara. Seperti yang diungkapkan oleh Presiden Lula pada saat
konferensi setelah penandatanganan MoU163, "If we fund projects to produce
biodiesel and ethanol in poorer countries, and then the richer countries buy
biodiesel thats produced there, then well see that investments put into those
countries have produced results, and even more important, generated jobs."
Investasi di negara-negara berkembang juga akan memberikan efek
positif terhadap citra AS dan Brazil dalam menciptakan lapangan kerja di negaranegara berkembang terutama di negara kawasan Amerika Latin yang menjadi
fokus pengembangan biofuel AS dan Brazil. Dengan demikian hubungan AS dan
brazil dengan negara-negara di kawasan Amerika Latin memasuki era baru yang
lebih harmonis.
MoU biofuel antara AS dan Brazil selain dapat menjadi jembatan
untuk memperbaiki hubungan AS dengan negara-negara Amerika Latin, juga
162 Ibid.
163 International Centre for Trade and Sustainable Development (ICTSD), Loc.Cit.

95

dapat mengurangi pengaruh Venezuela di kawasan tersebut. Venezuela selama


pemerintahan Hugo Chavez merupakan negara yang sangat anti terhadap
Amerika. Brazil menggunakan istilah biofuels diplomacy ataupun ethanol
diplomacy sebagai alat diplomatik dan ekonomi untuk meningkatkan profilnya di
Amerika Latin serta di seluruh dunia. Ethanol diplomacy bukan hanya tertuju
pada sasaran di negara-negara Amerika Latin, tetapi juga negara-negara di Afrika
seperti Ghana, Angola, Mozambik, dan Kenya.164 Hal ini tentu saja membuktikan
bahwa pengaruh ethanol diplomacy yang dijalankan oleh kedua negara mampu
menembus hingga belahan bumi lainnya.
Presiden Chavez yang melihat peningkatan produksi dan pemakaian
biofuel di Amerika Latin menyerang kerjasama biofuel AS-Brazil dengan
argumen bahwa biofuel dapat meningkatkan harga pangan dan menyakiti rakyat
miskin. Presiden Chavez mengatakan bahwa Taking corn away from people and
the food chain to feed automobiles" is "a terrible thing (Mengambil jagung dari
masyarakat dan rantai makanan merupakan hal yang kejam). Presiden Chavez
tidak setuju dengan penggunaan jagung untuk dijadikan etanol di AS.

165

Presiden

Venezuela itu takut isu biofuel ini akan mengurangi pengaruhnya di kawasan
Amerika Latin dan dengan isu tersebut AS-Brazil akan mengambil hati negaranegara di Amerika Latin. Padahal Venezuela meningkatkan pengaruh politiknya di
kawasan Amerika Latin dengan ekspor energi bersubsidi negara OPEC dengan
164 Ibid, hal 122.
165 Washington Times, Chaves ethanol ire runs out of fuel diunggah 18 April 2007,
dalam http://www.washingtontimes.com/news/2007/apr/18/20070418-100356-1289r/?
page=all, diakses 10 Mei 2013.

96

negara tetangga Venezuela.166 Usaha yang dilakukan oleh Presiden Chavez melalui
kebijakan energi terhadap negara tetangganya tersebut dapat digolongkan ke
dalam usaha oil diplomacy.
Presiden Lula da Silva menyerang balik Presiden Chavez dua hari
sebelum Energy Summit yang diadakan pada 16 April 2007 di Venezuela yang
menyatakan bahwa "We have a huge territory, not only in Brazil, but in all South
American countries, and Africa, which can easily produce oil seeds for biodiesel,
sugar cane for ethanol, and food at the same time 167 (Kita memiliki wilayah
yang luas, tidak hanya Brazil, tetapi semua negara Amerika Latin, dan Afrika yang
dengan mudah dapat memproduksi minyak biji untuk biodiesel, tebu untuk etanol
dan makanan pada saat yang sama).
Kerjasama biofuel tersebut menguatkan komitmen AS dan Brazil
untuk mengembangkan biofuel. Dengan demikian akan membuat banyak negara
percaya dan menaruh harapan akan keberhasilan biofuel. Di awal April 2007,
walaupun Chavez mengkritik etanol, salah satu sekutunya, Presiden Correa dari
Ekuador menandatangani kerjasama produksi biofuel dengan Brazil. Dan juga
pemerintahan Morales di Bolivia ikut mendukung produksi biofuel. Persaingan
antara Brazil dan Venezuela untuk memimpin kawasan Amerika Latin menjadi
tegang. Pada Agustus 2007, Presiden Lula mengadakan tur 6 hari di Meksiko,
Amerika Tengah, dan Karibia, untuk mempromosikan kerjasama produksi biofuel,
166 Brian Ellsworth, Chavez, Lula clash over ethanol at energy summit, diunggah 16
April 2007, dalam http://www.reuters.com/article/2007/04/16/us-venezuela-summitidUSN1630731320070416, diakses 5 Mei 2013.
167 Ibid.

97

sedangkan Presiden Chavez mengunjungi Argentina, Bolivia, Ekuador dan


Uruguay untuk penandatanganan kerjasama minyak dan gas.
Akan

tetapi,

kesepakatan

etanol

dapat

menjanjikan

saling

menguntungkan bagi Amerika Serikat dan Brazil, Amerika Latin, dan berpotensi,
seluruh dunia. Jika dieksekusi dalam semangat kemitraan dan didanai dengan
sungguh-sungguh, bisa memiliki dampak regional dan global yang signifikan pada
pengembangan pasar etanol, perubahan iklim dan kemampuan negara-negara
miskin untuk bertahan guncangan harga minyak.
Brazil dan Amerika Serikat membantu untuk mendanai studi
kelayakan untuk menilai kebutuhan biofuel setiap negara Amerika Latin dan
potensi produksi biomassa, dengan perhatian khusus untuk keamanan pangan dan
lingkungan. Dengan demikian akan membantu tetangga terdekat dan termiskin
kedua negara di Karibia dan Amerika Tengah menghidupkan kembali industri gula
tebu hampir mati mereka sehingga mereka dapat menghasilkan etanol mereka
sendiri. Saat ini hampir semua etanol yang mereka jual adalah produk olahan dari
Brazil. Akses yang mudah terhadap etanol asing yang bahkan meskipun produksi
dalam negeri meningkat merupakan komponen penting untuk memenuhi target 35
miliar galon biofuel AS pada tahun 2017 yang tidak dapat dipenuhi oleh etanol
jagung AS sendiri.168 Peluang kerjasama biofuel tersebut secara tidak langsung
menyentuh lini pencapaian kebijakan pemerintah AS dalam memenuhi kuota
mandat etanolnya.
168 Richard G. Lugar, Brazil-U.S. Ethanol Pact: Benefits Greatly Outweigh Costs,
diterbitkan 9 April 2007, http://lugar.senate.gov/energy/press/articles/070409interest.cfm
diakses 5 Desember 2012.

98

Kepentingan AS dan Brazil dalam MoU biofuel tidak hanya untuk


pasar internal mereka ataupun kawasan tetapi juga untuk kepentingan global yakni
dengan standarisasi biofuel dalam lingkup internasional. Standarisasi pemasaran
dan pemakaian biofuel dalam suatu negara bisa berbeda-beda. Perbedaan tersebut
berupa jenis biofuel yang diperbolehkan oleh pasar internalnya dan pencampuran
atau blend antara bensin dan etanol. Misalnya di AS, etanol yang dipasarkan
merupakan jenis anhidrat atau etanol dengan air kurang dari 1%.169 Dan persentase
etanol dan bensin yakni E10 (10% etanol, 90% bensin), E15 (15% etanol, 85%
bensin), dan E85 (85% etanol, 15% bensin). Sedangkan di Brazil, campuran
etanol dan bensin minimal 18-20% dan E100 (etanol murni).
Dengan adanya standarisasi biofuel maka negara-negara penghasil
biofuel dapat memasarkan komoditas biofuelnya dengan mudah sebab telah ada
standarisasi dan mekanisme yang sama dari komitmen masing-masing negara
pengekspor dan pengimpor biofuel. Dengan demikian akan tercipta efisiensi dan
efektivitas pasar global biofuel. Demi kelancaran tujuan tersebut, Brazil masuk
sebagai anggota IBF (International Biofuel Forum) pada tahun 2007. IBF
merupakan forum yang menyediakan mekanisme dialog antara produssen utama
dan konsumen biofuel yang memiliki kepentingan dalam penciptaan pasar
internasional untuk produk biofuel, yang akan berkontribusi pada pencapaian
efisiensi yang lebih besar dalam hal produksi, distribusi dan penggunaannya. 170

169 Index, Mundi, Loc.Cit.


170 Kedutaan Brazil di London, dalam
http://www.brazil.org.uk/press/pressreleases_files/20070301.html, diakses 5 Mei 2013

99

Dan untuk standarisasi dan etika dalam kerjasama AS dan Brazil tersebut
melibatkan National Institute of Meteorology, Standards and Industrial Quality of
Brazil (INMETRO) dan U.S. National Institute of Standards and Technology
(NIST).171 Dengan terlibatnya berbagai badan negara AS dan Brazil maka standar
yang diharapkan dapat tercapai.
Dari diskusi yang dilakukan oleh IBF akan dimasukkan usulan ke ISO
(International Standards Organization) untuk membuat standar baku atas biofuel.
ISO akan membuat kerangka standar biofuel sesuai dengan tinjauan anggota ISO
dan pemangku kepentingan serta mengikuti pada kerja yang telah dilakukan IBF.
Pada 31 Desember 2007, IBF mengumumkan sebuah White Paper Internationally
Compatible Biofuel Standards yang diprakarsai oleh AS, Brazil dan Uni Eropa,
yang merupakan berfokus pada kebutuhan standar yang ada agar kompatibel
dengan satu sama lain.172 Dalam paper tersebut tidak menyebutkan harmonisasi
standar internasional yang mungkin atau dibutuhkan oleh pasar.173 Pencapaian

171 Brazil Council, Memorandum of Understanding Between the Government of the


Federative Republic of Brazil and the Government of the United State of America to
Advance Cooperation on Biofuels, dalam
http://www.brazilcouncil.org/sites/default/files/MOUtoAdvanceCooperationonBiofuels
%20-Mar092007.pdf, diakses 18 Maret 2013
172 Brazil, European Union dan United States of America, White Paper in
Internationally Compatible Biofuel Standards, dalam
http://ec.europa.eu/energy/res/biofuels_standards/doc/white_paper_icbs_final.pdf diakses
pada 11 Mei 2013.
173 World Energy Council, 2010, Biofuels: Policies, Standards and Technologies, hal
64, dari http://www.worldenergy.org/documents/biofuelsformatedmaster.pdf diakses 11
Mei 2013.

100

standarisasi biofuel tersebut dapat dilihat sebagai standarisasi biofuel ketiga aktor
utama dalam pembuatan White Paper ICBS terhadap biofuel dunia.
ISO telah membentuk komite untuk biofuel cair di bawah ISO/TC
28/SC 7 dan kelompok kepentingan telah bertemu pada bulan Januari 2009 di
Brazil dengan pembicaraan mengenai kesimpulan dari White Paper ICBS.174
Komite ISO/TC 28/SC 7 memiliki peran yang berfokus pada pengumpulan
informasi dan pemantauan yang dikerjakan untuk pengembangan standar
internasional biofuel di masa yang akan datang. Pada tahap awal, Komite telah
menyepakati Lingkup Standarisasi di bidang kriteria keberlanjutan untuk
produksi, rantai suplai, dan penerapan bioenergi yang mencakup aspek
terminologi dan berkaitan dengan keberlanjutan bioenergi. Dapat dilihat bahwa
berawal dari MoU to Advance Cooperation on Biofuels antara AS dan Brazil telah
memberikan dampak yang besar pada perkembangan standarisasi biofuel itu di
dunia.
Brazil melihat pengembangan biofuel bukan hanya mengenai soal
komitmen untuk masalah tuntutan lingkungan global, namun hal tersebut dapat
menempatkan Brazil pada posisi strategis melalui etanol sebagai produk sumber
energi alternatif. Kebijakan Pro-Alcool Brazil melampui kepentingan sektor
tertentu, bukan saja kebanggaan nasional, ingin menunjukkan kepada dunia
bahwa ketergantungan minyak dapat diatasi dan Brazil ingin bertindak sebagai
pemimpin internasional dalam pengembangan biofuel untuk pengurangan

174 Ibid.

101

ketergantungan minyak tersebut.175 Dan Brazil dengan AS bersama-sama untuk


mempromosikan biofuel di negara lain.
Perkembangan kerjasama biofuel antara AS dan Brazil juga membuka
kesempatan UNICA (Brazilian Sugarcane Industry Association) untuk membuka
cabangnya di Washington DC pada tahun 2007.176 UNICA memiliki peran dalam
konsolidasi promosi akan industri tebu yang dapat menghasilkan gula, etanol dan
bioelectricity. Pembukaan kantor cabang UNICA sebagai aktor dalam
perkembangan biofuel di Brazil membuktikan bahwa Brazil dan AS serius dalam
mengembangkan biofuel di kedua negara dan mempromosikannya ke dunia.
Namun, dibalik semua kepentingan bersama AS dan Brazil untuk
memajukan biofuel, terdapat masalah atau klas antara AS dan Brazil dalam
masalah perdagangan etanol di kedua negara. AS menetapkan tarif atas etanol
Brazil yang masuk ke AS sebanyak $ 0,54 per galon. Tarif tersebut belum
termasuk pajak pertambahan nilai sebesar 2,5 % yang dikenakan pemerintah AS
terhadap etanol Brazil.177 Sedangkan MoU to Advance Cooperation on Biofuels
antara AS dan Brazil tidak menampung masalah tarif. Namun, Presiden Bush
mengelak dengan mengatakan bahwa tarif yang ditetapkan merupakan aturan
pemerintah dan baru akan kadaluarsa pada tahun 2009. Pertimbangan atas
penghapusan atau penetapan tarif dan subsidi ini akan menjadi kewenangan dari
175 Marcelo de Almeida Medeiros dan Liliana Froio, Op.Cit, hal 41.
176 UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar), Op.Cit.
177 International Centre for Trade and Sustainable Development (ICTSD), US
Ethanol Tariffs, Subsidies Come to an End, diunggah 23 Januari 2012, dalam
http://ictsd.org/i/news/biores/123461/, diakses 6 April 2013

102

Kongres untuk memutuskannya.178 Namun, pada kenyataannya, tarif tersebut


diperpanjang pada akhir 2010 dan bertahan hingga akhir 2011. 179 Padahal tarif
tersebut dapat menghambat perdagangan etanol dari Brazil ke AS.
Dari sejarah Amerika sendiri, tarif telah menjadi isu penting karena
melibatkan politik, ekonomi, diplomasi dan ideologi yang dipegang oleh AS.180
Tarif menjadi tameng dalam ketahanan ekonomi untuk membangun bangsa dan
melindungi perekonomian AS dari agresor eksternal. Demikian pula dengan tarif
atas etanol Brazil, AS menerapkannya untuk melindungi produsen etanol dalam
negeri.
Pemberlakuan tarif terhadap etanol Brazil tidak membuat Brazil
kehilangan akal untuk tetap menjual komoditas energinya. Brazil tetap
mengekspor etanol ke AS secara langsung dan juga melalui perantara. Dalam hal
perantara, Brazil menggunakan kebijakan AS terhadap negara-negara Karibia
dalam Dominican Republic-Central America-United State Free Trade Agreement
(CAFTA-DR) yang menghilangkan hambatan perdagangan yakni tarif bagi
produk etanol.181 Jamaika termasuk negara yang tidak dikenakan tarif impor oleh
pemerintah AS. Brazil memanfaatkan CAFTA-DR tersebut dengan mengekspor

178 Ibid.
179 Ibid.
180 Alexander De Conde, et.al, 2002, Encyclopedia of American Foreign Policy, 2nd ed,
Volume 3, New York: Charles Scribners Sons, hal 531.
181

Clare Ribando Seelke dan Brent D. Yacobucci, Op.cit, hal 5.

103

etanol hidrat ke Jamaika, sedangkan Jamaika akan memproses ulang (dehidrasi)


etanol hidrat dari Brazil untuk kemudian diekspor ke AS.
Kongres AS tidak memperpanjang ketetapan akan tarif etanol Brazil
tersebut per 1 Januari 2012. Bahkan Kongres AS juga tidak memperpanjang kredit
pajak $ 0,46 per galon etanol.182 Dengan adanya penghapusan tarif dan kredit
pajak tersebut maka pasar bebas akan perdagangan etanol kedua negara dapat
tercapai. Penghapusan tarif dan kredit pajak tersebut dapat didorong oleh ekspor
etanol AS yang meningkat drastis pada tahun 2011 (Lihat Bab IV Hal 121,
sebagian besar impor etanol Brazil berasal dari AS). Kekhawatiran pemerintah AS
terhadap perlindungan petani dalam negeri dapat berkurang sebab etanol yang
dihasilkan AS sangat dibutuhkan Brazil. Begitupun sebaliknya, etanol Brazil
sangat dibutuhkan Brazil untuk menjaga pasokan etanol dalam negeri bergantung
pada kebutuhan masing-masing.
Dari klasifikasi kepentingan nasional menurut Holsti (Lihat Bab II hal
23), penulis melihat bahwa kepentingan Brazil dalam kerjasama biofuel dapat
digolongkan core value sebab biofuel merupakan hal yang vital bagi Brazil dan
merupakan

identitas

Brazil

sebagai

salah

satu

negara

yang

sukses

mengembangkan biofuel di negaranya. Hal ini dapat dilihat pada usaha-usaha


Brazil dalam mempromosikan biofuel mulai dari kawasan Amerika Latin hingga
di dunia. Dengan adanya kerjasama biofuel tersebut memberikan eksistensi yang
mapan bahwa Brazil akan mengembangkan biofuel ke arah yang lebih
182 John Mathews, The End of The U.S. Ethanol Tariff, diunggah 6 Januari 2012,
dalam http://english.unica.com.br/opiniao/show.asp?msgCode={61FB3F4B-1644-4445B05F-577F96C38BED}, diakses 17 Desember 2013.

104

berkembang lagi apalagi dengan bekerjasama dengan AS sebagai penghasil


biofuel nomor wahid.
Kepentingan nasional AS sendiri dapat digolongkan dalam klasifikasi
middle range objectives sebab penulis melihat bahwa AS bekerjasama dengan
Brazil dalam kerjasama biofuel ingin meningkatkan investasi di bidang energi
alternatif sebagai sebuah bisnis baru dan ketika melihat sasarannya yakni Brazil
sebagai negara yang berhasil mengembangkan biofuel tentu memberikan
kepercayaan yang besar pada pemilik modal AS untuk berinvestasi di Brazil.
Biofuel sebagai bisnis yang masih belum populer seperti bisnis lainnya tentu
mendapati tantangan berupa pasar, sedangkan Brazil bisa menjadi pasar biofuel
AS. Dengan adanya kerjasama biofuel tentu lebih memberikan pondasi terhadap
hubungan dagang kedua negara dalam memasok biofuel.
Kepentingan nasional konvergen kedua negara dalam menstandarisasi
biofuel dapat diklasifikasikan sebagai long range goals sebab kedua negara ingin
mencapai sesuatu yang ideal yakni keinginan untuk mewujudkan ketertiban dalam
pasar biofuel dunia. Sehingga adanya standarisasi biofuel yang diusahakan kedua
negara mampu memberikan sumbangsih terhadap standar biofuel dunia dan
memberikan ketertiban dalam pemasaran biofuel. Dalam hal long range goals ini,
kerjasama biofuel kedua negara dalam MoU to Advance Cooperation on Biofuels
tidak memiliki jangka waktu akan berakhir kapan. Sehingga dapat dilihat bahwa
kedua negara berkomitmen untuk mengembangkan biofuel pada jenjang waktu
tak terbatas.

105

B. Prospek Kerjasama Biiofuel Antara Amerika Serikat dan Brazil Terhadap


Energy Security Kedua Negara
Amerika Serikat
Energy security merupakan istilah yang melekat erat pada suatu
kondisi terjaminnya pasokan kebutuhan energi minyak dan gas dalam suatu
negara demi keberlangsungan dan eksistensi negara tersebut, baik secara ekonomi
maupun pertahanan.183 Presiden Bush pada tahun 2006 mengatakan bahwa AS
sangat bergantung pada minyak.184 Energy security merupakan isu yang penting
bagi AS yakni kapasitas ekonomi AS untuk menghindari atau menahan guncangan
pasokan energi. AS merupakan negara yang sangat haus akan energi.
Presiden Barrack Obama, dalam pidatonya di Andrews Air Force
Base, mengatakan bahwa ...talk about Americas energy security, an issue thats
been a priority for my administration For decades weve talked about how our
dependence on foreign oil threatens our economyyet our will to act rises and
falls with the price of a barrel of oil. (..energy security Amerika, sebuah isu yang
menjadi prioritas dalam pemerintahan saya... Selama beberapa dekade kita
membicarakan tentang bagaimana kebergantungan minyak asing mengancam
ekonomi kitanamun keinginan kita untuk bertindak naik dan turun dengan harga
minyak per barel).185 Pidato Presiden Obama tersebut menekankan pada perlunya
183

Karen Agustiawan, Loc.Cit.

184

Alam M. Wright, Loc.cit.

185 Barak Obama, Remarks by the President on Energy Security, Pidato di Andrews
Air Force Base, 31 Maret 2010, dari http://www.whitehouse.gov/the-pressoffice/remarks-president-energy-security-andrews-air-force-base-3312010 diakses 10 Mei
2013

106

kebijakan proaktif pemerintah AS dalam masalah energi daripada tindakantindakan reaktif.


Energy security telah menjadi perdebatan politik yang memiliki arti
penting. Hal ini dapat disebabkan oleh tiga hal, yakni lonjakan harga minyak,
bukti berkurangnya pasokan minyak dan masalah lingkungan. 186 Lonjakan harga
minyak merupakan tantangan dan hambatan untuk melakukan kerja-kerja
produksi. Ketika AS mengalami resesi pada tahun 2008, harga minyak mencapai
$147 pada Juli 2008.187 Lonjakan harga minyak tersebut diakibatkan banyak hal.
Yakni permintaan akan minyak sangat tinggi sedangkan suplai minyak tidak
mencukupi, terjadi peristiwa politik dan konflik di kawasan yang memproduksi
minyak dan menurunnya nilai tukar Dollar AS akibat krisis.188 Dengan demikian
dapat mempengaruhi kestabilan energy security AS.
Selain hal tersebut, energy security menjadi isu penting ketika sering
terjadi ketidakstabilan politik dari negara-negara pengekspor minyak. Sebagian
besar minyak yang berasal dari negara-negara yang terletak di wilayah geopolitik
tidak stabil seperti Timur Tengah atau Afrika. Banyak memiliki pemerintahan
otoriter dan rentan terhadap kudeta dan perang, dan ketidakstabilan yang mungkin
186 Simon Langlois-Bentrand, The Politics of Ethanol: Getting Lost o the Road to
Energy Security Paper dipresentasikan pada International Studies Association Annual
Covention 2009, New York, hal 3 dari situs
http://citation.allacademic.com//meta/p_mla_apa_research_citation/3/1/4/2/1/pages31421
9/p314219-2.php diakses pada tanggal 10 Mei 2013.
187 Ibid.
188 US Energy Information Adminitration, dalam
http://www.eia.gov/energyexplained/index.cfm?page=gasoline_fluctuations diakses 11
Mei 2013.

107

menghentikan ekspor minyak ke AS. Selain itu, beberapa negara eksportir minyak
seperti Iran dan Venezuela memusuhi AS. Perencana strategis Amerika khawatir
bahwa negara-negara asing dapat menahan ataupun mengancam akan memotong
pasokan minyak ke Barat.189 Dan hal tersebut dapat berdampak sangat berat bila
dilihat dari latar belakang AS yang kecanduan energi.
Kebijakan etanol berbasis jagung dapat merugikan energy security
Amerika. Pertama, bahwa peningkatan produksi etanol berbasis jagung dari
kebijakan ini memiliki terlalu sedikit efek pada konsumsi bensin dan impor
minyak untuk pembenaran terhadap pengeluaran besar-besaran dari hasil pajak.
Kedua, peningkatan ketergantungan pada etanol berbasis jagung menimbulkan
banyak risiko terhadap masa depan keamanan energi AS. Ketiga, mengklaim
bahwa tarif AS pada etanol impor mencegah impor lebih murah dan lebih efisien
atas etanol tebu dari Brazil. Dengan mencegah impor etanol asing, AS dapat
membuat energi lebih mandiri tetapi kurang akan energi yang aman.
Dari total 139.500.000.000 galon bahan bakar terbakar pada tahun
2009, 10,6 miliar adalah etanol. Karena etanol hanya menghasilkan sekitar 66%
energi setara sebanyak volume bensin 10,6 miliar galon etanol offset sekitar 7,2
miliar galon bensin.190 Harapan bahwa etanol akan mampu mengimbangi sejumlah
besar konsumsi minyak berjalan ke beberapa masalah, yang pertama dari yang
merupakan "blend wall" atau batas campuran etanol. Undang-undang Federal
189 Simon Langlois-Bertrand, Op.Cit, hal 2.
190 Craig Cox and Andrew Hug, Driving Under the Influence: Corn Ethanol & Energy
Security, Environmental Working Group, June 2010, hal 1, dari
http://static.ewg.org/files/EWG-corn-ethanol-energy-security.pdf diakses 27 Mei 2013.

108

melarang campuran bahan bakar yang mengandung etanol lebih dari 10% untuk
mobil standar. Karena untuk campuran yang lebih tinggi diperlukan mesin khusus
yakni FFV. Konsentrasi yang lebih tinggi telah dilaporkan secara permanen dapat
merusak mesin mobil. Setelah semua bahan bakar di pasaran mengandung etanol
10%, konsumsi etanol tidak dapat meningkat tanpa peningkatan secara
keseluruhan dalam konsumsi bahan bakar pula. 191 AS sendiri belum siap untuk
menggunakan etanol murni sebagai bahan bakarnya sebab masih terhambat pada
industri kendaraan untuk memproduksi kendaraan dengan mesin FFV.
Jika pembuat kebijakan berharap untuk mengimbangi 10% dari bensin
AS dengan etanol, total lahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan jagung akan
menjadi 22 juta hektar.192 Untuk menempatkan ini dalam perspektif AS memiliki
sekitar 165 juta hektar lahan pertanian.193 Bahkan jika semua lahan pertanian di
AS dialihkan ke produksi jagung untuk tujuan menciptakan etanol, hanya 75%
dari kebutuhan AS untuk minyak akan terpenuhi. Pengalihan dari seluruh Amerika
Serikat lahan tanaman untuk produksi etanol akan menyebabkan lonjakan harga

191 Harry de Gorter dan David Just, The Social Costs and Benefits of Biofuels: The
Intersection of Environmental, Energy and Agricultural Policy Applied Economic
Perspectives and Policy, vol. 32. no. 1, (2010), hal 66, dari
http://aepp.oxfordjournals.org/content/32/1/4.full.pdf+html diakses 27 Mei 2013.
192 David Pimentel, Ethanol Fuels: Energy Balance, Economics, and Environmental
Impacts are Negative, Natural Resources Research, Vol. 12, No. 2, (June 2003), 129,
dari http://www.energyjustice.net/files/ethanol/pimentel2003.pdf diakses tanggal 23 mei
2013.
193 United States, Department of Agriculture, Farm Characteristics: 1997, 2002, 2007
Census of Agriculture, dari http://www.ers.usda.gov/statefacts/us.htm. diakses 12 Mei
2013.

109

pangan dan membuat AS sepenuhnya tergantung pada makanan negara-negara


pengekspor.
Dengan adanya kerjasama biofuel antara AS dan Brazil dalam
hubungan bilateral kedua negara terutama mengenai ekspor impor etanol,
pengalihan semua lahan pertanian untuk produksi jagung tidak akan terjadi.
Sebab, ketika AS kekurangan pasokan etanol dari dalam negeri, maka AS dapat
mengimpor sejumlah besar etanol dari Brazil. AS merupakan destinasi ekspor
etanol cukup besar bagi Brazil. Dengan adanya pasokan etanol dari Brazil maka
pasokan etanol dalam negeri AS dapat terjaga sesuai dengan kepentingan nasional
yang dibahas sebelumnya.
TABEL 4.1 Volume Ekspor Etanol Brazil ke AS
Tahun
Volume (ribu liter)
2007
644.573
2008
1.519.426
2009
270.190
2010
309.935
2011
655.889
2012
2.048.651
Sumber: Diolah dari UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar )194
Meskipun dengan adanya impor etanol dari Brazil, AS masih
membutuhkan rantai penggunaan minyak bumi dalam produksi etanol hingga
konsumen. Contohnya, bila produksi dalam negeri, bahan bakar fosil dikonsumsi
194 UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar) , dari
http://www.unicadata.com.br/pdfHstExp.php?
idioma=2&tipoHistorico=9&idTabela=1403&produto=Ethanol&agregacao=3&destino=
United+States&periodicidade=civil&ano=2011&unidadeMedida=Volume,
http://www.unicadata.com.br/pdfHstExp.php?
idioma=2&tipoHistorico=9&idTabela=1403&produto=Ethanol&agregacao=3&destino=
United+States&periodicidade=civil&ano=2013&unidadeMedida=Volume diakses 10 Mei
2013.

110

untuk mengangkut jagung dari lapangan ke kilang dan untuk memberikan etanol
dari kilang ke konsumen. Lalu proses penyulingan melibatkan panas intens untuk
menyaring etanol murni. Dengan demikian, proses produksi etanol berbasis
jagung dapat meningkatkan ketergantungan AS terhadap minyak impor dan
mungkin tidak mengurangi banyak ketergantungan AS pada minyak dalam jangka
panjang. Dan juga jika pun etanol tersebut diimpor dari Brazil, pengangkutan
menuju negara tujuan yakni AS tetap memerlukan bahan bakar fosil. Meskipun
demikian produksi dan konsumsi etanol di AS mengalami peningkatan yang
signifikan. Hal ini dapat dilihat dari Grafik 4.2
GRAFIK 4.2 Produksi Dan Konsumsi Etanol Di AS (juta galon)
16
14
12
10
Produksi

Konsumsi

6
4
2
0
2000

2007

2008

2009

2010

2011

2012

Sumber: Diolah dari US EIA (Energy Information Administration)195


AS bukan satu-satunya negara dengan kebijakan dukungan etanol.
Sejak pertengahan 1970-an, Brazil telah melakukan investasi besar-besaran dalam
195 US EIA, dalam http://www.eia.gov/tools/faqs/faq.cfm?id=90&t=4 diakses pada 31
Juli 2013.

111

memperluas infrastruktur etanol. Brazil, seperti AS, mulai mendorong ke arah


etanol sebagai cara untuk memperluas kemandirian energi dalam menanggapi
embargo minyak OPEC 1973. Brazil mulai mensubsidi produksi etanol tebu dan
mengadopsi langkah-langkah untuk mendorong perusahaan mobil untuk
memproduksi mobil yang bisa berjalan pada etanol 100%. 196 Untuk melindungi
pengembangan sektor etanol domestik, AS menempatkan tarif $ 0,54 pada etanol
impor. Etanol tebu Brazil memiliki keunggulan kompetitif yang signifikan atas
Amerika etanol berbasis jagung. Tarif etanol AS tetap menjadi hambatan utama
untuk peningkatan skala besar dalam konsumsi AS etanol tebu.
Etanol tebu biayanya yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan
etanol berbasis jagung karena beberapa alasan. Pertama, pemeliharaan tebu lebih
mudah dibandingkan jagung. Tebu tidak memerlukan sistem irigasi yang rumit
untuk berkembang dan memerlukan sedikit pupuk dan pestisida dibandingkan
jagung. Kedua, ia mampu tumbuh selama musim panas Brazil dan musim dingin.
Ketiga, produk sampingan dari tebu dapat digunakan untuk menghasilkan listrik,
mengurangi biaya untuk blender etanol tebu.197 Dengan demikian etanol tebu
mampu meringankan penggunaan listrik.
Ada dua kritik populer etanol tebu Brazil: memperluas produksi etanol
tebu akan membahayakan hutan hujan Amazon dan ketergantungan pada impor
196 James Eaves dan Stephen Eaves, Is Ethanol the 'Energy Security' Solution? The
Washington Post, 3 Oktober 2007, dalam http://www.cato.org/pub_display.php?pub_id=8730,
diakses 23 Mei 2013.

197 Eric Reguly, Its time to kill corn subsidies and go Brazilian, dalam
http://www.theglobeandmail.com/report-on-business/rob-commentary/its-time-to-kill-cornsubsidies-and-go-brazilian/article1324954/ diakses 23 Mei 2013.

112

etanol tebu Brazil berpotensi sangat berbahaya bagi energy security AS sebagai
ketergantungan pada sumber-sumber asing energi lainnya.198 Namun, hal tersebut
hanya menjadi opini. Ekspansi etanol tebu tidak mungkin untuk mempengaruhi
pengalihfungsi lahan hutan Amazon sebab mayoritas penanaman tebu sangat jauh
dari Amazon. Hal ini terutama disebabkan karena Amazon kurang baik dalam
keadaan iklim dan tanah yang dibutuhkan untuk produksi tebu skala besar. 199
Selain itu, produksi tebu baru cenderung pada lahan pertanian yang sebelumnya
dikhususkan untuk padang rumput. Ini berarti bahwa petani yang memutuskan
untuk mulai memproduksi tebu tidak pindah ke Amazon untuk membersihkan
lahan, melainkan mencari lahan pertanian yang telah kehilangan kemampuannya
dan menumbuhkan tebu di atasnya.200 Sehingga kekhawatiran perluasan lahan
pertanian tebu di Amazon dapat dibantah.
Untuk menjawab argumen kedua adalah penting untuk menunjukkan
bahwa ada perbedaan antara mempromosikan kemandirian energi Amerika dan
mempromosikan energy security. Pendukung kemandirian energi melihat
ketergantungan pada mitra perdagangan internasional sebagai hal yang berisiko,
karena tidak semua negara memiliki kepentingan geopolitik yang sama seperti
198 Chris McGowan, Biofuel Could Eat Brazils Savannas & Deforest the Amazon,
The Huffington Post, 14 September 2007,dalam http://www.huffingtonpost.com/chrismcgowan/biofuel-could-eat-brazils_b_64466.html, diakses 23 Mei 2013.
199 Wilson International Center, The Global Dynamics of Biofuels, April 2007, dari
http://www.wilsoncenter.org/topics/pubs/Brazil_SR_e3.pdf. diakses 23 Mei 2013.
200 The Economist, Lean Green and Not Mean, diunggah 26 Juni 2008,
http://www.economist.com/world/americas/displaystory.cfm?STORY_ID=11632886,
diakses 23 Mei 2013.

113

Amerika Serikat dan ketika kepentingan telah berlawanan sedangkan AS sangat


bergantung pada etanol dari negara lain maka hal tersebut dapat berisiko bagi
energy security AS.
Kemandirian

energi

dan

keamanan

energi

kadang-kadang

digabungkan. Namun, sangat mungkin bagi suatu negara untuk menjadi energi
independen tanpa energi yang aman. Diversifikasi sumber energi daripada
independensi adalah jalan terbaik untuk keamanan energi karena memberikan
ketahanan untuk memasok guncangan dan memungkinkan pemulihan tanpa
kerusakan permanen. Pembuat kebijakan harus menghindari mengganti satu
sumber energi primer dengan yang lain, mereka malah harus mengadopsi strategi
penyebaran risiko karena adanya diversifikasi energi tersebut.
Penggunaan impor etanol tebu Brazil tidak berisiko. Industri etanol
tebu Brazil sudah mapan dan telah beroperasi terus selama 40 tahun terakhir.
Secara geopolitik, pemerintah Brazil sangat stabil dan kepentingannya sebagian
besar sejalan dengan Amerika Serikat. Sejak Brazil mencari pasar yang lebih
untuk ekspor energi dan juga mengimpor berbagai produk akhir dari AS, gagasan
bahwa Brazil akan memutuskan secara sepihak menghentikan perdagangan
biofuel dengan AS tidak masuk akal. Karena AS menjadi mitra dagang Brazil
yang penting terutama dalam hal perdagangan etanol. Etanol tebu Brazil harus
menjadi komponen dari setiap strategi yang mencoba untuk meningkatkan
diversifikasi energi untuk menjamin energy security.
Kerjasama biofuel antara AS dan Brazil mempererat hubungan dagang
dan keinginan kedua negara untuk diversifikasi energi yang telah dicanangkan.

114

Diversifikasi energi melalui penggunaan biofuel dapat menjadi salah satu cara
bagi AS dan Brazil dalam penyebaran resiko terhadap energy security yang dapat
terjadi kapan saja. Hal tersebut juga dapat mengurangi kekhawatiran terhadap
pasokan etanol jagung yang sewaktu-waktu dapat berisiko akibat faktor-faktor
alam yang tidak menentu.
Analisis empiris hasil panen jagung menunjukkan bahwa jagung
berfluktuasi ekstrim secara tahunan. Ketergantungan terhadap etanol juga tidak
baik untuk keamanan energi karena banyak faktor yang dapat mempengaruhi
pasokan jagung di AS. Sebuah kegagalan mendadak pada hasil panen jagung
dapat menyebabkan harga etanol meroket.201 Apabila AS menjadi lebih bergantung
pada etanol berbasis jagung akibat kebijakan pemerintah, mereka guncangan
harga menjadi etanol dapat menyebabkan kenaikan harga bahan bakar yang
signifikan. Tiga risiko baru adalah masalah cuaca, penyakit tanaman, dan
peningkatan permintaan pangan.
Sebuah analisis historis hasil panen dan kondisi cuaca menunjukkan
bahwa gangguan besar produksi jagung terjadi pada rata-rata setiap lima tahun. 202
Dua peristiwa iklim utama yang negatif dapat mempengaruhi hasil panen jagung
yakni badai dan kekeringan. Badai besar telah menjadi lebih umum dalam

201 Jad Mouawad, Weather Risks Cloud Promise of Biofuel, The New York Times, 1
July 2008, http://www.nytimes.com/2008/07/01/business/01weather.html, diakses 23 Mei
2013.
202 David Pimentel, Ethanol Fuels: Energy Security, Economics and the Environment,
Journal of Agricultural and Environmental Ethics, Vol. 4, no. 1, (1991), hal 5, dapat
diakses dari http://libgen.org/scimag/get.php?doi=10.1007/bf02229143 diakses pada 27
Mei 2013.

115

beberapa tahun terakhir. Contoh terbaru adalah musim panas 2008 di mana
sebagian besar dari tanaman jagung AS terhapus oleh serangkaian badai intens.
Yang menyebabkan peningkatan besar dalam harga jagung yang diteruskan ke
konsumen dalam bentuk kenaikan harga BBM.203 Saling mempengaruhi antara
harga BBM dan harga jagung tentu berdampak harga etanol.
Penyakit Tanaman tetap menjadi masalah utama bagi petani modern.
Sementara insiden wabah penyakit telah menurun melalui penggunaan teknikteknik pertanian modern (monokultur dan penggunaan pestisida) yang malah
menambah masalah terhadap kerentanan tanaman untuk terjangkit penyakit yang
sama secara meluas dengan sistem monokultur. Terlalu sering menggunakan
pestisida dapat menyebabkan evolusi hama resisten terhadap pestisida, faktor lain
yang dapat menyebabkan penurunan mendadak pada hasil panen jagung.204
Penurunan produktivitas akan menyebabkan harga jagung menjadi meningkat.
Permintaan untuk makanan adalah faktor akhir yang dapat
mempengaruhi hasil panen jagung. Tahun ke tahun persentase kenaikan dalam
hasil panen jagung telah terus menurun. Keuntungan tahunan memuncak sekitar
4% pada tahun 1960 dan sekitar 1,5% saat ini. Permintaan pangan meningkat dari
penduduk dunia tumbuh pada tingkat yang lebih cepat daripada kenaikan rata-rata
hasil panen jagung, ada kemungkinan bahwa akan ada penurunan cepat dalam

203 Jad Mouawad, Loc.Cit.


204 Mark Murphy Henry, et.al, A Call to Farms: Diversify the Fuel Supply, South
Dakota Law Review, Vol. 53, (Fall 2008), dalam
http://www.freepatentsonline.com/article/South-Dakota-Law-Review/181407378.html,
diakses 23 Mei 2013.

116

jumlah jagung yang tersedia untuk konversi menjadi etanol.205 Hal ini dikarenakan
jika permintaan dan jagung meningkat maka biaya produksi untuk etanol akan
bertambah pula. Dengan biaya produksi yang meningkat itu dapat menjadikan
jagung tidak kompetitif dalam pengkonversian ke etanol.
Selain variabel yang dapat mempengaruhi hasil panen jagung, juga
pemanasan global dapat menyebabkan kekeringan akan menciptakan penurunan
struktural dalam hasil panen jagung. Sementara kekeringan selalu menjadi
masalah bagi petani jagung, ilmuwan iklim memprediksi pemanasan global secara
dramatis akan mengurangi hasil panen jagung AS. Pabrik jagung membutuhkan
suhu ideal untuk tetap produktif. Schlenker dan Roberts, dalam sebuah laporan
untuk National Academy of Sciences, menyimpulkan bahwa proyeksi suhu saat
akan melewati temperatur kritis, menyebabkan hasil panen jagung turun drastis. 206
Selama abad berikutnya, hasil panen jagung rata-rata diperkirakan akan turun
sebesar 30-46%, dengan beberapa proyeksi kasus terburuk menempatkan
kehilangan hasil panen pada 63-82%.207 Hal tersebut dapat berakibat pada
ancaman pasokan jagung untuk etanol.
Menghadapi ancaman terhadap pasokan jagung hingga pasokan etanol
jagung yang dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tak menentu dari alam maka
205 James Eaves dan Stephen Eaves, Loc.cit.
206 Wolfram Schlenker and Micahel J. Roberts, Nonlinear temperature effects indicate
severe damages to U.S. crop yields under climate change, PNAS, September 15, vol.
106, no. 37, 2009, hal 15594 dari
http://www.pnas.org/content/106/37/15594.full.pdf#page=1&view=FitH, diakses 23 Mei
2013.
207 Ibid.

117

inilah kesempatan dari Brazil untuk memenuhi kekurangan yang dihadapi oleh
etanol jagung. Melalui kerjasama biofuel antara AS dan Brazil, penelitian untuk
meneliti dan mengembangkan teknologi dalam efisiensi produksi biofuel terutama
dalam memproduksi etanol selulosa generasi kedua yang merupakan etanol
dengan tingkat efisiensi yang tinggi.
Pengurangan kebergantungan AS terhadap impor minyak telah
menunjuk pada hal positif. Hal ini dapat dilihat dari berkurangnya jumlah impor
minyak AS pada grafik 4.3. Namun, penurunan kebergantungan impor minyak AS
ini berhubungan dengan efisiensi energi yang dilakukan dalam negeri sehingga
kebergantungan terhadap impor juga berkurang. Pengurangan impor minyak AS
ini memberikan hal positif pada tujuan AS 30/30 yakni penurunan sebanyak 30%
minyak impor pada tahun 2030. Dengan penggunaan etanol sebagai penambah
pasokan dalam bahan bakar minyak memberika efek positif dalam pengurangan
impor minyak itu sendiri.
Dari Grafik 4.3 terlihat bahwa terjadi penurunan impor minyak AS
pada tahun 2005 sampai tahun 2012. Selisih impor minyak dari tahun 2005
sampai tahun 2012 yakni sebesar 1.127.291 ribu barel atau sebesar 22,5 % dari
tahun 2005 sampai tahun 2012.
GRAFIK 4.3 Impor Minyak AS (ribu Barrel) Tahun 2005-2012

118

6000000
5000000
4000000
3000000
2000000
1000000
0
2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

2012

Sumber:Diolah dari US EIA (US Energy Information Administration) 208


Di AS juga harga etanol lebih murah dibandingkan bensin yakni ratarata 80 sen lebih murah.209 Yang jika diakumulasi, maka E10 lebih murah 8 sen
per galon dibandingkan bensin tanpa etanol. Hal ini memberikan masyarakat
pilihan untuk lebih memilih etanol dengan segala kelebihannya yang ramah
lingkungan dan nilai oktan yang tinggi. Dengan demikian juga mendukung
program pemerintah dalam pengurangan emisi dan penggunaan energi yang
berkesinambungan. Untuk perbandingan harga etanol dan bensin di AS dapat
dilihat pada Tabel 4.2
TABEL 4.2 Perbandingan Harga Etanol dan Bensin di AS
Periode
2007/08 Sept-Agus

Etanol $/gal
2,40

Bensin $/gal
2,74

208 US EIA (United States Energy Information Administration), dalam


http://www.eia.gov/dnav/pet/pet_move_impcus_a2_nus_ep00_im0_mbbl_a.htm, diakses 11 Mei
2013.

209 RFA (Renewable Fuel Assosiation), Using More Brazilian Ethanol Would Raise
Gasoline Prices for D.C. Drivers With or Without the Tariff dalam
http://ethanolrfa.3cdn.net/e3628587b0476ed165_pwm6bftfv.pdf , diakses 14 Februari
2013.

119

2008/09 Sept-Agus
1,87
1,71
2009/10 Sept-Agus
1,84
2,08
2010/11 Sept-Agus
2,56
2,81
2011/12 Sept Agus
2,50
2,89
2012 Sept-Nov
2,48
2,87
2012/13 Des-Feb
2,39
2,89
Sumber: Diolah dari USDA Economic Research Services210
Dengan penambahan minat konsumen AS terhadap etanol diharapkan
dapat membantu pemerintah dalam pengembangan energi yang lebih bersih dan
aman terhadap goncangan politik dari luar. MoU antara AS dan Brazil dalam
bidang biofuel terkhusus etanol mampu untuk menopang pasokan etanol kedua
negara sehingga ketahanan energi lebih dapat dicapai. Meskipun hal tersebut
mendapat tantangan dari produk etanol tersebut yakni sebagai produk agrikultur
yang memiliki keterbatasan namun respon positif terhadap pengurangan impor
minyak AS uga tak lepas dari peran serta etanol sebagai bahan bakar terbarukan
dalam matriks energi AS. Oleh karena itu, diversifikasi energi tetap harus
ditingkatkan oleh pemerintah AS.

Brazil
Brazil juga memandang bahwa energy security dalam negerinya

penting untuk perkembangan menuju negara yang maju. Selama ini, energy
security selalu berhubungan dengan negara-negara maju atau negara-negara
industrialis. Padahal negara berkembang juga memerlukan energy security dalam

210 USDA Economic Research Services, dalam


http://www.ers.usda.gov/datafiles/US_Bioenergy/Prices/table15.xls diakses pada 24
Maret 2013

120

pembangunan berkelanjutan mereka.211 Energi yang aman dapat menjamin


kelancaran aktivitas berkarya dan produksi sehingga keamanan nasional dapat
tercapai pula.
Efisiensi energi merupakan aspek fundamental dalam dunia yang
semakin ditandai dengan tingginya harga energi dan perubahan iklim. Brazil
merupakan negara yang kayak akan sumber daya energi. Diperkirakan sekitar 50
milyar barel minyak berada di perairan Brazil, sungai Amazon dapat menyediakan
kapasitas hydroelectric, jumlah deposit uranium yang cukup besar dan
kemampuan untuk pengayaan uranium tersebut, dan produksi etanol tebu dalam
negeri yang besar untuk bahan bakar transportasi. 212 Brazil memiliki potensi
sebagai negara yang kaya akan energi.
Dalam kasus Brazil, strategi energi biasanya diberikan terpisah
sebagai sektor listrik dan sektor bahan bakar. Dua sektor ini ditangani oleh dua
perusahaan semi publik Brazil multinasional energi, Eletrobras dan Petrobras.
Dan, dua program utama nasional yang bertujuan keamanan energi melalui
efisiensi energi PROCEL (Program Konservasi Energi) dan CONPET (National

211 Brazilian GNESD Team, 2009, Energy security Theme in Brazil, hal 3, dari
http://www.gnesd.org/upload/gnesd/pdfs/energy%20security/cenbio%20coppe
%20brazil_energy_security.pdf ,diakses 17 Januari 2013.
212 Veronica Sallas, 2012, Energy security in Brazil: A Driving Factor for Brazils
Emergence in Our Increasingly Multipolar World, hal 3, dari
http://www.claremontmckenna.edu/keck/student/SalasV%20Fellowship%20paper
%20Brazilia.pdf, diakses 17 Januari 2013

121

Programme for the Rationalization of the Use of Oil and Natural Gas Byproducts for Oil and Gas).213
Sebagian besar pasokan energi Brazil untuk transportasi adalah dari
turunan minyak. Dengan cara ini, Pemerintah Federal bersedia untuk swasembada
dan diversifikasi untuk transportasi.214 Saat ini, etanol Brazil digunakan dalam
mobil sebagai penambah oktan dan oksigen aditif dengan bensin dalam proporsi
minimal 18%. Dalam konteks seperti itu, tepat untuk menggambarkan Program
Etanol Brazil, Pro-Alcool, yang dianggap sebagai strategi utama dengan fokus
dalam substitusi bensin. Energi alternatif etanol merupakan energi yang dapat
menggantikan dan atau penambah kuota bensin. Energi alternatif lain belum
mampu untuk menggantikan sepenuhnya bahan bakar transportasi tanpa adanya
modifikasi pada mesin kendaraan secara besar-besaran. Hal ini akan berdampak
pada industri transportasi. Sedangkan penggunaan etanol pada campuran yang
rendah (E10) tidak memerlukan modifikasi pada model mobil sekarang.
Brazil pada tahun 1970-an berada di kategori kritis karena terpengaruh
oleh krisis minyak tahun 1973. Kenaikan harga minyak bumi sehingga diberikan
tekanan besar pada ekonomi Brazil pada saat itu. Program Pro-Alcool merupakan
sebuah inovasi dalam menghadapi kekurangan pasokan yang sangat besar.
Program ambisius untuk memproduksi dalam jumlah besar etanol dari tebu (ProAlcool) sebagai pengganti bensin. Kondisi di Brazil sangat menguntungkan untuk
produksi etanol. Tebu telah menjadi tanaman penting sejak abad ke-18 dan Brazil
213 Brazilian GNESD Team, loc cit.
214 Ibid, hal 4.

122

merupakan produsen gula terbesar ketiga di dunia (lima juta ton setara gula
mentah) pada tahun 1975. Selama krisis minyak tahun 1970-an, gula mengalami
penurunan harga dengan periode panjang di pasar internasional, sehingga
keputusan untuk mengalihkan beberapa tebu untuk produksi etanol adalah sangat
wajar, mengingat juga bahwa teknologi yang dibutuhkan telah tersedia.
Menurut penelitian Brazilian GNESD Team, rasio ketergantungan
Brazil terhadap minyak impor mengalami penurunan yakni pada tahun 1990 rasio
ketergantungan minyak impor sebesar 20,2 % menjadi 10,6 % pada tahun 2007.215
Hal ini membuktikan bahwa Brazil mampu untuk mengurangi kebergantungannya
terhadap minyak impor sebesar 9,6 % dalam kurun waktu 17 tahun. Matriks
energi Brazil yang mengembangkan biofuel sebagai bahan bakar alternatif yang
pada awalnya bertujuan untuk mengurangi dependensi minyak impor telah
menunjukkan hasil. Hal ini tak lepas dari peran pemerintah Brazil dalam usaha
diversifikasi energi yakni dengan penggunaan biofuel. Dan bahkan hingga tahun
2012, penurunan impor Brazil terhadap minyak menunjukkan hal positif.
Dari variabel energy security (Lihat Bab II hal 36) keamanan pasokan
energi merupakan hal yang penting. Sehingga pengurangan impor minyak asing
penting untuk menjaga pasokan energi tidak bergantung pada impor minyak dari
kawasan yang secara geopolitik sering terjadi konflik misalnya dari daerah Timur
Tengah. Keamanan pasokan dari sumber energi juga patut diperhatikan sehingga
tidak menimbulkan ketergantungan berlebihan pada minyak impor yang berisiko.

215 Brazilian GNESD team, Op.Cit, hal 19.

123

Dan Brazil telah mampu mengurangi impor minyak asing dari tahun 2007
semenjak kerjasama biofuel sampai pada tahun 2012.
GRAFIK 4.4 Impor minyak Brazil 2005-2012

Sumber : CIA WorldFactbook216


Pada grafik 4.4 jelas terlihat bahwa impor minyak Brazil mengalami
penurunan meskipun pada tahun 2007 mengalami sedikit kenaikan. Program ProAlcool yang ditetapkan untuk mengurangi dependensi terhadap minyak impor
telah menunjukkan hal yang postif. Teknologi produksi listrik berbasis biomassa
yang dapat menggunakan ampas tebu telah dikembangkan di Brazil, sehingga
penggunaan bahan bakar fosil dalam proses produksi etanol tebu dapat
dikurangi.217 Hal ini membuat etanol tebu dapat menghasilkan bioelectricity
karena biomassa yang dihasilkannya. Sehingga secara berkelanjutan mampu
mengurangi penggunaan energi listrik dari bahan bakar fosil dalam produksi
etanol.
216 CIA WorldFactbook dalam Index Mundi, Oil-Imports (bbl/day), dalam
http://www.indexmundi.com/g/g.aspx?v=93&c=br&l=en, diakses 30 Mei 2013.
217 Ibid, hal 5.

124

Etanol tebu di Brazil telah mendominasi pasar konsumsi bahan bakar


untuk transportasi sebesar 15,1 %.218 Meskipun demikian harapan bahwa
penggunaan etanol dapat menjadi lebih besar sehingga dapat sepenuhnya
mendominasi matriks energi Brazil dibandingkan penggunaan minyak. Harga
etanol di Brazil selalu di bawah bensin sehingga penggunaan etanol dapat menarik
minat para konsumen. Hal ini dapat dilihat pada tabel 4.3.
TABEL 4.3 Perbandingan Harga Etanol dan Bensin di Brazil
Tipe Bahan

2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007

Bakar
Etanol
0,47 0,38 0,48 0,47 0,64 0,84
Bensin
0,76 0,60 0,69 0,74 1,00 1,21
Sumber: diolah dari USDA ERS dari data ANP (2009) 219

0,83
1,33

2008 200
0,89
1,41

9
0,83
1,30

Harga etanol yang lebih murah memberikan masyarakat pilihan untuk


lebih memilih etanol dengan segala kelebihannya yang ramah lingkungan dan
nilai oktan yang tinggi. Sementara di Brazil konsumsi dan produksi etanol selalu
mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yang membuktikan bahwa
masyarakat dan pemerintah Brazil telah mampu menggalakkan diveersifikasi
energi terutama dalam sistem transportasi dalam negeri Brazil. Hal ini dapat
dilihat dari grafik 4.5
GRAFIK 4.5 Produksi dan Konsumsi Etanol Brazil
218 Roberto Schaeffer, et.al, 2009, Climate Change and Energy security in Brazil, hal
3, dari http://siteresources.worldbank.org/INTENERGY/Resources/3355441232567547944/5755469-1239633250635/Roberto_Schaeffer.pdf, diakses 17 Januari
2013.
219 USDA ERS (United States Department of Agriculture Economic Research Service)
dari data ANP (Agencia Nacional do Petroleo, Gas Natural e Biocombustiveis) dalam
Constanza Valdes, Op.Cit, hal 14.

125

Sumber: Ministry of Energy, Energy Balance 2009, UNICA (Unio da Indstria


de Cana-de-acar)220
Pada tahun 2009 terjadi penurunan produksi etanol di Brazil. Hal ini
disebabkan permasalahan ketika panen yang disebabkan cuaca hujan yang
berpengaruh pada proses panen.221 Dilihat dari contoh analisis dari etanol tebu dan
etanol jagung, keduanya sangat rentan terhadap perubahan inkonsistensi keadaan
alam. Ketika panen tebu dan jagung terganggu akibat faktor-faktor eksternal maka
ada korelasi dengan produksi etanol itu sendiri. Sehingga penggunaan etanol
sebagai indikator energy security

tidak dapat menjamin energi yang aman.

Namun, ketika terjadi penurunan pasokan etanol dalam negeri, etanol AS diimpor
untuk menambal pasokan dalam negeri Brazil. Begiru pun sebaliknya, jika terjadi

220 Ministry of Energy, Energy Balance 2009, UNICA (Unio da Indstria de Cana-deacar) dalam Gabriella de Figueiredo Dorlhiac, Ethanols Impact on Brazilian Energy
Security, Disertasi Georgetown University, 16 April 2010, hal 21 dalam
http://repository.library.georgetown.edu/xmlui/bitstream/handle/10822/553478/dorlhiacG
abriella.pdf?sequence=1, diakses 17 Januari 2013.
221 Marcos Savaya Jank, A Alta dos Precos do Acucar Estimula Novos Investimentos
da Industria Brazileira?, UNICA, 23 Maret 2010, dalam Ibid.

126

penurunan pasokan etanol dalam negeri AS maka AS menggunakan etanol Brazil


sebagai panambah pasokan etanol dalam negerinya.
Namun, diversifikasi energi dalam energy security tidak harus
bertumpu pada satu sektor saja seperti etanol. Dari variabel energy security (Lihat
Bab II hal 36) ketersediaan energi berkelanjutan dalam bentuk bervariasi dalam
jumlah yang cukup dan harga terjangkau sudah mampu dipenuhi oleh etanol.
Diversifikasi energi dalam energy security penting namun tetap perlu untuk
memiliki banyak varian sehingga ada pembagian risiko dan energi tetap aman.
Karena menumpukan energy security pada satu sektor saja rentan terhadap
berbagai faktor eksternal yang dapat mempegaruhi produktivitas etanol jagung AS
seperti yang telah dijelaskan pada bab ini sebelumnya.
Faktor eksternal tersebut dapat berupa pengaruh cuaca yang dapat
mempengaruhi produktivitas etanol. Cuaca buruk telah menurunkan produktivitas
etanol hingga 10% dan berlangsung hingga tahun 2011/2012. 222 Hal ini tentu
meningkatkan impor Brazil terhadap etanol (tabel 4.4). Dan sebagian besar impor
etanol tersebut berasal dari AS. Pada tahun 2013, Brazil mengimpor etanol
sebesar 81,914 juta liter hingga Maret 2013.223 81,635 juta liter dari 81,914 juta
liter impor etanol Brazil itu didapat dari AS.
TABEL 4.4 Impor Etanol Brazil
Tahun

Ethanol Impor (ribu liter)

222 Harry de Gorter, et.al, Why Ethanol Prices Are So High in Brazil, dalam
http://www.future-science.com/doi/pdfplus/10.4155/bfs.12.40, diakses 14 Februari 2013.
223UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar) , Monthly Brazilian Ethanol Import
(Thousand Liters).

127

2010
74.593
2011
1.150.113
2012
545.602
Sumber: Diolah dari UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar)224
Dan untuk etanol tebu juga dipengaruhi oleh faktor usia tanaman tebu.
Tanaman tebu harus diganti setiap 5-6 tahun. 225 Sehingga ada masa ketika
produktivitas tebu menurun pada saat tebu telah berumur tua dan harus diganti.
Meskipun demikian, tanaman tebu sangat efisien dalam hal produksinya
dibandingkan etanol jagung. Tebu sebagai bahan dasar etanol di Brazil tidak
memerlukan pestisida yang banyak dan hanya menggunakan pupuk organik serta
penggunaan air yang sedikit.226 Hal ini akan menghemat pengeluaran produsen
terhadap biaya produksi.
Meskipun demikian, jenis sumber tanaman etanol sebaiknya
dikembangkan ke tanaman bukan makanan seperti pengembangan etanol generasi
kedua atau etanol selulosa.227 Etanol dari bahan pangan dapat dengan terpengaruh
terhadap permintaan pangan yang meningkat. Berbeda dengan etanol dari bahan
224 UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar), Brazil Ethanol Import dalam
http://www.unicadata.com.br/arquivos/pdfs/2012/12/5a375edb389b5975bfe3b16ba6798c
5b.pdf, diakses 17 Desember 2012.
225 UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar), Sugarcane Industry in Brazil:
Ethanol, Sugar, Bioelectricity, hal 22, dalam http://sugarcane.org/resourcelibrary/books/UNICAs%20Institutional%20Folder.pdf, diakses 8 April 2013.
226 Ibid.
227 Alexandre Betinardi Strapasson dan Luis Carlos Mavignier de Araujo Job, Ethanol,
environment and technology: Reflections on the Braziiian experience, Revista de
Politica Agricola Journal of Africultural Policy, Tahun XVI Special Edition 2007,
Secretariat of Agricultural Policy Ministry of Agriculture, Livestock and Food Supply, hal
60.

128

pangan, etanol selulosa dapat terbuat dari ampas tebu atau bahkan dari potongan
kayu ataupun potongan rumput sehingga menghasilkan etanol dari bahan-bahan
yang lebih efisien di masa yang akan datang. Namun, produsen etanol belum
mampu menghasilkan etanol dari non-pangan secara besar-besaran menggantikan
etanol dari bahan pangan karena belum siap dari sisi teknologi. Pengembangan
teknologi etanol selulosa pada produsen perlu biaya yang tinggi sehingga perlu
peran pemerintah dalam pengembangan etanol selulosa tersebut.

129

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Amerika Serikat dan Brazil bersepakat dalam MoU to Advance Cooperation
on Biofuels pada tanggal 9 Maret 2007. Berdasarkan pembahasan dalam
penelitian ini, kedua negara berkepentingan untuk menjaga stabilitas
pasokan etanol dalam negeri kedua negara, namun lebih mengkhusus
dengan agar menjaga harga etanol di kedua negara tetap murah. MoU antara
AS dan Brazil juga membuka kesempatan investasi. MoU biofuel antara AS
dan Brazil dapat pula dilihat sebagai usaha pendekatan AS kepada Brazil
dan juga untuk membangun kembali hubungan dengan negara Amerika
Latin. AS memandang dapat menggunakan Brazil sebagai jembatan untuk
membangun kembali hubungan dengan negara-negara Amerika Latin. Dan
juga dapat mengurangi pengaruh Venezuela di kawasan tersebut dengan
menaikkan profil Brazil sebagai pemimpin kawasan Amerika Latin yang
memberikan alternatif energi yang dapat dikembangkan oleh negara-negara
berkembang.
Kedua negara juga berusaha dalam menstandarisasi biofuel dalam lingkup
global melalui International Biofuels Forum dengan harapan bahwa akan
ada standar dan kode dalam pengembangan dan pasar biofuel di dunia.
Kepentingan nasional Brazil dalam kerjasama biofuel dengan AS dapat
digolongkan sebagai core values dan long range goals. Kepentingan
nasional AS dalam kerjasama biofuel dengan Brazil dapat digolongkan
middle range objectives dan long range goals.

130

2. Energy security merupakan salah satu isu penting bagi AS dan Brazil.
Kedua negara berusaha untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak
impor asing dengan mengembangkan biofuel sebagai bentuk dari
diversifikasi energi dalam konteks energy security. Prospek kerjasama
biofuel terhadap energy security kedua negara menunjukkan hal positif
sebab terjadi pengurangan impor minyak asing di kedua negara setelah
MoU to Advance Cooperation on Biofuel antara AS dan Brazil
ditandatangani. Hal ini dikarenakan etanol mampu untuk menambah kuota
bensin sehingga pengurangan terhadap impor minyak asing bisa dikurangi
juga. Apalagi dengan adanya kerjasama biofuel sehingga AS dan Brazil
dapat menjamin pasokan etanolnya dengan saling mengekspor dan
mengimpor.
Komitmen kedua negara tersebut sempat terhambat karena AS masih
menerapkan tarif pada ekspor etanol Brazil, namun tarif tersebut akhirnya
berakhir pada tahun 2011. Meskipun kerjasama biofuel ini memberikan efek
positif terhadap energy security namun perlu pengembangan energi
alternatif lainnya seperti etanol generasi kedua yang terbuat dari bahan non
pangan sehingga diversifikasi energi sebagai salah satu variabel energy
security tidak bertumpu pada etanol berbasis jagung ataupun etanol berbasis
tebu. Hal ini disebabkan etanol yang terbuat dari bahan pangan rentan
terhadap perubahan eksternal seperti cuaca, usia tanaman, penyakit
tanaman, dan permintaan pangan.
B. SARAN
1. Meskipun MoU to Advance Cooperation on Biofuel merupakan kerjasama
antara Amerika Serikat dan Brazil dalam memajukan biofuel sebagai energi

131

alternatif kedua negara, namun mempromosikan pengembangan biofuel di


negara-negara berkembang juga patut diperluas sehingga semakin banyak
negara yang mampu untuk mengembangkan biofuel di dunia.
2. Kemajuan teknologi dalam memproduksi biofuel semoga dapat menjawab
atas kebutuhan energi AS dan Brazil pada khususnya dan dunia pada
umumnya. Namun, sebaiknya energy security tidak harus bertumpu pada
etanol, karena etanol dari bahan dasar tebu ataupun jagung rentan terhadap
faktor eksternal. Sehingga memiliki banyak varian dalam diversifikasi
energi tersebut baik untuk energy security itu sendiri.

132

DAFTAR PUSTAKA
Buku
Bakry, Umar Suryadi, 1999, Pengantar Hubungan Internasional,. Jakarta:
Jayabaya University Press.
Busey, James L, 1968, Latin America: Political Institutions and Processes, USA:
The Colonial Press Inc.
Conde, Alexander De, et.al, 2002, Encyclopedia of American Foreign Policy, 2nd
ed, Volume 3, New York: Charles Scribners Sons.
Coplin, William D, 1992, Pengantar Politik Internasional Suatu telaah Teoritis,
2nd ed, Bandung: CV Sinar Baru.
Dougherty James E. dan Robert L. Pfatzgraff, Jr, 1971, Contending Theories in
International Relations, New York: JB.Lippncot CO.
Finkelman, Paul dan Peter Wallenstein, 2001, The Encyclopedia of American
Political History, Washington DC: CQ Press
Holsti K.J, 1988, Politik Internasional: Kerangka Untuk Analisis, Jilid 2 4th ed,
terj. oleh Tahir Azhary, Jakarta: Penerbit Erlangga.
Jones, Walter S, 1993, Logika Hubungan Internasional : Kekuasaan, EkonomiPolitik Internasional, dan Tatanan Dunia 2, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama.
Juwondono, 1991, Hubungan Bilateral: Defenisi dan Teori, Jakarta: Rajawali
Press.
Librayanto, Romi, 2009, Ilmu Negara (Suatu Pengantar), Makassar: Pustaka
Refleksi.
Manahan, Stanley E, 2009, Fundamentals of Environmental Chemistry, 3rd ed,
USA: CRC Press
Masoed, Mohtar, 1990, Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi,
Jakarta: PT. Pustaka LP3ES
Padelford, Norman Judson, et.al, 1976, The Dynamics of International Politics, 3rd
ed, New York:Mcmillan Publishing Co., Inc.
Winarno, Budi, 2011, Isu-Isu Global Kontemporer, Yogyakarta: CAPS.
Yusuf, Sufri, 1989, Hubungan Internasional & Politik Luar Negeri, Jakarta:
Pustaka Sinar Harapan.

133

Jurnal
Agustiawan, Karen, 2011, Peran PT Pertamina (Persero) dalam Membangun
Ketahanan Energi, dalam Jurnal Diplomasi: Ketahanan Pangan dan
Energi, Vol.3 No.3. Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementrian Luar Negeri
Republik Indonesia.
Almeida, Wilson, 2009, Ethanol Diplomacy: Brazil and U.S. in Search of
Renewable Energy dalam Revista Journal, Vol.3, No.3, GCG Georgetown
University, diakses dari
http://gcg.universia.net/pdfs_revistas/articulo_140_1260809836496.pdf
pada tanggal 3 April 2013.
Gorter, Harry de dan David R. Just, 2010, The Social Costs and Benefits of
Biofuels: The Intersection of Environmental, Energy and Agricultural
Policy Applied Economic Perspectives and Policy, vol. 32. no. 1, Oxford
University Press, dapat diakses pada
http://aepp.oxfordjournals.org/content/32/1/4.full.pdf+html diakses 27 Mei
2013.
Parry, Audrey, 1978, The Growing Vulnerability of Oil Supplies, London:
Foreign Affairs Research Institute, dikutip oleh Kirdi Dipoyudo, 1980,
Kerawanan Suplai Minyak Negara-Negara Barat, Jurnal Analisa
Berbagai Masalah Ekonomi Internasional, Tahun IX No. 1 Januari 1980,
Jakarta: CSIS.
Pimentel, David, 1991, Ethanol Fuels: Energy Security, Economics and the
Environment, Journal of Agricultural and Environmental Ethics, Vol. 4,
no. 1, dapat diakses dari http://libgen.org/scimag/get.php?
doi=10.1007/bf02229143 diakses pada 27 Mei 2013.
, Ethanol Fuels: Energy Balance, Economics, and Environmental
Impacts are Negative, Natural Resources Research, Vol. 12, No. 2, (June
2003), dalam http://www.energyjustice.net/files/ethanol/pimentel2003.pdf
diakses tanggal 23 mei 2013.
Strapasson, Alexandre Betinardi dan Luis Carlos Mavignier de Araujo Job,
Ethanol, environment and technology: Reflections on the Braziiian
experience, Revista de Politica Agricola Journal of Africultural Policy,
Tahun XVI Special Edition 2007, Brazil: Secretariat of Agricultural Policy
Ministry of Agriculture, Livestock and Food Supply.

Internet

134

Alvarez, Pedro, dkk, 2010, Fundamentals Of Sustainable US Biofuel Policy,


dalam
http://www.bakerinstitute.org/publications/EF-pubBioFuelsWhitePaper-010510.pdf, diakses 7 Desember 2012.
Barros, Sergio, Brazil Biofuels Annual Report 2012, dalam
http://gain.fas.usda.gov/Recent%20GAIN%20Publications/Biofuels
%20Annual_Sao%20Paulo%20ATO_Brazil_8-21-2012.pdf, diakses pada
tanggal 14 Februari 2013.
Bentrand,, Simon Langlois The Politics of Ethanol: Getting Lost o the Road to
Energy Security Paper dipresentasikan pada International Studies
Association Annual Covention 2009, New York, dalam
http://citation.allacademic.com//meta/p_mla_apa_research_citation/3/1/4/2/
1/pages314219/p314219-2.php diakses pada tanggal 10 Mei 2013.
Brazil Council, Memorandum of Understanding Between the Government of the
Federative Republic of Brazil and the Government of the United State of
America to Advance Cooperation on Biofuels, dalam
http://www.brazilcouncil.org/sites/default/files/MOUtoAdvanceCooperation
onBiofuels%20-Mar092007.pdf diakses 18 Maret 2013.
, MoU to Advance Cooperation on Biofuels, dalam
http://www.brazilcouncil.org/sites/default/files/MOUtoAdvanceCooperation
onBiofuels%20-Mar092007.pdf diakses 18 Maret 2013.
, Joint Statement by The United States and Brazil Announcing
The Expansion of Cooperation on Biofuels to Advance Energy Security and
Promote Sustainable Development, dalam
http://www.brazilcouncil.org/sites/default/files/JointStatement(SchaferandA
morim)-Nov202008.pdf diakses 18 Maret 2013.
Brazil, European Union dan United States of America, White Paper in
Internationally
Compatible
Biofuel
Standards,
dalam
http://ec.europa.eu/energy/res/biofuels_standards/doc/white_paper_icbs_fin
al.pdf diakses pada 11 Mei 2013.
Brazil Works, Energy and Brazil-United States Relations, diunggah 20 Agustus
2013 dalam http://www.brazil-works.com/energy-and-brazil-united-statesrelations/ diakses 7 Desember 2012.
Brazilian GNESD Team, 2009, Energy Security Theme in Brazil, dalam
http://www.gnesd.org/upload/gnesd/pdfs/energy%20security/cenbio
%20coppe%20brazil_energy_security.pdf diakses 17 Januari 2013.

135

BEST Project, Biofuel for Sustainable Transport, dalam


http://www.baff.info/rapporter/BEST%20-%20BioEthanol%20for
%20Sustainable%20Transport.pdf diakses pada 4 Desember 2012.
Chum, Helena L. 2008, Brazil-US Bilateral MoU Biofuels, dalam
http://www.biofuels.apec.org/pdfs/apec_200810_chum_brazil_us_bilateral.p
df, diakses 5 Desember 2012.
Cohen, Joaquim Dib, Bioethanol and Biodiesel in Brazil, dalam
http://www.aae.wisc.edu/renk/library/PetrobasEurope_BiofuelsinBrazil.pdf,
diakses 4 Desember 2012
Copersucar, dalam http://www.copersucar.com.br/perfil_en.html diakses 12 April
2013
Cosan, dalam http://www.cosan.com.br/Raizen diakses 12 April 2013.
Council of American Ambassadors, 2007, U.S-Brazil Cooperation in the
Development
of
Biofuels,
dalam
http://www.americanambassadors.org/index.cfm?
fuseaction=publications.article&articleid=122 diakses 5 Desember 2012.
Cox, Craig dan Andrew Hug, Driving Under the Influence: Corn Ethanol &
Energy Security, Environmental Working Group, Juni 2010, dalam
http://static.ewg.org/files/EWG-corn-ethanol-energy-security.pdf, diakses 27
Mei 2013.
Deloitte, Brazils Energy Matrix and Prospect For Energy Integration With South
America,
dalam
http://www.deloitte.com/assets/Dcom-Brazil/Local
%20Assets/Documents/Ind%C3%BAstrias/Petr%C3%B3leo%20e%20G
%C3%A1s/Brazil's%20Energy%20Matrix.pdf diakses 17 Januari 2013.
Devadoss, Stephen dan Martin Kuffel, 2010,Ethanol Trade Between Brazil and
The United States, presentasi paper pada Agricultural& Applied Economics
Association 2010 AAEA, CAES, & WAEA Joint Annual Meeting, Denver,
Colorado, 25-27 Juli 2010, dalam
http://ageconsearch.umn.edu/bitstream/60889/2/Submission%20for%20Ag
%20Econ%20Search%20of%20the%20Paper%20Ethanol%20Trade
%20between%20Brazil%20and%20the%20United%20States.pdf diakses
pada 11 Mei 2013.
Dorlhiac, Gabriella de Figueiredo, Ethanols Impact on Brazilian Energy
Security, Disertasi Georgetown University, 16 April 2010, dalam
http://repository.library.georgetown.edu/xmlui/bitstream/handle/10822/5534
78/dorlhiacGabriella.pdf?sequence=1, diakses 17 Januari 2013.

136

Eaves James dan Stephen Eaves, Is Ethanol the 'Energy Security' Solution? The
Washington Post, diunggah 3 Oktober 2007, dalam
http://www.cato.org/pub_display.php?pub_id=8730, diakses 23 Mei 2013.
Ellsworth, Brian, Chavez, Lula clash over ethanol at energy summit, diunggah
16 April 2007, dalam http://www.reuters.com/article/2007/04/16/usvenezuela-summit-idUSN1630731320070416, diakses 5 Mei 2013.
Gorter,Harry de. et.al, Why Ethanol Prices Are So High in Brazil, dalam
http://www.future-science.com/doi/pdfplus/10.4155/bfs.12.40, diakses pada
14 Februari 2013.
Griffin, James M. dan Mauricio Cifuentes Soto, U.S. Ethanol Policy: The
Unintended Consequences, The Mosbacher Institute dalam
http://bush.tamu.edu/mosbacher/takeaway/TakeAwayVol3Iss1.pdf diakses 6
Juni 2013.
Grunwald, Michael, Why Our Farm Policy Is Failing, Time Magazine, diunggah
2 November 2007, dalam
http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1680139,00.html
diakses 12 Mei 2013.
Harnish, Reno L. 2009, Promoting The Use of Renewable Energy Worldwide,
dalam http://www.state.gov/documents/organization/123400.pdf, diakses 11
Maret 2013.
Hanson, Stephanie, Brazil on the International Stage diunggah 2 Juli 2012 dari
situs http://www.cfr.org/brazil/brazil-international-stage/p19883 diakses 7
Desember 2012.
Henry, Mark Murphy, et.al, A Call to Farms: Diversify the Fuel Supply, South
Dakota
Law
Review,
Vol.
53,
(Fall
2008),
dari
http://www.freepatentsonline.com/article/South-Dakota-LawReview/181407378.html diakses 23 Mei 2013.
Hofstrand,
Don,
2009,
Brazil
Ethanol
Industry,
dalam
https://www.extension.iastate.edu/agdm/articles/hof/HofJan09.html, diakses
pada tanggal 14 Februari 2013.
, 2009, Brazils Etanol IndustryPart Two, dalam
https://www.extension.iastate.edu/agdm/articles/hof/HofFeb09.html, diakses
14 Februari 2013.
GreenAir, US and Brazilian Government Sign Agreement on Partnership to
Develop Aviation Biofuels, dalam

137

http://www.greenaironline.com/news.php?viewStory=1165 diakses 11 Maret


2013.
Index Mundi, Oil-Imports (bbl/day), dalam
http://www.indexmundi.com/g/g.aspx?v=93&c=br&l=en diakses 30 Mei
2013.
, World Ethanol Fuel Production by Year (Thousand Barrel per Day)
dalam http://www.indexmundi.com/energy.aspx?
product=ethanol&graph=production diakses 27 Maret 2013.
International Centre for Trade and Sustainable Development (ICTSD), US,
Brazil Agree to Cooperate on Biofuels-But Leave Out Tariffs, dalam
http://ictsd.org/i/publications/7843/ diakses 5 Desember 2012.
, US Ethanol Tariffs, Subsidies Come to an End, diunggah 23
Januari 2012, dalam http://ictsd.org/i/news/biores/123461/ diakses 6 April
2013.
Joanne, Brazil and US to Deepen Cooperation on Energy; Aviation Biofuels,
on-line
posting
tanggal
22
Maret
2011,
http://advancedbiofuelsusa.info/brazil-and-us-to-deepen-cooperation-onenergy-aviation-biofuels, diakses 5 Desember 2012
Kedutaan AS, US-Brazillian Cooperation in the Development of Biofuels dalam
http://www.americanambassadors.org/index.cfm?
fuseaction=publications.article&articleid=122,diakses pada tanggal 5
Desember 2012.
Kedutaan Brazil di London, dalam
http://www.brazil.org.uk/press/pressreleases_files/20070301.html, diakses 5
Mei 2013.
Khudori,
Belajar
Pengembangan
Biofuel
dari
http://www.unisosdem.org/kliping_detail.php?
aid=5665&coid=1&caid=58,diakses 5 Desember 2012

Brazil,

dalam

Langevin, Mark S., Energy and Brazil-United States Relations, diakses dari
https://doc-04-48docs.googleusercontent.com/docs/securesc/ra53l65rg4s5gt5sdoeedfktkv5m4
ctl/f4sruvmino4q4k653u906gglf5acdovi/1375272000000/15609208109005
993166/08340768584601246705/0B7MqlY1WLL8eZnJUNGxxZlpSQi1Kc
GRlYUlOeHRRZw?
e=download&h=16653014193614665626&nonce=qcleoo7jter7c&user=083
40768584601246705&hash=oh6vp85s9vut16864ro44s8rda688ioe pada
tanggal 31Juli 2013.

138

Lochhead, Carolyn, Farm bills foes see Senate as next battle ground, San
Francisco Gate, diunggah 28 Juli 2007, http://www.sfgate.com/cgibin/article.cgi?
file=/c/a/2007/07/28/MNGMAR8KLK1.DTL&type=printable, diakses 12
Mei 2013.
Lugar, Richard G. Brazil-U.S. Ethanol Pact: Benefits Greatly Outweigh Costs,
diterbitkan 9 April 2007,
http://lugar.senate.gov/energy/press/articles/070409interest.cfm diakses 5
Desember 2012.
Mathews, John, The End of The U.S. Ethanol Tariff, diunggah 6 Januari 2012,
dalam http://english.unica.com.br/opiniao/show.asp?msgCode={61FB3F4B1644-4445-B05F-577F96C38BED} , diakses 17 Desember 2013.
Market Research Analyst, World Ethanol Production Forecast 2008-2012,
dalam
http://www.marketresearchanalyst.com/2008/01/26/world-ethanolproduction-forecast-2008-2012/, diakses 26 Maret 2013.
McCarthy, James dan Mary Tiemann, MTBE in Gasoline:Clean Air and Drinking
Water Issues, dalam http://digitalcommons.unl.edu/cgi/viewcontent.cgi?
article=1025&context=crsdocs diakses pada tanggal 10 Mei 2013.
McGowan, Chris, Biofuel Could Eat Brazils Savannas & Deforest the Amazon,
The Huffington Post, diunggah 14 September 2007,
http://www.huffingtonpost.com/chris-mcgowan/biofuel-could-eatbrazils_b_64466.html, diakses 23 Mei 2013.
Medeiros, Marcelo de Almaeida dan Liliana Froio, Actors , Interest and
Strategies of Brazilian Foreign Policy on Biofuels, dalam
http://bpsr.org.br/english/arquivos/BPSR_v6_n1_artigos/Medeiros.pdf,
diakses 7 Desember 2012
Meyer, Peter J, 2012, Brazil-US Relations. Congressional Research Service,
dalam http://www.fas.org/sgp/crs/row/RL33456.pdf , diakses 5 Desember
2012.
Ministry of External Relations of Brazil, Brazillian Foreign Policy Handbook
Position Adopted by Brazil in 2008-2009, dalam
http://www.funag.gov.br/biblioteca/dmdocuments/brazilian_foreign_policy_
handbook_positions_adopted_by_brazil_in_2008_2009.pdf, diakses 7
Desember 2012.
Monteiro, Nathalia, et.al, Understanding The Link Between Ethanol Production
an Food Prices, dalam

139

http://www.pensaconference.org/vii_pensa_conference/flash/pdf/10/SUS
%2022%20aprov.pdf, diakses 10 Mei 2013.
Moreira, Jose Roberto dan Ricardo Esparta, Energy Security: Brazil: A Country
Profile on Sustainable Energy Development, dalam
http://www.iaea.org/OurWork/ST/NE/Pess/assets/BRAZIL_FINAL_24April
06.pdf diakses 17 Januari 2013.
Morgan, Dan, Powerful Interest Ally to Restructure Agriculture Subsidies,
Washington Post, December 12, 2006, http://www.washingtonpost.com/wpdyn/content/article/2006/12/21/AR2006122101634_pf.html diakses 12 Mei
2013.
Mouawad, Jad Weather Risks Cloud Promise of Biofuel, The New York Times, 1
Juli 2008, http://www.nytimes.com/2008/07/01/business/01weather.html,
diakses 23 Mei 2013.
Murdiyatmo, Untung, 2006, Pengembangan Industri Ethanol: Prospek, Kendala,
dan Tantangan. Paper Workshop Nasional Bisnis Biodiesel dan Bioethanol
di Indonesia, dalam
http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/25678/prosiding_wor
kshop_biodiesel_dan_bioethanol-8.pdf, diakses 7 Desember 2012
Nuttal, William J. dan Devon L. Manz, A New Energy Security Paradigm for the
Twenty-First Century, dalam http://www.eprg.group.cam.ac.uk/wpcontent/uploads/2008/11/eprg0731.pdf, diakses 17 Desember 2012.
Obama, Barak, Remarks by the President on Energy Security, Pidato di
Andrews
Air
Force
Base,
31
Maret
2010,
dari
http://www.whitehouse.gov/the-press-office/remarks-president-energysecurity-andrews-air-force-base-3312010, diakses 10 Mei 2013.
Perry, Gregory M. dkk, Biofuel Production and Consumption in the United
States:Some Facts and Answers to Common Questions, dalam
http://arec.oregonstate.edu/sites/default/files/faculty/perry/qadocument5.pdf,
diakses 7 Desember 2012.
Peixoto, Alberto, 2007, The Successful Case of Etanol in The United State
dalam Clean Energy: The Brazillian Etanol Experience, dalam
http://www.brazil.org.uk/publications/index_files/cleanenergy.pdf, diakses
pada tanggal 14 Februari 2013.
Reguly, Eric, Its time to kill corn subsidies and go Brazilian,
http://www.theglobeandmail.com/report-on-business/rob-commentary/itstime-to-kill-corn-subsidies-and-go-brazilian/article1324954/ , diakses 23
Mei 2013.

140

RFA (Renewable Fuel Assosiation), Ethanol Fact: Engine Performance, dalam


http://ethanolrfa.org/pages/ethanol-facts-engine-performance, diakses 14
April 2013.
, New Poll Shows Strong Support for Renewable Fuels Agenda,
diunggah 6 Februari 2013, dalam
http://www.ethanolrfa.org/news/entry/new-poll-shows-strong-support-forrenewable-fuels-agenda/ diakses 12 Mei 2013.
, Using More Brazilian Ethanol Would Raise Gasoline Prices for
D.C. Drivers With or Without the Tariff dalam
http://ethanolrfa.3cdn.net/e3628587b0476ed165_pwm6bftfv.pdf, diakses 14
Februari 2013.
, Tax Incentives , diunggah April 2012, dalam
http://ethanolrfa.org/pages/tax-incentives, diakses 13 April 2013.
, Philosophy: Renewable Fuel Assosiation dalam
http://ethanolrfa.org/pages/philosophy, diakses 14 April 2013.
, Bio Refinery Locations, dalam http://www.ethanolrfa.org/biorefinery-locations/, diakses 6 April 2013.
Sallas, Veronica, Energy Security In Brazil: A Driving Factor For
Brazils Emergence In Our Encreasingly Multipolar World,
dalam
http://www.claremontmckenna.edu/keck/student/SalasV
%20Fellowship%20paper%20Brasilia.pdf, diakses 17 Januari
2013.

Santos, Edmilson Moutinho dos, Energy Security in Latin


America: Thoughts on the Brazillian Experience, Brasil
E.dos
Santos
powerpoint
dalam
http://www.freewebs.com/infoenergia/Brasil.E.%20dos
%20Santos.ppt, diakses 17 Januari 2013.

Schaeffer, Roberto, et.al, 2009, Climate Change and Energy


Security
in
Brazil,
dalam
141

http://siteresources.worldbank.org/INTENERGY/Resources/33
5544-1232567547944/57554691239633250635/Roberto_Schaeffer.pdf, diakses 17 januari
2013.

Schlenker, Wolfram and Micahel J. Roberts, Nonlinear


temperature effects indicate severe damages to U.S. crop
yields under climate change, PNAS, September 15, vol.
106,
no.
37,
2009,
dalam
http://www.pnas.org/content/106/37/15594.full.pdf#page=1
&view=FitH, diakses 23 Mei 2013.

Seelke, Clare Ribando dan Alessandra Durand, 2008, Brazil-U.S. Relations,


CRS Report for Congress, dalam
http://fpc.state.gov/documents/organization/112033.pdf, diakses 7 Desember
2012.
Seelke, Clare Ribando dan Brent D. Yacobucci, 2007, Ethanol and Other
Biofuels: Potential for U.S.-Brazil Energy Cooperation, dalam
http://fpc.state.gov/documents/organization/93476.pdf, diakses 8 Desember
2012.
Soybean and Corn Advisor, Brazil vs United States Ethanol Industries dalam
http://www.soybeansandcorn.com/Brazil-US-Ethanol-Production, diakses
14 Februari 2013.
Sugarcane, Unica Member Companies, dalam http://sugarcane.org/resourcelibrary/books/Factsheet_Members.pdf diakses pada 12 April 2013.
The Economist, Lean Green and Not Mean, diunggah 26 Juni 2008,
http://www.economist.com/world/americas/displaystory.cfm?
STORY_ID=11632886, diakses 23 Mei 2013.
Tri Budiarto, 2012, Food vs Fuel :Analisis Kepentingan Pangan dan Energi,
dalam
http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/02/29/%EF%BB
%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF
%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF
%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB
%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF%BB%BF%EF
%BB%BF%EF%BB%BFfood-vs-fue-439227.html, diakses pada tanggal 7
Desember 2012.

142

Ueki, Yasushi, 2007, Discussion Paper No. 109 Industrial Development and The
Innvationa System of The Ethanol Sector in Brazil, dari
http://www.ide.go.jp/English/Publish/Download/Dp/pdf/109.pdf, diakses 8
April 2013.
U.S. Department of Defense, http://www.defense.gov/news/Fact_Sheet_USBrazil_Defense_Cooperation_14MAR2011.pdf, diakses 11 Maret 2013.
U.S. Department of Energy, 2010, Current State of the US Ethanol Industry,
dalam
http://www1.eere.energy.gov/biomass/pdfs/current_state_of_the_us_ethanol
_industry.pdf, diakses 1 April 2013.
U.S. Department of State, dalam http://www.embaixadaamericana.org.br/secstate/mouthird0303.html, diakses 11 Maret 2013.
U.S. Energy Information Administration,
http://www.eia.gov/dnav/pet/pet_move_impcus_a2_nus_ep00_im0_mbbl_a.
htm, diakses 11 Mei 2013.
U.S. Energy Information Adminitration, dalam
http://www.eia.gov/energyexplained/index.cfm?page=gasoline_fluctuations,
diakses 11 Mei 2013.
________________, dalam http://www.eia.gov/tools/faqs/faq.cfm?id=90&t=4
diakses pada 31 Juli 2013.
U.S. International Trade Commission, 2012, Brazil: Competitive Factor in
Brazil Affecting U.S. and Brazilian Agricultural Sales in Selected Third
Country Markets , Investigation No. 332-524 USITC Publication 4310.
dalam http://www.usitc.gov/publications/332/pub4310.pdf, diakses pada
tanggal 11 Mei 2013.
UNICA (Unio da Indstria de Cana-de-acar), Monthly Brazilian Ethanol
Import (Thousand Liters), dalam
http://www.unicadata.com.br/arquivos/pdfs/2012/12/5a375edb389b5975bfe
3b16ba6798c5b.pdf, diakses 17 Desember 2012.
, Sugarcane Industry in Brazil: Ethanol, Sugar, Bioelectricity, dalam
http://sugarcane.org/resource-library/books/UNICAs%20Institutional
%20Folder.pdf, diakses 8 April 2013.
, Brazil Ethanol Export to US 2007-2011, dalam
http://www.unicadata.com.br/pdfHstExp.php?
idioma=2&tipoHistorico=9&idTabela=1403&produto=Ethanol&agregacao=

143

3&destino=United+States&periodicidade=civil&ano=2011&unidadeMedid
a=Volume, diakses 10 Mei 2013.
, Brazil Ethanol Export to US 2009-2013, dalam
http://www.unicadata.com.br/pdfHstExp.php?
idioma=2&tipoHistorico=9&idTabela=1403&produto=Ethanol&agregacao=
3&destino=United+States&periodicidade=civil&ano=2013&unidadeMedid
a=Volume, diakses 10 Mei 2013.
, Profile UNICA, dalam
http://english.unica.com.br/quemSomos/texto/show.asp?
txtCode={A888C6A1-9315-4050-B6B9-FC40D6320DF1}, diakses 8 April
2013.
United States Department of Agriculture, Farm Characteristics: 1997, 2002, 2007
Census of Agriculture, dari http://www.ers.usda.gov/statefacts/us.htm,
diakses 12 Mei 2013.
_________, Economic Research Services, dalam
http://www.ers.usda.gov/datafiles/US_Bioenergy/Prices/table15.xls diakses
pada 24 Maret 2013.
United States Environmental Agency, E15 (a blend of gasoline and ethanol)
http://www.epa.gov/otaq/regs/fuels/additive/e15/ , diakses 13 April 2013.
Urbanchuk, John M. Contribution of the Ethanol Industry to the Economy of the
United State, dalam
http://ethanolrfa.3cdn.net/af18baea89e31dadbe_68m6bnto3.pdf, diakses 14
April 2013.
USA Government, Agreement on Trade and Economic Cooperation between AS
and Brazil, dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/uploads/Brazil_ATEC.pdf ,
diakses 24 Maret 2013.
, Brazil Science Technology Innovation Space Education
Cooperation, dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/uploads/Brazil_Science_Tech
nology_Innovation_Space_Education_Cooperation.pdf, diakses 11 Maret
2013.
Blueprint for A Secure Energy Future, dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/blueprint_secure_energy_futu
re.pdf, diakses 17 Desember 2012.

144

, Fact Sheet: The U.S.-Brazil Strategic Energy Dialogue, dalam


http://www.whitehouse.gov/the-press-office/2012/04/09/fact-sheet-usbrazil-strategic-energy-dialogue, diakses 5 Desember 2012.
, Fact Sheet: The U.S. Brazil Strategic Energy Dialogue, dalam
http://www.whitehouse.gov/the-press-office/2012/04/09/fact-sheet-usbrazil-strategic-energy-dialogue, diakses 5 Desember 2012.
, Partnership For The Development Of Aviation Biofuels, dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/uploads/Partnership_Develop
ment_Aviation_Biofuels.pdf, diakses 11 Maret 2013.
, Memorandum of Understanding on the Aviation Partnership
dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/Aviation_Partnership_FINAL.
pdf, diakses 11 Maret 2013.
, Brazil MoU Sporting Event dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/uploads/Brazil_MOU.pdf ,
diakses 11 Maret 2013.
, Fact Sheet on U.S.-Brazil Democracy, Human Rgihts, and Labor
Cooperation, dalam
http://www.whitehouse.gov/sites/default/files/uploads/Brazil_Democracy_H
uman_Rights.pdf, diakses 11 Mareti 2013.
USA. State Department, Memorandum of Understanding Between the U.S. and
Brazil to Advance Cooperation on Biofuel, dalam
http://www.state.gov/p/wha/rls/158654.htm, diakses 5 Desember 2012.
Valdes, Constanza, 2011, Brazil Ethanol Industry Looking Forward, dalam
http://www.ers.usda.gov/media/126865/bio02.pdf, diakses pada tanggal 14
Februari 2013.
Walter, Arnaldo, et.al, 2008, A Sustainability Analysis of the Brazilian Ethanol,
dalam http://www.globalbioenergy.org/uploads/media/0811_Unicamp__A_sustainability_analysis_of_the_Brazilian_ethanol.pdf, diakses 14
Februari 2013.
Washington Times, Chaves ethanol ire runs out of fuel diunggah 18 April 2007,
dalam http://www.washingtontimes.com/news/2007/apr/18/20070418100356-1289r/?page=all, diakses 10 Mei 2013.
Watanabe, Marcos, 2008, Etanol Production in Brazil: Bridging its Economic
and
Environmental
Aspects,
dalam

145

http://www.iaee.org/en/publications/newsletterdl.aspx?id=89,diakses
tanggal 4 Desember 2012.

pada

Wilson International Center, The Global Dynamics of Biofuels, April 2007,


dari http://www.wilsoncenter.org/topics/pubs/Brazil_SR_e3.pdf, diakses 23
Mei 2013.
Winarto, Arief, Energi Alternatif Perlu Keberpihakan Politik, diunggah 23 Mei
2012, dalam http://www.politikindonesia.com/index.php?
k=pendapat&i=34583-Energi-Alternatif-Perlu-Keberpihakan-Politik,
diakses 17 Februari 2013.
World Energy Council, 2010, Biofuels: Policies, Standards and Technologies,
dalam http://www.worldenergy.org/documents/biofuelsformatedmaster.pdf,
diakses 11 Mei 2013.
Wright, Alam M. 2008, Brazil-US Biofuels Cooperation: One Year Later, dalam
http://www.wilsoncenter.org/sites/default/files/brazil.biofuels.wirec.pdf ,
diakses 5 Desember 2013.

Yergin, Daniel, 2012, Americas New Energy Reality, dalam


http://www.nytimes.com/2012/06/10/opinion/sunday/thenew-politics-of-energy.html?pagewanted=all,
diakses
5
Desember 2012.

, Ensuring Energy Security, dalam


http://www.un.org/ga/61/second/daniel_yergin_energysecurity.pdf, diakses
17 Desember 2012.
Zibechi, Raul, 2007, United States and Brazil: The New Ethanol Alliance,
dalam
http://dspace.cigilibrary.org/jspui/bitstream/123456789/26436/1/United
%20States%20and%20Brazil%20-%20The%20New%20Ethanol
%20Alliance.pdf?1, diakses 9 Mei 2013.

146