Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sindrom Stevens-Johnson, biasanya disingkatkan sebagai SJS, adalah reaksi buruk yang
sangat gawat terhadap obat. Efek samping obat ini mempengaruhi kulit, terutama selaput
mukosa. Juga ada versi efek samping ini yang lebih buruk, yang disebut sebagai nekrolisis
epidermis toksik (toxik epidermal necrolysis/TEN). Ada juga versi yang lebih ringan, disebut
sebagai eritema multiforme (EM).
Sindrom Steven-Johnson (SSJ) merupakan suatu kumpulan gejala klinis erupsi
mukokutaneus yang ditandai oleh trias kelainan pada kulit vesikulobulosa, mukosa orifisium
serta mata disertai gejala umum berat. Sinonimnya antara lain : sindrom de FriessingerRendu, eritema eksudativum multiform mayor, eritema poliform bulosa, sindrom mukokutaneo-okular, dermatostomatitis, dll.
Etiologi SSJ suit ditentukan dengan pasti, karena penyebabnya berbagai faktor, walaupun
pada umumnya sering berkaitan dengan respon imun terhadap obat. Beberapa faktor
penyebab timbulnya SSJ diantaranya : infeksi (virus, jamur, bakteri, parasit), obat (salisilat,
sulfa, penisilin, etambutol, tegretol, tetrasiklin, digitalis, kontraseptif), makanan (coklat), fisik
(udara dingin, sinar matahari, sinar X), lain-lain (penyakit polagen, keganasan, kehamilan).
Patogenesis SSJ sampai saat ini belum jelas walaupun sering dihubungkan dengan reaksi
hipersensitivitas tipe III (reaksi kompleks imun) yang disebabkan oleh kompleks soluble dari
antigen atau metabolitnya dengan antibodi IgM dan IgG dan reaksi hipersensitivitas lambat
(delayed-type hypersensitivity reactions, tipe IV) adalah reaksi yang dimediasi oleh limfosit
T yang spesifik.
Insiden SSJ dan nekrolisis epidermal toksik (NET) dierkirakan 2-3%per juta populasi
setiaptahundi Eropa dan Amerika Serikat. Umumnya terdapat pada dewasa.
Di bagian ini setiap tahun terdapat kira-kira 12 pasien, umumnya pada dewas. Hal
tersebut berhubungan dengan kausaSSJ yang biasannya disebabkan oleh alergi obat. Pada
dewasa imunitas telah berkembang dan belum menurun seperti pada usia lanjut.
Stevens-Johnson Syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) sejak dahulu
dianggap sebagai bentuk eritem multiformis yang berat. Baru-baru ini diajukan bahwa
1

eritema multiformis mayor berbeda dari SJS dan TEN pada dasar penentuan kriteria
klinis.Konsep yang diajukan tersebut adalah untuk memisahkan spectrum eritem multiformis
dari spectrum SJS/TEN. Eritem multiformis, ditandai oleh lesi target yang umum, terjadi
pasca infeksi, sering rekuren namun morbiditasnya rendah. Sedangkan SJS/TEN ditandai
oleh blister yang luas dan makulopapular, biasanya terjadi karena reaksi yang diinduksi oleh
obat dengan angka morbiditas yang tinggi dan prognosisnya buruk. Dalam konsep ini, SJS
dan TEN kemungkinan sama-sama merupakan proses yang diinduksi obat yang berbeda
dalam derajat keparahannya. Terdapat 3 derajat klasifikasi yang diajukan :
Derajat 1 : erosi mukosa SJS dan pelepasan epidermis kurang dari 10%
Derajat 2 : lepasnya lapisan epidermis antara 10-30%
Derajat 3 : lepasnya lapisan epidermis lebih dari 30%
Dari jumlah kejadian diatas dan kondisi penyakit yang memerlukan pendeteksian dan
penanganan spesifik, penulis tertarik untuk menulis makalah Asuhan Keperawatan sindrom
steven johnson.
1.2 Tujuan Penulisan
Tujuan Umum :
Untuk mengetahui dan memahami tentang Sindrom Steven Johnson (SSJ), dan juga
mengerti tentang Asuhan Keperawatannya.
Tujuan Khusus :
1. Untuk mengetahui tentang pengertian Sindrom Steven Johnson (SSJ).
2. Untuk mengetahui tentang klasifikasi Sindrom Steven Johnson (SSJ).
3. Untuk mengetahui tentang etiologi Sindrom Steven Johnson (SSJ).
4. Untuk mengetahui tentang manifestasi klinis Sindrom Steven Johnson (SSJ).
5. Untuk mengetahui tentang patofisiologi Sindrom Steven Johnson (SSJ).
6. Untuk mengetahui tentang WOC Sindrom Steven Johnson (SSJ).
7. Untuk mengetahui tentang komplikasi Sindrom Steven Johnson (SSJ).
8. Untuk mengetahui tentang penatalaksanaan Sindrom Steven Johnson (SSJ).

1.3 Manfaaat Penulisan


Dengan makalah ini semoga pembaca lebih bisa memahami tentang Sindrom Steven
Johnson (SSJ), baik itu mengenai konsep penyakitnya, baik itu pengertian, klasifikasi,
etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi, WOC, komplikasi penatalaksanaan, serta Asuhan
Keperawatan Sindrom Steven Johnson (SSJ).
2

1.4 Sistematika Penulisan


BAB I Pendahuluan
Latar Belakang, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Sistematika Penulisan
BAB II Tinjauan Teori
Pengertian, Klasifikasi, Etiologi, Manifestasi Klinis, Patofisiologi, WOC, Komplikasi,
Penatalaksanaan
BAB III Pembahasan
Asuhan Keperawatan Sindrom Steven Johnson (SSJ)
BAB IV Penutup
Kesimpulan, Saran
Daftar Pustaka

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Pengertian
Sindrom Steven Johnson (SSJ) adalah sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir di
orifisium dan mata dengan keadaan umum bervariasi dan ringan sampai berat, kelainan pada
kulit berupa eritema, vesikel atau bula dapat disertai purpura (Djuanda, 2007).

Sindrom Steven Johnson adalah sindrom yang mengenai kulit, selaput lendir
diorifisium, dan mata dengan keadaaan umum bervariasi dengan ringan sampai yanng berat.
Kelainan pada kulit berupa eritema, vesikel/bula, dapat disertai purpura. (Muttaqin arif, 2012)
Stevens-Johnson Syndrome adalah sebuah kondisi mengancam jiwa yang
mempengaruhi kulit di mana kematian sel menyebabkan epidermis terpisah dari dermis.
Sindrom ini di perkirakan oleh karena reaksi hipersensitivitas yang mempengaruhi kulit dan
membrane mukosa. (NANDA, NIC-NOC)
SSJ adalah hipersensitifitas yang disebabkan oleh pembentukan sirkulasi kompleks
imun yang disebabkan oleh obat-obatan, infeksi virus, dan keganasan.Pada lebih dari
setengah kasus, tidak didapatkan adanya penyebab yang spesifik.
2.2 Klasifikasi
Stevens-Johnson Syndrome (SJS) dan Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) sejak
dahulu dianggap sebagai bentuk eritem multiformis yang berat. Baru-baru ini diajukan bahwa
eritema multiformis mayor berbeda dari SJS dan TEN pada dasar penentuan kriteria
klinis.Konsep yang diajukan tersebut adalah untuk memisahkan spectrum eritem multiformis
dari spectrum SJS/TEN. Eritem multiformis, ditandai oleh lesi target yang umum, terjadi
pasca infeksi, sering rekuren namun morbiditasnya rendah. Sedangkan SJS/TEN ditandai
oleh blister yang luas dan makulopapular, biasanya terjadi karena reaksi yang diinduksi oleh
obat dengan angka morbiditas yang tinggi dan prognosisnya buruk. Dalam konsep ini, SJS
dan TEN kemungkinan sama-sama merupakan proses yang diinduksi obat yang berbeda
dalam derajat keparahannya. Terdapat 3 derajat klasifikasi yang diajukan :
a. Derajat 1 : erosi mukosa SJS dan pelepasan epidermis kurang dari 10%
b. Derajat 2 : lepasnya lapisan epidermis antara 10-30%
c. Derajat 3 : lepasnya lapisan epidermis lebih dari 30%
2.3 Etiologi
Penyeban utama adalah alergi obat, lebih dari 50%.sebagian kecil karena infeksi,
vaksinas, penyakit graft-versus-host, neoplasma, dan radiasi.
Pada penelitian adhi djuanda selaama 5 tahun(1998-2002) SSJ yang diduga alergi
obat tersering ialah analgetik/antipiretik (45%), disusul karbamazepin (20%), dan jamu

(13,3%). Sebagian besar jamu dibubuhi obat. Kausa yang lain amoksisilin, kotrimokssasol,
dilantin, klorokuin, seftriakson, dan adiktif.
2.4 Manifestasi Klinis
Sindroma ini umumnya terdapat pada anak dan dewasa, jarang dijumpai pada usia 3
tahun kebawah. Keadaan umumnya bervariasi dari baik sampai buruk dimana kesadarannya
spoor sampai koma. Berawal sebagai penyakit akut dapat disertai gejala prodromal berupa
demam tinggi, malaise, nyeri kepala, batuk, pilek, dan nyeri tenggorokan.
Trias SSJ adalah :
a. Kelainan kulit berupa eritema, vesikel, dan bula yang kemudian memecah
sehingga terjadi erosi yang luas. Purpura dapat terjadi dan proknosisnya
menjadi lebih buruk, pada keadaan berat kelainannya geberalisata.
b. Kelainan selaput lendir orifisium, yang sering pada mukosa mulut (100%),
orifisium genital eksterna (50%), lubang hidung (8%), dan anus (4%). Lesi
awal berupa vesikel di bibir, lidah, dan mukosa bukal yang kemudian pecah
membentuk erusi, ekskoriasi, eksudasi, krusta kehitaman, dan pembentukan
pseudomembran. Biasanya juga terjadi hipersalivasi dan lesi dapat berulserasi.
Dibibir kelainan yang sering tampak ialah krusta berwarna hitam yang tebal
akibat ekskoriasi. Kelaianan dimukosa terdapat di faring, saluran nafas bagian
atas, dan esophagus. Kelainan dimulut yang hebat dan terbentuknya
pseudomembran berwarna putih atau keabuan di faring dapat menyebabkan
kesulitan menelan, sedangkan kelainan disaluran pernapasan bagian atas dapat
menyebabkan keluhan sukar bernafas.
c. Kelaianan mata (80%), yang tersering konjungtivitis kataralis. Dapat terjadi
konjungtivitis purulen, perdarahan, simbelefaron, ulkus kornea, iritis, dan
iridosilitis.
Selain kelainan tersebut dapat terjadi kelainan lain, misalnya nefritis dan
onikolisis.
2.5 Patofisilogi
Patogenesis SSJ sampai saat ini belum jelas walaupun sering dihubungkan dengan
reaksi hipersensitivitas tipe III (reaksi kompleks imun) yang disebabkan oleh kompleks
soluble dari antigen antibody yang terbentuk terperangkap dalam jaringan kapiler sehingga
5

terjadi aktivasi S. Komplemen pada sel mast. Netrofil memfagositos sel-sel yang rusak
sehingga terjadi pelepasan sel yang rusak maka sel tersebut terbadi kerusakan jaringan
dengan menggunakan respon yang terbagi menjadi 3 yaitu :
a. Respon lokal yang terdiri dari : eritema, vesikel, dan bula sehingga muncul
diagnosa resiko infeksi pada jaringan
b. Respon inflamsi sistemik terjadi gangguan pada gastrointertinal,deman,dan malaise
muncul masalah keperawatan yaitu ketidakseimbangan nutrisi kurang dari
kebutuhan dan deficit perawatan diri.
c. Respon psikologis terjadi karena kerusakan jaringan kulit sehingga terjadi Ansietas
Metabolitnya dengan antibodi IgM dan IgG dan reaksi hipersensitivitas lambat
(delayed-type hypersensitivity reactions, tipe IV) adalah reaksi yang dimediasi oleh
limfosit T yang spesifik. Oleh karena proses hipersensitivitas yang terjadi reaksi
nyeri yang tajam atau tiba-tiba saat terkena panas,dingin,manis, asin, atau
rangsangan mekanik yang kondisinya sensitive. Penyakit SSJ sekitar 50% terjadi
karena obat-obatan, dan Beberapa faktor penyebab timbulnya SSJ karena infeksi
virus(virus herpes simplex,Mycoplasma pneumoniae). maka terjadi kerusakan kulit
sehingga terjadi :
1. Kegagalan fungsi kulit yang menyebabkan kehilangan cairan
2. Stres hormonal diikuti peningkatan resisitensi terhadap insulin, hiperglikemia
dan glukosuriat
3. Kegagalan termoregulasi
4. Kegagalan fungsi imun
5. Infeksi
Karena kerusakan kulit tersebut limfosit T tersintesisasi sehingga terjadi
pengaktifan sel T dan melepaskan limfokin/sitotosik maka sel terjadi penghancuran
karena reaksi dari peradangan menimbulkan hipertermi dan nyeri.
2.6 WOC
2.7 Komplikasi
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bronkopneumonia (16%)
Sepsis
Kehilangan cairan/darah
Gangguan keseimbangan elektrolit
Syok
Kebutaan gangguan lakrimasi

2.8 Penatalaksanaan
a.

Kortikosteroid
6

Bila keadaan umum baik dan lesi tidak menyeluruh cukup diobati dengan
prednisone 30-40 mg sehari. Namun bila keadaan umumnya buruk dan lesi
menyeluruh harus diobati secara tepat dan cepat. Kortikosteroid merupakan
tindakan file-saving dan digunakan deksametason intravena dengan dosis
permulaan 4-6 x 5 mg sehari. Umumnya masa kritis diatasi dalam beberapa hari.
Pasien steven-Johnson berat harus segera dirawat dan diberikan deksametason
65 mg intravena. Setelah masa krisis teratasi, keadaan umum membaik, tidak
timbul lesi baru, lesi lama mengalami involusi, dosis diturunkan secara cepat,
setiap hari diturunkan 5 mg. Setelah dosis mencapai 5 mg sehari, deksametason
intravena diganti dengan tablet kortikosteroid, misalnya prednisone yang
diberikan keesokan harinya dengan dosis 20 mg sehari, sehari kemudian
diturunkan lagi menjadi 10 mg kemudian obat tersebut dihentikan. Lama
pengobatan kira-kira 10 hari. Seminggu setelah pemberian kortikosteroid
dilakukan pemeriksaan elektrolit (K, Na dan Cl). Bila ada gangguan harus diatasi,
misalnya bila terjadi hipokalemia diberikan KCL 3 x 500 mg/hari dan diet rendah
garam bila terjadi hipermatremia. Untuk mengatasi efek katabolik dari
kortikosteroid diberikan diet tinggi protein/anabolik seperti nandrolok dekanoat
dan nanadrolon. Fenilpropionat dosis 25-50 mg untuk dewasa (dosis untuk anak
tergantung berat badan).
b.

Antibiotik
Untuk mencegah terjadinya infeksi misalnya bronkopneumonia yang dapat
menyebabkan kematian, dapat diberi antibiotic yang jarang menyebabkan alergi,
berspektrum luas dan bersifat bakteriosidal misalnya gentamisin dengan dosis 2 x
80 mg.

c.

Infus dan tranfusi darah


Pengaturan keseimbangan cairan/elektrolit dan nutrisi penting karena pasien
sukar atau tidak dapat menelan akibat lesi dimulut dan tenggorokan serta
kesadaran dapat menurun. Untuk itu dapat diberikan infus misalnya glukosa 5 %
dan larutan Darrow. Bila terapi tidak memberi perbaikan dalam 2-3 hari, maka
dapat diberikan transfusi darah sebanyak 300 cc selama 2 hari berturut-turut,
terutama pada kasus yang disertai purpura yang luas. Pada kasus dengan purpura

yang luas dapat pula ditambahkan vitamin C 500 mg atau 1000 mg intravena
sehari dan hemostatik.
d. Topikal :
Terapi topical untuk lesi di mulut dapat berupa kenalog in orabase. Untuk lesi
di kulit yang erosif dapat diberikan sufratulle atau krim sulfadiazine perak.

BAB III
PEMBAHASAN
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
3.1 Pengkajian
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara
menyeluruh
a. Identitas, kajian ini meliputi nama, initial, umur, jenis kelamin, agama, suku,
pendidikan pekerjaan dan tempat tinggal klien. Selain itu perlu juga dikaji nama
dan alamat penanggung jawab, serta hubungannya dengan klien.
b. Riwayat Penyakit
Keluhan utama, keluhan utama yang sering muncul pada pasien dengan gangguan
Sindrom Steven Johnson, antara lain :

demam
nyeri
Kulit eritema
vesikel
purpura

malaise
papul
bula yang mudah
pecah sehingga
terjadi erosi yang
8

luas
Riwayat Perjalanan Penyakit, berapa lama sakit dialami, hal-hal yang
memperingan / memperberat penyakit.
Riwayat Penyakit Dahulu, kaji riwayat penyakit yang pernah diderita dari masa
kanak-kanak sampai dewasa, termasuk dengan Kemungkinan memakan
makanan/minuman yang terkontaminasi, infeksi obat-obatan mungkin dapat
menyebabkan komplikasi lebih berat terhadap penyakit Sindrom Steven Johnson
ini.
Riwayat kesehatan keluarga, Berkaitan erat dengan penyakit keturunan dalam
keluarga, misalnya ada anggota keluarga yang pernah menderita penyakit yang
sama.
c. Pengkajian Pola
Pengkajian pola pada pasien myocarditis (Marilynn E. Doenges, 1999) meliputi :
1. Aktivitas / istirahat
Gejala : kelelahan, malaise, kelemahan, ketidakmampuan untuk melakukan
aktivitas biasanya.
Tanda : kelelahan otot.
2. Pernapasan
Gejala : napas pendek dengan kerja minimal
Tanda : dispnea, takipnea, batuk Gemericik, ronki.
3. Sirkulasi
Gejala : palpitasi.
Tanda : takikardi, mur-mur jantung.
Kulit, membran mukosa pucat, ruam di seluruh tubuh. Defisit saraf kranial
dan/atau tanda perdarahan cerebral..
4. Eliminasi
Gejala : nyeri tekan perianal, nyeri.
5. Nyeri
Gejala : nyeri orbital, sakit kepala, nyeri tulang/sendi, nyeri tekan sternal,
kram otot.
Tanda : perilaku berhati-hati/distraksi, gelisah, fokus, pada diri sendiri.
6. Keamanan
Gejala: riwayat infeksi saat ini/dahulu, jatuh. Gangguan
penglihatan/kerusakan. Perdarahan spontan tak terkontrol dengan trauma
minimal.
Tanda: demam, infeksi. Kemerahan, purpura, perdarahan retinal, perdarahan
gusi, atau epistaksis. Pembesaran nodus limfe, limpa, atau hati (sehubungan
dengan invasi jaringan). Papil edema dan eksoftalmus.
7. Integritas ego
Gejala: perasaan tak berdaya/tak ada harapan.

Tanda: depresi, menarik diri, ansietas, takut, marah, mudah terangsang.


Perubahan alam perasaan, kacau.
8. Makanan/cairan
Gejala: kehilangan nafsu makan, anoreksia, mual. Perubahan
rasa/penyimpangan rasa.
tanda : Penurunan berat badan.
3.2 Diagnosis Keperawatan
1. Hipertermi b.d proses penyakit (infeksi)
2. kerusakan integritas jaringan b.d bula yang mudah pecah
3. Nyeri b.d adanya bula
4. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

3.3 Intervensi
1. Hipertermi b.d proses penyakit (infeksi)
No.
1.

diagno
sa
Hiperte
rmi
b.d
pros
es
pen
yaki
t
(inf
eksi
)

Noc
Thermoregulation
s
Kriteria hasil :
Suhu tubuh
dalam rentan
normal
Nadi dan rr
dalam rentan
normal
Tidak ada
perubahan warna
kulit dan pusing

Nic
Fever treatment

-monitor suhu
sesering
mungkin

-monitor IWL,
warna dan suhu
kulit
-monitor TD,
nadi dan RR
-Monitor intake
dan output
-Monitor suhu
tiap 2jam
-Berikan anti
piretik
-Berikan pengobatan
untuk mengatasi
penyebab demam
-Selimut pasien

Rasional
Mengetahui suhu
tubuh dalam rentan
normal
Memastikan Tidak
ada perubahan
warna kulit dan
pusing

10

-kompres pasien
pada lipat paha dan
aksila

2. kerusakan integritas jaringan b.d bula yang mudah pecah


No
2

diagnosa
kerusakan integritas
jaringan b.d bula
yang mudah pecah

Noc
Tissue integrity :
Skin and Mucous
Membranes
Hemodyalis akses
Kriteria hasil :
Integritas kulit yang
baik bisa
dipertahankan
(sensasi, elastisitas,
temperature,
hidrasi, pigmentasi)
Tidak ada luka/lesi
pada kulit
Perfusi jaringan
baik
Menunjukan
pemahaman dalam
proses perbaikan
kulit dan mencegah
terjadinya cidera
berulang
Mampu melindungi
kulit
danmempertahanka
n kelembaban kulit
dan perawatan
alami

Nic
Pressure
Management
-Anjurkan pasien
untuk menggunakan
pakaian yang
longgar
-Hindari kerutan
pada tempat tidur
-Jaga kebersihan
kulit agar tetap
bersih dan kerin
-Mobilisasi pasien
(ubah posisi pasien)
setiap dua jam sekali
-Monitor kulit akan
adanya kemerahan
-Oleskan lotion atau
minyak/baby oil
pada daerah yang
tertekan
-Monitor aktivitas
dan mobilisasi
pasien
-Monitor status
nutrisi pasien
-Memandikan pasien
dengan sabun dan air
hangat
Insision site care
-Membersihkan,
mementau dan

Rasion

al
Me
nget
ahui
kea
daa
n
kuli
t
pasi
en
untu
k
me
mpe
rtah
ank
an
keb
ersi
han
kuli
t.
men
gtah
ui
ada
tida
kny
a
kem
erah
11

meningkatkan
proses
penyembuhan pada
luka yang ditutup
dengan jahitan, klip
atau straples
-Monitor proses
kesembuhan area
insisi
-Monitor tanda dan
gejala infeksi pada
area insisisda
-Gunakan perapat
antiseptic, sesuai
program
-Ganti balutan pada
interval waktu yang
sesuai atau biarkan
luka tetap terbuka
(tidak dibalut)
sesuai program

an
dan
cara
men
gata
siny
a
men
geta
hui
akti
fitas
pasi
en
untu
k
men
gura
ngi
keru
saka
n
inte
grit
as
jari
nga
n.
me
mas
tika
n
pasi
en
man
di
air
han
gat.
men
geta
hui
pros
es
12

pen
yem
buh
an
luka

3. Nyeri b.d adanya bula


No
3

Diagnosa

Noc

Nic

Pain Level
Pain Control
Comfort Level
KriteriaHasil:
Mampumengontrol
nyeri (tahu
penyebab nyeri,
mampu
menggunakan
teknik non
farmakologi untuk
mengurangi nyeri,
mencri bantuan) Melaporkan bahwa
nyeri berkurang
dengan
menggunakan
manajemen nyeri
Mampu mengenali
nyeri (skala,
intensitas, frekuensi
dan tanda nyeri)
Menyatakan rasa
nyaman setelah
nyeri berkurang
-

Pain Management
Lakukanpengkajiann
yerisecarakomprehe
nsiftermasuklokasi,
karakterisktik,
durasifrekuensi,
kualitasdanfaktorpre
sipitasi
Observasireaksinonv
erbal
dariketidaknyamana
n
Gunakanteknikkomu
nikasiterapeutikuntu
kmengetahuipengala
mannyeripasien
Kajikulturyngmeme
pengaruhiresponnye
ri
Evaluasipengalaman
nyerimasalampau
Evaluasibersamapasi
endantimkesehatan
lain
tentangketidkefektif
an control
nyerimasalampau
Bantu
pasiendankeluargau
ntukmencaridanmen
emukandukungan
Kontrollingkungany

Rasion
al
mengetahui
lokasi,
karakteristik,
durasi,
frekuensi,
kualitas dan
faktor

presipitasi
mengetahui
reaksi non
verbal dari
ketidak
nyamanan
memberi rasa
nyaman dalam
pengkajian
memelihara
lingkungan yang
dapat
mempengaruhi
nyeri
menentukan
lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan
derajat nyeri
pemberian obat
memvalidasi
instruksi dokter
13

angdapatmempengar
uhinyerisepertisuhur
uangan,
pencahayaandankebi
singan
Kurangifaktorpresipi
tasinyeri
Pili dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakoloi, non
farmakologi dan
inter personal)
Kaji tipe dan sumber
nyeri untuk
menentukan
intervensi
Ajarkan tentang
teknik non
farmakologi
Berikanan algetik
untuk mengurangi
nyeri
Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
Tingktkan istirahat
Kolaborasi akan
dengan dokter jika
ada keluhan dan
tindakan nyeri tidak
berhasil
Monitor penerimaan
pasien tentang
manajemen nyeri
Analgesic
Administration
- Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan
derajat nyeri
sebelum
pemberian obat
- Cek instruks
dokter tentang
jenis oabt, dosis,
dan frekuensi

dan memeriksa
riwayat alergi
mengetahui
perkembangan
vital sign
sebelum dan
sesudah
tindakan
mengurangi rasa
nyeri tepat
waktu
mengetahui
efekltifitas
analgesik dan tanda
gejala

14

Cek riwayat
alergi
- Pilih analgesic
yang diperlukan
atau kombinasi
dari analgesic
ketika pemberian
lebih dari satu
Tentukan pilihan
analgesic tergantung
tipe dan
beratnyenyeri
Tentukananalgrsikpil
ihan, rutepemberian,
dandosis optimal
Pilihrutepemberianse
cara IV, IM
untukpengobatannye
risecarateratur
- Monitor vital
sign
sebelumdansesud
ahpemberian
analgesic pertama
kali
Berikan analgesic
tepatwaktuterutamas
aatnyerihebat
Evaluasiaktivitas
analgesic,
tandadangejala

4. ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


No

Diagn

Noc

Nic

Rasional

os
4

a
Ketida
ks
ei
mb
an
ga

Nutrional status
Nutrional status:
food and fluid
intake
Nutrional status:
nutrient intake

Nutrional
Management
- Kaji adanya
alergi makanan
- Kolaborasi
dengan ahli gizi

Mengeta
hui
makanan
yang
sesuai.
Memasti
15

n
nut
risi
ku
ran
g
dar
i
ke
but
uh
an
tub
uh

Weight control
Krieteria hasil:
Adanya
peningkatan berat
badan sesuai
dengan tujuan.
Berat badan sesuai
dengan tinggi
badan.
Mampu
mengidentifikasi
kebutuhan nutrisi
Tidak ada tanda
malnutrisi
Tidak terjadi
penurunan berat
baan yang berarti

untuk
menentukan
jumlah kalori dan
nutrisi yang
dibutuhkan
pasien
- Berikan substansi
gula
- Yakinkan diet
yang dimakan
tinggi serat untuk
mencegah
konstipasi
- Monitor jumlah
nutrisidan
kandungan kalori
Nutrion monitoring
- BB pasien dalam
batas normal
- Monitor adanya
penurunan berat
badan
- Monitor jumlah
dan tipe aktifitas
yang biasa
dilakukan
- Monitor kulit
kering dan
perubahan
pigmentasi
- Monitor tugor
kulit
- Monitor mual
dan muntah
- Monitor pucat,
kemerahan dan
kekeringan
jaringan.

kan idak
terjadi
penuruna
n berat
badan
Memasti
kan tidak
terjadi
penuruna
n tugor
kulit,
perubaha
n
pigmenta
si dan
kulit
kering.

3.4 Implementasi
Menurut Patricia A. Potter (2005), Implementasi merupakan pelaksanaan dari
rencana tindakan keperawatan yang telah disusun/ ditemukan, yang bertujuan untuk
16

memenuhi kebutuhan pasien secara optimal dapat terlaksana dengan baik dilakukan
oleh pasien itu sendiri ataupun perawat secara mandiri dan juga dapat bekerjasama
dengan anggota tim kesehatan lainnya seperti ahli gizi dan fisioterapis. Perawat
memilih intervensi keperawatan yang akan diberikan kepada pasien.
Berikut ini metode dan langkah persiapan untuk mencapai tujuan asuhan
keperawatan yang dapat dilakukan oleh perawat :
1

Memahami rencana keperawatan yang telah ditentukan

Menyiapkan tenaga dan alat yang diperlukan

Menyiapkan lingkungan terapeutik

Membantu dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari

Memberikan asuhan keperawatan langsung

Mengkonsulkan dan memberi penyuluhan pada klien dan keluarganya.


Implementasi membutuhkan perawat untuk mengkaji kembali keadaan klien,
menelaah, dan memodifikasi rencana keperawatn yang sudah ada, mengidentifikasi
area dimana bantuan dibutuhkan untuk mengimple-mentasikan, mengkomunikasikan
intervensi keperawatan.
Implementasi dari asuhan keperawatan juga membutuhkan pengetahuan tambahan
keterampilan dan personal. Setelah implementasi, perawat menuliskan dalam catatan
klien deskripsi singkat dari pengkajian keperawatan, Prosedur spesifik dan respon
klien terhadap asuhan keperawatan atau juga perawat bisa mendelegasikan
implementasi pada tenaga kesehatan lain termasuk memastikan bahwa orang yang
didelegasikan terampil dalam tugas dan dapat menjelaskan tugas sesuai dengan standar
keperawatan.

3.5 Evaluasi
Evaluasi adalah bagian terakhir dari proses keperawatan. Evaluasi adalah penilaian
dari perubahan keadaan yang dirasakan klien sehubungan dengan pencapaian tujuan atau hasil
yang diharapkan. Tahap ini merupakan kunci dari keberhasilan dalam melaksanakan proses
keperawatan, dari hasil evalusi ini merupakan kemungkinan yang akan terjadi untuk
menentukan asuhan keperawatan selanjutnya. Meskipun evaluasi merupakan tahap terakhir
dari proses keperawatan tetapi tidak berhenti sampai disini, jika maslah belum teratasi atau
timbul masalah baru maka tindakan perlu dilanjutkan atau dimodifikasi kembali.
17

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Sistem imunitas atau Pertahanan dalam tubuh manusia yang berfungsi melindungi
tubuh manusia dari masuknya infeksi baik itu virus, bakteri, protozoa maupun penyakit.
Apabila pertahanan tubuh manusia tidak dapat mengenali antigen yang masuk kedalam tubuh
maka akan meyebabkan penyakit sistem imun dan hematologi seperti salah satunya Syndrom
Steven Johnson atau yang biasanya disebut dengan penyakit kulit yang sangat parah atau akut
berat. Penyakit ini disebabkan oleh adanya reaksi hipersensitivitas terhadap obat, infeksi
virus, bakteri, radiasi, makanan dan sebagainya. Apabila mengalami penyakit ini maka akan
mengalami tanda dan gejala seperti adanya eritema, vesikel, bula, selaput lendir orifisium,
dan kelainan pada mata. Sedangkan penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah dengan
tiga (3) cara yaitu dengan penatalaksanaan umum, khusus sistemik dan topikal.
Sindrom Steven-Johnson (SSJ) merupakan suatu kumpulan gejala klinis erupsi
mukokutaneus yang ditandai oleh trias kelainan pada kulit vesikulobulosa, mukosa orifisium
serta mata disertai gejala umum berat
Sindrom Stevens-Johnson pertama diketahui pada 1922 oleh dua dokter, dr.Stevens
dan dr. Johnson, pada dua pasien anak laki-laki. Namun dokter tersebut tidak dapat
menentukan penyebabnya.
4.2 Saran
18

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penyusun mengambil saran dalam rangka


meningkatkan pelayanan asuhan keperawatan. Adapun saran-saran adalah sebagai berikut :
1. Pasien
Apabila sudah mengetahui dan memahami gejala dari penyakit steven johnson
hendaknya segera membawa pasien kerumah sakit agar dapat dilakukan tindakan
keperawatan.

2. Perawat
Bagi seorang perawat sebaiknya harus memahami dan mengerti baik secara
teoritis maupun praktek tentang penyakit steven johnson agar dapat melakukan
tindakan keperawatan.
3. Rumah Sakit
Bagi rumah sakit hendaknya melengkapi fasilitas rumah sakit sehingga pada
penderita steven johnson mendapatkan ruangan dan fasilitas medis yang
seharusnya ada sehingga dapat melakukan tindakan keperawatan untuk
mengurangi dari gejala dan komplikasi penyakit steven johnson.

19

DAFTAR PUSTAKA
Adhi, Djuanda. 2007. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Fakultas kedokteran universitas
Indonesia. Jakarta.
Muttaqin, Arif. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta. Salemba
Medika.
Aplikasi Asuhan Keperwatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. 2013.
Panduan penyusunan Asuhan Keperawatan Profesional.
Hetharia, Rospa. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen.

20