Anda di halaman 1dari 18

KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN DAN SATWA LIAR

LAPORAN
INVENTARISASI BURUNG PADA AREAL AKADEMIK DAN
AUDITORIUM POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA

Oleh Kelompok II B:
1.
2.
3.
4.

Puja Ayuningtias (110 500 142)


Puji Dwinastiti (110 500 143)
Rani Octaviani Putri (110 500 144)
Retno Ristiadi (110500145)

PROGRAM STUDI MANAJEMEN LINGKUNGAN


JURUSAN MANAJEMEN PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
2013

Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, mana atas
berkat, rahmat, taufik, dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelasaikan Laporan
Konservasi Sumber Daya Hutan dan Satwa Liar, dengan judul Inventarisasi
Burung Pada Areal Akademik dan Auditorium Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda.. Tujuan membuat laporan ini selain untuk memenuhi tugas kuliah
dari dosen pembimbing, kami juga berharap bahwa laporan ini dapat berguna
bagi pembaca untuk menambah wawasan atau pengetahuan. Meskipun kami
tahu bahwa isi dari laporan ini belum sempurna seutuhnya, oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Terima kasih yang sedalam-dalamnya kami sampaikan kepada beberapa
pihak yang telah mencurahkan perhatian dan bantuannya kepada kami dalam
menyusun laporan ini, sehingga laporan ini dapat terselesaikan.
Samarinda, 11 Januari 2013

Tim Penyusun

ii

Daftar Isi
Kata Pengantar ............................................................................................ ii
Daftar Isi ................................................................................................... iii
I.

II.

Pendahuluan
A.

Latar Belakang ............................................................................... 1

B.

Tujuan ............................................................................................ 2

Tinjauan Pustaka
A.

Burung ............................................................................................ 3

B.

Ekologi Burung ................................................................................ 4

C.

Metode Inventarisasi Satwa ............................................................ 5

D.

Waktu dan Tempat Praktikum.......................................................... 6

III.

Hasil dan Pembahasan .......................................................................... 7

IV.

Penutup

V.

A.

Kesimpulan ..................................................................................... 13

B.

Saran .............................................................................................. 15

Daftar Pustaka ....................................................................................... 16

iii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia dengan hutan hujan tropisnya merupakan daerah yang menjadi
paru-paru dunia karena terdapat berguna bagi lingkungan. Indonesia merupakan
salah satu dari sepuluh Negara di dunia yang miliki hutan hujan, yang mana
hutan hujan itu sendri adalah hutan dengan pohon-pohon yang tinggi, iklim yang
hangat, dan curah hujan yang tinggi. Di beberapa hutan hujan, curah hujannya
lebih besar dari 1 inci per hari. Hutan hujan sangat berperan penting dalam
Ekosistem Global yang menyedikan jasa lingkuangan seperti menyediakan
rumah bagi banyak tumbuhan dan hewan, membantu menstabilkan iklim dunia,
melindungi dari banjir, kekeringan, dan erosi, sumber dari obat-obatan dan
makanan, menyokong kehidupan manusia suku pedalaman, dan adalah tempat
menarik untuk dikunjungi.
Hutan hujan membantu menstabilkan iklim dunia dengan cara menyerap
karbon dioksida dari atmosfer. Pembuangan karbon dioksida ke atmosfer
dipercaya memberikan pengaruh bagi perubahan iklim melalui pemanasan
global. Karenanya hutan hujan mempunyai peran yang penting dalam mengatasi
pemanasan global. Hutan hujan juga mempengaruhi kondisi cuaca lokal dengan
membuat hujan dan mengatur suhu.
Selain

itu,

hutan

hujan

juga

memiliki

tingkat

biodiversity

atau

keanekaragaman hayati yang tinggi. Berbagai spesies hidup di hutan hujan, dari
spesies yang langka hingga spesies yang dapat ditemuin diberbagai tempat.
Hutan hujan Indonesia merupakan tempat yang ideal untuk tumbuhnya berbagai
macam spesies, sehingga hutan hujan memiliki tingkat biodiversity yang tinggi.

Karena macam spesies yang ada di hutan Indonesia sangatlah banyak,


maka perlu dilakukan inventarisasi untuk mengetahui secara pasti spesies apa
saja yang ada di dalam hutan hujan. Salah satu jenis inventarisasi yang dapat
dilakukan adalah inventarisasi satwa. Namun, inventarisasi ini harus lebih di
spesifikasikan untuk jenis satwa tertentu, misalnya saja inventarisasi burung
yang ada di hutan Indonesia.

B. Tujuan
Tujuan dilakukannya inventarisasi adalah untuk mengumpulkan data-data
yang didapatkan dari lapangan atau hasil observasi mahasiswa dilapangan.
Selain itu, dengan dilakukannya inventarisasi maka mahasiswa dapat
mengetahui jenis burung apa saja yang ada dilingkungan Politeknik Pertanian
Negeri Samarinda beserta cirri khas masing-masing dari burung tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Burung

Burung adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata)


yang memiliki bulu dan sayap. Fosil tertua burung ditemukan di Jerman dan
dikenal sebagai Archaeopteryx.

Jenis-jenis burung begitu bervariasi, mulai dari burung kolibri yang kecil
mungil hingga burung unta, yang lebih tinggi dari orang. Diperkirakan
terdapat sekitar 8.800 10.200 spesies burung di seluruh dunia; sekitar
1.500 jenis di antaranya ditemukan di Indonesia. Berbagai jenis burung ini
secara ilmiah digolongkan ke dalam kelas Aves.

Kebanyakan

burung

harus

makan

makanan

sekurang-kurangnya

setengah dari berat badan mereka setiap hari.

Burung hidup dan berkembangbiak pada sebagian besar habitat darat


dan pada tujuh benua, hingga mencapai koloni ekstrim mereka pada koloni
perkembangbiakan Petrel Salju hingga pada ketinggian 440 kilometer
(270 mil) di pedalaman Antartika. Diversitas tertinggi burung terdapat di
wilayah tropis. Ini juga sudah dipikirkan sebelumnya bahwa keragaman
tertinggi burung adalah hasil dari tingkat spesiasi di daerah tropis,
bagaimanapun studi terbaru menemukan spesiasi tingkat tertinggi di lintang
tinggi yang diimbangi dengan tingkat kepunahan lebih besar daripada di
daerah tropis. Beberapa familia burung telah beradaptasi terhadap kehidupan
baik di lautan dunia dan pada diri mereka, dengan beberapa spesies burung

laut datang ke darat hanya untuk berkembangbiak dan beberapa penguin


telah tercatat menyelam hingga kedalaman 300 m (980 kaki).

Banyak

spesies

burung

yang

telah

membangun

populasi

perkembangbiakan di wilayah mereka yang diintroduksi oleh manusia.


Beberapa introduksi memang disengaja; contohnya Puyuh Biasa, diintroduksi
ke seluruh dunia sebagai burung buruan. Yang lain karena ketidaksengajaan,
seperti pembentukan populasi Parkit Pendeta liar di beberapa kota di
Amerika Utara setelah pelarian mereka dari penangkaran. Beberapa spesies,
termasuk Kuntul Kerbau, Karakara Kepala-kuning dan Kakatua Galah,
memiliki telah menyebar secara alami melampaui rentang asli mereka
sebagai praktek agricultural yang membuat habitat baru mereka yang sesuai.

B. Ekologi Burung
Sebagian besar burung menempati berbagai lokasi dalam ekologi.
Sementara beberapa burung umum yang lain menempati tempat yang sangat
khusus di habitatnya atau berdasarkan dimana letak jenis makanannya
berada. Bahkan di dalam sebuah habitat tunggal, seperti hutan, area ini bisa
ditempati oleh berbagai jenis burung yang bervariasi, dengan beberapa
spesies hidup dalam hutan kanopi, beberapa di bawah kanopi itu sendiri,
serta beberapa yang lainnya dalam dalam hutan itu sendiri. Burung yang
hidup di sekitar perairan umumnya mencari makanan dengan memancing,
memakan tanaman, dan membajak makanan hewan lain. Burung pemangsa
mengkhususkan diri pada berburu hewan atau burung lain.

C. Metode Inventarisasi Satwa


Sebelum melakukan inventarisasi burung, terlebih dahulu harus sedikit
banyak diketahui gambaran umum tentang sifat-sifat hidup dari setiap jenis
burung antara lain pengenalan jenis, habitat yang disukai burung, waktu aktif
dan tingkah laku burung.
a. Jenis satwa
Pengenalan jenis satwa penting diketahui yakni dari tanda-tanda
morfologi yang dimiliki oleh setiap jenis satwa. Dengan mengetahui
tanda-tanda tersebut kita akan dapat mengenali dan membedakan jenis
dalam suatu kelompok atau golongan satwa.
b. Habitat
Pengenalan habitat yang disukai satwa akan memudahkan dalam
melakukan inventarisasi. Habitat disini dimaksudkan tempat atau
lapangan yang dipakai untuk melakukan kegiatannya.
c. Waktu aktif
Yang dimaksud dengan waktu aktif disini ialah waktu yang dipakai
oleh

setiap

jenis

satwa

untuk

melakukan

kegiatan-kegiatannya.

Mengetahui waktu keaktifan penting sekali untuk memudahkan dalam


inventarisasi, terutama bagi satwa-satwa yang harus dilihat langsung.
d. Tingkah laku
Tingkah laku satwa yakni kebiasaan-kebiasaan dalam aktifitas
hidupnya, seperti cara makan, membuat sarang dan lain sebagainya. Dari
semua sifat-sifat hidup tersebut selain dapat mengenali langsung, juga
beberapa jenis satwa sering membuat tanda-tanda khas. Dari tandatanda tersebut kita dapat mengetahui ada tidaknya suatu jenis satwa.

D. Waktu dan Tempat Praktikum


a. Waktu dan Lokasi Praktikum
Hari/Tanggal : Sabtu, 16 Maret 2013 - Selasa, 16 April 2013
Waktu

: 10.00 s/d selesai

Lokasi

: Areal akademik dan arboretum Politeknik Pertanian


Negeri Samarinda

b. Alat
1. Teropong
2. Alat tulis

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertemuan I : Sabtu, 16 Maret 2013


No.

Nama Burung

Burung Gereja
1.
(Passer
Montanus)

2.

Burung MaduLeher Merah


(Anthreptes
rhodolaema)

Burung Sriti
3.
(Collocalia
esculenta)

Burung Pipit
4.
(Lonchura
atricapilla)

Ciri-Ciri
- Tubuh berukuran sedang (14
cm).
- Mahkota
warna
coklat
berangan.
- Dagu, tenggorokan, bercak
pipi dan setrip mata warna
hitam.
- Tubuh bagian bawah kuning
tua keabu-abuan.
- Tubuh bagian atas berbintik
coklat dengan tanda hitam
dan putih.
- Remaja: berwarna lebih pucat
dengan tanda khas yang
kurang jelas. Iris coklat, paruh
abu-abu, kaki coklat.
- Berukuran sedang (12 cm.)
- Jantan : memiliki mahkota
dan punggung hijau metalik
mengkilap, Dagu dan penutup
sayap atas merah marun,
tenggorokan merah lembut,
perut kuning zaitun.
- Betina : punggung berwarna
hijau zaitun, tenggorokan
keputih-putihan, perut kuning
pucat, dengan lingkar mata
kecil kekuningan.Iris merah,
paruh hitan, dan kaki zaitun.
- Ukuran tubuhnya sekitar 10
cm.
- Tubuh bagian atas berwarna
hitam kehijau-hijauan dan
tubuh bagian bawah berwarna
abu-abu gelap.
- Bagian perut sriti yang
berwarna putih.
- Burung pipit bertubuh kecil
dengan panjang tubuh antara
10-12 cm dan berat 10-14
gram.
- Kuku burung pipit tumbuh
sangat cepat.
- Burung pipit jantan memiliki
kepala yang sedikit lebih lebar
dibanding burung pipit betina.

Gambar

Pertemuan II : Kamis, 21 Maret 2013


No.

Nama Burung

Burung Gereja
1.
(Passer
Montanus)

Burung Kutilang
2.
(Pycnonotus
aurigaster)

Burung Sriti
3.
(Collocalia
esculenta)

Burung Pipit
4.
(Lonchura
atricapilla)

Ciri-Ciri
- Tubuh berukuran sedang (14
cm).
- Mahkota
warna
coklat
berangan.
- Dagu, tenggorokan, bercak
pipi dan setrip mata warna
hitam.
- Tubuh bagian bawah kuning
tua keabu-abuan.
- Tubuh bagian atas berbintik
coklat dengan tanda hitam
dan putih.
- Remaja: berwarna lebih pucat
dengan tanda khas yang
kurang jelas. Iris coklat, paruh
abu-abu, kaki coklat.
- Berukuran sedang, panjang
tubuh total (diukur dari ujung
paruh hingga ujung ekor)
sekitar 20 cm.
- Pungung dan ekor berwarna
coklat kelabu
- Sisi bawah putih keabu-abuan
- Di muka ekor nampak jelas
berwarna putih
- Penutup pantat berwarna
jingga (kuning terang).
- Ukuran tubuhnya sekitar 10
cm.
- Tubuh bagian atas berwarna
hitam kehijau-hijauan dan
tubuh bagian bawah berwarna
abu-abu gelap.
- Bagian perut sriti yang
berwarna putih.
- Burung pipit bertubuh kecil
dengan panjang tubuh antara
10-12 cm dan berat 10-14
gram.
- Kuku burung pipit tumbuh
sangat cepat.
- Burung pipit jantan memiliki
kepala yang sedikit lebih lebar
dibanding burung pipit betina.

Gambar

5.

Burung Perenjak
(Prinia familiaris)

- Untuk
prenjak
jantak
biasanya berbunyi keras dan
lantang
- Prenjak jantan bagian bawah
paruh berbatasan degan bulu
leher berwarna hitam
- Ada garis di leher berwarna
hitam.
semakin
dewasa
semakin
nyata
warna
hitamnya
- Prenjak betina bagian bawah
paruh berwarna putih
- Suara monoton
- Warna bulu dada putih kelabu
tanpa garis hitam / kalungan
- dan warna abu-abu tetapi ada
celah warna putih atau kelabu
terang

Pertemuan III : Kamis, 28 Maret 2013


No.

Nama Burung

Burung Gereja
1.
(Passer
Montanus)

2.

Burung MaduLeher Merah


(Anthreptes
rhodolaema)

Burung Kutilang
3.
(Pycnonotus
aurigaster)

Burung Tekukur
4.
(Streptopelia
chinensis)

Ciri-Ciri
- Tubuh berukuran sedang (14
cm). Mahkota warna coklat
berangan.Dagu, tenggorokan,
bercak pipi dan setrip mata
warna hitam.
- Tubuh bagian bawah kuning
tua keabu-abuan.
- Tubuh bagian atas berbintik
coklat dengan tanda hitam
dan putih.
- Remaja: berwarna lebih pucat
dengan tanda khas yang
kurang jelas. Iris coklat, paruh
abu-abu, kaki coklat.
- Berukuran sedang (12 cm.)
- Jantan : memiliki mahkota
dan punggung hijau metalik
mengkilap, Dagu dan penutup
sayap atas merah marun,
tenggorokan merah lembut,
perut kuning zaitun.
- Betina : punggung berwarna
hijau zaitun, tenggorokan
keputih-putihan, perut kuning
pucat, dengan lingkar mata
kecil kekuningan.Iris merah,
paruh hitan, dan kaki zaitun.
- Berukuran sedang, panjang
tubuh total (diukur dari ujung
paruh hingga ujung ekor)
sekitar 20 cm.
- Pungung dan ekor berwarna
coklat kelabu
- Sisi bawah putih keabu-abuan
- Di muka ekor nampak jelas
berwarna putih
- Penutup pantat berwarna
jingga (kuning terang).
- Panjangnya burung ini antara
28 hingga 32 sentimeter.
- Bahagian belakang, sayap,
dan ekornya berwarna perang
pucat, dengan banyak bintik
kuning
pucat.
Dalam
penerbangan,
burung
ini
menonjolkan bulu hitam yang
dibatasi oleh tepi dalaman
yang berwarna kelabu pucat
- Lehernya mempunyai tompok
hitam yang mempunyai bintikbintik putih yang halus.

10

Gambar

Pertemuan IV : Selasa, 02 April 2013


No.

Nama Burung

Burung Gereja
1.
(Passer
Montanus)

Burung Sriti
2.
(Collocalia
esculenta)

Burung Pipit
3.
(Lonchura
atricapilla)

Ciri-Ciri
- Tubuh berukuran sedang (14
cm).
- Mahkota
warna
coklat
berangan.
- Dagu, tenggorokan, bercak
pipi dan setrip mata warna
hitam.
- Tubuh bagian bawah kuning
tua keabu-abuan.
- Tubuh bagian atas berbintik
coklat dengan tanda hitam
dan putih.
- Remaja: berwarna lebih pucat
dengan tanda khas yang
kurang jelas. Iris coklat, paruh
abu-abu, kaki coklat.
- Ukuran tubuhnya sekitar 10
cm.
- Tubuh bagian atas berwarna
hitam kehijau-hijauan dan
tubuh bagian bawah berwarna
abu-abu gelap.
- Bagian perut sriti yang
berwarna putih.
- Burung pipit bertubuh kecil
dengan panjang tubuh antara
10-12 cm dan berat 10-14
gram.
- Kuku burung pipit tumbuh
sangat cepat.
- Burung pipit jantan memiliki
kepala yang sedikit lebih lebar
dibanding burung pipit betina.

11

Gambar

Pertemuan V : Selasa, 09 April 2013


No.

Nama Burung

Burung Gereja
1.
(Passer
Montanus)

Burung Tekukur
2.
(Streptopelia
chinensis)

Burung Pipit
3.
(Lonchura
atricapilla)

Ciri-Ciri
- Tubuh berukuran sedang (14
cm).
- Mahkota
warna
coklat
berangan.
- Dagu, tenggorokan, bercak
pipi dan setrip mata warna
hitam.
- Tubuh bagian bawah kuning
tua keabu-abuan.
- Tubuh bagian atas berbintik
coklat dengan tanda hitam
dan putih.
- Remaja: berwarna lebih pucat
dengan tanda khas yang
kurang jelas. Iris coklat, paruh
abu-abu, kaki coklat.
- Panjangnya burung ini antara
28 hingga 32 sentimeter.
- Bahagian belakang, sayap,
dan ekornya berwarna perang
pucat, dengan banyak bintik
kuning
pucat.
Dalam
penerbangan,
burung
ini
menonjolkan bulu hitam yang
dibatasi oleh tepi dalaman
yang berwarna kelabu pucat
- Lehernya mempunyai tompok
hitam yang mempunyai bintikbintik putih yang halus.
- Burung pipit bertubuh kecil
dengan panjang tubuh antara
10-12 cm dan berat 10-14
gram.
- Kuku burung pipit tumbuh
sangat cepat.
- Burung pipit jantan memiliki
kepala yang sedikit lebih lebar
dibanding burung pipit betina.

12

Gambar

Pertemuan VI : Selasa, 16 Maret 2013


No.

Nama Burung

Burung Gereja
1.
(Passer
Montanus)

Burung Kutilang
2.
(Pycnonotus
aurigaster)

5.

Burung Perenjak
(Prinia familiaris)

Ciri-Ciri
- Tubuh berukuran sedang (14
cm).
- Mahkota
warna
coklat
berangan.
- Dagu, tenggorokan, bercak
pipi dan setrip mata warna
hitam.
- Tubuh bagian bawah kuning
tua keabu-abuan.
- Tubuh bagian atas berbintik
coklat dengan tanda hitam
dan putih.
- Remaja: berwarna lebih pucat
dengan tanda khas yang
kurang jelas. Iris coklat, paruh
abu-abu, kaki coklat.
- Berukuran sedang, panjang
tubuh total (diukur dari ujung
paruh hingga ujung ekor)
sekitar 20 cm.
- Pungung dan ekor berwarna
coklat kelabu
- Sisi bawah putih keabu-abuan
- Di muka ekor nampak jelas
berwarna putih
- Penutup pantat berwarna
jingga (kuning terang).
- Untuk
prenjak
jantak
biasanya berbunyi keras dan
lantang
- Prenjak jantan bagian bawah
paruh berbatasan degan bulu
leher berwarna hitam
- Ada garis di leher berwarna
hitam.
semakin
dewasa
semakin
nyata
warna
hitamnya
- Prenjak betina bagian bawah
paruh berwarna putih
- Suara monoton
- Warna bulu dada putih kelabu
tanpa garis hitam / kalungan
- dan warna abu-abu tetapi ada
celah warna putih atau kelabu
terang

13

Gambar

BAB IV
PENUTUP

I.

Kesimpulan
Untuk areal akademik dan auditorium, burung yang sering ditemui
dengan jumlah yang cukup banyak adalah gereja dan kutilang. Burung
gereja dapat ditemukan dekat gedung-gedung di sekitar areal kampus atas
dan burung kutilang dapat dijumpai pada pohon tinggi yang berada di
depan auditorium, jika pada pagi hari, jumlah burung kutilang yang
ditemukan dapat lebih dari 3 ekor.
Namun, burung yang mendominasi untuk areal kampus atas adalah
burung gereja yang memang populasinya sangat menonjol disbanding
burung-burung yang lain

II. Saran
Untuk melakukan inventarisasi sebaiknya dilakukan pada waktu aktif
burung, dimana pada waktu itu, kita dapat dengan mudah menjumpai burungburung tersebut.

14

DAFTAR PUSTAKA
http://www.terpana.com/ciri-ciri-prenjak-jantan-dan-betina-gunung.html/
file:///E:/mengenal-burung-kutilang.html
file:///E:/Burung_Tekukur.htm

15