Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kelenjar saliva merupakan salah satu organ dalam sistem pencernaan serta

merupakan kelenjar sekretori yang memiliki duktus untuk mengeluarkan


sekresinya ke rongga mulut. Apabila terjadi peradangan pada salah satu kelenjar
saliva (kelenjar parotis) disebut Parotitis. Lokasinya terdapat di sisi kanan dan kiri
wajah manusi. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi yang pada 30-40 % kasusnya
merupakan infeksi asimptomatik. Infeksi ini disebabkan oleh virus RNA untai
tunggal negative sense berukuran 100-600 nm, dengan panjang 15000 nukleotida
termasuk dalam genus Rubulavirus subfamily Paramyxsovirinae dan family
Paramyxoviridae (Sumarmo,2008). Penyebaran virus terjadi dengan kontak
langsung, percikan ludah, bahan mentah mungkin dengan urin. (Warta medika,
2009). Penyakit ini di Indonesia disebut gondongan atau radang kelenjar gondok
(Chin, 2000).
Sebanyak 6.584 kasus parotitis di Amerika dilaporkan pada tahun 2006,
dengan 76% terjadi diantara Maret dan Mei, namun tidak ada kematian yang
dilaporkan. Kejadian nasional parotitis adalah 2,2 per 100.000. Kasus ini juga
telah dilaporkan di Jerman, Inggris, Kanada. Namun, dibandingkan dengan
negara-negara lain, angka kejadian di AS sebenarnya masih relatif kecil, meskipun
tumbuh pada tingkat yang mengkhawatirkan. Di Inggris, pada tahun 2004-2006
dilaporkan bahwa penyakit parotitis sebanyak lebih dari 70.000 kasus (Dayan
Gustavo, 2008). Di Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA) Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo (RSCM), sejak tahun 1997-2008 terdapat 105 kasus parotitis
epidemika. Jumlah kasus tersebut semakin berkurang tiap tahunnya, dengan
jumlah 11-15 kasus/tahun sebelum tahun 2000 dan 1-5 kasus/tahun setelah tahun
2000. Selama tahun 2008 hanya didapatkan satu kasus parotitis epidemika. (Sari
Pediatri, 2009). Sedangkan, jumlah kasus parotitis akut di Indonesia khususnya di
kota Surabaya belum dapat diketahui secara pasti karena minimnya penelitian
mengenai penyakit ini.

Parotitis yang tidak ditangani dengan tepat dan segera dapat menimbulkan
berbagai komplikasi serius yang akan menambah resiko terjadinya kematian.
Komplikasi

yang

terjadi

pada

pasien

dengan

parotitis

dapat

berupa:

Meningoencepalitis, artritis, pancreatitis, miokarditis, ooporitis, orchitis, mastitis,


dan ketulian. Oleh karena itu, sebagai perawat kita harus melakukan tindakan
keperawatan dengan tepat untuk mengurangi resiko terjadinya komplikasi,
mendukung

proses

penyembuhan,

menjaga

atau

mengembalikan

fungsi

pencernaan, dan memberikan insformasi tentang proses penyakit dan tata cara
perawatan dirumah. Peran keluarga dan lingkungan juga mendorong penurunan
terjadinya parotitis, yaitu dengan cara hidup sehat.
1.2

Rumusan Masalah
1) Bagaimana anatomi fisiologi dari kelenjar saliva?
2) Apa definisi dari parotitis?
3) Bagaimana etiologi dari parotitis?
4) Bagiaman patofisiologi dari parotitis?
5) Bagaimana manifestasi klinis dari parotitis?
6) Apa saja pemeriksaan diagnostik parotitis?
7) Bagaimana penatalaksanaan dan pencegahan dari parotitis?
8) Apa saja komplikasi yang ditimbulkan dari parotitis?
9) Bagaimana prognosis dari parotitis?
10) Bagaimana asuhan keprawatan untuk pasien dengan gangguan parotitis?

1.3

Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum


Mahasiswa dapat memahami konsep teori dan asuhan keperawatan pasien
dengan gangguan sistem pencernaan, khususnya parotitis serta dapat memahami
dan menerapkan perannya sebagai perawat dalam pencegahan dan penanganan
masalah gastrointestinal terutama masalah parotitis.
1.3.2 Tujuan Khusus
1) Konsep teori
a) Menjelaskan anatomi fisiologi dari kelenjar saliva.

b) Mengetahui definisi dari parotitis.


c) Mengetahui etiologi dari parotitis.
d) Mengetahui patofisiologi dan WOC dari parotitis.
e) Mengetahui manifestasi klinis dari parotitis.
f) Mengetahui pemeriksaan diagnostik dari parotitis.
g) Mengetahui penatalaksanaan dan pencegahan dari parotitis.
h) Mengetahui komplikasi dari parotitis.
i) Mengetahui prognosis dari parotitis.
j) Dapat menjelaskan proses keperawatan pada pasien parotitis.
k) Dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien parotitis.
2) Asuhan keperawatan pasien
a) Menjelaskan tentang pengkajian pasien dengan parotitis.
b) Menjelaskan tentang diagnosis keperawatan pasien dengan parotitis.
c) Menjelaskan intervensi tindakan keperawatan kepada pasien dengan
parotitis.
d) Menjelaskan hasil evaluasi keperawatan kepada pasien dengan
parotitis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

Anatomi dan Fisiologi Kelenjar Saliva


Kelenjar saliva merupakan kelenjar sekretori yang memiliki duktus untuk

mengeluarkan sekresinya ke rongga mulut. Produksi saliva pada orang dewasa


sehat lebih kurang 1,5 liter/24 jam. Proses sekresinya dikendalikan oleh sistem
persyarafan reseptor kolinergik. Fungsi dari kelenjar saliva, yaitu:
a) Lubrikasi

dan

membersihkan

mukosa

oral,

melindunginya

dari

kekeringan, dan bahan-bahan karsinogen.


b) Membantu pencernaan makanan melalui aktivitas enzim (amylase atau
ptyalin) yang dikandungnya.
c) Sebagai buffer mukosa oral terhadap bahan yang bersifat asam dan
bakteri.
d) Aktivitas anti bakteri.
e) Membantu mempertahankan integritas gigi karena saliva berperan dalam
remineralisasi permukaan gigi.
f) Membantu dalam berbicara (pelumasan pada pipi dan lidah).
g) Jumlah sekresi air ludah dapat dipakai sebagai ukurang tentang
keseimbangan air dalam tubuh.

Berdasarkan ukurannya kelenjar saliva terdiri dari 2 jenis, yaitu kelenjar


saliva mayor dan kelenjar saliva minor. Kelenjar saliva mayor terdiri dari kelenjar
parotis, kelenjar submandibularis, dan kelenjar sublingualis (Dawes, 2008; Roth
and Calmes, 1981).
1) Kelenjar Saliva Mayor
a) Kelenjar parotis yang merupakan kelenjar saliva terbesar, terletak secara
bilateral di depan telinga, antara ramus mandibularis dan prosesus
mastoideus dengan bagian yang meluas ke muka di bawah lengkung
zigomatik. Kelenjar parotis terbungkus dalam selubung parotis (parotis
shealth). Saluran parotis melintas horizontal dari tepi kelenjar. Pada tepi
anterior otot masseter, saluran parotis berbelok ke arah medial,
menembus otot buccinator, dan memasuki rongga mulut di seberang gigi
molar ke-2 permanen rahang atas. Sekretnya dituangkan ke dalam mulut
melalui saluran parotis atau saluran stensen. Ada dua struktur penting
yang melintasi kelenjar parotis, yaitu arteri karotis eksterna dan saraf
kraial ke tujuh (saraf fasialis).
b) Kelenjar submandibularis merupakan kelenjar saliva terbesar kedua
setelah parotis, terletak pada dasar mulut di bawah korpus mandibula
dan berukuran kira-kira sebesar buah kenari. Seketnya dituangkan ke
dalam mulut melalui saluran submandibularis atau saluran Wharton,
yang bermuara di dasar mulut, dekat frenulum linguage.
c) Kelenjar sublingualis adalah kelenjar saliva mayor terkecil dan terletak
paling dalam. Masing-masing kelenjar berbentuk badam (almond shape),
terletak pada dasar mulut antara mandibula dan otot genioglossus.
Masing-masing kelenjar sublingualis sebelah kiri dan kanan bersatu
untuk membentuk massa kelenjar yang berbentuk ladam kuda di sekitar
frenulum lingualis.
2) Kelenjar Saliva Minor
Terdapat lebih dari 600 kelenjar liur minor yang terletak di kacum oral di
dalam lamina propria mukosa oral dan berdiameter 1-2mm. Kelenjar ini
biasanya merupakan sejumlah asinus yang terhubung dalam lobulus kecil.
Kelenjar liur minor mungkin mempunyai saluran ekskresi bersama dengan

kelenjar minor yang lain, atau mungkin juga mempunyai saluran sendiri.
Secara alami, sekresi utamanya adalah mukous (kecuali Kelenjar Von Ebner)
dan mempunyai banyak fungsi, seperti membasahi kavum oral dengan saliva.
a) Kelenjar lingualis terdapat bilateral dan terbagi menjadi beberapa
kelompok. Kelenjar lingualis anterior berada di permukaan inferior dari
lidah, dekat dengan ujungnya, dan terbagi menjadi kelenjar mukus
anterior dan kelenjar campuran posterior. Kelenjar lingualis posterior
berhubungan dengan tonsil lidah dan margin lateral dari lidah. Kelenjar
ini bersifat murni mukus.
b) Kelenjar bukalis dan kelenjar labialis terletak pada pipi dan bibir.
Kelenjar ini bersifat mukus dan serus.
c) Kelenjar palatinal bersifat murni mukus, terletak pada palatum lunak
dan uvula serta regio posterolateral dari palatum keras.
d) Kelenjar glossopalatinal memiliki sifat sekresi yang sama dengan
kelenjar palatinal, yaitu murni mukus dan terletak di lipatan
glossopalatinal.
2.2

Definisi Parotitis
Parotitis merupakan penyakit infeksi pada kelenjar parotis akibat virus.

Penyakit ini merupakan penyebab edema kelenjar parotis yang paling sering.
Kejadian parotis saat ini berkurang karena adanya vaksinasi. Insidens parotitis
tertinggi pada anak-anak berusia 4-6 tahun. Onset penyakit ini diawali dengan
adanya rasa nyeri dan bengkak pada daerah sekitar kelenjar parotis. Masa inkubasi
berkisar antara 2 hingga 3 minggu. Gejala lainnya berupa demam, malaise.
Mialgia, serta sakit kepala (Susyana Tamin, 2011). Pada saluran kelenjar ludah,
terjadi kelainan berupa pembengkakan sel epitel, pelebaran dan penyumbatan
saluran. Parotitis yang juga dikenal sebagai penyakit gondong ini adalah penyakit
yang biasanya menyerang anak-anak berusia 2-12 tahun. Jika seseorang pernah
menderita penyakit ini, maka orang itu akan memiliki kekebalan seumur
hidupnya. Penyakit Parotitis (gondongan) adalah suatu penyakit menular dimana
sesorang terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah
(kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan

pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah. Penyakit
gondongan tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemik atau
epidemik, Gangguan ini cenderung menyerang anak-anak dibawah usia 15 tahun
(sekitar 85% kasus). (Warta Medika, 2009).
Parotitis merupakan penyakit virus akut yang biasanya menyerang kelenjar
ludah terutama kelenjar parotis (sekitar 60% kasus).

Gejala khas yaitu

pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar parotis. Pada saluran kelenjar ludah
terjadi kelainan berupa pembengkakan sel epitel, pelebaran dan penyumbatan
saluran. Pada orang dewasa, infeksi ini bisa menyerang testis (buah zakar), sistem
saraf pusat, pankreas, prostat, payudara dan organ lainnya. Adapun mereka yang
beresiko besar untuk menderita atau tertular penyakit ini adalah mereka yang
menggunakan atau mengkonsumsi obat-obatan tertentu untuk menekan hormon
kelenjar tiroid dan mereka yang kekurangan zat Iodium dalam tubuh.
(Sumarmo,2008). Dalam sebuah jurnal penelitian oleh Puspita, Komang Yullan
(2014), menjelaskan bahwa ada suatu zat yakni chlorhexidine yang digunakan
dalam jangka waktu 2 minggu seringkali menimbulkan efek samping timbulnya
parotitis dengan tanda munculnya iritasi pada mukosa mulut, sensasi terbakar dan
perubahan persepsi rasa.
Obi Andareto (2015) menjelaskan faktor penyebab parotitis adalah
gangguan pada kelenjar tiroid sehingga tidak dapat mensekresikan hormon tiorid
sesuai dengan kebutuhan tubuh. Juga dapat terjadi karena kekurangan kadar
yodium yang menyebabkan gondok bersifat endemik. Demikian pula, kekurangan
yodium pada wanita hamil kadang-kadang menyebabkan bayi meninggal dunia
maupun dilahirkan dengan kelambatan mental atau tuli (kretinisme). Penyakit ini
di Indonesia disebut gondongan atau radang kelenjar gondok, disebut juga
parotitis infektiosa. Adapun biasanya kelenjar yang terkena adalah kelenjar
parotis, kelenjar sublingualis dan kelenjar submaksilaris di antara telinga dan
rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi
bagian bawah (Chin, 2000). Menurut Sumarmo (2008) penyakit gondong
(mumps, parotitis) dapat ditularkan melalui kontak langsung, percikan ludah
(droplet), muntahan, dan bisa pula melalui air kencing.

Tidak semua orang yang terinfeksi mengalami keluhan, bahkan sekitar 3040% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit (subclinical). Mereka dapat
menjadi sumber penularan seperti halnya penderita parotitis yang nampak sakit.
Masa tunas (masa inkubasi) parotitis sekitar 14-24 hari dengan rata-rata 17-18
hari. Ada dua macam klasifikasi dari parotitis, yaitu sebagai berikut :
a) Parotitis kambuhan
Maksud kambuhan disini adalah, apabila pasien yang sebelumnya telah
terinfeksi, kemudian kambuh kembali. Anak-anak yang biasanya terkena
parotitis tipe ini adalah ketika sampai pada usia antara 1 bulan hingga
akhir usia kanak-kanak (sampai 12 tahun).
b) Parotitis akut
Tanda yang nampak dari parotitis akut ini adalah rasa sakit yang tibatiba, kemerahan dan pembengkakan pada daerah parotis. Tanda-tanda
parotitis akut ini dapat timbul sebagai akibat pasca-bedah yang dilakukan
pada penderita terbelakang mental dan penderita usia lanjut. Hal mengenai
pasca-bedah ini khususnya apabila penggunaan anastesi umum lama dan
ada gangguan hidrasi.
2.3

Etiologi Parotitis
Agen penyebab parotitis epidemika adalah anggota dari kelompok

paramyxovirus, yang juga termasuk didalamnya virus parainfluenza, measles, dan


virus newcastle disease. Ukuran dari partikel paramyxovirus sebesar 90300 m.
Virus telah diisolasi dari ludah, cairan serebrospinal, darah, urin, otak dan jaringan
terinfeksi lain. Virus ini aktif dalam lingkungan yang kering tapi virus ini hanya
dapat bertahan selama 4 hari pada suhu ruangan. Paramyxovirus dapat hancur
pada suhu <4 C, oleh formalin, eter, serta pemaparan cahaya ultraviolet selama
30 detik. Virus masuk dalam tubuh melalui hidung atau mulut. Virus bereplikasi
pada mukosa saluran napas atas kemudian menyebar ke kalenjar limfa lokal dan
diikuti viremia umum setelah 12-25 hari (masa inkubasi) yang berlangsung
selama 3-5 hari. Selanjutnya lokasi yang dituju virus adalah kalenjar parotis,
ovarium, pancreas, tiroid, ginjal, jantung atau otak. Virus masuk ke sistem saraf
pusat melalui plexus choroideus lewat infeksi pada sel mononuclear. Masa

penyebaran virus ini adalah 2-3 minggu melalui dari ludah, cairan serebrospinal,
darah, urin, otak dan jaringan terinfeksi lain. Virus dapat diisolasi dari saliva 6-7
hari sebelum onset penyakit dan 9 hari sesudah munculnya pembengkakan pada
kalenjar ludah. Penularan terjadi 24 jam sebelum pembengkakan kalenjar ludah
dan 3 hari setelah pembengkakan menghilang (Sumarmo, 2008).
Virus yang paling umum yang menyebabkan parotitis akut adalah mumps.
Mumps merupakan virus RNA rantai tunggal genus Rubulavirus subfamily
Paramyxovirinae dan family Paramyxoviridae. Virus mumps mempunyai 2
glikoprotein yaitu hamaglutinin-neuramidase dan perpaduan protein. Virus ini
juga memiliki dua komponen yang sanggup memfiksasi, yaitu : antigen S atau
yang dapat larut (soluble) yang berasal dari nukleokapsid dan antigen V yang
berasal dari hemaglutinin permukaan. Vaksinasi rutin dilakukan setiap kali
insidens mumps. Mumps akan sembuh dengan sendirinya dalam 10 hari. Bakteri
parotitis akut yang paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus
Aureus tetapi bisa juga disebabkan oleh bakteri commensal. Parotitis
ekstrapulmonary tuberculosis. Mikrobakterium ini menyebabkan tuberkulosis dan
dapat juga menyebabkan infeksi parotis. Infeksi tersebut menyebabkan
pembesaran tetapi nyeri sedang pada kelanjar parotis. Diagnosis dibuat melalui
penemuan tipe radiografi dada, kultur, diagnosis histologi setelah kelenjar
diangkat. Ketika didiagnosis dan dirawat dengan pengobatan anti tuberkular,
kelenjar mungkin kembali normal dalam1 -3 bulan.
Penyebab autoimun diketahui sebagai parotitis kronis autoimun. Sindrom
Sjogrens meruapakan inflamasi kronis pada kelenjar saliva bisa menjadi sebuah
penyakit autoimun yang dikenal sebagai Sindrom Sjogrens. Penyakit ini paling
umum muncul pada orang berumur 40-60 tahun, tetapi bisa juga menyerang anak
kecil. Pada sindrom Sjogrens, prevalensi parotitis perempuan : laki-laki berkisar
9 : 1. Sindrom ini sering bermanifestasi dengan kekeringan berlebihan pada mata,
mulut, hidung, vagtna dan kulit. Blokade atau penyumbatan dari saluran parotis
utama, satu dari cabangnya, sering menyebabkan parotitis akut, inflamasi
selanjutnya terhadap super infeksi bakteri. Penyumbatan bisa terjadi akibat dari
batu saliva, sumbatan mucus, atau jarang dari tumor ganas. Batu saliva atau bisa
dikenal dengan sialolithiasis atau kalkulus saluran saliva merupakan bentukan dari

kalsium tetapi tidak mengindikasikan kelainan kalsium. Batu saliva pada kelenjar
parotis lebih sering terbentuk di hilum atau di dalam parenkim. Gejala yang
dirasakan pasien adalah terdapat bengkak yang hilang timbul disertai dengan rasa
nyeri. Dapat teraba batu pada kelenjar yang terlibat Batu saliva didiagnosa melalui
X-Ray, CT Scan atau USG (Professor of otolaryngology, 2009).
2.4

Patofisiologi Parotitis
Parotitis merupakan penyakit infeksi pada kelenjar parotis akibat virus.

Penyakit ini merupakan penyebab edema kelenjar parotis yang paling sering.
Kejadian parotitis saat ini berkurang karena adanya vaksinasi. Insidens parotitis
tertinggi pada anak-anak berusia antara 4-6 tahun. Onset penyakit ini diawali
dengan adanya rasa nyeri dan bengkak pada daerah sekitar kelenjar parotis. Masa
inkubasi berkisar antara 2 hingga 3 minggu. Gejala lainnya berupa demam,
malaise, mialgia, serta sakit kepala (Tamin, Susyana & Duhita Yassi, 2011).
Parotitis tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau
epidemik. Gangguan ini cenderung menyerang anak-anak yang berumur 2-12
tahun. Parotitis sangat jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari dua
tahun, hal tersebut karena umumnya mereka masih memiliki atau dilindungi oleh
antibody yang baik. Anak yang pernah menderita parotitis akan memiliki
kekebalan seumur hidupnya (Nahlieli, 2005). Penularan atau penyebaran virus
dapat ditularkan melalui kontak langsung, percikan ludah, bahan muntah,
mungkin dengan urine. Virus tersebut masuk tubuh bisa melalui hidung atau
mulut. Biasanya kelenjar yang terkena adalah kelenjar parotis. Infeksi akut oleh
virus mumps pada kelenjar parotis dibuktikan dengan adanya kenaikan titer Ig-M
dan Ig-G secara bermakna dari serum akut dan serum konvalesens. Semakin
banyak penumpukan virus di dalam tubuh sehingga terjadi proliferasi di parotis
atau epitel traktus respiratorius kemudian terjadi viremia (ikutnya virus ke dalam
aliran darah) dan selanjutnya virus berdiam di jaringan kelenjar atau saraf yang
kemudian akan menginfeksi glandula parotid. Keadaan ini disebut parotitis.
Masa inkubasi 15 sampai 21 hari kemudian virus bereplikasi di dalam
traktus respiratorius di dalam traktus respiratorius atas dan nodus limfatikus
servikalis, dari sini virus menyebar melalui aliran darah ke organ-organ lain,

10

termasuk selaput otak, gonad, pankreas, payudara, thyroidea, jantung, hati, ginjal
dan saraf otak. Bila testis terkena maka terdapat pendarahan kecil dan nekrosis sel
epitel tubuli seminiferus. Pada pancreas kadang terdapat degenerasi dan nekrosis
jaringan. Adenitis kelenjar liur manifestasi viremia awal. Viruria biasanya terjadi
dan disertai oleh gangguan ginjal (Suprohaita et al, 2000). Perjalanan penyakit
klasik dimulai dengan demam, sakit kepala, anoreksia dan malaise. Dalam 24 jam
anak mengeluh sakit telinga yang bertambah dengan gerakan mengunyah, esok
harinya tampak glandula parotis yang membesar dan cepat bertambah besar,
mencapai ukuran maksimal dalam 1-3 hari, biasanya demam menghilang 1-6 hari
dan suhu menjadi normal sebelum hilangnya pembengkakan kelenjar.bagian
bawah daun telinga terangkat keatas dan keluar oleh pembengkakan glandula
parotis. Pembengkakan dapat disertai nyeri hebat, nyeri mulai berkurang setelah
tercapai pembengkakan maksimal berlangsung selama 6-10 hari. Biasanya satu
glandula parotis membesar kemudian diikuti yang lainnya dalam beberapa hari.
Adakalanya kanan dan kiri membesar bersamaaan parotis unilateral ditemukan
kira-kira 25% (Berker, 2004).
Akibat terinfeksinya kelenjar parotis maka dalam 1-2 hari akan terjadi
demam, anoreksia, sakit kepala dan nyeri otot. Kemudian dalam 3 hari terjadilah
pembengkakan kelenjar parotis yang mula-mula unilateral kemudian bilateral,
disertai nyeri rahang spontan dan sulit menelan. Pada manusia selama fase akut,
virus mumps dapat diisoler dari saliva, darah, air seni dan liquor. Pada pankreas
kadang-kadang terdapat degenerasi dan nekrosis jaringan (Mansjoer, 2000).
Kondisi parotitis memberikan berbagai masalah keperawatan pada pasien. Adanya
respons inflamasi sistemik memberikan manifestasi peningkatan suhu tubuh.
Manifestasi respons ketidaknyamanan sakit kepala dan anoreksia memberikan
manifestasi peningkatan suhu tubuh. Manifestasi respon ketidaknyamanan sakit
kepala dan anoreksia memberikan manifestasi nyeri dan ketidak seimbangan
pemenuhan nutrisi. Raad et al (1990), setelah kajian literatur, menyimpulkan
bahwa faktor utama dalam patogenesis adalah dilatasi duktus dengan atau tanpa
bukti obstruksi dan infeksi persisten derajat rendah.

11

WOC PAROTITIS
Pamyxovirus
Masuk mulut/ hidung
MK : Potensial
Komplikasi

Virus menumpuk dalam tubuh

MK :
Ketidakseimbangan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh

Respon inflamasi
sistemik

Demam

Di kelenjar
tiroid

Viremia (virus ikut aliran darah)

Tiroiditis

Virus berdiam di kelenjar parotid


Panas

Kemerahan
Parotitis
Vasodilatasi sistem
mikrosirkulasi area
yang terinfeksi

Aliran
darah
meningkat

Anoreksia
Sakit
menelan

Poliferasi

MK :
Hipertermi

Meningoenseph
alitis, orkitis,
meningitis,
ooforitis,
nefritis,
miokarditis,
artritis

Kaku
otot

Kelenjar parotid
membesar

MK : Gangguan
Rasa Nyaman

Nyeri
telinga

MK : Nyeri
Akut

Nyeri
kepala

Bengkak

Nyeri

Proses infeksi

Respon inflamasi
lokal

Neurisitis saraf
pendengaran

Tuli

Tinitus

Peningkatan
IgG & IgM

Permeabilitas kapiler &


venul yang terinfeksi
terhadap protein meningkat
Difusi protein & filtrasi
air ke interstisiel

12

2.5

Manifestasi Klinis
Tidak semua orang yang terinfeksi oleh virus Paramyxovirus mengalami

keluhan, bahkan sekitar 30-40% penderita tidak menunjukkan tanda-tanda sakit


(subclinical). Namun demikian mereka sama dengan penderita lainnya yang
mengalami keluhan, yaitu dapat menjadi sumber penularan penyakit tersebut.
Masa tunas (masa inkubasi) penyakit gondong sekitar 12-24 hari dengan
rata-rata 17-18 hari. Adapun tanda dan gejala yang timbul setelah terinfeksi dan
berkembangnya masa tunas dapat digambarkan sebagai berikut (Obi Andareto,
2015) :
1) Pada tahap awal (1-2 hari) penderita gondong mengalami gejala, demam
(suhu badan 38,5-40oC), sakit kepala, nyeri otot, kehilangan nafsu
makan, nyeri rahang bagian belakang saat mengunyah dan adakalanya
disertai kaku rahang (sulit membuka mulut)
2) Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar di bawah telinga (parotis)
yang diawali dengan pembengkakan salah satu sisi kelenjar kemudian
kedua kelenjar mengalami pembengkakan
3) Pembengkakan biasanya berlangsung sekitar 3 hari kemudian berangsurangsur mengempis.
4) Kadang

terjadi

pembengkakan

pada

kelenjar

dibawah

rahang

(submandibula) dan kelenjar dibawah lidah (sublingual) . pada pria akil


balik adakalanya terjadi pembengkakan buah akar (testis) karena
penyebaran melalui aliran darah.
2.6

Pemeriksaan Diagnostik
a) Darah rutin
Tidak spesifik, gambarannya seperti infeksi virus lain, biasanya
leukopenia ringan yakni kadar leukosit dalam satu liter darah menurun.
Normalnya leukosit dalam darah adalah 4x109/L darah dengan limfositosis
relatif,

namun

komplikasi

sering

menimbulkan

leukositosis

polimorfonuklear tingkat sedang.

13

b) Amilase serum
Biasanya ada kenaikan amilase serum, kenaikan cenderung dengan
pembengkakan parotis dan kemudian kembali normal dalam kurang lebih 2
minggu. Kadar amylase normal dalam darah adalah 0-137 U/L darah.
c) Pemeriksaan serologis
Ada tiga pemeriksaan serologis yang dapat dilakukan untuk menunjukan
adanya infeksi virus (Nelson, 2000), yaitu:
1) Hemaglutination inhibition (HI) test
Uji ini menerlukan dua spesimen serum, satu serum dengan onset
cepat dan serum yang satunya di ambil pada hari ketiga. Jika perbedaan
titer spesimen 4 kali selama infeksi akut, maka kemungkinannya
parotitis.
2) Neutralization (NT) test
Dengan cara mencampur serum penderita dengan medium untuk
biakan fibroblas embrio anak ayam dan kemudian diuji apakah terjadi
hemadsorpsi. Pengenceran serum yang mencegah terjadinya hemadsorpsi
dinyatakan oleh titer antibodi parotitis epidemika. Uji netralisasi asam
serum adalah metode yang paling dapat dipercaya untuk menemukan
imunitas tetapi tidak praktis dan tidak mahal.
3) Complement Fixation (CF) test
Tes fiksasi komplement dapat digunakan untuk menentukan jumlah
respon antibodi terhadap komponen antigen S dan V bagi diagnosa
infeksi parotitis epidemika akut. Antibodi terhadap antigen V mencapai
titer puncak dalam 1 bulan dan menetap selama 6 bulan berikutnya dan
kemudian menurun secara lambat 2 tahun sampai suatu jumlah yang
rendah dan tetap ada. Peningkatan 4 kali lipat dalam titer dengan analisis
standar apapun menunjukan infeksi yang baru terjadi. Antibodi terhadap
antigen S timbul cepat, sering mencapai maksimum dalam satu minggu
setelah timbul gejala, hilang dalam 6 sampai 12 minggu.
d) Pemeriksaan Virologi
Isolasi virus jarang sekali digunakan untuk diagnosis. Isolasi virus
dilakukan dengan biakan virus yang terdapat dalam saliva, urin, likuor

14

serebrospinal atau darah. Biakan dinyatakan positif jika terdapat


hemardsorpsi dalam biakan yang diberi cairan fosfat-NaCl dan tidak ada
pada biakan yang diberi serum hiperimun.
2.7

Penatalaksanaan
Parotitis merupakan penyakit yang bersifat self-limited (sembuh atau hilang

sendiri) yang berlangsung kurang lebih dalam satu minggu. Tidak ada terapi
spesifik bagi infeksi virus Mumps oleh karena itu pengobatan parotitis
seluruhnya simptomatis dan suportif.
Pasien dengan parotitis harus ditangani dengan kompres hangat, sialagog
seperti tetesan lemon, dan pijatan parotis eksterna. Cairan intravena mungkin
diperlukan untuk mencegah dehidrasi karena terbatasnya asupan oral. Jika respons
suboptimal atau pasien sakit dan mengalami dehidrasi, maka antibiotik intravena
mungkin lebih sesuai.
Berikut tata laksana yang sesuai dengan kasus yang diderita :
1) Penderita rawat jalan
Penderita baru dapat dirawat jalan bila tidak ada komplikasi (keadaan
umum cukup baik).
a) Istirahat yang cukup, di berikan kompres
b) Pemberian diet lunak dan cairan yang cukup
c) Medikamentosa : Analgetik-antipiretikPenderita rawat inap
2) Penderita dengan demam tinggi, keadaan umum lemah, nyeri kepala
hebat, gejala saraf perlu rawat inap diruang isolasi.
a) Diet lunak, cair dan tidak kering
b) Analgetik-antipiretik
c) Berikan kortikosteroid untuk mencegah komplikasi
3) Terapi komplikasi
A) Encephalitis
Simptomatik untuk encephalitisnya. Lumbal pungsi berguna untuk
mengurangi sakit kepala.
B) Orkhitis
a) Istrahat yang cukup

15

b) Pemberian analgetik
c) Sistemik kortikosteroid (hidrokortison, 10mg/kg/24 jam, peroralm,
selama 2 4 hari)
4) Pankreatitis
Terapi simptomatis dengan cairan yang cukup.
2.8

Pencegahan
Pencegahan adalah solusi terbaik supaya terhindar dari penyakit ini. Cara

pencegahan terbaik untuk parotitis adalah dengan imunisasi rutin rekomendasi


IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) 2011. Vaksin ini merupakan kombinasi
dengan vaksin measles (campak) dan rubella (campak Jerman). Diberikan
sebanyak 2 kali, yaitu pada usia 15 bulan dan kemudian usia 56 tahun (FK
UNUD, 2011). Penecegahan bisa dilakukan secara pasif dan aktif. Berikut adalah
perbedaan pencegahan secara pasif dan aktif.
A) Pasif : Gamma globulin parotitis hiperimun tidak efektif dalam
mencegah parotitis atau mengurangi komplikasi.
B) Aktif : Pemberian rutin vaksin parotitis hidup yang dilemahkan. Anak
yang divaksinasi biasanya tidak mengalami demam atau reaksi klinis
lain yang dapat dideteksi, tidak mengeksresi virus, dan tidak menular
terhadap kontak yang rentan. Jarang parotitis dapat berkembang 7 10
hari sesudah vaksinasi. Vaksin memicu antibody pada sekitar 96%
resipien seronegatif dan mempunyai kemanjuran protektif sekitar 97%
terhadap infeksi parotitis alamiah. Proteksi tampak berakhir lama. Pada
suatu wabah parotitis, beberapa anak yang telah diimunisasi dengan
vaksin parotitis sebelumnya mengalami sakit yang ditandai dengan
demam, malaise, mual, dan ruam popular merah yang melibatkan badan
dan tungkai tetapi mentelamatkan telapak tangan dan kaki. Ruam
berakhir sekitar 24 jam. Tidak ada virus yang diisolasi dari anak, tetapi
kenaikan titer antibody parotitis ditunjukkan.

16

2.9

Komplikasi
Hampir semua anak yang menderita gondongan akan pulih total tanpa

penyulit, tetapi kadang gejalanya kembali memburuk setelah sekitar 2 minggu.


Keadaan seperti ini dapat menimbulkan komplikasi, dimana virus dapat
menyerang organ selain kelenjar liur. Hal tersebut mungkin terjadi terutama jika
infeksi terjadi setelah masa pubertas. Dibawah ini adalah komplikasi yang dapat
terjadi akibat penanganan atau pengobatan yang kurang dini :
a) Meningoensepalitis : Penderita mula-mula menunjukan gejala nyeri
kepala ringan, yang kemudian disusul oleh muntah-muntah, gelisah dan
suhu tubuh yang tinggi (hiperpireksia). Komplikasi ini merupakan
komplikasi yang sering pada anak-anak.
b) Ketulian : Tuli saraf dapat terjadi unilateral, jarang bilateral walaupun
insidensinya rendah (1:15.000), parotitis adalah penyebab utama tuli saraf
unilateral, kehilangan pendengaran mungkin sementara atau permanen.
c) Orkitis : Peradangan pada salah satu atau kedua testis. Setelah sembuh,
testis yang terkena mungkin akan menciut. Jarang terjadi kerusakan testis
yang permanen Sehingga kemandulan dapat terjadi pada masa setelah
puber dengan gejala demam tinggi mendadak, menggigil mual, nyeri
perut bagian bawah, gejala sistemik, dan sakit pada testis.
d) Ensefalitis atau Meningitis : Peradangan otak atau selaput otak. Gejalanya
berupa sakit kepala, kaku kuduk, mengantuk, koma atau kejang. 5-10%
penderita mengalami meningitis dan kebanyakan akan sembuh total. 1
diantara 400-6.000 penderita yang mengalami ensefalitis cenderung
mengalami kerusakan otak atau saraf yang permanen, seperti ketulian
atau kelumpuhan otot wajah.
e) Ooforitis : Timbulnya nyeri dibagian pelvis ditemukan pada sekitar 7%
pada penderita wanita pasca pubertas.
f)

Pankreatitis : kelainan berat tetapi jarang terjadi. Pankreatitis dapat


terjadi karena infeksi virus parotitis yang menyebabkan jejas primer sel
asiner dan terjadi efek destruktif enim-enim pankreas yang dilepas oleh
sel asiner sehingga leukosit akan meleppaskan sitokin pro inflamatorik
yang menyebabkan terjadinya inflamasi lokal dam edema pada pankreas

17

Peradangan pankreas, bisa terjadi pada akhir minggu pertama. Penderita


merasakan mual dan muntah disertai nyeri perut. Gejala ini akan
menghilang dalam waktu 1 minggu dan penderita akan sembuh total.
g) Nefritis : Kadang kelainan fungsi ginjal terjadi pada setiap penderita dan
viruria terdeteksi pada 75%. Frekuensi keterlibatan ginjal pada anakanak belum diketahui. Nefritis yang mematikan, terjadi 10-14 hari
sesudah parotitis. Nefritis ringan dapat terjadi namun jarang. Dapat
sembuh sempurna tanpa meninggalkan kelainan pada ginjal.
h) Miokarditis : Manifestasi jantung yang serius sangat jarang terjadi, tetapi
infeksi ringan miokardium mungkin lebih sering daripada yang diketahui.
Miokarditis ringan dapat terjadi dan muncul 510hari pada parotitis.
Gambaran elektrokardiografi dari miokarditis seperti depresi segmen ST, flattening atau inversi gelombang T. Dapat disetai dengan takikardi,
pembesaran jantung dan bising sistolik.
i)

Artritis : Jarang ditemukan pada anak-anak. Atralgia yang disertai


dengan pembengkakan dan kemerahan sendi biasanya penyembuhannya
sempurna. Manifestasi lain yang jarang tapi menarik pada parotitis adalah
poliarteritis yang sering kali berpindah-pindah. Gejala sendi mulai 12minggu setelah berkurangnya parotitis. Biasanya yang terkena adalah
sendi besar khususnya paha atau lutut. Penyakit ini berakhir 1-12 minggu
dan sembuh sempurna.

2.10 Prognosis
Prognosis pasien parotitis hidup karena gejala ringan dan tidak ditemukan
keterlibatan infeksi susunan saraf pusat. Parotitis bersifat self-limiting dan hanya
memerlukan pengobatan suportif. Prognosis fungsi karena walaupun pasien sudah
memasuki usia pubertas, orkitis terjadi unilateral. Sehingga kecil kemungkinan
terjadi atro testis kecil. Infeksi virus parotitis epidemika memberikan imunitas
jangka panjang, dan tidak menyebabkan kekambuhan pada pasien sehingga
prognosis sanactionam baik (Pudjiadi & Hadinegoro, 2009).
Karena sifat dari penyakit yang mendasarinya, mayoritas pasien dengan
ascending parotitis adalah pada usia paruh baya atau lebih tua. Pada pasien yang

18

dilaporkan oleh Raad et al (1990), 83% kasus parotitis bakteri akut dan 76% dari
sialadenitis submandibular akut pada wanita dan usia rata-rata adalah 47,5 tahun.
Secara umum prognosis parotitis baik, kecuali pada keadaan tertentu yang
menyebabkan terjadinya ketulian, sterilitas karena atrofi testis dan sekuele karena
meningoensefalitis.
2.11 Proses Keperawatan
2.11.1 Pengkajian
1) Identitas
Identitas pasien meliputi nama, umur, suku / bangsa, agama, pendidikan,
alamat.
2) Keluhan Utama
Umumnya pada pasien penderita parotitis, pasien mengeluhkan demam,
nyeri di bawah telinga, bengkak, nafsu makan menurun, sakit kepala,
muntah, nyeri otot dan sulit menelan.
3) Riwayat Penyakit Sekarang
Biasanya pasien mengelukan mengalami demam dan merasakan nyeri
pada belakang telinga dan pipi. Beberapa hari kemudian timbul bengkak
dan kemerahan kemudian menjadi sukar menelan dan nafsu makan
menurun, adanya rasa nyeri dan bengkak menyebar ke daerah pipi.
4) Riwayat Penyakit Dahulu:
a) Tanyakan apakah pasien pernah dirawat di rumah sakit dengan gejala
yang sama.
b) Tanyakan punya riwayat penyakit menular, dan riwayat penyakit
alergi.
c) Tanyakan apakah pasien pernah di imunisasi MMR (Mumps, Measles,
Rubela).
5) Riwayat Penyakit Keluarga:
Biasanya semua anggota keluarga sudah pernah mengalami gejala yang
sama dan kemungkinan bisa tertular
6) Pemeriksaan Fisik:
a) B1 (breathing)

: Takipnea

19

b) B2 (blood)

: kelemahan fisik dan takikardi

c) B3 (brain)

: compos mentis, mengalami kecemasan dan terus


menerus gelisah akibat manifestasi klinis
dari parotitis, sakit kepala dan kaku leher

d) B4 (bladder)

: normal

e) B5 (bowel)

: sulit menelan nafsu makan menurun BB


menurun

f) B6 (bone)

: kelemahan otot, malaise

7) Pemeriksaan Penunjang:
a) Pemeriksaan darah di dapatkan leucopenia ringan dengan limfositosis
relative.
b) Kadar leukosit < 4 x 109/L darah.
c) Pemeriksaan kadar amilase dalam serum naik >137 U/L darah.
2.11.2 Diagnosa Keperawatan
1) Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh (00002)
berhubungan dengan ketidakcukupan intake makanan akibat kesulitan
menelan
2) Hipertermi

(00007)

berhubungan

dengan

peningkatan

laju

metabolisme: proses inflamasi


3) Nyeri akut (00132) berhubungan dengan penyakit yang diderita.
4) Intoleransi aktivitas (00092) berhubungan dengan kelemahan fisik
5) Gangguan

citra

tubuh

(00118)

berhubungan

dengan

penyakit

(perubahan fungsi dan struktur tubuh akibat parotitis)


6) Gangguan komunikasi verbal (00051) berhubungan dengan gangguan
orofaring (parotitis)

20

2.11.3 Intervensi Keperawatan


Diagnosa 1 : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh (00002)
berhubungan dengan ketidakcukupan intake makanan akibat kesulitan menelan
Domain 2: Nutrition
Class 1. Ingestion
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam pemenuhan
intake nutrisi klien dapat tercukupi
Kriteria hasil: berat badan dalam batas normal & kebutuhan nutrisi adekuat
NOC
NIC
Domain II Physiologic Health Class K Nutrition Therapy (1120)
Digestion & Nutrition
Nutritional Status (1004)
Intake nutrisi (100401)

1) Monitor intake makanan dan cairan serta


hitung kalori harian yang dibutuhkan
2) Ajarkan pasien untuk memilih makanan

Intake makanan (100402)

halus, lunak dan tidak mengandung

Intake cairan (100408)

asam

Hydrasi (100411)

3) Dorong pasien untuk memilih makanan


yang lunak untuk memudahkan proses
menelan
4) Instruksikan pasien dan keluarga tentang

diet yang diresepkan


Diagnosa 2 : Hipertermi (00007) berhubungan dengan peningkatan laju
metabolisme: proses inflamasi
Domain 11: Safety/Protection
Class 6. Thermoregulation
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1 x 24 jam terjadi
penurunan suhu tubuh klien (suhu tubuh klien kembali dalam batas normal)
Kriteria hasil: suhu tubuh dalam batas normal
NOC
NIC
Domain-Physiologic Health (II)
Vital Sign Monitoring (6680)
Class-Metabolic Regulation (I)
Thermoregulation (0800)

1) Monitor tekanan darah, nadi, suhu, dan


RR

Respiratory rate (080013)

2) Monitor gejala hipertermi

Temperature kulit naik (080001)

3) Monitor

warna

kulit,

suhu,

kelembaban

21

dan

4) Identifikasi

kemungkinan

penyebab

perubahan tanda tanda vital


5) Monitor adanya sianosis
Diagnosa 3 : Nyeri akut (00132) berhubungan dengan penyakit yang diderita
Domain 12: Comfort
Class 1. Physical Comfort
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam klien
menunjukkan nyeri berkurang sampai hilang
Kriteria hasil : nyeri berkurang sampai dengan hilang
NOC
NIC
Domain IV Health Knowledge & Pain Management (1400)
Behavior

1) Mengobservasi rasa nyeri termasuk lokasi,

Class Q Health Behavior

karakteristik,

Pain Control (1605)

intensitas nyeri dan factor pencetus

Mengenali timbulnya nyeri (160502)


Mendiskripsikan

penyebab

surasi,

frekuensim

dan

2) Mengamati tanda nonverbal dari nyeri

nyeri 3) Menggunakan analgesic yang sesuai

(160501)

4) Mempertimbangkan jenis dana sumber

Melaporkan tanda perubahan nyeri

nyeri untuk memilih strategi penanganan

pada professional kesehatan (160513)

nyeri

Melaporkan control nyeri (160522)

5) Ajarkan teknik nonfarmakologi seperti


hipnotis, relaksasi, terapi music
6) Hilangkan factor presipitasi atau yang

menimbulkan nyeri
Diagnosa 4 : Intoleransi aktivitas (00092) berhubungan dengan kelemahan fisik
Domain 4: Activity/Rest
Class 4. Cardiovascular/Pulmonary Responses
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam klien
menunjukkan dapat kembali beraktivitas seperti biasa
Kriteria hasil : klien dapat beraktivitas seperti biasa tanpa bantuan orang lain
NOC
Domain-Functional Health (I)

NIC
Activity Therapy (4310)

Class-Energy Maintenance (A)

1) Membantu

Activity Tolerance (0005)

klien

untuk

focus

kemampuan, dari pada kekurangan

22

pada

Mudah melakukan aktivitas sehari- 2) Membantu klien untuk mengidentifikasi


hari (ADL) (000518)

aktivitas yang bermanfaat


3) Membantu klien untuk memilih aktivitas
dan pencapaian tujuan

untuk aktivitas

yang konsisten dengan kemampuan fisik,


fisiologis, dan sosial
Diagnosa 5 : Gangguan citra tubuh (00118) berhubungan dengan penyakit
(perubahan fungsi dan struktur tubuh akibat parotitis)
Domain 6: Self-Perception
Class 3. Body Image
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam klien
menunjukkan citra tubuh yang positif / kembali normal
Kriteria hasil : citra tubuh klien positif / kembali normal
NOC
NIC
Domain-Psychosocial Health (III)
Body Image Enhancement (5220)
Class-Psychological Well-being (M)
Body Image (1200)

berdasarkan pada tingkat perkembangan

Gambaran internal diri (120001)


Deskripsi

pengaruh

1) Menentukan harapan citra tubuh klien

bagian

2) Membantu klien untuk mendiskusikan


tubuh

(120003)

stressor yang mempengaruhi citra tubuh


akibat penyakit

Kepuasan penampilan tubuh (120005)


Penyesuaian diri terhadap perubahan
penampilan fisik (120007)
Penyesuaian diri terhadap perubahan
status kesehatan (120009)
Diagnosa 6 : Gangguan komunikasi verbal (00051) berhubungan dengan
gangguan orofaring (parotitis)
Domain 5: Perception/Cognition
Class 5. Communication
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan dalam waktu 1x24 jam komunikasi
verbal klien kembali normal
Kriteria hasil : komunikasi verbal klien kembali normal
NOC
Domain-Physiologic Health (II)
Communication

NIC
Enhancement:

Speech

23

Class-Neurocognitive (J)

Deficit (4967)

Communication (0902)

1) Monitor kecepatan, tekanan, pengucapan

Menggunakan bahasa lisan (090202)

(bolak-balik),

Pertukaran pesan secara akurat dengan

artikulasi dari kemampuan bicara

yang lain (090208)

kuantitas,

volume

dan

2) Menginstruksikan klien / keluarga pada


kognitif,

anatomis,

fiiologis

yang

melibatkan diri dalam kemampuan bicara


3) Menginstruksikan klien untuk berbicara
dengan pelan
4) Mengulang apa yang klien katakan untuk
memastikan keakuratan
2.11.4 Evaluasi Tindakan
Memastikan kriteria hasil yang di inginkan dapat tercapai, seperti:
1) Klien menunjukkan nyeri yang berkurang
2) Klien dapat melakukan distraksi positif ketika nyeri
3) Klien mempunyai masukan nutrisi yang adekuat
4) Klien menunjukkan suhu tubuh dan TTV dalam rentang normal.

24

BAB III
TINJAUAN ASUHAN KEPERAWATAN KASUS
3.1

Kasus
Nn. G berusia 27 tahun datang ke rumah sakit pada tanggal 10 Maret 2016.

Klien datang dengan mengeluh demam, nyeri pada pipi kanan dan sulit menelan
sejak 3 hari yang lalu. Berat badan klien turun karena kehilangan nafsu makan
akibat nyeri saat menelan sehingga klien mengalami penurunan badan sekitar 2 kg
dari berat badan sebelumnya. Klien mengatakan bahwa belum pernah mengalami
riwayat penyakit menular, namun beberapa anggota keluarga pernah mempunyai
gejala yang sama seperti klien saat ini. Suhu: 39C , Nadi: 110x/menit, RR:
22x/menit, TD: 130/80 mmHg.
3.2

Form Pengkajian
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS
FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

LEMBAR PENGKAJIAN KEPERAWATAN

Tanggal MRS

: 10 Maret 2016

Jam Masuk

: 10.00 WIB

Tanggal Pengkajian

: 10 Maret 2016

No. RM

Jam Pengkajian

: 10.30 WIB

Diagnosa Masuk : Parotitis

IDENTITAS
1. Nama Pasien : Ny G
2. Umur: 27 Tahun
3. Suku/ Bangsa : Jawa/Indonesia
4. Agama
: Islam
5. Pendidikan
:6. Pekerjaan
: Karyawan
7. Alamat
: Surabaya

Penanggung jawab Biaya


Nama
Alamat

: Mandiri
::-

25

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


1. Keluhan Utama
: Demam, nyeri pipi kanan, dan sulit menelan.
2. Riwayat Penyakit Sekarang
: Nn. G mengalami demam, nyeri pipi serta bengkak yang
disertai dengan keluhan nyeri menelan 3 hari ini. Hal tersebut menyebabkan nafsu makannya
menurun sehingga berat badan turun 2kg dari 47kg menjadi 45kg.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU
1. Pernah dirawat
: ya
2. Riwayat penyakit kronik dan menular
Riwayat kontrol : -

tidak kapan :ya


tidak
jenis: -

diagnosa :-

Riwayat penggunaan obat : 3. Riwayat alergi


4. Riwayat operasi

ya
ya

tidak
tidak

jenis: kapan: -

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Ya
tidak
jenis: Parotitis

Masalah Keperawatan :
Hipertermi

OBSERVASI DAN PEMERIKSAAN FISIK


1. Tanda tanda vital
S : 39C
Kesadaran

N : 110x/menit

T : 130/80 mmHg

Compos Mentis

Apatis

Somnolen

RR : 22x/menit
Sopor

Koma

2. Sistem Pernafasan
a. Keluhan :
Batuk

sesak

nyeri waktu nafas

produktif

tidak produktif

Sekret :-

Konsistensi :-

Warna :-

Bau :-

b. Irama nafas

teratur

tidak teratur

c. Jenis

Dispnoe

Kusmaul

d. Suara nafas

Vesikuler

Bronko vesikuler

Ronki

Wheezing

e. Alat bantu napas

ya

Jenis...................

tidak

Cheyne Stokes
Masalah Keperawatan :
Tidak ditemukan masalah
keperawatan

Flow..............lpm

Lain-lain :
3. Sistem Kardio vaskuler
a. Keluhan nyeri dada
b. Irama jantung

ya

S1/S2 tunggal
c. Suara jantung

tidak

reguler

ireguler

ya

tidak

normal

murmur

Masalah Keperawatan :
Tidak ditemukan masalah
keperawatan

26

gallop

lain-lain.....

d. CRT : 3 detik
e. Akral
basah

hangat

panas

f. JVP

normal

meningkat

dingin

kering

menurun

Lain-lain : 4. Sistem Persyarafan


a. GCS : 4

Masalah Keperawatan :
Nyeri Akut

b. Refleks fisiologis

patella

triceps

biceps

c. Refleks patologis

babinsky

budzinsky

kernig

d. Keluhan pusing

ya

tidak

e. Pupil

Isokor

Anisokor

f. Sclera/Konjunctiva

anemis

ikterus

g. Gangguan pandangan

ya

tidak

Jelaskan..

h. Gangguan pendengaran

ya

tidak

Jelaskan..

i. Gangguan penciuman

ya

tidak

Jelaskan..

j. Isitrahat/Tidur : 5 Jam/Hari
5. Sistem perkemihan
a. Kebersihan
b. Keluhan

Kencing

Diameter..

Gangguan tidur : Nyeri pada bagian pipi dan leher

Bersih

Kotor

Nokturi

Inkontinensia

Gross hematuri

Poliuria

Disuria

Oliguria

Retensi

Hesistensi

Masalah Keperawatan :
Tidak ditemukan masalah
keperawatan

Anuria
c. Produksi urine : .. ml/hari
d. Kandung kemih :

e. Intake cairan
f. Alat bantu kateter

Warna

Bau..

Membesar

ya

tidak

Nyeri tekan

ya

tidak

oral : cc/hari
ya
Jenis :.............

parenteral : cc/hari
tidak
Sejak tanggal : .........

Lain-lain :

27

6. Sistem Pencernaan
a. Mulut

b. Mukosa

bersih

kotor

lembab

c. Tenggorokan

d. Abdomen
Nyeri tekan

kering

berbau
stomatitis

sakit menelan

kesulitan menelan

pembesaran tonsil

nyeri tekan

tegang

kembung

ascites

ya

tidak

Luka operasi

ada

tidak

Tanggal operasi : .............

Jenis operasi :..............

Lokasi : ................

Keadaan :

ada

tidak

Jumlah :...........

Warna :...................

Drain

Masalah Keperawatan :
Ketidak-seimbangan
nutrisi kurang dari
kebutuhan tubuh

Kondisi area sekitar insersi :...............


e. Peristaltik : 20 x/menit
f. BAB : 2x/hari
Konsistensi

Terakhir tanggal : 9 Maret 2016


keras

lunak

cair

lendir/darah

g. Diet

padat

lunak

cair

h. Nafsu makan

baik

menurun

Frekuensi: 2x/hari

i. Porsi makan

habis

tidak

Keterangan : Nyeri menelan

Lain-lain:
7. Sistem muskulo skeletal dan integumen
a. Pergerakan sendi
bebas

terbatas

b. Kekuatan otot

c. Kelainan ekstremitas

ya

tidak

d. Kelainan tulang belakang

ya

tidak

e. Fraktur

ya

tidak

f. Traksi / spalk /gips

ya

tidak

g. Kompartemen syndrome

ya

tidak

h. Kulit

ikterik

sianosis

kemerahan

i. Turgor

baik

j. Luka

jenis :...........

kurang
luas : .........

Masalah Keperawatan :
Tidak ditemukan masalah
keperawatan

hiperpigmentasi

jelek
bersih

kotor

Lain-lain:

28

8. Sistem Endokrin
Pembesaran kelenjat tyroid

ya

tidak

Pembesaran Kelenjar getah bening

ya

tidak

Hipoglikemia

ya

tidak

Hiperglikemia

ya

tidak

Luka gangren

ya

tidak

Masalah Keperawatan :
Tidak ditemukan masalah
keperawatan

Lain-lain:
Masalah Keperawatan :
Tidak ditemukan
masalah keperawatan

PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL
a. Persepsi klien terhadap penyakitnya
Cobaan Tuhan

hukuman

lainnya

b. Ekspresi klien terhadap penyakitnya


Murung/diam
c. Reaksi saat interaksi
d. Gangguan konsep diri

gelisah

tegang

kooperatif

tidak kooperatif

ya

marah/menangis
curiga

tidak

Lain-lain:
PERSONAL HYGIENE & KEBIASAAN
a. Mandi :............. x/hari

f. Ganti pakaian :.................x/hari

b. Keramas :....................x/hari

g. Sikat gigi : ......................x/hari

Masalah Keperawatan :
Tidak ditemukan
masalah keperawatan

c. Memotong kuku :..................


d. Merokok :

ya

tidak

e. Alkohol :

ya

tidak

PENGKAJIAN SPIRITUAL
Kebiasaan beribadah
a. Sebelum sakit

sering

kadang- kadang

tidak pernah

b. Selama sakit

sering

kadang- kadang

tidak pernah

Masalah Keperawatan :
Tidak ditemukan
masalah keperawatan

29

PEMERIKSAAN PENUNJANG (Laboratorium,Radiologi, EKG, USG )


1) Pemeriksaan darah: Infeksi oleh virus ditunjukkan dengan terjadinya leukopenia
(limfosit) 3,7x103/uL. Kenaikan kadar amilase menjadi 180 U/L.
2) Pemeriksaan Immunoglobulin: Ig G dan Ig M positif terdapat virus paramyxovirus
menunjukkan bahwa klien sedang terinfeksi.
3) Pemeriksaan virologi: Terdapat hemardsorpsi dalam biakan yang diberi cairan fosfatNaCl.
4) CT-Scan: Terdapat pembengkakan pada kelenjar parotis serta terlihat penyumbatan
saluran saliva oleh batu saliva.

TERAPI

DATA TAMBAHAN LAIN :


1)B1(Breathing): Takipnea karena virus bereplikasi di traktus respiratorius sebelum
bergerak ke organ target.
2)B2 (Blood): Takikardi terjadi karena keadaan gelisah yang dapat meningkatkan kerja
jantung.
3)B3 (Brain): Kesadaran kompos mentis, demam akibat perjalanan penyakit, gelisah, sakit
kepala.
4)B4 (Bladder): Nokturia terjadi akibat virus yang telah mengganggu pankreas dan
produksi insulin sehingga klien sering kencing.
5)B5 (Bowel): Nafsu makan turun akibat gangguan sulit menelan menyebabkan BB turun
pula, merasa tidak enak badan diikuti mual muntah, pembengkakan pada daerah
kelenjar ludah disertai dengan rasa nyeri, mulut kering karena saliva tidak mengalir
dengan lancar akibat sumbatan batu saliva pada saluran kelenjar parotis..
6)B6 (Bone): Rahang terasa kaku ketika membuka mulut, lemah otot dan nyeri otot.

TINDAKAN OPERASI :

Surabaya, 10 Maret 2016

()

30

3.3

Analisa Data
No.
1.

DS:

Data
Klien mengatakan

Etiologi

Masalah Keperawatan

bahwa ia mengalami nyeri


pada pipi kanan.
DO: TD 130/80 mmHg.
P- Nyeri karena terjadi
pembengkakan
Q- Nyeri seperti
berdenyut-denyut
R- Nyeri pada pipi sebelah
kanan

Proses inflamasi
Edema parotis
Nyeri akut
Kesulitan menelan
Nyeri

S- Nyeri sampai menangis


T- Nyeri ketika membuka
2.

mulut dan makan


DS: Klien mengatakan

Proses inflamasi

sulit menelan makanan


Edema parotis
DO: Mual muntah, nafsu
makan menurun, BB turun

Kesulitan menelan

dari 47kg menjadi 45kg.


IMT= 47 : (160)2= 17,5
Indeks Massa Tubuh

Ketidakseimbangan
kebutuhan nutrisi: Nutrisi

Intake nutrisi

kurang dari kebutuhan

menurun

(IMT) 17,5 menunjukkan

3.

klien dalam kondisi gizi

Nutrisi kurang dari

kurang.
DS: Klien mengatakan

kebutuhan
Proses inflamasi

Hipertermia

bahwa ia demam selama 3


hari.

Peningkatan laju
metebolisme

DO: Suhu badan: 39C,


HR: 110x/menit, RR:

Suhu tubuh

31

22x/menit : CRT 3 detik.

meningkat
Demam
(hipertermia)

3.4

Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agen cedera biologi yang
ditandai dengan perubahan fisiologi tekanan darah.
2) Ketidakseimbanagn nutrisi (00002) kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan kemampuan untuk menelan makanan.
3) Hipertermia (00007) berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme
tubuh yang ditandai dengan takikardi dan takipnea.

3.5

Intervensi Keperawatan

1) Nyeri akut (00132) berhubungan dengan agen cedera biologi yang ditandai
dengan perubahan fisiologi tekanan darah.
Domain 12 : Rasa nyaman
Kelas 1 : Kenyamanan fisik
Setelah

NOC
dilakukan tindakan

NIC
asuhan 1) Manajemen Nyeri (1400)

keperawatan selama 2x24 jam, klien 2) Mencari tahu pengetahuan klien mengenai
dapat

mengontrol

nyerinya

(1605)

dengan kriteria hasil:


1) (160507)

memberi edukasi tentang sumber dan

Klien

kepercayaan

kepercayaannya terhadap nyeri dengan cara

mempunyai

untuk

penyebab nyeri.

melaporkan 3) Gunakan

komunikasi

terapeutik

pengalaman

nyeri

untuk

gejala yang tidak dapat dikontrol

menyatakan

dan

kepada petugas kesehatan (3)

penerimaan klien terhadap respon nyerinya.

2) (160502) Klien mengenali serangan 4) Mengontrol faktor lingkungan yang dapat


nyeri dengan baik sehingga dapat

mempengaruhi respon ketidaknyamanan

dilakukan penanganan dengan lebih

klien seperti suhu ruangan, pencahayaan,

cepat (4)

dan suara keras.

3) (160501)
faktor

Klien

penyebab

menggambarkan 5) Dukung klien untuk memonitor nyerinya


nyeri

kepada

sendiri seperti mengajarkan distraksi musik

32

petugas kesehatan (4)

atau buku bacaan.


6) Ajarkan tentang metode farmakologi untuk
menghilangkan nyeri.

2) Diagnosa 2: Ketidakseimbanagn nutrisi (00002) kurang dari kebutuhan


berhubungan dengan kemampuan untuk menelan makanan.
Domain 2 : Nutrisi
Kelas 1 : Pencernaan
Setelah

NOC
dilakukan tindakan

NIC
asuhan 1) Manajemen Nutrisi (1100)

keperawatan selama 1x24 jam, klien 2) Menyediakan

pilihan

makanan

untuk

menunjukkan status nutrisi (1004) yang

ditawarkan dengan menggunakan pilihan

adekuat dengan kriteria hasil:

yang lebih sehat, apabila memingkinkan.

1) (100401) Klien mendapatkan masukan 3) Tentukan kalori dan tipe nutrisi yang
makanan yang adekuat (4)

dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan

2) (100402) Klien memperokeh masukan

nutrisi klien.

cairan yang cukup untuk mengurangi 4) Menyediakan lingkungan yang optimal


dehidrasi (4)

untuk

3) (100405) Klien menunjukkan bahwa


berat badannya mengalami peningkatan
atau membaik seperti semula (3).

mengonsumsi

makanan

seperti

menjaga kebersihannya, ventilasinya, dan


bebas dari bau-bau menyengat.
5) Dukung klien untuk duduk tegak di kursi,
bila memungkinkan.
6) Dukung keluarga klien untuk membawa
makanan kesukaan klien ketika di Rumah
Sakit, bila memungkinkan.

3) Diagnosa Keperawatan: Hipertermia (00007) berhubungan dengan


peningkatan laju metabolisme tubuh yang ditandai dengan takikardi dan
takipnea.
Domain 11: Keselamatan/Proteksi
Kelas 6 : Termoregulasi
Setelah

NOC
dilakukan tindakan

NIC
asuhan 1) Monitor tanda-tanda vital (6680)

keperawatan selama 2 x 24 jam, klien dapat 2) Monitor warna kulit, temperatur, dan

33

mempunyai termoregulasi (0800) yang

kelembutannya untuk mengetahui kondisi

seimbang dengan kriteria hasil:

dehidrasi

1) (080015)

Klien

kenyamanan

suhu

melaporkan 3) Mengidentifikasi kemungkinan penyebab


tubuh

dan

lingkungannya (4)

4) Mempertahankan

2) (080014) Klien menunjukkan dehidrasi


tubuh yang sudah berkurang (3)
3) (080010)
panas

Klien

terjadinya perubahan TTV

berkeringat

menunjukkan

dengan

suhu

menggunakan

terus-menerus
alat,

memungkinkan.
ketika 5) Monitor kemungkinan adanya sianosis
bahwa

sentral atau periferal.

termoregulasi tubuhnya membaik (3)


3.6

bila

Evaluasi Tindakan
Memastikan kriteria hasil yang di inginkan dapat tercapai, seperti:
5) Klien menunjukkan nyeri yang berkurang
6) Klien dapat melakukan distraksi positif ketika nyeri
7) Klien mempunyai masukan nutrisi yang adekuat
8) Klien menunjukkan suhu tubuh dan TTV dalam rentang normal.

34

3.7

WOC Kasus
Paramyxovirus, Mumps virus

Masuk tubuh: Hidung &


mulut, melalui:
Percikan ludah
Kontak lanhsung dengan
penderita
Muntahan
Urin

Penumpukan virus di dalam tubuh

Poliferasi parotis

Viremia

Berdiam diri di kelenjar

Infeksi virus pada kelenjar parotis

Peningkatan laju metabolisme

Proses inflamasi

Suhu tubuh meningkat

Parotitis

MK.
Hipertermia

Tidak tertangani

Edema parotis
MK. Gangguan
Komunikasi
Verbal
MK. Gangguan
Citra Tubuh

Penyebaran ke
organ lain

MK. Resiko
Komplikasi

Kesulitan menelan

MK. Nyeri
Akut

Intake nutrisi menurun


MK.
Ketidakseimbangan
Nutrisi Kurang dari
Kebutuhan

35

BAB IV
SIMPULAN
4.1

Kesimpulan
Parotitis adalah suatu penyakit virus dengan tanda membesarnya kelenjar

ludah dan terasa nyeri. Penyakit ini merupakan penyakit menular yang akut
(Yvonne). Parotitis yang juga dikenal sebagai penyakit gondong ini adalah
penyakit yang biasanya menyerang anak-anak berusia 2-12 tahun. Penyakit
Gondongan (Mumps atau Parotitis) adalah suatu penyakit menular dimana
sesorang terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah
(kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan
pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah. Ada dua macam
klasifikasi dari parotitis, yaitu parotitis kambuhan dan parotitis akut. Gejala khas
yaitu pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar parotis. Pada orang dewasa,
infeksi ini bisa menyerang testis (buah zakar), sistem saraf pusat, pankreas,
prostat, payudara dan organ lainnya. Menurut Sumarmo (2008) penyakit gondong
(mumps, parotitis) dapat ditularkan melalui kontak langsung, percikan ludah
(droplet), muntahan dan bisa pula melalui air kencing. Masa tunas (masa
inkubasi) parotitis sekitar 14-24 hari dengan rata-rata 17-18 hari.
Penyebab parotitis epidemika adalah anggota dari kelompok paramyxovirus,
yang juga termasuk didalamnya virus parainfluenza, measles, dan virus newcastle
disease. Virus telah diisolasi dari ludah, cairan serebrospinal, darah, urin, otak dan
jaringan terinfeksi lain. Virus mumps mempunyai 2 glikoprotein yaitu
hamaglutinin-neuramidase dan perpaduan protein. Virus ini aktif dalam
lingkungan yang kering tapi virus ini hanya dapat bertahan selama 4 hari pada
suhu ruanganMasa penyebaran virus ini adalah 2-3 minggu melalui dari ludah,
cairan serebrospinal, darah, urin, otak dan jaringan terinfeksi lain. Virus dapat
diisolasi dari saliva 6-7 hari sebelum onset penyakit dan 9 hari sesudah
munculnya pembengkakan pada kalenjar ludah. Penularan terjadi 24 jam sebelum
pembengkakan kalenjar ludah dan 3 hari setelah pembengkakan menghilang
(Sumarmo,2008).

36

Parotitis tersebar di seluruh dunia dan dapat timbul secara endemic atau
epidemik. Kondisi parotitis memberikan berbagai masalah keperawatan pada
pasien. Adanya respons inflamasi sistemik memberikan manifestasi peningkatan
suhu tubuh. Manifestasi respons ketidaknyamanan sakit kepala dan anoreksia
memberikan

manifestasi

peningkatan

suhu

tubuh.

Manifestasi

respon

ketidaknyamanan sakit kepala dan anoreksia memberikan manifestasi nyeri dan


ketidak seimbangan pemenuhan nutrisi. Ada tahapan-tahapan yang nampak dari
tanda-tanda pasien parotitis yaitu tahap prodromal, tahap akut serta adanya gejala
lain yang mencakup malaise, anoreksia, dan limfadenopati umum.
Pasien dengan parotitis harus ditangani dengan kompres hangat, sialagog
seperti tetesan lemon, dan pijatan parotis eksterna. Cairan intravena mungkin
diperlukan untuk mencegah dehidrasi karena terbatasnya asupan oral. Jika respons
suboptimal atau pasien sakit dan mengalami dehidrasi, maka antibiotik intravena
mungkin lebih sesuai. Penecegahan bisa dilakukan secara pasif dan aktif. Hampir
semua anak yang menderita gondongan akan pulih total tanpa penyulit, tetapi
kadang gejalanya kembali memburuk setelah sekitar 2 minggu. Keadaan seperti
ini dapat menimbulkan komplikasi, dimana virus dapat menyerang organ selain
kelenjar liur.
4.2

Saran
Sebagai seorang perawat diharapkan mampu memahami dan mengetahui

masalah yang berhubungan dengan gangguan sistem pencernaan pada pasien, agar
perawat mampu melakukan asuhan keperawatan pada klien tersebut. Sebagai
salah satu tenaga kesehatan yang sering berinteraksi dengan pasien, perawat harus
mampu memenuhi kebutuhan pasien, salah satunya adalah kebutuhan yang
berhubungan dengan sistem pencernaan. Penyusunan makalah ini belum
sempurna, untuk itu diperlukan peninjauan ulang terhadap isi dari makalah ini.

37

DAFTAR PUSTAKA
Bang HO, Bang J. 1943. Involvement of the central nervous system in mumps.
United state: Acta Med Scand
Bulechek, Gloria M., [et al.]. (2013). Nursing Interventions Classification (NIC),
Sixth Edition. United States of America: Mosby Elsevier
Chin, James M D. 2000. Control of Communicable Diseases Manual. American
Public Health Asociation: Washington
Dayan, H, Gustavo. 2008. Recant Resurgence of Mumps United States. The New
England
George, C. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Harrison Edisi XIII. Jakarta:
EGC
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). (2014). NANDA International Nursing
Diagnoses: Definitions & Classification, 2015-2017, Tenth Edition. Oxford:
Wiley Blackwell
Moorhead, Sue., [et al.]. (2013). Nursing Outcomes Classification (NOC):
measurement of health outcomes, Fifth Edition. United States of America:
Mosby Elsevier
Muscary, Marry E. 2001. Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik. Edisi 3.
Jakarta: EGC
Muttaqin, Arif. 2011. Gangguan Gastrointestinal Aplikasi Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah. Jakarta: Penerbit Salemba Medika
Muttaqin, A dan Sari, K. 2011. Asuhan Keperawatan perioperatif Konsep, Proses,
dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika.
Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak Edisi 15. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC
Ngastiyah. 2007. Perawatan Pada Anak. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC.
Sodikin. 2011. Asuhan Keperawatan Anak Gangguan Sistem Gastrointestinal dan
Hepatobilier. Jakarta: Salemba Medika
Soemarmo.2008. Buku Ajar Infeksi dan Pediatri Tropis Edisi 2. Jakarta:Penerbit
IDAI

38